Tes dan Non Tes Evaluasi Peserta Didik

45 

Teks penuh

(1)

EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR

“Analisis Tes Hasil Belajar Matematika dan Angket Cara Belajar Matematika

Pada Peserta Didik”

OLEH :

Jennie Givany Subagiyo 2015.V.1.0001

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat rahmatnya makalah dengan judul “Analisis Tes Hasil Belajar Matematika dan Angket Cara Belajar Matematika Pada Peserta Didik” dapat terselesaikan tepat waktu.

Makalah ini disusun dalam rangka tugas mata kuliah Evaluasi Proses dan Hasil Belajar. Dalam penyusunan makalah ini berbagai bantuan, petunjuk, saran, dan masukan penulis dapatkan dari banyak pihak.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dalam rangka penyempurnaan. Akhir kata, semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan dan pengetahuan secara luas.

Denpasar, 26 Desember 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

TES 1. Tujuan Pembuatan Tes Hasil Belajar Matematika...1

2. Telaah Konsep Tentang Hasil Belajar...1

2.1. Pengertian Belajar...1

2.2. Pengertian Hasil Belajar...2

2.3. Pengertian Matematika...2

3. Variabel Pengukuran...3

4. Definisi Konsep...3

5. Definisi Operasional...4

6. Analisis Konten Tes Hasil Belajar Matematika...4

6.1. Analisis Kurikulum...4

6.2. Analisis Buku Pelajaran...5

7. Kisi – Kisi Butir Soal Tes Hasil Belajar Matematika...6

8. Butir Soal Tes Hasil Belajar Matematika...9

9. Uji Coba...14

9.1. Lembar Jawaban Siswa...14

9.2. Hasil Uji Coba Kepada Peserta didik...15

9.3. Kunci Jawaban...17

9.4. Hasil Jawaban Siswa Setelah Dilakukan Penskoran...17

10. Analisis Butir Soal Tes Hasil Belajar Matematika Secara Kuantitatif...19

10.1. Uji Validitas Tes Hasil Belajar Matematika...19

10.2. Perhitungan Koefisien Reliabilitas Tes Hasil Belajar Matematika...21

10.3. Daya Pembeda Tes Hasil Belajar Matematika...21

10.4. Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar Matematika...24

10.5. Pengecoh Tes Hasil Belajar Matematika...26

(4)

NON TES

1. Tujuan Pembuatan Angket Cara Belajar Matematika Siswa...30

2. Telaah Konsep Tentang Angket Cara Belajar Matematika Siswa...30

2.1. Pengertian Cara Belajar...30

2.2. Cara Belajar Efektif...31

3. Variabel Pengukuran...31

4. Definisi Konsep...31

5. Definisi Operasional...32

6. Kisi – Kisi Butir Soal Angket Cara Belajar Matematika Siswa...32

7. Butir Pernyataan Angket Cara Belajar Matematika Siswa...33

8. Uji Coba Angket Cara Belajar Matematika Siswa...35

9. Analisis Butir Angket Cara Belajar Matematika Siswa...36

9.1. Uji Validitas Angket Cara Belajar Matematika Siswa...37

9.2. Perhitungan Reliabilitas Tes Cara Belajar Matematika Siswa...38

10. Interprestasi Atau Non Tes Jadi Angket Cara Belajar Matematika Siswa...39

(5)

TES

1. Tujuan Pembuatan Tes Hasil Belajar Matematika

Dalam pembuatan tes hasil belajar matematika pada makalah ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap materi yang diajarkan dengan setepat – tepatnya. Penilaian tersebut tidak dilakukan dalam jangka pendek melainkan pada jangka waktu tertentu. Pada makalah ini materi yang digunakan adalah materi aljabar, dimana aljabar memiliki lima indikator yaitu Unsur – unsur aljabar, Operasi hitung tambah, kurang, kali, bagi, dan pangkat pada bentuk aljabar, Menerapkan operasi hitung pada bentuk aljabar untuk menyelesaikan soal, Menentukan penyelesaian PLSV, dan Mengubah masalah ke dalam matematika berbentuk persamaan linear satu variabel.

2. Telaah Konsep Tentang Hasil Belajar 2.1. Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan tersebut sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan, kecakapan, dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan aspek-aspek lain yang ada pada individual (Sudjana, 2009:28).

Menurut Hilgard dalam Mulyono ( 2003:35 ), mengemukakan bahwa Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor - faktor yang tidak termasuk latihan.

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2).

(6)

Djamarah (2002:13) menjelaskan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dari beberapa pengertian mengenai belajar diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Perubahan tersebut akan ditunjukkan melalui tingkah laku dalam rangka mencapai tujuan.

2.2. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang di peroleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap (Mulyono, 2003:38).

Anni (2010:5) menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar, peroleh perubahan perilaku tersebut ter gantung apa yang dipelajari oleh siswa, apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah pengetahuan tentang konsep.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang sehari - hari. Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa. Dengan demikian hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari - hari.

2.3. Pengertian Matematika

Menurut Abraham S Lunchins dan Edith N Luchins (Erman Suherman, 2001), matematika dapat dijawab secara berbeda-beda tergantung pada bilamana pertanyaan itu dijawab, dimana dijawabnya, siapa yang menjawabnya, dan apa sajakah yang dipandang termasuk dalam matematika.

(7)

menemukan dengan konsep yang tepat dan lambang yang konsisten, sifat dan hubungan antara jumlah dan ukuran, baik secara abstrak, matematika murni atau dalam keterkaitan manfaat pada matematika terapan.

Berdasarkan Elea Tinggih (Erman Suherman, 2001), matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen di samping penalaran.

James dan James (Erman Suherman, 2001), mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, konsep – konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan lambang-lambang atau simbol dan memiliki arti serta dapat digunakan dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan bilangan.

3. Variabel Pengukuran

Variabel yang akan diukur pada makalah ini adalah Hasil Belajar Matematika Peserta Didik dimana alat yang diukur berupa tes objektif. Tes objektif merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur hasil belajar matematika peserta didik pada ranah kognitif setelah melalui proses pembelajaran.

4. Definisi Konsep

(8)

5. Definisi Operasional

Hasil belajar matematika siswa secara operasional adalah hasil yang diperoleh siswa selama proses belajar mengajar di sekolah. Hasil yang diperoleh tersebut merupakan total skor yang diperoleh siswa dari hasil menjawab tes yang telah diberikan oleh guru atau pihak sekolah. Tes yang diberikan kepada siswa bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan siswa dalam menguasai pelajaran matematika yang telah disajikan oleh guru atau pihak sekolah. Data yang diperoleh setelah pelaksanaan tes adalah skor hasil belajar matematika dalam skala interval.

6. Analisis Konten Tes Hasil Belajar Matematika 6.1. Analisis Kurikulum

Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Kurikulum tidak hanya sekedar mempelajari mata pelajaran, tetapi lebih mengembangkan pikiran, menambah wawasan, serta mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya. Ia lebih mempersiapkan peserta didik atau subjek belajar yang baik dalam memecahkan masalah individualnya maupun masalah lingkungannya. Karena itu kurikulum diberi konotasi sebagai usaha sekolah untuk mempengaruhi anak agar mereka dapat belajar dengan baik di kelas, di halaman sekolah, maupun di luar lingkungan sekolah serta semua kegiatan untuk mempengaruhi subjek belajar sehingga menjadi pribadi yang diharapkan.

(9)

Tabel 1.1. Hasil Analisis Kurikulum

6.2. Analisis Buku Pelajaran

Dalam interaksi belajar – mengajar bukan hanya memerlukan seorang pengajar dan peserta didik, melainkan juga diperlukan sebuah alat pembelajaran, salah satunya adalah buku teks atau buku pelajaran. Dengan adanya buku teks, guru dan siswa akan terbantu dalam memperlancar proses belajar - mengajar. Buku pelajaran yang dipakai harus sesuai nilai – nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya, diantaranya adalah keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan, dan lain – lain.

Analisis buku pelajaran memiliki tujuan yang sama dengan analisis kurikulum, yaitu untuk menentukan bobot soal. Dalam hal ini, buku yang akan dianalisis adalah buku Matematika Kelas VII dan Pegangan Belajar Matematika Kelas VII semester 1. Lalu, kedua buku tersebut dibandingkan dari jumlah masing masing halaman tiap sub pokok bahasan dan dirata -ratakan. Dari rata - rata halaman inilah kemudian ditentukan bobot soal masing - masing sub pokok bahasan. Hal ini dilakukan agar guru lebih memahami materi mana yang harus lebih ditekankan pada siswa, sehingga masing - masing pokok bahasan memiliki bobot yang berbeda tergantung penekananya.

NO. Pokok Bahasan Alokasi Waktu Bobot

1 Bentuk Aljabar 8 × Jampel 9 Butir

2 Persamaan dan Pertidaksamaan Linier

Satu Variabel 4 × Jampel 6 Butir

(10)

Tabel 1.2. Hasil Analisis Buku Pelajaran

No

.

Pokok

Bahasan

Matematik

a

Peganga

n Belajar

Rata - Rata

Bobot

Soal

1 Bentuk Aljabar 14 Halaman 10

Halaman 12 Halaman 9 Butir

2

Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel

8 Halaman 10

Halaman 9 Halaman 6 Butir

Total 15 Butir

7. Kisi – Kisi Butir Soal Tes Hasil Belajar Matematika

(11)

Tabel 1.3. Hasil Kisi – Kisi Tes Hasil Belajar Matematika Peserta Didik konstanta, faktor , suku dan suku sejenis. kurang, kali, bagi dan pangkat pada bentuk

penyelesaian PLSV 10,11,12 C3

(12)
(13)

8. Butir Soal Tes Hasil Belajar Matematika

TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA Mata Pelajaran : Matematika

Semester/Kelas : I/VII

Hari/Tanggal : 8 Desember 2016 Alokasi Waktu: 50 Menit

Petunjuk Umum

1. Berdoalah sebelum menjawab tes.

2. Tulislah Nama, Kelas, dan Nomor Absen pada lembar jawaban yang telah disediakan. 3. Perhatikan dengan seksama setiap butir soal yang disediakan pada lembar soal. 4. Bacalah setiap butir soal dengan teliti sebelum menjawab.

5. Mohon periksa kembali lembar jawaban sebelum diserahkan ke pengawas. Petunjuk Khusus

Silanglah jawaban yang paling tepat pada lembar jawaban yang disediakan. Contoh Soal:

1.

Bentuk aljabar berikut yang terdiri atas tiga suku adalah… A. abc + pqr

B. ab + ac – bc C. ab – pq

D.

3ab – 3cd

Jika ingin memperbaiki jawaban, lakukanlah contoh berikut ini

1.

Bentuk aljabar berikut yang terdiri atas tiga suku adalah… A. abc + pqr

B. ab + ac – bc C. ab – pq

(14)

SOAL

1.

Koefisien dari x pada bentuk aljabar 2x2−24x+7 adalah…

A.

–24

B. 24 C. –7 D. 2

2. Konstanta dari bentuk aljabar x3+4x2+x−3 adalah… A. -3

B. x

C. x2

D. x3

3.

Bentuk aljabar berikut yang terdiri dari lima suku adalah…

A.

5x2

+10

B.

6x2−12y+10

C. 7a+8b+c−10

D. 8x3+16x2+18x−18y−10 4. Hasil dari 2a2

+3a−5 dan 3a2

−5a+7 adalah… A. 5a2

−2a+4 B. 5a2−2a−3 C. 5a2−2a+2 D. 5a2

−2a−2

5. Bentuk sederhana dari 24p2q+18pq2

3pq adalah… A. 4(4p−3q)

B. 3(4p+3q)

C. 2(4p+3q)

(15)

6. Perhatikan pernyataan dibawah ini (i) 3x2

+12=3x(x+4)

(ii) 25x2

−36=(5x+9) (5x−4)

(iii) x2

−2x−35=(x+5) (x−7)

(iv) 2x2

x−6=(2x−3) (x+2)

Pernyataan yang benar adalah… A. (i) dan (iii)

B. (i) dan (ii) C. (ii) dan (iii) D. (ii) dan (iv)

7. Diketahui usia ayah empat kali usia anaknya. Lima tahun kemudian, usia ayah tiga kali usia anaknya. Berapakah masing - masing umur ayah dan anaknya…

A. Umur ayah 40 tahun dan umur anaknya 10 tahun. B. Umur ayah 40 tahun dan umur anaknya 12 tahun. C. Umur ayah 50 tahun dan umur anaknya 15 tahun. D. Umur ayah 50 tahun dan umur anaknya 20 tahun.

8. Panjang sisi suatu segitiga diketahui berturut-turut p cm, 2p cm, dan (p+4) cm. keliling segitiga tersebut adalah ….

A. (3p+4) cm B. (4p+4) cm C. (5p+6) cm D. (6p+2) cm

9. Pak Bromo memiliki satu meter kain. Untuk keperluan tertentu dipotong y cm. sisanya adalah….cm

A. y

B. 1−y

C. 100+y

(16)

10. Penyelesaian dari 4y+2=3y+5 adalah… A. 1

B. 2 C. 3 D. 4

11. Penyelesaian dari 8y−14=5y−2 adalah… A. 4

B. -4 C. 3 D. -3

12. Penyelesaian dari 16m=64 adalah… A. 2

B. 3 C. 4 D. 5

13. Seorang petani mempunyai sebidang tanah berbentuk persegi panjang. Lebar tanah tersebut 6 m lebih pendek daripada panjangnya. Jika keliling tanah 60 m, luas tanah petani tersebut adalah... m2

A. 215 m2

B. 216 m2

C. 217 m2

D. 218 m2

14.

Dua orang penjelajah gua sedang menelusuri dua cabang yang berbeda dari suatu gua bawah tanah. Penjelajah pertama dapat turun 77 meter lebih jauh daripada penjelajah kedua. Jika penjelajah pertama telah turun 433 meter dari permukaan tanah, berapa meterkah panjang cabang gua yang telah di turuni oleh penjelajah kedua?

A.

326 meter

(17)

C.

346 meter

D.

356 meter

15.

Jembatan gantung terpanjang di dunia adalah Akashi Kaikyo (Jepang) yang memiliki panjang 1.991 meter. Selain itu Jepang juga memiliki jembatan Shimotsui Straight. Jembatan Akashi Kaikyo memiliki panjang 111 meter lebih panjang dari dua kali panjang jembatan Shimotsui Straight. Berapakah panjang dari jembatan Shimotsui Straight?

(18)

9. Uji Coba

9.1. Lembar jawaban siswa

Nama :

Nomor/Kelas : Mata Pelajaran : Hari/Tanggal :

No. A B C D

(19)
(20)

RESPONDEN Nomor Soal

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

A33 D B D D A A C D D B C B C C C

A34 A A C A A D D C B B D C B D D

A35 A A B C D C A B C C A C C A A

A36 C A D D C B D B A D C B D C C

A37 D D A C B C C C C B D D B B B

A38 A C C C C D B D A B A A B D D

A39 A A D B D A D A D B B C C A A

A40 C A A C A A D C B D C C D D C

A41 D D D D C C C D C C D D A A B

A42 A C D A C B B B D C A A C C C

A43 A A C D D C A C A A C D B C D

A44 A A D C C A A B D C A C B D A

A45 A A D C C D A B D C A C B D B

A46 A A D C C A B B C C D D D D B

A47 A A A B A D A B D C A C B D B

A48 A C D C C A A B D C A C D D C

A49 A B D C C A A B D B A C B D B

A50 A A D C C A A B D C A C B D B

(21)

9.3. Kunci Jawaban

9.4. Hasil jawaban siswa setelah dilakukan penskoran RESPONDE

NO. JAWABANKUNCI BENARSKOR SALAHSKOR

(22)

RESPONDE

(23)

10. Analisis Butir Soal Tes Hasil Belajar Matematika Secara Kuantitatif

Analisis butir soal secara kuantitatif merupakan analisis butir soal yang didasarkan pada data empirik dari butir soal. Data empirik tersebut diperoleh dari soal yang telah diujikan kepada responden. Selain itu, analisis butir soal secara kuantitatif menekankan kepada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empirik. Karakteristik internal tes yang dimaksud meliputi validitas tes, reliabilitas, daya beda, indeks kesukaran dan pengecoh. 10.1. Uji Validitas Tes Hasil Belajar Matematika

Jumlah responden yang digunakan untuk menjawab soal tes adalah sebanyak 50 orang dimana terdapat 15 soal tes objektif yang harus dijawab. Validitas dapat ditentukan melalui analisis butir soal berdasarkan koefisien korelasi point biserial (rpbi) karena bersifat dikotomi. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

rpbi=

(

MpMt

SDt

)

(

p q

)

Keterangan:

rpbi = Koefisien korelasi biserial titik

Mp = Rata – rata skor untuk menjawab benar Mt = Rata – rata skor untuk seluruhnya

SDt = Simpangan baku skor total p = Proporsi yang menjawab benar q = 1-p

Contoh analisis dengan menggunakan rumus point biserial (rpbi). Misalnya kita ambil butir

soal no. 1. Dengan menggunakan bantuan Microsoft Excel diperoleh:

(24)

rpbi=(0,322) (1)

rpbi=0,322

Dari hasil analisis yang diperoleh maka nilai rpbi sebesar 0,322 dengan nilai rtabel

sebesar 0,2787 (dibulatkan menjadi 0,279) dan taraf signifikan sebesar 5%. Dengan demikian, butir soal nomor 1 dikatakan valid karena 0,322>0,279 . atau rpbi>rtabel . Berikut adalah hasil rekapitulasi uji validitas instrumen sebanyak 50 responden dengan jumlah butir soal sebanyak 15 butir.

Tabel 1.6 Rekapitulasi Hasil Analisis Validitas Tes Hasil Belajar Nomo

Skor Total SDt rpbi r Tabel Status Keputusan

1 0,500 0,500 8,720 7,460 3,91 3

0,32

2 0,279 Valid Dipakai 2 0,520 0,480 8,538 7,460 3,913 0,287 0,279 Valid Dipakai 3 0,600 0,400 9,000 7,460 3,913 0,482 0,279 Valid Dipakai 4 0,540 0,460 8,630 7,460 3,913 0,324 0,279 Valid Dipakai 5 0,480 0,520 9,667 7,460 3,913 0,542 0,279 Valid Dipakai 6 0,420 0,580 9,714 7,460 3,91

3

0,49

0 0,279 Valid Dipakai 7 0,500 0,500 9,560 7,460 3,91

3

0,53

7 0,279 Valid Dipakai 8 0,500 0,500 10,440 7,460 3,91

3

0,76

1 0,279 Valid Dipakai 9 0,460 0,540 9,826 7,460 3,913 0,558 0,279 Valid Dipakai 10 0,500 0,500 10,240 7,460 3,913 0,710 0,279 Valid Dipakai 11 0,480 0,520 9,792 7,460 3,913 0,572 0,279 Valid Dipakai 12 0,500 0,500 9,920 7,460 3,913 0,629 0,279 Valid Dipakai 13 0,480 0,520 8,917 7,460 3,91

3

0,35

8 0,279 Valid Dipakai 14 0,540 0,460 9,741 7,460 3,91

3

0,63

(25)

Keterangan

Jumlah Butir Soal yang Valid : 15 Butir Jumlah Butir Soal yang Tidak Valid : 0 Butir

10.2. Perhitungan Koefisien Reliabilitas Tes Hasil Belajar Matematika

Pada makalah ini, perhitungan koefisien reliabilitas ditentukan oleh KR-20 karena tes bersifat dikotomi dan heterogen. Adapun rumus KR-20 adalah sebagai berikut.

r11=

(

r11 = Koefisien korelasi n = Banyak item

st2 = Varian skor total

pq = Jumlah (p × q)

Dengan menggunakan bantuan Microsoft Excel, diperoleh:

pq = 3,724 st

2 = 15,315n = 15

Sehingga koefisien reliabilitas tes prestasi belajar matematika dapat ditentukan sebagai berikut:

(26)

Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa nila reliabilitas tes hasil belajar peserta didik adalah sebesar 0,80

10.3. Daya Beda Tes Hasil Belajar Matematika

Setelah menentukan validitas dan reliabilitas tes, selanjutnya adalah menentukan daya beda dari sebuah tes. Pengertian daya pembeda (DP) dari sebuah butir soal adalah menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara peserta didik yang mengetahui jawabannya dengan benar dan yang tidak dapat menjawab soal tersebut (peserta didik yang menjawab salah).

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks deskriminasi (D). Indeks deskriminasi bernilai -1,00 sampai dengan 1,00. Apabila indeks deskriminasi semakin mendekati nilai 1,00 maka daya pembeda soal tersebut akan semakin baik dan sebaliknya, apabila nilai indeks deskriminasi semakin mendekati nilai 0,00 maka daya pembeda dari soal tersebut akan semakin jelek. Indeks deskriminasi positif berkisar antara 1,00 artinya seluruh kelompok atas dapat menjawab soal dengan benar dan kelompok bawah menjawab soal dengan salah. Sebaliknya indeks deskriminasi negatif bernilai negatif yaitu berkisar antara 0,00 sampai -1,00 artinya seluruh kelompok bawah menjawab soal tes dengan benar dan seluruh kelompok atas menjawab soal tes dengan salah. Indeks deskriminasi bernilai 0,00 berarti tidak memiliki daya pembeda yang dapat diartikan seluruh kelompok atas dan kelompok bawah dapat menjawab soal dengan benar. Adapun rumus untuk mencari daya pembeda sebagai berikut

DP=JBAJBB

JSA

atau DP=JBAJBB

JSB

Keterangan:

DP = Daya pembeda

JBA = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar

JBB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar JSA = Jumlah siswa kelompok atas

JSB = Jumlah siswa kelompok bawah

(27)

0,00

Dalam daya pembeda untuk menentukan kelompok atas dan kelompok bawah adalah dengan mengambil masing-masing 27% dari jumlah sampel untuk kelompok atas dan kelompok bawah. Pengambilan kelompok atas dan kelompok bawah sebesar 27% dengan pertimbangan bahwa prsentase ini paling baik digunakan untuk membedakan dua kelompok tersebut. Pengambilan masing - masing 27% kelompok atas dan kelompok bawah juga didasarkan pada ajuran Guilford (1954) yang memilah kelompok ekstrim sebesar 27%. Individu yang memiliki skor hasil belajar disekitar rata - rata (di tengah - tengah) tidak ikut dianalisis dalam uji daya beda karena kurang bisa mengidentifikasi kecenderungan apakah individu tersebut termasuk kelompok atas atau kelompok bawah. Proses penentuan kelompok atas dan kelompok bawah dari responden adalah dengan cara mengurutkan skor setiap testi, dari sekor tertinggi sampai dengan skor terendah. Kemudian diambil 27% kelompok atas dan 27% kelompok bawah.

Berdasarkan atas hasil uji coba butir tes hasil belajar matematika siswa yang berjumlah 15 butir dengan jumlah responden 50 orang, maka akan diperoleh skor total setiap responden. Setelah itu skor ini diurutkan untuk menentukan responden yang termasuk kelompok atas dan responden kelompok bawah. Pengurutan skor testi dilakukan dengan pola descending, yaitu pengurutan yang dimulai dari testi yang memperoleh skor tertinggi sampai dengan testi yang memperoleh skor terendah. Kemudian ditentukan jumlah kelompok atas dengan kelompok bawah. Cara menentukannya adalah dengan mengalikan jumlah keseluruhan testi dengan 27%. Berikut ini penentuan jumlah masing - masing kelompok.

Kelompok atas = Jumlah responden ×27 = 50×27

(28)

= 50×27

= 13,5 (diambil 14 orang kelompok bawah)

Dari hasil analisis di atas, diperoleh jumlah kelompok atas dan kelompok bawah masing – masing sebanyak 14 orang. Adapun nomor responden yang termasuk dalam kelompok atas adalah A01, A20, A50, A10, A44, A45, A03, A08, A09, A48, A12, A27, A47, dan A02. Sedangkan untuk nomor responden yang termasuk dalam kelompok bawah adalah A22, A26, A29, A31, A36, A41, A43, A06, A23, A25, A33, A37, A49, dan A17.

Selanjutnya dilakukan analisis jawaban yang benar dan salah pada setiap butir tes. Setelah diketahui jumlah jawaban yang benar dari responden kelompok atas dan kelompok bawah pada setiap butir tes selanjutnya dianalisis dengan rumus DP yang sudah dikemukakan di atas. Berikut adalah hasil perhitungan daya pembeda tes hasil belajar matematika.

Tabel 1.7 Rekapitulasi Hasil Analisis Daya Pembeda Tes Hasil Belajar Nomor Butir

10 14 2 0,86 Sangat Baik

11 12 2 0,71 Sangat Baik

12 14 1 0,93 Sangat Baik

13 11 5 0,43 Baik

14 14 2 0,86 Sangat Baik

15 12 5 0,50 Baik

Keterangan:

(29)

Banyak soal yang DP nya cukup 3 butir Banyak soal yang DP nya jelek 0 butir Banyaknya soal yang DP nya sangat jelek 0 butir

Jumlah 15 butir

10.4. Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar Matematika

Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan mudah atau sulitnya suatu soal. Analisis tingkat kesukaran dimaksudkan untuk mengetahui butir soal tersebut tergolong soal mudah atau sukar. Indeks kesukaran berkisar antara nilai 0,00 sampai dengan 1,00. Soal dengan indeks kesukaran 0,00 berarti butir soal tersebut terlalu sukar, sebaliknya indeks kesukaran soal mendekati 1,00 berarti soal tersebut terlalu mudah. Rumus untuk mencari indeks kesukaran adalah sebagai berikut

a. Rumus tingkat kesukaran butir tes (IK) IK=nB

n Keterangan:

IK = Indeks kesukaran butir tes

nB = Banyaknya testi yang menjawab benar n = Banyaknya testi keseluruhan

b. Rumus indeks kesukaran perangkat tes (IKP) IKP=

IK

N Keterangan:

IKP = Indeks kesukaran perangkat tes

IK = Indeks kesukaran tiap butir tes N = Banyaknya butir tes

(30)

IK/IKP = 0,00 Terlalu sukar

IK/IKP = 1,00 Terlalu mudah

Berikut ini rekapitulasi hasil analisis indeks kesukaran tes hasil belajar peserta didik. Tabel 1.8 Rekapitulasi Hasil Analisis Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar

Nomo

11 24 50 0,48 Sedang

12 25 50 0,5 Sedang

13 24 50 0,48 Sedang

14 27 50 0,54 Sedang

15 22 50 0,44 Sedang

Jumlah IK 7,02

Keterangan:

Banyaknya soal yang terlalu sukar 0 butir Banyaknya soal yang sukar 0 butir Banyaknya soal yang sedang 15 butir Banyaknya soal yang mudah 0 butir Banyaknya soal yang terlalu mudah 0 butir

Jumlah 15 butir

(31)

IK=7,02 N=50

Jika dinkonversikan dengan kategori indeks kesukaran seperti yang telah dijelaskan di atas, IKP = 0,1404 berada diantra nilai 0,00 – 0,30 yang berarti IKP tergolong dalam kategori sukar. 10.5. Pengecoh Tes Hasil Belajar Matematika

Suatu pengecoh dikatakan berfungsi dengan baik apabila dipilih oleh minimal 5% peserta tes. Berdasarkan hasil analisis, berikut ini kategori pengecoh masing-masing butir soal.

Tabel 1.9 Rekapitulasi Analisis Pengecoh Tes Hasil Belajar

Nomor Butir Option Jumlah Pemilih % Kriteria Keterangan

1

A 26 52% Baik Jawaban

B 5 10% Baik

C 10 20% Baik

D 9 18% Baik

2

A 26 52% Baik Jawaban

B 8 16% Baik

D 31 62% Baik Jawaban

4

A 6 12% Baik

B 5 10% Baik

C 28 56% Baik Jawaban

D 11 22% Baik

(32)

Nomor Butir Option Jumlah Pemilih % Kriteria Keterangan

B 5 10% Baik

C 25 50% Baik Jawaban

D 13 26% Baik

6

A 22 44% Baik Jawaban

B 5 10% Baik

C 11 22% Baik

D 12 24% Baik

7

A 26 52% Baik Jawaban

B 7 14% Baik

C 9 18% Baik

D 8 16% Baik

8

A 6 12% Baik

B 26 52% Baik Jawaban

C 10 20% Baik

D 24 48% Baik Jawaban

10

A 6 12% Baik

B 9 18% Baik

C 24 48% Baik Jawaban

D 10 20% Baik

11

A 25 50% Baik Jawaban

B 5 10% Baik

C 26 52% Baik Jawaban

D 11 22% Baik

13

A 6 12% Baik

B 24 48% Baik Jawaban

C 10 20% Baik

D 10 20% Baik

14 A 9 18% Baik

B 5 10% Baik

(33)

Nomor Butir Option Jumlah Pemilih % Kriteria Keterangan

D 27 54% Baik Jawaban

15

A 6 12% Baik

B 22 44% Baik Jawaban

C 12 24% Baik

D 10 20% Baik

11. Interprestasi Atau Perangkat Tes Jadi

Berdasarkan hasil analisis validitas, reliabilitas, daya pembeda, indeks kesukaran, dan pengecoh dengan menggunakan Microsoft Excel dapat dirangkum sebagai berikut:

a. Dari 15 butir soal yang diujikan kepada 50 responden, terdapat 15 butir soal valid dan sebanyak 0 butir tidak valid.

b. Untuk analisis reliabilitas tes hasil belajar peserta didik diperoleh nilai rpbi sebesar 0,322. c. Pada analisis daya pembeda yang diuji cobakan kepada responden sebanyak 50 responden

terdapat 6 butir soal yang berkategori sangat baik, 6 butir soal kategori baik, dan 3 soal berkategori cukup dimana hasil ini didapat dari pengelompokan dari kelompok atas dan kelompok bawah yang berjumlah masing – masing 14 responden.

d. Pada analisis indeks kesukaran diperoleh nilai IK sebesar 7,02 dan nilai IKP sebesar 0,1204 dimana dari hasil tersebut merupakan kategori sukar.

e. Pada analisis pengecoh yang diuji cobakan kepada 50 responden terdapat 15 butir soal yang masuk kategori baik dan 0 butir termasuk kategori tidak baik.

Berikut ini adalah hasil rekapitulasi analisis validitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran pada masing – masing butir soal sebanyak 15 butir.

Tabel 1.10 Rekapitulasi Validitas, Daya Pembeda, dan Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar Nomor Butir Validitas Daya Pembeda Indeks Kesukaran

1 Valid Cukup Sedang

(34)

Nomor Butir Validitas Daya Pembeda Indeks Kesukaran

10 Valid Sangat Baik Sedang

11 Valid Sangat Baik Sedang

12 Valid Sangat Baik Sedang

13 Valid Baik Sedang

14 Valid Sangat Baik Sedang

15 Valid Baik Sedang

NON TES

1. Tujuan Pembuatan Angket Cara Belajar Matematika Siswa

Selain tes, non tes juga memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui pengaruh cara belajar siswa terhadap prestasi belajar peserta didik, dimana dalam hal ini memiliki satu variabel yaitu cara belajar yang terdiri dari lima indikator yaitu pembuatan jadwal belajar, membaca dan membuat catatan, mengulang bahan pelajaran, konsentrasi, dan mengerjakan tugas. Dari kelima indikator tersebut akan dibuat 15 butir pernyataan dan masing – masing indikator terdapat 3 butir pernyataan..

2. Telaah Konsep Tentang Angket Cara Belajar Matematika Siswa 2.1. Pengertian Cara Belajar

(35)

belajar karena tidak mengetahui cara - cara belajar yang efektif. Semakin baik siswa dalam mengetahui cara belajar yang baik maka akan baik pula hasilnya.

Cara belajar akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Apabila peserta didik tidak memiliki cara belajar yang efektif maka hasil belajar yang diperoleh pun akan rendah. Perilaku peserta didik dalam mencapai suatu usaha tujuan belajar yang akan mempengaruhi hasil yang dicapai. Perilaku - perilaku yang menumbuhkan cara belajar yang dianggap dapat menyelesaikan atau mencapai tujuan belajar tersebut. Oleh karena itu, seseorang yaitu peserta didik akan melaksanakan suatu pekerjaan yang mempunyai suatu cara tersendiri atau berbeda antara satu dengan yang lainnya atau tidak akan memperoleh suatu hasil yang sama pula.

Dari pendapat - pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa cara belajar siswa adalah kegiatan kegiatan yang dilaksanakan siswa pada situasi belajar tertentu, kegiatan -kegiatan tersebut merupakan pencerminan usaha belajar yang dilakukannya.

2.2. Cara Belajar Efektif

Menurut Slameto (2010:73) menyatakan bahwa ada dua cara belajar yang efektif yaitu sebagai berikut:

a. Perlunya Bimbingan

Belajar itu sangat kompleks, belum diketahui segala seluk - beluknya. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor. kecakapan dan ketangkasan belajar berbeda secara individu. Walaupun demikian kita dapat membantu siswa dengan memberi petunjuk-petunjuk umum tentang cara - cara belajar yang efisien. Hasil lebih baik kalau cara-cara belajar dipraktekkan dalam tiap pelajaran yang diberikan.

b. Kondisi dan Strategi Belajar

Kondisi internal yaitu kondisi yang ada di dalam diri siswa itu sendiri misalnya kesehatan, ketentraman, keamanan, dan sebagainya. Kondisi eksternal yaitu kondisi yang ada diluar diri pribadi manusia. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin.

(36)

3. Variabel Pengukuran

Pada variabel pengukuran nontes, variabel yang akan diukur adalah Cara Belajar Siswa dimana terdapat lima indikator, diantaranya adalah pembuatan jadwal belajar, membaca dan membuat catatan, mengulang bahan pelajaran, konsentrasi, dan mengerjakan tugas. Alat yang dipakai untuk mengukur cara belajar siswa adalah berupa angket atau kuisioner cara belajar siswa terhadap pelajaran matematika dengan menggunakan skala Likert.

4. Definisi Konsep

Pada telaah konsep tentang nontes, telah diuraikan pengertian dari cara belajar. Maka, dapat disimpulkan bahwa cara belajar adalah suatu strategi atau kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam rangka mencapai hasil belajar yang baik dimana hasil belajar tersebut akan tergambar dalam bentuk prestasi belajar peserta didik. Baik buruknya cara belajar akan mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga siswa harus mengetahui cara – cara belajar efektif yang akan digunakan oleh peserta didik agar dapat mencapai prestasi belajar yang diinginkan.

5. Definisi Operasional

Pengaruh cara belajar siswa secara operasional adalah total skor secara keseluruhan yang diperoleh oleh peserta didik setelah peserta didik tersebut mengisi angket atau kuisioner yang telah diberikan.

6. Kisi – Kisi Butir Soal Angket Cara Belajar Matematika Siswa

(37)

Untuk mengukur variabel cara belajar, variabel dijabarkan menjadi indikator-indikator yang tersusun dalam kisi - kisi angket sebagai berikut:

Tabel 2.1. Hasil Kisi – Kisi Butir Soal Angket Cara Belajar

VARIABEL DIMENSI INDIKATOR NOMORBUTIR TOTALBUTIR KET.

Cara Belajar (sumber Slameto 20

10:73)

Pembuatan jadwal belajar 1, 2, 3 3 Butir -Membaca dan membuat

catatan 4, 5, 6 3 Butir

-Mengulang bahan

pelajaran 7, 8, 9 3 Butir

-Konsentrasi 11, 13, 15 3 Butir

-Mengerjakan tugas 10, 12, 14 3 Butir

-Total Butir 15 Butir

7. Butir Pernyataan Angket Cara Belajar Matematika Siswa

Angket Cara Belajar Siswa Terhadap Pelajaran Matematika Identitas Responden

NAMA :

JENIS KELAMIN : *L/P

KELAS :

ASAL SEKOLAH :

*Coret bagian yang tidak perlu

Petunjuk

1. Bacalah pertanyaan dibawah ini dengan seksama, kemudian pilihlah jawaban yang sesuai dengan pilihan anda. Berilah tanda Checklist (√) pada jawaban anda di kolom criteria jawaban yang artinya sebagai berikut:

(38)

KD = Kadang – kadang

1 Saya Selalu melaksanakan belajar sesuai dengan jadwal √

2. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan apa yang ada pada diri anda dengan sejujurnya, sebab tidak ada jawaban yang salah.

3. Atas kesediaannya dalam mengisi angket saya ucapkan terima kasih sebesar - besarnya.

No. Pernyataan

Saya membuat dan melaksanakan jadwal untuk mengatur waktu belajar baik di rumah maupun di sekolah

2. Apabila ada materi yang sulit dipahami saya akan mudah menyerah untuk belajar materi tersebut 3. Saya memanfaatkan waktu belajar di rumah dengan maksimal

4.

Pada saat guru menerangkan materi pembelajaran di depan kelas, saya lebih banyak mengobrol dengan teman

5. Membaca secara cermat dan memahami konsep materi matematika dalam mempelajari buku pelajaran

6.

Bila tidak masuk sekolah pada saat ada mata pelajaran matematika, saya jarang bertanya tugas dan meminjam catatan kepada teman

7.

Apabila saya tidak dapat memahami materi yang

disampaikan oleh guru, saya akan bertanya dan meminta guru untuk menjelaskan ulang sampai saya paham 8. Saya malas mengulang materi jika ada materi yang sulit

dipahami ketika belajar

(39)

No. Pernyataan

Kriteria Jawaban

SL SR JR K

D TP

saya mengulang materi tersebut dengan cara bertanya pada teman yang lebih paham

10. Setiap kali ada tugas rumah (PR) dari guru, saya akan mencontek teman di kelas

11.

Pada saat belajar saya akan memusatkan pikiran saya terhadap suatu mata pelajaran dengan menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran tersebut

12.

Bila ada tugas atau pekerjaan yang belum selesai dikerjakan, saya lebih dominan untuk bersantai dan mendengarkan musik

13. Pada saat waktu mengikuti pelajaran matematika, saya mudah merespon materi yang diberikan oleh guru 14. Saya mengacuhkan tugas matematika yang diberikan oleh guru 15. Pada saat belajar saya berada di tempat belajar yang bersih, rapi, dan tenang

8. Uji Coba Angket Cara Belajar Matematika Siswa

Suharsimi Arikunto (2005:165) berpendapat bahwa peneliti yang menggunakan instrumen yang disusun sendiri tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab mencobakan instrumennya agar apabila digunakan untuk mengumpulkan data, instrumen tersebut sudah betul - betul handal. Tujuan uji coba yang berhubungan dengan kualitas instrumen adalah upaya untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Berikut adalah hasil uji coba angket cara belajar siswa terhadap pelajaran matematika kepada responden yang berjumlah 50 responden

(40)
(41)

RESPONDEN

Tabel 2.3. Distribusi Jawaban Siswa

9. Analisis Butir Angket Cara Belajar Matematika Siswa

Pada angket cara belajar siswa terhadap matematika yang dibuat secara umum terdiri dari dua pernyataan, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif. Adapun pernyatan positif berjumlah 8 butir, yaitu butir nomor: 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, dan 15. Sedangankan pernyatan negatif sebanyak 7 butir, yaitu butir nomor: 2, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14. Dari 10 butir soal tersebut di atas akan diujicobakan secara empirik untuk mengetahui validitas dan reliabilitas angket cara belajar siswa terhadap pelajaran matematika.

9.1. Uji Validitas Angket Cara Belajar Matematika Siswa

Oleh karena tes bersifat politomi, yaitu mempunyai lima nilai maka dalam analisis valididas digunakan rumus korelasi product moment dari Person. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

rxy=

N

XY

(

X

)(

Y

)

(

N

X2−

(

X

)

2

)(

N

Y

(

Y

)

2

)

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi product moment X = Skor butir

Y = Skor total

(42)

masing-Contoh analisis manual dengan rumus korelasi produk moment. Untuk butir soal no 1, dengan bantuan Microsoft Excel diperoleh :

X = 156

X2 = 590

XY = 7661 taraf signifikan 5% adalah 0,2787 (dibulatkan menjadi 0,279). Oleh karena rtabel>rhitung maka butir soal nomor 1 dalam kategori valid. Berikut ini rekapitulasi hasil uji validitas tes cara belajar siswa terhadap pelajaran matematika.

Tabel 2.4. Rekapitulasi Hasil

Analisis Validitas Tes Cara Belajar

38 Nomor

Butir rxy r Tabel Status Keputusan

(43)

Keterangan:

Jumlah Butir Angket yang Valid : 15 Butir Jumlah Butir Angket yang Drop : 0 Butir

9.2. Perhitungan Reliabilitas Tes Cara Belajar Matematika Siswa

Reliabilitas tes sikap ditentukan dengan rumus Alpha Cronbach karena bersifat politomi, yaitu:

r11=

(

k

k−1

)

(

1−

Si2 Si2

)

Keterangan:

k = Banyak butir tes yang valid Si2 = Varian skor butir ke-i Si

2 = Varian skor total

Dengan bantuan tabel rekapitulasi hasil analisis validitas angket sikap, diperoleh: k = 15 Si2 = 29,281 Si2 = 69,153

Sehingga diperoleh koefisien reliabiltas tes sebagai berikut.

r11=

(

kk

−1

)

(

1−

Si2

Si2

)

r11=

(

15

14

)(

1−

29,281 69,153

)

r11=

(

15

14

)

(1−0,423) r11=(1,071)(0,576)

(44)

Berdasarkan analisis diatas maka nilai reliabilitas cara belajar siswa terhadap pelajaran matematika adalah 0,617

10. Interprestasi Atau Non Tes Jadi Angket Cara Belajar Matematika Siswa

Berdasarkan hasil analisis validitas dan analisis reliabilitas dengan menggunakan Microsoft Excel dapat dirangkum sebagai berikut:

a. Dari 15 butir angket yang diuji cobakan termasuk dalam kategori (status) valid sebanyak 15 butir dan kategori (status) drop (tidak valid) sebanyak 0 butir.

b. Untuk analisis reliabilitas kuesioner kebiasaan belajar siswa diperoleh nilai r11 sebesar 0,617.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman Mulyono. 2003. Pendidikan bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta. Anni, Catarina Tri, dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES Press

Arikunto Suharsimi Prof. Dr. 2015. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Kedua. Jakarta : Bumi Aksara.

Djali, Haji. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Dalyono, M. 2009 . Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

(45)

Rokhmah Rofiqoh Nur. 2014. “Pengaruh Cara Belajar Matematika Terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas IV Sd Se-Gugus Imam Bonjol Kecamatan Purbalingga”. Skripsi (tidak diterbitkan). Bengkulu : Universitas Negeri Yogyakarta.

Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Segala Syaiful Prof. Dr. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor - Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta Sudijono Anas Prof. Dr. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers

Figur

Tabel 1.1. Hasil Analisis Kurikulum
Tabel 1 1 Hasil Analisis Kurikulum. View in document p.9
Tabel 1.2. Hasil Analisis Buku Pelajaran
Tabel 1 2 Hasil Analisis Buku Pelajaran. View in document p.10
Tabel 1.3. Hasil Kisi – Kisi Tes Hasil Belajar Matematika Peserta Didik
Tabel 1 3 Hasil Kisi Kisi Tes Hasil Belajar Matematika Peserta Didik. View in document p.11
Tabel 1.4 Hasil Jawaban Siswa
Tabel 1 4 Hasil Jawaban Siswa. View in document p.20
Tabel 1.5 Hasil Distribusi Jawaban Siswa
Tabel 1 5 Hasil Distribusi Jawaban Siswa. View in document p.22
Tabel 1.6 Rekapitulasi Hasil Analisis Validitas Tes Hasil Belajar
Tabel 1 6 Rekapitulasi Hasil Analisis Validitas Tes Hasil Belajar. View in document p.24
Tabel 1.7 Rekapitulasi Hasil Analisis Daya Pembeda Tes Hasil Belajar
Tabel 1 7 Rekapitulasi Hasil Analisis Daya Pembeda Tes Hasil Belajar. View in document p.28
Tabel 1.8 Rekapitulasi Hasil Analisis Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar
Tabel 1 8 Rekapitulasi Hasil Analisis Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar. View in document p.30
Tabel 1.9 Rekapitulasi Analisis Pengecoh Tes Hasil Belajar
Tabel 1 9 Rekapitulasi Analisis Pengecoh Tes Hasil Belajar. View in document p.31
Tabel 1.10 Rekapitulasi Validitas, Daya Pembeda, dan Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar
Tabel 1 10 Rekapitulasi Validitas Daya Pembeda dan Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar. View in document p.33
Tabel 2.1. Hasil Kisi – Kisi Butir Soal Angket Cara Belajar
Tabel 2 1 Hasil Kisi Kisi Butir Soal Angket Cara Belajar. View in document p.37
Tabel 2.3. Distribusi Jawaban Siswa
Tabel 2 3 Distribusi Jawaban Siswa. View in document p.41
Tabel 2.4.
Tabel 2 4 . View in document p.42

Referensi

Memperbarui...