• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING TIPE MODELING THE WAY DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT KELAS VII DI MTs NU 07 PATEBON KENDAL TAHUN AJARAN 20102011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING TIPE MODELING THE WAY DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT KELAS VII DI MTs NU 07 PATEBON KENDAL TAHUN AJARAN 20102011"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE

LEARNING TIPE MODELING THE WAY DALAM

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA

SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH

KETUPAT KELAS VII DI MTs NU 07 PATEBON KENDAL

TAHUN AJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam

Ilmu Pendidikan Matematika

Oleh:

ACHMAD SYAIFUL MA’ARIF

NIM: 073511002

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Achmad Syaiful Ma’arif

NIM : 073511002

Jurusan/Program Studi : Tadris Matematika

Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 30 November 2011

Saya yang menyatakan

(3)

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus II Ngaliyan Telp. 7601295 Fax. 7615387 Semarang 50185

PENGESAHAN

Naskah skripsi dengan:

Judul : Efektivitas Model Pembelajaran Active Learning Tipe Modeling the Way dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Sub Pokok Bahasan Jajar Genjang dan Belah Ketupat Kelas VII di MTs NU 07 Patebon Kendal Tahun Ajaran 2010/2011

Nama : Achmad Syaiful Ma’arif NIM : 073511002

Jurusan : Tadris Program Studi : Matematika

telah diujikan dalam sidang munaqasyah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Matematika.

(4)

NOTA PEMBIMBING Semarang, 30 November 2011 Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah

IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE

LEARNING TIPE MODELING THE WAY DALAM

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT KELAS VII DI MTs NU 07 PATEBON KENDAL TAHUN AJARAN 2010/2011

Nama : Achmad Syaiful Ma’arif NIM : 073511002

Jurusan : Tadris

Program Studi : Matematika

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqosah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Pembimbing I

(5)

NOTA PEMBIMBING Semarang, 30 November 2011 Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah

IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE

LEARNING TIPE MODELING THE WAY DALAM

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT KELAS VII DI MTs NU 07 PATEBON KENDAL TAHUN AJARAN 2010/2011

Nama : Achmad Syaiful Ma’arif NIM : 073511002

Jurusan : Tadris

Program Studi : Matematika

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqosah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(6)

ABSTRAK

Judul : efektivitas model pembelajaran active learning tipe modeling the way dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat kelas VII di MTs NU 07 Patebon Kendal tahun ajaran 2010/2011.

Penulis : Achmad Syaiful Ma’arif NIM : 073511002

Skripsi ini membahas efektivitas model pembelajaran active learning tipe modeling the way pada jajar genjang dan belah ketupat. Pada penelitian ini, bertujuan untuk menguji atau membuktikan keefektifan model pembelajaran active learning tipe modeling the way pada peserta didik kelas VII di MTs NU 07 Patebon dalam pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan

eksperimental berdesain “Posttest-Only Control Design”, dilaksanakan pada kelas

VII di MTs NU 07 Patebon Kendal. Adapun teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling, sedangkan untuk menentukan kelas mana yang menjadi kelas kontrol maupun eksperimen menggunakan teknik random assignment. Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII B sebagai kelas kontrol dengan jumlah 38 anak, dan kelas VII C sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 38 anak. Sedangkan yang menjadi kelas uji coba adalah kelas VII A dengan jumlah 36 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, observasi, dan tes. Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data mengenai nama-nama peserta didik kelas VII di MTs NU 07 tahun ajaran 2010/2011 Patebon. Metode observasi digunakan untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam pembelajaran active learnig tipe modelling the way pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat pada peserta didik kelas VII MTs NU 07 Patebon Kendal. Metode tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat. Dalam penelitian ini, peneliti memberikan perlakuan yang berbeda, kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran active learning tipe modeling the way sedangkan kelas kontrol menggunakan metode konvensional.

Hasil penelitian ini sebagai berikut: pada uji normalitas kelompok eksperimen diperoleh 2hitung = 6,399 dan kelompok kontrol diperoleh 2hitung =

5,82. Dengan α = 5% dan dk = 6 - 3 = 3 dari distribusi chi kuadrat didapat 2tabel

= 7,81 sehingga 2hitung < 2tabel disimpulkan data tersebut berdistribusi normal.

Uji homogenitas antar kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan dengan uji kesamaan 2 varian, diperoleh Fhitung = 1,57 sedangkan Ftabel = 1,77dengan α = 5%,

dan dk pembilang = 34-1 = 33 dan dk penyebut = 36-1 = 35, maka Fhitung < Ftabel.

Artinya kedua kelompok homogen. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis uji t pihak kanan, diperoleh thitung = 5,512. Dengan α = 5% dan dk = n1+

(7)

Karena thitung > ttabel berarti H1 diterima yang artinya rata–rata hasil belajar peserta

(8)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirobbil alamin, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada semua

hamba-Nya. Terlebih kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad saw, Nabi akhir zaman dan pembawa rahmat bagi makhluk seluruh alam.

Dengan penuh rasa syukur penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan skripsi ini, terutama kepada:

1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, DR. Suja’i, M.Ag.

2. Dosen pembimbing Lulu Choirun Nisa, S.Si., M.Pd dan Drs. H. Shodiq, M.Ag, yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan skripsi.

3. Kepala Sekolah MTs NU 07 Patebon, Mukhlis, S.Ag yang berkenan memberikan izin pada penulis untuk melakukan penelitian di MTs NU 07 Patebon.

4. Guru pengampu bidang studi matematika MTs NU 07 Patebon Ibu Rosidah

yang memberikan banyak arahan dan informasi selama proses penelitian. 5. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah yang telah membekali banyak pengetahuan

kepada penulis dalam menempuh studi di Fakultas Tarbiyah.

6. Segenap pegawai Fakultas Tarbiyah, pegawai perpustakaan IAIN, pegawai perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan pegawai perpustakaan TPM yang telah memberikan layanan yang baik bagi penulis.

(9)

8. Segenap teman-teman seperjuangan dari TM A angkatan 2007 yang saya sayangi.

9. Teman-teman yang ikut memberikan motivasi selama menempuh studi, khususnya dalam proses penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Semoga Allah SWT membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang lebih dari yang mereka berikan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi, metodologi dan analisisnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap, semoga apa yang tertulis dalam skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya. Amin.

Semarang, 24 November 2011

Penulis

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

NOTA PEMBIMBING ... iv

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Masalah ... 5

C. Rumusan Istilah... .. 5

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

BAB II : LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka ... 8

B. Kerangka Teoritik ... 9

1. Belajar dan Pembelajaran ... 9

a. Pengertian Belajar ... 9

b. Pembelajaran Matematika ... 11

c. Teori-teori Belajar ... 12

2. Hasil Belajar ... 14

a. Pengertian Hasil Belajar ... 14

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar .... 17

3. Model Pembelajaran Active Learning ... 22

4. Active Learning tipe Modeling the Way ... 23

5. Uraian Materi ... 25 6. Penerapan Active Learning tipe Modeling the Way

(11)

ketupat... 28

C. Rumusan Hipotesis ... 29

BAB III : METODE PENELITIAN A. Tujuan Penelitian ... 30

B. Jenis Penelitian ... 30

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 30

D. Variabel Penelitian ... 31

E. Desain Penelitian ... 31

F. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 32

G. Teknik Pengumpulan Data ... 33

H. Prosedur Penelitian... 35

I. Analisis Data ... 38

1. Analisis Instrumen Pengumpulan data ... 38

2. Analisis Data ... 42

3. Analisis Uji Hipotesis ... 45

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 48

B. Analisis Data ... 48

1. Analisis Instrumen Pengumpulan data ... 48

2. Analisis Data ... 52

3. Analisis Uji Hipotesis ... 53

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 54

D. Keterbatasan Penelitian ... 55

BAB V : PENUTUP A. Simpulan ... 56

B. Saran ... 57

C. Penutup ... 57

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi dan modernisasi sekarang ini yang terus berkembang, terjadi perubahan-perubahan yang begitu cepat dan pesat,

baik masyarakat ataupun ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Perubahan tersebut menyebabkan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sebuah proses pendidikan. Karena adanya perubahan tersebut, pendidikan harus bisa bersifat terbuka dan dinamis. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan sekarang, seyogyanya pendidikan sudah berorientasi ke masa depan. Itu sebabnya pendidikan sangat penting bagi suatu bangsa. Pendidikan dianggap sebagai investasi yang berharga. Investasi yang dimaksud adalah investasi dalam pembangunan, pengembangan, serta peningkatan SDM (sumber daya manusia). SDM yang berkualitas akan membangun bangsa yang maju dan bermartabat. Sehingga banyak yang menjadikan pendidikan sebagai tolok ukur kemajuan suatu bangsa.

Pembelajaran adalah aktivitas dalam pendidikan. Proses pembelajaran sebagai pendidikan secara formal melibatkan dua komponen yakni guru dan peserta didik. Keduanya saling berinteraksi aktif dalam mencapai sebuah tujuan pembelajaran. Sebagai guru, diantara kemampuan dasar yang harus dimiliki adalah dapat mengoptimalisasikan kemampuan

perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Sementara peserta didik juga harus dapat merespon secara aktif apa yang telah disampaikan

oleh guru.

(14)

kepada peserta didik dan interaksi yang terjadi di dalam proses pembelajaran. Interaksi peserta didik tidak terbatas pada seorang guru saja sebagai sumber belajar. Guru harus kreatif dalam menciptakan sumber belajar yang terdapat di sekeliling peserta didik dengan maksimal. Dengan cara demikian diharapkan tujuan pendidikan dapat tercapai.

Matematika adalah mata pelajaran yang sangat penting dalam pendidikan. Pelaksanaannya berjenjang mulai dari sekolah tingkat dasar, menengah hingga tingkat perguruan tinggi. Satu materi dengan materi yang lain saling berhubungan sehingga diperlukan pemahaman materi sebelumnya untuk dapat membangun pemahaman materi yang baru. Segi empat merupakan materi matematika yang tergolong dalam geometri. Materi segi empat termasuk dalam kurikulum KTSP pada jenjang SMP/MTs kelas VII semester genap. Materi segi empat terbagi mejadi sub pokok bahasan di antaranya jajargenjang dan belah ketupat. Materi ini sering kali dijumpai oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga materi ini tergolong materi yang mudah diterima.

Akan tetapi ini berbeda dengan yang terjadi di MTs NU 07 Patebon Kabupaten Kendal. Menurut informasi guru matematika kelas VII, banyak peserta didik yang kurang memahami dan kesulitan mempelajari materi

(15)

menyampaikan pendapat, dan juga tukar pikiran dengan sesama teman pun jarang dilakukan. Kondisi ini yang menimbulkan hasil belajar mereka kurang dari yang diharapkan karena rasa jenuh dalam pembelajaran dan rasa malas pada diri peserta didik. Mereka menjadi peserta didik yang pasif sehingga tidak mengherankan kalau hasil belajar peserta didik di MTs NU 07 Patebon khususnya di mata pelajaran matematika nilainya di bawah KKM yakni 60.

Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran active learning tipe modeling the way. Model pembelajaran ini termasuk dalam metode pembelajaran aktif dimana menekankan peserta didik untuk lebih berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam model pembelajaran ini sumber belajar tidak terbatas pada guru seorang, tetapi sesama peserta didik juga dapat menjadi sumber belajar. Model pembelajaran active learning tipe modeling the way juga melatih peserta didik dalam mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Tidak hanya akan membantu peserta didik dalam memahami konsep tetapi

juga melatih peserta didik untuk dapat berkomunikasi baik dengan guru dan juga dengan sesama temannya. Dengan penerapan model ini, peserta didik diharapkan terlepas dari rasa kejenuhan yang selama ini dialaminya

sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik MTs NU 07 Patebon di mata pelajaran matematika.

Melihat dari permasalahan di atas peneliti akan mengangkat judul

“EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING TIPE

MODELING THE WAY DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

PESERTA DIDIK PADA SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT KELAS VII DI MTs NU 07 PATEBON KENDAL TAHUN AJARAN 2010/2011”.

(16)

Efektivitas berasal dari kata efektif yang artinya ada efeknya, (pengaruhnya, akibatnya, kesannya).1 Sehingga Efektivitas diartikan adanya kesesuaian antara yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang akan dicapai.2 Dalam penelitian ini yang dimaksud efektif adalah jika rata-rata hasil belajar peserta didik pada kelas yang diajar dengan model pembelajaran active learning tipe modeling the way lebih besar dari pada rata-rata hasil belajar pada kelas yang diajar dengan metode konvensional.

Pembelajaran aktif (active learning) adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik maupun peserta didik dengan guru dalam proses pembelajaran.

Model pembelajaran modeling the way merupakan strategi yang menggunakan model pembelajaran aktif (active learning). Strategi ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan spesifik yang dipelajari di kelas melalui demonstrasi. Peserta

didik diberi waktu untuk menciptakan skenario sendiri dan menentukan bagaimana mereka mengilustrasikan keterampilan dan teknik yang baru saja dijelaskan. Strategi ini akan sangat baik jika digunakan untuk

mengajarkan pelajaran yang menuntut keterampilan tertentu.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajar.3

Materi jajar genjang dan belah ketupat merupakan salah satu sub pokok bahasan materi segi empat pada mata pelajaran matematika yang diajarkan kepada peserta didik di MTs NU 07 Patebon semester genap.

Jadi penelitian dengan judul “Efektivitas Model Pembelajaran Active

Learning Tipe Modeling The Way dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Peserta Didik pada Sub Pokok Bahasan Jajar Genjang dan

1

Wjs. Poerwadarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2006), Cet.3, hlm. 311.

2

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 82.

3

(17)

Belah Ketupat Kelas VII di MTs NU 07 Patebon Kendal Tahun Ajaran 2010/2011”, berarti dalam penelitian akan diterapkan model pembelajaran model pembelajaran active learning tipe modeling the way agar hasil belajar matematika peserta didik pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat dapat ditingkatkan dengan cara mengubah model pengajarannya.

B. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya cangkupan matematika dan banyaknya permasalahan dalam pemecahan masalah matematika, maka peneliti akan membatasi permasalahan sebagai berikut:

1. Peserta didik yang menjadi objek penelitian ini adalah peserta didik kelas VII MTs NU 07 Patebon tahun ajaran 2010/2011.

2. Materi yang diajarkan adalah materi jajar genjang dan belah ketupat.. 3. Hasil belajar peserta didik adalah hasil belajar dengan model

pembelajaran active learning tipe modeling the way.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan dalam

penelitian ini adalah apakah model pembelajaran active learning tipe modeling the way efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII MTs NU 07 Patebon Kendal pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

(18)

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Guru

a. Guru mendapatkan inovasi pembelajaran.

b. Guru dapat meningkatkan kreativitas dalam pengembangan materi. c. Guru juga memperoleh suatu variasi pembelajaran terhadap materi

Matematika, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan dalam pemahaman konsep peserta didik.

d. Membantu guru berkembang secara profesional. 2. Bagi Peserta Didik

a. Terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik dapat menangkap pengetahuannya.

b. Meningkatkan motivasi dan daya tarik peserta didik terhadap pelajaran Matematika.

c. Peserta didik diharapkan dapat lebih aktif dan kreatif dalam

pembelajaran Matematika.

d. Menumbuhkan kemampuan kerjasama dan keterampilan berpikir peserta didik.

e. Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pelajaran matematika.

3. Bagi Peneliti

a. Sebagai referensi bagi peneliti untuk melaksanakan pembelajaran matematika ketika terjun ke lapangan, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan.

b. Peneliti memperoleh pengalaman langsung bagaimana memilih pembelajaran yang tepat khususnya dalam melaksanakan model pembelajaran active learning tipe modeling the way, sehingga dimungkinkan kelak ketika terjun ke lapangan mempunyai wawasan dan pengalaman.

(19)

diperoleh suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan peserta didik.

d. Mengetahui efektivitas model pembelajaran active learning tipe modeling the way.

4. Bagi Lembaga Pendidikan

a. Memberikan sumbangan positif tentang salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar matematika.

b. Penelitian ini diharapkan dapat membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut.

(20)

BAB II

MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING TIPE MODELING THE WAY

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian Cokro Pranolo (4101404037) tahun 2008 dari Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang dengan judul “Efektivitas model Active Learning terhadap prestasi belajar Matematika pokok bahasan himpunan pada peserta didik kelas VII semester II SMP Negeri 10 Kota Tegal tahun

pelajaran 2007/2008”. Hasil penelitian menunjukkan = 3,206

kemudian dengan uji t dua pihak dengan α = 5% dengan dk= 80, peluang = 1 – α = 1 – 0,25 = 0,975 maka diperoleh = 1,99. Karena

maka pembelajaran active learning efektif dalam

meningkatkan prestasi belajar matematika kelas VII di sekolah tersebut. 2. Peneliti Mujiyah (3107025) tahun 2008 dari Fakultas Tarbiyah IAIN

Walisongo Semarang dengan judul “Implementasi pembelajaran aktif (Active Learning) dengan metode Inquiry untuk meningkatkan aktifitas kinerja ilmiah dan hasil belajar Kimia materi pokok asam, basa, dan garam peserta didik kelas VII MTs Zumrotul Wildan Ngabul Tahunan Jepara

tahun pelajaran 2008/2009”. Penelitian ini merupakan PTK. Hasil

penelitian siklus I aktivitas kinerja ilmiah dan hasil belajar peserta mencapai 40,43%. Pada siklus II meningkat menjadi 61,70% dan pada siklus III menjadi 85,11%. Peningkatan persentase tersebut menyebabkan meningkatnya aktivitas kinerja ilmiah dan hasil belajar peserta didik materi pembelajaran asam, basa, dan garam.

(21)

B. Kerangka Teoritik

1. Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar

Hampir tiap hari kita mendengar kata belajar dalam kehidupan sehari-hari. Belajar sering dikaitkan dengan membaca buku, mengerjakan tugas atau mengumpulkan informasi tentang pelajaran. Belajar merupakan aktivitas setiap orang dan berlangsung seumur hidup sehingga belajar merupakan sebuah proses yang kompleks. Islam menganjurkan umatnya untuk belajar atau mencari ilmu di dunia ini. Dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 Allah berfirman:

Artinya: bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mangajarkan manusia apa yang tidak diketahui”.4 (QS. Al-Alaq/96: 1-5).

Dari Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1-5 bahwa Allah memerintahkan manusia untuk membaca (mempelajari, meneliti, dan sebagainya) apa yang telah diciptakanNya yaitu Al-Qur’an dan alam semesta. Tujuan membaca dan mendalaminya adalah untuk memperoleh hasil yang diridhoi-Nya, yaitu ilmu atau sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Manusia diberikan oleh Allah Shubhanahu

Wata’ala akal dan pikiran. Akal dan pikiran itulah yang digunakan manusia untuk belajar. Namun pengertian akan belajar memiliki sudut pandang yang berbeda. Di sini akan dipaparkan pengertian belajar menurut beberapa ahli. Menurut Slameto, belajar adalah suatu proses

4

(22)

usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 5 Clifford T. Morgan mengungkapkan: “Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience”Bagi Morgan, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil pengalaman yang lalu.6 Belajar menurut Wittig

adalah “any relatively permanent change in an organism’s behaviora

repertoire that occurs as a result of experience”. Sedangkan belajar

menurut Brindley adalah “Learning consists of acquiring a body of

knowledge.”7 Belajar adalah perolehan sekumpulan pengetahuan. Dari pengertian-pengertian tersebut terdapat kata yakni change atau perubahan yang berarti bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi

mengerti, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan.8 Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang baru secara keseluruhan yang ditampakkan dalam peningkatan kecakapan pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan kemampuan lain, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, dimana perubahan tersebut relatif menetap dan berlangsung secara terus menerus.

5

Slameto, Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm.2.

6

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.33.

7

Jack C. Richards and Charles Lockhart, Reflective Teaching in Second LanguageClassrooms,(New York: Cambridge University Press, 1996), hlm. 35

8

(23)

b. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction

yang dalam bahasa Yunani disebut “instructus” atau “intruere” yang

berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran.9

Dalam pengertian lain, pembelajaran merupakan upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan peserta, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi yang optimal antara guru dengan peserta serta antara peserta didik dengan peserta didik.10 Pembelajaran juga dapat diartikan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dari pengertian-pengertian tersebut, maka pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang dengan sengaja dilakukan dengan menciptakan berbagai kondisi yang diarahkan untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan kurikulum

pendidikan.

Menurut Mas’ud matematika ialah ilmu yang mempelajari atau mengkaji tentang cara menghitung atau mengukur sesuatu dengan

angka simbol atau jumlah.11 Dari pengertian tersebut, bisa dikatakan matematika memiliki sifat yang abstrak, penuh dengan rumus-rumus, dan menuntut untuk berpikir logis dalam setiap permasalahan. Pemahaman akan materi matematika bertahap, karena sifatnya antara materi sebelum dengan sesudahnya saling berkaitan satu sama lain. Informasi atau pengetahuan baru dapat dibangun dari pengalaman dan informasi sebelumnya.

9

Bambang Warsito, Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya, (Jakarta: PT Rineka Cipta), Cet. I, hlm. 265.

10

Ervan Adi Nugroho, “Pengaruh Multimedia (CD Pembelajaran dan Lembar Kegiatan Peserta Didik) untuk Meningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Dimensi Tiga Pada Peserta Didik Kelas X SMA 1 Boja Tahun Pelajaran 2008/2009”, Skripsi (Semarang: Progam S1 Universitas Negeri Semarang, 2009), hlm. 18.

11

Muhamad Mas’ud, Subhabanallah Quantum Bilangan-Bilangan

(24)

Jadi pembelajaran matematika merupakan suatu kegiatan belajar mengajar yang menitikberatkan pada matematika. Dalam pembelajaran ini peserta didik diharapkan mampu berlatih untuk belajar mandiri atau bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, dan kreatif logis dan sistematis serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. c. Teori-Teori Belajar

1) Teori belajar konstruktivisme

Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa peserta didik harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.12 Menurut teori ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Dalam pembelajaran active learning tipe modeling the way, peserta didik diajak untuk bereksperimen untuk menemukan sendiri konsep dalam materi jajar genjang dan belah ketupat. Guru berperan sebagai fasilitator dan menciptakan iklim yang kondusif.

2) Teori Belajar Bruner

Teori belajar penemuan Bruner disebut juga discovery learning. Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. 13

Dalam teori belajar ini, Bruner mendasarkan atas dua asumsi, pertama adalah perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya orang yang belajar berinteraksi dengan

12

Trianto, Mendesain Model, hlm. 13.

13

(25)

lingkungannya secara aktif. Perubahan terjadi pada diri individu dan lingkungannya. Kedua, seseorang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang telah dimilikinya. 14 Melalui teori ini, peserta didik untuk belajar aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka memperoleh pengalaman dengan melakukan eksperimen-eksperimen yang menjadikan peserta didik menemukan prinsip itu sendiri. Hal ini sejalan dengan model pembelajaran active learning tipe modelling the way yang memberi kesempatan peserta didik dalam mempraktikkan dan mengembangkan keterampilan di dalam kelas.

3) Teori Belajar Ausubel

Inti teori ini adalah mengemukakan pentingnya pembelajaran bermakna. Teori ini mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Hal ini diperkuat dengan

pendapat Dahar (1988) yang mengatakan bahwa belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.

Faktor paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang diketahui peserta didik. Dengan demikian akan terjadi belajar bermakna apabila konsep atau informasi baru dikaitkan dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik.15 Dari keterangan di atas, konsep awal yang dimiliki peserta didik erat kaitannya dengan konsep yang akan dipelajari.

14

Dwijanto, “Pembelajaran Kreatif, Efektif, Menyenangkan”, Seminar Nasional : Penerapan Model-model Pembelajaran Inovatif untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika, (Semarang: IAIN Walisongo, 19 Juli 2009), hlm. 7.

15

(26)

2. Hasil Belajar

a. Pengertian hasil belajar

Menurut Sudjana hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah mereka menerima pengalaman belajarnya. Hasil Belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. 16 Kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang itu diperoleh dari hasil belajar, seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 43 yang berbunyi:



Artinya: “dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk

manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang

berilmu.” (Q.S. al-Ankabut/29: 46) 17

Klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yaitu:18

1) Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek, yaitu:

a) Pengetahuan (knowledge)

Pada tahap ini menuntut peserta didik untuk mampu mengingat berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya.

b) Pemahaman

Pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.

c) Penerapan

16

Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. 2, hlm. 5.

17

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Bandung:

Jum’anatul ’Ali-Art, 2004), hlm. 401.

18

(27)

Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.

d) Analisis

Analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa, atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi.

e) Sintesis

Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.

f) Evaluasi

Evaluasi merupakan tingkat tertinggi yang mengharapkan peserta

didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk, atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.

2) Ranah Afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri atas lima aspek, yaitu:19

a) Receiving/attending (menerima).

Receiving maksudnya kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada peserta didik dalam bentuk masalah, gejala, situasi, dan lain-lain.

b) Responding (tanggapan)

Tanggapan merupakan reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulasi yang datang daari luar. Pada peringkat ini peserta didik tidak hanya memperhatikan fenomena khusus tetapi juga bereaksi terhadap fenomena yang ada. Hasil belajar pada peringkat ini

19

(28)

yaitu menekankan diperolehnya respon, keinginan memberi respon atau kepuasan dalam memberi respon.

c) Valuing (menilai)

Valuing berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus. Di dalamnya termasuk kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.

d) Organization (organisasi)

Organisasi yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang dimilikinya. Hasil belajar pada peringkat ini yaitu berupa koseptualisai nilai atau organisasi sistem nilai.

e) Characterization (karakterisasi) nilai.

Karakteristik nilai merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang dimiliki peserta didik, yang mempengaruhi pola kepribadian

dan tingkah lakunya.

3) Ranah Psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik,

yaitu:20

a) Gerakan reflek adalah respon gerakan yang tidak disadari yang dimiliki sejak lahir.

b) Keterampilan pada gerakan dasar.

c) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, auditif, dan motoris.

d) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan.

e) Gerakan-gerakan skill mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks.

20

(29)

f) Nondiscoursive communication adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan gerakan misalnya ekspresi wajah (mimik).

Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru dari sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para peserta didik dalam menguasai isi bahan pengajaran.

Menurut Sudjana hasil belajar yang dicapai peserta didik melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang berciri sebagai berikut:21

(1) Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri peserta didik.

(2) Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. (3) Hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi dirinya. (4) Hasil belajar diperoleh peserta didik secara menyeluruh.

(5) Kemampuan peserta didik untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menilai hasil yang

dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.

Oleh sebab itu penilaian terhadap proses belajar mengajar tidak

hanya bermanfaat bagi guru, tetapi juga bagi para peserta didik yang pada saatnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapainya. b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Muhibbin Syah, dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:22

1)Faktor internal (individu peserta didik).

Faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri meliputi dua aspek, yakni: a) aspek pisikologis (yang bersifat jasmaniyah); b) aspek psikologis (yang bersifat rohaniyah).

21

Nana Sudjana, Penilaian Hasil, hlm. 56 - 57.

22

(30)

a) Aspek pisikologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensites peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas.

Kondisi organ-organ khusus peserta didik, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam menyerap informasi dan pemgetahuan, khususnya yang disajikan dikelas. b) Aspek psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran peserta didik. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah peserta

didik yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:

(1) Intelegensi peserta didik

Piaget berpendapat bahwa Intelligence in man of fundamental importance to those concerned with education23. Kecerdasan pada diri seseorang adalah dasar penting untuk berhubungan dengan pendidikan.

Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) peserta didik tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang peserta didik maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebalinya, semakin rendah kemampuan inteligensi seorang peserta

23

Richard W. Copeland, How Children Learn Mathematics Teaching

(31)

didik maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.

(2) Sikap peserta didik

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (respons tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap (attitude) peserta didik yang positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran yang disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar peserta didik tersebut. Sebaliknya, sikap negatif peserta didik terhadap guru dan mata pelajaran, apalagi disertai dengan kebencian kepada guru dan mata pelajaran dapat menimbulkan kesulitan belajar peserta didik.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif peserta didik seperti tersebut di atas, guru ditutut

untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang diajarkannya.

(3) Bakat peserta didik

(32)

(4) Minat peserta didik

secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat yang dipahami dan dipakai oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar peserta didik dalam bidang-bidang studi tertentu. Guru dalam kaitan ini seyogianya berusaha membangkitkan minat peserta didik untuk menguasai pengetahuan yang terkandung dalam bidang studinya dengan cara yang kurang lebih sama dengan kiat membangun sikap positif.

(5) Motivasi peserta didik

Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.

Dalam perkembangan selanjutnya motivasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu: (a) motivasi intrinsik; (b)

motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal daru dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan peserta didik yang bersangkutan.

(33)

contoh-contoh konkrit motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong peserta didik untuk belajar.

2) Faktor eksternal (dari luar individu peserta didik).

Seperti faktor internal peserta didik, faktor eksternal juga terdiri atas dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial.

a) Lingkungan sosial

Lingkungan sosial meliputi lingkungan sekolah, seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas. Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial peserta didik adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkampungan peserta didik tersebut, dan lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga peserta didik itu sendiri.

b) Lingkungan nonsosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah

gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga peserta didik dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan peserta didik. Faktor-faktor ini

dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik.

3)Faktor pendekatan belajar (approach to learning).

(34)

Di samping faktor-faktor internal dan eksternal peserta didik sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran peserta didik. Untuk memperjelas uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar disajikan sebuah table sebagai berikut:

Tabel. 1

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar Ragam Faktor dan Elemennya Internal Peserta

3. Model pembelajaran active learning

Active learning terdiri dari dua kata yaitu active dan learning. Active berarti doing things;busy or energetic.24Sedangkan learning berarti wide knowledge gained by careful study.25

Dalam kamus Bahasa Inggris-Indonesia kata active berarti aktif, giat, bersemangat. 26 Sedangkan learning berasal dari bahasa Inggris learn,learned/learnt yang artinya mempelajari, learning itu sendiri artinya pengetahuan.27

Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan: What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa.)

24

Selly Wehmeir, Oxford Advanced Learner’s Dictionart, (New York: Oxford Univercity Press, 2004), hlm. 5.

25

Selly Wehmeir, Oxford Advanced,hlm. 731.

26

John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Cet. XXXVI, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 9.

27

(35)

What I see, I remember (apa yang saya lihat, saya ingat.) What I do, I understand (apa yang saya lakukan, saya faham.)

Tiga pernyataan sederhana ini membicarakan bobot penting belajar aktif.28 Terdapat beberapa alasan yang kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik adalah perbedaan tingkat kecepatan bicara pengajar dengan tingkat kecepatan kemampuan peserta didik mendengarkan.29

Melalui ketiga poin tersebut dapat diketahui bahwa belajar akan lebih berkesan dan bermanfaat apabila peserta didik dapat menggunakan semua alat indra yang dimiliki dengan maksimal. Dengan menggunakan alat indra, telinga, mata, sekaligus menggunakan otak untuk berfikir mengolah informasi yang didapat dan ditambah dengan mengerjakan tugas. Maka dalam proses belajar mengajar akan menyenangkan tanpa adanya beban dalam benak peserta didik dan peserta didik akan lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran.

Jadi pembelajaran aktif (active learning) adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik maupun peserta didik dengan guru dalam proses

pembelajaran.

4. Active learning tipe modelling the way

Model pembelajaran modeling the way merupakan strategi yang menggunakan model pembelajaran aktif (active learning). Strategi ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikan keterampilan spesifik yang dipelajari di kelas melalui demonstrasi. Peserta didik diberi waktu untuk menciptakan skenario sendiri dan menentukan bagaimana mereka mengilustrasikan keterampilan dan teknik yang baru

28

Melvin L. Siberman, Active Learning, 101 Strategi Belajar Aktif, terj. Sarjuli, et. al., (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007), hlm. 1.

29

(36)

saja dijelaskan. Strategi ini akan sangat baik jika digunakan untuk mengajarkan pelajaran yang menuntut keterampilan tertentu.30

Langkah-langkah model pembelajaran active learning tipe modeling the way adalah sebagai berikut:31

a. Setelah pembelajaran satu topik tertentu, carilah topik-topik yang menuntut peserta didik untuk mencoba atau mempraktekkan keterampilan yang baru diterangkan.

b. Bagilah peserta didik ke dalam beberapa kelompok kecil sesuai dengan jumlah mereka. Kelompok-kelompok ini akan mendemonstrasikan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan skenario yang dibuat.

c. Berikan kepada peserta didik waktu 10-15 menit untuk menciptakan skenario kerja.

d. Beri waktu 5-7 menit untuk berlatih.

e. Secara bergiliran tiap kelompok diminta mendemonstrasikan kerja masing-masing. Setelah selesai, beri kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan masukan pada setiap demonstrasi yang dilakukan.

f. Guru memberi penjelasan secukupnya untuk mengklarifikasi.

Melihat langkah-langkah pembelajaran di atas, keberhasilan pembelajaran active learning tipe modeling the way merupakan keberhasilan bersama dalam sebuah kelompok. Setiap anggota kelompok tidak hanya melaksanakan tugas masing-masing tetapi perlu adanya kerjasama anggota kelompok. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam

Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2 yang menganjurkan untuk saling

Artinya: “ …dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)

kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa

dan pelanggaran… (Q.S Al-Maidah: 2).32

30

Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani,2008), hlm. 76.

31

(37)

Dengan adanya kerjasama tersebut, peserta didik dapat saling menutupi kekurangan masing-masing dengan saling bertukar dan menerima pendapat sesama peserta didik.

Kelebihan model ini adalah:

a. Melatih berpikir dan bertindak kreatif.

b. Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menghadap masalah yang dihadapi secara tepat.

c. Melatih kerjasama keterampilan peserta didik. Kekurangan model ini adalah:

a. Membutuhkan keaktifan dari masing-masing peserta didik dalam pembelajaran.

b. Peserta didik yang pasif, tentu seluruh anggotanya akan pasif, sehingga akan menyulitkan mereka dalam proses belajar.

5. Uraian materi a. Jajargenjang

1) Definisi, jajargenjang adalah segiempat dengan sisi-sisinya

sepasang-sepasang sejajar .33

2) Sifat-sifat jajar genjang: (lihat gambar 2)

a) sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar AB = CD dan AB sejajar CD

AD = BC dan AD sejajar BC

b) sudut yang berhadapan sama besar

32

Departemen Agama, Al Quran dan Terjemahannya, (Jakarta: As-Syifa’, 2004), hlm.156.

33

M Cholik Adinawan dan Sugijono, Seribu Pena Matematika Untuk SMP/MTs Kelas VII, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm.177.

(38)

BAD = BCD dan ABC = ADC

c) jumlah sudut yang berdekatan adalah 180

 BAD + ABC = 180 ABC + BCD = 180  BAD + ADC = 180 ADC + BCD = 180

d) kedua diagonalnya saling membagi dua sama panjang AE = EC dan BE = ED.

3) Keliling dan luas jajar genjang a) Keliling jajar genjang

Keliling jajar genjang adalah jumlah semua panjang sisinya atau dua kali jumlah panjang sisi-sisi yang berlainan.

b) Luas jajar genjang

Luas jajar genjang adalah perkalian tinggi dengan panjang alasnya.

  

  

  

B A

D C

Gambar. 2 E

K = 2(a + b)

L= alas x tinggi

B A

D C

Gambar. 3 a

a

b b

alas tinggi

(39)

4) Contoh soal

a) Diketahui sebuah jajargenjang KLMN sebagai berikut!

Keliling jajargenjang di samping adalah...

Jawab:

Karena KL = NM = 12 cm dan KN = LM = 10 cm, maka Keliling jajargenjang KLMN = 2 (12 cm +10 cm) = 44 cm. b) Perhatikan jajargenjang di bawah ini!

Luas jajargenjang tersebut adalah... berhadapan sejajar, keempat sisinya sama panjang, dan kedua diagonalnya saling tegak lurus dan berpotongan di tengah-tengah.34

2) Sifat-sifat belah ketupat: (lihat gambar 5) a) Semua sisi sama panjang.

AB = BC = CD = AD

b) Diagonal-diagonalnya merupakan sumbu simetri.

34

M Cholik Adinawan dan Sugijono, Seribu Pena, hlm. 177-178.

(40)

AC dan BD adalah sumbu simetri.

c) Sudut-sudut yang berhadapan sama besar dan terbagi dua sama besar oleh diagonal.

BAD = BCD

BAC = DAC = BCA = DCA ABC = ADC

ABD = CBD = ADB = CDB

d) Kedua diagonal saling membagi dua sama panjang dan saling berpotongan tegak lurus.

OA = OC dan OB = OD AC  BD

AOB = BOC = COD = AOD = 90

3) Keliling dan luas belah ketupat

a) Keliling belah ketupat, adalah jumlah semua panjang sisinya atau empat kali jumlah sisinya. (Lihat gambar 6)

dengan s = sisi belah ketupat.

b) Luas belah ketupat, adalah setengah perkalian panjang diagonal-diagonalnya. (Lihat gambar 2.2)

dengan = AC dan BD

6. Penerapan active learning tipe modeling the way pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat

Model pembelajaran modeling the way merupakan strategi yang menggunakan model pembelajaran aktif (active learning). Strategi ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan spesifik yang dipelajari di kelas melalui demonstrasi. Peserta didik diberi waktu untuk menciptakan skenario kerja sendiri dan

K = 4s

L 𝑑 𝑑

s

Gambar. 6 D

A C

B 𝑑

(41)

menentukan bagaimana mereka mengilustrasikan keterampilan dan teknik yang baru saja dijelaskan.

Dalam pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya diam atau pasif saja, tetapi mereka dilatih untuk aktif terutama memperagakan atau mendemonstrasikan keterampilan kepada peserta didik yang lain melalui alat peraga. Diharapkan dengan penerapan pembelajaran ini mempermudah pemahaman peserta didik dalam materi sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat.

Langkah-langkah pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah:

1) Guru menyampaikan tujuan dari kompetensi yang ingin dicapai. 2) Guru menyampaikan materi kepada peserta didik.

3) Sesuai instruksi guru, peserta didik dibuat berkelompok terdiri dari 4-5 perserta didik.

4) Guru membagikan alat peraga kepada masing-masing kelompok. 5) Guru menjelaskan apa yang harus dilakukan peserta didik dalam

kelompok.

6) Guru memantau jalannya diskusi dan membantu jika ada peserta didik yang kesulitan.

7) Peserta didik mendiskusikan skenario kerja dalam kelompok dan berlatih sebelum maju ke depan.

8) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kerja masing-masing secara bergiliran.

9) Kelompok yang tidak mendapat giliran maju ke depan dapat memberikan masukan kepada kelompok yang persentasi.

10)Guru mengarahkan hasil kerja tiap-tiap kelompok dan memberikan feedback.

(42)

C. Rumusan Hipotesis

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menguji atau membuktikan keefektifan model pembelajaran active learning tipe modeling the way pada peserta didik kelas VII pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat kelas VII di MTs NU 07 Patebon Kendal tahun ajaran 2010/2011”.

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian dengan data berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Sedangkan metode eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu.35

C. Waktu Dan Tempat Penelitian 1. Waktu penelitian

Dalam penelitian ini, waktu yang digunakan peneliti untuk mulai mengadakan penelitian sampai menyelesaikannya adalah selama 30 hari mulai tanggal 7 Maret sampai 8 April 2011.

2. Tempat Penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah NU 07 Patebon yang beralamat di Jl. KH. Abu Bakar No. 08 Kebonharjo Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal.

35

(44)

D. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan, penelitian.36 Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Bebas (Independen)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).37 Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran. Variabel bebas tersebut terdiri dari model pembelajaran active learning tipe modeling the way dan model pembelajaran konvensional.

2. Variabel Terikat (Dependen)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.38 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah hasil belajar peserta didik pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat kelas VII MTs NU 07 Patebon.

E. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Desain

penelitian ini adalah “posttest-only control design”. Dalam desain ini terdapat

dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) disebut kelompok eksperimen, dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelas kontrol.39 Adapun desain penelitian seperti berikut:

O1 = Nilai postes kelas yang menggunakan

model pembelajaran active learning tipe modeling the way

36

Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 25.

37

Sugiyono, Metode Penelitian, hlm. 39.

38

Sugiyono, Metode Penelitian, hlm. 39.

39

Sugiyono, Metode Penelitian, hlm. 112. R X O1

(45)

O2 = Nilai postes kelas yang menggunakan

metode konvensional

F. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel. 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.40 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII MTs NU 07 Patebon Kabupaten Kendal yang terdiri dari 3 kelas, yaitu kelas VIIA, VIIB, dan VIIC. Jumlah peserta didik kelas VII MTs NU 07 Patebon Kabupaten Kendal adalah 112 anak, yang terdiri dari peserta didik kelas VIIA sebanyak 36 anak, kelas VIIB sebanyak 38 anak, kelas VIIC sebanyak 38 anak.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.41 Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi jika subyeknya besar dapat diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih.42 Sedangkan

pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan peneliti memperhatikan ciri-ciri antara lain, peserta didik mendapatkan materi berdasarkan kurikulum yang sama dan pembagian kelas tidak ada kelas unggulan. Dalam penelitian ini akan di ambil sampel sebanyak dua kelas, yaitu satu kelas eksperimen yang diberi perlakuan model pembelajaran active learning tipe modelling the way dan satu kelas kontrol yang diberi perlakuan model pembelajaran konvensional.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling yaitu dengan memilih secara acak satu kelas sebagai kelas

40

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 61.

41

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hlm. 61.

42

(46)

eksperimen, satu kelas sebagai kelas kontrol, dan satu kelas lagi sebagai kelas uji coba instrumen. Pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan peneliti memperhatikan ciri-ciri antara lain, peserta didik mendapatkan materi berdasarkan kurikulum yang sama dan pembagian kelas tidak ada kelas unggulan. Adapun dalam penentuan kelas mana yang dijadikan kelas eksperimen, kelas kontrol, ataupun kelas uji coba ditentukan dengan teknik random assignment atau penempatan secara acak. Random assignment adalah penempatan subyek ke dalam kelompok sedemikian rupa sehingga, untuk setiap kali penempatan, setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk ditempatkan di kelompok manapun.43 Dari ketiga kelas untuk menentukan kelas eksperimen, kelas kontrol dan kelas uji coba instrumen dilakukan dengan cara random assignment, terpilih kelas VIIA sebagai kelas uji coba, VIIB sebagai kelas kontrol dan VIIC sebagai kelas eksperimen.

G. Teknik Pengumpulan Data. 1. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data yang sudah ada. Metode dokumentasi dalam penelitian ini

digunakan untuk memperoleh data mengenai nama-nama peserta didik kelas VII di MTs NU 07 tahun ajaran 2010/2011 Patebon. Dari data yang diperoleh nantinya dapat ditentukan sampel penelitian dan daftar nama-nama peserta didik yang akan menjadi responden dalam uji coba instrument.

2. Metode Observasi

Yaitu metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan terhadap suatu gejala, proses kerja dan perilaku manusia.44 Sesuai dengan data yang dikumpulkan maka dalam penelitian penulis melakukan

43

Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 346.

44

Sutrisno Hadi, Metodologi Research I dan II, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM,

(47)

pengamatan dengan observasi sistematis yaitu peneliti menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Metode ini digunakan untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam pembelajaran active learnig tipe modelling the way pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat pada peserta didik kelas VII MTs. NU 07 Patebon Kendal.

3. Metode Tes

Tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.45 Metode ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol pada sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat. Tes yang diberikan pada peserta didik dalam penelitian ini berbentuk pilihan ganda (multiple choice test) sehingga dapat diketahui sejauh mana tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi segiempat pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat. Tes pilihan ganda merupakan tes objektif dimana masing-masing item

disediakan lebih dari dua unsur jawaban, dan hanya satu dari pilihan-pilihan tersebut yang benar atau yang paling benar.

Kebaikan-kebaikan tes objektif:46

a. Dapat digunakan untuk menilai bahan pelajaran yang banyak atau scope yang luas. Pelajaran yang diberikan selama satu tahun atau dua tahun dapat dites sekaligus.

b. Bagi yang dites, menjawabnya dapat bebas dan terpimpin (karena adanya jawaban yang tersedia).

c. Dapat dinilai secara objektif (artinya siapapun yang menilainya, hasil atau skornya sama karena kunci jawaban telah tersedia).

d. Memaksa peserta didik untuk belajar baik-baik karena sukar untuk berbuat spekulasi terhadap bagian mana dari seluruh bagian mana dari seluruh pelajaran yang harus dipelajari.

45

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), hlm. 66.

46

(48)

Kelemahan tes objektif:47

a. Kurang memberi kesempatan untuk menyatakan isi hati atau kecakapan yang sesungguhnya karena anak tidak membuat kalimat.

b. Memungkinkan anak atau si penjawab berbuat coba-coba (kira-kira, untung-untungan) dalam menjawabnya. Untuk menghindari kemungkinan ini pengetes harus dapat menyusun tesnya dengan teliti dan baik sehingga tes atau pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar dapat merangsang berpikir anak-anak.

c. Menyusun tes ini tidak mudah, memerlukan ketelitian dan waktu yang agak lama.

d. Kurang ekonomis karena memakan biaya dan kertas yang banyak jika dibandingkan dengan pembuatan essay test.

Tes ini merupakan tes akhir yang diadakan secara terpisah pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam bentuk tes yang sama. Tetapi sebelum tes diujikan, terlebih dahulu diujikan kepada kelas uji coba (VII A) digunakan untuk mengetahui validitas butir soal, reliabilitas soal, taraf

kesukaran soal dan daya pembeda soal. Setelah terpenuhi maka dapat diujikan ke kelas eksperimen (VII C) dan kelas kontrol (VII B). Data ini digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian.

H. Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil materi tentang jajar genjang dan belah ketupat yang merupakan sub pokok bahasan materi segi empat.

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengambil data peserta didik kelas VII di MTs NU 07 tahun ajaran

2010/2011 Patebon.

2. Menentukan sampel penelitian dengan menggunakan teknik pengambilan sampel dengan cara cluster random sampling dan untuk menentukan kelas mana yang menjadi kelas eksperimen, kelas kontrol, ataupun kelas uji coba menggunakan teknik random assignment. Sampel terdiri dari tiga kelas yaitu satu kelas sebagai kelas eksperimen yang dikenai model

47

(49)

pembelajaran active learning tipe modeling the way, satu kelas sebagai kelas kontrol yang dikenai metode pembelajaran konvensional, dan satu kelas sebagai kelas uji coba instrumen.

3. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran active learning tipe modeling the way untuk kelas eksperimen dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol.

4. Menyusun kisi-kisi tes uji coba dan menyusun instrumen tes uji coba berdasarkan kisi-kisi yang ada.

5. Mengujicobakan instrumen tes uji coba pada kelas uji coba, yang mana tes instrumen tersebut akan digunakan sebagai tes akhir.

6. Menganalisis data hasil uji coba instrumen tes uji coba pada kelas uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda.

7. Menentukan soal-soal yang memenuhi syarat.

8. Peneliti melaksanakan pembelajaran pada kelas eksperimen. Pada

pelaksanaan ini diterapkan model pembelajaran active learning tipe modeling the way.

9. Peneliti menganalisis/mengolah data yang telah dikumpulkan dengan

metode yang telah ditentukan.

10. Peneliti menyusun dan melaporkan hasil-hasil penelitian.

(50)

Data peserta didik kelas VII di MTs NU 07 Patebon Tahun ajaran 2010/2011

Secara cluster random sampling dan random assignment dari 3 kelas, dipilih 2 kelas untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol serta 1 kelas

untuk kelas uji coba

Gambar 3. Bagan Prosedur Penelitian Membandingkan tes tentang materi jajar

genjang dan belah ketupat dari kelas eksperimen dengan kelas kontrol

Laporan

Analisis hasil tes tentang materi jajar genjang dan belah ketupat

Uji coba instrumen tes Pembelajaran pada materi jajar genjang

dan belah ketupat

Tes tentang materi jajar genjang dan belah ketupat

Analisis untuk menentukan instrumen tes

yang sesuai Penyusunan

kisi-kisi

Instrumen Penyusunan RPP

Kelas VII B dengan pembelajaran konvensional

Kelas VII A sebagai kelas

uji coba Kelas VII C

pembelajaran active learning tipe modelling

Gambar

Tabel. 1
2) Sifat-sifat belah ketupat: (lihat gambar 5) Gambar. 5
Gambar 3. Bagan Prosedur Penelitian
Tabel 2. Uji Validitas Butir Soal Tahap 1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jika dikaitkan dengan Model Pembelajaran Project Based Learning, Ayat di atas menjelaskan bahwa, Proses belajar mengajar dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk