The 16thFSTPT International Symposium, UMS Surakarta, 1–3 Nov2013
PENGARUH VARIASI SUHU PENCAMPURAN DAN PEMADATAN
CAMPURAN BERASPAL PANAS MENGGUNAKAN ASPAL RETONA BLEND 55
Leo Sentosa, ST. MT.
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau
Gedung C lantai 2 Kampus Bina Widya, Panam Pekanbaru. [email protected].
Yosi Alwinda,ST. MT.
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau
Gedung C lantai 2 Kampus Bina Widya, Panam Pekanbaru.
Joko Susilo
Lulusan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau
Gedung C lantai 2 Kampus Bina Widya, Panam Pekanbaru
Elianora
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau
Gedung C lantai 2 Kampus Bina Widya, Panam Pekanbaru.
ABSTRACT
Mixing temperature has a role in the process of resurfacing the asphalt on aggregate, while temperature has a role in the compaction density of hot mix asphalt. The better the process of mixing and compaction, the asphalt mixture performance will be better. Planned asphalt mixture in accordanceSpesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010.Gradation mixture used is LASTON AC-BC fine gradations. Variations in mixing and compaction temperatures used were 160/146 ° C, 170/156 ° C, 180/166 ° C, 190/176 ° C, and 200/186 ° C. To find the optimum bitumen content, the specimen made with asphalt content of 4.5%, 5%, 5.5%, 6%, and 6.5% of the weight of the test specimen. Marshall test results only condition KAO mixing temperature variations 1700C and 1560C solidification temperature mixtures that meet all the criteria required by the specifications of Highways in 2010. Mixing temperature variations 1700C and 1560C solidification temperature is the temperature variation of the viscosity according to the test results, in other words the mixing and compaction temperatures of asphalt Retona Blend 55 should refer to the bitumen viscosity test results Retona the Blend 55.
Keywords : mixing and compaction temperature, Retona Blend 55, Marshall characteristic.
Abstrak
Temperatur pencampuran memiliki peranan dalam proses pelaburan aspal terhadap agregat, sedangkan temperatur pemadatan memiliki peranan dalam tingkat kepadatan campuran beraspal panas. Semakin baik proses pencampuran dan pemadatan, maka kinerja campuran beraspal akan semakin baik. Campuran beraspal direncanakan sesuai Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010. Gradasi campuran yang digunakan yaitu LASTON AC-BC gradasi halus. Variasi suhu/temperatur pencampuran dan pemadatan yang digunakan yaitu 160/146°C, 170/156°C, 180/166°C, 190/176°C, dan 200/186°C. Untuk mencari kadar aspal optimum, dibuat benda uji dengan kadar aspal 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, dan 6,5% dari berat benda uji. Hasil pengujian Marshall kondisi KAO hanya variasi suhu pencampuran 1700C dan suhu pemadatan 1560C yang memenuhi semua kriteria campuran yang disyaratkan dalam Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010. Variasi suhu pencampuran 1700C dan suhu pemadatan 1560C adalah variasi suhu yang sesuai dengan hasil uji viskositas, dengan kata lain suhu pencampuran dan pemadatan aspal Retona Blend 55 sebaiknya mengacu pada hasil uji viskositas aspal Retona Blend 55 tersebut.
Kata Kunci : Suhu pencampuran dan pemadatan, Retona blend 55, karakteristik Marshall
PENDAHULUAN
kebutuhan aspal secara nasional adalah 1,2 juta ton pertahun dan masih sangat tergantung dari aspal minyak yang hanya 50% yang diproduksi oleh Pertamina, selebihnya di impor. Harga dan mutu aspal minyak sangat tergantung pada harga Crude Oil dunia, ketika harga BBM dunia tinggi harga aspal pun melambung tetapi mutunya turun. PT. Pertamina, satu-satunya produsen aspal minyak di Indonesia akan mengurangi produksi aspal karena kebutuhan BBM nasional yang meningkat. Perusahaan minyak internasional seperti Esso, BP, dan lain-lain, juga memiliki strategi yang sama untuk mengurangi produksi aspal. Situasi politik di Venezuela sebagai tambang minyak berat terbesar di dunia yang diprediksi akan mengurangi ekspor minyak mentah, melainkan hanya produk siap pakai. Hal ini terjadi karena aspal minyak merupakan meterial sisa atau ampas dari pengolahan minyak bumi. (PT. Hutama Prima Asbuton Indonesia, 2007). Untuk menyiasati hal tersebut di Indonesia di coba untuk memanfaatkan potensi alam yang ada yaitu aspal alam dari pulau Buton yang dikenal dengan Asbuton. Pemanfaatan asbuton untuk konstruksi jalan di perkuat dengan Peraturan Mentri Pekerjaan Umum No 35/PRT/M/2006 tanggal 27 Desember 2006 perihal Peningkatan Pemanfaatan Asbuton untuk Pemeliharaan dan Pembangunan Jalan.
Aspal alam Buton terjadi karena minyak bumi naik kepermukaan menembus batu kapur (Kabungka, kadar aspal 12-20%) dan ada yang menyatu dengan batu silika (Lawele, kadar aspal 25-35%), Cadangan yang terdeteksi saat ini sebesar 600 juta ton, merupakan cadangan aspal alam terbesar di dunia (dibandingkan dengan Venezuela, Canada, Perancis). Ditemukan sejak 1920, dipakai sebagai material konstruksi jalan sejak 1950, belum dianggap sebagai material yang memberikan hasil memuaskan hingga saat ini. Berbagai inovasi produksi bahan telah dilakukan antara lain asbuton curah, butir, mikro, mastik, semi ekstrak, akstrak penuh, BMA, BGA dsb dan inovasi teknologi pemakaian antara lain Lasbutag, latasbum, asbuton aktif filler, tekno butas, superlasbutag, Retona dan sebagainya. (Soehartono, 2007).
Retona blend 55 adalah perpaduan antara aspal keras dengan asbuton semi ekstraksi (refinery buton Asphalt), bahan modifier alami. Retona terdiri atas 55%-60% aspal alam dan filler alami 40%-45%, berfungsi sebagai aspal dan pengisi rongga dalam campuran beraspal yang diharapkan kinerja campuran beraspal dapat mengantisipasi kerusakan dini yang terjadi pada ruas-ruas jalan yang melayani beban lalu lintas berat dan temperatur tinggi. Pemanfaatan Retona diharapkan akan meningkatkan efek stabilisasi dari bahan pengikat aspal pada sistem campuran hotmix (Amiruddin Basir dan Muhammad Isran Ramli, 2005).
The 16thFSTPT International Symposium, UMS Surakarta, 1–3 Nov2013
Lia Anggreini, 2008, meneliti penggunaan Retona Blend 55 dan BGA untuk campuran beraspal dengan agregat asal merak. Campuran Retona Blend 55 memiliki ketahanan terhadap air. Hasil pengujian Wheel Tracking menunjukkan bahwa penambahan BGA 5% dan Retona Blend 55 dapat meningkatkan Stabilitas Dinamis. Perbandingan Modulus Kekakuan yang diukur dengan pengujian UMATTA dan Modulus Kekakuan yang dihitung dengan formula SHELL menunjukkan bahwa pada suhu 45oC dan 60oC, campuran Retona Blend 55 memberikan nilai Modulus Resilien terbesar dibandingkan dengan campuran aspal Pen 60/70+BGA 5% dan Pen 60/70. Secara umum, campuran Lataston Lapis Aus (HRS-WC) dengan Retona Blend 55 memberikan hasil yang terbaik dibandingkan campuran lainnya.
Penelitian ini dilakukan oleh Lukman Hakim Madjid, Retona yang digunakan adalah Retona 60. Campuran dengan gradasi senajang (HRS kelas B) dengan kandungan 0%, 30%, 40% dan 50% Retona 60. Campuran dirancang denga prosedur Marshall Rolles Sheet Kelas B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengujian yang dilakukan pada campuran-campuran menunjukkan bahwa nilai penetrasi berkurang dan titik lembek meningkat dengan meningkatnya kandungan aspal retona 60 didalam campuran.Kadar pengikat optimum sedikit meningkat dengan meningkatnya kadar retona 60.
Penelitian Leo Sentosa, 2010, menyatakan campuran dengan Aspal Retona Blend 55 memberikan hasil yang memperlihatkan peningkatan kinerja campuran aspal beton berdasarkan kriteria perencanaan Bina Marga. Pada kondisi campuran dengan kadar aspal optimum, nilai stabilitas campuran yang menggunakan Aspal Retona Blend 55 memiliki stabilitas yang lebih tinggi yaitu 1463,0 Kg dibandingkan dengan campuran yang tidak menggunakan Retona yaitu 1249,5 Kg.
Pada penerapan di lapangan kendala yang dihadapi dalam penggunaan aspal retona adalah kekentalan retona yang berbeda dengan aspal penetrasi. Sedangkan para pelaksana konstruksi dan operator AMP dalam pembuatan campuran dan pemadatan memperlakukan campuran beraspal dengan retona sama dengan campuran beraspal dengan aspal penetrasi. Sehingga hasil yang diperoleh kurang memuaskan. Oleh sebab itu perlu diteliti suhu pencampuran dan suhu pemadatan yang dapat menghasilkan campuran dengan kinerja yang optimal.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jalan Raya Fakultas Teknik Universitas Riau, dengan dasar menggunakan metode pengujian yang mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010 dan gradasi campuran agregat yang dipakai adalah gradasi nilai tengah dari gradasi AC-BC Halus. Bahan yang digunakan yaitu berupa batu pecah asal Kampar produksi PT. Vira Jaya, sedangkan bahan aspal yaitu menggunakan aspal Retona Blend 55 produksi PT. Olah Bumi Mandiri.
viscositas aspal 280 + 20. pengujian ini berdasarkan ha
Gambar 1. G
Pengujian viskositas aspal nilai viskositas 170 Cst sebe nilai viskositas 280 Cst sebe dan pemadatan sebesar ± 5 yaitu.
• Variasi suhu I = Suhu P • Variasi suhu II = Suhu P • Variasi suhu III = Suhu • Variasi suhu IV = Suhu P • Variasi suhu V = Suhu P
HASIL DAN PEMBAHAS Hasil Pengujian Material
Sebelum digunakan untuk m harus diuji karakteristiknya bertujuan untuk melihat apa penyusun campuran sesua sebagai syarat suatu agre campuran beraspal sesuai de pada tabel berikut.
20. Variasi suhu pencampuran da pemadatan n hasil pengujian viscositas retona beldn 55 sepe
1. Grafik pengujian viskositas aspal retona blend 55
al Retona Blend 55 diperoleh temperatur suhu sebesar 170°C sedangkan untuk temperatur suhu
ebesar 156°C. Toleransi temperatur suhu untuk su ± 5°C. Variasi suhu yang digunakan sebanya
Suhu Pencampuran 160°C, Suhu Pemadatan 14 Suhu Pencampuran 170°C, Suhu Pemadatan 15 Suhu Pencampuran 180°C, Suhu Pemadatan 16 Suhu Pencampuran 190°C, Suhu Pemadatan 17 Suhu Pencampuran 200°C, Suhu Pemadatan 18
ASAN al
k material penyusun campuran, bahan-bahan ya knya terlebih dahulu. Pengujian terhadap kara apakah bahan tersebut layak untuk digunaka uai dengan standar yang berlaku. Paramete gregat layak atau tidak digunakan sebagai m
i dengan Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun
an yang diteliti pada dn 55 seperti pada berikut,
nd 55
suhu pencampuran dari suhu pemadatan dari uk suhu pencampuran nyak 5 (lima) variasi
n 146°C n 156°C n 166°C n 176°C n 186°C
The 16thFSTPT International Symposium, UMS Surakarta, 1–3 Nov2013
Tabel 1. Hasil pengujian agregat batu pecah dengan spesifikasi 2010
Standar Spe sifikasi Hasil Uji Ke te rangan
SNI 3407-2008 Max. 12% 0.38% Memenuhi
SNI 03-2439-1991 Min. 95% 97.28% Memenuhi Kelekatan agregat terhadap aspal
30.47% Memenuhi Abrasi dengan mesin Los Angeles Max. 40%
Pe ngujian
Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan Natrium dan Magnesium Sulfat
SNI 2417-2008
Hasil Pengujian Retona Blend 55
Material aspal retona blend 55 diuji berdasarkan syarat dan kriteria yang tercantum dalam Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010. Retona blend 55 yang digunakan merupakan aspal retona produksi PT. Olah Bumi Mandiri. Hasil pengujian aspal retona blend 55 yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Hasil pengujian aspal retona blend 55
No Karakteristik Standar pengujian Hasil Spesifikasi Keterangan
1 Penetrasi Pada 25°C (mm) SNI 06 - 2456 - 1991 53 40 - 55 Memenuhi
2 Viskositas 135°C (cst) SNI 06 - 6441 - 2000 670 385 - 2000 Memenuhi
3 Titik Lembek (°C) SNI 06 - 2434 -1991 54.95 -
-4 Daktilitas pada 25°C (cm) SNI 06 - 2432 - 1991 137.5 ≥ 100 Memenuhi
5 Titik Nyala & Bakar (°C) SNI 06 - 2433 - 1991 272.1 ≥ 232 Memenuhi
6 Berat Jenis SNI 06 - 2441 - 1991 1.114 ≥ 1 Memenuhi
7 Berat yang Hilang (%) SNI 06 - 2441 - 1991 0.00212 ≤ 0.8 Memenuhi
8 Penetrasi Pada 25°C Setelah
Kehilangan Berat(%) SNI 06 - 2456 - 1991 80.19 ≥ 54 Memenuhi
9 Daktilitas pada 25°C Setelah
Kehilangan Berat (cm) SNI 06 - 2432 - 1991 89 ≥ 50 Memenuhi
Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Tinggi dan Kepadatan Benda uji
Tabel 3. Rata-rata tinggi benda uji masing-masing variasi suhu tiap kadar aspal.
No Variasi suhu
Tinggi benda uji (cm) Aspal
4.5%
Aspal 5.0%
Aspal 5.5%
Aspal 6.0%
Aspal 6.5%
1 I 6.56 6.50 6.44 6.38 6.40
2 II 6.52 6.45 6.36 6.38 6.34
3 III 6.47 6.39 6.36 6.37 6.28
4 IV 6.47 6.39 6.31 6.34 6.25
5 V 6.43 6.38 6.31 6.30 6.25
Gambar 2. Grafik berat isi benda uji terhadap kadar aspal
Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Rongga Campuran
Variasi suhu pencampuran dan pemadatan akan mempengaruhi keadaan rongga campuran seiring dengan perbedaan tingkat kepadatan benda uji. Parameter rongga campuran yang diteliti adalah rongga dalam campuran/ void in mix (VIM), rongga dalam mineral agregat/
void in mineral agregate (VMA), dan rongga yang terisi aspal, void filled with asphalt (VFA).Pengaruh variasi suhu terhadap masing-masing parameter rongga campuran seperti terlihat pada Gambar 3.
Grafik tersebut menunjukkan karakteristik secara umum bahwa nilai VIM terhadap kadar aspal akan mengalami penurunan seiring dengan penambahan kadar aspal. Di sisi lain, variasi suhu yang digunakan juga memberikan pengaruh terhadap nilai VIM. Nilai VIM
yang ditunjukkan oleh grafik memperlihatkan terjadi penurunan seiring dengan meningkatnya suhu pencampuran dan suhu pemadatan.
NilaiVMA akan mengalami penurunan seiring dengan penambahan kadar aspal kemudian akan naik kembali pada suatu titik kadar aspal tertentu. Dilihat dari variasi suhu yang digunakan, terlihat bahwa dengan meningkatnya suhu pencampuran dan pemadatan, nilai
VMA yang terjadi akan terus mengalami penurunan atau semakin mengecil. Penurunan nilai VIM dan VMA berdasarkan variasi suhu berbanding terbalik dengan nilai VFA.
2.29 2.30 2.31 2.32 2.33 2.34 2.35 2.36 2.37 2.38 2.39
4 5 6 7
B
er
at
Is
i (
G
r/
cc
)
Kadar Aspal (%)
Berat Isi Terhadap Kadar Aspal Tiap Variasi Suhu
The 16thFSTPT International Symposium, UMS Surakarta, 1–3 Nov2013
Semakin tinggi variasi suhu viskositas aspal semakin kecil dan semakin mudah masuk ke dalam rongga campuran dalam menyelimuti agregat semakin baik. Sehingga nilai VFA
semakin besar, atau dengan kata lain rongga semakin banyak terisi oleh aspal.
Gambar 3. Parameter rongga campuran masing-masing kadar aspal dan variasi suhu
Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Stabilitas danFlow
Secara umum terlihat bahwa pengaruh variasi suhu terhadap nilai stabilitas memiliki trend
yang terus meningkat. Pada variasi suhu I nilai stabilitas yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan nilai stabilitas untuk variasi suhu yang lain. Trend nilai stabilitas naik seiring dengan meningkatnya suhu pencampuran dan penumbukan hingga mencapai puncak pada variasi suhu IV kemudian menurun kembali pada variasi suhu V, seperti terlihat pada Gambar 4.
2.00
VIM Terhadap Kadar Aspal Tiap Variasi Suhu
Variasi
VMA Terhadap Kadar Aspal Tiap Variasi Suhu
Variasi
VFA Terhadap Kadar Aspal Tiap Variasi Suhu
Gambar 4. Nilai Stabilitas, Flow danMarshall Quotient (MQ) masing-masing kadar aspal dan variasi suhu
Variasi suhu juga berpengaruh pada nilai kelelehan (flow), pada variasi suhu I sampai III nilai kelelehan mengalami kecenderungan menurun akan tetapi pada variasi suhu IV dan V kembali mengalami kenaikan. Kecenderungan serupa juga terlihat pada nilai MQ. Hal ini menunjukkan nilai kelelehan dan MQ akan mengalami kenaikan pada suhu pencampuran dan pemadatan tertentu, jika suhunya terus di tingkatkan maka nilai flow dan MQ akan menurun.
Kadar Aspal Optimum (KAO) dan PengujianMarshallPada Kondisi KAO
Penentuan nilai kadar aspal optimum menggunakan metode pita, dimana parameter yang digunakan dalam penentuan kadar aspal optimum sesuai dengan Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 adalah VMA, VIM, VFA, Stabilitas, Flow, dan Marshall Quotient (MQ). Metode pita digambarkan dari 6 (enam) parameter tersebut terhadap kadar aspal dan dibatasi oleh spesifikasi yang telah ditentukan sesuai dengan Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010. Dari ke enam parameter tersebut ditarik garis yang menyinggung seluruh bagian parameter dan di ambil nilai tengah yang merupakan nilai kadar aspal optimum suatu campuran. Jika di antara ke enam parameter terdapat satu atau lebih parameter yang tidak memiliki garis singgung, maka itu berarti pada bagian tersebut tidak diperoleh kadar aspal optimumnya. Pada penelitian ini variasi suhu I dan V tidak diperoleh kadar aspal Stabilitas Terhadap Kadar Aspal
Variasi FLOW Terhadap Kadar Aspal
Variasi MQ Terhadap Kadar Aspal
The 16thFSTPT Int
optimum sedangkan variasi seperti pada Gambar 5.
Gam
Setelah didapatkan nilai kada dibuat benda uji dengan ka pengujian Marshall pada kondi
Tabel 4. Hasil pengujian Ma
170 156 5,
Hasil pengujian Marshall kondi 1700C, suhu pemadatan 156 dalam Spesifikasi Bina Mar berada di bawah nilai mini Variasi suhu II adalah varia suhu pencampuran dan pem uji viskositas aspal Retona t
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian serta dapat diambil kesimpulan se
1. Dari 5 variasi suhu variasi II(Pencampur pemadatan 1660C), da aspal optimum 5,55% IV.
2. Pada kondisi kadar 1560C) menunjukka
0.00%
International Symposium, UMS Surakarta, 1–3 N
asi suhu lainnya kadar aspal optimum masing-m
ambar 5. Grafik KAO terhadap variasi suhu
kadar aspal optimum untuk masing-masing vari kadar aspal optimum dan dilakukan pengujia kondisi kadar aspal optimum seperti pada tabel
Marshall pada kondisi kadar aspal optimum
5,55 2,353 14,246 3,825 73,165 1688,533 4, 5,50 2,360 13,952 3,607 74,147 1733,031 3, 5,45 2,364 13,783 3,530 74,391 1853,047 3, Aspal 1560C) yang memenuhi semua kriteria campura Marga Tahun 2010. Sedangkan dua variasi suhu
inimal yang disyaratkan Spesifikasi tersebut y riasi suhu yang sesuai dengan hasil uji viskosita pemadatan aspal Retona blend 55 sebaiknya m
a tersebut.
rta hasil pembahasan seperti yang telah dijela sebagai berikut ;
suhu yang diuji, kadar aspal optimum hanya da puran 1700C, pemadatan 1560C), III (Pen ), dan IV (Pencampuran 1900C, pemadatan 176 5,55% pada Variasi II, 5,50 pada variasi III dan 5,45
dar aspal optimum, variasi II (Pencampuran ukkan kinerja campuran yang terbaik. Variasi suhu
N/A ngujian Marshall. Hasil
el berikut.
4,20 405,730 2,223 94,410 3,67 473,584 2,230 93,970 3,97 469,619 2,235 93,700
CAD
I (suhu pencampuran puran yang disyaratkan uhu lainnya nilaiVMA
but yaitu minimal 14%. skositas, dengan kata lain mengacu pada hasil
jelaskan sebelumnya,
dapat diperoleh pada encampuran 1800C, 1760C), dengan kadar n 5,45% pada variasi
suhu yang sesuai dengan hasil uji viskositas, dengan kata lain suhu pencampuran dan pemadatan aspal Retona blend 55 sebaiknya mengacu pada hasil uji viskositas aspal Retona tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin Basir dan M. Isran Ramli, 2005. Evaluasi Kinerja Durabilitas Campuran Beraspal yang menngunakan bahan Tambah Retona. Prosiding Simposium Nasional FSTPT ke-8, Palembang, 5 Desember 2005
Bina Marga, 2008. Petunjuk Praktis Penggunaan Aspal Retona Blend 55 Dalam Campuran Beraspal Panas. Departemen PU, Jakarta.
Bina Marga. 2003.RSNI-M-01. Metode Pengujian Campuran Beraspal Panas dengan Alat Marshall. Jakarta: Pustran Balitbang Pekerjaan Umum.
Bina Marga. 2010.Spesifikasi Umum Jalan dan Jembatan Edisi 2010. Jakarta : Direktorat Jendral Bina Marga.
Lia Anggreini, 2008. Kinerja Laboratorium Campuran Lataston Lapis Aus (Hrs-Wc) dengan Penggunaan Asbuton Granular dan Retona Blend 55. Tesis Megister Sistem dan Teknik Jalan Intitut Teknologi Bandung, Bandung.
Leo Sentosa, Diana Laila 2010,Karakteristik Marshall Campuran Beraspal Menggunakan Retona Blend 55 Dan Agregat Asal Riau Dengan Spesifikasi Pengujian Bina Marga No. 010/BM/2008. Prosiding Simposium Nasional FSTPT ke-13, Semarang, 8 – 10
Oktober 2010.
Lukman Hakim Madjid, 2000. Evaluasi Laboratorium Retona 60 sebagai Bahan Tambah pada Campuran Hot Rolled Sheet, Tesis Megister Sistem dan Teknik Jalan Intitut Teknologi Bandung, Bandung.
PT. Hutama Prima Asbuton Indonesia, 2007, Pembangunan Jalan Sistem Padat Karya Dengan Menggunakan Teknologi Prima Mastic Asbuton (PMA), Makalah Desiminsasi Asbuton di Medan, 23 November 2007.
PT. Olah Bumi Mandiri,. 2007. Asbuton Modifikasi, Makalah Desiminsasi Asbuton di Medan, 23 November 2007.
Revisi SNI No. 03-1737-1989. 2005. Pedoman Pelaksanaan Lapis Campuran Beraspal Panas,.Badan Litbang Dep PU., Jakarta.
Soehartono, 2007,Tinjauan Penggunaan Asbuton Saat Ini Dan Prospek Ke Masa Depan,