• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Penggunaan Teknologi Informasi pada Perpustakaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perkembangan Penggunaan Teknologi Informasi pada Perpustakaan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan Penggunaan Teknologi Informasi pada

Perpustakaan

A. Ridwan Siregar

Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Sumatera Utara

Abstract

The development in the field of information technology has impacts on services provided by libraries. Librarian is demanded to keep informed and think how tobenefit from and adopt the development to meet the library users’ expectation. Subsequent to automation era and revolution of networked information, libraries are then faced challenges onfollowing the use pattern of library users. Some aspects of the technology development and its impacts on library services is discussed on this paper.

Keywords: information technology, library services

Pendahuluan

Penggunaan teknologi informasi pada perpustakaan adalah untuk perbaikan efisiensi pelayanan pengguna. Setelah era automasi dan revolusi informasi berjejaring (Lynch, 2000), fokus perhatian sekarang ini tertuju pada perubahan pola penggunaan perpustakaan. Perubahan pola pemerolehan informasi merupakan dampak dari perkembangan teknologi informasi.Perangkat bergerak (mobile devices) telah mengubah cara menyampaikan dan cara mengakses informasi. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh EDUCASE Center for Applied Research (ECAR) di Amerika Serikat pada tahun 2011 (ACRL, 2012) menunjukkan bahwa 70% dari mahasiswa yang memiliki perangkat bergerak menggunakannya untuk tujuan akademik. Bandingkan dengan studi yang dilakukan oleh lembaga yang sama pada tahun 2009 yang menunjukkan bahwa hanya 15% dari mahasiswa menggunakannya untuk tujuan akademik.

(2)

Perkembangan Penggunaan Teknologi Informasi pada Perpustakaan

Berawal pada akhir tahun 1980an atau awal tahun 1990an, perpustakaan pendidikan tinggi dihadapkan pada perubahan lingkungan yang digerakkan oleh teknologi informasi.Ini dengan cepat mengalihkan fokus perhatian dari automasi ke serangkaian pertanyaan tentang peran dan misi perpustakaan dalam era digital.Sejarah penggunaan teknologi informasi di lingkungan perpustakaan sudah dimulai sejak setengah abad yang lalu. Lynch (2000) membaginya ke dalam empat era yaitu masa automasi pertama, automasi kedua, automasi ketiga, dan dilanjutkan dengan revolusi informasi berjejaring. Masa automasi pertama ditandai dengan komputerisasi pengoperasian kegiatan sehari-hari perpustakaan yang dimulai pada akhir tahun 1950an atau awal tahun 1960an. Masa automasi kedua ditandai dengan kemunculan katalog publik (OPAC) yang berawal pada tahun 1980an. Masa automasi ketiga ditandai dengan pengalihan konten tercetak ke bentuk elektronik (proses digitalisasi) yang terjadi pada tahun 2000an. Dan era revolusi informasi berjejaring ditandai dengan inovasi dan transformasi yang dimulai pada akhir tahun 1990an.

Teknologi terus berlanjut menggerakkan pemikiran kita ke masa depan perpustakaan perguruan tinggi. Kecenderungan utama penggerak teknologi pendidikan antara lain adalah keinginan agar informasi dan akses media sosial dan jaringan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja;

penerimaan teknologi cloud-based;

kolaborasi; tantangan bahwa informasi ada di mana-mana (ubiquitous);

paradigma baru pembelajaran online dan

hybrid; dan penekanan pada

pembelajaran aktif(Johnson, Adams, &Cummins, 2012). Jejaring sosial dan pradigma baru cara publikasi seperti konten terbuka (open content) merupakan tantangan bagi peran perpustakaan sebagai kurator.Hal ini juga memposisikan perpustakaanberada di bawah tekanan untuk mengembangkan cara-cara baru untuk mendukung dan bertindak sebagai kurator karya akademik.Peran tersebut juga termasuk membantu para mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan literasi media.

Automasi Perpustakaan

Istilah automasi perpustakaan bermakna penggunaan mesin otomatis atau peralatan pemerosesan di perpustakaan.Automasi dapat diterapkan

pada aktifitas administratif perpustakaan, prosedur perkantoran, dan penyampaian pelayanan perpustakaan kepada pengguna. Untuk memahami automasi perpustakaan, kita terlebih dahulu harus mengenal aktifitas rutin

suatu perpustakaan. Kegiatan rutin

sehari-hari perpustakaan disebut dengan istilah kerumah-tanggaan perpustakaan (library housekeeping). Semua kegiatan rutin kerumah-tanggaan ditujukan untuk mengontrol koleksi suatu perpustakaan. Kerumahtanggaan tersebut mencakup antara lain kegiatan pengadaan bahan

perpustakaan (acquisitions), pengatalogan (cataloguing), pengawasan

sirkulasi (circulation control), pengawasan serial (serials control), dan katalog publik (web-based online public access catalog).

(3)

(pre-order bibliographical checking) yang dilakukan sebelum pemesanan dan penerimaan bahan perpustakaan baru, pemerosesan faktur, dan pemeliharaan arsip pengadaan.Pengatalogan adalah kegiatan yang dilakukan dalam mempersiapkan deksripsi bibliografis bahan perpustakaan (catalog record) yang kemudian digunakan sebagai sarana temu-balik.Pengawasan sirkulasi adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan peminjaman, perpanjangan, dan pengembalian bahan perpustakaan, dan

yang berkaitan dengan keanggotaan.Aktifitas ini merupakan

pengontrolan peredaran koleksi perpustakaan.Pengawasan serial adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan pesanan, penerimaan dokumen, akses terhadap koleksi, pengarahan (routing), pengajuan klaim, peminjaman dan penjilidan terbitan

berkala.Katalog publik online adalah

fasilitas temu-balik koleksi perpustakaan melalui antar muka web, termasuk tersedianya fitur perpanjangan dan reservasi oleh pengguna.

Dengan dukungan perangkat lunak aplikasi semua kegiatan kerumah-tanggaan perpustakaan dapat dilakukan dengan lebih efisien baik dari sisi staf maupun pengguna perpustakaan. Automasi perpustakaan dapat mengurangi beban kerja klerikal sehingga staf dapat melakukan pekerjaan lain yang lebih kreatif dan inovatif. Manajemen perpustakaan dapat memperoleh berbagai bentuk statistik dan laporan tentang kinerja perpustakaan

dengan seketika (real-time processing).Di sisi lain, pengguna dapat

lebih mudah melakukan temu-balik, memperpanjang pinjamannya, dan melakukan reservasi jika bahan perpustakaan yang dibutuhkannya sedang dipinjam pengguna lain. Pengguna juga dapat memeriksa status

keanggotaan dan pinjamannya setiap saat. Perangkat lunak untuk aplikasi perpustakaan dikenal dengan istilah

integrated library systems (ILS) atau

library management systems (LMS).Selain perangkat lunak aplikasi automasi perpustakaan komersial, juga

tersedia kategori open source seperti

KOHA dan New Gen Lib.

Repositori Institusi

Repositori institusi atau lebih dikenal

dengan istilah institutional repository

(IR) adalah suatu locus untuk

mengumpulkan, memelihara, dan mendiseminasikan dalam bentuk digital produkkarya tulis suatu institusi. Pada perguruan tinggi, IR mencakup antara lain karya dosen seperti artikel jurnal/laporan penelitian dan makalah; karya mahasiswa seperti skripsi, tesis, dan disertasi; dan aset digital lainnya yang dihasilkan dalam kehidupan akademik seperti dokumen administratif dan bahan perkuliahan. Bahan-bahan tersebut ada yang melalui proses digitalisasi untuk karya retrospektif dan bentuk digital sejak lahir (born-digital materials). Pengembangan IR bertujuan antara lain untuk: (1) menyediakan akses terbuka (open access) terhadap produk institusi untuk memaksimalkan penggunaannya, (2) menciptakan

visibility global terhadap karya insititusi,

(3) mengumpulkan konten pada lokasi tunggal; dan (4) menyimpan dan memelihara aset digital institusi, termasuk literatur kelabu (grey literature) atau yang tidak diterbitkan (unpublished) yang mudah hilang.

(4)

terhadap ruang penyimpanan yang lebih luas, pemeliharaan dan penanganannya yang lebih kompleks, dan tentu saja biaya yang lebih besar.Kendala kapasitas ruang penyimpanan dan pemeliharaan seperti itu, solusinya adalah dengan mengalih-mediakan bahan-bahan tercetak tersebut ke dalam bentuk digital.Penyediaan dan pemeliharaannya

padastorage (disk) berkapasitas besar

jauh lebih murah dibandingkan dengan penyediaan dan pemeliharaannya pada ruang fisik konvensional.Selain itu, publikasi elektronik dengan akses terbuka melalui web dipandang dapat mengurangi plagiarisme dan duplikasi yang berdampak pada peningkatan kualitas karya akademik yang dihasilkan.

Perangkat lunak untuk pembangunan respositori institusi atau perpustakaan digital banyak yang tersedia secara gratis seperti DSpace dan Eprints yang sudah

populer karena banyak digunakan.DSpace misalnya memiliki

banyak keunggulan dan fitur seperti: statistik, standar metadata Dublin Core, mendukung OAI-PMH (Open Archives Initiative-Protocol for Metadata Harvesting), yang dapat digunakan untuk pertukaran metadata secara otomatis. Selain itu, pengguna DSpace juga tersebar hampir di seluruh dunia (lihat wiki.dspace.org) dengan komunitas pengguna yang cukup besar

sehingga memungkinkan dilakukannyaberbagi-pakai (sharing)

informasi sesama komunitas terutama dalam hal penggunaan maupun peremajaan (update) sistem. Untuk mengembangkan IR diperlukan kebijakan administratif dan teknis yang dapat mendorong baik peningkatan konten maupun kinerja sistem.

Webometrics melakukan pemeringkatan IR yang didasarkan pada

indikator web dari search engines paling

penting. Indikator tersebut terdiri dari: Size (S), Visibility (V), Rich Files (R) dan Scholar (Sc). Ini dilakukan dengan tujuan untuk menyempurnakan visibilitas repositori institusi dan praktik

yang baik dalam publikasi web.Size

diukur berdasarkan jumlah halaman web yang diekstraksi dari Google.Visibility adalah jumlah total tautan (links) eksternal yang diterima

(backlinks)oleh domaininstitusiuntuk

tautan yang didapatkan dari database

MajesticSEO dan ahrefs. RichFiles

adalah jenis format berkas sepertiAdobe Acrobat (.pdf), MS Word

(.doc, .docx), MS Powerpoint (.ppt,

.pptx) and PostScript (.ps & .eps) yang

diekstraksi dari Google.Scholar adalah

kalkulasi jumlah tulisan yang dinormalisasi antara tahun 2007 dan 2011 menggunakan database Goggle Scholar. Keempat kriteria peringkat tersebut digabungkan berdasarkan suatu formula di mana setiap unsur memiliki ukuran yang berbeda tetapi menjaga

rasio 1:1antara aktifitas (size) dan

dampak (visibility) (Ranking Web of

Repositories, 2013).

Kurator Dataset

(5)

mengembangkannya.Pustakawan dapat

mengkomunikasikan nilai-nilai keterampilan yang telah dimilikinya

dalam mengembangkan peran yang sebelumnya tidak berkaitan dengan pustakawan.NISO (National Information

Standards Organization) mengembangkan suatu rekomendasi

praktik untuk penerbit tentang pencantuman, penanganan, penyajian, dan preservasi bahan-bahan seperti itu (Bruce, 2012).

Pengadaan e-Book

Suatu laporan tentang masa depan perpustakaan perguruan tinggi mengidentifikasi bahwa PDA (Patron-Driven Acquisition) sebagai sebuah kecenderungan yang tidak dapat dihindarkan oleh perpustakaan (Kolowich, 2011). Jika sebuah buku dalam topik yang sama tersedia dalam format tercetak dan elektronik, maka pilihan pengguna akan jatuh pada format elektronik. Perpustakaan harus mengikuti pilihan pengguna tersebut jika ingin membuktikan bahwa belanja yang dihabiskan tetap sepadan dengan nilainya.Apabila suatu saat buku-buku tercetak sirkulasinya rendah, maka perpustakaan perguruan tinggi harus dengan rela membuangnya untuk mengurangi beban, seperti membuang muatan ke laut untuk mengurangi muatan kapal (jettison).

Perjanjian lisensi dari vendor e-book seharusnya memungkinkan perpustakaan dapat memilih hanya buku-buku yang permintaannya tinggi (high demand) saja untuk dibeli.ALA mengidentifikasi keberlanjutan (sustainability) sebagai prinsip utama untuk koleksi

e-book(ALA, 2011a). Keberlanjutan

mensyaratkan pendanaan yang teratur

dan on-going, solusi teknologi yang

tepat untuk umur panjang rekod kultural,

dan kemampuan manajemen jangka panjang.Pilihan lisensi dan standar baru harus diadopsi untuk memfasilitasi peminjaman e-book, menyediakan statistik, dan portabel antara peralatan dan platform (ALA, 2011b).

Komunikasi Ilmiah

Model penerbitan atau publikasi baru sedang dieksplorasi untuk jurnal, monograf ilmiah, buku teks, dan bahan-bahan digital.Para pemangku kepentingan di bidang ini mencoba

melahirkan model berkelanjutan.Pengembangan yang

relevan untuk jurnal termasuk open

access (OA) untuk konten historis, OA

yang dibiayai oleh pengarang untuk konten baru, dan berlangganan pada penerbit besar (biasanya sangat

mahal).Sejumlah perpustakaan perguruan tinggi telah melakukan peran

aktif dalam perubahan lingkungan komunikasi ilmiah. Perguruan tinggi biasanya menyediakan pelayanan repositori digital, memberikan nasehattentang hak cipta pengarang, pelayanan digitalisasi, dan manajemen dataset penelitian, pebuatan metadata, pengatalogan, dan preservasi digital. Simba Information, sebuah organisasi penelitian dengan spesialisasi bidang penerbitan, memperkirakan bahwa pada akhir 2013, buku teks digital akanmencapai 11% dari total pasar buku

teks(Schuetze, 2011).Beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat

menawarkan “The Open Course Library”, yang membuat buku teks yang digunakan pada sejumlah mata kuliah tersedia secara gratis melalui lisensi Creative Commons (Kelley, 2011).

Perilaku dan Ekspektasi Pengguna

(6)

informasi.Ketika ditanyakan, responden melukiskan bahwa perpustakaan “sulit untuk digunakan”, “tujuan terakhir”, dan “tidak nyaman”.Kenyamanan adalah suatu faktor signifikan dalam situasi perguruan tinggi dan pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari (Connaway et al., 2011). Dengan meluasnya penggunaan Internet dan

search engines seperti Google, individu

hanya menghadapi sedikit atau sama sekali tidak ada masalah dalam menemukan sumber-sumber informasi. Smith dan Pickett (2011) menyatakan perpustakaan gaya baru seharusnya

didasarkan pada model just-in-time, di

mana akses adalah lebih penting dari pada sejumlah besar inventaris yang dekat.

Kesimpulan

Walaupun kecenderungan pengembangan teknologi informasi pada

perpustakaan yang disajikan dalam tulisan ini sebagian didasarkan pada literatur Barat, tetapi materinya relevan dengan situasi di Indonesia saat ini. Kondisi perpustakaan perguruan tinggi kita memang sangat bervariasi antara

satu dengan lainnya, sehingga state of

the art teknologinya juga tentu

berbeda.Kita sering mendengar dari para mahasiswa kita bahwa mereka tidak lagi perlu menggunakan fasilitas perpustakaan tetapi cukup dengan

googling untuk mendapatkan

sumber-sumber informasi yang mereka perlukan dalam penyelesaian studi mereka.Oleh karena itu, kecenderungan-kecenderungan seperti diuraikan di atas perlu diantisipasi oleh setiap perpustakaan jika tidak ingin tertinggal di belakang. Pengembangan staf dan personil perpustakaan menjadi isu puncak bagi pustakawan perguruan tinggi untuk menghadapi tantangan-tantangan baru tersebut.

Pendekatan-pendekatan kreatif perlu dilakukan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan pengguna,dan melatih-ulang para staf dan personil perpustakaan untuk tujuan tersebut sangat diperlukan.

Rujukan

ALA (2011a). E-book principles for the

library community.Retrieved from http://americanlibrariesmagazine. org/sites/default/files/EbookPrinci ples-Sept2011.pdf.

ALA(2011b). Talking points on library

lending of e-books.Retrieved from http://web20kmg.pbworks.com/w/fi le/fetch/46397972/TalkingPointsEb ookLending-Sept2011.pdf.

Association of College and Research Libraries (2012).2012 top ten trends in academic libraries:

A review of the trends and issues affecting academic libraries in

higher education.Retrieved from

http://crln.acrl.org/content/73/6/31 1.full

Bruce, K. (2012). LIBValue: Valuing the academic library. Retrieved from

http://www.libqual.org/documents/

LibQual/publications/2012/2012_A LADallas_Kingma_LibValue.pdf. Connaway, L. S., Silipigni, D. T.,

Timothy J., & Radford,M. L. (2011). ‘If it is too inconvenient I’m not going after it:’

Convenience as a Critical Factor in Information-seeking Behaviors. Library & Information Science Research 33, No. 3 (2011): 179– 90.

Johnson, L., Adams, S., and Cummins, M. (2012).Technology outlook for Australian tertiary education 2012-2017.Retrieved from

(7)

Kelley, M. (2011).Library with free online college textbooks makes debut,the digital shift.Retrieved from

http://www.thedigitalshift.com/201 1/11/ebooks/library-with-free- online-college-textbooks-makes-debut/.

Kolowich, S. (2011).P.D.A. in the library.Retrieved from

http://www.insidehighered.com/ne

ws/ 2011/10/28/e-book- acquisition-based-use-and- demand-could-save-libraries-thousands

Lynch, C. A. (2000). From automation to transformation: Forty years of libraries and information

technology in higher education. Retrieved from

http://net.educause.edu/ir/library/p df/erm0018.pdf.

National Science Foundation (2010).Scientists seeking NSF

funding will soon be required to submit data management

plans.Retrieved from

http://www.nsf.gov/news/news_sum

m.jsp?cntn_id=116928&org=NSF &from=news.

Ranking Web of Repositories (2013).Retrieved from

http://repositories.webometrics.inf o/en/Methodology.

Schuetze, C. F. (2011).Textbooks finally

take a big leap to digital.The New

York Times, November23,

2011.Retrieved from

http://www.nytimes.com/2011/11/2

4/world/americas/schoolwork-gets-

swept-up-in-rush-to-go-digital.html?pagewanted=all. Smith, S. E., &Pickett C. (2011)

Avoiding the path to obsolescence: riches-to-rags tales in the retail business hold lessons for

libraries.American Libraries 42,

Referensi

Dokumen terkait

1. Waktu penanganan surat menyurat a. Rata-rata total waktu penanganan satu surat masuk b. Rata-rata total waktu penanganan satu surat keluar 1. Ketepatan fungsi wawancara

Peningkatan hasil penjualan dan laba yang hanya terjadi pada 30% pedagang perlu diwaspasdai mengingat terdapat 70% yang dapat dikatakan mengalami masalah

Artinya: Syahnya nikah dengan mendahulukan qabul dan mengakhirkan ijab itu karena tercapainya / tersampaikannya maksud.. Hal ini dilatarbelakangi ketika qabul didahulukan

Dalam sebuah pemasaran secara digital atau yang dikenal sebagai e-marketing, penggunaan strategi promosi online STOP and SIT mengacu pada penerapan manajemen SOSTAC yang

Penelitian terdahulu belum dapat menjawab ukuran partikel arang, jenis perekat, dan konsentrasi perekat yang optimal untuk mendapatkan briket yang mempunyai nilai

Untuk sektor limbah, setidaknya harus diukur beberapa sub sektor dalam 2006 IPCC Guidelines yakni, sampah terbuang ke TPA, pengolahan sampah secara biologis, pembakaran sampah

Karena pada dasarnya kelompok liberal ini pada dasarnya kelompok liberal ini ingin menghancu ingin menghancurkan Islam rkan Islam dari dari dalam yaitu dengan cara menyebarkan paham