• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hotel Bisnis dan Pasar Kuliner Lau Cih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hotel Bisnis dan Pasar Kuliner Lau Cih"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Terminologi Judul

Judul dari proyek adalah “Hotel Bisnis dan Pasar Kuliner Lau Cih“ yang merupakan sebuah tempat untuk kalangan pebisnis yang letaknya di Kwala Bekala, Medan. Dalam judul “Hotel Bisnis dan Pasar Kuliner Lau Cih “ mengandung pengertian utama antara lain :

Hotel

Hotel ( n ) bangunan yang bersifat bisnis untuk penginapan atau diam beberapa waktu dengan tarif tertentu; penginapan yang tersiri dari beberapa kamar (W.J.S. Poerwadarminta,Kamus Umum Bahasa Indonesia,PN Balai Pustaka , Jakarta

1976 ). Hotel ( n ) building where rooms and meals are provided for travellers (

Homby AS, Oxford , Advanced Learner’s Dictionary of Current English ). Hotel merupakan :

1. Suatu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh jasa pelayanan penginapan , makanan dan minuman serta jasa lain. ( Keputusan dirjen Pariwisata No. 14/U/11/88 , tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha dan Golongan Hotel ).

2. Hotel menurut Surat Keputusan Menteri Perhubungan R.I No. PM 10/PW – 301/Phb. 77, tanggal 12 Desember 1977 adalah suatu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan penginapan, berikut makan dan minum.

3. Hotel menurut SK Menparpostel No.KM 34/HK 103/MPPT-87 merupakan suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh

bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial serta memenuhi

ketentuan persyaratan yang ditetapkan dalam keputusan pemerintah. 4. Hotel menurut buku Managing Front Office Orientation dari AHMA (

(2)

disediakan penginapan , makan dan minum, serta pelayanan lainnya, untuk disewakan bagi para tamu atau orang – orang yang tinggal untuk sementara waktu.

5. Suatu bangunan umum yang diusahakan bagi pelaku perjalanan ( wisatawan ) yang membayar dua jenis pelayanan , yaitu akomodasi serta makanan. ( Lawson, Fred, Hotel, Motels and Condominiums Design

Planning )

6. Hotel menurut Grolier Electronic Publishing Inc. ( 1995 ) adalah usaha komersial yang menyediakan tempat menginap , makanan dan pelayanan – pelayanan lain untuk umum.

7. Hotel menurut Webster adalah suatu bangunan atau suatu lembaga yang menyediakan

kamar untuk menginap, makan dan minum serta pelayanan lainnya untuk umum.

Bisnis

Secara harfiah , kata bisnis berasal dari Bahasa Inggris, yaitu business, dari kata dasar busy yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat . Dalam pengertian yang lebih luas, bisnis diartikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau lebih, individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan/laba. Bisnis merupakan sebuah usaha, dimana setiap pengusaha harus siap untung dan siap rugi. bisnis tidak hanya tergantung dengan modal uang. reputasi, keahlian, ilmu, sahabat dan kerabat dapat menjadi modal bisnis. Dalam ilmu ekonomi , bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen untuk mendapatkan

laba . Beberapa pengertian bisnis menurut para ahli : 1. Menurut Steinford (1979)

(3)

2. Menurut Allan Afuah (2004)

“Business is the organized effort of individuals to produce and sell for a provit, the goods and services that satisfy societies needs. The general term business refer to all such efforts within a society or within an industry. Maksudnya Bisnis ialah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan

dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan ada dalam industri. Orang yang mengusahakan uang dan waktunya dengan menanggung resiko dalam menjalankan kegiatan bisnis disebut Entrepreneur.

3. Menurut Glos , Steade , dan Lowry (1996)

Bisnis merupakan sekumpulan aktifitas yang dilakukan untuk menciptakan dengan cara mengembangkan dan mentransformasikan berbagai sember daya menjadi barang atau jasa yang diinginkan konsumen.

4. Menurut Musselman dan Jackson (1992)

Bisnis adalah jumlah seluruh kegiatan yang diorganisir oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang perniagaan dan industry yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan memperbaiki standard serta kualitas hidup mereka.Dari pengertian – pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bisnis adalah usaha perdagangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisasi untuk mendapatkan laba dengan memproduksi atau menjual barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Dengan pengertian hotel dan bisnis di atas , dapat disimpulkan bahwa hotel bisnis didefinisikan sebagai suatu hotel yang timbul akibat kebutuhan konsumen golongan-golongan tertentu , biasanya usahawan , pejabat dinas , dan para pelaku bisnis lainnya ,dan memiliki fasilitas – fasilitas untuk mendukung kegiatan mereka

(4)

Pasar

Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. (wikipedia.co.id) Jadi, pengertian pusat perbelanjaan berdasarkan penjelasan di atas adalah suatu tempat dimana usaha menjual barang berupa hal-hal yang berkaitan dengan makanan.

Kuliner

Kuliner atau Culinary berasal dari bahasa Latin cullinarius, dari kata culina yang berarti dapur. (Oxford Dictionaries Online)

Culinary : connected with cooking or food.(Oxford , Advanced Learner’s Dictionary)

Kuliner adalah suatu bagian hidup yang erat kaitannya dengan konsumsi makanan ataupun juga sebuah gaya hidup yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kuliner sangat penting dalam kehidupan. Ada beberapa pendapat tentang kuliner :

1. Menurut Wikipedia kuliner adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan

nutrisi. Cairan dipakai untuk maksud ini sering disebut minuman, tetapi kata 'makanan' juga bisa dipakai. Istilah ini kadang-kadang dipakai dengan

kiasan, seperti "makanan untuk pemikiran". Kecukupan makanan dapat dinilai dengan status gizi secara antropometri

2. Menurut Artikata makanan adalah : tempat berlindung nya hati dan kesehatan jasmani, lenyapnya keragu-raguan yg disebabkan oleh kesibukan kerja jasmani atau segala bahan yg kita makan atau masuk ke dalam tubuh yg membentuk atau mengganti jaringan tubuh, memberikan tenaga, atau mengatur semua proses dalam tubuh.

(5)

Lau Cih

Sebuah kelurahan/desa yang terletak di kabupaten Medan Tuntungan, Sumatera Utara.

II.2 Lokasi

Kwala Bekala merupakan wilayah kelurahan yang terletak di Medan Johor, Medan, Sumatera Utara. Kecamatan Medan Johor terletak di ketinggian 6 - 12 m diatas permukaan laut, yang terletak pada:

Lintang Utara : 2º.27’ - 2º.47’

Bujur Timur : 98º.35 - 98º.44’

Kecamatan Medan Johor sendiri berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kecamatan Medan Polonia

Sebelah Timur : Kecamatan Medan Amplas

Sebelah Selatan : Kabupaten Deli Serdang

Sebelah Barat : Kecamatan Medan Selayang

Luas lahan : ± 22.7 ha

Kontur : relatif datar (kontur tanahnya tidak terlalu bergelombang) KDB/KLB : 60% / 1-5

Luas site : 9654 m2 Batas-batas site : Barat : Perumahan

Timur : Eco Bussiness Park Utara : Hotel Mix Used Selatan : Danau

Pemilik : PTPN II

Bangunan eksisting : Lahan kosong Keistimewaan site :

(6)

2. Dapat dicapai dengan berbagai moda transportasi darat (bus, mobil, taksi, sepeda motor, dsb).

3. Terdapat beberapa fasilitas kota di sekitar site seperti perkantoran, ruko, dan permukiman

4. Terdapat fasilitas umum di sekitar site seperti mesjid 5. Memiliki jalur utilitas yang baik

II.3 Studi Literatur

II.3.1 Mebidangro

Presiden telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo (Mebidangro), yang meliputi 52 kecamatan di seluruh Kota Medan, seluruh Kota Binjai, seluruh Kabupaten Deli Serdang, dan sebagian Kabupaten Karo.

Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro berlaku sejak tanggal 20 September 2011, dan perubahannya hanya dapat dilakukan satu kali dalam 5

(7)

nasional yang mampu bersaing dengan pusat pelayanan ekonomi Regional IMT-GT, di samping melayani penduduknya dengan prima. Luas wilayah Metropolitan Mebidangro adalah 301.697 ha, meliputi Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang dan sebagian Kabupaten Karo. Pada tahun 2009 total jumlah penduduk metropolitan ini mencapai 4.2 juta Jiwa.

Dengan perkiraan pertumbuhan penduduk selama 20 tahun terakhir sebesar 30,95%, diperkirakan jumlah penduduk Metropolitan Mebidangro pada tahun 2029 akan mencapai 5.5 juta Jiwa. Dilihat dari daya dukung fisik dasarnya, sekitar 37,55% lahan Metropolitan Mebidangro, yaitu 113.280 ha, potensial dikembangkan untuk kegiatan perkotaan. Diperkirakan daya tampung kawasan Metropolitan Mebidangro mencapai 6,8 juta jiwa. Metropolitan Mebidangro didukung dengan keberadaan Bandara Kualanamu (dalam proses pembangunan) sebagai pengganti Bandara Polonia. Bandara Kualanamu ditetapkan sebagai bandara internasional dengan hierarki pusat pengumpul skala primer (KM 11 Tahun 2010, Tatanan Kebandarudaraan Nasional). Metropolitan Mebidangro juga didukung keberadaan

pelabuhan laut Belawan dengan status pelabuhan internasional (PP No. 26 tahun 2008, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional). Kebijakan dalam Penataan Ruang

Kawasan Perkotaan Mebidangro meliputi:

1. Pengembangan dan pemantapan fungsi Kawasan Perkotaan Mebidangro

sebagai pusat perekonomian nasional yang produktif dan efisien serta mampu bersaing secara internasional terutama dalam kerja sama ekonomi subregional Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand;

2. Peningkatan akses pelayanan pusat pusat kegiatan perkotaan Mebidangro

sebagai pembentuk struktur ruang perkotaan dan penggerak utama pengembangan wilayah Sumatera bagian utara;

3. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,

(8)

4. Peningkatan keterpaduan antarkegiatan budi daya serta keseimbangan antara

perkotaan dan perdesaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan;

5. Peningkatan fungsi, kuantitas, dan kualitas RTH dan kawasan lindung lainnya

di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, maka diberlakukan lima langkah strategis pengembangan Kawasan Metropolitan Mebidangro, yaitu pengembangan koridor ekonomi internasional Belawan–Kuala Namu, pembangunan pusat-pusat pelayanan kota baru, revitalisasi pusat kota lama Medan dan Kawasan Tembakau Deli, pembangunan dan pemantapan Koridor Hijau Mebidangro, dan pengembangan Akses Strategis Mebidangro. Pengembangan Koridor Ekonomi Internasional Belawan-Kuala Namu dilakukan dengan menata pusat Kota Medan menjadi pusat kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan cagar budaya, dan kegiatan pariwisata budaya dan buatan. Selain itu, dilakukan pula penataan kawasan agropolitan tembakau Deli yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau perkotaan, wisata buatan, dan trade mark perkotaan Mebidangro.

Sementara itu revitalisasi pusat Kota lama Medan dan Kawasan Tembakau Deli menitikberatkan pada penataan pusat Kota Medan sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan cagar budaya, dan kegiatan pariwisata budaya dan buatan. Penataan kawasan agropolitan tembakau Deli yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau perkotaan, wisata buatan, dan trade mark perkotaan Mebidangro. Pembangunan dan pemantapan Koridor Hijau Mebidangro dimaksudkan untuk memantapkan kawasan hutan di kawasan hulu dan hilir Mebidangro yang berfungsi

sebagai resapan air, perlindungan daerah di bawahnya, dan perlindungan flora fauna. Selain itu dilakukan pula pembangunan sempadan sungai yang membentang

(9)

dalamnya pembangunan sistem jaringan angkutan massal berbasis jalan dan kereta api yang menghubungkan antar pusat kegiatan sekunder, dan pembangunan keterpaduan simpul sistem jaringan transportasi yang memadukan transportasi darat, udara, dan laut di Pelabuhan Belawan, Bandara Kualanamu dan Stasiun Medan.

II.3.2 Transit Oriented Development (TOD)

Transit Oriented Development muncul pertama kali pada tahun 1990-an yang di pelopori oleh Peter Calthorpe. TOD muncul dikarenakan fenomena

urbansprawl yang mengakibatan tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan mengakibatkan kemacetan (Yuniasih, 2007).

Menurut Taolin (2008) Gerakan pengembangan kawasan berbasis transit didasari oleh kualitas kehidupan kota yang semakin memburuk yang ditandai dengan kemacetan, sprawl, dan tata guna lahan yang tidak terintegrasi. TOD

memiliki tujuan menciptakan tujuan yang nyaman, aman, menyenangkan dan mecukupi bagi pejalan kaki (walkable environment). Dengan mencampurkan berbagai fungsi kegiatan perjalanan yang perlu dilakukan dapat digabungkan menjadi lebih singkat dan cepat. Fungsi-fungsi tersebut adalah pusat area komersil, perkantoran, retail, servis, pemukiman dengan kepadatan sedang hingga kepadatan tinggi dan juga ruang terbuka publik.

II.3.2.1 Defenisi Transit Oriented Development (TOD)

Defenisi Transit Oriented Development menurut Calthorpe dalam Yuniasih (2007) adalah :

“A mixed-use community within an average 2,000-foot walkingdistance of a transit stop and core commercial area. TODs mix residential, retail,

office, open space, and public uses in a walkable environment, making it

convenient for residents and employees to travel by transit, bicycle, foot,

(10)

Konsep Transit Oriented Development (TOD) ini menawarkan alternative menuju pola pengembangan dengan menyediakan fungsi-fungsi

working, living,leisure dalam populasi yang beraneka ragam, dalam kepadatan yang rendahsampai dengan tinggi, dengan konfigurasi fasilitas pedestrian dan akses transit. Karakteristik bentuk kota ini bercirikan keragaman dan densitas tinggi dalam skala lokal/kawasan, dan terhubungkan dengan bagian kota lain oleh sistem transit. Konsep Transit

Oriented Development (TOD) di awali dengan konsep aktivitas pergerakan manusia, baik dengan moda maupun berjalan. Pergerakan sebagai salah satu aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh manusia, diwadahi dengan penempatan-penempatan pusat-pusat aktivitas yang terintegrasi dengan titik-titik transit, sehingga diharapkan dapat mendorong penggunaan transportasi publik. Pusat-pusat aktivitas dihubungkan antara satu dengan

yang lain dalam jarak tempuh berjalan yang nyaman dan aman sebagai upaya untuk mengurangi pergantian antar moda (Wijaya, 2009).

II.3.2.2 Struktur Transit Oriented Oriented Development (TOD) Menurut Calthorpe dalam Yuniasih (2007) struktur TOD dan daerah disekitarnya terbagi menjadi area-area sebagai berikut :

Sumber : Calthrope dalam Wijaya (2009) Gambar. 2.1

(11)

memberi layanan bagi lingkungan kerja dan permukiman di dalam

TOD dan kawasan disekitarnya. Lokasinya berada pada jarak yang terdekat dengan titik transit pada jangkauan 5 menit berjalan kaki. 2. Pusat area komersial (core commercial area). Adanya pusat area

komersial sangat penting dalam TOD, area ini berada pada lokasi yang berada pada jangkauan 5 menit berjalan kaki. Ukuran dan lokasi sesuai

dengan kondisi pasar, keterdekatan dengan titik transit dan tahap pengembangan. Fasilitas yang ada umumnya berupa retail, perkantoran, supermarket, restoran, servis dan hiburan.

3. Area permukiman ( residential area). Area permukiman termasuk permukiman yang berada pada jarak perjalanan kaki dari area pusat komersial dan titik transit. Kepadatan area permukiman harus sejalan dengan variasi tipe permukiman, termasuk single-family housing, town house, condominium danapartement.

4. Area sekunder (secondary area). Setiap TOD memiliki area sekunder yang berdekatan dengannya, termasuk area diseberang kawasan yang dipisahkan oleh jalan arteri. Area ini berjarak lebih dari 1 mil dari pusat area komersial. jaringan area sekunder harus menyediakan beberapa jalan/akses langsung dan jalur sepeda menuju titik transit dan area komersil dengan seminimal mungkin terbelah oleh jalan arteri. Area ini memiliki densitas yang lebih rendah dengan fungsi single- family

housing, sekolah umum, taman komunitas yangbesar, fungsi pembangkit perkantoran dengan intensitas rendah, dan area parkir.

5. Fungsi-fungsi lain , yakni fungsi-fungsi yang secara ekstensi

bergantung pada kendaraan bermotor, truk atau intensitas perkantoran yang sangat rendah yang berada di luar kawasan TOD dan area sekunder.

II.3.2.3 Tipologi Transit Oriented Development

Terdapat dua model pengembangan didalam TOD menurut Calthorpe yakni:

(12)

Merupakan TOD yang berlokasi pada jalur bus feeder dengan jarak jangkauan 10 menit berjalan (tidak lebih dari 3 mil) dari titik transit.

NeigborhoodTOD harus berada pada lingkungan hunian dengan densitas menengah, fasilitas umum, servis, retail, dan rekreasi. NeigborhoodTOD

ini dirancang dengan fasilitas publik dan ruang terbuka hijau serta memberi kemudahan akses bagi pengguna moda pergerakan.

2. UrbanTOD

Merupakan TOD dengan skala pelayanan kota berada pada jalur sirkulasi utama kota seperti halte bus antar kota dan stasiun kereta api baik light rail

maupun heavy rail. Urban TOD harus dikembangkan bersama fungsi komersial yang memiliki intensitas tinggi, blok perkatoran, dan hunian dengan intensitas menengah tinggi. Setiap TOD pada kota, memiliki karakter tersendiri sesuai dengan karakter lingkungannya.

II.3.2.4 Keuntungan dari Diterapkannya TOD

Menurut Calthorpe dalam Wijaya (2007) konsep Transit Oriented Development (TOD) pada dasarnya adalah untuk mengintegrasikan jaringan jalan dengan bangunan sekitarnya dikaitkan dengan manusia sebagai penggunanya sehingga tercipta lingkungan yang walkable, aman dan

Sumber : Calthrope, 1993

(13)

nyaman, dimana dapat diuraikan : Tujuan Lingkungan

1. Meningkatkan kualitas udara, menghemat penggunaan energi dan membuat lingkungan yang berkelanjutan.

2. Mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pada lingkungan yang didominasi oleh kendaraan bermotor.

Tujuan Perencanaan/Transportasi

1. Menciptakan pola pembangunan kota untuk pengembangan kawasan secara terintegrasi.

2. Menciptakan variasi perumahan dengan berbagai kepadatan dari rendah sampai dengan tinggi dalam radisu tertentu dari lokasi transit (Calthrope).

Di area komersial, fungsi retail dapat dikombinasikan dengan residensial dan perkantoran, namun intensitas retail itu sendiri tidak boleh berkurang. Jumlah parkir harus ditambah untk fungsi-fungsi tambahan tersebut. Pertimbangan khusus harus dilakukan agar tercipta privasi untuk fungsi residensial. Entrance kedua fungsi harus dipisah. Penambahan fungsi tersebut sebaiknya dilakukan secara vertikal. Hasil adalah ketinggian bangunan bertambah, menciptakan kemenarikan visual dan karakter urban yang lebih kuat.

Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter

horpe Gambar.2.3

(14)

Fasad bangunan harus bervariasi dan terartikulasi untuk memberikan ketertarikan visual bagi pedestrian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, pengalaman ruang kala berjalan kaki akan terasa membosankan dan terasa semakin jauh.

a) Area Residensial

Tujuan TOD adalah mengurangi tingkat penggunaan mobil pribadi. dengan

perancangan dan lokasi area residensial yang tepat tujuan ini dapat dicapai. Residensial sebaiknya berdekatan dengan area komersial dan dan transit.

Kepadatan area residensial dirancang untuk mendukung pengguna transit. Tipe permukiman bervariasi terdiri dari tipe single family, tipe

townhouse, dan apartemen.

Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe

Gambar.2.4

(15)

b) Pedestrian

Jalan di kawasan TOD merupakan elemen paling vital dalam menentukan kualitas ruang publik. Jalan di kawasan TOD harus dibuat pedestrian-friendly. Untuk menciptakan ruang jalan yang demikian harus dipikirkan berapa luas yang diperlukan untuk pedestrian untuk menciptakan ruang publik yang aktif,sementara tetap menjaga keseimbangan dengan ruang parkir, jalur bersepeda dan pergerakan

kendaraan.

Lebar jalan dan jumlah lajur kendaraan harus dikurangi tanpa mengorbankan parkir paralel dan akses sepeda. Jalan harus dirancang untuk dilalui dengan kecepatan mobil tak lebih dari 24 km/jam. Jalan yang lebih sempit dapat mengurangi lebar jalan dan jumlah lajur memberikan ruang yang lebih besar untuk penataan lansekap. Dimensi jalan yang relatif kecil ditujukan untuk menciptakan skala manusia.

Sidewalk secara virtual terbagi atas beberapa zona yaitu; zona tepi yang berbatasan langsung dengan jalur mobil (minimal 1,2 meter untuk kawasan TOD, untuk menyediakan ruang menunggu), zona furnishing yang mengakomodasi perletakan street furniture seperti pohon atau fasilitas transit, zona ‘melintas’ yaitu jalur yang dapat dilalui tanpa gangguan, dan zona ‘frontage’ yaitu ruang bersih

(16)

antara fasad bangunan (tempat pejalan kaki melakukan window shopping, area keluar dan masuk dari dalam bangunan) dan zona ‘melintas’. Lebar sidewalk

minimum yang disarankan adalah 3 meter (pada area komersial minimum 4 meter), tidak batas maksimum untuk lebar sidewalk namun jika terlalu lebar menyebabkan ketidaknyaman karena terkesan kosong dan tidak mengundang.

Lebar zona sidewalk minimal untuk dilalui pejalan kaki adalah 1,5 meter (dapat dialui dua orang sekaligus). Dimensi sidewalk lebar di area komersial

dimana aktivitas pedestrian lebih besar dan seating luar sangat direkomendasikan (1,8 meter -2,5 meter). Jalur pedestrian yang nyaman akan mengurangi penggunaan mobil dan menambah efisiensi penggunaan transit.

Sumber : Buku “Planning and Designing for Pedestrians” San Diego’s Regional Planning Agency

(17)

Street furniture pada pedestrian sangat diperlukan bagi pejalan kaki. Jika ruang jalan tidak memiliki fasilitas ini maka pemakaian ruang jalan mnjadi tidak nyaman. Misalnya jika tidak ada lampu jalan menyebabkan ketidaknyaman dan tidak tersedianya tempat sampah membuat jalan jadi kotor dan membuat orang enggan berjalan kaki. Untuk menciptakan sense of

community dapat melalui pemilihan desain street furniture yang mencerminkan karakter lokal.

Pepohonan untuk peneduh diperlukan disepanjang jalan. Jarak antara pohon-pohon tersebut tidak boleh lebih dari 9 meter. Jenis pohon dan teknik penanaman harus diseleksi dengan seksama untuk menciptakan kesan meyatu pada ruang jalan, menyediakan naungan yang efektif, dan menghindari kerusakan trotoar. Banyak ruang jalan yang dikenang orang karena deretan

pepohonan di sepanjang jalan. Keberadaan pohon penting untuk kenyamanan pejalan kaki karena menyediakan naungan dari cuaca dan mengurangi suhu

panas yang dihasilkan permukaan aspal dan menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk. Selain itu pepohonan juga memberikan keindahan pada ruang jalan.

(18)

II.3.3 Masterplan

Berdasarkan studi literatur Toransit Oriented Development diatas, maka dapat Kota Kwala Bekala memenuhi kriteria kawasan TOD.

Berikut merupakan hasil pengembangan kawasan dari masterplan

PTPN II dimana pada masterplan ini terdapat 7 macam fungsi bangunan yang dapat mendukung kawasan ini menjadi kawasan TOD antara lain :

1. Stasiun Kereta Api 2. Convention Hall 3. Pusat Kreativitas

4. Hotel Bisnis dan Pusat Kuliner 5. Kantor dan Eco Park

6. Hotel Mixed-use

7. Rumah Susun dan Apartemen

(19)

II.4 Tinjauan Fungsi

II.4.1 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan

II.4.1.1 Hotel Bisnis

Adapun pengguna dari bangunan hotel bisnis dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:

a. Pengunjung

Gambar 2.10 Masterplan kawasan yang dikembangkan Terminal

Komersil

Ruang Terbuka Hijau

Ruang Terbuka Hijau Danau Ruang Terbuka

Non Hijau

Perumahan Komersil

Komersil

Komersil Komersil

Komersil

Pendidikan

(20)

 Pengunjung berupa tamu hotel yang datang tanpa menginap di hotel, dengan kegiatan sebagai berikut:

Penghuni/tamu hotel

 Penghuni berupa tamu hotel yang menginap di hotel, dengan kegiatan sebagai berikut:

Pengelola dan karyawan hotel

 Pengelola dan karyawan hotel berupa orang-orang yang bekerja di hotel, dengan kegiatan sebagai berikut:

Datang Entrance Lobby/Pusat

Informasi

Diagram 2.1 Kegiatan Pengunjung Hotel

Diagram 2.2 Kegiatan Penghuni/Tamu Hotel

(21)

Servis

II.4.1.2 Pasar Kuliner

Adapun pengguna dari Pasar Kuliner digolongkan menjadi 3 bagian yaitu:

a. Pengunjung

1. Pengunjung adalah warga yang berdomisili di kota Medan serta wisatawan dalam dan luar negeri

2. Kelompok pelaku kegiatan dibedakan berdasarkan umur: - Kelompok anak-anak, usia 5-13 tahun

- Kelompok remaja, usia 14-24 tahun - Kelompok dewasa, usia 25-45 tahun - Kelompok lanjut usia, 55 tahun ke atas

3. Ditinjau dari segi kuantitas pengunjung yang datang terdiri dari:

- Pengunjung yang datang secara individu

- Pengunjung yang datang dengan kapasitas sedang, berkisar antara 2-50 orang

4. Kegiatan yang dilakukan pengunjung, adalah sebagai

berikut:

Servis Loading Dock Side Entrance Registrasi

Datang Entrance Diagram 2.4 Kegiatan Servis Hotel

(22)

b. Pengelola/Karyawan

Servis

II.4.2 Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang

II.4.2.1 Hotel Bisnis

Adapun tabel dibawah ini, menunjukkan pengelompokkan kebutuhan ruang berdasarkan kegiatan, fasilitas, pemakai, dan kebutuhan ruang hotel bisnis.

Tabel 2.1 Kebutuhan Ruang Berdasarkan Kegiatan

KELOMPOK KEGIATAN

FASILITAS

KEGIATAN PEMAKAI KEGIATAN

KEBUTUHAN

Servis Loading Dock Side Entrance Registrasi

Ruang Teknis Bangunan

Diagram 2.6 Kegiatan Pengelola dan Karyawan Pasar Kuliner

(23)

- Menyimpan barang

berharga - Area lift

- Menunggu & menerima

tamu - Safe deposit

Fasilitas Kolam renang Tamu hotel - Berolahraga - Kolam dewasa

(24)

- Sanitasi

membersihkan - Resepsionis

- Sanitasi - Hall Penerima

office Tamu hotel - Mengurus administrasi

(25)

menyajikan makanan &

minuman penjualan produk & fasilitas hotel

Manager Karyawan - perencanaan, Melakukan pemasangan, dan

Karyawan - Mengelola pembayaran tamu yang menginap & pengawasan terhadap kemanan di hotel

(26)

- R. Panel Listrik

Adapun tabel dibawah ini, menunjukkan pengelompokkan kebutuhan ruang berdasarkan kegiatan, fasilitas, pemakai, dan kebutuhan ruang pasar kuliner.

Tabel 2.2 Kebutuhan Ruang Berdasarkan Kegiatan

KELOMPOK KEGIATAN

FASILITAS

KEGIATAN PEMAKAI KEGIATAN

(27)
(28)

- Membersihkan dan

merawat - R. Pengelola

- Servis - Toilet

Pengunjung - Makan/minum

- Bersantai

- Berfoto

- Ngobrol

Fasilitas Pelayanan

Toilet Pengelola - Bersih-bersih - Toilet Pria

Karyawan - Buang air - Toilet Wanita

Pengunjung

Ruang Sholat Pengelola - Sholat - Musholla

Karyawan

Pengunjung

R. Pengelola Pengelola - Bekerja - R. Pengelola

Manager

R. Servis Karyawan - Servis - R. Genset

- R. Trafo

- R. Panel

- R. AHU

- R. Pompa

- R. STP

(29)

II.4.3 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang

II.4.3.1 Hotel Bisnis

Hotel dibagi menjadi 4 area , sebagai berikut :

Public Area : area yang dimana boleh dimasuki oleh semua orang ,

yaitu karyawan dan tamu , seperti lobby

Semi Public Area : area yang dimana hanya boleh dimasuki oleh orang – orang yang berkepentingan saja , yaitu karyawan pada area administrasi , dan tamu rapat , konferensi pada ruang pertemuan . Private Area: area yang dimana digunakan sebagai tujuan utama

pengunjung , seperti kamar pada hotel

Service Area : area yang dimana hanya khusu untuk karyawan disini

(30)

Secara fungsional , hotel mempunyai 2 bagian utama , sebagai berikut :

Front of the house

Terdiri dari private area dan public area . Kemudian ruang-ruang yang termasuk dalam area front of the house dijabarkan lagi, yaitu:

1. Guest Room

Kamar tamu, ruang tempat tamu menginap. Ada beberapa tipe kamar tamu tergantung dari fungsi dan besarannya dapat dilihat pada gambar 2.1 di bawah ini:

(31)

2. Public Space Area

Merupakan tempat dimana suatu hotel dapat memperlihatkan isi dan tema yang ingin disampaikan kepada tamunya. Daerah ini menjadi pusat kegiatan utama dari aktivitas yang terjadi pada hotel, dalam hal ini menjadi jelas bahwa wajah sebuah hotel dapat terwakili olehnya.

3. Lobby

Tempat penerima pengunjung untuk mendapatkan informasi, menyelesaikan masalah administrasi dan keuangan yang bertalian dengan penyewaan kamar . Ruang-ruang yang termasuk dalam lobby:

a. Entrance hall

Ruang penerima utama yang menghubungkan ruang luar atau main entrance denga ruang-ruang dalam hotel. Bersifat terbuka denga besaran ruang yang cukup luas.

b. Front desk / Reception desk

Terdiri atas ruang-ruang personil front desk yang berfungsi untuk memproses dan mengelola administrative pengunjung.

c. Sirkulasi

Merupakan hal penting dalam publik area yang berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan fungsi-fungsi di dalamnya untuk kegunaan pengunjung .

d. Seating Area

Menyediakan wadah bagi tamu untuk beristirahat atau sekedar berbincang-bincang. Sarana ini sangat berguna untuk terjadinya kontak sosial di antara pengunjung.

e. Bell man

(32)

4. Retail Area

Berfungsi untuk menyediakan kebutuhan pengunjung sehari-hari 5. Support function

Sebagai sarana penunjang untuk tamu yang berada si publik area, antara lain seperti toilet, telepon umum, mesin ATM, dan lain-lain. 6. Parkir

Fasilitas parkir kendaraan bermotor 4 dan 2 untuk pegawai / tamu / pengunjung maupun kendaraan travel, taxi, dll. Masing-masing ruang saling berhubungan, dengan lobby sebagai pusat dari ruang-ruang publik lainnya.

Service area ( Back of the house )

Sedapat mungkin para tamu tidak dapat melihat maupun mengetahu segala kegiatan di sektor ini. Bagian ini sangat penting, karena bertugas mendukung kegiatan pada front of the house . Ruang-ruang yang termasuk di dalam area Back of the house, yaitu: 1. Daerah dapur dan gudang (food and storages area)

2. Daerah bongkar muat, sampah dari gudang umum (recieving, trash and general storage area)

3. Daerah pegawai / staff hotel (employees area)

4. Daerah pencucian dan pemeliharaan (laundry and housekeeping) 5. Daerah mekanikal dan elektrikal (Mechanical and Engineering

Area)

II.4.3.2 Pasar Kuliner

A. Persyaratan Dapur, Ruang Makan, dan Gudang Makan

1. Dapur

(33)

b. Permukaan lantai dibuat cukup landai kearah saluran pembuangan air limbah

c. Permukaan langit-langit harus menutupi seluruh atap ruang dapur, permukaan rata, berwarna terang, dan mudahn dibersihkan.

d. Penghawaan dilengkapi dengan alat pengeluaran udara

panas dan bau-bauan / exhauster yang dipasang setinggi 2 m dari lantai dan kapasitasnya disesuaikan bangunan. e. Tungku dapur dilengkapi dengan sungkup atap (hood),

alat perangkap asap, cerobong asap, saringan, dan saluran serta pengumpulan lemak.

f. Dapur paling sedikit terdiri dari : - Tempat pencucian peralatan - Tempat pengepakan

- Tempat persiapan - Tempat administrasi

g. Pertukaran udara sekurang-kurangnya 15 kali per jam untuk menjamin kenyamanan kerja

h. Tersedia sedikitnya meja peracikan, peralatan, lemari, fasilitas penyimpanan dingin, rak-rak peralatan, bak-bak pencucian, dan lain-lain

2. Ruang makan

a. Untuk setiap kursi tersedia ruangan minimal 0.85 m2 b. Pintu yang menghubungkan dengan halaman dibuat

rangkap, pintu bagian luar membuka ke arah luar c. Tempat untuk menyediakan makanan jadi harus dibuat

(34)

3. Gudang bahan makanan

a. Jumlah bahan makanan yang disimpan disesuaikan dengan jumlah bahan makanan

b. Gudang bahan makanan tidak boleh untuk menyimpan bahan lain selain makanan.

c. Gudang dilengkapi dengan rak-rak tempat penyimpanan bahan makanan.

d. Gudang dilengkapi dengan ventilasi yang menjamin sirkulasi udara.

B. Persyaratan tempat penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi

1. Penyimpanan bahan makanan

a. Penempatan terpisah dengan makanan jadi

b. Bahan makanan disimpan dalam aturan sejenis, disusun dalam rak-rak sedemikian rupa sehingga tidak dapat mengakibatkan rusaknya bahan-bahan makanan.

2. Penyimpanan makanan jadi

a. Terlindung dari debu, bahan kimia berbahaya, serangga

dan hewan

C. Persyaratan Fasilitas Sanitasi 1. Air bersih

a. Harus sesuai dnegan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang berlaku

b. Jumlahnya cukup memadai untuk seluruh kegiatan dan tersedia pada setiap tempat kegiatan

2. Pembuangan air limbah

(35)

pencemaran, misalnya memakai saluran tertutup, septictank, dan riol.

b. Saluran air limbah dari dapur harus dilengkapi degan perangkap lemak (grease trap)

3. Toilet

a. Letak tidak berhubungan langsung (terpisah dari) dengan dapur, ruang persiapan makanan, ruang tamu, dan gudang makanan.

b. Didalam toilet harus tersedia jamban, peturasan, dan bak air.

Toilet untuk wanita terpisah dengan toilet untuk pria. c. Toilet untuk tenaga kerja terpisah dengan toilet untuk

pengunjung.

d. Tersedia cermin, tempat sampah, tempat abu rokok, dan sabun.

e. Lantai dibuat kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan dan kelandaiannya cukup.

f. Tersedia tempat cuci tangan.

g. Didalam kamar mandi harus tersedia bak dan air bersih dalam keadaan cukup.

4. Tempat sampah

a. Tempat sampah dibuat dari bahan kedap air, tidak mudah berkarat. Mempunyai tutup dan memakai

kantong plastik khusus untuk sisa-sisa bahan makanan dan makanan jadi yang cepat membusuk.

b. Tersedia pada setiap tempat / ruang yang memproduksi sampah.

5. Tempat cuci tangan/wastafel

(36)

b. Tempat cuci tangan dilengkapi dengan sabun cair dan alat pengering.

6. Tempat mencuci peralatan

a. Terbuat dari bahan yang kuat, aman, tidak berkarat dan

mudah dibersihkan.

b. Bak pencucian sedikitnya terdiri dari 3 bilik / bak pencuci yaitu mengguyur, menyabun, dan membilas.

7. Tempat pencucian bahan makanan.

a. Terbuat dari bahan yang kuat, aman, tidak berkarat, dan mudah dibersihkan.

8. Fasilitas penyimpanan pakaian (locker) karyawan

a. Terbuat dari bahan yang kuat, aman, mudah dibersihkan dan tertutup rapat

b. Locker untuk pria dan wanita dibuat terpisah. D. Fasilitas Pengelola

1. Berdasarkan peraturan ketenagakerjaan : a. Ruang kerja minimum 8 m2

Kapasitas Tempat Duduk Jumlah Wastafel/buah

1-60 orang 1

61-120 orang 2

121-200 orang 3

Setiap penambahan 150 orang ditambah 1 buah

(37)

b. Ruang gerak bebas masing-masing karyawan minimum 1.5 m2

c. Ruang udara minimum 12 m2 pada ruang beraktifitas duduk dan 15 m2 pada ruang beraktifitas gerak.

2. Berdasarkan “Peraturan Keamanan untuk Tempat Kerja Perkantoran”, untuk kantor ruangan sel/ kecil minimum

8-10 m, ruang kantor besar minimum 12-15 m2 3. Lebar minimum jendela adalah 1.25 m

II.4.4 Studi Banding Arsitektur yag Mempunyai Fungsi Sejenis

II.4.4.1 Hotel Bisnis

1. Riverchase Galleria ( Wynfrey Hotel )

Riverchase Galleria (gambar 2.2) berlokasikan di 35244 Birmingham, Hoover, Alabama dengan luas lahan sekitar 512.000 m2 dengan fungsi sebagai hotel, kantor, dan retail dimana Galleria Mall (2 lantai), Wynfrey Hotel (15 lantai), Galleria Tower (17 lantai).

Gambar 2.13 Site Plan Riverchase Galleria

(38)

2. Terdapat retail seluas ±160.000m2 terdapat menyebar pada 2 lantai mall

3. Terdapat hotel seluas dengan kapasitas 330 kamar dan jumlah lantai 15

4. Entrance ke mall dapat diakses melalui pedestrian yang menghubungkan area parkir ke mall antara toko, lift dari Galleria Tower dan Wynfrey Tower..Hotel bintang 4 ini memiliki jumlah lantai 15, dengan 330 kamar, 12 di antaranya adalah suite dan lobby terletak di lantai 1. Kamar standar seluas 34,2 m2 dan kamar tipe suite seluas 90 sampai 162 m2 dapat dilihat pada gambar 2.13 di bawah ini.

Terdapat 10 jenis tipe ruang pertemuan berkapasitas 10 sampai 1200 orang . Ruang pertemuan tersebut mencapai 2.800 m2 sehingga pertemuan maupun pameran dapat diselenggarakan di dalamnya . Ballroom sendiri mampu menampung 800 tamu untuk banquet , 1200 tamu dengan tempat duduk teater dan 1200 tamu untuk resepsi . Adapun denah ruang pertemuan Wynfrey Hotel dapat dilihat pada gambar 2.15 dan gambar 2.16.

(39)

Gambar 2.15 Denah Ruang Pertemuan Wynfrey Hotel Lantai 1

Gambar 2.16 Denah Ruang Pertemuan Wynfrey Hotel Lantai 2

Metode Perancangan pada Riverchase Galleria :

1. Bagian atap mall menggunakan skylight sehingga cahaya bisa masuk ke dalam mall pada siang hari sebagai bentuk penghematan terhadap energy listrik

(40)

3. Beberapa anchor magnet merupakan penarik utama dalam mall

2. Crowne Plaza Hotel Dubai

Crowne Plaza Hotel Dubai ( gambar2.6 ) berlokasikan di Sheikh Zayed Rd,Dubai ,UAE dengan memiliki fungsi sebagai hotel, dan retail dengan jumlah lantainya 20 lantai

Gambar 2.17 Crowne Plaza Hotel Dubai

1. Hotel mempunyai 572 kamar

2. Terdapat 3 pilihan kamar yaitu Guest Room (29 m2), Executive Room (42 m2), dan Suites (80 m2)

3. Terdapat 4 jenis ruang pertemuan yang berbeda-beda tergantung kapasitasnya, yaitu Al Jumairah, Al Majlis, Al Safa, dan Al Dhiyafah

4. Selain terdapat 4 jenis ruang pertemuan juga terdapat Auditorium dengan kapasitas 500

(41)

6. Terdapat kolam renang outdoor di lantai 3

7. Terdapat fitness center, gym, dua lapangan squash, sauna, dan ruang massage, studio areobik

a. Hotel mempunyai 572 kamar dengan 3 jenis pilihan kamar sebagai berikut :

1. Guest Room ( 560 kamar )

Memiliki luas 29 m2 dengan fasilitas tempat duduk dan tempat kerja yang tidak terpisah dari kamar tamu dapat dilihat pada gambar 2.8 di bawah ini.

Gambar 2.18 Guest Room Crowne Plaza Hotel Dubai

2. Executive Club Room ( 10 kamar )

Memiliki luas 42 m2 dengan fasilitas tempat duduk dan tempat kerja yang tidak terpisah dari kamar tamu dapat dilihat pada gambar 2.8 di bawah ini

(42)

3. Suites ( 2 kamar )

Memiliki luas 80 m2 dengan fasilitas Jacuzzi , ruang tamu dan ruang kerja yang terpisah dapat dilihat pada gambar 2.20 di bawah ini

Gambar 2.20 Kamar Suites Crowne Plaza Hotel Dubai

Adapun lobby dari Crowne Plaza Hotel Dubai dapat dilihat pada gambar 2.21 di bawah ini.

Gambar 2.21 Lobby Crowne Plaza Hotel Dubai

Data ruang pertemuan pada Crowne Plaza Hotel Dubai dapat dilihat pada tabel 2.2 Emirates Auditorium adalah ruangan yang luas dengan 522 m2 dan

(43)

Tabel 2.4 Data Ruang Pertemuan Crowne Plaza Hotel Dubai

Selain auditorium, Crowne Plaza Dubai juga menawarkan berbagai ruang meeting dengan perlengkapan audio visual, akses internet, dan video conference, Al Jumeirah Ballroom dengan 1.125 m2 dengan kapasitas sampai 1.800 tamu. Ballroomnya juga dapat dibagi dengan partisi soundproof menjadi 3 bagian untuk konferensi yang lebih kecil. Bersebelahan dengan ballroom ini terdapat foyer yang berfungsi sebagai area fungsional untuk mendukung acara yang lebih besar dan mampu menampung 700 orang.

Metode Perancangan yang ditemukan pada Crowne Plaza Hotel Dubai : 1. Ruang Pertemuan terdapat pada lantai 2 dan 3

(44)

3. Banyaknya pilihan ruang pertemuan tergantung kapasitas yang dibutuhkan.

II.4.4.2 Pasar Kuliner

1. Mercat Santa Caterina, Barcelona

Mercat Santa Caterina (Market Holy Catherine) terdapat di Barcelona. Direnovasi secara keseluruhan oleh arsitek Enric Miralles and Benedetta Tagliabue dari EMBT, yang terletak pada distrik Ribera

di Ciutat Vella. Ide arsitektural yang indah pada atap keramiknya yang berwarna warni yang seakan-akan membentuk ombak dengan struktur kayu, yang melindungi semua bagian daripada pasar ini. Pasar ini terdapat penjualan buah, sayur, ikan, bunga, daging, dan juga terdapat satu atau dua kios yang menjual Jabugo ham, dan juga terdapat supermarket kecil “Caprado”.

Sebuah bar Tapas terletak persis didepan pintu masuk, dan sebuah restoran “Cuines Santa-Catarina” yang sengaja diletakkan di samping pintu masuk. Secara ringkas, tempat ini pantas disinggahi untuk dinikmati arsitekturalnya, untuk berbelanja atau untuk makan siang.

Gambar 2.22 Eksterior Bangunan Mercat Santa Caterina

2. Restoran Batik

(45)

dimanjakan dengan interior khas perkampungan Jawa, sekaligus melihat pembuatan batik khas Yogyakarta. Masih di tempat yang sama, pengunjung pun dapat berkunjung ke galeri batik, dimana Anda dapat menyaksikan pembuatan batik secara langsung. Restoran ini menyediakan empat tempat pilihan bagi anda yang ingin menikmati santapan khas Indonesia, Asia maupun internasional yakni Pergola

(outdoor), Joglo Gardens (outdoor), Beranda limasan (outdoor), dan Ndalem Limasan (indoor). Restoran dan galeri peninggalan tahun 1858 ini dijamin akan membawa Anda merasakan eksotisme Yogyakarta yang sebenarnya.

Gambar 2.23 Suasana Restoran Batik

3. Kiyadon Japanese Restaurant

Kiyadon, merupakan sebuah restoran yang menyajikan aneka hidangan negeri sakura. Suasana interior di Kiyadon tampak modern tanpa meninggalkan unsur interior yang berorientasi kebudayaan Jepang. Saat memasuki restoran ini, pengunjung dapat menikmati

suasana di area luar dan suasana area dalam yang terbagi dalam tiga area duduk yaitu area duduk tatami, area duduk sushi bar dan area duduk

dengan kursi built in.

(46)

Dalam hal ini setiap area meja, mempunyai lantai yang dibuat ceruk sehingga kaki pengunjung dapat masuk ceruk. Area sushi bar juga menawarkan suasana khas Jepang dengan mempertunjukkan keahlian sang koki meracik sushi yang dapat langsung dipilih dan disantap.

Gambar 2.24 Interior Kiyadon Japanese Restaurant

Bidang dinding restoran diolah secara berbeda pada setiap areanya. Terdapat dinding batu yang tampak alami di sebuah area tatami, sedangkan dinding pada area tatami lainnya terdapat susunan boks kaca dengan motif daun berwarna merah. Sorotan lampu dari dalam boks kaca menjadi satu elemen menarik lainnya. Dekorasi bentuk daun dari kain berwarna merah, disusun padat memenuhi dinding dan plafon pada area duduk kursi built in. Susunan “daun” seperti ini mampu menimbulkan kesan ”dramatis” pada ruangan. Ditambah lagi hadirnya spot lightyang menyoroti “dedaunan” pada beberapa titik dinding. Soft

furnishing yang dipilih berwarna merah sebagai “penghidup” suasana di antara penggunaan warna natural yang “hangat”. Hal ini terdapat misalnya pada pelapis kursi di sushi bar, tatami dan tirai pada “panel sakura”.

(47)

II.5 Elaborasi Tema

II.5.1 Pengertian

Sustainable desain yang merupakan salah satu pertimbangan penting pada bangunan sekarang ini, meliputi banyak faktor seperti efisiensi energi, ramah lingkungan, adaptibilitas, dan efisiensi penggunaan sumber daya. Sekarang ini trend desain arsitektural hanya bisa dimengerti melalui

kemajemukan.

Secara sederhana, “Sustainable Architecture” atau “Arsitektur Berkelanjutan” dapat didefinisikan sebagai desain arsitektur yang berwawasan lingkungan. Selanjutnya, “Sustainable Architecture” mencari

cara untuk menimimalisasi dampak negatif dari lingkungan dari bangunan dengan meningkatkan efisiensi dan kebijaksanaan dalam penerapan material, energi dan pengaturan ruang. Karena setiap langkah kita akan berdampak pada generasi masa depan, maka kesadaran akan lingkungan perlu diterapkan pada desain bangunan.

Arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai eksploitasi terhadap alam tersebut. Proses keberlanjutan arsitektur meliputi

(48)

pentingnya sisi kualitas dibanding kuantitas ditinjau dari aspek fungsional, lingkungan, kesehatan, kenyamanan, estetika dan nilai tambah.

Pembangunan berkelanjutan sustainable building adalah bentuk gabungan dari berbagai disiplin ilmu yang bertanggung jawab soal lingkungan menjadi suatu disiplin yang selalu mengacu pada efek lingkungan, sosial ekonomi dari sebuah bangunan atau proyek terbangun

secara keseluruhan. Dalam pembanguan berkelanjutan penerapan kebijakan sustainable building secara langsung berintegrasi dengan: 1. Lingkungan (Environment Sustainability)

2. Ekonomi (Economic Sustainability) 3. Sosial (Social Sustainability)

a. Indikator Lingkungan (Environmental)

Dari segi lingkungan, suatu bangunan bisa dikatakan sustainable apabila ada efisiensi penggunaan Sumber Daya Alam (SDA) selama siklus masa bangunan tersebut, mulai dari proses pembangunan, pemanfaatan maupun pelestariannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam efisiensi pemanfaatn SDA tersebut adalah:

1. Penggunaan air 2. Penggunaan energi 3. Pengolahan limbah

4. Pemilihan material dan komponen bahan 5. Situasi site

b. Indikator Ekonomi

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari segi ekonomi dalam

perancangan bangunan yang sustainable adalah:

1. Pendayagunaan komponen lokal demi memajukan pendapatan lokal /

daerah setempat 2. Effiensi bangunan

(49)

c. Indikator Sosial Dari segi sosial, hal-hal yang harus diperhatikan sehingga tercipta sebua rancangan yang sustainable adalah:

1. Kenyamanan pengguna bangunan

2. Akses dalam bangunan (toilet, furnitur, fitting lampu dll)

3. Kemudahan akses menuju lokasi bangunan Partisipasi dan kontrol 4. Segala hal yang berkaitan dengan kesehatan,pendidikan dan

keselamatan.

II.5.2 Interpretasi Tema

Sustainable architecture tidak bisa lepas dari sustainable development. Sebagai konsep, pembangunan berkelanjutan mencakup hampir semua segi kehidupan, mulai dari kebijakan politik pemerintah, strategi bisnis, sampai gaya hidup. Mencakup tidak hanya permulaan, namun juga proses dan hasil akhir. Oleh karena itu, dalam realisasinya pembangunan berkelanjutan bersifat kompleks dan harus menerapkan sistem interdisipliner.

a. Sustainable architecture dapat diartikan sebagai arsitektur yang berkelanjutan, yaitu arsitektur bukan semata - mata membuat bangunan yang sekedar indah / sesuai keinginan pemilik / nyaman bagi pengguna saja, tetapi seharusnya memberikan dampak yang baik bagi lingkungan sekitar juga.

b. Sustainable Architecture adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang

dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur.

(50)

penggunaan lahan, efisisensi penggunaan material, penggunaan teknologi dan material baru, dan manajemen limbah.

d. Proses keberlanjutan arsitektur meliputi keseluruhan siklus masa suatu bangunan, mulai dari proses pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan

pembongkaran bangunan. Visi arsitektur berkelanjutan tidak saja dipacu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (glass houses effect), juga

mengandung maksud untuk lebih

menekankan pentingnya sisi kualitas dibanding kuantitas ditinjau dari aspek fungsional, lingkungan, kesehatan, kenyamanan, estetika dan nilai tambah.

Intinya, sebuah bangunan yang sustainable diharapkan mampu memberikan kenyamanan dan manfaat bagi pengguna, masyarakat sekitar, alam dan aspek - aspek lainnya secara global.

Fitur-fitur Teknologi Sustainable Building

Di bawah ini terdapat penjelasan tentang beberapa fitur yang digunakan dalam bangunan sustainable diantaranya adalah:

1. Penerapan photovoltaic

Penerapan photovoltaic cell berguna untuk mengkonversi energi surya menjadi energi listrik. Jadi kalau dari arti katanya "photovoltaic cell" berarti

"sel yang menghasilkan tegangan listrik dari cahaya", walaupun sebenarnya yang dihasilkan langsung bukanlah tegangan tetapi arus. Jadi prosesnya seperti ini :

(51)

Satu buah photovoltaic cell terbuat dari bahan dasar silikon yang dilapis kaca. Silikon mudah sekali didapat di bumi ini dalam bentuk pasir silika sehingga cahaya bisa menembus masuk. Ketika cahaya matahari menembus masuk ke dalam sel, partikel cahaya matahari yang disebut ‘photon’ juga ikut masuk. Partikel photon

ini kemudian menumbuk elektron bermuatan negative di atom silikon penyusun

photovoltaic cell. Pada saat tumbukan, energinya photon ditransfer ke elektron sehingga elektron terlepas dari atom silikonnya. Karena setiap detiknya ada tak terhingga photon yang menumbuk, maka akan dihasilkan banyak sekali elektron-elektron bebas. Elektron bebas ini akan didorong keluar photovoltaic cell karena adanya medan listrik di dalam cell. Apabila photovoltaic cell ini kita hubungkan ke beban listrik, maka arus akan dapat mengalir ke beban (Energi matahari telah diubah secara langsung menjadi energi listrik). Selama masih ada cahaya matahari yang masuk maka akan terus ada electron bebas yang mengalir ke beban.

Satu buah photovoltaic cell sebenarnya terlalu kecil untuk menghasilkan energi listrik. Satu buah photovoltaic cell hanya menghasilkan sekitar 0.5V, jadi untuk menghasilkan tegangan 18V biasanya panel photovoltaic tersusun dari 36 buah photovoltaic cell yang disusun seri. Selain itu biasanya juga 36 buah cell

tersebut juga disusun paralel dengan 36 buah cell yang lain supaya arus total yang dikeluarkan oleh satu buah panel photovoltaic cukup besar. Untuk menghasilkan daya yang lebih besar lagi, sejumlah banyak panel photovoltaic disusun menjadi

array sehingga bisa melayani keperluan listrik yang cukup besar.

(52)

Untuk instalasi pembangkit listrik tenaga surya, diperlukan komponen sebagai berikut:

1. Solar panel, mengkonversikan tenaga matahari menjadi listrik. 2. Charge controller, mengatur pengisian baterai dari solar panel.

3. Inverter, perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah (DC –

direct current) menjadi tegangan bolak balik (AC – alternating current). 4. Battery, perangkat kimia untuk menyimpan tenaga listrik dari tenaga surya.

Gambar 2.27 Contoh Aplikasi Penggunaan Solar Panel pada Rumah

Alat solar aktif seperti photovoltaic cell dan solar panel membantu untuk memperoleh kesustainable-an listrik. Elektrikal yang dihasilkan dari solar panel bergantung dari orientasi, efisiensi, latitude dan iklim. Efisiensi untuk bangunan komersial berkisar dari 4% - 28%. Efisiensi rendah untuk panel photovoltaic dapat secara signifikan mempengaruhi biaya instalasinya. Atap sering kali memiliki sudut yang menantang matahari langsung bertujuan untuk mengumpulkan sinar matahari dengan maksimal untuk panel photovoltaic. Untuk kebanyakan solar panel, orientasi menghadap selatan. Jika tidak memungkinkan, solar panel juga dapat memproduksi energy dengan sudut 300 menghadap selatan.

2. Penerapan Wind Turbin

(53)

sustainable architecture memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari segi biaya, sistem yang kecil berbiaya lebih banyak dibandingkan dengan sistem yang lebih besar jika dilihat dari energi yang dihasilkannya. Untuk turbin angin kecil, biaya perawatanlah yang membuatnya lebih unggul. Sebuah turbin angin akan mulai dapat beroperasi ketika angin mencapai kecepatan 8 mph, dan mampu menghasilkan energy pada kapasitas kecepatan 32-37 mph, dan mati untuk

menghindari kerusakan pada kecepatan 55 mph. Potensi energi dari turbin angin memiliki proporsi dengan panjang kuadrat dari lempeng (blade) nya yang berputar. Untuk itu sebaiknya penggunaan turbin angin ditempatkan pada site dengan banyak angin tetap (dengan rata-rata kecepatan angin lebih dari 15 mph).

Tidak hanya dijadikan pasokan energi listrik, wind turbin juga bisa dimanfaatkan sebagai pompa air untuk diterapkan ke sistem bangunan sebagai pengganti pompa sebagai peminimalan energi dalam bangunan mengingat fungsi

awal dari wind turbin ini dulunya dipakai petani sebagai alat penggiling dan sebagainya.

3. Material

Material merupakan hal yang paling penting dalam mendesain bagaimana kita dapat berekspresi terhadap bangunan, namun saat ini kita telah mulai kehabisan sumber daya alam. Material yang terbagi kedalam sumber daya alam yang dapat

(54)

diperbaharui dan yang tidak dapat, menjadi perdebatan pemakaian material yang

sustainable dimana material tersebut dapat membantu bangunan tersebut dalam efisiensi energi seperti mengurangi panas, tahan terhadap perubahan cuaca, ramah lingkungan dan proses pembuatan yang mudah, murah dan cepat. Yang paling dianjurkan dalam penerapan material adalah material daur ulang dimana kita memakai bahan bekas yang telah dimodif dan difilter sehingga proses produksinya

lebih cepat, mudah, dan murah. Sehingga dapat mengurangi emisi proses, dan sesuai dengan konsep sustainable dimana kita membangun dengan tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan.

4. Penempatan Bangunan

Satu aspek penting yang sering dilupakan dalam arsitektur berkelanjutan adalah penempatan bangunan. Walaupun banyak bangunan yang dibangun di tengah hutan, penempatan seperti ini sering kali malah merugikan kondisi lingkungan sekitarnya. Pertama, struktur yang digunakan akan merusak keadaan tanah. Kedua, biasanya keberadaannya akan meningkatkan konsumsi energi yang dibutuhkan untuk transportasi dan emisi lainnya. Idealnya, bangunan harus dibangun dan dikembangkan didaerah perkotaan saja tanpa mengganggu daerah suburban dan bahkan hutan. Penzoningan yang hati-hati dan terhitung dapat membuat daerah komersil, permukiman, dan industri dapat dijangkau dengan berjalan, bersepeda atau kendaraan umum.

5. Greenery Wall

Greenery wall atau dikenal juga kenal vertical garden. Greenery wall

(55)

6. Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)

Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) (wastewater treatment plant, WWTP), adalah sebuah struktur yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain. Fungsi dari IPAL mencakup:

a. Pengolahan air limbah pertanian, untuk membuang kotoran hewan, residu pestisida, dan sebagainya dari lingkungan pertanian.

b. Pengolahan air limbah perkotaan, untuk membuang limbah manusia dan limbah rumah tangga lainnya.

c. Pengolahan air limbah industri, untuk mengolah limbah cair dari aktivitas manufaktur sebuah industri dan komersial, termasuk juga aktivitas pertambangan

.

(56)

II.5.3 Keterkaitan Tema dengan Judul

Arsitektur terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat dan budaya. Sudah banyak inovasi-inovasi bangunan yang dilakukan. Baik dalam hal material, cara membangun, maupun bentuk dari bangunan itu sendiri. Namun sayangnya banyak dari bangunan tersebut yang dibuat dengan tanpa memperhatikan aspek lingkungan untuk jangka panjang. Sehingga menjadi timbul masalah baru yang membawa dampak negatif kepada lingkungan itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam perancangang “Hotel Bisnis dan Pasar Kuliner Lau Cih” ini diterapkan konsep Sustainable Architecture (Arsitektur berkelanjutan) yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja dalam bidang arsitektur.

Hotel Bisnis dan Pasar Kuliner ini adalah salah satu media tempat

bertemunya pengusaha ataupun wisatawan yang datang ke Kwala Bekala. Kegitan yang berlangsung pada bangunan ini tentunya melibatkan banyak orang, sehingga

perlu didesain sebuah bangunan yang memberi kenyaman pada para pengguna bangunan ini dan juga masyarakat sekitar. Kenyamanan tersebut dapat dicapai salah satunya dengan menerapkan konsep sustainable architecture, yang mengintegrasikan faktor social, ekonomi dan lingkungan dalam mendesain sebuah

(57)

untuk diaplikasikan, seperti penerapan transformasi energi dari sinar matahari menjadi energi listrik. Sehingga bisa mengurangi konsumsi listrik yang tentunya akan mengurangi biaya dalam pemanfaatan bagunan. Konservasi dan rehabilitasi lahan hijau sebagai buffer dan elemen yang dapat meurunkan suhu mikro serta pemanfaatan ruang terbuka sebagai area bersosialsasi dan berekreasi.

Tabel 2.5 Penerapan Tema

Kriteria dalam Sustainable Design Penerapan konsep dalam desain Penerangan Alami (Daylighting) -Memanfaatkan cahaya matahari yang

masuk ke bangunan melalui bukaan-bukaan yang lebar pada bangunan. - Penerapan Skylight pada bangunan

Kualitas udara dalam ruang Mengurangi suhu panas disekitar bangunan dengan adanya greenery

wall.

Efisiensi Energi Tidak menggunakan lampu pada siang hari (meminimalisir penggunaan lampu) dengan memanfaatkan cahaya matahari yang masuk kedalam gedung melalu bukaan yang lebar.

Konservasi air Menerapkan metode lake water treatment yaitu pemanfaatan air danau menjadi air bersih

Renewable energy Penggunaan photovoltaic yang

memanfaatkan cahaya matahari untuk diubah menjadi energi listrik sebagai penghematan listrik pada bangunan.

Lansekap alamiah Terdapat danau pada kawasan

(58)

Preservasi lahan Pemanfaatan lahan sempit dengan mempertimbangkan efisiensi lahan.

II.5.4 Studi Banding Arsitektur Tema Sejenis 1. Menara Mesiniaga, Malaysia

Bangunan ini dirancang dengan tetap mempertahankan konsep ramah lingkungan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Untuk itu, menara ini menggunakan banyak kanopi, kisi-kisi. Dapat dilihat pada gambar 2.14. Hitechniaga Tower setinggi 8 lantai dirancang dengan style modern dan bertemakan Bioklimatik. Pada bagian puncak Tower terdapat kisi-kisi yang memayungi ruangan di bawahnya. Kemudian setiap lantai diberi kanopi yang cukup lebar untuk menepis sinar matahari.

Yeang mendesain bangunan sebagai filter lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan model bangunan tradisional Malaysia, Yeang menciptakan suatu transisi dan evolusi dengan sentuhan modern. Visinya untuk membuat kota dengan taman tropis diwujudkan dengan hubugan antara bangunan, lansekap, dan iklim. Sehingga bangunan tinggi mesiniaga bertransformasi menjadi ekosistem dalam sebuah kota. Konsep Yeang dalam Mesiniaga diantaranya adalah

sky garden yang melayani setiap unit lantai, lansekap spiral vertical, jendela dengan penutup bayangan di timur barat, curtain wall glazing di utara selatan, single core

(59)

di timur, toilet yang menggunakan ventilasi alami, dan balkon spiral dengan pintu geser yang tinggi.

Menara Mesiniaga juga menjadi lebih efisien karena infrastruktur bangunan [service core] yang biasanya di tengah bangunan ditarik ke tepi timur sehingga ruang kerja bisa lebih leluasa dan gang untuk sirkulasi lebih sedikit. Yeang menempatkan inti bangunan [service core]- tangga, lift, toliet dan mekanikal, elektrikal dan plumbing-di sisi yang paling banyak menerima sengatan matahari yakni timur gedung. Namun yang paling menarik adalah tampilnya dua 'taman di

awan' yang mengelilingi bangunan

Taman itu memberikan efek bayangan dan amat kontras dengan permukaan dinding dari aluminium dan baja. Struktur bangunan dari rangka beton bertulang yang dilubangi dua jenis penangkis matahari, dinding baja dan kaca, sejalan dengan podium dan puncak gedung dari metal, mampu menghadirkan citra high tech. bangunan ini memiliki tiga bagian struktur. Pertama, bagian 'kaki' dengan unsur panggung yang hijau. Kedua, bagian 'badan' dengan balkon- balkon taman berjenjang berbentuk spiral dan selubung kisi- kisi yang memberikan bayangan pada ruang kantor. Ketiga, bagian 'kepala' yang berisi fasilitas rekreasi yaitu kolam renang dan sun roof. Yeang menyebut pendekatannya dengan "gedung jangkung bioklimatik" yang memberikan kontrol iklim yang peka terhadap hemat energi,

(60)

termasuk di dalamnya penggunaan unsur hijau, pengudaraan dan pencahayaan alami secara intensif.

Gambar 2.33 Konsep sky garden pada Menara Mesiniaga

Penggunaan tanaman untuk penghijauan telah umum dikenal. Namun

penggunaannya pada bangunan tinggi/pencakar langit merupakan sesuatu yang baru dan tidak umum. Pemanfaatan unsur penghijauan pada bangunan tinggi akan memberikan kontribusi terhadap estetika, ekologi, penghematan enerji, selain juga sebagai tanggapan terhadap kondisi iklim setempat (angin, matahari, hujan). Ide ini diilhami dari rumah tradisional dan keinginan untuk mengangkat taman kota dalam wujud vertikal, sehingga lebih ramah terhadap manusia (mata dan pikiran), alam dan lingkungan, serta tidak menambah kerusakan ozon yang lebih parah akibat bangunan tinggi lainnya yang sudah ada sejak dulu.

Taman/lansekap pada balkon, maupun pada sky court atau garden in the sky

(61)

Sky Court basah membawa pikiran dan perasaan untuk lepas dan terbang menuju tempat yang tenang dan damai. Bangunan ini menjadi sangat berbeda dengan bangunan tinggi pada umumnya. Pipa saluran air hujan dibuat sedemikian rupa secara melingkar dan lebih ekstrim. Kenampakan ini sama seperti pada bangunan Tokyo Nara Tower di Jepang, menara 80 lantai, yang menggunakan lansekap vertikal berbentuk spiral (dikenal dengan istilah spiraling vertical landscape). Lansekap vertikal ini

dilengkapi dengan saluran pipa air hujan yang lurus sesuai dengan bentuk taman dan dipergunakan untuk mengairi/menyirami taman. Ini merupakan penghematan enerji air. Pelindung tanaman dari sinar matahari pada sky court juga berfungsi sebagai penyerap tenaga matahari yang kemudian disalurkan ke pusat enerji menjadi sumber enerji bangunan.

Pembuatan sky court pada puncak menara ini merupakan hal yang sangat unik dan baru. Umumnya, pada puncak bangunan difungsikan sebagai helipad, maupun sebagai bagian ruang yang tidak memiliki nilai estetika karena biasanya difungsikan sebagai tempat utilitas bangunan outdoor. Kalaupun pada puncak bangunan tersebut ditata, cenderung hanya sebagai mahkota hiasan yang hanya bisa dinikmati dari luar Kesimpulan: Bangunan sebagai filter lingkungan dan

Atap Gymnasium

(62)

bertransformasi menjadi ekosistem dalam sebuah kota melalui konsep bangunan yang berkelanjutan.

2. ACROS Fukuoka, Jepang

ACROS Fukuoka merupakan sebuah gedung perkantoran dengan dua sisi yang sangat jelas berebeda, di satu sisi kelihatan seperti gedung perkantoran yang konvensional dengan dinding kaca, tetapi disisi yang lainnya terdapat atap

berteras-teras yang sangat besar yang bergabung dengan sebuah taman. Kebun yang berteras-teras tersebut mencapai 60 meter diatas tanah, terdiri dari 35.000 tanaman dari 76 spesies. Sebuah atrium berbentuk setengah lingkaran yang besar dan lobby berbentuk segitiga menyediakan kekontrasan dari penghijauan, di dalam ruang-ruang ini terdapat symphony hall, kantor dan toko-toko.

Acros Fukuoka dibangun setelah bangunan kantor administrasi pemerintah daerah Fukuoka sebagai gaya masa depan dari satu kompleks komersil pada Maret 1993. Penetapan-penetapan komersil dan fasilitas-fasilitas budaya seperti hall/aula simponi dan hall/aula konferensi internasional dengan rapi dan dengan lengkap dibangun di dalam gedung. Acros Fukuoka, nama yang datang dari ctachword" Fukuoka, jalan lintas dari Asia", kini berfungsi sebagai satu perpaduan budaya. Pada sisi jalan raya, bangunan dirancang dengan gaya kantor dengan menggunakan dinding kaca. Pada sisi lain, sisi utara bangunan mengadopsi gaya taman bertingkat untuk digabungkan dengan kebun raya. Bangunan ini telah mendirikan suatu kombinasi gaya dan konsep yang berbeda dari disain pada satu bangunan.

(63)

Gambar 2.35 Suasana ACROS Fukuoka, Jepang dari Berbagai Sisi

Bangunan tersebut didirikan dengan sisa ruang kosong yang ada di pusat kota, jadi sang arsitek Emilio Ambasz & Associates, menciptakan sebuah rancangan untuk memelihara ruang hijau sebanyak mungkin, sementara itu tetap menempatkan sebuah gedung perkantoran yang besar di dalamnya. Sebagai tambahan, green roof mengurangi konsumsi energi dari sebuah gedung, karena green roof tersebut memepertahankan temperatur didalam lebih konstan dan lebih nyaman. Green roof juga dapat menangkap air hujan yang jatuh dan mendukung kehidupan burung-burung dan serangga. Bangunan ini merupakan sebuah kesuksesan di jepang. Fasade selatannya digunakan oleh banyak orang sebagai tempat beristirahat, berolahraga atau melakukan latihan, mendapatkan view sebuah kota dan sebuah pelabuhan dibelakangnya.

Keterangan Gambar

1. Tampak Selatan Acrros Fukuoka 5. Tampa katas berteras-teras

(64)

Gambar 2.36 Suasana Interior ACROS Fukuoka, Jepang

Bangunan kompleks perkantoran ini merupakan pemecahan terhadap

masalah urban ruang terbuka. Dengan kepadatan pembangunan fisik yang tinggi, arsitek mencoba menghadirkan bangunan yang dapat mengakomodasi fungsi privat sekaligus publik. Di sebelah utara yang menghadap jalan utama, dibuat fasade bangunan yang modern. Di sebelah selatan yang menghadap ruang terbuka, dibuat atap teras yang menyerupai sengkedan. Setiap lantai mempunyai taman yang berfungsi untuk meditasi dan relaksasi. Desain yang menampilkan unsur tanaman ke dalam bangunan ini berfungsi sebagai pemecah kesan keras pada bangunan. Dengan integrasi terhadap unsur lingkungan, bangunan ini turut menurunkan suhu mikro di sekitarnya.

Gambar

Gambar. 2.1
Gambar 2.9 Konsep TOD Kwala Bekala
Gambar 2.10 Masterplan kawasan yang dikembangkan
Tabel 2.2 Kebutuhan Ruang Berdasarkan Kegiatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Banyak ikan yang berhasil dijual seorang pedagang dalam seminggu adalah sebagai berikut.. Perhatikan diagram

Based on the discussion of the Rural Javanese architecture in the District Donorojo, Pacitan, we achieve conclusions: that the Javanese architecture

[r]

The nature of a given local knowledge, livable urban space and its indicators, as well as its creation in the given local knowledge framework, thereby, should be appropriately

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan air tanah, selain menambah lahan terbuka hijau adalah membuat biopori.. Ide pokok paragraf pertama

So far five Task Forces have been formed: Energy Task Force, Water Management Task Force, Waste Minimization and Recycling Task Force, Built Environment Task

tersebut. Berikut ini adalah penggalan cerita م ل /anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang pertumbuhan rasa etis dan religius.. Dari bebarapa penggalan cerita diatas, Burung

[r]