• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sastra Anak pada Cerita Burung Unta dalam Kitab Al-Qira'atu Ar Rasyidati Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Sastra Anak pada Cerita Burung Unta dalam Kitab Al-Qira'atu Ar Rasyidati Chapter III V"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

24

pengalaman yang dikisahkan atau yang diperlukan untuk memahami bukan pada

hakikat kemanusiaan kehidupan yang dikisahkan (Nurgiyantoro, 2005:13).

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 SINOPSIS

Cerita ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Hasan yang ingin

mengetahui pengetahuan tentang burung yang diberikan oleh sang Ayah

Suatu hari pada bulan Januari, Hasan dan Ayah pergi ke tempat yang penuh

keindahan dan kehijauan, mereka menaiki kereta api untuk menuju ke tempat

tersebut, kemudian mereka sampai ke tanah lapang, mereka berjalan dan terus

berjalan hingga sampailah mereka ke satu pintu masuk. Pintu masuk itu berisikan

burung unta yang sangat banyak. Melihat burung unta yang banyak itu, perasaan

Hasan sangat gembira dan sang Ayah bercerita tentang burung unta tersebut,

bahwa bulu dari burung unta bisa dijual di pasar pasar dunia International dengan

nilai yang tinggi untuk penggunanaan pada perhiasaan. Kemudian Hasan

bertanya, Ya Ayah, ”Ini adalah jenis burung yang besar, apakah dia bisa terbang”?

Kemudian si Ayah berkata: ”Ya Hasan, An-na‘āmatu lebih besar dari Unggas dan orang Arab menamainya Burung Unta, karena tingginya, panjang lehernya,

(2)

Burung unta juga menyerupai burung pada sayap, telinga, paruh dan kakinya.

Tetapi dia tidak bisa terbang karena sayapnya yang pendek, kehebatannya dari

kepala sampai tanah dan dari 3 sampai 4 lengan, serta kepalanya yang kecil yang

bukan termasuk leher kecuali rambut yang sedikit berhamburan, juga bulu yang

diatas punggung,sayap dan ekornya.

Kemudian sang Ayah melihat burung unta lebih dekat, kemudian tertujulah

pandangan mereka kepada warna bulu diatas punggung Burung Unta yang

kegelapan serta sayap dan ekornya yang putih dan sebagian lagi hitam, pahanya

yang botak dan kakinya yang kuat. Keduanya bisa menghasilkan pendapatan

seperti halnya punggung ikan.

Sementara itu Ayah bercerita dan menunjukkan tongkatnya ke arah Burung

Unta sambil berlari, lalu lari pula semua Burung Unta bersamanya, kemudian Ayah menggunakan kesempatan ini dan berkata kepada Hasan: ”Orang Arab memberi contoh burung unta seperti penakut, pembenci dan ketidaktahuan”.Kemudian lanjutnya, “burung unta menyembunyikan kepalanya di pasir, jika pemburu mengendapinya dan mengikutinya, dia meyakini bahwa ia

tidak terlihat selama dia tidak melihat mereka juga”.

Kemudian Hasan melihat sebagian burung unta memukul ke tanah selain kerikil lalu berkata ayahnya tentang unta, “perlakuan burung unta sungguh aneh, dia menelan bahan yang banyak selain ayng tidak bisa dicerna seperti pakaian

yang usang, kulit, kerikil, baut dan pemotong besi. Lalu makanan yang bergizinya

yaitu rumput dan biji-biji”.

Lalu Hasan menanyakan tentang negeri asal burung unta, lalu ayahnya

memberitahukannya, bahwa negeri asli burung unta adalah negara Arab dan gurun

afrika.Ada juga jenis dari burung unta di Amerika Selatan, dekat dengan kota

Buenos Aires, jenis ini lebih kecil ukurannya dari yang pernah dilihatnya tetapi

nilai bulunya lebih tinggi. Kecantikan warna bulunya tidak bercampur dengan

warna lain.Burung unta ternak yang bingung di padang pasir,dia bertelur anak

(3)

26

banyak daripada kelapa, lalu pada siang hari dia menimbunnya di pasir yang

terkena dengan panas matahari, pada gelap malam hari dia mengeraminya sampai

menetas.

Ayah melanjutkan perjalanan, dia bercerita tentang buung unta ke Hasan di kereta api sembari berkata : “siapa dari manusia yang tertarik memakan sebagian burung unta ? dan mereka hanya mengambil kulitnya untuk dibuat cangkir dan

nilainya itu seperti nilai gading.

Burung Unta diburu dengan mengoyak yang kuat karena kecepatan larinya

melebihi balapan kuda. Bagi orang arab dan maroko, ada 2 cara untuk

memburunya, cara pertama yaitu punggung kuda. Keluarlah secara bersama-sama

penembak jitu ke lokasi buruannya, lalu lari salah satu kudanya mereka di

belakang burung unta, jika kuda sudah lelah, keluar pula pemburu lain dengan

kuda lain juga dan teruslah berlari, jika yang kedua ini lelah juga, maka keluarlah

pemburu dan kuda yang ketiga dan begitulah selanjutnya. Ini dilakukan sampai

dia memperolehnya setelah melakukan usaha yang sangat lelah.Burung unta lari

tidak mengikuti alur yang lurus tetapi hanya pada arah lingkaran.

Cara kedua yaitu salah satu penembak jitu memakai kulit burung unta,

menirukan pada metode jalan burung unta sampai hampir mirip. Lalu

membidiknya dan melepaskan anak panahnya dengan tiba-tiba, jika belum

melukainya, dia menendangnya dengan salah satu kakinya, mungkin itu adalah

cara memutuskan hidupnya.

Sang Ayah pun selesai dengan ceritanya tentang burung unta lalu kereta api

sampai ke stasiun Jembatan Laimun, Mereka berdua turun lalu berjalan di lintasan

kereta api dan sampailah mereka ke rumah. Hasan senang bukan kepalang, dia

(4)

3.2 Kontribusi Sastra Anak dalam Cerita

ةماعنلا

/

Anna’āmatu/ ”Burung

Unta”Dalam Kitab

ةديشرلا ةءارقلا

/Al Qirātu Ar Rasyīdati/

Kontribusi sastra anak bagi anak yang sedang dalam taraf pertumbuhan dan

perkembangan yang melibatkan berbagai aspek kedirian yang secara garis besar

dikelompokkan ke dalam nilai personal dan nilai pendidikan (Nurgiyantoro,

2005:37-47).

3.2.1 Nilai Personal

3.2.1.1Perkembangan Emosional

Tokoh-tokoh cerita akan bertingkah laku baik secara verbal maupun

nonverbal yang menunjukkan sikap emosionalnya, seperti ekspresi gembira,

sedih, takut, terharu, simpati dan empati, benci dan dendam, memaafkan, dan

lain-lain. Lewat bacaan cerita itu anak akan belajar bagaimana mengelola emosinya

agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang perkembangan emosional.

َ

ل َنمَ حَ

فَ...

...

(5)

28

..َ

سَ حَ س

.

/wasurra ḥassānu surūrān/Hasan senang bukan kepalang.( halaman 74, baris ke-14)

َ

جَ َ ه نَ َ م ل َن بَ مأأَ ب

يَ

ل َ ٍ

َ

/inna al-‘araba yaḍribūna al-amṡāla bijubni an-na’āmati wa nufūrihā wa

jahlihā/“sesungguhnyaَorang-orang arab memberi contoh burung unta itu seperti

penakut,َpembenci,َdanَketidaktahuan”.َ (halaman 71, baris ke-4)

Dari beberapa penggalan cerita diatas, didapati emosional seperti senang,

penakut dan pembenci. Dengan mengetahui emosi diatas, diharapkan anak bisa

belajar mengendalikan emosi. Jika emosi senang bisa menjadi hal yang positif

bagi anak, tetapi emosi penakut dan pembenci harus dijauhkan dari anak agar

mereka berguna bagi orang lain dan tidak merugikan orang lain.

3.2.1.2Perkembangan Intelektual

Secaraَ langsungَ atauَ tidakَ langsungَ anakَ “mempelajari”َ hubunganَ yangَ

terbangun, dan bahkan juga ikut mengkritisinya. Mungkin saja anak

mempertanyakan alasan tindakan tokoh, reaksi tokoh, menyesalkan tindakan

tokoh, dan lain-lainَyangَlebihَbernuansaَ“mengapa”-nya. Jadi, lewat bacaan yang

dihadapinya itu aspek intelektual anak ikut aktif, ikut berperan, dalam rangka

pemahaman dan pengkritisan cerita yang bersangkutan. Dengan kata lain, dengan

kegiatan membaca cerita itu, aspek intelektual anak juga ikut terkembangkan.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta” tentang perkembangan Intelektual.

َهنأَ مَ َت ت َ ي ل َ ه

َ ٍ َلم ل َيفَ سأ َ

تَ م ل َ ٍ

ا

َ

(6)

/inna an-na’āmata tuwārī ra`sahā fī ar-ramli iẓā ṭāradahā aṣ-ṣayādu wa ta’ibat

ẓannā minhā annahu lā yarāhā mā dāmat hiya lā tarāhu/ sesungguhnya burung unta menyembunyikan kepalanya di pasir jika pemburu mengendapinya dan mengikutinya, dia meyakini bahwa ia tidak terlihat selama dia tidak melihat mereka juga.( halaman 71, baris ke-5)

ش ل َ عَ ه صَ

/wa ṣabrihā ‘ala al-‘aṭasyi/ “kesabarannyaَ menghadapiَ kehausan.َ Ẓhalamanَ69, baris ke- 14)

Dari beberapa penggalan cerita diatas, pasti seorang anak bertanya-bertanya,

mengapa si burung unta harus menyembunyikan kepalanya di pasir ?. dan juga

bagaimana sabarnya si burung unta dalam menghadapi kehausan. Dari hal itu

didapati bahwa aspek intelektual anak ikut terkembangkan.

3.2.1.3Perkembangan Imajinasi

Sastra yang notabene adalah karya yang mengandalkan kekuatan imajinasi

menawarkan petualangan imajinasi yang luar biasa kepada anak. Dengan

membaca bacaan cerita sastra imajinasi anak dibawa berpetualang ke berbagai

penjuru dunia melewati batas waktu dan tempat, tetapi tetap berada di tempat,

dibawa untuk mengikuti kisah cerita yang dapat menarik seluruh kedirian anak.

Jadi, imajinasi akan memancing tumbuh dan berkembangnya daya kreativitas.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang perkembangan Imajinasi.

ل َنمَ ي كَهيفَ ي فَ ب َ غ ب

/balagā zarbān fasīḥān fīhi kaṡīrun mina an-na‘āmi/sampailah mereka ke pintu masuk yang lebar, yang didalamnya terdapat banyak burung unta. (halaman 69, baris ke-6)

بَ سَ

ل َ ك َ لَ

(7)

30

َم ل َ ي كَ ئ ل َ هَ

/inna hażā aṭ-ṭāiri kabīru al-jismi/ “sungguhَ iniَ jenisَ burungَ yangَ besar.َ

(halaman 69, baris ke-11)

َ ي ج َ َ ه مَ َ ين أَ َ يح جَ فَ ي ل َ ق بَه تَ

/wa tusybihu bāqia aṭ-ṭairi fi janāḥaihā wa ʹużunaihā wa minqārihā wa rijlaihā/

“Diaَjugaَmenyerupaiَburungَpadaَsayap,َtelinga,َparuh dan kakinya. (halaman 70, baris pertama)

Dari penggalan cerita diatas, imajinasi anak akan berjalan dengan membaca

“pintuَmasuk yang lebar”,َ“keretaَapiَyangَsedangَberjalan”,َjenisَburungَyangَ

besar”,َ danَ “menyerupaiَ burung”. Mereka akan membayangkan selebar apakah pintu masuk, sebesar apakah jenis burung itu. Danَjugaَdenganَkalimatَ “keretaَ

apiَ yangَ sedangَ berjalan”,َ imajinasiَ anakَ dibawaَ seakanَ merekaَ benar-benar berada didalam kereta api, tetapi tetap berada ditempat. Sertaَkataَ“menyerupaiَ

burung”,َmerekaَjugaَmengkhayalkanَburungَdiَimajinasiَmereka.

3.2.1.4Perkembangan Rasa Sosial

Bacaan cerita mendemonstrasikan bagaimana tokoh berinteraksi dengan

sesama dan lingkungan. Bagaimana tokoh-tokoh itu saling berinteraksi untuk

bekerja sama, saling membantu, bermain bersama, melakukan aktivitas keseharian

bersama, menghadapi kesulitan bersama, membantu mengatasi kesulitan orang

lain, dan lain-lain yang berkisah tentang kehidupan bersama dalam masyarakat.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang perkembangan rasa sosial.

مَل ل َل ج فَت جأَ م نَ ل َ

بَ ىي يَ َ

يَ ل ل َ ك

َ

(8)

/kāna al-wālidu yataḥaddaṡu wa yusyīru bi‘aṣāhu ilā na‘āmatin ajfalat faajfala

al-kullu ma‘ahā fantahaza al-wālidu hażihi al-furṣata/‘̒ Ayah bercerita dan menunjukkan tongkatnya ke arah Burung Unta sambil berlari,lalu lari pula semua Burung Unta bersamanya,kemudian Ayah menggunakan kesempatan ini. (halaman 71, baris ke-2).

بأَ خ ف

/fa`akhbarahu `abūhu/ “makaَayahnyaَmemberitahunya.َẒhalamanَ72,َbarisَke-7).

Dari penggalan cerita diatas, rasa sosial sang ayah sangat baik kepada

burung unta dengan melakukan aktivitas bersama, yaitu dengan menunjukkan

tongkat kepada Burung Unta sambil berlari, maka ikut juga burung unta berlari

bersamanya. Dan juga sang ayah yang dengan senang hati memberitahu hal yang

tidak diketahui oleh anaknya. Hal ini bisa saja membuat anak tertarik untuk hidup

bermasyarakat atau masuk dalam kelompok.

3.2.1.5Pertumbuhan Rasa Etis dan Religius

Sikap dan perilaku tokoh cerita yang diberikan kepada anak, lewat cerita ibu

(pencerita) atau membaca sendiri jika sudah bisa, dapat dipandang sebagai salah

satu cara penanaman nilai-nilai sosial, moral, etika dan religius kepada anak. Pada

umunya anak akan mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh yang baik itu, dan

itu berarti tumbuhnya lesadaran untuk meneladani sikap dan perilaku tokoh

tersebut.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang pertumbuhan rasa etis dan religius.

َ

جَ

َ ه نَ َ م ل َن بَ مأأَ ب

يَ

ل َ

َ

/inna al-‘araba yaḍribūna al-amṡāla bijubni an-na’āmati wa nufūrihā wa

jahlihā/“sesungguhnyaَorang-orang arab memberi contoh burung unta itu seperti

penakut,َpembenci,َdanَketidaktahuan”.َ (halaman 71, baris ke-4)

(9)

32

/wa ṣabrihā ‘ala al-‘aṭasyi/ “kesabarannyaَ menghadapiَ kehausan.َ Ẓhalamanَ 69,َ

baris ke- 14)

هت يحَ عَت قَ ب َ ف َ ي ج َ ح بَه ف َهت ث تَ

يَملَ َ

/wa inlam yuṣibhā ta`aṡṡarathu warafasathu bi`iḥda rijlayhā rafsatan rubbamā qaḍat ‘ala ḥayātihi/ “jika belum melukainya, dia menendangnya ke salah satu kakinya, mungkin itu adalah cara memutuskan hidupnya. (halaman 73, baris ke 9).

Dari bebarapa penggalan cerita diatas, Burung Unta tidak untuk dicontoh

perilakunya, karena burung unta itu penakut, pembenci serta tidak tahu apa-apa.

Sikap ini tidak untuk diteladani oleh seoarang anak. Begitu juga dengan hal

memutuskan hidup seseorang atau seekor binatang, tidak baik untuk diteladani

sikap seperti membunuh, karena hal itu sama sekali tidak ada moralnya. Seorang

anak itu harus pemberani, banyak ilmu, bermoral dan beretika.

3.2.2 Nilai Pendidikan

3.2.2.1Eksplorasi dan Penemuan

Ketika membaca cerita, pada hakikatnya anak dibawa untuk melakukan

sebuah eksplorasi, sebuah penjelajahan, sebuah petualangan imajinatif, ke sebuah

dunia relatif yang belum dikenalnya yang menawarkan berbagai kehidupan.

Dalam penjelajahan secara imajinatif anak dibawa dan dikritiskan untuk mampu

melakukan penemuan-penemuan dan atau prediksi bagaimana solusi yang

ditawarkan.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang eksplorasi dan penemuan.

ل َضيبَلك بَ م غمَمهَنمَ ل َنم

قأ َل لَ قَ يَ قَ َ

ََ

ل َ ين َ ي كَ ل َض بَ عَ يق

(10)

kaqiyamati anitatu al-‘āji/”siapaَ dariَ manusiaَ yangَ tertarikَ memakanَ sebagianَ

burung unta ? dan mereka hanya mengambil kulitnya untuk dibuat cangkir dan nilainya itu seperti nilai gading. (halaman 73, baris ke-9).

Dari penggalan cerita diatas, didapati penemuan yang baru yaitu kulit

burung unta nilainya sama dengan nilai gading gajah. Kemudian dari cerita atas,

anak bisa jadi tertarik dengan penjelajahan mengenai kulit sang burung unta.

3.2.2.2Perkembangan Bahasa

Bacaan sastra untuk anak yang baik antara lain adalah yang tingkat kesulitan

berbahasanya masih dalam jangkauan anak, tetapi bahasa yang terlalu sederhana

untuk usia tertentu,baik kosakata maupun struktur kalimat, justru kurang

meningkatkan kekayaan bahasa anak.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang perkembangan bahasa.

ي ل َعي

يَل فَم ل َ ي كَ ئ ل َ هَ َتبأَ ي"َ حَ ق

/qāla ḥassanu yā abati anna hażā aṭ-ṭāira kabīru al-jismi fahal yastaṭī‘u aṭ

-ṭayarāna/”berkataَpulalahَHasan:َ”Iniَadalahَjenisَburungَyangَbesar,َapakahَdiaَ bisaَterbang”?َẒَhalamanَ69,َbarisَke-10).

Dari penggalan kalimat diatas, merupakan bahasa yang sederhana dan mudah

dipahami, dengan membaca sekali saja pasti anak langsung mengerti maksud dari

bacaan diatas.

(11)

34

Sebagai salah satu bentuk karya seni, sastra memliki aspek keindahan.

Keindahan dalam genre fiksi antara lain dicapai lewat penyajian cerita yang

menarik, bersuspense tinggi, dan diungkap lewat bahasa yang tepat. Cerita

menjadi indah karena isi kisahnya yang mengharukan dan dikemas dalam bahasa

yang menyenangkan.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ tentang pengembangan nilai keindahan.

سَتق َ جََ صَ ي يَ شَ يأَنمَ يَ ف

/wafi yawmin min ayyāmi syahri yanāwira ṣafā jawwuhu warāqat sama’hu/

“Suatu hari di bulan Januari, langit menunjukkan aura yangَbersih”.َẒَhalamanَ68,َ baris ke-6)

ي َ عَميقأَ م

ل َنيت ل َ َ

ل َ ئ ل َنمَه

/wamā uqīma ‘ala ṭarīqihi mina al-‘amā`iri al-fakhmati wa al-basātīni an -naḍirati/ “apa yang terjadi dalam perjalanannya dari rumpun yang besar sampai

kehijauanَkebun”

Dari penggalan kalimat diatas, dengan kata-kata langit menunjukkan aura

yang bersih dan kehijauan kebun, didapati aspek keindahan melalui bahasa yang

tepat dan dikemas dalam bahasa yang menyenangkan.

3.2.2.4Penanaman Wawasan Multikultural

Berhadapan dengan bacaan sastra, anak dapat bertemu dengan wawasan

budaya berbagai kelompok sosial dari berbagai belahan dunia. Lewat sastra dapat

dijumpai berbagai sika dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu

masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang lain.

(12)

َ َ

ل َ ابَ ي صَ أ َ ه مَ أَ بأَ خ فَ

ل َ ن مَ لصأَ نعَ

حَ م س

aslinya adalah negara arab dan gurun afrika. Dan ada juga jenis lain dari burung unta di Amerika Selatan.dekat kota Buenos Aires, jenis disini lebih kecil ukurannya dari yang pernah dilihatnya. (halaman 72, baris ke-6).

Dari penggalan cerita diatas, didapati bahwa wawasan anak tidak tertuju pada

satu jenis burung unta saja tetapi ada jenis lain. Dan juga kelompok burung unta

yang ada di negeri asalnya yaitu Arab, berbeda jenisnya dengan burung unta yang

ada ada di Amerika Selatan. Hal itu menunjukkan bahwa budaya di sutu

kelompok berbeda dengan budaya kelompok lain.

3.2.2.5Penanaman Kebiasaan Membaca

Peran bacaan sastra selain ikut membentuk kepribadian anak, juga

menumbuhkan dan mengembangkan rasa ingin dan mau membaca, yang akhirnya

membaca tidak terbatas hanya pada bacaan sastra. Sastra dapat memotivasi anak

(13)

36

/faqāla al-wāladu an-na’āmatu yā hassānu akbaru aṭ-ṭuyūri wa yusammīhā al

-‘arabu al-jamalu aṭ-ṭā’iri liannahā tusybihu al-jamala fi ‘uluwwiha wa ṭuli

‘unuqihā wafī suknāhā aṣ-ṣaḥrā’i wa ṣabrihā ‘ala al-‘aṭasyi/ “maka berkata ayah, Ya Hasan, An-na’āmatuَ lebih besar dari unggas dan orang Arab menamainya burung unta, karena tingginya, panjang lehernya, tempatnya di gurun, dan kesabarannya menghadapi kehausan menyerupai Unta. (halaman 69, baris ke-12).

Dari penggalan cerita diatas, burung unta itu menyerupai Unta. Itu bisa saja

membuat anak juga ingin tahu dan termotivasi juga untuk membaca bacaan lain

mengenai unta.

3.3 Penilaian Sastra Anak dalam Cerita

ةماعنلا

/Anna’āmatu/ ”Burung

Unta”Dalam Kitab

ةديشرلا ةءارقلا

/

Al Qirātu Ar Rasyīdati/

Huck dkk. (dalam Nurgiyantoro, 2005:66) menyatakan bahwa penilaian sastra

anak haruslah dipahami dalam kaitannya dengan tujuan pemilihan bacaan bagi

anak sesuai dengan perkembangan kediriannya. Setelah selesai membaca sebuah

bacaan cerita, adakalanya anak menceritakan isi cerita dan menunjukkan sikap

atau reaksinya terhadap cerita itu. Atau, jika anak tidak memberikan tanggapan,

kitalah yang memancing atau meminta tanggapan atau komentar anak tentang

cerita yang baru saja dibacanya. Komentar itu misalnya berupa kata-kata:

menyenangkan, menyedihkan, kasihan tokoh cerita yang malang itu,tokoh jahat

itu akhirnya ketahuan juga, untunglah ada orang lain yang dapat membantu, dan

lain-lain. Hal itu menunjukkan bahwa tanggapan anak lebih bersifat emosional.

(14)

Alur merupakan aspek pertama utama yang harus dipertimbangkan karena

aspek inilah yang pertama-tama menentukan menarik tidaknya cerita dan

memiliki kekuatan untuk mengajak anak secara total untuk mengikuti cerita

(Saxby dalam Nurgiyantoro, 2005:68).

Dalam bacaan sastra anak sesuatu yang dikisahkan itu tentulah berkaitan

dengan dunia anak dan atau bagaimana anak memandang sesuatu tersebut.

Artinya, dalam sebuah alur cerita mesti ada konflik, konflik yang mampu

menyulut ketegangan, rasa ingin tahu, rasa penasaran bagaimana kelanjutan dan

kisah.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ mengenai alur cerita.

َ يح جَ عَ َ

ل َ ل َ لي يَ ه َ م نَ

َ عَ شي ل َ لَ ل َ ه نَ ه ت ف

َ ي

سَه بَ ف َضيبأَ ه

َ

/fauttajaha naẓruhumā ila lawni ar-rīsyi ‘ala ẓahri na’āmatin wahuwa yaṣīlu ila as-sawādu wa ‘ala janāḥayhā wa żaylahā wahuwa abyaḍu wa fi ba‘ḍihi

sawādun/”tertujulahَ pandanganَ merekaَ kepadaَ warnaَ buluَ diatasَ punggungَ

burung unta yang memiki warna asli kegelapan, sayap dan ekornya putih dan sebagiannya lagi hitam. (halaman 70, baris ke-11).

Dari penggalan cerita diatas, didapati konflik dari pandangan mereka yaitu

rasa ingin tahu, mengapa warna bulu, sayap dan ekor bisa seperti itu. Dengan

kejadian itu, bisa saja anak memandangnya juga ikut ingin tahu mengenai warna

bulu, sayap dan ekor si burung unta.

3.3.2 Penokohan

Istilah penokohan dapat menunjuk pada tokoh dan perwatakan tokoh. Tokoh

adalah pelaku cerita lewat berbagai aksi yang dilakukan dan peristiwa serta aksi

(15)

38

berupa manusia, bintang, atau makhluk dan objek yang lain seperti makhluk halus

(peri, hantu) dan tetumbuhan.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ mengenai penokohan.

هل جَ َ

ل َ ك بَ ث يَ ل َع يَ حَ ك

/kāna ḥasānu yasma‘u an-nāsa yataḥaddaṡūna biżikri al-marju wa jamālihi/

’hasan mendengar orang berbicara tanah lapang dan keindahannya. (halaman 68, baris ke-1).

ئ ل َل ل َ

ل َ ي يَ َ ي ل َ كأَ حَ يَ م ل َ. ل ل َ ف

/faqāla al-wālidu an-na’āmatu yā hassānu akbaru aṭ-ṭuyūri wa yusammīhā al

-‘arabu al-jamalu aṭ-ṭā’ira/ “maka berkata ayah, Ya Hasan, An-na’āmatuَ lebihَ besar dari unggas dan orang Arab menamainya burung unta.(halaman 69, baris ke-12).

Dari kedua penggalan cerita di atas, didapati bahwa tokoh dalam cerita ada 2

tokoh, yaitu Hasan dan Ayah bisaَterbang”?. (halaman 69, baris ke-10)

مَل ل َل ج فَت جأَ م نَ ل َ

بَ ىي يَ َ

يَ ل ل َ ك

(16)

Burung Unta bersamanya,kemudian Ayah menggunakan kesempatan ini. (halaman 71, baris ke-2).

م

لَ ب قَ يغَ ي كَ مَع تَ نأَ م ل َ مأَبي غَنمَ

/inna min garībi amri an-na‘āmati annahā tabtali‘u mawādda kaṡīratan gayra

qābilatin lilhaḍmi/sungguh aneh pekerjaan burung unta, dia menelan bahan yang banyak kecuali yang tidak bisa dicernanya. (halaman 72, baris ke-2).

Dari beberapa penggalan cerita di atas, didapati bahwa Hasan sering bertanya

kepada sang Ayah, ini menunjukkan bahwa Hasan memliki watak yang ingin

tahu, selanjutnya watak sang Ayah yaitu bercerita ataupun membagi

pengetahuannya. Sedangkan si burung unta memiliki watak yang aneh. Ini bisa

membuat anak selaku pembaca membangun dunianya.

3.3.3 Tema dan Moral

Secara umum dapat dikatakan bahwa tema selalu berkaitan dengan

masalah-masalah kehidupan, dan itu bersifat universal. Tema akan selalu berkaitan dengan

persoalan kemanusiaan seperti cinta, cinta kepada orang tua, anak, sesama,

kekasih, atau bahkan binatang dan lingkungan, percaya diri, harga diri, rasa takut,

maut, dan lain-lain. Tema mana atau apa yang dipilih oleh pengarang, bersifat

subjektif, dan itu sering ada kaitannya dengan moral yang ingin disampaikan.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ mengenai tema dan moral.

َ

جَ َ ه نَ َ م ل َن بَ مأأَ ب

يَ

ل َ ٍ

ََ

/inna al-‘araba yaḍribūna al-amṡāla bijubni an-na’āmati wa nufūrihā wa

(17)

40

Dariَ penggalanَ ceritaَ diatas,َ memilikiَ temaَ “burungَ untaَ ituَ penakut,َ

pembenci, dan ketidaktahuan”.َ Moralَ yangَ didapatiَ adalahَ “janganlahَ sepertiَ

burung unta yang penakut karena penakut akan membuat anak menjadi orang

yang menyusahkan orang lain, pembenci karena jika pembenci akan menjadikan

anak tidak memiliki teman, dan ketidaktahuan karena apabila anak tidak tahu apa

apa akan membuat anak menjadi tidak bisa apa-apa.

3.3.4 Latar

Sebuah cerita memerlukan kejelasan kejadian mengenai dimana terjadi dan

kapan waktu kejadiannya untuk memudahkan pengimajian dan pemahamannya.

Hal itu berarti bahwa sebuah cerita memerlukan latar, latar tempat kejadian, latar

waktu, dan latar sosial budaya masyarakat tempat kisah terjadi. Jika latar yang

dijadikan pijakan sudah dikenal pembaca, terutama latar tempat, hal itu akan

semakin melibatkan anak ke dalam cerita karena merasa seolah-olah dirinya

merupakan bagian dari cerita.

“Suatu hari di bulan Januari, langit menunjukkan aura yangَbersih”.َẒhalamanَ68,َ baris ke-6).

َ

قَ

مَ ل َ ه

ي ل

/wa żahabā ila maḥaṭṭati qanṭarati al-laymūn/ “lalu mereka berdua pergi ke

(18)

ل َ فَ ه َ ف مَ ل ل َ س

/istamarra al-wālidu masāfatan wahuwa fī al-qiṭāri/ “Ayahَ melanjutkanَ

perjalanan di kereta. (halaman 73, baris ke-7).

ل َ غ ب

/balagā al-manzila/ “sampailahَ merekaَ berduaَ dirumah.َ Ẓhalamanَ 73,َ barisَ ke -14).

Dari penggalan cerita diatas, didapati latar tempat yaitu tanah lapang, stasiun

jembatan laimun dan rumah dan latar waktu yaitu bulan Januari. Hal itu bisa saja

melibatkan anak kedalam cerita karena merasa seolah-olah dirinya merupakan

bagian dari cerita.

3.3.5 Stile

Stile berkaitan dengan bahasa yang dipergunakana dalam sastra. Jadi, ia

termasuk dalam kategori bentuk, yaitu bentuk atau sarana yang dipergunakan

unsur mengekspresikan gagasan. Aspek stile menentukan mudah atau sulitnya

cerita dipahami, menarik atau tidaknya cerita yang dikisahkan, dan karenanya

juga mempengaruhi efek keindahan yang ingin dicapai. Dalam sastra anak stile

menjadi lebih penting justru karena anak belum mampu memahami bahsa yang

kompleks, sementara mereka memerlukan bacaan cerita sebagai salah satu sarana

memperoleh hiburan.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ mengenai stile.

َ

ل َنمَ حَ

فَ...

...

/faṭariba ḥassānu mina al-manẓari/ maka Hasan senanglah dengan pemandangan itu. (halaman 69, baris ke-6).

Dari penggalan cerita diatas, didapati stile yang menarik dan juga sederhana.

(19)

42 3.3.6 Ilustrasi

Ilustrasi adalah gambar-gambar yang menyertai cerita dalam buku sastra

anak. Hampir semua sastra anak dari berbagai genre pada umumnya disertai

gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Ilustrasi dalam sastra anak dapat berupa

gambar, lukisan, foto. Reproduksi gambar, dan lain-lain yang kehadirannya

sengaja dimaksudkan untuk memperkuat dan mengkonkretkan apa yang

dikisahkan secara verbal.

Berikut ini adalah penggalan cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ mengenai ilustrasi.

(20)

Dalam cerita

م ل

/anna’āmatu/”Burungَ Unta”َ memilikiَ gambar-gambar dalam ceritanya, yaitu gambar burung unta itu sendiri.

3.3.7 Format

Format bacaan memegang peran penting untuk memotivasi anak untuk

membaca sebuah buku bacaan cerita walau format itu sendiri bukan bagian dari

cerita. Yang termasuk bagian format buku adalah bentuk, ukuran, desain sampul,

desain halaman, ilustrasi (gambar binatang), ukuran huruf, jumlah halaman,

(21)

44

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Pengkajian terhadap karya sastra seperti pengkajian terhadap karya fiksi

berarti penelaahan, penyelidikan atau mengkaji, dengan menyelidiki karya fiksi

tersebut. Untuk melakukan pengkajian terhadap unsur- unsur pembentuk karya

sastra, khususnya fiksi, pada umumnya disebut sebagai upaya menganalisis.

Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman

anak-anak, yang dapat di lihat dan di pahami sesuai jiwa anak-anak. Bahasa yang

(22)

bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan pemahaman mereka. Ceritaَ

ةماعنلا

/

anna’āmatu/ merupakan fabel yang amat sesuai di golongkan pada sastra anak.

Cerita anak yang berbahasa Arab berjudul

ةماعنلا

/

anna’āmatu/ burung unta ini setelah penulis teliti mengandung kontribusi berupa nilai personal dan nilai

pendidikan. Pada nilai personal terdiri dari perkembangan emosional, yaitu

tokoh-tokoh cerita akan bertingkah laku baik secara verbal maupun nonverbal yang

menunjukkan sikap emosionalnya, seperti ekspresi gembira, sedih, takut, terharu,

simpati dan empati, benci dan dendam, memaafkan, dan lain-lain, perkembangan

intelektual yaitu lewat bacaan yang dihadapinya itu aspek intelektual anak ikut

aktif, ikut berperan, dalam rangka pemahaman dan pengkritisan cerita yang

bersangkutan, perkembangan imajinasi yaitu imajinasi anak dibawa berpetualang

ke berbagai penjuru dunia melewati batas waktu dan tempat, tetapi tetap berada di

tempat, dibawa untuk mengikuti kisah cerita yang dapat menarik seluruh kedirian

anak, perkembangan rasa sosial yaitu bacaan cerita mendemonstrasikan

bagaimana tokoh berinteraksi dengan sesama dan lingkungan, dan pertumbuhan

rasa etis dan religius yaitu Sikap dan perilaku tokoh cerita yang diberikan kepada

anak, lewat cerita ibu (pencerita) atau membaca sendiri jika sudah bisa, dapat

dipandang sebagai salah satu cara penanaman nilai-nilai sosial, moral, etika dan

religius kepada anak. Sementara pada nilai pendidikan terdiri dari eksplorasi dan

penemuan yaitu dalam penjelajahan secara imajinatif anak dibawa dan dikritiskan

untuk mampu melakukan penemuan-penemuan dan atau prediksi bagaimana

solusi yang ditawarkan, perkembangan bahasa yaitu bacaan sastra untuk anak

yang baik antara lain adalah yang tingkat kesulitan berbahasanya masih dalam

jangkauan anak, pengembangan nilai keindahan yaitu keindahan dalam genre fiksi

antara lain dicapai lewat penyajian cerita yang menarik, bersuspense tinggi, dan

diungkap lewat bahasa yang tepat, penanaman wawasan multicultural yaitu anak

dapat bertemu dengan wawasan budaya berbagai kelompok sosial dari berbagai

belahan dunia, penanaman kebiasaan membaca yaitu sastra dapat memotivasi

anak untuk mau membaca. Cerita ini juga mengandung penilaian sastra anak

(23)

46

dipertimbangkan karena aspek inilah yang pertama-tama menentukan menarik

tidaknya cerita, penokohan yaitu istilah penokohan dapat menunjuk pada tokoh

dan perwatakan tokoh, tema dan moral yaitu tema mana atau apa yang dipilih oleh

pengarang, bersifat subjektif, dan itu sering ada kaitannya dengan moral yang

ingin disampaikan, latar yaitu sebuah cerita memerlukan kejelasan kejadian

mengenai dimana terjadi dan kapan waktu kejadiannya untuk memudahkan

pengimajian dan pemahamannya, stile yaitu berkaitan dengan bahasa yang

dipergunakan dalam sastra, ia termasuk dalam kategori bentuk, yaitu bentuk atau

sarana yang dipergunakan unsur mengekspresikan gagasan, ilustrasi yaitu

gambar-gambar yang menyertai cerita dalam buku sastra anak dan format yaitu bagian

format buku adalah bentuk, ukuran, desain sampul, desain halaman, ilustrasi,

ukuran huruf, jumlah halaman, kualitas keras dan penjilidan.

.

4.2 Saran

Peneliti menyarankan agar peneliti-peneliti berikutnya yang mengkaji tentang

sastra anak, baik dari segi apapun, harus lebih baik lagi dari penelitian yang telah

ada. Pengkajian tentang sastra anak bisa dilakukan pada banyak objek antara lain:

cerita, puisi, lagu, gambar, yang sesuai dengan minat anak-anak.

Peneliti mengharapkan pada peneletian yang berikutnya agar lebih berfariasi

memilih judul yang diteliti karena memilih objek kajian akan lebih menarik untuk

dibahas. Menentukan judul pembahasan merupakan upaya awal untuk

Referensi

Dokumen terkait