• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kadar Leptin Dan Tekanan Darah Pada Obesitas Viseral Dan Non Viseral Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Kadar Leptin Dan Tekanan Darah Pada Obesitas Viseral Dan Non Viseral Chapter III V"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan disain penelitian cross sectional, untuk mengetahui perbandingan kadar leptin dan tekanan darah pada obesitas viseral dan non viseral.

3.2. Populasi dan sampel

Populasi target adalah semua orang yang masuk kategori obesitas baik obesitas viseral maupun non viseral. Sampel penelitian adalah orang-orang yang memenuhi kriteria inklusi yang diperoleh dengan cara accidental sampling. Besar sampel minimal dihitung dengan menggunakan rumus perhitungan sampel untuk uji analitik numerik (Sastroasmoro, 2011).

Rumus : n1 = n2 = 2 2

= tingkat kemaknaan (ditetapkan peneliti) = 0.05 z = 1.96

= power of test (ditetapkan peneliti) 80% z = 0.842 = simpangan baku = 7.9 (penelitian sebelumnya)

xa-xo= selisih rerata yang dianggap bermakna 4,5 (Librantoro, 2007)

(2)

3.2.1 Kriteria subyek penelitian :

3.2.1.1. Kriteria inklusi

- Orang obesitas yang dibuktikan melalui pengukuran IMT - Usia 20 dan < 60 tahun

- Menyetujui dan menandatangani informed consent

3.2.1.2. Kriteria Ekslusi :

- Menderita penyakit kanker, hepatitis, ginjal, jantung dan Diabetes

- Menggunakan obat jangka panjang (misalnya steroid, tiazolidinedione dll) - Menggunakan terapi hormon (estrogen, testosteron, insulin, dll)

3.3. Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan dari Agustus - Desember 2012, dimana sampel yang diperoleh berasal dari kota Medan dan sekitarnya.

3.4 Metode penelitian

3.4.1. Alat dan Bahan Penelitian

(3)

Bahan yang digunakan : plasma sampel, wash buffer concentrate, standart (recombinant human leptin), Sodium Azide 0.09%, deionized water (aquadest), buffer konsentrat, detection antibody leptin (biotinylated anti-human leptin), HRP-Streptavidin concentrate, Tetramethylbenzidine (TBM) one-step substrate reagent, Stop Solution (sulfuric acid).

- Darah vena diambil 3 cc dimasukkan dalam tabung berisi EDTA

- Sentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm - Pemisahan serum dan plasma, lalu dimasukkan dalam tabung

yang diberi label

- Disimpan pada suhu -20˚c

Mempersiapkan semua regensia, sampel dan standart.

Masukkan 100 µl standart dan sampel pada masing-masing well. Inkubasi selama 2.5 jam pada suhu ruang. Lalu dilakukan pencucian.

Tambahkan 100µl antibodi biotin yang telah disiapkan pada tiap well inkubasi selama 1 jam pada suhu ruang. Lalu dilakukan pencucian.

Tambahkan 100 µl streptavidin solution yang telah disiapkan.

Inkubasi selama 45 menit pada suhu ruang. Lalu dilakukan pencucian.

Tambahkan 100 µl substrat pada tiap well. Inkubasi selama 30 menit pada suhu ruang.

(4)

4.

3.4.3 Prosedur penelitian

a. Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan komite etik penelitian bidang kesehatan FK USU.

b. Pengumpulan data

Subyek penelitian yang memenuhi kriteria obesitas, diminta kesediannya mengikuti penelitian, kemudian dilakukan anamnese pribadi, riwayat penyakit terdahulu serta dilakukan pemeriksaan fisik. Seluruh subyek yang masuk kriteria inklusi diminta mengisi lembar persetujuan penelitian. Seluruh subyek yang dijadikan sampel selanjutnya diukur BB,TB,TD, lingkar panggul dan lingkar pinggang kemudian dikategorikan kedalam obesitas viseral atau non viseral. c. Pengukuran Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB)

Penimbangan berat badan dilakukan dengan penimbangan berdiri (platform beam balance scale) yang telah ditera terlebih dahulu sampai ketepatan 100 gram. Pengukuran dilakukan dengan cara subjek berdiri tegak diatas timbangan kemudian angka yang ditunjuk jarum (skala) timbangan dibaca sebagai hasil (dalam kg). Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan menggunakan alat ukur tegak (microtaise) sampai ketepatan 0,1 cm. Pengukuran dilakukan dengan posisi berdiri tegak, muka menghadap lurus kedepan tanpa memakai alas kaki, hasil dibaca dalam cm.

Analisa hasil

(5)

d. Pengukuran Lingkar Pinggang (LP) dan Lingkar Panggul (Lpa)

Lingkar pinggang diukur dalam posisi berdiri tegak dan tenang. Baju atau penghalang pengukuran disingkirkan. Letakkan pita pengukur di tepi atas crista illiaca dextra. Pita pengukur dilingkarkan ke sekeliling dinding perut setinggi crista illiaca. Yakinkan bahwa pita pengukur tidak menekan kulit terlalu ketat dan sejajar dengan lantai. Pengukuran dilakukan saat akhir dari ekspirasi normal. Lingkar pinggang dibaca dalam cm. Pengukuran Lingkar panggul (Lpa) dilakukan dengan menggunakan pita pengukur pada posisi berdiri dan bernafas seperti biasa. Diukur dengan cara melingkari pelvis pada titik maksimal tonjolan bokong. Hasil dinyatakan dalam cm.

e. Pengukuran Tekanan darah (TD)

(6)

f. Pengambilan sampel darah

Dilakukan setelah pasien berpuasa selama 10 jam. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil darah vena sebanyak 3 ml dan dimasukkan ke dalam tabung yang berisi EDTA sebagai antikoagulan. Darah yang sudah diambil disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm kemudian dipisahkan antara serum dan plasma dan dipindahkan ke dalam tabung yang telah diberi label. Spesimen ini disimpan dalam suhu -20˚C sampai dilakukan pemeriksaan.

g. Pengukuran kadar Leptin

1. Persiapan regensia, standart dan sampel.

(7)

tidak ditambah apapun. Untuk membuat pengenceran serial Masukkan 200 µl standart solution pada tabung 2 kemudian diaduk sampai merata. Ambil 200 µl larutan pada tabung 2 dan dimasukkan kedalam tabung 3 lalu diaduk sampai merata, ambil 200 µl larutan pada tabung 3 dan dimasukkan kedalam tabung 4, begitu seterusnya sampai tabung 8. kemudian keringkan dengan tisue. Tambahkan 100 µl biotinylated antibody pada setiap well. Inkubasi selama 1 jam pada suhu ruang. Buang cairan dan cuci dengan wash bufer. Tambahkan 100 µl streptavidin solution pada setiap well. Inkubasi selama 45 menit pada suhu ruang. Buang cairan dan cuci dengan wash bufer. Tambahkan 100 µl substrat TMB pada setiap well. Inkubasi 30 menit pada suhu ruang dan gelap. Tambahkan 50 µl stop solution pada setiap well. Hasil segera dibaca pada Elisa reader dengan menggunakan panjang gelombang 450 nm (RayBiotech 2011).

3. Analisa hasil dengan menggunakan software ELISA data analysis untuk memperoleh nilai /konsentrasi kadar leptin yang diperiksa.

3.5 Analisa Data

(8)

leptin antara kelompok yang diteliti digunakan uji t independent jika data kedua kelompok berdistribusi normal atau dengan uji mann Whitney bila distribusi data tidak normal. Untuk menguji perbedaan variabel kategorikal antara dua kelompok digunakan Chi-square. Perbedaan yang signifikan ditetapkan dengan nilai p < 0.05.

3.6. Variabel penelitian

Variabel independent pada penelitian ini adalah obesitas visceral dan non visceral sedangkan variabel dependent adalah kadar leptin dan Tekanan darah (TD)

3.7. Defenisi Operasional

1. Berat badan adalah pengukuran terhadap massa tubuh yang diukur dengan timbangan yang distandarisasi dengan tingkat ketelitian 100 gram. Pembacaan berat badan dalam kilogram (kg).

2. Tinggi badan adalah hasil pengukuran ruas – ruas tulang tubuh dari kaki sampai kepala pada posisi tegak sempurna yang diukur dengan alat ukur tegak (microtaise) dengan ketelitian 0,1 cm.

3. Kadar leptin adalah protein plasma jaringan adiposa yang diukur setelah melakukan puasa 10 jam. Pengukuran menggunakan ELISA dan hasil pembacaan dalam microgram permilliliter ( g/ml).

4. Lingkar pinggang adalah besaran lingkar pinggang yang diukur dengan pita pengukur/metline dalam cm. Pengukuran dilakukan pada posisi berdiri tegak, diukur di antara crista illiaca dan costa XII. Kategori IDF 2006, obesitas untuk Asia bila : Pria >90 dan Wanita >80.

(9)

Kategori (Asia Pasifik, 2000): normal jika IMT < 23, overweight jika IMT 23 dan obesitas jika IMT 25.

6. Tekanan Darah Adalah hasil pengukuran tekanan darah yang terdiri dari sistole (tekanan atau denyutan yang pertama terdengar) dan diastole (tekanan yang terakhir terdengar). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan spygmomanometer. Kategori tekanan darah (JNC, 2003): - Normal : <120/<80 mmHg

- Prehipertensi 120/80, 139/89 mmHg - Hipertensi Grade 1:140/90,159/99 mmHg - Hipertensi Grade 2 : >160/>100 mmHg

7. Lingkar panggul adalah besaran lingkar panggul yang diukur dengan cara melingkari pelvis pada titik maksimal tonjolan bokong. Hasil ukur dalam satuan cm.

(10)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL PENELITIAN

Jumlah keseluruhan sampel sebanyak 40 orang yang masuk kategori obesitas berdasarkan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Keseluruhan sampel yang diikutkan dalam penelitian dibedakan menjadi obesitas viseral dan obesitas non viseral berdasarkan pengukuran lingkar pinggang (LP) dan rasio antara lingkar pinggang dan lingkar perut (LPa). Data sampel penelitian dilakukan analisis seperti tertulis dibawah ini.

4.1.1. Perbandingan leptin dan IMT pada obesitas viseral dan non viseral

Pada Gambar 4.1 dapat dilihat perbedaan kadar leptin antara kelompok obesitas non-viseral dengan kelompok obesitas viseral. Nilai rerata ± simpangan baku kadar leptin pada kelompok obesitas non viseral adalah 28.712±9.37 pg/ml sedangkan pada kelompok obesitas viseral adalah 26.344±24.1 pg/ml.

(11)

Gambar 4.2 menunjukkan perbandingan kadar leptin antara obesitas viseral dan obesitas non viseral berdasarkan jenis kelamin. Terdapat perbedaan yang cukup bermakna atau signifikan (p<0.05) antara nilai rerata kadar leptin pada laki-laki dan perempuan, dimana nilai rerata ± simpangan baku kadar leptin pada perempuan lebih tinggi dibanding pada laki-laki pada kedua kelompok baik obesitas viseral maupun obesitas non viseral (p<0.05). Nilai rerata ± simpangan baku pada perempuan kelompok obesitas viseral adalah 37599.73±23387.46 dan pada kelompok obesitas non viseral 29293.39±9247.08 sedangkan nilai rerata ± simpangan baku kadar leptin pada laki-laki kelompok obesitas viseral adalah 15090.25±10243.03 dan pada kelompok obesitas non viseral 23482.80±12453.28

Gambar 4.2. Perbandingan rerata kadar leptin antara laki-laki dan perempuan pada kelompok obesitas viseral dan kelompok obesitas non viseral (p<0.05).

(12)

Gambar 4.3. perbandingan rerata kadar leptin antara kelompok obesitas viseral dan obesitas non viseral untuk jenis kelamin perempuan dan laki-laki (p>0.05).

Pada gambar 4.3 dapat dilihat perbandingan nilai rerata kadar leptin antara laki-laki kelompok obesitas viseral dengan laki-laki kelompok obesitas non viseral juga antara perempuan kelompok obesitas viseral dengan perempuan kelompok obesitas non viseral. Nilai rerata ± simpangan baku kadar leptin perempuan kelompok obesitas viseral lebih tinggi dibanding rerata ± simpangan baku kadar leptin perempuan kelompok obesitas non viseral namun perbedaannya tidak signifikan (p>0.05), sebaliknya nilai rerata ± simpangan baku kadar leptin laki-laki kelompok obesitas viseral lebih rendah dibanding rerata ± simpangan baku kadar leptin laki-laki kelompok obesitas non viseral namun perbedaan yang didapat juga tidak signifikan (p>0.05).

(13)

rerata ± simpangan baku kadar leptin laki-laki kelompok obesitas viseral 15090.25 ± 10243.03 dan rerata ± simpangan baku kadar leptin laki-laki kelompok obesitas non viseral 23482.80 ± 12453.28

Perbandingan Indeks massa tubuh (IMT) antara kelompok obesitas viseral dan non viseral dapat dilihat pada gambar 4.4. Rerata Indeks massa tubuh yang didapat pada kelompok obesitas viseral berbeda dengan yang didapat pada kelompok obesitas non viseral. Rerata IMT pada kelompok obesitas viseral lebih tinggi secara signifikan (p<0.05) bila dibandingkan dengan rerata IMT kelompok obesitas non viseral.

Rerata IMT untuk kelompok obesitas viseral yang didapat dari penelitian ini adalah 31.65 ± 2.68 sedangkan rerata IMT untuk kelompok obesitas non viseral adalah 28.27 ± 3.74

(14)

4.1.2. Perbandingan Tekanan Darah dengan Obesitas dan IMT

Perbandingan tekanan darah sistolik dan diastolic pada obesitas viseral dan non viseral dapat dilihat pada gambar 4.5 berikut ini.

Gambar 4.5. Perbandingan tekanan darah systole pada obesitas viseral dan non viseral (p<0.05), perbandingan tekanan darah diastole pada obesitas viseral dan non

viseral (p>0.05)

Rerata tekanan darah sistolik pada obesitas viseral berbeda dibanding dengan rerata tekanan darah sistolik pada kelompok obesitas non viseral. Rerata tekanan darah sistolik pada kelompok obesitas viseral lebih tinggi secara signifikan dibanding rerata tekanan darah sistolik pada kelompok obesitas non viseral. Sedangkan rerata tekanan darah diastolic yang didapat dari penelitian ini tidak berbeda secara signifikan antara kelompok obesitas viseral dan kelompok obesitas non viseral.

(15)

tekanan darah diastolik pada kelompok obesitas viseral adalah 77.25±9.39 dan pada kelompok obesitas non viseral adalah 73.50±8.13.

Perbandingan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tekanan darah sistolik dan diastolik serta kadar leptin dapat dilihat pada Gambar 4.6. Terdapat hubungan positif, cukup kuat dan nyata antara IMT vs Sistolik (r=0,429; p<0,05), serta IMT vs Diastolik (r=0,342; p<0,05), tetapi hubungan IMT vs kadar Leptin kurang kuat dan tidak nyata (r=0,272; p>0,05) tetapi positif.

(16)

C. Perbandingan Leptin dan Tekanan Darah

Perbandingan kadar leptin dan tekanan darah pada obesitas viseral dan non viseral dapat disimpulkan berdasarkan hubungan yang terlihat pada gambar 4.7 dibawah ini:

(17)

4.2. PEMBAHASAN

4.2.1. Perbandingan Leptin,dan IMT pada obesitas viseral dan non viseral.

(18)

konsentrasi serum leptin berkorelasi kuat dengan ukuran obesitas seperti IMT atau persentase lemak tubuh. Selain itu produksi leptin pada jaringan adipose dibawah regulasi nutrisi, hormonal dan neural (Fruhbeck, 2001).

Hasil penelitian ini mendapati kadar leptin pada wanita lebih tinggi dari pria pada kedua kelompok baik obesitas viseral maupun non viseral. Pada obesitas viseral perbedaan yang didapat cukup kuat dan nyata (p<0.05). hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kadar leptin pada wanita dan pria. Shankar dkk 2010 mendapati bahwa kadar leptin pada wanita lebih tinggi dari pria. Khokhar dkk 2010 mendapati rerata kadar leptin pada wanita obes adalah 40.930±17.3 pg/ml. Awdah 2004 mendapatkan hasil kadar leptin pada wanita obesitas sebesar 23.150±6.73 pg/ml sedangkan Librantoro 2009 mendapati kadar leptin pada pria obes 8.801±7.9 pg/ml, Ma dkk 2009 memperoleh hasil kadar leptin lebih tinggi pada wanita dibanding pria (24.580±18.98 dan

8.440±7.69), pada wanita juga ditemukan hampir dua kali lipat konsentrasi leptin

yang tinggi (Kratzsch, 2002). Rentang nilai normal serum leptin pada wanita yaitu

3877 - 77,273 pg/mL sedangkan pria 2205 - 11,149 pg/mL. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pengaruh hormonal dimana teori menyebutkan bahwa estrogen dan prolaktin merupakan stimulator terhadap sintesis dan sekresi leptin sehingga semakin banyak estrogen maka kadar leptin akan semakin tinggi. Hormone estrogen dan prolaktin adalah hormone yang terdapat pada wanita sebaliknya hormon androgen merupakan inhibitor terhadap sintesis leptin dan lebih banyak didapat pada pria.

(19)

(BB) kelompok obesitas viseral yang didapat pada peneltian ini lebih besar dari obesitas non viseral, namun tinggi badan pada kedua kelompok tidak ada perbedaan. IMT merupakan pembagian antara berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (m2). Jadi, semakin meningkat berat badan dan semakin rendah tinggi badan dapat menyebabkan nilai IMT semakin besar. Pada kelompok obesitas penentuan obesitas viseral didapat dari mengukur lingkar pinggang sampel. Rasio LP (Lingkar Pinggang) dan LPA (Lingkar Panggul) >0,90 pada pria dan >0,85 pada perempuan dan merupakan ketetapan pada penggolongan viseral. Pada penelitian ini kelompok obesitas viseral IMT nya lebih tinggi karena memiliki berat badan yang lebih besar dibanding dengan obesitas non viseral sedangkan tinggi badan pada kedua kelompok tidak berbeda nyata. Ini menunjukkan ada kaitan antara IMT dan BB. Menurut Wajchenberg (2000), perbedaan IMT dan Berat Badan antara obesitas non-viseral dengan viseral disebabkan adanya hubungan yang kuat antara ukuran lingkar pinggang dengan penentuan obesitas abdominal atau viseral.

4.2.2. Perbandingan Tekanan Darah dengan obesitas dan IMT

(20)

Studi prospektif dengan menggunakan pengukuran antropometri mendapati bahwa obesitas viseral memiliki kaitan erat dengan hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskuler (Tchernof, 2007). Klein dan Romijn 2008 juga menyatakan bahwa obesitas abdominal atau viseral berhubungan lebih kuat dengan hipertensi dan dislipidemia. Hal ini kemungkinan disebabkan karena jaringan lemak viseral (VAT) memiliki reseptor glukokortikoid dan androgen lebih banyak, metabolism yang lebih aktif, lebih sensitive terhadap lipolisis dan lebih resisten insulin dibanding jaringan lemak subkutan (SCAT). VAT memiliki kapasitas lebih besar menghasilkan FFA, meningkatkan glukosa dan lebih sensitive terhadap stimulasi adrenergic. Aktivitas adrenergic diketahui berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah (Ibrahim, 2009). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian -adrenergik dan - adrenergic blockers, mencegah kenaikan tekanan darah pada anjing yang diberi diet tinggi lemak. Mekanisme kerjanya dengan menstimulasi pusat reseptor 2 dan mengurangi aktivitas SNS. Kombinasi blockade -adrenergik dan - adrenergic yang diberikan pada pasien obes yang hipertensi selama 1 bulan menurunkan tekanan darah pada pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas adrenergic berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi baik pada hewan percobaan dan manusia (Hall dkk , 2010)

Hubungan IMT dengan tekanan darah sistolik dan diastolik cukup kuat dan

sangat nyata (p<0,05), yakni berturut-turut r = 0,429; p = 0,006 dan r = 0,342; p =

0,031. Hal menunjukkan bahwa orang dengan IMT yang tergolong obesitas akan

terjadi penumpukan jaringan lemak tubuh yang berlebihan. Menurut Indarto (2009)

IMT yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan berat badan yang dapat

(21)

massa tubuh, semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk membawa oksigen dan

nutrisi ke jaringan tubuh. Akibatnya terjadi peningkatan volume darah yang beredar

melalui pembuluh darah sehingga dinding arteri mendapat tekanan yang lebih besar

dan menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Poirir et al 2006 mendapati bahwa

setiap peningkatan 10 kg berat badan berhubungan dengan peningkatan TD sistolik 3

mmHg dan peningkatan TD diastolik 2-3 mmHg (Librantoro, 2007). Data dari

NHANES III menunjukkan adanya hubungan linier yang bermakna antara

peningkatan IMT dengan tekanan darah.

Semakin tinggi IMT seseorang maka tekanan darah sistolik dan diastolik

cenderung meningkat. Hasil penelitian ini menunjukkan setiap peningkatan 10 kg/m2

IMT maka tekanan darah sistolik dan diastolik naik 20,76 mm/Hg. Hal ini

menunjukkan bahwa massa tubuh seseorang berpengaruh kuat terhadap tekanan darah

sistolik dan diastolik. Kayetanus dan Aldy (2011), adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah sistolik yaitu kesehatan fisik, emosi, dan juga gaya

hidup .Sedangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah diastolik

adalah usia, postur dan baroreseptor (system reflex yang bekerja sangat cepat untuk

mengkompensasi perubahan tekanan darah)

.4.2.3. Perbandingan Leptin dengan Tekanan Darah

(22)
(23)
(24)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

1. Tidak ada perbedaan kadar leptin antara obesitas viseral dan non viseral (p>0.05), karena leptin lebih terkait dengan akumulasi lemak di tubuh bukan pada daerah dimana lemak itu berada.

2. Terdapat perbedaan kadar leptin antara perempuan dan laki-laki. Kadar leptin secara signifikan ditemukan lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki baik pada kelompok obesitas viseral maupun kelompok non viseral (p<0.05). Hal ini dikarenakan sintesis dan sekresi leptin juga dipengaruhi hormon seperti estrogen dan prolaktin yang diketahui merupakan hormon pada perempuan berperan sebagai stimulus sekresi leptin sebaliknya androgen yang diketahui merupakan hormon pada laki-laki berperan sebagai inhibitor dari sekresi leptin.

3. Terdapat perbedaan tekanan darah antara obesitas viseral dan non viseral dimana Tekanan darah sistolik secara signifikan (p<0.05) ditemukan lebih tinggi pada kelompok obesitas viseral dibanding kelompok obesitas non viseral. Hal ini dikarenakan VAT lebih sensitive terhadap stimulasi adrenergic, yang mana aktivitas adrenergic berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah

(25)

sedangkan TB antara kedua kelompok sama. Korelasi yang kuat (p<0.05) ditemukan antara IMT dengan tekanan darah baik systole maupun diastole IMT yang tinggi mengakibatkan terjadinya peningkatan volume darah yang beredar melalui pembuluh darah sehingga dinding arteri mendapat tekanan yang lebih besar dan menyebabkan peningkatan tekanan darah.

5. Pada obesitas viseral dan non viseral, semakin tinggi kadar leptin maka tekanan darah semakin rendah, karena kondisi hiperleptinemia juga bisa menyebabkan peningkatan NO sehingga menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah dan berefek terhadap penurunan tekanan darah atau efek simpatis leptin mungkin tidak mampu menaikkan tekanan darah.

5.2. SARAN

Untuk kelanjutan penelitian dan pengamatan yang lebih mendalam perlu disarankan sebegai berikut:

1. Melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap reseptor leptin yang soluble karena reseptor leptin yang soluble diketahui berikatan dengan leptin disirkulasi sehingga dapat mengurangi konsentrasi dan aktifitas leptin yang bebas.

2. Melakukan pemeriksaan tambahan seperti hormone insulin karena insulin juga dapat mempengaruhi tekanan darah dan sintesis leptin.

(26)

Gambar

Gambar 4.1. Perbandingan kadar leptin pada obesitas viseral dan non viseral (p>0.05)
Gambar 4.2. Perbandingan rerata kadar leptin antara laki-laki dan perempuan pada
Gambar 4.3. perbandingan rerata kadar leptin antara kelompok obesitas viseral dan
Gambar 4.4. Perbandingan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada kelompok obesitas (p<0.05)
+4

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Dengan adanya sistem pendukung keputusan untuk menentukan pegawai teladan di UPT Puskesmas Pringsewu diharapkan akan sangat membantu dalam memberikan penilaian pegawai

Kayu yang tidak mengalami pengawetan dan yang mengalami pengawetan diuji Physical Properties dan Mechanical Propertiesnya menggunakan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI)

Metodologi penyusunan kurikulum e-learning yang digunakan untuk desain pembelajaran menggunakan model ADDIE dengan menggunakan pendekatan gaya belajar VARK dan

Pengujian kadar air, berat jenis, penyusutan, kuat geser, kuat tarik sejajar arah serat,.. kuat tarik berlawanan arah serat, kuat tekan sejajar arah serat, kuat tekan

Fokus utama dalam penelitian ini adalah pembuatan dan karakterisasi OFET berbasis film tipis CuPc dengan struktur bottom-contact dan panjang channel 1 00 μm

Dalam sebuah usaha sudah sepantasnya memiliki sebuah system yang membantu pelaku usaha dalam melakukan transaksi dan mencatat semua pemasukan yang dihasilkan dari usaha

Dengan orientasi akademik yang baru dan dengan kecenderungan global saat ini, barangkali sudah saatnya bagi PTI di Indonesia untuk beralih dari sekedar searching