• Tidak ada hasil yang ditemukan

this PDF file Perception of local community in surrounding of humanelephant conflict area to elephant conservation and their habitat in subdistrict of Lembah Seulawah, Aceh Besar | Abdullah | Jurnal Biologi Edukasi 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "this PDF file Perception of local community in surrounding of humanelephant conflict area to elephant conservation and their habitat in subdistrict of Lembah Seulawah, Aceh Besar | Abdullah | Jurnal Biologi Edukasi 1 PB"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

16 Jurnal Biologi Edukasi Edisi 19, Volume 9 Nomor 1, Juni 2017, hal 16-19

Persepsi masyarakat sekitar kawasan konflik gajah dengan manusia terhadap

konservasi gajah dan habitatnya di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar

Perception of local community in surrounding of human-elephant conflict area to

elephant conservation and their habitat in sub-district of Lembah Seulawah,

Aceh Besar

Abdullah, M. Ali S dan Putri Hilmayanti

Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala [email protected]

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia yang termasuk satwa langka dan tergolong endangered species. Hilangnya habitat, terjadinya degradasi, fragmentasi habitat dan juga eksploitasi sumber daya akibat aktivitas manusia telah mengakibatkan berkurangnya habitat untuk satwa liar besar tersebut. Fragmentasi habitat sering menyebabkan satwa liar kehilangan habitat aslinya. Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan gangguan habitat gajah Sumatera, (2) mengetahui tingkat kerusakan yang disebabkan oleh gajah Sumatera dan (3) mengetahui persepsi masyarakat sekitar kawasan konflik gajah-manusia terhadap konservasi gajah dan habitatnya di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh besar. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan subjek proportional sampling. Penelitian dilakukan di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar pada Mei 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan survey dan deep interview. Analisis gangguan habitat gajah Sumatera disajikan secara deskritif. Analisis tingkat kerusakan dengan skala mutu, dan analisis persepsi masyarakat dengan analisis chi-kuadrat. Hasil penelitian menujukkan bahwa (1) Gangguan areal perkebunan masyarakat di Kecamatan Lembah Seulawah antara 0,5% - 2%, (2) Kerusakan habitat di Gampong Panca dan Gampong Teuladan kategori sedang, sedangkan di Gampong Lamkubu kategori ringan dan (3) Persepi masyarakat sekitar kawasan telah baik (X2

hitung > X2tabel, (35,54 > 16,9) dan mendukung konservasi

gajah dan habitatnya. Masyarakat sekitar kawasan konflik gajah dengan manusia di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar masih mendukung konservasi terhadap gajah dan habitatnya. Persepsi ini dapat menjadi sumber positif dalam kegiatan konservasi gajah.

Kata kunci : gajah sumatera; konservasi; persepsi masyarakat; konflik gajah-manusia.

Abstract

Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) is one of Indonesia's biodiversity. This animal classified in endangered species. Habitat loss, degradation, habitat fragmentation and exploitation of resources due to human activities lead to the unavailability of habitat for wildlife. Fragmentation of wildlife habitat frequently cause loss of natural habitat. The purpose of this research are (1) to describe the Sumatran Elephant habitat disturbance, (2) to determine the extent of damage caused by the Sumatran Elephant and (3) to determine the local community perception sorrounding of human-elephant conflict area on the conservation of elephants and their habitats in Lembah Seulawah, Aceh Besar. Collecting data used descriptive research with quantitative approach and proportional sampling tehnique. The study was conducted in Lembah Seulawah, Aceh Besar in May 2016. The data collected using field survey, questionnaire and deep interview. Research data showed in descriptive and percentage. Analysis of the level of damage to the quality scale, and analysis of local community of perceptions using chi-square. The results of the study are (1) Disturbance plantation community in Lembah Seulawah between 0.5% - 2%, (2) Damage to habitat in Gampong Panca and Gampong Teuladan medium category, while Gampong Lamkubu is in lightweight category and (3) the public perception was good (X2count> X2table, 35.54> 16.9) and support to cponserve of sumatran elephant and their habitat.

Keywords : sumatran elephants; conservation; perception of local community; human-elephant

(2)

Abdullah, dkk: Persepsi masyarakat sekitar ...

17

Pendahuluan

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia yang termasuk satwa langka dan di khawatirkan akan punah (Alikodra, 2010). Oleh karena itu menangkap gajah ilegal di habitat aslinya, memelihara tanpa izin dan memperjual-belikannya merupakan tindakan melawan hukum. Gajah Sumatera sangat dikenal akrab oleh masyarakat Aceh, sejak tahun 25.000 SM sampai tahun 1937 pada masa Kesultanan Aceh M. Junus Djamil. Hewan ini sangat dimuliakan dan diberi julukan sebagai (pomerah) berarti ramah, baik dan luhur. Gajah sering dijadikan kendaraan para raja-raja pada upacara kerajaan.

Fragmentasi habitat sering menyebabkan satwa liar kehilangan habitat aslinya (Kumar, 2010). Forum Komunikasi Gajah Indonesia (FKGI) mengatakan bahwa pengelolaan manajemen habitat hutan Aceh sudah semakin buruk dan menyebabkan meluasnya konflik gajah dan manusia setiap tahunnya. Konflik ini meningkat hampir di sebagian besar kawasan daratan rendah Aceh.

Diharapkan informasi yang didapat dalam pengamatan ini akan bermanfaat untuk lembaga-lembaga yang menangani masalah konservasi Gajah Sumatera dan menjadi masukan untuk mencegah konflik yang berkepanjangan antara manusia dan Gajah Sumatera akibat dari terganggunya faktor-faktor fisik habitatnya.

Kondisi habitat gajah di kawasan hutan yang terdapat di Gampong Panca, Gampong Teuladan dan Gampong Lamkubu Kecamatan Lembah Seulawah, sebagian besar rusak. Spesies tumbuhan tempat gajah mendapatkan makanan telah hilang karena dirubah manusia. Hutan rusak 7,0% dari jumlah keseluruhan hutan di Aceh (Ahmad, 2013).

Gajah membutuhkan ruang atau wilayah jelajah (home range) yang sangat luas (Abdullah dkk, 2005). Aktivitas pembangunan tidak dapat .dipisahkan dari kehidupan manusia, seiring bertambah majunya dunia teknologi dan bertambah pesatnya pertumbuhan penduduk, maka kebutuhan akan lahan sebagai penunjang bagi tuntutan kebutuhan manusia seperti pangan, perumahan akan semakin luas.

Gajah Sumatera (Abdullah dkk, 2009). Sebagai konsekuensi dari penyempitan dan perusakan habitat alaminya, satwa langka ini

sering keluar dari habitatnya untuk mencari makanan di daerah pemukiman dan perkebunan yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Gajah Sumatera sangat dikenal akrab oleh masyarakat Aceh, sejak tahun 25.000 SM sampai tahun 1937 pada masa Kesultanan Aceh M. Junus Djamil. Hewan ini sangat dimuliakan dan diberi julukan sebagai (pomerah) berarti ramah, baik dan luhur. Gajah sering dijadikan kendaraan para raja-raja pada upacara kerajaan.

Pada tahun 2004 saat terjadi Stunami di Aceh, gajah ini sangat berperan dalam membantu masyarakat membersihkan jalan, sehingga masyarakat selalu berpresepsi baik terhadap gajah. Tahun 2005 sampai saat ini keberadaan gajah berbeda dengan sebelumnya. Masyarakat tidak menyambut baik kedatangan gajah tetapi memusuhi gajah dikarenakan konflik gajah manusia semakin tinggi. Kecamatan Lembah Seulawah ialah salah satu kawasan di Kabupaten Aceh Besar, yang sering terjadi konflik antara gajah dengan manusia.

Adanya permasalahan di atas, penulis tertarik melakukan penelitian di Gampong Panca, Gampong Teuladan dan Gampong Lamkubu Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Hal ini dikarenakan sering mengalami kerugian besar akibat konflik gajah manusia. maka perlu dilakukan penelitian yang berjudul “Persepsi Masyarakat Sekitar Kawasan Konflik Gajah-Manusia Terhadap Konservasi Gajah dan Habitatnya di Kabupaten Aceh Besar”.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuesioner dan wawancara. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuatitatif dan menggunakan subjek proportional sampling. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran terhadap deskripsi gangguan habitat dan persepsi masyarakat terhadap konflik gajah dengan manusia di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Selanjutnya data diolah secara kuantitatif dan dianalisis dengan menggunakan statistik Chi-kuadrat (Arikunto,2006).

Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

(3)

gajah-18 Jurnal Biologi Edukasi Edisi 19, Volume 9 Nomor 1, Juni 2017, hal 16-19

manusia di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Data di peroleh berasal dari angket yang dibagikan kepada 133 responden di 3 Gampong di Kecamatan Aceh Besar. Total responden adalah 400 KK.

Tabel Chi-kuadrat untuk mengetahui persepsi masyarakat sekitar kawasan konflik gajah-manusia terhadap konservasi gajah dan habitatya di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar:

Tabel 2. Hasil Chi-kuadrat Responden yang Pernah Mengalami Konflik

Diperoleh harga X2

hitung sebesar 200,48

(Tabel 2). Harga X2

tabel pada taraf signifikan

5% dengan derajat kebebasan 9 adalah 16,9. Sehingga dari nilai diatas diperoleh X2

hitung >

X2

tabel, (200,48 > 16,9).

Tabel 3. Hasil Chi-kuadrat Responden yang Tidak Pernah Mengalami Konflik

Diperoleh harga X2

hitung sebesar 35,54

(Tabel 3). Harga X2

tabel pada taraf signifikan

5% dengan derajat kebebasan 9 adalah 16,9. Sehingga dari nilai diatas diperoleh X2

hitung >

X2

tabel (35,54 > 16,9).

Hasil Wawancara

Dari hasil wawancara dengan beberapa masyarakat di Kecamatan Lembah Seulawah, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa masyarakat sangat tidak senang apabila gajah sering masuk ke pemukiman penduduk, hal ini sangat meresahkan warga. Selain meresahkan, warga juga merasa dirugikan dengan masuknya gajah, karena banyak merusak lahan pertanian atau perkebunan. Akan tetapi ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa sebenarnya gajah juga perlu mendapatkan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan. Warga sangat berharap kepada Pemerintah Aceh Besar dan pihak terkait agar lebih bijaksana dalam memahami keberadaan satwa liar disekitar masyarakat sehingga tindakan penanganan dan pencegahan konflik satwa liar dengan manusia dapat diselsaikan tanpa merugikan pihak masyarakat maupun konservasi satwa liar tersebut.

Penutup

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Jenis gangguan yang disebabkan oleh

konflik gajah manusia seperti merusak lahan perkebunan dan memakan tanaman yang di tanam sehingga mengakibatkan kerugian yang besar.

2. Ditinjau dari segi pengetahuann masyarakat di Gampong Panca, Gampong Teuladan dan Gampong Lamkubu sudah memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

3. Hasil analisis data Chi-kuadrat X2

hitung >

X2

tabel pada taraf 5% sehingga hipotesis

diterima, bahwa masyarakat yang terkena konflik gajah dengan masyarakat yang tidak terkena konflik gajah manusia di Gampong Panca, Gampong Teuladan dan Gampong Lamkubu di Kecamatan Lembah Seulawah telah memiliki tingkat persepsi yang baik.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:

(4)

Abdullah, dkk: Persepsi masyarakat sekitar ...

19

2. Perlu adanya tindakan strategis penyelamatan gajah dan habitat di Kecamatan Lembah Seulawah untuk mengatasi konflik gajah manusia yang berkepanjangan, agar masalah ini terselesesaikan dengan baik tanpa harus merugikan masyarakat sekitar dan hewan ini juga tidak dirugikan.

3. Pihak pengambil kebijakan disarankan memperhatikan dan memberi solusi serta tindak lanjut agar gajah tidak masuk kepemukiman sehingga gajah dan manusia dapat hidup berdampingan.

Daftar Pustaka

Abdullah, D.N. Choesin dan A.Sjarmidi. 2005. Estimasi Daya Dukung Pakan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temmick) di Kawasan Hutan Tessonilo.Bandung. Prov Riau. Jurnal Ekologi danBiodiversitas ITB. Vol. 4 No.2: 37-41.

Abdullah, D.N. Choesin dan A.Sjarmidi. 2009. Estimasi Daya Dukung Pakan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temmick) Berdasarkan Aktivitas Harian dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) Sebagai Solusi

Konflik dengan laha Pertanian. Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus: 3B (29-36).

Ahmad, H dan Romano. 2013. Upaya Pengembangan Agroforestry Sebagai Langkah Pengamanan Penyangga Hutan di Kabupaten Aceh Jaya. Jurnal Agrisep.Vol. 14 No.2: 28-31.

Alikodra, H.A. 2010. Teknik Pengelolaan Satwa Liar dalam Rangka Mempertahanka Keanekaragaman Hayati Indonesia. Bogor: IPB Press. Arikunto, S. 2006. Metodelogi Penelitian.

Yogyakarta: Bina Aksara.

IUCN. 2010. Red List of Threatened Spesies. Http://www.iucnredlist.org [diakses Desember 2015].

Kumar, A.M., Mudappa, D., Rahman, S.R.T. 2010.Asian Elephant Maximus Habitat Use and Ranging in Fragmented Rainforest and Plantations in The Anamalai Hills, India. Journal Tropical conservation Science. Vol 3 (2): 143-158.

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Gambar

Tabel 2. Hasil Chi-kuadrat Responden yang Pernah Mengalami Konflik

Referensi

Dokumen terkait

Transit rates in the canine upper small intestine were significantly different after oral administration of hyperosmotic glucose solution (20%, 200 mL) compared to the same volume

Hari ini anda akan meninggalkan kota Paris untuk perjalanan dengan pemandangan yang indah disepanjang pedesaan area Champagne, yang terkenal di dunia sebagai

dilakukan bertujuan untuk mendapatkan biogas dengan kualitas yang baik melalui proses purifikasi dengan cara menguji pengaruh penggunaan kain nilon dengan mengatur

Pelaksanaan Restocking dana APBD Kabupaten

Kemampuan Bakteri Em4 dan serbuk biji Moringa Oleifera dalam menaikkan pH Asam menjadi mendekati netral limbah cair Industri tempe dapat dilihat melalui grafik dengan

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH)

Teristimewa untuk bapak saya, Ibu saya yang selalu memberikan kasih sayang, doa, perhatian semangat serta dukungan selama saya menyelesaikan studi S1 Manajemen

Model kedua terdiri dari lima komponen Collage digambarkan dengan empat komponen seperti model pertama ditambah satu komponen kelima dari model rancangan pada gambar-5 dan