• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berb. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berb. pdf"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning (PBL) Mapel Prakarya Dan Kewirausahaan Bidang Kerajinan Sofa Botol

Plastik (SOBOPAS) Dengan Evaluasi Quipper

NASKAH

LOMBA INOVASI PEMBELAJARAN GURU PENDIDIKAN MENENGAH

TINGKAT NASIONAL TAHUN 2016

Oleh: JAENURI, S. Pd

NIP : 19741219 200701 1 007

SMA NEGERI 1 GRESIK

(2)
(3)

i

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdullilah, penulis panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwasannya telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran dengan judul “Optimalisasi Diskusi Problem Based Learning Sofa Botol Plastik Air Minum Kemasan (Sobopas) Dengan Evaluasi Quipper School Mata Pelajaran Prakarya Dan Kewirausahaan”.

Ucapan terima kasih dipersembahkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini, khususnyakepada:

1. Bapak Mahin, S. Pd, MM selaku Kepala Dinkas kabupaten Gresik;

2. Bapak Mustakim, S. S, M.Si Selaku Pengawas Sekolah Dinkas kabupaten Gresik

dan Validator;

3. Bapak Drs. Suswanto, MM selaku Kepala SMA Negeri 1 Gresik dan Validator; 4. Bapak / Ibu rekan kerja peneliti di SMA N 1 Gresik

5. Istri dan rekan kerja yang telah membantu baik dukungan moral maupun materi.

6. Siswa/i SMAN 1 Gresik yang menginspirasi penulis mewujudkan karya ilmiah ini.

Penulis sadar bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Dengan kerendahan hati penulis mohon kritik dan saran yang sifatnya konstruktif guna penyempurnaan karya ilmiah ini.

Gresik, Oktober 2016

(4)

ii

Halaman Judul ………..………….……… . i

Lembar Pengesahan ………..………..………….…. ii

Kata Pengantar ………..……….. iii

Daftar Isi ………..………. . iv

Daftar Lampiran ………..………. . v

Daftar Gambar ………..………..…... vi

Abstrak ………..………….………... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….. 1

B. Rumusan Masalah ………. 3

C. Tujuan Karya Tulis ……… 3

D. Manfaat Karya Tulis ………. …… 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning / Pbl) ……… 6

B. Kursi Sofa ………..……… 7

C. Botol Plastik ……… 9

D. Jenis – Jenis Botol ……… 11

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ………..………..…. 13

B. Prosedur Penelitian ………..…...……....….. 13

1. Tahap Pengembangan Perangkat pembelajaran ….. 13

2. Tahap Implementasi Perangkat pembelajaran …... 16

C. Subjek Penelitian …...………. 17

D. Waktu dan Tempat …...………. 17

E. Teknik Pengumpulan data dan Instrumen Penelitian ... 17

(5)

iii

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran ……… 21

B. Hasil Validasi perangkat pembelajaran ... 23

C. Hasil kepraktisan perangkat pembelajaran ………. 33

D. Hasil keefektifan perangkat pembelajaran ...……… 37

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN ……….…….. 42

B. SARAN ………. 42

(6)

iv 1. Biodata Peserta Lomba

(7)

v

DAFTAR GAMBAR

(8)

vi

Perkembangan dalam kegiatan proses belajar mengajar diharapkan siswa mengalami perubahan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi siswa dalam roses belajar mengajar yaitu metode yang digunakan guru dalam menyampaikan informasi/program diklat. Ketika metode yang digunakan tidak mengena terhadap siswa, mungkin saja tujuan yang diharapkan tidak tercapai.

Rumusan masalah dalam karya tulis ini, yaitu : 1)Bagaimanakah validitas perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS?, 2)Bagaimanakah kepraktisan perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS? dan 3)Bagaimanakah keefektifan perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS dengan evaluasi Quipper?

Hasil diskusi persoalan botol plastik yang akan di proses menjadi sofa SOBOPAS. Dari diskusi PBL semua kelompok disepakati desain lingkaran. Nilai rata-rata siswa pretest 68.75 menjadi 80. Data validasi silabus, RPP, LKS, pemahaman konsep dengan Quipper menyimpulkan Perangkat pembelajaran menggunakan model Diskusi berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS dilakukan sangat praktis, efektif dan dapat dikembangkan

(9)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banyak jenis sampah yang berasal dari bahan baku non biologis dan sulit terurai, sehingga seringkali menumpuk di lingkungan. Sampah anorganik atau disebut juga sampah kering sulit diuraikan secara alamiah, sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. Plastik tergolong ke dalam sampah anorganik yaitu: plastik bentuk botol, kantong dan sebagainya. Jenis sampah plastik adalah sampah yang paling banyak dibuang oleh masyarakat sekitar kita. Masyarakat menggunakan plastik untuk keperluannya sehari-hari seperti perorangan, toko, perusahaan besar maupun kecil. Pusat perbelanjaan pasti akan membutuhkan plastik untuk membawa barang belanjaan, jika plastik itu sudah tak terpakai apakah plastik itu akan disimpan atau dibuang begitu saja. Pembuangan sampah-sampah plastik kedalam air dan tanah telah menambah tingkat kesengsaraan alam.

Sekolah Menengah Atas (SMA; bahasa Inggris: Senior High School), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP atau sederajat). Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Pada saat pendaftaran masuk SMA ada sekolah menggunakan sistem online. Siswa dapat memilih sekolah yang diinginkan dan memilih jurusan pada jenjang SMK. Pada akhir tahun ketiga (yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti ujian nasional. Lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi atau langsung bekerja.

Dalam kurikulum 2013 terdapat mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Mata pelajaran ini terdapat pada kelompok C. Prakarya dapat dipahami sebagai pra-karya, yaitu sebuah proses sebelum terjadinya sebuah karya, termasuk di dalamnya pembinaan apresiasi dan produksi karya. Dalam Silabus Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan untuk tingkat SMA/MA/SMK/MAK dirancang untuk membekali insan Indonesia agar mampu:

(10)

kegiatan mengidentifikasi, memecahkan masalah, merancang, membuat, memanfaatkan, menguji, mengevaluasi, dan mengembangkan produk yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan yang dikembangkan pada mata pelajaran ini adalah: kemampuan pada tingkat meniru, memanipulasi (memodifikasi), mengembangkan, dan menciptakan serta merekonstruksi karya yang ada, baik karya sendiri maupun karya orang lain;

2. menemukan atau mengemukakan gagasan atau ide-ide yang mampu memunculkan bakat peserta didik, terutama pada jenjang pendidikan dasar; 3. mengembangkan kreatifitas melalui: mencipta, merancang, memodifikasi,

dan merekonstruksi berdasarkan pendidikan teknologi dasar, kewirausahaan dan kearifan lokal,

4. melatih kepekaan peserta didik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk menjadi inovator dengan mengembangkan: rasa ingin tahu, rasa kepedulian, rasa keindahan;

5. membangun jiwa mandiri dan inovatif peserta didik yang berkarakter: jujur, bertanggungjawab, disiplin, peduli dan toleransi;

6. menumbuhkembangkan pola pikir teknologis dan estetis: cekatan, ekonomis dan praktis.

Pembelajaran yang hanya menggunakan komunikasi satu arah dapat mengurangi kreativitas siswa dalam mengkonstruk pengetahuan dalam dirinya. Banyak siswa yang merasa bingung dan sulit mendalami dengan materi yang telah disampaikan guru, akibatnya siswa cenderung malas untuk mencari informasi dari luar atau dari berbagai sumber referensi. Hal ini bisa mempengaruhi pada kurangnya pemahaman konsep siswa terhadap materi yang diajarkan. Penerapan model pembelajaran sangat penting bagi siswa, karena minat dan perhatian dapat meningkatkan sehingga interaksi siswa dan guru berjalan. Materi disesuaikan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa agar mudah memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(11)

3 pembelajaran, antara lain: Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning),

Pembelajaran penemuan dan penyelidikan (Discovery-Inquiry learning), Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning (PBL) Mapel Prakarya Dan Kewirausahaan Bidang Kerajinan Sofa Botol Plastik (SOBOPAS) Dengan Evaluasi Quipper”.

Penelitian ini ditujukan kepada siswa kelas XI di SMAN 1 Gresik di Kabupaten Gresik tahun ajaran 2016/2017 dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang mengembangkan model pembelajaran diskusi berbasis PBL pada bidang kerajinan pokok bahasan sofa botol plastik air minum kemasan (SOBOPAS).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Bagaimana kelayakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS?

Untuk mencapai hal tersebut didukung beberapa hal yaitu:

1. Bagaimanakah validitas perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS?

2. Bagaimanakah kepraktisan perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS?

3. Bagaimanakah keefektifan perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS dengan evaluasi Quipper? C. Tujuan Penelitian

(12)

dan Kewirausahaan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis PBL pada bidang Kerajinan SOBOPAS?

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Guru

Diharapkan dapat memberikan manfaat berupa tersedianya perangkat pembelajaran yang layak sebagai penunjang pembelajaran menggunakan model pembelajaran PBL. Dengan adanya pengembangan perangkat ini diharapkan dapat membantu guru dalam mengorganisasikan kegiatan untuk siswa khususnya bidang kerajinan Sobopas.

2. Bagi Siswa

Dengan adanya perangkat pembelajaran yang dikembangkan menggunakan model pembelajaran PBL diharapkan terciptanya suasana belajar yang kondusif, inovatif dan menyenangkan sehingga memotivasi siswa agar aktif dalam pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan sehingga berpengaruh positif untuk mengatasi masalah yang ada di sekitar kita.

3. Bagi Peneliti

(13)

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING / PBL)

Model pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Seperti yang diungkapkan oleh Suyatno (2009 : 58) bahwa: ”Model pembelajaran berdasarkan masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru”.

Sedangkan menurut Arends (dalam Trianto 2007 : 68) menyatakan bahwa: ”Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri”. Model pembelajaran berdasarkan masalah juga mengacu pada model pembelajaran yang lain seperti yang diungkapkan oleh diungkapkan oleh Trianto (2007 : 68) : ”Model pembelajaran berdasarkan masalah) mengacu pada Pembelajaran Proyek (Project Based Learning), Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experience Based Education), Belajar Autentik (Autentic Learning), Pembelajaran

Bermakna (Anchored Instruction)”.

Berbagai pengembang menyatakan bahwa ciri utama model pembelajaran berdasarkan masalah ini dalam Trianto (2007 : 68) adalah: a. Pengajuan pertanyaan atau masalah.

Guru memunculkan pertanyaan yang nyata di lingkungan siswa serta dapat diselidiki oleh siswa kepada masalah yang autentik ini dapat berupa cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemontrasikan suatu kejadian yang mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan.

(14)

Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial) masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa dapat meninjau dari berbagi mata pelajaran yang lain.

c. Penyelidikan autentik.

Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah yang disajikan. Metode penyelidikan ini bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.

d. Menghasilkan produk atau karya.

Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer e. Kolaborasi.

Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama untuk terlibat dan saling bertukar pendapat dalam melakukan penyelidikan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan.

Pada Model pembelajaran berdasarkan masalah terdapat lima tahap utama yang dimulai dengan memperkenalkan siswa tehadap masalah yang diakhiri dengan tahap penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Kelima tahapan tersebut disajikan dalam bentuk tabel (dalam Nurhadi, 2004:111) Tabel 1. Sintaks Model pembelajaran berdasarkan masalah

Fase Indikator Aktifitas / Kegiatan Guru

1 Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menampilkan logistik yang diperlukan, pengajuan masalah, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefenisikan dan

mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

3 Membimbing

penyelidikan individual maupun kelompok

(15)

9 7

4 Mengembangkan dan

menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan kelompoknya.

5 Menganalisa dan

mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.

B. KURSI SOFA

Secara fisik sofa umumnya terdiri dari tiga dudukan (three seaters), dua dudukan (two seaters)-lazim disebut dengan istilah love seats, dan satu dudukan (one seater). Faktor kekuatan mengandalkan konstruksi rangka kayu yang berkualitas, busa dan per berfungsi membentuk sandaran dan dudukan-keseluruhannya mengambil bagian dari keindahan desain dan kenyamanannya.

Sofa berasal dari bahasa Arab: soffah, sementara dalam bahasa Inggris disebut couch, atau dalam bahasa Perancis: coucher, dan bahasa Turkinya divan. Sejak dulu sofa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia. Bagi bangsa Mesir dan Yunani kuno, sofa menjadi status simbol-mengamati sofa yang digunakan Tutankhamen, tinggi sofa menjadi ukuran yang menentukan status simbol pemiliknya.

Jika merunut sejarah, sofa sudah dikenal sejak zaman Romawi. Fungsinya pun hingga kini tidak jauh bergeser. Hanya saja, jika dulu sofa lebih dimonopoli oleh kaum bangsawan tapi kini hampir semua masyarakat dari berbagai kalangan sudah mampu memilikinya.

Menarik perhatian adalah John Collier (1850-1934) dalam lukisannya The Death of Cleopatra yang memberikan ilustrasi sofa pada zaman itu yang mengadopsi anatomi tubuh binatang dan melayani fungsi yang sangat unik, yaitu sebagai tempat membaringkan mayat. Adapun masyarakat Yunani kuno menggunakan sofa sebagai bagian dari meja makan dan tempat berbaring pada siang hari.

(16)

Munculnya penemuan baru di Eropa juga memengaruhi desain sofa. Di satu sisi ukiran semakin terelaborasi, di sisi lain karakter industri mulai berkembang. Dampak zaman modern mengantar penemuan material dan bahan kayu yang menjadikan sofa semakin terjangkau masyarakat umum. Konsekuensinya, citra sofa sebagai status simbol bergerak menjadi mebel milik umum.

Kenyataan ini membuat para desainer, seperti Le Corbusier, Mies van der Rohe, dan Marcel Breuer, masa itu melahirkan desain sofa yang menerjemahkannya dengan nilai estetika tinggi melalui perpaduan bahan galian industri: metal dengan bahan alami kulit.

Gambar 1. Sofa Modern Classic http://www.sofa.co.id/model/sofa-modern-classic/

(17)

9 C. Botol Plastik

Botol adalah tempat penyimpanan dengan bagian leher yang lebih sempit dari pada badan dan "mulut"-nya. Botol umumnya terbuat dari gelas, plastik, atau aluminium, dan digunakan untuk menyimpan cairan seperti air, susu, minuman ringan, bir, anggur, obat, sabun cair, tinta, dll. Botol dari plastik biasanya dibuat secara ekstrusi. Alat yang digunakan untuk menutup mulut botol disebut tutup botol (eksternal) atau sumbat (internal). Botol dapat juga ditutup dengan cara segel industri.

Botol plastik memang memberikan kesan simple dan mudah dibawa kemana saja. Design botol yang unik serta minimalis tidak jarang membuat para peminumnya menyimpan botol tersebut untuk kembali digunakan. Untuk menghilangkan aroma dan rasa, biasanya botol akan dicuci terlebih dahulu lalu kemudian digunakan hingga berulang-ulang kali.

Tanpa disadari kebiasaan ini akan berdampak buruk bagi kesehatan. Botol plastik bekas yang digunakan berulang-berulang berpotensi menyebabkan penyakit. Mulai dari penurunan daya tahan tubuh sampai kanker payudara dan prostat.

Jenis – Jenis Botol Plastik

a. PETE atau PET (polyethylene terephthalate)

PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik tembus pandang/transparan seperti botol air mineral, botol minuman, botol jus, botol minyak goreng, botol kecap, botol sambal, botol obat, dan botol kosmetik dan hampir semua botol minuman lainnya.

b. HDPE (high density polyethylene)

HDPE (high density polyethylene) memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE biasa dipakai untuk botol kosmestik, botol obat, botol minuman, botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan jerigen, pelumas. Walaupun demikian HDPE hanya direkomendasikan untuk sekali pakai, karena pelepasan senyawa SbO3(Antimon Trioksida) terus meningkat seiring waktu.

(18)

PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Jenis plastic PVC ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), untuk mairan, selang, pipa bangunan, taplak meja plastik, botol kecap, botol sambal dan botol sampo. PVC mengandung DEHA yang berbahaya bagi kesehatan. Makanan yang dikemas dengan plastik berbahan dapat terkontaminasi karena DEHA melebur/ lumer pada suhu -150C. DEHA juga mudah melebur jika terdapat kontak antara permukaan plastik dengan minyak.

d. LDPE (low density polyethylene)

LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. LDPE dipakai untuk tutup plastik, kantong / tas kresek dan plastik tipis lainnya. Walaupun baik untuk tempat makanan, barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan. Selain itu pada suhu di bawah 600C sangat resisten terhadap senyawa kimia.

e. PP (polypropylene)

Plastik jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, tutup botol, cup plastik, mairan anak, botol minumdan yang terpenting, pembuatan botol minum untuk bayi. Bahan yang terbuat dari PP memiliki sifat yang elastis, yaitu apabila ditekan akan kembali ke bentuk semula. Karakteristik plastik jenis ini transparan dan cenderung berawan (keruh).

f. PS (polystyrene)

(19)

11 D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. RPP dirancang dan dikembangkan oleh guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar dalam upaya menjabarkan silabus ke dalam rencana tindakan yang jelas dan rinci.

Menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014 prinsip pengembangan RPP yang disusun oleh guru yang mengacu pada silabus meliputi:

a. Memuat secara utuh kompetensi dasar sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan;

b. Dapat dilaksanakan dalam satu atau lebih dari satu kali pertemuan; c. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik;

d. Berpusat pada peserta didik; e. Berbasis konteks;

f. Berorientasi kekinian;

g. Mengembangkan kemandirian belajar;

h. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran;

i. Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antar kompetensi dan/atau antar muatan; dan

j. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan menggunakan pendekatan saintifik. Pembelajaran dapat menggunakan dengan model-model pembelajaran, antara lain: Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning),

Pembelajaran penemuan dan penyelidikan (Discovery-Inquiry learning), Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).

Penilaian mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dilakukan terhadap:

(20)

didasari oleh rasa ingin tahu dalam menciptakan peluang

 kreativitas dan inovasi

 kemampuan memproduksi ide dan menetapkan ide berdasarkan syarat kebaruan

 karya desain dan gambar rancangan produk

(21)

13

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan metode Research and Development (R&D) oleh Borg and Gall. Metode penelitian

pengembangan dengan metode Research and Development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2013)

B. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yaitu : 1. Tahap Pengembangan Perangkat Pembelajaran

a. Metode Pengembangan Perangkat

Pada penelitian ini menggunakan metode pengembangan perangkat pembelajaran R&D yang dikembangkan Borg and Gall. Menurut Borg and Gall menjelaskan empat ciri utama karakteristik R&D sebagai berikut: (1) studying research findings (penelitian awal untuk mendukung produk yang akan dibuat); (2) developing the product (mengembangkan produk); (3) field testing (uji lapangan) ; dan (4) revising (merevisi kekurangan yang ditemukan setelah uji lapangan).

Selain itu karakteristik R&D memiliki : (1) R&D bertujuan untuk menghasilkan produk dalam berbagai aspek pembelajaran dan pendidikan; (2) proses pelaksanaan R&D diawali dengan studi atau survei pendahuluan; (3) proses pengembangan dilakukan secara terus-menerus dengan menggunakan instrumen penelitian catatan lapangan dan catatan observasi; dan (4) pengujian validasi dilakukan untuk menguji keandalan yang dilihat dari proses pembelajaran maupun dilihat dari hasil belajar.

(22)

Gambar 3.1 Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model R&D

Penjelasan dari tiap tahapan pengembangan perangkat pembelajaran sebagai berikut:

a. Tahap Potensi dan Masalah

Tahap potensi dan masalah dilakukan dengan cara menganalisis semua potensi dan masalah-masalah yang terdapat di sekolah. Dalam penyampaian materi kerajinan, (1) guru masih mendominasi dengan ceramah, disamping metode tanya jawab; (2) siswa diarahkan pada kemampuan menghafal dan menerima berbagai informasi, tanpa menghubungkan informasi tersebut dengan kehidupan sehari-hari; dan (3) dalam kegiatan belajar mengajar, siswa kurang percaya diri/kurang keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru.

b. Tahap Pengumpulan Data

Setelah potensi dan masalah ditunjukkan maka dilakukan perencanaan pengembangan perangkat pembelajaran berdasarkan kurikulum dan kompetensi pembelajaran yang akan dicapai. Untuk memenuhi hal ini dilakukan studi literatur berupa pengumpulan data yang digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dengan mengacu pada Permendikbud No. 24 Tahun 2013 Tentang Kurikulum 2013 SMA/SMK/MA. Berdasarkan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pada Permendikbud No. 24 Tahun 2013, maka disusun indikator dan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran disusun berdasarkan indikator yang telah dibuat. Berkaitan dengan bidang kerajinan dengan pokok bahasan sofa botol plastik air minum kemasan.

Potensi dan Masalah Pengumpulan data Desain produk Validasi desain

Revisi desain Uji coba produk

Revisi produk Saran

Data

Produk (Perangkat Pembelajaran) Data Analisis

(23)

15

Berkaitan dengan pokok bahasan sofa botol plastik air minum kemasan tersusun dalam RPP (lihat Lampiran 1).

c. Tahap Desain Produk

Adapun tahap-tahap desain produk adalah sebagai berikut: (1) menentukan KI dan KD yang sesuai dengan pembelajaran bidang kerajinan; (2) menyusun KI, KD, indikator, tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan bidang kerajinan dalam Silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (3) menyusun indikator dan aspek penilaian keterampilan untuk mengukur keterampilan proses pada siswa yang dilatihkan dengan menggunakan LKS; (4) menyusun dan mengemas materi bidang kerajinan pokok bahasan sobopas; (5) menyusun indikator dan aspek penilaian sikap spiritual dan sosial untuk mengukur penilaian sikap spiritual dan sosial pada siswa; (6) menyusun butir-butir tes untuk mengukur kemampuan pengetahuan siswa; dan (7) menelaah semua perangkat pembelajaran yang telah dibuat mencakup silabus, RPP, LKS, dan penilaian hasil belajar siswa, bersama pakar / ahli.

d. Tahap Validasi Produk

Tahap ini dilakukan dengan tujuan menilai kualitas perangkat pembelajaran, meliputi: validasi silabus, validasi RPP, validasi LKS, dan validasi penilaian hasil belajar siswa. Selain itu, tahap validasi produk dilakukan untuk memperoleh umpan balik dari pakar pendidikan terhadap koreksi dari perangkat pembelajaran yang dikembangkan sebagai upaya menyempurnakan rancangan awal perangkat pembelajaran.

e. Tahap Revisi Produk

Tahap ini dilakukan perbaikan pada hal-hal yang kurang dan perlu perbaikan dari perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Setelah dilakukan perbaikan dari perangkat pembelajaran yang telah divalidasi menghasilkan perangkat pembelajaran yang valid.

f. Tahap Uji Coba Produk

(24)

kepraktisan terhadap penggunaan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dilihat dari keterlaksanaan pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dan hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran; dan (2) keefektifan penggunaan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan diukur dari perolehan hasil belajar siswa serta respon siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Uji coba dilakukan kepada 32 orang siswa kelas XI SMAN 1 Gresik tahun pelajaran 2016/2017.

g. Tahap Revisi Produk

Pada tahap ini dilakukan perbaikan pada hal-hal yang kurang dan perlu perbaikan. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, sehingga produk yang dihasilkan berupa perangkat pembelajaran yang telah dilakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan atas saran/masukan.

2. Tahap Implementasi Perangkat Pembelajaran

Adapun langkah-langkah dalam penelitian yang akan dilakukan yaitu:

1. Memberikan pretest untuk mengukur variabel terikat sebelum perlakuan (O1),

2. Memberikan perlakuan kepada siswa,

3. Memberikan postest untuk mengukur variabel terikat setelah perlakuan (O2).

Jadi dalam pelaksanaan uji coba sesungguhnya, sebuah kelompok yang diukur dan diamati tidak hanya setelah perlakuan, tetapi juga sebelum perlakuan. Rancangan penelitian ini dapat digambarkan:

Keterangan :

O1 : Uji awal, untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap

materi pembelajaran bidang kerajinan sebelum diberikan pembelajaran menggunakan model PBL

(25)

17 X : Perlakuan pembelajaran yang mengembangkan perangkat

pembelajaran yang mencakup silabus, RPP, LKS, dan penilaian belajar siswa, pada pokok bahasan kerajinan sofa botol plastik. O2 : Uji akhir, untuk mengetahui hasil belajar dan tingkat penguasaan

siswa terhadap materi pembelajaran setelah pembelajaran menggunakan model PBL, serta hasil uji coba perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi: keterlaksanaan RPP, aktivitas siswa, hambatan selama pembelajaran, dan respon siswa.

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran yang dikembangkan, karena dalam penelitian ini mengembangkan bahan ajar yang mencakup silabus, RPP, LKS, dan penilaian hasil belajar siswa yang akan diujicobakan kepada siswa kelas XI SMAN 1 Gresik tahun pelajaran 2016/2017 pada kerajinan sobopas.

D. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian uji coba sesungguhnya dilaksanakan pada tahun pelajaran 2016/2017, pelaksanaan uji coba ini masing-masing dilakukan sebanyak dua kali pertemuan ditambah pretes dan postes, dengan tempat penelitian di SMAN 1 Gresik, Jawa Timur. Terkait dengan tempat penelitian di SMAN 1 Gresik dipilih karena berdasarkan observasi awal bahwa sekolah tersebut siswanya kurang memiliki minat dan motivasi dalam mengikuti kegiatan.

E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Validasi

Teknik validasi digunakan untuk memperoleh informasi tentang validitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan, meliputi: silabus, RPP, LKS, dan lembar penilaian.

(26)

Teknik dokumentasi digunakan untuk mencari data-data mengenai: nama siswa sebagai subyek penelitian; nilai tes siswa sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran; foto/vidio siswa pada saat pembelajaran; serta data pendukung lain yang diperlukan.

3. Pengamatan

Pengamatan digunakan untuk memperoleh data penelitian yang berkenaan dengan keterlaksanaan RPP, aktivitas siswa, penilaian sikap dan keterampilan siswa, dan hambatan selama pembelajaran. Pengamatan ini dilakukan oleh dua orang pengamat dengan teknik interobserver agreement, yaitu pengamatan untuk variabel yang sama

dengan lembar instrumen yang sama tetapi dilakukan oleh dua orang yang berbeda. Sebelum pengamatan dilakukan, kedua pengamat terlebih dahulu dilatih bagaimana cara menggunakan lembar pengamatan yang baik.

4. Pemberian Penilaian Hasil Belajar

Pemberian penilaian hasil belajar meliputi: penilaian sikap (spiritual dan sosial), penilaian pengetahuan (pretest dan postest sesuai dengan indikator dan tujuan yang dikembangkan oleh peneliti) dan penilaian keterampilan (sebelum dan sesudah dilatihkan keterampilan proses berdasarkan indikator dan tujuan yang dikembangkan oleh peneliti). Penilaian hasil belajar digunakan untuk mengukur atau mengetahui adanya kontribusi model pembelajaran berbasis PBL.

5. Pemberian Pengkategorian Penilaian Perangkat Pembelajaran Interval skor Kategori Penilaian Keterangan 3,6 ≤ SV < 4,0 Sangat valid Dapat digunakan tanpa revisi

2,6 ≤ SV < 3,5 Valid Dapat digunakan dengan sedikit

F. Instrumen Penelitian

(27)

19 1. Instrumen Validasi Perangkat Pembelajaran

Instrumen validasi perangkat pembelajaran berupa lembar validasi. Lembar validasi digunakan untuk meminta penilaian, pertimbangan, dan masukan dari para pakar terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti. Komponen-komponen yang akan divalidasi/dinilai oleh para pakar, meliputi: silabus, RPP, LKS, dan lembar penilaian.

2. Instrumen Kepraktisan Perangkat Pembelajaran

Instrumen kepraktisan perangkat pembelajaran terdiri dari: a. Lembar Pengamatan Keterlaksanaan Pembelajaran

Lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran berisi penilaian terhadap langkah-langkah kegiatan pembelajaran sesuai (RPP) yang menggunakan skala likert dan check list. Pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dilakukan oleh dua pengamat.

b. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa

Lembar pengamatan aktivitas siswa berisi penilaian terhadap aktivitas atau kegiatan yang dilakukan siswa setiap 5 menit selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Aktivitas siswa merupakan keterlibatan siswa sesuai dengan tahap-tahap pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran PBL. Adapun aktivitas-aktivitas siswa yang diamati meliputi:

1. Fase Assurance : memperhatikan, bertanya, menyampaikan pendapat.

2. Fase Relevance : mendengarkan penjelasan guru.

3. Fase Interest: melaksanakan percobaan, mengumpulkan data, menganalisis data, mempresentasikan hasil data yang diperoleh.

4. Fase Assessment : menjawab pertanyaan.

5. Fase Satisfaction : menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran. 3. Instrumen Keefektifan Perangkat Pembelajaran

Instrumen keefektifan perangkat pembelajaran terdiri dari:

1). Instrumen Penilaian Sikap

(28)

yang diwujudkan dalam perilaku sebagai bagian dari pembelajaran yang disertai rubrik.

2). Instrumen Penilaian Pengetahuan

Instrumen untuk penilaian pengetahuan merupakan alat penilaian terhadap penguasaan atau pemahaman siswa darimateri pembelajaran. Instrumen untuk penilaian pengetahuanberupa soal tes pengetahuan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada siswa untuk mendapatkan jawaban dari siswa dalam bentuk tes tertulis secara on line.

3). Instrumen Penilaian Keterampilan

Instrumen untuk penilaian keterampilanmerupakan alat penilaian terhadap keterampilan siswa dalam memperoleh informasi dari materi yang diajarkan yang disertai rubrik.Penilaian keterampilan berupa tes penilaian keterampilan sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi hasil eksperimen

4. Analisa Perbedaan Perolehan Hasil Belajar Anatara Sebelum PBL Dan Sesudah

pbl.

Menentukan Hepotesa uji t dalam 2 kelompok atau 2 sampel

1. Uji dua arah. pada hipotesis awal tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata1 dan rata-rata2.sedangkan pada hipotesis alternatif sebaliknya yaitu terdapat perbedaan rata-rata 1 dan rata-rata

2. Uji satu arah dimana pada hipotesis awal kelompok/sampel 1 memiliki rata-rata sama dengan atau lebih besar dengan rata-rata-rata-rata kelompok 2.

sedangakan hipotesis alternatif rata-rata kelompok 1 lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata kelompok 2.

(29)

21 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Pengembangan ini menghasilkan perangkat pembelajaran yang telah divalidasi oleh para pakar sebelum diujicobakan. Pada uji coba sesungguhnya dilakukan sebagai uji coba lanjutan atas penggunaan produk yang telah di revisi dari hasil uji coba terbatas, terdiri dari:

1. Silabus

Silabus yang dikembangkan memuat: (1) identitas sekolah, mata pelajaran, dan kelas; (2) Kompetensi Inti (KI); (3) Kompetensi Dasar (KD); (4) kegiatan pembelajaran; (5) penilaian; (6) alokasi waktu; dan (7) sumber belajar. Selain memuat komponen-komponen tersebut, silabus yang dikembangkan peneliti menambahkan: (1) indikator pembelajaran di dalam unsur silabus, hal ini bertujuan untuk mempermudah siswa dalam pencapaian Kompetensi Dasar (KD) setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dan; (2) kegiatan pembelajaran dalam silabus peneliti memasukkan model pembelajaran Diskusi Berbasis Problem Based Learning dengan menggunakan pendekatan pembelajaran saintifik.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Kegiatan pembelajaran dalam RPP disesuaikan dengan indikator pembelajaran. RPP yang dikembangkan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan digunakan sebagai dasar alat penilaian. RPP yang dikembangkan peneliti memuat komponen tersebut dan menggunakan model pembelajaran Diskusi PBL dengan menggunakan pendekatan pembelajaran saintifik

3. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

(30)

Mengorganisasikan siswa untuk belajar, Guru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. 3) Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapat penjelasan pemecahan masalah. 4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan kelompoknya. 5) Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.

4. Penilaian hasil belajar

(31)

23 B. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran

Hasil validasi perangkat pembelajaran meliputi: 1. Analisis Hasil Validasi Silabus

Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Silabus yang dikembangkan dalam penelitian ini memasukkan unsur dari model pembelajaran PBL. Validasi silabus dilakukan oleh dua orang validator yang merupakan pengawas sekolah dan kepala sekolah SMAN 1 Gresik. Silabus yang dikembangkan terdapat pada Lampiran 1. Tabel 4.1 dan hasil penilaian pakar terhadap silabus dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.1 Revisi Silabus Berdasarkan Hasil Validasi Silabus yang

direvisi

Sebelum direvisi Setelah direvisi

Kegiatan

Indikator sikap spiritual belum operasional.

Indikator sikap spiritual telah dibuat operasional.

Tabel 4.2 Analisis Hasil Validasi Silabus

No Aspek Penilaian Penilai Rata-rata

Skor Kategori

V1 V2

1 Penyusunan Silabus

a. Materi pokok 4 4 4 SV

b. Kesesuaian materi dengan

Kompetensi Dasar 3 3 3 V

c. Kegiatan pembelajaran 3 4 3,5 V

d. Indikator 3 3 3 V

e. Penilaian 4 4 4 SV

f. Sumber pembelajaran 4 4 4 SV

Rata-rata aspek penyusunan silabus 3,6 SV

2 Materi

(32)

V1 V2

Rata-rata aspek kegiatan pembelajaran 3,5 SV

4 Indikator

Rata-rata aspek indikator 3,5 V

5 Penilaian

Penilaian disesuaikan dengan

indikator pencapaian 4 3 3,5 V

Rata-rata aspek penilaian 3,5 V

6 Alokasi waktu

Rata-rata aspek alokasi waktu 3 SV

7 Sumber belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan pada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

4 4 4 SV

Rata-rata aspek sumber belajar 4,00 SV

(33)

25

Gambar 4.1 Diagram Validasi Silabus

Berdasarkan hasil penilaian oleh para validator, diperoleh informasi bahwa skor rata-rata setiap aspek yang dinilai oleh kedua validator pada silabus memiliki rentang 3,00 sampai 4,00. Dari skor rata-rata yang diperoleh, secara umum silabus yang dikembangkan dikategorikan valid dan dapat dipergunakan dengan sedikit revisi.

2. Hasil Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. RPP yang dikembangkan berbasis model pembelajaran Diskusi berbasis PBL yang dilakukan dalam dua kali pertemuan. Validasi RPP dilakukan oleh dua orang validator yang merupakan pengawas sekolah dan kepala sekolah SMAN 1 Gresik. Hasil Validasi ada pada lampiran 2. Adapun revisi RPP berdasarkan hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan hasil penilaian validator terhadap RPP dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.3 Revisi RPP Berdasarkan Hasil Validasi

RPP yang direvisi Sebelum direvisi Setelah direvisi

Langkah-langkah proses pembelajaran

Langkah pembelajaran belum sesuai dengan permendikbud

Memperbaiki langkah proses pembelajaran pada kegiatan awal dan kegiatan inti

Materi pembelajaran Belum dilengkapi dengan remidial

(34)

Tabel 4.4 Analisis Hasil Validasi RPP

No Aspek Penilaian Penilai Rata-rata

Skor Kategori V 1 V 2

1 Identitas RPP

a. Judul 4 4 4 SV

b. Satuan Tingkat Pendidikan (Nama

lengkap) 4 4 4 SV

c. Mata pelajaran 4 4 4 SV

d. Kelas/semester 4 4 4 SV

e. Alokasi waktu 4 4 4 SV

Rata-rata aspek penyusunan silabus 4 SV

2 Tujuan RPP

a. Menuliskan Kompetensi Inti (KI) 4 4 4 SV

b. Menuliskan Kompetensi Dasar

(KD) 4 4 4 SV

c. Indikator pencapaian penjabaran Kompetensi dituliskan secara operasional

3 3 3 V

d. Tujuan pembelajaran sesuai indikator dan dituliskan secara

a. Materi pembelajaran sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik

4 4 4 SV

b. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu)

4 3 3,5

SV

Rata-rata aspek kegiatan pembelajaran 4 SV

4 Media, Alat / Bahan dan Sumber Belajar

a. Media menunjang kegiatan pembelajaran

4 4 4

SV b. Menuliskan sumber pembelajaran

yang dipakai di RPP

4 4 4

SV c. Alat dan sumber belajar kegiatan

pembelajaran

4 3 3,5

SV

Rata-rata aspek indikator 4 SV

5 Langkah – langkah / Skenario Pembelajaran

a. Memperhatikan pengetahuan awal siswa

4 4 4

SV b. Merencanakan proses

pembelajaran konsep dan teori bermula dari konkrit ke abstrak

3 4 3,5 V

c. Merencanakan proses

pembelajaran student centered 4 4 4

(35)

No Aspek Penilaian Penilai Rata-rata

Skor Kategori V 1 V 2

d. Langkah-langkah dalam kegiatan sesuai dengan model

pembelajaran PBL

4 4 4 SV

e. Menekankan kegiatan siswa untuk berdiskusi dalam menciptakan

Rata-rata aspek penilaian 4 SV

6 Penilaian On Line (QUIPPER)

a. Penilaian sesuai dengan indikator atau tujuan pembelajaran

4

4 4 SV

b. Pengulangan soal sampai tercapai

tujuan pembelajaran 4

Rata-rata aspek sumber belajar 4 SV

Keterangan

(36)

Berdasarkan hasil penilaian oleh para validator, diperoleh informasi bahwa skor rata-rata setiap aspek yang dinilai oleh kedua validator pada RPP memiliki rentang 3,8 sampai 4,00. Dari skor rata-rata yang diperoleh, secara umum validitas RPP yang dikembangkan dikategorikan valid dan dapat dipergunakan dengan sedikit revisi. Adapun revisi dari validator adalah Memperbaiki langkah proses pembelajaran pada kegiatan awal dan kegiatan inti dan remidial dilakukan oleh sistem quipper. Dengan demikian, RPP yang dikembangkan setelah dilakukan revisi dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

3. Hasil Validasi Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah suatu pedoman kegiatan yang pembelajaran dikembangkan peneliti dan diberikan kepada siswa. Tujuannya untuk belajar dan mempermudah siswa dalam memahami konsep materi yang dipelajari. LKS yang dikembangkan berbasis diskusi model pembelajaran PBL, dengan mengacu pada indikator pembelajaran yang sudah dirumuskan pada RPP. Validasi LKS dilakukan oleh dua orang validator yang merupakan pengawas sekolah dan kepala sekolah SMAN 1 Gresik. Hasil Validasi ada pada lampiran 2. Adapun revisi LKS berdasarkan hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan hasil penilaian validator terhadap RPP dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.7 Revisi LKS Berdasarkan Hasil Validasi

LKS Sebelum direvisi Setelah direvisi

Kelayakan Isi Kelengkapan penjabaran

untuk usaha.

Dilengkapi langkah praktis peluang usaha skala menengah

Pertanyaan Kesalahan penulisan Penulisan disesuaikan dengan

EYD

Tabel 4.8 Tabel Analisis Hasil Validasi LKS

No Aspek Penilaian Penilai Nilai Kategori

( V1 ) ( V2 ) 1 Syarat – Syarat didaktik

a. Petunjuk dinyatakan dengan jelas 4 4 4 SV

b. Kegiatan mendukung pemahaman

konsep 4 4 4 SV

c. Kegiatan dikaitkan dengan kehidupan

nyata 4 4 4 SV

(37)

No Aspek Penilaian Penilai Nilai Kategori ( V1 ) ( V2 )

2 Kelayakan Isi

a. Kebenaran konsep/materi 4 4 4 SV

b. Kesesuaian dengan perkembangan

ilmu 3 4 3,5 V

c. Menggunakan kalimat sederhana,

jelas, dan mudah dipahami 3 4 3,5 V

d. Menunjang terlaksananya proses belajar mengajar yang lebih berpusat pada siswa

4 4 4 SV

e. Melatihkan keterampilan proses 4 3 3,5 SV

f. Mendorong untuk mencari informasi

lebih lanjut 4 4 4 SV

Rata-rata aspek materi 4 V

3 Prosedur

a. Urutan kerja 4 4 4 SV

b. Bahasa urutan kerja 4 4 4 SV

Rata-rata aspek kegiatan pembelajaran 4 SV

4 Pertanyaan

a. Kesesuaian pertanyaan dengan tujuan pembelajaran LKS dan RPP

4 4 4

Rata-rata aspek indikator 4 SV

(38)

Gambar 4.3 Diagram Validasi LKS

Berdasarkan hasil penilaian oleh para pakar, diperoleh informasi bahwa skor rata-rata setiap aspek yang dinilai oleh kedua validator pada LKS memiliki 4,00. Dari skor rata-rata yang diperoleh, secara umum validitas LKS yang dikembangkan dikategorikan Sangat valid dan dapat dipergunakan dengan sedikit revisi. Adapun revisi dari validator adalah perbaikan kalimat disesuaikan dengan ejaan disempurnakan. Dengan demikian, LKS yang dikembangkan setelah dilakukan revisi dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

4. Validasi Hasil Pemahaman Pengetahuan, Sikap, dan Penugasan/Keterampilan

(39)

31 Tabel 4.9 Revisi Lembar Penilaian Sikap Berdasarkan Hasil Validasi

Lembar penilaian

Pemahaman Pengetahuan, Sikap, dan Penugasan / Keretampilan yang direvisi

Sebelum direvisi Setelah direvisi

Pengetahuan Kesalahan penulisan

pada option jawaban

Perbaikan pada post test

Sikap Pelaksanaan agak sulit

karena per kelompok

Instrumen di tambahkan per siswa

Keterampilan Kelengkapan penjabaran

untuk usaha.

Dilengkapi langkah praktis

peluang usaha skala

menengah

Tabel 4.10 Analisis Hasil Tabel Pemahaman Pengetahuan, Sikap, dan Penugasan / Keretampilan dengan jenis sekolah dan tingkatanya

3 3 3 V

d. Rumusan butir soal tidak menimbulkan penafsiran ganda

3 4 3,5 V

e. Penilaian Langsung

tampak pada siswa 4 4 4 SV

f. Dilengkapi dengan sistem remidial pada butir nomor yang belum tuntas

4 4 4 SV

Rata-rata aspek penyusunan silabus 3,67 SV

2 Sikap

a. Konsep aspek penilaian di buat relevan dan rasa ingin tahu dan tidak menimbulkan penafsiran

(40)

( V1 ) ( V2 )

ganda

c. Bahasa instrumen aspek sikap spiritual, jujur, dan rasa ingin tahu sesuai kaidah bahasa yang baik

4 4 4 SV

Rata-rata aspek materi 3,67 V

3 Penugasan / Keterampilan

a. Konsep aspek penilaian keterampilan dapat

Rata-rata aspek kegiatan pembelajaran 3,67 SV

Keterangan lembar penilaian sikap ditunjukkan pada Gambar 4.4

Gambar 4.4 Diagram Pemahaman Pengetahuan, Sikap, dan Penugasan / Keretampilan

(41)

33

Pengetahuan, Sikap, dan Penugasan / Keretampilan yang dikembangkan dikategorikan Sangat valid dan dapat dipergunakan dengan sedikit revisi. Adapun revisi dari validator adalah Perbaikan pada post test, Instrumen di tambahkan per siswa, Dilengkapi langkah praktis peluang usaha skala menengah. Dengan demikian, yang dikembangkan setelah dilakukan revisi dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

C. Hasil Kepraktisan Perangkat Pembelajaran 1. Keterlaksanaan Pembelajaran

Pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dilihat dari pengamatan keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan kriteria pada setiap fase pembelajaran (yang di dalamnya memuat sintaks pada model pembelajaran PBL). Pengamatan keterlaksanaan RPP pada uji coba dilakukan oleh pengamat yaitu guru rekan sejawat. Kegiatan pengamatan dilakukan pada n tatap muka oleh pengamat yang sudah dilatih menggunakan instrumen pengamatan dan penilaian. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan berupa kuantitatif tetapi dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif. Aspek yang diamati meliputi: (1) keterlaksanaan proses KBM (kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup, pengelolaan waktu, dan pengamatan suasana kelas) dan (2) keterlaksanaan setiap fase pembelajaran (yang di dalamnya memuat sintaks pada model pembelajaran PBL). Adapun hasil pengamatan keterlaksanaan RPP pada dan lembar pengamatan keterlaksanaan RPP yang dikembangkan terdapat pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Analisis Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP

Aspek yang dinilai Keterlaksanaan Penilaian Kategori

A. Pendahuluan

1. Pengkondisian peserta didik, dengan membimbing siswa untuk kehidupan sehari-hari berkaitan dengan materi, dan mengarahkan siswa untuk bertanya.

V 4 SB

(42)

memberikan pendapat/produk dari apa yang telah mereka amati

Relevance

4. Guru menyampaikan tujuan

pembelajaran dan manfaat

mempelajari materi yang akan

disampaikan serta

menghubungkannya dengan

kehidupan di sekitar kita

V 4 SB

Rata-rata aspek kegiatan pendahuluan 4 SB

B. Kegiatan Inti Interest

5. Siswa diajak untuk mencari tahu berkaitan dengan kerajinan yang telah ada disekitar. dan siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 anggota kelompok untuk berdiskusi produk kerajinan sobopas

V 4 SB

Mengamati

6. Mengamati pengolahan kerajinan dari botol plastik dan siswa dibimbing merumuskan masalah dan hipotesis pengolahan sobopas

V 4 SB

Mengumpulkan informasi 7. Membimbing siswa dalam

melakukan prosedur-prosedur kerajinan sobopas

V 4 SB

8. Tiap-tiap kelompok mengumpulkan informasi dari kegiatan yang

12. Tiap-tiap kelompok menyajikan hasil informasi dari kegiatan yang telah dilakukan dengan membuat laporan tertulis

V 3 B

13. Membimbing siswa membuat laporan tertulis mengenai produksi sobopas dan yang akan dilakukan.

V 4 SB

14. Tiap-tiap kelompok menyampaikan

hasil laporan yang telah dibuat. V 4 SB

Rata-rata aspek kegiatan inti 3,89 SB

(43)

Aspek yang dinilai Keterlaksanaan Penilaian Kategori

Satisfaction

15. Memberikan penguatan mengenai hasil kegiatan siswa

V

4 SB

16. Memberikan penghargaan kepada siswa atas hasil kegiatan yang

18. Membimbing siswa untuk berdo’a

sebelum mengakhiri pembelajaran V 4 SB

Rata-rata aspek kegiatan penutup 3,75 SB

Pengelolaan Waktu

Kesesuaian KBM sesuai dengan

alokasi waktu yang telah ditentukan V 4 SB

Rata-rata aspek pengelolaan waktu 4 SB

Pengamatan Suasana Kelas

Rata-rata aspek pengamatan suasana kelas per tatap muka (TM) /pertemuan

3,75 SB

Keterangan Terlaksan semua

Keterangan: V : Terlaksana

(44)

Gambar 4.5 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP 2. Aktivitas Siswa

Pengamatan aktivitas siswa pada peneliti dilakukan pada waktu kegiatan tatap muka dan pengamatan terhadap aktivitas siswa dilakukan setiap 15 menit sekali. Adapun hasil analisis pengamatan aktivitas siswa pada Tabel 4.12 dan lembar pengamatan aktivitas siswa yang dikembangkan terdapat pada Lampiran 7. Dan hasil analisa aktivitas siswa di tunjukkan pada gambar 4.6

Tabel 4.12 Analisis Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa

No Aspek yang dinilai Persentase Aktivitas (%)

Fase Assurance

1 Memperhatikan 95%

2 Bertanya 95%

3 Menyampaikan pendapat 96%

Fase Relevance

4 Mendengarkan penjelasan guru 95%

Fase Interest

5 Melaksanakan percobaan 98%

6 Mengumpulkan data 95%

7 Menganalisis data 96%

8 Mempresentasikan hasil data yang diperoleh 97%

Fase Assessment

9 Menjawab pertanyaan 97%

Fase Satisfaction

(45)

37

Gambar 4.6 Hasil analisa aktivitas siswa

D. Hasil Keefektifan Perangkat Pembelajaran 1. Hasil Belajar Sikap (Spritual dan Sosial)

Hasil belajar sikap yaitu sikap spiritual dan sikap sosial siswa merupakan perolehan nilai siswa dilihat dari pengamatan terhadap sikap siswa yang sering muncul selama kegiatan pembelajaran. Berdasarkan aspek-aspek penilaian sikap yang dikembangkan peneliti dan diukur melalui lembar penilaian sikap yang disertai rubrik. Tentang Penilaian Hasil Belajar untuk penilaian kompetensi sikap menggunakan rentang predikat Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K) dan nilai akhir yang diperoleh untuk ranah sikap diambil dari nilai modus (nilai yang terbanyak muncul), serta modus untuk ketuntasan kompetensi sikap ditetapkan dengan predikat Baik (B). Adapun analisis hasil penilaian sikap spiritual siswa pada Tabel 4.13

Tabel 4.13 Analisis Hasil Penilaian Sikap Spiritual Siswa

No NAM A SISW A

Aspek yang dinilai Hasil P

1 2 3 4 5 6 7

1 Adinda Putri 4 3 4 3 4 3 4 89 B

2 Alfrida Rahmawati 3 4 3 3 4 3 4 86 B

3 Alif Wardatun 4 3 4 3 3 4 4 89 B

4 Eka Mufidatul Chusna 4 4 3 4 4 4 3 93 SB

5 Fatimah Cahya 3 3 4 3 4 4 4 89 B

6 FirnaFirdaus 4 4 3 4 3 4 4 93 SB

(46)

9 Ibrila Asfarina 3 4 4 4 4 3 3 89 B

2. Hasil Belajar Pengetahuan

Hasil belajar pengetahuan dilihat dari skor peningkatan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran sobopas. Dalam penelitian ini tes pengetahuan digunakan untuk melihat peningkatan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran diukur menggunakan gain score (skor peningkatan), yang didapat dari skor rata-rata yang diperoleh siswa saat pretes (sebelum diberikan pembelajaran) dan postes (setelah diberikan pembelajaran). Adapun analisis hasil belajar pengetahuan siswa pada Tabel 4.14 dan hasil penilaian pengetahuan terdapat pada Lampiran 4. Tabel 4.14 Analisis Hasil Penilaian Aspek Pengetahuan

Siswa Nilai rata-rata Nilai PBL

Adinda Putri 60 80

Alfrida Rahmawati 80 80

(47)

Eka Mufidatul Chusna 70 90

Fatimah Cahya 70 80

FirnaFirdaus 70 80

Galuh Damar Jati 70 90

Graciani Cahyadresta 60 80

Ibrila Asfarina 80 80

Iksan Ibadi 80 80

Lailatul Nur F 70 70

Larranti Inti Sari 70 100

M. Albar W A 60 80

Mohamad Idam F 70 100

Muhammad Adib A 70 100

Muhammad Handika S 60 80

Muhammad Ichlasul 70 90

Muhammad Sofyan S 80 100

Nadhia Arifa R 80 80

Nadiah Fajriati 60 90

Ni'matul Khoiriyah 70 100

Noering Ratu F 70 100

Nurul Khikmiyah 70 100

Rifda Amalina 60 80

Rifka Oktafia 80 80

Riri Mustika R 80 80

Ririn Triyanita 60 80

Riza Dwi N 70 100

Saleh Zaidan 60 100

Savira Yulita 70 100

Tiara Amartya S 60 100

(48)

Gambar 4.7 Hasil analisa peningkatan nilai pengetahuan siswa

3. Hasil Belajar Keterampilan Produk SOBOPAS

Hasil belajar keterampilan dilihat dari Uji ketahanan SOBOPAS dilakukan setelah sudah siap untuk di pasang pada ruangan. SOBOPAS dapat menahan berapa kilogam orang/beban di duduki oleh penggunanya. Untuk nilai keterampilan ini di berikan jika sudah ada produk dan uji coba pengguna. Penili juga membuat vidio/foto SOBOPAS

4. Hasil Analisis dengan t test Hepotesa uji t 2 sampel

1. Uji dua arah. pada hipotesis awal tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata1 dan rata-rata 2.sedangkan pada hipotesis alternatif sebaliknya yaitu terdapat perbedaan rata-rata 1 dan rata-rata 2

(49)

41

Sedangakan hipotesis alternatif rata-rata kelompok 1 lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata kelompok 2.

3. Uji satu arah ini kebalikan pada hipotesis kedua, dimana pada hipotesis awal kelompok/sampel 1 memiliki rata-rata sama dengan atau lebih kecil dengan rata-rata kelompok 2. sedangakan hipotesis alternatif rata-rata kelompok 1 lebih besar dibandingkan dengan rata-rata kelompok 2.

Hipotesis awal ditolak, bila: |t hitung| > t tabel atau:

Hipotesis awal diterima, bila: |t hitung| <= t tabel Hipotesis yang digunakan, yaitu:

a. (Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan sesudah)

b. (Terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar sebelum dan sesudah)

1. Titik kritis yaitu alfa 5%

2. Daerah kritis, dengan db = n -1=32-1=31 3. t hitung

Dimana:

Dari perhitungan dengan excel yang telah dihitung diketahui t hitung = -8,77 sehingga mutlak atau absolute dari t hitung adalah = 8,77. Sedangkan dari tabel diketahui bahwa t tabel = 2,0395, sehingga diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel.

(50)

42

SIMPULAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan hasil uji coba, dapat disimpulkan bahwa :

1. Perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran Diskusi berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS yang telah divaliditasi layak untuk digunakaan.

2. Perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran Diskusi berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS dilakukan sangat praktis dan dapat dikembangkan

3. Perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran Diskusi berbasis PBL Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan siswa SMA pada bidang Kerajinan SOBOPAS dengan sangat efektif evaluasi Quipper untuk meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan hasil uji t test paramatrik. Proses Pembelajaran ada di site : Link site : https://youtu.be/KPhCBxVlM0g

B. Saran

Beberapa saran dapat dikemukakan peneliti berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan adalah:

1. Guru harus lebih dapat mengelola waktu dalam kegiatan pembelajaran agar lebih berjalan efektif dan efisien. Disarankan peneliti-peneliti selanjutnya memberikan gambaran dengan jelas kepada siswa tentang tahapan pembelajaran menggunakan model PBL dengan pendekatan saintifik.

(51)

43

DAFTAR PUSTAKA

charasusanti.weebly.com/.../1/.../c_05_botolplastik

http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran

http://haiyulfadhli.blogspot.co.id/2015/09/dampak-limbah-plastik-bagi-lingkungan.html

http://www.carajadikaya.com/peluang-bisnis-daur-ulang-sampah-plastik/ http://desalite.com/air-minum-dalam-kemasan.html

http://interiorrumah.web.id/ruang-tamu/33-model-kursi-sofa-minimalis-untuk-ruang-tamu/

http://myasofa.blogspot.co.id/2010/10/sejarah-my-sofa_4547.html

http://www.masihsaja.com/2015/08/pengertian-definisi-air-mineral-air.html http://malesbanget.com/2012/05/mengenali-jenis-jenis-kursi-dan-fungsinya/ http://www.rumahidealis.co/jenis-kursi-tamu-minimalis-untuk-ruang-tamu/

http://www.sukunan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5:meng ubah-sampah-plastik-menjadi-produk-kreatif&catid=20: kerajinan-sampah-plastik&Itemid=18)

http://www.sarjanaku.com/2012/06/jenis-jenis-limbah-dan-daur-ulang.html

http://www.salamedukasi.com/2014/11/pengertian-dan-langkah-langkah-model_30.html

http://www.sofa.co.id/model/sofa-modern-classic/

http://www.writinganythink.com/2013/10/jenis-jenis-sampah.html

http://statistikceria.blogspot.co.id/2013/12/Pengujian-Perbedaan-Rata-rata-Dua-kelompok-berpasangan-dependent-parametrik.html

(52)

INOVASI PEMBELAJARAN GURU PENDIDIKAN MENENGAH TINGKAT NASIONAL TAHUN 2016

1. Nama Lengkap : JAENURI, S. Pd

2. Tempat/Tanggal Lahir : TRENGGALEK/19 DESEMBER 1974 3. Jenis Kelamin : Pria

4. NIP : 19741219 200701 1 007 5. Jabatan : GURU

6. Pangkat/Golongan : Penata / III C

7. Unit Kerja : SMA NEGERI 1 GRESIK 8. NUPTK : 2551 7526 5420 0013 9. DAPODIK : sudah terdaftar

10. Alamat Unit Kerja : JL. ARIF RAHMAN HAKIM 01 GRESIK 11. Alamat Rumah : DURUNGBANJAR, CANDI, SIDOARJO 12. Nomor Telepon/HP : 0857 9090 6996

13. Alamat e-mail : [email protected]

14. Pendidikan Terakhir

a. Perguruan Tinggi : IKIP SURABAYA

b. Fakultas/Jurusan : FPTK / PEND TEKNIK ELEKTRO c. Tahun Tamat : 1999

15. Mata Pelajaran diampu : Prakarya dan Kewirausahaan 16. Pengalaman Mengajar : 16 tahun

17. Prestasi/Penghargaan yang pernah diraih 18. Pengalaman Penelitian :

Gresik , September 2016 Yang membuat,

JAENURI, S. Pd

(53)
(54)
(55)

Filename: Hasil Penelit ian Inobel 2016 Direct ory: C:\ Users\ jaenn\ Docum ent s

Tem plat e: C:\ Users\ jaenn\ AppDat a\ Roam ing\ M icrosoft \ Tem plates\ Norm al.dot m Tit le:

Subject :

Aut hor: asus 1 Keyw ords:

Com m ent s:

Creat ion Dat e: 10/ 5/ 2016 3:17:00 PM Change Num ber: 22

Last Saved On: 10/ 10/ 2016 9:27:00 AM Last Saved By: jaen nuri

Tot al Edit ing Tim e: 206 M inut es

Last Print ed On: 10/ 10/ 2016 10:03:00 AM As of Last Com plet e Print ing

Num ber of Pages: 54 Num ber of Words: 9,663

Gambar

Gambar 1. Sofa Modern Classic http://www.sofa.co.id/model/sofa-modern-classic/
Gambar 3.1   Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model R&D
Tabel 4.2 Analisis Hasil Validasi Silabus Penilai V1 V2
Gambar 4.1 Diagram Validasi Silabus
+7

Referensi

Dokumen terkait

Akibat hukum menikahi wanita hamil karena zina menurut Hukum Islam anak yang dilahirkan setelah enam bulan perkawinan memiliki hubungan nasab, perwalian, waris dan hak nafkah dari

Pada sistem OTI, permukaan tanah dibersihkan dari rerumputan dan mulsa, serta lapisan olah tanah dibuat menjadi gembur agar perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik.

Selisih hasil belajar peserta didik yang memiliki interaksi sosial tinggi, sedang dan rendah setelah dibelajarkan dengan model pembelajaran discovery learning dan

Biochar yang mengandung jamur Trichoderma spp dapat memacu hormon pemacu pertumbuhan tanaman, dapat memiliki kapasitas yang kuat untuk menyerap kedua senyawa anorganik dan

Saka Kencana adalah salah satu Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah kegiatan dan pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan praktis dan

Ucapan syukur dari hati saya yang terdalam saya sampaikan kepada Allah SWT atas segala karunia yang telah diberikan kepada saya, sehingga saya dapat berdiri

Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya dapat diketahui bahwa pada variabel KTM 4 (komunikasi tatap muka) menunjukkan nilai rata-rata terendah dibandingkan

Hasil analisis antara ketersediaan sarana dengan cakupan penderita TB paru BTA positif, secara statistik menghasilkan nilai p=0,000 artinya ada hubungan yang bermakna, secara