M A B A H I T S F I K U T U B A T – T A F
S I R
“Tafsir Ayat al-Ahkam”
Muhammad Ali Al Sayis
Sri Masjantung Sa'adah
NIM : 11.0468
Prodi : Tafsir Hadits
Semester: IV
Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam
Bandung
Jl. Ciganitri No 02 Cipagalo-Bojongsoang Bandung 40287
A. Biografi Ali Al-Sayis
menjadi salah satu yang alim di sana.
Di usia 28 tahun beliau menjadi dosen di fakultas shuluddin, , kemudian diangkat menjadi dekan fakultas ushuluddin, dan menjadi dekan fakultas syariah pada tahun 1957 M
Beliau menerima sertifikat internasional pada tahun 1926 dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1927 dengan peringkat ‘al-amtiyaz’. Beliau di anggap sebagai pelopor dalam bidang ilmu ushul dan merupakan anggota dewan tertinggi Al-Azhar sejak 1953 hingga wafat di tahun 1976, serta sebagai salah satu anggota dari ilmuwan senior. Di samping itu juga menjadi salah satu ulama pembesar Mesir pada tahun 1950
Beliau meraih penghargaan ilmiah dan finansial pada banyak kesempatan sebagai bukti kemampuannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Di antaranya, penghargaan khusus bidang syar’iy di tahun 1932.
Beliau memiliki banyak buku-buku tentang ilmu hadist, fiqih dan ushul. Diantara buku beliau yang paling terkenal adalah buku ‘Fiqh al-ijtihady, tarikhul al-tasyri’ al-islamiy’. Sedangkan kitab Tafsir Ayat al-Ahkam sebenarnya adalah diktat yang disusun oleh Muhammad Ali al-Sayis untuk kalangan mahasiswa fakultas Syari’ah di Universitas Kairo, Mesir. Tetapi kemudian setelah mengalami beberapa penyempurnaan dan pengeditan, diktat tersebut dibukukan dan beredar luas di seluruh Negara muslim termasuk Indonesia.
Beliau adalah salah satu dosen dari Prof. Dr. Qurais Shihab (penulis tafsir al misbah) ketika belajar di al azhar.
b. Tahdiid Awaail Al Syuhur Al Arobiyah c. Tankiihu Wa Tashiihu Tafsir Ayat Al Ahkam
C. Karakteristik Tafsir Ayat Al Ahkam
Kitab Tafsir Ayat al-Ahkam karya Ali al-Sayis ini merupakan satu dari banyak sekali kitab tafsir ayat ahkam lainnya, seperti kitab Ahkam al-Qur’an karya al-Jassas, Ahkam al-Qur’an karya Ibn Arabi, Jami’ li Ahkam Qur’an karya Qurtubi, Rawai’ Bayan kara Ali al-Sabuni, Tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli, dan banyak lagi kitab tafsir ahkam lainnya. Mayoritas dosen tafsir dan mahasiswa perguruan tinggi agama Islam baik swasta maupun negeri pasti mengenal atau paling tidak pernah mendengar nama kitab ini. Karena kitab ini merupakan salah satu referensi yang laris terutama untuk kajian tafsir ahkam.
kurikulum fakultas Syari’ah di al-Azhar, Kairo, Mesir
Dalam pendahuluan kitab Tafsir Ayat al-Ahkam, Ali al-Sayis mengatakan bahwasanya kitab ini merupakan kitab yang disusun dengan sistematis dan dikuatkan oleh beberapa produk penafsiran para mufassir lain. Diantaranya :
• Melalui tafsir bil ma’stur yang merupakan penafsiran yang berdasarkan pada riwayat hadist. Hal ini dapat dilihat pada salah satu rujukan yang digunakan Ali Sayis, yaitu tafsir imam al-Suyuti dan Ibn Jarir al-Thabari.
• Melalui tafsir bil-ro’yi yang merupakan penafsiran berdasarkan pengambilan hukum dengan pemikiran akal. Hal ini dapat dilihat pada salah satu rujukannya, yaitu tafsir al-Razi, Mafatihul Ghoib, tafsir al-Zammakhsyari, dll.
• Dari segi hukum-hukum, kitab tafsir ini dikuatkan dengan kitab imam Qurtubi dan imam al-Jassas.
Kitab ini berisi beberapa ayat, hadist—hadist, pendapat-pendapat para mufassir, fuqoha’ dan ahli bahasa.
Penafsirannya lebih cenderung pada huhum fiqh, yang ditulis beliau untuk para mahasiswanya yang belajar pada kuliah Syariah Universitas Al Azhar selama empat tahun ajaran, oleh karenanya, tafsir tersebut terbagi atas empat jilid dalam satu kitab yang diberikan dalam empat tahap tahun ajaran sesuai dengan pengajaran kuliah Syariah Universitas Al Azhar Kairo.
Detail tafsir tersebut, halamannya berjumlah 814 halaman yang terbagi dalam empat sanah , yang pertama 176, yang kedua 238, yang ketiga 192 dan yang ke empat 208. Tafsir ayat ahkam ini menjelaskan tentang ayat-ayat hukum yang ada dalam Alqur’an atas dasar faham ahlu sunnah wa al jama’ah atau madzhab empat, dan juga menggunakan dasar tertibnya surat dan ayatnya. tidak menggunakan bab-bab seperti dalam kitab fiqh, akan tetapi seluruh ayat-ayatnya behubungan dengan hukum. Beliau tidak memberikan kata pengantar ataupun menjelaskan metode yang beliau pakai ketika menulis tafsir ini, akan tetapi tafsir ini menyertakan seluruh pendapat ulama madzhab empat dan juga pendapat yang paling kuat dan dalam kitab tafsir ini tidak didapati pendapat beliau yang lebih condong kepada salah satu madzhab seperti halnya ulama-ulama fiqh yang kadang lebih condong kepada apa yang diyakininya ataupun yang di pelajarinya.
Sebagaimana dengan kitab fiqih, kitab ini merujuk pendapat imam mazhhabb, berdasarkan mazhab Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Adapun secara sususan kitab, disusun berdasarkan urutan ayat dan surat, tidak berdasarkan bab-bab fiqih. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sesungguhnya tafsir ini tersusun secara mushafi (muushaf usmani), sedangkan isi kitab memuat ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum
- Cetakan kitab
Kitab tafsir ini di cetak sebanyak tigakali cetakan, yaitu :
c. Cetakan yang terahir dipercetakan Muhammad Ali Shobih, tanpa tahun.
Semua cetakan tidak di dapati adanya daftar isi, metode yang beliau pakai dalam menulis tafsir tersebut. Pada jilid yang pertama dimulai dengan penyebutan daftar ayat dalam surat Al Baqarah, pada jilid kedua dimulai dengan runtutan ayat dari surat Ali Imron, surat An Annisa, surat Al Maidah, surat Al An’am dan juga surat Al A’raf, pada jilid yang ketiga di mulai dengan penyebutan ayat dari surat Al Anfal, surat At Taubah, surat An Nahl, surat Al Isra’, surat Al Hajj, surat An Nur, sedang yang terahir terbagi dalam dua bagian: bagian yang pertama ayat-ayat ahkam dari surat Lukman sampai pada surat Al Hujurat, sedang bagian yang kedua dari surat Al Waqi’ah sampai pada surat Al Muzammil.
Kelemahan dari kitab ini adalah tidak terdapat daftar isi dan daftar kitab rujukan (foot note), yang ada hanya tema-tema dan ayat-ayat saja yang seharusnya menjadi kemudahan bagi para pembaca. Sehingga mempersulit para pembacanya dalam mengorek informasi dari penafsiranataupun pendapat ulama dan sebagainya. akan tetapi tafsir ini juga mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu menjadi salah satu kitab tafsir ayat ahkam yang pernah ada dan kitab ini adalah yang membahas ayat-ayat hukum secara jelas dan bermanfaat sekaligus banyak mengangkat tema kontemporer.
D. Metode Penafsiran
Secara umum, sistematika yang digunakan Ali al-Sayis dalam kitab tafsir ini adalah : • Ia mengawali penafsiran dengan menyebut satu sampai tiga ayat hukum yang hendak dikaji. Beliau tidak memulai dengan tema-tema kajian dahulu (seperti Rawai’ul Bayaan karya Ali Ash Shabuni) baru kemudian mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tema, melainkan menyebutkan sesuai urutan surat dan ayatnya lebih dahulu. Seperti pada surat al-Baqoroh, ayat 102-103, yang merupakan ayat tentang sihir.
• Kemudian ia mengurai kata-kata teknis yang harus dipahami terlebih dahulu. Tahap ini dapat disebut pula dengan tafsir al-mufrodat.
• Langkah berikutnya, ia mulai menafsirkan frase-frase ayat yang memiliki kandungan hukum. Dalam hal ini, Ali al-Sayis mengolaborasi kajian dengan mengungkapkan pendapat para mufasssir baik dari kalangan mufassir klasik maupun kontemporer.
• Pada bagian akhir, Ali al-Sayis melakukan istinbath hukum yang disederhanakan dari ulasan ayat-ayat tersebut.
Telah di jelaskan bahwa tidak ada informasi tentang metode yang dipakai, akan tetapi melihat dari isi kitab tersebut dapat diketahui bahwa Ali al-Sayis mmenggunakan metode tahlili (analisis), hal ini dilihat dari penyebutan suatu ayat dalam al-Qur’an, kemudian ayat tersebut ditafsirkan sesuai dengan permasalahan yang terkait. Meskipun Al-Sayis belum menyebutkan metode penafsiran seperti apa yang digunakan, namun diperoleh beberapa langkah yang digunakan dalam penafsiran tersebut;
itu diutamakan dalam penafsiran.
2. Terkait dengan gramatika bahasa, suatu ayat yang disebutkan dan dijelaskan berdasarkan kata perkata yang merupakan kalimat inti secara rinci.
3. Terdapat pemaparan aspek balaghiyah (bahasa), sehingga mampu memperindah dalam pemaknaan.
4. Disebutkan munasabah dengan ayat dan surat lain baik yang sebelum atau yang sesudahnya. 5. Untuk memperkuat argumen yang muncul dalam penafsiran disebutkan hadis-hadis shahih terkait dengan ayat yang ditafsirkan.
6. Terdapat pendapat ulama yang disebutkan, terkait dengan pembahasan suatu hukum yang terdapat
dalam ayat yang menjadi pokok bahasan.
7. Terdapat syair-syair yang digubah dari penyair.
8. Disebutkan istinbath hukum (kesimpulan) yang terdapat dari ayat yang ditafsirkan.
Tafsir ini dalam satu sisi mudah dan juga dalam sisi yang lain susah, contohnya ketika membahas tentang sihir apakah itu benar ada apa tidak? Di dalamnya dijelaskan secara panjang lebar dan pendapat yang paling kuat yang datang dari mu’tazilah dan sebagian ahlu sunah bahwa sihir tidak ada, sesuai dengan perkataan mereka:
“
Dan dalam penjelasan yang lain lebih cenderung ringkas baik dalam menjelaskan tentang dalil yang menguatkan pendapat, atau penjelasan tentang pendapat-pendapat dan dalil-dalilnya.
E. Penutup
Kitab Tafsir Ayat al-Ahkam karya Ali al-Sayis merupakan salah satu dari beberapa kitab tafsir ahkam lainnya. Kitab ini merupakan diktat yang disusun oleh Muhammad Ali al-Sayis untuk kalangan mahasiswa fakultas Syari’ah di Universitas Kairo, Mesir. Tetapi kemudian setelah mengalami beberapa penyempurnaan dan pengeditan, diktat terssebut dibukukan dan beredar luas di seluruh negara muslim termasuk Indonesia.
Kitab ini merupakan kitab yang disusun dengan sistematis dan dikuatkan oleh beberapa produk penafsiran para mufassir lain. Kitab ini juga berisi beberapa ayat, hadist—hadist, pendapat-pendapat para mufassir, fuqoha’ dan ahli bahasa.