• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bekal Takwa dalam Ibadah Haji, Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 197

N/A
N/A
Pirates

Academic year: 2024

Membagikan " Bekal Takwa dalam Ibadah Haji, Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 197"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Tafsir

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 197: Takwa sebagai Bekal Terbaik dalam Haji

Sel, 9 Mei 2023 | 05 00 WIB

Alwi Jamalulel Ubab Kolomnis

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas surat al-Baqarah ayat 197

ْوُدﱠوَ َ َو ُۗ ُ ْ َ ْ ﱠ ٍ ْ ْ ِ اْ ُ َ ْ َ َ َو ِّۗ َ ْ ِ َلاَ ِ َ َو َٯْ ُ َ َو َ َر َ َ ﱠ َْ ﱠ ِْ ِ صَ َ ْ َ َ ٌۚ ٰ ُْ ْ ﱠ ٌ ُ ْ َا ﱡ َْ َا

ِٮ َ ْ َ ْا ِوُ ِ ْ ُﱠ َو ۖىٰ ْ ﱠ ا ِد ﱠ ا َْ ﱠ َِ

Al-ḫajju asy-hurum ma‘l m t, fa man faradla fîhinnal-ḫajja fa l rafatsa wa l fus qa wa l jid la fil-ḫajj, wa m taf‘al min khairiy ya‘lam-hull h, wa tazawwad fa inna khairaz-z dit-

Ilustrasi: haji - ka'bah - masjidil haram (freepik).

2606:4700:3032::AC43:D15B

(2)

taqw wattaq ni y ulil-alb b.

Baca Juga

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 196: 6 Hukum dan Adab Haji

Artinya, “ Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat

maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu

kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Ragam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 197

Imam As-Suyuthi dalam Tafsirul Jalalain menjelaskan secara ringkas bahwa ayat di atas merupakan penjelasan waktu yang dapat digunakan untuk pelaksanaan ibadah haji yakni Syawal, Dzulqa’dah dan 10 hari awal Dzulhijjah. Barangsiapa yang hendak melaksanakan ibadah haji maka tidak diperkenankan baginya bergaul dengan istrinya, berlaku maksiat ataupun permusuhan. As-Suyuthi, Tafsirul Jalalain pada Hasyiyatus Sawi, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2013 M , juz I, halaman 122 . 

Sementara itu, Syekh Ahmad As-Shawi dalam Hasyiyah-nya atas Tafsirul Jalalain memberi komentar atas ayat ini. Ia menjelaskan bahwa ayat ini memberikan qayid atau batasan dari ayat sebelumnya yang memberi praduga bahwa haji dapat dilaksanakan kapanpun. Ayat ini datang menjelaskan waktu pelaksanaan haji yang maklum dapat dilaksanakan pada bulan tertentu saja. Adapun umrah tidak memiliki batasan waktu selagi tidak dibarengkan

waktunya dengan pelaksanaan haji. As-Shawi, Hasyiyatus Shawi ala Tafsiril Jalalain, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2013 M , juz I, halaman 122 . 

Dalam kaitannya dalam hukum pelaksanaannya, Imam As-Syafi’i menjelaskan bahwa ihram haji tidak sah kecuali dilaksanakan pada bulan-bulan yang dapat dilaksanakan haji di dalamnya. Hal demikian sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, dengan riwayat berikut ini:

ُ ﱠ َا ، ٍس ﱠ َ ِ ْ ِ َ ،َ َِ ْ ِ ْ َ ،ء َ ُ ْ َ ُ َِ َ ْ َ

ا ، ٍ ْ َ ِ ْ ِ َ ،ٍ ِ ُ ْ ُ ِ ْ ُ َ ََ ْ َ

ا :ُ ُ َ ِ َر ، ﱡ ِ ِ ا َل َ

،ٍ ِ ِ َ

ا ُ ْ ُه َو َر ا َ َ َو { ٌٮ َ ُ ْ َ ٌ ُ ْ َا ﱡ َْ } :ِ ِلَْ ِ ْ َا ْ ِ ، ِّ َْ ِر ُ ُ ِ ﱠ ِٕا ِّ َْ ِ مِ ُْ ْ َ ا ٍ َ

ِ ِ َ ْ َ َ : َل َ

ْ ِ ِهِ ِ ْ َ ِ ودْ َ ُ ْ ُه َو َرَو .ِ ِ ، ٍْ َ ِ ْ ِ َ ، ِرَ ْ َ ْ

ا ٍ ﱠَ ُ ِ ْ ِح ﱠ ْ َ ، ّ ِ ا ٍ ِ َ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ َ َ ْ ِ َ

ا ْ َ

(3)

ﱠ ِٕا [ ِ ّ َ ْ ِ] َمِ ْ ُ ﱠ َ

ا ﱠ ا َ ِ : َل َ ُ ﱠ َ

ا : ٍس ﱠ َ ِ ْ ِ َ ، ْ ِ ْ َ َ ُ ِ ْ َِ َْ ِ َ ،َ ْر َ

ا ِ ْ ِح ﱠ ْ َ ، ِ ْ َ ِ

ِ ّ َ ْ ِ ُ ْ َ ا ِ

Artinya, “Imam Syafii berkata: mengkhabarkan kepada kami Muslim bin Khalid, dari Ibnu Juraij, mengkhabarkan kepadaku Umar bin Atha’ dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, berkata:

tidak seyogyanya bagi siapapun yang hendak ihram haji untuk melakukannya kecuali dalam bulan-bulan haji, sebab firman Allah Ta’ala (al-ḫajju asy-hurum ma‘l m t). Demikian juga diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Ahmad bin Yahya bin Malik As-Susi dari Hajjaj bin Muhammad Al-A’war dari Ibnu Juraij. 

Baca Juga

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 188: Larangan Mengambil Hak Orang Lain Secara Batil

Sedangkan Ibnu Mardawih dalam tafsirnya dari dua jalur dari Hajjaj bin Arthah dari Hakam bin Utaibah dari Miqsam dari Ibnu Abbas berkata: di antara kesunahan ialah tidak

melaksanakan ihram haji kecuali dalam bulan-bulan haji. Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, Riyadh, Dar Thayyibah lin Nasyri wa Tauzi’ 1999 M/ 1420 H juz I, halaman 541 .

Selain menjelaskan tentang waktu pelaksanaan haji, ayat ini juga menjelaskan adab dan etika saat pelaksanaan haji, yaitu tidak melakukan hubungan suami-istri, bermaksiat ataupun bermusuhan satu sama lain sebab ketika seseorang melaksanakan haji tak lain tujuannya ialah menghadap Allah dan mencari ridha-Nya. Juga Allah akan memberi balasan terbaik terhadap setiap kebaikan yang dilakukan di dalamnya. As-Shabuni, Shafwatut Tafasir, Beirut, Darul Qur’anil Karim: 1981 M , juz I, halaman 129 .

Adapun terkait makna takwa yang disebutkan dalam ayat merupakan sebaik- baik bekal haji, terdapat dua pendapat:

Maksud dari takwa pada ayat ialah melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan.

Sebab dengannya seseorang telah membawa bekal terbaik.

Makna dari takwa pada ayat ialah sesuatu yang digunakan sebagai bekal untuk pelaksanaan ibadah haji agar tidak meminta-minta kepada orang lain selama pelaksanaan haji. Nawawi Al-Bantani, Marah Labid, juz I, halaman 47 .

Terkait makna kedua, yakni takwa yang memiliki arti bekal haji juga dijelaskan oleh Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya. Ia menjelaskan bahwa maksud dari takwa pada ayat ialah sesuatu yang dijadikan bekal untuk perjalanan ibadah haji agar tidak meminta-minta

(4)

kepada orang lain. Hal ini didukung dengan adanya riwayat yang menjelaskan bahwa ayat perintah membawa bekal tersebut turun untuk penduduk Yaman yang pergi melaksanakan haji tanpa membawa bekal sehingga menyusahkan orang lain. As-Suyuthi, I/122 . 

Adapun kesimpulannya, dalam pelaksanaan haji, kedua makna tersebut sangat penting dimiliki oleh seseorang yang melaksanakan ibadah haji. Baik bekal lahir berupa kesiapan bekal finansial, dan bekal batin yakni kesiapan diri melaksanakan perintah dan menjauhi larangan diperlukan dalam pelaksanaan ibadah haji.

Ustadz Alwi Jamalulel Ubab, Alumni Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Mahasantri Ma'had Aly Saidussidiqiyah Jakarta.

Editor: Ahmad Muntaha AM Kolomnis: Alwi Jamalulel Ubab

Tags

Haji Manasik Haji Tafsir Ilmu Tafsir Tafsir Surat Al-Baqarah

Terpopuler

1

Lafal Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah, Lengkap Arab, Latin, dan Keutamaannya

2

Khutbah Idul Adha 1445 H Haji dan Kurban, Barometer Keimanan dan Ketakwaan

3

Khutbah Jumat: Anjuran dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

4

Qadha Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah, Bagaimana Hukumnya?

5

Khutbah Jumat: Tiga Siasat Nabi Ibrahim Memperjuangkan Agama Tauhid 

6

Khutbah Jumat: Memetik Hikmah Wukuf di Arafah

Terkini

Lihat Semua

(5)

Syariah

Menyembelih Hewan Kurban Sebelum Hari Raya Idul Adha dalam Kajian Lintas Mazhab Sab, 15 Juni 2024 | 06 00 WIB

Nasional

Kemenag Bantah Ada Komersialisasi Kursi Roda oleh Petugas Haji Jum, 14 Juni 2024 | 20 35 WIB

Nasional

Qadha Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah, Bagaimana Hukumnya?

Jum, 14 Juni 2024 | 20 00 WIB

Nasional

Skenario Timnas Indonesia Lolos Piala Dunia 2026 Jum, 14 Juni 2024 | 19 30 WIB

Khutbah

Khutbah Idul Adha: 4 Hikmah Disyariatkannya Kurban dalam Islam Jum, 14 Juni 2024 | 19 00 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Islam “membenarkan” melakukan jihad dalam bentuk mengangkat senjata, namun ada kriteria yang harus dipenuhi dan ada batasan-batasannya, selain itu berperang di jalan

Haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan atas setiap muslim yang merdeka, baligh ,dan mempunyai kemampuan, dalam sekali seumur hidup. Namun, banyak dari kalangan umum

Quraish Shihab menggunakan metode penulisan tafsir tahlili dan maudhu’i (tematik) dan menjelaskan isi kandungan ayat satu persatu terlebih dahulu mengulas secara global

Hal ini berbeda dengan Tafsir Salman, yang mengutip dari Imam Fakhruddin menjelaskan bahwa Fajar digunakan sebagai sumpah oleh Allah swt, karena menunjukkan bahwa waktu malam

Kitab tafsir ini menggunakan corak ilmiah dalam menjelaskan makna ayat Alquran, meskipun corak tersebut masih kontroversi tentang kebolehannya. Namun, ternyata

Maka akan melahirkan pemahaman yang rasional dan komprehensif, di samping itu tafsir al-Azhar dengan corak kontekstual adalah metode penafsiran yang paling dekat

Mengenai surah al-Baqarah ayat 262, Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah memberi pujian dan barakah bagi orang-orang yang telah menafkahkan hartanya di jalan

kedisiplinan ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, khauf raja‘, syukur, dan takwa, dan ia juga menjelaskan tujuan melakukan penelitian dengan judul seperti diatas yaitu agar manusia yang