• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

6 2.1. Tinjauan Umum

2.1.1. Fungsi dan Tujuan

a. Fungsi

Playgroup adalah sebuah kelompok bermain untuk usia 2-5 tahun (Kemdikbud:1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka).

Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu

pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah (Kemdikbud. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990. 1990. BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1).

Kelompok Bermain termasuk dalam pendidikan yang tidak formal dan berada dibawah TK. Waktu belajar mereka hanya beberapa jam sehari selama jam sekolah yang ditetapkan, biasanya kegiatan dilakukan pada pagi hari saja. Di Inggris, sejak sekitar tahun 1980-an, pendidikan Kelompok Bermain telah ditingkatkan mutunya dengan menggunakan sistem pendidikan yang lebih formal. Kelompok bermain ini hanya diperuntukkan untuk anak 2 hingga 3 tahun sebelum mereka pindah ke sebuah taman kanak-kanak.

Taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk pendidikan pra-sekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar (Kemdikbud. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990. 1990. BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1). Kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

(2)

Lama masa belajar seorang murid di TK biasanya tergantung pada tingkat kecerdasannya yang dinilai dari rapor per semester. Secara umum untuk lulus dari tingkat program di TK selama 2 (dua) tahun, yaitu:

TK 0 (nol) Kecil (TK kecil) selama 1 (satu) tahun

TK 0 (nol) Besar (TK besar) selama 1 (satu) tahun

Friedrich Froebel (1782 – 1852), mengatakan bahwa " kanak-kanak umpama biji benih, ibu, bapak dan pendidik umpama tukang kebun, kindergarten pula ialah taman untuk kanak-kanak“. Taman kanak-kanak perlulah dipenuhi dengan keindahan untuk menarik perhatian kanak-kanak. Sekurang-kurangnya dicat dengan warna yang terang, mempunyai bilik yang senang dimasuki cahaya, dipenuhi dengan taman-taman, binatang dan gambar-gambar.Dilengkapi dengan kerusi meja yang sesuai untuk kanak-kanak.

b. Tujuan

Pada dasarnya Kelompok Bermain dan TK mempunyai tujuan yang hampir sama yaitu membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

• Kelompok Bermain diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. (UU-RI nomor : 20 Tahun 2003 – penjelasan pasal 28 ayat (1) )

• Pendidikan Prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan

dasar kearah perkembangan sikap yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (PP-RI nomor: 27 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Prasekolah – BAB II pasal( 3))

(3)

Taman Kanak - Kanak (TK) menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian dan prestasi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.

2.1.2. Psikologi Anak

a) Perkembangan Anak

Masa kanak – kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira – kira usia 2 tahun sampai saat anak mantang secara seksual, kira – kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Pada periode ini biasanya terjadi perubahan pada fisik dan psikologis mereka. Sejumlah ahli membagi masa anak – anak menjadi dua, yaitu masa anak – anak awal dan masa anak – anak akhir. Masa anak – anak awal berlangsung dari umur 2 – 6 tahun, dan masa anak – anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual (Hurlock, 1980).

b) Perkembangan Fisik

Selama masa anak – anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda – tanda pubertas, yakni kira – kira 2 tahun menjelang anak matang secara seksual dan pertumbuhan fisik kembali berkembang pesat. Meskipun selama masa anak – anak pertumbuhan fisik mengalami perlambatan, namun keterampilan – jeterampilan motorik kasar dan motorik halus justru berkembang pesat.

c) Tinggi dan Berat Badan

Selama masa anak – anak awal, tinggi rata – rata anak bertumbuh 2,5 inci dan berat bertambah 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. pada usia 5 tahun, tinggi anak mencapai 43,6 inci dan beratnya 21,5 kg

(4)

(Mussen, Conger & Kagan, 1969). Ketika anak usia prasekolah bertumbuh semakin besar, presentase pertumbuhan dalam tinggi dan berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki – laki maupun perempuan terlihat semakin langsing, sementara batang tubuh mereka semakin panjang.

d) Perkembangan Otak

Diantara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak – anak awal ialah perkembangan otak dan sistem syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa awal anak – anak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat bayi mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rata – rata 75% dari otak orang dewasa dan pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah mencapai sekitar 90% otak orang dewasa (Yeterian & Pandya, 1988).

Pertumbuhan otak selama awal masa anak – anak disebabkan oleh pertambahan jumlah dan ukuran urat syaraf yang berujung di dalam dan di antara daerah – daerah otak. Ujung – ujung urat syaraf it terus bertumbuh setidaknya hingga masa remaja. Beberapa tambahan ukuran otak juga disebabkan oleh pertambahan myelination, yaitu suatu proses dimana sel – sel urat syaraf ditutup dan disekat dengan suatu lapisan sel – sel lemak. Proses ini berdampak terhadap peningkatan kecepatan informasi yang berjalan melalui sistem urat syaraf. Beberapa ahli psikologi perkembangan percaya bahwa myelination sangat penting dalam pematangan sejumlah kemampuan anak.

e) Perkembangan Motorik

Perkembangan fisik pada masa anak – anak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia 3 tahun anak sudah dapat berjalan dengan baik dan sekitar usia 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia 5

(5)

tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan pelan – pelan, melompat dan berjingkrak, berlari ke sana ke mari, memanjat dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebuh halus dan bervariasi. Anak – anak usia 5 tahun juga dapat melakukan tindaka – tindakan tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan di atas satu kaki, menangkap bola dengan baik, melukis, melipat, menggunting dan melipat kertas, dan sebagainya. Secara singkat mengenai perkembangan motorik pada masa anak – anak awal ini dapa digambarkan dalam table 2.1.

(6)

TABEL 2.1

Perkembangan Motorik Masa Anak – Anak Awal

Usia/ tahun Motorik Kasar Motorik Halus

2.5 – 3.5

Berjalan dengan baik, berlari lurus kedepan, melompat

Meniru sebuah

lingkaran, tulisan

cakar ayam, dapat makan menggunakan sendok, menyusun beberapa kotak 3.5 – 4.5 Berjalan dengan 80% langkah orang dewasa, berlari 1/3 kecepatan orang dewasa, melempar dan menangkap bola besar, tetapi lengan masih kaku. Mengancingkan baju, meniru bentuk sederhana, membuat gambar sederhana. 4.5 – 5.5 Menyeimbangkan badan di atas satu kaki, berlari jauh tanpa jatuh, dapat berenang dalam air yang dangkal.

Menggunting, menggambar orang, meniru angka dan huruf sederhana, membuat susunan yang kompleks dangan kotak – kotak.

(7)

f) Perkembangan Kognitif

Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk

mengeksplorasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata – kata yang dapat dimengerti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas dan imajinatif. Imajinasi anak – anak pra – sekolah terus berkerja dan daya serap mentalnya tentang dunia semakin meningkat. Peningkatan tentang pengertian anak tentang orang benda dan situasi baru diasosiasikan dengan arti – arti yang dipelajari selama bayi.

g) Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget

Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak – anak dinamakan tahap praoprasional (praoprational stage), yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoprasional”, menunjukan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah “oprational” menunjukkan bahwa aktivitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa – peristiwa atau pengalaman – pengalaman yang dialami.

Pemikiran operasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran operasional, sekalipun label “pra operasional” menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berfikir secara operational.

Operasi (operation) menurut Santrock (1998) adalah

“internalized sets of actions that allow children to do mentally what before they had done physically”. Operasi sangat terorganisirdan sesuai

(8)

dengan aturan – aturan dan prinsip operational kongkret dan dalam bentuk lain pemikiran operasional formal. Dalam tahap praoperasional, pemikiran masih kacau dan tidak terorganisir dengan baik. Pemikiran praoperasional adalah awal dari kemampuan untuk merekonstruksi pada level pemikiran apa yang telah ditetapkan dalam tingkah laku. Pemikiran praoperasional juga mencangkup transisi dari penggunaan simbol- simbol primitive kepada yang lebih maju (Santrock, 1998). Secara garis besarnya pemikiran praoperasional dapat dibagi ke dalam dua subtahap, yaitu subtahap prakonseptual dan subtahap pemikiran intuitif (Heterington & Parke. 1979; Seifert & Hoffnung, 1994).

• Pratahap Prakonseptual

Subtahap prakonseptual disebut juga dengan pemikiran simbolik, karena karakteristik utama subtahap ini ditandai dengan munculnya sistem – sistem lambang atau simbol, seperti bahasa.

Subtahap prakonseptual merupakan subtahap pemikiran

praoperasional yang terjadi kira – kira antara usia 2 hingga 4 tahun. Pada subtahap ini anak – anak mengembangkan kemampuan untuk menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada (tidak terlihat) dengan sesuatu yang lain.

Kemunculan pemikiran simbolis pada subtahap

praoperasional ini dianggap sebagai pencapaian kognitif yang paling penting. Melalui pemikiran simbolis, anak – anak prasekolah dapat menggorganisir dan memperoses apa yang mereka ketahui. Anak akan dapat dengan mudah mengingat kembali dan membandingkan objek – objek dan pengalaman – pengalaman yang telah diperolehnya jika objek dan pengalaman

tersebut mempunyai nama dan konsep yang dapat

menggambarkan karakteristiknya. Simbol juga dapat membantu anak – anak mengkomunikasikan dengan orang lain tentang apa

(9)

yang mereka ketahui, sekalipun dalam situasi yang jauh berbeda dengan pengalamannya sendiri.

Komunikasi yang didasarkan atas pengalaman pribadi akan membantu perkembangan hubungan social di antara anak – anak. Di samping itu, komunikasi juga membantu perkembangan kognitif apabila anak – anak dibiarkan belajar dari pengalaman orang lain. Singkatnya, komunikasi memungkinkan individu untuk belajar dari simbol – simbol yang diperoleh dari pengalaman orang lain (Seifert & Hoffnung, 1994).

Dengan demikian, dalam subtahap prakonseptual

kemunculan fungsi simbol ditunjukkan dengan perkembangan bahasa yang cepat, permainan imajinatif dan peningkatan dalam

peniruan. Percepatan perkembangan bahasa dalam fase

prakonseptual dianggap sebagai hasil perkembangan simbolisasi. Ketika penggunaan simbol bahasa dimulai, maka terjadi peningkatan dalam kemampuan memecahkan masalah dan belajar dari kata – kata lain.

• Subtahap Intuitif (4-7 tahun)

Istilah intuitif digunakan untuk menunjukan subtahap kedua dari pemikiran praoperasional yang terjadi pada anak dalam periode dari 4 hingga 7 tahun.

Karakteristik lain dari pemikiran praoperasional adalah pemusatan pemikiran pada suatu dimensi yang lain. Karakteristik ini di istilahkan Piaget dengan centration (pemusatan). Pemusatan terlihat jelas pada anak yang kekurangan konservasi, yaitu kemampuan untuk memahami sifat – sifat atau aspek – aspek tertentu dari suatu objek atau stimulus tetap tidak berubah ketika aspek – aspek lain mengalami perubahan.

Perkembangan kognitif dari anak – anak praoperasional

juga ditunjukkan dengan serangkaian pertanyaan yang

(10)

untuk menjawabnya. Pertanyaan – pertanyaan member petunjuk akan perkembangan mental mereka dengan mencerminkan rasa keingintahuan intelektual, serta menandai munculnya minat anak – anak akan penalaran (Elkind, 1976).

2.1.3 Perkembangan Permainan

Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas social. Yang dominan pada masa awal anak – anak. Heterington & Parke (1979) mendefinisikan permainan sebagai “A nonserious and self-contained activity engaged in for the sheer satisfaction it brings”. Jadi, permainan bagi anak – anak adalah suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata – mata untuk aktivitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang di hasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini adalah karena bagi anak – anak proses melakukan sesuatu lebih menarik dari pada hasil yang akan didapatkan (Schwartzman, 1978).

a) Fungsi Permainan

Heterington & Parke (1979), menyebutkan tiga fungsi utama dari permainan, yaitu:

1. Fungsi Kognitif Permainan, membantu perkembangan kognitif

anak. Melalui permainan, anak – anak menjelajahi lingkungannya, mempelajari objek – ojek di sekitarnya dan belajar memecahkan masalah yang dihadapinya.

2. Fungsi Sosial Permainan, dapat meningkatkan perkembangan social anak. Dalam permainan fantasi dengan memerankan suatu peran, anak mempelajari orang lain dan peran – peran yang akan dia mainkan di kemudian hari setelah tumbuh menjadi dewasa.

(11)

3. Fungsi Emosi Permainan, memungkinkan anak untuk memecahkan sebagian dari masalah emosionalnya, belajar mengatasi kegelisahan dan konflik batin.

b) Jenis Permainan

Studi klasik terhadap aktivitas permainan anak – anak prasekolah dilakukan oleh Mildred Parten, yang berdasarkan observasinya terhadap anak – anak usia 2 hingga 5 tahun, menemukan enam kategori permainan anak – anak, yaitu:

1. Permainan Unoccupied. Anak memperhatikan dan melihat

segala sesuatu yang menarik perhatiannya dan melakukan gerakan – gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidak terkontrol.

2. Permainan Solitary. Anak dalam sebuah kelompok asyik

bermain sendiri – sendiri dengan berbagai macam alat permainan, sehingga tidak terjadi kontak anatara satu sama lain dan tidak peduli terhadap apa pun yang sedang terjadi.

3. Permainan Onlooker. Anak ikut melihat dan memperhatikan anak – anak lain bermain. Anak ikut berbicara dengan anak – anak lain itu dan mengajukan pertanyaan – pertanyaan, tetapi dia tidak ikut terlibat dalam aktivitas perrmainan tersebut.

4. Permainan Parallel. Anak – anak bermain dengan alat – alat permainan yang sama, tetapi tidak terjadi kontak antara satu dengan yang lain atau tukar menukar alat permainan.

5. Permainan Assosiative. Anak bermain bersama – sama saling meminjam alat permainan, tetapi permainan itu tidak mengarah pada satu tujuan, tidak ada pembagian peranan dan pembagian alat – alat permainan.

(12)

6. Permainan Cooperative. Anak – anak bermain dalam kelompok yang terorganisir, dengan kegiatan – kegiatan konstruktif dan membuat sesuatu yang nyata, dimana setiap anak mempunyai peranan sendiri – sendiri. Kelompok ini dipimpin dan diarahkan oleh salah satu atau dua orang anak sebagai pemimpin kelompok.

2.1.4 Metode Pembelajaran

Model pembelajaran adalah penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran, sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri anak. Adapun komponen model pembelajaran meliputi; konsep, tujuan pembelajaran, materi/tema, langkah-langkah/prosedur, metode, alat/sumber belajar, dan teknik evaluasi.

Beberapa ahli pendidikan berpendapat tentang metode

pembelajaran adalah:

Menurut Roidjakkers (1984) mengatakan bahwa metode belajar harus mampu mendorong proses pertumbuhan pola laku ,membina kebiasaan dan mengembangkan kemahiran untuk penyesuaian dalam interaksi proses pembelajaran

Menurut Briggs (1977) mengatakan bahwa yang dimaksud metode belajar suatu cara penyampaian pelajaran yang melibatkan sistem pengajaran berupa seperangkat komponen-komponen terdiri dari bahan pengajaran, tes, siswa dan guru yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pengajaran.

Adapun macam – macam model pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Model pembelajaran klasikal.

Model pembelajaran klasikal adalah pola pembelajaran dimana dalam waktu yang sama, kegiatan dilakukan oleh seluruh anak sama

(13)

dalam satu kelas. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang paling awal digunakan di TK, dengan sarana pembelajaran yang pada umumnya sangat terbatas, serta kurang memperhatikan minat individu anak. Seiring dengan perkembangan teori dan pengembangan model pembelajaran, model ini sudah banyak ditinggalkan.

2. Model pembelajaran kelompok.

Model pembelajaran kelompok dengan pengaman adalah pola pembelajaran dimana anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok (biasanya menjadi tiga kelompok), masing-masing kelompok melakukan kegiatan yang berbeda. Dalam satu pertemuan, anak didorong harus mampu menyelesaikan 2 – 3 kegiatan dalam kelompok secara bergantian. Apabila dalam pergantian kelompok terdapat anak-anak yang sudah menyelesaikan tugasnya lebih cepat daripada temannya, maka anak tersebut dapat meneruskan kegiatan lain selama dalam kelompok lain masih ada tempat. Jika sudah tidak ada tempat, anak-anak tersebut dapat bermain pada tempat tertentu yang sudah disediakan oleh guru, dan tempat itulah yang disebut dengan kegiatan pengaman. Pada kegiatan pengaman sebaiknya disediakan alat-alat yang lebih bervariasi dan sering diganti sesuai dengan tema atau subtema yang dibahas.

3. Model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan.

Model pembelajaran ini menyediakan sudut-sudut kegiatan yang menjadi pusat kegiatan pembelajaran berdasarkan minat anak. Alat-alat yang disediakan harus bervariasi mengingat minat anak yang beragam. Alat-alat tersebut juga harus sering diganti disesuaikan dengan tema dan subtema yang dibahas.

(14)

4. Model pembelajaran berdasarkan area.

Model ini pada dasarnya hampir sama dengan model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan. Model ini lebih memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajarannya dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak dan menghormati keberagaman budaya. Kecuali itu juga menekankan pada pengalaman belajar bagi setiap anak, pilihan-pilihan kegiatan dan pusat-pusat kegiatan serta peran serta keluarga dalam proses pembelajaran.

5. Model pembelajaran sentra.

Model pembelajaran berdasarkan sentra memiliki ciri utama pemberian pijakan (scaffolding) untuk membangun konsep, aturan, ide, dan pengetahuan anak serta konsep densitas serta intensitas bermain. Model pembelajaran ini berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra bermain dan pada saat anak berada dalam lingkaran. Pada umumnya pijakan/dukungan dalam model ini untuk mendukung perkembangan anak, yaitu pijakan sebelum bermain, pijakan selama bermain dan pijakan setelah bermain. Pijakan ini dimaksudkan untuk mendukung perkembangan anak lebih tinggi. Ada 3 jenis permainan yang disediakan dalam model ini yaitu; bermain sensorimotorik atau fingsional, bermain peran, dan bermain pembangunan (konstruktif, yaitu membangun pemikiran anak). (http://paudanakceria.wordpress.com/2011/02/17/model-%E2%80%93-model-pembelajaran-di-taman-kanak-kanak/ 080313)

Beberapa metode pembelajaran yang diterapkan pada pembelajaraan di TK adalah:

1. Metode Bercerita

Metode bercerita adalah cara bertutur kata dan penyampaian cerita atau memberikan penjelasan tentang suatu cerita kepada anak secara lisan.

(15)

2. Metode Bercakap-cakap

Metode bercakap-cakap berupa kegiatan bercakap-cakap atau bertanya jawab antara anak dengan guru atau antara anak dengan anak. Bercakap-cakap dapat dilaksanakan dalam bentuk :

a.Bercakap-cakap bebas

b.Bercakap-cakap menurut tema

c.Bercakap-cakap berdasarkan gambar seri

Dalam bercakap - cakap bebas kegiatan tidak terikat dengan tema, tetapi pada kemampuan yang diajarkan. Bercakap-cakap menurut tema tertentu. Bercakap – cakap berdasarkan gambar seri menggunakkan gambar seri sebagai bahan pembicaraan.

3. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya Jawab dilaksanakan dengan cara mengajukan pertanyaan tertentu kepada anak . Metode ini digunakan untuk :

1.Mengetahui pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki anak .

2.Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya.

3.Mendorong keberanian anak untuk mengemukakan pendapat.

4. Metode Sosiodrama atau bermain peran

Metode sosiodrama adalah cara memberikan pengalaman kepada anak melalui bermain peran, yakni anak diminta memainkan peran tertentu dalam suatu permainan peran. Misalnya, bermain jual beli sayur-mayur, bermain menolong orang yang jatuh, bermain menyayangi keluarga dan lain-lain.

5. Metode Eksperimen

Metode Eksperimen adalah cara memberikan pengalaman kepada anak dimana anak memberikan perlakuan terhadap sesuatu dan

(16)

mengamati akibatnya. Misalnya, balon ditiup, warna yang dicampur, air dipanaskan, tanaman disiram dan tidak disirami dan lain-lain.

6. Metode Proyek

Metode Proyek adalah cara memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan alam sekitar dan kegiatan sehari-hari sebagai bahan pembahasan melalui bebagai kegiatan.

7. Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas adalah metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas yang disiapkan oleh guru.

8. Metode Karyawisata

Metode yang dilakukan dengan mengajak anak mengunjungi obyek-obyek yang sesuai dengan tema.

9. Metode Demonstrasi

Metode Demonstrasi adalah metode yang dilakukan dengan cara menunjukkan cara atau memperagakan suatu cara atau suatu ketrampilan. Tujuannya agar anak dapat memahami dan dapat melakukan dengan benar, misalnya mengupas buah, memotong rumput, menanam. (Depiknas. Pedoman pembelajaran di TK. 2006)

2.1.5. Klasifikasi Jenis Kegiatan / Aktifitas

a. Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru dan antara sesama siswa dalam proses pembelajaran. Pengertian interaksi mengandung unsur saling memberi dan menerima.

Dalam setiap proses interaksi belajar mengajar ditandai sejumlah unsur, yaitu:

(17)

1.Tujuan yang hendak dicapai. 2.Siswa dan Guru

3.Bahan Pelajaran.

4.Metode yang digunakan untuk menciptakan situasi belajar mengajar.

5.Penilaian yang fungsinya untuk menetapkan seberapa jauh ketercapaian tujuan. (Sadirman,1986:23)

b. Daya Cipta

Daya cipta dilaksanakan di TK bertujuan untuk:

• Mengenalkan benda atau hal-hal di lingkungan sekitar untuk menciptakan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. • Mengenalkan cara mengekspresikan diri melalui ciptaannya

dengan menggunakan teknik – teknik yang sudah dikuasai.

• Mengenalkan cara dan menemukan alternative pemecahan

masalah.

• Menikmati dan menghargai hasil ciptannya sendiri dan ciptaan orang lain dalam kehdupan sehari – hari.

(KEMENDIKBUD. Kurikulum Taman Kanak – Kanak. 1986) c. Daya Pikir

Kognitif cognoscre (bahasa latin) = mengetahui (to know)

• Kemampuan untuk berfikir dan mengamati, melihat hubungan agar

anak memperoleh pengetahuan baru yang didkung dengan kemampuan bertanya. (Siti Partini, 2003:1)

• Kognisi dapat diartikan sebagai pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas, kemampuan bahasa serta daya ingat (Tedjasaputra, 2001).

• Ditandai dengan hasrat ingin tahu, bertanya, menyelidiki, menemukan,mencoba-coba.

(18)

Pengembangan%20Daya%20Pikir%20dan%20Daya%20Cipta.pd ftgl:23.02.2013)

d. Keterampilan

Keterampilan adalah kepandaian melakukan sesuatu dengan cepat dan benar. Seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan cepat tetapi salah tidak dapat dikatakan terampil. Demikian pula apabila seseorang dapat melakukan sesuatu dengan benar tetapi lambat, tidak juga dikatakan terampil. (Soemarjadi, Muzni Ramanto, Wikdato Zahri, 1991:2)

e. Jasmani

Pendidikan jasmani yang patut dikemukakan adalah definisi yang dilontarkan pada Lokakarya Nasional tentang Pembangunan olahraga pada tahun 1981(Abdul Gafur, 1983:8-9) : Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila.

(http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/12/definisi-pendidikan-jasmani.htmltgl: 24.02.2013) f. Kemampuan Bermasyarakat 2.1.6. Klasifikasi Fasilitas a. Ruang Kelas b. Ruang Guru c. Ruang Bermain d. Ruang UKS

(19)

e. Toilet Guru f. Toilet Anak g. Pantry

h. Gudang

2.1.7. Persyaratan Umum

Pendirian Kelompok Bermain dan TK memiliki persyaratan khusus, diantaranya:

• Aman, Nyaman, Terang, memenuhi kriteria kesehatan bagi anak dan sesuai tingkat perkembangan anak

• Luas lahan minimal 300 m² (ruang guru, ruang Kepala TK, tempat

UKS, kamar mandi/WC guru/anak. • Ruang anak dengan rasio 3m² per anak

• Memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruang • Memiliki halaman atau tempat bermain dan mempunyai ruang

bermain terbuka. (KEMENDIKBUD. Juknis Penyelenggaraan TK. 2011)

2.1.8. Persyaratan Fasilitas

Menurut Kementrian Pendidikan Nasional Kelompok Bermain dan Taman Kanak – Kanak memiliki beberapa minimal persyaratan, yaitu:

(20)

Selain itu untuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak – Kanak bagi masyarakat menengah atas atas, memiliki tambahan fasilitas tersendiri. Seperti;

1. Ruang Bermain Indoor

2. Ruang Bermain Outdoor

3. Ruang Multimedia dan Komputer

4. Ruang Gym

5. Ruang Perpustakaan / Ruang Baca

6. Ruang Kelas Yang Luas

7. Fasilitas Alat Peraga dan Permainan

8. Ruang Menari

9. Ruang Melukis

10. Mushola

11. Aula

(21)

2.1.9. Standarisasi Ukuran

Anak – anak memiliki ukuran tubuh yang berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu ukuran furniturenya pun harus disesuaikan dengan ukuran tubuh anak. Berikut ini adalah ukuran standart anak-anak :

Gambar 2.1 standarisasi ukuran anak usia 3 – 5 thn

(22)

2.2 Tinjauan Khusus

2.2.1 Hasil Survey

a. Kidea Menteng

• Alamat : Apartment Executive Menteng

JL. Pegangsaan Barat Kav 6-12, Menteng

• Lokasi :

Jumlah Murid : Toddler (2 - 2,5 thn) : 11 orang

Playgroup (2,5 - 3 thn) : 13 orang Preschool (3 - 4 thn) : 13 orang Kindergarten1 (4 – 5 thn) : 9 orang Kindergarten2 (5 – 6 thn) : 9 orang • Jumlah Guru : 8 orang

• Visi & Misi

Visi: Untuk memberikan pendidikan anak usia dini yang baik untuk semua anak.

Misi: Untuk membantu anak-anak mengembangkan bakat mereka dan meningkatkan potensi mereka sebagai bekal pendidikan mereka di masa depan.

(23)

Gambar 2.3 pintu masuk Kidea (sumber:http://www.kidea.sch.id/mainnews. php?id=3) Gambar 2.4 Receptionist (sumber:http://www.kidea.sch.id/main news.php?id=3)

Gambar 2.5 Ruang makan anak

(sumber:http://www.kidea.sch.id/mainnews.php?id=3&sid=1) • Tujuan & Sasaran

Untuk memberikan pengalaman yang akan memenuhi kebutuhan anak-anak dan merangsang daya belajar anak di semua mata pelajaran.

Untuk membantu anak-anak menemukan dan menyadari potensi penuh mereka dalam lingkungan yang aman, menjaga dan merangsang kemampuan mereka.

Untuk mengembangkan keterampilan mereka dan membantu mereka menjadi mandiri, individu yang bertanggung jawab secara sosial dan menyesuaikannya di sekolah, di rumah dan di masyarakat. • Foto hasil survey

(24)

Pertama kali ruangan yang akan ditemui setelah melalui pintu masuk adalah ruang makan anak, yang biasa digunakan ketika anak – anak sedang beristirahat. Selain itu di dalam ruang tersebut terdapat meja reception. Wall (dinding), pada ruang tersebut dilapisi oleh wall printing. Lalu untuk ceiling (plafon), mereka menggunakan acoustic ceiling dan floor (lantai), menggunakan keramik berukuran 40x40cm.

2. Ruang Kelas

Gambar 2.6 Wall

Gambar 2.7 Ceiling

Gambar 2.8 Floor

Gambar 2.9 Ruang Kelas Kindergarten

(sumber:http://www.kidea.sch.id/mai nnews.php?id=3&sid=1)

Gambar 2.10 Ruang Kelas Kindergarten (sumber:http://www.kidea.sch.id/mainnew

(25)

Untuk ruang kelas Preschool dan Playgroup jenis lantai yang digunakan adalah vynil. Dan untuk ruang preschool di tambah dengan matras yang biasa di gunakan untuk gym. Karena ruangan preschool sekaligus digunakan untuk ruang gym. Untuk ruang kelas kindergarten mendapatkan pencahayaan dan penghawaan alami, karena memiliki akses langsung ke taman. Tetapi untuk ruang kelas preschool dan playgroup hanya mengunakan pengahawaan dan pencahaan buatan.

3. F

asilitas Tambahan

Gambar 2.12 Ruang Kelas Playgroup (sumber:http://www.kidea.sch.id/mainn

ews.php?id=3&sid=1) Gambar 2.11 Ruang Kelas Preschool

(sumber:http://www.kidea.sch.id/main news.php?id=3&sid=1)

Gambar 2.13 Ruang Perpustakaan (sumber:http://www.kidea.sch.id/m

ainnews.php?id=3&sid=1)

Gambar 2.14 Ruang Perpustakaan (sumber:http://www.kidea.sch.id/mai

(26)

Karena sekolah tersebut berada di dalam apartement , untuk ruang bermain indoor, outdoor dan kolam renang, sekolah menggunakan fasilitas milik apartement. Untuk ruang perpustakaan, ruang tersebut berada di dalam area sekolah.

\

Gambar 2.15 Ruang bermain outdoor (sumber:http://www.kidea.sch.id/mai

nnews.php?id=3&sid=1)

Gambar 2.16 Ruang bermain outdoor (sumber:http://www.kidea.sch.id/mai

nnews.php?id=3&sid=1)

Gambar 2.17 Ruang bermain indoor (sumber:http://www.kidea.sch.id/mai

nnews.php?id=3&sid=1)

Gambar 2.18 Kolam renang (sumber:http://www.kidea.sch.id/

(27)

b. Labschool Rawamangun

• Alamat : Taman Kanak-kanak Lab. School

Jl. Pemuda Unj Rawamangun, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia

• Lokasi :

• Jumlah Murud : Kelompok Bermain (KB) : 37

TK A : 67 TK B : 85 • Jumlah Kelas : KB : 4 TK A : 3 TK B : 3 • Jumlah Guru : 23 • Visi dan Misi VISI

Labshool merupakan sekolah yang mempersiapkan calon

pemimpin masa depan yang bertaqwa, berintegrasi tinggi, berdaya juang kuat, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, serta mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi.

(28)

MISI

1. Menciptakan lingkungan belajar yang menantang, menyenangkan dan bermakna.

2. Menanamkan rasa cinta dan sayang terhadap lingkungan pada anak

mulai dari usia dini.

3. Melakukan proses pembelajaran inklusi yang humanistic dan holistic.

4. Menghasilkan lulusan yang bermutu, berkarakter positif dan mempunyai daya saing yang kuat.

5. Melakukan upaya untuk memberikan kesempatan kepada pendidik

dan tenaga kependidikan agar memiliki inisiatif dan kemandirian dalam melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan bertanggung jawab.

6. Memiliki pendidik dan tenaga kependidikan yang dapat

memberikan teladan dan melakukan tugasnya sesuai tuntutan profesi.

7. Memiliki pimpinan yang berwawasan luas, berorientasai ke masa depan dan terampil melakukan manajemen yang profesional.

8. Menjalin kemitraan dengan orangtua dan masyarakat dalam

(29)

Gambar 2.19 gedung TK/KB Labschool (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.20 pintu masuk sekolah (sumber pribadi,13022013) • Foto Survey

(30)

Gambar 2.21 pintu masuk lantai 2 (sumber pribadi,13022013)

TK/KB Labschool berada di komplek kampus UNJ, TK tersebut pun bergabung dengan SMP dan SMA Labschool. Tetapi TK Labschool memiliki gedung sendiri yang terdiri dari 3 lantai. Untuk letaknya sendiri, sekolah ini berada di pinggir jalan besar, tetapi sekolah ini menjorok masuk ke dalam dan memiliki pengawasan yang ketat dari pihak keamanan sekolah atau pun dari pihak UNJ.

Untuk penghawaan dan pencahayaan, sekolah ini memiliki penghawaan alami yang baik dan pencayahaan alami yang baik pula. Sebagian besar ruang di kelas ini menggunakan keramic 30x30 cm untuk bagian lantai, gypsum untuk ceiling dan beberapa bagian wall yang di lukis dengan cat.

Untuk akses pintu masuk ke dalam sekolah ini dapat melalui 2 pintu. Yang pertama, masuk melalui pintu depan. Pintu itu biasa digunakan oleh orang tua murid yang mengantar mereka. Dan pintu masuk lantai 2, untuk melalui pintu ini harus melalui pintu masuk utama sekolah Labshool dan melewati reception. Pintu ini biasa digunakan oleh tamu yang datang dan harus lapor terlebih dahulu ke putugas keamanan untuk mengisi buku tamu.

(31)

Gambar 2.22 Ruang Kelas B1 (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.23 Ruang Kelas B1 (sumber pribadi,13022013)

(32)

Gambar 2.24 Ruang Kelas B2 (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.25 Rak sepatu (sumber pribadi,13022013)

Untuk ruang kelas B1, B2 dan B3 berada di lantai dua. Selain ruang kelas B1 dan B2 terdapat juga ruang guru, pantry guru,lab komputer. Untuk lantai, seluruh ruangan di sekolah ini menggunakan keramic 30x30cm. Hanya saja di setiap kelas pasti menggunakan karpet sebagai alas anak – anak ketika duduk di lantai. Wall pada kelas B1, B2 dan B3 di salah satu sisinya dilapisi sterofoam sepanjang dinding tersebut yang kemudian dilapisi kembali dengan kain. Dinding itu digunakan untuk menempel karya anak – anak di setiap tema yang telah ditentukan oleh guru mereka. Ceiling di setiap kelas terbuat dari gypsum yang kemudian di dekor atau di hias oleh guru dan murid – murid mereka sesuai tema kelas mereka. Selain itu, di deapn setiap kelas terdapat rak sepatu untuk tempat sepatu mereka.

(33)

Gambar 2.26 Ruang Kelas A (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.27 Ruang Kelas A (sumber pribadi,13022013)

(34)

Untuk ruang kelas A1, A2 dan A3 berada di lantai 1 dan terdapat di dalam 1 ruang kelas. Selain itu pintu kaca agar guru – guru mudah untuk mengawasi mereka. Di depan setiap kelas juga terdapat rak – rak sepatu untuk menyimpan sepatu murid – murid. Selain ruang kelas tersebut, terdapat pula ruang kelas KB, mushola, uks, area bermain outdoor dan ruang tunggu. Selain itu kelas ini mendapatkan pencahayaan dan penghawaan alami yang baik.

Gambar 2.28 Rak Sepatu (sumber pribadi,13022013)

(35)

Gambar 2.29 Ruang Kelas KB (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.30 Ruang Kelas KB (sumber pribadi,13022013)

(36)

Ruang kelas Kelompok Bermain (KB) berada di lantai 1. Sama seperti ruang kelas A yang di gabung menjadi satu, ruang KB juga digabung menjadi satu ruang. Ruang kelas ini terdapat banyak jenis permainan, karena untuk kelompok ini anak – anak di ajarkan melalui media permainan. Untuk jadwal kelompok bermain hanya masuk sekolah 3x seminggu. Mulai dari pukul 08.00 – 10.00 WIB.

Gambar 2.31 Ruang Kelas KB (sumber pribadi,13022013)

(37)

Gambar 2.32 Ruang Bermain Indoor (sumber pribadi,13022013) 5. Fasilitas Tambahan

Ruang bermain ini berada di lantai 3. Ruangan ini cukup luas, selain untuk area bermain ruangan ini juga biasa digunakan untuk latihan eksatra kulikuler drumband. Ruang ini menggunakan keramik berukuran 30x30 cm, ceiling dengan gysum dan wall yang hanya di cat orens dan putih.

Gambar 2.33 Ruang Melukis (sumber pribadi,13022013)

(38)

Gambar 2.34 Ruang Melukis (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.35 Ruang Musik (sumber pribadi,13022013)

(39)

Gambar 2.36 Ruang Musik (sumber pribadi,13022013)

Ruang melukis dan ruang musik berada sebelahan dan hanya dipisahkan oleh lemari saja sehingga suara yang di timbulkan dari alat – alat musik terdengar hingga ke ruang melukis. Ke dua ruangan ini digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler, biasanya kegiatan ekstra kulikuler dilakukan setelah jam pelajaran selesai, mulai pukul 11.00 – 12.00 WIB.

Gambar 2.37 Ruang Menari (sumber pribadi,13022013)

(40)

Gambar 2.39 Mushola (sumber pribadi,13022013)

Ruang menari ini berada juga di lantai 3, di dalam ruangan ini terdapat cermin yang besar dan digunakan untuk latihan menari murid – murid. Ukuran ruangan ini cukup luas, sehingga biasa digunakan untuk rapat para guru.

Mushola ini berada di lantai 1, untuk wall dan ceiling ruangan ini dilukis menggunakan cat. Ruangan ini biasa digunakan untuk mengajarkan murid – murid untuk solat dan juga digunakan oleh guru serta karyawan untuk beribadah solat.

Gambar 2.38 Ruang Menari (sumber pribadi,13022013)

(41)

Ruang tunggu ini berada disisi pintu masuk, dan ukurannya sendiri relative sempit. Sehingga jarang sekali orang tua atau pengantar murid menunggu disini. Biasanya mereka menunggu diluar pintu masuk.

Gambar 2.40 Ruang Tunggu (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.41 Area bermain outdoor (sumber pribadi,13022013)

(42)

TK/KB Labschool memiliki area bermain outdoor yang luas. Permainannya pun beraneka ragam, sehingga membuat anak – anak senang untuk bermain di sekolah.

Gambar 2.42 Area bermain outdoor (sumber pribadi,13022013)

Gambar 2.43 Area bermain outdoor (sumber pribadi,13022013)

(43)

c. Phoenix Kids School Menteng

• Alamat :Jl. Teungku Cik Diktiro 1 no.6

Menteng Jakarta Pusat

• Lokasi :

• Jumlah Murid : Playgroup : 20

TK A : 13

TK B : 10

• Jumlah Kelas : Playgroup : 2

TK A : 2

TK B : 2

• Jumlah Guru : 10

(44)

Gambar 2.44 Teras (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.45 Teras (sumber pribadi,14022013) • Foto Hasil Survey

1. Enterance

Pertama kali ketika murid – murid ingin masuk kelas, murid – murid selalu dikumpulkan dan berbaris di ruang ini. Biasanya guru – guru mereka membacakan berita melalui koran, sehingga anak – anak mengerti apa yang sedang menjadi permasalahan di Negara mereka. Setelah itu anak – anak berbaris dan bernyanyi lalu memasuki kelas mereka masing – masing.

Pada wall dan pintu ruangan ini banyak terdapat foto dan karikatur dari guru dan murid – murid. Pada bagian juga ditempel beberapa hasil gambar murid.

(45)

Gambar 2.46 Halaman Depan (sumber pribadi,14022013)

Pada bagian ceiling menggunakan gypsum dan menggunakan keramik berukuran 30 x 30 cm pada lantai ruang tersebut.

Di halaman depan ini anak – anak biasa diberi tugas untuk menyiram tanaman dan memberi makan binatang pemeliharaan. Guru – guru membiasakan murid – murid mereka untuk menjaga lingkungan hidup di sekitar mereka.

2. Ruang Kelas

Gambar 2.47 Ruang Kelas TK A (sumber pribadi,14022013)

(46)

Gambar 2.48 Ruang Kelas TK B (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.49 Ruang Kelas TK B (sumber pribadi,14022013)

(47)

Ceiling ruang kelas terbuat dari gypsum yang di hiasi oleh karya – karya murid. Wall ruang kelas di cat dengan dua variasi warna dan dihiasi oleh karya – karya murid. Floor pada ruang kelas menggunakan marmer berukuran 40 x 40 cm berwarna abu – abu dan di lapisi dengan matras untuk keselamatan murid – murid. Di depan setiap kelas terdapat loker untuk tas murid yang terbuat dari drum bekas dan di cat ulang sehingga dapat digunakan kembali. Pada ruang kelas tidak

Gambar 2.50 Ruang Kelas Agama (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.51 Loker Anak (sumber pribadi,14022013)

(48)

terdapat jendela. Dan hanya menggunakan pencahayaan buatan serta tidak mendapatkan sirkulasi udara yang baik karena hanya menggunakan AC.

3. Fasilitas Pendukung

Gambar 2.52 Toilet Anak (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.53 Area Shower (sumber pribadi,14022013)

(49)

Menggunakan keramik berwarna hitam dan putih berukuran 20 x 20 cm untuk floor kamar mandi anak. Untuk wall juga mengunakan keramik yang berbeda ukuran dan warna disetiap areanya. Wastafel terbuar dari keramik berwarna oranye.

Gambar 2.54 Kloset Anak (sumber pribadi,14022013)

(50)

Luas perpustakaan ini tidak terlalu besar, hanya ada 2 rak buku di dalamnya. Tidak ada area untk membaca anak, karena biasanya murid – murid meminjam dan membaca buku – buku tersebut di rumah masing – masing.

Gambar 2.55 Perpustakaan (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.56 Area Bermain Outdoor (sumber pribadi,14022013)

(51)

Area bermain outdoor sekolah ini cukup luas, terdapat kolam pasir dan kolam air yang ukurannya tidak terlalu besar. Tidak banyak mainan yang berada ada di area bermain ini, karena guru – guru ingin mengasah daya imajinasi dan kekreatifan murid – murid mereka.

Gambar 2.57 Area Bermain Outdoor (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.58 Alat Bermain (sumber pribadi,14022013)

(52)

Pada salah satu bidang wall terdapat cermin yang berfungsi sebagai alat bantu anak ketika melakukan kegiatan berolahraga. Ruangan ini menggunakan parket sebagai pelapis floor. Penghawaan dan pencahayaan pada ruang ini hanya menggunakan penghawaan dan pencahayaan buatan saja.

Gambar 2.59 Ruang Gym (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.60 Ruang Gym (sumber pribadi,14022013)

(53)

Sekolah ini memiliki pojok art, untuk tempat murid – murid mengembangkan daya kreatif mereka. Menggunakan parket pada bagian lantainya. Ruang ini juga menjadi satu dengan meja reception.

Gambar 2.61 Rak Penyimpanan Alat Kreatif (sumber pribadi,14022013)

Gambar 2.62 Pojok Art (sumber pribadi,14022013)

Gambar

Gambar 2.1 standarisasi ukuran anak usia 3 – 5 thn
Gambar 2.6 Wall
Gambar 2.12 Ruang Kelas Playgroup  (sumber:http://www.kidea.sch.id/mainn
Gambar 2.15 Ruang bermain outdoor  (sumber:http://www.kidea.sch.id/mai
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Hal ini berarti besaran pengaruh dari variabel kepuasan kerja internal dan eksternal secara bersamaan terhadap komitmen organisasi karyawan BPJS Ketenagakerjaan

Kader posyandu lansia berkunjung ke rumah lansia yang tidak hadir dalam kegiatan posyandu lansia untuk memantau keadaan

dan prasarana Aparatur Jumlah Sarana dan Prasarana yang terpelihara 1 Mobil 5 Spd Motor 1 Mobil 5 Spd Motor 100% 4. Penyusunan Laporan Capaian kinerja dan ikhtisar

Meskipun metoda penyambung poros dengan menggunakan kopling ini banyak digunakan, namun satu hal yang tidak bisa dihindari adalah adanya ketidak sebarisan

PBR dapat dengan cepat dan mudah untuk mendeteksi apabila terjadi keragaman yang diluar batas toleransi pada proses produksi mereka, untuk itu perlu dirancang suatu aplikasi

[r]

Setelah Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pengangkatan Dan Pemberhentian Perangkat Desa dilakukan pengujian di Mahkamah Agung, Bupati Kediri

Oentoro (2012) mengemukakan setiap keputusan pembelian tersebut memiliki strutur komponen yang berbeda, diantaranya: a) Keputusan tentang jenis produk. Konsumen dapat