• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA AGUSTUS 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA AGUSTUS 2015"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015 1 No. 54/11/31/Th. XVII, 5 November 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA

AGUSTUS 2015

TPT DKI JAKARTA BULAN AGUSTUS 2015 SEBESAR 7,23 PERSEN

Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2015 tercatat 5,09 juta orang, bertambah sekitar 28,74 ribu orang dibandingkan jumlah angkatan kerja pada Agustus 2014 sebesar 5,06 juta orang (meningkat 0,57 persen).

Jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi DKI Jakarta pada Agustus 2015 sebesar 4,72 juta orang, bertambah sekitar 89,66 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2014 sebesar 4,63 juta orang (meningkat 1,93 persen).

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi DKI Jakarta pada Agustus 2015 sebesar 7,23 persen, mengalami penurunan 1,24 poin dibandingkan keadaan Agustus 2014 (8,47 persen). Secara absolut jumlah pencari kerja atau penganggur mengalami penurunan sebesar 60,92 ribu orang, dari 429,11 ribu orang pada Agustus 2014 menjadi 368,19 ribu orang pada Agustus 2015 (menurun 14,20 persen).

Pada periode Agustus 2014 - Agustus 2015, terjadi pertumbuhan negatif penduduk yang bekerja di Sektor Agricultural sebesar 26,03 persen sedangkan Sektor Manufacturing dan Sektor Services mengalami pertumbuhan yang positif yaitu 2,30 persen dan 2,05 persen.

Pada Agustus 2015, status pekerjaan sebagai buruh/karyawan merupakan yang terbanyak, yaitu sebesar 3,22 juta orang (68,16 persen), diikuti berusaha sendiri sebesar 720,01 ribu orang (15,24 persen), sedangkan yang terkecil adalah pekerja bebas sebesar 124,96 ribu orang (2,65 persen).

 Berdasarkan jumlah jam kerja pada Agustus 2015, sebanyak 4,16 juta orang (89,95 persen) bekerja 35 jam atau lebih per minggu, sedangkan yang bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 8 jam per minggu hanya sebesar 28,34 ribu orang (0,60 persen).

 Pada Agustus 2015, pekerja yang berpendidikan tinggi (Diploma dan Universitas) adalah yang terbanyak, yaitu 1,17 juta orang (24,79 persen), diikuti dengan pendidikan SMA Umum sebanyak 1,10 juta orang (23,37 persen) dan pendidikan SMA Kejuruan sebanyak 0,89 juta orang (18,96 persen).

 Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, pada bulan Agustus 2015. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tamatan SMA Kejuruan sebesar 10,98 persen.

1

. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Angka Pengangguran

Secara keseluruhan struktur ketenagakerjaan di Provinsi DKI Jakarta pada bulan Agustus 2015 telah mengalami perubahan. Pada bulan Agustus 2015, jumlah angkatan kerja tercatat 5,09 juta orang, meningkat sebanyak 28,74 ribu orang dibanding keadaan Agustus 2014 (meningkat 0,57 persen). Jumlah

(2)

2 Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015

angkatan kerja perempuan meningkat sebesar 57,27 ribu orang sedangkan jumlah angkatan kerja laki-laki menurun sebesar 28,53 ribu orang. (Tabel 1)

Jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami peningkatan dari 4,63 juta orang pada Agustus 2014 menjadi 4,72 juta orang pada Agustus 2015, atau terjadi peningkatan sebanyak 89,66 ribu orang (meningkat 1,93 persen). Selama Agustus 2014 - Agustus 2015, mirip dengan pola jumlah angkatan kerja yaitu jumlah penduduk bekerja wanita meningkat sebesar 105,60 ribu orang sedangkan jumlah penduduk bekerja laki-laki menurun sebesar 15,94 ribu orang.

Selama periode Agustus 2014 - Agustus 2015, angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami penurunan dari 8,47 persen menjadi 7,23 persen, atau turun sebesar 1,24 poin. Menurut jenis kelamin, TPT laki-laki mengalami penurunan 0,33 poin yaitu dari 7,90 persen menjadi 7,57 persen, sementara TPT perempuan mengalami penurunan 2,79 poin dari 9,45 persen menjadi 6,67 persen.

Secara absolut, jumlah penganggur mengalami penurunan sebanyak 60,92 ribu orang dari 429,11 ribu orang pada Agustus 2014 menjadi 368,19 ribu orang pada Agustus 2015 (menurun 14,20 persen). Selama periode Agustus 2014 - Agustus 2015, penganggur laki-laki menurun sebesar 12,59 ribu orang dan penganggur perempuan menurun sebesar 48,33 ribu orang.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Agustus 2014 mengalami penurunan sebesar 0,23 poin, yaitu dari 66,61 persen pada Agustus 2014 menjadi 66,39 persen pada Agustus 2015. TPAK laki-laki mengalami penurunan sebesar 1,36 poin, sementara TPAK perempuan mengalami peningkatan sebesar 0,97 poin.

Tabel 1

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan Utama Agustus 2014 – Agustus 2015

KegiatanUtama Agustus 2014 Agustus 2015

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. Angkatan Kerja 3.192.879 1.870.600 5.063.479 3.164.349 1.927.870 5.092.219

a. Bekerja 2.940.596 1.693.773 4.634.369 2.924.653 1.799.376 4.724.029

b. Penganggur 252.283 176.827 429.110 239.696 128.494 368.190

2. Bukan Angkatan Kerja 610.972 1.927.023 2.537.995 667.688 1.910.680 2.578.368

3.Penduduk 15 Tahun Keatas 3.803.851 3.797.623 7.601.474 3.832.037 3.838.550 7.670.587

4. Tingkat Partisipasi Angkatan

Kerja / TPAK ( % ) 83,94 49,26 66,61 82,58 50,22 66,39

5. Tingkat Pengangguran

Terbuka / TPT ( % ) 7,90 9,45 8,47 7,57 6,67 7,23

6. Pekerja Tidak Penuh

a.Setengah Penganggur 73.646 47.298 120.944 68.340 47.519 115.859

b.Pekerja Paruh Waktu 133.987 210.659 344.646 146.336 240.281 386.617

2. Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Distribusi penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha, dibedakan menurut tiga sektor utama yaitu sektor agricultural, manufacturing dan services. Sektor agricultural merupakan sektor pertanian, sektor manufacturing merupakan agregat sektor pertambangan dan penggalian, industri, sektor konstruksi, serta sektor listrik, gas dan air. Sektor services merupakan gabungan sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan jasa perusahaan; serta sektor jasa kemasyarakatan. Tabel 2 memperlihatkan struktur penduduk yang bekerja

(3)

Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015 3

menurut tiga sektor utama. Keadaan Agustus 2015 menunjukkan perubahan yang negatif di sektor agricultural sebesar 26,03 persen, sedangkan perubahan positif terdapat di sektor manufacturing sebesar 2,30 persen dan sektor services sebesar 2,05 persen.

Penduduk bekerja keadaan Agustus 2015 di DKI Jakarta menurut tiga sektor menunjukkan bahwa tertinggi ada pada sektor services sebesar 3,76 juta orang (79,68 persen), kemudian diikuti oleh sektor manufaturing sebesar 0,93 juta orang (19,89 persen) dan terakhir sektor agricultural sebesar 19,97 ribu orang (0,42 persen). Menurut jenis kelamin menunjukkan sektor services mendominasi penduduk bekerja di DKI Jakarta baik laki-laki (sebesar 2,21 juta orang atau 75,70 persen) maupun perempuan (sebesar 1,55 juta orang atau sebesar 86,15 persen).

Tabel 2

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Sektor Utama, Agustus 2014 – Agustus 2015

Sektor Utama Agustus 2014 Agustus 2015 % perubahan

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1. Agricultural 23.216 3.793 27.009 15.427 4.551 19.978 -26,03 (%) 0,79 0,23 0,58 0,53 0,25 0,42 2. Manufacturing 677.150 241.561 918.711 695.155 244.670 939.825 2,30 (%) 23,03 14,26 19,83 23,77 13,60 19,90 3. Services 2.240.230 1.448.419 3.688.649 2.214.071 1.550.155 3.764.226 2,05 (%) 76,18 85,51 79,59 75,70 86,15 79,68 Jumlah 2.940.596 1.693.773 4.634.369 2.924.653 1.799.376 4.724.029 1,93 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

3. Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama

Secara sederhana, pendekatan kegiatan formal dan informal dari penduduk yang bekerja dapat diidentifikasi berdasarkan status pekerjaan utama. Dari enam kategori status pekerjaan utama, pendekatan pekerja formal mencakup kategori berusaha dengan dibantu buruh tetap dan kategori buruh/karyawan, sedangkan status pekerjaan lainnya termasuk pekerja informal. Berdasarkan identifikasi ini, pada bulan Agustus 2015 terdapat sebanyak 3,45 juta orang penduduk (72,96 persen) bekerja pada kegiatan formal, dan 1,28 juta orang (27,04 persen) bekerja pada kegiatan informal.

Pada Tabel 3 terlihat bahwa dari 4,72 juta orang penduduk yang bekerja, status pekerjaan yang terbanyak adalah sebagai buruh/karyawan sebesar 3,22 juta orang (68,16 persen), diikuti berusaha sendiri sebesar 720,01 ribu orang (15,24 persen), sedangkan yang paling sedikit adalah pekerja bebas sebesar 124,96 ribu orang (2,65 persen). Penduduk yang bekerja dengan status buruh/karyawan, sebesar 62,24 persen adalah laki-laki dan 37,76 persen perempuan. Sementara itu, penduduk yang bekerja dengan status berusaha sendiri, laki-laki sebesar 64,01 persen dan perempuan sebesar 35,99 persen. Kebalikan dengan status pekerja buruh/karyawan atau berusaha sendiri, penduduk bekerja dengan status pekerja tak dibayar, laki-laki sebesar 24,46 persen dan 75,54 persen perempuan.

Dalam setahun terakhir (Agustus 2014-Agustus 2015) penduduk bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap bertambah sebesar 8,11 ribu orang, dan penduduk bekerja berstatus buruh/karyawan bertambah 79,11 ribu orang. Keadaan ini menyebabkan jumlah penduduk bekerja pada kegiatan formal bertambah sekitar 87,22 ribu orang dan persentase pekerja formal meningkat dari 72,49 persen pada Agustus 2014 menjadi 72,96 persen pada Agustus 2015.

(4)

4 Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015 Tabel 3

Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama, Agustus 2014 – Agustus 2015

Status Pekerjaan Utama Agustus 2014 Agustus 2015

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. Berusaha sendiri 476.061 264.852 740.913 460.883 259.131 720.014

(%) 16,19 15,64 15,99 15,76 14,40 15,24

2. Berusaha dibantu buruh tidak tetap 154.395 63.976 218.371 131.065 77.442 208.507

(%) 5,25 3,78 4,71 4,48 4,31 4,41

3. Berusaha dibantu buruh tetap 168.905 49.849 218.754 185.595 41.269 226.864

(%) 5,75 2,94 4,72 6,34 2,29 4,80

4. Buruh/karyawan 2.002.670 1.138.192 3.140.862 2.004.176 1.215.799 3.219.975

(%) 68,10 67,20 67,77 68,53 67,57 68,16

5. Pekerja bebas 78.015 26.078 104.093 88.214 36.745 124.959

(%) 2,65 1,54 2,25 3,02 2,04 2,65

6. Pekerja tidak dibayar 60.550 150.826 211.376 54.720 168.990 223.710

(%) 2,06 8,90 4,56 1,87 9,39 4,74

Jumlah 2.940.596 1.693.773 4.634.369 2.924.653 1.799.376 4.724.029

(%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

4. Penduduk yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja

Secara umum, komposisi jumlah orang yang bekerja menurut jumlah jam kerja per minggu pada keadaan Agustus 2014 dan Agustus 2015 dapat dilihat pada tabel 4. Pada Agustus 2014 dan Agustus 2015, penduduk bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 8 jam per minggu persentasenya relatif kecil yaitu hanya 0,58 persen ( Agustus 2014) dan 0,60 persen (Agustus 2015) dari total penduduk yang bekerja, atau sebanyak 26,74 ribu orang (Agustus 2014) dan 28,34 ribu orang (Agustus 2015). Sementara itu penduduk yang bekerja sebagai pekerja penuh waktu (full time worker), yaitu penduduk bekerja dengan jumlah jam kerja 35 jam atau lebih per minggu mencapai 4,16 juta orang (89,95 persen) pada Agustus 2014 dan 4,22 juta orang (89,36 persen) pada Agustus 2015. Sehingga terlihat dalam setahun terakhir (Agustus 2014-Agustus 2015) terjadi peningkatan jumlah pekerja dengan jumlah jam kerja normal (35 jam atau lebih seminggu) sebesar 52,74 ribu orang tetapi terdapat penurunan persentase pekerja dengan jumlah jam kerja normal sebesar 0,59 poin.

Jika dilihat menurut jenis kelamin pada Agustus 2015, terlihat pekerja perempuan yang bekerja di bawah jam kerja normal (1-34 jam selama seminggu) lebih tinggi dibandingkan pekerja laki-laki. Pekerja perempuan yang bekerja dibawah jam kerja normal sebesar 287,8 ribu (15,99 persen) sedangkan pekerja laki-laki sebesar 214,68 persen (7,34 persen).

Tabel 4

Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja Seminggu, Agustus 2014 – Agustus 2015

Jumlah Jam Kerja seminggu

Agustus 2014 Agustus 2015

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1–7 8.845 17.896 26.741 15.301 13.046 28.347 (%) 0,30 1,06 0,58 0,52 0,72 0,60 8–14 27.740 44.136 71.876 37.617 53.096 90.713 (%) 0,94 2,60 1,55 1,29 2,95 1,92 15–24 62.175 103.459 165.634 66.492 99.535 166.027 (%) 2,12 6,11 3,57 2,27 5,53 3,52 25–34 108.873 92.466 201.339 95.266 122.123 217.389 (%) 3,70 5,46 4,35 3,26 6,79 4,60 35+ *) 2.732.963 1.435.816 4.168.779 2.709.977 1.511.576 4.221.553 (%) 92,94 84,77 89,95 92,66 84,01 89,36 Jumlah 2.940.596 1.693.773 4.634.369 2.924.653 1.799.376 4.724.029 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

(5)

Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015 5

5. Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan

Pada Agustus 2015, jumlah penduduk yang bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan (Tabel 5) terjadi fluktuasi baik menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Dibandingkan Agustus 2014, peningkatan jumlah tenaga kerja pada Agustus 2015 terjadi pada pendidikan Diploma I keatas sedangkan penurunan terjadi pada tingkat pendidikan dibawah Diploma I. Jumlah pekerja berpendidikan Diploma I keatas meningkat sebesar 163,99 ribu orang sedangkan jumlah pekerja berpendidikan maksimal tamat SLTA menurun sebesar 74,33 ribu orang.

Pada Agustus 2015, penduduk bekerja dengan jenjang pendidikan tinggi (Diploma dan Universitas) mendominasi, yaitu sebesar 1,17 juta orang (24,79 persen), diikuti dengan pendidikan SMA Umum sebesar 1,10 juta orang (23,37 persen). Sementara penduduk yang bekerja dengan SLTP merupakan yang paling sedikit, yaitu 741,20 ribu orang (15,69 persen) dan SD ke bawah sebanyak 811,98 ribu orang (17,19 persen).

Bila dibandingkan jenis kelamin, pada Agustus 2015 terlihat perbedaan pola pekerja menurut pendidikan antara laki-laki dan Perempuan. Pekerja laki-laki didominasi oleh pendidikan tinggi (Diploma dan Universitas) sebesar 663,20 ribu orang atau 22,68 persen dan SMA Umum sebesar 769,64 ribu orang atau 26,32 persen. Untuk pekerja perempuan juga banyak didominasi oleh pendidikan tinggi yaitu sebesar 508,06 ribu orang atau 28,24 persen (Diploma dan Universitas) dan yang memiliki pendidikan rendah (SD kebawah) sebesar 379,87 ribu orang atau 21,11 persen.

Tabel 5

Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Agustus 2014 – Agustus 2015

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Agustus 2014 Agustus 2015

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1. SD Ke Bawah 439.322 377.153 816.475 432.114 379.867 811.981 (%) 14,94 22,27 17,62 14,77 21,11 17,19 2. SLTP 494.653 281.473 776.126 471.452 269.747 741.199 (%) 16,82 16,62 16,75 16,12 14,99 15,69 3. SMA Umum 810.972 305.303 1.116.275 769.644 334.362 1.104.006 (%) 27,58 18,03 24,09 26,32 18,58 23,37 4. SMA Kejuruan 608.517 309.701 918.218 588.238 307.340 895.578 (%) 20,69 18,28 19,81 20,11 17,08 18,96

5. Diploma dan Universitas 587.132 420.143 1,007.275 663.205 508.060 1.171.265

(%) 19,97 24,80 21,73 22,68 28,24 24,79

Jumlah 2.940.596 1.693.773 4.634.369 2.924.653 1.799.376 4.724.029

(%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

6. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan

Peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut tingkat pendidikan menunjukkan Agustus 2015 dibandingkan Agustus 2014 terjadi pada pendidikan SMA Umum, SMA Kejuruan dan Pendidikan Tinggi (Diploma I keatas). TPT pada tingkat pendidikan SMA Umum meningkat 1,70 poin, SMA Kejuruan meningkat 0,86 poin dan Pendidikan Tinggi meningkat 0,15 poin.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2015 dibandingkan Agustus 2014 yang mengalami penurunan adalah pada tingkat pendidikan maksimal tamat SLTP. Penurunan sebesar 7,24 poin terjadi pada pendidikan SD kebawah dan pendidikan SLTP sebesar 3,23 poin.

(6)

6 Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015

Pada Agustus 2015 bila dibandingkan TPT menurut jenis kelamin terlihat bahwa untuk pendidikan SMA Kejuruan dan pendidikan tinggi (Diploma I keatas) menunjukkan bahwa TPT perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sedangkan selain itu menunjukkan bahwa TPT perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Dibandingkan Agustus 2014, keadaan Agustus 2015 menunjukkan bahwa peningkatan TPT laki-laki terjadi pada tingkat pendidikan SMA Umum (2,62 poin), SMA Kejuruan (1,00 poin) dan Diploma dan Universitas (0,07 poin). Peningkatan TPT perempuan terjadi pada tingkat pendidikan SMA Kejuruan (0,55 poin) dan Diploma dan Universitas (0,25 poin).

Tabel 6

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Agustus 2014 – Agustus 2015 (persen)

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Agustus 2014 Agustus 2015

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. SD Ke Bawah 11,48 9,55 10,60 4,40 2,15 3,36

2. SLTP 7,96 12,22 9,56 7,23 4,71 6,33

3. SMA Umum 6,66 9,63 7,49 9,28 8,99 9,19

4. SMA Kejuruan 9,38 11,54 10,12 10,38 12,09 10,98

5. Diploma dan Universitas 5,11 5,59 5,31 5,18 5,84 5,46

(7)

Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015 7

PENJELASAN TEKNIS

Informasi Umum

- Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan baik di sektor ekonomi serta sosial. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap data tentang ketenagakerjaan BPS Melakukan Survei Angkatan Kerja (SAKERNAS). Pengumpulan Data Sakernas menyediakan data ketengakerjaan yang berkesinambungan dan secara khusus adalah menyediakan data tentang penduduk masuk dalam angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) dan penduduk yang pernah berhenti/pindah kerja serta perkembangannya di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional

- Frekwensi Pengumpulan Data : Sakernas dilakukan secara semesteran yaitu Bulan Februari (Sakernas semester I) untuk mendapatkan estimasi hanya sampai tingkat Provinsi dan Agustus (Sakernas Semester II) untuk mendapatkan estimasi sampai tingkat Kab/kota.

- Tipe Pengumpulan Data : Sampel Probabilitas

Variabel Utama :

-

Dari rumah tangga yang terpilih dikumpulkan karekteristik umum setiap anggota rumah

tangga seperti nama, hubungan dengan kepala rumah tangga, jenis kelamin dan umur.

-

Dari rumah tangga yang terpilih khusus untuk anggota rumah tangga berumur 10 tahun

keatas ditanyakan keterangan mengenai status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,

penggangguran, dan pengalaman pekerjaan

Metodologi :

-

Cara pengumpulan data : Probabilita

-

Cakupan Wilayah Survei : Di seluruh wilayah Republik Indonesia

-

Jenis rancangan sampel :

Untuk estimasi sampai tingkat kabupaten/kota sampel dipilih dengan metode two

stages one phase stratafied sampling.

Untuk estimasi level provinsi sampel blok sensus merupakan subsampel dari

sakernas estimasi kabupaten/kota dan dipilih menggunakan metode two stages

stratafied sampling.

(8)

8 Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 54/11/31/Th XVII, 5 November 2015

Informasi lebih lanjut hubungi:

Ir. Sri Santo Budi Muliatinah, M.A. Kepala Bidang Statistik Sosial

Telepon : 021-31928493, 021-31928496, Pesawat 300 Fax : 021-3152004

e-mail : [email protected]

Homepage: http://jakarta.bps.go.id/

Referensi

Dokumen terkait

Bentuk Normal Kelima adalah suatu keadaan yang membuat relasi yang telah memenuhi bentuk normal keempat tidak dapat didekomposisikan menjadi relasi-relasi yang

independen yang terdiri dari current ratio, return on assets dan total assets turnover dalam penelitian ini mampu menjelaskan variabel dependen yaitu investasi aktiva tetap

Peranan polen trap dari bahan bahan plastik dan logam terhadap peningkatan produksi tepung sari lebah adalah salah satu teknologi yang belum terungkap secara

Seperti halnya yang terjadi pada kelas VIII MTs Al Huda Bandung Tulungagung, dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah peserta didik diberikan permasalahan dan

Lamanya waktu pencetakan sertifikat, hal tersebut dikarenakan pencetakan sertifikat dilakukan 1 (satu) minggu setelah kegiatan seminar dilakukan. Lamanya waktu

Metaanalysis ini memasukkan penelitian prospective randomized clinical trial yang membandingkan efek suplementasi zinc dengan kelompok yang tidak diberi intervensi,

Model yang ada hanya dapat dilakukan untuk menilai kinerja industri asam stearat, dan dapat dikembangkan lagi untuk melakukan penilaian terhadap produk sampingan dari industri

Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian disarankan agar (1) para guru bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan strategi belajar peta konsep model rantai kejadian karena terbukti