BAB II LANDASAN TEORI. Pembahasan tentang otak bisa dibagi menjadi menjadi tiga wilayah. utama, yaitu otak depan, otak tengah dan otak belakang.

30 

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. OTAK

Pembahasan tentang otak bisa dibagi menjadi menjadi tiga wilayah utama, yaitu otak depan, otak tengah dan otak belakang.

1. Otak depan

Otak depan adalah struktur wilayah otak yang terletak di bagian atas dan depan otak. Terdiri atas kulit otak, ganglia basalis, sistem limbik, thalamus, dan hipotalamus. Bagian pertama dari otak depan adalah kulit otak. Kulit otak adalah lapisan terluar hemisfer otak yang memainkan peran vital di dalam proses-proses berpikir dan mental kita. Oleh Karena itu, kulit otak merupakan wilayah otak yang istimewa.

Bagian kedua dari otak depan adalah ganglia basalis. Ganglia basalis adalah tempat berkumpulnya neuron-neuron yang krusial bagi fungsi motorik. Disfungsi pada ganglia basalis dapat menyebabkan ketidakmampuan mengendalikan fungsi motorik tubuh. Ketidakmampuan ini mencakup gemetaran, gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki, perubahan-perubahan di dalam postur tubuh dan sifat-sifat otot, dan kelambanan bergerak.

Bagian ketiga dari otak depan adalah sistem limbik. Sistem limbik sangat penting bagi emosi, motivasi, memori, dan pembelajaran. Sistem limbik mampu membuat manusia mampu beradaptasi dengan baik untuk merespon lingkungan yang berubah. Sistem limbik memadukan tiga unsur

(2)

serebral yang saling berkaitan, yaitu amigdala, septum dan hippocampus. Amigdala memainkan peran yang penting dalam emosi, khususnya kemarahan dan agresi (Adolphs, dalam Sternberg 2006). Septum memainkan peran penting dalam emosi, khususnya kemarahan dan rasa takut. Hipokampus memainkan peran yang esensial dalam membentuk memori (Cohen, dkk dalam Sternberg 2006). Individu yang telah mengalami kerusakan pada hipokampus masih dapat memanggil kembali informasi yang telah ada sebelumnya tetapi mereka tidak dapat membentuk ingatan yang baru.

Bagian ke empat dari otak depan adalah thalamus. Thalamus menyampaikan informasi sensorik lewat kelompok-kelompok neuron yang disalurkan ke wilayah korteks yang tepat. Kebanyakan input data sensorik ke dalam otak berjalan lewat thalamus ini. Bertempat kira-kira di pusat otak, kurang lebih sejajar dengan mata. Untuk mengakomodasi semua tipe informasi yang berbeda yang perlu dipilah-pilah thalamus dibagi menjadi sejumlah nucleus (sekelompok neuron dengan fungsi yang sama). Setiap nukleus menerima informasi dari indera tertentu. Informasi kemudian diteruskan ke wilayah-wilayah yang berkaitan dengannya di dalam kulit otak. Thalamus juga membantu kita mengontrol tidur dan terjaga. Ketika thalamus mengalami malfungsi hasilnya adalah rasa sakit, gemetaran, amnesia, kekacauan berbahasa, dan perasaan tegang sewaktu terjaga dan tidur (Rockland, dkk dalam Sternberg 2006).

Bagian terakhir dari otak depan adalah hipotalamus. Hipotalamus mengatur perilaku yang terkait dengan upaya spesies mempertahankan

(3)

kelangsungan hidup: berkelahi, makan, melarikan diri, dan kawin. Hipotalamus juga aktif dalam mengatur emosi-emosi dan reaksi-reaksi terhadap tekanan dan rasa stress (Malsbury, dalam Sternberg 2006). Hipotalamus berinteraksi dengan sistem limbik. Meskipun ukurannya kecil, namun hipotalamus justru penting untuk mengontrol banyak fungsi tubuh. 2. Otak tengah

Otak tengah membantu mengontrol gerakan mata dan koordinasi. Struktur otak tengah terdiri dari kolikuli superioris yang berfungsi dalam hal penglihatan (khususnya reflex-refleks visual), kolikuli inferioris yang terlibat di dalam hal pendengaran, sistem pengaktif retikularis (RAS; meluas sampai otak belakang) yang penting untuk mengontrol kesadaran (terjaga dari tidur), atensi, fungsi kardiorespiratoris, dan gerakan tubuh, dan materi abu-abu, nucleus merah, nigra substantia, wilayah ventralis mempunyai peranan penting untuk mengontrol gerakan tubuh.

3. Otak belakang

Otak belakang terdiri dari medulla oblongata, pons, dan serebelum. Medulla berfungsi sebagai titik persimpangan tempat saraf mengarah silang dari satu sisi tubuh ke sisi otak sebaliknya, terlibat di dalam fungsi-fungsi seperti kardiorespiratoris, pencernaan dan menelan. Pons terlibat di dalam kesadaran (tidur dan terjaga); menjembatani transmisi neuron dari satu bagian otak ke bagian lain; terlibat dengan urat-urat saraf di wajah. Serebelum merupakan esensial bagi keseimbangan, koordinasi dan keharmonisan gerak otot.

(4)

B. MEMORI 1. Definisi Memori

Memori merupakan tempat penyimpanan informasi dari lingkungan dengan kapasitas yang tidak terbatas. Tulving & Craik (dalam Sternberg, 2008) mendefinisikan memori sebagai cara-cara yang dengannya kita mempertahankan dan menarik pengalaman-pengalaman dari masa lalu untuk digunakan saat ini.

Passer dan Smith (2007) menyatakan bahwa memori merupakan suatu proses yang meliputi perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan informasi atau pengalaman. Memori bersifat sangat kompleks dan dinamis. Matlin (2005) mendefiniskan memori sebagai proses untuk mempertrahankan informasi. Galotti mendefinisikan memori sebagai suatu proses kognitif yang terdiri atas serangkaian proses, yakni : penyimpanan (storage), retensi, dan pengumpulan informasi (information gathering). Sebagai sebuah proses, memori menunjukkan suatu mekanisme dinamik yang diasosiasikan dengan penyimpanan (storing), pengambilan (retaining), dan pemanggilan kembali (retrieving) informasi mengenai pengalaman yang lalu (Bjorklund, Schneider, & Hernandez Blasi, 2003; Crowder, 1976, dalam Sternberg 2006)

Santrock (2004) mendefiniskan memori sebagai tempat penyimpanan informasi dari waktu ke waktu. Psikolog di bidang pendidikan menyatakan proses memori meliputi proses pengkodean yang merupakan proses mendapatkan informasi, penyimpanan sebagai proses penyimpanan

(5)

informasi dari waktu ke waktu dan pemanggilan kembali informasi yang merupakan proses pegeluaran informasi dari tempat penyimpanan.

Dari beberapa definisi memori, dapat ditarik kesimpulan bahwa memori adalah kemampuan mengingat yang meliputi perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan informasi dari masa lalu yang dapat digunakan kembali pada masa sekarang.

2. Jenis Memori

Matlin (2005) menyatakan bahwa dalam psikologi kognitif, memori disimpan dalam tiga penyimpanan, yaitu:

a) The sensory memory

Sensory memory merupakan sistem penyimpanan yang besar, merekam informasi yang diterima dari setiap indera. Sensory memory menyimpan informasi yang asli hanya untuk waktu yang singkat. Ada dua bentuk sensory memory, yakni iconic memory (penglihatan), dan echonic memory (pendengaran).

b) Short-term memory

Short-term memory merupakan jenis memori yang hanya berisikan sebagian kecil informasi yang kita gunakan. Short-term memory hanya dapat mempertahankan informasi selama tigapuluh detik, kecuali informasi tersebut diulang-ulang atau di proses lebih jauh, akan bertahan lama. Short-term memory lebih terbatas kapasitasnya daripada sensory memory, tetapi bisa bertahan lebih lama. Short-term

(6)

memory terbatas jumlah aitem yang dapat disimpan, yaitu kira-kira 7 aitem, dan dapat meningkat kapasitasnya dengan cara chunking. c) Long-term memory

Long-term memory merupakan memori dengan kapasitas lebih besar yang bersifat permanen dan tidak mudah dilupakan. Long-term memory merupakan tahapan ketiga dari memori yang meliputi proses penyimpanan informasi dalam waktu yang lama (Lahey, 2003). Informasi yang dapat disimpan di dalam Long-term memory tidak terbatas jumlahnya.

3. Pemrosesan Informasi dalam Memori

Ada tiga proses pengolahan informasi yang dilakukan di dalam memori menurut Sternberg, 2006, yaitu:

a) Encoding

Tahap pertama dalam pemrosesan informasi adalah encoding. Encoding merupakan proses yang bertujuan untuk mengubah informasi sehingga individu dapat menempatkannya di dalam memori. Individu mengubah informasi ke dalam bentuk psikologis yang dapat diterima mental. Biasanya kode yang digunakan adalah kode semantik, visual, dan akustik. Kode semantic didasarkan pada makna dan merupakan kode yang dominan di dalam memori jangka panjang (long term memory). Kode akustik didasarkan pada bahasa dan merupakan kode memori yang dominan dalam memori jangka pendek (short term memory). Materi yang ada di dalam kode akustik

(7)

biasanya terdiri dari urutan huruf, angka, ataupun kata-kata yang tidak bermakna. Sedangkan kode visual diwakili oleh gambar.

b) Penyimpanan (storage)

Pemrosesan yang kedua adalah penyimpanan yang berfungsi untuk mempertahankan informasi.

c) Pemanggilan (retrieval)

Pemrosesan yang ke tiga adalah pemanggilan. Pemanggilan adalah proses mengakses kembali informasi yang telah disimpan. Menurut Hunt & Ellis (2004) proses pemanggilan ada dua, yaitu: recall dan recognition.

4. Tahapan Memori

Atkinson dan Shiffrin (dalam Sternberg, 2006) memperkenalkan model tradisional dari memori yang terdiri dari tiga tahap, yaitu sensory register, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang.

Tahapan Memori

Gambar 1: Model Tahapan Memori dari Atkinson dan Shiffrin Memori jangka

pendek

Pengulangan Coding pemanggilan

Memori jangka panjang (tempat penyimpanan permanen) Sensory register Visual auditori sentuhan Input dari lingkungan Respon

(8)

Gambar diatas menjelaskan bahwa informasi dari luar pertama kali masuk ke Sensory register. Sensory register merupakan tahap pertama dari memori yang berfungsi untuk menangkap semua pengalaman sensori (berupa visual, dan sentuhan) hingga akhirnya diproses. Proses encoding pada sensory register berlangsung pada saat informasi diubah dalam bentuk impuls-impuls yang dapat diproses otak. Bagi proses penyimpanan, informasi yang berada dalam sensory register tidak bertahan lama hanya sepersekian detik (Lahey, 2003).

Sejumlah informasi yang telah diseleksi dari sensory register akan dikirim ke tahap selanjutnya, yaitu memori jangka pendek. Ingatan jangka pendek merupakan tempat penyimpanan sementara bagi informasi yang masuk. Ingatan jangka pendek disebut juga Working memory karena informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi masih diperlukan. Pada umumnya, dengan memberi perhatian yang cukup terhadap informasi, maka informasi tersebut akan segera dikirim ke memori jangka pendek. Proses encoding pada memori jangka pendek terjadi saat informasi dan sensory register diubah ke dalam bentuk yang dapat diproses lebih lanjut. Coding merupakan bentuk informasi yang disimpan dalam memori. Coding yang dominan di dalam memori jangka pendek adalah kode akustik (Lahey, 2003).

Informasi yang ada di dalam memori jangka pendek akan segera hilang jika tidak segera dilakukan pengulangan (Reed, 2004). Ada empat teori yang dapat menjelaskan tentang lupa, yaitu:

(9)

Interference theory menyatakan bahwa lupa terjadi karena adanya informasi yang mengganggu informasi yang telah ada di dalam memori (Peterson & Peterson, dalam Reed, 2004). Biasanya karena informasi yang lain tersebut mirip dengan informasi yang diingat oleh individu (Lahey, 2003). Wickens dkk (dalam Lahey, 2003) menyatakan ada dua hal yang berhubungan dengan teori ini, yaitu proactive dan retroactive interference. Proactive interference adalah gangguan yang terjadi akibat memori yang telah ada sebelumnya. Sementara retroative interference adalah gangguan yang terjadi akibat memori yang baru masuk. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada memori jangka panjang tetapi juga pada memori jangka pendek.

b) Decay Theory

Decay theory menyatakan bahwa memori yang tidak digunakan akan berangsur-angsur hilang seiring berjalannya waktu (Lahey, 2003). Teori ini ditentang oleh beberapa psikolog dengan menyatakan bahwa lupa yang disebabkan oleh waktu hanya terjadi pada sensory register dan memori jangka pendek sementara informasi dalam memori jangka panjang bersifat permanen (White dalam Lahey, 2003).

c) Reconstruction (Schema) Theory

Reconstruction (Schema) Theory adalah teori yang menyatakan bahwa informasi yang ada di dalam memori jangka bahpanjang kadang-kadang berubah menjadi lebih konsisten dengan kepercayaan, pengetahuan, dan pengharapan individu (Bartlett dalam Lahey, 2003).

(10)

Skema adalah jaringan-jaringan yang terdiri dari kepercayaan, pengetahuan, dan pengharapan seseorang.

d) Motivated Forgetting atau persepsi

Motivated forgetting menjelaskan bahwa seseorang berusaha melupakan informasi yang menyedihkan dan mengancam dirinya (Freud dalam Lahey, 2003).

Galotti (2004) mengemukakan model kerja dari memori jangka pendek yang terdiri dari tiga komponen, yaitu:

a) Phonological loop yang berfungsi untuk mempertahankan dan memanipulasi informasi bahasa. Phonological loop terdiri dari dua komponen, yaitu phonological yang berfungsi untu menyimpan informasi verbal dan mekanisme pengulangan yang berfungsi mempertahankan informasi agar tetap aktif.

b) Visuospatial sketchpad yang berfungsi untuk mempertahankan dan memanipulasi informasi visual dan spasial.

c) Central executive yang berfungsi untuk memilih informasi yang akan diproses dan menggabungkan informasi.

Memori jangka panjang merupakan tahapan ketiga dari memori yang meliputi proses penyimpanan informasi dalam waktu yang lama (Lahey, 2003). Informasi yang dapat disimpan di dalam memori jangka panjang tidak terbatas jumlahnya. Memori jangka panjang disebut juga sebagai perpustakaan bagi manusia. Informasi yang ada harus diorganisasikan agar memudahkan proses pencarian, yaitu dengan menggunakan indeks. Proses

(11)

encoding pada memori jangka panjang terjadi pada saat informasi dari memori jangka pendek diubah dalam bentuk makna. Informasi yang telah dipanggil dari memori jangka panjang akan masuk kembali ke memori jangka pendek sehingga muncullah respon (Lahey, 2003; Passer & Smith, 2007).

5. Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Memori

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan mengingat individu, antara lain:

1. Emosi dan Mood (suasana hati)

Emosi dikenal memainkan peran yang penting dalam memori, kadang-kadang dapat menghambat memori dan kadang-kadang-kadang-kadang dapat mengubahnya. Banyak individu yang merasa panik dalam menghadapi ujian dan mengeluh bahwa walaupun sudah belajar keras, saat kertas ujian dibagikan, individu merasa “pikiran saya kosong” (Sprinthall & Sprinthall, 1990).

Selain emosi, mood atau suasana hati juga dapat mempengaruhi proses kognitif individu (Matlin, 2005).

Ada 3 cara baik emosi dan mood dapat mempengaruhi memori individu, yakni:

a. Individu lebih menyenangi stimulus yang menyenangkan.

b. Individu merecall material jika sesuai dengan emosi yang dirasakannya pada saat itu.

c. Individu lebih efisien dan lebih akurat dalam mengulang aitem-aitem yang menyenangkan

(12)

Dibawah ini dapat menjelaskan bagaimana memori dipengaruhi oleh mood, yaitu:

1. Mood congruent

Mood congruent memory artinya materi yang sama akan lebih diingat jika disesuaikan dengan mood kita sekarang (Ellis, dkk dalam Matlin, 2005). Jadi, seseorang dengan mood menyenangkan akan lebih mudah mengingat suatu materi dibandingkan dengan ketika mood kita dalam keadaan tidak menyenangkan (Matlin, 2005).

2. Mood dependent memory

Mood dependent memory artinya kita lebih bisa mengingat materi pada masa lalu jika sesuai dengan keadaan mood kita sekarang (Matlin, 2005).

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa manipulasi lingkungan seperti paparan musik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan (Eich dan Metcalf, 1989, dalam Rouby, dkk, 2002) atau variasi di dalam ruangan pencahayaan (Baron, Rea, dan Daniels, 1993, dalam Rouby, dkk, 2002) dapat memiliki pengaruh pada kondisi emosional. Sama halnya dengan paparan aroma yang menyenangkan dan tidak menyenangkan telah terbukti dapat berdampak pada suasana hati. Sebagai contoh, dalam sebuah studi, wewangian menyenangkan digunakan dalam "pengaturan kehidupan nyata" yang ditampilkan untuk meningkatkan mood (Rouby, dkk, 2002).

2. Inteligensi (IQ)

Studi sejak tahun 1920 menyatakan bahwa IQ dan proses belajar materi baru sangat berhubungan. Seorang anak dengan IQ di atas 130 akan

(13)

memperlajari dan mempertahankan lebih banyak informasi daripada anak dengan IQ hanya 100 (Sprinthall & Sprinthall, 1990).

3. Faktor kebudayaan

Kebudayaan membuat anggotanya sensisitif terhadap objek, kejadian, dan strategi tertentu yang dapat mempengaruhi kemampuan memori terhadap hal tersebut (Mystry & Rogoff dalam Santrock, 2004). Studi terhadap kebudayaan khususnya menemukan perbedaan kebudayaan dalam penggunaan strategi organisasional (Schneider & Bjorklund dalam Santrock, 2004). Kesalahan dalam penggunaan strategi organisasi yang sesuai untuk mengingat informasi sering berhubungan dengan kurangnya pendidikan di sekolah yang tepat (Cole & Scribner dalam Santrock, 2004). 4. Jenis kelamin

Aspek jenis kelamin adalah aspek perbedaan sosiokultural yang kurang diperhatikan dalam penelitian memori. Penelitian telah menemukan perbedaan jenis kelamin dalam memori, yakni wanita lebih baik daripada pria dalam hal episodic memory, yaitu memori tentang kejadian yang dialami sendiri yang meliputi waktu dan tempat kejadian tersebut berlangsung (Anderson; Halpern dalam Santrock, 2004). Wanita juga lebih baik daripada pria dalam hal memori yang berhubungan dengan emosi (Cahill dalam Santrock, 2004), sedangkan pria lebih baik daripada wanita dalam hal tugas yang membutuhkan transformasi dari memori spasial (Halpern dalam Santrock, 2004). Tugas-tugas ini meliputi rotasi mental, yang meliputi pergerakan objek dalam bayangan (misalnya bentuk apa yang akan tampak jika objek ini diputar dalam ruang ini).

(14)

C. AROMA

Dalam kehidupan sehari-hari, bau diterima dengan konteks yang kaya dan berarti, dan apa yang kita cium adalah apa yang kita harapkan berdasarkan informasi visual atau kontekstual. Biasanya, bau disajikan untuk mendukung atau mengkonfirmasi identifikasi objek (Cain dkk, dalam Frank, 1995).

Bau atau aroma mempunyai peran yang sangat kuat. Bau mempengaruhi kita pada tingkat fisik, psikologis, dan sosial. Untuk sebagian besar, aroma yang mengelilingi kita tanpa sadar menyadari pentingnya aroma untuk kita. Bau dapat membangkitkan tanggapan emosional yang kuat. Sebuah aroma yang terkait dengan pengalaman yang baik dapat membawa kegembiraan dengan cepat. Aroma yang tidak menyenangkan juga dapat membuat memori kita menjadi buruk. Responden pada sebuah survey mencatat bahwa kebanyakan aroma yang dihirup, baik suka maupun tidak suka didasarkan pada asosiasi emosional. Asosiasi tersebut dapat cukup kuat untuk membuat aroma yang umumnya akan diberi label menyenangkan tidak menyenangkan, dan yang umumnya akan dianggap wangi yang tidak menyenangkan bagi individu tertentu. Aroma ataupun bau-bauan biasanya tersedia dalam berbagai bentuk seperti minyak, serbuk kering, dan sebagai dupa (Classen dkk, 1994).

Kekuatan bau untuk membuka memori manusia dinyatakan kurangnya literatur dan anekdoti yang kurang didokumentasikan oleh ilmu pengetahuan. Bau, mungkin lebih dari rangsangan lainnya, secara luas

(15)

diyakini untuk membangkitkan pengalaman hidup masa lalu dan kompleks dengan mudah (Frank et al, 1995).

Sama halnya seperti rasa, individu bisa mencium sejumlah bau yang terbatas dari berbagai macam bau-bauan utama, dan jenis bau-bauan utama tersebut antara lain:

1. Resinous (camphor) 2. Floral (roses) 3. Minty (peppermint) 4. Ethereal (pears) 5. Musky (musk oil) 6. Acid (vinegar) 7. Putrid (eggs)

Profesional yang biasa menciptakan wewangian bisa membedakan aroma menjadi 146 wewangian yang berbeda (Dravnieks, dalam Lahey 2003). Menariknya, hampir semua bahan kimia yang dapat dideteksi manusia adalah senyawa organik, yang berarti bahan kimia tersebut berasal dari makhluk hidup. Sebaliknya, kita bisa mencium bau senyawa anorganik sangat sedikit seperti batu dan pasir. Jadi, hidung kita adalah alat yang berguna untuk pemantauan kualitas tanaman dan hewan yang kita perlukan perlukan, antara lain, untuk membedakan antara hal-hal yang beracun dan dimakan (Cain dalam Lahey, 2003).

Meskipun individu hanya bisa mencium bau senyawa yang berasal dari makhluk hidup, kimiawan telah lama dikenal dengan cara membuat senyawa-senyawa organik dalam tabung reaksis. Ini berarti bahwa aroma

(16)

apapun dapat diciptakan dan tidak lagi harus susah payah diambil dari kelopak bunga dan rempah-rempah. Salah satu parfum pertama dibuat sepenuhnya di laboratorium juga salah satu aroma yang paling sukses yang pernah dibuat. Menurut teori stereochemical, molekul-molekul kompleks yang bertanggung jawab untuk masing-masing bau primer memiliki bentuk khusus yang akan "cocok" menjadi satu jenis sel reseptor ketika bentuk molekul tertentu akan menyajikan reseptor penciuman yang sesuai yang mengirim pesan unik ke otak (Cain, dalam Lahey, 2003).

Stimulus bertanggung jawab untuk menguji dan mencium yang berada di ambang yang menjadi berasimilasi ke dalam tubuh, itulah sebabnya indra ini sering dipandang sebagai "gatekeeper", yang berfungsi (1) untuk mengidentifikasi hal-hal yang diperlukan oleh tubuh untuk kelangsungan hidup dan karenanya harus dikonsumsi dan (2) untuk mendeteksi hal-hal yang karenanya harus ditolak. Peran sebagai detektor dari solusi berbahaya adalah ditunjukkan oleh fakta bahwa tikus cenderung menghindari bahan kimia yang sangat beracun (Scott & Giza, dalam Goldstein, 2002).

Fungsi gatekeeper dari rasa dan bau dibantu oleh komponen afektif yang besar, atau emosional,, karena hal-hal yang buruk bagi kita sering terasa atau berbau yang tidak enak, dan hal-hal yang baik bagi kita umumnya terasa atau berbau yang enak. Selain menetapkan pengaruh "baik" dan "buruk", mencium bau yang terkait dengan tempat masa lalu atau peristiwa dapat memicu ingatan, yang pada gilirannya dapat menciptakan reaksi emosional (Goldstein, 2002).

(17)

1. Sensasi

Sensasi (sensation) pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi berasal dari bahasa latin, sensatus, yang artinya dianugrahi dengan indera, atau intelek. Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indera kita. Sebuah sensasi dipandang sebagai kandungan atau objek kesadaran puncak yang privat dan spontan.

Kita menyadari akan dunia luar dan dunia internal dari tubuh kita sendiri hanya karena kita memiliki sejumlah organ perasa yang mamou menerima pesan. Organ-organ ini memampukan kita untuk melihat, mendengar, merasa, emncium, menyentuh, menyeimbangkan, dan mengalami perasaan-perasaan seperti kekakuan tubuh, kesakita, kekenyangan, rasa nyeri, dan pergerakan. Organ-organ perasa beroperasi melalui sel-sel penerima sensori yang menerima bentuk-bentuk energi luar (cahaya, getaran, panas) dan mengubahnya menjadi impuls-impuls neural yang dapat dikirimkan ke otak untuk interpretasi. Proses penerimaan informasi dari dunia luar, menterjemahkannya, dan mengirimkannya ke otak di sebut sensasi. Proses penginterprestasian informasi tersebut dan yang mnembentuk kesan tentang dunia disebut persepsi (Lahey, 2003).

Benyamin B. Wolman dalam Sobur (2003) menyebutkan sensasi sebagai “pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan alat indera, atau bisa disebut juga penerimaan stimulus

(18)

lewat alat indera”. Apapun defenisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat inderalah, manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya (Lefrancois, dalam Sobur, 2003).

Alat indera terdiri dari mata, telinga, kulit, jaringan-jaringan tubuh dan juga hidung (indera penciuman). Indera penciuman sangat penting, seperti membawa pesan yang menyenangkan seperti dari parfum yang wangi yang membawa pesan ke otak dan di waktu yang lain memperingatkan kita akan bahaya dan bau busuk (Ackerman dalam Lahey, 2003). Indera penciuman memiliki dua fungsi yang saling terkait: mendeteksi dan mengidentifikasi bau-bauan. Hidung manusia digunakan secara konstan, karena bau yang di lingkungan harus dipantau terus-menerus. Untuk setiap bau yang terdeteksi, pencarian memori dibuat untuk menentukan identifikasi. Bau yang familiar, seperti di mobil seseorang, hampir tidak terlihat, hanya bau yang tidak biasa atau tidak terduga bagaimana mendapatkan perhatian secara sadar karena indera penciuman akan digunakan secara otomatis dan tidak sadar (Engen, 1991).

Hellen Keller menyebutkan bahwa aroma sebagi “malaikat yang jatuh diantara indera-indera yang ada.” Namun demikian indera penciuman kita yang juga disebut olfactory, meski terlihat memiliki kemampuan jauh di bawah anjing pelacak jenis bloodhound, sebenarnya cukup baik; dan hidung manusia sesungguhnya dapat mengenali aroma yang tidak dapat dikenali

(19)

oleh mesin yang paling canggih sekalipun. Indera ini jauh lebih berguna dibandingkan dengan yang disadari oleh kebanyakan orang (Carole & Carol, 2007).

2. Persepsi

Persepsi merupakan penafsiran dari sensasi. Persepsi adalah proses aktif di mana persepsi diciptakan yang sering melampaui informasi minimal yang diberikan panca-indera. Banyak cara dimana kita menata dan menafsirkan sensasi-sensasi yang dibawa lahir dan umum pada semua manusia. Prinsip-prinsip Gestalt tentang penataan perseptual, kemenetapan perseptual, persepsi kedalaman dan ilusi visual memberikan contoh sifat aktif dan kreatip dari persepsi. Sensasi yang sampai ke otak sebenarnya tidak banyak artinya. Sensasi tersebut sampai dalam bentuk energi saraf mentah yang harus ditata dan ditafsirkan dalam proses yang kita sebut persepsi. Proses ini bisa dikatakan sama pada kita semua. Jika tidak demikian – jika kita masing-masing menafsirkan input sensorik dengan cara unik – tidak akan ada “realitas” bersama dalam artian persepsi dunia yang kita miliki bersama. Akan tetapi, sebagian aspek persepsi unik pada anggota budaya yang berbeda-beda. Pengalaman pembelajaran unik, ingatan, motif dan emosi seseorang juga bisa mempengaruhi persepsi. Sebagai contoh misalnya, kita semua mempersepsikan stimulus visual pisau dengan cara yang sama karena cara bawaan lahir kita menata informasi visual. Tetapi pisau juga mempunyai arti perseptual unik bagi setiap orang, tergantung pada apakah orang tersebut pernah tersayat pisau serupa (Lahey, 2003).

(20)

Fakta bahwa keadaan motivasi dan emosi kita mempengaruhi persepsi kita memberikan bukti yang lebih besar bahwa tidak ada hubungan satu-satu antara stimulus fisik dan apa yang kita persepsikan. sejumlah studi menyatakan kepada kita bahwa motivasi mempengaruhi persepsi: Orang lapar lebih sensitif terhadap rasa manis dan asin daripada saat mereka kenyang (Lahey, 2003).

Ada dua jenis proses dalam persepsi, yaitu bottom-up processing dan top-down processing. Bottom-up processing dikenal sebagai pengolahan data-driven, karena persepsi dimulai dengan stimulus itu sendiri. Pengolahan dilakukan dalam satu arah dari retina ke korteks visual, dengan setiap tahap berturut-turut di jalur visual melakukan analisis yang lebih kompleks dari input. Top-down processing mengacu pada penggunaan informasi kontekstual dalam pengenalan pola. Sebagai contoh, pemahaman tulisan tangan sulit adalah lebih mudah ketika membaca kalimat lengkap dari saat membaca kata-kata tunggal dan terisolasi. Hal ini karena makna dari kata-kata yasekitarnya memberikan konteks untuk membantu pemahaman (Santrock, 2002).

3. Cara Kerja Indera Penciuman

Reseptor untuk indera penciuman merupakan saraf khusus yang terdapat dalam bagian kecil di membran mukosa di bagian atas dari tulang hidung kita, tepat dibawah mata. Jutaan reseptor di setiap rongga hidung bertemu dengan molekul kimia yang terdapat pada udara. Ketika individu menghirup udara, individu menarik molekul-molekul ini ke dalam rongga hidung, namun udara ini dapat masuk melalui mulut, berjalan mealui

(21)

kerongkongan seperti asap pada sebuah cerobong asap. Molekul-molekul ini mendorong munculnya respon-respon di reseptor yang terkombinasi menjadi bau yang khas. Sinyal dari reseptor ini kemudian dibawa ke bulbus olfaktori di otak oleh sarf-saraf olfaktori, yang terbuat dari akson-akson reseptor. Dari bulbus olfaktori, sinyal-sinyal tersebut kemudian dikirimkan ke bagian yang lebih tinggi dari otak (Carole & Carol, 2007). Aroma tentu saja memiliki pengaruh psikologis pada diri kita. Itulah alasannya mengapa kita membeli parfum dan mencium aroma bunga. Mungkin karena pusat olfaktori di otak terhubung dengan area yang mengelola ingatan dan emosi, aroma yang khas sering kali menghasilkan ingatan yang jelas dan dipenuhi dengan warna emosi (Herz & Cupchik, 1995; Vroon, 1997, dalam Carole & Carol, 2007).

D. MAHASISWA

Winkel (1997) menyatakan bahwa masa mahasiswa meliputi rentang usia dari 18/19 tahun dampai 24/25 tahun. Rentang usia mahasiswa dapat dibagi-bagi atas periode 18/19 tahun sampai 20/21 tahun, yaitu mahasiswa dari semester I s/d semester IV; dalam periode waktu 21/22 tahun sampai 24/25 tahun, yaitu mahasiswa dari semester V s/d semester VIII. Sedangkan menurut Depdiknas (2005), Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi, dan vokasi Universitas.

Mahasiswa dalam hal ini pada rentang usia dewasa awal termasuk dalam tahap pencapaian (achieving stage), yaitu tahap di mana individu

(22)

menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai kemandirian dan kompetensi, misalnya dalam hal karir dan keluarga (Papalia, 2003). Mahasiswa banyak menghabiskan waktu di kampus dimana mahasiswa banyak melakukan penggalian secara intelektual dan perkembangan individu, dimana kampus merupakan tempat di mana mahasiswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu secara intelektual, meningkatkan kemampuan dalam bekerja, dan meningkatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan. Memilih untuk kuliah merupakan suatu gambaran untuk memperoleh karir di masa depan dan hal ini akan cenderung mempengaruhi pola pikir individu.

Pada mahasiswa, terjadi peningkatan dalam hal penalaran dan cara berpikir. Perry (dalam Papalia, 2003) menyatakan bahwa terjadi perubahan pola berpikir pada masa transisi dari sekolah menengah menuju kampus, yaitu pola berpikir yang awalnya kaku berubah menjadi fleksibel dan dapat memilih sesuatu dengan bebas namun penuh dengan komitmen. Individu dewasa awal juga telah dapat mengenali bahwa pada masyarakat dan individu yang berbeda, masing-masing memiliki sistem nilai tersendiri. Selain itu, individu dewasa awal juga mampu untuk mencapai komitmen yang bersifat relatif, yaitu individu dapat membuat pertimbangan sendiri dan memilih nilai serta kepercayaan yang benar menurutnya. Menurut Piaget (dalam Papalia, 2003) individu dewasa awal termasuk dalam tahap berpikir postformal, yaitu pola pikir yang matang dan didasarkan pada pengalaman dan intuisi subjektif namun tetap berlandaskan pada logika dan

(23)

dapat digunakan untuk mengatasi ketidakpastian, ketidakkonsistenan, pertentangan, dll.

Individu dewasa awal berada pada tahap perkembangan emosi di mana individu mencari suatu hubungan yang dekat baik secara emosional maupun secara fisik. Individu mampu menyampaikan keadaan emosi yang ada pada dirinya dan telah memiliki empati. Emosi individu pada usia dewasa awal cenderung bersifat konsisten dan tidak mengalami banyak perubahan. Pada masa dewasa, individu akan semakin tidak emosional dan cemas, individu pada usia dua puluhan (dewasa awal) akan lebih emosional dibandingkan dengan individu pada usia-usia yang lebih tua.

Gambar 2

Siklus Indera Penciuman

Ketika kita menghirup aroma yang ada di sekitar kita, aroma tersebut akan melekat ke reseptor sel di dalam hidung yaitu suatu tempat yang bisa

(24)

memicu sinyal syaraf. Sinyal-sinyal ini diproses di dalam suatu tempat yang dikenal sebagai olfactory bulb (bola penciuman) yaitu salah satu bagian dari otak. Setelah itu, sinyal yang masuk akan dikonversikan menjadi suatu pola listrik yang dikirim ke korteks otak besar dan daerah lainnya di otak yang dikenalinya. Setelah itu loop inhibitor local akan mampu mengenali bau yang tercium dengan tepat. Proses antara masuknya bau ke hidung sampai dikenalinya bau tersebut oleh otak memakan waktu jauh kurang dari satu detik (Rouby et al, 2002).

Indera penciuman mendeteksi zat yang melepaskan molekul-molekul di udara. Di atap rongga hidung terdapat olfactory epithelium yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul bau, karena pada bagian ini ada bagian pendeteksi bau (smell receptors). Reseptor ini jumlahnya sangat banyak ada sekitar 10 juta. Ketika partikel bau tertangkap oleh receptor, sinyal akan di kirim ke the olfactory bulb melalui saraf olfactory. Bagian inilah yang mengirim sinyal ke otak dan kemudian diproses oleh otak bau apakah yang telah tercium oleh hidung kita, apakah itu harumnya aroma parfum atau menyengat nya bau selokan (Rouby et al, 2002).

Dari pembahasan diatas, salah satu yang dapat mempengaruhi kemampuan mengingat adalah emosi. Keadaan emosi individu akan mempengaruhi proses belajarnya karena perhatian individu terhadap lingkungan akan berkurang intensitasnya pada saat berada pada emosi negatif (suasana hati yang negatif). Menurut Hunt & Ellis (2004) suasana hati yang negatif akan mengarahkan pemrosesan informasi tidak berjalan

(25)

dengan efektif dan akan berdampak pada kemampuan mengingat individu. Oleh karena itu, perlu diberikan stimulus yang menyenangkan berupa aroma. Pitman (2004) menyatakan bahwa penggunaan aroma yang menyenangkan dapat digunakan pada saat individu mengalami suasana hati yang negatif, dan penggunaan aroma dapat menimbulkan efek santai dan tenang, berpengaruh terhadap suasana hati, menenangkan saraf dan juga dapat meningkatkan retensi ingatan individu pada informasi yang dipelajari.

Mekanisme kerja aroma dalam tubuh manusia berlangsung melalui dua sistem fisiologis, yaitu sistem sirkulasi tubuh dan penciuman. Beberapa penelitian ilmiah juga menunjukkan manfaat dari aroma dalam mempengaruhi jiwa dan tingkat emosional individu. Secara spesifik, aroma dapat mempengaruhi proses dasar biologis individu. Resepstor pembauan di hidung berkaitan langsung ke area limbic di otak individu melalui olfactory bulbs yang terletak di dekat otak bagian depan dan tiap reseptor sel aroma mengirim satu axon ke olfactory bulbs, dimana itu membentuk sinapsis dengan dendrit dari mitra cells. Olfactory tract axons bekerja langsung pada amigdala dan dua wilayah dari limbic cortex yaitu pyrifrom cortex dan enthorinal cortex. Amygdala mengirim informasi pembauan ke hipotalamus, enthorinal cortex mengirimnya ke hippocampus dan pyrifrom cortex mengirimnya ke hipotalamus dan ke orbitofrontal cortex dimana hal tersebut sangat terkait dengan wilayah tempat penyimpanan memori di otak yaitu otak bagian depan (Carlson, 2005). Area limbik memiliki kaitan khusus pada wilayah otak yang langsung mempengaruhi lebih dari proses yang utama terjadi pada tubuh kita seperti mengatur detak jantung, tekanan

(26)

darah, ketegangan otot dan temperatur kulit. Satu hal yang penting, area limbik merupakan pusat dari hippocampus dimana memori disimpan dalam otak yang memiliki kaitan di otak bagian depan (frontal lobes). Sejak sinyal pembauan berproses di area limbik, bukan hal yang mengejutkan bahwa bau juga dapat mempengaruhi memori seseorang (Bensafi M, Rouby C, Farget V, et al, 2002).

E. PENGARUH AROMA TERHADAP KEMAMPUAN

MENGINGAT

Memori memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kata yang diucapkan serta segala sesuatu ada di dunia ini dan semua aktivitas yang terjadi sepanjang kehidupan individu merupakan fungsi dari memori. Tanpa adanya memori, proses kehidupan individu tidak akan berlangsung dengan baik. Proses kehidupan individu tidak akan pernah lepas dari apa yang disebut dengan proses belajar. Dalam proses belajar ini, memori berperan sangat aktif karena tanpa adanya keterlibatan memori dalam proses belajar, proses belajar yang dilakukan oleh individu tidak akan pernah berhasil. Dengan adanya memori, individu dapat mengolah informasi yang diterima sebagai bahan yang terdapat di dalam proses belajar.

Salah satu metode yang digunakan untuk membangkitkan memori adalah dengan menggunakan stimulus yang menyenangkan. Stimulus yang menyenangkan yang dimaksud adalah aroma ataupun bebauan yang

(27)

menyenangkan. Bau ataupun aroma, baik menyenangkan ataupun tidak menyenangkan dapat dapat berdampak pada mood (Rouby et al, 2002).

Bau atau aroma mempunyai peran yang sangat kuat. Bau mempengaruhi kita pada tingkat fisik, psikologis, dan sosial. Secara umum, aroma mengelilingi manusia dan tanpa disadari betapa pentingnya aroma atau bau dalam kehidupan manusia. Bau dapat membangkitkan tanggapan emosional yang kuat. Sebuah aroma yang terkait dengan pengalaman yang baik dapat membawa kegembiraan dengan cepat. Aroma yang tidak menyenangkan juga dapat membuat memori kita menjadi buruk (Classen, 1994).

Aroma memiliki kemampuan luar biasa untuk memicu memori karena aroma secara langsung menghubungkan ke bagian otak yang menyimpan ingatan secara emosional, dan penelitian baru menunjukkan bahwa aroma juga dapat mengkonsolidasikan pengetahuan baru dan memfasilitasi belajar (Jensen, 2007).

Para peneliti telah menguji pengaruh aroma selama bertahun-tahun. Bebauan akan mengaktifkan wilayah primitif di dalam otak seperti amigdala dan talamus, yang merespon bahaya, kesenangan dan makanan. Oleh karena itu, bebauan asing akan mendapat prioritas besar dalam otak. Salah satu bagian yang secara khusus peka terdahap aroma adalah sistem limbik, yang bertanggung jawab atas perhatian seseorang. Sensasi bebauan diolah dengan cara yang berbeda dibandingkan sensasi indrawi lainnya dan langsung menuju otak tanpa halangan apapun. Aroma akan membangkitkan pengalaman emosional positif. Arousal yang diakibatkan oleh emosi positif

(28)

akan menstimulasi hipotalamus untuk mengontrol sistem endokrin yang bertugas untuk mengeluarkan hormone (Jensen, 2007).

Bagi manusia, bau memiliki kekuatan yang cepat yang dapat memanggil ingatan, emosi, dan suasana hati yang diasosiasikan dengan bau-bau yang individu hirup (Floyd dkk, 1988). Mekanisme kerja aroma dalam tubuh manusia berlangsung melalui dua sistem fisiologis, yaitu sistem sirkulasi tubuh dan penciuman. Beberapa penelitian ilmiah juga menunjukkan manfaat dari aroma dalam mempengaruhi jiwa dan tingkat emosional individu. Secara spesifik, aroma dapat mempengaruhi proses dasar biologis individu. Resepstor pembauan di hidung berkaitan langsung ke area limbic di otak individu melalui olfactory bulbs yang terletak di dekat otak bagian depan dan tiap reseptor sel aroma mengirim satu axon ke olfactory bulbs, dimana itu membentuk sinapsis dengan dendrit dari mitra cells. Olfactory tract axons bekerja langsung pada amigdala dan dua wilayah dari limbic cortex yaitu pyrifrom cortex dan enthorinal cortex. Amygdala mengirim informasi pembauan ke hipotalamus, enthorinal cortex mengirimnya ke hippocampus dan pyrifrom cortex mengirimnya ke hipotalamus dan ke orbitofrontal cortex dimana hal tersebut sangat terkait dengan wilayah tempat penyimpanan memori di otak yaitu otak bagian depan (Carlson, 2005). Area limbik memiliki kaitan khusus pada wilayah otak yang langsung mempengaruhi lebih dari proses yang utama terjadi pada tubuh kita seperti mengatur detak jantung, tekanan darah, ketegangan otot dan temperatur kulit. Satu hal yang penting, area limbik merupakan pusat dari hippocampus dimana memori disimpan dalam otak yang memiliki

(29)

kaitan di otak bagian depan (frontal lobes). Sejak sinyal pembauan berproses di area limbik, bukan hal yang mengejutkan bahwa bau juga dapat mempengaruhi memori seseorang (Bensafi M, Rouby C, Farget V, et al, 2002).

Telah banyak penelitian yang meneliti tentang efek aroma, baik efek aroma terhadap kesehatan maupun efek aroma terhadap kemampuan mengingat. Ada beberapa penelitian yang menghubungkan aroma dengan ingatan. Penelitian yang dilakukan di Yale University yang melibatkan 72 mahasiswa (36 laki-laki, 36 perempuan) yang berhubungan dengan aroma. Aroma yang digunakan pada eksperimen ini adalah aroma coklat. Aroma tersebut disebarluaskan ke dalam ruangan laboratorium dengan ukuran 35’ x 11’. Eksperimen ini terdiri dari 40 kata sifat dalam bahasa inggris. Subjek berpartisipasi dalam dua sesi eksperimen selama 24 jam. Pada sesi pertama, subjek diminta untuk menulis kebalikan dari setiap kata. Keesokan harinya, mereka diberi waktu 10 menit untuk meyelesaikan tugas yang sama, dengan menjawab paling tidak setengah dari jawaban aslinya. Penelitian yang menggunakan aroma juga dilakukan oleh Jennifer Ret. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa aroma lavender diyakini dapat meningkatkan daya ingat dalam belajar, mendapatkan efek yang menyenangkan selama belajar, dapat menimbulkan efek santai dan tenang, berpengaruh pada mood, meningkatkan retensi ingatan pada informasi yang dipelajari. Hal ini ditunjukkan dari kelompok eksperimen yang terpapar aroma lavender lebih tepat dalam mengingat kata-kata yang diujikan daripada kelompok control yang tidak terpapar aroma apapun. Selain itu, aroma juga dapat

(30)

meningkatkan produktivitas kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Kornelius dan Anggadewi menghasilkan bahwa aroma lemon dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Pitman (2004) dalam bukunya yang berjudul Aromatherapy: A Practical Approach dengan menghirup aroma lavender maka akan meningkatkan gelombang-gelombang alfa di dalam otak dan gelombang inilah yang membantu kita untuk merasa rileks. Selain itu, lavender dipercaya bisa membantu terciptanya keseimbangan tubuh dan pikiran. Sedangkan wewangian lemon digunakan menenangkan suasana. Aroma yang menyenangkan dapat membantu individu semakin percaya diri, merasa lebih santai, dapat menenangkan saraf, tetapi tetap membuat individu sadar.

F. HIPOTESA PENELITIAN

Hipotesa dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kemampuan mengingat jangka pendek pada subjek yang diberikan aroma greentea dan aroma lavender.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :