• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT SITARA PROPERTINDO Tbk DAN ENTITAS ANAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT SITARA PROPERTINDO Tbk DAN ENTITAS ANAK"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR

PADA TANGGAL-TANGGAL 30 JUNI 2014 DAN 2013

(2)

30 JUNI 2014 DAN 31 DESEMBER 2013 DAN UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 30 JUNI 2014 DAN 2013

Daftar Isi

Halaman Surat Pernyataan Direksi

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian...……….... 1 - 2

Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian……… 3

Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian...….……… 4

Laporan Arus Kas Konsolidasian………..……….. 5

(3)
(4)

Catatan 30 Juni 2014 31 Desember 2013 ASET

ASET LANCAR

Kas dan setara kas 4,24 25.709.377.688 28.033.461.278

Piutang usaha pihak ketiga 5,24 22.120.537.793 16.489.041.603

Piutang lain-lain pihak ketiga 24 116.520.831 125.373.102

Persediaan real estat 7,10 27.517.704.997 42.879.615.705

Pajak dibayar di muka 695.776.589

-Biaya dibayar di muka 1.211.042.309 1.241.246.188

Aset lancar lainnya 8.971.477.346 3.792.324.774

Jumlah Aset Lancar 86.342.437.553 92.561.062.650

ASET TIDAK LANCAR

Goodwill 6.325.288.567 6.325.288.567

Rekening dibatasi penggunaannya 6,24 1.582.284.187 1.366.214.140

Persediaan real estat - tanah untuk dikembangkan 8,10 883.980.911.836 864.950.666.398 Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan

sebesar Rp 831.247.188 pada tanggal 30 Juni 2014 dan

Rp 543.710.308 pada tanggal 31 Desember 2013 9 3.399.514.029 3.837.626.284

Jumlah Aset Tidak Lancar 895.287.998.619 876.479.795.389

JUMLAH ASET 981.630.436.172 969.040.858.039

yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan. Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian merupakan bagian

(5)

Catatan 30 Juni 2014 31 Desember 2013 LIABILITAS DAN EKUITAS

LIABILITAS JANGKA PENDEK

Utang bank 10,24 229.437.963.383 214.808.497.362

Utang usaha pihak ketiga 11,24 2.709.941.347 6.448.480.460

Utang pajak 12 6.603.881.725 5.053.882.490

Utang lain-lain

Pihak ketiga 24 2.924.605.889 1.811.714.062

Pihak berelasi 24,25 101.988.244.645 102.986.708.757

Beban akrual 24 795.366.771 553.033.940

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 344.460.003.760 331.662.317.071

LIABILITAS JANGKA PANJANG

Utang bank 10,24 6.523.159.315 9.024.403.011

Uang muka penjualan 13 834.243.267 1.117.964.527

Liabilitas imbalan pasca kerja 14 236.905.780 236.905.780

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 7.594.308.362 10.379.273.318

Jumlah Liabilitas 352.054.312.122 342.041.590.389

EKUITAS

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk

Modal saham - nilai nominal Rp 100 per saham pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013 Modal dasar - 24.000.000.000 saham pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013

Modal ditempatkan dan disetor penuh - 6.010.000.000 saham pada tanggal 30 Juni 2014 dan

31 Desember 2013 15 601.000.000.000 601.000.000.000

Saldo laba belum ditentukan penggunaannya 13.562.413.057 11.002.656.142

Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan

kepada pemilik entitas induk 614.562.413.057 612.002.656.142

Kepentingan nonpengendali 16 15.013.710.993 14.996.611.508

Jumlah Ekuitas 629.576.124.050 626.999.267.650

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 981.630.436.172 969.040.858.039

yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan. Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian merupakan bagian

(6)

Catatan 2014 2013

PENJUALAN DAN PENDAPATAN USAHA - BERSIH 17 26.456.041.285 37.254.544.799

BEBAN POKOK PENJUALAN 18 16.924.378.655 31.622.989.236

LABA BRUTO 9.531.662.630 5.631.555.563

Beban pemasaran 19 (1.470.923.103) (846.304.294)

Beban umum dan administrasi 20 (5.119.533.505) (3.803.519.411)

Beban keuangan 10 (3.431.221.299) (2.080.146.316)

Keuntungan pembelian diskon 23 - 1.092.016.359

Keuntungan lainnya - bersih 4.758.807.050 2.837.526.708

LABA SEBELUM BEBAN PAJAK PENGHASILAN 4.268.791.773 2.831.128.609

BEBAN PAJAK PENGHASILAN Pajak kini

Final 21 (1.320.489.235) (1.812.025.000)

Nonfinal 21 (371.446.138) (218.447.350)

Jumlah Beban Pajak Penghasilan (1.691.935.373) (2.030.472.350)

LABA BERSIH PERIODE BERJALAN 2.576.856.400 800.656.259

PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN -

-JUMLAH LABA KOMPREHENSIF

PERIODE BERJALAN 2.576.856.400 800.656.259

LABA (RUGI) BERSIH PERIODE BERJALAN YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA:

Pemilik entitas induk 2.559.756.915 925.788.410

Kepentingan nonpengendali 17.099.485 (125.132.151)

Jumlah 2.576.856.400 800.656.259

JUMLAH LABA (RUGI) KOMPREHENSIF PERIODE BERJALAN YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA:

Pemilik entitas induk 2.559.756.915 925.788.410

Kepentingan nonpengendali 17.099.485 (125.132.151)

Jumlah 2.576.856.400 800.656.259

LABA PER SAHAM DASAR

YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA

PEMILIK ENTITAS INDUK 22 0,43 0,15

Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

(7)

Saldo laba belum

ditentukan Kepentingan

Catatan Modal disetor penggunaannya Jumlah nonpengendali Jumlah ekuitas

Saldo per 31 Desember 2012 601.000.000.000 6.861.138.062 607.861.138.062 6.581.130.574 614.442.268.636

Jumlah laba komprehensif periode berjalan - 925.788.410 925.788.410 (125.132.151) 800.656.259

Kepentingan nonpengendali atas aset bersih

entitas anak yang diakuisisi 23 - - - 8.431.608.190 8.431.608.190

Saldo per 30 Juni 2013 601.000.000.000 7.786.926.472 608.786.926.472 14.887.606.613 623.674.533.085

Saldo per 31 Desember 2013 601.000.000.000 11.002.656.142 612.002.656.142 14.996.611.508 626.999.267.650

Jumlah laba komprehensif periode berjalan - 2.559.756.915 2.559.756.915 17.099.485 2.576.856.400

Saldo per 30 Juni 2014 601.000.000.000 13.562.413.057 614.562.413.057 15.013.710.993 629.576.124.050 pemilik entitas induk

Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

(8)

2014 2013

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Penerimaan dari pelanggan 20.540.823.835 20.483.010.346

Pembayaran kepada karyawan dan operasional lainnya (6.930.702.918) (4.649.823.705)

Pembayaran kepada pemasok (5.301.007.060) (9.964.048.049)

Penerimaan (Pembayaran) lainnya (421.720.522) 1.035.000.000

Kas diperoleh dari operasi 7.887.393.335 6.904.138.592

Pembayaran beban keuangan (16.358.705.985) (14.964.395.282)

Pembayaran pajak penghasilan (144.087.874) (11.500.852)

Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Operasi (8.615.400.524) (8.071.757.542)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI

Penerimaan penjualan aset tetap 172.000.000 -Perolehan tanah untuk dikembangkan (6.102.760.752) (4.247.702.014)

Perolehan aset tetap (29.424.625) (2.468.793.692)

Pembayaran akuisisi saham entitas anak setelah

dikurangi kas yang diterima - (7.498.016.002)

Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (5.960.185.377) (14.214.511.708)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN

Penerimaan utang bank 16.670.012.550 170.048.436.421

Pembayaran utang bank (4.541.790.225) (156.661.194.445)

Pembayaran kepada pihak berelasi (998.464.112) (38.971.818.220) Penerimaan dari pihak berelasi 1.121.744.098 40.319.902.881

Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan 12.251.502.311 14.735.326.637

PENURUNAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS (2.324.083.590) (7.550.942.613)

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 28.033.461.278 21.683.529.218

KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 25.709.377.688 14.132.586.605

Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian merupakan bagian

(9)

1. UMUM

a. Pendirian dan Informasi Umum

PT Sitara Propertindo Tbk (d/h PT Garda Jaya Prima) (“Entitas Induk”) didirikan berdasarkan akta No. 2 tanggal 1 Juni 2006 dari Patricia Bunandi Panggabean S.H., notaris di Jakarta. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-22136 HT.01.01.TH.2006 tanggal 28 Juli 2006, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 102 Tambahan Berita Negara No. 13328 tanggal 22 Desember 2006. Anggaran Dasar Entitas Induk telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta No. 124 tanggal 28 Mei 2014, dibuat di hadapan Ardi Kristiar, Sarjana Hukum, Master of Business Administration, sebagai pengganti dari Yulia, Sarjana Hukum, notaris di Jakarta Selatan, antara lain mengenai perubahan Entitas Induk dari Perseroan Terbatas tertutup/Non Publik menjadi Perseroan Terbatas terbuka/Publik dan perubahan susunan pengurus Entitas Induk. Akta perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-03220.40.20.2014 tanggal 28 Mei 2014.

Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Entitas Induk, ruang lingkup kegiatan Entitas Induk meliputi perdagangan, pembangunan, real estat, industri, percetakan, agrobisnis, pertambangan, jasa dan angkutan. Pada saat ini kegiatan usaha yang dijalankan Entitas Induk meliputi usaha real estat.

Entitas Induk mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2006.

Entitas Induk berkedudukan di Jakarta dengan kantor pusat beralamat di Wisma 77 Lt. 19, Jl. Letjend. S. Parman Kav. 77, Kelurahan Slipi, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat 11410.

b. Entitas Induk Terakhir

Entitas Induk terakhir dari Entitas Induk dan Entitas Anak (secara bersama-sama disebut sebagai “Grup”) adalah PT Surya Buana Makmur.

c. Susunan Pengurus dan Karyawan

Sesuai dengan akta No. 41 tanggal 11 Desember 2013 dari Yulia, S.H., notaris di Jakarta, susunan pengurus Entitas Induk adalah sebagai berikut:

Komisaris Utama (Komisaris Independen) : Supandi Widi Siswanto

Komisaris : Bihar Abdi Solonggahon Tobing

Direktur Utama : Dedi Djajasastra

Direktur : Nurahma Tresani

Ricky Pittra Halim

Direktur Independen : Sanny Nagaprakarsa

30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013

Entitas Induk telah menetapkan Sanny Nagaprakarsa sebagai Sekretaris Perusahaan (Corporate

(10)

1. UMUM (lanjutan)

c. Susunan Pengurus dan Karyawan (lanjutan)

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Komisaris Entitas Induk di Luar Rapat Entitas Induk tanggal 18 Desember 2013, susunan Komite Audit Entitas Induk sebagai berikut:

Ketua : Supandi Widi Siswanto Anggota : Deka Watchson

Immanuel Hendri Krisnanto

Masa tugas anggota Komite Audit bersamaan dengan masa jabatan Dewan Komisaris.

Entitas Induk telah menyusun Piagam Unit Audit Internal dan membentuk Unit Audit Internal pada tanggal 18 Desember 2013 sesuai dengan Peraturan No. IX.I.7, dimana Entitas Induk diwajibkan untuk menyusun Piagam Audit Internal (Internal Audit Charter) yang ditetapkan oleh Dewan Direksi setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris. Entitas Induk juga telah menunjuk Arief Rasyadi sebagai Kepala Satuan Audit Internal berdasarkan Surat Penunjukan tertanggal 18 Desember 2013.

Jumlah karyawan tetap Grup sebanyak 33 karyawan pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013.

Entitas Induk memberikan remunerasi kepada pengurus Entitas Induk berupa gaji, tunjangan dan bonus. Jumlah remunerasi Dewan Komisaris sebesar Rp 362.541.410 dan Rp 532.287.400, masing-masing pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013. Jumlah remunerasi Direksi sebesar Rp 940.322.105 dan Rp 827.076.807, masing-masing pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013.

d. Entitas Anak Yang Dikonsolidasis

Entitas Induk memiliki saham Entitas Anak baik langsung maupun tidak langsung 50% atau lebih. Rincian Entitas Anak yang dikonsolidasi sebagai berikut:

operasi 30 Juni 2014 dan 30 Juni 31 Desember Lokasi Jenis usaha Nama proyek komersial 31 Desember 2013 2014 2013 Pemilikan Langsung

PT Raffles Griya Perkasa (RGPK) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 99% 497.981.441.868 497.289.590.744 PT Raffles Niaga Kencana (RNK) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 99% 392.774.839.170 398.650.498.644 PT Raffles Graha Persada (RGPS) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 99% 66.220.509.374 59.595.898.590 PT Raffles Hotel (RH) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 99% 988.926.908 989.117.004 Pemilikan Tidak Langsung

PT Gemilang International (GI) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 98% 478.159.616.559 471.677.864.072 PT Griya Cipta Berdikari (GCB) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 97% 478.096.657.085 471.614.684.872 PT Pratama Kencana Perkasa (PKP) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung - Pra Operasi 98% 247.014.936.950 247.014.936.950 PT Cakrawala Inti Sejahtera (CIS) Jakarta Pembangunan City Point 2012 98% 61.022.748.851 68.114.143.995 PT Purnama Sentosa (PS) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen Solo Nuevo Pra Operasi 98% 84.991.160.097 80.766.363.018 PT Usaha Mandiri Sukses Abadi (UMSA) Jakarta Pembangunan Montana Serpong Pra Operasi 96% 75.006.462.734 68.502.843.903 PT Mutiara Sukses Abadi (MSA) Jakarta Pembangunan Kemang View Pra Operasi 98% 54.428.921.536 38.965.558.237 PT Bina Karnada (BK) Jakarta Pembangunan, jasa konsultasi manajemen Premier Village 2012 98% 20.321.068.293 17.495.270.339 PT Cisadane River Park (CRP) Jakarta Pembangunan, jasa konsultasi manajemen Les Belles Maisons 2006 98% 15.415.059.500 11.862.745.536 PT Graha Investama Bersama (GIB) Jakarta Jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen Urban Heights Pra Operasi 51% 21.433.407.388 18.271.772.536 PT Sahabat Haritas Sejati (SHS) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung Biz Link Pra Operasi 97% 11.800.000.000 11.800.000.000 PT Mandiri Gita Pertiwi (MGP) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 98% 60.000.274 76.093.000 PT Propertindo Line Semesta (PLS) Jakarta Pembangunan, jasa pengelola gedung, jasa konsultasi manajemen - Pra Operasi 97% 40.155.000 56.028.000

Entitas anak *)

e. Tanggung Jawab Manajemen dan Persetujuan Laporan Keuangan Konsolidasian

Penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian Grup merupakan tanggung jawab manajemen dan telah diotorisasi untuk diterbitkan oleh Direksi pada tanggal 25 Juli 2014.

(11)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

a. Pernyataan Kepatuhan

Laporan keuangan konsolidasian disusun dan disajikan dengan menggunakan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (SAK), meliputi pernyataan dan interpretasi yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan dan Peraturan No. VIII.G.7 tentang “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan”, Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) No. KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 yang telah diubah dengan Surat Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. KEP- 554/BL/2010 tanggal 30 Desember 2010, dan Surat Edaran No. SE-02/PM/2002 tentang “Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Real Estat”, yang telah dipertegas dengan Surat Edaran No. SE-03/BL/2011 tanggal 13 Juli 2011.

b. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan menggunakan konsep biaya historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain, sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan menggunakan metode akrual, kecuali laporan arus kas konsolidasian.

Laporan arus kas konsolidasian disusun dengan menggunakan metode langsung dan menyajikan sumber dan penggunaan kas dan setara kas dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Untuk tujuan laporan arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan deposito berjangka yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dan tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya.

Kebijakan akuntansi telah diterapkan secara konsisten pada laporan keuangan konsolidasian untuk periode yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013.

Dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian sesuai dengan SAK, dibutuhkan pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi:

penerapan kebijakan akuntansi;

jumlah aset dan liabilitas yang dilaporkan, dan pengungkapan atas aset dan liabilitas kontinjensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasian;

jumlah pendapatan dan beban yang dilaporkan selama periode pelaporan.

Estimasi dan asumsi yang digunakan ditelaah secara berkesinambungan. Revisi atas estimasi akuntansi diakui pada periode dimana estimasi tersebut direvisi dan periode yang akan datang yang dipengaruhi oleh revisi estimasi tersebut.

Walaupun estimasi ini dibuat berdasarkan pengetahuan terbaik manajemen atas kejadian dan tindakan saat ini, hasil aktual mungkin berbeda dengan jumlah yang diestimasi semula.

Secara khusus, informasi mengenai hal-hal penting yang terkait dengan ketidakpastian estimasi dan pertimbangan penting dalam penerapan kebijakan akuntansi yang memiliki dampak yang signifikan terhadap jumlah yang diakui dalam laporan keuangan konsolidasian dijelaskan dalam Catatan 3.

(12)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

c. Standar Akuntansi Baru

Standar baru, revisi dan intepretasi yang telah diterbitkan berlaku efektif untuk tahun buku yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2014 dan 2015 adalah sebagai berikut:

- ISAK 27 : Pengalihan Aset dari Pelanggan

- ISAK 28 : Pengakhiran Liabilitas Keuangan dengan Instrumen Ekuitas

- ISAK 29 : Biaya Pengupasan Lapisan Tanah dalam Tahap Produksi pada Tambang Terbuka

- PSAK 65 : Laporan Keuangan Konsolidasian

- PSAK 66 : Pengaturan Bersama

- PSAK 67 : Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain

- PSAK 68 : Pengukuran Nilai Wajar

- PSAK 1 (Revisi 2013) : Penyajian Laporan Keuangan

- PSAK 4 (Revisi 2013) : Laporan Keuangan Tersendiri

- PSAk 15 (Revisi 2013) : Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama

- PSAK 24 (Revisi 2013) : Imbalan Kerja

ISAK 27, 28 dan 29 telah berlaku efektif untuk tahun buku yang dimulai pada 1 Januari 2014, sedangkan revisi dan standar baru lainnya akan berlaku efektif untuk tahun buku yang dimulai pada 1 Januari 2015.

Grup masih mempelajari dampak yang mungkin timbul atas penerbitan standar akuntansi keuangan tersebut.

d. Prinsip Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian mencakup laporan keuangan Entitas Induk dan entitas-entitas yang dikendalikan secara langsung ataupun tidak langsung oleh Entitas Induk.

Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi dan peristiwa lain dalam keadaan yang serupa.

Seluruh transaksi, saldo akun dan laba atau rugi yang belum direalisasi dari transaksi antar entitas telah dieliminasi untuk mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi dari Grup sebagai satu kesatuan usaha. Entitas Anak dikonsolidasikan secara penuh sejak tanggal akuisisi, yaitu tanggal Entitas Induk memperoleh pengendalian, sampai dengan tanggal Entitas Induk kehilangan pengendalian. Pengendalian dianggap ada ketika Entitas Induk memiliki secara langsung atau tidak langsung melalui Entitas Anak, lebih dari setengah kekuasaan suara suatu entitas, kecuali dalam keadaan yang jarang, dapat ditunjukkan secara jelas bahwa kepemilikan tersebut tidak diikuti dengan pengendalian. Dalam kondisi tertentu, pengendalian juga ada ketika terdapat:

kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai perjanjian dengan investor lain;

kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian;

kekuasaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian besar direksi atau dewan komisaris; atau

organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui dewan atau organ tersebut; atau kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat direksi dan dewan komisaris atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui direksi dan dewan komisaris atau organ tersebut.

(13)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

d. Prinsip Konsolidasian (lanjutan)

Rugi Entitas Anak yang tidak dimiliki secara penuh diatribusikan pada Kepentingan Nonpengendali (KNP) bahkan jika hal ini mengakibatkan KNP mempunyai saldo defisit. Jika kehilangan pengendalian atas suatu Entitas Anak, maka Entitas Induk dan/atau Entitas Anak:

menghentikan pengakuan aset (termasuk setiap Goodwill ) dan liabilitas Entitas Anak; menghentikan pengakuan jumlah tercatat setiap KNP;

menghentikan pengakuan akumulasi selisih penjabaran, yang dicatat di ekuitas, bila ada; mengakui nilai wajar pembayaran yang diterima;

mengakui setiap sisa investasi pada nilai wajarnya;

mengakui setiap perbedaan yang dihasilkan sebagai keuntungan atau kerugian dalam komponen laba rugi; dan

mereklasifikasi bagian Entitas Induk atas komponen yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan komprehensif lain ke komponen laba rugi, atau mengalihkan secara langsung ke saldo laba KNP mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto dari entitas-entitas anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak langsung oleh Entitas Induk, yang masing-masing disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dan dalam ekuitas pada laporan posisi keuangan konsolidasian, terpisah dari bagian yang dapat diatribusikan kepada pemilik Entitas Induk.

Transaksi dengan kepentingan nonpengendali yang tidak mengakibatkan hilangnya pengendalian dicatat sebagai transaksi ekuitas. Selisih antara nilai wajar imbalan yang dialihkan dengan bagian relatif atas nilai tercatat aset bersih Entitas Anak yang diakuisisi dicatat di ekuitas. Laba atau rugi dari pelepasan kepada kepentingan nonpengendali juga dicatat di ekuitas.

e. Kombinasi Bisnis

Akuisisi bisnis dicatat dengan menerapkan metode akuisisi. Imbalan yang dialihkan dalam suatu kombinasi bisnis diukur pada nilai wajar, yang dihitung sebagai hasil penjumlahan dari nilai wajar tanggal akuisisi atas seluruh aset yang dialihkan, liabilitas yang diakui dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh pihak pengakuisisi untuk memperoleh pengendalian atas pihak yang diakuisisi. Imbalan yang dialihkan termasuk nilai wajar aset atau liabilitas yang timbul dari kesepakatan imbalan kontinjensi.

Pada tanggal akuisisi, aset teridentifikasi dan liabilitas diakui dari pihak yang diakuisisi yang memenuhi kondisi-kondisi pengakuan berdasarkan PSAK 22 (Revisi 2010), “Kombinasi Bisnis”, diakui pada nilai wajar, kecuali untuk aset dan liabilitas tertentu diukur dengan menggunakan standar yang relevan. Untuk kombinasi bisnis periode sebelumnya dimana, Entitas Induk mengakuisisi kurang dari seluruh saham Entitas Anak, proporsi minoritas atas aset dan liabilitas dinyatakan sebesar jumlah tercatat sebelum akuisisinya.

Jika kombinasi bisnis diperoleh secara bertahap, nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas yang sebelumnya dimiliki oleh pihak pengakuisisi dari pihak yang diakuisisi diukur kembali ke nilai wajar pada tanggal akuisisi melalui laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Jika akuntansi awal untuk kombinasi bisnis belum selesai pada akhir periode pelaporan saat kombinasi terjadi, Grup melaporkan jumlah sementara untuk pos-pos yang proses akuntansinya belum selesai dalam laporan keuangannya. Selama periode pengukuran, pihak pengakuisisi menyesuaikan aset atau liabilitas tambahan yang diakui, untuk mencerminkan informasi baru yang diperoleh tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi dan, jika diketahui, akan berdampak pada jumlah yang diakui pada tanggal tersebut.

Periode pengukuran adalah periode dari tanggal akuisisi hingga tanggal Entitas Induk memperoleh informasi lengkap tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi dan periode pengukuran maksimum satu tahun dari tanggal akuisisi.

(14)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

f. Goodwill

Goodwill merupakan selisih nilai agregat dari imbalan yang dialihkan dan jumlah yang diakui untuk

kepentingan nonpengendali atas aset bersih teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih dari Entitas Anak, entitas asosiasi atau pengendalian bersama entitas pada tanggal akuisisi. KNP diukur pada proporsi kepemilikan KNP atas aset neto teridentifikasi pada tanggal akuisisi. Jika biaya perolehan lebih rendah dari nilai wajar aset neto yang diperoleh, perbedaan tersebut diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian sebagai keuntungan pembelian diskon. Goodwill atas akuisisi entitas asosiasi disajikan di dalam investasi pada entitas asosiasi. Goodwill dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi kerugian penurunan nilai.

Goodwill atas akuisisi Entitas Anak diuji penurunan nilainya setiap periode. Goodwill dialokasikan

pada setiap Unit Penghasil Kas atau kelompok Unit Penghasil Kas untuk tujuan uji penurunan nilai.

Keuntungan atau kerugian atas pelepasan Entitas Anak dan entitas asosiasi termasuk nilai tercatat dari Goodwill yang terkait dengan entitas yang dijual.

g. Mata Uang Fungsional dan Pelaporan

Akun-akun yang tercakup dalam laporan keuangan setiap entitas dalam Grup diukur menggunakan mata uang dari lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi (mata uang fungsional). Laporan keuangan konsolidasian disajikan dalam Rupiah (Rp), yang merupakan mata uang fungsional Grup.

h. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Transaksi dalam mata uang selain mata uang Rupiah (mata uang asing) dijabarkan ke dalam Rupiah menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi. Pada setiap tanggal pelaporan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam mata uang Dolar Amerika Serikat menggunakan kurs penutup. Kurs yang digunakan sebagai acuan adalah kurs yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Keuntungan dan kerugian selisih kurs yang timbul dari penyelesaian transaksi dalam mata uang asing dan dari penjabaran aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing diakui di dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian, kecuali jika ditangguhkan di dalam ekuitas sebagai lindung nilai arus kas dan lindung nilai investasi bersih yang memenuhi syarat.

Kurs yang digunakan pada tanggal-tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013 berdasarkan kurs tengah yang diterbitkan Bank Indonesia, masing-masing sebesar Rp 11.969 dan Rp 12.189 per Dolar Amerika Serikat (USD) 1.

i. Transaksi Pihak-Pihak Berelasi

Grup mengungkapkan transaksi dengan pihak-pihak berelasi sebagaimana didefinisikan dalam PSAK No 7 (Revisi 2010), “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”.

Suatu pihak dianggap berelasi dengan Grup jika:

(a) Orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang tersebut:

(i) Memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas entitas pelapor; (ii) Memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor; atau

(15)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

i. Transaksi Pihak-Pihak Berelasi (lanjutan)

(b) Suatu entitas berelasi dengan entitas pelpor jika memenuhi salah satu hal berikut:

(i) Entitas dan entitas pelor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak dan entitas anak berikutnya terkait dengan entitas lain);

(ii) Satu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya);

(iii) Kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak yang sama;

(iv) Suatu entitas adalah ventura bersama dari entitas entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga;

(v) Entitas tersebut adalah suatu program imbalan pascakerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor;

(vi) Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasikan dalam huruf (a) atau;

(vii) Orang yang diidentifikasi dalam huruf (a) (i) memiliki pengarug signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas).

Seluruh transaksi dan saldo yang material dengan pihak-pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang relevan.

j. Aset dan Liabilitas Keuangan

Aset keuangan Grup terdiri dari kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain dan rekening dibatasi penggunaannya.

Liabilitas keuangan Grup terdiri dari utang usaha, utang lain-lain, beban akrual, dan utang bank. Klasifikasi

Grup mengklasifikasikan aset keuangannya sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang untuk pengakuan dan pengukurannya.

Grup mengklasifikasikan liabilitas keuangannya sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi.

(16)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

j. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan)

Pengakuan

Grup pada awalnya mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan pada laporan posisi keuangan konsolidasian, jika dan hanya jika, Grup menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontraktual instrumen tersebut.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan atau liabilitas keuangan diukur pada nilai wajarnya (untuk item yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi komprehensif setelah pengakuan awal) ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung atas perolehan aset keuangan atau penerbitan liabilitas keuangan. Pengukuran aset keuangan dan liabilitas keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasi aset keuangan dan liabilitas keuangan tersebut.

Biaya transaksi hanya meliputi biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan aset keuangan atau penerbitan liabilitas keuangan dan merupakan biaya tambahan yang tidak akan terjadi apabila instrumen keuangan tersebut tidak diperoleh atau diterbitkan. Untuk aset keuangan, biaya transaksi ditambahkan pada jumlah yang diakui pada awal pengakuan aset, sedangkan untuk liabilitas keuangan, biaya transaksi dikurangkan dari jumlah utang yang diakui pada pengakuan awal liabilitas. Biaya transaksi tersebut diamortisasi selama umur instrumen berdasarkan metode suku bunga efektif dan dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga untuk biaya transaksi sehubungan dengan aset keuangan atau sebagai bagian dari beban bunga untuk biaya transaksi sehubungan dengan liabilitas keuangan.

Penghentian Pengakuan

Aset keuangan (atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya jika: a. Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir;

b. Grup tetap memiliki hak untuk menerima arus kas dari aset keuangan tersebut, namun juga menanggung liabilitas kontraktual untuk membayar kepada pihak ketiga atas arus kas yang diterima tersebut secara penuh tanpa adanya penundaan yang signifikan berdasarkan suatu kesepakatan; atau

c. Grup telah mentransfer haknya untuk menerima arus kas dari aset keuangan dan (i) telah mentransfer secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, atau (ii) secara substansial tidak mentransfer atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, namun telah mentransfer pengendalian atas aset keuangan tersebut.

Ketika Grup telah mentransfer hak untuk menerima arus kas dari suatu aset keuangan atau telah menjadi pihak dalam suatu kesepakatan, dan secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan dan masih memiliki pengendalian atas aset tersebut, maka aset keuangan diakui sebesar keterlibatan berkelanjutan dengan aset keuangan tersebut. Keterlibatan berkelanjutan dalam bentuk pemberian jaminan atas aset yang ditransfer diukur berdasarkan jumlah terendah antara nilai aset yang ditransfer dengan nilai maksimal dari pembayaran yang diterima yang mungkin harus dibayar kembali oleh Grup.

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya jika liabilitas keuangan tersebut berakhir, dibatalkan atau telah kadaluarsa.

(17)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

j. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan)

Saling Hapus

Aset dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan konsolidasian jika, dan hanya jika, Grup saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara simultan.

Pengukuran Biaya Perolehan Diamortisasi

Biaya perolehan diamortisasi dari aset dan liabilitas keuangan adalah jumlah aset atau liabilitas keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif dengan menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya, dan dikurangi penyisihan kerugian penurunan nilai.

Pengukuran Nilai Wajar

Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian adalah berdasarkan harga kuotasi pasar atau harga kuotasi penjual/dealer (bid price untuk posisi beli dan ask price untuk posisi jual), tanpa memperhitungkan biaya transaksi. Apabila bid price dan ask price yang terkini tidak tersedia, maka harga transaksi terakhir yang digunakan untuk mencerminkan bukti nilai wajar terkini, sepanjang tidak terdapat perubahan signifikan dalam perekonomian sejak terjadinya transaksi. Untuk seluruh instrumen keuangan yang tidak terdaftar pada suatu pasar aktif, kecuali investasi pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki harga kuotasi, maka nilai wajar ditentukan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian meliputi teknik nilai kini, dan perbandingan terhadap instrumen sejenis yang memiliki harga pasar yang dapat diobservasi.

Penurunan Nilai Aset Keuangan

Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian, Grup menelaah apakah suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan telah mengalami penurunan nilai.

Suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai, jika dan hanya jika, terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai sebagai akibat dari satu atau lebih kejadian yang timbul setelah pengukuran awal dari suatu aset (suatu kejadian yang merugikan) dan kejadian kerugian tersebut telah mempengaruhi estimasi arus kas masa depan dari aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi dengan andal. Bukti mengenai penurunan nilai meliputi indikasi bahwa peminjam atau kelompok peminjam mengalami kesulitan keuangan secara signifikan, gagal dalam melakukan pembayaran bunga atau pokok, kemungkinan akan mengalami kebangkrutan atau reorganisasi keuangan lainnya dan terdapat hasil observasi data yang mengindikasikan terdapat penurunan nilai pada estimasi arus kas masa depan, seperti perubahan kondisi ekonomi yang berhubungan dengan gagal bayar.

Untuk pinjaman yang diberikan dan piutang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, Grup pertama-tama menentukan apakah terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau secara kolektif untuk aset keuangan yang jumlahnya tidak signifikan secara individual. Jika Grup menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, baik aset keuangan tersebut signifikan atau tidak signifikan, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual, dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

(18)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

j. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan)

Penurunan Nilai Aset Keuangan (lanjutan)

Jika terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya diamortisasi, maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan (tidak termasuk kerugian kredit di masa depan yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yang merupakan suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Nilai tercatat aset tersebut langsung dikurangi dengan penurunan nilai yang terjadi atau menggunakan akun penyisihan dan jumlah kerugian yang terjadi diakui di laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

k. Kas dan Setara Kas

Pada laporan arus kas konsolidasian, kas dan setara kas mencakup kas, simpanan yang sewaktu-waktu bisa dicairkan dan investasi likuid jangka pendek lainnya yang jatuh tempo dalam sewaktu-waktu tiga bulan atau kurang dan cerukan. Pada laporan posisi keuangan konsolidasian, cerukan disajikan bersama sebagai pinjaman dalam liabilitas jangka pendek

l. Piutang Usaha dan Piutang Lain-lain

Piutang usaha merupakan jumlah yang terutang dari pelanggan atas penjualan barang dagangan atau jasa dalam kegiatan usaha normal. Jika piutang diperkirakan dapat ditagilh dalam waktu satu tahun atau kurang (atau dalam sikius operasi normal jika lebih panjang), piutang diklasifikasikan sebagai aset lancar. Jika tidak, piutang disajikan sebagai aset tidak lancar.

Piutang usaha dan piutang non-usaha pada awalnya diakui sebesar nilai wajar dan selanjutnya diukur pada biaya perolehandiamortisasi dengan menggunakan metode bunga efektif, apabila dampak pendiskontoan signifikan, dikurangi provisi atas penurunan nilai.

Kolektibilitas piutang usaha dan piutang non-usaha ditinjau secara berkala. Piutang yang diketahui tidak tertagih. dihapuskan dengan secara langsung mengurangi nilai tercatatnya. Akun penyisihan digunakan ketika terdapat bukti yang objektif bahwa Grup tidak dapat menagih seluruh nilai terutang sesuai dengan persyaratan awal piutang. Kesulitan keuangan signifikan yang dialami debitur, kemungkinan debitur dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan dan gagal bayar atau menunggak pembayaran merupakan indikator yang dianggap dapat menunjukkan adanya penurunan nilai piutang. Jumlah penurunan nilai adalah sebesar selisih antara nilaitercatat aset dan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan pada tingkat SBE awal. Arus kas terkait dengan piutang jangka pendek tidak didiskontokan apabila efek diskonto tidak material.

Jumlah kerugian penurunan nilai diakui pada laba rugi dan disajikan dalam beban “beban penurunan nilai”. Ketika piutang usaha dan piutang non-usaha. yang rugi penurunan nilainya telah diakui, tidak dapat ditagilh pada periode selanjutnya, maka piutang tersebut dihapus bukukan dengan mengurangi akun penyisihan. Jumlah yang selanjutnya dapat ditagih kembali atas piutang yang sebelumnya telah dihapusbukukan, dikreditkan terhadap “beban penurunan nilai" pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

(19)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

m. Persediaan Real Estat

Persediaan real estat terdiri dari tanah dalam proses pengembangan, bangunan dalam penyelesaian dan bangunan yang siap dijual yang dinyatakan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah.

Biaya perolehan tanah dalam proses pengembangan meliputi biaya perolehan tanah untuk dikembangkan ditambah dengan biaya pengembangan langsung dan tidak langsung yang dapat diatribusikan pada aset pengembangan real estat serta biaya pinjaman. Tanah dalam proses pengembangan akan dipindahkan ke tanah dan unit bangunan yang sedang dikembangkan pada saat tanah tersebut selesai dikembangkan.

Biaya pengembangan tanah, termasuk tanah yang digunakan sebagai jalan dan prasarana atau area yang tidak dijual lainnya.

Biaya perolehan bangunan dalam penyelesaian meliputi biaya perolehan tanah yang telah selesai dikembangkan ditambah dengan biaya konstruksi, biaya lainnya yang dapat diatribusikan pada aktivitas pengembangan real estat dan biaya pinjaman, serta dipindahkan ke bangunan yang siap dijual pada saat selesai dibangun dan siap dijual.

Biaya aktivitas pengembangan real estat yang dikapitalisasi ke proyek pengembangan real estat adalah:

biaya pra-perolehan tanah; biaya perolehan tanah;

biaya yang secara langsung berhubungan dengan proyek;

biaya yang dapat diatribusikan pada aktivitas pengembangan real estat; dan biaya pinjaman.

Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan kegiatan pengembangan real estat dikapitalisasi ke proyek pengembangan. Kapitalisasi dihentikan pada saat proyek pengembangan tersebut ditangguhkan/ditunda pelaksanaannya atau secara substansial siap untuk digunakan sesuai tujuannya.

Biaya yang dialokasikan sebagai beban proyek termasuk:

biaya pra-perolehan tanah atas tanah yang tidak berhasil diperoleh;

biaya dari hasil yang diperoleh atas pembangunan sarana umum yang dikomersialkan, yang dijual atau dialihkan, sehubungan dengan penjualan unit.

Grup tetap melakukan akumulasi biaya ke proyek pengembangan walaupun realisasi pendapatan pada masa depan lebih rendah dari nilai tercatat proyek, atas perbedaan yang terjadi Grup melakukan penyisihan secara periodik. Jumlah penyisihan tersebut akan mengurangi nilai tercatat proyek dan dibebankan ke laba rugi periode berjalan.

Biaya yang telah dikapitalisasi ke proyek pengembangan real estat dialokasikan ke setiap unit real estat dengan metode identifikasi khusus.

Pengkajian atas estimasi dan alokasi biaya dilakukan pada setiap akhir periode pelaporan sampai proyek selesai secara substansial, jika terjadi perubahan mendasar Grup akan melakukan revisi dan realokasi biaya.

Biaya pemeliharaan dan perbaikan yang terjadi atas proyek yang sudah selesai dan secara substansial siap untuk digunakan sesuai tujuannya dibebankan pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada saat terjadinya.

Beban yang tidak berhubungan dengan proyek real estat dibebankan ke laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada saat terjadinya.

(20)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

n. Tanah untuk Dikembangkan

Tanah untuk dikembangkan dinyatakan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Nilai realisasi bersih merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi dengan estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya penjualan.

Biaya perolehan tanah untuk dikembangkan meliputi biaya pra-perolehan, perolehan tanah dan biaya pinjaman yang timbul atas perolehan tanah yang terjadi selama proses perolehan dan pematangan tanah hingga tanah siap pada kondisi untuk dikembangkan. Nilai tercatat tanah untuk dikembangkan akan dipindahkan ke tanah yang sedang dikembangkan pada saat aktivitas pengembangan tanah yang meliputi pekerjaan teknis, administratif dan konstruksi fisik pada tanah tersebut telah selesai.

o. Biaya Dibayar di Muka

Biaya dibayar di muka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus.

p. Aset Tetap

Grup menggunakan model biaya (cost model) sebagai kebijakan akuntansi pengukuran aset tetapnya.

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai. Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Selanjutnya, pada saat inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke dalam jumlah tercatat (carrying value) aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria pengakuan. Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada saat terjadinya.

Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus selama umur manfaat aset tetap yang diestimasi sebagai berikut:

Tahun

Kendaraan 8

Peralatan kantor 4

Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan direviu setiap akhir periode dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif.

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada periode aset tersebut dihentikan pengakuannya.

(21)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

q. Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan

Pada tanggal pelaporan, Grup menelaah nilai tercatat aset non-keuangan untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset diestimasi untuk menentukan tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada). Bila tidak memungkinkan untuk mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali atas suatu aset individu, Grup mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali dari Unit Penghasil Kas atas aset.

Perkiraan jumlah yang dapat diperoleh kembali adalah nilai tertinggi antara harga jual neto atau nilai pakai. Jika jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset non-keuangan (Unit Penghasil Kas) kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aset (Unit Penghasil Kas) dikurangi menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali dan rugi penurunan nilai diakui langsung ke laba rugi.

Pada tanggal-tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013, manajemen berkeyakinan bahwa tidak ada penurunan nilai aset non-keuangan.

r. Utang Usaha

Utang usaha adalah kewajiban membayar atas barang atau jasa yang telah diterima dalam kegiatan usaha normal dari pemasok.

Utang usaha pada awalnya diakui sebesar nilai wajar dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode bunga efektif.

s. Utang Bank

Pada saat pengakuan awal, pinjaman diakui sebesar nilai wajar, dikurangi dengan biaya-biaya transaksi yang terjadi. Selanjutnya, pinjaman diukur sebesar biaya perolehan diamortisasi; selisih antara penerimaan (dikurangi biaya transaksi) dan nilai pelunasan dicatat pada laba rugi selama periode pinjaman dengan menggunakan metode bunga efektif.

Biaya yang dibayar untuk memperoleh fasilitas pinjaman diakui sebagai biaya transaksi pinjaman sepanjang besar kemungkinan sebagian atau seluruh fasilitas akan ditarik. Dalam hal ini, biaya memperoleh pinjaman ditangguhkan sampai penarikan pinjaman terjadi. Sepanjang tidak terdapat bukti bahwa besar kemungkinan sebagian atau seluruh fasilitas akan ditarik, biaya memperoleh pinjaman dikapitalisasi sebagai pembayaran dimuka untuk jasa likuiditas dan diamortisasi selama periode fasilitas yang terkait.

t. Imbalan Pasca Kerja

Grup memberikan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Grup sehubungan dengan imbalan pasca kerja ini.

Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini liabilitas imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diperkirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.

(22)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

t. Imbalan Pasca Kerja (lanjutan)

Grup mengakui keuntungan atau kerugian atas kurtailmen atas penyelesaian pada saat terjadinya. Kurtailmen terjadi jika entitas menunjukkan komitmennya untuk mengurangi secara signifkan jumlah pekerja yang ditanggung oleh program, atau mengubah ketentuan dalam proram yang menyebabkan bagian yang material dari jasa masa depan pekerja tidak lagi memberikan imbalan atau memberikan imbalan yang lebih rendah. Sebelum menentukan dampak kurtailmen atau penyelesaian, Grup mengukur kembali kewajiban dengan menggunakan asumsi aktuarial yang berlaku.

Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti di laporan posisi keuangan konsolidasian merupakan nilai kini liabilitas imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui dan biaya jasa lalu yang belum diakui.

u. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pengakuan Pendapatan

Penjualan bangunan

Pendapatan dari penjualan rumah tinggal, ruko dan bangunan sejenis lainnya beserta kavling tanahnya diakui dengan metode akrual penuh (full accrual method) apabila seluruh kriteria berikut terpenuhi:

a) proses penjualan telah selesai; b) harga jual akan tertagih;

c) tagihan penjual tidak akan bersifat subordinasi di masa depan terhadap pinjaman lain yang akan diperoleh pembeli; dan

d) penjual telah mengendalikan risiko dan manfaat kepemilikan unit bangunan dan tanah untuk dikembangkan tersebut kepada pembeli melalui suatu transaksi yang secara substansi adalah penjualan dan penjual tidak lagi berkewajiban atau telibat secara signifikan dengan unit bangunan tersebut.

Penjualan tanah

Pendapatan dari penjualan tanah tanpa bangunan diakui dengan metode akrual penuh (full acrual

method) apabila seluruh kriteria berikut terpenuhi:

a) Jumlah pembayaran oleh pembeli telah mencapai 20% dari harga jual yang disepakati dan jumlah tersebut tidak dapat diminta kembali oleh pembeli;

b) Harga jual akan tertagih;

c) Tagihan penjual tidak akan bersifat subordinasi di masa depan terhadap pinjaman lain yang akan diperoleh pembeli;

d) Proses pengembangan tanah telah selesai sehingga penjual tidak berkewajiban lagi untuk menyelesaikan kaveling tanah yang dijual, seperti kewajiban untuk mematangkan kavling tanah atau kewajiban untuk membangun fasilitas-fasilitas pokok yang dijanjikan oleh atau yang menjadi kewajiban penjual, sesuai dengan pengikatan jual beli atau ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

e) Hanya kavling tanah saja yang dijual tanpa diwajibkan keterlibatan penjual dalam pendirian bangunan diatas kavling tanah tersebut.

Pengakuan Beban

Beban diakui sesuai dengan masa manfaatnya pada periode yang bersangkutan (accrual basis). Termasuk didalam beban adalah taksiran beban untuk pengembangan prasarana di masa yang akan datang atas tanah yang telah terjual.

(23)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

v. Biaya Pinjaman

Biaya pinjaman yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan, konstruksi atau pembuatan aset kualifikasian, merupakan aset yang membutuhkan waktu yang cukup lama agar siap untuk digunakan atau dijual, dikapitalisasi pada biaya perolehan aset tersebut, sampai dengan saat selesainya aset secara substansial siap untuk digunakan atau dijual. Biaya pinjaman lainnya dibebankan langsung ke laba rugi.

Penghasilan investasi diperoleh atas investasi sementara dari pinjaman yang secara spesifik belum digunakan untuk pengeluaran aset kualifikasian dikurangkan dari biaya pinjaman yang dikapitalisasi.

w. Provisi

Provisi diakui ketika Grup memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu, kemungkinan besar Grup diharuskan menyelesaikan liabilitas dan estimasi andal mengenai jumlah liabilitas tersebut dapat dibuat.

Jumlah yang diakui sebagai provisi merupakan estimasi terbaik dari pertimbangan yang diperlukan untuk menyelesaikan liabilitas kini pada akhir periode pelaporan, dengan mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian yang meliputi liabilitasnya. Apabila suatu provisi diukur menggunakan arus kas yang diperkirakan untuk menyelesaikan liabilitas kini, maka nilai tercatatnya adalah nilai kini dari arus kas.

Provisi ditelaah pada setiap tanggal pelaporan dan disesuaikan untuk mencerminkan estimasi terbaik yang paling kini. Jika arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan liabilitas kemungkinan besar tidak terjadi, maka provisi dibatalkan.

x. Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan Final

Penghasilan yang telah dikenakan pajak penghasilan final, beban pajaknya diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan. Selisih antara jumlah pajak penghasilan final yang terutang dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi komprehensif konsolidasian, diakui sebagai pajak dibayar di muka atau utang pajak. Perbedaan nilai tercatat aset dan liabilitas yang berhubungan dengan pajak penghasilan final dengan dasar pengenaan pajaknya tidak diakui sebagai aset atau liabilitas pajak tangguhan.

Pajak Penghasilan Nonfinal

Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku.

Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan liabilitas menurut laporan keuangan konsolidasian dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas kecuali perbedaan yang berhubungan dengan pajak penghasilan final. Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang.

(24)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

x. Pajak Penghasilan (lanjutan)

Pajak Penghasilan Nonfinal (lanjutan)

Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian, kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas.

Aset dan liabilitas pajak tangguhan disajikan bersih di laporan posisi keuangan konsolidasian, kecuali aset dan liabilitas pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aset dan liabilitas pajak kini.

y. Laba per Saham Dasar

Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk periode berjalan dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada periode yang bersangkutan dengan mempertimbangkan dampak pemecahan saham setelah tanggal pelaporan.

Entitas Induk tidak mempunyai efek berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif dan oleh karenanya, laba per saham dilusian tidak dihitung dan disajikan pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

z. Segmen Operasi

Segmen operasi disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian. Identifikasi segmen operasi berdasarkan laporan internal komponen-komponen Grup yang secara berkala dilaporkan kepada pengambil keputusan operasional dalam rangka alokasi sumber daya ke dalam segmen dan penilaian kinerja Grup. Segmen operasi adalah suatu komponen dari entitas:

a) yang terlibat dalam aktivitas bisnis untuk memperoleh pendapatan dan menimbulkan beban (termasuk pendapatan dan beban terkait dengan transaksi dengan komponen lain dari entitas yang sama);

b) hasil operasinya dikaji ulang secara reguler oleh pengambil keputusan operasional untuk membuat keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan menilai kinerjanya; dan

c) tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan.

Informasi yang dilaporkan kepada pengambil keputusan operasional untuk tujuan alokasi sumber daya dan penilaian kinerjanya lebih difokuskan pada kategori masing-masing produk.

aa. Peristiwa Setelah Periode Pelaporan

Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah periode pelaporan yang menyediakan tambahan informasi mengenai posisi keuangan konsolidasian Grup pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian (peristiwa penyesuai), jika ada, telah tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian. Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian (peristiwa non-penyesuai), apabila jumlahnya material, telah diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasian.

(25)

3. PENGGUNAAN PERTIMBANGAN, ESTIMASI DAN ASUMSI MANAJEMEN

Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasian, manajemen telah menggunakan pertimbangan, estimasi dan asumsi terbaiknya atas jumlah tertentu. Pertimbangan, estimasi dan asumsi yang digunakan dalam laporan keuangan konsolidasian ini adalah berdasarkan evaluasi manajemen atas fakta dan keadaan yang relevan pada tanggal laporan keuangan konsolidasian. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi, dan estimasi ini dapat disesuaikan lebih lanjut.

Pertimbangan Akuntansi yang Penting dalam Menerapkan Kebijakan Akuntansi Grup

Klasifikasi Aset dan Liabilitas Keuangan

Grup menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset dan liabilitas keuangan dengan mempertimbangkan bila definisi yang ditetapkan PSAK 55 (Revisi 2011) dipenuhi. Dengan demikian, aset dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi Grup seperti diungkapkan pada Catatan 2 dan 24.

Sumber Utama atas Ketidakpastian Estimasi dan Asumsi

Asumsi utama mengenai masa depan dan sumber estimasi lainnya pada akhir periode pelaporan, yang memiliki risiko signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas dalam periode pelaporan berikutnya dijelaskan dibawah ini:

Penurunan Nilai Aset

Pengujian atas penurunan nilai dilakukan apabila terdapat indikasi penurunan nilai. Penentuan nilai pakai aset memerlukan estimasi mengenai arus kas yang diharapkan untuk dihasilkan dari penggunaan aset (Unit Penghasil Kas) dan penjualan aset tersebut serta tingkat diskonto yang sesuai untuk menentukan nilai sekarang.

Walaupun asumsi yang digunakan dalam mengestimasi nilai pakai aset yang tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian dianggap telah sesuai dan wajar, namun perubahan signifikan atas asumsi ini akan berdampak material terhadap penentuan jumlah yang dapat dipulihkan dan akibatnya kerugian penurunan nilai yang timbul akan berdampak terhadap hasil usaha.

Berdasarkan pertimbangan manajemen, tidak terdapat indikator penurunan nilai atas aset Grup. Imbalan Pasca Kerja

Penentuan liabilitas imbalan pasca kerja tergantung pada pemilihan asumsi tertentu yang digunakan oleh aktuaris dalam menghitung jumlah liabilitas tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara lain tingkat diskonto dan tingkat kenaikan gaji. Realisasi yang berbeda dari asumsi Grup diakumulasi dan diamortisasi selama periode mendatang dan akibatnya akan berpengaruh terhadap jumlah biaya serta liabilitas yang diakui di masa mendatang. Walaupun asumsi Grup dianggap tepat dan wajar, namun perubahan signifikan pada kenyataannya atau perubahan signifikan dalam asumsi yang digunakan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap liabilitas imbalan pasca kerja Grup.

(26)

4. KAS DAN SETARA KAS 30 Juni 2014 31 Desember 2013 Kas 3.420.196.400 2.324.515.106 Bank Pihak ketiga Rupiah

PT Bank Capital Indonesia Tbk 2.763.643.144 5.344.167.849 PT Bank Mitraniaga Tbk 1.765.219.693 1.281.802.748 PT Bank Central Asia Tbk 1.015.755.032 -PT Bank Rabobank International Indonesia 400.250.836 183.614.836 PT Bank CIMB Niaga Tbk 319.138.678 103.868.577 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 145.184.517 144.895.760 PT Bank Internasional Indonesia Tbk 24.480.886 470.350.000 PT Bank Victoria International Tbk 7.703.477 102.649.778

PT Bank Mega Tbk 3.276.169 119.054.974

Lain-lain 844.528.856 15.336.406

Deposito berjangka - Rupiah Pihak ketiga

PT Bank Mega Tbk 15.000.000.000 15.000.000.000

PT Bank Mitraniaga Tbk - 2.943.205.245

Jumlah 25.709.377.688 28.033.461.278

Tingkat bunga deposito berjangka

dalam Rupiah per tahun 5% - 6% 5% - 6%

Pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013, tidak terdapat saldo kas dan setara kas yang dijaminkan.

5. PIUTANG USAHA PIHAK KETIGA

a. Berdasarkan jenis transaksi

30 Juni 2014 31 Desember 2013

Penjualan

Ruko dan kios 20.308.512.792 14.095.701.602

Tanah 1.812.025.001 2.393.340.001

(27)

5. PIUTANG USAHA PIHAK KETIGA (lanjutan)

b. Berdasarkan umur

30 Juni 2014 31 Desember 2013

Belum jatuh tempo 20.308.512.792 11.494.207.680

Telah jatuh tempo

1 - 3 bulan - 1.504.010.345

3 - 6 bulan 1.812.025.001 2.628.084.687

6 - 12 bulan - 862.738.891

Jumlah 22.120.537.793 16.489.041.603

Manajemen berkeyakinan bahwa seluruh piutang tersebut dapat ditagih sehingga tidak ditetapkan cadangan kerugian penurunan nilai.

6. REKENING DIBATASI PENGGUNAANNYA

Rekening dibatasi penggunaannya merupakan rekening escrow milik CIS, Entitas Anak, pada PT Bank Mitraniaga Tbk. sehubungan dengan fasilitas kredit kepemilikan kios. Saldo pada rekening tersebut berasal dari uang muka penjualan kios yang dibatasi penggunaannya sampai dengan proses penjualan tersebut telah selesai dilakukan.

7. PERSEDIAAN REAL ESTAT

30 Juni 2014 31 Desember 2013

Bangunan siap dijual 20.742.851.629 14.795.147.579

Bangunan dalam penyelesaian 6.774.853.368 26.852.218.126 Tanah dalam proses pengembangan - 1.232.250.000

Jumlah 27.517.704.997 42.879.615.705

Bangunan Siap Dijual

Bangunan siap dijual merupakan rumah tinggal di Les Belles Maisons serta kios dan ruko di City Point. Pembebanan ke beban pokok penjualan atas rumah tinggal sebesar Rp 4.121.468.735, serta ruko dan kios sebesar Rp 11.570.659.920 pada tanggal 30 Juni 2014 (Catatan 18).

Jumlah persediaan yang pengikatan jual belinya telah berlaku namun penjualannya belum diakui sebesar 3,03% dan 2,60% dari jumlah persediaan, masing-masing pada tanggal-tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013. Pengikatan tersebut belum diakui sebagai penjualan karena belum memenuhi kriteria pengakuan pendapatan.

(28)

7. PERSEDIAAN REAL ESTAT (lanjutan)

Bangunan Dalam Penyelesaian

Rincian bangunan dalam penyelesaian sebagai berikut:

30 Juni 2014 31 Desember 2013

Saldo awal 26.852.218.126 40.120.750.328

Saldo bangunan dalam penyelesaian pada saat akuisisi

Reklasifikasi dari tanah dalam proses pengembangan - 8.719.842.249

Pembangunan konstruksi 1.562.467.947 22.781.478.780

Kapitalisasi beban keuangan - 753.714.892

Sub-jumlah 1.562.467.947 32.255.035.921

Pengurangan

Reklasifikasi ke bangunan siap dijual (21.639.832.705) (45.523.568.123)

Saldo akhir 6.774.853.368 26.852.218.126

Bangunan dalam penyelesaian pada tanggal 30 Juni 2014 merupakan proyek City Point, manajemen memperkirakan proyek tersebut akan selesai pada bulan Desember 2014.

Persediaan tidak diasuransikan karena manajemen berkeyakinan bahwa belum diperlukan asuransi atas persediaan.

Tanah Dalam Proses Pengembangan

30 Juni 2014 31 Desember 2013

Saldo awal 1.232.250.000 12.115.160.967

Penjualan tanah (Catatan 18) (1.232.250.000) (2.163.068.718)

Reklasifikasi ke bangunan

dalam penyelesaian - (8.719.842.249)

Saldo akhir - 1.232.250.000

Hak legal atas tanah berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama entitas dalam Grup berjangka waktu 30 tahun yang akan jatuh tempo pada tahun 2040-2042. Manajemen berpendapat tidak terdapat masalah dalam perpanjangan dan proses sertifikat hak atas tanah karena seluruh tanah diperoleh secara sah dan didukung dengan bukti pemilikan yang memadai.

Berdasarkan penelaahan terhadap persediaan real estat pada akhir periode, manajemen berkeyakinan bahwa tidak perlu dilakukan penurunan nilai persediaan real estat.

(29)

8. PERSEDIAAN REAL ESTAT - TANAH UNTUK DIKEMBANGKAN

Lokasi Peruntukan 30 Juni 2014 31 Desember 2013

Bogor Perumahan 477.865.951.685 471.463.479.067 Purwakarta Pergudangan 246.905.000.000 246.905.000.000 Sukoharjo Pertokoan 85.112.987.271 80.887.879.408 Jakarta Apartemen 42.420.108.422 38.949.539.998 Serpong Apartemen 20.030.634.315 15.098.537.782 Tangerang Pertokoan 11.646.230.143 11.646.230.143 Jumlah 883.980.911.836 864.950.666.398

Rincian luas tanah untuk dikembangkan menurut status kepemilikan legal sebagai berikut:

HGB SHM Lainnya Jumlah HGB SHM Lainnya Jumlah

m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 Bogor 587.726 65.990 217.823 871.539 587.726 65.990 217.823 871.539 Purwakarta 676.339 - 676.339 676.339 - 676.339 Serpong 4.534 - 6.113 10.647 - 4.534 5.748 10.282 Sukoharjo 8.531 - - 8.531 8.531 - - 8.531 Jakarta 4.051 - - 4.051 4.051 - - 4.051 Tangerang 15.330 - - 15.330 15.330 - - 15.330 Jumlah 1.296.511 65.990 223.936 1.586.437 1.291.977 70.524 223.571 1.586.072 30 Juni 2014 31 Desember 2013

Beban keuangan yang dikapitalisasi ke tanah untuk dikembangkan sebesar Rp 12.927.484.686 dan Rp 18.916.127.146 masing-masing pada tanggal-tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013. 71,55% dan 70,79% dari tanah untuk dikembangkan dijadikan sebagai jaminan utang bank, masing-masing pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013 (Catatan 10).

9. ASET TETAP

1 Januari 2014 Penambahan Pengurangan Reklasifikasi 30 Juni 2014 Kepemilikan Langsung Biaya Perolehan Kendaraan 4.100.275.200 - 180.000.000 - 3.920.275.200 Peralatan kantor 281.061.392 29.424.625 - - 310.486.017 Jumlah 4.381.336.592 29.424.625 180.000.000 - 4.230.761.217 Kepemilikan Langsung Akumulasi Penyusutan Kendaraan 473.106.050 278.423.863 9.375.000 - 742.154.913 Peralatan kantor 70.604.258 18.488.017 - - 89.092.275 Jumlah 543.710.308 296.911.880 9.375.000 - 831.247.188 Jumlah Tercatat 3.837.626.284 3.399.514.029

Referensi

Dokumen terkait

Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang

Jika terdapat bukti objektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo,

Jika terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh

Jika terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh

Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang

Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang

Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang

Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang