• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan - Bagus Parmanto BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan - Bagus Parmanto BAB II"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendidikan

Pendidikan menurut Notoatmodjo (2003) secara umum adalah segala upaya yang direncanakan unutk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Dari batasan di atas tersirat unsur-unsur pendidikan yakni input (sasaran pendidikan individu, kelompok, masyarakat dan pendidik pelaku pendidikan), proses adalah upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain dan output adalah melakukan apa yang diharapkan (Corwin, 2000).

(2)

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang 20/2003:1).

Filsafat pendidikan mengkaji tentang pendidikan dengan membedakan dua istilah yang berbeda tetapi hampir sama bentuknya, Paedagogie dan Paedagogiek. Paedagogie berarti “pendidikan”dan Paedagogiek artinya “ilmu pendidikan”. Perkataan Paedagogos yang pada mulanya berarti pelayan kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena pengertian paedagoog dari paedagogos) berarti seorang yang tugasnya, membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke arah berdiri sendiri dan bertanggung jawab (Poerbakawatja, 2004). Teori-teori pendidikan Nurani Soyomukti (2010), mengatakan bahwa aspek-aspek yang biasanya paling dipertimbangkan dalam pendidikan antara lain: penyadaran, pencerahan, pemberdayaan, perubahan perilaku. Pendidikan dalam arti yang luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamnnya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah (Poerbakawatja, 2004).

B. Peran Perawat Terhadap Bencana

(3)

praktek keperawatan saja, Lebih dari itu, kemampuan tanggap bencana juga sangat di butuhkan saaat keadaan darurat. Hal ini diharapkan menjadi bekal bagi perawat untuk bisa terjun memberikan pertolongan dalam situasi bencana. Kegiatan penanganan siaga bencana memang berbeda dibandingkan pertolongan medis dalam keadaan normal lainnya. Menurut Mursalin (2011), ada beberapa tindakan penting yang bisa dilakukan oleh perawat dalam situasi tanggap bencana:

1) Pengobatan dan pemulihan kesehatan fisik

Bencana alam yang menimpa suatu daerah, selalu akan memakan korban dan kerusakan, baik itu korban meninggal, korban luka luka, kerusakan fasilitas pribadi dan umum, yang mungkin akan menyebabkan isolasi tempat, sehingga sulit dijangkau oleh para relawan. Hal yang paling urgen dibutuhkan oleh korban saat itu adalah pengobatan dari tenaga kesehatan. Perawat bisa turut andil dalam aksi ini, baik berkolaborasi dengan tenaga perawat atau pun tenaga kesehatan profesional, ataupun juga melakukan pengobatan bersama perawat lainnya secara cepat, menyeluruh dan merata di tempat bencana. Pengobatan yang dilakukan pun bisa beragam, mulai dari pemeriksaan fisik, pengobatan luka, dan lainnya sesuai dengan profesi keperawatan.

2) Pemberian bantuan

(4)

bentuk, seperti makanan, obat obatan, keperluan sandang dan lain sebagainya. Pemberian bantuan tersebut bisa dilakukan langsung oleh perawat secara langsung di lokasi bencana dengan memdirikan posko bantuan. Selain itu, Hal yang harus difokuskan dalam kegiatan ini adalah pemerataan bantuan di tempat bencana sesuai kebutuhan yang di butuhkan oleh para korban saat itu, sehinnga tidak akan ada lagi para korban yang tidak mendapatkan bantuan tersebut dikarenakan bantuan yang menumpuk ataupun tidak tepat sasaran.

3) Pemulihan kesehatan mental

(5)

yang berada pada masa bermain. Perawat dapat mendirikan sebuah taman bermain, dimana anak anak tersebut akan mendapatkan permainan, cerita lucu, dan lain sebagainnya. Sehinnga kepercayaan diri mereka akan kembali seperti sedia kala.

4) Pemberdayaan masyarakat

Kondisi masyarakat di sekitar daerah yang terkena musibah pasca bencana biasanya akan menjadi terkatung katung tidak jelas akibat memburuknya keaadaan pasca bencana., akibat kehilangan harta benda yang mereka miliki. sehinnga banyak diantara mereka yang patah arah dalam menentukan hidup selanjutnya. Hal yang bisa menolong membangkitkan keadaan tersebut adalah melakukan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat perlu mendapatkan fasilitas dan skill yang dapat menjadi bekal bagi mereka kelak. Perawat dapat melakukan pelatihan pelatihan keterampilan yang difasilitasi dan berkolaborasi dengan instansi ataupun LSM yang bergerak dalam bidang itu. Sehingga diharapkan masyarakat di sekitar daerah bencana akan mampu membangun kehidupannya kedepan lewat kemampuan yang ia miliki.

(6)

memahami managemen siaga bencana. Adapun peran perawat dalam managemen siaga bencana adalah sebagai berikut:

1). Peran perawat dalam fase pre-impect

a. Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan dalam penanggulangan ancaman bencana.

b. Perawat ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintahan, organisasi lingkungan, palang merah nasional, maupun lembaga-lembaga pemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan menghadapi ancaman bencana.

c. Perawat terlibat dalam program promosi kesehatan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam mengahdapi bencana. 2). Peran perawat dalam fase impact

a. Bertindak cepat

b. Don’t promise. Perawat seharusnya tidak menjanjikan apapun dengan pasti dengan maksud memberikan harapan yang besar pada korban yang selamat.

c. Berkonsentrasi penuh pada apa yang dilakukan d. Kordinasi dan menciptakan kepemimpinan

e. Untuk jangka panjang, bersama-sama pihak yang tarkait dapat mendiskusikan dan merancang master plan of revitalizing, biasanya untuk jangka waktu 30 bulan pertama.

(7)

a. Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, fisikologi korban

b. Stress fisikologi yang terjadi dapat terus berkembang hingga terjadi post traumatic stress disorder (PTSD) yang merupakan sindrom dengan 3 kriteria utama. Pertama, gejala trauma pasti dapat dikenali. Kedua, individu tersebut mengalami gejala ulang traumanya melalui flashback, mimpi, ataupun peristiwa-peristiwa yang memacuhnya. Ketiga, individu akan menunjukan gangguan fisik. Selain itu, individu dengan PTSD dapat mengalami penurunan konsentrasi, perasaan bersalah dan gangguan memori. c. Tim kesehatan bersama masyarakat dan profesi lain yang terkait

bekerja sama dengan unsure lintas sektor menangani maslah keehatan masyarakat paska gawat darurat serta mempercepat fase pemulihan (recovery) menuju keadaan sehat dan aman.

C. Mitigasi Bencana

Menurut Soemantri (2010), tanah longsor disebabkan oleh tiga faktor yaitu:

1). Faktor Dakhil, penyebab tanah longsor lahan meliputi kedalaman pelapukan batuan, struktur geologi, tekstur tanah dan permeabilitas tanah.

(8)

3). Factor pemicu terjadinya tanah longsor antara laian tebal curah hujan dan gempa bumi.

Adapun gejala-gejala tanah longsor yang disebabkan oleh faktor-faktor tersebut di atas dapat di lihat sebagai berikut:

1) Curah hujan tinggi 2) Hujan berlangsung lama.

3) Munculnya retakan-retakan pada tanah di lereng atas sepertipada tiang listrik, pohon menjadi miring.

4) Lereng-lereng pegunungan yang telah lapuk.

5) Bahan lapuk tersebut termasuk tanah berwarna merah.

6) Ada perubahan bobot massa baik karena pergantian musim atau karena lahan miring tersebut dijadikan persawahan.

7) Adanya perbedaan kelunakan permukaan lahan dan dasar lahan. 8) Adanya gravitasi bumi yang tergantung pada besarnya lereng adalah

kritis jika lereng lebih dari 100%.

9) Perubahan hambat geser, misalnya tanah kering hambat gesernya lebih besar dibandingkan tanag basah.

Sedangkan tindakan-tindakan manusia yang menyebabkan tanah longsor adalah sebagai berikut:

1) Menebang pohon dilereng pegunungan.

2) Membuat sawah dan kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman.

(9)

4) Melakukan penggalian dibawah tebing terjal.

Soemantri (2010) juga menjelaskan bahwa mitigasi bencana meliputi sebelum, saat terjadi, dan sesudah terjadi tanah longsor, yaitu melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1) Sebelum bencana antara lain peringatan dini (early warning system) secara optimal dan terus menerus pada masyarakat, dengan;

a. Mendatangi daerah rawan longsor berdasarkan peta kerentanannya

b. Memberikan tanda khusus pada daerah rawan longsor. c. Memanfaatkan peta-peta kajian tanah longsor secepatnya. d. Pemukiman sebaiknya menjauhi tebing.

e. Tidak melakukan pemotongan lereng

f. Melakukan reboisasi pada hutan yang pada saat ini dalam keadaan gundul, menanam pohon penyangga, melakukan penghijauan pada lahan-lahan terbuka.

g. Membuat terasering atau sengkedan pada lahan yang memiliki kemiringan yang relatif curam.

h. Membatasi lahan pertanian.

i. Membuat saluran pembuangan air menurut kontur tanah. j. Menggunakan teknik penanaman dengan system kontur tanah. k. Waspada gejala tanah longsor (retakan, penurunan tanah),

(10)

2) Saat bencana antara lain bagaimana masyarakat menyelamatkan diri dan ke arah mana, ini harus diketahui masyarakat.

3) Sesudah bencana antara lain pemulihan (recovery) dengan melibatkan masyarakat sebagai berikut:

a. Penyelamatan korban secepatnya ke daerah yang lebih aman. b. Menyelamatkan harta benda yang mungkin masih bisa

diselamatkan.

c. Menyiapkan tempat-tempat penampungan sementara bagi pengungsi dengan tenda-tenda darurat.

d. Menyediakan dapur-dapur umum, air bersih, dan sarana kesehatan.

e. Mengkoordinasikan dengan aparat setempat.

Pendapat Lili Soemantri (2010) di atas memberikan gambaran betapa pentingnya mitigasi bencana dalam penanggulangan bencana. Hal senada juga tercantum dalam Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 yang memuat komponen-komponen sebagai berikut:

1) Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.

(11)

3) Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.

4) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

5) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

6) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.

(12)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006, mistigasi bencana didefinisikan sebagai : “Upaya yang ditujukan untuk mengurangi dampak dari bencana baik bencana alam, bencana ulah manusia maupun gabungan dari keduanya dalam suatu negara atau masyarakat. Mitigasi bencana yang merupakan bagian dari manajemen penanganan bencana, menjadi salah satu tugas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian rasa aman dan perlindungan dari ancaman bencana yang mungkin dapat terjadi. Ada empat hal penting dalam mitigasi bencana, yaitu : 1) tersedia informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana; 2) sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana, karena bermukim di daerah rawan bencana; 3) mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara penyelamatan diri jika bencana timbul, dan 4) pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana.

Adapun kebijakan dan strategi mitigasi bencana menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006, adalah sebagai berikut: • Kebijakan

Berbagai kebijakan yang perlu ditempuh dalam mitigasi bencana antara lain :

(13)

pedoman umum, petunjuk pelaksanaan dan prosedur tetap yang dikeluarkan oleh instansi yang bersangkutan sesuai dengan bidang tugas unit masing-masing.

b. Pelaksanaan mitigasi bencana dilaksanakan secaraterpadu terkoordinir yang melibatkan seluruh potensi pemerintah dan masyarakat.

c. Upaya preventif harus diutamakan agar kerusakan dan korban jiwa dapat diminimalkan.

d. Penggalangan kekuatan melalui kerjasama dengan semua pihak, melalui pemberdayaan masyarakat serta kampanye.

• Strategi

Untuk melaksanakan kebijakan dikembangkan beberapa strategi sebagai berikut:

a. Pemetaan

Langkah pertama dalam strategi mitigasi ialah melakukan pemetaan daerah rawan bencana. Pada saat ini berbagai sektor telah mengembangkan peta rawan bencana. Peta rawan bencana tersebut sangat berguna bagi pengambil keputusan terutama dalam antisipasi kejadian bencana alam. Meskipun demikian sampai saat ini penggunaan peta ini belum dioptimalkan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah :

(14)

(3) Peta bencana belum terintegrasi

(4) Peta bencana yang dibuat memakai peta dasar yang berbeda beda sehingga menyulitkan dalam proses integrasinya.

b. Pemantauan

Dengan mengetahui tingkat kerawanan secara dini, maka dapat dilakukan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana, sehingga akan dengan mudah melakukan penyelamatan. Pemantauan di daerah vital dan strategis secara jasa dan ekonomi dilakukan di beberapa kawasan rawan bencana.

c. Penyebaran informasi

Penyebaran informasi dilakukan antara lain dengan cara: memberikan poster dan leaflet kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Propinsi seluruh Indonesia yang rawan bencana, tentang tata cara mengenali, mencegah dan penanganan bencana. Memberikan informasi ke media cetak dan etektronik tentang kebencanaan adalah salah satu cara penyebaran informasi dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana geologi di suatu kawasan tertentu. Koordinasi pemerintah daerah dalam hal penyebaran informasi diperlukan mengingat Indonesia sangat luas. d. Sosialisasi dan Penyuluhan

(15)

jika sewaktu-waktu terjadi. Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan Pemerintah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan alam di daerah bencana, apa yang perlu ditakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana, dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana

e. Pelatihan/Pendidikan

Pelatihan difokuskan kepada tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi bencana. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi dari petugas lapangan, pejabat teknis, Satkorlak PB, Satlak PB dan masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana. Dengan pelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk. f. Peringatan Dini

(16)

seterusnya), pengungsian dan atau relokasi, dan saran penanganan lainnya.

Menurut Sutikno (2003), Mitigasi bencana adalah suatu tindakan sebelum bencana terjadi untuk mengurangi seminimal mungkin kerugian

harta benda atau korban jiwa, sehingga dapat diupayakan agar efek fisik,

sosial, dan ekonomi dari bencana alam dapat terkelola dengan baik,

sehingga masih memberikan kontribusi terhadap pembangunan jangka

panjang. Sedangkan menurut Mustow (1996, dalam Sutikno, 2003)

menyatakan bahwa mitigasi merupakan bagian dalam siklus penanganan

bencana. Aktifitas dalam penanganan bencana meliputi: mitigasi,

persiapan, pertolongan/ bantuan dan respon, rehabilitasi, dan rekontruksi.

Walaupun dalam kenyataannya pemberian bantuan pasca bencana selama

ini merupakan kegiatan yang lebih penting, namun sudah saatnya untuk

disosialisasikan kepada publik bahwa mitigasi lebih baik daripada

pengobatan. Pengalokasikan waktu dan sumberdaya untuk meminimalkan

efek bencana alam akan lebih baik daripada menghadapi kenyataan akibat

bencana.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Mitigasi Bencana

adalah upaya untuk mengurangi dampak dari bencana melalui

langkah-langkah pencegahan yang dilakukan dengan menganalisa lingkungan

(17)

D. Pengetahuan Masyarakat

(18)

suatu objek maka akan semakin baik pula sikap seseorang terhadap objek tersebut.

Menurut Budiman (2013), faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu :

a. Sosial ekonomi, lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan karena social ekonomi berhungan dengan pencapaian tingkat pendidikan.

b. Kultur (budaya, agama), karena informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut.

c. Pendidikan, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuannya.

d. Pengalaman, pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan.

(19)

E. Kerangka Teori

Gambar 2.1. Kerangka Teori Berdasarkan Managemen Bencana Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006

F. Kerangka Konsep

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

Pemulihan (recovery)

Manajemen

Penangan Bencana Mitigasi

Bencana

Kewaspadaan (alertness)

Pengetahuan Masyarakat

Tanggapan (respons)

Pendidikan Mitigasi Bencana

Pre test

Pengetahuan Masyarakat

Intervensi

Pendidikan Mitigasi Bencana

Post Test

(20)

G. Hipotesis Penelitian

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Teori  Berdasarkan Managemen Bencana Berdasarkan Peraturan Menteri

Referensi

Dokumen terkait

Bencana longsor adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau.. serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh proses perpindahan

Kecemasan berfungsi sebagai tanda adanya bahaya yang akan terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus dihindari atau dilawan. Dalam hal ini ego harus

(1) Pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf d dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana dengan cara mengurangi ancaman

Upaya-upaya preventif ini adalah merupakan tindak lanjut dari upaya pre-emtif yang masih dalam tahap pencegahan sebelum terjadinya.. Upaya preventif yang ditekankan adalah

Bagian infrastruktur (sistem drainase) dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu

Penjelasan mengenai definisi manajemen bencana sebagai segala upaya atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat

Cognitif Behavioral Therapy adalah bentuk terapi psikologis yang mengarah pada fokus mengubah proses kognitif dan perilaku untuk mengurangi atau menghilangkan

Menurut Sutedi (2009:170), Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat bagi pekerja/buruh maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan