• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING SKRIPSI"

Copied!
181
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE

TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING

DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING

SKRIPSI

ZIDNI AULIYA 0806454531 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM SARJANA DEPOK JUNI 2012

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE

TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING

DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING

SKRIPSI

ZIDNI AULIYA 0806454531 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM SARJANA DEPOK JUNI 2012

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE

TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING

DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING

SKRIPSI

ZIDNI AULIYA 0806454531 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM SARJANA DEPOK JUNI 2012

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE

TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING

DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

ZIDNI AULIYA 0806454531

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE

TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING

DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

ZIDNI AULIYA 0806454531

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH MATERIAL RESOURCES AND CYCLE

TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI GREEN BUILDING

DIBANDINGKAN DENGAN CONVENTIONAL BUILDING

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

ZIDNI AULIYA 0806454531

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK JUNI 2012

(3)

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Zidni Auliya

NPM : 0806454531

Tanda Tangan :

(4)

Skripsi ini diajukan oleh :

Nama : Zidni Auliya

NPM : 0806454531

Program Studi : Teknik Sipil

Judul Skripsi : Pengaruh Aspek Material Resources and Cycle

Terhadap Biaya Konstruksi Green Building

Dibandingkan Dengan Conventional Building

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ir. Yusuf Latief, M.T. ( )

Pembimbing 2 : Suratman, S.T., M.T. ( )

Penguji : Ir. Wisnu Isvara, M.T. ( )

Penguji : Rosmariani, S.T.,M.T. ( )

(5)

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan seminar ini. Penulisan seminar ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan seminar ini, sangatlah sulit untuk menyelesaikan seminar ini. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada:

(1) Prof. Dr. Ir. Yusuf Latief, MT. selaku dosen pembimbing I yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini;

(2) Suratman, ST. MT selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan

waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu dan mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini;

(3) Pak Wildan dan pegawai proyek Pembangunan Gedung Kantor Jasa

Marga lainnya yang telah memberikan informasi terkait penerapan green building di proyek tersebut;

(4) Ummi Hj Nismawarti dan Cici Evon Siti Fatimah sebagai orang tua yang

telah memberikan seluruh perhatian, dukungan, dan bantuan moral serta material yang tak ternilai harganya;

(5) Keluarga besar Tante Mia dan Om Ihsan yang telah mendukung secara materil selama masa pendidikan saya;

(6) Seluruh sahabat dan teman-teman satu angkatan Teknik Sipil dan

Lingkungan 2008, khususnya Nanda, Dimas, Tadho, Eqhi, Gabby, Piti, Nico, Anggit, Ganjar, serta semua yang selalu berada di Gazeb dan Bale-bale yang telah memberikan dukungan semangat dan doa untuk kelancaran penyusunan skripsi ini;

(7) Sahabat “Green Builders” yang terdiri dari Amila, Nanda, Oghie, Bundo,

(6)

(8) Keluarga besar Manajemen Konstruksi 2008 yang telah memberikan dukungannya dalam proses pengerjaan skripsi ini;

(9) Mbak Dian dan semua staff Departemen Teknik Sipil yang telah

mengurusi surat-surat yang berhubungan dengan proses penelitian skripsi ini.

Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Depok, 20 Juni 2012

(7)

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Zidni Auliya

NPM : 0806454531

Program Studi : Teknik Sipil

Departemen : Teknik Sipil

Fakultas : Teknik

Jenis karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Pengaruh Aspek Material Resources and Cycle Terhadap Biaya Konstruksi

Green Building Dibandingkan Dengan Conventional Building

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti

Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,

mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok

Pada tanggal : 20 Juni 2012

Yang menyatakan,

(8)

Nama : Zidni Auliya Program Studi : Teknik Sipil

Judul : Pengaruh Material Resources and Cycle Terhadap Biaya

Konstruksi Green Building Dibandingkan dengan Conventional Building

Seiring dengan kebutuhan dan maraknya pembangunan berkonsep green building, muncul sertifikasi green building di Indonesia. Salah satu aspek yang harus dipenuhi adalah material resources and cycle (MRC) yang memiliki 14 poin maksimum dan terdiri dari tujuh subaspek penilaian. Dalam kaitannya dengan biaya konstruksi, subaspek yang mempengaruhi biaya konstruksi pembangunan green building adalah certified wood, environmentally process product, building material reuse, modular design, dan regional material. Pada pengaplikasiannya di lapangan, aspek MRC tidak membutuhkan biaya tambahan bergantung dengan ketersediaan produk material yang mendukung dan desain awal proyek.

Kata Kunci: biaya konstruksi, green building, material resources and cycle

ABSTRACT

Name : Zidni Auliya

Study Program : Civil Engineering

Title : The Effect of Material Resources and Cycle Aspect for Green

Building Construction Cost Compared to Conventional Building

In the name of needs and trends of green building construction concept, the green certification has been made for Indonesia with one of its aspect is material resources and cycle (MRC) which has 14 points maximum score and divided into 7 scoring subaspects. Related to construction cost, 5 subaspects which have influence for making some differences are certified wood, environmentally process product, building material reuse, modular design, and regional material. Although in the case, MRC aspect does not make any additional cost depends on the products availability and its prelimanary design.

(9)

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

UCAPAN TERIMA KASIH... iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR ... .x DAFTAR LAMPIRAN... xi 1. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah... 4 1.2.1 Deskripsi Masalah... 4 1.2.2 Signifikansi Masalah... 5 1.2.3 Rumusan Masalah... 5 1.3 Tujuan Penelitian... 5 1.4 Batasan Masalah... 6 1.5 Manfaat Penelitian... 6

1.6 Model Operasional Penelitian ... 6

1.7 Keaslian Penelitian ... 7

2. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Pendahuluan ... 9

2.2 Konsep Green Building Dan Sistem Rating GREENSHIP ... 9

2.2.1 Konsep Green Building ... 9

2.2.2 Sistem Rating Greenship ... 11

2.3 Aspek Material Resources And Cycle... 15

2.3.1 Fundamental Refrigerant (Aplikasi Refrigerant Fundamental) ... 15

2.3.2 Building and Material Reuse (Penggunaan Kembali Gedung dan Material Bekas)... 18

2.3.3 Environmentally Process Product (Produk yang diproduksi ramah lingkungan) ... 20

2.3.4 Non-ODS Usage (Penggunaan material Non-ODS) ... 22

2.3.5 Certified Wood (Kayu Bersertifikasi) ... 22

2.3.6 Modular Design (Prafabrikasi) ... 24

2.3.7 Regional Material (Penggunaan Material Setempat) ... 26

2.3.8 Jenis-jenis Material ... 30

2.4 Pengaruh Biaya Dalam Proyek Green Building... 30

2.4.1 Manajemen Biaya ... 30

2.4.2 Hal yang Membedakan Biaya Dalam Proyek Green Building ... 34

2.5 Kerangka Berpikir Dan Hipotesa ... 37

2.5.1 Kerangka Berpikir... 37

(10)

3.2 Pemilihan Strategi Penelitian ... 40 3.3 Proses Penelitian ... 41 3.3.1 Variabel Penelitian... 42 3.3.2 Instrumen Penelitian ... 45 3.3.3 Pengumpulan Data ... 54 3.3.4 Analisa Data... 55 3.4 Kesimpulan... 58 4. PENGOLAHAN DATA... 59 4.1 Pendahuluan ... 59 4.2 Pengumpulan Data ... 59

4.2.1 Pengumpulan Data Tahap Pertama... 59

4.2.2 Pengumpulan Data Tahap Kedua ... 61

4.2.3 Pengumpulan Data Tahap Ketiga ... 62

4.3 Analisa Data ... 64

4.3.1 Analisa Data Kuisioner ... 64

4.3.2 Analisis Deskriptif ... 70

4.3.3 Analisa Peringkat Dengan Metode AHP ... 72

4.3.4 Validasi Pakar ... 75

4.3.5 Analisa Data Studi Kasus ... 76

4.4 Kesimpulan... 82

5. TEMUAN DAN PEMBAHASAN... 83

5.1 Pendahuluan ... 83

5.2 Temuan... 83

5.2.1 Temuan 1 (Hasil Kuisioner) ... 83

5.2.2 Temuan 2 (Hasil Studi Kasus) ... 84

5.3 Pembahasan ... 85

5.4 Pembuktian Hipotesa... 88

6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 89

6.1 Kesimpulan... 89

6.2 Saran... 89

DAFTAR ACUAN... 93

(11)

Tabel 2.1 Tabel Peringkat Sistem Rating GREENSHIP ... 12

Tabel 2.2 Tipe-tipe Refrigeran ... 16

Tabel 2.3 Project Checklist LEED 2009 for New Construction and Major Renovation... 19

Tabel 2.4 Steps To Impelementation Of ISO 14001 Standarization ... 21

Tabel 2.5 Potensi Limbah antara Metode Konvensional dan Prefabrikasi ... 25

Tabel 2.6 Jenis Material ... 30

Tabel 2.7 Data Kenaikan Biaya Pembangunan DAHANA... 36

Tabel 3.1 Tabel Strategi Penelitian ... 40

Tabel 3.2 Variabel Penelitian ... 43

Tabel 3.3 Kuisoner Tahap 1 ... 47

Tabel 4.1 Profil Pakar... 60

Tabel 4.2 Variabel setelah divalidasi pakar... 60

Tabel 4.3 Data Responden Pilot Survey ... 62

Tabel 4.4 Data Responden... 63

Tabel 4.5 Test Statistics... 65

Tabel 4.6 Kelompok Jabatan Responden ... 66

Tabel 4.7 Test Statistics Jabatan... 67

Tabel 4.8 Test Statistic Pengalaman Kerja ... 68

Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas... 69

Tabel 4.10 Case Processing Summary ... 70

Tabel 4.11 Realibility Statistics... 70

Tabel 4.12 Tabel Realibilitas... 70

Tabel 4.13 Statistik Deskriptif... 71

Tabel 4.14 Matriks Berpasangan... 72

Tabel 4.15 Perhitungan Bobot Elemen... 73

Tabel 4.16 Bobot Elemen ... 73

Tabel 4.17 Perhitungan Nilai Analytical Hierarchy Process ... 74

Tabel 4.18 Proxy Variabel... 74

Tabel 4.19 Target Pencapaian Rating... 78

Tabel 4.20 Biaya Material Proyek... 80

Tabel 5.1 Peringkat Proxy Variabel ... 83

Tabel 5.2 Aplikasi Variabel Pada Studi Kasus... 87

Tabel 5.3 Persentase Peningkatan Biaya Konstruksi Green Building... 88

(12)

Gambar 1.1 Model Operasional Penelitian... 7

Gambar 2.1 The Mechanism Of The Ozone Layer Depleted By Ozone Depleting Substances... 17

Gambar 2.2 Project Cost Management Overview ... 31

Gambar 2.3 Estimate Costs: Input, Tools & Technique, And Output... 32

Gambar 2.4 Determine Budget: Inputs, Tools & Techniques, And Outputs... 34

Gambar 2.5 Bagan Kerangka Berfikir ... 38

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian ... 42

Gambar 4.1 Grafik Penyebaran Responden Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Terakhir...64

Gambar 4.2 Grafik Penyebaran Responden Berdasarkan Jabatan... 66

Gambar 4.3 Grafik Penyebaran Data Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja ... 68

Gambar 4.4 Grafik Mean Indikator Variabel ... 72

Gambar 4.5 Work Breakdown Structure... 77

Gambar 4.6 Desain Awal Konvesional Dan Desain Green Building ... 78

(13)

Lampiran 1. Kuisioner Tahap 1

Lampiran 2. Kuisioner Tahap 2

Lampiran 3. Hasil Validasi Pakar

Lampiran 4. Profil Responden

Lampiran 5. Tabulasi Hasil pengumpulan Data Kuisioner Tahap 2

Lampiran 6. Tabel Output Uji Validitas dengan Pearson Correlation Lampiran 7. Perhitungan Biaya Material Bersertifikat ISO 14001 Lampiran 8. Perhitungan Biaya Material Regional Material

Lampiran 9. Contoh Sertifikat Produk ISO 14001

Lampiran 10. Contoh Spesifikasi AC Split Inverter dengan R410a Lampiran 11. Risalah Perbaikan Skripsi

(14)

1.1 Latar Belakang

Belakangan ini tanpa disadari makin banyak bencana alam dan fenomena-fenomena alam yang cenderung tidak terkendali. Mulai dari banjir, puting beliung, hingga curah hujan yang tidak menentu dari tahun ke tahun. Selain itu makin panasnya cuaca yang dirasakan dari tahun ke tahun. Tanda-tanda alam tersebut diyakini menunjukkan bahwa bumi mengalami proses kerusakan. Hal ini terkait langsung dengan isu global yang belakangan marak diperbincangkan oleh masyarakat dunia, yaitu pemanasan global atau global warming.

Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan, nitrogen oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin udara (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya menyimpan CO2 juga memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer (Apa Itu Pemanasan Global) [1].

Luas hutan alam Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data World Resources Institute tahun 1997 yang Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen (Institut Studi Arus Informasi (ISAI), 2004) [2]. Pada tahun 2007, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) melaporkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer telah mencapai

379 ppm, melebihi variasi alaminya antara 280 – 300 ppm yang telah bertahan selama kurun waktu 650.000 tahun terakhir. Kenaikan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) tersebut telah menyebabkan kenaikan temperatur permukaan bumi sebesar 0,76oC sejak masa sebelum revolusi industri. Sebelas diantara dua belas tahun terpanas sejak tahun 1850 terjadi pada kurun waktu antara 1995 – 2006 (Asdep Urusan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009) [3].

Selain peran CO2, gas-gas lain yang merupakan bahan perusak ozon (BPO) paling berbahaya adalah chlorofluorocarbon (CFC) dan halon. CFC

(15)

sedangkan halon digunakan pada produk alat pemadam kebakaran. Permasalahan selain merusak lapisan ozon, BPO yang terlepas ke atmosfir memberikan kontribusi terhadap pemanasan global dengan adanya emisi CO2. Semakin banyaknya peralatan yang menggunakan BPO semakin besar tantangan untuk mencegah terjadinya emisi yang merusak lapisan ozon dan menyebabkan pemanasan global (Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2011) [4].

Dikaitkan dengan perkembangan industri konstruksi dan meningkatnya pembangunan gedung dan infrastruktur di Indonesia, eksploitasi sumber daya alam sebagai sumber material dan penggunaan material yang tidak ramah lingkungan oleh para pelaku industri konstruksi juga mengambil peran dalam meningkatnya pemanasan global.

Limbah material konstruksi dianggap sebagai salah satu faktor utama yang memiliki dampak terhadap lingkungan. Limbah konstruksi yang dimaksud adalah produk yang dihasilkan dan dihilangkan pada kegiatan konstruksi, renovasi, dan pembongkaran lahan kerja pada suatu bangunan atau struktur. Menurut Craven EJ, Okraglik HM, dan Eilenberg IM (1994), kegiatan konstruksi menyumbang 20

– 30% dari seluruh limbah yang tersimpan pada tempat pembuangan sampah di

Australia. Menurut Rogoff MJ dan William JF (1994) 29% limbah padat di Amerika Serikat adalah limbah konstruksi. Menurut Ferguson J, dkk. (1995) lebih dari 50% limbah yang tersimpan di tempat pembuangan sampah di Inggris merupakan limbah konstruksi. (Tam, Tam, Zeng, & Ng, 2007).[5]

Menurut Green Building Council Indonesia, kebijakan pembangunan yang ada selama ini mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan keseimbangan ekosistem. Kebijakan yang ditetapkan biasanya bersifat eksploitatif dan mendorong pemanfaatan yang kurang bertanggung jawab karena pelaku bisnis tidak dituntut untuk melakukan pengelolaan sumber daya menurut kaidah kelestarian usaha dalam jangka panjang (Green Building Council Indonesia, 2010) [6].

Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghambat pemanasan global, perubahan iklim, dan degradasi kualitas lingkungan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung mendorong pembangunan bangunan berarsitektur lokal yang terasa lebih ramah lingkungan dan selaras dengan

(16)

lingkungan asal. Desain bangunan yang hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material bahan, dikenal dengan konsep green. [7]

Konsep green mengacu kepada prinsip keberlanjutan dan menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan. Untuk membantu para pelaku industri konstruksi maupun pelaku pendukung lainnya dalam menerapkan praktik green building, terdapat sistem rating GREENSHIP yang disusun oleh GBCI. Dengan adanya sistem rating GREENSHIP, diharapkan tercapai standar terukur yang dapat dipahami oleh masyarakat umum, terutama pemilik dan pengguna bangunan sehingga dapat dicapai suatu bangunan hemat energi -atau lebih dikenal dengan

bangunan hijau (green building)- yang ramah lingkungan sejak tahap

perencanaan, pembangunan, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sehari-hari. Sistem rating GREENSHIP GBCI merupakan sistem penilaian yang merupakan bentuk dari salah satu upaya untuk menjembatani konsep ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan dengan praktik nyata. Dengan sistem penilaian ini, setiap bangunan yang mencanangkan diri sebagai green building akan dinilai dan disertifikasi berdasarkan kriteria-kriteria baku yang ada dalam sistem penilaian. Kriteria penilaiannya dikelompokkan menjadi enam kategori (Green Building Council Indonesia, 2010) [8], yaitu:

a. Appropriate Site Development b. Energy Efficiency and Conservation c. Water Conservation

d. Material resources and cycle e. Indoor air health and comfort

f. Building and environment management

Jika dikaitkan kembali antara penyebab pemanasan global dan konsep green sebagai upaya meredam pemanasan global, kategori penilaian material resources and cycle pada sistem rating GREENSHIP akan menjadi tolok ukur pemakaian material ditinjau dari sumber bahan baku material dan daur pemakaian material itu sendiri. Bahan baku material yang mengandung BPO akan diminimalisir penggunaannya dan secara tidak langsung mempengaruhi dampak pemanasan global.

(17)

1.2 Perumusan Masalah

1.2.1 Deskripsi Masalah

Berkembangnya kerusakan alam akibat pemanasan global mendesak kebutuhan akan konsep green pada pembangunan secara umum dan penggunaan material secara khusus di Indonesia.

Permintaan yang besar terhadap produk green building membuat persaingan yang semakin besar di industri konstruksi. Sertifikasi green building menjadi kebutuhan bagi para stakeholder untuk memenangkan persaingan yang ada. Untuk menjalankan proses sertifikasi dan mendapatkan sertifikat, diperlukan penilaian yang tolok ukurnya telah disusun oleh GBCI.

Material resources and cycle (MRC) sebagai salah satu dari enam kategori penilaian, memiliki satu prasyarat utama yang wajib dipenuhi dan enam butir penilaian lainnya. Masing-masing butir penilaian memiliki tolok ukur yang mempunyai persentase biaya minimum dibandingkan dengan total biaya material. Masing-masing tolok ukur memiliki poin penilaian sebagai bagian dari keseluruhan sistem rating GREENSHIP.

Prasyarat dan butir penilaian aspek material resources and cycle (MRC) yang dimaksud dalam sistem rating GREENSHIP (Green Building Council Indonesia, 2010) [9] adalah

a. Fundamental refrigerant, adalah prayarat MRC atau prasyarat-1 (P1), yaitu mencegah pemakaian bahan perusak ozon (BPO) yang mempunyai ozone depleting potential (ODP) sama atau lebih besar dari 1 (satu).

b. Building and material reuse, adalah butir penilaian 1 (MRC-1), yaitu menggunakan material bekas bangunan lama dan/atau dari tempat lain untuk mengurangi8 penggunaan bahan mentah yang baru.

c. Environmentally process product, adalah butir penilaian kedua (MRC-2), yaitu menggunakan bahan bangunan hasil fabrikasi yang menggunakan bahan baku dan proses produksi ramah lingkungan.

d. Non-ODS usage, adalah butir penilaian ketiga (MRC-3), yaitu menggunakan bahan yang tidak merusak ozon.

e. Certified wood, adalah butir penilaian keempat (MRC-4) yaitu menggunakan bahan baku kayu yang dapat dipertanggungjawabkan asal-usulnya.

(18)

f. Modular design, adalah butir penilaian kelima (MRC-5), yaitu peningkatan efisiensi penggunaan material dan mengurangi sampah konstruksi.

g. Regional material, adalah butir penilaian keenam (MRC-6), yaitu mengurangi jejak karbon dengan cara menggunakan material lokal.

1.2.2 Signifikansi Masalah

Menurut Poul E Kristensen (2010) terdapat penambahan investasi total biaya konstruksi untuk membangun sebuah gedung berkonsep green building sebesar 5% dari biaya pembangunan gedung biasa (Kementerian ESDM RI, 2010)[10].

Adanya anggapan setiap gedung harus menggelontorkan biaya lebih tinggi 15%-20% dari investasi (PT. HD Capital, Tbk, 2008) [11].

Berdasarkan data pembangunan berkonsep green building Gedung Dahana, didapatkan secara garis besar kenaikan total biaya sebesar 15,1% dibandingkan desain konstruksi secara konvensional dan secara khusus aspek material mempengaruhi 5,53% biaya konstruksi. Peningkatan biaya terjadi pada penggunaan material daur ulang dan kayu bersertifikat legal. [12]

1.2.3 Rumusan Masalah

Rumusan yang akan dikaji di dalam penelitian ini adalah

a. Faktor apa saja di dalam aspek material resources and cycle yang mempengaruhi biaya konstruksi pada pembangunan green building.

b. Seberapa besar pengaruh penerapan material resources and cycle terhadap peningkatan biaya proyek pada green building apabila dibandingkan dengan pembangunan konvensional.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah

a. Identifikasi faktor-faktor dalam aspek material resources and cycle yang mempengaruhi biaya proyek pada pembangunan green building.

b. Menganalisa pengaruh material resources and cycle terhadap perubahan dan peningkatan biaya proyek pada green building dibandinngkan dengan

(19)

1.4 Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi membahas aspek material resources and cycle dan pengaruh terhadap biaya konstruksi. Hal ini terkait penilaian tolok ukur sistem rating GREENSHIP yang telah disusun GBCI dan pengaruhnya terhadap perubahan biaya konstruksi. Dengan lingkup penelitian yang digunakan dalam proyek adalah studi kasus proyek pembangunan gedung perkantoran Jasa Marga yang didesain green building oleh kontraktor pelaksananya PT. PP (Persero), Tbk. untuk mendapatkan rating Gold.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat kepada pelaku industri konstruksi untuk dapat mengetahui seberapa besar pengaruh material resources and cycle (MRC) dalam green building dan memberikan gambaran penerapan konsep green building dalam pelaksanaan proyek. Untuk penulis diharapkan dapat menambah wawasan tentang penerapan green building dalam aspek MRC.

1.6 Model Operasional Penelitian

Model operasional penelitian dalam skripsi ini dapat dilihat pada gambar bagan berikut ini:

(20)

Gambar 1.1 Model Operasional Penelitian Sumber: Hasil Olahan

1.7 Keaslian Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang baru dan belum pernah dilakukan oleh siapapun. Terdapat beberapa penelitian yang memiliki kemiripan namun berbeda fokus penelitian, seperti

a. Pengelolaan Gedung Perkantoran dengan Konsep Green Building di Indonesia (Hardjono, 2009)[13]. Abstrak: “sektor properti dinyatakan sebagai salah satu penyumbang terjadinya Global Warming, khususnya gedung perkantoran. Konsep Green Building diajukan oleh sektor properti sebagai tanggapan atas terjadinya Global Warming. Konsep Green Building ini mengacu pada penggunaan sumber daya alam dan sumber energi secara minimalis, meminimalisasi limbah konstruksi dan ramah terhadap lingkungan. Dengan menggunakan analisa frekuensi dan analisa tabulasi silang (crosstab), maka dapat diketahui pertimbangan pengelola terhadap gedung perkantoran yang berkonsep Green Building dalam menghadapi Global Warming yang terdiri dari mengoptimalkan penggunaan lahan, efisiensi penggunaan air,penghematan energi dan mencegah kerusakan atmosfir, penggunaan bahan material yang

Gambar 1.1 Model Operasional Penelitian Sumber: Hasil Olahan

1.7 Keaslian Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang baru dan belum pernah dilakukan oleh siapapun. Terdapat beberapa penelitian yang memiliki kemiripan namun berbeda fokus penelitian, seperti

a. Pengelolaan Gedung Perkantoran dengan Konsep Green Building di Indonesia (Hardjono, 2009)[13]. Abstrak: “sektor properti dinyatakan sebagai salah satu penyumbang terjadinya Global Warming, khususnya gedung perkantoran. Konsep Green Building diajukan oleh sektor properti sebagai tanggapan atas terjadinya Global Warming. Konsep Green Building ini mengacu pada penggunaan sumber daya alam dan sumber energi secara minimalis, meminimalisasi limbah konstruksi dan ramah terhadap lingkungan. Dengan menggunakan analisa frekuensi dan analisa tabulasi silang (crosstab), maka dapat diketahui pertimbangan pengelola terhadap gedung perkantoran yang berkonsep Green Building dalam menghadapi Global Warming yang terdiri dari mengoptimalkan penggunaan lahan, efisiensi penggunaan air,penghematan energi dan mencegah kerusakan atmosfir, penggunaan bahan material yang

Gambar 1.1 Model Operasional Penelitian Sumber: Hasil Olahan

1.7 Keaslian Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang baru dan belum pernah dilakukan oleh siapapun. Terdapat beberapa penelitian yang memiliki kemiripan namun berbeda fokus penelitian, seperti

a. Pengelolaan Gedung Perkantoran dengan Konsep Green Building di Indonesia (Hardjono, 2009)[13]. Abstrak: “sektor properti dinyatakan sebagai salah satu penyumbang terjadinya Global Warming, khususnya gedung perkantoran. Konsep Green Building diajukan oleh sektor properti sebagai tanggapan atas terjadinya Global Warming. Konsep Green Building ini mengacu pada penggunaan sumber daya alam dan sumber energi secara minimalis, meminimalisasi limbah konstruksi dan ramah terhadap lingkungan. Dengan menggunakan analisa frekuensi dan analisa tabulasi silang (crosstab), maka dapat diketahui pertimbangan pengelola terhadap gedung perkantoran yang berkonsep Green Building dalam menghadapi Global Warming yang terdiri dari mengoptimalkan penggunaan lahan, efisiensi penggunaan air,penghematan energi dan mencegah kerusakan atmosfir, penggunaan bahan material yang

(21)

Hal yang membedakan penelitian tersebut dengan penelitian yang saat ini dilakukan adalah pengelolaan gedung perkantoran dengan konsep Green Building secara umum, dilihat dari semua aspek. Selain itu penelitian tersebut juga meneliti tentang pengelolaan gedung yang sudah dibangun lama. Sedangkan penelitian yang saya lakukan adalah penelitian mengenai pengaruh green building terhadap biaya konstruksi dikhususkan pada aspek material resources and cycle pada pembangunan gedung baru.

b. Bahan Bangunan yang Ramah Lingkungan (Siagian, 2010) [14]. Abstrak: “Pembangunan yang terus berjalan telah banyak menghabiskan sumber daya alam dan mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada alam. Dan tidak jarang juga pembangunan tersebut mempunyai pengaruh negatif secara sosial-ekonomi pada daerah itu sendiri. Dengan semakin berkembangnya budaya dan teknologi, kebutuhan manusia akan terus berkembang, sementara daya dukung alam tidak semakin baik. Menghadapi masalah ini diperlukan usaha-usaha untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan alam tetapi kebutuhan manusia juga tetap dipenuhi dengan baik. Salah satu cara terwujudnya tujuan di atas adalah dengan pemilihan material yang tepat bagi pembangunan yang terus berjalan ini. Selain dapat menghemat sumber daya alam yang dipakai, juga berakibat positif bagi pemakai bangunan. karena pemakai bangunan dan alam ditempatkan dalam posisi yang sama saat pengambilan keputusan.” Dari abstrak di atas dapat dilihat bahwa penelitian tersebut fokus pada pemilihan material bangunan yang ramah lingkungan dengan tidak membandingkan biaya yang dibutuhkan antara material ramah lingkungan dan tidak.

(22)

2.1 Pendahuluan

Pada bab ini akan dipaparkan dasar-dasar teori yang menjadi landasan dan pendukung penelitian, yaitu literatur yang menjelaskan konsep green building dan sistem rating GREENSHIP, aspek material resources and cycle pada sistem rating GREENSHIP, dan tahapan manajemen biaya proyek.

2.2 Konsep Green Building Dan Sistem Rating GREENSHIP

2.2.1 Konsep Green Building

Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, bangunan memiliki arti sesuatu yang didirikan atau sesuatu yang dibangun (seperti rumah, gedung, menara). Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di salam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempay menanusi melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha kegiatan sosial, budaya maupun khusus (Wartawarga Gunadarma, 2009).[15]

Definisi green building menurut Chen (2008) adalah sebuah bangunan yang dalam pemanfaatannya (baik sejak saat direncanakan, didesain, dibangun, digunakan, maupun direnovasi) menggunakan sumber daya alam dan sumber energi secara minimalis; meminimalisasi limbah; dan ramah lingkungan. Ramah lingkungan ditekankan pada pemilihan bahan yang tidak bersifat radiatif mudah didaur ulang, dan hasil pembuangan limbahnya seminimal mungkin, dapat di daur ulang oleh alam dalam waktu yang relatif singkat. Menurut Pitts (2004), green building merupakan konsep yang menjadi solusi bagi dunia properti untuk mengambil peran dalam mengurangi dampak pada global warming. Menurut Jimmy (2008), konsep green building tidak lepas kaitannya dengan efisiensi penggunnaan energi tetapi juga air, melestarikan sumber daya alam dan meningkatkan kualitas udara (Hardjono, 2009). [16]

(23)

1, bangunan ramah lingkungan (green building) adalah suatu bangunan yang

menerapkan prinsip lingkungan dalam perancangan, pembangunan,

pengoperasian, dan pengelolaannya dan aspek penting penanganan dampak perubahan iklim. Prinsip lingkungan yang dimaksud adalah prinsip yang mengedepankan dan memperhatikan unsur pelestarian fungsi lingkungan. [17]

Bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun 2010 Bab II Pasal 4 [18] apabila memenuhi kriteria:

a. Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi:

a) Material bangunan yang bersertifikat eco-label b) Material banguna lokal

b. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung antara lain:

a) Mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi

b) Menggunakan sumber daya air yang memperhatikan konservasi sumber daya air

c) Mempunyai sistem pemanfaatan air hujan

c. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain:

a) Menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah kaca

b) Menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat energi

d. Menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara lain:

a) Refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon

b) Melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan bahan perusak ozon

e. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestik pada bangunan gedung antara lain:

a) Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus

(24)

b) Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus

f. Terdapat fasilitas pemilihan sampah

g. Memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain: a) Melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih

b) Memaksimalkan penggunaan sinar matahari

h. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan tapak berkelanjutan antara lain:

a) Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir,

b) Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim,

c) Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan tata ruang,

d) Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan perencanaan i. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi bencana antara

lain

a) Mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai, longsor dan kenaikan muka air laut,

b) Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat.

Green building juga diartikan sebagai pendekatan holistik yang memperkecil dampak terhadap lingkungan, mengurangi perawatan, dan membuat ruang kerja yang lebih memiliki daya tarik bagi penghuni gedung tersebut (Kralj & Markic, 2008). [18]

2.2.2 Sistem Rating Greenship

Sistem rating GREENSHIP adalah alat bantu bagi pelaku industri bangunan, baik pengusaha, engineer, maupun pelaku lainnya dalam menerapkan best practice dan mencapai standar terukur yang dapat dipahami oleh masyarakat

(25)

adalah terjadinya suatu green building yang ramah lingkungan sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sehari-hari.

Terdapat empat peringkat GREENSHIP yang kemudian menjadi target pelaksanaan konstruksi yaitu

Tabel 2.1 Tabel Peringkat Sistem Rating GREENSHIP

PREDIKAT NILAI TERKECIL NILAI PRESENTASE (%) PLATINUM 74 73 EMAS 58 57 PERAK 47 46 PERUNGGU 35 35

Sumber: Green Building Council Indonesia, 2010 [19]

Peringkat dari GREENSHIP mencerminkan usaha pemilik gedung. Butir rating yang dimuat di dalamnya mengombinasikan berbagai tingkat kesulitan. Angka yang ditetapkan sebagai nilai minimal peringkat perunggu adalah jumlah nilai yang dapat dicapai apabila sebuah proyek memenuhi nilai maksimum dari rating yang pencapaiannya relatif mudah, tidak membutuhkan biaya tambahan, dan yang membutuhkan biaya tidak terlalu besar. Nilai minimal perak dapat dicapai bila sebuah proyek memenuhi semua rating yang pencapaiannya relatif mudah serta sepertiga dari rating yang pencapaiannya sulit dan butuh biaya relatif besar. Nilai minimal emas diperoleh bila sebuah proyek memenuhi semua rating yang pencapaiannya relatif mudah dan dua per tiga dari rating yang pencapaiannya sulit dan butuh biaya relatif besar. Peringkat platinum dapat

dicapai apabila sebuah proyek memenuhi rating yang pencapaiannya

membutuhkan biaya relatif lebih besar dan teknologinya belum tersedia sehingga dapat dikatakan sangat sulit pencapaiannya. Kriteria penilaian sistem rating GREENSHIP dikelompokkan menjadi enam aspek, (Green Building Council Indonesia, 2010) [20] yaitu:

(26)

Penerapan lahan sehingga menjadi tepat guna dan memberikan rasa aman, nyaman serta memudahkan bagi penghuni bangunan dan masyarakat di sekitarnya

b. Energy Efficiency and Conservation

Penerapan tentang penghematan penggunaan energi dengan pemanfaatan energi alam dengan penerapan pada penerangan, termal dan teknologi pembaruan energi

c. Water Conservation

Dalam aspek ini, dibahas berbagai aspek yang menunjang rangkaian konservasi (penyimpanan) air dalam bangunan tersebut, mengingat pentingnya fungsi air dalam kehidupan manusia.

d. Material resources and cycle

Penggunaan material ramah lingkungan pada tahap konstruksi maupun tahap operasional dengan mengedepankan faktor pembangunan berkelanjutan melalui penerapan penggunaan material yang tidak merusak ozon, bersertifikat internasional, pemanfaatan kembali material bekas, dan produk setempat. e. Indoor air health and comfort

Suatu penerapan kualitas udara di dalam ruangan baik dari sisi kualitas udara itu sendiri, pencahayaan serta tingkat kebisingan suatu ruangan.

f. Building and environment management

Merupakan suatu sistem manajerial mengenai lingkungan bangunan dengan merencanakan sistem operasional gedung yang ramah lingkungan mulai dari tahap desain.

Terdapat persyaratan awal untuk dapat menjalankan proses sertifikasi green building (Green Building Council Indonesia, 2010) [21], yaitu:

a. Luas bangunan sekurang-kurangnya 2500 m2.

Bertujuan membatasi lingkup target dari sistem rating GREENSHIP untuk bangunan baru komersial pada bangunan besar dengan luas minimum 2500 m2.

b. Lokasi tapak bangunan sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) setempat.

(27)

Bertujuan mendorong pengendalian pembangunan dan pemanfaatan kawasan sesuai dengan fungsinya sehingga tercipta lingkungan hidup yang selaras, serasi, dan seimbang.

c. Bersedia menandatangani surat yang berisi persetujuan untuk memperbolehkan data gedung yang berhubungan dengan penerapan green building dipergunakan untuk dipelajari dalam studi kasus yang diselenggarakan oleh GBCI.

Bertujuan menghimpun database yang akurat sehingga dapat menjadi salah satu dasar perbaikan sistem rating GREENSHIP, baik untuk bangunan baru maupun bangunan eksisting.

d. Akan menyertakan salinan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) yang disahkan Bapedal.

Bertujuan mendukung pengendalian pembangunan terhadap lingkungannya sehingga terwujud konsep berkelanjutan.

e. Bersedia menandatangani surat yang menyatakan bahwa gedung yang bersangkutan akan dibuat tahan gempa.

Bertujuan menjamin keamanan penghuni dari ancaman bencana gempa bumi serta mempertahankan secara optimal fungsi bangunan atas ketahanan struktur dan konstruksi terhadap beban bencana gempa.

f. Bersedia menandatangani surat yang menyatakan bahwa gedunng yang bersangkutan akan memenuhi standar pemakai gedung untuk penyandang cacat.

Bertujuan mendorong pembangunan fisik yang responsif terhadap perbedaan kemampuan fisik yang responsif terhadap perbedaan kemampuan fisik setiap individu sebagai bentuk usaha dalam mewujudkan persamaan kesempatan sehingga berdampak positif baik secara ekonomi maupun lingkungan. Berdasarkan UU No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Pasal 60, setiap bangunan gedung harus menyediakan aksesibilitas bagi penyandang cacat dan manula yang dapat menjamin keamanan, kenyamanan, dan kemandirian mereka untuk bermobilitas dan beraktivitas di dalamnya [23].

g. Bersedia menandatangani surat yang menyatakan bahwa gedung yang bersangkutan akan memenuhi standar kebakaran dan keselamatan.

(28)

Bertujuan mendorong penurunan risiko kebakaran pada bangunan sehingga keamanan dan keselamatan pengguna gedung terjamin.

2.3 Aspek Material Resources And Cycle

Material adalah zat atau benda yang dari mana sesuatu dapat dibuat darinya, atau barang yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu. (Ashby, Shercliff, & Cebon, 2007) [23]. Resources atau sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan (Peta Indonesia, 2012) [24].

Sistem rating material resources and cycle (MRC) dalam sistem rating GREENSHIP yang disusun Green Building Council Indonesia (GBCI) memiliki satu butir prasyarat utama dan enam butir penilaian yang masing-masing memiliki tolok ukur.

Prasyarat utama adalah mutlak harus dipenuhi dan bila tidak dipenuhi maka enam butir penilaian tidak dapat dinilai sehingga sertifikasi green buiding tidak dapat dilanjutkan. Sedangkan tolok ukur adalah patokan yang dianggap sebagai implementasi dari praktik terbaik sehingga menjadi syarat pencapaian suatu rating dapat diukur. Sebagian besar tolok ukur menggunakan standar yang berlaku di Indonesia dan sebagian rating yang belum memilik standar lokal mengacu kepada standar yang berlaku secara universal (Green Building Council Indonesia, 2010). [25]

Prasyarat utama dan butir tolok ukur aspek material resources and cycle memiliki poin atau nilai yang nantinya akan digabungkan dengan aspek green building lainnya menjadi nilai untuk peringkat sistem rating GREENSHIP. Aspek material resources and cycle memiliki nilai maksimum sebanyak 14 poin atau 14% dari nilai maksimum. (Green Building Council Indonesia, 2010). [26]

2.3.1 Fundamental Refrigerant (Aplikasi Refrigerant Fundamental)

Fundamental Refrigerant adalah prasyarat utama MRC. Bertujuan mencegah pemakaian bahan perusak ozon (BPO) yang mempunyai kemampuan merusak lapisan ozon sama atau lebih besar dari 1 (satu) yang dapat merusak ozon di lapisan stratosfer (Green Building Council Indonesia, 2010). [27]

(29)

Berikut ini adalah tipe-tipe refrigeran beserta nilai ozone depleting potential (ODP).

Tabel 2.2 Tipe-tipe Refrigeran

Refrigerant Group Atmospheric

life ODP R11 CFC 130 1 R12 CFC 130 1 R22 HCFC 15 .05 R134a HFC 16 0 R404a HFC 16 0 R410a HFC 16 0 R507 HFC 130 1 R717 NH3 - 0 R744 CO2 - 0 R290 HC < 1 0 R600a HC < 1 0 Sumber: Dreepaul [28]

Menurut Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor

33/M-IND/PER/4/2007 tentang Larangan Memproduksi Barang yang

Menggunakan Bahan Perusak Lapisan Ozon Pasal 1, yang dimaksud dengan Bahan Perusak Ozon (BPO) adalah senyawa kimia yang berpotensi dapat bereaksi dengan molekul ozon di lapisan stratosfir [29].

BPO dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu

chlorofluorocarbon (CFC), chlorofluorocarbons (HFCs), halon, hydro-bromofluorocarbons (HBFCs), bromochloromethane, methyl chloroform, carbon tetrachloride, dan methyl bromide. Dalam pemakaian sehari-hari, jenis yang banyak dipakai adalah CFC dan halon (Asdep Urusan Pengendalian Dampak

(30)

Perubahan Iklim Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009).[30]

Chlorofluorocarbon (CFC) adalah penyebab kerusakan lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultra violet. CFC bukan bahan alami, melainkan bahan kimia yang diproduksi pada tahun 1930. Selanjutnya industri menemukan berbagai variasi penggunaan CFC akibar dari sifat penyerap panas dan tidak reaktif. CFC digunakan sebagai refrigeran pada air conditioner dan lemari pendingin. Sebuah industri kimia di Amerika Serikat memberikan nama dagang freon. Secara kimiawi CFC adalah sebagian kecil dari klasifikasi umum senyawa lainnya yang diketahui sebagai halocarbons (senyawa yang mengandung carbon dan halogen). CFC adalah halocarbon yang terdiri dari elemen karbon, klorin, dan fluorin. CFC biasanya hanya mengandung satu atau dua atom karbon. (Ennis, 2009).[31]

Gambar 2.1 The Mechanism of the Ozone Layer Depleted by Ozone Depleting Substances

Sumber: Ministry of Economy, Trade, and Investment Japan [32]

CFC menjadi bahan kimia yang berbahaya karena memiliki ozone depleting properties/substance, yaitu kemampuan suatu zat untuk merusak lapisan ozon. Berdasarkan gambar di atas, CFC yang telah bebas di udara akan mencapai Perubahan Iklim Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009).[30]

Chlorofluorocarbon (CFC) adalah penyebab kerusakan lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultra violet. CFC bukan bahan alami, melainkan bahan kimia yang diproduksi pada tahun 1930. Selanjutnya industri menemukan berbagai variasi penggunaan CFC akibar dari sifat penyerap panas dan tidak reaktif. CFC digunakan sebagai refrigeran pada air conditioner dan lemari pendingin. Sebuah industri kimia di Amerika Serikat memberikan nama dagang freon. Secara kimiawi CFC adalah sebagian kecil dari klasifikasi umum senyawa lainnya yang diketahui sebagai halocarbons (senyawa yang mengandung carbon dan halogen). CFC adalah halocarbon yang terdiri dari elemen karbon, klorin, dan fluorin. CFC biasanya hanya mengandung satu atau dua atom karbon. (Ennis, 2009).[31]

Gambar 2.1 The Mechanism of the Ozone Layer Depleted by Ozone Depleting Substances

Sumber: Ministry of Economy, Trade, and Investment Japan [32]

CFC menjadi bahan kimia yang berbahaya karena memiliki ozone depleting properties/substance, yaitu kemampuan suatu zat untuk merusak lapisan ozon. Berdasarkan gambar di atas, CFC yang telah bebas di udara akan mencapai Perubahan Iklim Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009).[30]

Chlorofluorocarbon (CFC) adalah penyebab kerusakan lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultra violet. CFC bukan bahan alami, melainkan bahan kimia yang diproduksi pada tahun 1930. Selanjutnya industri menemukan berbagai variasi penggunaan CFC akibar dari sifat penyerap panas dan tidak reaktif. CFC digunakan sebagai refrigeran pada air conditioner dan lemari pendingin. Sebuah industri kimia di Amerika Serikat memberikan nama dagang freon. Secara kimiawi CFC adalah sebagian kecil dari klasifikasi umum senyawa lainnya yang diketahui sebagai halocarbons (senyawa yang mengandung carbon dan halogen). CFC adalah halocarbon yang terdiri dari elemen karbon, klorin, dan fluorin. CFC biasanya hanya mengandung satu atau dua atom karbon. (Ennis, 2009).[31]

Gambar 2.1 The Mechanism of the Ozone Layer Depleted by Ozone Depleting Substances

Sumber: Ministry of Economy, Trade, and Investment Japan [32]

CFC menjadi bahan kimia yang berbahaya karena memiliki ozone depleting properties/substance, yaitu kemampuan suatu zat untuk merusak lapisan ozon. Berdasarkan gambar di atas, CFC yang telah bebas di udara akan mencapai

(31)

sehingga atom klorin yang dimiliki CFC terlepas dan masuk ke lapisan ozon, hal ini yang akan menyebabkan reaksi berantai di dalam lapisan sehingga lapisan ozon rusak dan sinar ultraviolet mencapai permukaan bumi secara langsung.

Lapisan ozon penting bagi kelangsungan kehidupan di bumi khususnya manusia karena memiliki kemampuan menyerap radiasi ultra violet. Efek jangka panjang akibat terkena radiasi sinar ultra violet dapat mengakibatkan kanker kulit, katarak, dan penurunan sistem kekebalan tubuh. Pada tahun 1987, sebuah perjanjian internasional Protokol Montreal mengatur pemakaian material yang merupakan bahan perusak ozon yang bertujuan mengurangi dan mengakhiri pemakaian bahan kimia yang termasuk BPO (Ennis, 2009).[33]

Harapan kedepan adalah menjadikan Hidrokarbon salah satu alternative pengganti BPO, yang tidak memiliki potensi merusak ozon dan rendah potensi pemanasan globalnya. Pertamina pada saat ini sedang mengembangkan produk Hidrokarbon sebagai pengganti CFC dan HCFC sebagai bahan pendingin di AC maupun refrigerasi (Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2011).[34]

Tolok ukur yang digunakan pada fundamental refrigerant adalah tidak menggunakan chlorofluorocarbon (CFC) sebagai refrigeran dan halon sebagai bahan pemadam kebakaran. (Green Building Council Indonesia, 2010) .[35]

2.3.2 Building and Material Reuse (Penggunaan Kembali Gedung dan Material

Bekas)

Building and Material Reuse adalah menggunakan material bekas bangunan lama dan/atau dari tempat lain untuk mengurangi kebutuhan akan bahan mentah yang baru, sehingga diharapkan dapat mengurangi limbah pada pembuangan akhir dan memperpanjang daur pemakaian suatu material (Green Building Council Indonesia, 2010)[36].

Menurut Bjorn Berge dalam The Ecology of Building Materials,reuse atau penggunaan kembali adalah tingkatan tertinggi dalam daur ulang, yaitu menggunakan kembali barang yang sudah dipakai namun masih memiliki sisa umur. Reuse merupakan tingkatan tertinggi karena tidak memerlukan energi untuk merubah bentuknya atau mengolahnya menjadi bahan layak pakai. Material yang di-reuse adalah material yang siap pakai namun tidak lagi dipakai oleh pengguna

(32)

sebelumnya. Sedangkan recycling memerlukan energi dan proses untuk menjadikan material bekas pakai menjadi material yang layak pakai (Permana, 2008).[37]

Butir penilaian Building and Material Reuse memiliki dua tolok ukur, yaitu (Green Building Council Indonesia, 2010) [38]

a. Menggunakan kembali semua material bekas , baik dari bangunan lama maupun tempat lain, berupa bahan utama, fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dan dinding, setara minimal 10% dari total biaya material baru yang bersangkutan. Tolak ukur ini memiliki nilai 1 (satu).

b. Menggunakan kembali semua material bekas, baik dari bangunan lama maupun tempat lain, berupa bahan utama, fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dan dinding, setara minimal 20% dari total biaya material baru yang bersangkutan. Tolak ukur ini memiliki nilai 2 (dua).

Jika dibandingkan dengan sistem rating LEED, reuse dan recycle menjadi tolok ukur yang dominan pada aspek material & resources. Hal ini terlihat dari project checklist LEED 2009 seperti berikut ini,

Tabel 2.3 Project Checklist LEED 2009 for New Construction and Major Renovation

Materials and Resources

Possible Point: 14

Prereq 1 Storage and Collection of Recyclabeles

Credit 1.1 Building Reuse - Maintain Existing Walls, Floors, and Roof 1 to 3

Credit 1.2

Building Reuse - Maintain 50% of Interior Non-Structural

Element 1 1

Credit 2 Construction Waste Management 1 to 2 Credit 3 Material Reuse 1 to 2 Credit 4 Recycled Content 1 to 2 Credit 5 Regional Materials 1 to 2 Credit 6 Rapidly Renewable Materials 1

Credit 7 Certified Wood 1

(33)

2.3.3 Environmentally Process Product (Produk yang diproduksi ramah lingkungan)

Environmentally Process Product adalah menggunakan bahan bangunan hasil fabrikasi yang menggunakan bahan baku dan proses produksi ramah lingkungan. Standar produk ramah lingkungan yang diakui di dunia internasional adalah ISO 14001 (Green Building Council Indonesia, 2010). [40]

Menurut Harrington, H.J (1999) manfaat sertifikasi ISO 14000 adalah (Kristiningrum) [41]:

a. Menurunkan potensi dampak terhadap lingkungan b. Meningkatkan kerja lingkungan

c. Memperbaiki tingkat pemenuhan peraturan

d. Mengurangi dan mengatasi resiko lingkungan yang mungkin timbul e. Dapat menekan biaya produksi

f. Dapat mengurangi kecelakaan kerja

g. Dapat memelihara hubungan baik dengan masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak yang peduli terhadap lingkungan

h. Memberi jaminan kepada konsumen mengenai komitmen pihak manajemen puncak terhadap lingkungan

i. Dapat mengangkat citra perusahaan

j. Meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperbesar pangsa pasar k. Mempermudah memmperoleh izin dan akses kredit bank

l. Dapat meningkatkan motivasi pekerja

m. Mengurangi biaya dan meningkatkan pendapatan n. Meningkatkan hubungan dengan supplier

o. Langkah menuju pembangunan yang berkelanjutan

(34)

Tabel 2.4 Steps To Impelementation Of ISO 14001 Standarization

Step Objective

1 Obtain senior management commitment to environmental concern 2 set up an environmental steering committe

3 Determine the extend of the company's environmental outlays and requirements

4 Trains the environmental team and employees

5 Establish an effective environmental management system (EMS) 6 Establish environmental policies and procedures

7 Create sound environmental management programmes

8 Maintain correct documentation of the environmental management system

9 Establish a functional process of recording for the EMS 10 Review of the EMS by management

11 Initiate and conduct environmental auditing

12 Select the appropriate standard from the ISO 14000 family 13 Decide on a registration strategy

14 Register to ISO 14001

15 Integrate ISO 14000 with ISO 9000

Sumber: Ball, 2002 [42]

Terdapat tiga tolok ukur penilaian (Green Building Council Indonesia, 2010) [43], yaitu:

a. Menggunakan material yang bersertifikat ISO 14001 terbaru dan/atau sertifikasi lain yang setara dan direkomendasikan oleh GBCI. Material tersebut minimal bernilai 30% dari total biaya material. Tolok ukur ini bernilai 1 (satu). b. Menggunakan material yang merupakan hasil proses daur ulang senilai

minimal 5% dari total biaya material. Tolok ukur ini bernilai 1 (satu).

c. Menggunakan material yang bahan baku utamanya berasal dari sumberdaya terbarukan dengan masa panen jangka pendek (<10 tahun) senilai minimal 2% total biaya material. Tolok ukur ini bernilai 1 (satu).

Dalam tolok ukur tidak hanya menggunakan ISO 14001, tetapi aspek ini juga menilai dari penggunaan material hasil proses daur ulang dan material yang bahan baku utamanya berasal dari sumberdaya terbarukan dengan masa panen kurang dari 10 tahun.

(35)

Menurut Bjorn Berge (2000), pada prinsipnya ada tiga tingkatan hierarkial daur ulang sesuai dengan manfaat yang diperoleh (Permana, 2008) [44], yaitu: a. Reuse

Tidak memerlukan energi untuk merubah bentuknya atau mengolahnya menjadi bahan layak pakai. Kalau diperlukan, hanya untuk mengangkut atau memindahkan material tersebut. Material yang di-reuse adalah material yang siap pakai namun tidak lagi dipakai oleh pengguna sebelumnya.

b. Recycling

Memerlukan energi dan proses untuk menjadikan material bekas pakai menjadi material yang layak paki, beda dengan prinsip reuse yang berarti bahwa material bekas pakai adalah material layak pakai.

c. Energy Recovery

Semua material yang sudah tidak mungkin dipakai dibakar untuk memperoleh energi potensial yang masih terdapat dalam material melalui proses pembakarannya. Contoh yang paling umum adalah membakar kayu bekas untuk penghangat perapian atau memasak.

Proses daur ulang bisa menjadi mahal ketika masih jarangnya fasilitas daur ulang karena terlalu besarnya energi yang dibutuhkan untuk melakukan tahap-tahap proses menjadikan barang lama menjadi barang siap pakai.

2.3.4 Non-ODS Usage (Penggunaan material Non-ODS)

Non-ODS Usage adalah menggunakan bahan dengan zero ODP, yaitu bahan yang tidak memiliki kemampuan untuk merusak lapisan ozon. Tolok ukurnya adalah tidak menggunakan bahan perusak ozon pada seluruh sistem bangunan dengan spesifikasi pada produk air conditioner dan sistem pemadam kebakaran. Tolok ukur ini bernilai 1 (satu). (Green Building Council Indonesia, 2010) [45]

2.3.5 Certified Wood (Kayu Bersertifikasi)

Certified Wood bertujuan menggunakan bahan baku kayu yang dapat dipertanggungjawabkan asal usulnya unntuk melindungi kelestarian hutan (Green Building Council Indonesia, 2010). [46]

(36)

Di Indonesia terdapat Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yang melaksanakan proses akreditasi terhadap lembaga sertifikasi yang akan mengoperasikan sistem sertifikasi di lapangan, lembaga pelatihan, dan sertifikasi personal. Sampai saat ini LEI telah melakukan proses akreditasi terhadap tiga lembaga sertifikasi untuk melakukan sertifikasi di lapangan, yaitu PT. Mutu Agung Lestari, PT. TUV International Indonesia, PT. Sucofindo. Ketiga lembaga ini telah memenuhi kualifikasi untuk menjalankan proses sertifikasi ekolabel untuk pengelolaan hutan lestari berdasarkan standar LEI. (Lembaga Ekolabel Indonesia, 2009) [47]

Berdasarkan standar LEI, terdapat empat sertifikasi yang berkaitan dengan produksi hutan lestari, yaitu:

a. Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML), PHBML diartikan sebagai segala bentuk pengelolaan hutan dan hasil hutan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara-cara tradisional baik dalam bentuk unit komunitas, unit usaha berbasis komunitas atau koperasi, maupun individual berskala kecil sampai sedang, yang dilakukan secara lestari. Manfaat sertifikasi PHBML bagi para pengelola hutan rakyat adalah membuka akses pasar bagi produk hutan rakyat, dapat memberikan harga jual yang relatif lebih tinggi di tingkat petani dan membuka akses perluasan hutan rakyat bagi kepentingan rehabilitasi lahan sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat (SUCOFINDO, 2011).[48]

b. Sertifikasi Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari (PHTL), adalah serangkaian strategi dan pelaksanaan kegiatan untuk memproduksi hasil hutan tanaman yang menjamin keberlanjutan fungsi-fungsi kelestarian fungsi produksi, ekologi, sosial dan kepatuhan terhadap regulasi (SUCOFINDO, 2011).[49] c. Sertifikasi Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL), PHAPL

merupakan pengejawantahan dari konsep pembangunan berkelanjutan di bidang kehutanan. Untuk mencapai tujuan PHAPL diperlukan sistem pengelolaan hutan produksi yang menjamin kelestarian fungsi produksi, fungsi ekologi, dan fungsi sosial hutan. Sertifikasi PHAPL menjadi jembatan informasi mengenai manajemen hutan yang mempunyai kinerja yang baik kepada pembeli produk kayu. Sistem sertifikasi PHAPL telah dikembangkan

(37)

pada kriteria dan indikator yang menjamin kesetaraan penilaian unsur-unsurnya. Pelaksanaan sistem sertifikasi PHAPL dijabarkan dalam pedoman LEI seri 99 (Lembaga Ekolabel Indonesia, 2009) [50]. Sampai saat ini terdapat lima unit manajemen berbasis hutan alam produksi yang telah lulus sertifikasi, yaitu: PT. Diamond Raya Timber (telah ditahan kembali sertifikasinya), PT. Intracawood Manufacturing, PT. Sari Bumi Kusuma Unit Seruyan, PT. Erna Djuliawati, PT. Sumalindo Lestari Jaya Unit II, dan PT. Sarpatim (Lembaga Ekolabel Indonesia, 2009).[51]

d. Sertifikasi Lacak Balak (CoC), adalah suatu metode sertifikasi untuk menelusuri perjalanan bahan baku kayu dari hutan ke pabrik, yang dalam prosesnya melewati proses pengangkutan, pengapalan, dan pembuatan produk hingga menjadi produk siap pakai. Penelusuran dan pengujian dilakukan terhadap kemampuan sistem dokumentasi alur kayu di perusahaan yang dapat melacak asal bahan baku ke lokasi di hutan. Bila bahan bakunya dapat dilacak dan sesuai standar LEI, perusahaan itu diberikan sertifikat lacak balak (CoC). Proses penelusuran dan pengujian dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang telah terakreditasi LEI (Lembaga Ekolabel Indonesia, 2009).[52]

Terdapat dua tolok ukur penilaian (Green Building Council Indonesia, 2010) [53], yaitu

a. Menggunakan bahan material kayu yang bersertifikat legal sesuai dengan peraturan pemerintah tentang asal kayu dan sah terbebas dari perdagangan kayu ilegal sebesar 100% biaya total material kayu. Tolok ukur ini bernilai 1 (satu).

b. Jika 30% dari butir tolok ukur di atas menggunakan kayu bersertifikasi dari pihak Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) atau Forest Stewardship Council (FSC). Tolok ukur ini bernilai 1 (satu).

2.3.6 Modular Design (Prafabrikasi)

Modular design atau prafabrikasi merupakan suatu metode yang lahir dari suatu proses kehidupan, pemikiran, perkembangan sosial dan ekonomi serta teknologi. Dalam dunia arsitektur dan konstruksi, pada dasarnya prafabrikasi adalah suatu cara membangun yang mudah dipahami secara konsep dan tidak

(38)

terlalu sulit diterapkan secara konsep dan tidak terlalu sulit diterapkan secara teknis. Prafabrikasi meminimalisir segala sesuatu dalam tahap konstruksi, baik itu tenaga pembangun dan lamanya waktu konstruksi, sehingga segala sesuatu berjalan efektif dan efisien (Amalia, 2008).[54]

Banyak penelitian yang telah menidentifikasi keuntungan menggunakan produk prefabrikasi, diantaranya adalah

a. Pengawasan yang lebih baik

b. Mengurangi biaya konstruksi jangka panjang c. Mempersingkat waktu pelaksanaan konstruksi d. Ramah lingkungan

e. Terintegrasi pada bangunan

f. Estetika bangunan (Tam, Tam, Zeng, & Ng, 2007) [55]

Tabel 2.5 Potensi Limbah antara Metode Konvensional dan Prefabrikasi

Trades

Average wastage level (in%) Percentage of waste reduction [C=(A-B)/A] (%) Conventional (A) Prefabrication (B) Concreting 20 2 90 Rebar fixing 25 2 92 Bricklaying 15 - -Drywall - 5 -Plastering 23 0 100 Screeding 25 - -Tiling 27 7 74

Sumber: Tam, Tam, Zeng, & Ng, 2007[56]

Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata tingkat potensi menghasilkan limbah pada pembangunan dengan metode konvensional adalah jauh lebih besar dibandingkan dengan metode prefabrikasi dalam hal pengecoran, pemasangan besi beton, memplester, dan memasang ubin. Hal ini menunjukkan bahwa ketika metode prefabrikasi digunakan untuk komponen-komponen bangunan tertentu akan efektif mengurangi tingkat potensi menghasilkan limbah. (Tam, Tam, Zeng, & Ng, 2007). [57]

(39)

Tolok ukur penilaiannya adalah desain yang menggunakan material modular atau prafabrikasi sebesar 30% dari total biaya material. Tolok ukur ini bernilai 1(satu) (Green Building Council Indonesia, 2010). [58]

2.3.7 Regional Material (Penggunaan Material Setempat)

Regional material bertujuan mengurangi jejak karbon dan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri (Green Building Council Indonesia, 2010).[59]

Jejak karbon adalah jumlah total gas rumah kaca yang dihasilkan secara langsung dan tidak langsung untuk mendukung kegiatan manusia , biasanya dinyatakan dalam ton setara dengan karbon dioksida ( co2 ) (timeforchange.org, 2007).[60]

Definisi lainnya, jejak karbon adalah tapak karbon berarti jumlah tertentu emisi gas yang relevan dengan iklim perubahan dan manusia yang berhubungan dengan produksi atau kegiatan konsumsi. (Puspasari)[61].

Bahaya gas buang kendaraan bermotor terhadap kesehatan tergantung dari toksiats (daya racun) masing-masing senyawa dan seberapa luas masyarakat terpajan olehnya. Beberapa faktor yang berperan di dalam ketidakpastian setiap analisis resiko yang dikaitkan dengan gas buang kendaraan bermotor antara lain adalah (Tugaswati) [62] :

a. Definisi tentang bahaya terhadap kesehatan yang digunakan

b. Relevansi dan interpretasi hasil studi epidemiologi dan eksperimental c. Realibilitas dari data pajanan

d. Jumlah manusia yang terpajan

e. Keputusan untuk menentukan kelompok resiko yang mana yang akan dilindungi

f. Interaksi antara berbagai senayawa di dalam gas buang, baik yang sejenis maupun antara yang tidak sejenis

g. Lamanya terpajan (jangka panjang atau pendek)

Berdasarkan sifat kimia dan perilakunya di lingkungan, dampak bahan pencemar yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor digolongkan sebagai berikut (Tugaswati) [63] :

(40)

a. Bahan-bahan pencemar yang terutama mengganggu saluran pernafasan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah oksida sulfur, partikulat, oksida nitrogen, ozon dan oksida lainnya. Organ pernafasan merupakan bagian paling banyak mendapatkan pengaruh karena yang pertama berhubungan dengan bahan pencemar udara. Sejumlah senyawa spesifik yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor seperti oksida-oksida sulfur dan nitrogen, partikulat dan senyawa-senyawa oksidan, dapat menyebabkan iritasi dan radang pada saluran pernafasan. Walaupun kadar oksida sulfur di dalam gas buang kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin relatif kecil, tetapi tetap berperan karena jumlah kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar makin meningkat. Selain itu menurut studi epidemniologi, oksida sulfur bersama dengan partikulat bersifat sinergetik sehingga dapat lebih meningkatkan bahaya terhadap kesehatan.

a) Oksida sulfur dan partikulat

Sulfur dioksida (SO2) merupakan gas buang yang larut dalam air yang langsung dapat terabsorbsi di dalam hidung dan sebagian besar saluran ke paru-paru. Karena partikulat di dalam gas buang kendaraan bermotor berukuran kecil, partikulat tersebut dapat masuk sampai ke dalam alveoli paru-paru dan bagian lain yang sempit. Partikulat gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri dari jelaga (hidrokarbon yang tidak terbakar) dan senyawa anorganik (senyawa-senyawa logam, nitrat dan sulfat). Sulfur dioksida di atmosfer dapat berubah menjadi kabut asam sulfat (H2SO4) dan partikulat sulfat. Sifat iritasi terhadap saluran pernafasan, menyebabkan SO2 dan partikulat dapat membengkaknya membran mukosa dan pembentukan mukosa dapat meningkatnya hambatan aliran udara pada saluran pernafasan.

b) Oksida Nitrogen

Nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang paling beracun. Karena larutan NO2 dalam air yang lebih rendah dibandingkan dengan SO2, maka NO2 akan dapat menembus ke dalam saluran pernafasan lebih dalam. c) Ozon dan oksida lainnya

(41)

senyawa oksidan yang paling kuat dibandingkan NO2 dan bereaksi kuat dengan jaringan tubuh.

b. Bahan-bahan pencemar yang menimbulkan pengaruh racun sistemik, seperti hidrokarbon monoksida dan timbel/timah hitam.

Banyak senyawa kimia dalam gas buang kendaraan bermotor yang dapat menimbulkan pengaruh sistemik karena setelah diabsorbsi oleh paru, bahan pencemar tersebut dibawa oleh aliran darah atau cairan getah bening ke bagian tubuh lainnya, sehingga dapat membahayakan setiap organ di dalam tubuh. a) Karbon monoksida

Karbon monoksida dapat terikat dengan haemoglobin darah lebih kuat dibandingkan dari oksigen membentuk karboksihaemoglobin (COHb), sehingga menyebabkan terhambatnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh. Pajanan CO diketahui dapat mempengaruhi kerja jantung (sistem kardiovaskuler), sistem syaraf pusat, juga janin, dan semua organ tubuh yang peka terhadap kekurangan oksigen.

b) Timbal

Timbal ditambahkan sebagai bahan aditif pada bensin dalam bentuk timbel organik (tetraetil-Pb atau tetrametil-Pb). Pada pembakaran bensin, timbel organik ini berubah bentuk menjadi timbel anorganik. Timbel yang dikeluarkan sebagai gas buang kendaraan bermotor merupakan partikel-partikel yang berukuran sekitar 0,01 μm. Partikel-partikel timbel ini akan bergabung satu sama lain membentuk ukuran yang lebih besar, dan keluar sebagai gas buang atau mengendap pada kenalpot.

Pengaruh Pb pada kesehatan yang terutama adalah pada sintesa haemoglobin dan sistem pada syaraf pusat maupun syaraf tepi. Pengaruh pada sistem pembentukkan Hb darah yang dapat menyebabkan anemia,. Pengaruh pada syaraf otak anak diamati pada kadar Pb 60μg/100 ml, yang dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan mental anak. Penelitian pada pengaruh Pb yang dikaitkan IQ anak telah banyak dilakukan tetapi hasilnya belum konsisten.

c. Bahan-bahan pencemar yang dicurigai menimbulkan kanker seperti hidrokarbon.

Gambar

Gambar 1.1 Model Operasional Penelitian
Tabel 2.2 Tipe-tipe Refrigeran
Gambar 2.1 The Mechanism of the Ozone Layer Depleted by Ozone Depleting Substances
Tabel 2.3 Project Checklist LEED 2009 for New Construction and Major Renovation
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis kesesuaian dan penilaian pada Gedung AHN Rektorat IPB berdasarkan kriteria green building dalam aspek sumber dan

Dari hasil penelitian diperoleh tiga faktor yang berpengaruh pada penerapan konsep green building terhadap keputusan investasi, faktor pertama adalah penggunaan material