UNJUK KERJA MODEL KINCIR ANGIN SAVONIUS
DUA TINGKAT DENGAN SIRIP-SIRIP PENGARAH
PADA LINGKAR TERLUAR KINCIR
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Jurusan Teknik Mesin
Disusun oleh:
ENDRO PRAMULAT SITO NIM : 105214076
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
THE PERFORMANCE OF TWO STAGE SAVONIUS
WIND TURBINE MODEL WITH STEERING FINS ON
THE OUTER CIRCLE
FINAL PROJECT
As partial fulfillment of the requirement to obtain the SarjanaTeknik degree
by
ENDRO PRAMULAT SITO NIM : 105214076
MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAMME
SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY
INTISARI
Ketersediaan energi dunia saat ini mengalami penipisan khususnya energi dari fosil yang tidak dapat diperbarui maka diperlukan sumber energi baru yang terbarukan dan ramah lingkungan. Salah satu energi yang dapat dikembangkan adalah energi angin dengan ketersediaan yang melimpah dan ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan unjuk kerja model kincir angin Savonius dua tingkat dengan luasan frontal 0,51 m2dan penambahan variasi sirip-sirip pengarah pada lingkar terluarnya.
Model variasi pertama adalah kincir angin Savonius tanpa pengarah, model variasi kedua dengan penambahan sirip-sirip pengarah bersudut 30o, dan model variasi ketiga dengan penambahan sirip-sirip pengarah bersudut 45o. Jumlah pengarah yang digunakan sebanyak delapan buah berbentuk pelat persegi panjang dengan ukuran 10 cm × 90 cm dan dipasang pada lingkar terluar kincir. Dalam pengujiannya setiap kincir angin diuji untuk mengetahui torsi, putaran poros, daya kincir, dan koefisien daya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien daya maksimal diperoleh dengan model kincir angin Savonius berpengarah 30o, yaitu 46 % pada tip speed ratio(tsr) 1,2 menghasilkan daya 27,9 watt pada kecepatan angin 5,84 m/s dengan torsi 1,2 Nm. Model kincir angin perpengarah 45o menghasilkan koefisien daya maksimal 40 % pada tip speed ratio 1,46 menghasilkan daya 26,5 watt pada kecepatan angin 6.06 m/s dengan torsi 0,9 Nm. Model kincir tanpa pengarah menghasilkan koefisien daya maksimal 32,4 % pada tip speed ratio 1,38 menghasilkan daya 27,4 watt pada kecepatan angin 6,57 m/s dengan torsi 0,9 Nm.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat
yang diberikan dalam penyusunan Tugas Akhir ini sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.
Tugas Akhir ini merupakan sebagai salah satu syarat yang wajib untuk
setiap mahasiswa Jurusan Teknik Mesin. Tugas Akhir ini dilaksanakan dalam
rangka memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar sarjana S-1 pada Jurusan
Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta.
Berkat bimbingan, dukungan dan nasihat dari berbagai pihak, akhirnya
Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini dengan
segenap kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Yosef Agung Cahyanta, S.T., M.T., selaku Dekan Fakultas Sains
dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Bapak Ir. Petrus Kanisius Purwadi, M.T., selaku Ketua Program Studi
Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bapak Ir. Rines, M.T., sebagai Dosen Pembimbing Tugas Akhir.
4. Bapak I Gusti Ketut Puja, S.T., M.T., selaku Dosen pembimbing
akademik.
5. Kepala Laboratorium Konversi Energi, Bapak Ir. YB. Lukiyanto, M.T.,
6. Bapak Mulyo Pradono dan Ibu Sri Widayati selaku orang tua penulis,
karena kebaikan dan kerendahan hati memberikan semangat pada penulis.
Keluarga penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
mendukung penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.
7. Rekan sekelompok yaitu Suryo Prasetyo dan Natalis Riya, yang telah
membantu dalam perancangan, pembuatan, perbaikkan alat dan
pengambilan data.
8. Teman-teman Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma dan teman-teman
lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas segala
bantuanya.
Penulis menyadari dalam penulisan Tugas Akhir ini masih jauh dari
sempurna. Segala kritik dan saran yang membangun akan sangat penulis harapkan
demi penyempurnaan dikemudian hari. Akhir kata seperti yang penulis harapkan
semoga tugas akhir ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Yogyakarta, 1 November 2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Title Page ... ... ii
Halaman Pengesahan... iii
Daftar Dewan Penguji ... ... iv
Pernyataan Keaslian Karya ... v
Lembar Pernyataan Persetujuan Karya Ilmiah ... vi
Intisari ... vii
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ... x
Daftar Gambar ... xii
Daftar Tabel ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Batasan Masalah ... 2
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
1.5 Tujuan Penelitian ... 3
BAB II DASAR TEORI 2.1 Energi Angin ... 4
2.2 Kincir Angin ... 8
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Diagram Alir Penelitian ... 19
3.2 Objek Penelitian ... 20
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian ... ... 20
3.4 Peralatan dan Bahan ... ... 20
3.5 Variabel Penelitian ... ... 30
3.6 Langkah-Langkah Percobaan ... 31
3.7 Langkah Pengolahan Data ... 34
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Percobaan ... ... 35
4.2 Pengolahan Data dan Perhitungan ... 35
4.3 Data Hasil Perhitungan ... 43
4.4 Grafik Hasil Perhitungan ... 46
4.5 Pembahasan ... 55
BAB V Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan ... 57
5.2 Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
LAMPIRAN ... 60
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Angin Laut ... 5
Gambar 2.2 Angin Darat ... 5
Gambar 2.3 Angin Lembah ... 6
Gambar 2.4 Angin Gunung ... 7
Gambar 2.5 Pergerakan Angin Planetary ... 7
Gambar 2.6 Kincir Angin Poros Vertikal ... 9
Gambar 2.7 Kincir Angin Poros Horizontal ... 11
Gambar 2.8 Variasi Bentuk Sudu Kincir Savonius ... 12
Gambar 2.9 Grafik Hubungan Cpdan tsr maksimal berapa jenis kincir ... 15
Gambar 3.1 Diagram alir langkah penelitian ... 19
Gambar 3.2 Kincir angin Savonius ... 21
Gambar 3.3 Pelat batas sudu ... 22
Gambar 3.4 Sudu kincir ... 22
Gambar 3.5 Poros kincir ... 23
Gambar 3.6 Sirip-sirip pengarah ... 24
Gambar 3.7 Jari-jari kincir sebagai garis acuan 0o ... 24
Gambar 3.8 Terowongan angin ... 25
Gambar 3.9 Blower ... 25
Gambar 3.10Tachometer ... 26
Gambar 3.11 Anemometer ... 27
Gambar 3.12 Rangkaian lampu pembebanan ... 28
Gambar 3.13 Neraca pegas ... 28
Gambar 3.14 Generator ... 29
Gambar 3.15 Kabel ... 30
Gambar 3.16 Tali pengait ... 32
Gambar 3.17 Sensor elektrik yang terhubung dengan anemometer ... 32
Gambar 3.18 Posisi takometer ... 33
Gambar 4.1 Grafik hub. rpm danτvariasi kincir tanpa pengarah ... 46
Gambar 4.3 Grafik hub. Cpdan tsr variasi kincir tanpa pengarah ... 48
Gambar 4.4 Grafik hub. rpm danτvariasi kincir pengarah 30o... 49
Gambar 4.5 Grafik hub. daya danτvariasi kincir pengarah 30o ... 50
Gambar 4.6 Grafik hub. Cpdan tsr variasi kincir pengarah 30o... 51
Gambar 4.7 Grafik hub. rpm danτvariasi kincir pengarah 45o... 52
Gambar 4.8 Grafik hub. daya danτvariasi kincir pengarah 45o ... 53
Gambar 4.9 Grafik hub. Cp dan tsr variasi kincir pengarah 45o ... 54
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Data percobaan kincir angin tanpa pengarah ... 36
Tabel 4.2 Data percobaan kincir angin pengarah 30o ... 37
Tabel 4.3 Data percobaan kincir angin pengarah 45o ... 38
Tabel 4.4 Data hasil perhitungan kincir angin tanpa pengarah ... 43
Tabel 4.5 Data hasil perhitungan kincir angin pengarah 30o ... 44
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Ketersediaan energi Indonesia saat ini mengalami penurunan khususnya
energi dari fosil yang tidak dapat diperbaharui. Dimulai dari revolusi industri,
kebutuhan akan energi fosil meningkat tajam. Hal ini tidak berbanding lurus
dengan ketersediaan bahan bakar fosil yang ada, maka perlu adanya sumber
energi lain yang dapat mencukupi semua kebutuhan. Kebutuhan akan energi fosil
masih dominan, sebagian besar bahan bakar fosil digunakan dalam bidang
industri, transportasi, dan rumah tangga terutama untuk mencukupi kebutuhan
energi listrik.
Salah satu energi yang dapat menjadi alternatif adalah energi angin,
mengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai potensi
energi angin cukup besar. Untuk mengubah energi angin menjadi energi listrik
memerlukan proses dan metode tertentu, karena energi angin tidak dapat
digunakan secara langsung. Salah satu alat yang dapat mengubah energi kinetik
angin menjadi energi mekanik adalah kincir angin, dalam penelitian ini digunakan
jenis kincir angin Savonius yang mampu menerima angin dari arah. Dengan
menggunakan kincir angin Savonius, maka energi listrik yang dihasilkan dapat
mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan energi fosil. Berdasarkan
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Angin merupakan energi yang besar, murah, kekal dan tidak menimbulkan
polusi bagi lingkungan.
2. Indonesia adalah negara dengan potensi energi angin melimpah, namun
belum dimanfaatkan secara maksimal.
3. Diperlukan model kincir angin yang mampu mengkonversi energi angin
dengan efisiensi maksimal.
1.3 Batasan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada :
1. Model kincir angin yang digunakan adalah kincir angin dua sudu dua tingkat
dengan diameter 60 cm dan tinggi 85 cm.
2. Penelitian dilakukan dengan mengoperasikan kincir angin didalam sebuah
terowongan angin yang tersedia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
dan dengan posisi salah satu pengarah dibuat sejajar arah angin.
3. Data yang diambil pada saat penelitian adalah kecepatan angin, temperatur,
putaran poros kincir, dan gaya pengimbang torsi.
4. Variasi yang digunakan adalah kincir tanpa pengarah, kincir dengan sudu
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Menjadi sumber informasi mengenai unjuk kerja kincir angin dua sudu dua
tingkat dengan pengarah ataupun tidak.
2. Memberi manfaat bagi perkembagan teknologi energi terbarukan, khususnya
energi angin.
3. Menjadi sumber referensi bagi masyarakat di daerah dengan potensi energi
angin besar untuk memberdayakan energi tepat guna.
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Membuat kincir angin Savonius dengan variasi sirip-sirip pengarah.
2. Mengetahui pengaruh penggunaan sirip-sirip pengarah terhadap unjuk kerja
kincir angin.
3. Mengetahui unjuk kerja model kincir angin dua sudu dua tingkat dengan
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Energi Angin
Angin merupakan salah satu bentuk energi yang telah lama dikenal dan
dimanfaatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pada prinsipnya angin adalah
udara yang bergerak, gerakan ini disebabkan oleh perbedaan temperatur antara
udara panas dan udara dingin. Pada daerah dengan temperatur tinggi maka udara
akan memuai dan massa jenisnya turun sehingga tekanan udara di daerah itu
rendah, tekanan rendah ini akan diisi oleh udara yang datang dari tekan yang lebih
tinggi. Perbedaan tekanan dan temperatur disuatu daerah disebabkan oleh sinar
matahari.
Jenis - jenis angin antara lain :
1. Angin laut
Angin laut adalah angin yang bertiup dari arah laut ke arah darat dan pada
umumnya terjadi pada siang hari. Arah ini disebabkan karena daratan memiliki
temperatur yang lebih tinggi dari pada temperatur laut seperti yang disajikan pada
Gambar 2.1. Angin ini biasa dimanfaatkan nelayan untuk pulang dari menangkap
Gambar 2.1 Angin Laut
(Sumber :www.wikipedia.org/wiki/angin, Juli 2011)
2. Angin darat
Angin darat adalah angin yang bertiup dari arah darat ke arah laut dan pada
umumnya terjadi pada malam hari. Arah ini disebabkan karena temperatur lautan
lebih tinggi dari temperatur daratan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2.
Angin ini biasa dimanfaatkan nelayan untuk berangkat mencari ikan dengan
perahu bertenaga angin sederhana.
Gambar 2.2 Angin Darat
3. Angin lembah
Angin lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke arah puncak
gunung dan terjadi pada siang hari. Gerakan ini disebabkan oleh perbedaan
temperatur antara puncak gunung dan lembah, puncak gunung lebih dahulu
menerima panas matahari sehingga tekanannya turun dan terjadi aliran udara
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Angin Lembah
(Sumber :www.wikipedia.org/wiki/angin, Juli 2011)
4. Angin gunung
Angin gunung adalah angin yang bertiup dari arah puncak gunung ke arah
lembah dan terjadi pada malam hari. Gerakan ini disebabkan lembah akan
melepaskan energi panas lebih lambat dan puncak gunung yang telah mendingin
Gambar 2.4 Angin Gunung
(Sumber :www.wikipedia.org/wiki/angin, Juli 2011)
5. Angin planetary
Angin planetary adalah udara yang bergerak karena pemanasan yang lebih
besar pada permukaan bumi dekat ekuator dari pada kutub utara dan selatan
seperti pada Gambar 2.5. Hal ini menyebabkan udara dari daerah tropis naik
melalui atmosfer ke kutub dan udara dingin dari kutub mengalir ke ekuator dekat
permukaan bumi.
2.2 Kincir Angin
Kincir angin adalah sebuah mesin yang digerakkan oleh tenaga angin
sehingga dapat menjadi bentuk energi lain. Kincir angin ini pada mulanya
dimanfaatkan oleh petani untuk menumbuk hasil pertanian, irigasi dan pengiling
gandum. Kincir angin pertama banyak ditemukan di Denmark, Belanda dan
negara-negara Eropa lainnya dan lebih dikenal dengan istilah windmill. Kincir
angin modern adalah kincir angin yang saat ini banyak digunakan untuk
membangkitkan tenaga listrik.
Berdasarkan posisi porosnya, kincir angin dibedakan menjadi dua kelompok
utama, yaitu : kincir angin poros horizontal dan kincir angin poros vertikal. Dalam
penelitian ini akan dikembangkan mengenai kincir angin poros vertikal.
2.2.1 Kincir Angin Poros Vertikal
Kincir angin poros vertikal atauVertical Axiz Wind Turbine (VAWT) adalah
salah satu jenis kincir angin yang posisi porosnya tegak lurus arah angin atau
dengan pengertian lain kincir jenis ini dapat mengkonversi tenaga angin dari
segala arah pada orientasi arah angin horizontal. Kelebihan dari kincir angin poros
vertical ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat menerima angin dari arah manapun
2. Memiliki torsi yang cukup besar walaupun putaran poros rendah
3. Mampu bekerja pada rpm rendah
4. Memiliki luasan frontal yang besar karena dalam perhitungan luasan
Dari beberapa ke
beberapa kekurangan
1. Bekerja pada kec
hanya energi angi
2. Penempatannya p
keselamatan lingkun
3. Sudu yang mampu
melawan angin
putaran poros.
4. Dari designnya be
merupakan suatu
Beberapa jenis ki
berikut :
(a)
kelebihan diatas, kincir angin poros vertical
an antara lain :
kecepatan angin rendah, sehingga energi angin
ngin kecil.
a pada ketinggian yang relatif rendah sehingga
ngkungan.
mpu menerima energi angin disebut downwind
n disebut upwind, sudu bagian ini cenderun
berat poros dan sudu yang bertumpu pada bant
tu beban tambahan.
s kincir angin poros vertical antara lain sepe
(b)
Gambar 2.6 Kincir Angin Poros Vertical (a) Savonius, (b) Darrieus, (c) Giromill (sumber:www.windturbine1.blogspot.com)
cal juga memiliki
in yang diperoleh
gga membahayakan
ind dan sudu yang
rung menghambat
bantalan (bearing)
perti Gambar 2.6
2.2.2 Kincir Angin Poros Horizontal
Kincir angin poros horizontal atau Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT)
adalah jenis kincir angin yang poros utamanya sejajar dengan tanah dan arah
poros utama sesuai dengan arah angin. Kincir jenis ini terdiri dari sebuah menara
dengan kincir berada di puncaknya, poros kincir harus dapat berputar 3600 terhadap sumbu vertical untuk menyesuaikan dengan arah datangnya angin. Pada
mulanya untuk membantu menyesuaikan dengan arah datangnya angin perlu
ditambahkan sirip pengarah dibelakang kincir, namun pada kincir angin HAWT
modern peran sirip pengarah ini digantikan oleh sensor elektrik.
Adapaun kelebihan dari kincir angin jenis HAWT antara lain :
1. Kecepatan sudu dapat lebih besar dari pada kecepatan angin, karena sudu
berputar akibat gaya angkat oleh angin.
2. Mampu mengkonversi energi angin pada kecepatan tinggi.
3. Banyak digunakan untuk menghasilkan energi listrik dalam skala besar.
4. Faktor keamanan lebih besar karena posisi kincir yang berada diatas menara.
Dari kelebihan diatas kincir jenis HAWT juga mempunyai beberapa
kekurangan antara lain :
1. Perlu adanya mekanisme lain untuk menyesuaikan arah kincir dengan arah
angin.
2. Karena putarannya tinggi maka timbul polusi suara 80-110 dB (Sumber
3. Meningkatkan kasus kematian burung karena tertabrak sudu.
4. Proses pembuatan dan pemasangan dilapangan cukup sulit.
Beberapa jenis kincir angin poros vertical antara lain : American windmill,
cretan sail windmill, Dutch four armdanRival calzoniI, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 2.7.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 2.7 Kincir Angin Poros Horizontal
(a)American windmil,(b) cretan sail windmill,(c)Dutch four arm,(d)Rival calzoni (Sumber :www.fineartamerica.com, Agustus 2011 )
2.2.3 Kincir Angin S
Kincir angin savoni
tahun 1922, ciri utam
umumnya kincir je
dibandingkan kincir
cukup besar. Pada pe
perkembangan baik da
yang rendah karena a
dimanfaatkan untuk m
sederhana dan nilai ef
pada tahun 1932-1938,
hingga 35 sampai 40
grafik hubungan Cp
memiliki design seder
Savonius
savonius ditemukan oleh Sigurd J. Savonius dari
amanya adalah berbentuk huruf S bila dilihat
jenis ini berputar dengan kecepatan lebi
ir angin poros horizontal, namun memiliki ni
perkembangannya kincir angin Savonius meng
dari ukuran, jumlah sudu terutama bentuk sudu,
ambar 2.3.
(2)
Gambar 2.8 Variasi Bentuk Sudu Kincir Savonius (1) Tipe U, (2) Tipe S, (3) Tipe L
(Sumber :www.alpensteel.com/pdf, Agustus 2011
U memiliki struktur lebih kuat karena kedu
poros kincir namun kincir Savonius tipe ini me
angin yang keluar dari sudu dibuang begitu
uk mendorong sudu lainnya. Savonius tipe S m
fisiensi cukup tinggi. Dari penelitianKansas
1938, kincir angin Savonius mampu menghasi
40 %, nilai ini melebihi koefisien daya yang te
p dan tsr pada umumnya, yaitu sebesar 31 %
derhana dan effisiensi yang cukup tinggi dari p
dari Finlandia pada
hat dari atas. Pada
ebih rendah bila
ki nilai torsi yang
engalami beberapa
tu saja tidak dapat
2.3 Rumus-Rumus Perhitungan
Dalam analisa unjuk kerja kincir angin diperlukan beberapa rumus
perhitungan, antara lain sebagai berikut.
2.3.1 Energi dan Daya Angin
Energi angin adalah energi yang dimiliki angin karena kecepatannya,
sehingga merupakan suatu bentuk energi kinetik. Maka secara umum energi
kinetik dapat dirumuskan :
= 0,5. . (1)
dengan :
Ek : energi kinetik,Joule
m : massa, kg
v : kecepatan angin, m/s
Dari Persamaan (1), diketahui daya adalah energi tiap satuan waktu (J/s)
sehingga persamaan tersebut dapat ditulis menjadi :
= 0,5. ̇. (2)
dengan :
Pa : daya yang dihasilkan angin, J/s (watt)
massa udara yang mengalir per satuan waktu adalah :
̇ = . . (3)
dengan :
ρ : massa jenis udara, kg/m3
A : luasan angin yang ditangkap kincir, m2
Dengan mensubtitusikan Persamaan (3) ke Persamaan (2), maka dapat
diperoleh rumusan daya angin :
= 0,5. ( . . ).
disederhankan menjadi :
= 0,5. . . (4)
Dalam penggunaan secara sederhana dengan mengasumsikan ρ udara : 1,2
kg/m3maka diperoleh persamaan :
= 0,6. . (5)
2.3.2 Daya Kincir Angin
Daya kincir angin adalah daya yang dihasilkan oleh poros kincir akibat daya
angin yang melintasi sudu-sudu kincir. Daya kincir angin berbeda dengan daya
angin, karena daya kincir angin dipengaruhi koefisien daya angin. Pada sebuah
didapatkan efisiensi maksimum kincir angin, yaitu sebesar 59,3 % (sumber :
www.wikipedia.org/wiki/Bet’z_law, Agustus 2011) . Angka ini disebut Betz
Limit, pada Gambar 2.9 disajikan koefisien daya beberapa kincir.
Gambar 2.9 Grafik hubungan koefisiensi daya dan tip speed ratio maksimal beberapa jenis kincir
(Sumber : Johnson, 2006, hal. 18 )
Secara teori daya kincir yang dihasilkan oleh gerak melingkar pada poros
kincir angin dapat dirumuskan :
dengan :
Pk : daya yang dihasilkan kincir angin, watt
T : torsi, Nm
ω : kecepatan sudut, rad/s
Kecepatan sudut adalah radian per second (rad/s), satuan lain yang digunakan
adalah putaran per menit (rpm). Konversi satuan yang menghubungkan (rpm) dan
(rad/s) adalah 1 rpm = 2π/60 rad/s, maka Persamaan (6) dapat dirubah menjadi :
(7)
dengan :
n : putaran poros, rpm
2.3.3 Torsi Kincir Angin
Gaya yang bekerja pada poros ditimbulkan oleh adanya gaya dorong pada
sudu-sudu kincir dikurangi dengan gaya-gaya hambat (gaya yang berlawanan
arah). Gaya dorong pada sudu ini memiliki lengan atau jarak terhadap sumbu
putaran (poros). Hasil kali kedua besaran ini disebut dengan torsi (τ). Secara teori
dapat dirumuskan :
T = r . F (8)
dengan :
T : torsi akibat putaran poros, Nm
r : jarak lengan, m
F : gaya pengimbang, N
2.3.4 Tip Speed Ratio (tsr)
Tip speed ratioadalah perbandingan antara kecepatan ujung sudu kincir angin
yang berputar melingkar dengan kecepatan angin yang melewatinya, tsr dapat
dirumuskan :
(9)
atau dapat disederhanakan :
(10)
dengan :
r : jari-jari kincir, m
n : putaran poros, rpm
v : kecepatan angin, m/s
= 2. . . 60.
2.3.5 Koefisien Daya
Koefisien daya atau power coefficient (Cp) adalah perbandingan antara daya
yang dihasilkan oleh kincir angin (Pk) dengan daya yang dihasilkan oleh angin
(Pa), sesuai dengan teori yang ada, maka dapat dirumuskan :
dengan :
Pk : daya yang dihasilkan kincir, watt
Pa : daya yang dihasilkan angin, watt
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Diagram Alir Penelitian
Langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian ini disajikan dalam diagram
sebagai berikut :
Mulai
Konsultasi & Studi Pustaka
Perancangan Kincir Angin Savonius
Pembuatan Kincir Angin Savonius
Pengambilan Data
Pengolahan Data
Pembahasan & Pelaporan
3.2 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah model-model kincir angin Savonius dua
tingkat dengan dua buah sudu dan dilengkapi pengarah pada lingkar terluar kincir
berjumlah delapan sirip, untuk variasinya yaitu pertama kincir tanpa pengarah,
kedua dengan penambahan sirip pengarah bersudut 30o dan ketiga sirip pengarah bersudut 45o.
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Proses pembuatan kincir, pengambilan data serta penelitian dimulai pada
bulan April 2011 sampai dengan Juli 2011 di Laboratorium Konversi Energi
Jurusan Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3.4 Peralatan dan Bahan
Model kincir angin Savonius yang dibuat seperti yang ditunjukkann pada
Gambar 3.2.
Keterangan :
1. Pelat batas sudu
2. Sudu kincir
3. Bilah penguat
4. Poros kincir
Gambar 3.2 Kincir angin Savonius
Kincir angin Savonius dua tingkat yang disajikan pada Gambar 3.2 memiliki
beberapa bagian pokok antara lain :
1. Pelat batas sudu
Pelat tumpuan ini berfungsi sebagai tempat meletakkan sudu seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 3.3, sudu akan menempel pada tempat yang sudah
ditentukan. Untuk menguatkan penempelan sudu dilem dan dijepit menggunakan
baut. Pelat untuk dudukkan ini berjumlah tiga buah yaitu di atas, tengah dan
bawah. Bahannya terbuat dari triplek setebal 4 mm dan diameter 60 cm. 60 cm
85 cm 90 cm
75 cm
1
2
3
4
2. Sudu kincir
Seperti pada umum
datang melintasi kinc
dengan jari-jari kelen
bawah sisi sudu dit
menguatkan bentuk l
dibaut dengan duduka
Gambar 3.3 Pelat batas sudu
umumnya, sudu kincir berfungsi untuk menang
kincir. Material yang dipakai adalah pelat seng
lengkungan 36 cm dan tinggi 42,5 cm. Pada
topang oleh bilah-bilah penguat, fungsinya
uk lengkungan sudu dan sebagai tempat yang
dudukan sudu, seperti yang terlihat pada Gambar 3.4
Gambar 3.4 Sudu kincir
60 cm
42,5 cm
ngkap angin yang
ng setebal 0,2 mm
da bagian atas dan
nya adalah untuk
g akan dilem dan
3. Poros
Poros adalah alat yang berfungsi menopang kincir saat berputar dan juga
sebagai pusat putaran kincir. Disamping fungsi-fungsi diatas poros juga berfungsi
untuk mentrasmisikan putaran kincir. Material yang dipakai adalah pipa PVC 1
inch dan panjang 120 cm, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.5.
Gambar 3.5 Poros kincir
4. Sirip-sirip pengarah
Sirip-sirip pengarah adalah komponen yang berfungsi mengarahkan aliran
angin yang melintasi kincir, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.6. Sirip-sirip
ini dapat divariasikan sudutnya, untuk pengambilan data dalam percobaan ini
sudut sirip divariasikan pada posisi 30o dan 45o. Nilai sudut 30odan 45o dihitung dengan jari-jari kincir sebagai orientasi atau sudut 0o, sedangkan arah datang angin seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.7.
Material yang digunakan untuk sirip adalah triplek setebal 4 mm, pengarah
berbentuk pelat persegi panjang dengan ukuran 10 cm × 90 cm dan dipasang pada
lingkar terluar kincir. Untuk dudukannya menggunakan material yang sama
berdiameter 90 cm.
Gambar 3.6 Sirip-sirip pengarah
Dalam pengambilan data digunakan beberapa peralatan pendukung, peralatan
tersebut antara lain :
1. Terowongan angin
Terowongan angin atauwind tunnel adalah sebuah lorong berukuran 1,2 m ×
1,2 m × 2,4 m yang berfungsi sebagai tempat dimana angin bergerak dengan
kecepatan tertentu sekaligus merupakan tempat pengujian kincir angin, seperti
ditunjukkan pada Gambar 3.8. Di dalam lorong udara tekanannya dibuat lebih
rendah dari tekanan lingkungan sekitar, tujuannya agar udara bergerak dengan
kecepatan tertentu. Kecepatan angin dapat diatur dengan cara mengatur jarak
Gambar 3.7 Jari-jari kincir sebagai garis acuan 0o
Gambar 3.8 Terowongan angin
2. Blower
Blower adalah alat yang digunakan untuk menurunkan tekanan di dalam
terowongan angin sehingga angin dapat berhembus dengan kecepatan tertentu.
Blower digerakkan oleh motor listrik berdaya 5,5 kW, sebagai transmisinya
menggunakan sabuk dan puli, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.9.
3. Takometer
Takometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur putaran poros kincir
angin sebagai data yang dibutuhkan. Jenis takometer yang digunakan adalah
digital light tachometer, prinsip kerjanya berdasarkan pantulan yang diterima
sensor dari reflektor, refrektor ini berupa alumunium foil atau benda warna yang
dapat memantulkan cahaya dan dipasang pada poros.
Gambar 3.10Tachometer
4. Anemometer
Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin
sesuai dengan data yang dibutuhkan. Anemometer diletakkan didepan terowongan
angin. Alat ini terdiri dari dua komponen utama, yaitu sensor elektrik yang
data dari sensor kemudian ditampilkan pada layar digital seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 3.11.
Gambar 3.11 Anemometer
5. Lampu pembebanan
Lampu digunakan untuk memberikan variasi pembebanan atau efek
pengereman pada poros kincir yang berputar. Lampu disusun secara paralel dan
Gambar 3.12 Rangkaian lampu pembebanan
6. Negaca pegas
Neraca pegas digunakan untuk mengukur gaya pengimbang torsi kincir angin
saat kincir berputar, seperti yang terlihat pada Gambar 3.13. Neraca pegas
dihubungkan pada lengan ayun dengan panjang lengan yang telah ditentukan.
7. Generator
Generator adalah alat yang digunakan untuk mengubah energi mekanik
putaran poros menjadi energi listrik, generator dihubungkan menggunakan sabuk
dan puli. Generator ini membangkitkan energi listrik untuk menyalakan rangkaian
lampu pembebanan dan juga berfungsi sebagai pengereman dalam pengambilan
data torsi yang dihasilkan.
Gambar 3.14 Generator
8. Kabel
Kabel digunakan sebagai penghantar arus listrik dari generator ke lampu
Gambar 3.15 Kabel
3.5 Variabel Penelitian
Beberapa variabel penelitian yang harus ditentukan terlebih dahulu sebelum
penelitian dilaksanakan adalah :
1. Variasi sirip-sirip pengarah : tanpa sirip pengarah, dengan sirip pengarah
30odan dengan sirip pengarah 45o.
2. Variasi kecepatan angin : setiap variasi sirip diikuti lima variasi kecepatan
angin
3. Variasi pembebanan : tanpa beban lampu atau dengan beban lampu.
Variabel data yang diambil dalam penelitian ini antara lain :
a. kecepatan angin (V)
b. putaran poros kincir (n)
Setelah mendapatkan data-data diatas, maka dari variabel data tersebut
parameter yang dapat dihitung untuk mendapatkan karakteristik kincir adalah :
1. Daya angin (Pa)
2. Daya kincir (Pk)
3. Torsi (t)
4. Koefisien daya (Cp)
5. Tip Speed Ratio(tsr)
3.6 Langkah-Langkah Percobaan
Pengambilan data kecepatan angin, putaran poros, torsi dinamis dan
temperatur udara dilakukan secara bersamaan. Hal pertama yang dilakukan adalah
memasang kincir angin yang akan diuji ke dalam terowongan angin. Selanjutnya
untuk pengambilan data yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Memasang neraca pegas serta pengaitnya pada tempat yang ditentukan.
2. Memasang tali pengait yang menghubungkan neraca dengan lengan
Gambar 3.16 Tali pengait
3. Memasang sensor elektrik anemometer tepat di depan terowongan angin,
serta modul digital pada tempat yang telah ditentukan (lihat Gambar 3.17).
4. Menghubungkan rangkaian lampu dengan generator menggunakan kabel
yang telah disiapkan. Sebelumnya lampu harus pada posisioff.
5. Menempatkan takometer pada posisinya (lihat Gambar 3.18).
Gambar 3.18 Posisi Takometer
6. Setelah semua peralatan siap, blower dapat diaktifkan.
7. Pengaturan kecepatan angin dilakukan dengan cara memberi celah antara
terowongan angin dan blower, perlu beberapa saat hingga angin
berhembus dengan kecepatan konstan.
8. Setelah kecepatan angin konstan pengambilan data dimulai dari
pembacaan kecepatan angin pada layar anemometer, pembacaan
temperatur udara, pengukuran putaran poros kincir dengan takometer, dan
yang terakhir pembacaan beban untuk penghitungan torsi dinamis pada
neraca pegas.
9. Langkah 1 sampai 8 diulang kembali dengan variasi kecepatan angin
3.7 Langkah Pengolahan Data
Dari data yang didapat dengan langkah-langkah diatas, maka data tersebut
diolah dengan langkah sebagai berikut :
1. Dari data kecepatan angin (v) dan dengan diketahui luasan frontal kincir
(A), maka daya angin (Pa) dapat dicari dengan Persamaan (4).
2. Data beban pegas (F) dapat digunakan untuk mencari torsi dinamis (Td)
dengan Persamaan (8).
3. Data putaran poros (n) dan torsi dinamis (Td) dapat digunakan untuk
mencari daya yang dihasilkan kincir (Pk) dengan Persamaan (7).
4. Dengan membandingkan kecepatan keliling diujung sudu dan kecepatan
angin, makatip speed ratiodapat dicari dengan Persamaan (10).
5. Dari data daya kincir (Pk) dan daya angin (Pa) maka power coefficient
BAB IV
PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Percobaan
Data hasil percobaan terdiri dari variasi kincir angin tanpa pengarah, variasi
kincir angin dengan pengarah 30o dan variasi kincir angin dengan pengarah 45o. Untuk setiap variasi percobaan dilakukan lima kali variasi kecepatan rata-rata
angin, dengan cara mengatur jarak blower terhadap terowongan angin yaitu
kurang lebih 3 cm untuk setiap perubahan posisi. Posisi 0 berarti tidak ada jarak
antara blower dan terowongan angin atau pada posisi rapat, posisi 1 berarti blower
telah dimundurkan kurang lebih 3 cm, posisi 2 berarti blower telah dimundurkan
pada jarak yang lebih jauh dari posisi 1 yaitu kurang lebih 6cm, dan begitu pula
untuk posisi 3,4 hingga 5. Untuk setiap variasi kincir angin data dianggap selesai
apabila putaran poros sudah tidak konstan dan gaya pembebanan (F) tidak
mengalami perubahan. Dari hasil percobaan didapatkan data seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 4.1 sampai Tabel 4.3.
4.2 Pengolahan Data dan Perhitungan
Contoh perhitungan yang disajikan diambil data dari Tabel 4.1 pada baris
pertama dengan kondisi kincir angin tanpa pembebanan dan jarak antara blower
dengan terowongan angin pada posisi rapat. Dari data tersebut diketahui
kecepatan angin 6,57 m/s, putaran poros kincir 290 rpm, pembebanan 460 gr dan
Tabel 4.1 Data percobaan kincir angin tanpa pengarah
6.57 290.37 460.00 29.20
2 6.55 145.20 880.00 29.27
3 6.56 88.54 910.00 29.23
4 6.65 65.09 915.00 29.13
5 6.62 58.60 925.00 29.10
6 6.61 54.84 940.00 29.20
7 6.72 55.14 960.00 29.17
8
1
6.28 247.80 440.00 29.13
9 6.36 106.83 710.00 29.33
10 6.36 71.82 750.00 29.40
11 6.27 53.09 770.00 29.37
12 6.35 48.48 775.00 29.43
13 6.31 46.98 810.00 29.70
14 6.40 43.82 815.00 29.70
15
2
5.79 191.10 390.00 30.17
16 5.74 65.20 590.00 29.83
17 5.92 47.55 640.00 30.53
18 5.80 40.27 650.00 30.10
19 5.81 39.25 655.00 30.33
20 5.92 35.92 660.00 31.00
21 5.88 34.15 665.00 30.87
22
3
5.71 192.17 375.00 31.03
23 5.71 59.96 560.00 30.77
24 5.69 43.59 585.00 30.37
25 5.65 35.25 610.00 31.17
26 5.73 33.54 615.00 31.13
27 5.70 32.79 620.00 31.06
28 5.71 32.00 630.00 30.80
29
4
5.11 144.93 375.00 31.10
30 5.17 37.13 580.00 30.93
31 5.32 32.15 510.00 31.40
32 5.23 26.12 520.00 31.33
33 5.16 26.10 540.00 31.47
34 5.16 25.50 540.00 31.43
35 5.20 25.82 540.00 31.43
36
5
4.55 118.40 360.00 29.93
37 4.61 59.84 375.00 30.10
38 4.60 45.68 400.00 29.90
39 4.61 36.60 420.00 29.80
40 4.61 32.37 430.00 29.70
41 4.64 26.17 435.00 29.70
Tabel 4.2 Data percobaan kincir angin dengan pengarah 30o
5.82 264.40 450.00 25.07
2 5.84 222.63 610.00 25.33
3 5.88 187.27 640.00 25.33
4 5.95 146.63 750.00 25.13
5 5.97 122.63 860.00 25.50
6 6.00 100.77 970.00 25.60
7 5.94 84.53 980.00 25.83
8 5.94 77.88 1050.00 25.90
9 5.97 69.96 720.00 * 26.33
10
1
5.04 200.77 390.00 26.57
11 5.12 144.90 490.00 26.57
12 5.20 127.03 540.00 26.50
13 5.29 101.03 660.00 26.33
14 5.24 82.76 700.00 26.80
15 5.23 63.67 800.00 27.00
16 5.27 55.43 850.00 27.00
17
2
4.70 148.57 380.00 27.27
18 4.84 115.30 470.00 27.30
19 4.90 104.53 500.00 27.07
20 4.76 77.91 590.00 27.27
21 4.82 60.67 650.00 27.77
22 4.91 44.79 660.00 28.10
23 4.90 39.09 700.00 28.03
24
3
4.57 111.70 360.00 28.40
25 4.61 86.30 415.00 28.23
26 4.58 77.36 470.00 28.27
27 4.66 58.13 530.00 28.23
28 4.61 45.39 570.00 28.00
29 4.60 29.82 610.00 27.97
30
4
4.22 89.76 330.00 27.87
31 4.22 68.22 410.00 27.90
32 4.27 50.57 450.00 27.83
33 4.27 38.09 475.00 27.77
34 4.26 31.44 500.00 27.77
35 4.25 27.77 515.00 27.93
36
5
3.91 65.42 300.00 27.90
37 3.88 45.85 350.00 27.83
38 3.91 35.35 380.00 27.80
39 3.95 31.22 390.00 27.77
40 3.99 23.51 420.00 27.70
41 4.00 20.78 430.00 27.73
Tabel 4.3 Data percobaan kincir angin dengan pengarah 45o
6.06 281.20 460.00 25.60
2 6.03 216.60 580.00 25.93
3 6.13 172.20 750.00 25.90
4 6.37 140.13 830.00 26.50
5 6.24 114.13 910.00 26.20
6 6.16 101.40 950.00 26.13
7 6.15 91.17 965.00 26.37
8 6.24 84.03 1010.00 26.43
9 6.22 79.79 690.00 * 26.50
10 6.26 70.83 760.00 * 26.50
11
1
5.42 208.67 410.00 26.77
12 5.35 162.50 500.00 26.70
13 5.37 116.10 590.00 26.80
14 5.46 93.54 710.00 26.90
15 5.44 81.17 770.00 27.00
16 5.43 63.99 810.00 27.00
17 5.58 52.16 850.00 27.20
18
2
4.77 156.57 390.00 27.10
19 4.91 115.47 450.00 26.90
20 4.93 88.02 540.00 27.00
21 5.01 70.29 580.00 27.00
22 5.11 58.51 660.00 27.00
23 5.16 52.21 710.00 27.20
24 5.01 41.71 730.00 27.57
25
3
4.44 119.17 370.00 27.40
26 4.58 91.32 410.00 27.40
27 4.62 66.58 500.00 27.30
28 4.55 51.47 520.00 27.40
29 4.80 46.61 570.00 27.80
30 4.54 39.84 600.00 27.60
31
4
4.11 88.56 330.00 27.70
32 4.15 67.64 390.00 27.50
33 4.17 57.81 410.00 27.70
34 4.30 50.09 430.00 27.40
35 4.40 41.45 490.00 27.70
36 4.26 34.64 525.00 27.90
37 4.15 27.39 530.00 27.80
38
5
3.88 71.17 320.00 27.70
39 3.91 49.17 355.00 27.90
40 3.95 42.67 370.00 27.60
41 3.87 35.67 410.00 27.80
42 3.91 32.00 420.00 27.80
43 3.88 24.75 430.00 27.90
44 3.91 23.20 450.00 27.80
4.2.1 Perhitungan daya angin
Untuk mengetahui daya yang dihasilkan angin dapat dicari dengan Persamaan
4 pada Sub Bab 2.3.1 yaitu :
= 0,5. . .
dengan :
Pa : daya angin, watt
ρ : massa jenis udara, kg/m3
A : luas penampang kincir angin yang dilintasi angin, m2 v : kecepatan angin, m/s
nilai massa jenis udara (ρ) diketahui dengan cara interpolasi dari tabel massa jenis
yang ada pada lampiran, dari data suhu udara 29,2oCmaka ρ = 1,17 kg/m3 besarnya luas penampang (A) diketahui dengan persamaan :
A = d . t
dengan :
d : diameter kincir angin, m
t : tinggi kincir angin, m
maka dengan diameter kincir 0,6 m dan tinggi kincir angin 0,85 m, maka daya
angin (Pa) sebesar :
Pa=0,5.ρ. d . t . v3
Pa=0,5 (1,17kg/m3) (0,6 m) (0,85 m) (6,57 m/s)3 Pa= 84,6 W
4.2.2 Perhitungan torsi
Untuk mengetahui torsi yang dihasilkan kincir angin dapat dicari dengan
Persamaan 8 pada Sub Bab 2.3.3 yaitu :
T = r . F
dengan :
T : torsi akibat putaran poros kincir, Nm
r : jarak lengan ke poros, m
F : gaya pengimbang, N
gaya pengimbang (F) dapat dicari dengan persamaan :
F = m . a
dengan :
m : massa yang ditunjukkan pada neraca pegas, kg
a : percepatan gravitasi, m/s2
maka dengan jarak lengan 0,2 m dan percepatan gravitasi sebesar 9,81 m/s2, besarnya gaya pengimbang (F) :
T = r . m . a
T= (0,2 m) (0,46 kg) (9,81 m/s2) T= 0,903 Nm
Jadi didapatkan torsi (T) sebesar 0,903 Nm.
4.2.3 Perhitungan daya kincir
Untuk menghitung daya yang dihasilkan kincir angin dapat dicari dengan
=
.
dengan :
Pk : daya yang dihasilkan kincir, watt
T : torsi kincir angin, Nm
n : putaran poros kincir, rpm
maka dengan nilai torsi 0,903 Nm dan putaran poros 290,37 rpm besarnya daya
kincir adalah :
Sehingga didapatkan daya kincir angin (Pk) sebesar 27,4 watt.
4.2.4 Perhitungantip speed ratio
Untuk mengetahui besarnya perbandingan kecepatan ujung kincir dengan
kecepatan angin atau tip speed ratiodapat dicari dengan Persamaan 10 pada Sub
Bab 2.3.4 yaitu :
=
. ..
dengan :
r : jari-jari kincir, m
maka dengan jari-jari kincir 0,3 m, putaran poros 290,37 rpm dan kecepatan angin
6,57 m/s besarnyatip speed ratioadalah :
=
. . .=
. , . ,. ,
tsr
= 1,387
Sehingga didapatkan tsr sebesar 1,387
4.2.5 Perhitungan koefisien daya (Cp)
Untuk mengetahui perbandingan antara daya yang dihasilkan oleh kincir
angin (Pk) dengan daya yang dihasilkan oleh angin (Pa), dapat dicari dengan
Persamaan 11 pada Sub Bab 2.3.5 yaitu :
= × 100 %
dengan :
Pk : daya yang dihasilkan kincir, watt
Pa : daya yang dihasilkan angin, watt
maka dengan daya kincir 27,4 watt dan daya angin 84,6 watt besarnya koefisien
daya adalah :
= × 100 %
= 27,4
84,6 × 100 %
4.3 Data Hasil Perhitungan
Dengan menggunakan langkah perhitungan seperti Sub Bab 4.2, maka untuk
hasil pengolahan dan perhitungan data yang lain disajikan dalam Tabel 4.4 sampai
Tabel 4.6.
Tabel 4.4 Data hasil perhitungan kincir angin tanpa pengarah
No Posisi Torsi
Daya Angin Daya Kincir Koefisien daya
tsr
Pa Pk Cp
Kg.cm Nm watt watt % 1
0
9.20 0.90 84.68 27.43 0.32 32.39% 1.387 2 17.60 1.73 83.89 26.24 0.31 31.28% 0.696 3 18.20 1.79 84.02 16.55 0.20 19.69% 0.424 4 18.30 1.80 87.82 12.23 0.14 13.93% 0.307 5 18.50 1.81 86.39 11.13 0.13 12.89% 0.278 6 18.80 1.84 86.23 10.59 0.12 12.28% 0.260 7 19.20 1.88 90.48 10.87 0.12 12.01% 0.258 8
1
8.80 0.86 73.85 22.39 0.30 30.32% 1.239 9 14.20 1.39 76.78 15.58 0.20 20.29% 0.527 10 15.00 1.47 76.64 11.06 0.14 14.43% 0.355 11 15.40 1.51 73.56 8.40 0.11 11.41% 0.266 12 15.50 1.52 76.15 7.72 0.10 10.13% 0.240 13 16.20 1.59 74.78 7.82 0.10 10.45% 0.234 14 16.30 1.60 77.90 7.33 0.09 9.41% 0.215 15
2
7.80 0.77 57.78 15.30 0.26 26.49% 1.036 16 11.80 1.16 56.26 7.90 0.14 14.04% 0.357 17 12.80 1.26 61.58 6.25 0.10 10.15% 0.252 18 13.00 1.28 57.99 5.38 0.09 9.27% 0.218 19 13.10 1.29 58.25 5.28 0.09 9.06% 0.212 20 13.20 1.29 61.59 4.87 0.08 7.91% 0.190 21 13.30 1.30 60.37 4.66 0.08 7.73% 0.182 22
3
7.50 0.74 55.16 14.80 0.27 26.83% 1.057 23 11.20 1.10 55.31 6.90 0.12 12.47% 0.330 24 11.70 1.15 54.61 5.24 0.10 9.59% 0.241 25 12.20 1.20 53.42 4.42 0.08 8.27% 0.196 26 12.30 1.21 55.73 4.24 0.08 7.60% 0.184 27 12.40 1.22 54.87 4.17 0.08 7.61% 0.181 28 12.60 1.24 55.21 4.14 0.07 7.50% 0.176 29
4
7.50 0.74 39.53 11.16 0.28 28.24% 0.891 30 11.60 1.14 40.96 4.42 0.11 10.80% 0.226 31 10.20 1.00 44.48 3.37 0.08 7.57% 0.190 32 10.40 1.02 42.26 2.79 0.07 6.60% 0.157 33 10.80 1.06 40.65 2.89 0.07 7.12% 0.159 34 10.80 1.06 40.65 2.83 0.07 6.96% 0.155 35 10.80 1.06 41.61 2.86 0.07 6.88% 0.156 36
5
Tabel 4.5 Data hasil perhitungan kincir angin dengan pengarah 30o
No Posisi Torsi
Daya Angin Daya Kincir Koefisien
daya
9.00 0.88 59.48 24.43 0.41 41% 1.43
2 12.20 1.20 60.25 27.89 0.46 46% 1.20
3 12.80 1.26 61.29 24.61 0.40 40% 1.00
4 15.00 1.47 63.76 22.58 0.35 35% 0.77
5 17.20 1.69 64.11 21.66 0.34 34% 0.65
6 19.40 1.90 65.06 20.07 0.31 31% 0.53
7 19.60 1.92 63.08 17.01 0.27 27% 0.45
8 21.00 2.06 63.17 16.79 0.27 27% 0.41
9 21.60 2.12 64.15 15.52 0.24 24% 0.37
10
1
7.80 0.77 38.58 16.08 0.42 42% 1.25
11 9.80 0.96 40.44 14.58 0.36 36% 0.89
12 10.80 1.06 42.22 14.09 0.33 33% 0.77
13 13.20 1.29 44.47 13.69 0.31 31% 0.60
14 14.00 1.37 43.24 11.90 0.28 28% 0.50
15 16.00 1.57 42.96 10.46 0.24 24% 0.38
16 17.00 1.67 44.04 9.67 0.22 22% 0.33
17
2
7.60 0.75 31.22 11.59 0.37 37% 0.99
18 9.40 0.92 34.09 11.13 0.33 33% 0.75
19 10.00 0.98 35.25 10.73 0.30 30% 0.67
20 11.80 1.16 32.43 9.44 0.29 29% 0.51
21 13.00 1.28 33.47 8.10 0.24 24% 0.40
22 13.20 1.29 35.49 6.07 0.17 17% 0.29
23 14.00 1.37 35.28 5.62 0.16 16% 0.25
24
3
7.20 0.71 28.53 8.26 0.29 29% 0.77
25 8.30 0.81 29.37 7.35 0.25 25% 0.59
26 9.40 0.92 28.67 7.47 0.26 26% 0.53
27 10.60 1.04 30.20 6.33 0.21 21% 0.39
28 11.40 1.12 29.39 5.31 0.18 18% 0.31
29 12.20 1.20 29.14 3.74 0.13 13% 0.20
30
4
6.60 0.65 22.45 6.08 0.27 27% 0.67
31 8.20 0.80 22.45 5.74 0.26 26% 0.51
32 9.00 0.88 23.26 4.67 0.20 20% 0.37
33 9.50 0.93 23.27 3.72 0.16 16% 0.28
34 10.00 0.98 23.16 3.23 0.14 14% 0.23
35 10.30 1.01 23.04 2.94 0.13 13% 0.20
36
5
6.00 0.59 17.90 4.03 0.23 23% 0.53
37 7.00 0.69 17.54 3.30 0.19 19% 0.37
38 7.60 0.75 17.90 2.76 0.15 15% 0.28
39 7.80 0.77 18.41 2.50 0.14 14% 0.25
40 8.40 0.82 19.03 2.03 0.11 11% 0.19
Tabel 4.6 Data hasil perhitungan kincir angin dengan pengarah 45o
No Posisi Torsi
Daya Angin Daya Kincir Koefisien daya tsr
Pa Pk Cp
Kg.cm Nm watt watt % 1
0
9.20 0.90 67.03 26.56 0.40 40% 1.46 2 11.60 1.14 66.19 25.80 0.39 39% 1.13 3 15.00 1.47 69.54 26.52 0.38 38% 0.88 4 16.60 1.63 77.63 23.89 0.31 31% 0.69 5 18.20 1.79 73.04 21.33 0.29 29% 0.57 6 19.00 1.86 70.28 19.78 0.28 28% 0.52 7 19.30 1.89 69.89 18.07 0.26 26% 0.47 8 20.20 1.98 73.10 17.43 0.24 24% 0.42 9 20.70 1.35 72.27 11.31 0.16 16% 0.40 10 22.80 2.24 73.68 16.58 0.23 23% 0.36 11
1
8.20 0.80 47.85 17.57 0.37 37% 1.21 12 10.00 0.98 46.12 16.69 0.36 36% 0.95 13 11.80 1.16 46.45 14.07 0.30 30% 0.68 14 14.20 1.39 48.81 13.64 0.28 28% 0.54 15 15.40 1.51 48.44 12.83 0.26 26% 0.47 16 16.20 1.59 48.17 10.64 0.22 22% 0.37 17 17.00 1.67 52.14 9.10 0.17 17% 0.29 18
2
7.80 0.77 32.48 12.54 0.39 39% 1.03 19 9.00 0.88 35.49 10.67 0.30 30% 0.74 20 10.80 1.06 35.91 9.76 0.27 27% 0.56 21 11.60 1.14 37.69 8.37 0.22 22% 0.44 22 13.20 1.29 39.99 7.93 0.20 20% 0.36 23 14.20 1.39 41.31 7.61 0.18 18% 0.32 24 14.60 1.43 37.69 6.25 0.17 17% 0.26 25
3
7.40 0.73 26.31 9.05 0.34 34% 0.84 26 8.20 0.80 28.81 7.69 0.27 27% 0.63 27 10.00 0.98 29.52 6.84 0.23 23% 0.45 28 10.40 1.02 28.25 5.50 0.19 19% 0.36 29 11.40 1.12 33.19 5.46 0.16 16% 0.30 30 12.00 1.18 28.05 4.91 0.18 18% 0.28 31
4
6.60 0.65 20.80 6.00 0.29 29% 0.68 32 7.80 0.77 21.38 5.42 0.25 25% 0.51 33 8.20 0.80 21.67 4.87 0.22 22% 0.44 34 8.60 0.84 23.85 4.42 0.19 19% 0.37 35 9.80 0.96 25.58 4.17 0.16 16% 0.30 36 10.50 1.03 23.20 3.73 0.16 16% 0.26 37 10.60 1.04 21.41 2.98 0.14 14% 0.21 38
5
4.4 Grafik Hasil Perhitungan
Dari data hasil penelitian dan perhitungan, maka dapat dibuat beberapa grafik
hubungan antara torsi dan daya kincir, torsi dan putaran poros, serta Cp dan tsr
untuk setiap variasi.
4.4.1 Grafik untuk variasi kincir tanpa pengarah
a. Grafik Hubungan Putaran Poros dan Torsi
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.4 maka dapat
dibuat grafik hubungan putaran poros (rpm) dan torsi yang dihasilkan kincir angin
untuk variasi kincir angin tanpa pengarah, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
4.1. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa besarnya putaran poros berbanding
terbalik dengan torsi yang dihasilkan dan garis yang dibentuk berupa garis lurus
karena merupakan persamaan linier.
Gambar 4.1 Grafik hubungan putaran poros dan torsi
b. Grafik Hubungan Daya Kincir dan Torsi
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.4 maka dapat
dibuat grafik hubungan daya kincir dan torsi yang dihasilkan kincir angin untuk
variasi kincir angin tanpa pengarah, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.2.
Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa hubungan torsi dengan daya kincir
membentuk suatu kurva polinomial karena persamaannya berupa persamaan
kuadrat.
Gambar 4.2 Grafik hubungan daya kincir dan torsi untuk variasi kincir tanpa pengarah
c. Grafik Hubungan Cpdan tsr
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.4 maka dapat
dibuat grafik hubungan C (power coefficient) dan tsr (tip speed ratio) yang
dihasilkan kincir angin untuk variasi kincir angin tanpa pengarah, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 4.3. Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa
hubungan koefisien daya dengan tsr membentuk suatu kurva polinomial yang
mencapai puncak pada tsr 1,2 dan koefisien daya 0,31.
Gambar 4.3 Grafik hubungan Cpdan tsr
untuk variasi kincir tanpa pengarah
4.4.2 Grafik untuk variasi kincir dengan pengarah 30o
a. Grafik Hubungan Putaran Poros dan Torsi
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.5 maka dapat
dibuat grafik hubungan putaran poros (rpm) dan torsi yang dihasilkan kincir angin
untuk variasi kincir angin dengan sirip-sirip pengarah bersudut 30o, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.4. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada
kecepatan angin 5,92 m/s kincir angin menghasilkan putaran poros kurang lebih
260 rpm dan menghasilkan torsi sebesar 9 kg.cm atau 0.88 Nm, dari grafik
tersebut juga dapat diketahui bahwa rpm berbanding terbalik dengan torsi yang
dihasilkan.
Gambar 4.4 Grafik hubungan putaran poros dan torsi untuk variasi kincir dengan pengarah 30o
b. Grafik Hubungan Daya Kincir dan Torsi
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.5 maka dapat
dibuat grafik hubungan daya kincir dan torsi yang dihasilkan kincir angin untuk
variasi kincir angin dengan sirip-sirip pengarah bersudut 30o, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada
kecepatan angin 5,92 m/s kincir angin menghasilkan torsi sebesar 9 kg.cm atau
0.88 Nm dan menghasilkan daya kincir sebesar 24 watt.
Gambar 4.5 Grafik hubungan daya kincir dan torsi untuk variasi kincir dengan pengarah 30o
c. Grafik Hubungan Cpdan tsr
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.5 maka dapat
dibuat grafik hubungan Cp (power coefficient) dan tsr (tip speed ratio) yang
dihasilkan kincir angin untuk variasi kincir angin dengan pengarah 30o, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa
pada koefisien daya 0,47 dihasilkan perbandingan kecepatan di ujung sudu kincir
angin dengan kecepatan angin kurang lebih 1,2.
4.4.3 Grafik untuk
a. Grafik Hubungan
Berdasarkan hasi
dibuat grafik hubunga
untuk variasi kincir a
ditunjukkan pada Gam
kecepatan angin 6,18
280 rpm dan mengha
tersebut juga dapat di
0.00
Gambar 4.6 Grafik hubungan Cpdan tsr
untuk variasi kincir dengan pengarah 30o
uk variasi kincir dengan pengarah 45o
gan Putaran Poros dan Torsi
hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel
gan putaran poros (rpm) dan torsi yang dihasilka
r angin dengan sirip-sirip pengarah bersudut 45
ambar 4.7. Dari gambar tersebut dapat diketa
6,18 m/s kincir angin menghasilkan putaran por
ghasilkan torsi sebesar 9,2 kg.cm atau 0,9 N
t diketahui bahwa rpm berbanding terbalik de
0.4 0.6 0.8 1.0 1.2
tsr
bel 4.6 maka dapat
Gambar 4.7 Grafik hubungan putaran poros dan torsi untuk variasi kincir dengan pengarah 45o
b. Grafik Hubungan Daya Kincir dan Torsi
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.6 maka dapat
dibuat grafik hubungan daya kincir dan torsi yang dihasilkan kincir angin untuk
variasi kincir angin dengan sirip-sirip pengarah bersudut 45o, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.8. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada
kecepatan angin 6,18 m/s kincir angin menghasilkan torsi sebesar 9,2 kg.cm atau
0.9 Nm dan menghasilkan daya kincir sebesar 26,5 watt.
Gambar 4.8 Grafik hubungan daya kincir dan torsi untuk variasi kincir dengan pengarah 45o
c. Grafik Hubungan Cpdan tsr
Berdasarkan hasil perhitungan yang ditampilkan pada Tabel 4.6 maka dapat
dibuat grafik hubungan Cp (power coefficient) dan tsr (tip speed ratio) yang
dihasilkan kincir angin untuk variasi kincir angin dengan pengarah 45o, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.9. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa
pada koefisien daya 0,40 dihasilkan perbandingan kecepatan di ujung sudu kincir
angin dengan kecepatan angin kurang lebih 1,46.
Gambar 4.9 Grafik hubungan Cpdan tsr
untuk variasi kincir dengan pengarah 45o
Dari data ketiga variasi kincir angin tersebut didapatkan grafik perbandingan
unjuk kerja unjuk ketiga variasi seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.10.
0.00
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60
4.5 Pembahasan
Dalam penelitian ini telah berhasil membuat model kincir angin Savonius dua
sudu dengan memvariasikan sirip-sirip pengarah. Penggunaan sirip-sirip pengarah
ini diharapkan mampu meningkatkan unjuk kerja kincir. Seperti telah diketahui
sebelumnya bahwa kincir angin berfungsi mengkonversi energi kinetik dari angin.
Sudu-sudu kincir mengubah energi tersebut menjadi energi mekanik yang dapat
digunakan untuk berbagai keperluan, seperti dihubungkan dengan pompa garam
untuk mengisi tambak petani garam, dihubungkan dengan generator untuk
menghasilkan energi listrik dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Untuk memperoleh data torsi kincir angin diberikan variasi pembebanan.
Pembebanan ini bertujuan untuk memberiakan efek pengereman pada poros
kincir, beban yang diberiakan mempunyai arah yang berlawanan dengan arah
putaran poros sehingga gaya yang berlawanan arah inilah yang menjadi data torsi
pada kincir angin.
Dari hasil penelitian dengan memvariasikan ketiga jenis kincir angin yaitu
variasi kincir angin tanpa pengarah, kincir angin dengan sirip-sirip pengarah
bersudut 30o dan terakhir kincir angin dengan sirip-sirip pengarah bersudut 45o. Dapat dilihat pengaruh sirip terhadap unjuk kerjanya, yaitu kincir angin tanpa
pengarah dengan koefisien daya sebesar 32,4 % pada kecepatan angin 6,57 m/s,
sebuah kincir yang cukup signifikan yaitu dari kincir tanpa pengarah dengan
koefisien daya 32,4 % meningkat koefisien dayanya menjadi 46 % dengan variasi
sirip-sirip pengarah 30o.
Pengaruh sirip-sirip pengarah ini adalah untuk mengarahkan angin masuk
pada sisi up wind dan mengurangi angin yang menabrak sudu down wind karena
akan mengurangi energi yang dikonversikan. Koefisien daya terbesar dihasilkan
oleh kincir dengan sirip pengarah 30o, karena jumlah angin dapat masuk ke sudu up wind lebih banyak dari pada jumlah angin yang masuk ke sudu down wind.
Pada kincir dengan sirip-sirip pengarah 45okoefisien daya yang dihasilkan belum cukup maksimal karena jumlah angin yang diarahkan tidak sebanyak kincir angin
berpengarah 30o, artinya masih ada gaya dorong angin yang menghambat pada sudu down wind, namun bila dibandingkan dengan kincir tanpa pengarah hasil
koefisien yang dihasilkan sudah menunjukkan peningkatan.
Dari grafik Betz Limit diketahui bahwa koefisien daya kincir angin Savonius
tertinggi adalah sebesar 31 %, namun pada penelitian ini data yang diperoleh
menunjukkan koefisien daya sebesar 46 % hal ini dimungkinkan karena adanya
penambahan variasi sirip-sirip pengarah dan penambahan bagian over lap yang
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari pengujian model kincir angin Savonius yang telah dilakukan, maka
dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Telah dapat dibuat model kincir angin Savonius dengan memvariasikan
sirip-sirip pengarah.
2. Pengunaan sirip-sirip pengarah terbukti mampu meningkatkan unjuk kerja
kincir angin.
3. Koefisien daya maksimal yang dihasilkan model kincir angin Savonius tanpa
pengarah adalah sebesar 32,39 % dengan nilai tsr 1,38. Koefisien daya
maksimal yang dihasilkan model kincir angin Savonius dengan pengarah 30o adalah sebesar 46 % dengan nilai tsr 1,2. Koefisien daya maksimal yang
5.2 Saran
Setelah dilakukan penelitian ini ada beberapa hal dapat menjadi saran untuk
penelitian selanjutnya antara lain :
1. Perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut dengan variasi sirip-sirip
pengarah yang lebih lebar.
2. Kepresisian dalam pembuatan kincir angin perlu diperhatikan untuk
DAFTAR PUSTAKA
Buku Putih Bidang Energi. 2006. Kementrian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses : 19 Juli 2011.
Burton, T., David Sharpe. 2001. Wind Energi Handbook. England. Diakses : 4 Agustus 2011.www.wiley.com
Johnson, G.L. 2006.Wind Energy System. Manhattan. Diakses : 12 Agustus 2011.
Johnson, G.L. 1997. The Search for A New Energy Source. Manhattan. Diakses : 12 Agustus [email protected]
Pudjanarsa, Astu., Djati Nursuhud. 2008. Mesin Konversi Energi. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.
www.engineeringtoolbox.com. Oktober 2011
www.jurnalinsinyurmesin.com. September 2011.
www.wikipedia.org/wiki/kincir_angin. September 2011
Lampiran 1. Tabel Sifat Udara