Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

PUTUSAN Nomor 08 K/TUN/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa perkara Tata Usaha Negara dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

NANO KARSONO, kewarganegaraan Indonesia, bertempat tinggal di Jalan Belut Waena, RT.02/RW 02, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Jayapura, pekerjaan Swasta, dalam hal ini memberi kuasa kepada:

1. B. Wahyu Herman Wibowo, S.H.; 2. Sharon W Fakdawer, S.H.,

Masing-masing berkewarganegaraan Indonesia, pekerjaan Advokat/Penasihat Hukum pada Kantor Advokat/Penasihat Hukum B. Wahyu H. Wibowo, S.H., dan Rekan, beralamat di Jalan Ondikleo 18, Perumnas I Waena, Distrik Heram, Jayapura, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 September 2016;

Pemohon Kasasi dahulu Pembanding/Penggugat;

melawan:

I. REKTOR UNIVERSITAS CENDERAWASIH, tempat kedudukan Jalan Raya Sentani Abepura, Kota Jayapura, dalam hal ini memberi kuasa kepada:

1. Rehabeam Mofu, S.H, M.H.; 2. Victor Th. Manengkey, S.H, M.H.; 3. Decky D.A. Wospakrik, S.H, M.H.;

Masing-masing berkewarganegaraan Indonesia, pekerjaan Pegawai Negeri Sipil sebagai Staf Dosen pada Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, beralamat di Kampus Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, Waena, Jayapura, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 2133/UN20/HK/2015, tanggal 14 Desember 2015;

II. OVIANINGSIH, S. Sos, Kewarganegaraan Indonesia, beralamat di Jalan Belut Waena, RT 002 RW 002, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, pekerjaan Pegawai Negeri Sipil;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Termohon Kasasi I, II dahulu Terbanding/Tergugat, Terbanding/ Tergugat II Intervensi;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Pembanding/Penggugat telah menggugat sekarang Termohon Kasasi I dahulu sebagai Terbanding/Tergugat, dan Termohon Kasasi II dahulu sebagai Terbanding/Tergugat II Intervensi di muka persidangan Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura, pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

Menimbang, bahwa yang menjadi objek sengketa dalam gugatana quo

adalah Keputusan Penolakan (Fiktif Negatif) atau sikap diam Tergugat yang tidak menerbitkan atau memproses lebih lanjut Surat Permohonan Penggugat dengan 15/SKL/WHY/IV/2015 Perihal Mohon diproses sesuai aturan yang berlaku tertanggal 30 April 2015;

Adapun hal-hal yang menjadi alasan Hukum maupun dasar-dasar Gugatan Penggugat untuk mengajukan Gugatan ini adalah sebagai berikut:

OBJEK GUGATAN

Bahwa yang menjadi objek gugatan adalah Keputusan Penolakan (Fiktif Negatif) atau sikap diam Tergugat yang tidak menerbitkan atau memproses lebih lanjut Surat Permohonan Penggugat dengan Nomor 15/SKL/WHY/IV/2015 Perihal Mohon diproses seusai aturan yang berlaku, surat tertanggal 30 April 2015;

Bahwa objek gugatan dalam perkara ini telah sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

TENGGANG WAKTU

Bahwa Tergugat mengetahui adanya Objek Gugatan yang dimohonkan oleh Penggugat pada tanggal 30 April 2015 berdasarkan tanda terima surat yang diterima dan ditanda tangani oleh salah satu pegawai dari Tergugat pada tanggal 6 Mei 2015 dengan demikian waktu mengajukan gugatan ini telah memenuhi persyaratan tenggang waktu seperti yang disebutkan dalam Pasal 3 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

DASAR GUGATAN

1. Bahwa Penggugat mendapat panggilan resmi dari Pengadilan Agama Jayapura untuk menghadiri persidangan tertanggal 3 Juni 2014 di

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Pengadilan Agama dalam Gugatan Cerai yang diajukan oleh Ovianingsih, S.Sos adalah salah satu Pegawai Negeri Sipil pada kantor Tergugat di mana Penggugat adalah suami sah dari Ovianingsih, S.Sos telah menikah pada tanggal 13 Mei 1996 di Abepura dan telah dicatatkan pada Kantor Urusan Agama (KUA) Abepura dengan kutipan Akta Nikah Nomor 35/18/V/1996, pada persidangan resmi di Pengadilan Agama dengan nomor register 134/Pdt.G/2014/PA-Jpr telah diajukan Surat Pernyataan tanggal 12 Mei 2014 yang dibuat dan ditandatangani oleh Ovianingsih, S.Sos.;

2. Bahwa Surat Pernyataan tanggal 12 Mei 2014 yang dibuat dan ditandatangani oleh Ovianingsih, S.Sos dijadikan dasar oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama untuk melanjutkan proses gugatan perceraian dengan register Nomor 134/Pdt.G/2014/PA-Jpr, karena Tergugat telah mengeluarkan surat resmi menjawab permintaan izin bercerai dari Ovianingsih, S.Sos tidak dikabulkan berdasarkan surat dengan Nomor 1135/UN20.3.1/KP/2014 tanggal 17 April 2014;

3. Bahwa berdasarkan putusan Nomor 134/Pdt.G/2014/PA-Jpr pada pertimbangan hukum halaman 28 disebutkan antara lain: “… Penggugat (Ovianingsih, S.Sos) di persidangan tanggal 1 Juli 2014 secara lisan telah menyatakan siap menanggung risiko yang mungkin timbul akibat perceraian dan disusul dengan menyerahkan surat pernyataan tanggal 12 Mei 2014 pada persidangan tanggal 19 Agustus 2014 yang isinya siap menerima konsekuensi yang timbul akibat perceraian ini, sehingga bila terjadi pelanggaran atas perceraian yang dilakukan oleh Penggugat, maka sebagai

akibat hukumnya/sanksinya dipertanggung jawabkan sendiri oleh

Penggugat dihadapan pejabat/instansinya … dan seterusnya”;

4. Bahwa perkara gugatan perceraian antara Penggugat dan Ovianingsih, S.Sos yang telah diputuskan di Pengadilan Tinggi Agama dan perkara tersebut saat ini sedang diproses di Mahkamah Agung RI;

5. Bahwa Penggugat telah mengirimkan surat secara resmi kepada Tergugat yang dalam perkara ini menjadi objek gugatan dan diterima oleh salah satu pegawai Tergugat pada tanggal 6 Mei 2015 dan surat objek gugatan juga dikirimkan kepada Pembantu Rektor I Uncen, Pembantu Rektor II Uncen, Pembantu Rektor III Uncen, Kepala BAUK Uncen;

6. Bahwa Penggugat secara khusus telah mengirim surat kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dikirim melalui pos tercatat pada tanggal 5 Mei 2015 dan Penggugat melalui Kuasa Hukum telah menerima surat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Tinggi dengan Nomor 2868/E1.3/KP/2015 tertanggal 26 Mei 2015 dengan isi surat antara lain pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi meminta klarifikasi dari Tergugat terhadap kebenaran pengaduan tersebut, sekaligus mengambil langkah langkah penyelesaian sesuai ketentuan. Bahwa surat yang telah diterima oleh Penggugat ternyata tidak diberikan reaksi apapun oleh Tergugat atas surat Nomor 2868/E1.3/KP/2015 tertanggal 26 Mei 2015; 7. Bahwa Penggugat telah menunggu sekian lama ternyata Tergugat tidak memproses surat objek gugatan, karena pegawai bernama Ovianingsih, S.Sos secara tegas membuat surat pernyataan tertanggal 12 Mei 2014 pada persidangan gugatan perceraian dalam perkara Nomor 134/Pdt.G/2014/PA-Jpr dan ternyata Tergugat tidak mengambil tindakan sanksi hukum telah terjadi pelanggaran salah satu pegawai Tergugat yang bernama Ovianingsih, S.Sos terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain:

a. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Pasal 3 ayat (1) berbunyi: “Pegawai Negeri Sipil yang akan melakukan perceraian wajib memperoleh izin atau surat keterangan lebih dahulu dari Pejabat”. b. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Pasal 15 ayat (1)

berbunyi: “Pegawai Negeri Sipil yang melanggar salah satu atau lebih kewajiban/ketentuan Pasal 2 ayat (1) ayat (2), Pasal 3 ayat (1) Pasal 4 ayat (1) Pasal 14 tidak melaporkan perceraiannya dalam jangka waktu selambat lambatnya satu bulan terhitung mulai terjadinya perceraian dan tidak melaporkan perkawinannya yang kedua/ketiga/keempat dalam waktu selambat lambatnya satu tahun terhitung sejak perkawinan tersebut dilangsungkan, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil”.

c. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri pada Bab III tentang Hukuman Disiplin Pasal 6 ayat (4) adalah Jenis Hukuman Disiplin Berat terdiri dari:

a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun

b. Pembebasan dari jabatan

c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai pegawai negeri sipil dan

d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

d. Surat Edaran BAKN/SE/1990 Bab IV tentang SANKSI Nomor 1 menyebutkan: “Pegawai Negeri Sipil dan atau atasan/pejabat, kecuali pegawai bulanan disamping pensiun, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil apabila melakukan salah satu atau lebih perbuatan sebagai berikut:

a. Melakukan perceraian tanpa memperoleh izin bagi yang berkedudukan sebagai Penggugat atau tanpa surat keterangan bagi yang berkedudukan sebagai Tergugat, terlebih dahulu dari Pejabat;

8. Bahwa dengan adanya surat permohonan yang menjadi objek gugatan dalam perkara ini sebenarnya Tergugat sudah seharusnya melakukan tindakan penegakan hukum sesuai dengan peraturan tersebut di atas akan tetapi Tergugat tidak mengambil sikap atas permohonan yang telah disampaikan seperti dalam surat objek gugatan.

9. Bahwa Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat 2 huruf (a) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, dan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat 2 huruf (b) Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;

Bahwa dengan tidak mengeluarkan/menerbitkan surat keputusan sesuai dengan permintaan yang telah Penggugat mohonkan dalam surat objek gugatan maka Tergugat nyata-nyata telah bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik:

a. Melanggar LaranganDe’tournement de pouvoir;

Bahwa Tergugat dengan tidak melakukan proses hukum terhadap Ovianingsih, S.Sos yang secara nyata telah melanggar peraturan dan Tergugat tidak melakukan proses terhadap objek gugatan maka Tergugat telah melanggar LaranganDe’tournement de pouvoir.

b. Menyimpang dari nalar sehat/melanggar larangan Willekeur;

Pertimbangan Tergugat yang dilakukan menurut nalar tidak mungkin dipertahankan, seharusnya Tergugat mengambil keputusan dengan memproses Ovianingsih, S.Sos sesuai dengan aturan yang berlaku, karena Tergugat tidak melakukan langkah langkah hukum sesuai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

dengan aturan yang berlaku itu sama dengan perbuatan sewenang wenang (bersifatwillekeur).

c. Asas Kecermatan Formal;

Asas Kecermatan Formal adalah instansi mengeluarkan keputusan harus mempelajari dan meneliti kebenaran dari semua pendapat pihak pihak yang berkepentingan, diperlukan mendengarkan keterangan pihak pihak yang berkepentingan dan semua fakta harus ikut dipertimbangkan dalam keputusan yang dikeluarkan. Bahwa ternyata Tergugat tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan melakukan proses hukum terhadap Ovianingsih, S.Sos sementara bukti dan pernyataan langsung dari yang bersangkutan siap untuk menerima sanksi dari Tergugat apabila melanjutkan persidangan perceraian dikarenakan Tergugat tidak memberikan izin bercerai.

d. AsasFair Play;

Asas Fair Play adalah bahwa Tergugat sebagai instansi yang akan

mengeluarkan keputusan harus bersikap tidak akan menghalang halangi kesempatan seseorang yang berkepentingan untuk memperoleh sesuatu keputusan yang akan menguntungkan baginya. Bahwa dengan adanya surat pernyataan dari Ovianingsih, S.Sos yang secara nyata dan tegas bersedia menerima sanksi dari Tergugat apabila melanjutkan proses perceraian di Pengadilan Agama tanpa adanya izin dari Tergugat, seharusnya Tergugat bersikap Fair Play untuk melayani permintaan dari Ovianingsih, S.Sos untuk diberikan sanksi dan jelas serta tegas bahwa sanksi yang diberikan adalah penghentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri, untuk menjaga asas Fair Play maka Tergugat wajib melaksanakan isi dari peraturan yang berlaku. e. Asas Pertimbangan;

Bahwa Tergugat dalam memberikan keputusan tidak memberikan pertimbangan yang memadai di mana Tergugat tidak memperhatikan bahwa Surat Pernyataan dari Ovianingsih, S.Sos yang diberikan kepada Majelis Hakim dalam perkara Nomor 134/Pdt.G/2014/PA-Jpr merupakan perlawanan terbuka dari Ovianingsih, S.Sos terhadap aturan baku dan perlawanan terhadap Tergugat sebagai instansi di mana Ovianingsih, S.Sos bekerja sebagai PNS.

f. Asas Kepastian Hukum;

Dengan tidak diterbitnya Surat Keputusan pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dan telah ada dasar hukum yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Penggugat sebutkan di atas sebagai dasar aturan hukum di samping adanya peraturan lain tentang kepegawaian maka Tergugat telah melanggar kepastian hukum.

g. Asas Kepercayaan atau asas harapan harapan yang telah ditimbulkan; Bahwa Penggugat menaruh kepercayaan bahwa dengan dilakukan proses hukum sesuai dengan surat Penggugat yang menjadi objek gugatan dalam perkara ini akan menimbulkan kepercayaan dan harapan bahwa Tergugat akan menerbitkan Surat Keputusan pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atas nama Ovianingsih, S.Sos;

h. Asas Persamaan;

Bahwa dengan dilakukan pengujian hukum atas penilaian Tergugat terhadap keberadaan surat objek gugatan yang dikirimkan oleh Penggugat maka status Penggugat sebagai warga negara Indonesia yang memiliki hak hak yang sama dengan warga negara lainnya maka saat ini untuk dilayani dalam permohonan yang telah diajukan kepada Tergugat dan hal ini juga untuk pembelajaran kepada pegawai lainnya bahwa terhadap pelanggaran yang dilakukan maka sanksi hukum harus diterapkan;

i. Asas Keseimbangan;

Bahwa Tergugat dituntut untuk menjalankan asas keseimbangan dengan baik dan benar di mana proses hukum terhadap Ovianingsih, S.Sos wajib dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku maka Tergugat sebagai Badan Hukum Publik yang tidak memiliki kepentingan pribadi seharusnya memberikan kesempatan yang sama dan seimbang seperti pada saat Tergugat secara tegas menolak memberikan izin perceraian yang dimohonkan oleh Ovianingsih, S.Sos. Bahwa asas keseimbangan ini akan berjalan dengan baik apabila Tergugat memulainya dengan menjawab secara jujur dan terbuka atas surat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan Nomor 2868/E1.3/KP/2015 tertanggal 26 Mei 2015 dengan isi surat antara lain pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi meminta klarifikasi dari Tergugat terhadap kebenaran pengaduan tersebut, sekaligus mengambil langkah-langkah penyelesaian sesuai ketentuan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Bahwa berdasarkan hal-hal sebagaimana dikemukakan di atas, Penggugat mohon kepada Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura, untuk memberikan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan Keputusan Penolakan (Fiktif Negatif) atau sikap diam Tergugat yang tidak menerbitkan atau memproses surat Nomor 15/SKL/WHY/IV/2015 perihal mohon diproses sesuai aturan yang berlaku, tertanggal 30 April 2015 adalah perbuatan melawan hukum;

3. Mewajibkan kepada Tergugat untuk memproses pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atas nama Ovianingsih, S.Sos sesuai perundang-undangan yang berlaku;

4. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam Sengketa Tata Usaha Negara ini;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura telah mengambil putusan, yaitu Putusan Nomor 27/G/2015/PTUN-JPR., tanggal 10 Maret 2016, yang amarnya sebagai berikut:

MENGADILI 1. Menyatakan gugatan Penggugat tidak diterima;

2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp392.000,00 (tiga ratus sembilan puluh dua ribu Rupiah);

Menimbang, bahwa dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat, putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura tersebut telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar dengan Putusan Nomor 66/B/2016/PT.TUN.MKS., tanggal 08 Agustus 2016;

Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada Pembanding/Penggugat pada tanggal 05 September 2016 dan diterima pada tanggal 06 September 2016, kemudian terhadapnya oleh Pembanding/Penggugat dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 September 2016, diajukan permohonan kasasi secara lisan pada tanggal 19 September 2016, sebagaimana ternyata dalam Akta Permohonan Kasasi Nomor 27/G/2015/PTUN.JPR, yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura. Permohonan tersebut diikuti dengan Memori Kasasi dari Pemohon Kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura tersebut pada tanggal 03 Oktober 2016;

Bahwa setelah itu, Termohon Kasasi I dan Termohon Kasasi II pada tanggal 04 Oktober 2016 telah diberitahu tentang Memori Kasasi dari Pemohon

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Kasasi, selanjutnya Termohon Kasasi I mengajukan Jawaban Memori Kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura tersebut pada tanggal 17 Oktober 2016, sedangkan Termohon Kasasi II tidak mengajukan Jawaban Memori Kasasi;

Menimbang, bahwa permohonan kasasia quobeserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, maka secara formal dapat diterima;

ALASAN-ALASAN KASASI

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam Memori Kasasi pada pokoknya sebagai berikut:

1. Putusan Judex Factitidak menerapkan hukum sebagaimana mestinya atau melanggar hukum yang berlaku.

1. Bahwa Majelis Hakim tingkat banding telah salah dalam mempertimbangkan hukum seperti yang tertuang pada halaman 5 yang tertulis sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa Majelis hakim tingkat pertama telah

mempertimbangkan perkara Nomor 27/G/2015/PTUN-Jpr tanggal 10 Maret 2016 dengan pertimbangan pada pokoknya menyatakan gugatan Penggugat/Pembanding tidak diterima, bahwa Majelis Hakim Tingkat Banding sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama tersebut utamanya tentang pertimbangan bahwa Tergugat tidak mengambil tindakan hukum atau tindakan mengeluarkan Surat Keputusan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Kepada Tergugat II Intervensi (Ovianingsih, S.Sos) pada Kantor Universitas Cenderawasih, oleh karenanya Tergugat/Terbanding masih menunggu dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Jayapura dalam hal ini menunggu putusan perceraian pemeriksaan tingkat kasasi di Mahkamah Agung yang mana surat ijin perceraian pemeriksaan tingkat kasasi di Mahkamah Agung yang mana surat ijin perceraian berlaku hanya untuk

Tergugat II intervensi/Terbanding dengan demikian

Penggugat/Pembanding tidak mempunyai kepentingan dengan objek

sengketa a quo, sehingga Penggugat/Pembanding tidak cukup

membuktikan adanya hubungan kausal antara Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat dengan kerugian/kepentingannya”

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Pertimbangan hukum tersebut di atas dapat dianalisa dan ditanggapi sebagai berikut:

1. Bahwa Majelis Hakim tingkat Banding telah salah dalam memberikan pertimbangan hukum dan telah melanggar hukum acara.

2. Bahwa Pemohon Kasasi dalam perkara ini sangat jelas memiliki kepentingan dengan objek sengketa karena telah dibuktikan dan telah diketahui oleh Majelis Hakim tingkat pertama dan tingkat banding bahwa Pemohon Kasasi memiliki hubungan hukum sebagai suami istri yang sah dengan Termohon Kasasi II.

3. Bahwa Pemohon Kasasi telah membuktikan adanya surat nikah antara Penggugat dan Tergugat II Intervensi dengan bukti surat P-15 sebagai bukti bahwa telah terjadi hubungan hukum dan berakibat adanya kepentingan langsung yang sangat dirugikan pada Pemohon Kasasi.

4. Bahwa hubungan hukum sebagai suami istri yang sah telah dibuktikan dengan adanya upaya dari Termohon Kasasi dengan mengajukan gugatan perceraian di Pengadilan Agama dengan nomor register 134/Pdt.G/2014/PA-Jpr di mana Termohon Kasasi II menggugat cerai Pemohon Kasasi dan upaya Pemohon Kasasi adalah bertahan untuk tidak sampai terjadi perceraian.

5. Bahwa dengan adanya gugatan perceraian membuktikan ada korelasi antara Pemohon Kasasi dengan Termohon Kasasi, karena dalam proses gugatan perceraian memunculkan Surat Pernyataan tanggal 12 Mei 2014 yang dibuat dan ditandatangani oleh Ovianingsih, S.Sos.

6. Bahwa Majelis Hakim tingkat pertama dan tingkat banding telah melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Pasal 3 ayat (1) berbunyi: “Pegawai Negeri Sipil yang akan melakukan perceraian wajib memperoleh izin atau surat keterangan lebih dahulu dari Pejabat”. Bahwa dengan adanya ketentuan hukum ini maka setiap PNS hukumnya wajib meminta izin sebelum mengajukan gugatan perceraian, dan fakta menunjukkan Termohon Kasasi I tidak memberikan izin akan tetapi Termohon Kasasi II dengan sengaja melakukan perlawanan dengan menuliskan Surat Pernyataan yang intinya siap untuk menerima konsekuensi hukuman dari Termohon Kasasi I atas keputusannya tetap

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

mengajukan gugatan cerai dengan tidak ada izin dari Termohon Kasasi I.

7. Bahwa dengan tidak memberikan sanksi hukuman dan/atau melakukan pembiaran terhadap prilaku dari Termohon Kasasi II maka Termohon Kasasi I telah melakukan pelanggaran terhadap: a. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan

Disiplin Pegawai Negeri pada Bab III tentang Hukuman Disiplin Pasal 6 ayat (4) adalah Jenis Hukuman Disiplin Berat terdiri dari:

a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun;

b. Pembebasan dari jabatan;

c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai pegawai negeri sipil; dan

d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil;

b. Surat Edaran BAKN/SE/1990 Bab IV tentang SANKSI Nomor 1 menyebutkan: “Pegawai Negeri Sipil dan atau atasan/pejabat, kecuali pegawai bulanan disamping pensiun, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil apabila melakukan salah satu atau lebih perbuatan sebagai berikut:

b. Melakukan perceraian tanpa memperoleh ijin bagi yang berkedudukan sebagai Penggugat atau tanpa surat keterangan bagi yang berkedudukan sebagai Tergugat, terlebih dahulu dari Pejabat.

8. Bahwa dengan adanya uraian hukum tersebut di atas membuktikan bahwa Pemohon Kasasi jelas jelas memiliki dasar hukum untuk mengajukan gugatan ini dikarenakan memiliki kepentingan langsung dengan objek sengketa karena Pemohon Kasasi dalam perkara pokok yaitu gugatan perceraian tidak menghendaki adanya gugatan perceraian yang diajukan oleh Termohon Kasasi II.

9. Bahwa ternyata Peradilan Tingkat Banding yang memeriksa perkara ini telah secara nyata tidak memeriksa kembali secara keseluruhan perkara Nomor 27/G/2015/PTUN-JPR yang dimintakan banding. Bahwa Majelis Hakim tingkat Banding tidak memeriksa

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

putusan dari awal begitu pula tidak disebutkan adanya pemeriksaan terhadap pertimbangan hukum yang dilakukan oleh Majelis Hakim tingkat Banding terhadap pertimbangan hukum Hakim tingkat Pertama yang mendasari putusan perkara ini. Dengan tidak diperiksa kembali secara keseluruhan maka Majelis Hakim tingkat Banding telah terbukti salah menerapkan hukum.

2. Bahwa Majelis Hakim tingkat banding telah salah dalam mempertimbangkan hukum seperti yang tertuang pada halaman 6 yang tertulis sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim Tingkat Banding membaca berkas berkas dengan seksama terutama Memori Banding Pembanding/Pembanding tersebut, ternyata tidak terdapat bukti bukti atau hal hal baru untuk dipertimbangkan yang dapat membatalkan atau merubah putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura tersebut; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas maka Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura Nomor 27/G/2015/PTUN.Jpr tanggal 10 Maret 2016 patut dipertahankan dan dikuatkan:”

Pertimbangan hukum tersebut di atas dapat dianalisa dan ditanggapi sebagai berikut:

a. Bahwa Majelis Hakim tingkat Banding telah salah dalam memberikan pertimbangan hukum dan telah melanggar hukum acara.

b. Bahwa Majelis hakim tingkat Banding tidak melaksanakan hukum acara dengan baik dan benar, seharusnya Majelis Hakim tingkat Banding memeriksa kembali seluruh berkas baik gugatan, jawaban, replik, duplik, bukti surat dan saksi dari pihak pihak yang berperkara untuk kemudian di pertimbangkan dalam putusan perkara ini di tingkat banding.

c. Bahwa Pemohon Kasasi menolak hasil pertimbangan hukum dan amar putusan Majelis Hakim tingkat banding karena Majelis Hakim tingkat banding tidak memeriksa kembali perkara dalam keseluruhan hal ini telah bertentangan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI dalam putusan Nomor 786 K/Sip/1972 tanggal 3 Januari 1972.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Berdasarkan Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 951 K/Sip/1973 tanggal 9-10-1975 dalam Yurisprudensi tersebut disebutkan:

Seharusnya Hakim banding mengulang memeriksa kembali perkara

dalam keseluruhannya baik mengenai fakta maupun mengenai pengetrapan hukumnya”;

Bahwa tanpa melihat kembali fakta maupun mengenai pengetrapan hukum yang telah dipertimbangkan dan diputuskan oleh Hakim tingkat pertama maka terbukti Majelis Hakim tingkat banding telah melanggar hukum acara;

Juga dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI dalam putusan Nomor 881 K/Sip/1973 tanggal 3 Desember 1973 berbunyi sebagai berikut:

“Pengadilan Tinggi memeriksa dan memutus sesuatu perkara pada tingkat banding dalam keseluruhan”;

2. Bahwa Majelis Hakim tingkat banding telah lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

a. Bahwa Majelis Hakim tingkat pertama dan tingkat banding telah melanggar hukum Acara mempertimbangkan hukum seperti yang tertuang pada halaman 7 yang tertulis sebagai berikut:

”Menimbang, bahwa mengenai alat alat bukti yang diajukan oleh para pihak dan ternyata tidak relevan lagi dalam pengambilan putusan sebagaimana tersebut di atas, maka alat alat bukti tersebut tidak perlu dipertimbangkan satu persatu karena sudah tidak ada urgensinya lagi melainkan cukup untuk dipertimbangkan agar bukti bukti tersebut tetap terlampir sebagai bagian dari berkas perkara ini”.

Pertimbangan hukum tersebut di atas dapat dianalisa dan ditanggapi sebagai berikut:

a) Bahwa Majelis Hakim tingkat Banding telah salah dalam memberikan pertimbangan hukum dan telah melanggar hukum acara.

b) Bahwa Majelis Hakim tingkat Banding tidak memiliki pertimbangan yang utuh dalam menilai Barang Bukti yang diajukan oleh para pihak dalam perkara ini baik saksi maupun bukti surat utamanya adalah bukti bukti surat yang tidak lagi dipertimbangkan oleh Majelis Hakim akan tetapi dipertimbangkan lagi untuk tetap terlampir menjadi bagian dalam berkas perkara ini.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

c) Bahwa Majelis Hakim tingkat Banding seharusnya mengeluarkan semua bukti surat dari pihak pihak yang berperkara karena sudah tidak lagi dianggap penting, dengan adanya pertimbangan bahwa bukti surat masih terlampir dalam berkas maka Majelis Hakim tingkat banding melempar tanggung jawab kewenangan memeriksa berkas perkara secara keseluruhan ke Majelis Hakim tingkat Kasasi, sementara Majelis Hakim tingkat Kasasi tidak lagi berwenang memeriksa dan mempertimbangkan Barang Bukti dalam perkara ini. d) Bahwa Pemohon Kasasi menolak hasil pertimbangan hukum dan amar putusan Majelis Hakim tingkat banding karena Majelis Hakim tingkat banding tidak memeriksa kembali perkara dalam keseluruhan hal ini telah bertentangan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI dalam putusan Nomor 786 K/Sip/1972 tanggal 3 Januari 1972.

Berdasarkan Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 951 K/Sip/1973 tanggal 9-10-1975 dalam Yurisprudensi tersebut disebutkan:

Seharusnya Hakim banding mengulang memeriksa kembali perkara

dalam keseluruhannya baik mengenai fakta maupun mengenai pengetrapan hukumnya”.

Bahwa tanpa melihat kembali fakta maupun mengenai pengetrapan hukum yang telah dipertimbangkan dan diputuskan oleh Hakim tingkat pertama maka terbukti Majelis Hakim tingkat banding telah melanggar hukum acara.

Juga dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI dalam putusan Nomor 881 K/Sip/1973 tanggal 3 Desember 1973 berbunyi sebagai berikut:

“Pengadilan Tinggi memeriksa dan memutus sesuatu perkara pada tingkat banding dalam keseluruhan”

b. Majelis hakim tingkat Banding telah lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

Bahwa dalam putusan Majelis Hakim Banding dalam memutus perkara tidak menyebutkan dasar hukum hal ini telah Majelis Hakim telah melanggar Pasal 184 HIR, Pasal 195 RBg dimana syarat dalam pasal-pasal tersebut adalah bersifat imperative atau hukum memaksa dan bersifat komulatif, sehingga tidak boleh satu pun dari syarat itu yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

boleh ditinggalkan dan apabila salah satu di antaranya diabaikan maka putusan batal demi hukum.

Bahwa di dalam Pasal 184 ayat (2) HIR jelas disebutkan bahwa:“Dalam putusan yang didasarkan pada peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku harus disebut ketentuan perundang-perundang-undangan itu.”

Bahwa jelas pertimbangan hukum seperti ini sama sekali tidak menyebut dasar pasal-pasal atau aturan hukum yang menjadi dasar pertimbangan dan dasar dasar untuk memberikan pertimbangan hukum tersebut di atas.

Hal ini sejalan dengan pendapat Lilik Mulyadi, SH dalam bukunya Hukum Acara Perdata halaman 217 yang menjelaskan: “Tentang hukumnya dalam aspek ini, maka pertimbangan hukum (Rechtgronden)

akan menentukan nilai dari suatu putusan hakim sehingga aspek pertimbangan hukum oleh hakim harus disikapi secara teliti, baik dan cermat, apabila suatu putusan hakim dibuat dengan tidak teliti, baik dan cermat sehingga kurang lengkap pertimbangan hukumnya maka putusan hakim demikian akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung, sebagaimana ditegaskan oleh Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 3766 K/Pdt/1985 tanggal 28 Februari 1987, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1854 K/Pdt/1984 tanggal 30 Juli 1987 dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1250 K/Pdt/1986 tanggal 20 Juli 1989.

c. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Banding dalam memutuskan perkara tidak menyebutkan dasar dasar hukum yang biasanya tertulis di akhir pertimbangan hukum. Adapun pertimbangan Majelis Hakim tingkat Banding antara lain: “Memperhatikan pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 serta peraturan

perundang-undangan lainnya yang berkaitan”, hal ini jelas telah

menyalahi Pasal 184 ayat (2) HIR, Pasal 195 RBg dan Majelis Hakim tingkat banding memberikan pertimbangan hukum pada halaman 7 seperti tersebut di atas bahwa kalimat pertimbangan hukum tersebut tidak jelas bahwa didalam perkara ini mempergunakan pasal-pasal dari undang-undang dan peraturan yang mana sebagai dasar pijakan hukum untuk memutuskan perkara ini, hal ini sangat sumir dengan tidak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

dijelaskan dasar hukum untuk memutuskan perkara yang terkait dengan aturan kepegawaian atau pasal-pasal yang menyebutkan tentang kepegawaian yang terkait dengan surat keputusan objek sengketa maka pertimbangan hukum yang telah dibuat sebagai dasar memberikan putusan menjadi tidak bermakna hukum sehingga patut untuk dikesampingkan, terlebih lagi Majelis Hakim tingkat banding yang secara nyata tidak memberikan dasar hukum dalam memutuskan perkara ini, dasar hukum yang diberikan oleh Majelis Hakim tingkat banding hanya sebatas aturan hukum tentang Pengadilan Tata Usaha Negara dan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dan sama sekali tidak menyebut dasar hukum tentang Undang-Undang atau peraturan Kepegawaian dan sejenisnya yang menjadi inti persoalan dan menjadikan dasar hukum dalam pertimbangan dan putusan Majelis Hakim tingkat banding.

PERTIMBANGAN HUKUM

Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa alasan-alasan kasasi tidak dapat dibenarkan, putusanJudex Facti

sudah benar dan tidak terdapat kesalahan dalam penerapan hukum, dengan pertimbangan:

- Bahwa objek sengketa adalah permohonan Penggugat kepada Tergugat supaya Ovianingsih, S.Sos dijatuhi sanksi, akan tetapi Tergugat tidak melakukannya;

- Bahwa substansi perkara a quo adalah mengenai perceraian antara Penggugat dan Tergugat II Intervensi yang sedang diperiksa di tingkat kasasi Mahkamah Agung, sehingga Penggugat tidak mempunyai kepentingan langsung terhadap objek sengketa;

Bahwa di samping itu, alasan-alasan tersebut pada hakikatnya mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan pada tingkat kasasi hanya berkenaan dengan tidak dilaksanakan atau ada kesalahan dalam pelaksanaan hukum, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, lagi pula ternyata putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi:Nano Karsonotersebut harus ditolak;

Menimbang, bahwa dengan ditolaknya permohonan kasasi, maka Pemohon Kasasi dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait;

MENGADILI,

Menolak permohonan kasasi Pemohon Kasasi: NANO KARSONO

tersebut;

Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Senin, tanggal 06 Februari 2017, oleh Dr. H. Yulius, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Yosran, S.H., M.Hum., dan Is Sudaryono, S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan dibantu oleh Heni Hendrarta Widya Sukmana Kurniawan, S.H., M.H., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.

Anggota Majelis, Ketua Majelis,

ttd./Yosran, S.H., M.Hum. ttd./Dr. H. Yulius, S.H., M.H. ttd./Is Sudaryono, S.H., M.H.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 18 halaman. Putusan Nomor 08 K/TUN/2017TFR

Panitera Pengganti,

ttd./Heni Hendrarta Widya Sukmana Kurniawan, S.H., M.H.

Biaya-biaya: 1. Meterai Rp 6.000,00 2. Redaksi Rp 5.000,00 3. Administrasi Rp 489.000.00 Jumlah Rp 500.000,00 Untuk salinan Mahkamah Agung RI

atas nama Panitera,

Panitera Muda Tata Usaha Negara,

H. Ashadi, S.H. NIP 19540827 198303 1 002

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :