commit to user 59
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Orientasi Kancah
Penelitian mengenai hubungan antara kecerdasan adversitas dan dukungan sosial dengan problem focused coping dilakukan pada guru Sekolah Dasar negeri di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan survey awal untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan subjek. Dinas Pendidikan Sukolilo merupakan sebuah kantor yang bertempat di Jalan Pati – Purwodadi Km. 24 Pati. UPT ini bertugas membawahi seluruh TK/SD di Kecamatan Sukolilo. Visi Dinas Pendidikan Kecamatan Sukolilo adalah “Beriman dan bertaqwa, disiplin dalam bekerja, prima dalam pelayanan”.
Adapun misi Dinas Pendidikan Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan ibadah sesuai dengan keimanan dan ketaqwaan denan ajaran agama.
2. Melakukan amalan yang terkandung didalam ajaran agama. 3. Para pegawai datang sebelum jam kerja, pulang sesuai ketentuan. 4. Tidak masuk kerja, selalu ada ijin.
5. Apel dilaksanakan setiap hari.
6. Selalu berpakaian dengan rapi, menggunakan seragam sesuai ketentuan dengan atribut lengkap.
commit to user
8. Memberikan pelayanan dengan cepat dan tanpa pamrih.
9. Selalu bekerja sama dan saling membantu dengan melaksanakan tugas serta mengutamakan prestasi.
10.Mengutamakan kebersamaan dan kekeluargaan.
Penelitian ini berlangsung di sejumlah sekolah dasar negeri yang telah dipilih berdasarkan system acak oleh peneliti. SD yang digunakan untuk uji coba berjumlah 8 sekolah, yaitu guru SDN Kasiyan, SDN Sukolilo 01, SDN Kedumulyo 01, SDN Gadudero, SDN Cengkalsewu 01, SDN Kedungwinong 01, SDN Sukolilo 03, dan SDN Baleadi 01. Sedangkan untuk penelitian, dipilih 11 sekolah yaitu SDN Prawoto 01, SDN Wotan 01, SDN Porangparing, SDN Cengkalsewu 02, SDN Baturejo 02, SDN Sumbersoka 01, SDN Poncomulyo, SDN Kuwawur 01, SDN Prawoto 02, SDN Sukolilo 04, dan SDN Kuwawur 02. Sekolah yang digunakan untuk tryout dan penelitian pada umumnya menyebar di Kecamatan Sukolilo dengan kondisi wilayah yang beragam, yaitu berada di perbukitan, di dekat jalan utama antar Kabupaten, maupun wilayah yang jauh dari pusat kota (pelosok). Beberapa jalan menuju sekolah yang dipakai untuk penelitian juga bukan jalan aspal dan berbatu besar. Sekolah yang terpilih untuk dilakukan penelitian diharapkan dapat mewakili 39 sekolah dasar negeri yang ada di Kecamatan Sukolilo sehingga tujuan penelitian ini akan tercapai.
UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut:
commit to user
1. Penelitian mengenai hubungan antara kecerdasan adversitas dan dukungan sosial dengan problem focused coping belum pernah dilakukan di daerah tersebut.
2. Berdasarkan wawancara dengan para pengawas dan guru SD di Kecamatan Sukolilo, ada fenomena yang berkaitan dengan penelitian tentang problem focused coping.
3. Adanya ijin yang diperoleh untuk mengadakan penelitian di dinas pendidikan tersebut.
B.Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian perlu dilakukan agar penelitian berjalan lancar dan terarah. Hal-hal yang dipersiapkan adalah berkaitan dengan perijinan dan penyusunan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian.
1. Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi penelitian meliputi segala urusan perijinan yang diajukan pada pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan penelitian. Permohonan ijin tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
a.Tanggal 26 Mei 2014 peneliti meminta Surat Izin Penelitian dengan nomor 6765/UN27.06.6.2/PN/2014 dari Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan Sukolilo.
b.Mengajukan surat ijin penelitian ke Dinas Pendidikan Kecamatan Sukolilo untuk melakukan penelitian di SD negeri yang telah ditentukan.
commit to user
c.Setelah mendapatkan ijin dari pihak dinas pendidikan, peneliti dapat membuat timeline jadwal uji coba dan jadwal pelaksanaan penelitian.
2. Persiapan Alat Ukur
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 3 skala, yaitu skala problem focused coping, skala kecerdasan adversitas, dan skala dukungan sosial. Skala problem focused coping disusun dengan melakukan modifikasi pada skala Ways of Coping Questionnaire dari Folkman dan Lazarus (1988) dengan dimensi problem focused coping yang meliputi planful problem solving, confrontive coping, dan seeking social support. Skala problem focused coping terdiri atas 18 aitem yang merupakan aitem favourable.
Skala kecerdasan adversitas terdiri atas 40 aitem, yaitu 20 aitem favourable dan 20 aitem unfavourable. Skala kecerdasan adversitas disusun berdasarkan pada dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh Stoltz (2005) meliputi: Control (kendali), Origin and Ownership (asal usul dan pengakuan), reach (jangkauan), dan Endurance (daya tahan).
Selanjutnya, skala dukungan sosial terdiri atas 40 aitem, yaitu 20 aitem favourable dan 20 aitem unfavourable. Skala dukungan sosial disusun berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Sarafino (1998), yaitu meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan jaringan sosial.
commit to user
C. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan Subjek Penelitian
Populasi yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah seluruh seluruh guru PNS di sekolah dasar negeri Kecamatan Sukolilo berjumlah 290 guru. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random dengan teknik cluster random sampling, yaitu dengan menulis semua nama SD, kemudian cara pemilihannya dengan menggunakan undian. Berdasarkan rumus Slovin (dalam Riduwan, 2005), didapatkan jumlah sampel sebanyak 74 guru. Dari populasi penelitian yang berjumlah 39 sekolah dasar negeri dilakukan cluster random sampling dengan undian dan didapatkan delapan SD, yaitu SDN Kasiyan, SDN Cengkalsewu 01, SDN Kedumulyo 01, SDN Gadudero 01, SDN Sukolilo 01, SDN Kedungwinong, SDN Sukolilo 03, dan SDN Baleadi 01 untuk uji-coba serta 11 SD, yaitu SDN Prawoto 01, SDN Wotan 01, SDN Porangparing, SDN Cengkalsewu 02, SDN Baturejo 02, SDN Sumbersoka 01, SDN Poncomulyo, SDN Kuwawur 01, SDN Prawoto 02, SDN Sukolilo 04, dan SDN Kuwawur 02 untuk penelitian.
2. Pelaksanaan Uji Coba
Setiap pengukuran selalu diharapkan untuk mendapat hasil ukur yang akurat dan objektif, salah satu upaya untuk mencapainya adalah alat ukur
commit to user
yang digunakan harus sahih dan reliabel atau handal (Hadi, 2004). Oleh karena itu sebelum skala penelitian digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mengetahui indeks daya beda item-item dari tiap-tiap skala dan reliabilitas skala tersebut. Skala penelitian diujicobakan kepada kelompok subjek yang mempunyai karakteristik setara dengan subjek penelitian (Azwar, 2010). Skala yang diujicobakan ini adalah skala problem focused coping, skala kecerdasan adversitas, dan skala dukungan sosial. Uji-coba skala ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 30 Mei – 2 Juni 2014 pada guru PNS di SD negeri yang telah ditentukan sebelumnya. Jumlah guru PNS dari delapan SD negeri tersebut sebanyak 74 guru, adapun yang mengikuti uji-coba sebanyak 50 guru. Hal ini disebabkan ada guru yang tidak hadir atau mengikuti pelatihan kurikulum 2013. Dari 50 eksemplar yang dibagikan, semua terkumpul dan memenuhi syarat untuk dilakukan skoring serta dianalisis validitas dan reliabilitasnya.
3. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Data yang telah terkumpul dari ketiga alat ukur kemudian diskor sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditentukan, untuk selanjutnya diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas dilakukan berdasarkan professional judgment, yang dilakukan oleh pembimbing utama dan pembimbing pendamping sebagai pihak yang berkompeten, dan dinyatakan bahwa penampilan alat ukur telah memenuhi kesan mampu mengungkap atribut yang hendak diukur sehingga face validity dari ketiga alat ukur dalam
commit to user
penelitian ini telah terpenuhi. Selanjutnya, daya beda aitem untuk ketiga alat ukur diuji menggunakan formula koefisien korelasi product moment Pearson. Uji reliabilitas digunakan untuk menguji tingkat kestabilan hasil suatu pengukuran. Reliabilitas dinyatakan dengan koefisien reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, koefisien reliabilitas yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitasnnya (Azwar, 2010).
Sebelum dihitung daya beda aitem dan reliabiitas, terlebih dahulu dilakukan skoring atas tiga skala yang digunakan, yaitu skala problem focused coping, skala kecerdasan adversitas, dan skala dukungan sosial. Skoring pada aitem favourable, yaitu skor 4 untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), 3 untuk jawaban Sesuai (S), 2 untuk Tidak Sesuai (TS), dan 1 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS). Selanjutnya, skor pada aitem unfavourable terdiri dari skor 4 untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS), 3 untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), 2 untuk Sesuai (S), dan 1 untuk Sangat Sesuai (SS).
Adapun hasil skoring, daya beda aitem, dan reliabilitas untuk ketiga skala adalah sebagai berikut:
a. Skala Problem Focused Coping
Skala problem focused coping pada saat uji coba terdiri dari 18 aitem, setelah dilakukan uji validitas terdapat 1 aitem yang dinyatakan gugur, yaitu aitem pada nomor 16, sedangkan jumlah aitem yang valid sebanyak 17 aitem, yaitu aitem nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12,
commit to user
13, 14, 15, 17, dan 18. Aitem-aitem yang valid tersebut mempunyai nilai daya beda aitem yang bergerak dari 0,287 sampai 0,609. Distribusi aitem skala problem focused coping, yang valid dan gugur dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 5
Distribusi Aitem Valid dan Gugur pada Uji Coba Skala Problem Focused Coping
No. Aspek Aitem Jumlah
Valid Gugur 1. Planful problem solving 1, 4, 7, 10, 13, 15 - 6 2. Confrontive coping 3, 5, 8, 12, 18 16 5 3. Seeking social support 2, 6, 9, 11, 14, 17 - 6 Jumlah 17 1 17
Hasil uji reliabilitas skala problem focused coping dari 17 aitem yang valid menunjukkan hasil yang reliabel, dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,703. Hal ini berarti, skala problem focused coping telah memenuhi persyaratan keandalan alat ukur sehingga skala problem focused coping ini dapat digunakan sebagai alat pengumpul data. Hasil pehitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 6
Uji Reliabilitas Skala Problem Focused Coping
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
commit to user b. Skala Kecerdasan Adversitas
Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil dari 40 aitem Skala Kecerdasan Adversitas yang diujicobakan, terdapat 10 aitem yang gugur, yaitu aitem nomor 1, 2, 5, 11, 22, 23, 27, 31, 32, dan 33, sedangkan aitem yang valid sebanyak 30 aitem, yaitu 11 aitem favourable (nomor aitem 3, 4, 6, 9, 10, 13, 18, 21, 26, 37, dan 38) dan 19 aitem unfavourable (nomor aitem 7, 8, 12, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 24, 25, 28, 29, 30, 31, 35, 36, 39, dan 40). Aitem-aitem yang valid tersebut mempunyai daya beda yang bergerak dari 0,284 sampai dengan 0,638.
Distribusi aitem skala kecerdasan adversitas yang valid dan gugur dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 7
Distribusi Aitem Valid dan Gugur pada Uji Coba Skala Kecerdasan Adversitas
No. Dimensi Aitem Jumlah
Favourable Unfavourable
Valid Gugur Valid Gugur
1. Control (kendali) 3, 10, 21, 38 2, 31 7, 12, 19, 34 27 8 2. Origin and
Ownership (asal usul dan pengakuan) 6, 18, 1, 11, 32 8, 15, 17, 20, 35 - 7 3. Reach (jangkauan) 9, 13, 5, 22, 33 16, 24, 25, 28, 36, 39 - 8 4. Endurance (daya tahan) 4,26, 37 23 14, 29, 30, 40 - 7 Jumlah 11 9 19 1 30
Hasil uji reliabilitas skala kecerdasan adversitas dari 30 aitem yang valid menunjukkan hasil yang reliabel, dengan koefisien reliabilitas sebesar
commit to user
0,859. Hal ini berarti, skala kecerdasan adversitas telah memenuhi persyaratan keandalan alat ukur sehingga skala kecerdasan adversitas ini dapat digunakan sebagai alat pengumpul data. Hasil pehitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 8
Uji Reliabilitas Skala Kecerdasan Adversitas
c. Skala Dukungan Sosial
Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil dari 40 aitem skala dukungan sosial yang diujicobakan, terdapat 2 aitem yang gugur, yaitu aitem nomor 26 dan 39, sedangkan aitem yang valid sebanyak 38 aitem, yaitu 19 aitem favourable (nomor aitem 1, 2, 5, 9, 10, 11, 13, 16, 18, 21, 22, 23, 24, 28, 30, 33, 34, dan 35) dan 19 aitem unfavourable (nomor aitem 3, 4, 6, 7, 8, 12, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 25, 27, 29, 31, 32, 36, 37, 38, dan 40). Aitem-aitem yang valid tersebut mempunyai daya beda yang bergerak dari 0,312 sampai dengan 0,751. Distribusi aitem skala dukungan sosial yang valid dan gugur dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
commit to user Tabel 9
Distribusi Aitem Valid dan Gugur pada Uji Coba Skala Dukungan Sosial
No. Aspek Aitem Jumlah
Favourable Unfavourable
Valid Gugur Valid Gugur
1. Dukungan emosional 2, 9, 15, 24 - 8, 17, 25, 31, 26 2. Dukungan penghargaan 5, 11, 21, 30 - 4, 14, 20, 27, - 3. Dukungan informatif 16, 28, 23, 34 - 6, 12, 32 - 4. Dukungan instrumental 10, 13, 22, 28 - 3, 7, 19, 29 - 5. Dukungan jaringan sosial 1, 33, 35 39 36, 37, 38, 40 - Jumlah 19 1 19 1 38
Hasil uji reliabilitas skala dukungan sosial dari 28 aitem yang valid menunjukkan hasil yang reliabel, dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,924. Hal ini berarti, skala dukungan sosial telah memenuhi persyaratan keandalan alat ukur sehingga skala dukungan sosial ini dapat digunakan sebagai alat pengumpul data. Hasil pehitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 10
Uji Reliabilitas Skala Dukungan Sosial
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
commit to user
4. Penyusunan Alat Ukur Untuk Penelitian
Setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas, butir-butir aitem yang valid digunakan untuk mengambil data yang sesungguhnya, sedangkan butir-butir aitem yang gugur tidak diikutsertakan dalam pengambilan data.
Tabel 11
Sebaran Aitem Skala Problem Focused Coping untuk Penelitian
No. Aspek Nomor aitem Valid
1. Planful problem solving
1, 4, 7, 10, 13, 15 - 6
2. Confrontive coping 3, 5, 8, 12, 18(17) 16 5 3. Seeking social support 2, 6, 9, 11, 14, 17
(16)
- 6
Jumlah 16 15 31
Keterangan: nomor aitem dalam tanda kurung () adalah nomor aitem baru dalam penelitian.
Tabel 12
Sebaran Aitem Skala Kecerdasan Adversitas untuk Penelitian
No. Dimensi Nomor Aitem Valid Jumlah
Favourable Unfavourable 1. Control (kendali) 3 (1), 10(7), 21(17), 38(28) 7(4), 12(8), 19(15), 34(24) 8
2. Origin and Ownership
(asal usul dan pengakuan) 6(3), 18(14), 8(5), 15(11), 17(13), 20(16), 35(25) 7 3. Reach (jangkauan) 9(6), 13(9), 16(12), 24(18), 25(19), 28(21), 36(26), 39(29) 8 4. Endurance (daya tahan) 4(2),26(20), 37(27) 14(10), 29(22), 30(23), 40(30) 7 Jumlah 11 19 30
Keterangan: nomor aitem dalam tanda kurung () adalah nomor aitem baru dalam penelitian.
commit to user Tabel 13
Sebaran Aitem Skala Dukungan Sosial untuk Penelitian
No. Aspek Nomor Aitem Valid Jumlah
Favourable Unfavourable 1. Dukungan emosional 2, 9, 15, 24 8, 17, 25, 31(30), 2. Dukungan penghargaan 5, 11, 21, 30(29) 4, 14, 20, 27(26), 3. Dukungan informatif 16, 18, 23, 34(33) 6, 12, 32(31) 4. Dukungan instrumental 10, 13, 22, 28(27) 3, 7, 19, 29(28) 5. Dukungan jaringan sosial 1, 33(32), 35(34) 36(35), 37(36), 38(37), 40(38) Jumlah 19 19 38
Keterangan: nomor aitem dalam tanda kurung () adalah nomor aitem baru dalam penelitian.
5. Pengumpulan Data Penelitian
Proses pengambilan subjek penelitian dilaksanakan di 11 sekolah dasar negeri di Kecamatan Sukolilo dengan jumlah guru sebanyak 76 orang yang telah ditentukan sebelumnya. Karena suatu hal, hanya 74 guru yang mengisi skala. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 - 11 Juni 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur berupa skala problem focused coping terdiri dari 17 aitem, skala kecerdasan adversitas yang terdiri dari 30 aitem, dan skala dukungan sosial yang terdiri dari 38 aitem. Ketiga skala tersebut diberikan secara langsung dan klasikal.
Sebelum guru mengerjakan skala penelitian yang diberikan, peneliti terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang cara mengerjakan skala tersebut. Peneliti tidak memungkinkan untuk menunggui subyek dalam mengisi skala penelitian sehingga skala penelitian tersebut
commit to user
diambil keesokan harinya oleh peneliti. Data penelitian yang diperoleh sebanyak 74 eksemplar dan selanjutnya dilakukan skoring.
6. Pelaksanaan Skoring
Data yang berhasil dikumpulkan oleh peneliti dari ketiga alat ukur penelitian kemudian diskor sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditentukan. Skoring yang dilakukan terhadap skala problem focused coping, skala kecerdasan adversitas, dan skala dukungan sosial, yakni pada pernyataan favourable adalah 4 untuk pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS), 3 untuk pilihan jawaban Sering (S), 2 untuk pilihan jawaban Tidak Sesuai (TS), dan 1 untuk pilihan jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS). Selanjutnya, skor pada pernyataan unfavourable adalah 1 untuk pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS), 2 untuk pilihan jawaban Sesuai (S), 3 untuk pilihan jawaban Tidak Sesuai (TS), dan 4 untuk pilihan jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS). Selanjutnya, skor yang diperoleh dari subjek penelitian dijumlahkan untuk tiap-tiap skala. Total skor skala yang diperoleh dari subjek penelitian ini dipakai dalam analisis data.
D. Hasil Analisis Data Penelitian
Perhitungan analisis data dilakukan setelah uji asumsi yang meliputi uji asumsi dasar dan uji asumsi klasik. Analisis data dilakukan guna menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan pada bab sebelumnya, sekaligus memenuhi tujuan dari penelitian ini. Perhitungan dalam analisis ini
commit to user
dilakukan dengan bantuan komputer program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 17.0.
1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Asumsi Dasar 1) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji one sample Kolmogorov-Smirnov Test dengan taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 5% atau 0,05 (Priyatno, 2012). Hasil perhitungan uji normalitas penelitian ini disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 14 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Problem focused coping Kecerdasan adversitas dukungan sosial N 74 74 74 Normal Parametersa,,b Mean 51,45 92,743 120,378 Std. Deviation 5,105 9,207 10,219 Most Extreme Differences Absolute ,083 ,087 ,052 Positive ,083 ,057 ,052 Negative -,073 -,087 -,044 Kolmogorov-Smirnov Z ,715 ,749 ,447
Asymp. Sig. (2-tailed) ,686 ,629 ,988
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,686 untuk problem focused coping, 0,629 untuk
commit to user
kecerdasan adversitas, dan 0,988 untuk dukungan sosial. Nilai Asymp. Sig. (2-tailed) ketiga variabel dalam penelitian menunjukkan nilai di atas 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data ketiga variabel tersebut berdistribusi normal.
2) Uji Linearitas
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan linear atau tidak secara signifikan (Ghozali, 2011). Pengujian linearitas dalam penelitian ini menggunakan test of linearity dengan bantuan program Statistical Product And Service Solution (SPSS) versi 17.0. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linier bila nilai signifikansi (pada kolom Linearity) kurang dari 0,05 (Priyatno, 2010). Adapun, hasil analisis uji linearitas dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 15
Hasil Uji Linearitas antara Variabel Kecerdasan Adversitas dengan Problem Focused Coping ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. Problem focused coping * kecerdasan adversitas Between Groups (Combined) 933,250 30 31,108 1,380 ,164 Linearity 233,664 1 233,664 10,369 ,002 Deviation from Linearity 699,586 29 24,124 1,070 ,412 Within Groups 969,284 43 22,536 Total 1902,284 73
commit to user Tabel 16
Hasil Uji Linearitas Variabel Dukungan Sosial dengan Problem Focused Coping
ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. Problem focused coping * dukungan sosial Between Groups (Combined) 1260,684 30 42,023 2,816 ,001 Linearity 625,980 1 625,980 41,953 ,000 Deviation from Linearity 634,704 29 21,886 1,467 ,125 Within Groups 641,600 43 14,921 Total 1920,284 73
Berdasarkan kedua tabel di atas, nilai Sig. pada kolom Linearity antara kecerdasan adversitas dengan problem focused coping sebesar 0,002. Nilai Sig. pada kolom Linearity untuk dukungan sosial dengan problem focused coping sebesar 0,000. Hal ini berarti, bahwa antara kecerdasan adversitas dengan problem focused coping maupun dukungan sosial dengan problem focused coping memiliki hubungan yang linear karena nilai signifikansi kurang dari 0,05, yaitu 0,002 (0,002<0,05) dan 0,000 (0,000<0,05).
b. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Multikolinearitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel prediktor (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka
variabel-commit to user
variabel ini tidak ortogonal (Ghozali 2011). Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, dapat dilihat dari Value Inflation Factor (VIF). Apabila nilai VIF > 5, terjadi multikolinearitas. Sebaliknya, jika VIF < 5, tidak terjadi multikolinearitas (Priyatno, 2010). Hasil perhitungan uji multikolinearitas dalam penelitian ini, untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel prediktor, yaitu kecerdasan adversitas dan dukungan sosial, dapat dilihat pada tabel.
Tabel 17
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tole-rance VIF 1 (Constant) 10,126 6,616 1,531 ,130 Kecerdasan adversitas ,111 ,055 ,201 2,035 ,046 ,916 1,092 dukungan sosial ,257 ,049 ,515 5,219 ,000 ,916 1,092
Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer Statistical Product And Service Solution (SPSS) versi 17.0, diketahui hasil VIF kecerdasan adversitas dan dukungan sosial masing-masing sebesar 1,092. Hal ini berarti antara variabel kecerdaan adversitas dan dukungan sosial tidak terjadi multikolinearitas karena nilai VIF kurang dari 5 (1,092<5).
2) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke
commit to user
pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011).
Pengujian heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) dengan residualnya. Deteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot. Dasar analisisnya adalah sebagai berikut:
a) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
b) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Hasil uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar "Scatterplot" pada output data.
commit to user Gambar 2
"Scatterplot" Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan analisis pola gambar scatterplot di atas, terlihat titik-titik menyebar secara tidak teratur dan tidak membentuk pola yang jelas serta titik-titik tersebut menyebar di atas dan bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan tidak terjadi heteroskedastisitas.
Peneliti juga melakukan uji statistik menggunakan uji Spearman’s rho. Jika signifikansi korelasi kurang dari 0,05 maka terjadi masalah heteroskedastisitas.
commit to user Tabel 18
Hasil Uji Spearman’s rho Unstandardi zed Residual Kecerdasa n adversitas Dukunga n sosial Spearman 's rho Unstandardiz ed Residual Correlatio n Coefficie nt 1,000 ,038 ,004 Sig. (2-tailed) . ,750 ,973 N 74 74 74 Kecerdasan Adversitas Correlatio n Coefficie nt ,038 1,000 ,374** Sig. (2-tailed) ,750 . ,002 N 74 74 74 Dukungan Sosial Correlatio n Coefficie nt ,004 ,374 * * 1,000 Sig. (2-tailed) ,973 ,002 . N 74 74 74
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi antara kecerdasan adversitas dengan unstandardized residual sebesar 0,750 dan nilai signifikansi antara dukungan sosial dengan unstandardized residual sebesar 0,973. Oleh karena nilai signifikansi lebih dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak ditemukan adanya masalah heteroskedastisitas.
commit to user 3) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji ada tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain. Dalam penelitian ini, pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan nilai Durbin-Watson, dengan bantuan program komputer Statistical Product And Service Solution (SPSS) versi 17.0. Ketentuan dalam metode pengujian menggunakan uji Durbin-Watson (uji DW), adalah sebagai berikut:
a) Jika d lebih kecil dari dl atau lebih besar dari 4-dl, maka hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.
b) Jika d terletak antara du dan 4-du, maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
c) Jika d terletak antara dl dan du atau diantara 4-du dan 4-dl, maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.
Hasil dari perhitungan uji autokorelasi dapat dilihat dari tabel berikut. Tabel 19
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,605a ,366 ,348 4,121 1,850
Nilai d Durbin-Watson pada output data sebesar 1,850. Nilai dL dan dU pada tabel Durbin-Watson untuk jumlah sampel (n) = 74 orang, jumlah variabel prediktor (k) = 2, dan signifikansi (α) = 0,05, yaitu dl = 1,57 dan du
commit to user
= 1,68. Penghitungan selanjutnya 4-du (4-1,68=2,32) dan 4-dl (4-1,57=2,34) Berdasarkan ketentuan yang telah ditentukan, DW hitung berada di antara dl dan 4-du, yakni 1,57<1,850<2,32. Hal ini berarti bahwa dalam penelitian ini tidak ada masalah autokorelasi atau uji autokorelasi terpenuhi.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa data sampel telah memenuhi uji asumsi, baik uji asumsi dasar maupun uji asumsi klasik, sebagai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum melakukan uji hipotesis.
2. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan uji asumsi dasar dan uji asumsi klasik, langkah selanjutnya adalah melakukan penghitungan untuk menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik analisis regresi linear berganda.
a. Uji Simultan F
Uji simultan F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y), sehingga bisa diketahui hipotesis yang sudah ada dapat diterima atau ditolak. Hasil uji F dapat dilihat pada ouput ANOVA dari hasil analisis regresi linear berganda dengan bantuan program komputer SPSS 17.0. Kriteria pengujian dari uji F, yaitu:
1) Ha ditolak dan Ho diterima jika Fhitung < Ftabel 2) Ha diterima dan Ho ditolak jika Fhitung > Ftabel
commit to user Tabel. 20 Hasil Uji Simultan F
ANOVAb
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 696,310 2 348,155 20,497 ,000a
Residual 1205,973 71 16,986
Total 1902,284 73
Berdasarkan perhitungan, dapat diketahui nilai Fhitung, yaitu 20,497 sedangkan besarnya nilai Ftabel yaitu 3,126. Hal ini berarti Ha diterima dan Ho ditolak karena nilai Fhitung lebih besar dari Ftabel, 20,497 > 3,126, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel prediktor (kecerdasan adversitas dan dukungan sosial) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel kriterium (problem focused coping).
b. Uji Hipotesis Secara Parsial
Uji hipotesis secara partial dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel prediktor secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel kriterium, sehingga dapat diketahui hipotesis diterma atau ditolak. Hasil dapat dilihat pada output Coefficients dari hasil analisis linier berganda. Kriteria pengujian, yaitu:
1) Apabila thitung > ttabel maka Ha diterima, Ho ditolak berarti variabel prediktor mampu mempengaruhi variabel kriterium secara signifikan.
commit to user
2) Apabila thitung < ttabel maka Ha ditolak, Ho diterima berarti variabel prediktor tidak mempengaruhi variabel kriterium secara signifikan. Hasil uji hipotesis secara parsial pada penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 21
Hasil Uji Hipotesis Parsial
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 10,126 6,616 1,531 .130 Kecerdasan adversitas .111 .055 .201 2,035 .046 dukungan sosial .257 .049 .515 5,219 .000
Berdasarkan hasil pada tabel 20, masing-masing variabel prediktor, yaitu kecerdasan adversitas dan dukungan sosial berhubungan secara signifikan dengan variabel kriterium, yaitu problem focused coping, dengan nilai Sig. yaitu 0,046 untuk kecerdasan adversitas dan 0,000 untuk dukungan sosial. Dikatakan signifikan karena nilai signifikan keduanya kurang dari 0,05 dan diperoleh thitung kecerdasan adversitas sebesar 2,035 dan thitung dukungan sosial sebesar 5,219. Kedua variabel prediktor memiliki thitung lebih besar dari ttabel (1,994). Kecerdasan adversitas dan dukungan sosial mempunyai hubungan yang positif dengan problem focused coping dengan melihat pada nilai B yang bertanda positif, yang artinya semakin tinggi kecerdasan adversitas, maka semakin tinggi pula problem focused coping, demikian sebaliknya. Hal tersebut juga berlaku pada dukungan
commit to user
sosial, semakin tinggi dukungan sosial, maka problem focused coping juga akan tinggi, begitu pula sebaliknya.
c. Analisis Korelasi Ganda (R)
Analisis korelasi ganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel prediktor (X1 dan X2) terhadap variabel kriterium secara serentak. Koefisien ini menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel prediktor (X1 dan X2) secara serentak terhadap variabel kriterium. Nilai R berkisar antara 0 sampai 1, nilai semakin mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah (Priyatno, 2010). Sugiyono (2011) memberikan pedoman interpretasi koefisien korelasi ganda, sebagai berikut:
0,00 - 0,199 = Sangat rendah 0,20 - 0,399 = Rendah 0,40 - 0,599 = Sedang 0,60 - 0,799 = Kuat
0,80 – 1,000 = Sangat Kuat
Hasil analisis korelasi ganda dapat dilihat pada output model summary tabel berikut:
commit to user Tabel 22
Hasil Analisis Korelasi Ganda
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .605a ,366 ,348 4,121
Nilai R yang ditunjukkan pada tabel sebesar 0,605. Berdasarkan pedoman dalam menginterpretasi koefisien menurut Sugiyono (2011), angka tersebut mengindikasikan bahwa hubungan antara dua variabel prediktor (kecerdasan adversitas dan dukungan sosial) dengan variabel kriterium (problem focused coping) kuat, karena berada dalam rentang 0,60 - 0,799.
d. Analisis Determinasi (R2)
Analisis determinasi dilakukan untuk mengetahui presentase sumbangan pengaruh variabel independen secara serentak terhadap variabel dependen. Pada Model Summary juga didapatkan nilai koefisien determinasi (R Square) untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel prediktor (X1 dan X2) secara serentak terhadap variabel kriterium (Y). Apabila nilai R Square sama dengan 0, maka tidak ada sedikitpun persentase sumbangan pengaruh yang diberikan variabel prediktor terhadap variabel kriterium, sebaliknya apabila nilai R2 sama dengan 1, maka persentase sumbangan pengaruh yang diberikan
commit to user
variabel prediktor terhadap variabel kriterium adalah sempurna (Priyatno, 2010).
Hasil analisis determinasi untuk penelitian ini dapat dilihat pada output model summary pada tabel berikut.
Tabel 23
Hasil Analisis Determinasi
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .605a ,366 ,348 4,121
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) 17.0, diperoleh nilai R Square 0,366. Hal ini berarti problem focused coping sebagai variabel kriterium dapat dijelaskan oleh kecerdasan adversitas dan dukungan sosial sebagai variabel prediktor sebesar 36,6%, dan selebihnya 63,4 % dijelaskan oleh faktor lain.
e. Analisis Korelasi Parsial
Analisis korelasi parsial digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dengan menganggap variabel lainnya sebagai variabel kontrol. Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 atau -1, apabila nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin kuat, begitu pula sebaliknya, jika nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah (Priyatno, 2010).
commit to user Tabel 24
Korelasi Parsial kecerdasan adversitas dengan problem focused coping
Correlations
Control Variables Problem
focused coping
Kecerdasan adversitas dukungan sosial Problem
focused coping Correlation 1,000 ,235 Significance (2-tailed) . ,046 df 0 71 Kecerdasan adversitas Correlation ,235 1,000 Significance (2-tailed) ,046 . df 71 0
Berdasarkan tabel di atas didapat korelasi antara variabel kecerdasan adversitas dengan problem focused coping di mana variabel dukungan sosial sebagai variabel kontrol dengan nilai korelasi sebesar 0,235 dan tingkat signifikansi 0,046 (<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang rendah antara kecerdasan adversitas dengan problem focused coping, karena berada pada rentang 0,200-0,399. Arah hubungan yang terjadi adalah positif, karena nilai r positif, yang berarti semakin tinggi kecerdasan adversitas akan semakin tinggi problem focused coping pada guru SD.
commit to user Tabel 25
Korelasi Parsial Dukungan Sosial dengan problem focused coping
Correlations
Control Variables Problem
focused coping dukungan sosial Kecerdasan adversitas Problem focused coping Correlation 1,000 ,527 Significance (2-tailed) . ,000 df 0 71 dukungan sosial Correlation ,527 1,000 Significance (2-tailed) ,000 . df 71 0
Berdasarkan tabel di atas didapat korelasi antara variabel dukungan sosial dengan problem focused coping di mana variabel kecerdasan adversitas sebagai variabel kontrol dengan nilai korelasi sebesar 0,527 dan tingkat signifikansi 0,000 (<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sedang antara dukungan sosial dengan problem focused coping, karena berada pada rentang 0,400-0,599. Arah hubungan yang terjadi adalah positif, karena nilai r positif, yang berarti semakin tinggi dukungan sosial akan semakin tinggi problem focused coping pada guru SD.
commit to user
3. Data Deskriptif
Analisis deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum mengenai kecerdasan adversitas, dukungan sosial, dan problem focused coping pada subjek yang diteliti, serta memberikan gambaran tentang ringkasan data penelitian. Berikut ini akan disajikan deskripsi data penelitian yang dapat diliat pada tabel di bawah ini.
Tabel 26
Deskripsi Data Empirik
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean
Std. Deviation Problem focused coping 74 38 66 51,45 5,105 Kecerdasan adversitas 74 69 114 92,743 9,207 dukungan sosial 74 94 143 120,37 8 10,219 Valid N (listwise) 74 Tabel 27
Data Deskriptif Penelitian
Skala Jumlah subjek Data hipotetik M SD () Data empirik M SD () Skor min. Skor maks. Skor min. Skor maks. Problem Focused Coping 74 17 68 42,5 8,5 38 66 51,45 5,105 Kecerdasan Advesitas 74 30 120 75 15 69 114 92,74 3 9,207 Dukungan sosial 74 38 152 95 19 94 143 120,3 78 10,21 9 Skor minimal yang diperoleh subjek pada skala problem focused coping adalah 17 x 1 = 17, sedangkan skor maksimal yang dapat diperoleh yaitu 17 x 4 = 68, maka
commit to user
jarak sebarannya adalah 68-17 = 51 dan setiap satuan deviasi standarnya bernilai 51 : 6,0 = 8.5, sedangkan rerata hipotetiknya 17 x 2,5 = 42,5. Skor minimal yang diperoleh subjek pada skala kecerdasan adversitas adalah 30 x 1 = 30, sedangkan skor maksimal yang dapat diperoleh yaitu 30 x 4 = 120, maka jarak sebarannya adalah 120-30 = 90 dan setiap satuan deviasi standarnya bernilai 90 : 6,0 = 15, sedangkan rerata hipotetiknya 30 x 2,5 = 75. Skor minimal yang diperoleh subjek pada skala dukungan sosial adalah 38 x 1 =38, sedangkan skor maksimal yang dapat diperoleh yaitu 38 x 4 = 152, maka jarak sebarannya adalah 152-38 = 114 dan setiap satuan deviasi standarnya bernilai 114 : 6,0 = 19, sedangkan rerata hipotetiknya 38 x 2,5 = 95.
Skala problem focused coping, skala kecerdasan adversitas, dan skala dukungan sosial akan digolongkan dalam tiga kategori untuk mengetahui tinggi rendahnya nilai subjek. Kategorisasi yang digunakan adalah kategorisasi jenjang yang berdasarkan pada model distribusi normal. Tujuan dari kategorisasi ini adalah menempatkan subjek ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang di ukur (Azwar, 2010). Kontinum jenjang ini akan di bagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Norma kategorisasi yang digunakan adalah sebagai berikut:
X < (M – 1 . SD) : Rendah
(M – 1 . SD) ≤ X < (M + 1 . SD) : Sedang
(M + 1 . SD) ≤ X : Tinggi
Keterangan: X : skor skala
commit to user M : mean atau nilai rata-rata
SD: standar deviasi
Selain itu, peneliti mengkategorisasikan subjek penelitian berdasarkan data problem focused coping yang diperoleh dalam hal jenis kelamin. Billings dan Moos (dalam Sarafino, 2011) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi problem focused coping adalah jenis kelamin.
Gambaran umum mengenai data penelitian berdasarkan jenis kelamin pada tabel di bawah ini.
Tabel 28
Kategorisasi Berdasarkan Jenis Kelamin
Kategori Jumlah Subjek
Frek (N) Prosentase (%)
Laki-laki 40 54,05%
Perempuan 34 45,95%
Total 74 100%
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa jumlah subjek yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 54,05% dari jumlah keseluruhan subjek penelitian, yaitu 74 guru SD negeri yang berkedudukan PNS di Kecamatan Sukolilo , dan subjek yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 45,95%.
a. Skala Problem Focused Coping
Penggolongan subjek dalam tiga kategorisasi pada skala problem focused coping disajikan pada tabel berikut.
Tabel 29
Kategorisasi Skala Problem Focused Coping
Rumus Standar Deviasi
Standar Deviasi
Kategorisasi Jumlah responden Rerata
Empirik
Frek Prosenta
se
commit to user
MH-1,0σ≤X<MH+1,0σ
34 ≤X<51 Sedang 29 39,19%
X<MH-1,0σ X<34 Rendah - -
Berdasarkan kategori skala problem focused coping yang disajikan pada tabel di atas, diketahui bahwa 60,81% guru SD negeri yang berkedudukan PNS di Kecamatan Sukolilo memiliki tingkat problem focused coping yang tinggi.
b. Skala Kecerdasan Adversitas
Penggolongan subjek dalam tiga kategorisasi pada skala kecerdasan adversitas disajikan pada tabel berikut.
Tabel 30
Kategorisasi Skala Kecerdasan Adversitas
Rumus Standar Deviasi
Standar Deviasi
Kategorisasi Jumlah responden Rerata
Empirik Frek Prosenta se X≥MH+1,0σ X≥90 Tinggi 50 67,57% 92,743 MH-1,0σ≤X<MH+1,0σ 60≤X<90 Sedang 24 32,43% X<MH-1,0σ X<60 Rendah - -
Berdasarkan kategori skala kecerdasan adversitas yang disajikan pada tabel di atas, diketahui bahwa 67,57% guru SD negeri yang berkedudukan PNS di Kecamatan Sukolilo memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang tinggi.
c. Skala Dukungan Sosial
Penggolongan subjek dalam tiga kategorisasi pada skala dukungan sosial disajikan pada tabel berikut.
commit to user Tabel 31
Kategorisasi Skala Dukungan Sosial
Rumus Standar Deviasi
Standar Deviasi
Kategorisasi Jumlah responden Rerata
Empirik Frek Prosenta se X≥MH+1,0σ X≥114 Tinggi 55 74,32% 120,378 MH-1,0σ≤X<MH+1,0σ 76≤X<114 Sedang 19 25,68% X<MH-1,0σ X<76 Rendah - -
Berdasarkan kategori skala dukungan sosial yang disajikan pada tabel di atas, diketahui bahwa 74,32% guru SD negeri yang berkedudukan PNS di Kecamatan Sukolilo memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi.
Selanjutnya, penggolongan subjek berdasarkan pada jenis kelamin disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 32
Kategorisasi Skala Problem Focused Coping Berdasarkan Jenis Kelamin
Standar Deviasi Kategori Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan (N) (%) (N) (%) X≥51 Tinggi 25 62,5% 20 58,82% 34≤X<51 Sedang 15 37,5% 14 41,18% X<34 Rendah - - - - Total 40 100% 34 100%
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 62,5% guru SD negeri yang berkedudukan PNS di Kecamatan Sukolilo yang berjenis kelamin laki-laki memiliki tingkat problem focused coping yang tinggi, sedangkan 58,82%% guru
commit to user
yang berjenis kelamin perempuan memiliki tingkat problem focused coping yang tinggi.
4. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif
Sumbangan relatif dan sumbangan efektif akan memberikan informasi tentang variabel prediktor yang memberikan sumbangan paling besar terhadap terbentuknya variasi dalam satuan-satuan kriterium regresi. Sumbangan relatif adalah besarnya sumbangan suatu prediktor terhadap jumlah kuadrat regresi, sedangkan sumbangan efektif merupakan ukuran sumbangan suatu prediktor terhadap keseluruhan efektifitas garis regresi yang digunakan sebagai dasar prediksi. Dari hasil analisis menunjukkan:
a. Sumbangan relatif terhadap problem focused coping untuk variabel kecerdasan adversitas sebesar 19,27%, sedangkan untuk variabel dukungan sosial sebesar 80,73%. Hal ini berarti dukungan sosial memberikan sumbangan relatif terhadap problem focused coping lebih besar dari kecerdasan adversitas.
b. Sumbangan efektif terhadap problem focused coping untuk variabel kecerdasan adversitas sebesar 7,05%, sedangkan untuk variabel dukungan sosial sebesar 29,55%. Hal ini berarti dukungan sosial memberikan sumbangan efektif yang lebih besar dari kecerdasan adversitas terhadap problem focused coping.
commit to user
E.Pembahasan
Hasil uji hipotesis membuktikan bahwa hipotesis pertama dalam penelitian ini terpenuhi. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kecerdasan adversitas dan dukungan sosial dengan problem focused coping. Hasil tersebut ditunjukkan oleh nilai Fhitung hasil uji simultan F lebih besar dari nilai Ftabel, yaitu 20,497 > 3,126. Dengan kata lain, kecerdasan adversitas dan dukungan sosial secara bersama-sama berpengaruh terhadap problem focused coping. Hubungan yang terbentuk antara kecerdasan adversitas dan dukungan sosial dengan problem focused coping termasuk dalam kategori kuat, berdasarkan pada nilai R pada penelitian ini, yaitu sebesar 0,605.
Seorang guru yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi dapat ditandai dengan kebiasaan memandang kesulitan dalam hidup secara optimis dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan hidup walaupun ada rintangan yang menghalanginya. Besarnya dukungan sosial yang didapatkan dari orang – orang di lingkungan sekitar akan memberi semangat kepada guru yang mulai bosan dengan rutinitas mengajar, dapat memberi dukungan pada guru untuk bersikap terbuka dalam mengkomunikasikan masalah yang dialami, dan memberikan bantuan apabila dibutuhkan. Kecerdasan adversitas guru yang tinggi, ditunjang dengan tingginya dukungan sosial dari lingkungan sekitar akan meningkatkan kemampuan problem focused coping pada guru SD yang ditunjukkan dengan tindakan dan penilaian positif terhadap peristiwa yang menimbulkan stres, adanya usaha untuk mencari akar masalah dan memusatkan energi untuk menuntaskan segala persoalannya agar berkurang.
commit to user
Sebaliknya, apabila seorang guru memiliki kecerdasan adversitas yang rendah, yang ditandai dengan menghindari kesulitan yang dimiliki, melarikan diri dari masalah, menyerah dalam menghadapi masalah, ditunjang dengan rendahnya dukungan sosial yang ditunjukkan dengan sikap tidak peduli dari orang – orang di sekitar, maka akan menurunkan kemampuan problem focused coping pada guru, yang ditunjukkan dengan ketidakmampuan guru untuk mengubah situasi yang menyebabkan dirinya stres, selalu bergantung pada orang lain, pasif dalam menyelesaikan masalah, dan perasaan tidak mampu dalam menghadapi suatu masalah.
Dalam penelitian ini, guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki kecerdasan adversitas dan dukungan sosial yang tinggi, dan mempunyai problem focused coping yang tinggi. Kecerdasan adversitas dan dukungan social bersama-sama mampu memberikan kontribusi terhadap Problem focused coping sebesar 36,6%. Hal tersebut didasarkan pada hasil analisis determinasi yang menujukkan angka R square sebesar 0,366. Maka demikian, sisanya 63,4% dipengaruhi oleh variabel atau faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Menurut Billings and Moos (dalam Sarafino, 2011), beberapa faktor yang mempengaruhi problem focused coping yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status ekonomi, dan jenis masalahnya. Menurut Lazarus & Folkman (1984) faktor yang mempengaruhi tinggi tidaknya problem focused coping pada seseorang yaitu kesehatan dan energi, keyakinan yang positif, kemampuan pemecahan masalah, keterampilan sosial, dan sumber material.
commit to user
Hasil perhitungan sumbangan relatif dan efektif masing-masing variabel prediktor (kecerdasan adversitas dan dukungan sosial) terhadap variabel kriterium (problem focused coping), menunjukkan bahwa dukungan sosial lebih dominan dalam mempengaruhi problem focused coping dari kecerdasan adversitas. Hasil sumbangan relatif untuk variabel dukungan sosial sebesar 80,73%% sedangkan untuk variabel kecerdasan adversitas sebesar 19,27%. Hasil sumbangan efektif terhadap problem focused coping untuk variabel dukungan sosial sebesar 29,55%, sedangkan untuk variabel kecerdasan adversitas sebesar 7,05%.
Uji hipotesis juga menunjukkan bahwa hipotesis kedua dan ketiga diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kecerdasan adversitas dengan problem focused coping dan hubungan antara dukungan sosial dengan problem focused coping. Hasil tersebut didasarkan pada hasil uji hipótesis secara parsial yang menunjukkan thitung 2,035 > ttabel 1,994 dengan signifikansi 0,046 < 0,05 yang berarti bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversitas dengan problem focused coping, semakin tinggi tingkat kecerdasan adversitas yang dimiliki oleh seorang guru, maka problem focused coping yang dimiliki seorang guru juga akan meningkat. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan adversitas yang dimiliki oleh seorang guru, maka problem focused coping seorang guru juga rendah. Análisis uji korelasi parsial menunjukkan hubungan yang rendah antara kecerdasan adversitas dengan problem focused coping dengan nilai koefisien korelasi antara variabel kecerdasan adversitas dengan problem focused coping sebesar 0,235 dengan signifikansi 0,046 (<0,05).
commit to user
Pembuktian di atas sesuai dengan Stoltz (2005) yang mengemukakan bahwa orang yang mempunyai kecerdasan adversitas yang tinggi akan fokus terhadap solusi pemecahan masalah yang dihadapinya. Guru dengan kecerdasan adversitas tinggi yang mengalami kesulitan cenderung merasa bertanggung jawab atas masalah yang dihadapinya, mampu mengontrol masalah, dan lihai dalam mencari pemecahan dari permasalahannya. Sebaliknya, Stoltz (2005) mengatakan bahwa quiter dan campers (individu dengan kecerdasan adversitas rendah) menghindari kewajiban, mundur, berhenti, mudah puas dengan hasil yang diperolehnya sehingga memilih untuk istirahat dan menghindar dari masalah yang muncul. Orang yang masuk pada kategori ini adalah orang yang ketika menghadapi kesulitan akan menjadi pemurung, pemarah, frustasi, sinis, menyalahkan orang lain, dan iri dengan kesuksesan orang lain.
Selanjutnya, hasil uji hipótesis secara parsial yang kedua menunjukkan thitung 5,219 > ttabel 1,994 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dengan problem focused coping, semakin tinggi dukungan sosial yang dimiliki oleh seorang guru, maka problem focused coping yang dimiliki seorang guru juga akan meningkat. Sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial yang dimiliki oleh seorang guru, maka problem focused coping seorang guru juga akan rendah. Análisis uji korelasi parsial menunjukkan hubungan yang sedang antara dukungan sosial dengan problem focused coping dengan nilai koefisien korelasi antara variabel dukungan sosial dengan problem focused coping sebesar 0,527 dengan signifikansi 0,000 (<0,05).
commit to user
Hal tersebut sesuai dengan penelitian House, dkk (dalam Sarafino, 1998) yang mengatakan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi masalah yang dialami oleh individu. Dukungan sosial akan membantu seorang guru merasa dirinya berharga, berguna bagi pekerjaannya, diperhatikan, sehingga dalam menghadapi masalahnya guru tidak merasa sendiri dan tidak cepat putus asa karena ada orang di sekitar yang membantu dan memberi dukungan. Orang yang mendapat dukungan sosial yang banyak akan dapat bersikap aktif dalam mencari penyelesaian atas masalahnya. Adanya dukungan sosial yang tinggi membuat seseorang menjadi lebih yakin akan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan kategorisasi data deskriptif yang dilakukan pada Skala Problem Focused Coping, diperoleh hasil 60,81% guru PNS di SD Negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki problem focused coping yang tinggi, dan 39,19% tergolong memiliki problem focused coping yang sedang, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki problem focused coping yang tinggi. Subyek merasa dirinya mampu untuk menyelesaikan masalah secara aktif, selalu berusaha untuk mencari akar permasalahan dan menghasilkan solusi dari masalah sehingga masalahnya akan menghilang atau setidaknya berkurang. Hal tersebut juga menyebabkan meningkatnya problem focused coping pada guru.
Begitu pula dengan kecerdasan adversitas. Berdasarkan kategori Skala Kecerdasan Adversitas, diketahui bahwa 67,57% guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki kecerdasan adversitas yang tinggi dan 32,43%
commit to user
memiliki kecerdasan adversitas yang sedang, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki kecerdasan adversitas yang tinggi. Hal ini dimungkinkan karena guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki tantangan yang tinggi dalam mengajar disebabkan berbagai hal yang ada sehingga mengharuskan mereka untuk memiliki kecerdasan adversitas yang tinggi agar tidak kalah kualitas dengan guru-guru di kota.
Selanjutnya, untuk kategorisasi dukungan sosial, diperoleh hasil bahwa 74,32% guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki dukungan sosial yang tinggi, dan 25,68% memiliki dukungan sosial sedang. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara umum guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo memiliki dukungan sosial dengan tingkat yang tinggi. Hal ini ditandai dengan sebagian besar subjek mendapatkan perhatian dan bantuan dari orang-orang di lingkungan sekitarnya, misalnya pengawas SD di Kecamatan Sukolilo.
Hasil kategorisasi problem focused coping berdasarkan perbedaan jenis kelamin subjek, yaitu 65% guru PNS di SD negeri di Kecamatan Sukolilo yang berjenis kelamin laki-laki memiliki tingkat problem focused coping yang tinggi dan 35% dengan tingkat sedang. Selanjutnya, pada guru PNS di SD negeri yang berjenis kelamin perempuan, tercatat 61,76% memiliki problem focused coping dengan tingkat tinggi dan 38,24% memiliki problem focused coping dengan tingkat sedang. Hasil thitung sebesar 0,55 kurang dari ttabel 1,6810, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang tingkat problem focused coping antara guru laki–laki dan perempuan. Meskipun jenis kelamin merupakan faktor
commit to user
yang mempengaruhi problem focused coping (Billings dan Moos, dalam Sarafino, 2011), namun faktor lain yang mempengaruhi tinggi rendahnya problem focused coping pada seseorang juga berdampak terhadap hal tersebut. Misalnya jenis masalah. Jenis permasalahan yang dihadapi oleh seseorang dapat menentukan cara orang tersebut dalam menghadapi masalahnya. Selain itu, Odgen (2004) juga menyebutkan bahwa usia juga dapat mempengaruhi tinggi rendahnya problem focused coping. Orang dewasa tengah lebih menggunakan problem focused coping sedangkan orang tua lebih menggunakan emotion focused coping.
Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dalam penelitian ini, yaitu, keterbatasan kontrol yang dilakukan oleh peneliti, karena peneliti tidak menunggui proses pengisian skala sehingga peneliti tidak dapat mengetahui cara pengisian skala yang dilakukan oleh responden. Peneliti juga tidak dapat mengontrol apakah skala diisi sendiri oleh responden atau ada pihak lain yang mengisi skala tersebut. Selain itu, kurangnya kendali terhadap variabel yang dapat mempengaruhi problem focused coping, seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status ekonomi, dan jenis masalah (Billings and Moos, dalam Sarafino, 2011). Meskipun begitu, dalam penelitian ini juga memiliki kelebihan, yaitu belum adanya peneliti yang melakukan penelitian tentang problem focused coping dengan variabel kecerdasan adversitas dan dukungan sosial yang dilakukan pada guru PNS di SD negeri, penelitian ini mampu membuktikan semua hipótesis yang ditarik pada awal penelitian, serta penelitian ini mampu memberikan sumbangan ilmu baru bagi peneliti mengenai variabel-variabel yang digunakan.