Medium berfungsi untuk mengisolasi, menumbuhkan, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisologi, dan menghitung jumlah mikroba. Proses pembuatan medium harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada medium. Media SDA (Sabouraud Dextrose Agar) merupakan media yang digunakan untuk mengisolasi jamur. Konsistensi media SDA berbentuk padat (Solid) dan tersusun dari bahan sintesis. Fungsi dari media SDA yaitu, isolasi mikroorganisme menjadi kultur murni, untuk budidaya jamur patogen, komensal dan ragi, digunakan dalam evaluasi mikologi makanan, serta secara klinis membantu dalam diagnosis ragi dan jamur penyebab infeksi (Kustyawati, 2009).
Komposisi media SDA yaituMycologicalpeptone 10 g, Glucose 40 g, dan Agar 15 g. Mycological peptone berfungsi menyediakan nitrogen dan sumber vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme dalam media SDA, glukosa sebagai sumber energi dan agar berfungsi sebagai bahan pemadat. Kebanyakan jamur terdapat di alam dan tumbuh dengan cepat pada sumber nitrogen dan karbohidrat yang sederhana. Secara tradisional, agar Sabouraud, yang mengandung glukosa dan pepton modifikasi (pH 7,0), telah dipakai karena tidak cepat mendorong pertumbuhan bakteri (Kustyawati, 2009).
sehingga saat ini banyak yang mulai menggunakan media/bahan yang tidak membutuhkan biaya yang mahal dan mudah didapat. Salah satu contohnya adalah singkong. Singkong merupakan tanaman pangan dan perdagangan (Cash crop). Sebagai tanaman perdagangan, ubi kayu menghasilkan starch, gaplek, tepung ubi kayu, etanol, gula cair dan lain-lain. Sebagai tanaman pangan, ubi kayu merupakan sumber karbohidrat bagi 500 juta manusia di dunia (Irma, 2015).
Tanaman singkong (Manihot utilisma) banyak tumbuh di Indonesia, karena tanaman ini mempunyai sifat yaitu mudah tumbuh di daerah tropis, tahan terhadap suhu tinggi, hasil produksi besar dan tidak mudah terserang hama dan penyakit. Umbi singkong merupakan sumber karbohidrat yang sangat tinggi, sehingga mampu menyediakan energi dalam jumlah yang cukup besar dan rendah kadar lemaknya (Hapsari, 2007dalamIrma, 2015).
Umbi singkong dapat dimanfaatkan dalam beberapa bentuk makanan jadi atau setengah jadi (intermediate). Pengolahan singkong menjadi tepung dapat meningkatkan nilai tambah dan kegunaan singkong, serta memperpanjang masa simpannya (Hapsari, 2007 dalam Irma, 2015). Tanaman singkong memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom :Plantae
Divisi :Magnoliophyta Kelas :Dicotyledoneae Ordo :Euphorbiales Family :Euphorbiaceae
Genus :Manihot
Gambar 1. Umbi Singkong (Manihot utilisma) (Sumber : Dokmentasi pribadi, 2018)
Tepung singkong adalah tepung yang terbuat dari singkong dengan adanya perbaikan dalam ketentuan keamanan pangan. Tepung ini mulai diperkenalkan pada tahun 1993. Proses pembuatan tepung ini merupakan perbaikan dari cara pembuatan tepung gaplek. Keunggulan proses ini hasilnya lebih tinggi dibanding tepung gaplek yaitu dari 20 sampai 22% menjadi 25 sampai 30%, awet, gizi lebih baik, dan dapat mensubstitusi terigu, baik parsial atau seluruhnya.).
Tabel 2. Daftar Komposisi kimia singkong dan Tepung Singkong
Kandungan Unit/100 gram
Singkong Tepung Singkong
Kalori (Kal) 146 363
Protein (gr) 1,2 1,1
Lemak (gr) 0,3 0,5
Karbohidrat (gr) 34,7 81,75
Zat Kapur (mg) 33 84
Phospor (mg) 40 125
Zat besi 0,7 1,0
Thiamine (mg) 20 0,4
Vit C (mg) 30
-Air (gr) 62,50 10-13
(Sumber : Suprapti (2005) dan Widowati (2011))
bagi tumbuh-tumbuhan dan dalam bentuk granul yang dijumpai pada umbi dan akarnya. Amilum terdiri dari 3 komponen utama yaitu amilosa, amilopektin dan material antara seperti protein dan lemak. Umumnya Amilum mengandung 15-30% , 70-85% amilopektin, dan 5-10% material antara. Amilum tidak larut di dalam air dingin, tetapi larut di dalam air panas membentuk cairan yang sangat pekat seperti pasta, peristiwa ini disebut"gelatinisasi" (Hutagalung, 2004).
Berdasarkan kandungan diatas, dapat diketahui fungsi masing-masing komponen tepung singkong terhadap pertumbuhan jamur yaitu :
a. Air (12%)
Air merupakan komponen utama di dalam sel mikroorganisme dan medium. Fungsi air sebagai sumber energi berupa substrat yang dapat dioksidasi, sebagai sumber oksigen untuk bahan organik sel pada respirasi, selain itu air berfungsi sebagai pelarut dan alat pengangkut dalam metabolisme (Brooks, 2008dalamRosidah, 2016)
b. Lemak (0,32%)
Jamur dapat menggunakan lipid dalam bentuk lemak dan minyak sebagai sumber karbon. Materi organik berupa lipid akan didegradasi oleh enzim lipase yang disekresikan jamur ke lingkungan sebelum diangkut ke dalam sel (Dewi, 2014)
c. Protein (1,19%)
d. Karbohidrat (81,75%)
Karbohidrat dan derivatnya digunakan sebagai substrat utama untuk metabolisme karbon pada jamur. Karbon merupakan unsur yang paling penting karena 50% berat karbon adalah karbon (Hidayat, 2006).
e. Kandungan lain
Beberapa kandungan lain seperti Zat besi (Fe), Phospor (P), dan Vitamin (Thiamine) juga dibutuhkan oleh jamur untuk mendukung pertumbuhannya (Capuccino, 2014).
Proses pembuatan tepung singkong terdiri dari beberapa tahap yaitu (Widowati, 2011):
a. Tahap persiapan
Varietas singkong yang digunakan dalam pembuatan tepung singkong dapat berasal dari berbagai varietas. Singkong merupakan jenis umbi-umbian yang tidak tahan disimpan, sehingga perlu diperhatikan penanganan pada saat panen, pengangkutan, dan pengolahan. Singkong yang telah dipanen, langsung diproses menjadi sawut kering dalam waktu 24 jam. Apabila terlambat maka akan terjadi kerusakan, umbi singkong akan berwarna kecoklatan, dan dapat menurunkan kualitas tepung singkong. Kualitas tepung singkong sangat ditentukan oleh mutu singkong segar. Agar diperoleh tepung yang berwarna putih, harus digunakan singkong putih dan segar.
b. Tahap pengupasan
banyak. Cara tersebut umumnya menggunakan pisau dapur atau pisau khusus, sedangkan dengan menggunakan mesin pengupas kulit singkong, umbi singkong yang dihasilkan kurang maksimal, walaupun dapat mempercepat waktu pengupasan.
c. Tahap pencucian dan perendaman
Singkong yang telah dikupas secepatnya dicuci dengan air mengalir atau di dalam bak agar kotoran, lendir, dan kadar HCN dapat hilang. Perendaman umbi dilakukan dengan air yang cukup banyak, agar umbi tetap bersih dan putih sewaktu proses penyawutan. Tepung yang dihasilkan mengandung HCN sebesar 40 ppm yaitu ambang batas HCN dalam produk. (BSN, 1996).
d. Tahap penyawutan
Penyawutan dilakukan dengan alat penyawut yang digerakkan secara manual atau dengan tenaga mesin. Sawut yang dihasilkan berupa irisan singkong dengan lebar 0,2-0,5 cm, panjang 1-5 cm, dan tebal 0,1-0,4 cm. Sawut basah ditampung dalam bak plastik atau wadah lain yang tidak korosif. e. Tahap pengepresan
f. Tahap pengeringan
Sawut pres harus segera dijemur, apabila cuaca buruk dapat digunakan alat pengering. Pengeringan sawut perlu mendapat perhatian khusus, karena akan menentukan mutu tepung yang dihasilkan. Kadar air maksimum yang direkomendasikan maksimum 14%. Apabila kadar air sawut masih tinggi, tepung singkong yang dihasilkan tidak tahan lama untuk disimpan, sehingga menurunkan mutu tepung singkong. Penjemuran dilakukan di atas rak, menggunakan alas dari bahan yang tidak korosif (misal: anyaman bambu, sasak nampan aluminium).
g. Tahap pengemasan
Sawut kering langsung dikemas dengan kantong plastik tebal kedap udara, lalu dimasukkan dalam karung plastik. Gudang atau ruang penyimpanan harus bersih, dan kering serta diberi alas kayu agar karung tidak langsung bersentuhan dengan lantai.
h. Tahap penepungan
Penggilingan sawut kering menjadi tepung singkong dapat menggunakan alat penepung beras yang banyak beredar di pasaran. Penepungan dilakukan dalam dua tahap, yaitu penghancuran sawut untuk menghasilkan butiran kecil (lolos 20 mesh), dan penggilingan/penepungan dengan saringan lebih halus (80 mesh).
2.2 Syarat Media Pertumbuhan Jamur
1. Media harus mempunyai tekanan osmose
Sel mikroba dengan media harus memiliki tekanan osmose yang sama, oleh karena itu untuk pertumbuhannya jamur membutuhkan media yang isotonis.
2. Derajat keasaman (pH) yang sesuai
Jamur tumbuh baik dalam kondisi asam yang tidak menguntungkan bagi bakteri. Umumnya fungi menyenangi pH di bawah 7,0. Jenis-jenis khamir tertentu bahkan tumbuh pada pH yang cukup rendah, yaitu pH 4,5-5,5.
3. Temperatur
Jamur tumbuh paling baik pada sekitar suhu kamar yang normal. Pada umumnya, lingkungan yang hangat dan lembab mempercepat pertumbuhan jamur karena untuk pertumbuhannya dibutuhkan kelembaban yang tinggi. Umumnya, jamur patogen memerlukan temperatur optimum 30-370C sesuai dengan temperatur tubuh.
4. Media harus steril
5. Media tidak mengandung zat-zat penghambat
Beberapa jamur memproduksi komponen penghambat bagi mikrobia lain, contohnya Penicillium chrysogenum dengan produksi penisilinnya, Aspergillus clavatus, klavasin. Beberapa komponen kimia bersifat mikrostatik,
menghambat pertumbuhan jamur (misalnya asam sorbat, propionat, asetat) atau bersifat fungisida yang mematikan jamur.
6. Media mengandung nutrisi untuk pertumbuhan mikroorganisme
Nutrisi yang mudah digunakan oleh mikrooganisme meliputi karbon, nitrogen, unsur non logam seperti sulfur dan fosfor, unsur logam seperti Ca, Zn, Na, K, Cu, Mn, Mg, dan Fe, vitamin, air, dan energi.
2.3 Pertumbuhan Jamur
Setiap mikroorganisme mempunyai kurva pertumbuhan, begitu pula fungi. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel pada kapang atau kekeruhan media pada khamir dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhan mempunyai beberapa fase (Gandjar, 2006) antara lain :
1. Fase lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan, pembentukan enzim-enzim untuk mengurai substrat;
2. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan fase lag menjadi fase aktif;
4. Fase deselerasi, yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah, kita dapat memanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi diperlukan oleh sel-sel;
5. Fase stasioner, yaitu fase jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang horizontal. Banyak senyawa metabolit sekunder dapat dipanen pada fase stasioner;
6. Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif sama sekali lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup.
Umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh (Gandjar, 2006): 1. Substrat
menghasilkan enzim sesuai komposisi substrat dengan sendirinya tidak dapat memanfaatkan nutrien-nutrien dalam substrat tersebut.
2. Kelembapan
Faktor ini sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Umumnya fungi tingkat rendah seperti Rhizopus atau Mucor memerlukan lingkungan dengan kelembapan nisbi 90%, sedangkan kapang Aspergillus,Penicillium,Fusarium, dan banyak hyphomycetes lainnya dapat hidup pada kelembapan nisbi yang lebih rendah, yaitu 80%. Fungi yang tergolong xerofilik tahan hidup pada kelembapan 70%, misalnya Wallemia sebi, A.glaucus, banyak strain A.tamarii danA.flavus.
3. Suhu
dapat memberikan produk yang optimal meskipun terjadi peningkatan suhu karena metabolisme funginya, sehingga industri tidak memerlukan penambahan alat pendingin.
4. Derajat keasaman lingkungan
pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi, karena enzim-enzim tertentu hanya akan mengurai suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya pada pH tertentu. Umumnya fungi menyenangi pH di bawah 7.0. Jenis-jenis khamir tertentu bahkan tumbuh pada pH yang cukup rendah, yaitu pH 4.5-5.5. Mengetahui sifat tersebut adalah sangat penting untuk industri agar fungi yang ditumbuhkan menghasilkan produk yang optimal, misalnya pada produksi asam sitrat, produksi kefir, produksi enzim protease-asam, produksi antibiotik, dan juga untuk mencegah pembusukan bahan pangan.
5. Bahan Kimia
Bahan kimia sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan fungi. Senyawa formalin disemprotkan pada tekstil yang akan disimpan untuk waktu tertentu sebelum dijual. Hal ini terutama untuk mencegah pertumbuhan kapang yang bersifat selulolitik, seperti Chaetomium globosum, A.niger, dan Cladosporium cladosporoides yang dapat merapuhkan tekstil, atau meninggalkan noda-noda hitam akibat sporulasi yang terjadi, sehingga menurunkan kualitas bahan tersebut.
mikroorganisme lain termasuk terhadap sesama mikroorganisme. Manusia memanfaatkan senyawa-senyawa tersebut, yang kita kenal sebagai antibiotik, untuk mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme (Gandjar, 2006).
2.4Candida albicans
C.albicansmerupakan jamur yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu blastospora (blasroconidia) dangerminated yeastsehingga disebut jamur dimorfik. Blastospora (blasroconidia) adalah bentuk fenotip yang bertanggung jawab dalam transmisi dan penyebaran. Bentuk germinated yeast adalah bentuk fenotip yang dapat menginvasi jaringan dan menimbulkan simptomatik karena bentuk ini dapat menghasilkan mycelia. Perbedaan ini tergantung pada faktor eksternal yang mempengaruhi selama proses pertumbuhan berlangsung. (Tortoraet al., 2001).
C.albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas, spora jamur disebut blastospora. Membentuk hifa semu (pseudohifa) yang sebenarnya adalah rangkaian blastospora. Berdasarkan bentuk-bentuk jamur tersebut dikatakan bahwaC.albicansmenyerupai ragi (yeast like), untuk membedakannya dari jamur yang hanya membentuk blastospora (Gambar 2) (Jawetz, 2005). C.albicans memiliki sistem klasifikasi sebagai berikut :
Genus :Candida
Spesies :Candida albicans
Sinonim :Candida stellatoidaedanOidium albicans(Silamba, 2014)
Gambar 2. Morfologi selC.albicans(Perbesaran objektif 100x) (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2018)
Spesies Candidatumbuh dengan cepat pada medium agar sederhana yang mengandung peptone, dextrose, maltose atau sukrose. C. albicans membutuhkan senyawa organik sebagai sumber karbon dan sumber energi untuk pertumbuhan dan proses metabolismenya. Unsur karbon ini dapat diperoleh dari karbohidrat. Jamur ini merupakan organisme anaerob fakultatif yang mampu melakukan metabolisme sel, baik dalam suasana anaerob maupun aerob. Proses peragian (fermentasi) pada C. albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob. Karbohidrat yang tersedia dalam larutan dapat dimanfaatkan untuk melakukan metabolisme sel dengan cara mengubah karbohidrat menjadi CO
C.albicans dapat tumbuh pada suhu 370C dalam kondisi aerob atau anaerob. Kondisi anaerob C.albicans mempunyai waktu generasi yang lebih panjang yaitu 248 menit, sedangkan pada kondisi aerob hanya 98 menit. C.albicans tumbuh baik pada media padat tetapi kecepatan pertumbuhan lebih tinggi pada media cair pada suhu 370C (Biswas dan Chaffin, 2005). Pertumbuhan juga lebih cepat pada kondisi asam dibandingkan dengan pH normal atau alkali (Tjampakasari, 2006).
2.5 Kerangka Teori
Media pertumbuan atau perkembangbiakan jamur sampai saat ini umumnya menggunakan media SDA. Namun karena dipengaruhi oleh harganya yang tinggi maka alternatif pengganti media SDA sangat diperlukan. Tepung singkong diharapkan dapat menjadi media alternatif pengganti SDA dikarenakan mudah diperoleh dan memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi yang sangat mendukung pertumbuhan Jamur. Kerangka teori penelitian ini sesuai Gambar 3.
Gambar 3. Skema kerangka Teori Media pertumbuhan
jamur
SDA (Sabouraud Dextrose Agar) Media alternatif
Harganya murah Tepung singkong
Memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi
Media pertumbuhan jamurC.albicans
2.6 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian ini seperti Gambar 4.
Variabel bebas Variabel terikat
Gambar 4. Skema kerangka Konsep
2.7 Hipotesis Penelitian
“ Ada perbedaan variasi konsentrasi tepung singkong 8%, 9%, 10%. 11% dan 12% terhadap pertumbuhan jumlah koloni jamurC.albicans. “
Media Alternatif Tepung Singkong dengan
konsentrasi 8%, 9%, 10%. 11% dan 12%