• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR 4 TAHUN 2009

TENTANG

TATA CARA PENGISIAN STRUKTUR ORGANISASI

MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA KABUPATEN ACEH TAMIANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

BUPATI ACEH TAMIANG,

Menimbang : a. bahwa para ulama telah memberikan kontribusi dalam membentuk

pola kehidupan masyarakat yang Islami, sehingga masyarakat Aceh menempatkan ulama dalam kedudukan dan peran yang terhormat dalam bermasyarakat dan bernegara ;

b. bahwa dengan telah ditetapkannya Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Ulama, maka perlu diatur lebih lanjut tentang Tata Cara Pengisian Struktur Organisasi Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Tamiang;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Qanun tentang Tata Cara Pengisian Struktur Organisasi Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Tamiang;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan

Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 172, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3893) ;

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4179);

3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ;

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah untuk keduakalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ;

5. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);

(2)

6. Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan Qanun (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 Nomor 03, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 03).

7. Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2009 tentang Majelis

Permusyawaratan Ulama (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2009 Nomor 02, Tambahan Lembaran Daerah Aceh Nomor 24).

Dengan Persetujuan Bersama,

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN ACEH TAMIANG dan

BUPATI ACEH TAMIANG MEMUTUSKAN :

Menetapkan : QANUN TENTANG TATA CARA PENGISIAN STRUKTUR

ORGANISASI MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA KABUPATEN ACEH TAMIANG.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Qanun ini yang dimaksudkan dengan : 1. Kabupaten adalah Kabupaten Aceh Tamiang.

2. Pemerintahan Kabupaten adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing.

3. Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang yang selanjutnya disebut Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang adalah unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten yang terdiri atas Bupati dan Perangkat Daerah Kabupaten.

4. Bupati adalah Bupati Aceh Tamiang.

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang yang selanjutnya disebut DPRK Aceh Tamiang adalah unsur penyelenggara pemerintahan Kabupaten yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

6. Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Tamiang yang selanjutnya disingkat MPU Kabupaten Aceh Tamiang adalah majelis yang anggotanya terdiri atas ulama dan cendikiawan muslim yang merupakan mitra kerja Pemerintah Kabupaten dan DPRK.

7. Ulama adalah tokoh panutan masyarakat yang memiliki integritas moral yang memahami secara mendalam dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadist.

8. Cendikiawan Muslim adalah ilmuwan muslim yang mempunyai integritas moral dan memiliki keahlian tertentu secara mendalam serta mengamalkan ajaran Islam.

9. Kedudukan protokoler adalah kedudukan yang diberikan kepada seseorang untuk mendapatkan penghormatan, perlakuan dan tata tempat dalam acara resmi atau pertemuan resmi.

10. Protokoler adalah serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi di daerah yang meliputi aturan mengenai tata tempat dan tata penghormatan kepada seseorang sesuai dengan jabatan dan/atau kedudukannya dalam Negara, pemerintahan dan masyarakat.

(3)

11. Kedudukan Keuangan adalah anggaran yang disediakan dalam APBK yang diperuntukkan dan diberikan setiap bulannya kepada anggota MPU sehubungan dengan Kedudukannya selaku pimpinan dan anggota MPU sebagai mitra Pemerintahan Kabupaten.

12. Acara Resmi adalah acara yang bersifat resmi yang diatur yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dalam tugas dan fungsi tertentu dihadiri oleh pejabat Negara, pejabat pemerintah, pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang serta undangan lainnya.

13. Tata Tempat adalah aturan mengenai urutan tempat bagi pejabat Negara, pejabat Pemerintah, pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan tokoh masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan, kedaerahan atau acara resmi.

14. Tata Penghormatan adalah aturan untuk melaksanakan pemberian hormat bagi pejabat Negara, pejabat Pemerintah, pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan tokoh masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan, acara daerah atau acara resmi.

15. Kebijakan Daerah adalah kebijakan yang bersifat mengatur dan mengikat tentang penyalenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan masyarakat yang dituangkan dalam Qanun Kabupaten Aceh Tamiang dan Peraturan Bupati.

16. Pertimbangan adalah pokok-pokok pikiran MPU yang berhubungan dengan kebijakan daerah yang disampaikan secara tertulis.

17. Saran adalah usul atau rekomendasi yang disampaikan oleh pimpinan MPU kepada Pemerintah Kabupaten.

18. Panitia khusus adalah panitia yang dibentuk oleh MPU Kabupaten Aceh Tamiang melaksanakan tugas-tugas khusus dan bersifat sementara.

BAB II ORGANISASI Bagian Kesatu

Kedudukan, fungsi, Kewenangan dan Tugas Pasal 2

MPU Kabupaten Aceh Tamiang berkedudukan di ibu kota Kabupaten.

Pasal 3

MPU Kabupaten Aceh Tamiang berfungsi :

a. memberikan pertimbangan terhadap kebijakan daerah, meliputi bidang pemerintahan, ekonomi, pembangunan, sosial budaya dan kemasyarakatan;

b. memberikan nasehat dan pendidikan/bimbingan kepada masyarakat berdasarkan ajaran Islam.

Pasal 4

MPU Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai kewenangan :

a. melaksanakan dan mengamankan fatwa yang dikeluarkan oleh MPU Aceh;

b. memberikan pertimbangan dan masukan kepada pemerintah kabupaten yang meliputi bidang pemerintahan, ekonomi, pembangunan dan sosial budaya kemasyarakatan sesuai dengan tatanan yang Islami.

c. memberikan nasehat dan pendidikan/bimbingan kepada masyarakat sesuai dengan ajaran Islam.

(4)

Pasal 5

(1) MPU Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai tugas :

a. memberikan masukan, pertimbangan, dan saran kepada Pemerintah Kabupaten dan DPRK dalam menetapkan kebijakan daerah berdasarkan syari’at Islam; b. melakukan pengawasan terhadap penyelenggaran pemerintahan, kebijakan

daerah berdasarkan Syari’at Islam; c. melakukan pengkaderan ulama;

d. melakukan pemantauan dan kajian terhadap dugaan adanya penyimpangan kegiatan keagamaan yang meresahkan masyarakat serta melaporkannya kepada MPU Aceh.

(2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara melibatkan MPU Kabupaten Aceh Tamiang dalam setiap pembuatan kebijakan Daerah;

Pasal 6

(1) Dalam menyelenggarakan administrasi dan mendukung pelaksanaan tugas-tugas MPU Kabupaten Aceh Tamiang dibentuk Sekretariat MPU.

(2) Sekretariat MPU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Qanun dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua Struktur Organisasi

Pasal 7

(1) MPU Kabupaten Aceh Tamiang terdiri atas : a. Dewan Kehormatan Ulama;

b. Pimpinan; c. Komisi;

d. Panitia Musyawarah (Panmus); e. Panitia Khusus.

(2) Struktur organisasi MPU Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Qanun ini.

Paragraf 1

Dewan Kehormatan Ulama Pasal 8

(1) Dewan Kehormatan Ulama adalah lembaga yang berfungsi memberikan pertimbangan dan nasehat kepada pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(2) Keanggotaan Dewan Kehormatan Ulama terdiri atas ulama kharismatik yang bukan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang yang ditetapkan dengan keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Paragraf 2

Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang Pasal 9

(1) MPU Kabupaten Aceh Tamiang dipimpin oleh 1 (satu) orang Ketua dan 2 (dua) orang Wakil Ketua yang bersifat kolektif.

(5)

(2) Ketua dan Wakil Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari dan oleh anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang dalam rapat paripurna khusus yang dilaksanakan untuk itu.

(3) Pimpinan sementara MPU Kabupaten Aceh Tamiang sebelum pimpinan definitif terpilih dijabat oleh seorang anggota tertua sebagai Ketua dan seorang anggota termuda sebagai Wakil Ketua.

(4) Pimpinan sementara MPU sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bertugas : a. menyusun tata tertib pemilihan pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang; b. melaksanakan pemilihan pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(5) Pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang ditetapkan dengan Keputusan Bupati dan diresmikan dengan mengucapkan sumpah dalam Rapat Paripurna Istimewa yang disaksikan oleh Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Tamiang. (6) Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai tugas memimpin MPU

Kabupaten Aceh Tamiang dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 5 .

(7) Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang tidak boleh merangkap jabatan strategis.

Pasal 10

(1) Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang bertanggung jawab memimpin seluruh kegiatan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(2) Dalam hal MPU Kabupaten Aceh Tamiang berhalangan, maka tanggung jawab dilaksanakan oleh Wakil Ketua berdasarkan hasil musyawarah pimpinan secara kolektif.

(3) Wakil Ketua I membidangi Pendidikan, Pengembangan Ekonomi Umat dan Kajian Perundang-undangan.

(4) Wakil Ketua II membidangi Dakwah, Pendidikan Keluarga dan Generasi Muda.

(5) Selain tugas-tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3) dan ayat (4), para Wakil Ketua melaksanakan tugas-tugas lainnya yang dibebankan oleh Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Paragraf 3

Anggota MPU kabupaten Aceh Tamiang Pasal 11

(1) Anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari Ulama dan cendikiawan muslim utusan Kabupaten Aceh Tamiang dan Kecamatan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan.

(2) Anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari utusan Kabupaten dan utusan kecamatan yang jumlahnya disesuaikan secara proporsional.

Pasal 12

(1) Calon anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang ditetapkan oleh MPU Kabupaten Aceh Tamiang dengan memperhatikan kualifikasi dan domisili.

(2) Penetapan calon anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang utusan Kabupaten melalui musyawarah ulama kabupaten yang dilaksanakan oleh MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(3) Musyawarah ulama kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diikuti oleh anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang, Ulama, Cendikiawan Muslim dan Ketua Ormas Islam;

(6)

(4) Utusan kecamatan dipilih melalui musyawarah ulama kecamatan dengan memperhatikan keilmuwan dan akhlak.

(5) Musyawarah ulama kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diikuti oleh Cendikiawan Muslim, Imam Kemukiman, Tok Imam Kampung dan Pimpinan Dayah yang difasilitasi oleh camat.

(6) Utusan kecamatan terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada MPU Kabupaten Aceh Tamiang melalui camat untuk ditetapkan sebagai calon anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Paragraf 4 Panitia Musyawarah

Pasal 13

(1) Panitia Musyawarah merupakan alat kelengkapan MPU Kabupaten Aceh Tamiang yang bersifat tetap, dibentuk oleh MPU Kabupaten Aceh Tamiang pada awal masa jabatan pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(2) Panitia Musyawarah MPU Kabupaten Aceh Tamiang merupakan forum pertimbangan sebelum pengambilan keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Pasal 14

(1) Panitia Musyawarah MPU Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah paling banyak 13 orang.

(2) Panitia Musyawarah MPU Kabupaten Aceh Tamiang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang, Ketua Komisi dan Anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(3) Ketua dan Wakil Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang karena jabatannya adalah pimpinan panitia musyawarah merangkap anggota.

(4) Kepala Sekretariat MPU Kabupaten Aceh Tamiang karena jabatannya adalah sekretaris panitia musyawarah bukan anggota.

Pasal 15

Panitia Musyawarah MPU Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai tugas :

a. memberikan pertimbangan tentang penetapan program kerja MPU Kabupaten Aceh Tamiang baik diminta atau tidak;

b. menetapkan kegiatan dan jadwal acara rapat MPU Kabupaten Aceh Tamiang; c. memutuskan pilihan mengenai isi risalah rapat apabila timbul perbedaan pendapat; d. merekomendasikan pembentukan panitia khusus;

e. memberi saran dan pendapat tentang materi rancangan keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang dan keputusan pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Paragraf 5 Komisi-komisi

Pasal 16

(1) Seluruh anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang dibagi dalam komisi-komisi. (2) Komisi-komisi terdiri dari :

a. Komisi A bidang pemerintahan, kajian Qanun Kabupaten Aceh Tamiang dan perundang-undangan lainnya;

(7)

b. Komisi B bidang ekonomi, pembangunan, pendidikan, penelitian dan pengembangan;

c. Komisi C bidang keagamaan, sosial budaya dan kemasyarakatan.

Pasal 17

Komisi-komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 mempunyai tugas merencanakan dan membahas program operasional yang berkenaan dengan bidang tugasnya,

mempersiapkan data, menginventarisasi permasalahan yang perlu mendapat

pembahasan/pemecahan dari MPU Kabupaten Aceh Tamiang serta melaksanakan hal-hal lain yang ditugaskan oleh pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Pasal 18

Uraian tugas dan tata cara pelaksanaan rapat-rapat komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ditetapkan dengan keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Pasal 19

(1) Komisi-komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipimpin oleh 1 (satu) orang ketua merangkap anggota, 1 (satu) orang sekretaris merangkap anggota dan beberapa anggota.

(2) Jumlah anggota komisi ditetapkan lebih lanjut dalam Peraturan Tata Tertib MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Paragraf 6 Panitia Khusus

Pasal 20

(1) Panitia Khusus dibentuk oleh pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang untuk melaksanakan tugas tertentu sesuai kebutuhan.

(2) Tugas dan kewenangan Panitia Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

BAB III PERSYARATAN

Pasal 21

Untuk menjadi pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang harus memenuhi syarat-syarat :

a. warga Negara Republik Indonesia; b. setia kepada Pancasila dan UUD 1945; c. bertaqwa kepada Allah SWT;

d. sehat jasmani dan rohani;

e. mempunyai integritas diri dan berakhlak mulia;

f. berusia paling rendah 40 tahun;

g. berlaku adil dan arif terhadap semua golongan umat Islam; h. mampu memahami ajaran Islam dari sumbernya yang asli;

(8)

Pasal 22

(1) Pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang dilarang :

a. menjadi pengurus /anggota Partai Politik;

b. menjadi calon anggota legislatif dan calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah;

c. terlibat dalam kampanye pemilihan umum, pemilihan Presiden dan Kepala

Daerah.

(2) Pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang yang akan mencalonkan diri menjadi dan/atau dicalonkan menjadi calon anggota legislatif dan calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah harus terlebih dahulu mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pimpinan dan anggota MPU kabupaten Aceh Tamiang.

(3) Pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan pemberhentian dari kedudukannya sebagai pimpinan dan anggota MPU.

(4) Keputusan Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Bupati.

BAB IV MASA BAKTI

Pasal 23

(1) Masa bakti MPU Kabupaten Aceh Tamiang selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa bakti berikutnya.

(2) Masa jabatan Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

Pasal 24

(1) Pergantian antar waktu pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang dilakukan dalam sidang paripurna khusus.

(2) Pergantian antar waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang karena :

a. meninggal dunia; b. mengundurkan diri;

c. berdomisili di luar daerah Kabupaten Aceh Tamiang; d. melanggar ketentuan Pasal 22 ayat (1);

e. alasan-alasan lain yang sah menurut syar’i.

(3) Mekanisme pergantian antar waktu pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang diatur dalam tata tertib MPU Kabupaten Aceh Tamiang;

BAB V

KEDUDUKAN PROTOKOLER PIMPINAN MPU KABUPATEN ACEH TAMIANG

Bagian Kesatu Acara Resmi

Pasal 25

(1) Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang memperoleh kedudukan protokoler dalam acara resmi menurut tingkatannya.

(9)

(2) Acara resmi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. acara resmi pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang;

b. acara resmi Kabupaten Aceh Tamiang yang menghadirkan pejabat pemerintah; c. acara resmi pemerintah yang diselenggarakan di Kabupaten Aceh Tamiang.

Bagian Kedua Tata Tempat

Pasal 26

Tata tempat pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang dalam acara resmi yang diadakan di ibu kota Kabupaten adalah sebagai berikut :

a. Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang sejajar dengan Ketua DPRK;

b. Wakil Ketua MPU Kabupaten Aceh Tamiang menempati posisi sejajar dengan pejabat eselon II lainnya.

Bagian Ketiga Tata Penghormatan

Pasal 27

(1) Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang mendapat penghormatan sesuai dengan yang diberikan kepada pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang;

(2) Penghormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

BAB VI

KEUANGAN PIMPINAN DAN ANGGOTA Pasal 28

(1) Pimpinan dan anggota MPU Kabupaten Aceh Tamiang karena kedudukan dan tugasnya memperoleh tunjangan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang yaitu :

a. tunjangan representasi;

b. tunjangan jabatan;

c. tunjangan Komisi MPU;

d. tunjangan Keluarga;

e. tunjangan Kesehatan; dan

f. tunjangan pakaian dinas.

(2) Besaran rincian terhadap tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati sesuai dengan kemampuan keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang;

(10)

BAB VII

PERSIDANGAN DAN RAPAT MPU KABUPATEN ACEH TAMIANG Pasal 29

(1) Persidangan dan rapat MPU Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari :

a. sidang paripurna, yaitu merupakan rapat anggota MPU Kabupaten Aceh

Tamiang yang dipimpin oleh ketua atau Wakil Ketua dan merupakan forum tertinggi dalam melaksanakan wewenang dan tugas MPU Kabupaten Aceh Tamiang;

b. sidang paripurna istimewa yaitu merupakan rapat anggota MPU Kabupaten Aceh

Tamiang yang dipimpin Ketua atau Wakil Ketua untuk melaksanakan suatu acara tertentu dengan tidak mengambil keputusan ;

c. sidang paripurna khusus yaitu merupakan rapat anggota MPU Kabupaten Aceh

Tamiang yang dipimpin oleh Ketua dan Wakil Ketua untuk membahas hal-hal khusus ;

d. rapat pimpinan yaitu merupakan rapat unsur pimpinan yang dipimpin oleh ketua

MPU Kabupaten Aceh Tamiang;

e. rapat komisi yaitu merupakan rapat anggota komisi yang dipimpin oleh Ketua

atau Wakil Ketua Komisi;

f. rapat dewan kehormatan ulama yaitu merupakan rapat anggota Dewan

Kehormatan Ulama yang dipimpin oleh Ketua Dewan Kehormatan.

g. rapat panitia khusus yaitu merupakan rapat untuk membahas hal-hal tertentu

sesuai kebutuhan yang dipimpin oleh ketua atau wakil ketua panitia khusus;

h. rapat panitia musyawarah yaitu merupakan rapat anggota panitia musyawarah

yang dipimpin oleh ketua atau wakil ketua panitia musyawarah;

i. rapat koordinasi.

(2) MPU Kabupaten Aceh Tamiang mengadakan sidang/rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara berkala paling kurang 4 (empat) kali dalam setahun.

(3) Tata cara pelaksanaan persidangan dan rapat-rapat akan diatur lebih lanjut dalam tata tertib MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

BAB VIII PEMBIAYAAN

Pasal 30

(1) Biaya penyelenggaraan MPU Kabupaten Aceh Tamiang berasal dari :

a. anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN);

b. anggaran pendapatan dan belanja Aceh (APBA);

c. anggaran pendapatan dan belanja kabupaten (APBK) Aceh Tamiang; dan/atau

d. sumber lain yang sah menurut hukum dan tidak mengikat.

(2) Biaya penyelenggaraan MPU Kabupaten Aceh Tamiang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh Sekretariat MPU.

(11)

BAB IX

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31

(1) Apabila sampai dengan berakhirnya masa bakti kepengurusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang periode sebelumnya, kepengurusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang periode berikutnya belum terbentuk, Bupati dapat menunjuk Pelaksana Tugas Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

(2) Pelaksana Tugas Pimpinan MPU Kabupaten Aceh Tamiang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memfasilitasi pembentukan kepengurusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang periode berikutnya.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP Pasal 32

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Qanun ini, mengenai peraturan pelaksanaannya yang terkait dengan kebijakan daerah dan berimplikasi pada anggaran akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati sedangkan yang terkait dengan teknis pelaksanaan musyawarah MPU Kabupaten Aceh Tamiang diatur dengan keputusan MPU Kabupaten Aceh Tamiang.

Pasal 33

Dengan berlakunya Qanun ini, maka Qanun Kabupaten Aceh Tamiang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Tamiang (Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2003 Nomor 5 Seri D) dan ketentuan lain yang bertentangan dengan Qanun ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 34

Qanun ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Qanun ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Tamiang.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ACEH TAMIANG TAHUN 2009 NOMOR 4

Ditetapkan di Karang Baru

pada tanggal : 11 September 2009 M 21 Ramadhan 1430 H

BUPATI ACEH TAMIANG, Dto

ABDUL LATIEF

Diundangkan di Karang Baru

pada tanggal 11 September 2009 M 21 Ramadhan 1430 H

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN ACEH TAMIANG,

Dto

(12)

STRUKTUR ORGANISASI MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA KABUPATEN ACEH TAMIANG

Lampiran : QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR : 4 TAHUN 2009 TANGGAL : 11 September 2009 M 21 Ramadhan 1430 H KETUA DEWAN KEHORMATAN ULAMA KOMISI A

Bidang Pemerintahan, Kajian Qanun Kabupaten Aceh Tamiang dan

Perundang-Undangan lainnya KOMISI B Bidang Ekonomi, Pembangunan, Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan KOMISI C Bidang Keagamaan,Sosial dan Kemasyarakatan

BUPATI ACEH TAMIANG,

Dto ABDUL LATIEF WAKIL KETUA I WAKIL KETUA II PANITIA MUSYAWARAH PANITIA KHUSUS

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui tingkat stres responden kelompok intervensi sebelum diberikan latihan hatha yoga, bahwa hasil tertinggi dari pretest

Pembahasan masalah ini yang akan dibahas adalah mengenai cara pembuatan dari mulai menentukan struktur navigasi, membuat peta navigasi, membuat disain antarmuka, pembentukan

Semua buku soal, lembar jawaban dan kuesioner yang telah dibungkus disertai amplop kembali, segel, Berita Acara Pembukaan Materi Ujian, Berita Acara Ujian,

Variabel dependent yang digunakan pada penelitiana ini adalah Penerapan GCG. GCG yang berarti sebagai suatu sistem yang berfungsi untuk mengarahkan dan mengendalikan

Standar lain yang dimaksud adalah akal dan hati nurani manusia serta pandangan umum (tradisi) masyarakat. 4 Manusia dengan hati nuraninya dapat juga menentukan ukuran

Hasil dari penelitian ini adalah pengembangan aplikasi authoring tools jurnal ilmiah berbasis web yang digunakan untuk mempermudah penulis buku dalam menulis,

Metode animal model dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengevaluasi pejantan sapi Bali berdasarkan nilai pemuliaan dari karakter bobot sapih, bobot setahun

Potensi volume kayu menunjukkan besarnya volume pohon tiap hektar dalam satu areal tegakan, nilai pantulan spektral yang diperoleh dari citra penginderaan jauh tidak dapat