• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. lebih komponen-komponen yang saling berkaitan (interrelated) atau subsistemsubsistem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. lebih komponen-komponen yang saling berkaitan (interrelated) atau subsistemsubsistem"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian sistem

Menurut Hall (2001:5), pengertian sistem adalah sekelompok dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan (interrelated) atau subsistem-subsistem yang bersatu untuk mencapai tujuan yang sama (common purpose). Menurut Bodnar (2000:1) sistem adalah kumpulan sumber daya yang berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Mulyadi (2001:7), pengertian suatu sistem dapat dirinci sebagai berikut ini.

1). Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur

Unsur-unsur suatu sistem terdiri dari subsistem yang lebih kecil, yang terdiri pula dari kelompok unsur yang membentuk subsistem tersebut. 2). Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang

bersangkutan.

Unsur-unsur sistem berhubungan erat satu dengan yang lainnya dan sifat serta kerja sama antar unsus tersebut mempunyai bentuk tertentu.

3). Unsur-unsur tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.

Setiap sistem mempunyai tujuan tertentu dari hubungan kerja sama yang dilakukan sistem tersebut.

4). Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.

(2)

Dari tiga pengertian sistem diatas dapat ditarik simpulan bahwa sistem adalah kumpulan dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan. Komponen-komponen tersebut berhubungan erat satu dengan yang lainnya dan tidak dapat berdiri sendiri. Mereka saling berinteraksi dan saling berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga tujuan atau sasaran suatu sistem dapat tercapai.

2.1.2 Pengertian informasi

Manajer dalam suatu perusahaan merupakan pengambil keputusan ekonomi serta mengemban tugas dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan perusahaan. Dalam menjalankan tugasnya para manajer dan pengambil keputusan lainnya dihadapkan pada situasi yang tidak dapat dipastikan dimasa mendatang. Para pengambil keputusan memerlukan informasi dalam mengambil keputusan bisnis. Menurut Mcloed Jr (2001:15) informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti. Senada dengan Mcloed Jr, Bodnar (2000:1) mendefinisikan informasi sebagai data yang berguna yang diolah sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan yang tepat.

Dari dua pengertian tentang informasi di atas, dapat ditarik simpulan bahwa informasi adalah data yang telah diproses dan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Informasi dapat memiliki nilai yang berasal dari pengaruhnya terhadap keputusan. Informasi dapat memiliki nilai jika memenuhi kualitas-kualitas yang dipersyaratkan. Kualitas dari suatu SI tergantung pada tiga hal yaitu:

(3)

1). akurat; berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan,

2). tepat pada waktunya; berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat,

3). relevan; berarti informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya. (Hartono, 2000:30)

2.1.3 Pengertian sistem informasi

Menurut Leitch dan Davis (1983), SI adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dalam kegiatan strategi dari suatu organisasi serta menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan. Menurut Lucas (1982), SI adalah suatu kegiatan dari prosedur-prosedur yang diorganisasi bilamana dieksekusi akan menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian di dalam organisasi. SI merupakan kumpulan dari manusia, hardware, software, communication network, dan sumber data yang dikumpulkan, diolah dan disebarkan. Manusia mengandalkan suatu SI untuk dapat berkomunikasi dengan yang lain dengan menggunakan berbagai tipe perangkat keras (hardware), pemroses informasi (software), jalur komunikasi (networking) serta sumber data (Hartono, 2000:36).

2.1.4 Model adopsi teknologi informasi 1). Theory of reason action (TRA)

TRA adalah suatu teori yang berhubungan dengan sikap dan perilaku individu dalam melaksanakan kegiatan. Seseorang akan memanfaatkan SI dengan alasan bahwa sistem tersebut akan menghasilkan manfaat bagi dirinya. Sheppard

(4)

et al. (1988) menyatakan bahwa TRA telah digunakan untuk memprediksi suatu perilaku dalam banyak hal.

Kings dan Gribbins (2002) menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Fishbein and Ajzen telah mulai mengembangkan suatu teori yang membantu para peneliti untuk memahami dan memprediksi sikap dan perilaku individu. TRA telah berhasil memprediksi dan menjelaskan perilaku pada berbagai wilayah kajian. Teori tersebut paling sering digunakan sebagi model teoritis dalam SI. Davis, Bagozzi, dan Warshaw (1989) menyatakan bahwa kinerja seseorang mengenai perilaku tertentu ditentukan oleh tujuan untuk menjalankan prilaku, dan tujuan tersebut ditentukan oleh sikap dan norma subyektif (Handayani: 2007).

2). Technology acceptance model (TAM)

TAM, yang diperkenalkan pertama kali oleh Fred D. Davis pada tahun 1986, adalah adaptasi dari TRA yang dibuat khusus untuk pemodelan penerimaan pengguna terhadap SI. Menurut Davis (1989), tujuan utama TAM adalah untuk memberikan dasar untuk penelusuran pengaruh faktor eksternal terhadap kepercayaan, sikap, dan tujuan pengguna. TAM menganggap bahwa 2 keyakinan individual, yaitu persepsi manfaat (perceived usefulness, disingkat PU) dan persepsi kemudahan penggunaan (perceived easy of use, disingkat PEOU), adalah pengaruh utama untuk perilaku penerimaan komputer.

PU didefinisikan sebagai tingkat keyakinan individu bahwa penggunaan SI tertentu akan meningkatkan kinerjanya. Konsep ini menggambarkan manfaat sistem bagi pemakainya yang berkaitan dengan produktivitas, kinerja tugas,

(5)

efektivitas, pentingnya suatu tugas dan overall usefullness (Davis 1989). Sementara PEOU didefinisikan sebagai tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan SI merupakan hal yang mudah dan tidak memerlukan usaha keras dari pemakainya. Konsep ini mencakup kejelasan tujuan penggunaan SI dan kemudahaan penggunaan sistem untuk tujuan sesuai dengan keinginan pemakai (Davis 1989).

Penelitian mengenai SI telah menguji perilaku pengguna dan penerimaan sistem dari berbagai perspektif (Venkatesh et al. 2003). Dari berbagai model yang telah diteliti, TAM yang diadopsi dari TRA menawarkan landasan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai perilaku pemakai dalam penerimaan dan penggunaan SI (Davis 1989; Davis et al. 1989). Model TAM berasal dari teori psikologis untuk menjelaskan perilaku pengguna teknologi informasi yang berlandaskan pada kepercayaan (belief), sikap (attitude), minat (intention) dan hubungan perilaku pengguna (user behavior relatioship). Tujuan model ini adalah untuk dapat menjelaskan faktor-faktor utama dari perilaku pengguna teknologi informasi terhadap penerimaan penggunaan teknologi informasi itu sendiri.

2.1.5 Penggunaan teknologi sistem informasi

Penggunaan teknologi informasi (komputer) menunjukkan keputusan individu untuk menggunakan atau tidak menggunakan teknologi informasi (komputer) dalam menyelesaikan serangkaian tugasnya (Thomson, 1991; Igbaria et. al., 1996). TAM merupakan suatu model yang menawarkan penjelasan yang sangat kuat (powerful) dan efisien untuk menguji perilaku penerimaan dan

(6)

penggunaan teknologi informasi (komputer) oleh pemakai (Davis, 1989; Davis et. al., 1989). TAM diadopsi dari TRA yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein (1980) dan Fishbein dan Ajzen (1975) dalam Davis (1989).

TRA menyatakan bahwa perilaku, dalam hal ini penggunaan teknologi komputer ditentukan oleh persepsi individu dan sikap menuju perilaku, misalnya tekanan atau norma sosial. Sikap pemakai teknologi (komputer) bersamaan dengan norma sosial dan faktor situasional yang lainnya memotivasi ke maksud untuk memanfaatkan teknologi (komputer) dan pada akhirnya meningkatkan pemanfaatan teknologi komputer. Implikasi pemanfaatan tenologi komputer yang meningkat tersebut akan berdampak ke kinerja individu yang positif. Sementara itu, TAM menjelaskan bahwa penerimaan (pemanfaatan ) teknologi komputer oleh pemakai ditentukan oleh dua faktor kunci yaitu perceived usefulness (kebermanfaatan) dan perceived ease of use (kenyamanan).

2.1.6 Pengertian Anxiety

Definisi anxiety menurut May (1997) dalam Dian Yunita (2004) adalah suatu ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi atas adanya ancaman terhadap beberapa nilai yang dianggap penting oleh individu atas keberadaannya sebagai seorang pribadi. Levitt (1967) menggambarkan anxiety sebagai suatu ketakutan yang berlebihan yang memotivasi keragaman perilaku pertahanan diri, termasuk gerak-gerik jasmani, ketakutan batiniah atau kekacauan Kumpulan definisi dan intepretasi terhadap anxiety mengesankan bahwa tidak ada kesepahaman yang pasti mengenai definisi anxiety. Seperti yang diungkapkan Levitt (1967), bahwa

(7)

ruang lingkup definisi anxiety yang tepat itu tidak terbatas dan sangat luas (Sudaryono, 2005).

2.1.7 Computer Anxiety

Definisi computer anxiety menurut Igbaria dan Parasuraman (1989) adalah sebagai suatu kecenderungan seseorang menjadi susah, khawatir atau ketakutan mengenai penggunaan teknologi informasi (komputer) pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Menurut Gudono dan Rifa (1999) definisi computer anxiety adalah suatu tipe stress tertentu, computer anxiety itu berasosiasi dengan kepercayaan yang negatif mengenai komputer, masalah-masalah dalam menggunakan komputer dan penolakan terhadap mesin. Menurut Linda V. Orr (2000), computer anxiety merupakan salah satu technophobia, dimana komputer merupakan salah satu teknologi yang berkembang dalam kehidupan manusia. Technophobia sendiri dapat digolongkan menjadi 3 tingkatan yaitu:

a) Anxious Technophobe

Seseorang yang termasuk dalam tingkatan ini akan menunjukkan tanda-tanda klasik yang merupakan reaksi kekhawatiran (anxiety reaction) ketika menggunakan suatu teknologi, tanda-tanda tersebut dapat berupa munculnya keringat ditelapak tangan, detak jantung yang keras atau sakit kepala.

b) Cognotive Technophobe

Seseorang yang termasuk dalam tingkatan ini pada mulanya merasa tenang dan relaks, mereka sebenarnya menerima suatu teknologi baru tetapi muncul beberapa pesan negatif seperti “Saya akan menekan tombol yang salah dan mengacaukan mesin ini”.

(8)

c) Unconfortable User

Seseorang yang termasuk dalam tingkatan ini dapat dikatakan sedikit khawatir dan masih muncul pernyataan negatif, tetapi secara umum tidak membutuhkan bimbingan personal.

Kegelisahan terhadap komputer dapat memunculkan dua hal yaitu: a) Fear (takut)

Seseorang yang merasa takut dengan adanya komputer karena mereka belum banyak menguasai teknologi komputer, sehingga mereka belum bisa mendapatkan manfaat dengan kehadiran komputer.

b) Anticipation (antisipasi)

Seseorang merasa perlu melakukan antisipasi terhadap kegelisahan yang muncul dengan adanya komputer. Antisipasi tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan ide-ide pembelajaran yang menyenangkan (anticipation) terhadap komputer.

2.1.8 Usaha Perhotelan

Menurut keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : KM. 3/HK.001/MKP-02, yang dimaksud dengan hotel adalah jenis akomodasi yang menggunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan, penginapan, serta jasa lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. PM.10/PW. 301/Pdb–77 tentang usaha dan klasifikasi hotel, ditetapkan bahwa penilaian klasifikasi hotel secara minimum didasarkan pada:

(9)

2). Fasilitas

3). Peralatan yang tersedia 4). Mutu Pelayanan

Berdasarkan pada penilaian tersebut, hotel-hotel di Indonesia kemudian digolongkan ke dalam 5 (lima) kelas hotel, yaitu Hotel Bintang Satu sampai Hotel Bintang Lima. Hotel-hotel yang tidak bisa memenuhi standar kelima kelas tersebut, ataupun yang berada di bawah standar minimum yang ditentukan oleh Menteri Perhubungan disebut Hotel Nonbintang.

Tujuan umum dari penggolongan kelas hotel adalah:

1). Untuk menjadi pedoman teknis bagi calon investor (penanam modal) di bidang usaha perhotelan.

2). Agar calon penghuni hotel dapat mengetahui fasilitas dan pelayanan yang akan diperoleh di suatu hotel, sesuai dengan golongan kelasnya.

3). Agar tercipta persaingan (kompetisi) yang sehat antara pengusahaan hotel. 4). Agar tercipta keseimbangan antara permintaan (demand) dan penawaran

(supply) dalam usaha akomodasi hotel.

2.1.9 Faktor-faktor yang mempengaruhi minat pemanfaatan SI

Venkatesh et al. merumuskan tiga konstruk yang mempengaruhi minat pemanfaatan SI yaitu ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha dan faktor sosial. Ekspektasi kinerja (performance expectancy) didefinisikan sebagai tingkat dimana seorang individu meyakini bahwa dengan menggunakan sistem akan membantu dalam meningkatkan kinerjanya. Konsep ini menggambarkan manfaat sistem bagi pemakainya yang berkaitan dengan perceived usefulnees, motivasi ekstrinsik, job

(10)

fit, keuntungan relatif (relative advantage) (Venkatesh et al., 2003). Perceived usefulness mempunyai hubungan yang lebih kuat dan konsisten dengan SI (Davis, 1989). Penelitian Taylor dan Todd (1995) dan Venkatesh dan Davis (2000) menunjukkan hasil yang mendukung bahwa perceived usefulness merupakan faktor penentu yang signifikan terhadap kemauan individu untuk menggunakan sistem. Venkatesh et al., (2003) menyatakan bahwa konstruk ekspektasi kinerja merupakan prediktor yang kuat dari minat pemanfaatan SI dalam kondisi sukarela maupun wajib. Hal tersebut konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Compeau dan Higgins (1995); Davis et al., (1989); Taylor and Tood (1995); Thompson et al., (1991); Venkatesh dan Davis, (2000).

Ekspektasi usaha (effort expectancy) merupakan tingkat kemudahan penggunaan sistem yang akan dapat mengurangi upaya (tenaga dan waktu) individu dalam melakukan pekerjaannya. Tiga konstruk yang membentuk konsep ini adalah kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use), kemudahan penggunaan (ease of use), dan kompleksitas (Venkatesh et al., 2003). Davis et al., (1989) mengidentifikasikan bahwa kemudahan pemakaian mempunyai pengaruh terhadap penggunaan SI. Hal ini konsisten dengan penelitian Adam (1992) dan Iqbaria (1997). Kemudahan penggunaan SI akan menimbulkan perasaan dalam diri seseorang bahwa sistem itu mempunyai kegunaan dan karenanya menimbulkan rasa yang nyaman bila bekerja dengan menggunakannya (Venkatesh dan Davis, 2000). Kompleksitas yang dapat membentuk konstruk ekspektasi usaha didefinisikan oleh Rogers dan Shoemaker (1971) dalam Venkatesh et al., (2003) adalah tingkat dimana inovasi dipersepsikan sebagai

(11)

sesuatu yang relatif sulit untuk diartikan dan digunakan oleh individu. Menurut Venkatesh dan Moris (2000) ekspektasi usaha menjadi determinan minat pemanfaatan sistem. Menurut Venkatesh et al., (2003), ekspektasi usaha mempunyai hubungan yang signifikan dengan minat pemanfaatan SI hanya selama periode pasca pelatihan tetapi kemudian menjadi tidak signifikan pada periode implementasi, hal ini konsisten dengan penelitian Davis et al., (1989); dan Thompson et al., (1991).

Faktor sosial diartikan sebagai tingkat dimana seorang individu menganggap bahwa orang lain menyakinkan dirinya bahwa dia harus menggunakan sistem baru. Faktor sosial sebagai determinan langsung dari minat pemanfaatan SI adalah direpresentasikan oleh konstruk–konstruk yang terkait yaitu norma subyektif, faktor sosial dan image (Venkatesh et al., 2003). Moore dan Benbasat (1991) dalam Handayani (2007) menyatakan bahwa pada lingkungan tertentu, penggunaan SI akan meningkatkan status (image) seseorang di dalam sistem sosial. Thompson et al., (1991) dan Diana (2001) menemukan hubungan yang positif dan signifikan antara faktor-faktor sosial pemakai sistem, dimana faktor-faktor sosial ditunjukkan dari besarnya dukungan teman sekerja, manajer senior, pimpinan dan organisasi.

2.1.10 Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan SI

Dalam Venkatesh, et al. (2003) disebutkan bahwa kondisi yang memfasilitasi pemakai dan minat pemanfaatan SI merupakan determinan terhadap penggunaan SI, disamping dua hal tersebut, Sudaryono (2005) menyatakan bahwa seseorang dengan ketakutan/kecemasan berkomputer yang tinggi akan

(12)

mempunyai keahlian yang rendah dalam menggunakan SI yang dengan sendirinya menurunkan penggunaan SI itu sendiri. Kondisi yang memfasilitasi penggunaan SI menurut Triandis (1980) didefinisikan sebagai “faktor-faktor obyektif” yang dapat mempermudah melakukan suatu tindakan. Penelitian Thompson et al, (1991) menemukan bahwa tidak ada hubungan antara kondisi-kondisi yang memfasilitasi pemakai dengan penggunaan SI. Schultz dan Slevien (1975) menemukan bukti empiris bahwa kondisi-kondisi yang mendukung pemanfaatan SI merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemanfaatan SI. Sedangkan Venkatesh et al. (2003) menyatakan bahwa kondisi–kondisi yang memfasilitasi pemakai mempunyai pengaruh pada karyawan dalam menggunakan SI.

Triandis (1980) mengemukakan bahwa perilaku seseorang merupakan ekspresi dari keinginan atau minat seseorang (intention), dimana keinginan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, perasaan (affect), dan konsekuensi-konsekuensi yang dirasakan (perceived consequences). Davis et al. (1989) mengemukakan bahwa adanya manfaat yang dirasakan oleh pemakai SI akan meningkatkan minat mereka untuk menggunakan SI sedangkan Thompson et al. (1991) menyatakan bahwa keyakinan seseorang akan kegunaan SI akan meningkatkan minat mereka dan pada akhirnya individu tersebut akan menggunakan SI dalam pekerjaannya. Venkatesh et al, (2003) menyatakan bahwa terdapat hubungan langsung dan signifikan antara minat pemanfaatan SI terhadap penggunaan SI.

Definisi computer anxiety menurut Igbaria dan Parasuraman (1989) adalah sebagai suatu kecenderungan seseorang menjadi susah, khawatir atau ketakutan

(13)

mengenai penggunaan teknologi informasi (komputer) pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Penelitian Heinssen et al. (1987) menyatakan bahwa mahasiswa dengan computer anxiety yang lebih tinggi mempunyai kepercayaan pada kemampuan diri sendiri dan kinerja yang lebih rendah dibanding mereka yang memiliki computer anxiety yang lebih rendah. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas dengan menggunakan komputer, subyek dengan computer anxiety yang lebih tinggi memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugas tersebut dibandingkan subyek yang memiliki computer anxiety yang lebih rendah. Hasil penelitian Sudaryono (2004) yang menguji pengaruh computer anxiety mendapatkan hasil bahwa computer anxiety mempunyai hubungan negatif yang signifikan terhadap keahlian dalam menggunaan komputer yang dengan sendirinya membuat penggunaan SI menurun.

2.2 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian terdahulu yang digunakan sebagai ancuan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.1.

(14)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti Tahun Variabel yang Diteliti Teknik Analisis

Temuan 1. Thompson et al. 1991 Sosial norm, affect,

complexity, job fit, long-term consequences, facilitating condition, utilization of IT, perfomace Regresi berganda dan sederhana (Multiple and Ordinary Regresion)

- Terdapat hubungan positif signifikan antara sosial norm, affect, job fit, long-term consequences terhadap utilization of IT.

- Terdapat hubungan negatif signifikan antara complexity terhadap utilization of IT. - Terdapat hubungan negatif dan lemah antara

facilitating condition terhadap utilization of IT. - Terdapat hubungan antara utilization of IT

terhadap performance. 2. Tjhai 2003 Faktor sosial, perasaan

(affect), kompleksitas, kesesuaian tugas, konsekuensi jangka panjang, kondisi yang memfasilitasi, dan kinerja SEM (Struktural Equation Model)

- Terdapat hubungan positif signifikan antara faktor sosial tehadap pemanfaatan teknologi informasi. - Terdapat hubungan positif tidak signifikan antara

affect terhadap pemanfaatan teknologi informasi. - Terdapat hubungan negatif tidak signifikan antara

kompleksitas, kesesuaian tugas, kondisi yang memfasilitasi terhadap pemanfaatan teknologi informasi.

- Terdapat hubungan negatif signifikan antara konsekuensi jangka panjang terhadap pemanfaatan teknologi informasi.

- Terdapat hubungan negatif tidak signifikan antara pemanfaatan teknologi informasi terhadap kinerja.

(15)

No. Peneliti Tahun Variabel yang Diteliti Teknik Analisis Temuan 3. Sudaryono dan Astuti 2005 Computer Anxiety, Keahlian Menggunakan computer Regresi Sederhana

 Computer anxiety mempunyai pengaruh negatif terhadap keahlian dalam menggunakan

komputer. 4. Rini Handayani 2007 Ekspektasi Kinerja,

Ekspektasi Usaha, Faktor Sosial, Kondisi yang memfasilitasi, pemakai, Minat Pemanfaatan sistem Regresi Linear Berganda (Multiple Regresion)

 Ekspektasi kinerja mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap minat pemanfaatan SI.  Ekspektasi usaha berpengaruh positif signifikan

terhadap minat pemanfaatan SI.

 Faktor sosial berpengaruh positif signifikan terhadap minat pemanfaatan SI.

 Kondisi-kondisi yang memfasilitasi pemakai terbukti mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan SI.

 Minat pemanfaatan SI berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penggunaan SI.

(16)

Penelitian ini memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu. Persamaan penelitian ini dengan peneliti terdahulu adalah variabel-variabel yang digunakan merupakan variabel penelitian yang dilakukan oleh Rini Handayani. Teknik analisis penelitian yang dilakukan oleh Rini Handayani adalah regresi linear berganda sedangkan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi dua tahap. Pada tahap pertama, variabel minat pemanfaatan SI akan diregresikan dengan variabel bebas ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha dan faktor sosial, kemudian pada tahap kedua, variabel penggunaan SI akan diregresikan dengan variabel bebas kondisi-kondisi yang memfasilitasi penggunaan SI, minat pemanfaatan SI dan ketakutan menggunakan SI (computer anxiety). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu juga terdapat pada adanya penambahan variabel baru computer anxiety dan perubahan objek penelitian yaitu dari industri manufaktur menjadi hotel-hotel nonbintang di Kota Denpasar.

Apabila digambarkan, rerangka penelitian ini akan ditunjukkan oleh gambar berikut.

Gambar 2.1 Rerangka penelitian

Ketakutan (kecemasan) Minat Pemanfaatan SI Kondisi-kondisi yang memfasilitasi pemakai Penggunaan SI Ekspektasi Usaha Faktor Sosial Ekspektasi Kinerja

(17)

2.3 Rumusan Hipotesis

Hipotesis merupakan kesimpulan sementara dari penelitian yang harus dibuktikan lagi dengan data yang dihimpun. dalam penelitian ini ada enam hipotesis yang diajukan yaitu

H1: Ekspektasi kinerja berpengaruh positif pada minat pemanfaatan SI. H2: Ekspektasi usaha berpengaruh positif pada minat pemanfaatan SI. H3: Faktor sosial berpengaruh positif pada minat pemanfaatan SI. H4: Minat pemanfaatan SI berpengaruh positif pada penggunaan SI. H5: Kondisi-kondisi yang memfasilitasi pemakai berpengaruh positif pada

penggunaan SI.

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Rerangka penelitian

Referensi

Dokumen terkait

[r]

3.1 Setiap pelajar sekolah menengah/rendah tahap II diwajibkan menganggotai pasukan pakaian seragam, persatuan/kelab serta kelab sukan dan permainan. Dalam hal ini

Praktek kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan  kegiatan atau aktivitas atau aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap

Kewenangan lebih diartikan sebagai kekuasaan yang melekat pada diri seseorang atau sekelompok orang yang telah mendapat dukungan dari masyarakat yang dikuasainya

Prinsip dasar dalam penentuan kadar air tanah yaitu kadar air tanah dinyatakan sebagai perbandingan berat air yang ada dalam contoh tanah sebelum pengeringan dan berat contoh

Adjudikasi ini pada dasarnya adalah kegiatan verifikasi yang dilakukan bersama- sama aparat desa untuk mencari kebenaran data fisik (peta) dan kebenaran yuridis (peraturan

Dia sedang berkata kepada kita, "Aku tahu, engkau tidak memiliki kekuatan untuk mengembalikan nyala api yang panas dari Allah di dalam hatimu. Itulah karyaKu yang bekerja di

Fungsi Public relations dalam sebuah perusahaan atau lembaga, organisasi di Hotel adalah untuk sebagai membangun citra perusahaan menunjang pada kegiatan manajemen dalam