• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MULTIVARIATE ADAPTIVE REGRESI SPLINE UNTUK MENGIDENTIFIKASI FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA PENGGEMUKAN SAPI DI DESA SAMARAN KABUPATEN BOJONEGORO

Benjamin Christoffel Tehupuring dan Soeharsono

Departemen Anatomi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga

ABSTRAK

Multivariate Adaptive Regression Spline adalah metode regresi bebas asumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan peternak, lama dan umur pemeliharaan, serta jenis terhadap bobot badan sapi potong. Penelitian menggunakan data sekunder sapi potong milik peternak Desa Samaran, Bojonegoro. Data yang dianalisis meliputi bobot badan, lama pemeliharaan, umur saat sapi dipelihara dan jenis sapi. Hasil analisis menunjukkan, lama pemeliharaan dan peternak mempunyai hubungan terhadap bobot badan sapi potong (p < 0,05). Peningkatan bobot badan meningkat pesat pada pemeliharaan bulan ketiga.

Kata Kunci: MARS, Bobot Badan, Jenis Sapi Potong, Lama Pemeliharaan Pendahuluan

Usaha penggemukan sapi potong mempunyai dua manfaat. Manfaat pertama adalah pemenuhan kebutuhan protein asal ternak dan manfaat kedua berupa peningkatan pendapatan peternak. Desa Samaran adalah salah satu desa di Kabupaten Bojonegoro yang warganya

mengembangkan usaha

penggemukan sapi potong.

Penggemukkan merupakan bagian dari tumbuh kembang, didefinisikan sebagai fungsi waktu terhadap peningkatan ukuran parameter tubuh. Parameter tubuh pada sapi potong terutama dititik beratkan pada bobot badan. Peningkatan bobot badan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang tersifat maupun karena lingkungan misalnya

jenis sapi dan campur tangan peternak (Sundaram et al., 2012).

Fakta pendugaan yang berpengaruh pada bobot badan sapi dianalisis menggunakan metode regresi product moment. Metode ini mempunyai kelemahan karena pendugaanya harus memenuhi asumsi khusus. Selain itu, pertumbuhan ternak belum tentu bersifat linier (Roush et al., 2006, Wardhani dan Setiarini, 2010). Metode pilihan yang dapat menyelesaikan masalah ini adalah Multivariate Adaptive Regressian Spline (MARS) (Otok. dkk., 2006). Respon biasanya disebabkan karena predik tunggal, atau gabungan atau interaksi antara predik. Penerapan MARS untuk menganalisis hubungan umur terhadap pertumbuhan mandibula telah dilakukan pada domba merino (Tehupuring et al., 2014).

(2)

MARS adalah regresi multivariate non parametric yang dikembangkan dari Recursive Partitioning Regression (RPR) yang mempunyai kelemahan dalam bentuk knot (Rodliyah et al, 2014). Predik atau MARS tidak menyajikan hubungan langsung predik atau asli, tetapi diklasifikasi ke dalam fungsi basis (Basic Function, BF) (Everingham dan Sexton, 2011). Hubungan MARS dan RPR diwujudkan dalam bentuk persamaan :

dimana a0 adalah konstanta, Hm (X)

adalah Basic Function, yang dibangun dari interaksi (Km) antara prediktor

pada knot (tk,m).am adalah koefisein Basic Function dari ke 1 hingga ke m. Hubungan Hm (X), (Km), (v(k,m) dan

(tk,m). disajikan oleh persamaan:

Skm mempunyai nilai ± 1, v(k,m)

melambangkan prediktor, adalah knot prediktor

Kesesuaian model MARS ditentukan oleh nilai terendah dari Generalized Cross Validation (GCV) yang besarnya dihitung dari:

f adalah model prediksi MARS pada BF, y adalah variabel respon, N adalah jumlah observasi. C(M) adalah ukuran

kompleksitas dari model yang mengandung BF.

Materi dan Metode

Sumber data berupa data sekunder dari penelitian Nurrohman (2015) terhadap 94 ekor sapi potong yang diperoleh dari tigapuluh peternak di Desa Samaran, Bojonegoro. Penggemukan dilakukan selama tiga bulan. Jenis sapi yang digemukkan terdiri atas Simental dan Limousin yang pada saat digemukan sebagian berumur 1,5 sampai dengan dua tahun dan sebagian lain berumur 2,5 tahun hingga tiga tahun. Predik atau terdiri atas empat jenis yaitu peternak, umur awal dan lama penggemukan serta jenis sapi yang digemukkan. Semua predik atau dihubungkan dengan bobot badan pada akhir penggemukan. Data selanjutnya dianalisis dengan ketentuan BF yang digunakan dua sampai dengan empat kali jumlah predik atau, Maksimal Interaksi (MI) pada 1, 2,dan 3 dan Minimal Observasi (MO) 0,1,2,3. Analisis data menggunakan perangkat lunak MARS 2.0.

Hasil

Hasil analisis menunjukkan dari empat peubah yang digunakan sebagai prediktor ternyata hanya dua yang berpengaruh yaitu lama penggemukan dan peternak dimana masing–masing dengan nilai sumbangan sebesar 100 dan 36,194. Umur awal penggemukan dan jenis sapi yang digemukkan tidak berpengaruh terhadap berat badan.

(3)

Nilai kepentingan umur sapi awal penggemukan dan jenis sapi yang digemukan adalah nul (Tabel 1). Perbedaan ini disebabkan batasan umur bakalan berbeda. Indrayani et al.,(2012) menggunakan umur kurang dari setahun dan lebih dari setahun sedangkan dalam penelitian ini

menggunakan umur 1,5 - dua tahun serta 2,5 - tiga tahun. Umur bakalan yang dianjurkan adalah setahun - 2,5 tahun dengan pertimbangan pada umur tersebut ternak mengalami fase pertumbuhan kerangka dan jaringan (Sugeng, 2006).

Tabel 1. Kepentingan Prediktor terhadap Bobot badan

Prediktor Kepentingan - gcv

Lama penggemukan 100.000 550.507

Peternak 36.194 165.605

Umur awal pengemukan 0.000 107.582

Jenis sapi (simental, limousin) 0.000 107.582

Model hubungan lama penggemukkan peternak sapi terbaik diperoleh pada MO = 1, MI = 2 atau 3 dan BF empat CV sebesar 107,58 (Tabel 2).

Model persamaan lama penggemukkan dan peternak sebagai prediktor terhadap bobot badan sebagai respon adalah :

Y = 257.625 + 23.472 * BF1 - 14.350 * BF2 + 14.855 * BF3 + 8.871 * BF5 - 3.389 * BF7 - 36.098 * BF11+ 28.145 * BF13;

Y = Bobot badan

BF1 = max(0, lama penggemukan (bulan) - 3.000);

BF2 = max(0, 3.000 – lama penggemukan (bulan). Pembahasan

Dari persamaan model didapatkan dua BF untuk prediktor

lama penggemukkan dan lima BF untuk peternak sebagai prediktor. Dua BF untuk lama penggemukan sebagai prediktor adalah :

BF1 = max (0, lama penggemukan (bulan) - 3.000); dan

BF2 = max (0, 3.000 – lama penggemukan (bulan).

Secara matematika BF1 dibaca berat sapi = 0, jika lama penggemukkan ≤ tiga bulan, dan meningkat secara linier jika lama penggemukkan lebih dari tiga bulan. Hal sama juga terjadi pada BF2. Pada BF2 dibaca BF2 akan bernilai nul jika lama penggemukan ≥ tiga bulan. Angka tiga bulan dinamakan knot. Fungsi ini dapat dimaknai selama penggemukan /pertambahan berat badan tidak bersifat linier utuh tetapi berbelok atau patah pada periode tiga bulan dari lama penggemukkan (Gambar1).Meskipun menggunakan hewan yang berbeda ketidaklinieran

(4)

pertumbuhan karena percepatan pertumbuhan pada titik waktu tertentu sesuai dengan penelitian terdahulu (Wang et al, 2012, Tehupuring et al, 2015).

Gambar 1. Lama penggemukan

B obo t bada n ; Lama penggemukan Pada gambar terlihat

hubungan lama penggemukan ditunjukkan oleh garis linier yang patah (membentuk knot) pada bulan ketiga penggemukan

Percepatan selama

pertumbuhan dipengaruhi baik oleh faktor genetika atau lingkungan misalnya musim (Lin et al., 2012, Eleroglu et al., 2014). Dalam penelitian perbedaan jenis sapi belum berpengaruh terhadap bobot badan selama penggemukan. Tidak ditemukan pengaruh jenis terhadap bobot badan sesuai dengan penelitian terdahulu walaupun jenis sapi yang digunakan berbeda. Penelitian berkesimpulan bahwa iklim tropis lebih berpengaruh dibanding jenis sapi (Sakti, et al., 2013).

Berbeda dengan lama penggemukan, peternak sebagai prediktor berbentuk kategorial, sehingga data dikelompokkan menjadi angka “1” jika prediktor yang

dimaksud benar dan “ 0 ” jika prediktor yang dimaksud salah, Angka 0 dan 1 adalah knot untuk prediktor berjenis kategorial. Jadi

misalnya BF3 =

001100010110110101100101000011 dibaca jika BF3 = 1 maka yang termasuk ke dalam kelompok BF3 adalah peternak nomor 3, 4, 8, 10, 11, 13, 19, 22, 24, 29 atau 30. Sebaliknya jika BF3 = 0 maka yang termasuk kelompok ini adalah peternak nomor 1, 2, 5, 6, 7, 9, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 23, 25, 26, 27, atau 28. Hal yang sama juga terjadi pada BF5, BF7, BF11, dan BF 13. Knot dan intepretasi peternak sebagai prediktor secara lengkap disajikan oleh Tabel 2 dan Tabel 3. Masuknya peternak sebagai prediktor menyebabkan keragaman bobot badan sapi yang digemukkan di Desa Samaran (Gambar 2). Keragaman ini bertambah karena satu peternak bisa jadi berada dalam lebih dari satu BF, misalnya peternak nomor 3 dan 4, masing – masing berada di dalam BF3, BF5 dan BF7. (Tabel 2).

Gambar 2. Model hubungan lama penggemukan dan peternak terhadap bobot badan sapi potong desa Samaran. a. BF7, b. BF11, c, BF13 Bo bo t bada n Be rat badan

(5)

B

obo

t b

adan

b Lama penggemukan (bulan)

B

obo

t b

adan

c Lama penggemukan (bulan)

Tabel 2. BF dan Knot peternak sebagai prediktor BF Knot BF3 : 001100010110110101100101000011 BF5 : 011111100001100010001010001000 BF7 : 011101011110011011001110111101 BULAN 2 B11 : 100000000000000000000001000000 BULAN 1 BF13 : 000000000000000000000001000000 BULAN 1 Tabel 3.Intepretasi BF sebagai prediktor

BF Peternak Nomor ke. Sebagai Prediktor BF3 = 1 3, 4, 8, 10, 11, 13, 19, 22, 24, 29 atau 30. BF3 = 0 1, 2, 5, 6, 7, 9, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 23, 25, 26, 27, atau 28 BF5 = 1 2, 3, 4, 5, 6, 7, 12, 13, 17, 21, 23,atau 27 BF5 = 0 1, 8, 9, 10, 11, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 24, 25, 26, 28, 29, atau 30 BF7 = 1 2, 3, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 14, 15, 22. 23, 25, 26, 27, 28, atau 30* BF7 = 0 1, 5, 7, 12, 13, 16, 17, 18, 20, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 19, 20, 21, 24, atau 29* BF11= 1 1 atau 24 (BF2)**

BF11= 0 Semua peternak selain peternak nomor 1 dan 24 (BF)2** BF13= 1 24(BF1)*

BF13= 0 Semua peternak selain peternak nomor 24 (BF1)*

* Berinteraksi dengan penggemukan sampai satu sampai dengan tiga bulan **Berinteraksi dengan penggemukkan tiga sampai dengan empat bulan

Dalam penelitian ini tampak, peternak sebagai faktor penyebab keragaman bobot badan selama penggemukkan. Pengaruh peternak terhadap keberhasilan usah penggemukan dilatar belakangi oleh

pendidikan, kecakapan, pengalaman

dan wawasan manejemen,

kepemilikan dan kesungguhan beternak sapi yang digemukkan ( Sani, 2010., Hartono, 2012). Sependapat dengan pernyataan

(6)

tersebut strategi utama pengembangan usaha ternak sapi potong adalah optimalisasi dan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia (Adinata et al., 2012).

Kesimpulan

Dalam perolehan

pemeliharaan ternak dan peternak ada keterkaitan hubungan antara bobot badan dengan kehidupan sapi potong. Telah terjadi peningkatan terhadap bobot badan sapi di usia bulan ketiga.

Daftar Pustaka

Adinata, K.I., Sari, A.I dan Rahayu. E.T. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo.Tropical Animal Husbandry. 1 (1) : 24-32 Eleroglu, H., Yildirm, A., Sekeroglu,

A., Coscoyler, F. N., and Durman , M. 2104. Comparasion of growth model in slow – growing chicken genotype raised the organic system. Inter Jour of Agric and Biol. 16(3) ; 529 – 535.

Everingham, Y. L. dan Sexton, J. 2011 An introduction to multivariate adaptive Regression splines fatau the cane industry. ProcAustSoc Sugar Cane Technol33 : 1 – 14;

Hartono, B . 2012. Peran daya dukung

wilayah terhadap

pengembangan usaha

peternakan sapi madura. Jurl Eko Pem 13 (2): .316-326 Indrayani, I., Nurmalina, R dan

Fariyanti, A. 2012. Analisis efisiensi teknis usaha penggemukan sapi potong di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Jur Pet Ind 14 (1) : 286 – 296.

Lin, P., Shangwi, Y and Xiao, M. 2012. Seasonal broiler growth performance prediction based on observational study. Jour of Comp 7(8) : 1895 – 1903. Nurrohman, L. 2015. Hubungan

Manejemen Produksi dan Kelayakan Usaha pada Koperasi Margo Mulyo dan Lembu Suro Kabupaten Bojonegoro. Thesis. Program Studi Agribisnis Fakultas

Kedokteran Hewan

Universitas Airlangga Surabaya,

Rodliyah, M., Santi Wulan Purnami, S. W., dan Otok, B.W. 2014. Pemodelan kemiskinan di kabupaten Jombang dengan pendekatan multivariate adaptive regression splines (MARS). Jur Sai dan Seni Pom 3 (2) : 2337-3520

Sakti, A.A., Panjono dan Rusman. 2013. Tingkat hubungan antara variabel penduga bobot daging (carcass cutability) karkas segar sapi limpo dan simpo jantan. Ber Bio 12(3) : 277 – 284.

Sani, L O. A. 2010. Faktor-faktor yang mempengaruhi curahan tenaga kerja keluarga transmigran dan lokal pada pemeliharaan sapi potong di

(7)

Kabupaten Konawe Selatan. Agriplus 20 (01) : 48 – 56 Sugeng, Y.B. 2006.SapiPotong.

PenebarSwadaya, Yakarta Sundaram, M., Muthuramalingam, T,

Rajkumar, J.S.I., Nishanth, B and T. Sivakumar T. 2012. Growth performance of tellicherry goats in an organized farm.Inter Jour DiaSci Res; 1(3) : 9-11.

Tehupuring, Benjamin C., Hana Eliyani , Soeharsono. 2014. Morfometrik Pertumbuhan Rahang Bawah Terkait Aktifitas Mandibula dan Umur Pada Anakan Domba Merino Jantan Pascalahir. Acta Vet. Indonesiana.,2 (1), Hal. 1 – 6.

Tehupuring, Benjamin Christoffel., Soeharsono., Saiful Hadi. 2015. Penerapan Multivariate Adaptive Regression Spline sebagai Alat untuk Pemodelan Pertumbuhan Ayam Broiler. Acta Vet. Indonesiana., 3 (1) , Hal. 23 – 28.

Wang, B,Y., Chien, L.H., and Roan, S.W. 2014. Poma – broiler : computer simulation model to evaluate the optimal market age of broilers. Jour Anim of Vet Advan 11 (14) :2493 – 2502.

Gambar

Tabel 1. Kepentingan Prediktor terhadap Bobot badan
Tabel 2. BF dan Knot peternak sebagai prediktor  BF    Knot      BF3  :  001100010110110101100101000011  BF5  :  011111100001100010001010001000  BF7  :  011101011110011011001110111101    BULAN        2  B11  :  100000000000000000000001000000    BULAN

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah peneliti lakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan korelasi positif antara hasil belajar siswa dan

Sedangkan variabel yang memiliki nilai rata-rata paling rendah yaitu variabel kualitas sapronak dengan nilai rata-rata sebesar 2.95 dengan kategori cukup sesuai, dimana

batuan porous carbonate disimbolkan dengan warna merah, yang memiliki nilai P-Impedance yang relatif rendah yaitu antara 28000-34000 ((ft/s)*(g/cc)), serta nilai

Temuan dari penelitian ini adalah relasi kekuasaan Negara dan Modal dalam politik agraria di Indonesia di masa reformasi masih kuat walaupun melalui strategi

Dengan demikian dapat dikatakan material bagi sekolah/ struktur sosial sekolah yaitu kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, pustakawan, petugas keamanan dan petugas

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal inilah yang membuat mayoritas muslim di Indonesia merasa perlu adanya bank yang berbasis

Liputannya secara luas mencakup paniknya masyarakat saat gempa terjadi, proses runtuhnya bangunan-bangunan, kegentingan dalam proses penyelamatan korban, penanganan korban

Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi berdasarkan penanda molekuler untuk membuktikan apakah benar kentang ―Superjohn‖ sama dengan kentang Granola atau berbeda