• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ANALISIS GANGGUAN CVT LINE SIDRAP 2 DI PT.PLN ( PERSERO) GARDU INDUK MAROS 150 KV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI ANALISIS GANGGUAN CVT LINE SIDRAP 2 DI PT.PLN ( PERSERO) GARDU INDUK MAROS 150 KV"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

GARDU INDUK MAROS 150 KV

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh :

MUHIJRAH ABDUL MUIS 105 82 11033 16 105 82 11029 16

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIAH MAKASSAR

(2)

SKRIPSI

ANALISIS GANGGUAN CVT LINE SIDRAP 2 DI PT.PLN ( PERSERO) GARDU INDUK MAROS 150 KV

Oleh :

MUHIJRAH ABDUL MUIS 105 82 11033 16 105 82 11029 16

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIAH MAKASSAR

(3)

Skripsi

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Program Studi Teknik Elektro

JurusanTeknik Elektro

Fakultas Teknik

Disusun dan diajukan Oleh

MUHIJRAH ABDUL MUIS 105 82 11033 16 105 82 11029 16

PADA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

(4)
(5)
(6)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan puja bagi Allah SWT, seru sekalian alam, Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad Saw. Para sahabatnya keluarganya serta pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman. Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.

Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan akademik yang harus ditempuh dalam rangka menyelesaikan program studi pada jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar. Adapun judul tugas akhir kami adalah “ANALISIS GANGGUAN CTV LINE SIDRAP 2 DI PT.PLN ( PERSERO) GARDU INDUK MAROS 150 KV”.

Penulis menyadari bahwa sejak persiapan dan proses penelitian hingga pelaporan hasil penelitian ini terdapat banyak kesulitan dan tantangan yang dihadapi baik itu dari segi teknis penulisan maupun perhitungan hasil analisis. Oleh karena itu penulis menerima dengan ikhlas koreksi dan saran guna penyempurnaan tugas selanjutnya.

Kami mengucapkan banyak terima kasih dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masing-masing Orang tua kami, kedua Orang tua MUHIJRAH ayahanda YADI dan ibunda WIDIANA tercinta. Kedua Orang tua ABDUL MUIS ayahanda MARZUKI dan Ibunda RUSNAH tercinta. Yang dengan penuh cinta dan kesabaran serta kasih saying dalam membesarkan,

(7)

v

Skripsi ini dapat selesai dengan baik berkat bantuan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala ketulusan dan kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Ir.Hamzah Al Imran, S.T.,M.T., IPM. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Ibu Adriani, S.T,.M.T selaku ketua jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Ir Hj. Hafsah Nirwana, M.T selaku pembimbing I dan Ibu Adriani, S.T,.M.T selaku pembimbing II, yang telah banyak meluangkan waktu dalam mendidik dan membimbing kami.

4. Bapah Moch.Munif selaku Manajer PT.PLN (persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk Maros serta pengawai dan stafnya atas kerjasamanya telah mengizinkan dan mendidik penulisan dalam penelitian di GI Maros 150 5. Bapak ibu dosen serta staf pegawai Fakultas Teknik yang telah memdidik

penulisan dan melayani pengurusan penulisan selama proses belajar di Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Rekan-rekan Fakultas Teknik terkhususnya ankatan PROYEKSI 2016 Semoga semua pihak yang membantu penulisan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT dan skripsi yang sederhana ini bermanfaat bagi penilis,

(8)

vi

rekan-rekan dan perkembangan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

Makassar , 13 Agustus 2020

(9)

vii

Muhijrah1, Abdul Muis.2 1,2

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiayah Makassar

E-Mail:1 muhijrahhijrah41@gmail.com,2abdulmuismarzuki@gmail.com

ABSTRAK

Abstrak;Muhijrah 105 82 11033 16, Abdul Muis. 105 82 11029 16 : Analisis Gangguan CVT Line Sidrap 2 Gardu Induk Maros.(dibimbing oleh Dr.Ir Hj.Hafsah Nirwana, M.T dan Adriani, S.T., M.T.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan gangguan di transmisi. Yang penghasilkan suatu penyaluran tenaga listrik, suatu konsep menentukan faktor yang menyebabkan gangguan dengan menggunakan studi kasus diwilayah kerja pt.pln (persero). Dapat mengetahui gangguan SUTT mana yang memiliki dampak yang paling besar terhadap kedua belah pihak dan dapat diladikan acuan bagi pt.pln (persero) SUTM unit pelayanan transmisi upt sulselrabar lebih optimal. Untuk mengetahui penyebab dedakan pada cvt dan dapat menganalisa penyebab sehingga arus dapat di alihkan selama perbaikan. Dengan melihat hasil output pengolahan data dari alat uji tersebut didapatkan faktor korolasi sehingga kita dapat menentukan faktor penyebab mana yang memiliki akibat yang lebih besar dari segi lamanya black out dan energi tidak tersalurkan. Dari hasil analis korelasi, didapatkan bahwa faktor penyebab gangguan yang terjadi luar sistem yaitu gangguan yang sebabkan oleh kondisi alam yaitu petir yang menyebabkan tegangan arus tidak stabil dan juga di sebabkan oleh gangguan dalam sistem dominan terhadap gangguan yaitu rasio tegangan sekunder fasa r (1a-1n = -3.77) fasa r (2a-2n = -3.72) dan ledakan cvt GI.

(10)

viii

INTERFERENCE ANALYSIS CVT LINE SIDRAP 2 IN PT.PLN (PERSERO)PARENT GARDU MAROS

Muhijrah1, Abdul Muis.2 1,2

Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Muhammadiayah University Makassar

E-Mail: 1muhijrahhijrah41 @ gmail.com, 2abdulmuismarzuki @ gmail.com

ABSTRACT

Abstract; Muhijrah 105 82 11033 16, Abdul Muis. 105 82 11029 16: Interference Analysis of CVT Line Sidrap 2 Substation Maros. (Supervised by Dr. Ir Hj. Hafsah Nirwana, M.T and Adriani, S.T., M.T.). This study aims to determine what factors cause interference in transmission. Producing a distribution of electric power, a concept of determining the factors that cause disturbances by using a case study in the work area of PT PLN (Persero). Can find out which SUTT disturbances have the greatest impact on both parties and can be used as a reference for pt.pln (Persero) SUTM, the upt sulselrabar transmission service unit is more optimal. To find out the cause of cracking in CVT and to be able to analyze the causes so that currents can be diverted during repair. By looking at the results of the data processing output from the test equipment, a corolation factor can be obtained so that we can determine which causative factor has a greater effect in terms of the length of black out and the energy is not distributed. From the results of the correlation analysis, it was found that the factors that cause disturbances that occur outside the system are disturbances caused by natural conditions, namely lightning which causes unstable current voltages and is also caused by disturbances in the dominant system to disturbances, namely the ratio of secondary voltage to phase r (1a-1n = -3.77) phase r (2a-2n = -3.72) and the cvt burst GI.

(11)

ix

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN ... ….. … xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 3 C. Tujuan Penulisan ... 4 D. Batasan Masalah ... 4 E. Manfaat Penelitian ... 4 F. Metologi Penelitian ... 5 G. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Defenisi Capacitive Voltge Transformer CVT ... 7

(12)

x

C. Jenis Kapasitas CVT ... 9

D. Gangguan Sistem Tenaga Listrik pada Komponen Gardu induk ... 10

E. Pedoman Pemeliharaan ... 12

F. Shuntdown Testing / Measurement ... 15

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 20

B. Alat dan Bahan Penelitian ... 20

C. Jenis Data dan Sumber Data yang Diperluhkan ... 21

D. Metologi Penelitian ... 21

E. Flowcart Penelitian ... 26

BAB IV HASIL PENELITIAN A. PT.PLN (Persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Maros ... 27

B. Gambaran Gangguan Capacitive Voltge Transformer CVT Line Sidrap 2 Gardu Induk Maros ... 29

C. Data Nameplate Capacitive Voltge Transformer CVT Line 2 Gardu Induk Maros... 32

D. Akibat yang timbul Oleh Gangguan ... 33

E. Pengukuran gangguan single line CVT line Sidrap 2 gardu induk maros ... 34

F. Hasil Gangguan Akibat Implus Petir ... 35

(13)

xi J. Analisis Tindakan ... 48 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 49 B. Saran ... 49 Daftar Pustaka ... . 51 LAMPIRAN ... 50

A. Surat Persetujuan Penelitian ... 52

B. Singel Line Gardu Induk Maros ... 53

C. Catatan Gangguan dan Manuver ... 54

(14)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Capacitive Votage Transformer (CVT) …….……….. 7

Gambar 2.2 Kapasitive (CVT)……….………..… 9

Gambar 2.3 Diagram asesmen kondisi Capatitor Voltage Transformer (CVT) secara umum ………...….. 13

Gambar 2.4 Pengujian Tahanan Isolasi…….. ………. . 16

Gambar 2.5 Pengukuran Tan Delta VT……….……….. 17

Gambar 2.6 Pegukuran Tan Delta pada CVT …………...…………... . 17

Gambar 2.7 Pengukuran Rasio Trafo Tegangan ... 18

Gambar 3.1 Flowchart Penelitian ……… 26

Gambar 4.1 Kantor PT PLN (persero) ULTG maros ……… 23

Gambar 4.2 Peta letak lokasi PT.PLN (persero) ULTG Maros ….…………. 29

Gambar 4.3 Single line diagram CVT ………... . 34

Gambar 4.4 Rangakaian pada CVT dengan parameter gangguan implus …… 35

Gambar 4.5 Omicron CPC 100 ……… 37

Gambar 4.6 Rangkaian Pengujian Rasio CVT ……… ………. 39

Gambar 4.7 Tampilan Layar Uji 1 ………. 39

(15)

xiii

Tabel 4.2 Pengujian Rasio pada Saat Kondisi Normal ... 41 Tabel 4.3 Pengujan Rasio ... 41 Tabel 4.4 Batasan Kesalahan Tegangan dan Penyimpangan Fasa Untuk

(16)

xiv

DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN

Notasi Devenisi dan keterangan

PT Perseron Terbatas

PLN Perusahaan Listrik Negara

BUMN Badan Usaha Milik Negara

ULTG Unit Layanan Transmisi Gardu Induk

UPT Unit Pelayanan Transmisi

GI Gardu Induk

SUTT Saluran Udara Tegangan Tinggi

SUTM Saluran Udara Tegangan Menegah

SUTR Saluran Udara Tegangan Rendah

CVT Capacitive Voltage Transformer

PMS Pemisah Tenaga

PMT Pemutus Tenaga

VT Trafo Tegangan

KV Kilo Volt

(17)

xv

AC Arus Bolak Balik

DC Arus Searah

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kebutuhan akan energi listrik selama ini selalu meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan permintaan energi listrik dan kemampuan infrastruktur yang ada, sehingga sangat diperluhkan pengamanan sistem secara terus menerus agar di peroleh suatu kontinyuitas operasi sistem kelistrikan yang tinggi. Pada suatu sistem jaringan listrik yang luas, untuk mendapatkan hasil koordinasi yang optimal, maka sangat diperlukan untuk melakukan pengamanan pada pusat beban dan pusat pembangkit.

PLN merupakan perusahaan penyediaan listrik terbesar yang ada di Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi PLN adalah mulai terjadinya krisis energi yang mengglobal. Harga bahan bakar minyak di tingkat internasional terus meningkat. Hal ini menyebabkan PLN harus melakukan efesiensi disegala sektor, dan paling utama adalah di sektor penyediaan tenaga listrik. Salah satu langkah efesiensi yang dilakukan PLN adalah menekan susut jaringan seminimal mungkin, baik loses teknik maupun losses non teknik. Losses teknik dapat terjadi karena beban tidak seimbang. Untuk menekan losses teknik pada CVT di Gardu Induk Maros dilakukan pemeliharaan dan pengecekan beban-beban antara fasa R,S, dan T.

(19)

terasa sebagai hal yang mengganggu kegiatan atau mengganggu kenyamanan. Gangguan penyediaan tenaga listrik tidak dikehendaki oleh siapapun, tetapi merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh karenanya usaha-usaha perlu dilakukan untuk mengurangi jumlah gangguan.

Sarana telekomunikasi sangatlah diperluhkan untuk menerima dan menyalurkan perintah dari pusat pembangkit dan gardu induk. Salah satu jenis peralatan telekomunikasi yang digunanak PLN (persero) untuk keperluan tersebut adalah power line carrier (PLC). PLC adalah teknologi yang menggunakan koneksi kabel listrik yang dapat digunakan pada jaringan listrik untuk memberikan pasokan energi listrik, dan disaat bersamaan juga dapat digunakan untuk mentransfer data dan transmisi suara. Kecepatan maksimal yang bias diraih teknologi ini kurang lebih mendekati kecepatan koneksi transmisi data menggunakan fiber optik.

Salah satu alat yang dapat mendukung kerja kelistrikan adalah trasformator berperan dalam penyaluran daya sistem arus bolak–balik (AC). Kinerja dan keandalannya sangat berperan besar untuk mengetahui terjadinya ferroresonance atau yang dikenal juga dengan sebutan resonansi non-linier merupakan suatu fenomena kelistrikan yang sangat kompleks. Ferroresonance resonance non – linier yang dapat mempengaruhi jaringan kelistrikan, tingkat tegangan lebih yang terjadi dapat berbahaya bagi peralatan listrik. Hal ini perlu diperhatikan dalam penyaluran tenaga listrik, dan juga Capatitor Voltage Transformer ( CVT) yang mampu berkerja sebagai komponen kopling

(20)

3

gelombang carrier, juga mampu sebagai transformator tegangan.

Pada sistem transmisi Indonesia, sebab gangguan yang paling utama adalah petir. Instalasi yang paling sering terkena petir adalah saluran udara, baik saluran udara tegangan tinggi (SUTT), saluran udara tegangan menengah (SUTM) maupun saluran udara tegangan rendah (SUTR). Hal ini disebabkan karena memang jumlah petir di Indonesia tergolong banyak.

Sebab-sebab gangguan lainnya adalah tanaman atau pohon dan juga kelalaian manusia saat melakukan pemasangan peralatan, jadwal pemeliharaan peralatan yang tidak diperhatikan. Peralatan dalam sistem tenaga listrik perlu dilakukan secara periodik sesuai petunjuk dari buku pemeliharaan peralatan yang dibuat oleh pabriknya. Penundaan pemeliharaan akan memperbesar kemungkinan rusaknya peralatan oleh karena jadwal pemeliharaan peralatan sedapat mungkin harus ditaati.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana menentukan gangguan apa yang terjadi sehingga menyebabkan ledakan pada Capatitor Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 di PT. PLN (Persero) Gardu Induk Maros 150 kV?

2. Bagaimana upaya penanggulangan ledakan Capatitor Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 di PT. PLN (Persero) Gardu Induk Maros 150 kV yang terjadi sehingga arus yang mengalir dapat di alihkan selama perbaikan dilakukan?

(21)

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah antara lain:

1. Untuk mengetahui penyebab ledakan pada Capatitor Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 di PT. PLN (Persero) Gardu Induk Maros.

2. Agar mengetahui penanggulangan ledakan Capatitor Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 sehingga arus listrik yang mengalir pada gangguan dapat diantisipasi selama perbaikan dilakukan

D. Batasan Masalah

Agar permasalahan yang dibahas lebih spesifik dan pencerahannya juga lebih tepat sesuai dengan rumusan masalah yang dipaparkan diatas, maka penyusunan tugas akhir ini penulis memilih batasan-batasan masalah yang akan dibahas untuk dicari pemecahannya, antara lain:

1. Studi gangguan Capatitor Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 di PT. PLN (Persero) Gardu Induk Maros.

2. Menganalisa penyebab gangguan dan penanggulangan ledakan Capatitor Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 di PT. PLN (Persero) Gardu Induk Maros 150 kV sehingga arus yang mengalir dapat dialihkan selama perbaikan dilakukan.

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Mahasiswa

(22)

5

a. Sebagai sarana dalam menyelesaikan suatu permasalahan sesuai bidang keahlian dan untuk mempersiapkan diri dalam dunia kerja.

b. Sebagai penerapan teori yang didapat dibangku kuliah di kehidupan sehari-hari.

2. Bagi Perusahaan

a. Mempermudah pegawai PLN dalam menangani masalah gangguan beban khususnya pada Capatitor Voltage Transformer (CVT).

b. Menambah wawasan serta menambah pengetahuan tentang gangguan dan pemeliharaan Capatitor Voltage Transformer (CVT).

F. Metedologi penelitian

Pada tugas akhir ini penulis melakukan penelitian dan pengambilan data yang dilakukan dengan metode:

1. Studi Literatur

Dalam metode ini penulis mengumpulkan bahan tulisan yang bersumber pustaka yang relevan untuk mendukung tugas akhir ini.

2. Studi Bimbingan

Dalam hal ini, penulis mendiskusikan kepada Dosen Pembimbing Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Pengumpulan Data

Untuk menunjang tugas akhir ini penulis mengumpulkan data dari Gardu Induk Maros 150 kV.

(23)

G. Sistematika Penulisan

Bab I : Bab ini menjelaskan tentang latar belakan, rumusan masalah, batasan masalah, serta maksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan serta sistematika penulisan dari laporan hasil penelitian.

Bab II : Bab ini menjeaskan tentang teori-teori pendukung yang berkaitan dengan judul penelitian.

Bab III : Bab ini menjelaskan tentang waktu dan tempat penelitian, diagram balok dan gambar rangkaian, serta metode penelitian yang berisi langkah-langkah dalam proses melakukan penellitian.

Bab IV : Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian, alat dan perhitungan serta pembahasan terkait judul penelitian.

Bab V : Bab ini merupakan penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran terkait judul penelitian.

(24)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi CVT (Capactive Voltage Transformer)

Gambar 2.1 Capactive Voltage Transformer (PT / CVT)

Capactive Voltage Transformer atau trafo tegangan kapasitor adalah sebuah transformator tegangan yang terdiri dari sebuah unit kapasitor pembagi tegangan dan unit electromagnet yang di desain dan dihubunggkan sedemikian rupa sehingga tegangan sekunder dari unit electromagnet tersebut sebanding dengan nilai tertentu terhadap tegangan primer dan memiliki perbedaan sudut fasa yang mendekati nolpada polaritas hubung yang sesuai dengan sambungan dan frekuensi pengenalnya. Transformator tegangan kapasitor dapat disebut sebagai CVT ( Capasitor Voltage Transformer).

Keburukan trafo tegangan kapasitor adalah terutama karena adanya induktasi pada trafo magnetic yang non linier, mengakibatkan isolasi resonansinya

(25)

yang timbul menyebabkan tegangan tinggi yang cukup besar dan menghasilkan panas yang tidak diinginkan pada inti magnetik dan belitan yang mempengaruhi hasil penunjukan tegangan. Diperlukan elemen peredam yang akan menghasilkan tidak ada efek terhadap hasil pengukuran walau kejadian tersebut hanya sesaat.

Trafo tegangan adalah peralatan yang mentransformasikan tegangan sistem yang lebih tinggi ke suatu tegangan yang lebih rendah untuk peralatan indikator, alat ukur / meter dan relai.Trafo tegangan memiliki prinsip kerja yang sama dengan trafo tegangan atau pun Capactive Voltage Transformer (CVT) Pada trafo tegangan perbandingan transformasi tegangan dari besaran primer menjadi besaran sekunder ditentukan oleh jumlah lilitan primer dan sekunder. Diagram fasor arus dan tegangan untuk trafo arus juga berlaku untuk trafo tegangan Komponen Utama CVT (Capactive Voltage Transformer)

B. Prinsip Kerja CVT (Capactive Voltage Transformer)

Capacitive Voltage Transformer (CVT) digunakan untuk instrumentasi, khususnya pada peralatan-peralatan meter dan proteksi. Pada umumnya kinerja CVT sangat baik pada kondisi steady state.

Prinsip kerja CVT adalah menurunkan besaran tegangan primer menjadi besaran tegangan sekunder melalui kapasitor yang berfungsi sebagai pembagi tegangan (voltage divider) dan trafo tegangan sebagai penurun tegangan. Keluaran tegangan sekunder dirancang seakurat mungkin sama dengan perbandingan rasio tegangan masukan disisi primer dalam segala kondisi operasi.

(26)

9

Tegangan keluaran Capatitor Voltage Transformer (CVT) :

Pada keadaan tunak (steady state) kondisi ini dapat dipenuhi sesuai dengan desain dan penyetelan Capatitor Voltage Transformer (CVT), namun akurasi CVT akan menurun pada keadaan peralihan (translent) mengikuti komponen induktif, kapasitif dan nonliniernya, seperti:

a. Pada gejala peralihan switching operations pemutus tenaga (PMT) atau pemisah (PMS).

b. Terjadinya sambaran petir langsng atau tidak langsung pada saluran transmisi tegangan tinggi (SUTT/SUTET) yang di hubungkan ke busbar gardu induk yang diikuti ataupun tidak diikuti kerusakan isolasi atau kerjanya arrester. C. Jenis Kapasitive (CVT)

Terdiri dari rangkaian kondensor yang bergungsi sebagai pembangi tegangan tinggi dari trafo pada tegangan menengah yang mengindukasikan tegangan ke belitan sekunder melalui media capasitor

(27)

Keterangan gambar:

1. HVT adalah terminal tegangan tinggi

2. Kapasitor C1 & C2 pembagi tegangan, (capacitive voltage divider) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi untuk diubah oleh tegangan pengukuran yang lebih rendah

3. LO adalah inductor penyesuai tegangan ( medium voltage choke), yang berfungsi untuk mengatur/ menyesuaikan supaya tidak terjadi pergeseran fasa antara tegangan masukan (vi) dengan tegangan keluaran (vo) frekuensi dasar. 4. Belitan primer

5. Isolator keramik 6. Terminal sekunder

D. Gangguan sistem tenaga listrik pada komponen gardu induk

Gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik sangat beragam besaran dan jenisnya. Gangguan dalam sistem tenaga listrik adalah keadaan tidak normal dimana keadaan ini dapat mengakibatkan terganggunya kontitunitas pelayaan tenaga listrik. Secara umum klasifikasi gangguan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu gangguan yang berasal dari sistem dan gangguan yang berasal dari luar sistem. Pada dasarnya suatu sistem tenaga listrik harus dapat beroperasi secara terus menerus secara normal, tampa terjadinya gangguan akan tetapi gangguan pada sistem tenaga listrik tidak dapat dihindari.

(28)

11

a. Penyebab gangguan :

1. Gangguan karena kesalahan manusia (kelalaian)

2. Gangguan yang terjadi dari dalam sistem, misalnya karena faktor ketuaan (umur) arus lebih, kerusakan material seperti ledakan Capatitor Voltage Transformer (CVT), isolator pecah, kawat putus, atau kabel cacat isolasinya.

3. Gangguan dari luar, biasanya karena faktor alam. Contohnya cuca, gempa, petir, banjir, binatang, pohon dan lain-lainnya.

4. Tegangan dan arus abnormal 5. Pemasangan yang kurang baik

6. Kesalahan mekanisme proses penuaan 7. Beban lebih

b. Jenis – jenis gangguan

1. Jenis gangguan bila ditinjau dari sifat dan penyebabnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a) Beban lebih, ini disebabkan karena memang keadaan pembangkit yang kurang dari kebutuhan bebannya.

b) Hubung singkat, jika kualitas isolasi tidak memenuhi syarat, yang mungkin disebabkan faktor umur, mekanis, dan daya isolasi bahan isolator tersebut.

(29)

c) Tegangan lebih, yang membahayakan isolasi peralatan di gardu.

d) Gangguan stabilitas, karena hubung singkat yang terlalu lama. 2. Gangguan yang berasal dari luar sistem adalah :

a) Gangguan-gangguan mekanis karena pekerjaan galian saluran lain. Gangguan ini terjadi untuk sistem kelistrikan bawah tanah.

b) Pengaruh cuaca seperti hujan, angin, serta petir. Pada gangguan karena petir dapat mengakibatkan gangguan tegangan lebih dan dapat menyebabkan gangguan hubung singkat karena tembus isolasi peralatan (breakdown)

c) Pengaruh lingkungan seperti pohon, binatang dan benda-benda asing serta akibat kecerobohan manusia.

E. Pedoman Pemeliharaan 1. Konsep Asesmen

Fungsi asesmen kondisi adalah untuk memberikan indikasi penurunan kondisi Capatitor Voltage Transformer (CVT). Score kondisi pada setiap item inspeksi diperoleh dengan membandingkan hasil inspeksi terhadap norm untuk setiap item pengujian. Selanjutnya kondisi setiap subsistem Capatitor Voltage Transformer (CVT) diperoleh dengan mengalikan score kondisi setiap hasil pengujian terhadap weighting factor setiap pengujian

(30)

13

Gambar 2.3 Diagram asesmen kondisi Capatitor Voltage Transformer (CVT) secara umum

Keterangan gambar:

FMECA = Fallure Mode Effect and Criticality Analysis

CCU = Current Carrying Unit (komponen utamanya kumparan primer dan kumparan sekunder

EMC = Electromagnetic Circuit (komponen utamanya inti besi)

WF1 = Weighting Factor masing-masing inseksi untuk sub sistem tertentu

WF2 = Weighting Factor masing-masing sub sistem DL1 = Diagnose Level 1

2. In Service Inspection

In Service Inspection adalah kegiatan pengamatan visual pada baian-bagian peralatan terhadap adanya anomall yang berpotensi menurunkan unjuk kerja peralatan atau merusak sebagian/keseluruhan peralatan.

a. Dielectric

(31)

- Memeriksa level ketinggian minyak pada gelas penduga

- Memeriksa isolator keretakan, flek, pecah dan kelainan yang lainnya b. Electromagnetic Circuit

- Memeriksa level ketinggian minyak pada gelas penduga - Rembesan/kebocoran minyak trafo pada seal isolator - Memeriksa kondisi Spark Gap

c. Mechanical Structure

- Memeriksa pondasi dari keretakan atau tidak

- Memeriksa rumah Capatitor Voltage Transformer (CVT) dari keretakan dan korosi

d. Pentanahan VT

Inspeksi pentanahan VT dilakukan dengan memeriksa kawat dan terminal pentanahan terhubung ke mess grounding switchyard dengan kencang dan sempurna.

3. In Service Measurement

In service Measurement adalah kegiatan pengukuran/pengujian yang dilakukan pada saat peralatan sedang dalam keadaan bertegangan/beroperasi.

a. Thermovision

Thermovision digunakan untuk melihat hotspot pada instalasi listrik, dengan infra red Thermovision dapat dilihat losses yang terjadi di jaringan semakin tinggi hot spot yang terjadi maka semakin besar losses

(32)

15

yang terjadi. Losses dapat diakibatkan oleh sambungan yang kurang baik, pemeriksaan dengan thermovision pada Capatitor Voltage Transformer (CVT) digunakan untuk melihat titik-titik sambungan pada CVT.

Thermovisi dilakukan pada:

- Konduktor dan klem VT. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan suhu antara konduktor dengan klem VT.

- Isolator dan housing VT. Hal ini bertujuan untuk mengetahui adanya kelalaian/hotspot di dalam VT.

Termovisi dilakukan setiap satu bulan, kecuali untuk CVT 500kV dilakukan setiap 2 minggu. Pada kondisi khusus, thermovisi juga harus dilakukan pada instalasi yang baru beroperasi, pasca dilakukan perbaikan/pemeliharaan, gangguan dan pada trafo tegangan yang berdasarkan hasil pengujian sudah mengalami pemburukan.

F. Shutdown Testing/Measurement

Shutdown Testing/Measurement adalah pengerjaan pengujian yang dilakukan pada saat pemeliharaan rutin maupun pada saat investigasi ketidaknormalan.

1. Tahanan isolasi

Pengujian tahanan isolasi menggunakan alat ukur tahanan isolasi 5kV untuk sisi primer dan 500 V untuk sisi sekunder. Berfungsi untuk mengetahui kualitas tahanan isolasi pada trafo tegangan tersebut. Pencatatan

(33)

hasil pengukuran dilakukan pada saat 60 detik.

Gambar 2.4 Pengujian Tahanan Isolasi 2. Tan delta dan Kapasitor

Pada trafo tegangan yang menggunakan minyak untuk isolasinya, minyak memiliki nilai konduktansi yang cukup rendah dan nilai kapasitasi yang cukup tinggi. Pengujian tangen delta dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai faktor disipasi (tan delta) dan kapasitansi dari VT. Peningkatan nilai dari kapasitansi mengindikasikan adanya pemburukan pada isolasi kertas isolasi. Khususnya untuk peralatan CVT, hanya pengukuran kapasitas yang dilakukan.

Pengujian dengan mode GST-Ground pada VT bertujuan untuk mengetahui nilai tan delta overall (secara umum). Tegangan uji yang digunakan adalah antara 1 kV hingga 2 kV. Tegangan uji ini disesuaikan dengan level isolasi terminal sisi netral HV.

(34)

17

Gambar 2.5 Pengukuran Tan Delta pada VT

Gambar 2.6 Pengukuran Tan Delta pada CVT 3. Tahanan Pentanahan

Pengukuran besarnya tahanan pentanahan menggunakan alat uji tahanan pentanahan. Besarnya nilai tahanan pentanahan mempengaruhi keamanan personil terhadap bahaya tegangan sentuh.

(35)

4. Rasio

Pengukuran rasio bertujuan untuk membandingkan nilai rasio hasil pengukuran dengan nilai pada nameplate. Pengukuran dilakukan dengan menginjeksi tegangan AC 2 – 10 kV pada sisi primer dan dibandingkan dengan output tegangan pada sisi sekunder. Pengujian ini hanya dilakukan ketika pemasangan baru atau setelah relokasi.

Gambar 2.7 Pengukuran Rasio Trafo Tegangan

Kesalahan ke besaran tegangan karena perbedaan rasio name plate dengan rasio sebenarnya dinyatakan dalam buku petunjuk pemeliharaan dan batasan peralatan tenaga listrik transformator tegangan ( No.Dokumen:3-22/HARLUR-PST/2009)

Kesalahan Arus % = ( )

Keterangan :

(36)

19

Kn = Besar rasio pengenal Vs = Tegangan sekunder Vp = Tegangan primer Dengan composite Error :

Ec = 100/Vp Ȍ 100/T ȯ ( Kn Vs –Vp)2 dt

Vs dan Vp merupakan nilai tegangan sesaat sisi primer dan sisi sekunder.

(37)

20

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu

Waktu pembuatan dan penelitian tugas akhir ini pada bulan Maret – September 2020 sesuai dengan perencanaan waktu yang terdapat pada jadwal penelitian.

2. Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di PT. PLN (Persero) Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG Maros) Gardu Induk Maros Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.

B. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat Penelitian

Dalam penelitian ini instrument penelitian yang dipakai adalah sebagai berikut:

a. Alat Tulis

b. Alat ukur ( OMICRON CPC 100 ) c. Meger

d. Kertas 2. Bahan Penelitian

(38)

21

OMICRON CPC 100 adalah alat ukur yang digunakan untuk pengujian peralatan primer diperluhkan untuk keperluan operasional dan penunjangan peralatan gardu induk ke hasil yang akurat .

b. Capacitive Voltage Transformer (CVT)

Capacitive Voltage Transformer (CVT) adalah komponen gardu induk mengalami gangguan

c. Komputer Pegolah Data

Computer pengolah data adalah computer yang digunakan untuk computer khusus yang digunakan untuk menginput data dan mengolah data hasil pengujian dari gangguan.

C. Jenis Data dan Sumber Data Yang Diperlukan

Data-data diperoleh di PT. PLN (Persero) wilayah Sulselrabar Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk Maros. Data-data yang diperlukan antara lain diagram segaris sistem GI Maros, single line ULTG Maros, data tangen Delta, dan rasio GI Maros Line Sisrap 2 Tahun 2017-2018-2019-2020 D. Metodologi Penelitian

Adapun motodologi penelitian ini adalah penelitian lapangan dimana sebagian besar data diperoleh dari pengamatan langsung atau dengan melakukan survei langsung dengan objek selama melakukan studi kasus hingga penulisan laporan ini,antara lain adalah sebagai berikut:

(39)

1. Metode Pengambilan Data a. Riset Perpustakaan

Motode ini dilakukan dengan cara mempelajari dan mengambil data dari pengetahuan pustaka yang bersifat documenter dari perusahaan maupun pustaka lainnya yang berkaitan dengan materi laporan.

b. Riset Lapangan

Metode ini dilakukan dengan cara mengamati objek langsung yang diteliti dengan observasi. Penulisan secara langsung mengadakan pengamatan serta melakukan pengujian,mengukur serta mencatat dan menghitung data-data yng berkaitan dengan objek yang diteliti yang dihadapi pada waktu di lapangan sebagai bahan untuk menyusun laporan ini.

2. Metode Analisis

Metode analisis yang dilakukan penelitian adalah metode analisis pengukuran untuk mempelajari data-data hasil penelitian. Penulis menggunakan beberapa rumus yang berkaitan dengan objek yang diteliti sebagai bahan utama penysunan laporan ini.

a. Untuk analisis nilai eror pengujian rasio pada saat kondisi normal

(40)

23

Keterangan = rasio

Vmax = tegangan masimal

Vp = tegangan primer Vs = tegangan sekunder b. Besaran eror rasio

Vmax (v) =

….. persamaan 3.2

Keterangan

Vmax = tegangan maksimal (volt)

Vs = tegangan sekunder (volt)

c. Konsep dasar untuk melakukan pengujian rasio dengan menggunakan sebuah suplay tegangan 3 fasa dengan mengacu pada rumus dasar rasio

=

=

….. persamaan 3.3

Keterangan

Np = belitan primer Ns = belitan sekunder

(41)

Vp =tegangan primer Vs = tegangan sekunder Is = arus sekunder Ip = arus primer

Atau jika dinyatakan dalam persen, % maka : % eror Vs

x 100 ……Persamaan 3.4 d. Rumus Rugi – rugi transformator

= a

c

..…Persamaan 3.5

= a

t

.…Persamaan 3.6 Keterangan :

ac = faktor pembagi teganan kapasitor 1,0 jika pembagi kapasitor tidak ada at = faktor transformasi transformator penegah 1,0 jika faktor penegah tidak ada

ap = faktor transformasi sistem pengukuran

e. Rumus rugi daya

∆Pt = 3I2 R …. Persamaa 3.7 Keterangan :

(42)

25

I = arus (A)

R = resistansi masing – masing fasa ( ohm) f. Rumus kesalahan rasio

Kesalahan Arus % =

…..Persamaan 3.8 Keterangan :

% = besar kesalahan yang diizinkan Kn = Besar rasio pengenal

Vs = Arus sekunder Vp = Arus primer

(43)

E. Flowchart Penelitian TIDAK YA Menemukan Masalah Mengidentifikasi Masalah START Hasil Evaluasi Pengumpulan Data - Rekapitulasi Beban Puncak - Data Penyusutan Rasio CVT - Data Resistansi Isolasi

Kelengkapan data

Analisa Data

(44)

27

Gambar 3.1 Flowchart Penelitian Selesai

(45)

27

BAB IV

HASIL PENELITAN

A. PT. PLN (persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Maros

Gambar 4.1 Kantor PT PLN (Persero) Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Maros

PLN (persero) merupakan salah satu perusahaan Badan PLN (Persero) merupakan salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bergerak di bidan kelistrikan.Tujuan utama PLN adalah memenuhi atau melayani kebutuhan masyarakat, dalam hal penerangan. Karena listrik merupakan kebutuhan untuk kelangsungan hidup manusia

PT.PLN (persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk Maros merupakan salah satu unit dari PLN (persero) Unit Pelayanan Transmisi (UPT) SulSelRaBar yang ruang lingkupnya berada pada pemeliharaan dan pengoperasian peralatan pada Sistem Tansmisi dan Gardu Induk. ULTG Maros memiliki beberapa gardu induk yaitu: GI Maros, GI Daya, GI Mandai, GI Pangkep, GI Bosowa, GI Tonasa V, GI Tonasa III, dan GI Kima.

(46)

28

Untuk melaksanakan tugas tugasnya ULTG MAROS sistem di SulSel di bagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

a. Bagian Teknik, bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi operasi sistem tenaga listrik yang dikelola oleh UPT Sistem Sulawesi Selatan.

b. Bagian Penyaluran, bertanggung jawab terhadap sistem penyaluran dan proteksi instalasi sistem.

c. Bagian SCADATEL, bertanggung jawab terhadap pengelolaan fasilitas SCADA dan Telekomunikasi.

d. Bagian Transaksi Tenaga Listrik.

e. Bagian Administrasi, bertanggung jawab terhadap pengelolaan anggaran keuangan, inventarisasi aset, serta pengembangan SDM di lingkungan UPT Sistem Sulawesi Selatan.

Untuk melaksanakan tugas teknis operasi dan pemeliharaan Transmisi dan Gardu Induk Panakkukang ada di wilayah kerjanya, UPT Sistem Sul-Sel didukung beberapa Unit Transmisi dan Gardu Induk (struktur organisasi Januari 2008), ULTG Sektor Maros , yang bertanggung jawab pada kegiatan operasi dan pemeliharaan GI Maros, GI Daya, GI Mandai, GI Pangkep, GI Bosowa, GI Tonasa V, GI Tonasa III, dan GI Kima

Tata letak yang terdapat pada PT.PLN (persero) Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) maros dapat di lihat pada gambar 4.2

(47)

Gambar 4.2 Peta letak lokasi PT.PLN ( persero ) Unit Layanan Transmisi Dan Gardu Induk (ULTG) Maros

B. Gambaran gangguan Capacitive Voltage Transformer (CVT) Line Sidrap 2 Gardu Induk Maros

Penelitian ini dilaksanakan dengan melihat pentingnya peranan Capacitive Voltage Transformer (CVT) sebagai sumber AC gardu induk. Agar fungsi gardu induk sebagai penyaluran maka dan sebagai pembangi dan penurun tegangan tiggi ke tegangan rendah, tegangan listrik dapat bekerja dengan baik maka Capacitive Voltage Transformer (CVT) harus bekerja secara kontinu dalam menyuplai peralata-peralatan gardu induk. Keandalan Capacitive Voltage Transformer (CVT) adalah sebagai pembagi tegangan, dari tegangan tinggi ke tegangan rendah pada primer dan selanjutnya tegangan pada suatu kapasitor di transformsikan menggunakan trafo tegangan yang lebih rendah agar di peroleh tegangan sekunder.

(48)

30

faktor diversitas yaitu dengan melihat antara jumlah kebutuhan maksimum dari setiap sistem dan kebutuhan seluruh sistem dalam hal ini CVT line sidrap 2 gardu induk Maros 150 kV dengan kapasitas daya yang terpasang 150/110 kV yang mampu menyuplai kebutuhan gardu induk, maka CVT line sidrap 2 ditempatkan diluar gedung control (indoor) agar sirkulasi udara CVT dapat berjalan dengan baik.

Capacitive Voltage Transformer (CVT) pada gardu induk yang biasanya dipasang 2 atau lebih sistem suplay agar gardu induk tetap andal dalam menjalankan fungsinya, untuk gardu induk maros 150 kV, selain disuplay dari Capacitive Voltage Transformer (CVT) line sidrap 2 juga dapat disuplai dari line sidrap 1. Jika Capacitive Voltage Transformer (CVT) line sidrap 2 dalam keadaan gangguan atau sedang dalam masa pemeliharaan maka akan disuplai melalui Capacitive Voltage Transformer (CVT) line sidrap 2 untuk menghindari blackout atau lamanya pemadaman listrik sehingga dapat tersalurkan dan mengindari banyaknya kerugian dalam gangguan.

(49)

Sebelum Terjadi Ledakan

NO PERALATAN BEBAN TERTINGGI SIANG BEBAN TERTINGGI MALAM KETERANGAN

TGL JAM KV Amp MW MVAR TGL JAM KV Amp MW MVAR

1 TRANSMISI a. Line Bolangi 12 09.30 153 115 26.3 13 13 18.00 155 88.1 17.7 12 b. Line Sungguminasa 12 09.30 153 105 20.3 11 13 18.00 155 73.6 12.1 10 c. Line PLTB Sidrap 1 12 09.30 153 145 -26.5 -13 13 18.00 155 116 -20.1 -12 d. Line PLTB Sidrap 2 12 09.30 153 142 -32.4 -16 13 18.00 155 116 -24.5 -15 2 TRAFO Distribusi 30 MVA (150/20 KV ) 28 11.30 20.2 436 14.1 5.4 13 19.30 20.2 515 17.5 4.4 3 DISTRIBUSI a. Lempangan 11 26 28 12.9 b. Tambua 28 127 29 160 c. Bosowa 24 185 14 208 d. Turikale 28 254 28 272 e. Spare f. Spare

(50)

32

Dari tabel 4.1 diatas menunjukkan rekap beban puncak tertinggi pada bulan agustus 2019 sebelum terjadinya ledakan CVT line sidrap 2 di phasa T yang mengakibatkan pengalihan arus ke line sidrap 1. Data beban tertinggi siang pada bulan tersebut yaitu daya aktif : 32,4 MW dan daya reaktif: -16 MVAR, sedangkan pada malam hari yaitu daya aktif : 24,5 MW dan daya reaktif : -15 MVAR. Pada rekap beban puncak diatas menunjukkan kondisi transmisi line sidrap 2 terjadi masalah karena ketika daya reaktif turun membuat tegangan yang dihasilkan juga mengalami penurunan, tetapi yang terliat pada tabel 4.1 daya aktif (MW) mengalami kenaikan tidak mengikuti daya reaktif (MVAR). Maka dapat disimpulkan lebih awal bahwa terjadi gangguan pada line sidrap 2.

Dari data name plate, maka diperoleh spesifikasi Capacitive Voltage Transformer (CVT) Gardu Induk Tello 150 kV adalah sebagai berikut :

C. Data Nameplate CVT line sidrap 2 Gardu Induk Maros .Merk : TRENCH ITALIA

Dibuat di : ITALIA

Type : CPT/170/6.2

Insutaliap tipe : Minyak

Tegangan primer: : 1981150KV/V3A

(51)

Pasangan : Outdoor Frekuensi : 50 Hz Capacitas : 5000 Tegangan maksimal : 150/ √ kV / 110v Tegangan sistem : 150 kV S t a n d a r d : IEC 60044-5

Ternal Burden: : 750VA

D. Akibat – akibat yang timbul oleh gangguan

a. Ledakan pada Capatitor Voltage Transformer (CVT)

Ledakan pada Capatitor Voltage Transformer (CVT) menyebabkan line sidrap 2 menjadi pemadaman sehingga arus tak sampai kepada trafo gardu induk maros.

b. Black out

Black out padam total dalam keadaan hilangnya seluruh sumber tenaga pada suatu sistem tenaga listrik.

c. Energi tak tersalurkan

Energi tak tersalurkan adalah jumlah energi yang tidak tersalurkan pada saat terjadi gangguan.

(52)

34

d. Over load

Overload (beban lebih) terjadi ketika arus yang mengalir dalam suatu sistem melebihi dari biasanya ( 50 % - 100 % lebih tinggi ). Overload tidak terjadi secara tiba – tiba tetapi bertahap.

E. Rangkaian gangguan single line CVT ( Capacitive Voltaga Transformer) line Sidrap 2 gardu induk maros

Pada studi penelitian ini. Objek yang di amati dimana peristiwa feresonansi terjadi adalah peralatan Capacitive Votlage Transformer (CVT) pada gambar 4.3 merupakan rangkaian gangguan single line pemodelan Capacitive Votlage Transformer (CVT).

(53)

F. Rangkaian Gangguan Akibat Implus Petir

Rangkaian pemodelan yang terjadi di CVT dengan parameter gangguan inplus petir dapat dilihat pada gambar 4.4. Sumbrt tegangan yang digunakan adalah tegangan bolak –balik (AC) rms line-line (VL-l-rms ) 500 kV,

50 Hz. Dikarenakan objek yang akan di teliti merupakan satu fasa, tegangan line-netral (VL—netral ) adalah

VL-Npek = √ VL – Nms = √ = 288675 V

Tegangan puncak line-netral ( Vpeak line-netral ) dapat dihitung menjadi VL-Nms = VL-Nms x √

VL – Nms = 286675 x √ = 408248 V

Gambar 4.4 Rangakaian pada CVT dengan parameter gangguan implus Untuk kasus gangguan impuls petir digunakan model saluran transmisi tipe pi yang memiliki komponen utama berupa komponen resistif, kapasitif, dan

(54)

36

induktif. Dipilih model saluran Lumped RLC-Pi 1 phase dengan parameter sebagai berikut, panjang saluran diasumsikan 5 km, resistansi saluran 0,00001273 Ohm/m, induktansi saluran 0,0009337 mH/m, dan kapasitansi saluran sebesar 0,01274 µF/m. Impuls petir pada simulasi ini dimodelkan dalam bentuk sumber arus impuls yang diberikan pada saluran transmisi. Arus impuls petir memiliki bentuk umum 1,2/50 µs dan amplitudo 10 kA

G. Pengukuran rasio pada CVT Cara pengujian rasio CVT

1. Siapkan peralatan kerja yang akan digunakan (tool set dan alat uji Omicron CPC 100

2. Lengkapi diri dengan peralatan K3 sebagai komponen keselamatan a. Helm b. Sarung tangan c. Tangga / scaffolding d. Grounding stick e. Sepatu safety f. Kacamata safety g. Rantai pengaman

(55)

4. Batasi area bertegangan dan area pengujian yang tidak bertegangan dengan rantai bertegangan.

5. Pastikan bahwa posisi alat uji berada pada tempat yang kering dan padat. 6. Pastikan pentanahan alat uji terhubung dengan baik.

7. Hubungkan alat uji dengan sumber tegangan 220 V.

Gambar 4.5 Omicron CPC 100 Keterangan:

(56)

38

2. Safety key lock 3. Binary Input 4. IAC/DC Input 5. Fuse 6.3 A T 6. AC output 7. Fuse 3.15 A

8. V1 AC input (300 VAC) / V2 AC input (3 VAC) 9. DC output

10. VDC input

11. Emergency stop button 12. Add test cards

13. Test

Test procedure overview

File operations

Options 14. Tombol menu

15. Tombol untuk start dan stop pengujian 16. Tab selector

17. Tombol navigasi 18. Keyboard

(57)

Gambar 4.6 Rangkaian Pengujian Rasio CVT 8. Pilih gambar pada kompone Add test card.

9. Pada card CVT ratio1, isi data berikut sesuai dengan nameplat CVT.

Gambar 4.7 Tampilan Layar Uji 1

V prim : Tegangan primer nominal (centang 1/√3 jika terdapat faktor koreksi untuk tegangan primer)

V sec : Tegangan sekunder nominal (centang 1/√3 atau 1/3 untuk faktor koreksi tegangan sekunder)

V test : Nilai tegangan pengujian pada sisi primer f : Frekuensi (50 Hz)

Auto : Centang bila menginginkan pengujian otomatis terhenti bila hasil uji telah didapatkan

(58)

40

10. Tekan tombol untuck memulai pengujian

11. Setelah pengujian selesai akan muncul hasil pada layar alat uji.

Gambar 4.8 Tampilan Layar Uji 2 V prim : Tegangan yang terukur pada sisi primer VT V sec : Tegangan yang terukur pada sisi sekunder VT ° : Sudut fasa terhadap tegangan primer

Ratio : Perbandian rasio antara tegangan primer dan tegangan sekunder

Polarity : OK jika nilai sudut fasa V sec – sudut fasa V prim •} 45° NOTOK jika nilai sudut fasa V sec – sudut fasa V prim selain

di atas

12. Untuk menyimpan hasil alat uji, maka pilih pada tampilan alat uji 13. Ulangi pengujian di fasa lainnya

(59)

H. Hasil Penelitian PT.PLN (Persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk Maros line Sidrap 2 gardu induk maros

Penelitian ini dilaksakan di gardu induk Maros 150kV/110 V selama 7 hari pada Capacitive Voltage Transformer (CVT) yang dilakukan pengecekan dan pengujian rasio dan Tangen Delta untuk mengetahui lebih jelas penyebab terjadinya ledakan pada Capacitive Voltage Transformer (CVT) line sidrap 2 Pengujian Rasio Capacitive Voltage Transformer (CVT)

Tabel 4.2 Pengujian Rasio Pada saat Kondisi Normal

Fasa R Fasa S Fasa T

Terminal 1a-1n 2a-2n 1a-1n 2a-2n 1a-1n 2a-2n Tegangan primer kV 142 142 145 145 153 153 Tegangan sekunder V (Sistem) 104.4 104.3 107.1 107.1 112.1 112.1 Tegangan sekunder V (Teori) 104.1 3 104.1 3 106.3 3 106.3 3 112.2 112.2 Error % 0.28 0.28 0.31 0.31 0.38 0.38

Tabel 4.3 Pengujian Rasio

Fasa R Fasa S Fasa T

Terminal 1a-1n 2a-2n 1a-1n 2a-2n 1a-1n 2a-2n Tegangan primer kV 150 150 150 150 150 150 Tegangan sekunder V 105.85 105.9 115.6 3 115.6 5 113.8 5 113.86 Error % -3.77 -3.72 5.13 5.14 3.51 3.51

(60)

42

Dari tabel 4.3, didapatkan besaran error dari tegangan sekunder pengujian dapat dilihat pada fasa R 1a-1n = -3.77 V 2a – 2n = -3.72V memiliki hasil mines eror sedangkan pada hasi pengujian fasa S dan fasa T positif . dimana hasil yang mines itu menunjukkan bahwa tegangan pada fasa R dibawah 110V dan tegangan pada fasa S dan T di atas 110V, jadi nilai eror dari perbandingn tegangan sekunder yaitu 110V. dapat di lihat pada buku petunjuk batasan operasi dan pemeliharaan peralatan penyaluran tenaga listrik, ratio standard yang digunakan : IEEE Std.C57.13-1993 “ Standard Requirements for Instrumens transformers”

Gangguan-gangguan yang terjadi menyebabkan kerugian dari pihak PT. PLN (Persero) sebagai penyedia energi listrik. Akibat gangguan dari CVT pemadaman yang terjadi akibat gangguan akan mengganggu kenyamanan konsumen sebagai pemanfaat listrik. Tidak hanya itu, akibat gangguan juga akan menyebabkan energi yang seharusnya tersalurkan dari transmisi JTM sampai ke KWH dan menjadi pendapatan (income) bagi PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk Maros, harus terbuang sia-sia seiring lamanya pemadaman. Apabila dari gangguan tersebut tidak diatasi dengan cepat, maka kerugian yang ditanggung oleh PT. PLN (Persero) dann konsumen pemanfaatan listrik akan semakin meningkat.

(61)

I. Analisi Data

Berdasarkan rekap data pengujian gangguan di wilayah kerja PT.PLN (persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk maros. Dari data tersebut dapat kita lihat faktor antara penyebab gangguan dan akibat gangguan yang nantinya bisa di tentukan nilai penurunan rasio yang menyebabkan gangguan apa yang terjadi. Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwasanya didapatkan faktor penyebab gangguan yang dilihat dari adanya bebab puncak yang tidak seimbang atau berlebihan pada bulan Agustus sebelum terjadinya ledakan pada CVT penurunan nilai rasio dan ratio pada kondisi normal t tegangan sekunder R,S, dan T yang menjelaskan hubungan antara gangguan dan akibat gangguan.

a. Untuk analisis nilai error pada tabel 4.2 pengujian rasio pada saat kondisi normal dengan menggunakan persamaan 3.1

= 1. Fasa R

= = 0.28 v 2. Fasa S

(62)

44 = = 0.31 v 3. Fasa T

=

= 0.38

b. Dari tabel 4.3 perhitungan, didapatkan besaran eror dari tegangan sekunder pengujian dapat dilihat pada fasa R 1a-1n = -3.77 dan 2a – 2n= -3.72 memiliki hasil mines error sedangkan pada hasi pengujian fasa S dan fasa T positif . dimana hasil yang mines itu menunjukkan bahwa tegangan pada fasa R dibawah 110V dan tegangan pada fasa S dan T di atas 110V, jadi nilai error dari perbandingn tegangan sekunder yaitu 110v.dinama untuk membuktikan hasil analisis menggunakan persamaan 3.2

Vmax (v) =

a. Fasa R ( 1a-1n) =

= -3.77 v b. Fasa R (2a-2n) =

= -3,72 v

(63)

c. Fasa S (1a-1n) =

= 5.13 v d. Fasa S (2a-2n) =

= 5.14 v e. Fasa T (1a-1n) =

= 3.15 v f. Fasa T (2a-2n) =

= 3.51 v

c. Konsep dasar untuk melakukan pengujian rasio dengan menggunakan sebuah suplay tegangan 3 fasa dengan mengacu pada rumus rasio, yaitu dengan persamaan 3.2

Untuk tegangan sekunder

Pada fasa R (Vr) = 105.85 V Pada fasa S (Vs) = 115.65 V

Pada fasa T ( Vt) = 113.83 V

Atau jika dinyatakan dalam persen, maka

%

(64)

46 Untuk fasa R (Vr) = 100 % = - 3.561 % Untuk fasa S (Vs) =

= 4.427 % Untuk fasa T (Vt) =

= 2.7667 %

d. Kesalahan trafo tegangan

Trafo tegangan biasanya dibebani oleh tegangan impedansi yang terdiri dari relai-relai proteksi, peralatan meter dan kawat (penghubung dari terminasi PT ke instrumen proteksi maupun meter). Kesalahan pengukuran CVT berdasarkan IEC-186 adalah sebagai berikut persamaan 3.3

Dimanan = perbandingan rasio

= √

⁄ ⁄ ⁄

= tegangan premier actual (volt)

= 150 kv

(65)

= 105.85 v

= √ ⁄ = 7,071

Jika kesalahan trafo tegangan ( ) positif, maka tegangan sekunder lebih besar dari nilai tegangan nominal pengenalnya. Jumlah lilitan yang kecil pada pembebanan rendah dan negatif pada pembebanan besar. Selain kesalahan rasio juga terdapat kesalahan akibat pergeseran fasa. Kesalahan ini bernilai positif jika tegangan sekunder mendahului tegangan primer.

Untuk pemakaian proteksi, akurasi pengukuran tegangan menjadi penting selama gangguan. Berdasarkan IEC 60044-5 kelas tandar akurasi dan pergeseran fasa CVT untuk fungsi pengukuran dan proteksi seperti pada tabel 4.4 berikut

Tabel 4.4 Batasan Kesalahan Tegangan dan Penyimpanan fasa untuk CVT Pengukuran

Accuracy class Percentage voltage (ratio) error Phase displacement minutes centiradians 0.2 0.5 0.2 0.5 10 20 0.3 0.6

(66)

48 1.0 3.0 1.0 3.0 40 Not specified 1.2 Not specified Catatan :

1. beban masukan dari jembatan kompensasi sangat rendah

2. faktor daya dari beban pengenal harus sesuai 9, 8, 2

3. untuk CVT yang memiliki 2 belitan sekunder atau lebih, salah satu gulungan hanya dimuat kadang-kadang untuk jangka waktu singkat atau hanya digunakan sebagai belitan tegangan sisa, lempengan pada gulungan lainnya mungkin terlantar.

J. Analisis Tindakan

Pemeliharan pada komponen jaringan transmisi hendaknya dilakukan dengan cara inpeksi jaringan dan pemeliharaan secara berkala atau menyeluruh untuk meminimalis gangguan dan kerusakan peralatan yang disebabkan oleh pemakaian peralatan yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan peralatan terhadap tegangan lebih atau usia pemakaian.

(67)

49

Berdasarkan analisa data yang penulis lakukan dari hasil penelitian dan pengujian, maka dapat di peroleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Faktor penyebab gangguan Capacitive Voltage Transformer. Ledakan pada line sidrap 2 fasa R dimana kesalahan pada nilai rasio dari kondisi normal mengalami penurun pada fasa R 1a-1n = -3.77 V dan 2a-2n = - 3.72 yang memiliki hasil negative, nilai error pada perbandingan tegangan sekunder yaitu 110 V. dapat di lihat pada buku petunjuk batasan operasi dan pemeliharaan peralatan penyaluran tenaga listrik, ratio standard yang digunakan : IEEE Std.C57.13-1993 “ Standard Requirements for Instrumens transformers”

2. Cara menanggulangi ledakan Capacitive Voltage Transformer yaitu dengan mengalihkan aliran arus dari line sidrap 2 ke line sidrap 1 sehingga arus listrik dapat mengalir ke distribusi selama perbaikan.

(68)

50

B. Saran

Berdasarkan pengujian yang di lakutan terhadap gangguan Capacitive Voltage Transformer (CVT), di ketahui penyebab gangguan yang memiliki akibat yang paling besar di lihat dari segi blackout dan energi yang tak tersalurkan yaitu, penurunan rasio dari kondisi normal, ledakan CVT, shortcircuit maka selanjutkan akan dianalisis tindakannya yang dapat dilakukan untuk mengurangi blackout dan energi tak tersalurkan di wilayah kerja PT.PLN (Persero) Unit Transmisi dan Gardu Induk Maros.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk minimalisir akibat gangguan yaitu melakukan mengecekan dan melakukan penggantin komponen yang rusak, ada pada gardu induk untuk dalam megatasi pemadaman agibat gangguan dan menguragi kerugian pada PT.PLN (persero) ULTG Maros dan memperhatikan keselamat kerja dalam wilayah Gardu Induk.

(69)

DAFTAR PUSTAKA

IEC 60422 “Mineral insulating oils in electrical equipment supervision and maintenance guidance

IEC 60599 tahun 1999 “Mineral oil-impragnated electrical equipment in service-Guide to interpretation of Dissolved and free gas analysis”

IEEE Std C57.13-1993 “Standard Requirements for Instrument Transformers”.Paper IEEE, “A Tool for Realibity and Safety: Predict and Prevent Equipment failures with

Thermography” , Copyright mareial IEEE Paper No. PCIC-97-06

KEPDIR, Tim Review. 2014. Buku Pedoman Pemeliharaan : Transformator Tenaga. Jakarta : PT. PLN (Persero).

Mappeare, Andi. 2015. Menjaga Keseimbangan Trafo Tegangan. [Online].

PT. PLN Persero. 2014. Buku Pedoman Pemeliharaan Transformator Tegangan Dokumen nomor: PDM/PGI/03:2014. Jakarta

SPLN T3.003-2: 2011, “Pedoman Pemilihan Transformator Tegangan (PT) untuk Tegangan Tinggi 66 kV”, Standar PT PLN (Persero)

SPLN T3.003-3: 2011, “Pedoman Pemilihan Transformator Tegangan Kapasitif(CVT) untuk Tegangan Tinggi dan Tegangan Ekstra Tinggi”,

(70)

52

(71)
(72)

54

(73)
(74)

56

E. LAMPIRAN DOKUMENTASI

(75)

Gambar

Tabel 4.2 Pengujian Rasio pada Saat Kondisi Normal ..............................   41  Tabel 4.3 Pengujan Rasio   ........................................................................
Gambar 2.1 Capactive Voltage Transformer (PT / CVT)
Diagram  fasor  arus  dan  tegangan  untuk  trafo  arus  juga  berlaku  untuk  trafo  tegangan Komponen Utama CVT (Capactive Voltage Transformer)
Gambar 2.3 Diagram asesmen kondisi Capatitor Voltage  Transformer  (CVT) secara umum
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan peneliti sejalan dengan penelitian para ahli, dimana pembelajaran tidak harus berpusat pada

Berdasarkan fenomena dan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Efektivitas Operasional Terhadap Return on Investment

Sesuai dengan ketentuan dalam Perpres Nomor 70 Tahun 2012, kepada Rekanan yang berkeberatan atas pengumuman ini, Diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan secara

Bab kajian pustaka membahas 2 hal yaitu : landasan teori dan studi pustaka. Landasan teori berisi uraian tentang teori – teori persamaan hokum dan lain – lain yang digunakan

HPS : Rp.247.8Q0.000.- (Dua Ratus Empat Puluh Tujuh Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah).. FETiENANG: Nama Perusahaan Nama

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Pemenang Pengadaan Jasa Konstruksi Pelaksana Nomor : W25_U/41/PL.01/IV/2014 tanggal 30 April 2014 maka dengan ini kami POKJA

SSPI menggunakan analisis kegagalan PL untuk mengumpulkan informasi seputar semua kesalahan & cacat yg terjadi pada saat sebuah aplikasi, sistem, atau produk dikembangkan

[r]