• Tidak ada hasil yang ditemukan

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak terjadinya krisis tahun 1998, perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih kembali. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 8% sebelum terjadinya krisis, sedangkan pada saat krisis ekonomi terjadi minus, yaitu sekitar -14%. Pertumbuhan ekonomi ini meningkat secara bertahap sampai dengan akhir Desember 2006 walaupun hanya sebesar 5,5% dari target 5,8%. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 6.3%, kemudian terjadi krisis global kembali menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan kembali menjadi kurang dari 6,1% pada tahun 2008 dan terakhir pada akhir tahun 2009 pertumbuhan ekonomi semakin menurun menjadi 4,5% (BPS 2010 dan BI 2010). Kondisi ini mengakibatkan semakin banyaknya pengangguran karena tidak dapat terserap dalam ketersediaan lowongan pekerjaan formal. Kesulitan dalam pencarian kerja tersebut menyebabkan banyaknya sektor informal yang semakin tumbuh berkembang. Fenomena tersebut yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kegiatan bisnis mikro dan kecil, yang cukup banyak menyumbang peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan lapangan kerja Indonesia. Banyaknya pengusaha tersebut tercermin dari jumlah perusahaan mikro dan kecil yang mencapai lebih dari 99,99% dari jumlah seluruh perusahaan di Indonesia.

Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada tahun 2007-2010 mencapai lebih dari 99%. Penyerapan tenaga kerja UMKM juga mencapai lebih dari 97%, sedangkan kontribusi UMKM terhadap PDB atas dasar harga berlaku mencapai lebih dari 56% dan PDB atas dasar harga konstan mencapai 58,44. Disisi lain total ekspor non migas UMKM pangsanya hanya sebesar 17,66%, hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan usaha besar, sedangkan investasi atas harga berlaku UMKM mencapai lebih dari 52%. Adapun peningkatan UMKM selama empat tahun terakhir (2007-2010) sebesar 4,7% (Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011).

(2)

Tabel 1 Jumlah unit usaha dan perkembangan di Indonesia tahun 2007-2010

JUMLAH PANGSA JUMLAH PANGSA JUMLAH PANGSA JUMLAH PANGSA JUMLAH (%)

(%) (%) (%) (%)

1 UNIT USAHA (A + B) (Unit) 50150263 51414262 52769280 53828569 3678306 4,70

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) (Unit) 50145800 99,99 51409612 99,99 52764603 99,99 53823732 99,99 3677932 4,70

- Usaha Mikro (UMi) (Unit) 49608953 98,92 50847771 98,90 52176795 98,88 53207500 98,86 3598547 4,64 - Usaha Kecil (UK) (Unit) 498565 0,99 522124 1,02 546675 1,04 573601 1,08 75036 9,86 - Usaha Menengah (UM) (Unit) 38282 0,08 39717 0,08 41133 0,08 42631 7,43 4349 7,34

B. Usaha Besar (UB) (Unit) 4463 0,01 4650 0,01 4677 0,01 4838 11,35 375 4,04

2 TENAGA KERJA (A +B) (Orang) 93027341 96780483 98886003 102241486 9214145 5,64

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) (Orang) 90491930 97,27 94024278 97,15 96211332 97,30 99401775 97,22 8909845 5,72

- Usaha Mikro (UMi) (Orang) 84452002 90,78 87810366 90,73 90012694 91,03 93014759 90,98 8562757 5,93 - Usaha Kecil (UK) (Orang) 3278793 3,52 3519843 3,64 3521073 3,56 3627164 3,55 348371 3,05 - Usaha Menengah (UM) (Orang) 2761135 2,97 2694069 2,78 2677565 2,71 2759852 2,70 -1283 2,44

B. Usaha Besar (UB) (Orang) 2535411 2,73 2756205 2,85 2674671 2,70 2839711 2,78 304300 3,03

3 PDB ATAS DASAR HARGA BERLAKU (A + B)(Rp. Milyar) 3745549,3 4693809,0 5294860,9 6068762,8 2323213,5 29,29

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)(Rp. Milyar) 2107868,1 56,28 2613226,1 55,67 2993151,7 56,53 3466393,3 57,12 1358525,2 32,65

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Mily ar) 1209622,5 32,29 1510055,8 32,17 1751644,6 33,08 2051878,0 33,81 842255,5 35,88 - Usaha Kecil (UK) (Rp. Mily ar) 386404,3 10,32 472830,3 10,07 528244,2 9,98 597770,2 9,85 211365,9 26,42 - Usaha Menengah (UM) (Rp. Mily ar) 511841,3 13,67 630339,9 13,43 713262,9 13,47 816745,1 13,46 304903,8 29,57

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 1637681,2 43,72 2080582,9 44,33 2301709,2 43,47 2602369,5 42,88 964688,3 25,08

4 PDB ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 (A (Rp. Milyar) 1883549,1 1997938,0 2089058,5 2217947,0 334397,9 11,01

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)(Rp. Milyar) 1100670,9 58,44 1165753,2 58,35 1212599,3 58,05 1282571,8 57,83 181900,9 10,02

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Mily ar) 620864,0 32,96 655703,8 32,82 682259,8 32,66 719070,2 32,42 98206,2 9,66 - Usaha Kecil (UK) (Rp. Mily ar) 204395,4 10,85 217130,2 10,87 224311,0 10,74 239111,4 10,78 34716,0 10,12 - Usaha Menengah (UM) (Rp. Mily ar) 275411,4 14,62 292919,1 14,66 306028,5 14,65 324390,2 14,63 48978,8 10,74

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 782878,2 41,56 832184,8 41,65 876459,2 41,95 935375,2 42,17 152497,0 12,40

5 TOTAL EKSPOR NON MIGAS (A + B) (Rp. Milyar) 794872,1 983540,4 953089,9 1112719,9 317847,8 13,13

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)(Rp. Milyar) 140363,8 17,66 178008,28 18,10 162254,5 17,02 175894,9 15,81 35531,1 -1,19

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Mily ar) 12917,5 1,63 16464,8 1,67 14375,3 1,51 16687,5 1,50 3770,0 1,35 - Usaha Kecil (UK) (Rp. Mily ar) 31619,5 3,98 40062,5 4,07 36839,7 3,87 38001,0 3,42 6381,5 -5,15 - Usaha Menengah (UM) (Rp. Mily ar) 95826,8 12,06 121481,0 12,35 111039,6 11,65 121206,4 10,89 25379,6 -0,23

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 654508,3 82,34 805532,1 81,90 790835,3 82,98 936825,0 84,19 282316,7 16,30

6 INVESTASI ATAS DASAR HARGA BERLAKU (A(Rp. Milyar) 866894,5 1217706,2 1588502,8 1923437,2 1056542,7 57,96

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)(Rp. Milyar) 455239,3 52,51 597362,7 49,06 781357,0 49,19 927117,5 48,20 471878,2 55,20

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Mily ar) 68968,1 7,96 96029,4 7,89 123896,2 15,86 150784,4 7,84 81816,3 57,02 - Usaha Kecil (UK) (Rp. Mily ar) 179682,8 20,73 228215,8 18,74 288328,5 232,72 343048,9 17,84 163366,1 50,32 - Usaha Menengah (UM) (Rp. Mily ar) 206588,4 23,83 273117,5 22,43 369132,3 128,02 433284,2 22,53 226695,8 58,64

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 411655,2 47,49 620343,5 50,94 187145,9 50,70 966319,7 50,24 554664,5 55,77

7 INVESTASI ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2(Rp. Milyar) 387311,0 437372,1 453582,7 511248,0 123937,0 16,89

A. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)(Rp. Milyar) 199090,0 51,40 218121,4 49,87 224008,7 49,39 247139,5 48,34 48049,5 13,30

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Mily ar) 32486,0 8,39 36890,8 8,43 37144,9 8,19 42240,1 8,26 9754,1 14,50 - Usaha Kecil (UK) (Rp. Mily ar) 80022,8 20,66 83696,9 19,14 85714,9 18,90 93856,6 18,36 13833,8 12,14 - Usaha Menengah (UM) (Rp. Mily ar) 86581,1 22,35 97533,7 22,30 101149,0 22,30 111042,8 21,72 24461,7 13,85

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 188221,0 48,60 219250,7 50,13 229573,9 50,61 264108,5 51,66 75887,5 20,46

TAHUN 2010 PERKEMBANGAN

NO. INDIKATOR SATUAN

TAHUN 2007 TAHUN 2008 TAHUN 2009

Sumber : Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011.

Disamping hal tersebut tingginya angka kemiskinan juga menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan menyebabkan penurunan level kegiatan usaha dari kegiatan usaha besar menjadi kecil dan dari kegiatan usaha kecil

(3)

menjadi kegiatan usaha mikro sehingga kondisi ini yang semakin meningkatkan porsi jumlah usaha mikro. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2009 mencapai lebih dari 32 juta orang atau sekitar 14,15% (Tabel 2).

Tabel 2 Jumlah penduduk miskin Indonesia tahun 2005-2010 Tahun Jumlah penduduk miskin

(000)

Persentase jumlah penduduk miskin 2005 35.100 16,70 2006 39.050 18,00 2007 37.168 16,58 2008 34.903 15,40 2009 32.530 14,15

Sumber : Badan Pusat Statistik 2010.

Sebagian besar kegiatan usaha mikro tersebut adalah bisnis yang berhubungan dengan basic consumption, sedangkan usaha yang berhubungan dengan ekspor adalah produk-produk yang berkaitan dengan usaha pertanian dan handicraft, dimana faktor komponen impornya sangat kecil dibandingkan dengan bisnis manufacturing (Seibel 2003). Oleh karena itu bisnis mikro relatif lebih tahan terhadap pengaruh gejolak perekonomian sehingga jumlah usaha mikro terus meningkat dari tahun ke tahun mencapai di atas 90%. Bahkan sebelum krisis tahun 2008 microfinance telah tumbuh dengan pesat selama tiga dekade. Para ahli mengkhawatirkan bahwa kegoncangan pinjaman internasional akibat krisis akan berpengaruh buruk terhadap keuangan mikro. Seperti yang diperkirakan CGAP bahwa banyak LKM kesulitan mendapatkan akses dana dan portofolio kreditnya tidak berkembang, bahkan menyusut. Namun hal ini tidak demikian, bahkan dengan naik turunnya keuangan internasional ternyata tidak berpengaruh terhadap tabungan di LKM di Indonesia, sehingga LKM tidak terpengaruh oleh risiko global. Contohnya dari Bali dengan adanya krisis keuangan global, Lembaga Keuangan Mikro malah tumbuh semakin kuat. Bahkan tabungan di LKM Bali pada saat Krisis keuangan di Asia terjadi malah tumbuh surplus dengan alasan mereka tidak mau ekspansi berlebihan karena belum yakin akan keuntungannya. Tahun 2008 tahun pertama terjadinya krisis keuangan global ternyata jumlah orang yang meminjam malah meningkat 3,5% dan orang yang

(4)

menabung juga naik sebesar 3,6%. Dilain pihak total aset meningkat 30%, kredit outstanding meningkat 30,5% dan jumlah tabungan meningkat 33% (Seibel dan Ketut 2003).

Jumlah UMKM yang sangat besar membutuhkan pembiayaan usaha yang sangat besar pula. Akan tetapi, yang terjadi adalah jumlah sumber pembiayaan tidak dapat memenuhi permintaan pembiayaan usaha ini. Khusus untuk pembiayaan usaha mikro yang jumlahnya mencapai 50.697.659 ternyata hanya dapat dilayani oleh 50.104 outlet yang ada (Seibel 2003) sebagaimana disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Keragaan LKM formal dan semiformal (Approx 2003)

Jumlah Rp. Jumlah Rp. Rata‐rata  (000 orang) (milyar) (orang) (milyar) (Rp. 000) Bank BRI unit 3.924 27.640 62 19.645 74 2.648 8 7.810 39 2.949 BPR 2.213 4.698 10 5.066 19 1.745 5 5.628 28 2.225 Tipe Unit Simpan Pinjam 35.218 10.141 23 1.157 4 10.141 31 3.629 18 358 koperasi 1.123 551 1 151 1 551 2 708 4 1.285 Kredit Union(KSP) 1.071 296 NIL 249 1 296 1 272 1 920 BMT 2.938 NIL 46 NIL 73 0 51 0 701 Swamitra/Bukopin 177 55 NIL 56 NIL 32 0 127 1 3.960

Lembaga

LDKP 1.428 834 2 218 1 419 1 328 2 783 BKD 5.240 539 1 16 NIL 648 2 179 1 276

Pegadaian 772 0 0 0 0 15.692 49 1.355 7 86

Total Semua Lembaga 54.104 44.754 100 26.604 100 32.245 100 20.087 100 13.543 Simpanan (rekening) Jumlah Simpanan Peminjam Sisa Pinjaman

Outlet % % % %

S umber: Seibel 2003.

Pada Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2003 BRI Unit memiliki outlet mencapai 3.924, BPR sebanyak 2.213 dan BKD sebanyak 5.240 outlet. Walaupun BRI Unit tidak memiliki outlet terbanyak, namun memiliki jumlah rekening simpanan yang terbesar mencapai 27,64 juta (62%), sedangkan BPR sebanyak 4,698 juta (10%), unit simpan pinjam sebesar 10,141 juta (23%), koperasi hanya sebanyak 551.000 (1%), dan BKD sebanyak 539.000 orang (1%), sisanya LDKP sebanyak 834.000 (2%). Jumlah simpanan dalam bentuk rupiah, BRI Unit juga yang terbesar mencapai Rp. 19,65 triliun (74%), BPR sebanyak Rp. 5,07 triliun (19%), Unit Simpan Pinjam (USP) sebesar Rp. 1,16 triliun (4%),

(5)

koperasi hanya sebanyak Rp. 151 milyar (1%), LDKP sebanyak Rp. 218 milyar (1%), sedangkan BKD hanya sebanyak Rp. 16 milyar.

Jumlah peminjam dan besarnya pinjaman pada Tabel 3, BRI Unit memiliki nasabah (peminjam) sebanyak 2,648 juta (8%), BPR sebesar 1,745 juta (5%), USP memiliki nasabah yang terbesar, yaitu mencapai 10,141 juta (31%), Koperasi 551.000 (%), Kredit Union sebanyak 296.000 (1%), BMT hanya 73.000, Swamitra/Bukopin hanya 32.000, LDKP sebesar 419.000, dan BKD sebesar 648.000 (2%). Untuk besarnya sisa pinjaman dalam bentuk rupiah, BRI Unit yang terbesar yaitu mencapai Rp. 7,8 triliun (39%), kemudian diikuti oleh BPR sebesar Rp.5,62 triliun (28%), USP sebesar Rp. 3,6 triliun (18%), dan BKD hanya sebesar Rp. 179 milyar (1%).

Salah satu kendala keterbatasan pembiayaan Usaha Mikro oleh LKM adalah kompleksitas permasalahan internal maupun eksternal yang dihadapinya. Khususnya LKM yang bukan Bank mempunyai kendala terbesar tentang keterbatasan sumber dana yang tersedia, karena mereka terbentur peraturan Undang-Undang yang tidak dapat mencari dana dengan membuka fasilitas simpanan kecuali dari anggotanya. Sedangkan LKM yang mempunyai dana terbesar untuk menyalurkan kredit Mikro adalah lembaga yang berbentuk Bank. Sedangkan Bank yang menyalurkan kredit Mikro terbesar di Indonesia adalah BRI Unit, BPR dan BKD. Untuk lebih banyak dapat memberikan kredit kepada para pengusaha mikro maka sangat diperlukan sustainabilitas pertumbuhan lembaga LKM tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Jumlah permintaan pembiayaan usaha mikro sebanyak lebih dari 50 juta pengusaha mikro sedangkan jumlah lembaga formal dan semi formal yang dapat memberikan pembiayaan bisnis mikro dan kecil hanya sebanyak 56 ribu. Hal ini menimbulkan permasalahan yang dapat menghambat pelayanan pembiayaan usaha mikro dan kecil. Adanya gap yang besar tersebut perlu dikaji secara comprehensive dari sisi penawaran dan faktor-faktor apa saja yang menghambat sustainabilita pertumbuhan financial LKM sehingga dapat meningkatkan jumlah pemberian pinjaman usaha mikro.

(6)

Latar belakang yang telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa banyak hal yang mempengaruhi sustainabilitas pertumbuhan finansial LKM di Indonesia, baik dari sisi internal LKM itu sendiri maupun dari sisi eksternal. Dari sisi internal, misalnya pengaruh dari kinerja keuangan LKM, kinerja organisasi dan SDM, dan eligibilitas, sedangkan dari sisi eksternal, misalnya regulasi pemerintah, kondisi ekonomi makro, income per capita lokal, dan persaingan bisnis. Contohnya pengaruh global financial crisis pada awal triwulan IV tahun 2007 telah menyebabkan kesulitan likuiditas dan menurunnya kemampuan lembaga keuangan. Hal tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya non performing Loan (NPL) perbankan di Indonesia, demikian juga terjadi di LKM. Terjadinya peningkatan populasi usaha mikro, peningkatan NPL pada bank-bank komersial pada tahun 2007-2008, belum optimalnya pertumbuhan finansial LKM merupakan fenomena tersendiri yang menarik untuk dikaji dan diteliti. Oleh karena itu, hal tersebut merupakan alasan utama mengapa penelitian ini dilakukan. Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan finansial LKM baik pengaruh internal maupun eksternal LKM.

Berdasarkan uraian-uraian di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana kondisi internal dan eksternal yang diprediksi dapat mempengaruhi sustainabilitas pertumbuhan finansial LKM di provinsi Jawa Timur?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sustainabilitas pertumbuhan finansial LKM?

3. Bagaimana sebaiknya usaha LKM agar sustainabilitas pertumbuhan finansialnya dapat tercapai, sehingga semakin dapat memperluas jangkauannya dalam memberikan pinjaman kepada pengusaha mikro? 4. Bagaimana model dan strateginya sustainabilitas pertumbuhan finansial

LKM.

(7)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk melakukan analisa kinerja,

mengidentifikasi dan menganalisis kondisi penyaluran kredit mikro pada LKM dengan

rincian sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi indikator-indikator internal dan eksternal yang diprediksi dapat

mempengaruhi sustainabilitas pertumbuhan finansial LKM di provinsi Jawa Timur.

2. Menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sustainabilitas pertumbuhan

finansial LKM.

3. Menganalisis bagaimana sebaiknya usaha LKM dapat mencapai sustainabilitas

pertumbuhan finansial.

4. Mendapatkan model dan strategi agar sustainabilitas pertumbuhan finansial LKM

dapat tercapai.

5. Memberi rekomendasi atas temuan butir 1 sampai dengan 4 tersebut di atas yang dapat

digunakan sebagai alternatif peningkatan penyaluran kredit Mikro melalui perbankan.

1.4 Batasan Penelitian

Penelitian ini lebih difokuskan kepada LKM formal dalam bentuk bank yang

banyak berperan terhadap pembiayaan usaha mikro di Indonesia. Struktur LKM yang

diteliti hanya institusi formal yang menyalurkan kredit mikro, yaitu BRI Unit, BPR dan

BKD di propinsi Jawa Timur. Lingkup kajian meliputi data pertumbuhan finansial LKM

yaitu rating bank, kinerja keuangan, faktor internal terkait seperti kompetensi SDM,

penetapan suku bunga dan eligibilitas dan faktor eksternal lainnya yang terkait dengan

sustainabilitas pertumbuhan finansial adalah regulasi pemerintah, persaingan bank, dan

income per capita.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi bagi para pembuat kebijakan

kredit usaha mikro agar dapat meningkatkan pemberian pembiayaan dan juga kepada

lembaga keuangan agar dapat mengembangkan usaha pemberian pinjaman mikro.

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :

(8)

1. Bagi Ilmu Pengetahuan

Sebagai suatu sumbangan keilmuan dalam bidang perbankan. Model tersebut

diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi acuan

pemerintah dan praktisi perbankan dalam meningkatkan kesuksesan penyaluran

kredit mikro

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dalam memberikan tambahan pengetahuan

baik dalam proses melakukan penelitian itu sendiri maupun pemahaman terhadap

aspek manajemen yang diteliti serta sebagai aktualisasi dari pemahamn teori dan

praktek yang selama ini ditekuni.

3. Bagi Pemerintah

a. Penelitian ini juga bermanfaat bagi regulator untuk penerapan kebijakan

penyaluran kredit mikro di perbankan.

b. Melengkapi framework dari teori yang telah ada, khususnya untuk dipakai dalam

konteks penerapan kebijakan kredit mikro perbankan.

4. Bagi Akademisi

Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan literatur dan dapat menjadi landasan

untuk penelitian selanjutnya di bidang penyaluran kredit mikro, khususnya melalui

perbankan.

1.6 Novelty (Kebaruan)

1)

Pengembangan di bidang metodelogi.

Kebaruan dari penelitian ini dari sisi metodelogi, adalah mencoba melakukan

pendekatan dengan mengabsorbsi sebanyak mungkin kompleksitas yang muncul

untuk kemudian dianalisis secara komprehensif dengan tools analisis biplot dan

ekonometrik, yaitu regresi logistik ordinal. Selain itu dalam penelitian ini

dilakukan juga analisis kinerja keuangan dan manajemen operasionalnya dengan

pendekatan CAMEL dan score card BKD. Faktor lainnya yang dikaji selain

faktor internal dan kinerja bank (LKM) dan rasio keuangan adalah faktor

eksternal, seperti regulasi, bentuk LKM, income per capita, persaingan bisnis.

(9)

Dengan demikian pendekatan dalam penelitian lebih komprehensif yang

dijelaskan dari model yang dihasilkan.

2) Di bidang substansi sustainabilitas pertumbuhan keuangan.

Hasil penelitian ini setelah dibandingkan dengan beberapa penelitian terdahulu

yang dikaji, menunjukkan kemajuan dan kebaruan terutama membandingkan

dengan Adongo dan Strock (2005), menunjukkan bahwa penelitian ini memiliki

kebaruan dalam hal proxy penentuan sustainabilitas pertumbuhan keuangan LKM

yang nyata dalam bentuk bank dan adanya penambahan beberapa faktor

diterminasi yang diteliti. Proxy yang dipakai adalah skor penilaian kesehatan

perbankan berdasarkan rating bank dengan pendekatan CAMEL dengan tiga

tingkat penilaian cukup, baik dan sangat baik (skala 1 s/d 3) sehingga dapat

menggunakan analisis regresi ordinal logistik, sedangkan faktor-faktor

diterminasinya lebih komprehensif. Di lain pihak Adongo dan Strock yang hanya

menggunakan selisih antara suku bunga maksimum yang diberikan dengan suku

bunga break even point (BEP) dalam menduga sustainabilitas pertumbuhan

keuangannya (FINSUS), demikian juga rasio keuangannya tidak dominan. Alat

analisis yang digunakannya juga berbeda, yaitu multivariate ANCOVA.

Demikian juga penelitian ini berbeda dengan hasil temuan Nyamsogoro (2010),

yang lebih luas cakupannya, tidak hanya melihat sustainabilitas pertumbuhan

berdasarkan keuangan. Selain itu, Nyamsogoro (2010) juga menggunakan analisis

regresi panel data, sedangkan penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik

ordinal. Adapun Woradithee (2011) mengukur sustainabilitas berdasarkan tingkat

pelunasan pembayaran.

(10)

Gambar

Tabel 1 Jumlah unit usaha dan perkembangan di Indonesia tahun 2007-2010
Tabel 2  Jumlah penduduk miskin Indonesia tahun 2005-2010   Tahun  Jumlah penduduk miskin

Referensi

Dokumen terkait

pembiayaan ”. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam, kegiatan usaha simpan pinjam.. adalah kegiatan yang

Pengetahuan akuntansi dan pengalaman dalam informasi akuntansi merupakan faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam diri pengusaha mikro, kecil dan menengah yang

Lembaga keuangan mikro syariah merupakan salah satu alternatif para pengusaha mikro dalam mendapatkan modal usaha khususnya bagi pengusaha kecil yang mengalami keterbatasan

1) Perumusan kebijakan teknis bidang perdagangan, koperasi dan usaha mikro kecil. 2) Pelaksanaan kebijakan teknis bidang perdagangan, koperasi dan usaha mikro

Lonjakan permintaan sepatu yang tidak diimbangi dengan jumlah ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki menyebabkan adanya indikasi jumlah karyawan yang saat ini

Pertumbuhan usaha semakin meningkat terutama usaha dengan skala mikro kecil dan menengah dihampir seluruh wilayah di indonesia. Bagi para pelaku usaha, perkembangan ini

Pada bab ini data yang digunakan selama penelitian seperti proses bisnis existing, kapasitas perusahaan, serta permintaan pelanggan akan dijabarkan secara rinci untuk

Hal ini akan penulis tuangkan dalam sebuah karya ilmiah yang berjudul : “ Peranan Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani,Terhadap Petani Ketela