• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROPOSISI NILAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PROPOSISI NILAI"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

16

BAB II

PROPOSISI NILAI

2.1 Masakan Palembang

Palembang adalah ibu kota dari Sumatera Selatan merupakan kota yang

menjadi salah satu wisata kuliner paling diminati di Indonesia. Begitu banyaknya

masakan Palembang yang identik dengan ikan, menjadikan rasa masakan Palembang

begitu khas dan sulit untuk ditiru kelezatannya. Macam-macam masakan khas

Palembang antara lain, Pempek, Tekwan, Pindang Patin, Model, serta roti-rotian

seperti Martabak HAR dan juga Kue Maksuba.

Melihat banyaknya peminat masakan Palembang, banyak restoran ataupun

kedai makanan asal Palembang yang buka di Jakarta, terutama restoran Pempek.

Tercatat hingga saat ini ada 588 restoran atau kedai pempek tersebar di Jakarta yang

tercatat (sumber: opernrice.com). Pempek merupakan salah satu makanan tradisional

Sumatera Selatan yang berpotensi dikembangkan ke skala industri yang lebih besar

dengan persyaratan mutu yang konsisten. Saat ini industri masakan Palembang yang

ada sering merubah formula dan cara pengolahannya dengan alasan berfluktuasinya

(2)

2.1.1 Pempek Palembang

Gambar 2.1 Pempek Palembang sumber: www.farlesmarten.wordpress.com

Pempek merupakan masakan asal Palembang yang terbuat dari

ikan tenggiri dan sagu. Hampir semua di daerah Sumatera Selatan

memproduksinya. Pempek merupakan makanan yang disukai oleh

orang-orang karena rasanya yang gurih, tekstur yang empuk, dan juga

kuah (cuka) nya yang pedas. Jenis pempek yang terkenal adalah

“pempek kapal selam” yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek yang sudah digoreng dengan minyak panas. Ada juga

yang lain seperti “pempek lenjer”, pempek bulat (atau terkenal dengan nama ada’an), pempek kulit ikan, pempek pistel (berisi irisan pepaya

muda rebus yang sudah di bumbu), pempek telur kecil, pempek

keriting dan Pempek Lenggang. Berikut macam-macam pempek

(3)

1. Pempek Kapal Selam

Gambar 2.2 Pempek Kapal Selam

sumber:http://bisnisukm.com

Kapal Selam merupakan jenis pempek yang besar dan berisi telur.

Kapal Selam banyak diminati orang karena perpaduan ikan dan

telurnya yang sangat nikmat ditambah lagi dengan bumbu cuko

yang lezat.

2. Pempek Adaan

Gambar 2.3 Pempek Adaan sumber: food.detik.com

Adaan merupakan pempek yang berbentuk bulat seperti bakso

yang berukuran besar. Pempek ini memiliki rasa yang khas karena

(4)

3. Pempek Lenggang

Lenggang merupakan pempek yang dibakar dengan menggunakan

daun papaya. Lenggang terbuat dari ikan yang dicampur dengan

telur. Memasak lenggang tidak menggunakan minyak atau air sama

sekali.

4. Tekwan

Tekwan, makanan khas Palembang dengan tampilan mirip sup ikan

berbahan dasar daging ikan dan sagu yang dibentuk kecil - kecil

mirip bakso ikan yang kemudian ditambahkan kaldu udang sebagai

kuah, serta soun dan jamur kuping sebagai pelengkap.

2.2 Restoran All You Can Eat

Suatu tempat yang identik dengan jajaran meja-meja yang tersusun rapi

dengan kehadiran orang, timbulanya aroma semerbak dari dapur dan pelayanan

pramusaji, berdentingnya bunyi-bunyian kecil karena persentuhan gelas gelas kaca,

porselen, menyebabkan suasana hidup di dalamnya. Restoran dengan konsep all you

can eat adalah restoran yang memberikan pelayanan makan sebanyak dan sepuas-puasnya tanpa menambah atau mengurangi harga yang akan di bayar (Sugiarto

Sulartiningrum, 77).

Berikut data 6 restoran ALL YOU CAN EAT di Jakarta dengan harga dibawah

(5)

Tabel 2.1 Daftar Restoran All You Can Eat di Jakarta

2.3 Business Model Canvas

Business Model Canvas merupakan framework yang diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder pada bukunya yang berjudul Business Model Generation.

Framework ini menggunakan pendekatan berdasarkan disertasi dari Alexander

No Gambar Nama Restaurant Jenis Makanan Alamat Harga

1 Kogikogi Korean BBQ

Jl Wolter Monginsidi No.85, Senopati, South Jakarta. (021) 7264999

Rp 99.000

2 SSIKKEK Korean BBQ

Kompleks Kelapa Gading Square (Mall of Indonesia shopfront), Jl. Boulevard Barat Raya Blok A No. 5&6, Kelapa Gading. (021) 29364049

Rp 135.900

3 Royal Kitchen Indian Food

Bellagio Boutique Mall, Ground Floor, Jl. Lingkar Mega Kuningan, Kuningan. 021 30029975

Rp 109.000

4 Shaburi Shabu-shabu

Pacific Place Mall, 5th floor, Jl Jendral Sudirman Kav 52-52, SCBD, South Jakarta. Ph. +62(21) 5797 3247 Rp 148.000 5 Grand City Chinese Restaurant Chinese Food

Merlynn Park Hotel, Jl. KH. Hasyim Ashari Kav. 29-31, Petojo Utara, Gambir, Central Jakarta. 021-30026888 Ext. 7081/7044-45/7031-33

Rp 118.000

6 Amigos Mexican Food

Kemang Club Villas, Jl. Kemang Selatan I. 021 719 2584. (2) Bellagio Boutique Mall, Mega Kuningan. 021 3006 6558

(6)

Osterwalder (2004). Business Model Canvas berfungsi sebagai model representative

untuk mendeskripsikan, memvisualisasikan, mengevaluasi, dan mengembangkan

Business Model. Business Model Canvas terdiri dari sembilan konsep yang disebut

dengan nine building blocks:

1. Queen Pempek melayani satu atau lebih customer segment.

2. Dengan menggunakan Business Model Creation, Queen Pempek dapat

memenuhi kebutuhan konsumen dengan Value Proposition.

3. Value Proposition tersebut disampaikan kepada Customer melalui

komunikasi, distribusi, dan Channel penjualan.

4. Customer Relationship dibangun dikelola perusahaan untuk setiap

customer segment.

5. Revenue stream merupakan hasil dari penyampaian Value Proposition

yang berhasil sampai pada Customer Segment.

6. Key Resources merupakan asset yang dibutuhkan dalam menawarkan dan

menyampaikan Value Proposition.

7. Dalam memulai bisnis ,pelaku bisnis harus dapat menentukan Key

activities apa saja yang harus dilakukan dalam usaha menghasilkan Value Propositions dan revenue stream. Kegiatan tersebut meliputi, produksi, selling dan support. Dalam pembuatan pempek, tentunya kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan antara lain dalam hal produksi adalah membeli

bahan-bahan, memasak (produksi), dan memberikan pelayanan kepada

customer. Untuk hal selling dapat dilakukan promosi, iklan baik online maupun offline. Adapun kegiatan support yang berupa membantu

(7)

penjualan, mengadakan kerjasama seperti keagenan atau membuka peluang

distributor maupun reseller.

8. Tentunya dalam bisnis Queen Pempek, kami menggandeng Key Partners

yang dapat melengkapi kemampuan kita demi meningkatkan peluang

keberhasilan bisnis. Dalam hal ini, kita sangat ahli membuat Pempek, cari

supplier yang tidak bisa dibajak semisal adalah keluarga.

9. Semua usaha yang dilakukan tentunya memiliki Cost structure yang

artinya memerlukan biaya, melakukan perhitungan secara seksama, lalu

meutuskan apakah rencana bisnis Queen Pempek menguntungkan atau

tidak.

Gambar 2.4 Model 9 Building Block

2.3.1 Value Proposition

Salah satu elemen dari business canvas model adalah Value

(8)

ditawarkan memiliki nilai yang tinggi menurut target pelanggannya

(Osterwalder & Pigneur, 2010, hal.22). Dengan kata lain seberapa jauh

perusahaan dapat menawarkan produk atau jasa yang berbeda dengan para

pesaingnya. Tidak hanya berbeda tetapi juga memiliki nilai tinggi dan disukai

oleh konsumen.

Value Proposition yang dimiliki bisnis Queen Pempek, antara lain:

1. Original Taste

Memiliki rasa asli Palembang berbeda dengan pempek yang dijual di

Jakarta.

2. Penyajian dengan konsep All You Can Eat

Menjadi satu-satunya restoran Pempek All You Can Eat di Jakarta.

3. Healthy

Pempek mengandung energi sebesar 182 kilokalori, protein 9,2 gram,

karbohidrat 27,8 gram, lemak 3,8 gram, kalsium 401 miligram, fosfor

116 miligram, dan zat besi 2,4 miligram. Selain itu di dalam Pempek

juga terkandung vitamin A sebanyak 13 IU, vitamin B1 0,16 miligram

dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan

penelitian terhadap 100 gram Pempek, dengan jumlah yang dapat

dimakan sebanyak 100 %.

Sumber Informasi Gizi: Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan

(9)

4. Pengolahan yang Higienis

Cara pengolahan bahan baku menjadi suatu metode kunci yang

merupakan Value Proposition “Queen Pempek”. Cara pengolahan

yang higienis dan aman dapat digunakan sebagai patokan bahwa

kandungan nutrisi dasar yang terdapat dalam bahan dasar pempek

tetap terjaga dengan optimal, seperti protein, karbohidrat, dan lemak.

Hal ini untuk memastikan keseluruhan nutrisi tersebut dapat diserap

oleh tubuh secara optimal dan mendapatkan manfaat secara utuh. Alat

masak yang digunakan dipastikan bersih, begitu pula dalam proses

memasaknya, yang setiap kokinya akan menggunakan sarung tangan

dan masker.

2.3.2 Customer Segments

Menurut Osterwalder (2010), Customer segments didefinisikan

sebagai kelompok orang atau organisasi yang menjadi tujuan perusahaan

untuk dijangkau dan dilayani. Dalam Business Model, customer merupakan

target utama dalam penyampaian value. Karena tiap customer memiliki atribut

dan latar belakang yang berbeda, maka perlu adanya upaya segmentasi untuk

dapat memuaskan customer agar lebih efektif.

Langkah segmentasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah

dengan mengelompokkan customer dengan kebutuhan yang sama, perilaku

yang sama, atau dengan atribut lain yang memiliki kesamaan. Sebuah model

bisnis dapat mendefinisikan satu atau lebih customer segment dalam skala

(10)

yang perlu difokuskan dan segmen customer mana yang tidak perlu. Setelah

keputusan tentang customer segment telah ditentukan, maka tujuan pembuatan

Business Model dapat mulai dimengerti lebih jelas.

Menurut Osterwalder (2010), customer dapat dikelompokkan menjadi

beberapa segmen jika:

1. Kebutuhan mereka memerlukan perlakuan yang beda seperti yang terdapat pada penumpang kelas eksekutif dan ekonomi. Walaupun tujuannya sama, namun kedua kelas penumpang tersebut

membutuhkan perlakuan yang berbeda. Dalam bisnis Queen

Pempek ini, perbedaan mendasar dari konsep All You Can Eat

dengan restoran biasa, meskipun sama-sama menjual Pempek,

namun tetap ada perlakuan yang berbeda terhadap customer. Seperti

membiasakan mereka untuk melakukan self-service.

2. Mereka membutuhkan channel distribusi yang berbeda.

Seperti contoh untuk customer yang memiliki waktu banyak untuk

melihat-lihat produk, mereka dapat membeli barang di toko secara

langsung. Namun untuk customer yang tidak memiliki waktu

banyak, mereka membutuhkan channel distribusi lainnya seperti

toko online. Queen Pempek memiliki beberapa distribution

(11)

3. Mereka membutuhkan berbagai jenis customer relationships. Sebagian perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage,

kami membuat komunitas produk untuk mempertahankan

Customer Retention, memasang banner, iklan, dan melakukan promosi.

4. Mereka memiliki tingkat keuntungan yang berbeda secara substansial.

Dengan Konsep All You Can Eat, dimana customer memiliki

tingkat keuntungan untuk makan sepuasnya hanya dengan satu

harga yang tetap.

5. Mereka bersedia membayar lebih untuk mendapatkan penawaran yang berbeda.

Dalam bisnis Queen Pempek, customer yang ingin mendapatkan

minuman yang lebih variasi tentunya akan membayar dengan harga

yang berbeda dari harga paket All You Can Eat.

Beberapa contoh tipe Customer Segments antara lain:

1. Mass Market

Business Model yang berfokus pada mass market tidak membedakan

antara customer segments yang berbeda. Selain itu Value Propositions,

Distribution Channels, dan Customer Relationships semua berfokus pada kelompok customer dalam jumlah yang besar dan memiliki masalah dan

kebutuhan secara luas. Salah satu contoh segmen customer ini dapat

(12)

membutuhkan barang tersebut untuk melakukan kegiatan sehari-hari dari

hal yang personal maupun hal yang bersifat bisnis.

2. Segmented Market

Beberapa perusahaan melakukan segmentasi market dengan sedikit

perbedaan pada masalah dan kebutuhan. Salah satu contoh adalah bank

komersil yang membedakan customer mereka berdasarkan pada jumlah

uang yang didepositokan. Kedua segmen memiliki kebutuhan dan masalah

yang sama namun sedikit bervariasi. Dampak dari segmented market

tersebut menghasilkan Value Proposition, Distribution Channels,

Customer Relationship dan Revenue stream dari setiap segmen.

Tabel 2.2 Tipe dari segmentasi pasar

Dari Behaviour Demographics Geography Psychographics Manfaat yang didapat dari produk Seberapa sering produk tersebut digunakan Umur Pendapatan Gender Family life cycle Ethnicity Pekerjaan Pendidikan Kenegaraan Agama Region Besar kota Kepadatan penduduk Iklim Aktifitas Interest Opini Nilai Sikap Lifestyle

(13)

Loyalitas pelanggan terhadap produk Kehidupan sosial

2.3.3 Communication and Distribution Channels

Menurut Osterwalder & Pigneur (Business Model Generation, 2010,

hal. 26), Channel ialah media dari sebuah perusahaan dalam berkomunikasi

dengan pelanggannya untuk menyampaikan nilai dari proporsinya. Beberapa

fungsi channel antara lain:

1. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya produk barang / jasa

perusahaan,

2. Membantu pelanggan mengevaluasi Value Proposition perusahaan,

3. Memungkinkan pelanggan membeli produk dan jasa sesuai kebutuhan

(spesifik),

4. Memberikan Value Proposition untuk pelanggan,

5. Menyediakan layanan dukungan pasca pembelian kepada pelanggan.

Channels yang digunakan oleh Queen Pempek, antara lain:

1. Restoran Fisik

Sebagai tempat untuk menyajikan dan menjual produk Pempek yang

direncanakan akan berada pada lokasi strategis sesuai dengan survei

(14)

2. Website

Pada Bisnis Queen Pempek ini disediakan website dimana banyak

orang dapat mengakses sebagai perantara dan media promosi demi

mendapatkan pelanggan.

3. Katering & Delivery Order

Dengan kesibukan yang semakin padat, banyak orang yang tidak

memiliki waktu untuk memasak atau menyiapkan makanan. Hal ini

mendorong individu tersebut untuk membeli makanan jadi yang sudah

banyak disajikan oleh beberapa restoran. Restoran-restoran besar

memberikan fasilitas delivery order. Dimana individu dapat memesan

makanan sesuai keinginannya tanpa perlu datang ke restoran tersebut.

Hal ini memudahkan pelanggan dalam melakukan pembelian. Fasilitas

seperti inipun diberikan “Queen Pempek” kepada pelanggan. Pelanggan dapat memesan tanpa harus datang ke restoran.

2.3.4 Customer Relationships

Customer Relationship dibangun sesuai customer segment, karena setiap segmentasi memiliki karakteristik yang berbeda. Menurut Osterwalder

& Pigneur (2010, hal. 28), Customer Relationship dibagi menjadi 6 :

1. Personal Assistant, merupakan komunikasi langsung antara

customer dengan customer representative sehingga kualitas barang dapat terjamin.

(15)

2. Dedicated Personal Assistant, merupakan satu customer

representative hanya ditujukan untuk satu pelanggan sehingga

penjelasan dapat lebih jelas dibandingkan dengan personal

assistant (contoh : asuransi).

3. Self-service, dalam hal ini pelanggan tidak melakukan kontak

langsung dengan customer representative. Self-service dapat

dijalankan pada restoran All You Can Eat, karena pelanggan dapat

memilih sendiri jenis pempek yang akan dimakan.

4. Automated Service, merupakan perkembangan dari self-service.

Sebagai contoh dibuatnya vending machine yang berfungsi untuk

melihat menu makanan hari ini, untuk memesan dan untuk

membayar dengan men-tap kan kartu yang telah terisi saldo.

5. Communities, sebagai wadah untuk berkumpul sebagai sharing

ilmu pengetahuan, sehingga dapat membantu perusahaan dalam

mengerti keinginan mereka.

6. Co-creation, merupakan hubungan antara customer dan penjual

untuk menciptakan value propotition baru, dengan contoh toko

makanan membuat forum untuk meminta para pelanggan menilai

dan menambahkan masukkan seperti rasa dan bentuk baru sebagai

(16)

2.3.5 Revenue stream

Revenue stream pada 9 building blocks, merepresentasikan bagaimana sebuah perusahaan memperoleh cash dari setiap segmen pelanggan.

Osterwalder & Pigneur (2010, hal 30-31) menjelaskan bahwa bila customer

adalah jantung dari perusahaan, maka revenue streams adalah pembuluh

darahnya. Dan perusahaan perlu mempertanyakan untuk nilai seperti apa

customer rela untuk membayar. Setiap revenue stream memiliki pricing mechanism yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain.

Antara lain sistem tawar-menawar, pelelangan, mengikuti permintaan pasar,

harga tergantung dari volume, dan sebagainya.

Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal 30), sebuah bisnis model dapat

melibatkan dua tipe revenue streams yang berbeda, yakni:

1. Transaction revenues yang diperoleh dari 1 kali pembayaran

dari customer

2. Recurring revenues yang berasal dari pembayaran yang masih

berlanjut untuk menyampaikan Value Proposition kepada

pelanggan (Rent,Credit, Subscription) dan menyediakan

customer support setelah pembelian.

Jadi, menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal 30-31), pertanyaan-

pertanyaan yang harus dijawab dalam revenue streams adalah untuk nilai

apakah yang akan membuat customer mau untuk membayar, untuk apa

mereka bayar dan bagaimana cara pembayaran, cara pembayaran apa yang

(17)

Ada beberapa cara untuk meng-generate Revenue streams, antara lain:

1. Sale

Sale adalah jenis revenue stream yang paling umum dan banyak dimengerti, yaitu menjual hak kepemilikan dari sebuah produk fisik.

Seseorang yang membeli produk tersebut, akan memiliki hak untuk

menggunakan, menjualnya, memberikannya, atau membuangnya.

2. Usage fee

Revenue stream jenis ini di-generate melalui berapa banyak penggunaan sebuah service. Semakin banyak service yang digunakan

maka semakin besar juga jumlah yang harus customer bayar, misalnya

perusahaan telekomunikasi menagih customer sesuai jumlah pulsa

yang dipakai, hotel menagih customer sesuai berapa lama customer

menginap, dan lainnya.

3. Subscription fee

Revenue stream jenis ini di-generate dengan cara menjual akses untuk suatu service secara terus menerus, misalnya sebuah gym/tempat

olahraga menjual membershipnya secara bulanan atau tahunan, dan

sebagai gantinya member akan memperoleh akses fasilitas dalam gym

tersebut, contoh lainnya adalah membership secara online, dan

(18)

4. Lending/Renting/Leasing

Revenue stream jenis ini diciptakan dengan cara memberikan seseorang hak eksklusif untuk menggunakan aset dalam suatu periode

tertentu, dan selama itu ada biaya sewa yang harus diberikan kepada

pemilik aset tersebut. Untuk orang yang menyewakan aset,

kelebihannya adalah pendapatan tetap setiap bulannya, sedangkan bagi

penyewa, kelebihannya adalah dapat lebih menghemat biaya dan tidak

perlu memiliki secara langsung aset tersebut.

5. Licensing

Untuk Revenue stream jenis ini, penghasilan dihasilkan dengan

memberikan customers dalam bentuk ijin yang digunakan sebagai

intellectual property. Pemegang hak dapat menghasilkan penghasilan dari properti mereka, tanpa harus memproduksi sendiri atau

mengiklankan. Biasanya licensing sangat populer digunakan dalam

industri media, dimana pemilik konten tetap memiliki hak copyright,

dan dapat menjual hak penggunaan kepada pihak ketiga, demikian

juga dalam bisnis teknologi dimana pemegang paten dapat

memberikan hak untuk menggunakan teknologi yang telah dipatenkan

(19)

6. Brokerage Fees

Revenue stream jenis ini terdapat perantara, yaitu orang yang berlaku sebagai penengah antara 2 atau lebih pihak, sebagai contoh perusahaan

real estate akan memperkerjakan broker yang akan berusaha mempertemukan mereka dengan calon pembeli. Dan setiap kali

berhasil mempertemukan pembeli dan penjual, maka broker tersebut

akan memperoleh komisi.

7. Advertising

Pada Revenue stream jenis ini, penghasilan dihasilkan dengan cara

mempromosikan sebuah produk, jasa, atau merek. Biasanya industri

media dan event organizer sangat bergantung dari iklan. Namun

seiring seiring perkembangan jaman industri lainnya juga mulai

mengandalkan advertising sebagai sumber pendapatan.

2.3.6 Key Resources

Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal. 35), Key Resources dibagi

menjadi 4 macam yaitu fisik, intelektual, manusia dan finasial. Keempat hal

ini sangat berperan penting dalam menjaga key relationship. Begitu juga

dengan restoran “Queen Pempek” yang sangat menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Key Resources yang digunakan dalam bisnis model

“Queen Pempek” antara lain: SDM, manajemen sistem, Marketing, Supplies, Aset fisik, Gedung, IT Software (PoS).

(20)

2.3.7 Key activities

Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal. 36-37), Key activities

mendeskripsikan aktifitas penting yang harus dilakukan perusahaan agar

bisnis modelnya dapat berjalan dengan baik. Key activities dapat

dikategorikan menjadi 3, yakni:

1. Produksi

Aktivitas ini berhubungan dengan desain, membuat dan

menyampaikan produk dengan jumlah tertentu atau kualitas yang baik.

Biasanya produksi didominasi oleh perusahaan manufakturing.

2. Solusi masalah

Tipe Key activities yang berhubungan dengan langsung dengan solusi

baru untuk masalah pada individu. Konsultasi di rumah sakit sebagai

contoh. Konsultasi ini memberikan solusi yang berbeda pada tiap

individu.

3. Platform / network

Bisnis model yang didominasi oleh platform/network. Sebagai contoh

ialah eBay yang selalu harus mengembangkan bisnisnya dan

me-monitoring platform.

2.3.8 Key Partnership

Partnership atau kemitraan adalah kesepakatan dan kerjasama antara dua belah pihak untuk mencapai suatu kepentingan bersama. Sudah menjadi

(21)

memiliki daya saing yang tinggi dari rivalnya. Menurut buku Osterwalder &

Pigneur (2010, hal 38) kemitraan dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :

1. Strategic alliances between non-competitors

2. Cooperation

3. Joint ventures to develop new bussinesses

4. Buyer supplier relationships to assure reliable supplies

2.3.9 Cost structure

Cost structure merupakan building blocks yang ke 9, dalam bukunya Business Model Generation, Osterwalder & Pigneur (2010, hal 40-41), dalam

block Cost structure ini dijelaskan seluruh biaya yang akan muncul dalam menjalankan sebuah bisnis model. Biaya yang dijelaskan biasanya adalah

pos-pos biaya paling penting.

Dalam aktivitas usaha untuk men-deliver Value Propositions kepada

pelanggan, menjaga Customer Relationships dan men-generate Revenue,

seluruhnya memerlukan biaya. Biaya-biaya itu dapat dihitung dengan mudah

setelah Key Resources, Key activities dan Key Partnerships telah ditentukan.

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam pos Cost structure

dalam 9 building blocks ini adalah biaya apa saja yang paling penting dan

dibutuhkan untuk menjalankan suatu bisnis model, mana biaya yang paling

mahal dan Key activities apa yang paling mahal. Pada dasarnya, biaya

biasanya harus ditekan serendah mungkin, kecuali suatu bisnis yang lebih

(22)

Berikut adalah penjelasan dari dua jenis Cost structure:

1. Cost Driven

Bisnis model jenis ini memiliki fokus untuk menekan biaya serendah

mungkin apabila memungkinkan. Pendekatan ini bertujuan untuk

menciptakan dan mempertahankan Cost structure yang paling lean

atau ramping. Beberapa cara yang biasa dilakukan antara lain dengan

menggunakan Value Propositions dengan harga rendah,

memaksimalkan pekerjaan yang bisa dilakukan secara otomatis

dengan mesin, dan menggunakan outsourcing.

2. Value Driven

Beberapa perusahaan, tidak begitu mementingkan besar biaya yang

akan muncul dalam mendesain bisnis model, dan lebih berfokus

terhadap penciptaan sebuah nilai untuk pasar. Biasanya Value

Propositions dengan level premium dan pelayanan yang lebih personal menandakan Cost structure jenis ini. Cost Structures dapat memiliki

karakteristik-karakteristik di bawah ini:

a) Fixed-costs

Merupakan sebuah biaya yang tetap sama tidak terpengaruh

dari jumlah barang dan jasa yang dihasilkan, beberapa

contohnya adalah biaya gaji, biaya sewa dan alat-alat produksi.

Perusahaan produksi biasanya tinggi dalam fixed costs.

(23)

Variable-costs ialah biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk dan jasa yang dihasilkan. Beberapa bisnis

seperti festival musik, biasanya tinggi dalam variable costs.

c) Economies of scale

Economies of scale adalah sebuah keunggulan dari biaya yang akan semakin murah, semakin banyak output yang dihasilkan,

misalnya perusahaan yang menjual barang secara grosir

tentunya membeli dengan harga yang jauh lebih murah karena

sebelumnya membeli dengan jumlah yang sangat besar dari

produsen.

d) Economies of scope

Economies of scope adalah keunggulan biaya yang akan lebih murah saat operasi perusahaan menjadi lebih luas dan besar,

misalnya dalam sebuah perusahaan besar biaya marketing dan

distribusi akan menjadi lebih efisien karena bisa digunakan

untuk berbagai macam produk, tidak hanya satu jenis saja.

2.4 Analisa Pasar dan Industri

2.4.1 Porter’s Five Forces Model

Five Forces Model adalah sebuah analisis model yang diperkenalkan oleh Michael E. Porter. Five Forces Model adalah strategi bisnis yang

(24)

menurut Kotler & Keller (2012), model ini berfungsi untuk menganalisa

potensi suatu pasar dalam 5 kekuatan kompetitif, yaitu potential new entrants,

substitutes product, bargaining from buyers, bargaining from suppliers, dan industry competitors.

Dari strategi kompetitif ini, para pemain di suatu industri yang sama

harus memiliki sasaran, peluang, dan sumber daya yang dapat menunjang

posisi perusahaan dalam persaingan. Perusahaan harus mampu menentukan

posisinya sehingga dapat mempertahankan dirinya dan mampu menggunakan

kekuatan-kekuatan tersebut untuk meraih keuntungan.

Analisis 5 kekuatan kompetitif tersebut yaitu:

1. Threat of new entrants

Tingginya ancaman pendatang baru ditimbulkan oleh rendahnya entry

barriers yang dimiliki suatu perusahaan, sehingga perusahaan-perusahaan baru akan mudah masuk dan menyebabkan meningginya persaingan.

2. Threat of substitute products

Tingginya ancaman dari produk atau jasa alternatif sebagai pengganti produk

atau jasa yang sudah ada ditimbulkan oleh adanya beberapa faktor yang

menjadi pendukung untuk menggantikan produk atau jasa yang telah ada.

3. Bargaining power of buyers

Tingginya ancaman kekuatan tawar menawar (negoisasi) dari pembeli

ditimbulkan oleh adanya celah/ruang bagi pembeli untuk melakukan proses

(25)

dikeluarkan untuk melakukan pergantian dari suatu produk atau jasa yang

telah digunakan ke produk atau jasa lainnya.

4. Bargaining power of suppliers

Tingginya ancaman kekuatan tawar menawar (negoisasi) dari penyuplai

ditimbulkan oleh adanya kekuatan untuk membatasi atau menaikkan harga

penjualan mereka. Kekuatan tersebut dapat disebabkan oleh terbatasnya

jumlah kompetitor penyuplai sejenis atau faktor monopoli yang dilakukan

oleh penyuplai, dan tentunya hal ini dapat mengakibatkan penurunan

keuntungan yang didapat dari sebuah produk atau jasa yang ditawarkan

kepada pembeli.

5. Rivalry among existing competitors

Adanya persaingan dalam sebuah industri, khususnya persaingan yang

muncul dari kompetitor yang sudah ada sebelumnya, dapat menyebabkan

persaingan harga, peluncuran produk baru, hingga perang iklan, dan tentunya

berujung kepada menurunnya pendapatan yang dimiliki perusahaan akibat

pengeluaran biaya dalam menghadapi persaingan tersebut. Semakin ketat

persaingan tersebut, maka pendapatan suatu perusahaan akan semakin

berkurang. Persaingan ini ditimbulkan oleh keinginan perusahaan untuk

(26)

Gambar 2.5 Porter’s 5 Forces Model

2.4.2 Analisa SWOT

Analisa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) digunakan

banyak orang dalam membuat keputusan dan sebagai alat perencana. Merupakan

motode yang efektif dalam identifikasi dan menganalisa kekuatan dan kelemahan dan

menganalisa peluang dan ancaman di dalam beberapa situasi. Kekuatan dan

kelemahan dari sebuah sistem ditentukan oleh elemen internal ketika kekuatan

eksternal memiliki peluang dan ancaman. Kelebihan dari analisa SWOT adalah

mengandung kemudahan dalam pemahaman, mudah digunakan dan efisien. Jika

analisa ini digunakan dengan benar, maka SWOT merupakan teknik yang tepat untuk

identifikasi sebuah rekomendasi bagi sebuah organisasi. Analisa SWOT digunakan

untuk menganalisa celah yang ada dan untuk mempersiapkan rencana pengelolaan

(27)

Keseluruhan evaluasi dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari

suatu perusahaan disebut dengan analisa SWOT (Kotler, 2009, p.89). Analisa ini

merupakan cara untuk mengamati lingkungan pemasaran luar dan dalam suatu

perusahaan. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan

(strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat

meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Berikut merupakan

uraian dari elemen – elemen SWOT, yaitu:

1. Kekuatan (strengths)

Merupakan suatu kegiatan perusahaan yang berjalan baik atau sumber

daya / keterampilan dan keunggulan – keunggulan lain yang

dikendalikan.

2. Kelemahan (weaknesses)

Merupakan suatu kegiatan organisasi yang tidak berjalan dengan baik

atau keterbatasan sumber daya, keterampilan dan kapabilitas yang

dibutuhkan oleh perusahaan.

3. Peluang (opportunities)

Merupakan faktor – faktor luar lingkungan positif atau menguntungkan perusahaan.

4. Ancaman (threats)

Merupakan faktor – faktor negatif di luar lingkungan atau situasi yang

(28)

Gambar 2.6 SWOT Matrix (Sumber : Humphrey & Albert, 2005)

2.5 Analisis Keuangan 2.5.1 Breakeven Analysis

Breakeven analysis adalah suatu alat yang digunakan oleh analis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada

konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta

mendapatkan profit (Titman et al, 2011). Dengan kata lain breakeven analysis

adalah suatu analisa berupa metode dimana revenue = cost sehingga terjadi

titik impas (tidak ada profit ataupun loss).

Menutur Titman et al. (2011, p431), untuk menggunakan metode

(29)

diproduksi atau berapa harga yang bisa ditetapkan per satuan unit barang agar

tidak mengalami loss dapat menggunakan formula berikut:

Rumus diatas digunakan untuk menghitung berapa jumlah barang yang harus

diproduksi jika ingin mencapai breakeven point.

Rumus di atas digunakan untuk menghitung berapa harga jual barang agar

mencapai breakeven unit price.

Fixed Cost: Biaya yang tidak secara langsung berhubungan dengan tingkat produksi atau output. Dengan kata lain, bahkan jika bisnis tidak memiliki

output atau memiliki high output maka tingkat fixed cost akan sama. Contoh: Depresiasi alat, biaya administrasi, R&D.

Variable Cost: Biaya yang tidak konstan dan berubah seiring dengan tingkat

output, sehingga variable expense sering dinyatakan dengan satuan unit. Contoh variable cost adalah raw materials, direct labor, bensin /operational

cost.

2.5.2 Financial Projections

Financial Projections merupakan pendapatan serta biaya yang dikeluarkan dalam periode waktu tertentu. Pada umumnya, perusahaan

(30)

pengeluaran perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya kemudian

menggabungkan trend yang terjadi di masa lalu ke dalam sebuah perencanaan

baru untuk meramalkan kondisi keuangan di perusahaan di masa mendatang.

Dengan adanya proyeksi keuangan ini dapat membantu perusahaan dalam

mengatur anggaran, penjualan, penggajian, proyeksi arus kas perusahaan,

meningkatkan control manajemen operasi dan menciptakan profitabilitas.

2.5.3 Capital Budgeting

Capital budgeting (Penganggaran modal) adalah proses perencanaan yang digunakan untuk menemukan apakah investasi jangka panjang dari

sebuah organisasi atau perusahaan layak untuk dilakukan atau tidak (Titman

et al, 2011). Capital budgeting merupakan garis besar rencana pengeluaran

aktiva tetap. Penganggaran modal yang efektif akan menaikkan ketepatan

waktu dan kualitas dari penambahan aktiva.

Menurut Titman et al. (2011, p431), komponen-komponen dari Capital

Budgeting adalah:

1. Payback Period

Payback Period adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas pada investasi

2. Net Present Value

Net Present Value merupakan konsep yang digunakan untuk mengukur tingkat kekayaan atau kelayakan suatu proyek/investasi.

(31)

diukur dengan cara menghitung selisih antara arus kas masuk

dengan arus kas keluar.

Perhitungan Net Present Value (NPV) dapat dirumuskan sebagai

berikut:

Dimana:

NPV: Net Present Value

Ct : Arus kas masuk seiring berjalannya waktu

C0 : Arus kas awal

r : Tingkat suku bunga

t : Jumlah periode

Tingkat kelayakan suatu proyek/investasi dapat ditentukan sebagai

berikut:

1. NPV > 1, yang menunjukkan bahwa proyek/investasi layak

untuk dieksekusi

dan memberikan profit.

2. NPV = 1, yang berarti proyek/investasi tidak dapat

memberikan keuntungan

maupun kerugian

3. NPV < 1, menunjukkan bahwa proyek/investasi tidak layak

untuk dieksekusi

(32)

3. Internal Rate of Return

Internal Rate of Return (IRR) adalah suatu perhitungan rasio untuk mengukur tingkat suku bunga dari suatu investasi yang

menghasilkan NPV (Net Present Value) sama dengan nol. IRR

berfungsi untuk menentukan kelayakan suatu investasi dengan

membandingkan discount rate atau rate of return (Sheridan

et.al.,2011). Perhitungan Internal Rate of Return (IRR) dapat

dirumuskan sebagai berikut:

IRR > Discount Rate: investasi layak untuk ditanamkan

IRR = Discount Rate: investasi yang ditanamkan akan balik

modal

IRR < Discount Rate: investasi tidak layak untuk ditanamkan.

4. Return On Investment

ROI (singkatan bahasa Inggris : return on investment) dalam

bahasa Indonesia disebut laba atas investasi – adalah rasio

(33)

terhadap jumlah uang yang diinvestasikan. Jumlah uang yang

diperoleh atau hilang tersebut dapat disebut bunga atau

laba/rugi. Investasi uang dapat dirujuk sebagai aset, modal,

pokok, basis biaya investasi. ROI biasanya dinyatakan dalam

bentuk persentase dan bukan dalam nilai desimal. ROI tidak

memberikan indikasi berapa lamanya suatu investasi. Namun

demikian, ROI sering dinyatakan dalam satuan tahunan atau

disetahunkan dan sering juga dinyatakan untuk suatu tahun

kalendar atau fiskal. ROI juga dikenal sebagai tingkat laba

(rate of profit) atau hasil suatu investasi pada saat ini, masa lampau atau prediksi di masa mendatang. Atau bahasa

sederhananya ROI merupakan pengembalian keuntungan atas

investasi.

Cara menghitung ROI

ROI bisa juga diartikan sebagai rasio laba bersih terhadap

biaya. Rumus menghitung ROI adalah sebagai berikut :

(34)

2.5.4 Capital Expenditures

Capital expenditure adalah pengeluaran periodic untuk melakukan investasi terhadap peralatan yang termasuk sebagai asset perusahaan (Titman

et al, 2010). Investasi yang dimaksud tidak sebatas hanya pada pembelian

saja, namun juga pada saat perusahaan mengeluarkan dana untuk perbaikan

ataupun penggantian asset perusahaan.

2.5.5 Operating Expenditure

Operating Expenditure adalah dana yang dikeluarkan perusahaan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan tersebut (Titman et al, 2010).

Dana yang dikeluarkan bisasanya bersifat sebagai pengeluaran sehari-hari

yang digunakan untuk menjaga kelangsungan asset perusahaan dalam

melakukan aktivitas operasi sehari-hari.

2.5.6 Funding Requirements

Funding Requirements menjelaskan perincian biaya setiap variable yang dibutuhkan untuk menjalankan atau merealisasikan sebuah projek atau

rencana bisnis dan bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh

sumber pendanaan yang dibutuhkan. Sumber pendanaan sendiri bisa

Gambar

Gambar 2.1 Pempek Palembang   sumber: www.farlesmarten.wordpress.com
Gambar 2.3 Pempek Adaan   sumber: food.detik.com
Tabel 2.1 Daftar Restoran All You Can Eat di Jakarta
Gambar 2.4 Model 9 Building Block
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Pengaruh Diferensiasi Produk Dan Soul Marketing Terhadap Kepercayaan Shohibul Qurban Pada Produk Superqurban Rumah Zakat Semarang belum banyak dilakukan

Pendamping KJKS BMT adalah tenaga sarjana atau Diploma III yang telah dilatih melalui pelatihan Calon Pendamping BMT Kelurahan oleh Pemerintah Kota Padang

Bank Aceh sebagai bank milik Pemerintah Aceh dan pemerintah daerah kabupaten/kota di Aceh, tentu menginginkan adanya peningkatan kinerja yang lebih baik lagi, dalam

Dari uraian singkat di atas, dapat dikemukakan beberapa catatan penutup sebagai kesimpulan adalah; a). FKUB di lingkungan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dibentuk

dapat disimpulkan bahwa harga adalah nilai suatu barang atau jasa yang. diukur dengan sejumlah

Puji syukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan nikmatnya, saya dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Analisis Forecasting Permintaan Golongan Darah Dan

7 ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 8 INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk, 9 MLBI PT Multi Bintang Indonesia Tbk 10 MYOR PT Mayora Indah Tbk.. 11 PSDN PT

Tujuan analisis diskriminan ialah untuk memilih data dari variabel berdasarkan data atau sampel hasil penelitian, berhasil tidaknya suatu persilangan berdasarkan satu