16
BAB II
PROPOSISI NILAI
2.1 Masakan Palembang
Palembang adalah ibu kota dari Sumatera Selatan merupakan kota yang
menjadi salah satu wisata kuliner paling diminati di Indonesia. Begitu banyaknya
masakan Palembang yang identik dengan ikan, menjadikan rasa masakan Palembang
begitu khas dan sulit untuk ditiru kelezatannya. Macam-macam masakan khas
Palembang antara lain, Pempek, Tekwan, Pindang Patin, Model, serta roti-rotian
seperti Martabak HAR dan juga Kue Maksuba.
Melihat banyaknya peminat masakan Palembang, banyak restoran ataupun
kedai makanan asal Palembang yang buka di Jakarta, terutama restoran Pempek.
Tercatat hingga saat ini ada 588 restoran atau kedai pempek tersebar di Jakarta yang
tercatat (sumber: opernrice.com). Pempek merupakan salah satu makanan tradisional
Sumatera Selatan yang berpotensi dikembangkan ke skala industri yang lebih besar
dengan persyaratan mutu yang konsisten. Saat ini industri masakan Palembang yang
ada sering merubah formula dan cara pengolahannya dengan alasan berfluktuasinya
2.1.1 Pempek Palembang
Gambar 2.1 Pempek Palembang sumber: www.farlesmarten.wordpress.com
Pempek merupakan masakan asal Palembang yang terbuat dari
ikan tenggiri dan sagu. Hampir semua di daerah Sumatera Selatan
memproduksinya. Pempek merupakan makanan yang disukai oleh
orang-orang karena rasanya yang gurih, tekstur yang empuk, dan juga
kuah (cuka) nya yang pedas. Jenis pempek yang terkenal adalah
“pempek kapal selam” yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek yang sudah digoreng dengan minyak panas. Ada juga
yang lain seperti “pempek lenjer”, pempek bulat (atau terkenal dengan nama ada’an), pempek kulit ikan, pempek pistel (berisi irisan pepaya
muda rebus yang sudah di bumbu), pempek telur kecil, pempek
keriting dan Pempek Lenggang. Berikut macam-macam pempek
1. Pempek Kapal Selam
Gambar 2.2 Pempek Kapal Selam
sumber:http://bisnisukm.com
Kapal Selam merupakan jenis pempek yang besar dan berisi telur.
Kapal Selam banyak diminati orang karena perpaduan ikan dan
telurnya yang sangat nikmat ditambah lagi dengan bumbu cuko
yang lezat.
2. Pempek Adaan
Gambar 2.3 Pempek Adaan sumber: food.detik.com
Adaan merupakan pempek yang berbentuk bulat seperti bakso
yang berukuran besar. Pempek ini memiliki rasa yang khas karena
3. Pempek Lenggang
Lenggang merupakan pempek yang dibakar dengan menggunakan
daun papaya. Lenggang terbuat dari ikan yang dicampur dengan
telur. Memasak lenggang tidak menggunakan minyak atau air sama
sekali.
4. Tekwan
Tekwan, makanan khas Palembang dengan tampilan mirip sup ikan
berbahan dasar daging ikan dan sagu yang dibentuk kecil - kecil
mirip bakso ikan yang kemudian ditambahkan kaldu udang sebagai
kuah, serta soun dan jamur kuping sebagai pelengkap.
2.2 Restoran All You Can Eat
Suatu tempat yang identik dengan jajaran meja-meja yang tersusun rapi
dengan kehadiran orang, timbulanya aroma semerbak dari dapur dan pelayanan
pramusaji, berdentingnya bunyi-bunyian kecil karena persentuhan gelas gelas kaca,
porselen, menyebabkan suasana hidup di dalamnya. Restoran dengan konsep all you
can eat adalah restoran yang memberikan pelayanan makan sebanyak dan sepuas-puasnya tanpa menambah atau mengurangi harga yang akan di bayar (Sugiarto
Sulartiningrum, 77).
Berikut data 6 restoran ALL YOU CAN EAT di Jakarta dengan harga dibawah
Tabel 2.1 Daftar Restoran All You Can Eat di Jakarta
2.3 Business Model Canvas
Business Model Canvas merupakan framework yang diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder pada bukunya yang berjudul Business Model Generation.
Framework ini menggunakan pendekatan berdasarkan disertasi dari Alexander
No Gambar Nama Restaurant Jenis Makanan Alamat Harga
1 Kogikogi Korean BBQ
Jl Wolter Monginsidi No.85, Senopati, South Jakarta. (021) 7264999
Rp 99.000
2 SSIKKEK Korean BBQ
Kompleks Kelapa Gading Square (Mall of Indonesia shopfront), Jl. Boulevard Barat Raya Blok A No. 5&6, Kelapa Gading. (021) 29364049
Rp 135.900
3 Royal Kitchen Indian Food
Bellagio Boutique Mall, Ground Floor, Jl. Lingkar Mega Kuningan, Kuningan. 021 30029975
Rp 109.000
4 Shaburi Shabu-shabu
Pacific Place Mall, 5th floor, Jl Jendral Sudirman Kav 52-52, SCBD, South Jakarta. Ph. +62(21) 5797 3247 Rp 148.000 5 Grand City Chinese Restaurant Chinese Food
Merlynn Park Hotel, Jl. KH. Hasyim Ashari Kav. 29-31, Petojo Utara, Gambir, Central Jakarta. 021-30026888 Ext. 7081/7044-45/7031-33
Rp 118.000
6 Amigos Mexican Food
Kemang Club Villas, Jl. Kemang Selatan I. 021 719 2584. (2) Bellagio Boutique Mall, Mega Kuningan. 021 3006 6558
Osterwalder (2004). Business Model Canvas berfungsi sebagai model representative
untuk mendeskripsikan, memvisualisasikan, mengevaluasi, dan mengembangkan
Business Model. Business Model Canvas terdiri dari sembilan konsep yang disebut
dengan nine building blocks:
1. Queen Pempek melayani satu atau lebih customer segment.
2. Dengan menggunakan Business Model Creation, Queen Pempek dapat
memenuhi kebutuhan konsumen dengan Value Proposition.
3. Value Proposition tersebut disampaikan kepada Customer melalui
komunikasi, distribusi, dan Channel penjualan.
4. Customer Relationship dibangun dikelola perusahaan untuk setiap
customer segment.
5. Revenue stream merupakan hasil dari penyampaian Value Proposition
yang berhasil sampai pada Customer Segment.
6. Key Resources merupakan asset yang dibutuhkan dalam menawarkan dan
menyampaikan Value Proposition.
7. Dalam memulai bisnis ,pelaku bisnis harus dapat menentukan Key
activities apa saja yang harus dilakukan dalam usaha menghasilkan Value Propositions dan revenue stream. Kegiatan tersebut meliputi, produksi, selling dan support. Dalam pembuatan pempek, tentunya kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan antara lain dalam hal produksi adalah membeli
bahan-bahan, memasak (produksi), dan memberikan pelayanan kepada
customer. Untuk hal selling dapat dilakukan promosi, iklan baik online maupun offline. Adapun kegiatan support yang berupa membantu
penjualan, mengadakan kerjasama seperti keagenan atau membuka peluang
distributor maupun reseller.
8. Tentunya dalam bisnis Queen Pempek, kami menggandeng Key Partners
yang dapat melengkapi kemampuan kita demi meningkatkan peluang
keberhasilan bisnis. Dalam hal ini, kita sangat ahli membuat Pempek, cari
supplier yang tidak bisa dibajak semisal adalah keluarga.
9. Semua usaha yang dilakukan tentunya memiliki Cost structure yang
artinya memerlukan biaya, melakukan perhitungan secara seksama, lalu
meutuskan apakah rencana bisnis Queen Pempek menguntungkan atau
tidak.
Gambar 2.4 Model 9 Building Block
2.3.1 Value Proposition
Salah satu elemen dari business canvas model adalah Value
ditawarkan memiliki nilai yang tinggi menurut target pelanggannya
(Osterwalder & Pigneur, 2010, hal.22). Dengan kata lain seberapa jauh
perusahaan dapat menawarkan produk atau jasa yang berbeda dengan para
pesaingnya. Tidak hanya berbeda tetapi juga memiliki nilai tinggi dan disukai
oleh konsumen.
Value Proposition yang dimiliki bisnis Queen Pempek, antara lain:
1. Original Taste
Memiliki rasa asli Palembang berbeda dengan pempek yang dijual di
Jakarta.
2. Penyajian dengan konsep All You Can Eat
Menjadi satu-satunya restoran Pempek All You Can Eat di Jakarta.
3. Healthy
Pempek mengandung energi sebesar 182 kilokalori, protein 9,2 gram,
karbohidrat 27,8 gram, lemak 3,8 gram, kalsium 401 miligram, fosfor
116 miligram, dan zat besi 2,4 miligram. Selain itu di dalam Pempek
juga terkandung vitamin A sebanyak 13 IU, vitamin B1 0,16 miligram
dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan
penelitian terhadap 100 gram Pempek, dengan jumlah yang dapat
dimakan sebanyak 100 %.
Sumber Informasi Gizi: Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan
4. Pengolahan yang Higienis
Cara pengolahan bahan baku menjadi suatu metode kunci yang
merupakan Value Proposition “Queen Pempek”. Cara pengolahan
yang higienis dan aman dapat digunakan sebagai patokan bahwa
kandungan nutrisi dasar yang terdapat dalam bahan dasar pempek
tetap terjaga dengan optimal, seperti protein, karbohidrat, dan lemak.
Hal ini untuk memastikan keseluruhan nutrisi tersebut dapat diserap
oleh tubuh secara optimal dan mendapatkan manfaat secara utuh. Alat
masak yang digunakan dipastikan bersih, begitu pula dalam proses
memasaknya, yang setiap kokinya akan menggunakan sarung tangan
dan masker.
2.3.2 Customer Segments
Menurut Osterwalder (2010), Customer segments didefinisikan
sebagai kelompok orang atau organisasi yang menjadi tujuan perusahaan
untuk dijangkau dan dilayani. Dalam Business Model, customer merupakan
target utama dalam penyampaian value. Karena tiap customer memiliki atribut
dan latar belakang yang berbeda, maka perlu adanya upaya segmentasi untuk
dapat memuaskan customer agar lebih efektif.
Langkah segmentasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah
dengan mengelompokkan customer dengan kebutuhan yang sama, perilaku
yang sama, atau dengan atribut lain yang memiliki kesamaan. Sebuah model
bisnis dapat mendefinisikan satu atau lebih customer segment dalam skala
yang perlu difokuskan dan segmen customer mana yang tidak perlu. Setelah
keputusan tentang customer segment telah ditentukan, maka tujuan pembuatan
Business Model dapat mulai dimengerti lebih jelas.
Menurut Osterwalder (2010), customer dapat dikelompokkan menjadi
beberapa segmen jika:
1. Kebutuhan mereka memerlukan perlakuan yang beda seperti yang terdapat pada penumpang kelas eksekutif dan ekonomi. Walaupun tujuannya sama, namun kedua kelas penumpang tersebut
membutuhkan perlakuan yang berbeda. Dalam bisnis Queen
Pempek ini, perbedaan mendasar dari konsep All You Can Eat
dengan restoran biasa, meskipun sama-sama menjual Pempek,
namun tetap ada perlakuan yang berbeda terhadap customer. Seperti
membiasakan mereka untuk melakukan self-service.
2. Mereka membutuhkan channel distribusi yang berbeda.
Seperti contoh untuk customer yang memiliki waktu banyak untuk
melihat-lihat produk, mereka dapat membeli barang di toko secara
langsung. Namun untuk customer yang tidak memiliki waktu
banyak, mereka membutuhkan channel distribusi lainnya seperti
toko online. Queen Pempek memiliki beberapa distribution
3. Mereka membutuhkan berbagai jenis customer relationships. Sebagian perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage,
kami membuat komunitas produk untuk mempertahankan
Customer Retention, memasang banner, iklan, dan melakukan promosi.
4. Mereka memiliki tingkat keuntungan yang berbeda secara substansial.
Dengan Konsep All You Can Eat, dimana customer memiliki
tingkat keuntungan untuk makan sepuasnya hanya dengan satu
harga yang tetap.
5. Mereka bersedia membayar lebih untuk mendapatkan penawaran yang berbeda.
Dalam bisnis Queen Pempek, customer yang ingin mendapatkan
minuman yang lebih variasi tentunya akan membayar dengan harga
yang berbeda dari harga paket All You Can Eat.
Beberapa contoh tipe Customer Segments antara lain:
1. Mass Market
Business Model yang berfokus pada mass market tidak membedakan
antara customer segments yang berbeda. Selain itu Value Propositions,
Distribution Channels, dan Customer Relationships semua berfokus pada kelompok customer dalam jumlah yang besar dan memiliki masalah dan
kebutuhan secara luas. Salah satu contoh segmen customer ini dapat
membutuhkan barang tersebut untuk melakukan kegiatan sehari-hari dari
hal yang personal maupun hal yang bersifat bisnis.
2. Segmented Market
Beberapa perusahaan melakukan segmentasi market dengan sedikit
perbedaan pada masalah dan kebutuhan. Salah satu contoh adalah bank
komersil yang membedakan customer mereka berdasarkan pada jumlah
uang yang didepositokan. Kedua segmen memiliki kebutuhan dan masalah
yang sama namun sedikit bervariasi. Dampak dari segmented market
tersebut menghasilkan Value Proposition, Distribution Channels,
Customer Relationship dan Revenue stream dari setiap segmen.
Tabel 2.2 Tipe dari segmentasi pasar
Dari Behaviour Demographics Geography Psychographics Manfaat yang didapat dari produk Seberapa sering produk tersebut digunakan Umur Pendapatan Gender Family life cycle Ethnicity Pekerjaan Pendidikan Kenegaraan Agama Region Besar kota Kepadatan penduduk Iklim Aktifitas Interest Opini Nilai Sikap Lifestyle
Loyalitas pelanggan terhadap produk Kehidupan sosial
2.3.3 Communication and Distribution Channels
Menurut Osterwalder & Pigneur (Business Model Generation, 2010,
hal. 26), Channel ialah media dari sebuah perusahaan dalam berkomunikasi
dengan pelanggannya untuk menyampaikan nilai dari proporsinya. Beberapa
fungsi channel antara lain:
1. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya produk barang / jasa
perusahaan,
2. Membantu pelanggan mengevaluasi Value Proposition perusahaan,
3. Memungkinkan pelanggan membeli produk dan jasa sesuai kebutuhan
(spesifik),
4. Memberikan Value Proposition untuk pelanggan,
5. Menyediakan layanan dukungan pasca pembelian kepada pelanggan.
Channels yang digunakan oleh Queen Pempek, antara lain:
1. Restoran Fisik
Sebagai tempat untuk menyajikan dan menjual produk Pempek yang
direncanakan akan berada pada lokasi strategis sesuai dengan survei
2. Website
Pada Bisnis Queen Pempek ini disediakan website dimana banyak
orang dapat mengakses sebagai perantara dan media promosi demi
mendapatkan pelanggan.
3. Katering & Delivery Order
Dengan kesibukan yang semakin padat, banyak orang yang tidak
memiliki waktu untuk memasak atau menyiapkan makanan. Hal ini
mendorong individu tersebut untuk membeli makanan jadi yang sudah
banyak disajikan oleh beberapa restoran. Restoran-restoran besar
memberikan fasilitas delivery order. Dimana individu dapat memesan
makanan sesuai keinginannya tanpa perlu datang ke restoran tersebut.
Hal ini memudahkan pelanggan dalam melakukan pembelian. Fasilitas
seperti inipun diberikan “Queen Pempek” kepada pelanggan. Pelanggan dapat memesan tanpa harus datang ke restoran.
2.3.4 Customer Relationships
Customer Relationship dibangun sesuai customer segment, karena setiap segmentasi memiliki karakteristik yang berbeda. Menurut Osterwalder
& Pigneur (2010, hal. 28), Customer Relationship dibagi menjadi 6 :
1. Personal Assistant, merupakan komunikasi langsung antara
customer dengan customer representative sehingga kualitas barang dapat terjamin.
2. Dedicated Personal Assistant, merupakan satu customer
representative hanya ditujukan untuk satu pelanggan sehingga
penjelasan dapat lebih jelas dibandingkan dengan personal
assistant (contoh : asuransi).
3. Self-service, dalam hal ini pelanggan tidak melakukan kontak
langsung dengan customer representative. Self-service dapat
dijalankan pada restoran All You Can Eat, karena pelanggan dapat
memilih sendiri jenis pempek yang akan dimakan.
4. Automated Service, merupakan perkembangan dari self-service.
Sebagai contoh dibuatnya vending machine yang berfungsi untuk
melihat menu makanan hari ini, untuk memesan dan untuk
membayar dengan men-tap kan kartu yang telah terisi saldo.
5. Communities, sebagai wadah untuk berkumpul sebagai sharing
ilmu pengetahuan, sehingga dapat membantu perusahaan dalam
mengerti keinginan mereka.
6. Co-creation, merupakan hubungan antara customer dan penjual
untuk menciptakan value propotition baru, dengan contoh toko
makanan membuat forum untuk meminta para pelanggan menilai
dan menambahkan masukkan seperti rasa dan bentuk baru sebagai
2.3.5 Revenue stream
Revenue stream pada 9 building blocks, merepresentasikan bagaimana sebuah perusahaan memperoleh cash dari setiap segmen pelanggan.
Osterwalder & Pigneur (2010, hal 30-31) menjelaskan bahwa bila customer
adalah jantung dari perusahaan, maka revenue streams adalah pembuluh
darahnya. Dan perusahaan perlu mempertanyakan untuk nilai seperti apa
customer rela untuk membayar. Setiap revenue stream memiliki pricing mechanism yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain.
Antara lain sistem tawar-menawar, pelelangan, mengikuti permintaan pasar,
harga tergantung dari volume, dan sebagainya.
Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal 30), sebuah bisnis model dapat
melibatkan dua tipe revenue streams yang berbeda, yakni:
1. Transaction revenues yang diperoleh dari 1 kali pembayaran
dari customer
2. Recurring revenues yang berasal dari pembayaran yang masih
berlanjut untuk menyampaikan Value Proposition kepada
pelanggan (Rent,Credit, Subscription) dan menyediakan
customer support setelah pembelian.
Jadi, menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal 30-31), pertanyaan-
pertanyaan yang harus dijawab dalam revenue streams adalah untuk nilai
apakah yang akan membuat customer mau untuk membayar, untuk apa
mereka bayar dan bagaimana cara pembayaran, cara pembayaran apa yang
Ada beberapa cara untuk meng-generate Revenue streams, antara lain:
1. Sale
Sale adalah jenis revenue stream yang paling umum dan banyak dimengerti, yaitu menjual hak kepemilikan dari sebuah produk fisik.
Seseorang yang membeli produk tersebut, akan memiliki hak untuk
menggunakan, menjualnya, memberikannya, atau membuangnya.
2. Usage fee
Revenue stream jenis ini di-generate melalui berapa banyak penggunaan sebuah service. Semakin banyak service yang digunakan
maka semakin besar juga jumlah yang harus customer bayar, misalnya
perusahaan telekomunikasi menagih customer sesuai jumlah pulsa
yang dipakai, hotel menagih customer sesuai berapa lama customer
menginap, dan lainnya.
3. Subscription fee
Revenue stream jenis ini di-generate dengan cara menjual akses untuk suatu service secara terus menerus, misalnya sebuah gym/tempat
olahraga menjual membershipnya secara bulanan atau tahunan, dan
sebagai gantinya member akan memperoleh akses fasilitas dalam gym
tersebut, contoh lainnya adalah membership secara online, dan
4. Lending/Renting/Leasing
Revenue stream jenis ini diciptakan dengan cara memberikan seseorang hak eksklusif untuk menggunakan aset dalam suatu periode
tertentu, dan selama itu ada biaya sewa yang harus diberikan kepada
pemilik aset tersebut. Untuk orang yang menyewakan aset,
kelebihannya adalah pendapatan tetap setiap bulannya, sedangkan bagi
penyewa, kelebihannya adalah dapat lebih menghemat biaya dan tidak
perlu memiliki secara langsung aset tersebut.
5. Licensing
Untuk Revenue stream jenis ini, penghasilan dihasilkan dengan
memberikan customers dalam bentuk ijin yang digunakan sebagai
intellectual property. Pemegang hak dapat menghasilkan penghasilan dari properti mereka, tanpa harus memproduksi sendiri atau
mengiklankan. Biasanya licensing sangat populer digunakan dalam
industri media, dimana pemilik konten tetap memiliki hak copyright,
dan dapat menjual hak penggunaan kepada pihak ketiga, demikian
juga dalam bisnis teknologi dimana pemegang paten dapat
memberikan hak untuk menggunakan teknologi yang telah dipatenkan
6. Brokerage Fees
Revenue stream jenis ini terdapat perantara, yaitu orang yang berlaku sebagai penengah antara 2 atau lebih pihak, sebagai contoh perusahaan
real estate akan memperkerjakan broker yang akan berusaha mempertemukan mereka dengan calon pembeli. Dan setiap kali
berhasil mempertemukan pembeli dan penjual, maka broker tersebut
akan memperoleh komisi.
7. Advertising
Pada Revenue stream jenis ini, penghasilan dihasilkan dengan cara
mempromosikan sebuah produk, jasa, atau merek. Biasanya industri
media dan event organizer sangat bergantung dari iklan. Namun
seiring seiring perkembangan jaman industri lainnya juga mulai
mengandalkan advertising sebagai sumber pendapatan.
2.3.6 Key Resources
Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal. 35), Key Resources dibagi
menjadi 4 macam yaitu fisik, intelektual, manusia dan finasial. Keempat hal
ini sangat berperan penting dalam menjaga key relationship. Begitu juga
dengan restoran “Queen Pempek” yang sangat menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Key Resources yang digunakan dalam bisnis model
“Queen Pempek” antara lain: SDM, manajemen sistem, Marketing, Supplies, Aset fisik, Gedung, IT Software (PoS).
2.3.7 Key activities
Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal. 36-37), Key activities
mendeskripsikan aktifitas penting yang harus dilakukan perusahaan agar
bisnis modelnya dapat berjalan dengan baik. Key activities dapat
dikategorikan menjadi 3, yakni:
1. Produksi
Aktivitas ini berhubungan dengan desain, membuat dan
menyampaikan produk dengan jumlah tertentu atau kualitas yang baik.
Biasanya produksi didominasi oleh perusahaan manufakturing.
2. Solusi masalah
Tipe Key activities yang berhubungan dengan langsung dengan solusi
baru untuk masalah pada individu. Konsultasi di rumah sakit sebagai
contoh. Konsultasi ini memberikan solusi yang berbeda pada tiap
individu.
3. Platform / network
Bisnis model yang didominasi oleh platform/network. Sebagai contoh
ialah eBay yang selalu harus mengembangkan bisnisnya dan
me-monitoring platform.
2.3.8 Key Partnership
Partnership atau kemitraan adalah kesepakatan dan kerjasama antara dua belah pihak untuk mencapai suatu kepentingan bersama. Sudah menjadi
memiliki daya saing yang tinggi dari rivalnya. Menurut buku Osterwalder &
Pigneur (2010, hal 38) kemitraan dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
1. Strategic alliances between non-competitors
2. Cooperation
3. Joint ventures to develop new bussinesses
4. Buyer supplier relationships to assure reliable supplies
2.3.9 Cost structure
Cost structure merupakan building blocks yang ke 9, dalam bukunya Business Model Generation, Osterwalder & Pigneur (2010, hal 40-41), dalam
block Cost structure ini dijelaskan seluruh biaya yang akan muncul dalam menjalankan sebuah bisnis model. Biaya yang dijelaskan biasanya adalah
pos-pos biaya paling penting.
Dalam aktivitas usaha untuk men-deliver Value Propositions kepada
pelanggan, menjaga Customer Relationships dan men-generate Revenue,
seluruhnya memerlukan biaya. Biaya-biaya itu dapat dihitung dengan mudah
setelah Key Resources, Key activities dan Key Partnerships telah ditentukan.
Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam pos Cost structure
dalam 9 building blocks ini adalah biaya apa saja yang paling penting dan
dibutuhkan untuk menjalankan suatu bisnis model, mana biaya yang paling
mahal dan Key activities apa yang paling mahal. Pada dasarnya, biaya
biasanya harus ditekan serendah mungkin, kecuali suatu bisnis yang lebih
Berikut adalah penjelasan dari dua jenis Cost structure:
1. Cost Driven
Bisnis model jenis ini memiliki fokus untuk menekan biaya serendah
mungkin apabila memungkinkan. Pendekatan ini bertujuan untuk
menciptakan dan mempertahankan Cost structure yang paling lean
atau ramping. Beberapa cara yang biasa dilakukan antara lain dengan
menggunakan Value Propositions dengan harga rendah,
memaksimalkan pekerjaan yang bisa dilakukan secara otomatis
dengan mesin, dan menggunakan outsourcing.
2. Value Driven
Beberapa perusahaan, tidak begitu mementingkan besar biaya yang
akan muncul dalam mendesain bisnis model, dan lebih berfokus
terhadap penciptaan sebuah nilai untuk pasar. Biasanya Value
Propositions dengan level premium dan pelayanan yang lebih personal menandakan Cost structure jenis ini. Cost Structures dapat memiliki
karakteristik-karakteristik di bawah ini:
a) Fixed-costs
Merupakan sebuah biaya yang tetap sama tidak terpengaruh
dari jumlah barang dan jasa yang dihasilkan, beberapa
contohnya adalah biaya gaji, biaya sewa dan alat-alat produksi.
Perusahaan produksi biasanya tinggi dalam fixed costs.
Variable-costs ialah biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk dan jasa yang dihasilkan. Beberapa bisnis
seperti festival musik, biasanya tinggi dalam variable costs.
c) Economies of scale
Economies of scale adalah sebuah keunggulan dari biaya yang akan semakin murah, semakin banyak output yang dihasilkan,
misalnya perusahaan yang menjual barang secara grosir
tentunya membeli dengan harga yang jauh lebih murah karena
sebelumnya membeli dengan jumlah yang sangat besar dari
produsen.
d) Economies of scope
Economies of scope adalah keunggulan biaya yang akan lebih murah saat operasi perusahaan menjadi lebih luas dan besar,
misalnya dalam sebuah perusahaan besar biaya marketing dan
distribusi akan menjadi lebih efisien karena bisa digunakan
untuk berbagai macam produk, tidak hanya satu jenis saja.
2.4 Analisa Pasar dan Industri
2.4.1 Porter’s Five Forces ModelFive Forces Model adalah sebuah analisis model yang diperkenalkan oleh Michael E. Porter. Five Forces Model adalah strategi bisnis yang
menurut Kotler & Keller (2012), model ini berfungsi untuk menganalisa
potensi suatu pasar dalam 5 kekuatan kompetitif, yaitu potential new entrants,
substitutes product, bargaining from buyers, bargaining from suppliers, dan industry competitors.
Dari strategi kompetitif ini, para pemain di suatu industri yang sama
harus memiliki sasaran, peluang, dan sumber daya yang dapat menunjang
posisi perusahaan dalam persaingan. Perusahaan harus mampu menentukan
posisinya sehingga dapat mempertahankan dirinya dan mampu menggunakan
kekuatan-kekuatan tersebut untuk meraih keuntungan.
Analisis 5 kekuatan kompetitif tersebut yaitu:
1. Threat of new entrants
Tingginya ancaman pendatang baru ditimbulkan oleh rendahnya entry
barriers yang dimiliki suatu perusahaan, sehingga perusahaan-perusahaan baru akan mudah masuk dan menyebabkan meningginya persaingan.
2. Threat of substitute products
Tingginya ancaman dari produk atau jasa alternatif sebagai pengganti produk
atau jasa yang sudah ada ditimbulkan oleh adanya beberapa faktor yang
menjadi pendukung untuk menggantikan produk atau jasa yang telah ada.
3. Bargaining power of buyers
Tingginya ancaman kekuatan tawar menawar (negoisasi) dari pembeli
ditimbulkan oleh adanya celah/ruang bagi pembeli untuk melakukan proses
dikeluarkan untuk melakukan pergantian dari suatu produk atau jasa yang
telah digunakan ke produk atau jasa lainnya.
4. Bargaining power of suppliers
Tingginya ancaman kekuatan tawar menawar (negoisasi) dari penyuplai
ditimbulkan oleh adanya kekuatan untuk membatasi atau menaikkan harga
penjualan mereka. Kekuatan tersebut dapat disebabkan oleh terbatasnya
jumlah kompetitor penyuplai sejenis atau faktor monopoli yang dilakukan
oleh penyuplai, dan tentunya hal ini dapat mengakibatkan penurunan
keuntungan yang didapat dari sebuah produk atau jasa yang ditawarkan
kepada pembeli.
5. Rivalry among existing competitors
Adanya persaingan dalam sebuah industri, khususnya persaingan yang
muncul dari kompetitor yang sudah ada sebelumnya, dapat menyebabkan
persaingan harga, peluncuran produk baru, hingga perang iklan, dan tentunya
berujung kepada menurunnya pendapatan yang dimiliki perusahaan akibat
pengeluaran biaya dalam menghadapi persaingan tersebut. Semakin ketat
persaingan tersebut, maka pendapatan suatu perusahaan akan semakin
berkurang. Persaingan ini ditimbulkan oleh keinginan perusahaan untuk
Gambar 2.5 Porter’s 5 Forces Model
2.4.2 Analisa SWOT
Analisa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) digunakan
banyak orang dalam membuat keputusan dan sebagai alat perencana. Merupakan
motode yang efektif dalam identifikasi dan menganalisa kekuatan dan kelemahan dan
menganalisa peluang dan ancaman di dalam beberapa situasi. Kekuatan dan
kelemahan dari sebuah sistem ditentukan oleh elemen internal ketika kekuatan
eksternal memiliki peluang dan ancaman. Kelebihan dari analisa SWOT adalah
mengandung kemudahan dalam pemahaman, mudah digunakan dan efisien. Jika
analisa ini digunakan dengan benar, maka SWOT merupakan teknik yang tepat untuk
identifikasi sebuah rekomendasi bagi sebuah organisasi. Analisa SWOT digunakan
untuk menganalisa celah yang ada dan untuk mempersiapkan rencana pengelolaan
Keseluruhan evaluasi dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari
suatu perusahaan disebut dengan analisa SWOT (Kotler, 2009, p.89). Analisa ini
merupakan cara untuk mengamati lingkungan pemasaran luar dan dalam suatu
perusahaan. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Berikut merupakan
uraian dari elemen – elemen SWOT, yaitu:
1. Kekuatan (strengths)
Merupakan suatu kegiatan perusahaan yang berjalan baik atau sumber
daya / keterampilan dan keunggulan – keunggulan lain yang
dikendalikan.
2. Kelemahan (weaknesses)
Merupakan suatu kegiatan organisasi yang tidak berjalan dengan baik
atau keterbatasan sumber daya, keterampilan dan kapabilitas yang
dibutuhkan oleh perusahaan.
3. Peluang (opportunities)
Merupakan faktor – faktor luar lingkungan positif atau menguntungkan perusahaan.
4. Ancaman (threats)
Merupakan faktor – faktor negatif di luar lingkungan atau situasi yang
Gambar 2.6 SWOT Matrix (Sumber : Humphrey & Albert, 2005)
2.5 Analisis Keuangan 2.5.1 Breakeven Analysis
Breakeven analysis adalah suatu alat yang digunakan oleh analis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada
konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta
mendapatkan profit (Titman et al, 2011). Dengan kata lain breakeven analysis
adalah suatu analisa berupa metode dimana revenue = cost sehingga terjadi
titik impas (tidak ada profit ataupun loss).
Menutur Titman et al. (2011, p431), untuk menggunakan metode
diproduksi atau berapa harga yang bisa ditetapkan per satuan unit barang agar
tidak mengalami loss dapat menggunakan formula berikut:
Rumus diatas digunakan untuk menghitung berapa jumlah barang yang harus
diproduksi jika ingin mencapai breakeven point.
Rumus di atas digunakan untuk menghitung berapa harga jual barang agar
mencapai breakeven unit price.
Fixed Cost: Biaya yang tidak secara langsung berhubungan dengan tingkat produksi atau output. Dengan kata lain, bahkan jika bisnis tidak memiliki
output atau memiliki high output maka tingkat fixed cost akan sama. Contoh: Depresiasi alat, biaya administrasi, R&D.
Variable Cost: Biaya yang tidak konstan dan berubah seiring dengan tingkat
output, sehingga variable expense sering dinyatakan dengan satuan unit. Contoh variable cost adalah raw materials, direct labor, bensin /operational
cost.
2.5.2 Financial Projections
Financial Projections merupakan pendapatan serta biaya yang dikeluarkan dalam periode waktu tertentu. Pada umumnya, perusahaan
pengeluaran perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya kemudian
menggabungkan trend yang terjadi di masa lalu ke dalam sebuah perencanaan
baru untuk meramalkan kondisi keuangan di perusahaan di masa mendatang.
Dengan adanya proyeksi keuangan ini dapat membantu perusahaan dalam
mengatur anggaran, penjualan, penggajian, proyeksi arus kas perusahaan,
meningkatkan control manajemen operasi dan menciptakan profitabilitas.
2.5.3 Capital Budgeting
Capital budgeting (Penganggaran modal) adalah proses perencanaan yang digunakan untuk menemukan apakah investasi jangka panjang dari
sebuah organisasi atau perusahaan layak untuk dilakukan atau tidak (Titman
et al, 2011). Capital budgeting merupakan garis besar rencana pengeluaran
aktiva tetap. Penganggaran modal yang efektif akan menaikkan ketepatan
waktu dan kualitas dari penambahan aktiva.
Menurut Titman et al. (2011, p431), komponen-komponen dari Capital
Budgeting adalah:
1. Payback Period
Payback Period adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas pada investasi
2. Net Present Value
Net Present Value merupakan konsep yang digunakan untuk mengukur tingkat kekayaan atau kelayakan suatu proyek/investasi.
diukur dengan cara menghitung selisih antara arus kas masuk
dengan arus kas keluar.
Perhitungan Net Present Value (NPV) dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Dimana:
NPV: Net Present Value
Ct : Arus kas masuk seiring berjalannya waktu
C0 : Arus kas awal
r : Tingkat suku bunga
t : Jumlah periode
Tingkat kelayakan suatu proyek/investasi dapat ditentukan sebagai
berikut:
1. NPV > 1, yang menunjukkan bahwa proyek/investasi layak
untuk dieksekusi
dan memberikan profit.
2. NPV = 1, yang berarti proyek/investasi tidak dapat
memberikan keuntungan
maupun kerugian
3. NPV < 1, menunjukkan bahwa proyek/investasi tidak layak
untuk dieksekusi
3. Internal Rate of Return
Internal Rate of Return (IRR) adalah suatu perhitungan rasio untuk mengukur tingkat suku bunga dari suatu investasi yang
menghasilkan NPV (Net Present Value) sama dengan nol. IRR
berfungsi untuk menentukan kelayakan suatu investasi dengan
membandingkan discount rate atau rate of return (Sheridan
et.al.,2011). Perhitungan Internal Rate of Return (IRR) dapat
dirumuskan sebagai berikut:
IRR > Discount Rate: investasi layak untuk ditanamkan
IRR = Discount Rate: investasi yang ditanamkan akan balik
modal
IRR < Discount Rate: investasi tidak layak untuk ditanamkan.
4. Return On Investment
ROI (singkatan bahasa Inggris : return on investment) dalam
bahasa Indonesia disebut laba atas investasi – adalah rasio
terhadap jumlah uang yang diinvestasikan. Jumlah uang yang
diperoleh atau hilang tersebut dapat disebut bunga atau
laba/rugi. Investasi uang dapat dirujuk sebagai aset, modal,
pokok, basis biaya investasi. ROI biasanya dinyatakan dalam
bentuk persentase dan bukan dalam nilai desimal. ROI tidak
memberikan indikasi berapa lamanya suatu investasi. Namun
demikian, ROI sering dinyatakan dalam satuan tahunan atau
disetahunkan dan sering juga dinyatakan untuk suatu tahun
kalendar atau fiskal. ROI juga dikenal sebagai tingkat laba
(rate of profit) atau hasil suatu investasi pada saat ini, masa lampau atau prediksi di masa mendatang. Atau bahasa
sederhananya ROI merupakan pengembalian keuntungan atas
investasi.
Cara menghitung ROI
ROI bisa juga diartikan sebagai rasio laba bersih terhadap
biaya. Rumus menghitung ROI adalah sebagai berikut :
2.5.4 Capital Expenditures
Capital expenditure adalah pengeluaran periodic untuk melakukan investasi terhadap peralatan yang termasuk sebagai asset perusahaan (Titman
et al, 2010). Investasi yang dimaksud tidak sebatas hanya pada pembelian
saja, namun juga pada saat perusahaan mengeluarkan dana untuk perbaikan
ataupun penggantian asset perusahaan.
2.5.5 Operating Expenditure
Operating Expenditure adalah dana yang dikeluarkan perusahaan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan tersebut (Titman et al, 2010).
Dana yang dikeluarkan bisasanya bersifat sebagai pengeluaran sehari-hari
yang digunakan untuk menjaga kelangsungan asset perusahaan dalam
melakukan aktivitas operasi sehari-hari.
2.5.6 Funding Requirements
Funding Requirements menjelaskan perincian biaya setiap variable yang dibutuhkan untuk menjalankan atau merealisasikan sebuah projek atau
rencana bisnis dan bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh
sumber pendanaan yang dibutuhkan. Sumber pendanaan sendiri bisa