• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUSAIR ITENAS POLBAN CAB.JABAR BBWS CITARUM DPSDA JABAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PUSAIR ITENAS POLBAN CAB.JABAR BBWS CITARUM DPSDA JABAR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

PRAKATA

Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya, Seminar Nasional Teknik Sumber Daya Air dengan tema PERWUJUDAN KETAHANAN AIR, PANGAN

DAN ENERGI DALAM RANGKA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DAN KEMANDIRIAN EKONOMI dapat dilaksanakan dengan baik pada hari Sabtu, 17 September 2016 di

Auditorium dr. Hindarto Joesman – UNJANI – Cimahi. Tema tersebut merupakan perwujudan dari dukungan civitas akademika dan peneliti bidang sumber daya air terhadap program yang dijalankan pemerintah yaitu NAWACITA.

Seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi maka kebutuhan air semakin meningkat terutama untuk keperluan domestik dan industri. Sementara itu, peningkatan alih fungsi lahan untuk keperluan permukiman, komersial, dan industri menyebabkan semakin banyaknya daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia menjadi kritis. Kondisi tersebut disebabkan juga oleh lemahnya penegakan hukum, kurang efisiennya tata kelola, dan perilaku masyarakat yang sering kali mengabaikan pentingnya kelestarian air dan lingkungan, sehingga menimbulkan konflik kepentingan pada pemanfaatan air.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi mengharuskan pemerintah untuk melakukan pemerataan pembangunan infrastruktur yang bertentangan dengan konsep pelestarian lingkungan. Berdasarkan kondisi tersebut maka dibutuhkan informasi, pengetahuan dan konsep untuk menciptakan inovasi yang mendukung pemerintah dalam mewujudkan pembangunan nasional. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan sumber daya air yang saat ini membutuhkan perhatian khusus dari seluruh kalangan termasuk didalamnya akademisi, peneliti, praktisi, pengamat lingkungan dan masyarakat.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Teknik Sumber Daya Air diharapkan menjadi salah satu acara untuk bertukar informasi dan pengetahuan antara seluruh pemangku kepentingan di bidang sumber daya air. Pada acara ini diharapkan dapat diperoleh ide/gagasan dalam pengelolaan sumber daya air yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemandirian ekonomi di Indonesia.

Seminar ini terselenggara berkat kerjasama antara 12 instansi yaitu: (1) Jurusan Teknik Sipil Universitas Jenderal Achmad Yani; (2) Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan; (3) Program Sipil Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung; (4) Jurusan Teknik Sipil Universitas Langlangbuana; (5) Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional; (6) Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Maranatha; (7) Departemen Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung; (8) Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air; (9) Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Jawa Barat; (10) Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (DPSDA) Provinsi Jawa Barat; (11) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum; dan (12) Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung.

Kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya seminar ini. Semoga seminar ini dapat memberikan manfaat bagi pemangku kepentingan di bidang sumber daya air dalam menentukan kebijakan yang mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan kemandirian ekonomi.

Bandung, September 2016 PANITIA

(4)

ii

DAFTAR ISI

PRAKATA ... i

DAFTAR ISI ... ii

SAMBUTAN KETUA PANITIA ... v

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI ... vi

SEKILAS TENTANG SEMINAR ... vii

Latar Belakang ... vii

Tujuan ... vii

Tema ... vii

Sub Tema ... viii

Peserta ... viii

Sekretariat ... viii

Tim Reviewer... viii

Susunan Kepanitiaan ... ix

A. Pengarah : ... ix

B. Panitia Pelaksana ... ix

SUSUNAN ACARA SEMINAR ... ix

UCAPAN TERIMA KASIH ... xi

SUB TEMA : KONSERVASI SUMBER DAYA AIR PEMANFAATAN AIR HUJAN DENGAN SARANA TEKNOLOGI ABSAH BAGI PENYEDIAAN AIR BAKU MANDIRI, STUDI PERENCANAAN KECAMATAN BEKASI UTARA KOTA BEKASI (Mohammad Imamuddin) ... 1

ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN AIR SUNGAI SA‘DAN TERHADAP KUALITAS AIR PDAM TORAJA UTARA (Reni Oktaviani Tarru, Harni Eirene Tarru, Karatego) ... 17

PANEN AIR HUJAN – KELOLA AIR HUJAN – LINDUNGI AIR TANAH (Susilawati, Nisanson) ... 29

STUDI PEMENUHAN AIR BAKU KOTA DAN KABUPATEN KUPANG – NTT (Marthen Y. Haning, Robertus Wahyudi Triweko, Salahudin Gozali) ... 35

RE-USE AIR PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DENGAN MENGGUNAKAN MEMBRAN GUNA MENGURANGI DAYA RUSAK AIR DI PULAU UNTUNG JAWA DKI JAKARTA (Mohammad Imamuddin) ... 46

PERENCANAAN SUMUR RESAPAN PADA SISTEM DRAINASE GEDUNG PUSAT PEMBELAJARAN ARNTZ-GEISE (Rista Ghonyvia Dwi Rachmawati, Doddi Yudianto, Steven Reinaldo Rusli) ... 60

(5)

iii STUDI PERENCANAAN SUMUR RESAPAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN DAN KOMERSIAL DI KOTA DEPOK

(Finna Fitriana, Doddi Yudianto, Steven Reinaldo Rusli) ... 69 PENJERNIHAN AIR METODE PENYARINGAN PASIR DAN DESINFEKTAN ALAMI BUAH KELOR

(Hindra Jaya Zefran, Maria Christine Sutandi) ... 79 PENERAPAN METODE ECOTECH GARDEN DI PERUMAHAN TORAJA HOME LAND- TORAJA UTARA

(Reni Oktaviani Tarru, Harni Eirene Tarru, Sapardi Sapan Bungin) ... 86 PEMETAAN DRAINASE JALAN DI BANDUNG TIMUR

(Dini Handayani) ... 95

SUB TEMA 2 : TATA KELOLA SUMBER DAYA AIR

ASPEK PENGELOLAAN TEKNOLOGI IPAL KOMUNAL BERBASIS MASYARAKAT

(Sri Darwati, Elis Hastuti, Fitrijani Anggraini) ... 112 KAJIAN NERACA AIR BENDUNGAN LEUWIKERIS KABUPATEN TASIKMALAYA JAWA BARAT (Yonathan Leonard Prasha, Bambang Adi Riyanto) ... 124 TATA KELOLA AIR WADUK TILONG UNTUK IRIGASI LAHAN KERING

(Isak Mesah, Robertus Wahyudi Triweko, Susilawati) ... 134 STUDI PEMANFAATAN AIR BUANGAN PERMUKAAN PADA DAERAH PERKOTAAN SEBAGAI AIR IRIGASI

(Binsar Silitonga)... 143 STUDI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU SABU

(Aprianus M.Y. Kale, Robertus Wahyudi Triweko, Salahudin Gozali) ... 150 KAJIAN PEMANFAATAN AIR EMBUNG HAEKRIT SECARA TERPADU DAN BERKELANJUTAN (Victor Frederick, Doddi Yudianto) ... 156 MODEL PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI WOLOWONA

(Bernadeta Tea, Robertus Wahyudi Triweko, Susilawati) ... 165 PENGEMBANGAN IRIGASI RAWA UNTUK KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN SAMBAS - KALIMANTAN BARAT

(Roni Farfian, Agustin Purwanti) ... 174 TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP PENERAPAN TEKNOLOGI DRAINPILE DI SEI AHAS KALIMANTAN TENGAH

(Arif Dhiaksa, Ganggaya Sotyadarpita) ... 188 PENENTUAN KAPASITAS POMPA BERDASAR LUAS AREA GENANGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE SPSS, STUDI KASUS DI DKI JAKARTA

(6)

iv

SUB TEMA 3 : MITIGASI BENCANA KEAIRAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN

TINJAUAN KINERJA FITUR-FITUR LOW IMPACT DEVELOPMENT PADA DRAINASE JALAN

(Dini Handayani) ... 211 KAJIAN INDEKS KEKERINGAN KEBASAHAN (SPI) TERHADAP NILAI OCEANIC NINO INDEX

(Levina, Wanny Adidarma, Putty Adila) ... 221 DATABASE PERINGATAN DINI BANJIR/KEKERINGAN TERINTEGRASI BERBASIS KONSEP

CASE-BASED-REASONING (CBR)

(Pian Sopian Amsori, Ade Karma, William Marcus Putuhena) ... 228 PENANGANAN BANJIR AKIBAT PENYALAHGUNAAN FUNGSI SISTEM DRAINASE

(Try Pujianta Putra, Maria Christine Sutandi)... 237 STUDI PERBANDINGAN DISTRIBUSI HUJAN RENCANA SISTEM DRAINASE KAWASAN PESONA SQUARE

(Irwandi, Doddi Yudianto, Obaja Triputra Wijaya) ... 248 KAJIAN PEREDAM ENERGI GANDA BENDUNG KRUENG PASEPROVINSI ACEH

(Santoso Hartanto, F.Yiniarti Eka Kumala, Slamet Lestari) ... 258 STUDI PERANCANGAN HIDRAULIK BANGUNAN PENGELAK PADA BENDUNGAN LEUWI KERIS TASIKMALAYA

(Christopher Andhika Putra, Bambang Adi Riyanto) ... 267 PEMODELAN HIDROGRAF BANJIR DI HEC-HMS DENGAN PARAMETER HIDROLOGI DARI HEC-GEOHMS STUDI KASUS PADA DAS BOGOWONTO

(Dini Sasri Wiyanti, Bambang Adi Riyanto) ... 276 MANAJEMEN BENCANA BANJIR AKIBAT KEGAGALAN BENDUNGAN (STUDI LOKASI BENDUNGAN BATUJAI, KABUPATEN LOMBOK TENGAH)

(Kukuh Prasetyo Pangudi Utomo, Parindra Ardi Wardhana) ... 295 EFEKTIVITAS ALTERNATIF PENGENDALIAN BANJIR SECARA STRUKTURAL DI SUNGAI TEMBUKU, KOTA JAMBI

(Steven Reinaldo Rusli, Arisesar Hidayah, Doddi Yudianto) ... 317 STUDI PENGENDALIAN BANJIR PADA BATANG KURANJI PADANG SUMATERA BARAT DENGAN TANGGUL

(7)

Bandung, 17 September 2016 156

KAJIAN PEMANFAATAN AIR EMBUNG HAEKRIT SECARA TERPADU DAN

BERKELANJUTAN

Victor Frederick1*, Doddi Yudianto1

1Program Studi Magister Teknik Sipil, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan

*[email protected] Abstrak

Embung Haekrit yang terletak di Desa Manieten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diresmikan pada Tgl. 10 Juni 2012, memiliki volume tampungan bersih 2,39 juta m3, dimanfaatkan untuk irigasi seluas 300 Ha dan air baku sebesar 30 lt/det. Didorong oleh berbagai

kepentingan ini, maka perlu suatu kajian pemanfaatan air dari embung ini secara terpadu dan berkelanjutan. Langkah awal dilakukan analisa ketersediaan air maupun kebutuhan air untuk berbagai kepentingan yang memanfaatkan air embung ini. Selanjutnya dilakukan simulasi berbagai pola operasi air embung dengan menganalisa keseimbangan air dalam suatu program sederhana dari Microsoft Excel. Dari berbagai simulasi ini dapat ditemukan pola operasi yang lebih tepat, artinya dengan ketersediaan air yang ada dapat dipenuhi berbagai kepentingan secara maksimal. Dalam kajian ini, juga dilakukan analisa pola operasi saat-saat air terbatas maupun berlebih, dalam suatu alokasi air secara terpadu, yang akan dijadikan pegangan dalam penetapan aturan daerah guna mengatur pemanfaatan air embung yang berkelanjutan. Dari hasil kajian yang memberikan pola operasi air Embung Haekrit secara jelas dan terinci dengan diikuti penetapan peraturan daerah yang tepat, maka pemanfaatan air Embung Haekrit dapat dilakukan secara adil, bijak dan berkelanjutan, yang akan mendukung kedaulatan pangan maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kata Kunci: pemanfaatan air embung, ketersediaan dan kebutuhan air, pola operasi, terpadu dan berkelanjutan.

LATAR BELAKANG

Embung Haekrit yang terletak di Desa Manieten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diresmikan pada Tgl. 10 Juni 2012. Lokasi embung ini adalah sebagai berikut:

Dusun : Lalosuk Desa : Manleten Kecamatan : Tasifeto Timur Kabupaten : Belu

Koordinat : 090 080 08,9‘ LS dan 1240 550 07,8‘ BT

Peta lokasi embung ini dijelaskan seperti dalam gambar 1. Embung Haekrit berada di Sungai Mota Baukoek dengan luas DAS 29.40 km2, memiliki tampungan total 2.64 juta m3, dengan rincian: tampungan

efektif sebesar 2.20 juta m3 dan tampungan sedimen 0,44 juta m3. Tampungan bersih saat ini adalah 2.39

juta m3. Embung ini mempunyai batas DAS, luas DAS dan luas genangan seperti ditunjukkan dalam

(8)

Bandung, 17 September 2016 157

Gambar 1. Peta lokasi Embung Haekrit (Balai Bendungan, 2010)

Gambar 2. Batas dan luas DAS serta genangan Embung Haekrit (Balai Bendungan, 2010)

Embung ini dimanfaatkan untuk irigasi seluas 300 Ha dan air baku sebesar 30 lt/det. Didorong oleh berbagai kepentingan ini, maka perlu suatu kajian pemanfaatan air dari embung ini secara terpadu dan berkelanjutan.

Kajian pustaka untuk analisis ketersediaan air dilakukan dengan metode FJ. Mock (Mock 1973). Metode Mock merupakan salah satu dari sekian banyak metoda perhitungan debit yang menjelaskan hubungan rainfall-runoff seperti pada Gambar 3 berikut ini.

(9)

Bandung, 17 September 2016 158

Gambar 3. Bagan alir model Rainfall-Runoff (Mock, 1973)

Perhitungan debit sintetis dari hujan dengan metoda ini sangat tergantung dari beberapa faktor ialah: a) Rainfall atau presipitasi atau hujan (berbentuk seri atau andalan dengan waktu ¼ bulanan, ½

bulanan, bulanan)

b) Klimatologi: temperatur, penyinaran matahari, kelembaban relatif dan kecepatan angin, yang diharapkan dari sini adalah besaran evapotranspirasi potensial

c) Kondisi cathment area (DAS) dari titik tinjau di sungai, berupa luasan areal DAS, kondisi penutup DAS (landcover), jenis tanah dan pohon sebagai penutupnya (menentukan kedalaman zona akar atau zona penyimpanan air permukaan)

d) Kapasitas infiltrasi di DAS dan kapasitas penyimpanan air di dalam tanah setelah zona akar (ground water storage).

Bentuk umum persamaan keseimbangan air adalah seperti rumus di bawah ini.

P = Ea + ∆GS + SRO + Bf (1)

Keterangan:

P : Presipitasi Ea : Evapotranspirasi

∆GS : Perubahan Ground Water Storage SRO : Surface Run Off

Bf : Aliran Dasar (Baseflow) TRO : Total Run Off

Keseimbangan air merupakan siklus tertutup yang terjadi selama satu tahun atau bertahun-tahun, tetapi untuk andalan dalam satu tahun akan diperhitungkan tidak terjadi perubahan ground water storage atau ∆GS = 0. Artinya awal ground water storage akan sama dengan bulan terakhir (Desember) dalam tinjauan satu tahun andalan. Sehingga persamaan water balance untuk periode satu tahun adalah seperti rumus berikut ini.

P = Ea + TRO (2)

Beberapa hal yang dijadikan acuan dalam prediksi debit andalan dengan metoda Mock sehubungan dengan water balance adalah:

a)

b) Jumlah total evapotranspirasi aktual dan total run off selama satu tahun harus sama dengan total presipitasi yang terjadi dalam tahun itu, atau memenuhi persamaan P = Ea + TRO.

Tetapi tidak berlaku untuk perhitungan debit sepanjang beberapa tahun atau berbentuk seri beberapa tahun, awal dari perhitungan ground water storage (VGS) cukup diperkirakan dan bisa dikoreksi dengan adanya kalibrator berupa hasil pengukuran debit di lapangan. Dengan tetap memperhatikan kondisi batas

water balance di atas, maka prediksi debit andalan dengan metoda Mock akan akurat.

Analisis kebutuhan air terdiri dari kebutuhan air irigasi dan kebutuhan air domestik. Kebutuhan air irigasi dihitung dengan menggunakan program komputer CropWat 8 (FAO, 2008), sedangkan kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan analisis perkembangan penduduk dan standar kebutuhan air domestik yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum.

Program CropWat 8 ini terdiri dari perhitungan-perhitungan: 1) Evapotranspirasi potensial dengan metode Penman Modifikasi, 2) Jenis-jenis tanaman dengan koefisiennya yang didasarkan pada pertumbuhan tanaman, 3) Jenis-jenis tanah dengan karakteristiknya, 4) Kebutuhan air tanaman, 5) pola tanam dalam suatu layanan daerah irigasi, 6) Jadual pemberian air irigasi dan 7) Perhitungan kebutuhan air irigasi tiap interval waktu pada suatu layanan daerah irigasi. Dengan menggunakan program komputer tersebut, maka dapat dibuat simulasi beberapa alternatif pola tanam dengan luas potensial lahan kering yang dapat

(10)

Bandung, 17 September 2016 159

dikembangkan, maka dapat dilakukan analisa keseimbangan air untuk menemukan hasil yang optimal pengembangan pertanian lahan kering, dengan pemanfaatan air yang paling efektif.

Beberapa metode yang bisa digunakan untuk memproyeksikan jumlah penduduk pada tahun tertentu di masa yang akan datang adalah metode geometrik, dengan rumus berikut ini (Muliakusuma, 2000: 254):

Pn = Po (1 + r)n (3)

Keterangan:

Pn : Jumlah penduduk pada tahun n (jiwa)

Po : Jumlah penduduk pada tahun awal dasar (jiwa) r : Angka pertumbuhan penduduk (%)

n : Periode waktu (tahun)

Proyeksi kebutuhan air bersih mengacu pada perkiraan jumlah penduduk pada saat ini dan waktu mendatang, dihitung dengan rumus di bawah ini:

Kebutuhan Air (Q) = q x P/(24 x 60 x 60) (4) Keterangan:

Q : Kebutuhan air bersih (liter/detik)

Q : Kebutuhan air bersih rata-rata per orang (Tabel 1) P : Jumlah penduduk

Tabel 1. Standar kebutuhan air rumah tangga (domestic)

No. Jumlah Penduduk (Jiwa) Jenis Kota Jumlah Kebutuhan Air (l/jiwa/hari)

1. 2. 3. 4. 5. 6.  2.000.000 1.000.000 – 2.000.000 500.000 – 1.000.000 100.000 – 500.000 20.000 – 100.000 3000 – 20.000 Metropolitan Metropolitan Besar Besar Sedang Kecil  210 150 – 210 120 – 150 100 – 120 90 – 100 60 – 90

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum

METODOLOGI STUDI

Metodologi studi yang dilakukan, pertama-tama dilakukan analisis ketersediaan air maupun kebutuhan air untuk berbagai kepentingan yang memanfaatkan air embung ini. Selanjutnya dilakukan simulasi berbagai pola operasi air embung dengan menganalisis keseimbangan air dalam suatu program sederhana dari Microsoft Excel. Dari berbagai simulasi ini dapat ditemukan pola operasi yang lebih tepat, artinya dengan ketersediaan air yang ada dapat dipenuhi berbagai kepentingan secara maksimal. Dalam kajian ini, juga dilakukan analisis pola operasi saat-saat air terbatas maupun berlebih, dalam suatu alokasi air secara terpadu, yang akan dijadikan pegangan dalam penetapan aturan daerah guna mengatur pemanfaatan air embung yang berkelanjutan.

HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN

Hasil perhitungan ketersediaan air ditunjukkan seperti dalam tabel 2. Dari hasil perhitungan ketersediaan air tersebut dapat dirangkum bahwa ketersediaan airnya adalah sebagai berikut:

a) Debit rata-rata bulanan maksimum terjadi pada bulan Pebruari adalah sebesar 4,588 m3/detik. b) Debit rata-rata bulanan minimum terjadi pada bulan September adalah sebesar 0,103 m3/detik. c) Sedangkan rata-rata pertahunnya adalah sebesar 1,349 m3/detik.

Debit andalan (80%) atau debit andalan maksimum terjadi pada bulan Januari sebesar 1,524 m3/detik,

(11)

Bandung, 17 September 2016 160

Tabel 2. Perhitungan ketersediaan air dan debit andalan Embung Haekrit

Tahun Ketersediaan Air (m3/dtk)

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sep Okt Nop Des

1997 7.077 10.555 2.901 1.277 0.709 0.479 0.255 0.153 0.095 0.055 0.126 3.238 1998 1.646 3.708 2.859 4.336 0.904 0.587 0.325 0.182 0.144 0.788 2.938 1.974 1999 4.472 8.000 3.231 3.016 0.848 0.551 0.305 0.183 0.114 0.135 0.112 3.217 2000 0.534 0.162 0.134 0.060 0.031 0.009 0.005 0.003 0.002 0.188 0.063 0.040 2003 2.664 5.330 1.424 0.630 0.366 0.227 0.132 0.079 0.049 0.121 0.109 6.057 2004 4.766 5.301 3.851 0.977 1.334 0.478 0.257 0.154 0.096 0.056 0.143 0.619 2005 1.511 1.970 1.849 1.067 0.354 0.199 0.115 0.069 0.043 0.077 0.418 1.179 2006 2.574 3.770 4.218 3.138 0.834 0.483 0.280 0.168 0.104 0.061 0.133 1.208 2007 3.546 4.886 3.370 2.255 0.707 0.426 0.239 0.143 0.089 0.074 0.135 2.054 2008 4.472 8.000 3.231 3.016 0.848 0.551 0.305 0.183 0.114 0.135 0.112 3.217 2009 1.256 2.192 1.051 0.326 0.229 0.119 0.066 0.040 0.025 0.014 0.412 1.165 2010 2.208 1.176 0.332 0.846 0.771 0.235 0.178 1.356 0.357 0.341 1.576 2.125 2011 3.141 4.147 2.512 2.881 0.703 0.417 0.242 0.145 0.090 0.540 0.268 2.682 2012 1.545 1.360 3.214 0.632 0.391 0.203 0.118 0.071 0.057 0.046 0.079 2.457 2013 1.635 1.238 0.739 0.211 0.369 0.165 0.086 0.034 0.021 0.043 0.130 1.757 2014 2.980 1.200 1.126 0.999 0.275 0.161 0.097 0.055 0.034 0.020 0.022 3.146 Jumlah 36.73 55.05 28.45 20.94 7.93 4.34 2.46 2.71 1.23 2.05 6.28 26.09 Rata-rata 3.061 4.588 2.371 1.745 0.661 0.362 0.205 0.226 0.103 0.170 0.523 2.174 Maksimum 7.077 10.555 4.218 4.336 1.334 0.587 0.325 1.356 0.357 0.788 2.938 6.057 Minimum 0.534 0.162 0.134 0.060 0.031 0.009 0.005 0.003 0.002 0.014 0.063 0.040 Rata-rata 1.349 1.349 Debit Andalan 1.524 1.215 0.864 0.447 0.307 0.163 0.091 0.046 0.028 0.045 0.091 1.171 (80 %)

Hasil perhitungan kebutuhan air terdiri dari kebutuhan air domestik dan kebutuhan air irigasi. Kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan perkembangannya, seperti dalam tabel berikut.

Tabel 3. Jumlah penduduk dan rumah tangga Kota Atambua, Tahun 2009-2013

No. Uraian Th 2009 Th 2010 Th 2011 Th 2012 Th 2013

1 Penduduk (Jiwa) 25743 26702 27957 28541 28857 2 Rumah Tangga (KK) 5375 5535 5680 5779 5803

Sumber: Kabupaten Belu Dalam Angka

Berdasarkan data tersebut, dapat ditentukan laju pertumbuhan penduduk dan rumah tangga di Kota Atambua adalah seperti Tabel 4.

Tabel 4. Laju pertumbuhan penduduk dan rumah tangga Kota Atambua Tahun 2009-2013

No. Laju Pertumbuhan Th 2009-2010 Th 2010-2011 Th 2011-2012 Th 2012-2013 Rata-rata

1 Penduduk (%) 3.7253 4.7000 2.0889 1.1072 2.9054

2 Rumah Tangga (%) 2.9767 2.6197 1.7430 0.4153 1.9387

Sumber: Hasil analisis, 2015

Mengacu pada rumus 3, maka proyeksi jumlah penduduk dan rumah tangga Kota Atambua saat ini (th 2015), jangka pendek (th 2020), jangka menengah (th 2025) dan jangka panjang (th 2030) sebagai berikut

Tabel 5. Proyeksi jumlah penduduk dan rumah tangga Kota Atambua Tahun 2015-2030

No. Uraian Proyeksi Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga

Th 2015 Th 2020 Th 2025 Th 2030

1 Penduduk (Jiwa) 30558 35263 40692 46957

2 Rumah Tangga (KK) 6030 6638 7307 8043

(12)

Bandung, 17 September 2016 161

Mengacu pada Tabel 1, standar kebutuhan air rumah tangga (domestic), untuk jumlah penduduk antara 20000-100000 jiwa, jumlah kebutuhan air berkisar antara 90-100 liter/jiwa/hari, dalam studi ini diambil 100 liter/jiwa/hari.

Berdasarkan rumus 4, maka dapat dihitung proyeksi kebutuhan air baku Kota Atambua pada saat ini (th 2015) sampai dengan tahun 2030. Hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air baku Kota Atambua adalah seperti Tabel 6.

Tabel 6. Proyeksi kebutuhan air baku Kota Atambua, Tahun 2015, 2020, 2025 dan 2030.

No. Uraian Proyeksi Kebutuhan Air (Liter/detik)

1. Saat Ini (Tahun 2015) 35,37 2. Jangka Pendek (Tahun 2020) 40,81 3. Jangka Menengah (Tahun 2025) 47,10 4. Jangka Panjang (Tahun 2030) 54,35

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Hasil perhitungan kebutuhan air irigasi, dengan pola tanam seperti dalam Tabel 7, ditunjukkan seperti dalam Tabel 8.

Tabel 7. Pola tanam untuk daerah irigasi D.I. Haekrit

(13)

Bandung, 17 September 2016 162

Dari perhitungan kebutuhan air irigasi untuk seluruh DI. Haekrit, dapat dilihat bahwa kebutuhan air irigasi terbesar terjadi pada bulan Agustus sebesar 0.69 liter/detik/hektar. Tabel 9 berikut ini menunjukkan jadual pemberian air irigasi untuk seluruh DI. Haekrit. Dari jadual pemberian air untuk irigasi, dan kebutuhan air domestik penduduk Atambua, maka dapat disimulasikan pola operasi Embung Haekrit guna memenuhi kebutuhan air irigasi 300 ha dan air minum untuk jangka panjang. Grafik neraca air untuk saat ini (Th. 2015) dan untuk jangka panjang (Th. 2030) ditunjukkan seperti pada Gambar 4 dan 5.

Gambar 4. Grafik neraca air Embung Haekrit Tahun 2015

Gambar 5. Grafik neraca air Embung Haekrit, jangka panjang (Tahun 2030) Tabel 9. Jadwal pemberian air irigasi untuk seluruh DI. Haekrit

(14)
(15)

Bandung, 17 September 2016 164 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dari hasil kajian yang memberikan pola operasi air Embung Haekrit seperti dalam gambar 4 dan 5, dapat dilihat bahwa dalam tahun 2015, ketersediaan air total tidak termanfaatkan secara optimal, sedangkan dalam proyeksi tahun 2030, ketersediaan air total mendekati proyeksi kebutuhan air total. Hal ini menunjukka bahwa dengan menyiapkan pola operasi yang jelas dan terinci dengan diikuti penetapan peraturan daerah yang tepat, maka pemanfaatan air Embung Haekrit dapat dilakukan secara adil ddan efisien, bijak dan berkelanjutan, yang akan mendukung kedaulatan pangan maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat

REFERENSI

Anonim. Standar Kebutuhan Air Rumah Tangga. Departemen Pekerjaan Umum.

Balai Bendungan, 2010. Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Embung Haekrit, Kabupaten Belu. FAO, 2008. CropWat 8, computer program for windows.

FJ. Mock, 1973. Debit Andalan.

Muliakusuma, 2000. Analisa Regresi Forecast Produksi Air. Jurnal Teknik Pengairan, halaman 254, Unibraw, Malang.

Gambar

Gambar 2.  Batas dan luas DAS serta genangan Embung Haekrit (Balai Bendungan, 2010)
Tabel 3.  Jumlah penduduk dan rumah tangga Kota Atambua, Tahun 2009-2013  No.  Uraian  Th 2009  Th 2010  Th 2011  Th 2012  Th 2013
Tabel 6.  Proyeksi kebutuhan air baku Kota Atambua, Tahun 2015, 2020, 2025 dan 2030.
Gambar 4.  Grafik neraca air Embung Haekrit Tahun 2015

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun IG tidak dapat diprediksi hanya dari satu komponen kimia bahan pangan saja, namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa IG beras Memberamo Instan Fungsional (BMIF)

3 Dosen yang melakukan penulisan buku harus memenuhi anatomi (format) buku ajar sesuai dengan kriteria format baku buku ajar yang berlaku di Universitas

Definisi yang diajukan tampak lebih konseptual dan dan menjadi sulit dalam penerapannya pada penderita, misalnya definisi yang diajukan oleh kelompok studi

Pasir Pengaraian, 06 Oktober 2011 Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Rokan

Fire alarm protection (alarm kebakaran) merupakan salah satu alat pemadam kebakaran yang akan berbunyi ketika terjadi kebakaran. Semua komponen dari alarm kebakaran

(4) Bupati dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan

Pada kenyataanya kinerja guru dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan dengan adanya motivasi, kebanyakan orang telah dimotivasi untuk melakukan pekerjaan

Hal ini akibat penambahan HF pada sampel karbon sehingga senyawa yang sebelumnya tersembunyi dalam pori karbon sekam padi menjadi keluar sehingga terbaca pada