• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN LAPORAN KEMAJUAN 1-1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN LAPORAN KEMAJUAN 1-1"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

Bab ini membahas mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Maksud, Tujuan, dan Sasaran, (3) Ruang Lingkup: Wilayah Perencanaan, Materi, dan Waktu Perencanaan, (4) Fungsi dan Manfaat RZWP3K (5) Pendekatan dan Metodologi, dan (6) Sistematika Pembahasan.

(2)

1.1 LATAR BELAKANG

Sumberdaya pesisir dan lautan, merupakan salah satu modal dasar pembangunan saat ini, disamping sumberdaya alam darat. Di dalam lautan terkandung sumber pangan yang sangat besar yaitu ikan dan rumput laut. Sumberdaya laut lainnya adalah bahan tambang lepas pantai yang berperan penting untuk menyuplai energi, serta masih banyak lagi potensi sumberdaya hayati dan non hayati laut lain sehingga peranan sumber daya pesisir dan laut semakin penting untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Wilayah pesisir merupakan tempat bertemunya berbagai kepentingan pembangunan baik pembangunan sektoral maupun regional serta mempunyai dimensi internasional. Berbagai kegiatan dan pembangunan yang intensif dilakukan seperti pelabuhan, pertambangan, perikanan, industri, pariwisata, maupun pemanfaatan sumber daya alam secara langsung. Perbedaan yang mendasar secara ekologis di wilayah pesisir sangat berpengaruh pada aktifitas masyarakatnya.

Kerentanan perubahan secara ekologis berpengaruh secara signifikan terhadap usaha perekonomian yang ada di wilayah tersebut, karena ketergantungan yang tinggi dari aktivitas ekonomi masyarakat dengan sumberdaya ekologis tersebut. Jika sifat kerentanan wilayah tidak diperhatikan maka akan muncul konflik antara kepentingan memanfaatkan sumberdaya pesisir untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan pembangunan ekonomi dalam jangka pendek dengan kebutuhan generasi yang akan datang terhadap sumberdaya pesisir.

Fenomena degradasi biofisik lingkungan akibat pemanfaatan yang tidak berkelanjutan semakin mengkhawatirkan terutama degradasi ekosistem pesisir (mangrove dan terumbu karang), pencemaran, maupun perubahan garis pantai yang menyebabkan instrusi air laut dan kerusakan infrastruktur pembangunan. Berdasarkan kondisit tersebut maka diperlukan kemampuan pemerintah daerah dalam mengkoordinasikan berbagai perencanaan sektor melalui pendekatan secara komprehensif agar pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil dapat terintegrasi, bersifat lestari dan tidak merusak ekosistem.

Dalam hal ini, salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah mengatur pengalokasian ruang atau zona wilayah pesisir untuk dapat digunakan dalam memaksimalkan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Sesuai UU 27 tahun 2007, tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Zonasi wilayah pesisir pada hakekatnya merupakan suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan

(3)

potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir.

Kabupaten Lingga, secara administrasif memiliki wilayah seluas 211.772 Km2 dengan 95,09 % adalah perairan laut. Struktur geografis terdiri dari gugusan pulau-pulau dengan selat dan alur laut sempit mencapai jumlah ± 606 pulau. Kondisi perairan yang cukup luas menyimpan potensi sumberdaya di bidang perikanan dan kelautan yang besar, sehingga sangat penting diberdayakan secara optimal, dimanfaatkan dan dikembangkan untuk keberlangsungan pembangunan masyarakat di Kabupaten Lingga. Pemerintah Kabupaten yang mempunyai wilayah laut, sesuai dengan UU No. 27 tahun 2007 diwajibkan menyusun Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Rencana zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumberdaya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Sebagaimana yang telah diamanatkan pula di dalam Rancangan Perda RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031, yang saat ini dalam proses legalisasi, bahwa untuk perencanaan pola ruang laut di Kabupaten Lingga akan diatur lebih lanjut dalam.

Dengan demikian, Pemerintah Kabupaten Lingga perlu menyusun dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga, dalam rangka memelihara keberlanjutan sumberdaya pesisir dalam jangka panjang serta mengeliminir berbagai faktor tekanan terhadap ekosistem pesisir akibat kegiatan yang tidak sesuai (incompatible).

1.2 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

Maksud dilaksanakannya kegiatan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga ini adalah untuk menyediakan dokumen perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dalam jangka panjang (20 tahun kedepan) sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan serta menjadi acuan bagi penyusunan rencana zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi.

Tujuan dari kegiatan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga ini adalah:

a. Meningkatkan pemahaman semua pihak terkait tentang pentingnya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara optimal, efisien dan

(4)

berkelanjutan.

b. Meningkatkan upaya–upaya pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau- pulau kecil secara terpadu di Kabupaten Lingga.

c. Mendorong peran serta dan keterpaduan antar stakeholder baik pemerintahan, antar instansi, swasta dan masyarakat dalam mengembangkan upaya pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau–pulau kecil yang bertanggung jawab.

d. Memberikan panduan bagi instansi-instansi di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Lingga, pihak swasta, masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya tentang strategi pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga.

e. Identifikasi potensi ekonomi di wilayah pesisir Kabupaten Lingga. f. Identifikasi sarana dan prasarana pendukung kegiatan ekonomi Pesisir g. Menyusun rencana pengembangan kegiatan ekonomi wilayah pesisir. h. Identifikasi programprogram peningkatan ekonomi wilayah pesisir.

Sedangkan Sasaran dari kegiatan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga ini antara adalah:

a. Sasaran dari kegiatan ini adalah Tersusunnya Rencana Pengembangan Wilayah Pesisir dan Pulau–Pulau Kecil agar tercipta peluang untuk mewujudkan perekonomian terpadu, program-program peningkatan ekonomi wilayah pesisir sesuai dengan daya dukung wilayah pesisir di Kabupaten Lingga.

b. Memberikan informasi bagi pemerintah daerah dalam pengambilan keputusan dalam pengembangan ekonomi wilayah pesisir Kabupaten Lingga.

1.3 RUANG LINGKUP

1.3.1 RUANG LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga ini, ditetapkan bahwa Kawasan Rencana Zonasi mencakup semua wilayah kecamatan di pesisir dan saluran air yang ditemukan di Kabupaten Lingga. Secara spesifik, batas wilayah daratan untuk Rencana Zonasi ditetapkan sama dengan batas administrasi kecamatan, dan batas kearah laut sampai 4 mill laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas atau ke arah perairan kepulauan.

(5)

Gambar 1.1

(6)

1.3.2 RUANG LINGKUP MATERI RZWP3K

Adapun ruang lingkup materi Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga ini terdiri atas:

A. PENGUMPULAN DAN KOMPILASI DATA

Dimana kegiatan yang dilakukan pada tahap pengumpulan dan kompilasi data adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Survei, terdiri dari;

 Pembuatan checklist pengumpulan data dan instrument pengumpulan data yang memuat kebutuhan data yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan;

 Pembuatan program kerja yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan Survei;

 Persiapan personil (Surveior).

2. Pelaksanaan Survei yang dalam pelaksanaannya dapat dikelompokan menjadi 2 kegiatan, yakni:

 Survei instansional, merupakan kegiatan pengumpulan data sekunder ke SKPD terkait baik dari SKPD Pemerintah Kabupaten Lingga maupun dari luar daerah Kabupaten Lingga.

 Survei lapangan, merupakan kegiatan pengumpulan data langsung ke lokasi pengembangan ekonomi pesisir untuk menemukan permasalahan, hambatan, potensi dan tantangan baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan manusia di lokasi tersebut. Kegiatan ini berupa observasi lapangan, wawancara langsung dengan masyarakat di lokasi pengembangan ekonomi pesisir ataupun dengan penyebaran formulir Survei.

3. Evaluasi dan Tabulasi, dimana kegiatan ini dilaksanakan dengan mengevaluasi dari data yang sudah terkumpul.

B. ANALISIS DAN KAJIAN

Dalam rangka Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga, maka diperlukan kajian menyeluruh terhadap semua aspek kunci pengembangan wilayah ekonomi pesisir sebagai data dasar, yang meliputi:

1. Potensi ekonomi kawasan yang terdiri dari:

 Sumberdaya alam dan produk unggulan yang terfokus sebagai penggerak perekonomian;

(7)

pengelolaan pengembangan ekonomi kawasan pesisir dan pengembangan bisnis;

 Sumberdaya prasarana dan sarana pendukung pengembangan bisnis sektor perikanan dan produk unggulan masyarakat pesisir.

2. Kebijakan pembangunan sektoral dan pembangunan wilayah pesisir dalam rangka sinkronisasi dan keterpaduan kebijakan ekonomi kawasan pesisir; 3. Faktor penghambat dan peluang dalam pengembangan sub sektor

perikanan dan produk unggulan; dan

4. Berbagai peluang kerjasama antar wilayah terkait dengan semua aspek kunci pengembangan ekonomi pesisir.

Dari analisa di atas kemudian dilakukan proyeksi arah, skenario dan tahapan pengembangan pengembangan ekonomi pesisir dalam jangka menengah, yang memuat:

1. Strategi, arah kebijakan, dan pentahapan pengembangan minapolitan dalam jangka lima tahunan, yang dibagi ke dalam pencapaian sasaran kuantitatif dan kualitatif setiap tahun;

2. Setiap sasaran kuantitatif dan kualitatif per lima tahunan, disertai dengan indikator keberhasilan dan tolok ukur pengembangan sektor dan produk unggulan secara terfokus dan pengembangan semua aspek ekonomi pesisir; dan

3. Strategi, arah kebijakan, dan pentahapan pengembangan ekonomi pesisir dikaitkan dengan upaya mendorong pembangunan daerah tertinggal disekitarnya.

C. RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

KABUPATEN LINGGA

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Lingga memuat pembahasan substansi mengenai:

1. Tujuan, Kebijakan, dan Strategis penataan ruang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

2. Rencana struktur ruang wilayah pesisir Kabupaten Lingga

Rencana struktur ruang terbentuk oleh adanya hubungan dan keterkaitan antar pusat-pusat kegiatan yang menjadi bagian dari sistem konstelasi regional. Rencana struktur ruang meliputi rencana sistem pusat permukiman dan rencana jaringan sistem prasarana, berfungsi untuk memberikan layanan bagi kawasan disekitarnya dan memberikan arahan pembangunan sistem jaringan prasarana bagi fungsi kegiatan yang ada

(8)

maupun fungsi kegiatan yang menunjang keterkaitan pusat-pusat kegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Rencana struktur ruang WP3K merupakan pusat-pusat kegiatan yang berbasis pada pengembangan sumberdaya kelautan dan perikanan dan dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana di WP3K terutama jaringan transportasi, energi, dan komunikasi. Rencana struktur ruang WP3K ditetapkan berdasarkan pada rencana struktur ruang yang telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Lingga. Apabila berdasarkan hasil analisis diperlukan penambahan fitur terhadap rencana struktur ruang, baik pusat kegiatan ataupun jaringan prasarana, maka penambahan tersebut dijadikan rekomendasi saat dilakukan proses revisi ataupun review RTRW Kabupaten Lingga.

3. Rencana pola ruang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Lingga

Rencana pola ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga merupakan rencana distribusi peruntukan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Linggayang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi:

a. Konservasi

b. Kawasan strategis nasional tertentu c. Pemanfaatan umum

d. Alur laut

4. Penetapan Kawasan Strategis

Kawasan strategis WP3K Kabupaten Lingga merupakan bagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga yang penataan ruang WP3K-nya diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup Kabupaten Lingga terhadap ekonomi,sosial budaya, dan/atau lingkungan. Penentuan kawasan strategis WP3K Kabupaten Lingga lebih bersifat indikatif. Batasan fisik kawasan strategis WP3K Kabupaten Lingga akanditetapkan lebih lanjut di dalam rencana tata ruang kawasan strategis WP-3-K Kabupaten Lingga. Kawasan strategis WP3K Kabupaten Lingga diintegrasikan dengan kawasan strategis Kabupaten Lingga yang telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Lingga. 5. Arahan Pemanfaatan Ruang

Arahan pemanfaatan ruang WP3K Kabupaten Lingga merupakan perwujudan RZWP3K yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama

(9)

penataan/pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga. Secara umum, arahan pemanfaatan ruang WP3K harus secara sistematis mengkaji opsi-opsi pemanfaatan sumberdaya. Keputusan-keputusan penggunaan sumberdaya yang bersifat permanen (irreversible) harus dibatasi sedapat mungkin dan dipertimbangkan secara hati-hati. Indikasi program utama dalam arahan pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga meliputi:

a. Usulan program utama b. Lokasi

c. Besaran

d. Sumber Pendanaan e. Instansi Pelaksana

f. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan 6. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang

Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lingga adalah ketentuan yang diperuntukan sebagai alat penertiban penataan ruang WP3K, meliputi pernyataan kawasan/zona/sub zona, ketentuan perizinan, ketentuan pemberian insentif dan disinsentif, serta arahan pengenaan sanksi dalam rangka perwujudan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Lingga.

1.3.3 RUANG LINGKUP WAKTU PERENCANAAN

Kurun waktu Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau–Pulau Kecil di Kabupaten Lingga adalah jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan hingga akhir tahun perencanaan (20 tahun).

1.4 FUNGSI DAN MANFAAT RZWP3K

Fungsi Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah:

a. Acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) b. Acuan dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil

kabupaten;

c. Acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten;

(10)

kabupaten; yang dilakukan pemerintah, masyarakat dan swasta;

e. Pedoman untuk penyusunan rencana zonasi rinci di wilayah pesisir dan pulaupulau kecil kabupaten;

f. Dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten;

g. Acuan dalam administrasi pemanfaatan WP3K

Manfaat Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah:

a. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya WP3K;

b. Menjamin harmonisasi antara kepentingan pembangunan ekonomi dengan pelestarian Sumber daya pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

c. Mewujudkan keterpaduan pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan wilayah daratannya;

d. Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah kabupaten dengan wilayah sekitarnya.

1.5 PENDEKATAN DAN METODOLOGI

1.5.1 PENDEKATAN

Pendekatan didalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah: pendekatan perencanaan dan tahapan pekerjaan.

1.5.1.1 PENDEKATAN PERENCANAAN

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga akan dilakukan dengan beberapa pendekatan yang saling terintegrasi dan melengkapi. Pendekatan yang pertama adalah dengan menserasikan dan mensinkronkan kebijakan dan peraturan. Pendekatan lain yang akan dicoba dilakukan adalah dengan melihat kearifan lokal, kondisi sosial budaya, aspirasi, dan partisipasi masyarakat yang ada di Kabupaten Lingga. Pendekatan yang ketiga adalah melalui kajian keilmuan dengan menggunakan data-data yang akurat. Data-data akan diambil melalui Survei baik untuk mengambil data primer maupun data sekunder.

Penyusunan RZWP3K ini akan berusaha untuk melihat kebijakan dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah. RZWP3K Kabupaten Lingga ini akan menjadi bagian yang terpadu dengan proses perencanaan wilayah pesisir secara keseluruhan termasuk di tingkat Provinsi

(11)

Kepulauan Riau. Dalam penyusunan RZWP3K ini, salah satu kebijakan yang menjadi landasan adalah UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Undang-undang ini menyebutkan bahwa RZWP3K diserasikan, diselaraskan, dan diseimbangkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota yang dalam penyusunan ini adalah RTRW Kepulauan Riau dan RTRW Kabupaten Lingga. Hal-hal tersebut tersebut menjadi acuan dalam menyusun konsep dan fokus utama muatan RZWP3K yang akan disusun.

Secara lebih jelas dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16 Tahun 2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil menyebutkan bahwa pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota menyusun RZWP3K dengan memperhatikan:

a. RSWP3K (Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) provinsi atau kabupaten/kota;

b. Alokasi ruang untuk akses publik;

c. Alokasi ruang untuk kepentingan sosial, ekonomi, dan budaya dengan tetap memperhatikan kepemilikan serta penguasaan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;

d. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dengan RTRW provinsi dan/atau RTRW kabupaten/kota;

e. Integrasi ekosistem darat dan laut;

f. Keseimbangan antara perlindungan dan pemanfaatan berbagai jenis sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, jasa lingkungan, dan fungsi ekosistem dalam satu bentang alam ekologis (bioekoregion);

g. Perencanaan pembangunan lainnya seperti Rencana Tata Ruang Hutan/Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP), Kawasan Rawan Bencana, Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), prasarana perhubungan laut, kawasan pemukiman, dan kawasan pertambangan.

Dalam pendekatan kebijakan juga perlu dipertimbangkan kebijakan pembangunan di bidang kelautan dan perikanan yang mencakup aspek kewilayahan, aspek ekologis, aspek hukum, dan aspek sosial ekonomi. Selain itu dalam pendekatan perencanaannya juga harus mempertimbangkan kearifan lokal, kondisi sosial budaya, aspirasi, dan partisipasi masyarakat yang ada di Kabupaten Lingga.

(12)

Masyarakat Kabupaten Lingga yang masih memegang adat istiadat dan budaya-budaya lokal akan menjadi suatu masukan dalam menempatkan alokasi pemanfaatan sumber daya pesisir karena masyarakatlah yang nantinya akan berperan aktif dalam implementasi RZWP3K ini. Proses ini akan diakomodasi juga dalam bentuk pertemuan-pertemuan di daerah yang melibatkan berbagai macam pemangku kepentingan.

Gambar 1.2

Kerangka Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan RZWP3K Kabupaten Lingga

Sumber: Hasil Diskusi Tim, 2013

Database Sumber Daya Kelautan Kab. Lingga O U T P U T Ilustrasi Kondisi Pesisir dan Kelautan Kab. Lingga KEGIATAN KONDISI EKSISTING Insert Peta Lokasi Penyusunan Peta RZWP3K Kab. Lingga Analisis Potensi dan Daya Dukung

Sumber Daya Kelautan

Pengelolaan dan Restorasi Sumber

Daya Kelautan

Peta Rencana / Arahan Zonasi WP3K Kab. Lingga

Rencana / arahan:

a. alokasi ruang dalam rencana kawasan pemanfaatan umum, rencana kawasan konservasi, rencana kawasan strategis nasional tertentu, dan rencana alur; b. keterkaitan antarekosistem pesisir

dan pulau-pulau kecil dalam suatu bioekoregion.

PETA CEK LAPANGAN / SURVEY

Permasalahan Wilayah Pesisir, Laut & Pulau-pulau Kecil Kab.

Lingga

Pemanfaatan Lahan Pesisir &

Alur Laut

RTRW, RPJPD Kab. Lingga

Potensi Sumber Daya Kelautan

(13)

1.5.1.2 TAHAPAN PEKERJAAN

Tahapan pekerjaan yang akan dilakukan dalam penyusunan RZWP3K Kabupaten Lingga secara umum terdiri atas tahapan penyusunan dan proses legalisasi dalam bentuk peraturan daerah. Secara detail tahapan-tahapan yang akan dilakukan adalah:

1. Pembentukan Kelompok Kerja

Kelompok kerja (Pokja Penyusunan Rencana Zonasi) terdiri atas dua komponen yaitu tim pembina dan tim teknis yang disusun berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah (Bupati/Walikota). Kelompok kerja ini terdiri dari institusi pemerintah daerah yang memiliki kewenangan dan kepentingan di wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil serta pihak-pihak terkait lain di daerah seperti LSM dan perguruan tinggi. Pokja ini kemudian menyusun rencana kerja dan TOR/RAB.

2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data awal tentang isu, permasalahan, potensi, pemanfaatan ruang, dan pemanfaatan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil di lokasi perencanaan dalam hal ini Kabupaten Lingga yang digunakan sebagai data awal dalam membuat peta dasar, peta tematik, dan peta rencana kerja.

3. Survei Lapangan

Survei lapangan ini dilaksanakan untuk mengumpulkan data sekunder dan primer yang belum tersedia dalam rangka penyusunan katalog informasi sumber daya (sumber daya alam, sumber daya fisik/buatan, sumber daya sosial, dan sumber daya manusia).

4. Identifikasi Potensi Wilayah

Berdasarkan Survei lapangan maka selanjutnya akan dilakukan identifikasi potensi wilayah.

5. Penyusunan Dokumen Awal

Dokumen awal Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga berisikan tentang (i) deliniasi dan peta wilayah perencanaan; (ii) analisa data seperti analisis kebijakan, kewilayahan, sosial ekonomi, potensi dan pemanfaatan sumber daya, kesesuaian pemanfaatan ruang, serta daya dukung dan daya tampung; (iii) matriks kesesuaian pemanfaatan ruang; (iv) matriks keterkaitan antar zona; dan (v) draft dokumen awal rencana zonasi (termasuk album peta).

(14)

6. Konsultasi Publik/Pembahasan

Konsultasi publik dilakukan untuk mensosialisasikan hasil-hasil penyusunan rencana zonasi sampai pada tahap laporan awal, dimana sosialisasi ini dimaksudkan untuk menjaring masukan dan perbaikan data maupun informasi mengenai draft rencana zonasi yang telah disusun.

7. Penyusunan Dokumen Antara

Dokumen antara merupakan revisi atas dokumen awal yang telah dikonsultasikan kepada publik. Oleh sebab itu dokumen antara merupakan dokumen awal yang telah diperbaiki berdasarkan masukan dan informasi yang diperoleh dari berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Lingga atas wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di wilayahnya. Pada tahap penyusunan dokumen antara ini dapat saja dilakukan pengumpulan data kembali dan proses pengolahan data kembali jika memang dibutuhkan untuk menginformasikan tematik atau kondisi lapangan yang belum terangkum di dalam laporan awal.

8. Konsultasi Publik/Pembahasan

Konsultasi publik pada tahap ini dilakukan dengan maksud untuk memverifikasi atau memastikan kembali bahwa data dan informasi tematik yang menjadi masukan publik pada tahap konsultasi sebelumnya telah dirangkum dengan baik dan benar dalam draft rencana zonasi yang disusun, sehingga draft rencana zonasi dapat disepakati oleh semua pemangku kepentingan daerah.

9. Penyusunan Dokumen Final

Setelah draft rencana zonasi disepakati oleh semua pihak maka disusunlah dokumen final (akhir) dari Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga yang merangkum keseluruhan rangkaian proses, data dan informasi, serta analisis yang dilakukan sejak awal ke dalam tiga buku, yakni Buku Data dan Analisa, Buku Rencana Zonasi, Album Peta, dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kabupaten Lingga. Dokumen yang telah disepakati merupakan dokumen final yang kemudian ditindaklanjuti kedalam proses penetapannya dalam bentuk peraturan daerah.

Tahapan pekerjaan yang akan dilakukan disusun sesuai Ketentuan mengenai Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir yang dikeluarkan oleh Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010.

(15)

Gambar 1.3

Tahapan Pekerjaan Penyusunan RZWP3K Kabupaten Lingga

7 Dokumen Antara Penyusunan

Tahapan Proses/Output

1 Kelompok Kerja Pembentukan

2 Pengumpulan Data

3 Survey Lapangan

4 Potensi Wilayah Identifikasi

5 Dokumen Awal Penyusunan

6 Konsultasi Publik

8 Konsultasi Publik

 Menyusun Kelompok Kerja

 Menyusun Rencana Kerja

 Menyusun TOR/RAB

 Pengumpulan Data Sekunder

 Peta Dasar, Peta Tematik, Peta Rencana Kerja

 Pengumpulan Data Primer

 Informasi Kondisi Wilayah Pesisir

 Mengidentifikasi Jenis dan Jumlah Sumberdaya

 Identifikasi pemanfataan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil

 Identifikasi potensi pengembangan

 Analisa Data: Analisis Kebijakan, Kewilayahan, Sosial, Potensi, dan Pemanfaatan sumberdaya, Pemanfaatan Ruang, Kesesuaian Ruang, Daya Dukung

 Menyusun Matriks Keterkaitan Antar Zona

 Membuat Draft Awal Rencana Zonasi dan Album Peta

 Menyampaikan draft awal Rencana Zonasi

 Menjaring masukan untuk menilai kelayakan/ kesesuaian tentang draft zona yang dibuat

 Memeriksa konsistensi draft awal Rencana Zonasi dengan RTRW dan aturan-aturan lain

 Kesepakatan awal tentang draft rencana zonasi

 Revisi Dokumen Awal

 Menyampaikan hasil revisi draft Rencana Zonasi Informasi Kondisi Wilayah Pesisir

 Kesepakatan untuk Finalisasi Rencana Zonasi 9 Dokumen Final Penyusunan  Dokumen Final

10 Penetapan  Mengajukan Rencana Zonasi untuk Pengesahan

(16)

1.5.2 METODODOLOGI

Metodologi didalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah: metodologi pengumpulan data, metode analisis data, perumusan struktur ruang, dan perumusan pola ruang.

1.5.2.1 METODE PENGUMPULAN DATA

Data merupakan keterangan objektif tentang suatu fakta baik dalam bentuk kuantitatif, kualitatif, maupun gambar visual (images) yang diperoleh baik melalui observasi langsung maupun dari yang sudah terkumpul dalam bentuk cetakan atau perangkat penyimpan lainnya. Data ini selanjutnya akan diolah menjadi suatu informasi sehingga ditemukanlah suatu interpretasi.

Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh gambaran awal tentang isu, permasalahan, potensi, pemanfaatan ruang, dan pemanfaatan sumber daya laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Lingga yang digunakan sebagai data awal dalam membuat peta dasar, peta tematik, dan peta rencana kerja. Selain itu pengumpulan data dan informasi dapat dilakukan kepada sumber kedua yaitu lembaga atau institusi yang telah melakukan proses pengumpulan data lapangan dan mendokumentasikannya dalam bentuk laporan, buku, diagram, peta, foto, dan media penyimpanan lainnya (Survei data sekunder). Pengumpulan dan pengolahan data dan informasi dapat dilakukan melalui:

1. Survei Instansi

Survei instansi ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi sekunder sesuai dengan kebutuhan analisa yang akan dilakukan. Data ini merupakan data pendukung dalam penyunan RZWP3K Kabupaten Lingga. Survei instansi ini dilakukan pada:

a. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga.

b. Bappeda Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga.

c. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga.

d. BLH Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga. e. Badan Pusat Statistik.

f. Dinas/instansi lain yang terkait permasalahan pantai, pesisir, dan perikanan serta kelautan.

g. Instansi lain yang telah melakukan kajian terkait pesisir Kabupaten Lingga.

(17)

2. Inventarisasi Data Dasar Spasial

Data dasar spasial yang dimaksud adalah berupa peta-peta yang diperoleh melalui instansi yang berwenang yaitu Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL untuk peta laut. Selain itu dicoba juga untuk memanfaatkan peta citra LANDSAT yang sesuai dengan lokasi perencanaan. Untuk menunjang analisis, maka data berbasis vektor juga diperlukan sebagai peta dasar atau base map untuk melakukan koreksi geometri terhadap wilayah studi pada citra satelit.

3. Pemantauan/Survei Lapangan

Pemantauan lapangan adalah observasi langsung terhadap titik-titik lokasi yang sesuai dengan identifikasi rona awal lingkungan ataupun informasi/isu permasalahan yang sedang berkembang. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan masyarakat pesisir atau instansi terkait yang menyangkut isu-isu wilayah pesisir Kabupaten Lingga.

4. Diskusi dalam Pokja RZWP3K

Pengumpulan data dalam kegiatan ini dilakukan untuk menggali aspirasi dan persepsi dari pemangku kepentingan daerah Kab. Lingga (pemerintah, tokoh masyarakat/agama, dunia usaha/swasta, dan kelompok masyarakat) terhadap pengelolaan wilayah pesisir baik apa yang sudah dilakukan maupun apa yang akan dilakukan.

5. Kompilasi

Kompilasi ini merupakan proses verifikasi dan penyajian data dan informasi baik dalam format narasi, tabulasi, maupun visualisasi.

Jenis data dasar yang digunakan untuk memulai proses penyusunan rencana zonasi Kabupaten Lingga antara lain berupa peta-peta yang bersumber dari beberapa instansi seperti yang diperlihatkan pada Tabel I.1 dan Tabel II.2 di bawah ini.

Tabel I.1

Jenis Data Dasar RZWP3K Kabupaten Lingga

No Data Bentang Alam Kedalaman Informasi Sumber

DARAT

1 Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)

Skala 1:100.000 sampai 1:50.000 Kedalaman Informasi:

batas administrasi sampai kecamatan, gedung dan bangunan, jaringan jalan, dan pemanfaatan lahan eksisting.

BAKOSURTANAL

2 Peta Sistem Lahan dan Kesesuaian

Skala 1 : 100.000

(18)

No Data Bentang Alam Kedalaman Informasi Sumber Lahan (Landsystems

and Landsuitability)  Sistem lahan, terdiri dari : pantai, rawa pasut, dataran aluvial, jalur kelokan, rawa-rawa, lembah aluvial, kipas & lahar, teras-teras, dataran.

 Bentuk Lahan, terdiri dari: kemiringan relief, lebar puncak, lembah-lembah, jenis batuan/mineral dominan, daerah iklim, kesesuaian lahan.

3 Citra Satelit Sesuai dengan resolusi yang dibutuhkan. Kedalaman Informasi:

kerapatan vegetasi, penggunaan lahan pesisir, garis pantai, kelerengan pantai, tipe pantai, materil pantai.

Data Sekunder (Hasil Pengolahan

Citra) 4 RTRW Kab. Lingga Skala 1:100.000 sampai 1:50.000

Kedalaman Informasi:

 Pola Ruang

 Struktur Ruang

 Arahan Pemanfaatan Ruang

BAPPEDA Kab. Lingga

LAUT

5 Peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) dan Lingkungan Perairan Indonesia (LPI)

Skala 1:100.000 sampai 1:50.000 Kedalaman Informasi:

garis pantai, batu karang, terumbu, beting karang, tempat berlabuh, menara suar, dilarang berlabuh, garis cakupan 12 mil laut, stasiun radar, kerangka

berbahaya,

kabel dalam air, pipa dalam air, sistem pemisahan lalulintas, batas sektor, daerah latihan, daerah larangan, terlarang, pelampung.

BAKOSURTANAL

6 Peta Laut Skala 1:100.000 sampai 1:50.000 Kedalaman Informasi:

kedalaman, pasut, arus, garis pantai, batu karang, terumbu, beting karang, tempat berlabuh, menara suar, dilarang berlabuh, stasiun radar, kerangka berbahaya, kabel dalam air, pipa dalam air, sistem pemisahan lalulintas, batas sektor, daerah latihan, daerah larangan, dan lain-lain.

DISHIDROS TNI AL

7 Citra Satelit Sesuai dengan resolusi yang dibutuhkan Kedalaman Informasi:

arah arus, suhu permukaan, kecerahan, terumbu karang, klorofil, kedalaman, budidaya. Hasil Pengolahan Citra 8 RZWP3K Provinsi Skala 1 : 250.000 Kedalaman Informasi:  Pola Ruang  Struktur Ruang

 Arahan Pemanfaatan Ruang

Dinas Kelautan Perikanan atau nama lainnya

(19)

Tabel I.2

Klasifikasi Jenis Data dalam Survei Lapangan

Komponen Data Primer Sekunder Jenis data Sumber Data Pengambilan Data Teknik KEBIJAKAN

RTRW Sekunder Instansi Studi Pustaka

RPJM dan Renstra Sekunder Instansi Studi Pustaka Isu dan Masalah Sekunder Instansi Studi Pustaka

Studi Terkait Sekunder Instansi Studi Pustaka

KONDISI FISIK WILAYAH

Geografis dan administratif Sekunder Instansi Studi Pustaka Geologi dan morfologi Sekunder Instansi Studi Pustaka

Topografi Sekunder Instansi Studi Pustaka

Iklim dan cuaca Sekunder Instansi Studi Pustaka HIDRO-OCEANOGRAFI

Pasut Sekunder Instansi Studi Pustaka

Bathimetri Sekunder Instansi Studi Pustaka

Arus Sekunder Instansi Studi Pustaka

Angin dan gelombang Sekunder Instansi Studi Pustaka

Kualitas air laut Primer Pengukuran Observasi

BIO-EKOLOGI

Sebaran biota (endemik, langka, hampir punah, invasi)

Primer Sekunder Responden, Instansi

Wawancara, observasi, studi

pustaka Kondisi ekosistem pesisir

(mangrove, terumbu karang, lamun, lahan basah)

Primer Sekunder Responden, Pengukuran,

dan Instansi

Wawancara, observasi, studi

pustaka Kondisi sumber daya pesisir

(pencemaran, degradasi, isu dan masalah)

Primer Sekunder Responden,

Instansi Wawancara, studi pustaka SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA

Kependudukan Primer Sekunder Responden,

Instansi Wawancara, studi pustaka Budaya dan adat istiadat Primer Sekunder Responden,

Instansi

Wawancara, studi pustaka Perekonomian Primer Sekunder Responden,

Instansi

Wawancara, studi pustaka Sarana dan prasarana Primer Sekunder Responden,

Instansi Wawancara, studi pustaka Pemanfaatan ruang

eksisting

Primer Sekunder Responden, Instansi

Wawancara, studi pustaka Sumber: Ketentuan mengenai Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Kabupaten Lingga, 2010

1.5.2.2 METODE ANALISIS DATA

Pada tahap ini, dilakukan identifikasi potensi wilayah berdasarkan hasil survei lapangan yang telah dilaksanakan. Pendekatan metode analisis yang digunakan dalam rangka penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga ini, mencakup metode analisis sebagai berikut:

(20)

1. Analisis Kebijakan

Analisis kebijakan digunakan untuk melihat kedudukan wilayah perencanaan dalam hal ini Kabupaten Lingga terhadap kebijakan rencana tata ruang nasional dan provinsi, dan menyesuaikan perencanaan yang dibuat dengan kebijakan pembangunan daerah, dengan tujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan. Di samping itu, analisis juga didasarkan pada kebijakan pembangunan nasional, termasuk kebijakan geopolitik dan pertahanan keamanan. Hal-hal yang harus ditelaah adalah :

a. Program-program pemerintah pusat dan provinsi terkait pembangunan di wilayah pesisir.

b. Visi, misi, dan tujuan dan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga.

c. Isu dan permasalahan yang berkembang di wilayah pesisir Kabupaten Lingga.

d. RTRW Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga.

e. Arahan pengembangan, struktur ruang, dan pola ruang dalam RTRW Kepulauan Riau dan Kabupaten Lingga.

f. Analisis sistem perkotaan, kawasan, dan regional wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang berpengaruh terhadap Kabupaten Lingga; g. Analisis fungsi dan peran wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di

Kabupaten Lingga dilihat dari aspek ekonomi-sosial-budaya-politik, transportasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dalam pencapaian pembangunan nasional ataupun regional secara umum.

h. Analisis sektor unggulan yang menjadi prime mover di Kabupaten Lingga, kecamatan dan kelurahan/desa yang ada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

2. Analisis Kewilayahan

Analisis kewilayahan merupakan analisis untuk melihat kecenderungan perkembangan kawasan di Kabupaten Lingga berdasarkan potensi fisik wilayah yang ada. Analisis kewilayahan akan dapat mengeluarkan rekomendasi bagi skala pengembangan kawasan yang diharapkan dan arahnya. Analisis kewilayahan di sini juga mencakup pada sistem permukiman dan sarana prasarana yang ada di dalamnya. Analisis sistem permukiman bertujuan memahami kondisi, jumlah, jenis, letak, ukuran, dan keterkaitan antar pusat-pusat permukiman di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga.

(21)

3. Analisis Sosial Ekonomi

Analisis sosial ekonomi dilakukan untuk melihat kondisi sosial ekonomi dan strukturnya di Kabupaten Lingga. Lingkup analisis sosial ekonomi meliputi sebaran dan jumlah penduduk beserta proyeksinya di masa yang akan datang, interaksi penduduk, sebaran potensi ekonomi, basis ekonomi lokal, keterkaitan ekonomi dan skala ekonomi (produksi dan pemasaran). Analisis sosial ekonomi yang digunakan dalam rangka penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah:

a. Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan di WP3K Kabupaten Lingga

Analisis ekonomi dan sektor unggulan bertujuan memperoleh informasi untuk mewujudkan ekonomi WP3K yang berkelanjutan (sustainable) melalui keterkaitan ekonomi antar zonasi di dalam Kabupaten Lingga, dan antar Kabupaten Lingga dengan kabupaten lainnya, atau sistem ekonomi wilayah yang lebih luas. Analisis difokuskan pada kecenderungan pertumbuhan ekonomi WP3K, sektor-sektor ekonomi basis dan unggulan dan potensi dan kendala pengembangan kegiatan perekonomian WP3K. Analisis ekonomi WP3K di Kabupaten Lingga akan meliputi:

 Analisis mengenai ekonomi dasar WP3K di Kabupaten Lingga

 Analisis mengenai sektor-sektor unggulan WP3K di Kabupaten Lingga

 Analisis mengenai struktur ekonomi WP3K di Kabupaten Lingga  Analisis mengenai peluang pertumbuhan ekonomi WP3K di

Kabupaten Lingga.

 Analisis pergerakan barang dan jasa WP3K.

 Analisis pola persebaran ekonomi WP3K dalam wilayah Kabupaten Lingga.

 Analisis mengenai potensi investasi WP3K di Kabupaten Lingga.  Analisis kecenderungan pertumbuhan ekonomi

b. Analisis Demografi dan Kependudukan

Analisis demografi bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai aspek-aspek kependudukan, terutama yang memiliki pengaruh timbal balik dengan perkembangan sosial dan ekonomi, analisis ini dilakukan pula dalam proyeksi 20 tahun ke depan. Analisis demografi ini merupakan masukan dalam penyusunan rencana pengembangan

(22)

sarana dan prasarana wilayah, rencana penyebaran penduduk, dan rencana struktur dan pola ruang pada WP3K. Analisis demografi WP3K Kabupaten Lingga akan terdiri atas:

 Analisis tingkat perkembangan penduduk.

 Analisis mengenai pergerakan/mobilitas penduduk.  Analisis distribusi/kepadatan penduduk.

 Analisis struktur umur dan tingkat partisipasi angkatan kerja.

c. Analisis Sosial Kemasyarakatan

Analisis sosial kemasyarakatan WP3K di Kabupaten Lingga, meliputi:  Analisis adat-istiadat penduduk WP3K yang menghambat dan

mendukung pembangunan Kabupaten Lingga.

 Analisis tingkat partisipasi/peran serta masyarakat WP3K dalam pembangunan Kabupaten Lingga.

 Analisis pergeseran nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

 Analisis kinerja tingkat pelayanan fasilitas dan utilitas sosial.

d. Analisis Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

Analisis mengenai kualitas sumber daya manusia pengelola diperoleh dengan cara melakukan kajian deskriptif kualitatif terhadap informasi dari kajian demografi. Masukan utama analisis ini adalah kondisi tingkat pendidikan pada analisis demografi. Analisis kelembagaan dilakukan untuk melihat kelembagaan Kabupaten Lingga khususnya dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecilnya. Analisis kelembagaan ini meliputi struktur kelembagaan kabupaten, struktur kelembagaan masing-masing lembaga terkait pembangunan, mekanisme koordinasi internal dan lintas kelembagaan dalam pembangunan, kondisi SDM daerah yang meliputi kualitas maupun kuantitas, serta kebutuhan pengembangannya.

4. Analisis Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya

Analisis potensi dan pemanfaatan sumber daya ini untuk melihat sumber daya yang terdapat pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Lingga dan bagaimana kondisi pemanfaatan yang sudah dilakukan dari sumber daya tersebut.

5. Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Ruang

Analisis kesesuaian pemanfaatan ruang merupakan analisis yang melihat pada potensi wilayah pesisir berdasarkan kriteria-kriteria teknis kegiatan

(23)

pemanfaatan ruang yang direncanakan. Analisis ini menggunakan metode overlay peta dengan pembobotan untuk masing-masing variabel fisik, sosial, ekonomi dan budaya berdasarkan kriteria kegiatan. Dalam teknik analisis ini pertama kali disusun adalah matriks parameter kesesuaiannya dan klasifikasinya berdasarkan pedoman penyusunan RZWP3K Kabupaten yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Setelah disusun matriks kesesuaian maka peta-peta tematik mengenai parameter-parameter tersebut dioverlay.

Dari hasil analisis ini akan dihasilkan kesesuaian lahan pemanfaatan ruang dalam bentuk peta kesesuaian pemanfaatan ruang, yang antara lain akan meliputi kesesuaian pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung (konservasi), kawasan pemanfaatan umum, zona alur dan kawasan strategis. Adapun variabel yang menjadi pertimbangan dalam kesesuaian pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dilihat pada Tabel I.3.

Tabel I.3

Kesesuaian Pemanfaatan Pesisir A. Kesesuaian Pesisir untuk Mangrove

No Variabel Data Baik Kriteria Kesesuaian Sedang Buruk

1 Kelerengan Pantai dan Pasang Surut: Frekuensi Rendaman (hr/km) >15 5-15 <5

2 Tekstur Lumpur Lumpur Pasir Pasir

3 pH Tanah 5,5 – 8,5 4,0-5,5 <4,0 atau >8,0 4 pH Air 5,0-7, 5 3-5 atau 7,5-8,0 <3,0 atau >8,0

5 Salinitas (o/oo) 5-25 26-40 <5 atau >40

6 Bahan Organik (gr/kg) 1-5 0-1 atau 5-10 >10 B. Kesesuaian Pesisir untuk Terumbu Karang

No Variabel Data Sedang Kriteria Kesesuaian Sedang Buruk

1 Kedalaman (m) 4-15 <4 atau 15-50 >30

2 Kecepatan Arus (m/det) 0,2-0,3 0,3-0,4 <0,2 atau >0,4

3 Salinitas 31-33 28-30 <28 atau >30

4 Kecerahan 90-100 80-89 <80

5 Suhu 26-28 20-25 <20 atau >30

C. Kesesuasian Pesisir untuk Perikanan Tangkap

No Variabel Data Sedang Kriteria Kesesuaian Sedang Buruk

1 Tinggi Gelombang (m) 0-1 1-2 >=3

2 Kecepatan Arus (m/det) 0,1-0,3 0,3-0,4 >0,4 3 Jumlah Hari Hujan (hari/thn) 150-180 110-150 <110 4 Tutupan Terumbu Karang (%) 60-80 40-60 <40

5 Tutupan Mangrove 60-80 40-60 <40

(24)

D. Kesesuaian Pesisir untuk Perikanan Budidaya di Laut

No Variabel Data Sedang Kriteria Kesesuaian Sedang Buruk

1 Tinggi Gelombang (m) 0-1 1-2 >=3

2 Kecepatan Arus (m/det) 0,1-0,3 0,3-0,4 >0,4 3 Jumlah Hari Hujan (hari/thn) 150-180 110-150 <110 4 Tutupan Terumbu Karang (%) 60-80 40-60 <40

5 Tutupan Mangrove 60-80 40-60 <40

6 Jarak dari pantai (km) 0-10 10-20 >20

E. Kesesuaian Pesisir untuk Budidaya Ikan di Tambak

No Variabel Data Sedang Kriteria Kesesuaian Sedang Buruk

1 Tinggi Gelombang (m) 0-1 1-2 >=3

2 Kecepatan Arus (m/det) 0,1-0,3 0,3-0,4 >0,4 3 Jumlah Hari Hujan (hari/thn) 150-180 110-150 <110 4 Tutupan Terumbu Karang (%) 60-80 40-60 <40

5 Tutupan Mangrove 60-80 40-60 <40

6 Jarak dari pantai (km) 0-10 10-20 >20

F. Kesesuaian Pesisir untuk Pariwisata

No Variabel Data Sedang Kriteria Kesesuaian Sedang Buruk

1 Kelerengan Landai (0-8) Berbukit (8-15) Curam (>15) 2 Kondisi Lahan Pantai Pasir Putih Pasir Lumpur 3 Tinggi Gelombang rendah (<1) sedang (1-2) Besar (>3m)

4 Kecepatan Arus <0,1 0,1-1 >1

5 Kecerahan 90-100 80-89 <80

6 Keberadaan keanekaragaman karang beragam (75%) Padat dan beragam (40-75%) Jarang dan tidak Rusak (40%) 7 Keberadaan objek yang khas Ada dan sangat khas Ada dan cukup khas Tidak ada 8 Keterbukaan lahan pantai >400 100-400 <100 9 Bahaya banjir Tidak ada 1-2 kali >2 kali

10 Perubahan Cuaca Jarang sedang Sering

Sumber: Ketentuan mengenai Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Kabupaten Lingga, 2010 6. Analisis Daya Dukung dan Daya Tampung

Analisis daya dukung wilayah pesisir meliputi daya dukung fisik lingkungan (geografi, geo-morfologi, hidrologi, eko-biologis dan hidrooseanografi) dan daya dukung sosial, ekonomi, budaya dan politik.

1.5.2.3 PERUMUSAN STRUKTUR RUANG

Struktur ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terdiri dari pusat-pusat kegiatan, jaringan aksesibilitas, jaringan infrastruktur dan alur migrasi biota laut di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tersebut. Dalam menentukan pusat-pusat kegiatan di WP3K, hal pertama yang menjadi acuan adalah pusat-pusat-pusat-pusat kegiatan yang tercantum dalam RTRW Kabupaten Lingga.

(25)

Untuk pusat-pusat kegiatan yang berbasis sumber daya kelautan perikanan yang belum terakomodir dalam RTRW ditetapkan berdasarkan kriteria:

a. Dominasi kegiatan yang berbasis kelautan dan perikanan (perikanan budidaya, perikanan tangkap, wisata bahari)

b. Sentra pengolahan hasil-hasil produksi perikanan c. Rencana Strategis WP3K Kabupaten Lingga

Jaringan aksesibilitas di wilayah pesisir secara umum terbagi atas dua jenis. Pertama jaringan aksesibilitas yang terdapat di wilayah daratan, yang dalam hal ini adalah jaringan jalan dan titik-titik pengikatnya. Kedua adalah jaringan aksesibilitas yang berada di wilayah perairan laut, seperti alur pelayaran. Kedua jenis jaringan aksesibilitas ini merupakan satu kesatuan dan harus terintegrasi. Penetapan jaringan aksesibilitas yang terdapat di wilayah daratan mengacu pada jaringan yang tercantum dalam RTRW Kabupaten Lingga.

Untuk jaringan aksesibilitas di wilayah perairan laut yang belum terakomodir dalam RTRW Kabupaten Lingga diklasifikasikan atas:

a. Pelabuhan perikanan dan tempat pendaratan ikan.

b. Alur pelayaran perdagangan dan penumpang beserta dermaganya. c. Alur pelayaran nelayan.

d. Pusat pertumbuhan WP3K Kabupaten Lingga.

Jaringan infrastruktur di WP3K secara umum terbagi atas dua kategori. Pertama jaringan infrastruktur yang terdapat di wilayah daratan, seperti jaringan listrik, telekomunikasi, dan air bersih. Kedua adalah jaringan infrastruktur yang berada di wilayah perairan laut, seperti alur kabel bawah laut dan pipa bawah laut. Penetapan jaringan infrastruktur yang terdapat di wilayah daratan mengacu pada jaringan yang tercantum dalam RTRW Kabupaten Lingga. Sementara dalam menentukan jaringan infrastruktur yang berada di wilayah perairan laut, hal pertama yang menjadi acuan adalah jaringan yang tercantum dalam RTRW Provinsi Kepulauan Riau dan RTRW Kabupaten Lingga.

1.5.2.4 PERUMUSAN POLA RUANG

Pola ruang secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam dua kategori yaitu zona-zona yang berada di wilayah daratan dan yang berada di wilayah perairan/pasang surut. Dalam menentukan pola ruang di WP3K, hal pertama yang menjadi acuan adalah pola ruang yang tercantum dalam RTRW Provinsi Kepulauan Riau dan RTRW Kabupaten Lingga. Untuk zona-zona yang berbasis sumber daya kelautan dan perikanan yang belum terakomodir dalam RTRW Provinsi Kepulauan

(26)

Riau dan RTRW Kabupaten Lingga ditetapkan berdasarkan kriteria: a. Keterkaitan dengan struktur ruang.

b. Kesesuaian zona-zona untuk kegiatan berbasis sumber daya kelautan dan perikanan.

c. Matriks keterkaitan antar zona.

d. Rencana Strategis WP3K Kabupaten Lingga.

Kesesuaian zona-zona untuk kegiatan berbasis sumber daya kelautan dan perikanan diperoleh melalui analisis kesesuaian wilayah yang telah diuraikan sebelumnya. Zona-zona yang diperoleh melalui analisis kesesuaian wilayah kemudian diintegrasikan dengan rencana struktur ruang dan rencana strategis WP3K Kabupaten Lingga. Sementara, matriks keterkaitan antar zona menguraikan hubungan antar zona/sub-zona dalam suatu wilayah perencanaan untuk melihat harmonisasi antar zona/sub-zona. Matriks ini berisikan susunan aktifitas/nilai untuk tujuan komersial, industri, lingkungan, permukiman, dan rekreasi.

Matriks tersebut berfungsi untuk menjelaskan susunan aktifitas yang dapat diterapkan didalam masing-masing peruntukan zona/sub-zona. Baik struktur ruang maupun pola ruang yang dihasilkan kemudian dikonsultasikan dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) melalui mekanisme pembahasan. Hal ini penting dilakukan karena pada akhirnya para pemangku kepentinganlah yang akan mengimplementasikan pola dan struktur ruang.

Gambar 1.4

Matriks Keterkaitan Antar Zona Budidaya Air Payau Budidaya Air Payau

Budidaya Air Laut ± Budidaya Air Laut

Pelabuhan * * Pelabuhan

Alur Pelayaran ± * + Alur Pelayaran Pertanian º º ± ± Pertanian Permukiman ± ± º ± + Permukiman Pertambangan * * + + + * Pertambangan Mangrove + ± * * ± º * Mangrove

Terumbu Karang º + * * ± º * + Terumbu Karang Kawasan Konservasi º + * * + º * + + Kawasan Konservasi

Alur Pipa dan Kabel Bawah Laut * * + * ± ± * ± * ± Alur Pipa dan Kabel Bawah Laut Wisata Pesisir º + + + º + * + + + ± Wisata Pesisir

Wisata Bahari º º + + º + * + + + ± + Wisata Bahari Hutan + ± * * º º * + + + ± + + Hutan Industri * * + + * º + * * * + * * * Industri Peternakan * * * ± + * * * * * ± * * + º Peternakan Keterangan:

Bertentangan/Potensi Konflik = * Netral = ±

(27)

1.6 SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Laporan Kemajuan penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau– Pulau Kecil (RZWP3K) di Kabupaten Lingga disajikan dengan sistematika sebagai berikut:

Bab 1 : PENDAHULUAN

Bab ini membahas mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Maksud, Tujuan, dan Sasaran, (3) Ruang Lingkup: Wilayah Perencanaan, Materi, dan Waktu Perencanaan, (4) Fungsi dan Manfaat RZWP3K (5) Pendekatan dan Metodologi, dan (6) Sistematika Pembahasan.

Bab 2 : TINJAUAN KEBIJAKAN

Bab ini membahas mengenai: (1) Landasan Hukum, (2) Kebijakan Sektoral: Renstra kementrian kelautan dan perikanan, RPJP Provinsi Kepulauan Riau, dan rencana RPJMD Kabupaten Lingga, (3) Kebijakan Spasial: RTRW Propinsi Kepulauan Riau dan RTRW Kabupaten Lingga.

Bab 3 : GAMBARAN EKSISTING KABUPATEN LINGGA

Bab ini membahas mengenai: (1) Kondisi Geografis dan Administratif, (2) Kondisi Fisik Dasar Pesisir Daratan dan Perairan, (3) Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Daratan dan Perairan, (4) Kondisi Infrastruktur Kelautan dan Pesisir (5) Perekonomian Kelautan dan Perikanan, dan (6) Kondisi Sosial Masyarakat Pesisir.

Bab 4 : ISU-ISU POKOK PERMASALAHAN

Bab ini membahas mengenai: (1) Isu-Isu Pokok Spasial, (2) Isu-Isu Pokok Pengembangan Kegiatan Pesisir, (3) Isu-Isu Pokok Pengembangan Infrastruktur Wilayah, dan (4) Isu-Isu Pokok Pemasaran Hasil Produksi Perikanan.

Bab 5 : ANALISIS RZWP3K KABUPATEN LINGGA

Bab ini membahas mengenai Analisis: (1) Kesesuaian Peruntukan Pesisir (Darat dan Laut), (2) Daya Dukung Kawasan, Zona dan Subzona, (3) Rencana Pengembangan Pesisir, (4) Sosial Masyarakat, (5) Kebutuhan Infrastruktur Pendukung Pengembangan Kegiatan pada Zona dan Subzona, (6) Pentahapan Pengembangan Zona dan Subzona, (7) Kebutuhan Investasi Pengembangan Kegiatan Zona dan Subzona, (8) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, dan (9) Rencana Penataan Zona dan Subzona.

Referensi

Dokumen terkait

Jika dilakukan observasi di lokasi kejadian kecelakaan, pemasangan rambu rambu sementara yang dilakukan petugas layanan jalan tol belum sesuai dengan aturan SK DIREKSI

Pada usaha eceran/ritel modern menawarkan tempat yang luas, barang yang dijual banyak jenisnya, sistem manajemennya dikelola dengan baik, teratur dan mo- dern,

Berdasarkan Rencana Jangka Menengah Tahun 2010-2012 Kampung Totokaton Kecamatan Punggur pelaksanna pembangunan berdasarkan hasil identifikasi, pemetaan swadaya dan

P 18-03-1979 MI Uswatun Hasanah Jakbar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peserta Dual

ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir- akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu menyusui melupakan manfaat menyusui. Fakta

Sebaliknya, agen moral harus mempertimbangkan konsekuensi keputusan dalam hal membuat kebahagiaan, atau dalam hal membuat aturan yang apabila diikuti berkemungkinan

Jika salah satu pemain mengatakan suatu angka, pemain lain harus mengatakan angka yang lebih besar 1 hingga 10 angka dari angka tersebut. Dan begitu seterusnya hingga

Perencanaan kapasitas yang dilakukan pada work centre Pemotongan Plat adalah penyesuaian beban kerja (re-adjusment), pada work centre Gerinda dan Polish adalah dengan