KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah‐Nya sehingga kami dapat menyusun modul panduan dalam pengelolaan dan penatausahaan keuangan negara dengan nama Modul Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai pada Satuan Kerja
Sehubungan dengan telah terbit Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK.05/2008 tentang Pengalihan Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai Negeri Sipil/Anggota Tentara Nasional Indonesia/Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia Kepada Kementerian Negara/Lembaga dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER‐37/PB/2009 tentang Petunjuk Teknis Pengalihan Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai Negeri Sipil Pusat Kepada Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER‐38/PB/2012 tentang Petunjuk Teknis Pengalihan Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia/Pegawai Negeri Sipil Kepolisian Negara Republik Indonesia dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kepada Satuan Kerja di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka sebagai konsekwensinya Kementerian Negara/Lembaga harus melakukan penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban pengelolaan administrasi belanja pegawai dalam lingkup Satuan Kerjanya.
Modul ini disusun dalam rangka memberikan pegangan dan pengetahuan bagi bendahara dalam pengelolaan administrasi belanja pegawai dan khususnya Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga agar memiliki panduan dalam pengelolaan administrasi belanja pegawai yang berdasarkan Undang‐Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang‐ Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara telah menjadi tanggung jawabnya.
Modul ini hanya menyajikan hal‐hal dasar dalam pengelolaan administrasi belanja pegawai di tingkat Satuan Kerja yang perlu diketahui oleh para Bendahara dan khususnya bagi Petugas Pengelola Administrasi Belanja Pegawai, termasuk di dalamnya peranan Bendahara dalam pembukuan belanja pegawai serta Aplikasi Belanja Pegawai dalam pengelolaan administrasi belanja pegawai.
Selanjutnya seiring dengan perubahan peraturan‐peraturan mengenai belanja pegawai, modul ini menuntut penyempurnaan sesuai dengan perkembangan peraturan tentang pelaksanaan belanja pegawai tersebut, namun untuk saat ini diharapkan modul ini memadai untuk digunakan sebagai pedoman dasar pengelolaan adminstrasi belanja pegawai pada Satuan Kerja.
Modul--Daftar Isi Halaman Kata Pengantar i Daftar Isi ii Bab I Pendahuluan A Latar Belakang...………..………... 1 B Tujuan Penyusuanan Modul...……….……….. 2 C Ruang Lingkup...……….……….... 2 D Sistematika...………...………... 3 Bab II Ketentuan Belanja Pegawai A Gaji Pokok Dan Tunjangan... ……….………. 4 1. Gaji Pokok... 5 2. Tunjangan‐Tunjangan...………..……….. 5 B Potongan...………... 17 C Ketentuan Perpajakan Belanja Pegawai... 18 Bab III Pembayaran Belanja Pegawai A Gaji Induk...………..………...……... 21 B Gaji Non Gaji Induk... 22 1. Gaji Susulan... 22 2. Kekurangan Gaji... 23 3. Gaji Terusan... 24 4. Uang Duka Wafat Dan Tewas... 25 5. Uang Muka/Persekot Gaji... 26 6. Gaji Ketiga Belas... 26 7. Uang Tunggu... 27 C Belanja Pegawai Lainnya... 28 1. Uang Lembur Dan Uang Makan Lembur... 28 2. Uang Makan... 29 3. Honorarium... 30 4. Vakasi... 30 5. Tunjangan Kinerja... 31 6. Tunjangan Bagi Guru Dan Dosen... 32 Bab IV Pembayaran Belanja Pegawai Polri dan Kementerian Pertahanan A Komponen Belanja Pegawai... 35 B Ketentuan‐Ketentuan Pembayaran Belanja Pegawai Polri/Kemhan... 36 C Tunjangan Suami/Istri... 37 D Tunjangan Anak... 37 E Tunjangan Pangan/Beras... 39 F Tunjangan Umum... 40 G Tunjangan Jabatan Struktural... 41 H Tunjangan Jabatan Fungsional... 42 I Tunjangan Khusus Provinsi Papua... 44 J Tunjangan Pengabdian di Wilayah Terpencil... 44 K Tunjangan Lauk Pauk... 44 L Tunjangan Khusus Wilayah Pulau‐Pulau Kecil Terluar dan/atau Wilayah Perbatasan... 45
M Pembulatan... 45 N Tunjangan Pajak Penghasilan... 46 O Potongan Sewa Rumah Dinas... 46 P Gaji Susulan... ... 47 Q Kekurangan Gaji... ... 47 R Uang Muka/Persekot Gaji... ... 47 S Uang Duka Wafat... ... 48 T Uang Duka Tewas/Gugur... 49 U Terusan Penghasilan... 50 V Pembayaran Gaji Untuk Anggota TNI/Polri yang Hilang... 52 W Pembayaran Gaji untuk PNS Kemhan/PNS Polri yang Hilang... 53 X Uang Lembur Anggota TNI/Polri... 53 Y Ketentuan Lainnya... 54 Bab V Mekanisme Pembayaran Belanja Pegawai A Prosedur Pengajuan SPP Belanja Pegawai...……… 55 B Prosedur Pengajuan SPM Belanja Pegawai... …….. 61 Bab VI Penatausahaan Belanja Pegawai A Pejabat/Petugas Administrasi Belanja Pegawai... 62 B Penatausahaan Dokumen Pendukung Belanja Pegawai... 63 C Prosedur Pemutakhiran Dan Pencatatan Belanja Pegawai... 66 D Prosedur Pembuatan Daftar Gaji dan Belanja Pegawai Lainnya... 67 Bab VII Pembukuan Dan Pertanggungjawaban Belanja Pegawai A Pembukuan Gaji dan Tunjangan Belanja Pegawai... 69 B Pertanggungjawaban Belanja Pegawai... 69 C Pengawasan...………... 70 D Penyelesaian Kerugian Negara... 70 Bab VIII Penutup... 71
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembagian tugas dan kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang‐Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, menempatkan kewenangan administratif (administrative beheer) diserahkan kepada Menteri/Ketua Lembaga dan penyelenggaraan kewenangan kebendaharaan (comptable beheer) kepada Menteri Keuangan. Sejak dimulainya pelaksanaan APBN Tahun anggaran 2005, implementasi kewenangan administratif tersebut telah dilaksanakan tercermin dengan beralihnya tugas‐tugas ordonansering kepada Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja yang selama ini dilaksanakan oleh Menteri Keuangan dalam hal ini KPPN, antara lain kewenangan melakukan pengujian atas tagihan kepada negara, kewenangan memerintahkan pembayaran dan pembebanan atas beban anggaran di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan.
Sebagai konsekuensi kewenangan tersebut di atas, Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja harus melakukan penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban terhadap pengelolaan keuangan negara yang menjadi tanggung jawabnya termasuk pengelolaan administrasi belanja Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat di lingkungan Satuan Kerjanya.
Permasalahan belanja pegawai merupakan hal yang sangat sensitif dan mempunyai dampak politis yang sangat luas bagi penyelenggaraan pemerintahan. Oleh karena itu masalah belanja pegawai memerlukan penanganan yang baik, tertib, dan teratur pada setiap bagian yang terkait, baik pada bagian kepegawaian sebagai sumber data maupun pada bagian keuangan di lingkungan Satuan Kerja yang bersangkutan sejalan dengan pelimpahan kewenangan Administratif sebagaimana diamanatkan undang‐undang. Kesalahan dalam melakukan pembayaran belanja pegawai dapat berakibat tuntutan ganti rugi atau perdata oleh pihak‐pihak yang dirugikan.
Sehubungan dengan hal tersebut maka disusunlah buku petunjuk yang disebut “Modul Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai Negeri Sipil Pusat Pada Satuan Kerja” sebagai pegangan bagi Satuan Kerja di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga.
Sebagaimana dimaklumi bahwa pada awal tahun 2014, tepatnya pada tanggal 15 Januari 2014 telah ditetapkan dan diundangkan Undang‐Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Undang‐Undang tersebut antara lain mengatur mengenai hak
dan kewajiban Pegawai ASN serta manajemen ASN yang dalam pelaksanaannya sangat dimungkinkan akan berpengaruh terhadap pengelolaan belanja pegawai, misalnya berkenaan dengan sistem penggajian bagi Pegawai ASN. Namun demikian, mengingat peraturan perundang‐undangan pelaksana ketentuan Undang‐Undang ASN masih dalam proses penetapan, maka modul ini hanya membahas mengenai ketentuan yang masih berlaku pada saat modul ini disusun.
B. TUJUAN PENYUSUNAN MODUL PENGELOLAAN ADMINISTRASI BELANJA PEGAWAI 1. Tujuan Instruksional Umum
a. Agar pelaksanaan pembayaran belanja pegawai dari KPPN kepada Satker dapat berjalan dengan baik dan lancar .
b. Agar pelaksanaan kebendaharaan dapat terselenggara dengan baik.
c. Agar sistem dan prosedur pengurusan belanja pegawai dapat diselenggarakan sebagaimana mestinya.
d. Sebagai pedoman bagi Satker dan aparat yang terkait di bidang pengelolaan belanja pegawai.
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Memberikan pedoman dalam rangka pelaksanaan pembayaran belanja pegawai; b. Memberikan pengetahuan bagi Bendahara Pengeluaran dalam melaksanakan
tugasnya;
c. Memberikan prosedur dan tata cara pengelolaan belanja pegawai pada Satker, termasuk penatausahaan kepegawaiannya.
C. RUANG LINGKUP
Ruang Lingkup Modul Meliputi:
1. Tata usaha kepegawaian dan dokumen‐dokumen belanja pegawai serta pemanfaatan aplikasi belanja pegawai untuk mempermudah mekanisme pembayaran belanja pegawai dan pemutakhiran data pegawai.
2. Administrasi pembayaran belanja pegawai terdiri atas syarat‐syarat pembayaran, tata cara pengisian kartu‐kartu pengawasan, tata cara penggunaan, penyusunan dan penyimpanan dokumen pendukungnya.
3. Mekanisme pembayaran belanja pegawai yang terdiri atas sistem dan prosedur pemutakhiran dan pencetakan berbagai daftar permintaan pembayaran belanja pegawai, prosedur pengajuan Surat Permintaan Pembayaran (SPP), prosedur penerbitan Surat
Perintah Membayar (SPM) oleh Kuasa Pengguna Anggaran serta prosedur pencairan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN.
4. Proses pembukuan dan pertangggungjawaban serta pelaporan belanja pegawai termasuk penyelesaian atas kelebihan pembayaran belanja pegawai dan kerugian negara akibat kesalahan pembayaran belanja pegawai.
D. SISTEMATIKA
Untuk memudahkan dalam memahami maksud dari penyusunan buku ini, maka Modul diuraikan dalam 7 (tujuh) bab sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
memberikan gambaran latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup serta sistematika penyusunan Modul Petunjuk Teknis secara singkat. BAB II KETENTUAN BELANJA PEGAWAI memuat pengertian tentang hal‐hal yang berhubungan dengan belanja pegawai. BAB III PEMBAYARAN BELANJA PEGAWAI Memuat persyaratan pembayaran belanja pegawai. BAB IV PEMBAYARAN BELANJA PEGAWAI POLRI DAN KEMENTERIAN PERTAHANAN Memuat pembayaran belanja pegawai untuk Anggota TNI/Polri dan PNS Kemhan/PNS Polri BAB V MEKANISME PEMBAYARAN BELANJA PEGAWAI
memuat tentang penyediaan dan penyaluran dana belanja pegawai, pengelolaan belanja pegawai, tata cara penyaluran belanja pegawai, tata cara penerbitan SP2D belanja pegawai dan penatausahaan belanja pegawai.
BAB VI PENATAUSAHAAN BELANJA PEGAWAI
menguraikan pelaksanaan penatausahaan kepegawaian mulai dari kelengkapan administrasi pegawai, tugas pengelola belanja pegawai dan penggunaan aplikasi belanja pegawai untuk penatausahaan administrasi belanja pegawai.
BAB VII PEMBUKUAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN BELANJA PEGAWAI
menjelaskan tata cara pembukuan dan pertanggungjawaban serta pelaporan gaji dan tunjangan termasuk penyelesaian atas kelebihan pembayaran belanja pegawai dan Kerugian Negara terkait dengan pembayaran belanja pegawai.
BAB VII PENUTUP
memuat ketentuan umum yang berlaku dan ketentuan dalam pengelolaan keuangan daerah serta petunjuk pelaksanaan lainnya.
BAB II
KETENTUAN BELANJA PEGAWAI
Belanja Pegawai adalah kompensasi baik dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah, baik yang bertugas di dalam maupun diluar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Termasuk dalam kelompok belanja pegawai ini adalah pengeluaran‐ pengeluaran untuk gaji dan tunjangan‐tunjangan, uang makan, lembur, honorarium, dan vakasi. Gaji dan tunjangan adalah pengeluaran untuk kompensasi yang harus dibayarkan kepada pegawai pemerintah berupa gaji pokok dan berbagai tunjangan yang diterima berkaitan dengan jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan (tunjangan istri/suami, tunjangan anak, tunjangan jabatan/yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan, tunjangan kompensasi kerja, tunjangan perbaikan penghasilan, tunjangan beras, tunjangan pajak penghasilan, tunjangan irian jaya/papua, tunjangan pengabdian wilayah terpencil, tunjangan khusus wilayah pulau‐pulau kecil terluar dan/atau wilayah terluar, dan tunjangan umum), baik dalam bentuk uang maupun barang.
A. GAJI POKOK DAN TUNJANGAN
Dalam Undang‐Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok‐Pokok Kepegawaian disebutkan pada Pasal 7 bahwa setiap pegawai negeri berhak memperoleh gaji yang layak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Selanjutnya dalam penjelasannya ditegaskan bahwa pada dasarnya setiap pegawai negeri beserta keluarganya harus dapat hidup layak dari gajinya sehingga dengan demikian ia dapat memusatkan perhatian untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Undang‐Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara pun memiliki semangat yang sama, yaitu sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 79 ayat (1) bahwa
Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS serta menjamin kesejahteraan PNS. Pelaksanaannya akan dilakukan perubahan sistem penggajian yang semula berbasis pangkat golongan dan masa kerja menuju ke sistem berbasis pada harga jabatan sehingga memerlukan kesiapan menyusun peta jabatan dan analisis harga jabatannya secara menyeluruh sehingga dibutuhkan waktu yang cukup.
Selain gaji, kepada PNS juga diberikan tunjangan dan fasilitas. Tunjangan berupa tunjangan kinerja dan tunjangan kemahalan. Sementara itu, pada saat ini juga terdapat beberapa jenis tunjangan yang diberikan melekat pada gaji.
Gaji pegawai dan tunjangan yang melekat pada gaji adalah penghasilan yang diterima oleh PNS yang telah diangkat oleh pejabat yang berwenang dengan surat keputusan dan ketentuan peraturan perundang‐undangan di bidang kepegawaian. Pembayaran gaji pegawai tersebut diberikan kepada pegawai pada hari kerja pertama setiap bulan. Rincian pembayaran gaji dimuat dalam sebuah daftar yang merupakan Daftar Gaji Induk/bulanan. 1. GAJI POKOK
Gaji pokok adalah landasan dasar dalam menghitung besarnya gaji seseorang pegawai negeri sipil. Hal ini disebabkan sebagian komponen perhitungan gaji seperti tunjangan isteri, tunjangan anak, dan tunjangan perbaikan penghasilan dihitung atas dasar persentase tertentu atau terkait dengan gaji pokok. Besarnya gaji pokok seseorang pegawai negeri sipil tergantung atas golongan ruang penggajian yang ditetapkan untuk pangkat yang dimilikinya. Karena itu pangkat berfungsi pula sebagai dasar penggajian.
Besaran gaji pokok diberikan kepada pegawai sesuai dengan besaran yang tercantum dalam surat keputusan pengangkatan, surat keputusan kenaikan pangkat, surat pemberitahuan kenaikan gaji berkala, atau surat penetapan lainnya. Besaran gaji pokok terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2014 untuk PNS, Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2014 untuk Anggota TNI, Peraturan Pemerintah No.36 Tahun 2014 untuk Anggota Polri, dan Peraturan Pemerintah No.94 Tahun 2012 untuk Hakim yang berada di bawah Mahkamah Agung.
Kepada seseorang yang diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) diberikan gaji pokok sebesar 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok yang ditentukan untuk golongan/ruang gaji menurut pangkat yang didudukinya.
2. TUNJANGAN‐TUNJANGAN YANG MELEKAT PADA GAJI
Tunjangan‐tunjangan yang melekat pada gaji terdiri atas tunjangan istri/suami, tunjangan anak, tunjangan jabatan struktural/fungsional, tunjangan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan, tunjangan kompensasi kerja, tunjangan beras, tunjangan khusus PPh, tunjangan irian jaya/papua, tunjangan pengabdian wilayah terpencil, tunjangan khusus wilayah pulau‐pulau kecil terluar dan/atau wilayah terluar , tunjangan kemahalan, tunjangan umum, dan tunjangan perbaikan penghasilan (pada saat ini tidak dibayarkan).
Yang dimaksud dengan tunjangan istri/suami adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai negeri yang beristeri/suami. Ketentuan‐ketentuan yang berkaitan dengan tunjangan isteri/suami adalah :
(1) diberikan untuk 1 (satu) istri/suami pegawai negeri yang sah; (2) besarnya tunjangan isteri/suami adalah 10 % dari gaji pokok;
(3) tunjangan isteri/suami diberhentikan pada bulan berikutnya setelah terjadi perceraian atau meninggal dunia;
(4) untuk memperoleh tunjangan isteri/suami harus dibuktikan dengan surat nikah/akta nikah dari Kantor Urusan Agama atau Kantor Catatan Sipil.
b) Tunjangan Anak
Yang dimaksud dengan tunjangan anak adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai negeri yang mempunyai anak (anak kandung, anak tiri, dan anak angkat) dengan ketentuan : (1) belum melampaui batas usia 21 tahun; (2) tidak atau belum pernah menikah; (3) tidak mempunyai penghasilan sendiri; dan (4) nyata menjadi tanggungan pegawai negeri yang bersangkutan. Ketentuan‐ketentuan yang berkaitan dengan tunjangan anak adalah : (1) diberikan maksimal untuk 2 (dua) orang anak; (2) dalam hal pegawai negeri pada tanggal 1 Maret 1994 telah memperoleh tunjangan anak untuk lebih dari 2 (dua) orang anak, kepadanya tetap diberikan tunjangan anak untuk jumlah menurut keadaan pada tanggal tersebut. Apabila setelah tanggal tersebut jumlah anak yang memperoleh tunjangan anak berkurang karena menjadi dewasa, kawin atau meninggal, pengurangan tersebut tidak dapat digantikan, kecuali jumlah anak menjadi kurang dari dua;
(3) besarnya tunjangan anak adalah 2 % per anak dari gaji pokok;
(4) tunjangan anak diberhentikan pada bulan berikutnya setelah tidak memenuhi ketentuan pemberian tunjangan anak atau meninggal dunia;
(5) Pegawai wajib melaporkan bahwa anak yang masuk dalam tanggungan pegawai tersebut telah tidak memenuhi ketentuan pemberian tunjangan anak atau meninggal dunia;
(6) batas usia anak seperti tersebut diatas dapat diperpanjang dari usia 21 tahun sampai usia 25 tahun, apabila anak tersebut masih bersekolah dengan ketentuan sebagai berikut:
(a) dapat menunjukan surat pernyataaan dari kepala sekolah/kursus/ perguruan tinggi bahwa anak tersebut masih sekolah/kursus/kuliah;
(b) masa pelajaran pada sekolah/kursus/perguruan tinggi tersebut sekurang‐ kurangnya satu tahun;
(6) Untuk memperoleh tunjangan anak harus dibuktikan dengan:
(a) Surat Keterangan Kelahiran Anak dari pejabat yang berwenang pada Kantor Catatan Sipil/lurah/camat setempat;
(b) Surat Keputusan Pengadilan yang memutuskan/mensahkan perceraian dimana anak menjadi tanggungan penuh janda/duda untuk tunjangan anak tiri bagi janda/duda yang bercerai;
(c) Surat Keterangan dari lurah/camat bahwa anak‐anak tersebut adalah perlu tanggungan si janda/duda untuk tunjangan anak tiri bagi janda/duda yang suami/isterinya meninggal dunia
(d) Surat Keputusan Pengadilan Negeri tentang pengangkatan anak (hukum adopsi) untuk tunjangan anak bagi anak angkat (apabila pegawai mengangkat anak lebih dari 1 anak angkat, maka pembayaran tunjangan anak untuk anak angkat maksimal 1 anak)
(7) Tunjangan anak dimasukkan dalam pengajuan daftar gaji setelah diterimanya surat kelahiran oleh PPABP. Pembayaran tunjangan anak tidak berlaku surut. (8) Untuk tunjangan anak tiri/anak angkat dimasukkan dalam pengajuan daftar gaji
setelah diterimanya surat keterangan oleh PPABP (pembayaran tunjangan anak tiri/anak angkat tidak berlaku surut) dengan syarat :
(a) ayah yang sebenarnya dari anak tersebut telah meninggal dunia yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dari pamong praja (serendah‐rendahnya camat),
(b) ayah yang sebenarnya dari anak tersebut bukan pegawai negeri dan tunjangan anak untuk anak‐anak itu diberikan kepada ayahnya yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dari kantor tempat ayahnya bekerja. (c) anak tersebut tidak lagi menjadi tanggungan ayahnya yang dibuktikan dengan
sepenuhnya kepada ibu dari anak tersebut dan disahkan oleh pamong praja (serendah‐rendahnya camat).
c) Tunjangan Jabatan Struktural
Tunjangan Jabatan Struktural adalah tunjangan jabatan yang diberikan kepada pegawai negeri yang menduduki jabatan struktural sesuai dengan peraturan perundangan dan ditetapkan dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang, dengan ketentuan :
(1) besaran tunjangan jabatan struktural dibedakan menurut tingkat eselon jabatan berdasarkan Peraturan Pemerintah, yang terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Struktural;
(2) tunjangan jabatan struktural sekaligus menentukan perpanjangan batas usia pensiun bagi pegawai yang bersangkutan (eselon I dan II sampai dengan usia 60 tahun.
(3) tunjangan jabatan struktural dibayarkan pada bulan berikutnya setelah tanggal pelantikan. Apabila pelantikan dilaksanakan pada tanggal 1 bulan berkenaan atau tanggal berikutnya apabila tanggal 1 bertepatan pada hari libur maka tunjangan jabatan struktural dibayarkan pada bulan berkenaan;
(4) pembayaran tunjangan jabatan struktural dihentikan terhitung mulai bulan berikutnya sejak pegawai negeri yang bersangkutan:
(a) tidak lagi menduduki jabatan struktural; (b) diberhentikan sementara;
(c) dijatuhi hukuman disiplin berupa pembebasan dari jabatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010;
(d) sedang menjalani cuti diluar tanggungan negara (kecuali cuti diluar tanggungan negara karena persalinan);
(e) dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
(f) dibebaskan dari tugas jabatannya selama lebih dari 6 bulan; contoh :
Seorang Pegawai Kementerian X Untung Raharjo, SE. NIP.198011172002061001 ditugaskan untuk mengikuti pendidikan program Magister selama 2 (dua) tahun terhitung mulai tanggal 1 September 2014.
Dalam hal demikian, maka mulai bulan Oktober 2014 pembayaran tunjangan jabatan struktural diberhentikan.
(g) sedang menjalani cuti besar.
(5) tunjangan jabatan struktural bagi pegawai negeri yang diangkat dan dilantik dalam jabatan struktural di luar satuan unit penggajiannya, maka yang berkewajiban mengajukan permintaan tunjangan jabatan struktural adalah satuan kerja unit penggajian instansi dimana PNS tersebut menduduki jabatan struktural. Contoh :
Seorang PNS BKN bernama Muchdir, SH NIP.260001588 dipekerjakan pada Kementerian Dalam Negeri diangkat dan dilantik dalam jabatan kepala Biro Kepegawaian (eselon IIa).
Dalam hal demikian, gaji Sdr. Muchdir, SH dibayarkan oleh BKN, sedangkan tunjangan jabatan strukturalnya dibayarkan oleh Kementerian Dalam Negeri. d) Tunjangan Jabatan Fungsional
Tunjangan jabatan fungsional adalah tunjangan jabatan yang diberikan kepada pegawai negeri yang menduduki jabatan fungsional sesuai dengan peraturan perundangan dan ditetapkan dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang‐undangan, dengan ketentuan:
(1) besaran tunjangan jabatan fungsional dibedakan berdasarkan Peraturan Presiden; (2) bagi PNS yang berdasarkan peraturan perundang‐undangan dapat merangkap jabatan fungsional dan struktural, hanya diberikan satu tunjangan jabatan yang menguntungkan baginya;
(3) tunjangan jabatan fungsional sekaligus menentukan batas usia pensiun bagi pegawai yang bersangkutan;
(4) tunjangan jabatan fungsional dibayarkan pada bulan berikutnya setelah tanggal melaksanakan tugas. Apabila tanggal melaksanakan tugas terhitung mulai tanggal 1 bulan berkenaan atau tanggal berikutnya apabila tanggal 1 bertepatan pada hari libur maka tunjangan jabatan fungsional dibayarkan pada bulan berkenaan; (5) tunjangan jabatan fungsional tidak dapat berlaku surut dari tanggal penetapan
(6) pembayaran tunjangan jabatan fungsional dihentikan terhitung mulai bulan berikutnya sejak pegawai negeri yang bersangkutan:
(a) tidak lagi menduduki jabatan fungsional; (b) diberhentikan sementara;
(c) dijatuhi hukuman disiplin berupa pembebasan dari jabatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010;
(d) sedang menjalani cuti diluar tanggungan negara (kecuali cuti di luar tanggungan negara karena persalinan anak ke‐3);
(e) dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
(f) dibebaskan dari tugas jabatannya selama lebih dari 6 bulan (dihentikan terhitung mulai bulan ketujuh).
Contoh :
Seorang pejabat fungsional untuk mengikuti tugas belajar mulai tanggal 1 November 2011 s.d 30 April 2013. Pejabat fungsional tersebut dinyatakan bekerja kembali terhitung mulai tanggal 10 Juli 2013 berdasarkan SPMT. Dalam hal ini :
tunjangan jabatan fungsional untuk bulan November 2011 s.d April 2012 (6 bulan pertama sejak bebas tugas dari jabatannya) tetap dibayarkan; tunjangan jabatan fungsional diberhentikan terhitung mulai bulan Mei
2012 sampai dengan Juli 2013;
Tunjangan jabatan fungsional dibayarkan kembali mulai bulan Agustus 2013.
Khusus untuk tunjangan jabatan fungsional dosen biasa yang mengikuti tugas belajar dalam negeri pada perguruan tinggi yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden, tunjangan jabatan fungsionalnya terhitung mulai bulan ketujuh diganti dengan tunjangan tugas belajar yang besarnya sama dengan tunjangan dosen.
(g) sedang menjalani cuti besar.
(4) tunjangan jabatan fungsional dibuktikan dengan Surat Pernyataan Melaksakan Tugas (SPMT);
(5) untuk kepastian pembayaran tunjangan jabatan fungsional, setiap awal tahun anggaran pejabat yang berwenang diharuskan membuat surat pernyataan masih menduduki jabatan;
(6) tunjangan jabatan fungsional bagi pegawai negeri yang diperbantukan, dibayarkan oleh instansi tempat pegawai negeri yang bersangkutan bekerja; (7) tunjangan jabatan fungsional bagi pegawai negeri yang dipekerjakan tetap
dibayarkan oleh instansi induknya.
e) Tunjangan Yang Dipersamakan Dengan Tunjangan Jabatan
Ketentuan tentang tunjangan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan pada dasarnya sama dengan tunjangan jabatan fungsional. Namun karena tunjangan ini memiliki karakteristik tersendiri sehingga tidak dapat dimasukkan sebagai tunjangan jabatan fungsional. Tunjangan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan meliputi: Tunjangan Jabatan Anggota dan Sekretaris Pengganti Mahkamah Pelayaran, Tunjangan Jabatan Bagi Pejabat tertentu yang ditugaskan pada Badan Pemeriksa Keuangan, Tunjangan Hakim, Tunjangan Panitera, Tunjangan Juru Sita dan Juru Sita Pengganti, Tunjangan Pengamat Gunungapi bagi Pegawai Negeri Sipil Golongan I dan II, Tunjangan Petugas Pemasyarakatan dan tunjangan jabatan lain berdasarkan peraturan perundang‐undangan.
f) Tunjangan Kompensasi Kerja (Risiko Bahaya atas Pekerjaan)
Tunjangan Risiko tidak dapat digolongkan ke dalam Tunjangan Struktural maupun Fungsional. Tunjangan ini diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya dituntut tanggungjawab yang tinggi namun senantiasa dihadapkan dengan dampak resiko bahaya kesehatan atas dirinya sehingga kepada pegawai tersebut diberikan kompensasi. Jenis‐jenis tunjangan kompensasi kerja antara lain: Tunjangan Pengelola Arsip Statis bagi PNS di lingkungan Arsip Nasional RI, Tunjangan Bahaya Radiasi bagi PNS di lingkungan BPTN, Tunjangan Bahaya Radiasi bagi Pekerja Radiasi, Tunjangan Resiko Bahaya Keselamatan dan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Permasyarakatan, Tunjangan Pengamanan Persandian, Tunjangan Resiko Bahaya Keselamatan dan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Pencarian dan Pertolongan bagi Pegawai Negeri di Lingkungan Badan SAR Nasional dan tunjangan lain yang sejenis dengan tunjangan kompensasi/bahaya yang ditetapkan dengan peraturan perundang‐undangan.
Yang dimaksud dengan tunjangan beras adalah tunjangan beras yang diberikan kepada pegawai negeri dan anggota keluarganya dalam bentuk natura (beras) atau dalam bentuk inatura (uang) dengan besaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketentuan‐ketentuan mengenai tunjangan beras diatur sebagai berikut :
(1) tunjangan beras diberikan kepada pegawai negeri dalam bentuk natura (beras) dan inatura (uang);
(2) besaran tunjangan beras kepada PNS diberikan sebanyak 10 kg/bulan sedangkan kepada anggota TNI/Polri sebanyak 18 kg/bulan, atau setara itu yang diberikan dalam bentuk uang dengan besaran harga beras per kg‐nya ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
(3) besaran tunjangan beras kepada anggota keluarga pegawai negeri diberikan sebanyak 10 kg/orang/bulan atau setara itu yang diberikan dalam bentuk uang dengan besaran harga beras per kg nya ditetapkan oleh Menteri Keuangan; (4) banyaknya jumlah orang yang dapat diberikan tunjangan beras adalah pegawai
yang bersangkutan ditambah jumlah anggota keluarga yang tercantum dalam daftar gaji;
h) Tunjangan Khusus PPh
Yang dimaksud dengan tunjangan khusus PPh adalah tunjangan khusus pajak yang diberikan oleh pemerintah dalam rangka membantu pegawai negeri yang dikenakan pajak penghasilan.
i) Tunjangan Khusus Irian Jaya/Papua
Yang dimaksud dengan Tunjangan Khusus Irian Jaya/Papua adalah tunjangan khusus yang diberikan kepada Pegawai Negeri/Calon Pegawai Negeri yang bekerja di Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tunjangan Khusus Irian Jaya/Papua diberikan dengan latar belakang bahwa pegawai yang berkedudukan di suatu daerah yang angka indeks kemahalan lebih besar daripada angka indeks kemahalan daerah tertentu yang ditunjuk sebagai dasar (standar).
Ketentuan‐ketentuan yang terkait dengan tunjangan khusus Irian Jaya/Papua sebagai berikut :
(1) besaran tunjangan khusus Irian Jaya/Papua ditetapkan dengan Keputusan Presiden;
(2) diberikan kepada pegawai yang secara nyata berada dan bekerja di Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat;
(3) tunjangan khusus Irian Jaya/Papua diberikan pada bulan berkenaan berada dan bekerja di Propinsi Papua dan Irian Jaya Barat yang dibuktikan dengan Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas;
(4) tunjangan khusus Irian Jaya/Papua dihentikan pada bulan berikutnya sejak pegawai yang bersangkutan secara nyata tidak berada dan bekerja di Propinsi Papua/Irian Jaya Barat;
(5) tunjangan khusus Irian Jaya/Papua tidak diberikan kepada pegawai negeri yang diberhentikan dengan hak uang tunggu.
j) Tunjangan Pengabdian Wilayah Terpencil
Yang dimaksud dengan tunjangan pengabdian wilayah terpencil adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai negeri yang bekerja dan bertempat tinggal di wilayah terpencil berdasarkan ketentuan yang berlaku. Latar belakang pemberian tunjangan pengabdian di wilayah terpancil adalah karena pegawai negeri yang ditempatkan di wilayah terpencil cenderung mengalami permasalahan yang lebih berat serta keterbatasan sarana dan prasarana jika dibandingkan dengan mereka yang ditugaskan di wilayah lainnya.
Wilayah terpencil adalah wilayah yang sulit dalam berbagai aspek, seperti tidak/belum tersedia pelayanan umum, harga kebutuhan pokok yang sangat mahal, tidak/belum tersedia sarana komunikasi yang memadai. Kondisi wilayah terpencil tentu membutuhkan tingkat pengabdian yang tulus dari seorang pegawai negeri untuk ditempatkan/ditugaskan di daerah tersebut. Untuk itu pemerintah wajib memperhatikan kepentingan pegawai negeri dimaksud dalam bentuk pemberian tunjangan pengabdian.
Ketentuan‐ketentuan yang terkait dengan tunjangan pengabdian wilayah terpencil adalah sebagai berikut :
(1) tunjangan pengabdian di wilayah terpencil diberikan setelah suatu daerah ditetapkan sebagai wilayah terpencil oleh Menteri Dalam Negeri setelah mendapat pertimbangan tertulis dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Keuangan, dan Menteri Pertahanan dan Keamanan;
(2) tunjangan pengabdian di wilayah terpencil dibuktikan dengan surat keputusan penempatan tugas di wilayah terpencil dan surat penyataan bekerja dan
bertempat tinggal di wilayah terpencil yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang;
(3) tunjangan pengabdian di wilayah terpencil diberikan kepada pegawai yang secara nyata berada dan bekerja di wilayah terpencil;
(4) tunjangan pengabdian di wilayah terpencil diberikan pada bulan berkenaan apabila berdasarkan surat pernyataan bekerja dan bertempat tinggal di wilayah terpencil diterbitkan pada tanggal 1 (satu) bulan berkenaan atau tanggal berikutnya apabila tanggal 1 (satu) bertepatan pada hari libur atau bulan berikutnya apabila surat pernyataan bekerja dan bertempat tinggal di wilayah terpencil diterbitkan setelah tanggal 1(satu);
(5) tunjangan pengabdian di wilayah terpencil diberhentikan pada bulan berikutnya apabila pegawai yang bersangkutan :
(a) pindah tugas keluar dari wilayah terpencil; (b) tidak bertempat tinggal lagi di wilayah terpencil; (c) berhenti, meninggal dunia atau pensiun;
(d) dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
(e) menjalani cuti di luar tanggungan negara; (f) dijatuhi hukuman disiplin berat.
k) Tunjangan Umum
Tunjangan Umum adalah tunjangan yang diberikan dalam rangka meningkatkan mutu, prestasi, pengabdian dan semangat kerja bagi calon pegawai negeri sipil dan pegawai negeri sipil yang tidak menerima tunjangan jabatan struktural atau tunjangan jabatan fungsional atau tunjangan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan dengan ketentuan:
(1) besaran tunjangan umum diatur dalam Peraturan Pemerintah No.12 Tahun 2006; (2) tunjangan umum diberikan terhitung sejak tanggal 1 Januari 2006;
(3) Bagi PNS yang memiliki Tunjangan Kompensasi Kerja (Tunjangan Bahaya Radiasi bagi Pekerja Radiasi, Tunjangan Kompensasi Kerja bagi Pegawai Negeri yang ditugaskan di Bidang Persandian, Tunjangan Bahaya Nuklir bagi PNS di lingkungan Badan Tenaga Nuklir Nasional, Tunjangan Pengelolaan Arsip Statis bagi PNS di lingkungan Arsip Nasional Republik Indonesia, dan tunjangan Bahaya Radiasi bagi
PNS di Lingkungan Badan Pengawas badan Tenaga Nuklir), kepadanya tetap diberikan Tunjangan Umum.
(4) pembayaran tunjangan umum dihentikan terhitung mulai bulan berikutnya sejak pegawai negeri yang bersangkutan:
(a) menerima tunjangan jabatan struktural atau tunjangan jabatan fungsional atau tunjangan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan;
(b) diberhentikan sementara dari jabatan negeri;
(c) dijatuhi hukuman disiplin berupa pembebasan dari jabatan berdasarkan Peraturan Peraturan Nomor 53 Tahun 2010;
(d) sedang menjalani cuti besar atau cuti diluar tanggungan negara; (e) diberhentikan dari jabatan organik;
(f) menjalani masa bebas tugas/MPP; (g) menjalani masa uang tunggu;
(5) pembayaran tunjangan umum dihentikan terhitung mulai bulan ketujuh bagi pegawai yang menjalani tugas belajar lebih dari 6 bulan.
(6) tunjangan umum bagi pegawai negeri yang diperbantukan, dibayarkan oleh instansi tempat pegawai negeri yang bersangkutan bekerja;
(7) tunjangan umum bagi pegawai negeri yang dipekerjakan tetap dibayarkan oleh instansi induknya.
l) Tunjangan Perbaikan Penghasilan
Dalam rangka meningkatkan mutu, prestasi kerja, serta mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar‐besarnya Pemerintah dapat memberikan Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) untuk periode tertentu. TPP dapat berupa tambahan penghasilan sebesar persentase tertentu atas Gaji Pokok ditambah Tunjangan Keluarga, atau besaran nilai nominal tertentu yang ditambahkan pada gaji kotor. Ketentuan tentang tunjangan perbaikan penghasilan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
m) Pembulatan
Untuk memudahkan penyelesaian administrasi pembayaran gaji pegawai, maka dalam perhitungan pembayaran gaji diadakan pembulatan. Angka pembulatan sebagai salah satu unsur perhitungan penghasilan bruto yang harus dicantumkan pada lajur yang telah tersedia dalam daftar gaji. Angka pembulatan dicantumkan agar
gaji yang diterima pegawai jumlah bersihnya menjadi bulat dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Unsur penghasilan diadakan pembulatan ke atas menjadi satuan rupiah (Rp 1,00); (2) Unsur potongan diadakan pembulatan ke bawah menjadi nol rupiah (Rp 0,00); (3) Jumlah akhir dibulatkan ke atas menjadi ratusan rupiah (Rp 100,00). 2. Tunjangan Khusus bagi Anggota TNI/Polri
a) Besarnya tunjangan jabatan Kepala Staf Angkatan adalah sebesar Rp 9.000.000,00 (sembilan juta rupiah) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Struktural di Lingkungan Organisasi Tentara Nasional Indonesia.
b) Tunjangan Kowan/Polwan, yaitu tunjangan yang diberikan kepada anggota TNI/Polri yang berjenis kelamin wanita. Tunjangan Kowan untuk anggota TNI wanita sedangkan Tunjangan Polwan untuk anggota Polri wanita.
c) Tunjangan Bintara Pembina Desa (Babinsa), adalah tunjangan yang diberikan kepada anggota TNI yang diangkat dan ditugaskan oleh pejabat yang berwenang menjadi anggota Babinsa.
d) Tunjangan Bintara Pembina Kamtibmas (Babinkamtibmas)/Petugas Perpolisian Masyarakat (Polmas), adalah tunjangan yang diberikan kepada anggota Polri yang diangkat dan ditugaskan oleh pejabat yang berwenang menjadi anggota Babinkamtibmas/Petugas Polmas.
e) Tunjangan Uang Lauk Pauk, yaitu tunjangan yang diberikan kepada semua anggota TNI/Polri (tidak termasuk anggota keluarga) sebesar indeks sesuai ketentuan yang berlaku dikalikan jumlah hari dalam bulan tersebut.
f) Tunjangan Operasi Pengamanan. Tunjangan Operasi Pengamanan Pulau‐Pulau Kecil Terluar dan Wilayah Perbatasan diberikan kepada Prajurit TNI atau PNS yang ditugaskan secara penuh dalam operasi pengamanan pada pulau‐pulau kecil terluar dan wilayah perbatasan. Besaran Tunjangan Operasi pengamanan ditetapkan sebagai berikut: 1) 150% (seratus lima puluh persen) dari gaji pokok bagi yang bertugas dan tinggal di wilayah pulau‐pulau kecil terluar tanpa penduduk. 2) 100% (seratur persen) dari gaji pokok bagi yang bertugas dan tinggal di wilayah pulau‐pulau kecil terluar berpenduduk.
3) 75% (tujuh puluh lima persen) dari gaji pokok bagi yang bertugas dan tinggal di wilayah perbatasan.
4) 50% (lima puluh persen) dari gaji pokok bagi yang bertugas sesaat di wilayah udara dan laut perbatasan dan pulau‐pulau kecil terluar.
Ketentuan‐ketentuan yang terkait dengan pembayaran Tunjangan Operasi Pengamanan adalah sebagai berikut :
a) Pembayaran Tunjangan Operasi Pengamanan diberikan terhitung mulai tanggal 1 Januari 2010.
b) Pembayaran Tunjangan Operasi Pengamanan diberhentikan apabila Prajurit TNI dan PNS yang bersangkutan selesai melaksanakan operasi pengamanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang‐undangan.
B. POTONGAN
Potongan yang termuat dalam daftar gaji terdiri atas:
(1) Potongan Beras Bulog adalah potongan yang dikenakan bagi pegawai negeri yang menerima tunjangan beras dalam bentuk natura yang jumlah potongannya sebesar tunjangan beras tersebut;
(2) Iuran Wajib Pegawai Negeri (IWP) dikenakan sebesar 10 %, sedangkan untuk gaji terusan sebesar 2% dari penghasilan (Gaji Pokok ditambah tunjangan keluarga).
IWP 10% terdiri dari 4,75% untuk Dana Pensiun, 3,25% untuk Tunjangan Hari Tua, dan 2% untuk Asuransi Kesehatan;
(3) PPh pasal 21 adalah potongan pajak yang dikenakan terhadap penghasilan pegawai negeri yang melampaui batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
(4) Tabungan Perumahan adalah potongan yang dikenakan kepada pegawai negeri sipil untuk membiayai usaha‐usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil dalam bidang perumahan yang besarannya diatur menurut perundang‐undangan. Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, setiap Pegawai Negeri Sipil wajib membayar iuran usaha peningkatan kesejahteraan pegawai untuk tabungan perumahan sebagai berikut: a. Golongan I sebesar Rp 3.000,‐ b. Golongan II sebesar Rp 5.000,‐ c. Golongan III sebesar Rp 7.000,‐ d. Golongan IV sebesar Rp 10.000,‐
(5) Potongan lainnya (sewa rumah, angsuran utang pada negara, angsuran pengembalian persekot gaji, kelebihan pembayaran gaji dan tunjangan).
C. KETENTUAN PERPAJAKAN BELANJA PEGAWAI
Pajak yang dikenakan terhadap Pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan adalah Pajak Penghasila Pasal 21. Adapun tarif yang dikenakan sebagai berikut:
1. Tarif PPh 21 yang dikenakan atas penghasilan tetap bagi Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI/Polri yaitu: Contoh ilustrasi perhitungan PPh sebagaimana contoh dibawah ini:
Bendahara Pengeluaran Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Rantauprapat, Aspriyan (NPWP 00.019.271.6‐116.001) melakukan pembayaran gaji kepada para pegawai dengan daftar penghasilan sebagai berikut:
No Nama NPWP Gaji Pokok
(*) Tunjangan Jabatan Status 1 Herman Effendi, S.E./ 08.454.774.4‐304.000 3.591.000 540.000 Kawin, 2 anak 2 Agus Nugroho, S.E., Ak./ 49.309.595.4‐407.000 3.272.000 540.000 Kawin, 2 anak 3 Murniaty/ 24.307.663.5‐116.000 3.306.000 ‐ Kawin, 2 anak (Suami bekerja wiraswasta) 4 Kasiyemi/ 05.003.887.6‐116.000 3.410.000 ‐ Kawin Tidak menanggung 5 Aspriyan/ 24.307.885.4‐116.000 3.043.000 ‐ Kawin Tidak menanggung *) angka ilustrasi
Pengajuan daftar pembayaran gaji bulan April 2014 ke KPPN dilakukan pada tanggal 11 Maret 2014. Bagaimana perlakuan perpajakan berkenaan dengan pembayaran gaji bulan April 2014?
Atas pembayaran gaji bulan April 2014 tersebut terutang PPh Pasal 21 dengan perhitungan sebagai berikut: Terhadap pembayaran gaji bulan April 2014, Bendahara Pengeluaran KPPN Rantauprapat berkewajiban untuk: a. Memotong PPh Pasal 21 atas pembayaran gaji; b. Menyetorkan PPh Pasal 21 paling lama tanggal 10 Mei 2014 (dalam hal ini, pajak yang dipotong oleh Bendahara Pengeluaran KPPN Rantauprapat penyetorannya dilakukan melalui potongan pada SPM/SP2D); c. Melaporkan SPT Masa PPh Pasal 21 ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Rantauprapat paling lambat tanggal 20 Mei 2014.
Herman Effendi Agus Nugroho Murniaty *) Kasiyemi Aspriyan 1. Gaji pokok 3.591.000 3.272.000 3.306.000 3.410.000 3.043.300 Tunjangan suami/istri 359.100 327.200 330.600 ‐ ‐ Tunjangan anak 143.640 130.880 132.240 ‐ ‐ Jumlah Gaji Pokok + Tunjangan Keluarga 4.093.740 3.730.080 3.768.840 3.410.000 3.043.300 Tunjangan Umum ‐ ‐ 185.000 185.000 180.000 Tunjangan jabatan 540.000 540.000 ‐ ‐ ‐ Tunjangan beras 279.040 279.040 279.040 69.760 69.760 Pembulatan Penghasilan bruto (gaji +tunjangan) 4.912.780 4.549.120 4.232.880 3.664.760 3.293.060 409.374 373.008 376.884 341.000 304.330 2. Pengurang Biaya jabatan 5% dari penghasilan bruto sebulan maksimal 500.000/bulan atau 6.000.000/tahun 5% 245.639 227.456 211.644 183.238 164.653 Iuran Pensiun ((gaji+tj.keluarga)*4,75%) 4,75% 194.453 177.179 179.020 161.975 144.557 Jumlah Pengurang 440.092 404.635 390.664 345.213 309.210 3. Penghasilan neto 4.472.688 4.144.485 3.842.216 3.319.547 2.983.850 Penghasilan neto disetahunkan 53.672.260 49.733.822 46.106.593 39.834.564 35.806.203 4. PTKP 30.375.000 30.375.000 24.300.000 24.300.000 24.300.000 Untuk Wajib Pajak 24.300.000 24.300.000 24.300.000 24.300.000 24.300.000 Status WP Kawin 2.025.000 2.025.000 ‐ ‐ ‐ Tanggungan 4.050.000 4.050.000 ‐ ‐ ‐ 5. PKP 23.297.260 19.358.822 21.806.593 15.534.564 11.506.203 Pembulatan 23.297.000 19.359.000 21.806.000 15.535.000 11.507.000 6. PPh Psl 21 setahun 5% 1.164.850 967.950 1.090.300 776.750 575.350 PPh Psl 21 sebulan 97.071 80.663 90.858 64.729 47.946 Tambahan penghasilan 20% lebih tinggi Bagi yang belum ber‐NPWP Total PPh Pasal 21 April 2014 97.071 80.663 90.858 64.729 47.946 Perhitungan PPh Pasal 21 Untuk Masa Pajak April 2014 Untuk PNS
2. Tarif PPh Pasal 21 atas honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun (misalnya: Vakasi, Uang Makan, Uang Lembur) yang menjadi beban APBN atau APBD adalah sebagai berikut:
a. Sebesar 0% (nol persen) dari penghasilan bruto bagi PNS Golongan I dan Golongan II, Anggota TNI dan Anggota Polri Golongan Pangkat Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya;
b. Sebesar 5% (lima persen) dari penghasilan bruto bagi PNS Golongan III, Anggota TNI dan Anggota Polri Golongan Pangkat Perwira Pertama, dan Pensiunannya;
c. Sebesar 15% (lima belas persen) dari penghasilan bruto bagi Pejabat Negara, PNS Golongan IV, Anggota TNI dan Anggota Polri Golongan Pangkat Perwira Menengah dan Perwira Tinggi, dan Pensiunannya.
Contoh ilustrasi perhitungan PPh atas honorarium atau imbalan lainnya sebagai berikut: Fitri adalah PNS Golongan III/d, pada bulan Maret 2014 menerima uang makan yang
sumber dananya berasal dari APBN sebesar Rp 500.000,00. PPh Pasal 21 final yang terutang:
5% x Rp 500.000,00 = Rp 25.000,00.
Cici PNS Golongan II/c pada tanggal 5 Desember 2014 menerima uang lembur bulan November 2014 sebesar Rp 1.000.000,00, PPh Pasal 21 Final yang terutang:
BAB III
PEMBAYARAN BELANJA PEGAWAI
A. GAJI INDUK
Yang dimaksud gaji induk adalah gaji yang dibayarkan secara rutin bulanan kepada pegawai negeri yang telah diangkat oleh pejabat yang berwenang dengan surat keputusan sesuai ketentuan perundang‐undangan pada Satker yang meliputi gaji pokok dan tunjangan yang melekat pada gaji, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Disusun dalam suatu daftar yang berisi seluruh pegawai yang ada pada satuan kerja bersangkutan dengan mencantumkan nama, NIP, pangkat/golongan, status pegawai, tanggal lahir, jumlah tanggungan pegawai bersangkutan, serta perhitungan penghasilan gaji bulan berkenaan secara lengkap pada lajur‐lajur daftar gaji beserta potongan‐ potongannya; 2. Gaji pegawai yang dimuat dalam gaji induk adalah gaji pegawai yang telah masuk daftar gaji induk bulan sebelumnya dan/atau susulan gajinya; 3. Dibayarkan untuk seluruh komponen belanja pegawai yang meliputi : Gaji pokok, tunjangan isteri, tunjangan anak, tunjangan struktural, tunjangan fungsional, tunjangan umum, tunjangan pangan/beras, tunjangan kemahalan, tunjangan pengabdian wilayah terpencil, tunjangan khusus pajak, dan pembulatan sesuai peruntukannya berdasarkan ketentuan;
4. Pembayaran Belanja Pegawai Gaji dilaksanakan secara langsung (LS) kepada pegawai melalui rekening masing‐masing pegawai secara giral. Dalam hal pembayaran gaji secara langsung (LS) kepada pegawai melalui rekening masing‐masing pegawai belum dapat dilaksanakan, maka pembayaran belanja pegawai gaji secara LS melalui rekening Bendahara Pengeluaran dilaksanakan setelah mendapat dispensasi dari Kepala KPPN. Dispensasi Kepala KPPN memuat pernyataan bahwa Kuasa PA bertanggungjawab atas penggantian pembayaran belanja pegawai gaji apabila terjadi kehilangan, pencurian, perampokan ataupun sebab lain
5. Pembayaran gaji induk dibayarkan tanggal 1 (satu) atau hari kerja pertama bulan berkenaan;
6. Pembayaran gaji induk untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), hak atas gajinya berlaku pada bulan CPNS yang besangkutan secara nyata melaksanakan tugas, yang dinyatakan
dengan surat pernyataan atasan langsung yang membawahi calon pegawai negeri sipil bersangkutan.
7. Pembayaran gaji induk untuk pegawai yang dipekerjakan dibayarkan oleh satuan kerja asal;
8. Pembayaran gaji induk untuk pegawai yang diperbantukan dibayarkan oleh satuan kerja yang menerima perbantuan;
9. Pegawai Negeri Sipil yang menjalani cuti di luar tanggungan negara tidak berhak atas pembayaran gaji induk;
10. Pembayaran gaji induk dihentikan pada bulan ke‐3 bagi Pegawai Negeri Sipil yang meninggalkan tugas secara tidak sah selama dua bulan berturut‐turut;
11. Pegawai Negeri Sipil yang hilang dianggap telah meninggal dunia pada akhir bulan ke‐12 sejak ia dinyatakan hilang dan diterbitkan SK Pensiun Janda/Duda bagi istri/suaminya. 12. Pembayaran gaji induk bagi Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan sementara
(Schorsing) karena:
a. Didakwa telah melakukan suatu kejahatan pelanggaran jabatan. Maka mulai bulan berikutnya pegawai tersebut diberhentikan sementara dan diberikan bagian gaji sebesar :
- 50 % dari gaji pokok yang diterimanya terakhir, jika terdapat petunjuk‐petunjuk yang meyakinkan bahwa ia telah melakukan pelanggaran yang didakwakan atas dirinya.
- 75 % dari gaji pokok yang diterimanya terakhir, jika belum terdapat petunjuk‐ petunjuk yang meyakinkan bahwa ia telah melakukan pelanggaran yang didakwakan atas dirinya
b. Didakwa karena telah melakukan pelanggaran hukum pidana yang tidak menyangkut pada jabatannya dalam hal pelanggaran yang dilakukan berakibat hilangnya penghargaan dan kepercayaan diri atas di pegawai yang bersangkutan atau hilangnya martabat serta wibawa pegawai tersebut. Maka mulai bulan berikutnya pegawai tersebut diberhentikan sementara dan diberikan bagian gaji sebesar 75 % dari gaji pokok yang diterimnya terakhir.
B. GAJI NON GAJI INDUK
Yang dimaksud gaji susulan adalah gaji seseorang pegawai negeri yang belum dibayarkan untuk satu bulan atau lebih karena pembayaran gajinya tidak dilakukan tepat pada waktu pegawai yang bersangkutan melaksanakan tugas pada suatu tempat. Gaji Susulan dapat berupa gaji pertama bagi calon pegawai negeri sipil/pegawai negeri sipil dan gaji pegawai yang dipindahkan karena dinas, atau pegawai yang karena kasus tertentu dihentikan pembayaran gajinya kemudian harus dibayarkan lagi gaji yang sempat dihentikan tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Disusun dalam suatu daftar tersendiri/terpisah dari gaji induk yang berisi seluruh pegawai yang ada pada satuan kerja bersangkutan dengan mencantumkan nama, NIP, pangkat/golongan, status pegawai, tanggal lahir, jumlah tanggungan, pegawai bersangkutan serta perhitungan penghasilan gaji bulan berkenaan secara lengkap pada lajur‐lajur daftar gaji beserta potongan‐potongannya.
b. Dibayarkan untuk seluruh komponen belanja pegawai yang meliputi :
c. Gaji pokok, tunjangan isteri, tunjangan anak, tunjangan struktural, tunjangan fungsional, tunjangan umum, tunjangan pangan/beras, tunjangan kemahalan, tunjangan pengabdian wilayah terpencil, tunjangan khusus pajak, pembulatan sesuai peruntukannya berdasarkan ketentuan;
d. Dalam hal tunjangan pangan diberikan dalam bentuk natura, maka pada gaji susulan tunjangan pangan diberikan dalam bentuk uang;
e. Pembayaran gaji susulan dapat dilakukan sebelum dimintakan gaji bulanannya atau setelah dibayarkan gaji bulanannya.
f. Pembayaran gaji susulan dilaksanakan ke rekening masing‐masing pegawai secara giral.
2. KEKURANGAN GAJI
Yang dimaksud dengan kekurangan gaji adalah kekurangan pembayaran gaji seseorang pegawai negeri karena adanya kenaikan besaran komponen gaji, sedangkan pembayaran gajinya atas dasar kenaikan besaran komponen gaji tersebut tidak dilaksanakan tepat waktunya sesuai dengan berlakunya perubahan besaran komponen penghasilan tersebut. Kenaikan besaran komponen gaji ditetapkan dengan surat penetapan/keputusan seperti kenaikan pangkat, gaji berkala, penyesuaian harga beras, dan lain‐lain.
a. Disusun dalam suatu daftar tersendiri/terpisah dari gaji induk yang berisi pegawai yang berhak atas pembayaran kekurangan gaji pada satuan kerja bersangkutan dengan perhitungan selisih antara penghasilan yang seharusnya diterima dengan penghasilan yang telah dibayarkan.
b. Komponen daftar kekurangan gaji meliputi nama, NIP, pangkat/golongan, status pegawai, tanggal lahir, jumlah tanggungan, pegawai bersangkutan serta perhitungan penghasilan gaji secara lengkap pada lajur‐lajur daftar gaji beserta potongan‐ potongannya.
c. Kekurangan gaji dibayarkan paling cepat bersamaan dengan gaji induk berdasarkan kenaikan besaran komponen gaji tersebut.
d. Dalam hal tunjangan pangan diberikan dalam bentuk natura, maka pada kekurangan gaji tunjangan pangannya diberikan dalam bentuk uang.
e. Pembayaran kekurangan gaji dilaksanakan secara giral yang ditujukan kepada pegawai yang bersangkutan.
f. Pembayaran kekurangan juga berlaku untuk Uang Duka Wafat, Gaji Terusan, dan Gaji Bulan Ketigabelas.
3. GAJI TERUSAN
Yang dimaksud dengan gaji terusan adalah gaji yang dibayarkan kepada ahli waris dari pegawai yang meninggal dunia sebesar gaji terakhir selama 4 (empat) bulan berturut‐ turut. Ketentuan‐ketentuan yang menyangkut pembayaran gaji terusan adalah sebagai berikut :
a. Gaji terusan dibayarkan setiap tanggal satu bulan berkenaan atau tanggal berikutnya apabila tanggal 1 adalah hari libur dan diajukan bersamaan gaji induk;
b. Gaji terusan dibayarkan pada bulan berikutnya sejak suami/isteri dari janda/duda tersebut meninggal dunia;
c. Disusun dalam suatu daftar tersendiri/terpisah dari gaji induk yang berisi pegawai yang berhak atas pembayaran gaji terusan pada satuan kerja dengan tambahan penjelasan :
1) Pada baris nama pegawai yang dimintakan gaji terusan supaya diberi catatan “ Meninggal dunia tanggal...”;
d. Gaji terusan tidak dikenakan potongan iuran wajib 10% tetapi dikenakan iuran wajib asuransi kesehatan sebesar 2%;
e. Terusan penghasilan belanja pegawai tidak dibayarkan apabila tidak ada keluarga pegawai yang berhak memperoleh pensiun janda/duda/ahli waris;
f. Pembayaran gaji terusan harus dihentikan pada bulan kelima baik surat keputusan pensiunan janda/duda telah atau belum diterima;
g. Apabila terdapat keterlanjuran pemotongan iuran wajib sebesar 10% maka terhadap kelebihan potongan sebesar 8% harus dikembalikan kepada janda/duda yang bersangkutan oleh PT. Taspen (Persero). Kelebihan potongan iuran wajib harus dicantumkan dalam SKPP Pensiun.
4. UANG DUKA WAFAT DAN TEWAS
Yang dimaksud dengan Uang Duka Wafat adalah uang yang diberikan Pemerintah kepada ahli waris Pegawai Negeri yang meninggal dunia biasa atau bukan dalam dan karena menjalankan tugas. Ketentuan‐ketentuan yang menyangkut pembayaran uang duka wafat sebagai berikut :
a. Dibayarkan kepada ahli waris sebesar 3 (tiga) kali penghasilan (seluruh penghasilan kecuali tunjangan pajak) sebulan tanpa potongan;
b. Pembayaran uang duka wafat didasarkan pada surat kematian yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang serendah‐rendahnya camat atau surat keterangan yang menyatakan pegawai bersangkutan meninggal dunia/Visum dari Rumah Sakit. Yang dimaksud dengan Uang Duka Tewas adalah uang yang diberikan kepada ahli waris dari pegawai negeri yang tewas. Yang dimaksud dengan tewas adalah :
a. Meninggal dunia dalam dan karena menjalankan tugas;
b. Meninggal dunia dalam keadaan lain yang ada hubungannya dengan dinas, sehingga kematian itu disamakan dengan meninggal dunia dalam dan karena menjalankan tugas;
c. Meninggal dunia yang langsung diakibatkan oleh luka atau cacat rohani/jasmani yang didapat dalam/atau karena menjalankan tugas;
d. Meninggal dunia karena perbuatan anasir tidak bertanggung jawab atau sebagai akibat tindakan dari anasir itu.
a. Uang duka tewas dibayarkan sebesar 6 (enam) kali penghasilan terakhir (seluruh penghasilan kecuali tunjangan pajak) sebulan tanpa potongan;
b. Pembayaran uang duka tewas didasarkan pada surat keputusan pejabat yang berwenang setelah mendapat persetujuan dari kepala BKN tentang pemberian uang duka tewas.
5. UANG MUKA/PERSEKOT GAJI
Yang dimaksud dengan uang muka/persekot gaji adalah pinjaman uang tidak berbunga yang diberikan kepada pegawai negeri yang dipindahkan untuk kepentingan dinas. Persekot gaji hanya bersifat pinjaman, karena itu tidak mutlak diberikan kepada setiap pegawai negeri yang pindah karena kepentingan dinas. Ketentuan‐ketentuan yang menyangkut pembayaran persekot gaji adalah sebagai berikut :
a. Uang muka/Persekot gaji didasarkan atas permintaan pegawai negeri yang pindah; b. Uang muka/Persekot gaji diberikan sebesar satu bulan gaji untuk pegawai negeri
yang tidak kawin atau dua bulan gaji bagi pegawai negeri yang kawin, tanpa tunjangan beras dan tunjangan jabatan serta tanpa potongan;
c. Pengembalian uang muka/persekot gaji untuk yang diberikan sebesar satu bulan gaji diangsur sebesar seperdelapan dari jumlah persekot gaji terhitung mulai bulan berikutnya, sedangkan untuk yang diberikan sebesar dua bulan gaji diangsur sebesar seperduapuluh dari jumlah persekot gaji terhitung mulai bulan berikutnya;
d. Uang muka/Persekot gaji tidak diberikan kepada pegawai negeri yang pindah atas permintaan sendiri.
6. GAJI KETIGA BELAS
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri, Pejabat Negara dan Penerima Pensiun/Tunjangan, Pemerintah dapat memberikan gaji ketiga belas kepada Pegawai Negeri, Pejabat Negara, dan Penerima Pensiun/Tunjangan.
Pegawai Negeri dimaksud meliputi:
a. pegawai negeri yang ditempatkan atau ditugaskan di luar negeri;
b. Pegawai negeri yang dipekerjakan di luar instansi pemerintah yang gajinya dibayar oleh instansi induknya;
c. Pegawai Negeri yang diberhentikan sementara; d. Pegawai Negeri penerima uang tunggu, dan e. Calon Pegawai Negeri.
Besarnya gaji ketiga belas adalah sebesar penghasilan sebulan yang diterima pada bulan tertentu (biasanya bulan Juni bertepatan dengan tahun ajaran baru) yang meliputi gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan/tunjangan umum, tunjangan khusus/tunjangan khusus kinerja, tanpa potongan. Gaji induk yang dijadikan dasar pembayaran gaji ketiga belas dan macam tunjangan jabatan yang termasuk dalam gaji ketiga belas serta tatacara pembayarannya ditetapkan dengan peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.
7. UANG TUNGGU
Yang dimaksud dengan uang tunggu adalah penghasilan yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang diberhentikan dengan hormat dari jabatan negeri yang disebabkan antara lain :
a. Sebagai tenaga kelebihan yang diakibatkan oleh penyederhanaan satuan organisasi dan tidak dapat disalurkan pada instansi lain serta belum memenuhi syarat‐syarat pensiun;
b. Menderita penyakit atau kelainan yang berbahaya bagi dirinya sendiri dan atau lingkungan kerjanya serta belum memenuhi syarat‐syarat pensiun;
c. Setelah berakhirnya cuti sakit, belum mampu bekerja kembali dan belum memenuhi syarat‐syarat pensiun;
d. Tidak dapat dipekerjakan kembali setelah selesai menjalani cuti diluar tanggungan negara karena tidak ada lowongan dan belum memenuhi syarat‐syarat pensiun. Ketentuan‐ketentuan yang menyangkut pembayaran uang tunggu adalah sebagai berikut:
a. Uang tunggu dibayarkan sebesar :
1) 80 % (delapan puluh persen) dari gaji pokok untuk tahun pertama;
2) 75 % (tujuh puluh lima persen) dari gaji pokok untuk tahun‐tahun selanjutnya. b. Uang tunggu diberikan mulai bulan berikutnya dari bulan pegawai negeri sipil yang
bersangkutan diberhentikan dengan hormat dari jabatan negeri;
c. Penerima uang tunggu masih tetap berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil, oleh sebab itu kepadanya diberikan kenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga, tunjangan pangan (beras), dan tunjangan lain berdasarkan peraturan perundang‐undangan yang berlaku kecuali tunjangan jabatan;
d. Pegawai Negeri Sipil yang menerima uang tunggu dapat diangkat kembali dalam jabatan negeri apabila masih ada lowongan;