257 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
SEKOLAH DASAR NEGERI 50
BANDA ACEH
Rahmani
(1), Maulidar
(1)Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Serambi Mekkah
Jln. Tgk. Imum Lueng Bata 23245 Banda Aceh Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa dengan pendekatan saintifik di kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan saintifik di kelas V SD Negeri 50 lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan ekspositori. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif.Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Ttrue-Exsperimental
. Desain penelitianyang digunakan dalam penelitian ini adalah control group pretest-posttest design. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 130 siswa yang terdiri dari VA,VB,VCdan VD. Sampel dalam penelitian ini adalah 72 siswa kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh. Saat
pengundian sampel tulisan kelas VD muncul pertama kali saat pengundian maka dijadikan kelompok
eksperimen, sedangkan kelas VA muncul yang kedua sehingga dijadikan sebagai kelas kontrol. Pada
awal pembelajaran diberi pretest dan akhir pembelajaran diberi posttes dengan menggunakan instrumen yang sama. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi dan tes, teknik pengolahan data menggunakan statistik uji-t. Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas data diperoleh bahwa data keduanya normal dan homogen. Dari hasil perhitungan hasil belajar diperolehthitung = 1,97 sedangkan nilai ttabel= 1,67. Oleh karena thitung> ttabel maka Ho ditolak dan terima
Ha. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan saintifik di
kelas V SD Negeri 50 lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan ekspositori.
Kata kunci: Pendekatan saintifik dan hasil belajar
1. PENDAHULUAN
Seiring berjalannya waktu, pendidikan saat ini berpandangan bahwa siswa bukan hanya objek pendidikan, tetapi subjek pendidikan yang di dalamnya terdapat potensi-potensi alami yang siap dikembangkan. Pendidikan membentuk watak dan memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga menghasilkan kecerdasan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di Sekolah Dasar (SD) Negeri 50 Banda Aceh, diantaranya yang
umum dijumpai adalah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) cenderung masih menggunakan pendekatan ekspositori (tidak sepenuhnya menerapkan pendekatan saintifik).Pembelajaran yang dilakukan guru hanya memberikan definisi dari suatu kata serta memberikan prinsip dan konsep pembelajaran, jarang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan atau eksperimen. Siswa hanya dijejali dengan konsep tanpa ada proses untuk menemukan konsep tersebut.
Pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa menemukan sendiri konsep yang dipelajari melalui suatu proses. Kegiatan
258 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
pengamatan atau eksperimen dapat menimbulkan dan mengembangkan keterampilan proses pada siswa. Namun keterampilan proses siswa dalam proses pembelajaran IPA selama ini masih kurang. Kurangnya keterampilan proses disebabkan guru tidak sepenuhnya mengajak siswa untuk melakukan kegiatan ilmiah dalam proses pembelajaran.
Guru dalam pembelajaran sangat jarang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk memahami fenomena-fenomena disekitarnya berdasarkan konsep-konsep yang dipelajari dan sebaliknya. Guru dalam proses belajar mengajar lebih berorientasi pada materi yang tercantum pada kurikulum dan buku teks. Misalnya dalam mengkaji energi, guru langsung menjelaskan bahwa energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha yang menyebabkan siswa kurang antusias dalam proses pembelajaran. Pembelajaran menjadi kurang bermakna karena siswa tidak mampu mengkaitkan konsep dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, dalam pembelajaran penilaian yang dilakukan guru masih hanya terfokus pada penilaian kognitif saja, sedangkan penilaian pada aspek afektif dan aspek psikomotor belum dilaksanakans ecara optimal. Permasalahan utama yang dihadapi guru adalah dalam mengintegrasikan penilaian ke dalam pembelajaran yang dituntut dalam kurikulum 2013 yaitu penilaiannya tidak hanya terfokus pada penilaian kognitif berupa hasil tes, tetapi mencakup ketiga ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor.
Selain dengan menggunakan tes materi, dalam kurikulum 2013 sangat dianjurkan tes psikomotor yang mencakup bagaimana keterampilan siswa dalam pembelajaran yang bisa menemukan konsep melalui kegiatan ilmiah, sedangkan afektif yang mencakup sikap dan tingkah laku siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Selama ini, guru memandang penilaian dengan kurikulum 2013 yang mencakup ranah afektif, kognitif dan psikomotor sebagai kegiatan yang terpisah.
Salah satu pendekatan yang selama ini dianggap berpusat pada siswa adalah
pendekatan saintifik (scientific approach). Permendikbud No.65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ilmiah. Pendekatan saintifik adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu (Kemendikbud, 2013). Kemendikbud (2013) juga memberikan konsepsi tersendiri bahwa pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen:mengamati, menanya, menalar, mencoba/mencipta, menyajikan/mengkomunikasikan.
Salah satu mata pelajaran di SD adalah IPA. Berdasarkan lampiran Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk SD/MI dijelaskan bahwa IPA adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga suatu proses penemuan. Sudah jelas bahwa pembelajaran IPA sebaiknya dilakukan dengan mengajak siswa mengamati, menanya, menalar, mencoba / mencipta, menyajikan / mengkomunikasikan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa pendekatan saintifik diharapkan dapat membuat siswa lebih terampil. Namun, karena tergolong pendekatan baru diIndonesia, belum banyak penelitian yang mengungkap secara empiric bahwa pendekatan saintifik dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal inilah yang menjadi dasar peneliti untuk mengetahui lebih lanjut mengenai seberapa besar pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk mengungkap kebenaran mengenai pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajars iswa dalam pembelajaran IPA di kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh.
Berdasarkan paparan di atas penelitian ini diberi judul “Pengaruh Pendekatan Saintifik terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V Sekolah
259 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Dasar Negeri 50 Banda Aceh”. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan saintifik di kelas V SD
Negeri 50 Banda Aceh?Adapun tujuan penelitiannya yaitu untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa dengan pendekatan saintifik di kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh.
2. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif karena ingin melihat pengaruh terhadap hasil belajar dengan menerapkan pendekatan saintifik. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
True-Exsperimental (eksperimen sungguhan) karena
peneliti memberikan perlakuan terhadap sampel penelitian, kelas eksperimen menerapkan pendekatan saintifik sedangkan kelas kontrol menerapkan pendekatan ekspositori yaitu pendekatan yang biasa digunakan oleh guru SD Negeri 50 Banda Aceh.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian iniadalah control group
pretest-posttest design. Desain ini melibatkan
dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan menerapkan pendekatan saintifik (P2), sedangkan kelompok kontrol diberi perlakuan dengan menerapkan pendekatan ekspositori yang biasa dilakukan guru (P1).
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 130 siswa yang terdiri dari VA, VB, VC dan VD. Sampel dalam penelitian ini adalah 72 siswa kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh. Saat penentuan kelas eksperimen dan kontrol melakukan pengundian, tulisan kelas VD muncul pertama kali saat pengundian maka dijadikan kelompok eksperimen, sedang kankelas VA sebagai kelas kontrol. Pada awal pembelajaran diberi pretest dan akhir
pembelajaran diberi posttes dengan menggunakan instrumen yang sama.
Analisis data dilakukan untuk mengetahui dan menguji kebenaran dari hipotesis yang diajukan. Teknik analisis data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan terhadap skor tes awal dan skor tes akhir siswa untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.Data yang diperoleh kemudian di olah dengan menggunakan statistik.
Perhitungan Gain dan N-Gain untuk melihat hasil belajar siswa. Gain dalam penelitian ini merupakan perubahan kemampuan yang dimiliki siswa setelah mengikuti pembelajaran. Gain yang diperoleh dinormalisasi oleh selisih antara skor maksimal dengan skor pretest. Perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus faktor Gain (N-Gain) dengan rumus Hake (1998): pre pre post s s s g % 100 Keterangan:
g = Peningkatan hasil belajar siswa
Spost = Skor posttest
Spre = Skor pretest
Nilai N-Gain yang diperoleh digunakan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik dan ekspositori.
Tabel 1. Kategori Tingkat Gain
Batasan Kategori (g) ≥ 0,7 g-tinggi 0,7 > (g) ≥ 0,3 g-sedang
(g) < 0,3 g-rendah (Sumber: Hake, 1998)
260 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Sebelum uji hipotesis terlebih dahulu uji prasyarat analisis data hasil belajar siswa untuk melihat normalitas dan homogenitas hasil belajar siswa.Setelah data melalui uji normalitas dan homogenitas serta memenuhi kriteriaberdistribusi normal dan homogen, selanjutnyadata skor posttestantara kelas eksperimen dan kontroldianalisis dengan uji-t untuk mengetahui apakah pendekatan saintifikdapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun statistik uji-t yaitu:
2 1 2 1
1
1
n
n
s
x
x
t
Keterangan:
t
distribusit 1x nilai rata-rata kelompok kelas eksperimen
2
x nilai rata-rata kelompok kelas kontrol
s
simpangan baku gabungan
1
n
banyak data kelompok kelas eksperimen
2
n
banyak data kelompok kelas kontrol3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Indeks Gain kelas eksperimen dan control dari hasil belajar siswa sebelum dan setelah perlakuan ditunjukkan dalam Gambar 1.
Gambar 1.Diagram Indeks Gain Hasil Belajar Siswa Gambar 1.menunjukkan N-Gain kelas
eksperimen dan kontrol dari hasil belajar siswa sebelum dan setelah penerapan pendekatan saintifik untuk kelas eksperimen dan ekspositori untuk kelas kontrol. N-Gain kelas
eksperimen sebesar 66,07%. Sedangkan kelas kontrol N-Gain nya sebesar 51.97%.Kedua kelas N-Gain nya berada pada kategori “sedang”. Walaupun N-Gain nya sama-sama berada pada kategori “sedang”. Namun N-Gain 48,70 82,78 34,07 66,07 48,52 77,04 28,52 51,97 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 Sebelum penerapan Setelah penerapan Gain Persentase (%) N-Gain Kelas eksperimen Kelas kontrol
261 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
kelas eksperimen lebih besar dari pada N-Gain kelas kontrol. Sehingga dapat disimpulkan ada peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan pendekatan saintifik di kelas eksperimen.
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran data dan uji homogenitas berguna untuk mengetahui apakah sampel dari penelitian ini berasal dari populasi yang sama atau tidak. Berikut hasil uji normalitasnya.
Tabel 2.Hasil Uji Normalitas Data Pretes Hasil Belajar Siswa
Kelas Xhitung Xtabel Kesimpulan
Eksperimen 5.584 7.815 Normal
Kontrol 4.925 7.815 Normal
Berdasarkan tabel 2.hasil pretes antara kedua kelas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh X2hitung< X2tabel sehingga
disimpulkan bahwa dari masing-masing kelas dinyatakan normal.
Tabel 3. Rekapitulasi Uji Homogen Data Pretes untuk Kelas Sampel pada Kedua Kelas
Kelas Varians Fhitung Ftabel Kesimpulan
Eksperimen 222,17
1,105 1,80 Homogen
Kontrol 201,09
Berdasarkan Tabel 3.hasil pretes antara kedua kelas pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol diperoleh Fhitung < Ftabel sehingga disimpulkan bahwa dari masing-masing kelas dinyatakan homogen.
Tabel 4.Hasil Uji Hipotesis dengan Uji-t Data Pretes Hasil Belajar Siswa. thitung ttabel Uji hipotesis Keterangan
0,29 2,00 Ho diterima Kemampuan siswa kelas eksperimen dan kontrol sama
Nilai ttabel pada taraf signifikan α = 0,05 dan dk= (36 + 36 - 2) = 70 maka distribusi t dengan interpolasi diperoleh t0,975(70) = 2,00. Sehingga diperoleh -t1- ½ α< t < t1-½ α yaitu -2,00
< 0,29 < 2,00 maka H0 diterima berarti kemampuan siswa kelas eksperimen sama dengan kemampuan siswa kelas kontrol.
Tabel 5.Hasil Uji Normalitas Data Postes Hasil Belajar Siswa
Kelas Xhitung Xtabel Kesimpulan
Eksperimen 6.694 7.815 Normal
Kontrol 3.311 7.815 Normal
Berdasarkan Tabel 5.hasilpostes antara kedua kelas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh X2hitung< X2tabel sehingga
disimpulkan bahwa dari masing-masing kelas dinyatakan normal.
Tabel 6.Rekapitulasi Uji Homogen Data Postesuntuk Kelas Sampel pada Kedua Kelas
Kelas Varians Fhitung Ftabel Kesimpulan
Eksperimen 135,761
1,12 1,80 Homogen
262 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Berdasarkan Tabel 6 hasil postes antara kedua kelas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh Fhitung < Ftabel sehingga
disimpulkan bahwa dari masing-masing kelas dinyatakan homogen.
Tabel 7.Hasil Uji Hipotesis dengan Uji-t Data Hasil Belajar Siswa.
thitung ttabel Uji hipotesis Keterangan 1,97 1,67 Ho ditolak Terdapat perbedaan signifikan
Nilai ttabel pada taraf kepercayaan 0,05 dan derajat kebebasan dk = 32 + 32 – 2 = 70 adalah sebesar 1,67. Oleh karena thitung> ttabel yaitu 1,97> 1,67 maka hipotesis nol (Ho) ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan saintifik di kelas V SD Negeri 50 lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan ekspositori.Dengan demikian dapat dikatakan penerapan pendekatan saintifik sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil observasi kegiatan guru dalam pembelajaran IPA dengan penerapan pendekatan saintifik pada kelas eksperimen pada pertemuan pertama dan kedua memperoleh kategori keterlaksanaannya “ sangat baik”. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan penerapan pendekatan saintifik berjalan sesuai dengan rencana. Siswa sebagian besar bersedia mengikuti kegiatan pembelajaran IPA yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi / eksperimen, menganalisis / menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan untuk guru, observer menilai bahwa guru sudah menerapkan seluruh tahap pendekatan saintifik. Observer menilai bahwa guru sudah melakukan seluruh kegiatan sesuai rencana pembelajaran. Guru sudah mencoba member apersepsi dengan membawa gambar-gambar terkait materi untuk menarik perhatian siswa.
Setelah pemberian perlakuan dengan menerapkan pendekatan saintifik di kelas eksperimen, dan melakukan pembelajaran seperti yang biasa dilakukan oleh guru (ceramah, diskusi, tanya jawab, mengerjakan soal) pada kelas kontrol, sebanyak masing-masing kelas 2 kali pertemuan. Berdasarkan data untuk membuktikan hipotesis dapat diterima atau tidak, maka dilakukan uji hipotesis dengan membandingkan nilai rata-rata yang diperoleh dari hasil post test selama kegiatan pembelajaran berlangsung baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol.
Hasil dari tes hasil belajar kedua kelompok dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Dari uji normalitas dan uji homogenitas menunjukkan bahwa kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen. Dari data yang diperoleh rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen adalah 80,69 dan rata-rata hasil belajar kelompok kontrol adalah 75,44. Berdasarkan tinjauan hipotesis dengan menggunakan statistik uji-t pada taraf signifikan α = 0,05 dan dk = 70 diperoleh thitung > ttabel yaitu 1,97> 1,67 , maka H0 ditolak dan terima H1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan saintifik di kelas V SD Negeri 50 lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan ekspositori.
Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung baik menggunakan observasi, eksperimen, maupun cara lainnya sehingga
realitas yang akan berbicara sebagai informasi atau data yang diperoleh selain valid juga dapat dipertanggung jawabkan (Sujarwanta, 2012:75). Berdasarkan teori tersebut dapat diartikan juga bahwa dengan pemberian pengalaman langsung saat pembelajaran
263 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
menggunakan pendekatan saintifik maka guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Semua kegiatan dalam pendekatan saintifik merangsang siswa untuk aktif baik secara fisik maupun mental
Kegiatan yang merangsang siswa untuk aktif secara fisik maupun mental dalam penerapan pendekatan saintifik di kelas eksperimen antara lain.
a. Mengamati
Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat mengamati benda-benda di lingkungan sekitar maupun gambar-gambar perubahan wujud benda yang pernah siswa lihat dalam kehidupan siswa seperti es di dalam plastik yang mencair dan kapur barus di dalam lemari yang lama kelamaan akan habis. Kegiatan mengamati juga merangsang rasa ingin tahu siswa lebih banyak terhadap peristiwa-peristiwa yang dekat dengan mereka. Disini peran guru adalah sebagai fasilitator. Guru memfasilitasi siswa dengan menyediakan gambar-gambar terkait perubahan wujud benda. Kegiatan ini lebih banyak melibatkan aktivitas melihat siswa.
b. Menanya
Kegiatan menanya, melatih siswa untuk lebih berani mengungkapkan apa yang ada dalam fikirannya dan juga berani menyampaikan apa yang selama ini belum mereka ketahui. Dalam kelas eksperimen guru memancing siswa untuk bertanya dan cukup menarik karena ternyata banyak siswa yang ingin bertanya walaupun sebenarnya mereka sudah tahu jawabannya. Agar memancing keaktifan siswa yang lain, guru melemparkan pertanyaan kepada siswa lain untuk dijawab. Siswa yang berani dan dapat menjawab mengacungkan tangan. Dalam hal ini juga banyak sekali siswa yang antusias menjawab pertanyaan yang berasal dari teman. Kegiatan ini melibatkan oral activities, mental
activities, listening activities dan
emotional activities.
c. Mengumpulkan informasi dan Eksperimen
Kegiatan mengumpulkan informasi dilakukan dengan membaca buku atau bacaan, mengamati gambar, dan Tanya jawab dengan teman atau guru terkait apa yang ingin mereka ketahui. Kegiatan ini berguna bagi siswa untuk menambah pengetahuan siswa lebih banyak lagi. Mengumpulkan informasi juga dapat dilakukan melalui kegiatan eksperimen. Kegiatan eksperimen melatih siswa untuk berfikir dan melakukan sesuatu dengan sistematis atau teratur. Kejujuran dan tanggung jawab serta rasa percaya kepada teman yang menjadi
partner eksperimen juga bias didapatkan
dari kegiatan ini. Dalam kegiatan mengumpulkan informasi maupun eksperimen guru memfasilitasi siswa dengan berbagai media yang sudah disiapkan dan menyediakan sumber bacaan terkait materi yang akan dipelajari bagi masing-masing siswa. Guru tetap membimbing kegiatan ini agar siswa tetap bekerja sesuai yang dengan langkah kerja dalam LKS. Eksperimen dilakukan secara kelompok dengan anggota 4-5 orang setiap kelompok. Kegiatan ini melibatkan aktivitas melihat, berbicara, mendengar, motor (gerak) danmental (berfikir). d. Menganalisis
Tahap setelah eksperimen dan mengumpulkan informasi adalah kegiatan menganalisis. Kemampuan kognitif sangat diperlukan dalam kegiatan ini karena mengalisis memerlukan daya ingat dan juga pengetahuan luas untuk mendapat pengetahuan baru. Pengetahuan ini tentu didapat setelah siswa melakukan kegiatan mengumpulkan informasi maupun eksperimen. Tugas guru disini membantu dan membimbing siswa berdiskusi kelompok
Dalam menganalisis hasil eksperimen dan pengumpulan informasi agar suasana tetap kondusif. Dalam kegiatan ini termasuk di dalamnya adalah kegiatan mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS. Kegiatan ini melibatkan aktivitas berfikir, berbicara, menulis, melihat, dan mendengar.
264 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
e. Menyimpulkan
Kegiatan setelah menganalisis adalah menyimpulkan. Kegiatan menyim-pulkan juga membutuhkan kemam-puan kognitif dalam prosesnya. Disinilah pengetahuan baru akan didapat setelah proses menganalisis. Kegiatan ini melibatkan aktivitas mental, mendengar, melihat, berbicara dan menulis. Siswa menyimpulkan hasil pengumpulan informasi maupun eksperimen dengan berdiskusi.
f. Mengkomunikasikan
Langkah terakhir pendekatan saintifik adalah mengkomunikasikan. Pengetahuan baru yang didapat oleh siswa akan dipresentasikan oleh siswa di depan kelas kepada siswa lain. Ketika guru member kesempatan pada siapa yang ingin presentasi hasil diskusi masing-masing kelompok, siswa langsung saling melempar tugas tersebut kepada siswa lain. Siswa kelas eksperimen kurang berani untuk mengemukakan apa yang sudah mereka diskusikan. Akhirnya karena terlalu lama menunggu, guru terpaksa menunjuk salah satu dari anggota setiap kelompok untuk presentasi secara bergantian. Hal tersebut terjadi pada pertemuan pertama. Pertemuan selanjutnya siswa yang bertugas untuk presentasi adalah siswa yang presentasi dihari pertama. Kegiatan ini melibatkan aktivitas berpikir (mental) dan emosi siswa dari apa yang terjadi dapat dikatakan siswa kurang berani untuk mengkomunikasikan hasil diskusi.
Proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik melibatkan siswa secara langsung sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Hal ini sesuai dengan pendapat Sagala (2010:59) bahwa proses belajar mengajar yang aktif adalah proses belajar mengajar dimana akan terciptanya suasana yang penuh dengan aktivitas, sehingga siswa akan aktif untuk bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan pendapat atau gagasannya. Langkah-langkah pendekatan saintifik yang paling banyak memberikan
sumbangan terhadap meningkatnya hasil belajar siswa adalah kegiatan mengumpulkan informasidan eksperimen. 4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pembelajaran IPA dengan pendekatan saintifik pada tema 1 Benda-benda di Iingkungan Sekitardi kelas V SD Negeri 50 Banda Aceh dapat disimpulkan bahwa, “Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan saintifik di kelas V SD Negeri 50 lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan ekspositori”. Hal ini dibuktikan dengan pengujian hipotesis dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh nilai thitung> ttabel yaitu 29,1274 > 1,6827.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik.Jakarta:
RinekaCipta.
.2008. Dasar- dasar evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara. Bundu,
P.2006.PenilaianKeterampilanPr
osesdanSikapIlmiahdalamPembel ajaran Sains SD. Jakarta: Dirjen
Dikti.
Dahar, R. W. 1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta.
Dharsana, dkk, 2015.Penerapan Pendekatan Saintifik dengan Penilaian Proyek untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Tema Cita-Citaku Dan Sikap SoSial Siswa Kelas IV SD Negeri 26 Pemecutan.e-Journal
PGSDUniversitas Pendidikan
Ganesha, 3(1): 1-10.
Efriana, F. 2014. Penerapan Pendekatan
Scientific untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Kelas VII MTsN Palu Barat pada Materi Keliling dan Luas Daerah Layang-Layang.Jurnal Elektronik
265 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Pendidikan Matematika Tadulako, 1(2): 170-181.
Hake, R.R .1998. Interactive-Engagement Versus Traditional Methods: A Six-Thousand-Student Survey of Mechanics Test Data for Introductory Physics Courses. Am.
J. Phys. 1(66): 64-74. Kemendikbud. 2013. DraftKurikulum 2013.Jakarta: Kemendikbud. .2013.PeraturanMenteriPendidika ndanKebudayaanNomor65 tahun 2013tentangStandarProsesPendid ikanDasardan Menengah. Jakarta:
Kemendikbud.
Majid, A. 2014.Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Permendiknas Nomor22Tahun 2006.Standar
Isi.Jakarta: Depdiknas.
Rustaman, N. Y. 2003. Strategi Belajar
Mengajar Biologi. Bandung:
Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.
Sanjaya,
W.2010.PerencanaandanDesainSi
stemPembelajaran.Jakarta:
KencanaPrenadaMediaGroup. Sudjana, N. 2009.Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sudjana, N. 2001. Metode Statistik. Bandung: Tarsito. Sujarwanta, A. 2012.Mengkondisikan PembelajaranIPA dengan Pendekatan Saintifik.JurnalNuansa Kependidikan 16(1):140-154.
Sagala, Syaiful.2010. Konsepdan Makna Pembelajaran.Bandung: Alfabeta.
Winkel, W. S. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.