segar yang dipanen dapat masuk ke pabrik pada hari yang sama.

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Panen Kelapa Sawit

Panen dan produksi merupakan hasil dari aktivitas kerja dibidang pemeliharaan tanaman. Baik dan buruknya pemeliharaan tanaman selama ini akan tercermin dari panen dan produksi. Panen tidak dimasukkan dalam pemeliharaan dan dalam adminidtrasinya tersendiri. Keberhasilan panen dan produksi sangat tergantung pada bahan tanaman yang dipergunakan, manusia (pemanen) dengan kapasitas kerjanya, peralatan yang digunakan untuk panen, kelancaran untuk transportasi serta factor pendukung lainnya seperti organisasi panen yang baik, keadaan areal, insentif yang disediakan dan yang lainnya.

Pekerjaan panen adalah memotong tandan matang, mengumpulkan dan mengangkutnya ke pabrik untuk seterusnya diolah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi, asam lemak bebas rendah serta memelihara kondisi tanaman tetap baik. Berdasarkan tujuan tersebut diatas maka koordinasi diantara yang terkait harus terjalin dengan baik agar tandan buah segar yang dipanen dapat masuk ke pabrik pada hari yang sama.

Panen ini dilaksanakan tiap hari, pada areal (ancak) yang berbeda agar pabrik dapat berjalan tiap hari atau minimal lima hari kerja seminggu. Luas areal panen hariannya haruslah disesuaikan dengan tenaga panen dan efisiensi pengangkutan dan kapasitas oleh pabrik. Jika tidak memungkinkan tiap hari, maka areal panen harus tetap seperti yang telah ditetapkan misalnya tujuh hari.

(2)

Dilapangan juga telah ada ketentuan terhadap kualitas yang telah tercermin pada hasil sortasi panen. Pada tanda yang terlalu matang akan menimbulkan kerugian mutu dimana asam lemak bebas (ALB) tinggi. Maka dari itu karyawan panen harus karyawan yang telah mengerti dan sedapat mungkin diusahakan agar kerjanya hanya memanen. Hal demikian akan memepermudah penilaian kerja baik kuantitas maupun kualitasnya (Lubis,1992).

1. Kriteria Matang Panen

Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu panen agar dapat memotong buah pada saat yang tepat. Suatu areal sudah dapat panen apabila, tanaman sudah berumur 30 bulan dilapangan, 60% pohon telah mempunyai tanda buah yang telah siap dipanen. Tingkat kematangan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna. Selanjutnya buah akan berubah menjadi merah atau berwarna orange akibat pengaruh pigmen betakaroten.

Kondisi tersebut menandakan minyak kelapa sawit yang terkandung dalam daging buah telah maksimal dan buah kelapa sawit akan lepas dari tandannya yang disebut brondolan. Pengetahuan mengenai derajat kematangan buah mempunyai arti penting, sebab jumlah dan mutu produksi yang akan diperoleh sangat ditentukan oleh factor rendemen dan asam lemak bebas (ALB), karena kriteria matang panen berhubungan dengan kadar kandungan minyak dan kandungan asam lemak bebas (ALB) yang terdapat didalam daging buah.

(3)

Kriteria panen yang sipakai adalah 2 brondolan (sudah ada 2 buah yang lepas dari tandannya atau jatuh ke piringan pohon) untuk tiap kilo tandan lebih dari 10 kilo dipakai 1 brondolan harus sudah ada yang jatuh ditanah. Namun kriteria ini perlu disesuaikan dengan kondisi setempat misalnya untuk areal yang rawan untuk pencurian kreiteria tersebut dapat diperkecil untuk mengurangi resiko pencurian. Dengan adanya brondolan yang jatuh ketanah maka pemanen tidak perlu melihat keatas pohon untuk memastikan buah layak dipanen atau tidak (Lubis, 1992)

Komposisi fraksi tandan yang biasanya ditentukan dipabrik sangat dipengaruhi perlakuan sejak awal panen. Factor penting yang cukup berpengaruh adalah kematangan buah dan tingkat kecepatan pengangkutan buah ke pabrik dalam hal ini, pengetahuan mengenai derajat kematangan buah mempunyai arti penting sebab jumlah dan mutu minyak yang akan diperoleh sangat ditentukan oleh faktor ini.

Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Apabila pemanen buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung asalm lemak bebas (ALB). Dalam persentase tinggi (lebih dari 5%). Sebaliknya jika pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, selain kadar ALB-nya rendah, rendemen minyak yang diperoleh juga rendah.

Berdasarkan hal tersebut ada beberapa tingkatan atau fraksi dari tandan buah segar (TBS) yang dipanen. Fraksi-fraksi tersebut sangat

(4)

mempengaruhi mutu panen, termaksud kwalitas minyak sawit yang dihasilkan. Berdasarkan fraksi tandan buah segar derajat kematangan yang baik adalah jika tandan-tandan yang dipanen berada pada fraksi 1,2, dan 3.

Tabel 1. Tingkat Kematangan Tandan Kelapa Sawit

Fraksi % Jumlah Brondolan Derajat Kematangan 00 Buah masih hitam Sangat mentah

0 Membrondol 1- 12,5% Mentah

1 Membrondol 12,5- 25% Kurang mentah 2 Membrondol 25- 50% Matang I 3 Membrondol 50- 75% Matang II 4 Membrondol 75- 100% Lewat matang I 5 Buah dalam ikut membrondol Lewat matang II 6 Semua buah membrondol Tandan kosong Sumber : Buku Pintar Mandor

Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa komposisi tingkat kematangan yang baik adalah pada fraksi pada frkasi 2 + 3 + 4 = 80%. Banyak buah yang jatuh lepas (memberondol) dipedomani sebagai suatu kriteria buah yang masak, dimana secara umum dipakai 3 buah telah jatuh dipiringan pokok untuk setiap kilo tandan.

Disamping itu dapat juga dipakai pedoman dari segi warna buah, dimana kadang-kadang berondolan tidak ada dipiringan tetapi buah cukup

(5)

masak namun untuk ini perlu pengalaman, warna merah yang bagaimana dapat dikategorikan buah tersebut masak (Mulyono, 1994).

Tabel 2. Komposisi TBS yang ideal untuk diolah

Fraksi Komposisi (%) Keterangan

00 0 Tidak Dibenarkan 0 0 Tidak Dibenarkan 1 15 Kurang Ideal 2 + 3 + 4 80 Ideal 5 5 Tidak Ideal 6 0 Tidak Dibenarkan

Brondolan 12,5 Ideal <12,5 % terhadap berat Kotoran 0,1 Tidak dibenarkan >0,5% Sumber : Buku Pintar Mandor

2. Taksasi Produksi

Kegiatan taksasi produksi bertujuan untuk meramalkan jumlah tandan buah segar yang akan di peroleh di masa yang akan datang berdasarkan jumlah buah atau tandan bunga betina serta dapat merencanakan kebutuhan tenaga kerja untuk pemanen selanjutnya. Pengamatan dilakukan 1 kali tiap 6 bulan. Untuk mendapatkan taksiran hasil tandan buah segar yang lebih benar maka dilakukan perhitungan tandan buah sebanyak satu kali dalam dua bulan.

(6)

Untuk menentukan taksiran produksi dengan sistem perhitungan tandan buah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

 Perkiraan tandan buah

Menentukan sampel dalam satu field (5%) dengan cara setiap 10 baris tanaman diambil 1 baris tanaman sebagai sampelnya.

 Pengambilan contoh janjangan. Kegiatan pengambilan contoh janjang ini dikerjakan dengan pretasi kerja 0,01 HK/Ha ( Khairina, 1996 ).

Contoh pengamatan yang akan dilakukan ialah dimulai pada tanggal 1 sampai tanggal 15 desember yaitu pada tanggal ini dilakukan untuk perkiraan produksi pada semester I, dan pada tanggal 1 sampai tanggal 15 juni maka dilakukan perkiraan produksi untuk semester selanjutnya yaitu pada semester II. Pada waktu pelaksanaan maka harus ada pencatatan yang akan diamati yang meliputi blok, tahun tanam, luas areal, jumlah pohon, dan tanggal pengamatan.

Pohon contoh yang diperlukan yaitu sebanyak (< 5%). Untuk luasan blok 25 ha jumlah pohon sebanyak 162 sedangkan pada blok ang luasannya 16 ha jumlah pohon contoh sebnyak 104 pohon. Pohon yang contoh yang diambil ialah pada setiap selang 10 baris dan pada tiap baris tersebut diambil selang 5 pohon. Bila memungkinkan, diusahakan pohon contoh merupakan barisan/ pohon yang digunakan sebagai pohon yang analisa daun.

(7)

Cara pengamatan atau cara menghitungnya ialah tiap pohon contoh dihitung berapa jumlah tandan yang sudah ada, menjadi buah dan berapa tandan bunga betina, kemudian jumlahkan keduanya. Hasil yang sudah didapatkan melalui penjumlahan keduanya, merupakan penentuan tandan yang akan dipanen selama periode 6 bulan.

Tabel 3. Contoh Blanko Perhitungan Produksi Bulan Desember 1998 Blok A Th Tanam Luas (ha) Jumlah Pohon Pengamatan Pohon Contoh Prakiraan 6 bulan (Semester 1 1998) 1994 16 2240 Jlh Pk Jlh Tandan/ Bunga Betina Rata-rata berat TBS Total Produksi (kg) 72 641 12 kg 641 72 x 2240 x 12 = 239,2 Ton TBS/ha Sumber : Buku Pintar Mandor.

3. Kerapatan Panen

Kerapatan panen atau biasa disebut angka kerapatan panen (AKP) adalah jumlah pohon yang tandanya dapat dipanen/jumlah populasi pohon dari suatu luasan tertentu dengan keadaan tandan bunga betina yang memungkinkan menjadi tandan buah segar (TBS). Angka kerapatan panen

(8)

dipakai untuk meramalkan produksi, kebutuhan pemanen, kebutuhan truk, pengolahan TBS esok harinya.

Agar lebih akurat didalam penentuan kerapatan panen, dapat di tentukan selama 1 hari sebelum panen berlangsung. dilakukan khususnya pada areal, dapat mengambil beberapa pohon tanaman sebagai barisan pohon contoh, kemudian didalam setiap barisan tersebut ditentukan pula sebanyak 10 baris tanaman sebagai barisan pohon contoh, kemudian didalam setiap barisan tersebut ditentukan pula sebanyak 10 batang pohon untuk contoh perhitungan.

Dengan demikian, didalam satu blok akan digunakan 100 pohon contoh. Selanjutnya pada setiap pohon tersebut dilakukan perhitungan dan pencatatan jumlah tandan yang matang panen. Jika ternyata didalam satu blok tersebut ditemukan sebanyak 25 tandan yang matang panen maka kerapatan panennya adalah 1:4 . Hal ini berarti rata-rata 4 pohon akan dapat dijumpai 1 tandan yang matang panen.

Sebaiknya pekerjaan ini dilakukan oleh mandor yang bersangkutan sehingga hasil kan lebih akurat. Tentunya dengan perhitungan kerapatan panen ini, akan memaksimalkan target yang ingin dicapai perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh pada 6 bulan mendatang. B. Rotasi dan Sistem Panen

Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen berikutnya pada tempat yang sama. Rotasi panen erat hubungannya dengan kerapatan panen, kapasitas pemanen, dan kondisi atau keadaan pabrik. Oleh

(9)

karena itu rotasi panen dalam realitanya dapat berubah-ubah tergantung kondisi yang ada di lapangan. Pada hari untuk penentuan pemanen perlu diatur agar hari istirahat pabrik tersedia.

Sistem yang dieal untuk panen, sehingga memperoleh buah sesuai yang diinginkan dan dalam derajat kematangan yang sama ialah mengontrol para pemanen disetiap areal/pokok. Dengan demikian tandan buah dapat dipilih pada saat dilakukan pemanen dengan derajat kematangan yang diinginkan, yaitu pada saat dimana diharapkan buah tersebut telah memenuhi kriteria matang panen.

Dengan rotasi panen, dimaksudkan agar mutu TBS yang dipanen akan relative sama, dimana pada usim panen rendah rotasi panen diperpanjang sehingga kerapatan buah matang lebih banyak dan pada musim roduksi tinggi panen diperpendek sehingga kemungkinan buah tinggal atau busuk dapat dihindari.

Dalam rotasi yang normal,yaitu tidak ada dijumpai persoalan untuk mengolah produksi yang dihasilkan. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam keadaan normal panen dilakukan setiap senin sampai jum’at setiap minggunya. Rosati panen dianggap baik bila buah tidak terlalu matang, yaitu menggunakan sistem 5/7, yang artinya dalam satu minggu terdapat 5 hari panen masing-masing ancak panen diulang 7 hari berikutnya. Sepanjang manajemen dapat mengatur dan mengendalikan pekerja, maka tidak perlu melakukan perubahan ancak panen dan sistem rotasi 5/7 ini.

(10)

Pemanenan dilakukan terus-menerus sepanjang tahun sesuai ketentuan perusahaan.

Oleh karena itu diperlukan sistem panen berupa pembagian ancak panen yaitu :

1. Ancak Panen

Ancak panen adalah luasan yang menjadi tanggung jawab pemanen. Sistem ancak panen bergantung pada keadaan topografi lahan ketersediaan tenaga kerja. Setiap hari, pekerja diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh efektivitas kerja yang optimum. Adakalanya pekerja diberi ancak tertentu tiap harinya, tanpa keharusan/kesempatan berpindah, dan adakalanya kesempatan pindah ini sudah diatur, merupakan keharusan. Berdasarkan keadaan-keadaan di atas, pengaturan perpindahan ancak harian pekerja tersebut dapat digolongkan atas 2 bagian sebagai berikut :

Ancak Tetap

Ancak tetap adalah setiap pemanen diberikan ancak panen sama dengan luasan tertentu dan harus selesai pada hari tertentu. Kelebihan ancak tetap adalah pemanen tidak perlu berpindah-pindah, setiap pemanen bertanggung jawab terhadap ancak panen dan mudah dikontrol kualitasnya. Kelemahan ancak panen tetap adalah buah terlambat sampai ditempat pengumpul hasil hasil (TPH) dikarenakan areal tersebut.

Pada sistem ini pemanen berada pada areal panen tetap. Areal panen biasanya berbukit sampai belereng dan curam atau letaknya terpencil. Sehingga perlu cara khusus untuk dapat mengumpulkan Tandan Buah Segar

(11)

(TBS) ketempat pengumpulan hasil (TPH) untuk selanjutnya diangkut dengan truk buah dan diantar ke pabrik kelapa sawit (PKS).

Ancak Giring

Ancak giring adalah setiap pemanen diberikan ancak perbaris tanaman dan digiring bersama-sama. Luasnya ancak tergantung pada kapasitas pemanen, dan dapat berubah-ubah setiap kalinya, karena ada kewajiban untuk pindah, dan ancak terbatas, maka buah diharuskan sudah berada seluruhnya di tempat pengumpulah hasil (TPH), setelah buah dipanen. Dengan demikian, pengawasan kerja oleh mandor akan lebih intensip, disamping buah dapat segera diangkut kepabrik.

Kelebihan ancak giring adalah pengawasan lebih terjaga karena luasan juga lebih kecil, tandan cepat sampai ke TPH karena luasannya yang lebih kecil dibandingkan dengan ancak tetap. Dan kelemahan sistem ancak giring adalah perpindahan akan menambah beban waktu dan jarak tempuh pekerja setiap pemanen selalu mencari buah yang mudah dipanen yang mengakibatkan memakan waktu dan pengontrolan kualitasnya lebih sulit.

Cara pindahnya ialah :

1. Ancak giring orang tetap : pemanen pertama mengambil gawangan pertama pada perpindahan berikutnya.

2. Ancak giring orang tidak tetap : gawangan pertama pada perpindahan berikutnya dikerjakan oleh siapa saja/pemanen yang terlebih dahulu selesai.

(12)

Ancak Giring

Orang Tetap Orang Tidak Tetap

Toni 1 Toni 1 Ari 2 Ari 2 Joko 3 Joko 3 Iwan 4 Iwan 4 Edi 5 Edi 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 10 Gawangan Gawangan

Gambar 1. Cara berpindah tenaga kerja dalam sistem ancak giring 2. Organisasi Panen

Keberhahasilan pelaksanaan panen di pengaruhi juga oleh organisasi dan pegawasan. Rotasi panen 5/7 artinya dalam 5 kaveld pusingan 7 hari. Tenaga panen harus cukup baik yaitu 0,8 US/Ha. Kerapatan panen dan kebutuhan tenaga panen harus dihitung dan dibahas oleh mandor panen, yaitu oleh mandor 1 dan asisten afdeling sehari sebelumnya. Sebelum pukul 06.00 WIB mandor panen mengatur ancak dan pukul 06.30 WIB pemanen harus mulai bekerja.

(13)

Sistem panen harus dengan ancak giring yaitu menggiring tenaga kerja secara lebih efektif dan efisien. Tiap pemanen harus membawa pembantu 1 orang BHL. Tandan buah segar harus diantrikan :

 1/2 bagian yang pertama pada pukul 09.00 WIB

 1/3 bagian yang kedua pada pukul 12.00 WIB

 1/3 bagian yang terakhir pada pukul 15.00 WIB

Brondolan yang harus disetorkan secara terpissah di tempat pengumpulan brondolan yang ditentukan dan diterima oleh krani penerimaan brondolan. Mandor panen harus melakukan sortasi panen di tempat pengumpulan hasil (TPH) dan TPB pada buah dan brondolan yang sudah ada di TPH dan TPB. Sortasi buah dilakukan 5% dari buah yang masuk afdeling 1 truk. Jika terdapat buah mentah, petugas harus mencatat nomor pemanen yang ada pada tandan dan denda tidak mendapat premi kerajinan.

3. Kebutuhan Tenaga Panen/Basis borong

Jumlah tenaga panen yang harus disiapkan berdasarkan kebutuhan pada panen puncak. Untuk menghitung jumlah panen yang dibutuhkan pada esok hari. Mandor panen harus melakukan pengamatan kerapatan buah matang diblok yang akan dipanen pada hari sebelumnya (1 hari sebelum panen dan biasanya dilakukan pada sore hari, pada saat mandor panen pulang kerja dinas). Berdasarkan jumlah tanda matang yang akan dipanen dan kapasitas pemanen, maka pada pagi hari mandor panen sudah dapat menentukan jumlah pemanen untuk panen hari ini.

(14)

Persiapan tenaga panen meliputi jumlah tenaga kerja dan pengetahuan serta keterampilannya. Persiapan tenaga panen perlu dilakukan dengan baik dan tepat waktu agar pada saat panen dimulai, produksi dapat dikumpulkan, sehingga kegiatan rendah digunakan untuk kegiatan penunasan. (Fadli M. L. dkk. 2006).

Untuk menghitung jumlah tenaga kerja pemanen buah digunakan rumus sebagai berikut :

Kebutuhan tenaga panen : 𝑎𝑥𝑏𝑥𝑐𝑥𝑑𝐸 Keterangan :

A = luas ancak yang dipanen B = kerapatan panen

C = rata-rata buah ( Kg ) D = populasi tanaman/ha E = kapasitas panen/ HK

Penentuan basis borong didasarkan pada umur tanaman, produksi, topografi, musim panen dan pengaruh hujan pada jam kerja, maka diberikan standar kapasitas pemanen atau basis borong dimana kelebihan kapasitasnya akan dibayar berdasarkan insentip atau rangsangan atau premi yang diatur oleh masing-masing perusahan.

(15)

C. Premi Panen

Premi panen adalah imbalan yang dibayar diluar upah tetap berupa insentip kepada tenaga panen dari adanya kelebihan basis boron. Besarnya premi tergantung kepada banyaknya kilogram tandan yang diperoleh diatas basis borong. Premi panen dan brondolan diberikan terpisah dengan nilai premi per-Kg yang berbeda. Pemberian premi panen bertujuan untuk meningkatkan pendapatan karyawan dan lebih memotivasi pemanen / petugas yang terkait dengan panen agar seluruh buah matang dilapangan terpanen.

Sedangkan premi brondolan diberikan bertujuan untuk lebih memotivasi pengutipan brondolan dan meminimalisirkan kehilangan brondolan dilapangan. Penerapan sistem premi panen harus didasarkan pada biaya pemotongan tandan buah segar per-Kg sesuai dengan anggaran tahunan yang sudah berjalan dan melihat sistem premi tahun sebelumnya.

Pada beberapa perusahaan perkebunan nilai premi berasal dari berapa penjumlahan NPK + NPM yaitu nilai premi kerajinan (NPK) = Rp/hari. Contoh prestasi normal 800 kg, perhitungan NPK sebagai berikut :

< 800 kg = Rp 0,-/hari 800-1000 kg = Rp 1.250,-/hari 1001-1250 = Rp 1.500,-/hari >1250 kg = Rp 1.750,-/hari

Pada nilai mutu (NPM) ialah setiap pemanen diberi nilai mutu yang ditinjau 1x/bulan. Misalnya bila panen Pak Amat dengan kelas A mencapai

(16)

realisasi 900 kg, maka premi hari tersebut ialah Rp 1.250,- + (100 x Rp 10,-) maka hasilnya adalah Rp 2.250,-. Catatan yang perlu diperhatikan ialah pada umumnya nilai premi dihitung untuk tiap 1 bulan.

Tabel 4. Kriteria Kelas Pemanen

Kelas Pemanen Nilai Premi/kg TBS

A > 85 10

B 70 - 85 8

C 50 - 70 5

D < 50 0

Sumber : Buku Pintar Mandor (BPM)

Sistem denda atau penalti yaitu selain premi maka dapat juga diberlakukan sistem pemberian denda atas kesalahan yang dibuat oleh setiap pemanen. Denda yang dimaksud dapat berupa pengurangan terhadap nilai mutu panen. Sebagai contoh pengurangan pada sistem denda atau penalti ialah pada tandan matang tidak dipanen (-5), tandan matang panen tapi tidak dikumpulkan (-5), brondolan tidak dikutip (-1), tandan mentah tetapi dipanen (-4), tandan kosong berada di TPH (-2), gagang panjang atau tangkai buah tidak membentuk cangkam kodok (-1).

Premi Tanda Buah Segar ( TBS ) diberikan secara perorangan dan ditentukan berdasarkan BRT, tahun tanam, dan topogragi. Semakin berbukit/curam topografinya semakin mahal premi panennya dan basis borong semakin rendah. Untuk meningkatkan prestasi panen dalam kwalitas

(17)

dan kwantitas maka perlu diberikan kelebihan premi borong dan premi kerajinan.

Tabel 5. Ketentuan Basis Borong Menurut Topografi TonTBS (ha/ Thn) BB areal Datar (kg TBS) Berbukit Curam Prestasi normal (Kg) <8 250 200 175 400 8 – 12 400 320 280 500 12- 18 550 440 385 700 18 – 23 700 560 490 800 23 – 25 700 640 560 800 > 25 800 640 560 1000

Sumber : Vademikum Budidaya Sawit PTPN III

Panen dalam suatu areal dianggap baik apabila memenuhi syarat-syarat berikut :

1. Kwalitas tandan yang dipanen persatuan luas harus sebanyak mungkin atau dengan perkataan lain tiap tiap tandan yang matang panen harus dipanen.

2. Kwalitas tandan yang dipanen dalam pengolahan pabrik harus memberikan rendemen minyak sawit dan inti sawit yang setinggi-tinggi nya dan kandungan asam lemak bebas serendah-rendahnya. 3. Areal tanaman kelapa sawit yang telah selesai dipanen harus dalam

kondisi yang sebaik-baiknya Untuk mengangkut buah ke tempat pengumpulan hasil dan mengumpulkan brondolan adalah merupakan tanggung jawab pemanen.

(18)

1. Premi Kwalitas

Seorang pemeriksa dapat memperoleh maximum premi kualitas jika hasil pemeriksaan kualitas panen yang dilakukan oleh asisten kebun pada bulan tersebut memenuhi syarat-syarat panen. Dengan demikian premi kualitas berfungsi sebagai pengendali prestasi harian pemanen. Pemanen yang prestasinya relative tinggi dan stabil setiap harinya akan biasa mendapatkan premi hadir penuh dalam sebulan.

Sebaliknya bagi pemanen yang labil prestasi hariannya, sulit untuk mendapatkan premi hadir secara penuh dalam sebulan. Untuk mengetahui premi setiap pemanen, assisten kebun harus memeriksa 5 kali pada ancak masing-masing setiap bulan. Pemeriksaan dilakukan di satu pasar panen ± 100 pohon pada saat selesai panen.

Pemeriksaan yang di lakukan meliputi : a. Pemeriksaan lapangan

b. Pemeriksaan ditempat pengumpulan hasil 1. Pemeriksaan gagang panjang

2. Kebersihan brondolan 3. Tandan buah afkir 4. Tandan buah mentah

5. Alat-alat panen dari susunan tandan buah rapi c. Pemeriksaan pada areal yang sedang di panen.

(19)

2. Premi Produksi

Basis borong seorang pemanen ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain : umur tanaman, bahan tanaman, berat tandan, rotasi panen, jumlah tandan per-Ha yang yang matang panen dan situasi areal akan dipanen dalam (pemberantasan gulma, keadaan teran). Itulah sebabnya perlu diciptakan sistem basis borong pemanen per hari panen. (Vadenecum Tanaman Kelapa Sawit 1998).

Premi produksi diberikan apabila pemanen dapat melampaui basis borong yang telah ditetapkan oleh pihak preusahaan maupun kebun, yang disesuaikan dengan kelas pemanen tersebut. Besar kecilnya premi produksi yang diperoleh pemanen, tergantung dari jumlah produksi tandan dari jumlah produksi tandan buah segar (TBS) yang dicapai setiap harinya. Semakin tinggi hasil produksinya maka semakin besar pula premi produksi yang diperoleh.

3. Premi Panen Hari Minggu

Premi mingguan merupakan premi yang diberikan kepada karyawan atau pemanen yang bekerja pada hari minggu/diluar jam kerja biasa. Tujuan pemberian premi ini untuk mengajak para karyawan mau bekerja pada hari minggu, sehingga target produksi perusahaan dapat tercapai yaitu mengurangi tingkat restan buah yang tinggi dan buah yang tidak terpanen di pohon.

Pada panen puncak produksi kelapa sawit terus menerus sepanjang tahun, tetapi secara umum mempunyai tiga pola panen yaitu pada saat

(20)

panen rendah( yaitu pada musim trek), pada saat panen sedang (yaitu pada bulan-bulan biasa) dan yang terakhir ialah pada saat panen puncak.

Pola penyebaran panen bulanan (PPB) diamati dari catatan panen yang sudah ada dan apabila sudah cukup data dibuat pola yaitu memiliki rata-rata 5 tahun. Pada tabel 5 disajikan pembagian kapveld, rotasi, dan penyebaran panen.

Tabel 5. Pembagian kapveld, Rotasi dan Penyebaran Panen

Uraian Panen Puncak Panen Sedang Panen Rendah Kapveld 4 5 9 Rotasi 4/5, 4/6 5/7 9/11 Penyebaran Panen 1/2 – 1/4 1/5 – 1/7 1/8 - 120 Sumber : Buku Pintar Mandor (BPM)

Pada saat bulan puncak ada 2 hal yang sangat perlu diantisipasi, yaitu antisipasi terhadap pemanen tambahan, dimana untuk mendapatkan kebutuhan pemanen melalui proses perhitungan sesuai perkiraan produksi. Antisipasi berikutnya tambahan untuk transportasi atau angkutan yaitu dengan mempertimbangkan penambahan truck atau penambahan jumlah trip.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :