e-ISSN: 2655-2477 88 STUDI KOMPARATIF AKAD PEGADAIAN KONVENSIONAL DAN
PEGADAIAN SYARIAH DI KOTA PEKANBARU
COMPARATIVE STUDY OF CONTRACT USED BY CONVENTIONAL AND SHARIA PAWNSHOPS IN THE CITY OF PEKANBARU
Hidayat
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru, Riau 28284
Email : [email protected]
ABSTRACT
The presence of pawnshops in the city of Pekanbaru, either using conventional or sharia-based systems, has become a practical solution for the community when facing financial problems. However, there is an assumption in the community that there is no fundamental difference in the practice of the two models of pawnshops (conventional and sharia). Based on these facts, the objectives of this study are: (1) to find out the implementation of contract used by conventional pawnshops and sharia pawnshops in the city of Pekanbaru, (2) to critically analyze the implementation of conventional pawnshops and sharia pawnshops in the city of Pekanbaru. The subjects in this study were all parties involved in pawn transactions both sharia and conventional, totaling 57 people. The analytical method used is a qualitative descriptive analysis method. This study collects three research variables, namely: (a) pawn contract agreement (b) estimation and fees set to the customer, and (c) maturity and ransom collateral. After conducting research and critical analysis using the Islamic perspective, research results were obtained, which in general shows there was no difference between conventional and sharia-based pawning in the city of Pekanbaru, both are contrary to the principle of Islamic muamalah. Conventional mortgage uses the principle of interest or usury, while in the implementation of sharia-based mortgage there are two contracts (double contracts) in the mortgage transaction (rahn). In addition, the determination of administrative costs and safekeeping fees is based on the length of time of the loan, not based on the principle of ijarah, which is measured based on perceived benefits. Usury is decisively prohibited in Islam, as well as the double agreement on the implementation of sharia-based pawning and incompatibility with the principle of ijarah in Islam. Thus, conclusions drawn from the implementation of the contract/pawning transaction both at conventional and sharia-based pawnshops, that its law is facade (broken) and contrary to the principle of Islamic muamalah. Keywords: conventional pawnshop, sharia-based pawnshop, pawning contracts
ABSTRAK
Kehadiran lembaga pegadaian di Kota Pekanbaru, baik yang menggunakan sistem konvensional maupun yang berbasis syariah, telah menjadi solusi praktis bagi masyarakat ketika menghadapi permasalahan finansial. Akan tetapi, ada anggapan di masyarakat bahwa tidak ada perbedaan yang mendasar dalam praktek dua model pegadaian tersebut (konvensional dan syariah). Berdasarkan fakta-fakta tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pelaksanaan akad pegadaian konvensional dan pegadaian syariah di Kota Pekanbaru, (2) untuk menganalisa secara kritis pelaksanaan pegadaian konvensional dan pegadaian syariah di Kota Pekanbaru. Subjek dalam penelitian ini adalah semua pihak yang terlibat dalam transaksi pelaksanaan gadai baik syariah maupun konvensional, berjumlah 57 orang. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengumpulkan tiga variabel penelitian yaitu: (a) Akad perjanjian gadai, (b) Taksiran dan biaya yang ditetapkan kepada nasabah, dan (c) Jatuh tempo dan tebusan agunan. Setelah dilakukan penelitian dan dianalisis kritis dalam perspektif muamalah Islam, diperoleh hasil penelitian yang mana secara umum tidak terdapat perbedaan antara gadai
e-ISSN: 2655-2477 89 konvensional dengan yang berbasis syariah di Kota Pekanbaru, keduanya bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam. Pada pelaksanaan gadai konvensional menggunakan prinsip bunga atau riba, sementara dalam pelaksanaan gadai syariah terdapat dua akad (double contract) dalam transaksi gadai (rahn). Di samping itu, penetapan biaya administrasi dan biaya penitipan berdasarkan lamanya waktu pinjaman, bukan berdasarkan prinsip ijarah yang diukur berdasarkan manfaat yang dirasakan. Riba secara tegas dilarang di dalam Islam, begitu juga akad ganda pada pelaksanaan gadai berbasis syariah dan tidak sesuainya dengan prinsip ijarah di dalam Islam. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan akad/transaksi gadai baik di pegadaian konvensional maupun di pegadaian syariah hukumnya fasad (rusak) dan bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam.
Kata kunci: pegadaian konvensional, pegadaian syariah, akad gadai 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Praktek pegadaian sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, bahkan sejak zaman penjajahan. Kehadiran lembaga tersebut menjadi solusi praktis bagi masyarakat yang bankable, ketika menghadapi permasalahan finansial. Dari sisi sejarah, perkembangan pegadaian konvensional berawal dari lahirnya pegadaian pada zaman Pemerintahan Belanda di Indonesia dengan nama Bank Van Leening pada tahun 1811. Pada 1 April 1901, didirikan pegadaian negara pertama di Sukabumi, Jawa Barat. Selanjutnya didirikan kantor-kantor cabang di seluruh Indonesia, termasuk diantaranya Kantor Cabang Pegadaian Pekanbaru di Jalan Teratai, selanjutnya Kantor Cabang ke-2 di Jalan Jenderal Soedirman No. 455. Dalam perkembangannya, Kantor Cabang Soedirman menjadi kantor cabang terbesar di Kanwil II Padang, meliputi wilayah Sumatera Barat, Riau, Kepri, Jambi, Bengkulu, Lampung dan Sumatera Selatan. Pada 20 November 2008 berdiri Kantor Cabang Pegadaian Syariah Pekanbaru di Pandau, kemudian pada 2 Januari 2011 dipindahkan dipindahkan berdasarkan Keputusan Pemimpin Wilayah (KANWIL) II, Perum Pegadaian Pekanbaru No.302/OP 1.14001/2011, tentang Pembukaan Kantor Cabang Pegadaian Syariah Cabang HR. Soebrantas Panam.
Perkembangan Pegadaian Syariah adalah seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat muslim dalam bertransaksi, mereka ingin sesuai dengan prinsip muamalah di dalam Islam. Hal ini merupakan dorongan aqidah Islamiyah yang menuntun mereka senantiasa menjauhkan diri berbagai praktek/bentuk muamalah yang bertentangan dengan prinsip Islam, di antaranya menerapkan prinsip ribawi (bunga). Praktek pegadaian konvensional yang selama ini ada di masyarakat menerapkan prinsip bunga (ribawi). Praktek tersebut secara jelas bertentangan dengan prinsip Islam yang mengharamkan praktek ribawi (bunga). Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, hadir gadai yang menggunakan prinsip syariah dan senantiasa berpedoman dengan prinsip-prinsip muamalah di dalam Islam dengan menolak praktek MaGhRiB, yakni Maisir (spekulasi/judi/gambling),
Gharar (Penipuan/Penyesatan), Riba dan Bathil. Meski demikian, ada anggapan di
masyarakat bahwa tidak ada perbedaan yang mendasar dalam praktek dua model pegadaian tersebut (konvensional dan syariah).
e-ISSN: 2655-2477 90 1.2. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
Dari uraian permasalahan di atas dirumuskan beberapa permasalahan dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimana pelaksanaan akad gadai konvensional dan syariah di Kota Pekanbaru? (2) Bagaimana analisis kritis pelaksanaan gadai konvensional dan syariah di Kota Pekanbaru?. Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui pelaksanaan akad pegadaian konvensional dan syariah di Kota Pekanbaru, (2) Untuk menganalisa secara kritis pelaksanaan pegadaian konvensional dan syariah di Kota Pekanbaru.
2. METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu memaparkan, menggambarkan atau mengungkapkan komparasi antara gadai dengan sistem konvensional dan gadai dengan sistem syariah sehingga ditarik kesimpulan dari fakta analisis yang ditemukan (Sunggono, 2003: 27). Subjek dalam penelitian semua pihak yang terlibat dalam transaksi pelaksanaan gadai baik syariah maupun konvensional, seperti pimpinan atau karyawan, dan nasabah atau masyarakat Kantor Pegadaian Konvensional dan Syariah di Pekanbaru, berjumlah 57 orang. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan, dari bulan Maret sampai bulan Mei tahun 2012.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN.
3.1. Pelaksanaan Gadai Konvensional di Kota Pekanbaru
Penelitian ini mengumpulkan 3 (tiga) variabel penelitian yaitu: (a) Akad perjanjian gadai, (b) Taksiran dan biaya yang ditetapkan kepada nasabah, dan (c) Jatuh tempo dan tebusan agunan. Dari ketiga variabel tersebut diperoleh data penelitian sebagai berikut:
3.1.1. Akad Perjanjian Gadai di Pegadaian Konvensional
Pelaksanaan gadai dengan sistem konvensional berpedoman kepada undang-undang yang berlaku, yaitu KUH-Perdata yang diatur dalam Buku II Titel 20 Pasal 1150 sampai dengan Pasal 1161 KUH-Perdata. Pengaturannya tentang ketentuan umum sampai kepada hak dan kewajiban dalam pelaksanaan gadai. Dalam pelaksanannya, barang yang dijadikan agunan berupa barang bergerak dan tidak bergerak, yaitu: (1) Angunan emas perhiasan, batangan dan berlian, (2) Agunan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, (3) Agunan barang elektronik dan peralatan rumah tangga dan sejenisnya, (4) Surat-Surat berharga. Dalam pelaksanaan akad perjanjian gadai tersebut ditetapkan adanya sewa modal atau bunga yang ditetapkan dan dibebankan kepada nasabah dari transaksi gadai yang dilakukan. Sewa modal atau bunga tersebut bersifat variatif dengan tujuan menarik keinginan masyarakat yang membutuhkan dana dan bertransaksi di Pegadaian.
Ada tiga tingkatan bunga yang ditetapkan di Pegadaian Konvensional, sebagai berikut:
e-ISSN: 2655-2477 91 a. Golongan A, untuk utang sebesar Rp. 20.000,- sampai Rp. 120.000,- bunga yang
dibebankan sebesar 1,125% per 15 hari. Dengan jatuh tempo maksimal 120 hari. Pada golongan ini, dimana bunga yang dibebankan sebesar 9% per 120 hari.
b. Golongan B, untuk utang sebesar Rp. 151.000,- hingga Rp. 500.000,- bunga yang dibebankan sebesar 1,6% per 15 hari. Dengan jatuh tempo maksimal 120 hari. Pada golongan ini, dimana bunga yang dibebankan sebesar 12,8% per 120 hari.
c. Golongan C, untuk utang sebesar Rp. 505.000,- hingga Rp. 20.000.000,-, bunga yang dibebankan sebesar Rp. 1,6% per 15 hari. Dengan jatuh tempo maksimal 120 hari. Artinya bunga yang dibebankan kepada nasabah sebesar 12,8% per 120 hari.
Dari tiga tingkatan modal sewa atau bunga di atas diketahui bahwa besarnya bunga tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh besarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah. Akan tetapi, dipengaruhi oleh waktu jatuh tempo yang dipilih nasabah. Kemudian, besarnya bunga yang ditetapkan dibayar pada saat pelunasan utang ditambah bunga yang ditetapkan pada saat menebus agunan yang diserahkan sebelumnya kepada Kantor Pegadaian Konvensional Pekanbaru.
Jenis barang yang bisa diagunkan di Pegadaian Konvensional Pekanbaru, sebagai berikut:
a. Agunan emas perhiasan, batangan dan berlian dengan beberapa ketentuan: (1) Menyerahkan barang kepada petugas penaksir barang jaminan; (2) Memperlihatkan KTP atau pengenal lainnya; dan (3) Memperlihatkan surat kepemilikan (jika ada)
b. Agunan kendaraan bermotor, dengan ketentuan: (1) Nomor Polisi dalam wilayah hukum Riau (plat BM….) (2) Produksi 10 tahun terakhir, (3) Kendaraan layak diterima sebagai agunan, (4) Kendaraan dalam keadaan bersih dan lengkap, (4) Jika nama dan alamat peminta kredit sama dengan nama yang tertera pada BPKB dan STNK perlu melampirkan: a) BPKB asli dan STNK asli; b) Fotocopy KTP si peminta kredit (si penggadai); c) Kwitansi kosong bermaterai. (5) Jika nama dan alamat peminta kredit tidak sama dengan nama yang tertera pada BPKB dan STNK harus melampirkan: a) BPKB asli dan STNK asli; b) Kwitansi bukti pembelian dari pemilik lama; c) Fotocopy KTP pemilik lama/terakhir di STNK; d) Fotocopy KTP si peminta kredit / yang menggadaikan; e) Surat pernyataan belum balik nama bermaterai (6) Jika nasabah / peminta kredit diberi kuasa oleh pemiliknya: a) BPKB asli dan STNK asli; b) Kwitansi kosong bermaterai; c) Surat Kuasa dari pemilik bermaterai; d) Fotocopy KTP pemberi kuasa dan yang dikuasakan.
c. Agunan elektronik, dengan ketentuan: (1) Melampirkan kwitansi lunas pembelian, (2) Fotocopy KTP yang menggadaikan, (3) Disertakan perlengkapan pembantu (remote control, dan lain-lain).
3.1.2. Biaya dan Taksiran di Pegadaian Konvensional
Ada 2 jenis biaya dibebankan kepada nasabah yang bertransaksi di Pegadaian Konvensional, yaitu biaya administrasi dan biaya perawatan barang yang diagunkan, secara detil dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
e-ISSN: 2655-2477 92 Tabel 1. Biaya administrasi Pegadaian Konvensional
No Golongan Plafon Agunan (Rp) Biaya Administrasi (Rp) 1 100.000,- 5.000.000,- 15.000,-
2 5.100.000,- 10.000.000,- 25.000,- 3 10.100.000,- 20.000.000,- 40.000,- Sumber: Kantor Pegadaian Konvensional Pekanbaru, Tahun 2012.
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa besarnya biaya administrasi dipengaruhi oleh besarnya pinjaman yang diterima nasabah dari Pegadaian Konvensional Pekanbaru. Adapun besarnya pinjaman yang diterima nasabah ditentukan oleh jenis barang yang diagunkan. Semakin besar pinjaman yang diterima, maka semakin besar pula biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah. Misalkan, nasabah menerima pinjaman antara Rp. 100.000 sampai Rp. 5.000.000, maka dibebankan biaya administrasi sebesar Rp. 15.000, dan seterusnya mengikuti besarnya pinjaman.
Di samping biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah, Pegadaian Konvensional juga menetapkan adanya biaya perawatan barang agunan. Biaya ini juga dikenal juga dengan biaya penitipan atau peyimpanan barang agunan. Besarnya biaya agunan ditentukan oleh jenis barang yang dijadikan agunan. Secara umum, besarnya biaya taksiran yaitu 80% dari taksiran harga pasar dari barang yang diagunkan. Misalkan 1 emas dengan harga jual senilai Rp. 2.500.000, maka besarnya taksiran pinjaman yang diberikan Pegadaian Konvensional sebesar 80%, maka pihak Pegadaian Konvensional hanya mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 2.000.000. adapun kalkulasi biaya titipan sebagai berikut:
- Biaya Penitipan Konvensional = (Taksiran : Biaya Administrasi) x 120 - Biaya Penitipan Konvensional = (2.000.000 : 15.000) x 120
- Biaya Penitipan Konvensional = 16.000 / 15 hari.
Jika nasabah menggadaikan emasnya 1 emas, mendapatkan pinjaman yang maksimal sebesar Rp. 2.000.000 dengan masa gadai selama 15 hari, dengan biaya gadai Rp. 15.000, biaya titipan selama 15 hari sebesar Rp. 16.000. Dengan demikian, jelaslah bahwa semakin lama waktu gadai, maka semakin besar biaya titip agunan gadai yang dibebankan kepada nasabah.
3.1.3. Jatuh Tempo dan Tebusan Agunan di Pegadaian Konvensional
Tebusan agunan yang telah diserahkan nasabah ke Pegadaian Konvensional dapat ditebus kapan pun nasabah menginginkan sebelum melewati masa jatuh tempo yang disepakati dan ditetapkan. Namun, nasabah bisa memperpanjang masa jatuh tempo dari perjanjian akad/transaksi gadai yang disepakati sebelumnya, dengan konsekuensi nasabah dibebankan membayar bunga dari perpanjangan akad/transaksi gadai di Pegadaian Konvensional Pekanbaru.
Bagi nasabah yang tidak melakukan pelunasan setelah masa jatuh tempo tebusan agunan gadai di Pegadaian Konvensional, selanjutnya nasabah akan diberikan peringatan dengan cara memberitahukan nasabah tentang berakhirnya masa jatuh tempo penebusan agunan gadai. Jika peringatan yang dilakukan tidak mendorong nasabah melunasi hutangnya, maka pihak pegadaian akan mengambil tindakan tegas berupa pelelangan agunan milik nasabah. Hasil pelelangan yang
e-ISSN: 2655-2477 93 dilakukan digunakan untuk menebus utang nasabah kepada pihak Pegadaian Konvensional. Jika dari pelelangan agunan yang dilakukan Pegadaian Konvensional belum menutupi besarnya utang dan bunga utang yang dibebankan, maka nasabah tetap dibebankan melunasi kekurangannya.
Ketika dari hasil pelelangan agunan ada kelebihannya uang dari pelunasan utang dan bunga, maka kelebihannya dikembalikan kepada nasabah, dengan menginformasikan kelebihan tersebut dan mengambilnya ke kantor Pegadaian Konvensional. Jika dalam waktu yang ditentukan kelebihan pelelangan agunan tidak diambil, maka kelebihan tersebut menjadi milik Pegadaian.
3.2. Pelaksanaan Gadai Syariah di Kota Pekanbaru 3.2.1. Akad Perjanjian Gadai di Pegadaian Syariah
Pegadaian syariah merupakan konsep pegadaian yang menawarkan solusi dari praktek gadai konvensional yang selama ini menggunakan sistem bunga (interest) atau riba. Sehingga secara prinsip, akad/transaksi gadai yang terjadi antara nasabah dengan pihak Pegadaian Syariah harus terhindar dari praktek bunga atau riba. Karena Islam secara tegas melarang bunga atau riba. Bunga atau riba merupakan bentuk muamalah yang dilarang dengan status hukum haram. Dengan demikian, akad/transaksi yang terjadi di Pergadaian Syariah berbeda dengan akad/transaksi di Pegadaian Konvensional.
Aspek akad/transaksi yang membedakan antara gadai di Pegadaian Syariah dengan Konvensional, yaitu:
1. Legalitas Produk di Pegadaian Syariah
Sebelum produk ditawarkan kepada masyarakat, terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Persetujuan yang dikeluarkan berbentuk fatwa DSN-MUI. Sehingga dalam beroperasi di masyarakat fatwa DSN-MUI sebagai legalitas dan dasar utama Pegadaian Syariah dalam menjalankan produknya di masyarakat. Adapun fatwa DSN-MUI yang menjadi dasar Pegadaian Syariah, adalah Fatwa DSN MUI Nomor 25/DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn (Gadai), yang disahkan pada tanggal 26 Juni 2002, dan Fatwa Nomor 26 DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn Emas.
Aspek legalitas DSN-MUI merupakan salah satu aspek yang membedakan pelaksanaan gadai antara Konvensional dan Syariah, khususnya di Pekanbaru. Karena secara prinsip, Pegadaian Syariah tidak akan menawarkan produknya kepada masyarakat sebelum mendapatkan legalitas (fatwa) yang dikeluarkan oleh DSN-MUI. DSN-MUI merupakan lembaga/badan indepen yang berperan mengawasi berjalannya lembaga keuangan syariah, di antaranya Pegadaian Syariah di Pekanbaru, dengan senantiasa berdasarkan prinsip-prinsip bermuamalah di dalam Islam.
2. Akad yang digunakan
Pelaksanaan Akad/transaksi di Pegadaian Syariah Pekanbaru menggunakan dua jenis akad, yaitu akad rahn (gadai) dan ijarah. Akad rahn disepakati ketika memberikan pinjaman kepada nasabah. Sementara akad ijarah disepakati untuk perawatan atau penitipan barang agunan sebagai jaminan dari akad rahn, meliputi biaya penjagaan, penggantian kehilangan, asuransi, gudang penyimpanan, dan pengelolaan. Adapun jenis barang yang dijadikan agunan dalam akad/transaksi gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru, yaitu : (a) Agunan emas perhiasan,
e-ISSN: 2655-2477 94 batangan dan berlian; (b) Agunan kendaraan bermotor; (c) Agunan elektronik ; dan (d) Agunan peralatan rumah tangga lainnya. (Sumber: Pegadaian Syariah).
Dengan demikian dalam pelaksanaan akad/transaksi gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru terdapat dua jenis akad yang dilakukan dan disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu akad rahn dan akad ijarah. Kedua jenis akad yang disepakati dalam akad/transaksi gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru secara rinci ditulis pada Surat Bukti Rahn (SBR). Dalam bertransaksi, setiap nasabah memahami jenis akad yang disepakati oleh kedua belah pihak. Meski secara konsep, kedua jenis akad tersebut memiliki perbedaan. Akan tetapi secara teknis, kedua akad tersebut disepakati secara bersamaan dalam akad/transaksi gadai yang dilakukan. Sehingga nasabah tidak perlu melakukan 2 kali akad. Sebab, di dalam SBR yang ditanda tangani sudah mencakup 2 jenis akad tersebut.
3.2.2. Taksiran Biaya yang Dibebankan kepada Nasabah Pegadaian Syariah Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pelaksanaan gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru berbeda dengan konvensional, baik secara konsep maupun secara teknis pelaksanaan, seperti pengambilan keuntungan dalam akad/transaksi gadai di Pegadaian Syariah. Adapun keuntungan yang diambil tidak berdasarkan sistem bunga pinjaman nasabah atau pun dari sistem bagi hasil (profit loss and
sharing) nasabah dengan pihak Pegadaian Syariah Pekanbaru. Akan tetapi,
keuntungan diambil dari upah jasa pemeliharaan barang jaminan atau biaya penitipan barang agunan, dan biaya administrasi yang dibebankan dari setiap transaksi gadai yang dilakukan.
1. Biaya Administrasi
Biaya administrasi merupakan biaya yang merupakan keuntungan yang diambil Pegadaian Syariah Pekanbaru kepada nasabah. Adapun besarnya biaya administrasi mengikuti besarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dalam akad/transaksi gadai. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 2 berikut.
Tabel 2. Biaya Administrasi Pegadaian Syariah
No Golongan Plafon Pinjaman (Marhun Bih) (Rp) Biaya Administrasi (Rp) 1 20.000,- 150.000,- 1.000,- 2 151.000,- 500.000,- 5.000,- 3 501.000,- 1.000.000,- 8.000,- 4 1.005.000,- 5.000.000,- 16.000,- 5 5.010.000,- 10.000.000,- 25.000,- 6 10.050.000,- 20.000.000,- 40.000,- 7 20.100.000,- 50.000.000,- 50.000,- 8 50.100.000,- 200.000.000,- 60.000,- Sumber: Kantor Pegadaian Syariah Pekanbaru, Tahun 2012.
Dari tabel di atas diketahui bahwa besarnya biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah dipengaruhi oleh besarnya taksiran pinjaman yang diberikan Pegadaian Syariah Pekanbaru.
e-ISSN: 2655-2477 95 2. Taksiran Biaya Penitipan Agunan
Secara umum besarnya biaya jaminan penyimpanan ditentukan oleh jenis barang jaminan yang diagunkan nasabah kepada Pegadaian Syariah Pekanbaru. Hal ini dapat dilihat dari tabel 3 berikut.
Tabel 3. Biaya Penitipan Barang (Akad Ijarah)
No Jenis Agunan (Marhun) Perhitungan Taksiran Biaya Penitipan 1 Emas, Berlian Taksiran/Rp. 10.000 x Rp. 85 x Jangka Waktu / 10 2 Elektronik Taksiran/Rp. 10.000 x Rp. 90 x Jangka Waktu / 10 3 Kendaraan Bermotor Taksiran/Rp. 10.000 x Rp. 95 x Jangka Waktu / 10 Sumber: Kantor Pegadaian Syariah Pekanbaru, Tahun 2012.
Tarif Ijarah dihitung dari nilai taksiran barang jaminan/marhun dan Tarif
Ijarah dihitung dengan kelipatan 10 hari, 1 hari dihitung 10 hari. Simulasi
perhitungan ijarah:
- Nasabah memiliki barang jaminan berupa emas dengan nilai taksiran Rp. 10.000.000;
- Pinjaman (Marhun Bih) maksimum yang dapat diperoleh nasabah tersebut adalah Rp. 9.000.000 (90% x taksiran)
- Maka, besarnya Ijarah yang menjadi kewajiban nasabah per 10 hari adalah: - Biaya Penitipan (Akad Ijarah) = (10.000.000/10.000) x Rp. 85 x (10/10) - Biaya Penitipan (Akad Ijarah) = Rp. 85.000
Jika nasabah menggunakan Marhun Bih selama 25 hari, berhubung Ijarah ditetapkan dengan kelipatan per 10 hari, maka besar Ijarah adalah Rp. 255.000 dari Rp. 85.000.- x 3 dibayarkan pada saat nasabah melunas atau memperpanjang
Marhun Bih. Selain hal tersebut di atas berdasarkan penelitian di lapangan dapat
diketahui bahwa produk lain dari Gadai Syariah Perum Pegadaian adalah Jasa Titipan. Sering kali dalam kondisi tertentu kita terpaksa meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang relatif cukup lama, seperti Hari Raya Idul Fitri, liburan, pulang kampung, ibadah haji dan lainnya.
3.2.3. Jatuh tempo dan Tebusan Agunan di Pegadaian Syariah
Pelunasan pinjaman atau penebusan agunan rahn dapat dilakukan tanpa menunggu berakhirnya masa jatuh tempo yang disepakati dan/atau ditetapkan sebelumnya. Adapun proses pengembalian pinjaman (Marhun Bih) atau penebusan barang agunan (Marhun) dalam masa jatuh tempo pinjaman, nasabah tidak membayar biaya apapun, kecuali biaya penitipan barang sesuai sejumlah nominal yang ditetapkan.
Di samping itu, Pegadaian Syariah memberikan beberapa pilihan kepada nasabah dalam pelunasan pinjaman (Marhun bih), sebagai berikut :
1. Nasabah (rahin) membayar pokok pinjaman (marhun bih) di kantor pegadaian syariah, tempat Nasabah (rahin) telah melakukan transaksi;
2. Bersamaan dengan pelunasan pokok pinjaman (marhun bih), barang jaminan (marhun) yang dikuasai oleh mutarhin dikembalikan kepada nasabah (rahin) sesuai dengan tarif yang telah ditetapkan;
3. Pelunasan pinjaman dapat juga dilakukan dengan cara menjual barang jaminan (marhun) jika nasabah (rahin) tidak dapat memenuhi kewajibannya setelah
e-ISSN: 2655-2477 96 jatuh tempo. Hasil penjualan (lelang) barang jaminan (marhun) yang digadaikan, digunakan untuk melunasi dan membayar jasa penyimpanan serta biaya-biaya yang timbul atas penjualan (lelang) barang tersebut;
4. Apabila harga jual barang jaminan (marhun) melebihi kewajiban nasabah (rahin) maka sisanya dikembalikan kepada nasabah (rahin). Sebaliknya, jika jumlah penjualan barang ternyata tidak mencukupi pokok pinjaman (marhun
bih) dan membayar jasa penyimpanan maka kekurangannya tetap menjadi
kewajiban nasabah (rahin) untuk membayar atau melunasinya;
5. Nasabah (rahin) dapat memilih skim pelunasan, apakah mau melunasi secara sekaligus atau dengan cicilan. Selain itu, jika dalam masa 4 (empat) bulan nasabah (rahin) belum dapat melunasi kewajibannya, maka ia dapat mengajukan permohonan perpanjangan jangka waktu pinjaman baru untuk masa 120 hari ke depannya beserta biaya yang harus ditanggungnya. Jika setelah perpanjangan masa pelunasan pemberi gadai (rahin) tidak dapat melunasinya kembali, maka barang gadai (marhun) akan dilelang atau dijual oleh murtahin.
Bagi nasabah yang belum melunasi utang atau melakukan tebusan terhadap agunannya, maka dapat memperpanjang akad/transaksi rahn sebelum masa jatuh tempo pelunasan berakhir. Pihak Pegadaian Syariah mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengambil tindakan terhadap nasabah yang tidak melunasi utang/pinjamannya. Ketika diketahui nasabah tidak mampu melunasi utang/pinjamannya, maka agunan nasabah dilakukan pelalangan.
Sebelum pelelangan dilakukan, Pegadaian Syariah akan melakukan beberapa tindakan, sebagai berikut:
1. Memberikan peringatan secara lisan melalui telpon; 2. Memberikan surat peringatan secara tertulis;
3. Pendekatan persuasif atau kekeluargaan dengan jalan meminta nasabah datang ke Kantor Cabang Pegadaian Syariah atau pihak Pegadaian Syariah akan mendatangi rumah nasabah untuk melakukan negosiasi dalam rangka mencari solusi dari masalah wanprestasi nasabah, antara lain dengan jalan: (1) Gadai ulang; (2) Penambahan plafon; (3) Mengangsur; (4) Menjual sendiri obyek jaminan; dan (5) Penjualan obyek jaminan dilakukan oleh pihak pegadaian dengan melalui proses lelang.
Hasil pelelangan agunan nasabah digunakan untuk melunasi utang/pinjaman kepada Pegadaian Syariah. Ketika dari pelunasan utang/pinjaman ada kelebihan, maka dikembalikan kepada nasabah. Bagi nasabah yang tidak mengambil kelebihannya, maka kelebihan dari pelunasan tersebut diserahkan kepada Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang terakreditasi.
Berdasarkan uraian di atas terlihat jelas perbedaan antara pelaksanaan akad/transaksi gadai di Pegadaian Konvensional dan Pegadaian Syariah di Pekanbaru, dilihat dari tiga aspek, yaitu akad/transaksi yang digunakan, biaya yang dibebankan kepada nasabah, dan juga dari aspek masa jatuh tempo dan tebusan agunan nasabah dalam akad/transaksi gadai.
e-ISSN: 2655-2477 97 3.3. Analisis Kritis Pelaksanaan Gadai pada Pegadaian Konvensional dan
Pegadaian Syariah di Kota Pekanbaru
Setelah dilakukan pemaparan dan pengkajian terhadap fakta pelaksanaan gadai pada Pegadaian Konvensional dan Pegadaian Syariah di Kota Pekanbaru, maka analisis kritis kesesuaiannya dengan prinsip muamalah di dalam Islam dilakukan terhadap pelaksanaan gadai di Pegadaian Syariah. Dalam hal ini tidak dilakukan analisis kritis kesesuaiannya dengan prinsip muamalah di dalam Islam terhadap pelaksanaan gadai di Pegadaian Konvensional. Karena secara fakta yang telah dipaparkan secara jelas bahwa pelaksanaan gadai di Pegadaian Konvensional menggunakan sistem bunga. Sementara prinsip muamalah di dalam Islam melarang secara tegas sistem bunga atau riba. Hal demikian sebagaimana dijelaskan secara tegas dalam firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (TQS. al-Baqarah [2] ayat 278-279)
Ayat di atas merupakan ayat terakhir dalam melarang praktek bunga atau riba. Allah SWT mempertanyakan keimanan seseorang yang masih mengambil sisa bunga atau riba. Bahkan di dalam ayat di atas, Allah SWT mengkategorikan pelaku riba atau bunga bentuk pembangkangan dan mengundang perang kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Begitu juga larangan tegas terhadap praktek muamalah ribawi dijelaskan dalam firman Allah SWT surat Al-Baqarah [2] ayat 275:
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
Adapun analisis kritis yang dilakukan terhadap praktek gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru, bertujuan untuk memastikan kesesuaiannya dengan prinsip syariah, sehingga kehadiran Pegadaian Syariah sesuai dengan tujuan awal berdirinya lembaga keuangan syariah, sebagai solusi dari praktek di konvensional. Dari pemaparan fakta gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru pada bagian sebelumnya maka analisis kritis yang dilakukan terhadap 3 aspek, yaitu:
3.3.1. Akad/Transaksi Gadai (Rahn)
Pelaksanaan akad/transaksi rahn di Pegadaian Syariah Pekanbaru terdapat dua akad dalam satu transaksi, yaitu transaksi gadai (rahn), dengan menyepakati akad rahn dan ijarah. Akad rahn, disepakati ketika nasabah meng-agunkan barang sebagai jaminan dalam transaksi gadai (rahn), dan akad ijarah yang disepakati sebagai akad dalam penitipan agunan. Kedua akad tersebut terjadi sekaligus dalam
e-ISSN: 2655-2477 98 waktu bersamaan dan dalam satu transaksi yang disepakati, yaitu transaksi gadai (rahn).
Praktek demikian jelas bertentangan dengan hadits: “Dari Ibnu Mas’ud, dari
Bapaknya, berkata: Nabi SAW melarang dua akad dalam satu transaksi” (HR.
Ahmad dalam al-Musnad/I: 398)
Menurut para Ulama, makna “syafqatayn fi syafqah waahidah” itu adalah dua akad dalam satu transaksi, atau dua transaksi dalam satu akad, atau adanya akad yang diisyaratkan dengan akad lain. Larangan Rasulullah SAW tersebut merujuk pada akadnya sendiri. Karena itu, larangan tersebut membuat akad seperti itu statusnya bathil. (Abdurrahman, 2010: 57)
Dilihat dari awal munculnya gadai syariah terlihat adanya motif bahwa gadai itu tetap bisa dijadikan sebagai instrumen investasi. Padahal, sprit dari pelaksanaannya supaya menjadi solusi dari praktek gadai konvensional berbasis bunga atau ribawi dengan status hukum haram. Selanjutnya, dari pelaksanaan gadai tersebut menjadi syar’i dengan tetap memberikan keuntungan kepada penerima gadai.
Jadi terkesan spiritnya adalah bagaimana melegalkan (mensyari’atkan) keuntungan yang diperoleh dalam praktek gadai. Maka digunakanlah celah pendapat bahwa biaya perawatan rahn menjadi tanggungan rahin sebagaimana pendapat jumhur ulama. Namun, dalam prakteknya, Pegadaian Syariah tidaklah biaya perawatan barang, akan tetapi biaya penyimpanan barang itu sendiri. Adapun biaya penyimpanan rahn oleh murtahin sudah merupakan kewajiban yang muncul dari akad rahn itu sendiri. Kewajiban penyimpanan barang rahn oleh
murtahin, secara otomatis sudah ada seiring dengan sahnya akad rahn. Sehingga,
tidak perlu diakadkan secara tersendiri.
Penyimpanan rahn sebagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh murtahin yang menjadi implikasi dari akad rahn dengan tanpa kompensasi. Karena akad
rahn, bukanlah akad muwafadhah. Apalagi yang menjadi pokok dari akad rahn itu
adalah utang, sementara utang yang diberikan kepada nasabah merupakan utang dalam bentuk qardhun, dan haram mengambil manfaat dalam bentuk apapun, kecuali dalam bentuk hadiah yang memang sudah biasa terjadi antara debitur dengan kreditur dan tanpa disyaratkan terlebih dahulu (Abdurrahman, 2010: 59).
Berdasarkan ketentuan fiqih, memang kewajiban perawatan barang agunan gadai tetap menjadi tanggungan rahin pemilik rahn tersebut. Dan perawatan atas barang agunan tidak berlaku untuk semua jenis harta. Perawatan hanya terjadi pada harta yang perlu perawatan agar tidak rusak dan binasa. Ketika harta yang menjadi agunan di Pegadaian Syariah tidak termasuk jenis harta yang perlu perawatan, seperti emas, kain, barang elektronik, motor dan sebagainya, maka, tidak perlu adanya biaya perawatan. Karena jenis harta ini tidak perlu perawatan, apalagi jangka waktu utang (masa jatuh tempo) yang hanya relatif singkat, misalnya empat bulan (Zainuddin Ali, 2008: 33)
Kemudian, dalam konteks perawatan, bisa saja rahin yang melakukan sendiri, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya perawatan. Namun, rahin bisa juga mempekerjakan orang lain untuk merawatnya. Orang lain disini bisa
murtahin, bisa juga orang lain yang tidak terlibat dalam akad rahn. Kalau yang
merawatnya adalah orang lain, maka murtahin tidak akan bisa mendapat biaya perawatan itu. Dengan demikian, jelaslah bahwa prakteknya rahn di Pegadaian
e-ISSN: 2655-2477 99 Syariah Pekanbaru terjadi karena motif investasi – pembiayaan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.
Akan tetapi, ketika perawatan atas barang agunan itu dilakukan oleh rahin sendiri atau rahin mempekerjakan orang lain selain murtahin (Pegadaian Syariah Pekanbaru), maka dari praktek gadai di Pegadaian Syariah tidak memperoleh keuntungan. Sehingga pihak Pegadaian Syariah selaku murtahin harus diberi upah (ujrah) oleh nasabah yang berhutang. Dalam hal ini tidak boleh dilakukan sendiri oleh nasabah selaku rahin atau nasabah mengupahkan kepada selain Pegadaian Syariah. Berdasarkan ketentuan tersebut sehingga akad/transaksi gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru menjadi bathil dan bertentangan dengan prinsip akad di dalam Islam.
3.3.2. Biaya yang dibebankan kepada Nasabah
Keuntungan yang diambil Pegadaian Syariah Pekanbaru melalui 2 hal, yaitu: biaya administrasi dan biaya penitipan barang agunan. Dilihat dari fakta pengambilan biaya administrasi dan penitipan agunan, termasuk dalam pembahasan ijarah. Akad ijarah adalah akad atas manfaat dengannya terdapat kompensasi. Adapun manfaat yang diberikan bisa diukur dari tenaga yang dicurahkan, keahlian yang dibutuhkan, jenis pekerjaan dan waktu kerjanya. Ketika akad ijarah yang terjadi berupa ijaratul ajir. Namun, ketika akad ijarah yang terjadi berupa ijaratul a’yan (penyewaan benda), maka biayanya diukur sesuai manfaat benda itu. (An-Nabhani, 2003: 316).
Fakta pengambilan biaya administrasi di Pegadaian Syariah ditetapkan bukan berdasarkan pengeluaran riil dari transaksi, akan tetapi ditetapkan berdasarkan konstanta tertentu dikalikan dengan nilai taksiran rahn. Hal demikian jelas bertentangan dan menyalahi ketentuan Fatwa DSN MUI Nomor 25/DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn (Gadai), dan Fatwa Nomor 26 DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn Emas. Karena biaya administrasi relatif sama saja, seperti jumlah jasa foto copy, biaya materai, dan sejenis.
Adapun, besarnya biaya perawatan (penitipan barang agunan) atau kompensasi yang ditetapkan dalam praktek gadai di Pegadaian Syariah Pekanbaru dihitung berdasarkan nilai taksiran barang agunan. Dengan demikian terlihat jelas bahwa keuntungan dari biaya penitipan yang dibebankan kepada nasabah bukan berbasis ijarah (manfaat yang dirasakan), akan tetapi berbasis pembiayaan.
Dalam hal ini jelas menyalahi ketentuan pengambilan upah (ujrah) dalam pelaksanaan ijarah di dalam Islam. Karena, upah (ujrah) dalam akad ijarah ditentukan berdasarkan nilai manfaat yang dirasakan (An-Nabhani, 2003: 319); bukan berdasarkan nilai taksiran barang yang diagunkan. Dalam ketentuanya, perawatan rahn oleh murtahin haruslah sesuai dengan nilai jasa atau kerja yang dibebankan. Misalnya, murtahin boleh meminum susu dari perawatan yang dilakukan hanyalah dalam kadar yang sesuai dengan kadar makanan untuk hewan itu. Artinya sesuai dengan kadar/nilai aktivitas merawat hewan tersebut. Dengan demikian jelaslah bahwa pengambilan keuntungan baik dari biaya administrasi maupun biaya penitipan barang agunan bertentangan dengan fatwa DSN-MUI (sebagai dasar Pegadaian Syariah) dan bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam.
e-ISSN: 2655-2477 100 3.3.3. Jatuh tempo dan Tebusan Agunan
Dari aspek jatuh tempo dan tebusan agunan pada Pegadaian Syariah di Kota Pekanbaru, secara umum tidak bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam. Karena pihak Pegadaian sudah melakukan berbagai mekanisme dan mengedepan prinsip kehati-hatian dalam melakukan pelelangan terhadap agunan nasabah. Bahkan, dipastikan sebelum pelelangan dilakukan terlebih dahulu dipastikan bahwa nasabah benar tidak mampu melunasi utang atau menebus barang agunannya.
Meski demikian, pihak Pegadaian tetap tidak dibenarkan melakukan pelelangan. Karena pemilik dari barangan agunan adalah nasabah, bukan pegadaian. Pegadaian Syariah baru bisa melakukan pelelangan setelah melalui keputusan resmi dari pengadilan (qadhi hisbah) bagi nasabah yang mampu tetapi tidak melunasi utangnya. Bahkan, yang bersangkutan dikenakan ta’zir atas kelalaiannya dan mengulur-ulur waktu dalam melunasi utang. Sebagaimana diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa Rasulullah SAW telah memenjarakan orang yang mengulur-ulur membayar utang. (Zallum, 2004: 63)
Bagi nasabah yang terbukti tidak mampu melunasi utangnya, maka sikap atau tindakan yang ditempuh oleh Pegadaian Syariah sudah tepat dengan cara memberikan tangguhan utang berupa perpanjangan masa jatuh tempo gadai (rahn). Namun, setelah perpanjangan masa jatuh tempo yang dilakukan, nasabah tetap tidak mampu membayar, maka sikap yang dilakukan bukan melakukan pelelangan agunan, melainkan pemutihan utang yang telah diberikan kepada nasabah. Berbeda halnya nasabah berinisiatif sendiri untuk melunasi utang/pinjaman yang diberikan kepadanya, dengan cara meminta izin kepada pihak Pegadaian Syariah untuk mengambil barang agunan dan dijual atau dilelang; atau nasabah bersama pihak pegadaian menjual atau melakukan pelelangan barang agunan yang diserahkan sebelumnya kepada Pegadaian Syariah, dengan tujuan melunasi sejumlah utang yang diberikan kepadanya. Hal ini dilakukan untuk menghindari bersikap keras (paksaan) dan hendaknya bersikap lemah lembut dalam menagih utang, terhadap orang yang memiliki i’tikad baik dalam melunasi, tetapi belum sanggup dalam melunasi utangnya. Rasulullah SAW juga pernah bersabda yang diriwayatkan Bukhari Muslim, Tirmidzi, dan Hakim: Artinya: “Jika yang punya hutang mempunyai iktikad baik, maka hendaknya
menagih dengan sikap yang lembut penuh maaf. Boleh menyuruh orang lain untuk menagih utang, tetapi terlebih dulu diberi nasihat agar bersikap baik, lembut dan penuh pemaaf kepada orang yang akan ditagih” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Hakim). Rasulullah SAW juga bersabda: “Allah SWT akan memberikan kasih sayangNya kepada orang yang bermurah hati ketika menagih utang” (HR. Bukhari).
4. KESIMPULAN
Berdasarkan fakta dari pelaksanaan gadai pada Pegadaian Konvensional dan Pegadaian Syariah di Kota Pekanbaru, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Adanya perbedaan mendasar antara pelaksanaan gadai pada Pegadaian Konvensional dan Syariah di Kota Pekanbaru. Perbedaan tersebut merupakan hal prinsip dan mendasar, yang dapat dilihat dari tiga varibel, yaitu
e-ISSN: 2655-2477 101 akad/transaksi gadai yang dilakukan, biaya yang dibebankan kepada nasabah, dan jatuh tempo pelunasan dan tebusan agunan.
2. Setelah dipaparkan fakta pelaksanaan gadai pada Pegadaian Konvensional, dalam perspektif Islam disimpulkan bahwa pelaksanaan gadai pada Pegadaian Konvensional bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam, di antaranya mengandung dalam pelaksanaannya menggunakan prinsip bunga atau ribawi, dan riba diharamkan di dalam Islam.
3. Pelaksanaan akad/transaksi gadai pada Pegadaian Syariah di Kota Pekanbaru merupakan praktek yang bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam. Karena dalam pelaksanaan gadai terdapat dua akad yang terjadi sekaligus secara bersamaan, yaitu akad rahn dan akad ijarah dalam satu transaksi gadai (rahn). Pegadaian Syariah
4. Penetapan biaya administrasi merupakan bentuk pengambilan keuntungan yang bertentangan dengan prinsip muamalah di dalam Islam. Karena biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah bukan berdasarkan pengeluaran riil dari transaksi, akan tetapi ditetapkan berdasarkan konstanta tertentu dikalikan dengan nilai taksiran rahn, sehingga bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan DSN-MUI tentang rahn dan rahn emas. Karena biaya administrasi relatif sama saja, seperti jumlah jasa foto copy, biaya materai, dan sejenis.
5. Penetapan biaya penitipan juga merupakan bentuk pengambilan keuntungan yang tidak sah dalam muamalah Islam. Karena besarnya biaya perawatan (penitipan barang agunan) atau kompensasi yang ditetapkan dihitung berdasarkan nilai taksiran barang agunan. Sehingga biaya yang ditetapkan bukan berbasis ijarah (manfaat yang dirasakan), akan tetapi berbasis pembiayaan.
6. Keputusan dilakukan pelelangan agunan nasabah dengan tujuan pelunasan utang merupakan inisiatif atau keinginan dari nasabah sendiri dengan motif kesadaran agar utangnya segera dilunasi tanpa paksaan, kecuali keputusan yang dilakukan oleh penguasa melalui keputusan pengadilan (Qadhi Hisbah), bukan kewenangan Pegadaian Syariah, meski sudah berkomunikasi dengan nasabah dan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Yahya. (2010). Pegadaian Dalam Pandangan Islam. Bogor: Al-Azhar Press.
Ali, Zainuddin. (2008). Hukum Gadai Syariah. Jakarta: Sinar Grafika.
An-Nabhani, Taqiyuddin. (2003). Syakhsiyyah, Jilid II. Beirut: Dar al-Ummah.
An-Nabhani., Taqiyuddin. (2000). The Economic System of Islam. London:Al-Khilafah Publications
Fatwa DSN MUI Nomor 25/DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn (Gadai) Fatwa DSN MUI Nomor 26 DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn Emas
Hosen, M., Nadratuzzaman., & Ali, AM., Hasan. (2007). Kamus Populer Keuangan
e-ISSN: 2655-2477 102 Muhammad, Abdul Kadir. (2004). Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung: Citra
Aditya Bakti.
Muljadi, Kartini., dan Gunawan Widjaja. (2005). Hak Istimewa, Gadai, Dan Hipotek. Jakarta: Prenada Media.
Patrik, Purwahid., dan Kashadi. (2003). Hukum Jaminan. Fakultas Hukum Undip. Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1990 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Jawatan Pegadaian (PERJAN) menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian.
Peraturan Pemerintah No. 103 tahun 2000 tentang (PERUM) Pegadaian.
Satrio, J. (2002). Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Sunggono, Bambang. (2003). Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.