51
HUBUNGAN ANTARA STRES DENGAN KUALITAS TIDUR PADA SISWA SMA NEGERI 1 GROGOL KABUPATEN KEDIRI TAHUN 2015
Kasiman
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri, Kampus FIK UNIK. Jl. Selomangleng no 1 Kota Kediri, Jawa Timur
ABSTRAK
Tidur yang cukup sangat diperlukan tubuh agar dapat berfungsi dengan normal. Saat seseorang tidur terjadi proses regenerasi untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi optimal..Rancangan penelitian ini adalah penelitian analitik kolerasi dengan metode cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling dengan 53 sampel. Variabel independen yang diteliti adalah stres dengan lembar kuesioner dan variabel dependen adalah kualitas tidur dengan lembar kuesioner. Analisa data dilakukan dengan uji spearman rank dengan tingkat kemaknaan yang digunakan 0,05.Hasil penelitian ini adalah sebagian kecil (21%) responden mengalami stres ringan yaitu sejumlah 11 responden semuanya mempunyai kualitas tidur baik. Sedangkan sebagian kecil (21%) mengalami stres sangat berat yaitu sejumlah 11 responden mempunyai kualitas tidur buruk. Hasil uji spearman rank menggunakan komputer menunjukkan nilai ρ value = 0,000< α = 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ada hubungan antara stres dengan kualitas tidur dengan coeffient correlation sebesarr = 0,791, artinya semakin berat stres maka akan diikuti dengan kualitas tidur yang semakin buruk.Melihat hasil penelitian diatas peneliti merekomendasikan kepada siswa dapat mengurangi stres dengan mekanisme koping yang baik, sehingga kualitas tidur siswa akan baik pula.
52
Pendahuluan
Kecukupan tidur seseorang sebenarnya bukan hanya diukur dari lama waktu tidur, tapi juga kualitas tidur itu sendiri. Tidur seseorang dikatakan berkualitas adalah jika ia bangun dengan kondisi segar dan bugar. Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif dari tidur, seperti durasi tidur, latensi tidur serta aspek subjektif dari tidur. Kualitas tidur adalah kemampuan setiap orang untuk mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahap tidur REM dan NREM yang pantas (Khasanah, 2012).
Pola tidur sebaiknya diatur dengan baik. Dengan kebiasaan pola tidur yang baik, maka akan memiliki kualitas tidur yang baik pula. Pola tidur akan berubah seiring dengan pertambahan usia dan semakin beragamnya pekerjaan atau aktivitas. Semakin bertambah usia, efisiensi tidur akan semakin berkurang. Efisiensi tidur diartikan sebagai jumlah waktu tidur berbanding dengan waktu berbaring di tempat tidur (Prasadja, 2009).
Pola tidur pada usia remaja tentu berbeda. Pada usia 13–28 tahun terjadi perubahan-perubahan hormonal yang terjadi di masa pubertas. Pada masa ini mereka mengalami pergeseran irama sirkadian sehingga jam tidur pun bergeser. Secara umum kebutuhan tidur remaja berkisar 8-10 jam perhari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, remaja memiliki cara tersendiri dalam mengatur pola tidurnya. Namun, biasanya pola tidur remaja berubah-ubah dan tidak menentu. Saat orang lain mulai mengantuk pada pukul 21.00 atau 22.00, remaja justru bersemangat untuk belajar, dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Rasa kantuk baru menyerang sekitar tengah malam, yaitu pada pukul 00.00 – 01.00. Bahkan, ada yang tidak tidur hingga pagi hari(Prasadja, 2009).
Menurut Tri Windarwati(2013) setiap tahun di dunia diperkirakan sekitar 20%-40% orang mengalami sulit tidur dan sekitar 17 % mengalami gangguan tidur yang serius. Di Indonesia menurut US Census Bureu, International Data Base tahun 2004, sekitar 28 juta orang dari total penduduk 238 juta atau sekitar 10% mengalami sulit tidur.
Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian epidemiologi mengungkapkan bahwa jumlah remaja yang mengalami gangguan tidur semakin meningkat. Penelitian Ohida dkk (2004) terhadap siswa SLTP dan SMU menunjukkan prevalensi gangguan tidur yang bervariasi mulai dari 15,3% hingga 39,2%, bergantung pada jenis gangguan tidur yang dialami. Penelitian yang dilakukan oleh Bruni dkk (2007) mengenai gangguan tidur dengan menggunakan metode Sleep Disturbance Scale for Children mendapatkan prevalensi gangguan tidur pada populasi kontrol 73,4%. Di Indonesia, belum ada penelitian epidemiologi yang dilakukan untuk mengetahui gangguan tidur pada remaja (Sari, 2009).
Menurut data international of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah penyakit asma (61-74%), stres (65%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki
53
pada malam hari (16%), psychopysiological (15%), sindrom kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindrom terlambat tidur (5-10%), pikun (5%), gangguan perubahan jadwal (2-5%), sesak saluran nafas (1-2%), penyakit lambung (<1%), mendadak tidur (0,03%-0,16%) (Windarwati,2013).
Salah satu penyebab dari gangguan tidur yang paling dominan adalah stres. Dimana stres sering dianggap sebagai pemicu utama timbulnya gangguan tidur yang bisa menyebabkan menurunnnya kualitas tidur (Windarwati, 2013;Wicaksono, 2012).Menurut Mendelson dalam Tarwaka (2010). Stres sering diartikan sebagai suatu kondisi yang negatif, suatu keadaan yang mengarah ke timbulnya penyakit fisik ataupun mental, atau mengarah ke perilaku yang tak wajar.
Stres dapat membuat seseorang mengalami gangguan tidur, ketika stress terjadipeningkatan hormon kortisol, ini dapat menjadi penyebab utama dari gangguan tidur. Hormon stres akan tetap diproduksi pada waktu tidur, sehingga akan menghambat produksi melatonin. Melatonin merupakan hormon yang berfungsi mengatur dan memelihara irama sirkadian (sistem jam biologis tubuh yang berperan untuk mengatur saat tidur dan bangun). Jika hormon melantonin tehambat maka akan mengganggu irama sirkadian yang bekerja untuk membuat rasa ngantuk, sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas tidur tidak tercukupi dengan baik (Dawson, 2005; Kotagal & Pianosi, 2006).
Hasil survei yang dilakukan di SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri didapatkan data tingkat stres dari 6 siswa yang mengalami kualitas tidur buruk, tidak mengalami stres (normal) sebanyak 1 siswa (10%), stres sedang 2 siswa (20%), stres berat 3 siswa (30%). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa angka stres pada siswa yang kualitas tidur buruk cukup tinggi.
Remaja menunjukkan peningkatan kortisol sebagai respon terhadap stressignifikan lebih besar daripada anak-anak usia pertengahan (7-12), (Stroud, et al., 2009). Siswa sebagai remaja dapat saja mengalami kegoncangan jika menerima tekanan dari dalam diri mereka maupun dari lingkungan luar diri mereka.
Dampak ketika kualitas tidur tidak terpenuhi dengan baik bisa menyebabkan antara lain mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, kurang bisa berkonsentrasi, merasa kantuk saat beraktifitas (Potter & Perry, 2009).Dari hasil penelitian sebelumnya disebutkan bahwa tidur yang buruk terkait erat dengan performa sekolah yang buruk pada remaja, hal tersebut memberi akanpengaruh terhadap proses belajar dan akhirnya terjadi penurunan kepada prestasi belajar seseorang siswa (Millman, 2005).
54
Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan memberikan konseling tentang stres. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa dapat mengelola stres mereka dengan baik, sehingga mereka tidak lagi mengalami kualitas tidur yang buruk.
Metode Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian termasuk rancangan penelitian analitik korelasional dengan pendekatan ex post facto. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling sejumlah 44 orang. Instrument penelitian data dalam penelitian ini menggunakan check list dalamlembarpengumpul data.
Hasil Penelitan.
1.1.1. Distribusi frekuensi berdasarkan stres pada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun 2015.
Tabel 1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan stres pada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun 2015.
No Kategori Stres Frekuensi Prosentase (%)
1 Normal 9 17,0
2 Stres ringan 11 20,8
3 Stres sedang 15 28,3
4 Stres berat 7 13,2
5 Stres sangat berat 11 20,8
Jumlah 53 100
(Sumber : Data primer penelitian, 2015).
Berdasarkan tabel 1 didapatkan data bahwa hampir setengahnya (28,3%)mengalami stres sedang yaitu sejumlah 15 siswa.
1.1.2. Distribusi frekuensi berdasarkan kualitas tidur pada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun 2015
Tabel 2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan kualitas tidurpada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun 2015.
(Sumber : Data primer penelitian, 2015).
Berdasarkan tabel 2 didapatkan data bahwa setengah (50,9%) responden mengalami kualitas tidur buruk yaitu sejumlah 27 siswa.
No Kualitas Tidur Frekuensi Prosentase (%)
1 Baik 26 49,1
2 Buruk 27 50,9
55
Analisis hubungan hubunganantarastresdengankualitastidurpadasiswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri Tahun 2015.
Tabel 3 Distribusi frekuensi hubungan hubunganantarastresdengankualitastidurpadasiswa SMA Negeri 1 GrogolKabupaten Kediri Tahun 2015.
No Stres Kualitas Tidur Jumlah Prosentase (%) Baik Buruk ∑ % ∑ % 1 Normal 9 17 0 0 9 17 2 Stres ringan 11 21 0 0 11 21 3 Stres sedang 5 9 10 19 15 28 4 Stres berat 1 2 6 11 7 13
5 Stres sangat berat 0 0 11 21 11 21
Jumah 26 49 27 51 53 100
pvalue ρ = 0,000 α = 0,05 R = 0,791
(Sumber : Data primer penelitian, 2015).
Berdasarkan tabel 3 didapatkan data bahwa sebagian kecil (21%) responden mengalami stres ringan yaitu sejumlah 11 responden dengan kualitas tidurnya baik.Sedangkan sebagian kecil(21%) mengalami stres sangat berat yaitu sejumlah 11 responden dengan kualitas tidurnya buruk. Hasil uji Spearman Rank (Rho) diperoleh hasil nilai ρ value = 0,000< α = 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi, kesimpulan dari penelitian ini terdapat hubungan antara stress dengan kualitas tidur, dengan nilai coefficient correlation sebesar r = 0,791, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan korelasi kuat dan arah korelasi positif (0,791) artinya semakin berat stres maka akan diikuti dengan kualitas tidur yang semakin buruk
PEMBAHASAN
Stres pada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun 2015.
Berdasarkan hasil penelitian tentang stres pada 53 responden didapatkan data bahwa hampir setengahnya (28,3%) mengalami stres sedang yaitu sejumlah 15 siswa.Terjadinya stres pada siswa SMA Negeri 1 Grogol dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Santrock (2004) faktor – faktor yang dapat mengakibatkan stres antara lain adalah faktor lingkungan dan sistem dukungan.
56
besar (66%) responden tidak dekat dengan orang tuanya.Hal ini bisa disebabkan karena siswa lebih dekat dengan temannya daripada dengan orang tuanya, atau juga bisa karenaorang tua siswa sedang mengalami masalah, yang menyebabkan siswa menjaga jarak dengan orang tua.Dalam dunia seperti ini sistem dukungan sering kali diperlukan untuk bertahan terhadap stres. Keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain terutama dengan keluarga secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres dalam kehidupan remaja. Pada sebuah penelitian diketahui bahwa remaja dapat menangani stres dengan lebih baik bila mereka memiliki hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang dengan ibu mereka. Pola pencarian dukungan yang dilakukan remaja secara umum serupa baik pada laki-laki maupun perempuan namun kalau pun ditemukan adanya perbedaan antara keduanya, perbedaan itu adalah remaja perempuan cenderung datang kepada ibu mereka untuk mendapatkan dukungan dibandingkan remaja laki-laki. Untuk perencanaan masa depan/karir, gaya hidup, dukungan dalam hal kencan, dan nilai-nlai pribadi, remaja laki-laki cenderung mencari dukungan dari ayah dan juga dari ibu. Jika siswa mempunyai dukungan keluarga yang baik makasaat mereka memiliki masalah keluarga dapat memberikan bantuan solusi pemecahan masalah, terutama orang tua yang mempunyai pengalaman lebih.Keluarga adalah support system yang baik bagi remaja.
Kualitas Tidur pada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun 2015.
Berdasarkan hasil penelitian tentang kualitas tidur pada 53 respondenmenunjukkan bahwa setengah (50,9%)responden mengalami kualitas tidur buruk yaitu sejumlah 27 siswa.Kualitas tidur siswa SMA Negeri 1 Grogol yang buruk bisa dikarenakan adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur siswa. Menurut Kozier (2011), faktor-faktor - faktor-faktor tersebuat antara lain sakit, lingkungan, letih atau kelelahan, aktivitas, stres emosional, stimulan dan alkohol, diet, merokok, motivasi, dan obat-obatan. Ini sesuai dengan studi yang dilakukan Nurlaila (2009) menyebutkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur diantaranya dilihat dari faktor fisiologis, psikologis dan lingkungan.
Hubungan hubungan antara stress dengan kualitas tidur pada siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri Tahun 2015.
Hasil uji Spearman Rank (Rho) diperoleh hasil nilai ρ value = 0,000< α = 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapa hubungan antara stress dengan kualitas tidur padasiswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri Tahun 2015, dengan nilai coefficient correlation sebesar r = 0,791, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan korelasi kuat.Dan arah korelasi positif(0,791) artinya semakin berat stres maka akan diikuti dengan kualitas tidur yang semakin buruk.
57
1.1.3. Tidur dapat dipengaruhi oleh banyak faktor yang dapat mengakibatkan terjadi gangguan atau halangan pemenuhan suatu kebutuhan tidur. Faktor-faktor tersebuat antara lain: sakit, lingkungan, letih atau kelelahan, aktivitas, stres emosional, stimulan dan alkohol, diet, merokok, motivasi, dan obat-obatan (Kozier, 2011). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Windarwati (2015), salah satu penyebab dari gangguan tidur yang paling dominan adalah stres. Dimana stres sering dianggap sebagai pemicu utama timbulnya gangguan tidur yang bisa menyebabkan menurunnnya kualitas tidur.
1.1.4. Hasil penelitian yang menunjukkan beberapa data stres berbanding lurus dengan kualitas tidur yaitu sebagian kecil responden yang mengalamistres sedangjuga mengalami kualitas tidur yang buruk yaitu sejumlah 10orang (19%), lalu sebagian kecil responden yang mengalami stres berat juga mengalami kualitas tidur yang buruk yaitu sejumlah 6 orang (11%), dan yang terakhir sebagian kecil responden yang mengalami stres sangat berat juga mengalami kualitas tidur yang buruk yaitu 11 orang (21%). Data tersebut sejalan dengan teori dari Kozier (2011) dan Windarwati (2015).
1.1.5. Berdasarkan data dan teori penelitian diatas, stres akan mempengaruhi kualitas tidur.Stres dapat menimbulkan pengaruh yang tidak baik pada tubuh.Stres bisa mengganggu keseimbangan hormon tubuh yang mengatur tidur. Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh irama sirkadian. Gangguan ritmik sirkadian tidur ini dapat dipengaruhi terhadap kadar hormon. Hal ini terjadi karena saat stres hormon kortisol akan meningkat, ini dapat menjadi penyebab utama dari gangguan tidur, karena hormon tersebut akan mengganggu kinerja hormon melatonin yang mengatur irama sirkardian tubuh, bila irama sirkardian terganggu akhirnya bisa menjadi pemicu gangguan tidurpada siswa.Gangguan tidur demikian membuat seseorang tidak memiliki kualitas dan kuantitas tidur yang baik (Dawson, 2005; Kotagal & Pianosi, 2006).Kualitas tidur yang baik dapat memberikan perasaan tenang di pagi hari, perasaan energik, dan tidak mengeluh gangguan tidur. Dengan kata lain, memiliki kualitas tidur baik sangat penting dan vital untuk hidup sehat semua orang.
.
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian ini yaitu (1) Sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri mengalami stres. (2) Setengah darisiswa SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri mengalami kualitas tidur yang buruk (3) Ada hubungan antarastresdengankualitastidurpadasiswa SMA Negeri 1 GrogolKabupaten Kediri. Dari Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi
58
siswa bahwa pentingnya mekanisme koping terhadap stres sehingga dapat menjaga kualitas tidurnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A. (2006). Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Dalam Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
Ariani, R. D. (2011). Hubungan Antara Iklan Rokok dengan Sikap dan Perilaku Merokok pada Remaja, http://core.ac.uk/download/pdf/1173519.pdf.
Arifin, Z. (2011). Analisis Hubungan antara Kualitas Tidur dengan Kadar Glukosa Darah, http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20282771-T%20Zaenal %20Arifin%20.pdf.
Arikunto. (2002). Manejemen Penelitian. Jakarta: PT Rhineka Cipta.
Bruni O, R. P. (2007). J Sleep Medicine. Relationships between headache and sleep in a non-clinical population of children and adolescents, 9:542-8.
Buysse, D. R. (1989). The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). A new instrument for psychiatric research and practice, 28:193-213.
Dawson, P. (2005). Sleep and adolescents. National Association of School Psychologist, 101, 11-15. http://search.proquest.com/docview/234994291/ fulltextPDF/13A1B61379B7. Dyah Kurnia Fitri, R. M. (2012). Jurnal Kedokteran Muhammadiyah. Perbedaan Kejadian Stres
Antara Remaja Putra dan Putri dengan Obesitas di SMA Negeri 1 Wonosari, Klaten, 1. Garliah, L. (2009). Pengaruh Tidur bagi Perilaku Manusia, Dibuka pada tanggal 10 November
2014 dari http://repository.usu.ac.id.
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan: “ Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan” (Terjemahan Istiwidayanti & Soedjarno). Jakarta: Penerbit Erlangga.
Khasanah. (2012). Kualitas Tidur Lansia Balai Rehabilitasi Sosial Mandiri Semarang.
Kotagal, P. (2006). Sleep disorders in children and adolescents, 332, 828-831. DOI: 10.1136/bmj.332.7545.828.
Kozier, D. (2011). Fundamental Keperawatan (7th ed., Vol. 2). Jakarta: EGC.
Lovibond, S. &. (1995). Manual for the Depression Anxiety & Stress Scales (2nd Ed ed.). Sydney: Psychology Foundation.
Millman, R. P. (2005). Pediatrics. Excessive sleepiness in adolescents and young, 115:1774-86. Muntari. (2010). STIKES NU Tuban. Hubungan Stress Pada Remaja Usia 16-18 Tahun dengan
59
Ohida T, O. Y. (2004). Sleep. An epidemiologic study of self-reported sleep problems among Japanese adolescent, 27:978-85.
Poterr, P. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, konsep, proses, dan praktik (Vol. 1). Jakarta: EGC.
Potter, P. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, konsep, proses, dan praktik (4 ed., Vol. 2). Jakarta: EGC.
Potter, P. (2009). Fundamentals of nursing (7th Edition ed.). Singapura: Mosby.
Prasadja, D. A. (2009). Ayo bangun! Dengan bugar karena tidur yang benar. Jakarta: Hikmah. Santrock, J. W. (2004). ADOLESCENCE Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.
Sari, N. I. (2011). Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Perilaku Merokok pada Siswa Laki-laki Perokok SMKN 2 Batusangkar.
Sari, P. (2009). Prevalensi Gangguan Tidur Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di Sekolah Lanjut Tingkat Pertama, http://saripediatri.idai.or.id/ abstrak.asp?q=610.
Sarwono, S. (2010). Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Soetjiningsih. (2010). Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahannnya. Jakarta: Sagung Seto. Stroud, L. R., Foster, E., Papandonatos, G.-D., Handwerger, K., Granger, D.-A., & et. (2009). Stress response and the adolescent transition:Performance versus peer rejection stressors, . J. of Development and Psychopathology 21. 1, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2700625/.
Suwanda, A. (2013). Hubungan Antara Kualitas Tidur dengan Perubahan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Gambiran Kota Kediri Tahun 2013.
Tori Hudson, N. a. (2010). Natural Medicine Journal. The Role of cortisol in Sleep.
Ulumuddin, B. (2011). Hubungan Tingkat Stres Dengan Kejadian Insomnia Pada Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro.
Wicaksono, D. W. (2012). Analisis Faktor Dominan Yang Berhubungan Dengan Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, 12-13.
Windarwati, T. (2013). Hubungan Stres Kerja Dan Keluhan Sulit Tidur (Insomnia) Pada Perawat Di Rumah Sakit Puri Mandiri Kedoya, http://digilib.esaunggul.ac.id/hubungan-