Background of Surakarta (Resources of Innovation)
- Natural resources terbatas, hanya diuntungkan
secara faktor lokasi sebagai jalur lalu lintas perdagangan dan jasa yang penting di kawasan Subosukawonosraten (7 kab/kota dimana Kota Surakarta sebagai hub bagi daerah hinterland-nya)
- Strong Leadership of mayor
- Kental sebagai kota budaya (intangible resources) - 26% GDP disumbang oleh sektor perdagangan,
sebagai sektor basis
- Warisan jiwa/semangat kewirausahaan dari para pedagang pendahulu (Pengusaha Batik Laweyan dan Serikat Dagang Islam
- Tersedianya fasilitas pendidikan tinggi yang baik dan sumber daya SDM bidang vokasi/kejuruan yang baik
Program Unggulan 2009 - 2013
1. Pemberiaan Raskinda dan Pasar Murah untuk meningkatkan daya beli masyarakat miskin
2. Keberlanjutan pembangunan kantor kelurahan dalam menunjang layanan publik
3. PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta) jaminan asusransi kesehatan bagi masyarakat miskin Kota Surakarta dan masyarakat umum Kota Surakarta pada umumnya)
4. BPMKS (Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta) mendukung program Wajar 9 Tahun dan peningkatan akses pendidikan bagi warga miskin
5. Pemberdayaan UMKM (Penataan PKL dan Pasar Tradisional)
6. Infrastruktur dan Sarpras Perkotaan
PROGRAM UNGGULAN PEMERINTAH KOTA SURAKARTA
1. Pemberian Raskinda
Dalam mendukung upaya percepatan penanggulangan kemiskinan daerah, sesuai dengan garis utama kebijakan kepala daerah, dimana penanggulangan kemiskinan dititikberatkan pada prinsip-prinsip Waras, Wasis, Wareg,
Mapan dan Papan. Guna mendukung salah satu dari prinsip
utama kebijakan penanggulangan kemiskinan kepala daerah
(Wareg) tersebut adalah pemberian Raskinda kepada Gakin
yang belum menerima Raskin dari pemerintah pusat.
Pada Perubahan APBD Tahun ANggaran 2013, telah dialokasikan pengadaan beras kota bagi masyarakat miskin sebesar 2,3 milyar rupiah dengan sasaran 17.259 Rumah Tangga Sasaran (RTS).
2. Pembangunan Kantor Kelurahan dan kecamatan beraksentuasi khas Jawa dalam konteks peningkatan layanan langsung kepada masyarakat Dari sebelumnya kantor kelurahan dan kecamatan yang langsung berhubungan dengan pelayanan langsung kepada masyarakat dicitrakan dengan kesan sarpras, proses layanan dan kesan berbelit secara pelan-pelan dibenahi melalui penataan sarpras yang mendukung bagi optimalisasi layanan langsung kepada masyarakat.
Sampai dengan tahun 2013, seluruh kantor kecamatan telah terbangun baru dan dari 51 kelurahan telah terbangun sebanyak 40 gedung kantor kelurahan baru (Rumah dinas, kantor kelurahan dan pendopo). Anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan 1 kantor kelurahan kurang lebih sebesar 1,5 – 2 milyar rupiah.
3. Bidang Kesehatan
Pemerintah Kota Surakarta mengeluarkan perlindungan asuransi kesehatan bagi masyarakat yang belum tercover oleh asuransi kesehatan Jamkesmas, Askes bagi PNS ataupun asuransi kesehatan lainnya, melalui program PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta). Penerima layanan PKMS, diklasifikasikan ke dalam pemegang kartu Gold dan kartu Silver. Pemegang kartu Gold ditujukan bagi warga miskin yang tidak tercover oleh layanan Jamkesmas, sedangkan pemegang kartu Silver adalah seluruh masyarakat Kota Surakarta yang belum memiliki asuransi kesehatan, diluar pemegang kartu Gold, Jamkesmas, Askes PNS ataupun asuransi lain.
Dalam implementasinya Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan RS Mitra untuk layanan kesehatan ini. Seiring dengan meningkatnya alokasi anggaran APBD bagi program PKMS, maka sejak tahun 2011 Pemerintah Kota Surakarta memutuskan untuk memperluas layanan PKMS ini, dengan mendirikan RSUD tipe C yang ditujukan bagi pasien PKMS. Langkah ini ditempuh sebagai salah satu upaya di dalam peningkatan layanan PKMS.
Sejak dilaunching tahun 2008, telah teralokasikan anggaran sebesar 106 milyar, dengan rata rata alokasi anggaran per tahun sebesar 20 milyar
DATA ANGGARAN DAN REALISASI KLAIM PKMS
NO URAIAN TAHUN
2009 2010 2011 2012 2013
1 Anggaran 11.814.340.000 20.024.550.000 18.062.390.000 21.035.400.000 18.533.512.500 2 Realisasi Klaim 11.814.274.523 19.858.430.000 17.829.315.000 20.872.110.000 18.317.525.000
DATA JUMLAH PESERTA KLAIM PKMS BERDASARKAN JENIS KARTU
NO KARTU JENIS TAHUN
2009 2010 2011 2012 2013
1 Silver 163.788 195.391 213.436 226.481 225.530
2 Gold 11.535 13.037 12.818 13.871 26.497
Jumlah
4. Bidang Pendidikan
Mengacu dari riset SMERU intitute yang melakukan riset kemiskinan di Kota surakarta yang mengkategorikan kemiskinan di Kota Surakarta sebagai urban poverty, salah satu hasil risetnya adalah dimana angka kemiskinan naik, pada saat terjadi penerimaan siswa baru, orang tua terbebani dalam menyekolahkan anak mereka.
Jauh sebelum riset ini pada tahun 2009 Pemkot Surakarta mengeluarkan program BPMKS (Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta) yang ditujukan bagi peserta didik keluarga tidak mampu diberikan bantuan operasional pendidikan ke dalam 3 klaifikasi atas pemegang kartu platinum, kartu gold dan silver. Sasaran kartu platinum dan gold adalah peserta didik dari keluarga miskin Kota Surakarta. Peserta didik pada Sekolah Plus pemegang Kartu platinum difasilitasi sepenuhnya kebutuhan biaya pendididikannya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (biaya operasional dan biaya personal), sedangkan pemegang kartu gold dibebaskan dari biaya operasional pendidikan mereka dan silver diberikan bantuan sebagian. BPMKS diberikan pada peserta didik untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
NO URAIAN
TAHUN
2010 2011 2012 2013
1 Anggaran BPMKS 15,958,516,000 21,474,485,000 29,431,044,000 33.295.024.000
2 Realisasi BPMKS 15,799,250,000 17,830,884,000 26,254,009,500 31.578.279.000
Dalam mendukung Deklarasi Kota Surakarta sebagai kota vokasi (lulusan SMK sesuai dengan tuntutan pasar tenaga kerja bidang industri), maka Dinas pendidikan Kota Surakarta mengintegrasikan pengembangan vokasi ke dalam kawasan Solo Technopark, melalui pengembangan teaching factory yang mendekatkan pendidikan pada praktek industri melalui perakitan laktop, TV LCD, Mesin bubut CNC, perakitan sepeda motor dan mobil (mobil Rajawali)
5. Bidang ekonomi Kerakyatan melalui Optimalisasi UMKM (PKL dan Pasar Tradisional)
Revitalisasi Pasar Tradisional revitaliasi pasar tradisional ini, menjawab 2 permasalahan pokok : pertama mempertahankan eksistensi pasar tradisional di tengah gempuran pasar modern dan kedua mendukung ekonomi kerakyatan, melalui penyediaaan ruang bagi sektor informal dalam mendukung aktivitas perekonomian (fungsi pasar) dan mendukung sektor unggulan kota Surakarta d ibidang perdagangan (grosir) sekaligus menjamin keberlangsungan fiskal daerah, melalui retribusi pasar bagi peningkatan PAD.
Penataan PKL dalam rangka pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan penguatan sektor informal mengubah paradigma PKL identik dengan kesemrawutan wajah kota menjadi PKL sebagai kekuatan ekonomi informal) success story penataaan PKL adalah relokasi 1.500 PKL di sekitar Monomen Banjarsari ke lokasi pasar baru yang dibangun oleh Pemkot Surakarta di Pasar Klitikan Semanggi tanpa adanya konflik.
Disamping melakukan relokasi PKL, strategi lain yang ditempuh oleh Pemkot Surakarta adalah melalui pembangunan shelter PKL di beberapa kawasan supaya tertata rapi (PKL kuliner di Kawasan Manahan) dan pemberian gerobak dan payung (di kawasan kuliner Galabo dan night market di Pasar Ngarsopuro).
NO TAHUN NAMA PASAR SUMBER DANA
APBD KOTA APBD PROV APBN
1 2009 Windujenar Tahap II dan Blok Timur
2.005.068.000 Pucangsawit Tahap I 3.302.722.500 666.000.000 Panggung Rejo Tahap II
2.369.000.000
2 2010 Pasar Ayu Tahap I
2.708.520.000
Pucangsawit Tahap II
1.447.860.000
3 2011 Pasar Ayu Tahap II
1.146.414.000 4 2012 Pasar Kliwon 4.000.000.000 Depok 10.200.000.000
Pasar Ayu Tahap III
1.610.675.000 Turisari 1.200.000.000 5.000.000.000 5 2013 Pasar Papsa Gilingan 5.980.882.000 5.000.000.000
Rehab Pasar Ngemplak 384.600.000 900.000.000 Finishing pembangunan Pasar
Kliwon
Pasar Depok Tahap II
Penataan Kawasan Kumuh
Mewujudkan “ Kota Surakarta Bebas Slum Area “. Dari data tahun 2006, terdapat 6.612 rumah tidak layak huni, untuk meujudkannya setiap tahun telah didsalurakan bantuan dari rumah tidak layak huni, diharapkan menjadi layak huni, namun demikian implementasinya masih menghadapi kendala, karena meskipun sudah diintervensi dengan bantuan rehab 2 juta per rumah, rumah tidak layak huni, secara langsung tidak berubah menjadil layak huni.
Strategi lain dalam penaataan kawasan kumuh adalah relokasi warga yang mendiami bantaran sungai Bengawan Solo/daerah rawan bencana banjir dengan menyediakan tempat relokasi. Komitmen ini didukung melalui intervensi belanja guna mendukung penataaan/relokasi kawasan kumuh, melalui pembebasan tanah HM dikembalikan menjadi kawasan sempadan sungai.
6. Penataaan Infrastruktur Perkotaaan
Dibidang Pekerjaan Umum, salah satu prioritasnya adalah penataan jaringan listrik penerangan jalan umum dengan program PJU pintar guna melakukan efisiensi operasional PJU. Peningkatan infrastruktur kota juga ditingkatkan khususnya dalam rangka peningkatan/ perbaikan jalan kota dan jalan lingkungan melalui alokasi belanja dalam Perubahan APBD TA. 2013 sebesar 41,5 milyar rupiah.
Penataan Kali pepe, lebih lanjut dintegrasikan dengan konsep penataaan kawasan kumuh melalui pembangunan rumah deret dalam tahun anggaran selanjutnya.
Bidang Trasnportasi Massal
Guna mendukung transportasi massal yang makin baik, terus dilakukan menuruju penerapan penyediaaan transportasi massal tunggal, meallui pembentukan konsorsium pengelola BST (batik Solo Trans) untuk 12 koridor yang melayani seluruh trayek bis umum. Diharapakan dengan sistem manajemen transportasi masaal yang makin baik, dapat mengurai potensi kemacetan di Kota Surakarta dan penataaan jaringan transportasi kota yang makin baik.
Guna mendukung konektivitas wilayah, semakin dimatangkan rencana pengoperasian kereta batara kresna dari Solo – Wonogiri, yang ekonomis, guna mendukung aktivitas bisnis, pariwisata dan mobilitas penduduk di 2 kawasan tersebut.
Surakarta menjadi MICE CITY
Dalam rangka Penguatan city branding Kota Surakarta ditempuh dan diarahkan untuk menuju Kota Surakarta sebagai MICE (meeting incentive conference and exhibition). Implementasi dari strategi ini ditempuh melalui :
a. Penyelenggaraan event-event budaya, yang mendukung Kota Surakarta sebagai Kota budaya dalam skala regional, nasional dan internasional (Penyelenggaraan calender event Budaya setiap Tahun melalui : Solo Batik Carnival, SIPA, SIEM, Festifal Kuliner, etc.)
b. Penyelenggaran sebagai tuan rumah konferensi tingkat regional, nasional dan internasional
c. Pengembangan ekonomi kreatif, mendukung integrasi MICE City
Penataan Ruang Publik
Untuk menjaga dinamika Kota, terlebih Kota Surakarta sangat kuat dengan unsur budaya dengan tag line-nya “ Solo Past is Solo Future” penghargaan terhadap ruang publik yang merespon pergerakan dan interaksi warga masyarakat dalam dinamika tata ruang, ditempuh beberapa program inovasi sebagai berikut :
a. Keberlanjutan penataaan kawasan. sampai dengan tahun 2013 telah dilakukan penataaan koridor kawasan untuk mempercantik wajah kota, diantaranya koridor bahayangkara dan kawasan sriwedari, Jl. Kapten Mulyadi dan koridor Jl. Jend. Sudirman.
b. Pembangunan City Walk di jalan Slamet Riyadi penghargaaan terhadap sarpras pedestrian . c. Car Free Day di Jl. Slamet Riyadi setiap hari
minggu pagi, sebagai ajang ruang publik masyarakat Surakarta bagi aktivitas olaghraga, rekreasi dan hiburan.
Longterm Strategy
Pembangunan Solo Technopark, yang diharapkan dengan Solo Technopark ini, Kota Surakarta memiliki sumber daya buatan (bidang Iptek), yang mampu menggerakkan sektor riil yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi wilayah dan penurunan tingkat kemiskinan kota.
History of Solo Technopark
Pada tahun 2002 Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) dan atas dukungan Indonesia German Instute (IGI) membentuk Surakarta Competency and Technology Center (SCTC), sebuah lembaga diklat dibidang mekanik untuk mendidik para pemuda dan guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan dalam meningkatkan kompetensinya di bidang mekanik. Lembaga SCTC inilah yang menjadi embrio dari lahirnya Solo Technopark (STP). SOLO TECHNOPARK (STP) adalah pusat vokasi dan inovasi teknologi di Kota Surakarta, yang di bangun dari sinergi dan hubungan yang kokoh antara dunia pendidikan, bisnis dan pemerintah (the triple helix). STP memberikan layanan pendidikan dan pelatihan bidang industri, inkubator bisnis, jasa produksi serta penelitian dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), meningkatkan daya saing dan kinerja dunia usaha dan dunia industri, meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, dan memperluas lapangan pekerjaan melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan.