i
DI KABUPATEN JEMBER
O l e h :
Dr. Hj. St. Rodliyah, M.Pd
NIP. 19680911 199903 2 001
PENELITIAN DIBIAYAI DARI DIPA IAIN JEMBER TAHUN 2015
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIKAN
ii
Amien” Dalam Mengembangkan Jiwa Keagamaan Remaja Di Kabupaten Jember. b. Bidang Ilmu : Pendidikan Islam
c. Kategori Penelitian : Field Research 2. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Dr. Hj. St. Rodliyah, M.Pd b. Jenis Kelamain : Perempuan
c. Pangkat/Gol/NIP : Pembina Tk I /IV.b/ 19680911 199903 2 001 d. Jabatan Sekarang : Lektor Kepala
e. Fakultas/Jurusan : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan / KI f. Program Studi : MPI
g. PTAI : IAIN Jember
3. 4.
Jumlah Tim Peneliti Lokasi Penelitian
: 1 (satu) Orang : Kabupaten Jember 5. Kerjasama dengan
Instansi lain
:
-5. Lama Penelitian : 8 (delapan) bulan
6. Biaya Yang Diperlukan : Rp. 7.000.000,- ( Tujuh juta rupiah). a. Sumber dana dari : DIPA IAIN JEMBER
Jember , 17 Desember 2015
Mengetahui,
Kepala P3M Peneliti
Muhibbin, S. Ag, M.Si NIP. 19711110 200003 1 018
iii
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat, tauhid dan hidayah-Nya, sehingga penulisan hasil laporan penelitian yang berjudul “Aktivitas Remaja Masjid Jami’ “Al-Baitul Amien” Dalam Mengembangkan Jiwa Keagamaan Remaja Di Kabupaten Jember. dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Remaja masjid adalah perkumpulan pemuda masjid yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkungan suatu masjid. Pembagian tugas dan wewenang dalam remaja masjid termasuk dalam golongan organisasi yang menggunakan konsep Islam dengan menerapkan asas musyawarah, mufakat, dan amal jama’i (gotong royong) dalam segenap aktivitasnya.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi IAIN agar mempertimbangkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tentunya memiliki ikatan moral dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain baik yang di bawahnya maupun yang sederajat untuk menjalin kerjasama atau saling memberikan masukan demi kebaikan dan kemajuan lembaga pendidikan Islam.
Terselesainya laporan penelitian ini tidak terlepas adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Rektor IAIN Jember Bapak Dr. H. Babun Suharto, SE., MM., beserta seluruh jajarannya yang telah memberikan kepercayaan kepada kami atas pelaksanaan penelitian ini.
iv
yang sedalam-dalamnya dan kami berdo’a mudah-mudahan amal baiknya
diterima oleh Allah SWT., serta hasil penelitian ini bisa membawa barokah dan
manfaat khususnya bagi peneliti dan bagi masyarakat. Amien.
Jember, 17 Desember 2015
Peneliti
v ABSTRAK
Masjid merupakan tempat beribadah umat Islam. Melalui masjid, kaderisasi generasi muda dapat dilakukan melalui aktivitas-aktivitas remaja masjid bernuansa social dan pendidikan Islam yang bersifat kontinu untuk pencapaian kemajuan. Sehingga pendidikan agama tidak cenderung mengedepankan aspek kognitif saja, melainkan pada aspek afektif dan psikomotorik generasi muda. Sehingga melalui aktivitas-aktivitas masjid ini, jiwa keagamaan remaja atau generasi muda bisa terbangun dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap lebih mendalam tentang aktivitas remaja masjid Jami’ “Al-Baitul Amien” dalam membangun jiwa keagamaan remaja di kabupaten Jember. Fokus penelitian ini meliputi 3 hal : (1) bagaimana bentuk-bentukaktivitas remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam membangun jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember, (2) bagaimana pengelolaan aktivitas remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam membangun jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember, dan (3) apa saja faktor yang mendukung dan menghambat terlaksananya aktivitas remaja masjid Jami’ Al -Baitul Amien dalam membangun jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenisnya deskriptif. Sumber data yang dibutuhkan yaitu sumber data priemer dan sumber data skunder. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan model interaktif Miles dan Huberman dengan langkah (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi. Sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber dan metode, dan konfirmabilitas yaitu digunakan untuk melihat tingkat konfirmabilitas antara temuan yang diperoleh dengan data pendukungnya.
vi
pengajian-pengajian muslimat, dan (c) magang di unit-unit usaha muslimat seperti di butik Rien Colection, Bank Muamalat, dll, dan (d) Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) kegiatannya satu tahun sekali pelatihan tingkat Jawa Timur. Keempat, kegiatan kaderisasi ada 3 level yaitu; (a) Program Studi Islam, (b) pendidikan Keislaman, Relegius, dan kemasyarakatan, dan (c) Kepemimpinan wawasan Keislaman, dan rapat kerja.Pengelolaan aktivitas remaja Masjid Jami’ ”Al-baitul Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan di Kabupaten Jember. (2) Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat Terlaksananya Aktivitas Remaja Masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam Mengembangkan Jiwa Keagamaan Remaja di Kabupaten Jember. (a) Faktor Pendukungnya adalah sebagai berikut; (a) karena aktivitas yang dilaksnakan menarik anggota remaja masjid dan bahkan menarik masyarakat untuk datang, (b) aktivitasnya membawa banyak manfaat misalnya kajian Fiqih perempuan dan kajian keislaman banyak memberikan pengetahuan bagi remas dan bagi masyarakat, (c) dukungan dari masyarakat, dukungan dari para pengurus yayasan, takmir masjid, para pembina remaja masjid, dan pengurus organisasi remaja masjid, terutama dukungan dana, kehadiran masyarakat di setiap ada kegiatan yang berskala besar seperti peringatan Maulid Nabi, Isro’ Mi’roj, dan Nuzulul Qur’an yang tentunya kegiatan-kegiatan tersebut adalah kerjasama Ta’mir Masjid beserta Remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” Kabupaten Jember. (b) Faktor Yang Menghambat adalah sebagai berikut: (a) minat dari remaja masjid itu sendiri yang kadang-kadang menurun utnuk mengikuti semua kegiatan yang ada, (b) tidak semua masyarakat faham dan mengetahui fungsi dari kegiatan remaja masjid sehingga tidak semua masyarakat berkenan mendukung kegiatan remaja masjid, dan (c) kesempatan waktu yang kadang-kadang benturan dengan kegiatan sekolah atau kuliah remaja masjid, dan (d) cuaca terutama musim hujan tentunya mempengaruhi kedatangan anggota remaja masjid dalam mengikuti kegiatan.
vii
HALAMAN JUDUL .………... i
LEMBAR PENGESAHAN ...………... ii
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK... v
DAFTAR ISI ...………... vii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah…... 1
B. Fokus Penelitian………... 3
C. Tujuan Penelitian ...………... 4
D. Manfaat Penelitian …... 4
E. Sistematika Pembahasan BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 8
B. Kajian Teori ... 9
1. Konsep Remaja Masjid ……….. 9
2. Bentuk-bentuk Aktivitas Remaja Masjid ... 17
3. Konsep Pengembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja ……….... 19
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja dan Dewasa …….. 26
5. Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama pada Remaja dan Dewasa ... 28
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 30
viii
G. Pengecekan Keabsahan Data ... 34
H. Tahap-Tahap penelitian ... 36
BAB III : PAPARAN DAN ANALISIS DATA
A. Paparan Data ... 37
1. Bentuk-bentuk aktivitas remajamasjid Jami’
”Al-BaitulAmien” dalam mengembangkan jiwa
keagamaan remaja di Kabupaten Jember………….. 37
2. Pengelolaan aktivitas remajamasjid Jami’
”Al-BaitulAmien” dalam mengembangkan jiwa
keagamaan remaja di Kabupaten Jember…………... 42
3. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat
terlaksananya aktivitas remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul
Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan
Remaja di Kabupaten Jember………. 46
B. Pembahasan Temuan ... 49
1. Bentuk-bentuk aktivitas remaja masjid Jami’
”Al-BaitulAmien” dalam mengembangkan jiwa
keagamaan remaja di Kabupaten Jember………….. 49
2. Pengelolaan aktivitas remajamasjid Jami’
”Al-BaitulAmien” dalam mengembangkan jiwa
keagamaan remaja di Kabupaten Jember…………... 52
3. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat
terlaksananya aktivitas remajamasjid Jami’ ”Al-Baitul
Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan
ix
DAFTAR PUSTAKA ………... 64
1
Remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa. Dengan kata
lain masa remaja adalah masa yang seolah-olah tidak memiliki tempat yang jelas,
ia tidak termasuk golongan anak juga tidak termasuk golongan dewasa. Karena
remaja belumlah mampu menguasai fungsi fisik maupun psikisnya, oleh karena
itu masa remaja biasa kita dengar sebagai masa transisi atau masa peralihan.
Secara psikologis kedewasaan adalah keadaan dimana sudah ada ciri-ciri
psikologis tertentu pada seseorang. Dalam pembagian tahap perkembangan
manusia, masa remaja menduduki tahap progresif. Kegoncangan emosi,
kebimbangan dalam mencari pegangan hidup, kesibukan mencari bekal
pengetahuan dan kepandaian untuk menjadi senjata dalam usia dewasa merupakan
bagian yang dialami oleh setiap remaja. Remaja pada hakikatnya sedang berjuang
untuk menemukan jati dirinya, jika dihadapkan pada keadaan luar atau lingkungan
yang kurang serasi penuh kontradiksi dan labil, maka akan mudahlah mereka
jatuh kepada kesengsaraan batin, hidup penuh kecemasan, ketidakpastian dan
kebimbangan. Hal seperti ini telah menyebabkan remaja Indonesia jatuh pada
kelainan-kelainan kelakuan (kenakalan remaja) yang membawa bahaya terhadap
dirinya sendiri baik sekarang maupun di kemudian hari.
Untuk menanggulangi kenakalan remaja tersebut, maka dibutuhkan sebuah
wadah (organisasi) yang aktivitasnya positif dan bernuansa keagamaan. Karena
dengan jiwa keagamaan yang kuat tentunya mampu membawa remaja berpikir
dan berperilaku positif. Remaja masjid adalah sebuah organisasi muslim yang
memiliki keterikatan dengan masjid. Karena itu perlu menghadirkan program
kerja (aktivitas) yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan keremajaan dan
ke-masjidan. Program-program yang disusun diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
anggota dalam menda’wahkan Islam, menambah kemakmuran Masjid serta
bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, diharapkan mampu meningkatkan
2
Masjid merupakan tempat beribadah umat Islam. Dalam arti masjid
sebagai instrument yang dapat digunakan untuk bersujud, beri’tikap, bahkan masjid dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegitan berdimensi social
yang melibatkan manusia dengan menjadikannya sebagai sentral kegiatan. Hal ini
berhubungan juga dengan potensi masjid itu sendiri yang harus diberdayakan
dengan segenap kemampuan para pengelolanya. Dalam hal ini dibutuhkan
keahlian (skill) yang tidak sekedar cukup saja, tetapi mesti dilaksnakan secara maksimal sebagai implementasi dari dakwah bil ahsan al-amal (melakukan perubahan dengan mengerahkan segenap kemampuan). Dengan pemahaman
semacam ini, masjid dapat dimaknai sebagai instrument atau sarana ibadah
universal. Tidak hanya ibadah mahdloh (mikro) saja, tetapi juga ibadah ghoiru
mahdloh (makro). Sehingga, masjid kembali lagi pada fungsinya sebagaimana
zaman Nabi Muhammad saw., dahulu yakni, sebagai pusat pendidikan Islam yang
berupaya menanamkan nilai-nilai dasar agama Islam, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup), bahkan harus menjadi pedoman hidup seseorang
(Muhaimin, 2005: 7-8).
Pada masa Rasulullah, umat Islam di Madinah berkembang dari
masyarakat kecil menjadi masyarakat kota dan kemudian menjadi Negara, fungsi
masjid di Madinah bertambah (Harun Nasution, 1996: 248). Di masjid itulah
beliau bersama kaum muslimin membina masyarakat baru, masyarakat yang
disinasi oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat. Di masjid
itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, menyampaikan ajaran
Islam, nasihat-nasihat dan juga pidato-pidato kepada umat Islam (Asma Hasan
Fahmi, 1997: 33). Di sinilah beliau bertindak sebagai hakim dan memutuskan
problem-problem umat serta bermusyawarah dengan para sahabat. Dari masjid
3
Masjid tidak lagi merupakan kegiatan politik dan militer. Tetapi masjid terus
merupakan tempat khalifah atau Amir menyampaikan pengumuman-pengumuman
penting kepada rakyat. Lambat laun masjid putus hubungan dengan kegiatan
politik pemerintahan, dan mulai menjadi peribadatan dan kajian ilmu pengetahuan
agama saja. Dalam perkembangan selanjutnya, fungsi pokok masjid tinggal
menampung aktivitas sholat saja. Untuk itu fungsi masjid menjadi semakin
terbatas, yakni tempat shalat lima waktu berjama’ah, shalat jum’at, shalat tarawih
di bulan puasa, shalat idul fitri dan shalat idul adha, sehingga fungsi masjid telah
banyak mengalami kemerosotan sepeninggal Nabi dan para sahabatnya. Namun
pada masa sekarang fungsi masjid mulai berkembang tidak hanya sebagai tempat
ibadah sholat berjamaah saja, namun sudah mulai ada aktivitas-aktivitas
kajian-kajian ilmu keagamaan seperti kitab kuning, dan ada organisasi remaja masjid
yang memiliki berbagai macam aktivitas.
Memahami masjid secara universal berarti juga memahaminya sebagai
sebuah instrument social masyarakat Islam yang tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat Islam itu sendiri. Keberadaan masjid pada umumnya merupakan salah
satu perwujudan aspirasi umat Islam sebagai tempat ibadah yang menduduki
fungsi sentral. Mengingat fungsinya yang strategis, maka perlu dibina
sebaik-baiknya, baik dari segi fisik bangunan maupun segi kegiatan pemakmurannya. (A.
Bachrun Rifa’I dan Moch. Fakhruroji, 2005: 14). Melalui pemahaman ini, muncul sebuah keyakinan bahwa masjid menjadi pusat dan sumber peradaban Islam.
Melalui masjid kita dapat bersujud, beribadah kepada Allah SWT., dalam dimensi
ritual dan social dengan berbagai macam cara. Melalui masjid pula, kita dapat
membangun sebuah system masyarakat yang ideal sebagaimana yang
dicita-citakan oleh ajaran Islam.
Melalui masjid, kaderisasi generasi muda dapat dilakukan melalui proses
4 berkembang.
Hasil wawancara dengan bapak Hafid selaku Pembina organisai Remaja
Masjid Jami’ “Al-Baitul Amien” Kabupaten Jember dan selaku kepada Sekolah
Dasar (SD) Al-Baitul Amien, mengungkapkan sebagai berikut:
“Masjid Jami’ “Al-Baitu Amien” Kabupaten Jember merupakan tempat beribadah bagi masyarakat Jember, tidak hanya tempat beribadah saja, namun
juga tempat kajian social dan kajian keagamaan (Islam) berbagai kegiatan telah
dilakukan mulai dari pendidikan, kajian kitab fiqh perempuan, kajian kitab, kajian
buku-buku terpopuler, tempat Pengajian Al-Qur’an, tempat pelatihan kaderisasi,
bahkan di bulan Ramadlon ada Tanya jawab keagamaan bekerja sama dengan
radio republic Indonesia (RRI) disiarkan secara langsung, istighosah, solawadan
dan lain-lain” (Wawancara Senin, 4 Nopember 2015).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti merasa tertarik untuk
mengkaji secara mendalam melalui penelitian dengan judul ”Aktivitas Remaja
Masjid Jami’ “Al-Baitul Amien” dalam Mengembangkan Jiwa Keagamaan
Remaja di Kabupaten Jember.
D. Fokus Penelitian
Dalam penelitian mutlak harus ada masalah, karena penelitian bertitik
tolak dari munculnya masalah dan perlunya untuk segera dipecahkan. Orang ingin
mengadakan penelitian karena ia ingin mendapatkan jawaban dari masalah yang
ia hadapi (Arikunto, 2002 : 22). Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut
di atas, maka yang menjad fokus kajian dalam penelitian ini yaitu aktivitas
masjid Jami’ ”Al-BaitulAmin” dalam mengembangkan jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember. Kemudian fokus kajian penelitian ini dijabarkan menjadi
5
3. Faktor-faktor apa saja yang medukung dan menghambat terlaksananya aktivitas
remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hal
yang diperoleh setelah penelitian selesai (Arikunto, 2002: 53). Adapun tujuan
penelitian ini secara adalah untuk mendeskripsikan tentangaktivitas masjid Jami’ “Al-Baitul Amin” dalam mengembangkan jiwa keberagamaan remaja di Kabupaten Jember. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mendeskripsikan:
1. Bentuk-bentuk aktivitas remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember.
2. Pengelolaan aktivitas remaja masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam
mengembangkan jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember.
3. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat terlaksananya aktivitas remaja
masjid Jami’ ”Al-Baitul Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :
1. Secara Teoritis:
Menambah khazanah wawasan keilmuan tentang pengelolaan aktivitas
remaja masjid dalam mengembangkan jiwa keagamaan remaja atau para
pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
2. Secara Praktis:
a. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian serta
6
khususnya ketua yayasan dan ketua remaja masjid agar menyadari
betapa pentingnya aktivitas remaja masjid dalam mengembangkan
jiwa keagamaan remaja bahkan masyarakat pada umumnya.
c. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan/tambahan ilmu
agama dan pertimbangan bagi masyarakat untuk bisa berpatisipasi
dalam semua aktivitas yang diselenggarakan oleh masjid dan oleh
Remaja Masjid Jami’ ”Al-baitul Amin” Kabupaten Jember.
E. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan gambaran singkat tentang penelitian
yang dikemukakan secara beraturan dari bab per bab dengan sistematis, dengan
tujuan agar pembaca dapat dengan mudah mengetahui gambaran isi penelitian
secara global. Adapun penelitian ini terdiri dari lima bab, secara garis besarnya
adalah sebagai berikut :
Bab satu pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang masalah,
fakus masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sitematika pembahasan.
Bab dua kerangka teoritik, yang berisi tentang tinjauan (1) konsep aktivitas
Remaja Masjid ayang meliputi pengertian, fungsi masjid, upaya memakmurkan
masjid, cara memakmurkan masjid, konsep remaja masjid dan bentuk-bentuk
aktivitas Remaja Masjid (2) konsep remaja masjid yang meliputi pengertia,
aktivitas remaja masjid, dan pengelolaan masjid, dan (3) konsep pengembangan
jiwa keagamaan Remaja Masjid yang meliputi: sumber/timbulnya jiwa
keagamaan pada anak’remaja, pengembangan jiwa keagamaan pada remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan jiwa keagamaan pada remaja
7
data yang meliputi data umum latar belakang obyek, dan data khusus yang
berkaitan dengan fokus penelitian, kemudian pembahasan/analisa data, dan makna
penelitian.
Bab lima kesimpulan dan saran, pada bagian akhir disajikan kesimpulan
dari hasil penelitian dan kemudian diberikan saran-saran untuk perbaikan proses
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Salah satu bagian terpenting untuk dikerjakan oleh seseorang peneliti
adalah penelusuran pustaka. Dalam penelitian, kegiatan penelusuran pustaka
bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai penelitian-penelitian yang telah
dikerjakan oleh peneliti terdahulu, sehingga akan dapat ditemukan mengenai
posisi penelitian yang akan dilakukan, selain itu bertujuan menghindari adanya
duplikasi yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, perlu memunculkan beberapa
penelitian terdahulu diantaranya:
Pertama, penelitian yang dilakukan Mochamad Jama’ Arif. 2010. Judul
”Pemberdayaan Masjid Sebagai Sarana Pendidikan Islam Bagi Siswa Madrasah Aliyah Negeri 3 malang. Skripsi Jurusan Tarbiyah, Prodi PAI, UIN Malik Ibrahim
Malang”. Hasil penelitiannya menujukkan bahwa melalui pemahaman ini, muncul sebuah keyakinan bahwa masjid menjadi pusat dan sumber peradaban Islam,
Melalui masjid pula kaderisasi generasi muda dapat dilakukan melalui proses
pendidikan Islam yang bersifat kontinu untuk mencapai kemajuan. Selain itu
melalui pemberdayaan fungsi masjid sarana agar hatinya terpaut dengan masjid,
hal ini dikarenakan kalau generasi muda islam siapa lagi yang perhatian terhadap
masjid, tujuan lainnya agar para siswa mempunyai keterampilan lebih di bidang
praktek keagamaan.
Kedua, penelitian yang dilakukan Muhammad Saerozi. 2008, Judul
”Optimalisasi Peran masjid dalam Pendidikan Islam Berbasis Masyarakat Studi Kasus di Masjid Baitul Muttaqien Kelurahan Kembangarum Semarang Barat”.
Hasil penelitian menunjukkan (1) pencerdasan di bidang pendidikan. Pencerdasan
tersebut dilakukan dengan melalui pengkajian-pengkajian tentang materi-materi
keislaman yaitu: baca tulis Al-Qur’an, dan tafsir Al-Qur’an, kajian-kajian, majlis dzikir serta melalui pengalaman-pengalaman ibadah berupa shalat jama’ah, zakat,
infaq dan shodaqoh, (2) pencerdasan di bidang kepedulian sosial. Pencerdasan ini
prinsip ta’awun (tolong menolong), tawazun (gotong royong), tawasuth (tidak memihak), tasyawur (musyawarah) dan adl (adil).
Persamaan dua penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan
peneliti adalah sama-sama meneltiti tentang masjid sebagai tempat beribadah,
sebagai tempat berdakwah, dan sebagai tempat kaderisasi generasi muda yaitu
remaja masjid.
Perbedaannya dua penelitian terdahulu dengan penelitian yang peneliti
lakukan adalah peneliti yang pertama yaitu kaderisasi generasi muda dapat
dilakukan mmelalui proses pendidikan Islam yang bersifat kontinu untuk
mencapai kemajuan, sedangkan penelitian yang kedua adalah pencerdasan
mengenai materi dan pencerdasan dibidang kepedulian sosial. Sedangkan yang
peneliti lakukan adalah lebih kepada pengembangan keagamaan remaja melalui
berbagai aktivitas remaja masjid.
B. Kajian Teori
1. Konsep Remaja Masjid
Remaja masjid adalah perkumpulan pemuda masjid yang melakukan
aktivitas social dan ibadah dilingkungan masjid. Hal ini sangat perlu dan
mutlak keberadaannya dalam menjamin estafet makmurnya suatu masjid
sehingga fungsi dinamika masjid itu sendiri dapat dipertahankan
kelanggengannya. Pembagian tugas dan wewenang dalam remaja masjid
termasuk dalam golongan organisasi yang menggunakan konsep Islam
menerapkan asas musyawarah, mufakat dan amal jama’i (gotong royong)
dalam segenap aktivitasnya.
Remaja masjid sebagai agen strategis dalam pemberdayaan umat
perlu dibekali keilmuan dan keterampilan yang dibutuhkan, misalnya para
aktivis remaja masjid juga perlu menekuni pengetahuan jurnalistik dan
kewirausahaan. Hal itu penting untuk menguatkan dakwah dan
pemberdayaan umat. Dua pengetahuan itu dapat menjadi sarana dakwah,
maupun peningkatan sumberdaya manusia remaja masjid sehingga mampu
Contoh komposisi struktur organisasi Remaja Masjid yang harus ada
yaitu: (1) Ketua Umum, (2) Wakil Ketua, (3) Sekretaris Umum dan Wakil
Sekretaris, (4) Bendahara Umum dan Wakil Bendahara, dan (5) Koordinator
bidang-bidang.
Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Pencapaian tujuan
memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dengan memanfaatkan
segenap sumber daya dan kemampuan. Dalam perjuangan diperlukan
kesabaran tanpa batas, hanya bentuknya saja yang mengalami perubahan.
Perjuangan yang dilakukan Reamaja Masjid adalah dalam rangka
da’wah islamiah, yaitu perjuangan untuk menyeru umat manusia kepada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Ada pertarungan antara yang
haq dengan yang batil. Dimana telah diketahui bahwa kebenaran, insya
Allah, akan mampu mengalahkan kebatilan. Namun perlu diingat, bahwa di
dunia ini kebatilan yang terorganisir juga memiliki peluang untk dapat
mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir. Karena itu, dalam
perjuangan melawan kebatilan perlu persiapan yang sungguh-sungguh dan
tertata dengan rapi, seperti bunyanun marshush (bangunan yang kokoh).
Untuk membentuk bangunan yang tersusun kokoh diperlukan
organisasi dan management yang tangguh serta didukung sumber daya
manusia (SDM) yang mencukupi dan berkualitas. Perekrutan dan kaderisasi
anggota sangat diperlukan oleh remaja Masjid dalam meningkatkan
kuantitas dan kualitas anggotanya. Hal ini dilakukan untuk menjamin
kelangsungan aktivitas dan misi organisasi dalam mendakwahkan Islam.
Bertambahnya anggota akan menambah semangat dan tenaga baru, sedang
tersedianya kader-kader yang berkualitas akan mendukung suksesnya
estafet kepemimpinan organisasi.
Peningkatan kualitas remaja masjid yang dilakukan adaalah untuk
meningkatkan keimanan, keilmuan dan amal shaleh mereka. Hal itu
dilakukan dengan proses kaderisasi yang dilakukan secara serius, sistematis
dan berkelanjutan, melalui jalur: pelatihan, kepengurusan, kepanitiaan dan
nilai-nilai, akhlak, intelektualitas, profesionlisme, moralitas dan integritas
islam. Sehingga diperoleh kader ideal Remaja masjid yang memiliki profil:
remaja mislim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia yang mampu
beramal shaleh secara professional serta memiliki fikrah Islam yang
komprehensif.
a. Pengertian Masjid
Secara etimologi masjid berasal dari bahasa Arab sajada yang berarti
tempat untuk bersujud atau tempat menyembah Allah SWT. (M. E. Ayub,
dkk., 1999: 1). Namun dalam arti terminology, masjid diartikan sebagai
tempat khusus untuk melakukan aktivitas ibadah dalam arti yang luas
(universal). Selain itu, masjid diartikan sebagai Baitullah atau “Rumah Allah”. Yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa setiap muslim di dunia
memiliki hak yang sama untuk menikmati fungsi masjid dan sama-sama
berhak memanfaatkan fasilitasnya dan sekaligus memiliki tanggungjawab
moral dan teologis untuk menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tak ada
izin untuk memanfaatkannya. Tidak ada seorang muslim pun dipungut biaya
dan tidak pula ada langganan. Tidak ada kuota, batas, atau larangan bagi
umat Islam manapun untuk memenuhi masjid. Ini merupakan hasil praktis
dari masjid sebagai wakaf, suatu amanat yang diberikan pemberiannya
kepada Allah.
Masjid merupakan tempat berkumpulnya orang-orang muslim.
Pemberdayaan fungsi masjid bukan sekedar memfungsikan masjid sebagai
tempat ritualhablun minallah saja. Masjid pun dapat diberdayakan sebagai rumah social bagi saudara-saudara muslim yang kurang mampu. Rasulullah
dan para sahabat pernah membangun sebuah ruangan di sebelah Masjid
Nabawi yang disebut Shuffa. Suffa meupakan tempat pemondokan bagi
sahabat yang melakukan kegiatan dakwah dan penyiaran agama Islam.
Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah SAW., “Shalat
berjamaah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad” (HR.
Sebenarnya inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan
shalat berjama’ah, yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar.
Sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjamaah
merupakan indicator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid.
Jadi keberhasilan dan kekurang berhasilan kita dalam memakmurkan Masjid
dapat diukur dengan seberapa jauh antusias umat dalam menegakkan shalat
berjamaah.
Meskipun perjalanan sejarahnya, Masjid telah mengalami
perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan
peranannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim di situ
ada masjid. Disamping menjadi tempat beribadah. Masjid telah menjadi
sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman pusat da’wah dan
lain sebagainya.
Masjid bukan hanya bangunan fisik saja, namun ia seharusnya
menjadi sebuah institusi pembangunan masyarakat yang tidak hanya
berkutat dalam aspek ibadah ritual saja. Masjid sebaiknya dirancang agar
dapat memfasilitasi berbagai kegiatan dan fasilitas seperti sekolah,
perpustakaan, warung, toko kelontong agar masyarakat lebih merasa
memiliki institusi (lembaga) dan ikut memakmurkannya. Hal ini dilakukan
dengan memisahkan antara ruang sholat perlu dilakukan juga terhadap
sumber daya manusia yang mengelola masjid tersebut (Aisyah N.
Handryant, 2010: 37).
Banyak masjid didirikan umat Islam, baik masjid umum, Masjid
Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus maupun yang lainnya. Masjid
didirikan untuk memenuhi hajat umat, khususnya kebutuhan spiritual, guna
mendekatkan diri kepada Penciptanya tunduk dan patuh mengabdi kepada
Allah SWT. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup
dan energy kehirupan umat.
b. Fungsi Masjid
Fungsi masjid yang paling utama adalah sebagai tempat
adalah merupakan salah satu ajaran agama Islam yang pokok, sunnah Nabi
dalam pengertian muhaditsin, bukan fuqaha, yang bermakna perbuatan yang
selalu dikerjakan Beliau. Ajaran Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam
tentang shalat berjamaah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan
kepada kaum muslim.
Masjid memiliki berbagai fungsi sebagaimana yang dikemukakan
oleh Ahmad Yani (2008: 13), sebagai berikut:
1) Sebagai tempat ibadah
Masjid, sebagaimana telah diketahui berasal dari kata “ sajada-yasjidu” yang berarti “merendahkan diri”, menyembah atau sujud. Dengan
demikian, menjadi tempat shalat dan dzikir kepada Allah merupakan fungsi
utama dari masjid. Oleh karena itu, pemanfaatan masjid untuk menyembah
selain Allah SWT, juga merupakan sesuatu yang amat dilarang.
Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas
menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh
ridho Allah, maka fungsi Masjid disamping sebagai tempat ibadah shalat
juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran islam.
2) Sebagai tempat menuntut ilmu
Rasulullah SAW, juga menjadikan masjid sebagai tempat untuk
mengajar ilmu yang telah diperolehnya dari Allah SWT, berupa wahyu. Ini
berarti masjid itu berfungsi sebagai Madrasah yang di dalamnya kaum
muslimin memperoleh ilmu pengetahuan. Masjid juga bertindak sebagai
pusat-pusat pendidikan dan merupakan tempat-tempat untuk kuliah-kuliah
tentang Al-Qur’an dan Hadits, bukan saja pendidikan agama, tetapi juga
mata pelajaran bahasa, filsafat dan kesusasteraan diajarkan dalam
majlis-majlis ini.
3) Sebagai tempat pertemuan
Salah satu tempat yang paling rutin digunakan oleh Rasulullah
SAW, dan para sahabatnya untuk saling bertemu adalah masjid, dalam
pertemuan di masjid itu, Rasulullah dan para sahabat tidak hanya bertemu
itu berhubungan dengan sesama menjadi semakin akrab dan hubungan
dengan Allah SWT, semakin dekat.
4) Sebagai kegiatan social
Manusia disebut juga sebagai makhluk social, Islam menekankan
asas persamaan dalam masyarakat, karenanya hubungan social diantara
masyarakat muslim berlangsung secara harmonis sehingga tidak terjadi
adanya kesenjangan social, apalagi melalui shalat berjamaah, prinsip
kehidupan social itu dibina.
5) Sebagai tempat pembinaan jama’ah
Terbinanya iman seorang muslim merupakan modal dasar bagi
terbentuknya masyarakat muslim, harus ditindak lanjuti kearah pembinaan
suatu masyarakat yang islami. Untuk itu masjid dapat dimanfaatkan sebagai
sarana pembinaan bagi masyarakat muslim.
Dengan adanya umat Islam disekitarnya, Masjid berperan dalam
mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat.
Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuah imaniyah dan da’wah
islamiyahnya. Sehingga Masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.
6) Sebagai pusat dakwah dan kebudayaan Islam
Masjid semakin jelas bagi kita bahwa tidak hanya digunakan untuk
sekedar shalat dan ibadah-ibadah yang sejenisnya, tetapi masjid juga
difungsikan sebagai lembaga untuk mempererat hubungan dan ikatan
jamaah Islam yang baru tumbuh. Nabi SAW, yang diterimanya,
memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para sahabat tentang
berbagai masalah, memberi fatwa, mengajarkan Agama Islam,
membudayakan musyawarah, menyelesaikan perkara-perkara dan
perselisihan-perselisihan, tempat mengatur dan membuat strategi militer dan
tempat menerima putusan-putusan dari semenanjung Arabia (Yani. 2008).
Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu
berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di
dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan
masyarakat. Karena itu masjid berperan sebagai sentra aktivitas dakwah dan
kebudayaan.
c. Upaya Memakmurkan Masjid
Membangun dan mendirikan masjid tampaknya dapat saa
diselesaikan dalam tempo tidak terlalu lama. Namun, alangkah sia-sianya
jika masjid yang didirikan itu tidak disertai dengan orang-orang yang
memakmurkannya. Masjid akan menjadi tidak terawatt, cepat rusak, dan
sepi dari jama’ah atau kegiatan yang bernafaskan keagamaan. Dengan
memakmurkan masjid secara fisik dimaksudkan masjidnya bagus, bersih,
indah dan megah, dan secara spiritual ditandai dengan antusiasme jamaah
menunaikan kegiatan ibadah atau kegiatan-kegiatan lainnya.
Masjid yang makmur adalah masjid yang berhasil tumbuh menjadi
sentral dinamika umat. Sehingga, masjid benar-benar berfungsi sebagai
tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam dalam arti luas. Adalah tugas
dan tanggungjawab seluruh umat Islam dalam memakmurkan masjid yang
mereka dirikan dalam masyarakat. Hal tersebut sebagaimana difirmnkan
dalam Al-qur’an Surat At-Taubah ayat 18 yang artinya:
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada
Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan
orang-orang yang mnedapat petunjuk”.
Berbagai macam usaha berikut ini, bila benar-benar dilaksanakan,
dapat diharapkan memakmurkan masjid secara material dan spiritual.
Namun kesemuanya tetap bergantung pada kesadaran diri pribadi muslim,
yaitu:
1) Kegiatan Pembangunan
Bangunan masjid perlu dipelihara dengan sebaik-baiknya. Apabila
ada yang rusak diperbaiki atau diganti dengan yang baru, yang kotor
bersih, dan terawatt. Kemakmuran masjid dari segi material ini
mencerminkan tingginya kualitas hidup dan kadar iman umat di sekitarnya.
Sebaliknya, apabila masjid itu tidak terpelihara, kotor, dan rusak hal itu
secara jelas menunjukkan betapa rendahnya kualitas iman umat yang
bermukim di sekitarnya.
2) Kegiatan Ibadah
Kegiatan ibadah meliputi shalat berjamaah lima waktu, shalat
jumat, dan shalat tarawih. Shalat berjamaah diri sangat penting artinya
dalam usaha mewujudkan persatuan dan ukhuwah islamiyah diantara
sesame umat Islam yang menjadi jamaah masjid tersebut. Kegiatan spiritual
lainnya yang sangat baik dilakukan di dalam masjid mencakup berdzikir,
membaca Al-Qur’an, berinfak dan bersedekah.
3) Kegiatan Keagamaan
Kegiatan keagamaan meliputi pengajian rutin, khusus ataupun
umum, yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas iman dan
menambah pengetahuan, peringatan hari-hari besar islam, kursus-kursus
keagamaan seperti kursus bahasa arab, bimbingan dan penyuluhan masalah
keagamaan, keluarga dan perkawinan, persyahadatan para mualaf, upacara
pernikahan atau resepsi pernikahan.
4) Kegiatan Pendidikan
Kegiatan pendidikan mencakup pendidikan formal dan informal.
Madrasah. Lewat lembaga sekolah atau madrasah ini, anak-anak dan remaja
dapat dididik sesuai dengan ajaran Islam. Secara informal seperti,
bentuk-bentuk pendidikan pesantren kilat ramadhan, pelatihan remaja Islam, kursus
bahasa arab, kesenian dan lain-lain (E. ayub: 1999).
5) Kegiatan-Kegiatan Lainnya
Banyak bentuk kegiatan yang juga perlu dilaksanakan dalam usaha
memakmurkan masjid. Sebut saja dari menyantuni fakir miskin dan yatim
piyatu, kegiatan olahraga, kesenian, keterampilan, perpustakaan seta
d. Cara Memakmurkan Masjid
Semangat umat membangun masjid tampak sangat tinggi. Mereka
tidak segan-segan mengorbankan waktu, tenaga pikiran dan dana agar
masjid dapat berdiri. Sayangnya, setelah masjid berdiri, semangat
memakmurkannya tidak sehebat tatkala mendirikannya. Masjid hanya ramai
di waktu shalat jumat dan tarawih di bulan ramadhan. Sehari-harinya tidak
banyak yang shalat berjamaah. Pengurus masjid tidak bisa berdaya, padahal
masjid tidak makmur maka tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
1) Kesungguhan Pengurus Masjid
Pengurus masjid yang telah mendapat kepercayaan untuk mengelola
masjid sesuai dengan fungsinya memegang peran penting dalam
memakmurkan masjid. Merekalah lokomotif atau motor yang
menggerakkan umat Islam untuk memakmurkan masjid, dan
menganeragamkan kegiatan yang dapat diikuti oleh masyaraakat sekitar.
melakukan tugas tidak asal jadi atau setengah-setengah.
2) Memperbanyak Kegiatan
Kegiatan di dalam masjid perlu diperbanyak dan ditingkatkan, baik
menyangkut kegiatan ibadah ritual, ibadah social, maupun kegiatan cultural.
Jadi, disamping mengadakan kegiatan pengajian. Ceramah, dan kuliah
keagamaan, juga digiatkan pendidikan dengan mendirikan sekolah,
kelompok belajar, kursus-kursus. Khusus agama ataupun kursus umum plus
agama. Masjid perlu pula mewadai remaja dan generasi muda. Mereka bisa
menyalurkan pikiran, kreativitas, dan hobinya dengan cara membina ilmu
agama, menempa iman, dan memperbanyak amal ibadah. Maka dengan hal
itu, masjid akan aktif membentuk remaja dan generasi muda yang saleh,
beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. (E. Ayub: 1999).
2. Bentuk-Bentuk Aktivitas Remaja Masjid
Remaja masjid membina para anggotanya agar beriman, berilmu dan
beramal sholeh dalam rangka mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala
untuk mencapai keridhaan-Nya. Pembinaan dilakukan dengan menyusun
aktivitas Reamaja masjid yang telah mapan biasanya mampu bekerja secara
terstruktur dan terencana. Mereka menysusun program kerja secara periodik
dan melakukan berbagai aktivitas yang beorientasi pada keislaman,
kemasjidan, keramajaan, keterampilan dan keilmuan.
Mereka juga melakukan pembidangan kerja berdasarkan kebutuhan
organisasi, agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Beberapa bidang
kerja dibentuk untuk mewadai fungsi-fungsi organisasi yang disesuaikan
dengan program kerja dan aktivitas yang akan diselenggarakan biasanya
meliputi:
a. Administrasi dan kesekretariatan
b. Keuangan
c. Pembinaan Anggota
d. Perpustakaan dan Informasi
e. Kesejahteraan Umat
f. Kewanitaan
Menurut Abdullah Syam ketua umum Lembaga dakwah Islam
Indonesia (LDII) (2015), menilai aktivitas remaja masjid mempunyai
banyak sekali sisi positif bagi kalangan remaja, pemuda, dan pelajar Islam.
Sebab, aktivitas di lingkungan masjid dapat membuat remaja dan pemuda
belajar untuk mandiri, baik secara kepribadian maupun secara pemahaman
ilmu-ilmu agama.
Banyak hal positif yang di dapat dari aktivitas remaja masjid. Karena
di situ kita luruskan pemikiran anak muda kita sejak dini dari
pengaruh-pengaruh yang tidak benar. Untuk merangsang pemuda betah melakukan
aktivitas di lingkungan masjid, maka pengurus masjid dan ulama setempat
harus dapat menyediakan fasilitas yang nyaman dan menarik bagi anak
muda. Sebagai contoh beberapa program kerja atau aktivitas remaja masjid
“Syiarul Islam” Kabupaten kuningan Jakarta adalah sebagai berikut:
1) Bidang Pembinaan Anggota
(a) menyelenggarakan pengajian remaja
(c) menyelenggarakan pelatihan-pelatihan remaja masjid.
2) Bidang Informasi dan Perpustakaan
(a) menerbitkan informasi da’wah
(b) membentuk forum komunikasi antar remaja masjid
(c) menyelenggarakan kajian buku/kitab kuning
3) Bidang Kesejahteraan Umat
(a) membantu Ta’mir Masjid dalam kegaiatan peribadatan
(b) mengadakan acara kunjungan ke pesantren
(c) mengadakan kegiatan bakti social
(d) mengadakan jasa bantuan kemasyarakatan.
4) Bidang kewanitaan
(a) mengadakan kegiatan keterampilan keputrian
(b) menyelenggarakan pengajian khusus putri
5) Administrasi dan Kesekretariatan
(a) menertibkan pengelolaan surat menyurat organisasi
(b) melakukan regristrasi aggota
(c) menyusun pedoman-pedoman organisasi yang belum dimilik.
(d) melakukan inventarisasi, perawatan dan penambahan inventaris
organisasi.
6) Kebendaharaan
(a) meningkatkan pemasukan dana dari donatur.
(b) menertibkan pengelolaan keuangan organisasi.
3. Konsep Pengembangan Jiwa Keagamaan Remaja
a. Sumber /Timbulnya Jiwa Keagamaan Pada Anak/Remaja
Pertama, teori monistik (mono=satu) berpendapat bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah satu sumber kejiwaan.
Selanjutnya sumber tunggal manakah yang dimaksud yang paling
dominan sebagai sumber kejiwaan itu, timbul beberapa pendapat yang
1) Thomas Van Aquino, mengemukakan bahwa yang menjadi sumber
kejiwaan agama itu adalah berpikir. Manusia bertuhan karena
manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan
beragama merupakan refleksi dari kehidupan berpikir manusia itu
sendiri. Pandangan ini masih mendapat tempat hingga sekarang
dimana para ahli mendewakan rasio sebagai satu-satunya motif yang
menjadi sumber agama.
2) Sigmund Freud, mengemukakan sumber kejiwaan agama adalah libido
sexual (naluri seksual). Berdasarkan libido ini timbullah ide tenaga
ke-Tuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses.
Kedua, teori fakulti. Teori ini dikemukakan oleh salah satunya
yaitu G.M Straton, mengemukakan teori “konflik”, ia mengatakan bahwa
yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah konflik dalam kejiwaan
manusia, keadaan yang berlawanan seperti baik buruk, moral-immoral,
kefasikan dan keaktifan, rasa rendah diri dan rasa harga diri
menimbulkan pertentangan dalam diri manusia, dikotomi (serba dua)
termasuk menimbulkan rasa agama dalam diri manusia. Jika konflik
sudah sedemikian mencekam manusia dan mempengaruhi kehidupan
kejiwaannya, maka manusia itu mencari pertolongan kepada sesuatu
yang tertinggi (Tuhan).
Timbulnya agama pada anak/remaja menurut para ahli dapat
dibagi menjadi dua pendapat:
1) mengatakan bahwa anak dilahirkan sebagai makhluk yang relegius.
Anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang dan malahan mereka
mengatakan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan dari pada
anak manusia itu sendiri. Pendapat ini bayi dianggap sebagai manusia
dari segi bentuk bukan kejiwaan, apabila bakat elementer bayi lambat
bertumbuh dan matang maka agak sukarlah untuk melihat adanya
keagamaan pada dirinya.
2) berpendapat sebaliknya bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa
bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap kematangan.
Pendapat kedua mengatakan tanda-tanda keagamaan pada diri seorang
anak akan tumbuh terjalin secara integral dengan perkembangan
fungsi-fungsi kejiwaan lainnya (Syamsu Yusuf: 2007).
Berdasarkan hasil reset dan observasi hamper seluruh ahli ilmu
jiwa mengambil kesimpulan bahwa pada diri manusia terdapat semacam
keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal, kebutuhan itu melebihi
kebutuhan-kebutuhan lainnya. Kebutuhan akan kekuasaan. Keinginan
akan kekuasaan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, salah satunya
berupa kebutuhan untuk mencintai dan dicintai Tuhan yang kita kenal
dengan istilah agama.Hasil penelitian dan observasi para peneliti
menimbulkan beberapa teori antara lain:
1) Teori Monistik (Mono = Satu)
Teori monistik berpendapat bahwa yang menjadi sumber kejiwaan
agama itu adalah satu sumber kejiwaan. Selanjutnya sumber tunggal
manakah yang dimaksud yang paling dominan sebagai sumber kejiwaan
itu, timbul beberapa pendapat yang dikemukakan antara lain yaitu:
a) Thomas Van Aquino
Sesuai dengan masanya Thomas Aquino mengemukakan bahwa
yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah berfikir. Manusia
bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berfikirnya.
Kehidupan beragam merupakan refleksi dari kehidupan berpikir manusia
itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapat tempatnya
hingga sekarang dimana para ahli mendewakan rasio sebagai
satu-satunya motif yang menjadi sumber agama.
b) Fredrik Hegel
Hampir sama dengan pendapat Thomas Aquino maka filosof
Jerman ini berpendapat bahwa agama adalah salah satu pengetahuan
yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi. Berdasarkan
hal itu agama semata-mata merupakan hal-hal atau persoalan yang
c) Fredrik Schleimacher
Berlainan dengan pendapat kedua ahli di atas, F. Schleimacher
berpendapat bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa
ketergantungan yang mutlak (sence of depend). Dengan adanya rasa ketergantungan yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah.
Kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung hidupnya dengan
suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya sehingga terbentuklah
konsep ketuhanan.
2) Teori Fakulti
Teori ini dikemukakan oleh:
a) G.M. Straton
Straton mengemukakan teori “konflik”, ia mengatakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah adanya konflik dalam
kejiwaan manusia, keadaan yang berlawanan seperti baik-buruk,
moral-imoral, kefasikan dan keaktifan, rasa rendah diri dan rasa harga
diri menimbulkan pertentangan dalam diri manusia, dikhtomi (serba
dua) termasuk menimbulkan rasa agama dalam diri manusia. Jika
konflik itu sudah sedemikian mencekam manusia dan
mempengaruhinya kehidupan kejiwaannya, maka manusia itu mencari
pertolongan kepada sesuatu yang tertinggi yaitu Tuhan.
b) Zakiah Darajat
Zakiah Darajat berpendapat bahwa pada diri manusia itu terdapat
kebutuhan pokok. Beliau mengemukakan bahwa selain dari suatu
kebutuhan akan adanya kebutuhan akan keseimbangan dalam
kehidupan jiwanya agar tidak mengalami tekanan, misalnya.
(a) Kenutuhan akan rasa kasih saying
(b) Kebutuhan akan rasa aman
(c) Kebutuhan akan harga diri
(d) Kebutuhan akan rasa bebas
(e) Kebutuhan akan sukses
Menurut Zakiah Darajat, gabungan dari keenam macam kebutuhan
tersebut menyebabkan seseorang membutuhkan agama, sebab melalui
agama kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat terpenuh (Darajat: 2003).
c) W.H. Thomas
W.H. Thomas mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan
beragama adalah empat macam keinginan dasar yang ada dalam diri
manusia yaitu:
(a) Keinginan untuk keselamatan(security)
(b) Keinginan untuk mendapat penghargaan(recognition) (c) Keinginan untuk ditanggapi(response)
(d) Keinginan untuk pengetahuan dan pengalaman baru (new experience).
Di dasarkan pada keempat keinginan tersebut itulah pada
umumnya manusia itu menganut agama, menurut W.H. Thomas
melalui ajaran agama yang teratur, maka keempat keinginan itu akan
tersalurkan. Dengan menyembah dan mengabdikan diri kepada Tuhan
keinginan keselamatan akan terpenuhi.
b. Pengembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa
remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang terurai masa
remaja mencakup masa juvenilitas (aduleseanitium), pubertas, dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka
agama pada remaja turut dipengaruhi perkembangan itu, maksudnya
penghayatan pada remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan
yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan factor
perembangan tersebut. Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh
beberapa factor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu
antara lain menurut W. Stobuck (Sarwono, 2004), adalah sebagai
1) Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa
kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis
terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama
merekapun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, social,
ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya. Agama yang
ajarannya bersifat konservatif lebih banyak berpengaruh bagi remaja
untuk taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya ajaran agama yang
kurang konservatif – dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang perkembangan fikiran dan mental para remaja, sehingga
mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya.
2) Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan
social, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghadapi
perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan
relegius akan cenderung mendorong dirinya lebih didominasi
dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual,
didorong oleh perasaan ingin tahu, remaja lebih mudah terperosok kea
rah tindakan seksual yang negative.
3) Pertimbangan Sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya
pertimbangan social, dalam kehidupan keagamaan mereka timbul
konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat
bigung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih
dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih
cenderung jiwanya untuk bersifat materialis.
4) Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolah dari rasa
berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga
terlihat pada remaja juga mencakup: (1) self. Directif, taat terhadap
mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik, (3) sub
missive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan
agama, (4) unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama
dan moral, (5) deviant, menolak dasar dan hokum keagamaan serta
tatanan moral masyarakat.
5) Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh
dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan kecil serta
lingkungan agama yang mempengaruhi mereka.
6) Ibadah
Menurut Zakiyah Darajad (2003), tingkat keyakinan dan
ketaatan beragama para remaja, sebenarnya banyak tergantung dari
kemampuan mereka menyelesaikan keraguan dan konflik batin yang
terjadi pada diri.
(a) Pandangan para remaja terhadap ajaran agama khususnya tentang
ibadah dan masalah do’a, sebagaimana diungkapkan oleh Ross
dan Oskar Kupky menunjukkan ;
(1) 148 siswi dinyatakan bahwa 20 orang diantara mereka tidak
pernah memunyai pengalaman keagamaan, sisanya 128
mempunyai pengalaman keagamaan, yang 68 diantaranya
secara alami (tidak melalui pengajaran resmi).
(2) 31 orang di antara yang mendapat pengalaman keagamaan
melalui proses alami itu mengungkapkan adanya perhatian
mereka terhadap keajaiban yang menakjubkan dibalik
keindahan alam yang mereka nikmati.
(b) Selanjutnya mengenai pandangan mereka tentang ibadah
diungkapkan sebagai berikut:
(1) 41 % tak pernah mengerjakan ibadah sama sekali
(2) 33 % mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan
(3) 27 % beranggapan bahwa sembahyang dapat menolong
mereka meredakan kesusahan yang mereka derita.
(4) 18 % mengatakan bahwa sembahyang menyebabkan mereka
menjadi senang sesudah menunaikannya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Jiwa
Keagamaan pada Remaja dan Dewasa.
Jiwa keagamaan juga mengalami proses pengembangan dalam
mencapai tingkat kematangan. Dengan demikian jiwa keagamaan tidak
luput dari berbagai gangguan yang dapat mempengaruhi
perkembangannya. Menurut Yusuf Syamsu (2007) pengaruh
pengembangan jiwa keagamaan pada remaja ada dua macam yaitu: (1)
bersumber dari dalam diri seseorang (intern), dan (2) bersumber dari faktot luar(ekstern).
a. Faktor Intern
Secara garis besar factor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap
pengembangan jiwa keagamaan remaja antara lain:
1) factor kognitif, mengacu pada remaja yang memiliki mental masih
abstrak, mereka hanya mengkaji isu-isu agama dengan berpatokan
pada dasar-dasar agama tanpa memperdalaminya lebih lanjut.
2) factor personal, mengacu pada konsep individual dan identitas,
individual maksudnya seseorang itu selalu menyendiri sedangkan
identitas maksudnya proses menuju pada kestabilan jiwa.
3) factor hereditas, perbuatan yang terburuk dan tercela jika dilakukan
akan menimbulkan rasa bersalah dalam diri pelakunya. Bila
pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama maka akan
timbul rasa berdosa dan perasaan seperti ini yang ikut
mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
4) Tingkat Usia, pada usia remaja saat mereka menginjak usia
kematangan seksual mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan
remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan yang cenderung
mempengaruhi terjadinya konversi agama. Bahkan pada usia
adolesensi sebagai rentang umur tipikal terjadinya konversi agama
meskipun konversi cenderung dinilai sebagai produk sugesti dan
bukan akibat dari perkembangan kehidupan spiritual seseorang.
5) kepribadian, dalam kondisi normal secara individu manusia
memiliki perbedaan dalam kepribadian dan perbedaan ini
diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek
kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Di luar itu dijumpai pula
kondisi kepribadian yang menyimpang seperti ini juga ikut
mempengaruhi perkembangan berbagai aspek kejiwaan termasuk
jiwa keagamaan.
6) kondisi kejiwaan. Seorang yang mengidap schizophrenia akan
mengisolasi diri dari kehidupan social serta persepsinya tentang
agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi. Demikian pula
pengidap phobia akan dicekam oleh perasaan takut yang irasional
sedangkan penderita infantile autisme (berperilaku seperti
anak-anak) akan berperilaku seperti anak-anak di bawah usia sepuluh
tahun.
b. Factor Eksternal
Faktor eksternal yang dinilai berpegaruh dalam pengembangan
jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan di mana seseorang itu
hidup. Umumnya lingkungan tersebut terbagi menjadi 3 macam yaitu:
1) lingkungan keluarga, konsep father image (citra kebapaan)
menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan dipengaruhi oleh
citra terhadap bapaknya. Kehidupan keluarga menjadi fase
sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan. Pengaruh kedua
orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan dalam pandangan
islam sudah lama disadari. Oleh karena itu sebagai intervensi
terhadap perkembangan jiwa keagamaan tersebut kedua orang tua
paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa
keagamaan.
2) Lingkungan institusional yang kuat, yang ikut mempengaruhi
perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti
sekolah ataupun yang non formal seperti berbagai perkumpulan dan
organisasi. Kurikulum, hubungan guru dan murid serta hubungan
antara teman dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa
keagamaan tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh
sebab pada prinsipnya perkembangan jiwa keagamaan tidak dapat
dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yang luhur.
Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral
yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa seseorang.
3) Lingkungan masyarakat, yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat
akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keberagamaan
sebbab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan nilai maupun
institusi keagamaan. Keadaan seperti ini akan berpengaruh dalam
pembentukan jiwa keagamaan warganya.
4. Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama Pada Remaja dan Dewasa
Menurut Jallaluddin R. (2008), ada banyak metode untuk
menanamkan nilai agama pada remaja dan dewasa yang terdiri atas:
a. Metode penanaman nilai agama sejak dini
Rasulullah bersabda bahwa setiap anak itu terlahir dalam keadaan
fitrah (Islam) orang tuanyalah yang menjadikan dia majusi, nasrani
atau yahudi. Jadi jika anak ditanamkan nilai agama sejak dini maka
ketika dia menginjak usia remaja akan memiliki aqidah agama yang
kuat apabila lingkungan sekitarnya terutama orang tua memberikan
stimulus positif. Ketika ia menginjak usia dewasa maka dia akan
b. Metode penanaman nilai agama melalui pembiasaan diri
Setiap orang pasti memiliki kebiasaan yang dilakukannya secara
terus menerus dan tanpa disadari sehingga kadang-kadang orang
berfikir mengapa melakukan kegiatan itu sedangkan dalam
pikirannya tidak ada niatan untuk melakukan kegiatan itu. Jadi
bagaimana membiasakan kebiasaan yang positif, hal ini dapat
dilakukan apabila lingkungan sekitar terutama orang tua
menanamkan nilai-nilai positif sejak dini sehingga hal itu dapat
menjadi kebiasaan setiap hari.
c. Metode pendekatan analisis nilai
Memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan remaja dan
dewasa untuk berpikir secara positif serta mengaplikasikannya pada
kehidupan sehari-hari. Kemudian mereka diberikan keleluasaan
untuk beraktivitas serta menilai apakah yang dilakukannya itu
bermanfaat bago orang lain atau tidak sehingga mereka dapat
menginstropeksi diri dan biarkan diri mereka sendiri yang menilai.
d. Metode penananaman nilai agama lewat pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik dari ungkapan ini dapat
diambil kesimpulan bahwa setiap orang itu pasti memiliki
pengalaman yang berbeda dari pengalaman tersebut metode ini
mencoba menanamkan nilai-nilai agama lewat pengalaman orang
yang ceroboh pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah
dilakukannya dan seorang muslim sejati tidak akan terjerumus pada
lubang yang sama.
Dengan demikian faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan keberagamaan pada remaja dan dewasa juga sangat
berbeda jika remaja masih dipengaruhi dengan lingungan sekitar
sedangkan dewasa dipengaruhi oleh organiisasi atau tokoh-tokoh
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif sehingga data yang muncul
tidak berupa angka-angka, tetapi berupa uraian kata-kata. Sebagaimana
lazimnya penelitian kualitatif, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan, tetapi lebih berorientasi pada pengembangan
dan pengetahuan baru yang diperoleh melalui pengamatan, wawancara, dan
studi dokumentasi yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian.
Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif artinya penelitian ini
berusaha mengungkapkan secara obyektif dan sistematis fakta-fakta yang
ditemukan oleh peneliti di lapangan berkaitan dengan masalah aktivitas
remaja masjid ”Al-Baitul Amien” dalam mengembangkan jiwa keagamaan remaja di Kabupaten Jember. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang
dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatau gejala
yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian
dilakukan (Arikunto, 2002: 309). Proses penelitian ini dimulai dengan
eksplorasi yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data yang
terseleksi dan terfokus pada bentuk-bentuk aktivitas remaja masjid Jami’,
pengelolaan aktivitas remaja masjid, faktor yang mendukung dan menghambat
terlaksananya aktivitas remaja masjid dalam mengembangkan jiwa keagamaan
remaja di kabupaten Jember.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian adalah Masjid Jami’ Al-Baitul Amien kabupaten
Jember. Penentuan lokasi ini didasarkan atas beberapa pertimbangan sebagai
berikut : (1) Masjis Jami’ telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup
memadai untuk tempat beribadah, tempat berdakwah, tempat kaderisasi
generasi muda dan melakukan kegiatan sosial baik keagamaan maupun
khususnya remaja masjidnya telah memiliki aktivitas yang mampu membina dan membangun jiwa keagamaan para remaja/pemuda di kabupaten Jember untuk menjadi generasi muda yang memiliki mental relegius dan kepribadian yang bagus.
3. Subyek Penelitian
Mengingat jumlah pengurus remaja masjid yang cukup banyak sekitar 15 orang, maka tidak semua subyek penelitian ini dapat dijadikan responden. Oleh karena itu, ditentukan sebagian dari subyek penelitian sebagai sampel penelitian.
Adapun penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu purposive sampling. Menurut Arikunto (2002 : 128) ”Sampling bertujuan” (purposive sampling) adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan oeleh peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan dan tujuan tertentu. Tehnik pengambilan sampel ini digunakan peneliti karena peneliti ingin mendapatkan data yang sebanyak-banyaknya dan cukup valid serta sesuai dengan fokus penelitian.
Sedangkan informan kuncinnya (key instrument) adalah ketua remaja masjid Al-Baitul Amien Jember. Kemudian untuk kelengkapan data dan ferivikasi keabsahan data juga sangat diperlukan informan segenap wakil ketua remaja masjid, para pembina remaja masjid, dan sejumlah anggota remaja masjid. Dengan demikian diharapkan data yang diperoleh benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
4. Data dan Sumber Data.
Jenis data yang digali dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Menurut Lofland yang dikutip oleh Moleong (2000 : 112-116) menyebutkan
Adapun data yang diperlukan peneliti dalam penelitian ini adalah data mengenai aktivitas remaja masjid al-Baitul Amien Jember.
Sedangkan sumber data dalam penelitian ini berupa :
a. Sumber data primer atau sumber data manusia terdiri dari: hasil wawancara dengan ketua yayasan, ketua remaja masjid dan wakilnya, segenap anggota remas dan sejumlah masyarakat kabupaten Jember.
b. Sumber data skunder atau sumber data non manusia terdiri dari : dokumen, arsip, foto, dan catatan lain yang berhubungan dengan focus penelitian.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) wawancara mendalam (indepth interview) (2) observasi partisipan (participant obsevation), dan (3) studi dokumentasi.
Wawancara mendalam merupakan suatu percakapan bermakna yang dilakukan antara dua orang atau lebih yang diarahkan oleh interviewer kepada interviewee, dengan tujuan untuk mengetahui pendapat, persepsi, perasaan pengetahuan, pengalaman, dan penginderaan (Nasution, 1996 : 80). Wawancara mendalam ini digunakan peneliti untuk memperoleh data secara umum dan luas tentang hal-hal yang menonjol, penting dan menarik untuk diteliti lebih mendalam yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Observasi partisipan yaitu suatu observasi dimana orang yang melakukan pengamatan berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan orang yang diobservasi (Riyanto, 1996 : 79). Dalam penelitian ini observasi partisipan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengamati peristiwa yang terjadi dilapangan dan dilaksanakan oleh subyek-subyek yang ada dilokasi dan mengembangkan pemahaman terhadap latar belakang sosial yang komplek yang berkaitan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam setting, khususnya yaitu fenomena yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Dalam observasi partisipan ini peneliti melakukan pengamatan langsung dengan cara menunggui para santri mulai awal masuk pelajaran
mengamati dan memahami semua tingkah laku/ perilaku yang dilakukan oleh santri mulai dari bermain, berbicara dengan teman, dengan Kyai dan Ibu Nyai, dan para ustadz. Dan yang menjadi perhatian lebih, dalam observasi partisipan ini adalah ketika santri mengaji kitab, peneliti mengamati sikapnya, perhatiannya, dan perilakunya yang kadang-kadang peneliti merasa tidak sabar, tetapi ustadnya mendampinginya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Studi dokumentasi yaitu cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip, catatan-catatan seorang guru, kepala sekolah, dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum,
dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini studi dokumentasi dilaksanakan untuk memperoleh data skunder yang berkaitan dengan arsif, dokumen atau catatan program kegiatan, dari ketua yayasan, ketua remaja masjid, dan lain-lain yang berkaitan dengan fokus penelitian. Dan data ini dimanfaatkan sebagai perlengkapan dan penunjang data primer sehingga memperoleh data yang utuh, komprehensif dan berkualitas.
6. Analisis Data
Tehnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskreptif kualitatif yang penyelidikannya tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Menurut Miles & Hubermen (1992), tujuan dari penelitian deskreptif kualitatif adalah untuk membuat gambaran secara sistematis dan faktual, dan model analisisnya menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang dilakukan melalui tiga jalur yaitu (1) penyajian data, (2) pengorganisasian dan reduksi data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi. Ketiga cara tersebut merupakan alur kegiatan analisis yang memungkinkan data menjadi bermakna.
Pengorganisasian dan reduksi data,dilakukan dengan cara memilah-milah data, membuat ringkasan, mengembangkan sistem pengkodean,