• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Strata Vertikal Vegetasi Mangrove Oleh Burung Di Wonorejo, Surabaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemanfaatan Strata Vertikal Vegetasi Mangrove Oleh Burung Di Wonorejo, Surabaya"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Pemanfaatan Strata Vertikal Vegetasi Mangrove Oleh Burung Di Wonorejo, Surabaya Febri Eka Pradana*, Indah Trisnawati D.T 1, Aunurohim1

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Gedung H Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111, Indonesia Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan strata vertikal vegetasi mangrove oleh burung di Wonorejo, Surabaya. Pengambilan data dilakukan pada pagi dan sore hari dengan metode point count pada 3 zonasi hutan mangrove yaitu Sonneratia caseolaris, Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Analisa data menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan metode ordinasi dengan menggunakan PCA (Principal Component Analysis) untuk melihat persebaran burung tiap strata vertikal dengan menggunakan program CANOCO for windows 4.5. Terdapat 10 jenis burung yang ditemukan pada zonasi Sonneratia caseolaris. Sedangkan pada zonasi Avicennia alba dan Rhizophora mucronata ditemukan masing – masing 5 jenis burung. Pada zonasi Sonneratia caseolaris, strata yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung adalah strata II dan III. Sedangkan burung yang paling banyak ditemui adalah Zosterops palpebrosus (Kacamata biasa) pada strata III. Pada zonasi Avicennia alba strata yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung adalah strata IV, dan burung yang paling banyak ditemui adalah Rhipidura javanica (Kipasan belang) pada strata III. Pada zonasi Rhizophora mucronata strata yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung adalah strata III, dan burung yang paling banyak ditemui juga Rhipidura javanica (Kipasan belang) pada strata III. Strata vertikal mangrove yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung untuk beraktifitas adalah strata III dan IV (middle canopy).

Kata Kunci : Burung, mangrove , strata vertikal, Wonorejo

Abstract

This research was conducted to find out the utilization of mangrove vegetation vertical strata by bird in Wonorejo, Surabaya. Data retrieval are performed on the morning and afternoon with point count method at 3 mangroves zones i.e. Sonneratia caseolaris, Avicennia alba and Rhizophora mucronata. Over all data were analyzesd using descriptive quantitative and ordinating method using PCA (Principal Component Analysis) to see the spread of birds each vertical strata using program CANOCO for windows 4.5. There are 10 species of birds found in Sonneratia caseolaris zone. While Avicennia alba and Rhizophora mucronata zone found each 5 species of birds. In Sonneratia caseolaris zone, strata that most widely exploited by birds are strata II and III. While most bird found is Zosterops palpebrosus (Kacamata biasa) in the strata III. In Avicennia alba zone, strata that most widely exploited by birds is strata IV, and most bird found is Rhipidura javanica (Kipasan belang) in the strata III. In Rhizophora mucronata zone, strata that most widely exploited by birds is strata III, and most birds found in is Rhipidura javanica (Kipasan belang) in the strata III. Vertical strata mangrove most utilized by the birds to activity are strata III and IV (middle canopy). Key words : Vertical Strata, Mangrove, Bird, Wonorejo

*Coresponding Author Phone: 085645812266 1

(2)

1. Pendahuluan

Satwa burung (avifauna) merupakan salah satu satwa yang mudah dijumpai hampir di setiap tempat. Jenisnya sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan tersendiri. Burung memerlukan syarat-syarat tertentu dalam kehidupannya, antara lain ialah kondisi habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan. Burung merupakan satwa liar pengguna ruang yang cukup baik yang terlihat dari penyebarannya baik secara horizontal maupun vertikal (Wisnubudi,2009). Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Pada tahun 1982 luasnya sekitar 4,25 juta hektar, sedangkan pada tahun 1993 mengalami penurunan yaitu menjadi 3,7 juta hektar (Setyawan dkk, 2008). Pada tahun 2005 luasannya sekitar 3,06 juta hektar yaitu sekitar 19% dari luas mangrove di dunia (FAO, 2007). Sebanyak 189 jenis tumbuhan telah diketahui hidup di kawasan mangrove Indonesia disamping itu lebih dari 170 jenis burung juga diketahui hidup di kawasan ini, termasuk beberapa jenis yang terancam punah (Noor dkk, 1999)

Mangrove merupakan formasi

tumbuhan yang terdapat di sepanjang

daerah pantai maupun daerah muara

sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut

air laut. Ekosistem hutan mangrove

tumbuh di pantai atau di pantai yang berair

tenang. Mangrove mempunyai vegetasi

yang khas dengan flora yang umumnya

berhabitus semak hingga pohon besar dan

tingginya bisa mencapai 50-60 meter serta

hanya mempunyai satu stratum tajuk. Pada

umumnya mangrove terdapat di daerah

yang

tropis yang memiliki pantai

terlindung di muara sungai dan goba

(

lagoon

), dimana air laut dapat masuk, di

sepanjang lapisan pantai berpasir atau

berbatu maupun berkarang yang telah

tertutup oleh lapisan pasir dan lumpur

(Istomo, 1992).

Mangrove berperan penting

sebagai habitat untuk mencari makan,

berbiak atau sekedar beristirahat untuk

burung. Bagi beberapa jenis burung,

seperti cangak (Famili

Ardeidae)

, bangau

(Famili

Ciconiidae

) atau pecuk (Famili

Phalacrocoracidae

), habitat mangrove

menyediakan ruang yang memadai untuk

membuat sarang, terutama karena

tersedianya makanan dan bahan pembuat

sarang. Bagi jenis-jenis burung pemakan

ikan, seperti kelompok burung kuntul

(

Egretta spp.

), mangrove menyediakan

tempat bertengger serta sumber makanan

yang berlimpah. Untuk kelompok jenis

burung pantai migran (khususnya Famili

Charadriidae

dan

Scolopacidae

),

hamparan lumpur merupakan habitat yang

sangat sesuai untuk mencari mangsa (Noor

dkk

.

1999).

Menurut Hughes et al (2002), strata

vertikal suatu vegetasi dibagi atas

emergent

(>25m),

canopy

(>10m),

middle

(antara

shrub

dan

canopy

),

shrub

(< 2m)

dan

ground

(permukaan tanah).

Berdasarkan strata pemanfaatan vegetasi

maupun penyebaran secara horizontal pada

berbagai tipe habitat, terdapat kaitan antara

burung dengan pola adaptasinya misalnya

dalam mencari makanan. Penyebaran

burung secara horizontal erat kaitannya

antara burung dengan lingkungannya

terutama pola adaptasi dan strategi untuk

memperoleh sumber pakan. Penyebaran

burung secara vertikal lebih digunakan

untuk mengetahui komposisi berbagai

burung dalam memanfaatkan suatu pohon

secara utuh.

Kawasan Wonorejo merupakan

daerah di pantai timur Surabaya yang

merupakan area dengan vegetasi

mangrove. Wonorejo sekarang juga

digunakan sebagai kawasan ekowisata

oleh pemerintah kota Surabaya yang

diprakarsai oleh camat rungkut, lurah

wonorejo

beserta FKPM Nirwana

Eksekutif

serta disahkan

dengan

Keputusan Lurah Wonorejo

nomor : 556/157/436.11.15.5/2009 tanggal

1 Juli 2009

,

dan dikukuhkan oleh

walikota Surabaya pada tanggal 9 Agustus

2009. Penanaman mangrove sering sekali

dilakukan di daerah ini (Anonim,2009).

Dengan adanya penelitian ini diharapkan

memberikan informasi bagaimana jenis –

jenis burung dalam memanfaatkan

vegetasi mangrove tertentu sebagai sumber

(3)

Lokasi 1.

Didominasi S. caseolaris

Lokasi 3.Didominasi R. mucronata

Lokasi 2. Didominasi A. alba

0m Skala

500m

dayanya. Terlebih belum banyak informasi

mengenai pemanfaatan vegetasi secara

vertikal oleh burung di kawasan

mangrove.

2. Metodologi

Penelitian dilakukan pada bulan Januari–Februari 2012 dengan durasi pengambilan data yakni pada pagi hari (06.00– 09.00 WIB) dan sore hari (15.00 – 18.00 WIB) pada setiap harinya (Sajati, 2008). Lokasi penelitian adalah pada kawasan vegetasi mangrove Wonorejo, Surabaya pada zonasi Sonneratia caseolaris, Avicennia alba dan Rhizophora mucronata.

Gambar 1. Lokasi penelitian ( lokasi 1,2 dan 3) di Wonorejo yang mengacu pada dominasi jenis tumbuhan mangrove tertentu ( modifikasi dari www.googleearth.com)

A. Alat, Bahan dan Cara Kerja

Pengambilan data burung dilakukan dengan metode titik hitung (point count) dengan jarak tiap titik >200m (Bibby, 1992). Radius pengamatan yang diambil adalah 7 m disesuaikan dengan ketebalan mangrove yang mendominasi (zonasi). Untuk mengetahui pemanfaatan strata vertikal vegetasi mangrove oleh burung maka dilakukan pengamatan aktivitas dan perilaku burung pada lokasi pengamatan yang telah ditentukan. Burung yang ditemukan pada tahap pengambilan data burung, dicatat dan dihitung jumlah individu serta perilakunya antara lain perilaku makan, bersarang, bergerak dan bertengger pada jenis mangrove serta kriteria strata mangrove burung tersebut ditemukan. Penentuan kriteria strata mangrove ditentukan berdasarkan modifikasi dari (English et al, 1997) sebagai berikut :

Tabel1.Kriteria ketinggian strata mangrove Kriteria

Ketinggian Kategori

Strata I 0 – 1 m Sedling

Strata II 1 – 2 m Sapling

Strata III 2 – 3 m Sapling

Strata IV 3 – 4 m Sapling

Strata V Lebih dari 4 m Tree

B. Analisa Data

Data yang didapat dianalisa secara deskriptif kuantitatif dengan menjabarkan analisa daftar jenis dan jumlah burung pada setiap kriteria strata vertikal mangrove. Hasil yang didapat kemudian dihubungkan antara perilaku burung dengan vegetasi pada setiap strata vertikal jenis mangrove yang telah ditentukan yaitu Sonneratia caseolaris, Avicennia alba dan Rhizophora mucronata untuk mengetahui pemanfaatan strata vertikal vegetasi mangrove oleh burung.

Selain itu, analisa data yang dilakukan adalah dengan analisa ordinasi/ Metode ordinasi dilakukan dengan menggunakan DCA (Detrended Correspondence Analysis) menggunakan program CANOCO for Windows 4.5. Data tabel dari Microsoft Excel, kemudian di export kedalam Format Canoco melalui WCanoImp. Setelah membuka program Canoco for windows 4.5 dan data dapat diordinasikan, akan diketahui Lenght of Gradient sebagai suatu nilai untuk memodelkan data dan Eigenvalues dari data tersebut. Nilai ini akan menentukan pilihan untuk ordinasi data selanjutnya baik melalui Metode linier (PCA, Principal Component Analysis atau RDA, Redundancy Analysis) ataupun dengan Metode unimodal (CA. Correspondence Analysis. DCA, Detrended Correspondence Analysis, atau dengan CCA, Canonical Correspondence Analysis). Ketika Lenght of Gradient < 3 maka digunakan metode Linier dan ketika Length of Gradient > 4 maka digunakan metode Unimodal. Jika Length of Gradient antara 3-4 maka lebih baik menggunakan metode linier. Setelah Running melalui CANOCO akan didapatkan suatu

(4)

grafik kesimpulan melalui CanoDraw (Leps, 1953).

3. Hasil dan Pembahasan A. Habitus dan Srata Vertikal

Data yang diperoleh dalam penelitian ini memiliki bias yang cukup besar dikarenakan pengambilan data burung pada strata vertikal mangrove didasarkan pada habitus tumbuhan yaitu semai, pancang dan pohon. Pengambilan data burung tidak boleh digabungkan antara habitus dan strata vertikal. Seharusnya, pengambilan data burung pada strata vertikal mangrove ini didasarkan pada satu individu dan satu pohon saja (single tree).

Misalnya pada Sonneratia caseolaris, habitus sapling (pancang) yang secara ketinggian dimasukkan ke dalam strata III (1-3 m), hal ini juga berbeda dengan strata III secara vertikal dari satu pohon Sonneratia caseolaris. Pada habitus pancang secara fenologi biasanya belum berbunga maupun berbuah. Sedangkan strata III dari suatu pohon Sonneratia caseolaris sudah memiliki bunga dan buah walaupun antara habitus sapling dan strata III secara vertikal memiliki kategori ketinggian yang sama. Selain itu, penutupan (coverage) nya pun berbeda (Gambar 1). Sehingga, dalam penelitian ini tidak semua data dapat dijadikan acuan untuk membantu referensi penelitian lain. Tetapi data – data seperti jenis burung pada setiap jenis mangrove serta bioekologi jenis – jenis burung pada kawasan vegetasi mangrove dapat dipakai sebagai acuan untuk penelitian yang lain.

B. Pemanfaatan Strata Vertikal Vegetasi Sonneratia caseolaris oleh Burung

Analisis yang digunakan dalam pembuatan diagram ordinasi terlebih dahulu menggunakan DCA (Detrended

Correspondence Analysis) dengan program CANOCO for Windows 4.5 . Nilai Length of gradient- nya adalah 2,450 (pengamatan pagi) dan 2,100 (Pengamatan sore). Sehingga, untuk mengilustrasikan persebaran burung pada Sonneratia caseolaris selanjutnya digunakan metode Linier yaitu PCA (Principal Component Analysis) (Leps, 1953).

(A)

(B)

Gambar 3. Diagram ordinasi persebaran burung pada Sonneratia caseolaris menggunakan PCA

(Principal Component Analysis) pada pengamatan

pagi (A) dan sore (B) hari

Keterangan : 1 : Strata I ; 2 : Strata II ; 3 : Strata III ; 4 : Strata IV ; 5 : Strata V

OR : Orthotomus ruficeps, PG : Pycnonotus goiavier, DT : Dicaeum trochileum, AT : Aegithina

thipia, PI : Prinia inornata, ZP : Zosterops

palpebrosusus, GS :Gerygone sulphurea,

CJ:Cinnyris jugularis, RJ: Rhipidura javanica, AS: Acrocephalus stentoreus

Apabila dilihat secara keseluruhan, berdasarkan gambar 4, semua strata dari (c) Tree

(b) Sapling

(a) Seedling

Gambar. 2. Ilustrasi perbandingan perbedaan habitus Sonneratia caseolaris

(5)

Gambar. 4. Ilustrasi persebaran burung tiap strata vertikal Sonneratia caseolaris pada pengamatan pagi (atas) dan sore (bawah) hari.

(a) Gerygone sulphurea, (b) Pycnonotus goiavier (c)

Rhipidura javanica, (d) Prinia inornata, (e) Acrocephalus strentoreus, (f) Aegithina thipia. (g) Orthotomus ruficeps, (h) Dicaeum trochileum, (i) Cinnyris jugularis, (j) Zozterops palpebrosus

Sonneratia caseolaris dimanfaatkan sepenuhnya untuk berperilaku oleh burung pada pagi hari. Sedangkan pada sore hari, hanya strata II, II dan IV yang dimanfaatkan oleh burung. Perilaku yang teramatipun merupakan semua perilaku menjadi parameter pengamatan antara lain bergerak, bertengger, makan dan bersarang.

Perbedaan yang terjadi adalah dari segi keanekaragaman jenis, kelimpahan serta perilaku antara pengamatan pagi dan sore hari. Pada pagi hari keanekaragaman jenis dan kelimpahannya cenderung lebih tinggi dari pada sore hari. Pada pagi haripun perilaku burung juga lebih variatif. Hal ini mungkin dipengaruhi cuaca pada saat pengambilan data.

Pada bulan Januari – Februari masih merupakan musim penghujan. Pada saat pengamatan pada pagi hari cuaca cerah dan sore hari cenderung selalu berawan, berangin bahkan gerimis ataupun hujan. Sehingga mempengaruhi aktifitas burung. Secara umum perilaku burung dipengaruhi cuaca. Contohnya adalah pada burung – burung passerine atau burung dari ordo Passeriformes, dengan jumlah separuh dari seluruh spesies burung yang ada di dunia atau yang sering disebut burung berkicau (Hayes, 2004).

Secara umum, faktor yang mempengaruhi preferensi strata oleh burung adalah sumber (resource) baik makanan maupun ruang serta karakteristik biologi (bioekologi) burung itu sendiri. Pada Sonneratia caseolaris terdapat bunga dan buah yang dapat mengundang burung – burung frugivora dan insectivora untuk datang mengunjunginya. Karena selain pemakan buah, banyak serangga yang akan mengunjungi bunga dan buah pohon tersebut. Selain itu karakteristik burung seperti Orthotomus ruficeps yang kebiasaanya berada pada lantai hutan atau puncak kanopi (MacKinnon et al, 1993) juga menentukan preferensi burung tersebut untuk memanfaatkan strata Sonneratia caseolaris yang ditemukan hanya pada strata I. Begitu pula dengan kebiasaan burung – burung yang lainnya

C. Pemanfaatan Strata Vertikal Vegetasi Avicennia alba oleh Burung

Analisis yang digunakan dalam pembuatan diagram ordinasi terlebih dahulu menggunakan DCA (Detrended Correspondence Analysis) dengan program CANOCO for Windows 4.5 . Nilai Length of gradient- nya adalah 2,450 (pengamatan pagi) dan 2,100 (Pengamatan sore). Sehingga, untuk mengilustrasikan persebaran burung pada Sonneratia caseolaris selanjutnya digunakan metode Linier yaitu PCA (Principal Component Analysis) (Leps, 1953).

(a) (b) (c) (d (e) (f) (g) (h) (i) (j) (a) (c) (d) (f) (j)

(6)

Gambar. 6. Ilustrasi persebaran burung tiap strata vertikal

Avicennia alba pada pengamatan pagi (atas) dan sore (bawah)

hari.

(a) Gerygone sulphurea, (b) Rhipidura javanica, (c) Halcyon chloris, (d) Aegithina thipia, (e) Orthotomus ruficeps

(A)

(B)

Gambar 5. Diagram ordinasi persebaran burung pada Avicennia alba menggunakan PCA (Principal

Component Analysis) pada pengamatan pagi (A)

dan sore (B) hari

Keterangan : 1 : Strata I ; 2 : Strata II ; 3 : Strata III ; 4 : Strata IV ; 5 : Strata V

OR : Orthotomus ruficeps, AT : Aegithina thipia,

GS :Gerygone sulphurea, RJ: Rhipidura javanica,

HC: Halcyon chloris

Berdasarkan gambar 6, pada pagi hari semua strata dimanfaatkan oleh burung. Tetapi pada sore hari, hanya strata I saja yang tidak dimanfaatkan oleh burung. Secara umum semua strata Avicennia alba dimanfaatkan oleh burung untuk bergerak, bertengger dan bersarang dan didominasi oleh kipasan belang (Rhipidura javanica) serta remetuk (Gerygone sulphurea). Tidak ada aktifitas makan pada pengamatan di lokasi ini. Hal ini kemungkinan besar dikarenakan ketika pengambilan data, Avicennia alba belum berbunga dan berbuah. Sehingga tidak mengundang burung – burung

frugivora untuk singgah di tempat ini. Dari segi keanekaragaman jenis dan kelimpahan jenis, hanya terdapat 5 spesies pada mangrove ini. Sangat berbeda dengan keanekaragaman jenis dan kelimpahan yang tercatat pada burung – burung di Sonneratia caseolaris, yaitu terdapat 10 spesies yang ditemukan di sana.

Menurut (Partasasmita, 1998) kepadatan dan keanekaragaman burung lebih dipengaruhi oleh penyebaran dan ketersedian pohon pakan. Meskipun kerapatan jenis tumbuhan tinggi belum tentu memiliki kepadatan dan keanekaragaman jenis burung yang tinggi apabila ketersediaan sumber pakan cukup rendah. Potensi tumbuhan, seperti ketersediaan pakan dan pohon untuk sarang di habitat yang ditempatinya sangat berkaitan dengan kemampuan burung untuk berkembangbiak. Suatu jenis burung dapat melimpah pada suatu habitat tertentu karena bergantung pada sekelompok jenis tumbuhan tertentu (Ewu-sie,1990; Wiens,1992; dan Hadiprayitno, 1999). (a) (b) (c) (d) (e) (a) (b) (d)

(7)

D. Pemanfaatan Strata Vertikal Vegetasi Rhizophora mucronata oleh Burung

Analisis yang digunakan dalam pembuatan diagram ordinasi terlebih dahulu menggunakan DCA (Detrended Correspondence Analysis) dengan program CANOCO for Windows 4.5. Nilai Length of gradient- nya adalah 2,409 (pengamatan pagi) dan 1,039 (Pengamatan sore). Sehingga, untuk mengilustrasikan persebaran burung pada Sonneratia caseolaris selanjutnya digunakan metode Linier yaitu PCA (Principal Component Analysis) (Leps, 1953).

(A)

(B)

Gambar 7. Diagram ordinasi persebaran burung pada Rhizophora mucronata menggunakan PCA

(Principal Component Analysis) pada pengamatan

pagi (kiri) dan sore (kanan) hari

Keterangan : 1 : Strata I ; 2 : Strata II ; 3 : Strata III ; 4 : Strata IV ; 5 : Strata VBS : Butorides striata, RJ: Rhipidura javanica, GS :Gerygone sulphurea , PI : Prinia inornata LN: Lalage nigra

Secara umum, keanekaragaman jenis dan kelimpahan burung di lokasi Rhizophora mucronata ini merupakan jumlah yang paling sedikit di antara lokasi yang lainnya. Sedangkan dari perilaku hanya tercatat perilaku bergerak dan bertengger saja. Berdasarkan gambar 8, pada pagi hari semua strata dimanfaatkan kecuali strata V oleh 5 jenis burung. Sedangkan sore hari hanya strata I, II dan III yang dimanfaatkan oleh 3 jenis burung.

Gambar. 8. Ilustrasi persebaran burung tiap strata vertikal Rhizophora mucronata pada pengamatan pagi (atas) dan sore (bawah) hari.

(a) Gerygone sulphurea, (b) Lalage nigra, (c)

Rhipidura javanica, (d) Butorides striata, (e)

Prinia inornata

Faktor – faktor yang mempengaruhi preferensi strata oleh burung adalah sumber (resource) baik makanan maupun ruang serta karakteristik biologi (bioekologi) burung itu. Apabila dibandingkan dengan Sonneratia caseolaris, Rhizophora mucronata memiliki buah berupa propagul berbentuk memanjang

(a) (b (c) (d) (e) (a) (b) (c) (d)

(8)

silindris (50-70 cm) bertipe vivipar (Kitamura et al, 1997). Sehingga intinya buah Rhizophora mucronata adalah calon individu baru yang menempel pada pohon yang tidak bisa dimakan oleh burung. Selain itu, pada saat pengambilan data Rhizophora mucronata juga tidak sedang berbunga, sehingga kemungkinan kurang mengundang burung pemakan nektar.

Dari segi bioekologi burung, seperti pada Butorides striata yang hanya ditemukan pada strata I. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan burung tersebut dalam mencari makan. Menurut (MacKinnon et al, 1993) Butorides Striata tergolong dalam famili Ardeidae pemakan ikan ataupun vertebrata air. Sehingga dia akan bertengger pada daerah yang dekat dengan air untuk dapat mengawasi mangsanya. Oleh karena itu karakteristik burung ini membuatnya hanya ditemukan di strata I.

Selain itu, burung membutuhkan ruang yang cukup untuk melakukan berbagai aktifitas. Hal itu dikarenakan burung memiliki sensor yang baik secara visual dan audio. Secara visual, burung memiliki mata yang peka terutama burung pemangsa dan beberapa burung sangat sensitif terhadap suara (Gall, 2009). Sehingga jika vegetasi terlalu rapat akan membuat pergerakan burung menjadi statis sehingga mengganggu jarak pandang burung untuk mencari makanan ataupun waspada dalam menghindari predator yang ada seperti ular (Martin, 1986). Apabila dibandingkan dengan lokasi lainnya, lokasi ini memiliki jarak antar pohon yang sangat dekat dengan yang lain (kurang lebih 1 m). Sehingga terlihat sangat tertutup dan seakan – akan vegetasinya saling bertabrakan. Selain itu, model pertumbuhan Rhizophora mucronata yang lebih menjulang ke atas berbeda dengan Sonneratia caseolaris serta Avicennia alba (Noor dkk, 1999) kurang memberi ruang gerak bagi burung – burung kecil terutama dari burung – burung passerin.

Hanya burung – burung yang besar saja yang biasanya menghuni mangrove ini seperti dari family Ardeidae.. Dalam pemilihan lokasi bersarang menurut (Collias, 1984), suatu jenis burung sangat dipengaruhi oleh faktor keamanan dari predator. Dengan adanya ruang gerak yang cukup, maka burung akan memiliki pandangan (visibility) di area sekitarnya untuk mengawasi apa yang ada di area sekitarnya termasuk predator.

4. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa :

a. Pemanfaatan strata vertikal vegetasi mangrove oleh burung di Wonorejo Surabaya, berdasarkan jenis dominasi mangrovenya Sonneratia caseolaris memiliki jumlah keanekaragaman burung dan individu yang paling tinggi daripada

Avicennia alba dan Rhizophora

mucronata.

b. Pada zonasi Sonneratia caseolaris, strata yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung adalah strata II dan III. Sedangkan burung yang paling banyak ditemui adalah

Zosterops palpebrosus (Kacamata biasa)

pada strata III.

c. Pada zonasi Avicennia alba strata yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung adalah strata IV. Sedangkan burung yang paling banyak ditemui adalah Rhipidura javanica (Kipasan belang) pada strata III. d. Pada zonasi Rhizophora mucronata strata

yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung adalah strata III. Sedangkan burung yang paling banyak ditemui adalah

Rhipidura javanica (Kipasan belang) pada

strata III.

e. Secara umum, strata vertikal mangrove yang paling banyak dimanfaatkan oleh burung untuk beraktifitas adalah strata III dan IV (middle canopy).

Saran

Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah :

a. Dikarenakan bias yang cukup besar dalam pengambilan data burung pada strata vertikal vegetasi mangrove ini, untuk penelitian tentang strata vertikal suatu vegetasi selanjutnya disarankan menggunakan satu individu dan satu pohon saja (single tree).

b. Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penanaman mangrove terutama di Wonorejo, Surabaya. Sehingga dalam pelestarian mangrove mempertimbangkan jenis dan tujuan penanaman tersebut. Oleh karena itu perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai pemanfaatan mangrove jenis – jenis yang lain (mayor, minor, asosiasi) oleh burung yang tepat untuk diterapkan di Wonorejo, Surabaya sebagai bagian dari konservasi burung dan habitatnya.

c. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai faktor yang mempengaruhi burung di Wonorejo, dengan memperhatikan fenologi jenis – jenis mangrove, untuk mengetahui distribusinya terutama perilaku burung dalam memanfaatkan mangrove.

(9)

5. Daftar Pusataka

Anonim. 2009. The Jewelery of Wonorejo. Diakses

dari http://micwonorejo.wordpress.co m/ pada 16 Agustus 2011 pukul 18.30 wib.

Bibby, Colin J and Burgess, Neil D. 1992. Bird Census Techniques. Academic Press, London.

Collias, EN. dan Collias E. C. 1984. Nest Building and Bird Behaviour. Pricenton University Press, USA. English, S., Wilkinson. C. and Baker. V. 1997.

Survey Manual for Tropical Marine Resources (2nd Ed). Townsville : ASEAN – Australia Marine Science Project. Australian Institute of Marine Science, Australian.

Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika: Membicarakan Alam Ekologi Tropika Afrika, Asia, Pasifik, dan Dunia Baru. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

FAO. 2007. The World’s Mangroves 1980– 2005. Forest Resources Assessment Working Paper No. 153. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome.

Gall M. D, Juricic E.F. 2009 . Visual fields, eye movements, and scanning behavior of a sit and wait predator, the black phoebe (Sayornis nigricans). Department of Biological Sciences. Purdue University, USA.

Hadiprayitno, G. 1999. Penggunaan Habitat oleh Berbagai Jenis Burung yang Berada di Kawasan Hutan Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Program Pascasarjana ITB. Bandung. Tidak dipublikasikan

Hayes, F. E. and Sewlal, J.A.N. 2004. The Amazon River as a Dispersal Barrier to Passerine Birds: Effects Of River Width, Habitat And Taxonomy. Journal of Biogeography (J. Biogeogr.) Vol. 31 : 1809–1818.

Hughes J. B, G. Daily.C and Ehrlich P. R. 2002. Conservation of Tropical Forest Birds in Countryside Habitats. Ecology Letters Vol. 5 : 121-129.

Istomo, 1992. Tinjauan Ekosistem Hutan Mangrove dan Pemenfaatan di Indonesia. Bahan Acuan Ekologi Hutan. Laboratorium Ekologi Hutan Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kitamura, S. Chairil, A. Chaniago, A. Baba, S. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia(Bali and Lombok). ISME, Jepang.

Leps, Jan. 1953. Multivariate Analysis of Ecological Data Using CANOCO. Cambridge University Press, United Kingdom.

MacKinnon J., Phillips K., Balen V. B. 1993. Burung – Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Sarawak dan Brunei

Darussalam). Gajah Mada

University Press, Yogyakarta.

Martin G.R. 1986. The Eye Of A Passeriform Bird, The European Starling (Sturnus Vulgaris): Eye Movement Amplitude, Visual Fields And Schematic Optics. J Comp Physiol A Vol. 199:545–557.

Noor, Rusila., Khazali M, Suryadiputra I. N.1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor

Partasasmita, R. 1998. Ekologi Makan Burung Betet, Psittacula alexandri (L.) di Kawasan Kampus IPB Darmaga. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sajati, Harry Waluyo. 2008. Perilaku Berbiak

Burung Kowak Malam Abu ( Nycticorax nycticorax Linn.) di Kawasan Jalan Ganesha, Bandung. Skripsi Sarjana Biologi, Institiut Teknologi Bandung, Bandung.

Setyawan, Ahmad Dwi, Winarno Kusumo, Indroworyatno, Wiryanto dan

(10)

Susilowati Ari . 2008. Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. BiodiversitasVol. IX No. 4 : 315 – 321

Wiens, J.A. 1992. The Ecology of Bird Communities. Cambridge University Press, United Kingdom

Wisnubudi, Gautama. 2009. Penggunaan Starta Vegetasi Oleh Burung di Kawasan Wisata Taman Nasional Gunung Halimun- Salak. Vis Vitalis Vol 2 No. 2 : 41 – 49

(11)

LAMPIRAN

Tabel 2. Jumlah individu spesies burung yang memanfaatkan strata vertikal vegetasi Sonnerata caseolaris di

Wonorejo, Surabaya

Tabel 3. Jumlah individu spesies burung yang memanfaatkan strata vertikal vegetasi Avicennia alba di Wonorejo, Surabaya

Strata Spesies

Perilaku

Bergerak Bertengger Makan Bersarang Pagi Sore Pagi Sore Pagi Sore Pagi Sore

I Orthotomus ruficeps 2 0 2 0 0 0 0 0

Rhipidura javanica 1 0 1 0 0 0 0 0

II Gerygone sulphurea 1 2 1 2 0 0 0 0

III Rhipidura javanica 5 3 5 3 0 0 0 0

Gerygone sulphurea 4 3 4 3 0 0 0 1 IV Halcyon chloris 2 0 2 0 0 0 0 0 Rhipidura javanica 3 2 3 2 0 0 0 0 Gerygone sulphurea 4 2 4 2 0 0 0 0 Aegithina tiphia 2 1 2 1 0 0 0 0 V Rhipidura javanica 2 1 2 1 0 0 0 0 Gerygone sulphurea 2 1 2 1 0 0 0 0 Strata Spesies Perilaku

Bergerak Bertengger Makan Bersarang Pagi Sore Pagi Sore Pagi Sore Pagi Sore

I Orthotomus ruficeps 1 0 1 0 0 0 0 0 II Rhipidura javanica 5 3 5 3 0 0 0 0 Zosterops palpebrosus 1 1 1 1 0 0 0 0 Cinnyris jugularis 1 0 1 0 0 0 0 0 Acrocephalus stentoreus 1 0 1 0 0 0 0 0 Gerygone sulphurea 3 1 3 1 0 0 0 0 III Gerygone sulphurea 7 1 7 1 0 0 1 0 Zosterops palpebrosus 20 5 20 5 8 0 0 0 Cinnyris jugularis 1 0 1 0 1 0 0 0 Prinia inornata 1 1 1 1 0 0 0 0 Rhipidura javanica 1 0 1 0 0 0 0 0 IV Gerygone sulphurea 3 2 3 2 0 0 0 0 Zosterops palpebrosus 13 3 13 3 4 0 0 0 Aegithina tiphia 3 1 3 1 0 0 0 0 Prinia inornata 4 2 4 2 0 0 0 0 V Prinia inornata 3 0 3 0 0 0 0 0 Dicaeum trochileum 1 0 1 0 0 0 0 0 Pycnonotus goiavier 2 0 2 0 0 0 0 0

(12)

Tabel 4. Jumlah individu spesies burung yang memanfaatkan strata vertikal vegetasi Rhizophora mucronata di Wonorejo, Surabaya

Strata Spesies

Perilaku

Bergerak Bertengger Makan Bersarang Pagi Sore Pagi Sore Pagi Sore Pagi Sore

I Butorides striata 1 1 1 1 0 0 0 0 II Rhipidura javanica 3 2 3 2 0 0 0 0 Gerygone sulphurea 1 1 1 1 0 0 0 0 III Gerygone sulphurea 2 3 2 3 0 0 0 0 Prinia inornata 1 0 1 0 0 0 0 0 Lalage nigra 3 1 3 1 0 0 0 0 Rhipidura javanica 4 2 4 2 0 0 0 0 IV Gerygone sulphurea 1 0 1 0 0 0 0 0 Lalage nigra 1 0 1 0 0 0 0 0 V -- -- -- -- -- -- -- -- --

Referensi

Dokumen terkait

Dari pembagian kelompok perilaku ini dapat diketahui bahwa jenis burung pantai di lahan basah Wonorejo lebih banyak yang mencari mangsa di dalam sedimen dengan

Diduga terdapat interaksi yang nyata antara proporsi jenis tepung terigu dengan tepung ampas mangrove ( Sonneratia caseolaris ) serta penambahan margarine pada proses

Adapun faktor yang menyebabkan berasosiasinya kedua jenis burung tersebut dengan vegetasi hutan mangrove yaitu seperti yang kita ketahui bahwa mangrove Rhizophora

Tujuh jenis dari lima famili vegetasi mangrove dimanfaatkan oleh lima suku di pesisir pantai tanah Papua obat tradisional untuk berbagai gejala penyakit seperti,

Parameter yang berkontribusi pada sumbu utama F2 adalah DO, tinggi rendaman pasut, salinitas, pH, dan sebaran jenis vegetasi (Gambar 5).. Diagram lingkaran korelasi

Terdapat 12 jenis vegetasi yang paling sering dimanfaatkan dan mendukung keberadaan burung di kawasan Mangrove Center Tuban yaitu Rhizophora mucronata , Bruguiera

1) Tingkat keanekaragaman jenis burung pada strata vegetasi yang bervariasi di Taman Kota 1 BSD menunjukkan ekosistem yang ada termasuk cukup memadai

Jenis Api api Avicennia marina Pemanfaatan Vegetasi Mangrove Jenis mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Maropokot Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo yang di dapatkan