KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat-Nya skripsi dengan judul “Temuan Post Mortem akibat Keracunan Metanol” dapat selesai tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan pendidikan S1 Program Studi Pendidikan Dokter FK UNUD. Dalam kesempatan ini, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penulisan usulan penelitian ini, antara lain kepada :
1. Kedua orang tua saya, Drs. Sukoriono dan Siti Rochmah yang memberikan dukungan dan doa
2. Paman H.Nur Sodiq,S.H yang selalu memberikan semangat
3. dr. Kunthi Yulianti, Sp.KF selaku pembimbing yang dengan sabar memberi pengarahan
4. dr. Ida Bagus Putu Alit, Sp.F, DFM selaku penguji skripsi 5. Staf dan Pegawai Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah
6. dr. A.A Sagung Sawitri, MPH selaku dosen pembimbing metodologi penelitian dan statistik dari bagian IKK/IKP FK Unud
7. Rekan-rekan mahasiswa Pendidikan Dokter angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis ucapkan terimakasih atas kritik dan saran yang membangun sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Denpasar, November 2014
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya tulis yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila kemudian hari terbukti bahwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain sebagai hasil pemikiran saya sendiri, maka gelar dan ijazah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.
Denpasar, 26 November 2014 Yang menyatakan
ABSTRAK
TEMUAN POST MORTEM AKIBAT KERACUNAN METANOL Kejadian keracunan metanol semakin meningkat seiring dengan peningkatan pola konsumsi minuman beralkohol di masyarakat. Mahalnya miras berkadar tinggi menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat mendapatkan kadar alkohol tinggi dengan harga serendah mungkin. Hal itu dilakukan dengan menambahkan zat-zat aditif yang berbahaya bagi tubuh , salah satunya adalah metanol. Dengan fenomena tersebut, penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana metanol dapat menyebabkan kematian dan untuk mengetahui kerusakan organ yang didapat pada korban meninggal akibat keracunan metanol.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran karakteristik dari temuan post mortem akibat keracunan metanol. Penelitian ini mengambil data sekunder dari Laporan Pemeriksaan Jenazah dari tahun 2008-2013 di RSUP Sanglah Denpasar .
Sampel penelitian berjumlah 10 orang. Ditemukan tanda-tanda asfiksia berupa bintik perdarahan dan dilatasi pembuluh darah pada berbagai organ. Pemeriksaan toksikologi pada sampel menunjukkan kadar metanol kurang dari 100 ppm terdapat pada 10% sampel, 20% sampel termasuk dosis toksik yaitu 100-300 ppm, 40% sampel mempunyai kadar metanol 100-300-1500 ppm, dan 30% sampel mempunyai kadar metanol yang sangat ekstrim lebih dari 1500 ppm. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan dilatasi pembuluh darah pada hepar, ginjal, paru-paru, dan otak.
Kerusakan organ pada keracunan metanol bersifat sistemik. Kematian akibat keracunan metanol tidak hanya dipengaruhi dosis metanol yang masuk ke dalam tubuh namun juga adanya faktor yang memperberat seperti penyakit. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kerusakan organ yang khas pada keracunan metanol.
ABSTRACT
POST MORTEM FINDING IN METHANOL TOXICITY
Incident of methanol toxicity increases as high as alcohol consumption pattern in community. The high price of alcohol become one of factors that encourage people to get the high level alcohol with the lowest price. It was done by giving addictive substances, like methanol. With the phenomenon, this research is done to know how can methanol has death effect and what abnormalities can be found in the victims.
It is a descriptive research to get an explanation about post mortem characteristics in methanol toxicity victims. This research takes secondary data of Victim Examination Report from 2008 until 2013 at RSUP Sanglah Denpasar.
Amount of the samples are 10. It is found asphyxia sign that is ptechie dan vascular dilatation in many organs. Toxicology examination shows methanol level below 100 ppm in 10% samples, 20% samples has toxic dose 100-300 ppm, 40% samples has methanol level 300-1500 ppm, and 30% samples has extremely level of methanol above 1500 ppm. Histopathologic examination shows vascular dilatation at liver, kidney, lung, and brain.
Damaged organ in methanol toxicity is systemic. Death of methanol toxicity not only influenced by the dose of methanol, but also the existence of predisposition factor such as disease. It needs more research to know the specific abnormalities of methanol toxicity.
RINGKASAN
Semakin banyak orang menjadi korban akibat minuman keras oplosan. Hal ini disebabkan karena semakin mudahnya masyarakat mendapatkan minuman keras, baik yang legal ataupun ilegal. Pembuatan alkohol tradisional yang tidak memiliki standarisasi dan pencampuran alkohol dengan zat-zat yang tidak layak masuk tubuh seperti metanol dapat menimbulkan keracunan pada konsumennya dan dapat mengakibatkan kematian. Penelitan ini menggunakan metode deskriptif yang dilaksanakan di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah dengan mengambil data sekunder dari Laporan Pemeriksaan Jenazah dari tahun 2008-2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek metanol yang masuk dalam tubuh serta dampaknya pada organ. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bahaya metanol dan bisa mencegah timbulnya korban yang jatuh akibat mengonsumsi miras oplosan.
Metanol adalah cairan tidak berwarna dan sedikit berbau dengan rumus kimia CH3OH. Penggunaan metanol untuk konsumsi tidaklah dibenarkan karena
metanol adalah zat tidak layak konsumsi dan beracun bagi tubuh. metanol mempunyai dosis toksik yang lebih tinggi dari alkohol. Methanol mempunyai dosis toksik 10 mg/dL dan dosis letal minimal 30-100 mg/dL. Efek utama metanol dapat memabukkan dan produk metabolitnya dapat menyebabkan asidosis metabolik, kebutaan, dan kematian.
Sampel yang didapat pada penelitian ini adalah 33 dan yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi menjadi 10. Dari variabel jenis kelamin didapatkan 50% laki-laki dan 50% perempuan. Puncak konsumsi alkohol pada penelitian ini terjadi pada kelompok dewasa berumur 21-60 tahun sebanyak 90% dan terjadi penurunan yang signifikan hanya sebesar 10% sampel berumur lebih dari 60 tahun. Keseluruhan sampel pada penelitian merupakan WNA. Jenazah WNA yang meninggal di Bali tidak tidak bisa dipulangkan ke negara asalnya apabila sebab kematiannya tidak jelas, sehingga jenazah WNA harus dilakukan pemeriksaan lengkap. Hanya 30% sampel terdapat data pekerjaannya. Masing-masing mempunyai pekerjaan sebagai engineer, guru, dan mahasiswa sedangkan 70% sampel tidak terdapat data mengenai pekerjaannya.
Dari penelitian didapat 70% sampel meninggal dengan kadar metanol darah termasuk dosis letal. 10% sampel dengan kadar metanol yang belum dikategorikan dalam dosis toksik minimum karena kurang dari 100 ppm dan 20% sampel termasuk dalam dosis toksik. Hubungan antara dosis dengan efek zat pada tubuh dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti waktu pengambilan sampel, variasi individu, konsentrasi metabolit, serta masuknya etanol yang bisa menurunkan toksisitas methanol. Metanol urin positif pada 60% sampel dan 40% sampel tidak dilaporkan kadar metanol dalam urin. Adanya hasil penilaian etanol dalam darah pada 80% sampel dan penilaian etanol dalam urin pada 60% sampel menunjukkan bahwa masuknya metanol dikonsumsi bersama dengan alkohol. 60% sampel dinyatakan positif etanol pada urin, sedangkan 40% sampel tidak dilaporkan kadar etanol urin. Adanya etanol pada tubuh dapat memanjangkan waktu paruh eliminasi metanol yang semula 8-28 jam menjadi 50 jam.
Pada otopsi, 90% sampel mengalami edema paru yang ditandai dengan berat paru lebih dari 500 gram dan 90% sampel terdapat tanda kongesti berupa
keluarnya buih dan darah encer pada saat penekanan paru. Bintik perdarahan dan dilatasi pembuluh darah merupakan tanda asfiksia. Bintik perdarahan ditemukan di organ paru-paru pada 80% sampel, di jantung pada 40% sampel, di ginjal pada 30% sampel, di otak pada 20% sampel, di batang tenggorokan pada 30% sampel dan di kerongkongan pada 10% sampel. Dilatasi pembuluh darah ginjal terjadi pada 100% sampel dan dilatasi pada otak besar terjadi pada 90% sampel. 80% sampel terjadi dilatasi pada otak kecil dan vena leher atau vena jugularis. Pada 60% sampel ditemukan dilatasi pada batang tenggorok atau bronkus, dan dilatasi pada kerongkongan oleh 50% sampel dan 40% sampel mengalami dilatasi pada pembuluh darah usus. ditemukan bercak perdarahan di jantung pada 80% sampel, di ginjal pada 20% sampel, dan di lambung pada 40% sampel. 20% sampel mengalami penyempitan arteri koroner akibat plak ateroklerosis dan 30% sampel mempunyai fatty streak. Adanya plak aterosklerosis merupakan tanda kronis terdapatnya gangguan pada pembuluh darah yang dapat menjadi faktor yang memperberat kondisi sampel keracunan methanol.
Pada pemeriksaan histopatologi, 60% sampel mengalami dilatasi pembuluh darah pada hepar, 90% sampel dilatasi pembuluh darah paru-paru dan otak, serta dilatasi pembuluh darah ginjal pada 80% sampel. Dilatasi pembuluh darah merupakan respon tubuh terhadap kondisi asfiksia. Ditemukan pelebaran sinusoid hepar terjadi pada 70% sampel, karena hati merupakan tempat metabolisme methanol. 30% sampel ditemukan mengalami fatty liver. Fatty liver menjadi kecurigaan bahwa sampel adalah peminum alkohol kronis. Ditemukan makrofag atau sel gagal jantung pada paru-paru 100% sampel, 30% sampel mengalami nekrosis ginjal dan 50% sampel mengalami perdarahan pada otak.
Kerusakan organ yang terjadi pada sampel bersifat sistemik. Temuan post mortem berupa tanda-tanda asfiksia, dan ditemukannya faktor predisposisi seperti aterosklerosis yang memperberat kondisi sampel. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kerusakan organ yang khas akibat keracunan metanol.
SUMMARY
Victims fall caused by mixed alcohol is increasing. It is caused by easier ways to get alcohol, legally or illegally. Not standardized traditional production of alcohol and mixing alcohol with harmful substances to body can makes toxicity and ends with death. The research use descriptive method at Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah. Data is taken from Victim Examination Report from 2008-2013. The research is to know methanol effect that entering body and the organ. The research’s result might give description about methanol and prevent methanol toxicity victim.
Methanol is uncoloured liquid and has a little odor. The chemical pattern is CH3OH. Consuming methanol absolutely forbidden because methanol is
harmful substance and toxic to human body. Methanol has toxic dose higher than alcohol. Toxic dose of methanol is 10 mg/dL and minimum lethal dose is 30-100 mg/dL. The main effect of methanol is drunk, and metabolite product of methanol causing metabolic acidosis, sightless, and death.
Sample of the research is 33 but only 10 that proper to inclusion and exclusion criteria. On sex variable, 50% samples are men and 50% are women. The peak of alcohol consumption in the research is adult 21-60 years old with 90% and decrease significantly only 10% adult more than 60 years old. All samples are foreign victim. Foreign victim who dead in Bali cannot back to the country with unclear death, so foreign victim always do complete examination. Only 30% sample with occupation data. There are engineer, teacher, and students whereas 70% no data about victim’s occupation.
From the research found 70% samples dead with lethal dose of blood methanol. 10% samples not categorized inminimal toxic dose because blood methanol is lower than 100 ppm and 20% samples has toxic dose. Relationship of dose and effect of substance can be different beacuse it depends on factors as timing , individual variation, metabolite concentration, and entering of ethanol that can decrease methanol toxicity. Urine methanol positive in 60% samples, and 40% samples has no report of urine methanol. Blood ethanol found in 80% samples and urine ethanol in 60% samples shows methanol consumed with ethanol. 60% samples are positive in urine ethanol, and 40% samples has no report of urin ethanol. Ethanol in body can increase half time elimination from 8-28 hours become 50 hours.
On autopsy finding, 90% samples has lung edema marked by lung weight more than 500 gram and 90% samples has lung congestion by foam and watery blood on lung pushing . spot hemorrhage and vascular dilatation are sign of asphyxia. Spot hemorrhage found at lung in 80% samples, at heart in 40% samples, at kidney in 30% samples, at brain in 20% samples, at bronchus in 30% samples, and at esophagus in 10% samples.Vascular dilatation at kidney found in 100% samples, at brain in 90% samples, 80% samples has vascular dilatation at small brain and jugularic vein. 60% samples has vascular dilatation at bronchus, at esophagus in 50% samples, and at small intestine in 40% samples. Large spot hemorrhage at heart found in 80% samples, at kidney in 20% samples, and at stomach in 40% samples. 20% samples has narrowing coronary artery due to atherosclerotic plaque and 30% samples has fatty streak. Atherosclerotic plaque is
chronic sign of vascular abnormality that can be predisposition factor of sample’s condition.
On histopathologic examination, 60% samples has vascular dilatation at liver, 90% samples has vascular dilatation at lung and brain, and 80% at kidney. Vascular dilatation is body’s response to asphyxia. There is widening sinusoidal liver in 70% samples because liver is location of methanol metabolism. 30% samples found has fattu liver. Fatty liver is sign samples are chronic alcoholism. Macrophages or heart failure cell found in 100% samples. 30% samples has kidney necrosis and 50% samples has brain hemorrhage.
Organ failure in sample is systemic. Post mortem finding is asphyxia sign and predisposition factor such as atherosclerosis that worsening sample conditions. It needs more research to know the specific abnormalities of methanol toxicity.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM...………i
LEMBAR PERSETUJUAN ...………... ii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI …... iii
KATA PENGANTAR ……… iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI... v
ABSTRAK... . vi
ABSTRACT... vii
RINGKASAN...viii
SUMMARY...x
DAFTAR ISI………...………...xii
DAFTAR TABEL ...xiv
DAFTAR LAMPIRAN...xv
BAB I PENDAHULUAN ……….. . 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ………... 1
1.2 Rumusan Masalah atau Identifikasi Masalah………... 3
1.3 Tujuan Penelitian………... 3
1.3.1 Tujuan Umum……….. 3
1.3.2 Tujuan Khusus……….... 3
1.4 Manfaat Penelitian ………. 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA ……….... 4
2.1 Gambaran Umum Metanol ……...………….... 4
2.2 Toxokinetic Metanol...………... 5
2.3 Mekanisme Toksisitas Metanol ... 8
2.4 Gejala Klinis ... 9
2.5 Pemeriksaan Laboratorium ... 11
2.6 Kriteria Diagnosis ... 12
2.7 Metanol pada Hewan ... 12
2.8 Temuan Post Mortem ... 13
BAB III KERANGKA BERPIKIR………... 16
BAB IV METODE PENELITIAN ………... 17
4.1 Rancangan Penelitian………..…... 17
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 17
4.3 Subjek dan Sampel………...…. 18
4.3.1 Variabilitas Populasi………..…....………... 18
4.3.2 Kriteria Subjek ………..………...18
4.3.3 Besaran Sampel ………….………....………... 19
4.3.4 Teknik Penentuan Sampel………...……… 19
4.4 Variabel ... 19
4.4.1 Identifikasi Variabel ... 19
4.4.2 Klasifikasi Variabel ... 19
4.4.3 Definisi Operasional Variabel ... 19
4.5 Bahan dan instrumen Penelitian………... 21
4.7 Analisis Data ………..………... 22
4.8 Kelemahan Penelitian………...………... 22
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN... 23
5.1 Karakteristik Umum... 23
5.2 Pemeriksaan Toksikologi... 26
5.3 Temuan Otopsi... 29
5.4 Pemeriksaan Histopatologi... 33
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan... 36
6.2 Saran... 36
DAFTAR PUSTAKA ………... 37
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 5.1 Karakteristik Umum...23
Tabel 5.2 Hasil Pemeriksaan Toksikologi... ... 26
Tabel 5.3 Hasil Pemeriksaan Otopsi ... 29
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup... 41
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Minuman beralkohol atau dalam masyarakat biasa disebut miras, akhir-akhir ini menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Perbincangan ini seputar miras yang dioplos sedemikian rupa sehingga harganya menjadi sangat murah, namun dari sisi keamanannya tidak bisa dijamin. Terbukti dengan adanya kasus di Bangli, Mojokerto, Banjarmasin dan Bekasi yang menimbulkan korban bahkan sampai meninggal dunia. Di Bangli, karena mengonsumsi arak yang diduga dioplos dengan metanol, korban mencapai 27 orang dan tiga diantaranya meninggal dunia( Sindo, 2014). Tidak hanya warga lokal yang menjadi korban, di Palembang, dua WNA berasal dari Malaysia dan Myanmar yang menjadi ABK kapal pengangkut batu bara juga meninggal dunia setelah mengadakan pesta miras ( Merdeka, 2014).
Dari wawancara informal penulis dengan beberapa orang yang gemar mengkonsumsi miras, diketahui bahwa berbagai jenis miras bisa didapat dengan mudah di masyarakat. Mulai dari arak tradisional yang harganya berkisar dari Rp 15.000,00 sampai miras berlabel mencapai harga jutaan rupiah. Untuk mendapatkan arak tradisional dapat di beli di warung-warung dan kios-kios jamu, sedangkan miras berlabel bisa didapat di pusat-pusat perbelanjaan, supermarket, kafe, maupun tempat hiburan malam. Menurut responden, walaupun harga arak tradisional murah, namun efek mabuk dan rasanya kurang maksimal sehingga perlu dicampur dengan beberapa zat agar hasilnya seperti yang diharapkan.
Sedangkan untuk mendapat minuman bermerek yang mengandung alkohol tinggi, mempunyai harga yang tidak terjangkau . Selain itu, kecurangan dari pembuat oplosan mengharapkan untung yang banyak dengan cara mencampur alkohol konsumsi dengan bahan lain seperti methanol. Fenomena ini menjadi dasar dari maraknya miras yang disebut miras oplosan.
Minuman beralkohol adalah jenis minuman yang mengandung ethanol (C2H5OH, ethyl alcohol) (Krutz,2008). Harga minuman beralkohol yang mempunyai izin sah sangat mahal karena adanya pajak yang cukup tinggi. Adanya pajak ini sebenarnya untuk membatasi peredaran dari minuman beralkohol. Namun masyarakat telah mengenal minuman ini dari zaman dahulu. Dari yang pembuatannya tradisional hingga pabrikan. Menurut WHO pada periode 2003-2005 minuman beralkohol dikonsumsi 42% penduduk dunia dimana 16.47% adalah penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 15 tahun. Dari 42% tersebut 7.3% digolongkan peminum berat.
Data WHO menyebutkan 2.5 juta penduduk dunia meninggal akibat alkohol yang dicampur (oplosan) setiap tahunnya (WHO, 2005). Zat-zat yang sering digunakan untuk mencampur atau mengoplos miras adalah methanol, obat lotion untuk pencegah serangga, minuman berenergi, minuman bersoda, kopi,bahan pewarna, dan bahan perasa (Kompas, 2014)
Pada penelitan ini diteliti efek miras oplosan terutama dampaknya pada organ dari jenazah yang terpapar dengan miras oplosan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bahaya miras oplosan dan bisa mencegah timbulnya korban yang jatuh akibat mengonsumsi miras oplosan
sehingga Pemerintah juga bisa turut andil dalam memberantas minuman beralkohol yang ilegal dan penjual-penjual miras yang tidak bertanggung jawab.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana metanol bisa membuat konsumennya meninggal dunia ? 1.2.2 Apa temuan post mortem yang didapatkan dari korban meninggal
akibat keracunan metanol ?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
1.3.1.1 Untuk mengetahui mekanisme toksisitas metanol.
1.3.1.2 Untuk mengetahui temuan post mortem yang didapatkan dari korban meninggal akibat keracunan metanol.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui kerusakan organ tubuh akibat keracunan metanol.
1.3.2.2 Untuk mengetahui respon tubuh terhadap keracunan metanol.
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Meningkatkan wawasan kedokteran khususnya kedokteran untuk bersiap menghadapi praktik klinis.
1.4.2 Memberikan gambaran di masyarakat mengenai miras oplosan.