LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NOMOR 9 TAHUN 1987 SERI D ================================================================
PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (PERDA DIY)
NOMOR 9 TAHUN 1986 9/1986
TENTANG KOTA-KOTA LAIN DI LUAR WILAYAH IBUKOTA NEGARA,
IBUKOTA PROPINSI, IBUKOTA KABUPATEN, KOTAMADYA DAN KOTA ADMINISTRATIF DAPAT DIBENTUK KELURAHAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPALA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sebagai pelaksanaan dari pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa telah dikeluarkan Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 5 Tahun 1982 tentang Kota-kota Lain di Luar Wilayah Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten, Kotamadya dan Kota Administratif dapat dibentuk Kelurahan;
b. bahwa berdasarkan pasal 7 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1982 pengaturan lebih lanjut mengenai Kota-kota lain di luar Wilayah Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten, Kotamadya dan Kota Administratif yang dapat dibentuk Kelurahan perlu diatur dengan Peraturan Daerah;
c. bahwa atas dasar pertimbangan-petimbangan tersebut di atas perlu ditetapkan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Kota-kota lain di Luar Wilayah Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten, Kotamadya dan Kota Administratif dapat dibentuk Kelurahan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah;
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950
sebagaimana telah diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1959;
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintah Desa;
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1982 tentang Kota-kota lain di Luar Wilayah Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten, Kotamadya dan Kota Administratif dapat dibentuk Kelurahan;
5. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 1981 tentang Pembentukan, Pemecahan, Penyatuan dan Penghapusan Kelurahan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TENTANG KOTA-KOTA LAIN DI LUAR WILAYAH IBUKOTA NEGARA,IBUKOTA PROPINSI, IBUKOTA KABUPATEN, KOTAMADYA DAN KOTA ADMINISTRATIF DAPAT DIBENTUK KELURAHAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
a. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;
b. Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyau organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam Ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. Kelurahan adalah suatu Wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat, yang tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri;
d. Pembentukan Kelurahan adalah tindakan mengadakan Kelurahan baru diluar wilayah Kelurahan yang telah ada;
e. Pemecahan Kelurahan adalah tindakan mengadakan Kelurahan baru dalam Wilayah Kelurahan;
f. Penyatuan Kelurahan adalah menggabungkan dua Kelurahan atau lebih menjadi satu Kelurahan baru;
g. Penghapusan Kelurahan adalah tindkan meniadakan Kelurahan yang berada.
h. Kota-kota ialah Desa-desa yang telah menunjukkan ciri-ciri kehidupan perkotaan.
BAB II
PEMBENTUKAN KELURAHAN
Pasal 2
(1) Kota-kota lain dapat dibentuk menjadi Kelurahan.
(2) Pembentukan Kelurahan sebagai dimaksud dalam ayat (1) pasal ini dilakukan dengan cara pemecahan, penyatuan dan atau perubahan Kota-kota lain menjadi Kelurahan.
BAB III
SYARAT-SYARAT DAN WEWENANG PEMBENTUKAN
Pasal 3
Dalam Pembentukan Kota-kota lain menjadi Kelurahan harus dipenuhi syarat-syarat dan memiliki faktor-faktor dasar bagi terbentuknya suatu Kelurahan serta memperhatikan pula ciri-ciri kehidupan masyarakat serta fasilitas perkotaan lainnya.
Pasal 4
Kota-kota lain yang dapat dibentuk menjadi Kelurahan adalah : a. Desa-desa yang berada dalam wilayah Ibukota Kecamatan;
b. Desa-desa di luar Ibukota Kecamatan yang merupakan pusat pengembangan yang telah memenuhi syarat-syarat dan memiliki faktor-faktor dasar bagi terbentuknya suatu Kelurahan ciri-ciri kehidupan masyarakat Kota serta fasilitas perkotaan dimaksud pasal 3.
Pasal 5
(1) Pembentukan Kota-kota lain menjadi Kelurahan sebagai dimaksud pasal 3 dan pasal 4 dilakukan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta atas usul Bupati Kepala Daerah Tingkat II setelah mendapat persetujuan dari Menteri Dalam Negeri;
(2) Usul Bupati Kepala Daerah Tingkat II sebagai dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 6
Hal-hal yang mengenai pelaksanaan Peraturan Daerah ini akan diatur lebih lanjut oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pasal 7
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Yogyakarta, 24 Oktober 1986 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Wakil Gubernur
Propinsi Daerah Istimewa Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta Ketua,
ttd. ttd.
DRS. SOEWARDI POESPOJO PAKU ALAM VIII Diundangkan dalam Lembaran Disahkan oleh Menteri Dalam Daerah Propinsi Daerah Negeri dengan Surat keputusan: Istimewa Yogyakarta
Seri : D
Nomor : 9 Nomor : 140.34 - 101
Tanggal : 20 Pebruari 1987 Tanggal : 5 Pebruari 1987 Sekretaris Wilayah / Daerah
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
ttd.
DRS. SOEMIDJAN NIP. : 010063425
PENJELASAN PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA (DIY)
TENTANG KOTA-KOTA LAIN DI LUAR WILAYAH IBUKOTA NEGARA,
IBUKOTA PROPINSI, IBUKOTA KABUPATEN, KOTAMADYA DAN KOTA ADMINISTRATIF DAPAT DIBENTUK KELURAHAN
I. PENJELASAN UMUM.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dalam BAB III yang mengatur Kelurahan, pasal 22 menyebutkan: (1) Dalam Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota
Kabupaten, Kotamadya, Kota Administratif dan Kota-kota lain yang akan ditentukan lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri dapat dibentuk Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 huruf b.
(2) Kelurahan yang dimaksud dalam ayat (1), dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat luas wilayah, jumlah penduduk dan syarat-syarat lain yang akan ditentukan lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri.
Untuk meningkatkan pembinaan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan secara berdayaguna dan berhasilguna sesuai dengan perkembangan pemerintahan dan pembangunan Nasional di Kota-kota lain sebagaimana dimaksud pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1982 tentang Kota-kota lain di Luar Wilayah Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten, Kotamadya, Kota Administratif dapat dibentuk Kelurahan perlu dituangkan dalam Peraturan Daerah, sesuai dengan pasal 7 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1982.
Selanjutnya berkaitan dengan masalah tersebut, mengenai syarat-syarat pembentukan, pemecahan, penyatuan dan penghapusan Kelurahan antara lain telah diatur dengan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 1981.
Atas dasar ketentuan tersebut di atas serta untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota-kota lain secara berdayaguna dan berhasilguna di Propinsi Daerah Instimewa Yogyakarta dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Kota-kota lain di Luar Wilayah Ibukota Negara, Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten, Kotamadya dan Kota Administratif dapat dibentuk Kelurahan.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL : Pasal 1 s/d 2 : Cukup jelas
Pasal 3 ; Yang dimaksud dengan :
a. Syarat-syarat dan faktor-faktor dasar :
1) Faktor penduduk :
sedikitdikitnya 2.500 jiwa atau 500 Kepala Keluarga dan sebanyak-banyaknya 20.000 jiwa atau 4.000 Kepala Keluarga.
2) Faktor luas Wilayah : yaitu mampu dijakau secara dayaguna dalam rangka pelayanan masyarakat.
3) Faktor letak : komunikasi, transportasi dan jarak dengan pusat kegiatan pemerintahan dan pusat-pusat pengembangan.
4) Faktor prasarana :
perhubungan, pemasaran, sosial dan Phisik pemerintahan.
5. Faktor Budaya : historis dan adat istiadat.
6) Faktor keselarasan dan kehidupan masyarakat : suasana yang memberi kemungkinan kerukunan hidup beragama dan hidup bermasyarakat.
b. Ciri-ciri kehidupan masyarakat Kota antara lain :
1) Majemuk;
2) Lebih dinamis;
3) Sensitif dan kritis;
4) Dukungan sosial ekonominya mayoritas sudah terpengaruh oleh kehidupan kota.
c. Fasilitas Perkotaan adalah : 1) Fasilitas Pendidikan; 2) Fasilitas Kesehatan; 3) Fasilitas Peribadatan;
4. Fasilitas Hiburan/Olah
Raga/Sosial.
Pasal 4 : Pasal 4 Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 5 Tahun 1982 berbunyi :
Desa-desa yang berada dalam wilayah Ibukota Kecamatan dan Desa-desa yang
merupakan pusat pengembangan yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai dimaksud dalam pasal 3 dapat dibentuk menjadi Kelurahan. Surat Kawat Menteri Dalam Negeri Nomor : Pem.26/3/41 tanggal 3 Desember 1979 menyebukan bahwa yang dimaksud Kota-kota lain antara lain ibukota Kecamatan.
Atas dasar ketentuan-ketentuan itu, maka pasal 4 Peraturan Daerah ini mengelompokkan Kota-kota lain menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Desa-desa yang berada di dalam Wilayah Ibukota Kecamatan, yang dapat dibentuk menjadi Kelurahan tanpa memperhatikan sepenuhnya syarat-syarat seperti dimaksud pasal 3.
b. Desa-desa di luar Ibukota Kecamatan yang merupakan pusat pengembangan yang dapat dibentuk menjadi Kelurahan setelah ternyata memenuhi syarat-syarat seperti dimaksud pasal 3.
Pasal 5 s/d