PENINGKATAN HASIL BELAJAR LARI 60 METER MELALUI PENERAPAN MODEL BERMAIN MEMINDAHKAN KARDUS
PADA SISWA KELAS V SD NEGERI WONOTUNGGAL 01 KECAMATAN WONOTUNGGAL KABUPATEN BATANG
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SKRIPSI
Oleh : DASUKI NIM: X4710023
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2012
iii
PENINGKATAN HASIL BELAJAR LARI 60 METER MELALUI PENERAPAN MODEL BERMAIN MEMINDAHKAN KARDUS
PADA SISWA KELAS V SD NEGERI WONOTUNGGAL 01 KECAMATAN WONOTUNGGAL KABUPATEN BATANG
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Oleh : DASUKI NIM: X4710023
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2012
iv
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Surakarta, ……… 2012
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Bambang Wijanarko,M.Kes Djoko Nugroho,S.Pd.M.Or NIP. 19620518 198702 1 001 NIP. 119730305 200501 1 001
v
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
Hari : …………..
Tanggal : ………….. 2012
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang, tanda tangan
Ketua : Waluyo, S.Pd. M.Or ………
Sekretaris : Deddy Whinata K. S.Or., M.Pd. ……… Anggota I : Drs. Bambang Wijanarko,M.Kes ……… Anggota II : Djoko Nugroho,S.Pd.M.Or ………
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Dekan
Prof.Dr.H.M. Furqon Hidayatullah,M.Pd NIP. 19600727 198702 1 001
vi ABSTRAK
Dasuki. PENINGKATAN HASIL BELAJAR LARI 60 METER
MELALUI PENERAPAN MODEL BERMAIN MEMINDAHKAN
KARDUS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI WONOTUNGGAL 01 KECAMATAN WONOTUNGGAL KABUPATEN BATANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012. Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2012.
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui : peningkatan hasil belajar lari cepat pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wanatunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012 melalui penerapan model bermain memindahkan kardus .
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklusnya mempunyai empat langkah, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wanatunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012, dengan jumlah siswa 22 dengan rincian jumlah siswa putri 11 dan siswa putra 11.
Dari hasil analisis yang diperoleh, terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus 1 dan siklus 2, baik dari peningkatan nilai rata-rata pembelajaran lari 60 meter siswa maupun nilai ketuntasan hasil belajar. Nilai rata-rata pembelajaran lari 60 meter pada rata-rata kondisi awal (45 %) atau ketuntasan nilai rata-rata siswa hanya 8 siswa dari 22 siswa, rata-rata siklus 1 (55 %) atau ketuntasan nilai rata siswa hanya 12 siswa dari 22 siswa dan rata-rata siklus 2 (82 %) atau ketuntasan nilai rata-rata-rata-rata siswa mencapai 18 siswa dari 22 siswa, sehingga peningkatan dari kondisi awal ke siklus 2 sebesar (37%), diukur dari KKM sebesar 70.00.
Kata kunci : hasil belajar, lari 60 meter, penerapan model bermain
vii
Tempatkan cita-citamu yang tinggi,
Sebaliknya penantian yang rendah dan tetaplah positif dari hasil yang tidak terduga
viii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada :
» Bapak– Ibu, dalam memori perjalanan sambungan ruhku.
» Istri tercinta yang selalu memberikan motivasi dan semangat belajar.
» Anak-anak tercinta, keberadaanmu memacuku menyelesaikan Skripsi ini.
» Adik-adik tersayang – teman-teman tercinta, Bersamamu, sharing di antara kita sungguh memperkaya hati, spiritualitas, intelektualitas. » FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, tercinta
kampus tempat kutimba aneka ilmu untuk kiprah pada bidang Olahraga dan Kesehatan yang penuh Edukasi.
» Teman-teman penjaskesrek senasib dan seperjuangan
» Semua pihak yang telah membantu terselesainya skripsi ini
» Almamater.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rakhmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi dimana kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Wanatunggal 01 kecamatan Wanatunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penyusunan Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. H. Mulyono, M.M, Ketua Pendidikan Jurusan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. J. Sukardjo, M.Pd, Ketua Unit PPL Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta
4. Waluyo,S.Pd,M.Or, Ketua Program Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
5. Drs. Bambang Wijanarko,M.Kes, sebagai pembimbing I yang telah memberikan motivasi dan arahan dalam penyusunan Skripsi.
6. Djoko Nugroho,S.Pd.M.Or, sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.
7. Bapak dan Ibu Dosen FKIP JPOK Surakarta yang secara tulus memberikan ilmu dan masukan-masukan kepada penulis.
8. Suteja,S.Pd, Kepala Sekolah Dasar Negeri Wanatunggal 01 kecamatan Wanatunggal kabupaten Batang, yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian di sekolah yang dipimpin.
x
9. Bapak dan Ibu serta keluarga tersayang yang telah mencurahkan segenap kepercayaan, kasih sayang, do’a, dukungan moral dan material serta tak henti memberi yang terbaik kepada penulis..
10. Siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Wanatunggal 01 kecamatan Wanatunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012 yang telah bersedia menjadi sampel penelitian
11. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.
Semoga semua yang telah membantu penulis dalam menyusun laporan ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, mendapat pahala yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa.
Akhirnya peneliti mohon ma’af apabila dalam penyampaian tulisan ini terdapat hal yang tidak berkenan di hati para pembaca, bagaimanapun juga segala kekurangan ada pada diri penyusun. Semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan kepada para pembaca. Peneliti berharap saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan Skripsi ini
Wonotunggal, ……….. 2012
Penulis
xi DAFTAR ISI Halaman JUDUL ……… PERNYATAAN ……….. PENGAJUAN ……….. PERSETUJUAN ……….………. PENGESAHAN ………...……… ABSTRAK ………... MOTTO ……… PERSEMBAHAN ……… KATA PENGANTAR ………. DAFTAR ISI ……… DAFTAR GAMBAR ……… DAFTAR TABEL ………...…………. DAFTAR LAMPIRAN ……… BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ……….…………... B. Rumusan Masalah ………...……….. C. Tujuan Penelitian ………...………..….. D. Manfaat Penelitian ………...………….…….
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka
1. Atletik cabang lari cepat 60 meter………...……… a. Pengertian Lari …….……….….……… b. Teknik Dasar Lari………..…….……… 2. Pembelajaran ………...……….... a. Konsep Pembelajaran ……….………… i ii iii iv v vi vii viii ix xi xiv xv xvi 1 6 6 7 8 8 9 10 10 commit to user
xii
b. Hakekat Pembelajaran ……….…………... c. Prinsip-prinsip Pembelajaran ………...………… 3. Media Pembelajaran ………...…....……… a. Bermain…… ……...………..…………. b. Pendekatan Pembelajaran dengan Model Bermain ...…...…. B. Kerangka Berpikir ………...………...…….…
BAB III METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian ………...… B. Bentuk Strategi Penelitian ………...…….……….…………..…… C. Data dan Sumber Data ………...……….……...…….…. D. Pengumpulan Data ………..……....…..………...………… E. Uji Validasi Data ……..………….………...….….. F. Analisis Data …………...……….………... G. Indikator Kinerja Penelitian ………. H. Prosedur Penelitian ………..
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus) ……….…….… B. Siklus I ……….………... 1. Pertemuan 1 ………..…….. 2. Pertemuan 2 ………..…….. 3. Pertemuan 3 ………..……….. C. Siklus II ………... 1. Pertemuan 1 ………..………….. 2. Pertemuan 2 ………..………….. 3. Pertemuan 3 ………..………….. 12 15 17 18 18 19 21 21 21 22 23 24 24 24 33 35 35 38 42 45 45 49 52 commit to user
xiii
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Simpulan ………...…….. B. Implikasi ……….………...….. C. Saran ……….………...………….. DAFTAR PUSTAKA ……..……….………...….…..….……. LAMPIRAN - LAMPIRAN 56 56 57 58 commit to user
xiv
Halaman Gambar : Pendekatan Pembelajara Gerak dasar Lari ...…...
Gambar 1 : Rangkaian Gerak Jalan Cepat …...………...…... Gambar 2 : Rangkaian Gerak Start Jongkok …... Gambar 3 : Rangkaian Gerak Lari (Sprint)...…….………...… Gambar 4 : Kerangka Berfikir…………... Gambar 5 : Alur Tahapan Siklus penelitian Tindakan Kelas...
12 15 15 16 19 25 commit to user
xv
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Deskripsi data awal hasil belajar lari 60 meter ...…………...
Tabel 2. Deskripsi data akhir siklus I hasil belajar lari 60 meter ... Tabel 3. Deskripsi data akhir siklus II hasil belajar lari 60 meter ... Tabel 4. Perbandingan data akhir siklus I dan akhir siklus II hasil belajar lari 60 meter ...
34 44 54
55
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 RPP Siklus 1………...……
Lampiran 2 RPP Siklus 2 ……….…… Lampiran 3 Daftar Absensi ……….. Lampiran 4 Lembar Penilaian Kondisi Awal ………...… Lampiran 5 Lembar Penilaian Afektif Siklus I .………...… Lampiran 6 Lembar Penilaian Kognitif SiklusI ………..….… Lampiran 7 Lembar Penilaian Psikomotor SiklusI ………..… Lampiran 8 Rekapitulasi Penilaian Siklus I ………...…….. Lampiran 9 Lembar Penilaian Afektif Siklus II .………..…… Lampiran 10 Lembar Penilaian Kognitif SiklusII …………..……..… Lampiran 11 Lembar Penilaian Psikomotor SiklusII ………... Lampiran 12 Rekapitulasi Penilaian Siklus II ………....….. Lampiran 13 Rekap Hasil Kepuasan Siswa ……….. Lampiran 14 Rekap Hasil Kepuasan Siswa Siklus I...……….. Lampiran 15 Rekap Hasil Kepuasan Siswa Siklus II…….…………... Lampiran 16 Foto Kegiatan Pembelajaran ………... Lampiran 17 Surat Permohonan Izin Penyusunan Skripsi …………... Lampiran 18 Surat Keputusan Dekan FKIP tentang izin penyusunan Skripsi ……….. Lampiran 19 Surat Permohonan Izin Observasi ………... Lampiran 20 Surat Permohonan Izin Penelitian ………...
59 69 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 97 98 99 100 commit to user
1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah
Pada pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang tahun pelajaran 2011/2012, Terdapat Standar Kompetensi: Mempraktikkan berbagaivariasi gerak dasar kedalam permainan dan olahraga dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kompetensi dasar : Mempraktikkan variasi gerak dasar kedalam modifikasi atletik, serta nilai semangat, sportivitas, percaya diri dan kejujuran
Sebagian besar siswa dapat berlari pada kecepatan relatif tinggi dan dengan mudah dapat mengubah arah larinya. Tahapan pola lari yang sudah matang akan menunjukkan hal-hal esensial berikut ini: 1. Tubuh memelihara sedikit kecondongan ke depan selama pola melangkah. 2. Kedua lengan mengayun dengan sudut yang luas dan disinkronkan secara berlawanan dengan ayunan kaki. 3. Kaki yang menumpu kontak dengan tanah hampir rata dan dekat di bawah titik berat tubuh. 4. Lutut dari kaki yang bertumpu sedikit bengkok setelah kaki tersebut membuat kontak dengan tanah. 5. Pelurusan dari kaki yang bertumpu pada bagian panggul, lutut, dan pergelangan kaki mendorong tubuh ke depan dan ke atas ke arah fase melayang. 6. Lutut yang mengayun bergerak ke depan dengan cepat pada angkatan lutut tinggi, dan secara bersamaan kaki yang lebih rendah membengkok, membawa tumit dekat ke pantat.
Pembelajaran lari 60 meter yang penuh dengan suasana keriangan dan kegembiraan bermain yang mempesona dengan berbagai macam variasi gerak, memungkinkan anak untuk menikmati seperti layaknya pada permainan olahraga lain. Namun substansi pokok lari 60 meter tetap terkandung di dalamnya, sehingga unsur variasi, irama, pengalaman atletik sarta pengalaman kompetisi tetap terpelihara.
Penggunaan alat-alat bantu yang dimodifikasi berupa barang-barang bekas seperti: ban sepeda, bilah bambu, kardus bekas , bangku swedia, tali, dapat membantu menampilkan berbagai variasi gerak dasar lari. Semakin sering dan semakin banyak melakukan, maka akan semakin banyak peluang bagi siswa untuk lebih cepat meningkatkan kesegaran jasmaninya, kemampuan fisiknya, pengalaman geraknya, pengayaan geraknya efisiensi dan efektivitas geraknya serta otomatisasi gerak siswa. Oleh karena itu berikanlah kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai kegiatan gerak dasar lari sebanyak mungkin, hingga mereka akan menjadi siswa-siswa yang sehat, segar, terampil serta kaya akan konsep gerak yang diperlukannya.
Gerak dominan yang utama dari gerak lari adalah gerakan langkah kaki dan ayunan lengan. Sedangkan aspek lain yang perlu diperhatikan pada saat berlari adalah: kecondongan badan (disesuaikan dengan jenis lari), pengaturan napas, dan harmonisasi gerakan lengan dan tungkai. Sedangkan yang paling menentukan kecepatan lari seseorang adalah panjang langkah x kekerapan langkah. Langkah kaki terdiri dari tahap menumpu dan tahap melayang. Sedangkan gerakan kaki mulai tahap menumpu kemudian mendorong (kaki tolak) sedangkan kaki ayun melakukan gerak pemulihan dan gerak ayunan
Pembelajaran nomor lari dapat berhasil dengan baik, maka unsur-unsur bermain harus menjadi pokok pertimbangan penyelenggaraan. Nilai-nilai yang terkandung tersebut seperti dikemukakan Hans Katzenbogner/Michael Medler. (1996). adalah: a.Pengembangan dimensi bermain, b.Pengembangan dimensi variasi gerakan, c.Pengembangan dimensi irama atletik, d.Pengembangan dimensi kompetisi, dan e. Pengembangan pengalaman.
Edwin R Guthrie (1886-1959) mengembangkan teori kontinguitas yang
menekankan asosiasi antara stimulus dan respon. Kontinguitas (hubungan) mengandung arti bahwa suatu respon yang dibangkitkan oleh situasi stimulus akan di ulang kapanpun stimulus yang sama muncul kembali. Penguatan hubungan antara stimulus dan respon berlangsung dalam suatu percobaan pertama. Dalam perkataan lain dapat dinyatakan bahwa satu pola stimulus akan memperoleh kekuatan asosiasinya yang paling kuat pada terjadi koneksi yang commit to user
pertama kali dengan respon yang bersangkutan. Pernyataan ini seolah-oleh suatu hal yang bertentangan bahwa latihan tidak menghasilkan kesempurnaan ketrampilan.
Kemampuan gerak dasar merupakan unsur pembentuk keterampilan gerak. Kemampuan gerak dasar merupakan fundamen penting untuk mempelajari suatu keterampilan gerak. Kemampuan gerak mendasari keterampilan, dimana kemampuan tersebut disimpulkan dari tanggapan atau respon tertentu untuk jenis tugas yang tertentu pula. Jadi jelas bahwa, kemampuan gerak mempunyai pertalian dengan keterampilan.
Kemampuan gerak dasar merupakan dasar pembentukan keterampilan bermain bola basket. Siswa yang memiliki dasar kemampuan gerak dasar yang baik, akan memiliki kemampuan yang lebih cepat dalam mempelajari keterampilan bermain bola basket. Siswa yang memiliki dasar kemampuan gerak dasar yang baik, relatif lebih cepat dapat mempelajari suatu keterampilan dari pada siswa yang dasar kemampuan gerak dasarnya rendah.
Kemampuan gerak dasar juga erat kaitannya dengan kesegaran jasmani dan komponen gerak keterampilan. Komponen kesegaran jasmani dengan komponen gerak keterampilan dan motor ability saling berkaitan erat satu dengan lainnya. Keterampilan gerak olahraga, termasuk keterampilan bermain bola basket sangat dipengaruhi oleh kemampuan gerak dan kesegaran jasmani. Motor ability (kemampuan gerak dasar) merupakan unsur pembentuk keterampilan gerak, sedangkan unsur kesegaran jasmani (fisik) merupakan unsur pendukung berlangsungnya gerak keterampilan.
Unsur yang terkandung dalam permainan adalah kegembiraan atau keceriaan. Tanda-tanda menuju ke arah permainan yang menggembirakan tersebut antara lain: a.Menanamkan kegemaran berlomba atau berkompetisi dalam situasi persaingan yang sehat, penuh tantangan dan kegembiraan, b.Unsur kegembiraan dan kepuasan harus tercermin dalam bentuk praktek, dan c.Memberikan kesempatan untuk unjuk kemampuan atau ketangkasan yang dikuasainya.
Kompetisi dalam arti yang positif sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Atletik yang berorientasi pada hasil, akan memungkinkan anak menjadi bosan dan kurang commit to user
kreatif dalam menerima pengalaman gerak. Padahal dengan berorientasi pada pengalaman gerak yang seluas-luasnya akan memberikan kepuasan tersendiri pada diri siswa.
Setiap proses pembelajaran yang kita berikan, kita perlu mengetahui kemajuan siswa atau keberhasilan yang kita berikan. Alat ukur keberhasilan suatu proses pembelajaran tidak selalu harus berupa angka atau prestasi yang mereka raih. Namun mungkin akan lebih bijak dan lebih tepat bila kita melihatnya dari beberapa aspek. Antara lain: a.Secara fisik ; adanya peningkatan kemampuan biomotorik siswa seperti menunjukan peningkatan kualitas dalam kekuatan, kecepatan, daya tahan, kelentukan, keseimbangan, kelincahan dan sikap tubuh, b.Secara teknik ; memperlihatkan adanya efisiensi gerak yang lebih baik, memperlihatkan koordinasi gerak yang lebih baik dengan ditunjukkan gerakan-gerakan yang lebih luwes dan tidak kaku. Serta koordinasi otot dan persendian terlihat lebih baik, menunjukkan adanya efektivitas gerak yang lebih baik. c.Secara psikis ; adanya kemajuan dalam menyenangi kegiatan tersebut, memperlihatkan sikap kesungguhan, menunjukkan sikap tanggung jawab, kerja sama, disiplin, kerja keras, sportivitas yang lebih baik, menunjukkan sikap interaksi yang lebih baik antara sesama siswa maupun dengan masyarakat umum atau lingkungannya, ada tanggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Data awal yang diperoleh untuk pembelajaran Atletik khususnya materi lari 60 M Pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang, adalah 45 % atau hanya 10 siswa yang mempunyai nilai di atas tuntas belajar dari jumlah siswa 22 dengan rincian jumlah siswa putri 11 dan siswa putra 11, sedangkan standar Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 70.00.
Terjadinya kegagalan dalam pembelajaran tersebut diatas disebabkan antara lain : 1. Pembelajaran masih menggunakan pola/gaya/cara/metode konvensional belajar dengan paradigma lama yaitu pembelajaran berpusat pada guru sebagai penyampai isi materi pelajaran dan siswa hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. 2. Pembelajaran bersifat transformasi yaitu guru hanya memindahkan commit to user
ilmu atau materinya kepada siswa dan siswa tidak mempunyai kesempatan dalam mengembangkan kreasi pikirannya dalam mengembangkan pembelajaran berdasarkan pengalamannya. 3. Minimnya media/alat-alat/peraga/sumber belajar dan sejenisnya dalam mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan media yang digunakan sehingga guru mengalami kesulitan dalam memberikan pengembangan pembelajaran 4. Terbelenggu kebiasaan plagiarisme yaitu siswa selalu meniru apa yang dikatakan/diperbuat/dicontohkan guru dalam pembelajaran sehingga siswa kurang mengekplorasi kemampuan pada dirinya dalam mengembangkan sebuah materi sesuai dengan bakat atau pengetahuan yang dimilikinya. 5.Kesulitan mengeliminasi rasa takut dan malu dalam mengungkapkan pendapat yang siswa miliki sehingga menghambat dalam proses pembelajaran 6. Proses komunikasi dalam pembelajaran berlangsung dalam satun arah saja yaitu guru hanya menyampaikan meteri yang dibutuhkan dalam kompetensinya tetapi tidak mau menerima masukan-masukan yang datangnya dari siswa sehingga siswa hanya menerima apa yang diinformasikan oleh guru.
Permasalahan yang ada diatas menjadi permasalahan peneliti bagaimana upaya meningkatkan pembelajaran lari dengan meningkatkan metode mengajar yang bervariasi menurut situasi dan kondisi satuan pendidikan yang ada. Yang terpenting dalam pembelajaran lari untuk kelas atas, unsur yang terkandung harus mempunyai unsur dasar yang baik melalui pendekatan permainan atau perlombaan agar siswa merasa senang dengan pembelajaran lari, dan anak tidak merasa jenuh dalam pembelajaran lari cepat, dan menciptakan suasana kegembiraan dalam pembelajaran lari cepat, dengan harapan pebelajaran lari cepat dapat disenangi
Tujuan modifikasi alat bantu pada pembelajaran gerak dasar berlari adalah untuk meningkatkan kemampuan gerak dasar fundamental yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun sifatnya sangat alamiah, dan semua anak normal biasanya sudah menguasai gerakan dasar ini pada usia-usia awal mereka, bukan berarti bahwa gerakan dasar tersebut tidak perlu dilatih. Melatih atau memperbanyak pengalaman anak dalam berjalan dan berlari, tentunya akan meningkatkan efisiensi dari gerakan itu commit to user
sendiri, di samping akan membantu anak dalam meningkatkan kekuatan dan daya tahan dari otot-otot yang digunakan. Hal lain yang perlu disadari adalah hakikat dari perluasan yang mungkin dilakukan ketika gerak dasar ini dilakukan dengan cara-cara yang berbeda. Anak secara tidak langsung diperkaya perbendaharaan geraknya, sehingga memiliki khasanah gerak dasar yuang juga semakin kaya. Dan ketika hal tersebut dieksplorasi oleh guru dan anak, maka secara langsung atau tidak langsung, hal itupun berpengaruh kepada strukturkognitif anak yang semakin banyak menerima rangsang berupa gerak, sehingga semakin memperkaya jalinan tautan natar sinaps di dalam otak anak.
Alat yang diperlukan untuk mengarahkan anak pada proses pembelajaran gerak dasar jalan dan lari, banyak peralatan dapat dipergunakan, sehingga mengoptimalkan proses pembelajaran serta pengalaman gerak anak. Alat-alat itu meliputi alat-alat sederhana yang dapat dimanfaatkan secara mudah, karena sering dapat ditemukan di lingkungan sekolah sendiri, seperti kursi, bangku, kapur tulis, atau kalau mau sedikit mencari dapat juga menggunakan tali-tali plastik yang berukuran sedang. Pada dasarnya, pembelajaran pengayaan gerak dasar jalan dan lari serta lokomotor lainnya, dapat dilakukan guru tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar dan menggunakan peraltan berstandard tinggi. Semua peralatan dapat dicari, dari barang- barang bekas, seperti kardus berbentuk kotak atau peti, kertas koran, botol-botol aqua bekas
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan latar belakang diatas dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana meningkatkan hasil belajar lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012 ? .
C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui peningkatan motivasi hasil belajar lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD commit to user
Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012, dengan penerapan modifikasi alat pembelajaran.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pendidik mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan khususnya V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012 :
a. Memotivasi kreatifitas guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012 dalam rangka mencitakan suasana pembelajaran menjadi efektif dan berkualitas
b. Untuk meningkatkan kinerja guru Penjasorkes kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang tahun pelajaran 2011/2012 dalam membuat dan mengembangkan metode pembelajaran yang mempermudah dalam memberikan materi ilmu pengetahuan
c. Sebagai bahan masukan kepada guru Penjasorkes kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang tahun pelajaran 2011/2012 dalam memilih alternatif pembelajaran yang akan dilakukan pada proses belajar mengajar
2. Bagi Siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang tahun pelajaran 2011/2012, Mempermudah siswa dalam menyerap segala informasi yang disampaikan oleh guru atau pengajar dalam pembelajaran. Sehingga mampu meningkatkan kemampuannya dalam menguasai teknik ketrampilan dasar lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus
3. Bagi Lembaga Pendidikan SD Negeri Wonotunggal 01
Sebagai bahan asukan, saran, dan informasi terhadap sekolah, instansi, lembaga pendidikan untuk mengembangkan strategi belajar mengajar yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan kuntitas hasil belajar
8 BAB II LANDASAN TEORI A.Tinjauan Pustaka 1. Lari cepat a. Pengertian Lari
Atletik merupakan “ibu” dari semua cabang olahraga, karena di dalamnya terkandung unsur-unsur gerak dasar yang dibutuhkan oleh semua cabang olahraga, seperti gerakan jalan, lari, lompat dan lempar. Dilihat dari taksonomi gerak umum, atletik secara lengkap diwakili oleh gerak-gerak dasar yang membangun pola gerak yang lengkap, dari mulai gerak lokomotor, nonlokomotor sekaligus gerak manipulatif.
Atletik ditinjau dari jenis keterampilannya dapat dimasukkan ke dalam keterampilan diskrit, serial, dan kontinyu. Serta jika ditinjau dari pola lingkungan dimana atletik dilakukan, maka atletik cenderung masuk pada klasifikasi keterampilan tertutup (close skill). Dari struktur pola gerak lokomotor, atletik dapat meningkatkan aspek kekuatan, kecepatan, daya tahan, daya ledak, fleksibilitas dan aspek lainnya. Dihubungkan dengan pola gerak nonlokomotor, atletik mampu mengembangkan aspek kelentukan serta keseimbangan. Dari pola gerak manipulatif, anak-anak bisa diajarkan kegiatan-kegiatan seperti : melempar, melompat, melewati rintangan, memanjat dan aspek koordinasi gerak, termasuk rasa kinetik.
Atletik merupakan salah satu mata pelajaran Pendidikan Jasmani yang wajib diberikan kepada para siswa mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat atas, sesuai dengan SK Mendikbud No. 0413/U/87. Tak terkecuali, di Sekolah Luar Biasapun mata pelajaran atletik merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan kepada para siswanya. Banyak kendala dan hambatan agar atletik disukai dan disenangi oleh siswa Salah satu kendala yang sering ditemui di lapangan antara lain adalah kurang tersedianya fasilitas dan perlengkapan untuk kegiatan atletik yang memadai.
Masalah lainnya adalah kemampuan guru penjas dalam menyajikan Proses Belajar Mengajar (PBM) atletik yang lebih banyak menekankan pada penguasaan teknik dan berorientasi kepada hasil atau prestasi siswa pada setiap nomor atletik.
b. Teknik Dasar Lari
Tujuan utama dari pembelajaran ini bukan untuk meningkatkan prestasi siswa-siswanya. Namun lebih ditekankan pada upaya untuk memperkaya gerak-gerak dasar jalan dan lari. Dengan demikian diharapkan mereka akan lebih terampil, efektif dan efisien dalam menggunakan/memfungsikan anggota badannya. Karakteristik gerak dan struktur gerak jalan dan lari dalam atletik dapat diuraikan seperti dalam buku Pedoman Lomba Atletik, Seri Jalan dan Lari, (PB PASI, 1996) sebagai berikut:
Gerak dasar jalan dan lari dapat dilakukan dengan : * Maju, mundur dan ke samping
* Pada lintasan lurus atau lintasan berkelok-kelok. * Cepat dan lambat.
* Suara gaduh atau tanpa suara. * Mendaki atau menurun.
* Menaiki tangga (tribune) atau menuruni tangga. * Sendirian, berpasangan atau berkelompok.
* Bersama anak-anak lain alau melawan anak-anak lain * Menggunakan alat bantu atau tanpa alat bantu
* Melewati rintangan
* Menggunakan lapangan rumput, lintasan atau lapangan * Di hutan, kebun atau jalan.
* Dll.
Berbagai gerak dasar jalan dan lari tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang sederhana dan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan oleh siapapun tak terkecuali oleh anak-anak tunanetra sekalipun commit to user
Semakin sering dan semakin banyak melakukan, maka akan semakin banyak peluang bagi siswa untuk lebih cepat meningkatkan kesegaran jasmaninya, kemampuan fisiknya, pengalaman geraknya, pengayaan geraknya efisiensi dan efektivitas geraknya serta otomatisasi gerak siswa. Oleh karena itu berikanlah kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai kegiatan gerak dasar jalan dan lari sebanyak mungkin, hingga mereka akan menjadi siswa-siswa yang sehat, segar, terampil serta kaya akan konsep gerak yang diperlukannya kelak.
2. Pembelajaran a. Konsep Pembelajaran
Mengkaitkan teori-teori bermain dan psikologi dengan pembelajaran Penjas khususnya dalam mencapai tujuan pembelajaran Penjas yang interaktif yang tidak hanya membekali peserta didik dengan keterampilan gerak tetapi juga memberi landasan pada tujuan pembelajaran yang lebih luas. Buku utama yang dikaji adalah: 1) Comunication Games: Participant's Manual (Kruper Karen R: 1973), 2) Play and Learn: 300 Aktivitas Bermain dan Belajar Bersama Anak 3) The Values Book for Children: 500 Five Minute Games
(Silberg Jackie: 1995), 4) Educational Psychology for Teachers (Anita E. Wolfolk and Lorraine McCune-Nicholich: 1984)
Temuan beberapa penelitian menunjukkan bahwa guru Penjaskes memiliki kompetensi profesional yang terbatas (Komisi IPTEK Or, 1998). Temuan tersebut sama dengan temuan peneliti yang dikumpulkan dari kegiatan observasi dan diskusi mendalam (debt interview) dengan guru-guru Penjaskes di Ambon, Gorontalo, Pekanbaru dan Yogyakarta pada kurun waktu Nopember s/d Desember 2004 (Sriundy, 2004). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa yang berubah hanya terminologinya sedangkan komponen utama pendidikan lainnya masih sama seperti pembelajaran olahraga.
Supaya mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang arah pembelajaran gerak dasar jalan dan lari, maka sebaiknya para guru. Untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran pada masing-masing ketunaan beberapa hal kiranya
dipertimbangkan dan disiapkan oleh para geru pendidikan jasmani. Pertimbangan utama adalah terletak pada keadaan atau kondisi siswa kita.
Beberapa pertimbangan dalam mengorganisir pembelajaran nomor-nomor lempar antara lain adalah.
* Kenali betul kondisi siswa kita secara umum maupun secara individual. * Pilih materi pembelajaran yang akan kita berikan sesuai dengan keadaan dan
kemampuan fisik maupun psikis siswa.
* Pilih dan siapkan alat-alat bantu yang akan digunakan yang memenuhi unsur-unsur keamanan dan keselamatan siswa.
* Jumlah alat bantu yang memadai (tidak berlebihan dan kekurangan).
* Periksa dan siapkan lapangan yang akan digunakan agar aman bagi pemakai maupun orang lain.
* Atur dan gunakan formasi yang aman bagi siswa namun dapat mengoptimalkan aktivitas siswa saat melakukan tugasnya.
* Berikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk melakukan aktivitas .
* Beri kesempatan pada mereka untuk melakukan inovasi gerak sehingga mereka bisa merasakan dan menemukan sendiri konsep- konsep gerak yang efisien dan efektif.
* Lakukanlah bimbingan dan pengawasan yang terus menerus untuk menjaga keselamatan siswa kita.
Benda-benda bekas seperti kardus dan sejenisnya bisa digunakan untuk melakukan aktivitas pembelajaran gerak lari. Formasi yang diingikan sangat mungkin kita tata karena alat bantu tersebut mudah untuk dipindah-pindah serta ukurannya relatif sama. Pada gambar selanjutnya diperlihatkan berbagai formasi untuk aktivitas pembelajaran gerak dasar jalan dan lari. Jaraknya bisa diatur sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kondisi, kemampuan fisik, keterampilan maupun jenis kelamin siswa.
Pendekatan Pembelajaran Gerak Dasar Lari
* Lari Melewati Box secara bergantian
* Lari Memindahkan Box secara berpasangan .
* Lari Memindahkan Box secara bertahap .
* Lari Beranting Memindahkan Box .
b. Hakikat Pembelajaran
Selama ini ada kesan bahwa pembelajaran nomor jalan dan dalam atletik hanya merupakan seperangkat teknik dasar yang membosankan, monoton dan commit to user
tak bervariasi. Unsur keriangan dan kegembiraan tidak terungkap dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
1) Pembelajaran jalan dan lari berorientasi bermain
Fenomena yang diungkapkan secara filosofis tentang ciri hakiki manusia sebagai mahluk bermain atau “Homo Ludens”, kurang mendapat perhatian dari guru-guru pendidikan jasmani maupun para pelatih , dalam kegiatan mengajar atau membina siswanya.
Kenyataan ini merupakan kendala dan sekaligus menjadi tantangan bagi para guru pendidikan jasmani. Bagaimana membangkitkan motivasi siswa, bagaimana mengemas perencanaan tugas ajar nomor jalan dan lari agar dapat diterima dan diperhatikan secara antusias oleh siswa dalam mengikutinya. Permainan jalan dan lari dalam atletik tidak berarti menghilangkan unsur keseriusan, mengabaikan unsur ketangkasan atau menghilangkan substansi pokok materi atletik.
Akan tetapi permainan jalan dan lari dalam atletik berisikan seperangkat gerak dasar umum maupun gerak dasar dominan jalan dan lari dalam atletik yang disajikan dalam bentuk permainan yang bervariasi dengan memperkaya perbendaharaan gerak dasar. Kegiatannya didominasi oleh pendekatan eksplorasi dalam suasana kegembiraan dan diperkuat oleh pemenuhan dorongan berkompetisi sesuai dengan tingkat perkembangan anak, baik yang menyangkut perkembangan kognitif, emosional maupun perkembangan geraknya
2) Nilai yang terkandung dalam pembelajaran jalan dan lari.
Agar pembelajaran nomor jalan dan lari itu dapat berhasil dengan baik, maka unsur-unsur bermain harus menjadi pokok pertimbangan penyelenggaraan.
Nilai-nilai yang terkandung tersebut seperti dikemukakan Hans Katzenbogner/Michael Medler. (1996)., adalah:
a) Pengembangan dimensi bermain
b) Pengembangan dimensi variasi gerakan c) Pengembangan dimensi irama atletik commit to user
d) Pengembangan dimensi kompetisi e) Pengembangan pengalaman
Unsur yang terkandung dalam permainan adalah kegembiraan atau keceriaan. Tanda-tanda menuju ke arah permainan yang menggembirakan tersebut antara lain:
§ Menanamkan kegemaran berlomba atau berkompetisi dalam situasi persaingan yang sehat, penuh tantangan dan kegembiraan
§ Unsur kegembiraan dan kepuasan harus tercermin dalam bentuk praktek. § Memberikan kesempatan untuk unjuk kemampuan atau ketangkasan yang
dikuasainya.
Para ahli pendidikan jasmani telah menelusuri dan menyimpulkan bahwa pada dasarnya aktivitas fisik dalam konteks pendidikan jasmani, kaya akan nilai-nilai kompetisi. Sehingga di antara mereka telah sepakat bahwa pendidikan jasmani merupakan salah satu media yang paling ampuh untuk mengarahkan anak dalam menginternalisasi budaya bersaing. Demikian pula dalam pembelajaran nomor jalan dan lari dalam atletik dimana setiap individu akan berhadapan dengan individu lain atau bahkan dengan dirinya sendiri. Karenanya kompetisi dalam arti yang positif sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Atletik yang berorientasi pada hasil, akan memungkinkan anak menjadi bosan dan kurang kreatif dalam menerima pengalaman gerak. Padahal dengan berorientasi pada pengalaman gerak yang seluas-luasnya akan memberikan kepuasan tersendiri pada diri si anak.
Pembelajaran jalan dan lari yang penuh dengan suasana keriangan dan kegembiraan bermain yang mempesona dengan berbagai macam variasi gerak, memungkinkan anak untuk menikmati seperti layaknya pada permainan olahraga lain. Namun substansi pokok jalan dan lari tetap terkandung di dalamnya, sehingga unsur variasi, irama, pengalaman atletik sarta pengalaman kompetisi tetap terpelihara.Tujuan dan manfaat implementasi pembelajaran jalan dan lari.
c. Prinsip-prinsip Pembelajaran.
Supaya mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang arah pembelajaran gerak dasar jalan dan lari, maka sebaiknya para guru mengetahui dulu rangkaian gerak jalan dan lari itu secara utuh seperti diperlihatkan pada gambar 1, 2 dan 3. Hal tersebut perlu dilakukan agar guru penjas dalam memberikan aktivitas pembelajaran berbagai bentuk gerak dasar jalan dan lari yang tidak terputus dengan tuntutan teknis maupun mekanika gerak.
Gambar 1 : Rangkaian Gerak Jalan Cepat
(Buku sumber : Hans Katzenbogner/Michael Medles ;1996),
Berjalan adalah bergerak maju dengan melangkahkan kaki yang dilakukan sedemikan rupa, dimana salah satu kaki selalu berhubungan/kontak dengan tanah.
Pada gambar 2 dan 3 diperlihatkan rangkaian gerak start jongkok dan rangkaian gerak lari sprint.
Gambar 2 : Rangkaian Gerak Start Jongkok
Gambar 3 : Rangkaian Gerak Lari (Sprint)
(Buku sumber : Hans Katzenbogner/Michael Medles ;1996),
Aktivitas gerak dasar jalan dan lari pada dasarnya hampir sama, yaitu didominasi oleh gerak melangkahkan kedua kaki diimbangi oleh gerak ayunan lengan yang harmonis. Jalan dan lari termasuk pada katagori keterampilan gerak siklis. Tujuan dari jalan dan lari adalah menempuh suatu jarak tertentu (tanpa rintangan atau melewati rintangan) secepat mungkin. Gerak dominan yang utama dari gerak lari adalah gerakan langkah kaki dan ayunan lengan. Sedangkan aspek lain yang perlu diperhatikan pada saat berlari adalah: kecondongan badan (disesuaikan dengan jenis /type lari), pengaturan napas, dan harmonisasi gerakan lengan dan tungkai. Sedangkan yang paling menentukan kecepatan lari seseorang adalah panjang langkah x kekerapan langkah.
Langkah kaki terdiri dari tahap menumpu dan tahap melayang.
Sedangkan gerakan kaki mulai tahap menumpu kemudian mendorong (kaki tolak) sedangkan kaki ayun melakukan gerak pemulihan dan gerak ayunan Kaki tumpu :Mendaratlah pada telapak kaki bagian depan, lurus kedepan. Mata kaki, lutut dan pinggul diluruskan penuh selama tahap mendorong Kaki ayun :Kaki ditekuk selama masa pemulihan. Lutut angkat ke depan atas pada tahap mengayun
Gerakan kaki.
o Gerak dorong dari kaki belakang
o Gerakan kaki mendatar bukan melompat
Gerakan lengan : Ayunkan lengan ke depan dan ke belakang, ke depan setinggi bahu, ke belakang lewat panggul. Sudut sikut sekitar 90 derajat
Gerakan lengan.
o Bahu rilex, sikut di ayun pada sudut 90 derajat o Ayunan gerak lengan yang wajar.
Gerakan pinggang
o Berjalan dengan gerak memutar pada sendi panggul o Sendi panggul yang fleksibel
Secara umum gerak dasar dominan lari meliputi : start, gerak lari dan finish. Start pada lari sprint harus dilakukan dengan start jongkok, sedangkan untuk lari jarak menengah dan jauh menggunakan start berdiri. Aba-aba start pada lari sprint ada tiga yaitu “Bersedia-Siap-Ya (tembakan pistol)”. Sedangkan pada lari jarak menengah dan jauh hanya dua yaitu “Bersedia dan Ya”.
Tujuan start pada lari sprint adalah meninggalkan start blok secepat mungkin. Karena jarak larinya pendek dan sepanjang jarak lari menggunakan kecepatan maksimum, maka teknik start menjadi salah satu kunci keberhasilan seorang pelari.
3. Media Pembelajaran
Beberapa pertimbangan untuk pengembangan pembelajaran tersebut antara lain: Peluang pengembangan alat bantu .
o Alat bantu yang akan digunakan untuk aktivitas pembelajaran nomor-nomor lempar masih terbuka untuk diadakan dan dikembangkan. Pengembangan tersebut bisa dengan memanfaatkan alat-alat bantu sederhana yang ada di sekitar lingkungan sekolah atau dicari dari lingkungan kita sendiri.
o Alat-alat bantu itu bisa dibuat dan diproduksi untuk bisa dijual dan dipasok ke sekolah-sekolah umum.
o Atau kalau perlu dengan mengadakan alat bantu modern Peluang pengembangan bentuk dan aktivitas pembelajaran.
o Aktivitas pembelajaran masih sangat terbuka untuk dikemas ditata dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan perkembangan psikis maupun fisik siswa kita. Kita bisa mengurangi atau menambah bentuk kegiatan disesuaikan dengan siswa kita.
o Karena pada dasarnya aktivitas pembelajaran tersebut untuk mengembangan kemampuan gerak dasar lempar bukan semata untuk mencapai prestasi, jadi siapapun dia (sebagai siswa) bisa saja melakukan aktivitas tersebut dalam batas-batas keadaan fisik dan psikis mereka.
o Cari dan pilihlah bentuk dan aktivitas kegiatan pembelajaran gerak dasar nomor lempar yang sesuai dengan kelainan yang dimiliki oleh siswa kita, agar hasilnya bisa optimal.
a. Bermain
Teori-teori tentang upaya meningkatkan kebugaran tubuh telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Dalam hubungannya dengan penelitian ini, penulis mencoba menggunakan model pembelajaran beraktivitas jasmani sambil bermain. Aktivitas ini merupakan salah satu metode yang tepat dimana keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sekalipun sambil bermain mereka sudah melaksanakan kegiatan jasmani sebagai upaya untuk menjaga kebugaran tubuh. Hal ini sangat bagus untuk melatih kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa.
Dikemukakan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan bermain merupakan variabel bebas (independent variable), sedangkan tingkat kesegaran jasmani siswa sebagai variabel terikat (dependent variable).
b. Pendekatan Pembelajaran dengan Model Bermain
Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor
usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka.
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.
B.Kerangka Berfikir.
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mempu melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang sesuai dengan konsep yang dipelajari. Permasalahan yang sering terjadi dalam pembelajaran pendidikan jasmani khususnya pada metode atau cara menyampaikan materi pelajaran. Sering kali materi yang diajarkan oleh guru kurang tertanam kuat dalam benak siswa. Khususnya dalam pembelajaran gerak dasar lari 60 meter. Siswa kurang mampu menganalisis gerakan yang telah diajarkan oleh guru, sebab guru hanya menyampaikan materi secara verbal adapun memberikan demontrasi atau contoh kurang dapat ditangkap oleh siswa secara optimal. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa, siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan berfikir dalam menyelesaikan masalah yang sesuai dengan materi pembelajaran
Permasalahan umum dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah kurang peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran yang berlangsung belum mewujudkan adanya partisipasi siswa secara penuh. Siswa berperan sebagai obyek pembelajaran, yang hanya mendengarkan dan mengaplikasikan apa yang disampaikan guru. Selain itu proses pembelajaran kurang mengoptimalkan penggunaan metode pembelajaran yang dapat merangsang peran aktif siswa
Kurang kreatifnya guru yang dapat mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa antara lain kurang dalam membuat dan mengembangkan metode commit to user
pembelajaran, guru kurang akan metode-metode pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang monoton, guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan, dan hanya mengejar materi tersebut dapat selesai tepat waktu, tanpa memikirkan bagaimana pembelajaran tersebut bermakna dan dapat diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan nyata.
Secara garis besar kerangka berfikir dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan dalam diagram berikut ini :
Gambar 4. Kerangka Berfikir Kondisi
awal
guru : kurang mampu
mengotrol keadaan siswa pada materi gerak dasar lari 60 meter
Melalui alat pembelajaran kardus siswa lebih mudah mudah menganalisis gerakan dan meningkatkan penguasaan gerak dasar gerak dasar lari 60 meter, melalui penerapan model bermain memindahkan kardus, sehingga mampu mempraktikannya secara mandiri dan kelompok menerapkan pembelajaran menggunakan alat bantu pembelajaran Kondisi akhir Tindak an Siswa :
- Tidak mampu menyerap serta menganalisis materi gerak dasar lari 60 meter yang
disampaikan oleh guru - Hasil belajar siswa rendah - Kualitas gerak dasar lari 60 meter melalui menerapan model bermain memindahkan kardus
Siklus 1
guru dan peneliti meyusun bentuk pengajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar lari 60 meter, melalui penerapan model bermain memindahkan kardus
Siklus 2:
Upaya perbaikan dari tindakan siklus 1 sehingga meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar lari 60 meter, melalui penerapan model bermain memindahkan kardus
21 BAB III
METODE PENELITIAN A.Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian :
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Wonotungal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang.
2. Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai dengan bulan Maret 2012.
B.Bentuk Strategi Penelitian
Subyek Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Wonotungal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang dengan jumlah siswa 22 dengan rincian jumlah siswa putri 11 dan siswa putra 11
C. Data dan Sumber data 1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh melalui observasi langsung lokasi penelitian, mengenai proses pembelajaran lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012, berupa data aktifitas dan hasil belajar siswa
2. Jenis Variabel
Dalam penilaian terdapat satu variabel bebas (independent) dan satu variabel terikat (dependent), yaitu :
a. Variabel bebas (independent), yakni variabel yang mempengaruhi variabel lain, variabel bebas dalam penelitian ini adalah : melalui penerapan model bermain memindahkan kardus
b. Variabel terikat (dependent), yakni variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, variabel terikat dalam penelitian ini adalah : lari 60 meter
c. Sumber data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut : a. Siswa, untuk mendapatkan data tentang lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012 b. Guru sebagai kolaborator, untuk melihat tingkat keberhasilan optimalisasi
penggunaan penerapan alat bantu pembelajaran lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012
D.Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data penelitian tindakan kelas ini diantaranya : Tes praktik, observasi lapangan. Menurut H.E Mulyana (2009 : 183) data penelitian kumpulkan dan disusun melalui teknik pengumpulan data meliputi : Sumber data, Jenis data, Teknik pengumpulan data, pengumpulan data, dan instrument yang digunakan.
Secara terperinci teknik pengumpulan data pada penelitian dapat dideskripsikan dalam table berikut :
No Jenis Data Subyek Teknik Pengumpulan Data Insrumen
1 2 3 4 5 1 Aktivitas belajar lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus Siswa
Unjuk kerja ketrampilan lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus
Tes ketrampilan lari 60 meter melalui penerapan
model bermain
memindahkan kardus
Unjuk kerja lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus
Pedoman observasi
pelaksanaan kemampuan gerak dasar lari 60 meter melalui penerapan model
bermain memindahkan
kardus
2
Hasil belajar lari 60 meter melalui penerapan model bermain
Siswa Afektif
Skala sikap melalui
observasi lapangan
(sesuai dengan rubric penilaian aspek afektif pada RPP)
memindahkan kardus
Kognitif
Soal tes (sesuai dengan rubric penilaian aspek kognitif pada RPP)
Psikomotor
Unjuk kerja praktik yang
meliputi kemampuan
teknik dasar lari 60 meter melalui penerapan model
bermain memindahkan
kardus
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi informasi tentang keadaan siswa dilihat dari aspek kuantitatif dan kualitatif. Aspek kuantitatif yakni hasil pengukuran ketrampilan lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012. Sedangkan aspek kualitatif didasarkan atas hasil pengamatan dan catatan pembelajaran selama penelitian berlangsung
E.Uji Validasi Data
Cara untuk menembangkan validasi data penelitian. Trianggulasi merupakan cara yang paling umum digunakan bagi peningkatan validasi data dalam penelitian. Trianggulasi yang digunakan, yaitu :
1. Trianggulasi data; 2. Trianggulasi sumber; 3. Trianggulasi metode
Validasi data PTK ini manggunakan :
1. Trianggulasi data yaitu data yang sama akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda.
2. Trianggulasi sumber yaitu mengkroscekkan data yang diperoleh dengan informan atau nara sumber yang lain baik dari siswa, guru lain atau pihak-pihak yang lain (Kepala Sekolah, rekan guru, orang tua/wali murid)
3. Trianggulasi metode yaitu mengumpulkan data dengan metode yang berbeda agar hasilnya lebih mantap (metode observasi, dan tes) sehingga didapat hasil yang akurat mengenai subyek.
F. Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Deskripsi kualitatif. Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen (dalam Lexy J Moleong, 2007 : 248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya dengan satuan yang dapat dikelola, mengsintetiskan data, mencari dan memutuskan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari juga memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain
G.Indikator Kinerja Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengukur sejauhmana hasil belajar lari 60 meter melalui penerapan modifikasi alat bantu kaedus, dan untuk mengetahui serta mengukur sejauhmana aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani. Untuk melihat hasil belajar dari sebuah proses dapat dilihat dari pencapaian hasil yang sudah dilaksanakan dengan hasil yaitu 84.% dapat dikatakan berhasil tuntas.
H.Prosedur penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Menurut Supandi (2008 : 104) yakni penelitian tindakan yang diawali dengan perencanaan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi tindakan (observation and
evaluation), dan melakukan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan
atau peningkatan yang diharapkan tercapai (criteria keberhasilan). Penjelasan pengenai alur penelitian tindakan tersebut dipaparkan melalui penjelasan sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning) adalah tahap dimana dijelaskannya apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana penelitian itu dilakukan
2. Penerapan tindakan (Action) adalah tahap implementasi atau pelaksanaan rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan sebelumnya.
3. Observasi dan Evaluasi Tindakan (observation and evaluation) adalah tahap pengamatan dan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan selama penelitian berlangsung.
4. Refleksi (reflecting) adalah tahap pengungkapan kembali hasil observasi dan evaluasi dala penerapan tindakan dalam diskusi, sehingga dapat digunakan untuk merancang program penelitian siklus berikutnya.
Keempat tahap yang telah dipaparkan diatas tersebut merupakan rancangan tindakan dalam satu siklus penelitian, pada siklus berikutnya rancangan program penelitian yang digunakan berpedoman pada hasil refleksi yang dihasilkan pada siklus sebelumnya, begitu seterusnya hingga target penelitian tercapai.
Tahapan siklus pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat diterangkan melalui gambar sebagai berikut :
Gambar 5. Alur Tahapan Siklus penelitian Tindakan Kelas
Prosedur penelitian adalah langkah-langkah yang harus dilalui oleh peneliti dalam nenerapkan metode yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan tindakan yang berlangsung secara terus menerus pada subyek penelitian
Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara prosedurnya dilaksanakan secara partisipasif atau kolaborator antara (guru, dengan tim lainnya)
Tahap I Perencanaan Tahap II Pelaksanaan dan Observasi Tahap III Refleksi SIKLUS I Tahap I Perencanaan Tahap III Refleksi Tahap II Pelaksanaan dan Observasi SIKLUS II commit to user
bekerja sam, mulai dari tahap orientasi hingga penyusunan rencana tindakan dalam siklus pertama, diskusi yang bersifat analik kemudian dilanjutkan dengan refleksi-evaluatif atas kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama, untuk kemudian mempersiapkan rencana modifikasi, koreksi atau pembetulan, dan menyempurnakan pada siklus berikutnya
Untuk memperoleh hasil penelitia tindakan seperti yang diharapkan, prosedur penelitian secara keseluruhan meliputi tahap-tahap sebagai berikut: 1. Tahap persiapan survey awal
Kegiatan yang dilakukan pada tahao ini adalah mengobservasi sekolah atau kelas yang akan dijadikan sebagai tempat Penelitian Tindakan Kelas. Meninjau bagaimana pelaksanaan pembelajaran lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus diterapkan dalam sekolah
2. Tahap seleksi informen, penyiapan instrument, dan alat Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, adalah : a. Menentukan subyek penelitian
b. Menyiapkan metode dan instrument penelitian serta evaluasi 3. Tahap pengumpulan data atau tindakan
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan tabulasi data penelitian yang terdiri atas :
a. Hasil kondisi awal ketrampilan lari 60 meter b. Kemampuan siswa terhadap proses pembelajaran c. Pelaksanaan pembelajaran
d. Partisipasi dan keaktifan siswa 4. Tahap analisis data
Dalam tahap ini analisis data dikumpulkan yaitu dengan deskriptif kualitatif. Teknik analisis tersebut dilakukan karena data yang terkumpul berupa uraian deskripstif tentang perkembangan belajar serta tes ketrampilan lari 60 meter. Serta tes lari 60 meter yang dideskripsikan melalui hasil Kualitatif
5. Tahap penyusunan laporan
Pada tahap ini disusun laporan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas dari awal survey hingga menganalisis data yang dilakukan dalam penelitian
6. Deskripsi tiap siklus
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah peningkatan penguasaan lari 60 meter melalui penerapan model bermain memindahkan kardus pada siswa kelas V SD Negeri Wonotunggal 01 kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012. Setiap tindakan upaya pencapaian tujuan tersebut dirancang dalam satu unit sebagai satu siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu 1. Perencanaan tindakan; 2. Pelaksanaan tindakan; 3. Observasi dan interprestasi; 4. Analisis dan refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya
Pra Siklus
1. Tahap perencanaan
Perencanaan dalam kegiatan penelitian ini antara lain :
a. Menentukan kelas yang akan menjadi subyek penelitian, dalam hal ini kelas V
b. Menyusun alat evaluasi untuk pengambilan data. c. Menyusun lembar observasi
d. Menyusun angket
2. Tahap pelaksanaan dan observasi a. Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan meliputi menyiapkan siswa baris, berdo’a, presensi, menginformasikan kompetensi dasar, tujuan yang hendak dicapai, indicator keberhasilan, materi pembelajaran, metode pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pemanasan dan peregangan
b. Kegiatan Inti
1) Penilaian tahap pertama/pre tes (pra siklus)
Untuk mengetahui kondisi awal subyek penelitian dalam hal ini adalah siswa kelas V tentang prestasi lari 60 meter
2) Pelaksanaan dan observasi
a) Secara perorangan siswa lekakukan gerakan ketrampilan lari 60 meter, commit to user
b) Secara perorangan siswa melakukan start awal lari 60 meter c) Secara perorangan siswa melakukan lari 60 meter
d) Aspek yang dinilai
(1) Posisi kaki saat melakukan start awal (2) Posisi saat posisi lari
(3) Posisi saat mengayunkan lengan (4) Posisi saat melangkahkan kaki
(5) Posisi saat garis finish/sampai pada garis akhir
(6) Setiap aspek penilaian diberi skor 1 sampai 4, adapun nilainya adalah jumlah skor dibagi 12. Skor maksimal adalah 12
c. Kegiatan Akhir
Siswa dikumpulkan, dibariskan kemudian diberitahu hasil tes penilaian yang telah dilakukan. Agar mereka mengetahui kemampuan lari 60 meter. Dan siswa disuruh mengisi angket sikap dan menjawab pertanyaan-pertanyaan konsep lari 60 meter.
3. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan selama pelaksanaan pembelajaran lari 60 meter oleh kolaborator mencatat hal-hal penting dalam proses pembelajaran. Setelah proses pembelajaran selesai peneliti dan kolaborator mengadakan pertemuan untuk mengadakan diskusi membahas kegiatan yang baru saja berlangsung. Dalam pertemuan ini dievaluasi tentang kelemahan dan kelebihan jalannya proses pembelajaran. Peneliti dan kolaborator saling bertukar pikiran, memberikan masukan untuk perbaikan selanjutnya. Dan menjadi bahan perencanaan dalam siklus I
Siklus ke. I
1. Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti dan guru kelas menyusun scenario pembelajaran yang terdiri dari :
a. Menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) lari 60 meter b. Menyusu instrument tes ketrampilan lari 60 meter commit to user
c. Menyusun lembar penilaian dan hasil pembelajaran d. Menyusun lembar observasi
e. Menyiapkan lembar tes
f. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam pembelajaran g. Menyiapkan tempat pelaksanaan
h. Sosialisasi kepada subyek.
2. Tahap pelaksanaan dan Observasi a. Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan meliputi menyiapkan siswa baris, berdo’a, presensi, menginformasikan kompetensi dasar, tujuan yang hendak dicapai, indicator keberhasilan, materi pembelajaran, metode pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pemanasan dan peregangan
b. Kegiatan Inti
1) Penilaian tahap pertama/pre tes (pra siklus)
Untuk mengetahui kondisi awal subyek penelitian dalam hal ini adalah siswa kelas V tentang prestasi lari 60 meter
2) Strategi pelaksanaan dengan menggunakan model peragaan dan penugasan
a) Guru memberikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator gerak lari cepat.
b) Siswa mempelajari tugas ajar dan indikator keberhasilannya.
c) Siswa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai ketuntasan tugas ajar
d) Siswa melaksanakan tugas ajar sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan sendiri.
e) Bagi siswa yang belum mampu mencapai target belajar sesuai dengan alokasi waktunya, maka mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki target waktu.
f) Bagi siswa yang telah berhasil mencapai target sesuai dengan waktu atau lebih cepat, maka mereka diberi kesempatan untuk mencoba lari cepat dengan dilombakan dengan teman sekelasnya. commit to user
g) Guru mengatur siswa agar berpasang-pasangan.
h) Guru membagikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator tugas gerak kepada setiap pasangan.
i) Siswa mempelajari tugas gerak dan indikator keberhasilannya
j) Siswa membagi tugas, siapa yang pertama kali menjadi pelaku dan siapa yang menjadi pengamat.
k) Siswa melaksanakan tugas gerak, dan berganti peran bilamana pelaku sudah berhasil menampilkan gerak sesuai dengan indicator yang telah ditentukan.
l) Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
c. Kegiatan Akhir
Siswa dikumpulkan, dibariskan kemudian diberitahu hasil tes penilaian yang telah dilakukan. Agar mereka mengetahui kemampuan lari 60 meter. Dan siswa disuruh mengisi angket sikap dan menjawab pertanyaan-pertanyaan konsep lari 60 meter.
3. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan selama pelaksanaan pembelajaran lari 60 meter oleh kolaborator kolaborator yang bertindak sebagai observer. Setiap kemajuan yang terjadi pada siswa maupun suasana kelas dicatat
4. Refleksi
Setelah data yang diperoleh dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi. Refleksi dilakukan dengan melihat data penilaian kondisi awal dengan data prestasi belajar pada siklus I. jika keberhasilan atau indicator ini tercapai berdasarkan kesepakatan peneliti dan kolaborator maka PTK dilanjutkan ke siklus II
Siklus II
1. Tahap perencanaan
Kelemahan-lekemahan yang muncul pada siklus I didiskusikan bersama dengan observer yang bertindak sebagai kolaborator, untuk mencari cara yang dapat meningkatkan proses pembelajaran baik dalam prestasi belajar dan motivasi
2. Tahap pelaksanaan dan Observasi a. Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan meliputi menyiapkan siswa baris, berdo’a, presensi, menginformasikan kompetensi dasar, tujuan yang hendak dicapai, indicator keberhasilan, materi pembelajaran, metode pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pemanasan dan peregangan
b. Kegiatan Inti
1) Pelaksanaan dan observasi
a) Guru mengatur siswa agar melakukan barisan sesuai denga urutan barisannya untuk melakukan kegiatannya.
b) Guru memberikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator gerak lari 60 meter.
c) Siswa mempelajari tugas ajar dan indikator keberhasilannya.
d) Siswa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai ketuntasan tugas ajar
e) Siswa melaksanakan tugas ajar sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan sendiri.
f) Bagi siswa yang belum mampu mencapai target belajar sesuai dengan alokasi waktunya, maka mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki target waktu.
g) Bagi siswa yang telah berhasil mencapai target sesuai dengan waktu atau lebih cepat, maka mereka diberi kesempatan untuk mencoba lari 60 meter dengan dilombakan dengan teman sekelasnya.
h) Guru mengatur siswa agar berpasang-pasangan.
i) Guru membagikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator tugas gerak kepada setiap pasangan.
j) Siswa mempelajari tugas gerak dan indikator keberhasilannya.
k) Siswa membagi tugas, siapa yang pertama kali menjadi pelaku dan siapa yang menjadi pengamat.
l) Siswa melaksanakan tugas gerak, dan berganti peran bilamana pelaku sudah berhasil menampilkan gerak sesuai dengan indicator yang telah ditentukan.
m) Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
2) Kegiatan Akhir
Siswa dikumpulkan, dibariskan kemudian diberitahu hasil tes penilaian yang telah dilakukan. Agar mereka mengetahui kemampuan lari 60 meter. Dan siswa disuruh mengisi angket sikap dan menjawab pertanyaan-pertanyaan konsep lari 60 meter.
3. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan selama pelaksanaan pembelajaran lari 60 meter oleh kolaborator kolaborator yang bertindak sebagai observer. Setiap kemajuan yang terjadi pada siswa maupun suasana kelas dicatat
4. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti dan kolaborator melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus II dan menyusun rencana ulang untuk memasuki siklus III. Tetapi jika pada akhir siklus II ini telah terjadi pencapaian indicator akhir, maka siklus III tidak diperlukan lagi. Akhir siklus II ini peneliti dan kolaborator melakukan refleksi secara komprehensif dan membuat kesimpulan analisis bahwa action/tindakan yang dilakukan telah berhasil meningkatkan proses dan hasil pembelajaran pensisikan jasmani.