• Tidak ada hasil yang ditemukan

truly a child dari PBB. Hal ini dikarenakan peran PBB terhadap Indonesia pada masa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "truly a child dari PBB. Hal ini dikarenakan peran PBB terhadap Indonesia pada masa"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN KULIAH HUKUM ORGANISASI INTERNASIONAL Match Day 15

KETERLIBATAN INDONESIA DALAM ORGANISASI INTERNASIONAL (BAGIAN 3)

K. PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (PBB)

1. Sekilas Diplomasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa1

Indonesia resmi menjadi anggota PBB ke-60 pada tanggal 28 September 1950 dengan suara bulat dari para negara anggota. Hal tersebut terjadi kurang dari setahun setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. Indonesia dan PBB memiliki keterikatan sejarah yang kuat mengingat kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tahun 1945, tahun yang sama ketika PBB didirikan dan sejak tahun itu pula PBB secara konsisten mendukung Indonesia untuk menjadi negara yang merdeka, berdaulat, dan mandiri. Oleh sebab itu, banyak negara yang mendaulat Indonesia sebagai “truly a child” dari PBB. Hal ini dikarenakan peran PBB terhadap Indonesia pada masa revolusi fisik cukup besar seperti ketika terjadi Agresi Militer Belanda I, Indonesia dan Australia mengusulkan agar persoalan Indonesia dibahas dalam sidang umum PBB. Selanjutnya, PBB membentuk Komisi Tiga Negara yang membawa Indonesia-Belanda ke meja Perundingan Renville. Ketika terjadi Agresi militer Belanda II, PBB membentuk UNCI yang mempertemukan Indonesia-Belanda dalam Perundingan Roem Royen.

Pemerintah RI mengutus Lambertus Nicodemus Palar sebagai Wakil Tetap RI yang pertama di PBB. Duta Besar Palar bahkan telah memiliki peran besar dalam usaha mendapatkan pengakuan internasional kemerdekaan Indonesia pada saat konflik antara Belanda dan Indonesia pada tahun 1947. Duta Besar Palar memperdebatkan posisi kedaulatan Indonesia di PBB dan di Dewan Keamanan walaupun pada saat itu beliau hanya sebagai "peninjau" di PBB karena Indonesia belum menjadi anggota pada saat itu. Pada saat berpidato di muka Sidang Majelis Umum PBB ketika Indonesia diterima sebagai anggota PBB, Duta Besar Palar berterima kasih kepada para pendukung Indonesia dan berjanji bahwa Indonesia akan melaksanakan kewajibannya sebagai anggota PBB. Posisi Wakil Tetap RI dijabatnya hingga tahun 1953.

Sebagai negara anggota PBB, Indonesia dalam menyelesaikan sengketa Irian Jaya dengan Belanda mengupayakan solusi dengan mengajukan penyelesaian permasalahan tersebut kepada PBB pada tahun 1954. Posisi Indonesia ini didukung oleh Konferensi Asia Afrika pada bulan April 1955 yang mengeluarkan sebuah resolusi untuk mendukung

1

Keseluruhan materi pada bagian ini dicuplik dari

http://www.kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=12&P=Multilateral&l=i, yang diunduh pada hari Kamis 15 Desember 2011 Jam 23.45 Wita.

(2)

Indonesia dan kemudian meminta PBB untuk menjembatani kedua pihak yang berkonflik dalam meraih solusi damai. Namun demikian, hingga tahun 1961 tidak ada indikasi solusi damai meskipun dalam faktanya isu tersebut dibahas dalam rapat pleno Majelis Umum PBB dan di Komite I.

Pada Sidang Majelis Umum PBB ke-17 tahun 1962, penyelesaian sengketa tersebut akhirnya menemukan titik terang dengan dikeluarkannya Resolusi No. 1752 yang mengadopsi ”The New York Agreement” pada 21 September 1962. Selanjutnya, United Nations Executive Authority (UNTEA) sebagai badan yang diberi mandat oleh PBB untuk melakukan transfer kekuasaan Irian Jaya dari Belanda kepada Indonesia menjalankan tugasnya secara efektif mulai 1 Oktober 1962 dan berakhir pada 1 Mei 1963.

Menanggapi keputusan PBB untuk mengakui kedaulatan Malaysia dan menjadikan Malaysia anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Presiden Soekarno mengumumkan pengunduran diri Indonesia dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 Januari 1965. Setelah pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, Pemerintah Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia “bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB”, dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima untuk pertama kalinya.

Sebagai kelanjutan penyelesaian masalah Irian Barat, Pemerintah Indonesia melaksanakan "Pepera" di Irian Jaya (Papua) di bawah pengawasan PBB tahun 1969. Pelaksanaan Pepera dilakukan secara demokratis dan transparan dengan melibatkan masyarakat Irian Jaya serta melibatkan partisipasi, bantuan, dan saran PBB melalui utusan khususnya yaitu Duta Besar Ortiz Sanz dari Bolivia.

Pada akhirnya Pepera telah diterima oleh masyarakat internasional melalui sebuah Resolusi No. 2504 dalam Sidang Umum PBB ke-24 pada 19 November 1969 yang mengukuhkan perpindahan kekuasaan di wilayah Irian Jaya dari Belanda kepada Indonesia. Sebagai anggota PBB, Indonesia terdaftar dalam beberapa lembaga di bawah naungan PBB. Misalnya, ECOSOC (Dewan Ekonomi dan Sosial), ILO (Organisasi Buruh Internasional), maupun FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian). Salah satu prestasi Indonesia di PBB adalah saat Menteri Luar Negeri Adam Malik menjabat sebagai ketua sidang Majelis Umum PBB untuk masa sidang tahun 1974.

Indonesia juga terlibat langsung dalam pasukan perdamaian PBB. Dalam hal ini Indonesia mengirimkan Pasukan Garuda untuk mengemban misi perdamaian PBB di berbagai negara yang mengalami konflik.

(3)

Pencapaian Indonesia di Dewan Keamanan (DK) PBB adalah ketika pertama kali terpilih sebagai anggota tidak tetap DK PBB periode 1974-1975. Indonesia terpilih untuk kedua kalinya menjadi anggota tidak tetap DK PBB untuk periode 1995–1996. Dalam keanggotaan Indonesia di DK PBB pada periode tersebut, Wakil Tetap RI Nugroho Wisnumurti tercatat dua kali menjadi Presiden DK-PBB. Terakhir, Indonesia terpilih untuk ketiga kalinya sebagai anggota tidak tetap DK PBB untuk masa bakti 2007–2009. Proses pemilihan dilakukan Majelis Umum PBB melalui pemungutan suara dengan perolehan 158 suara dukungan dari keseluruhan 192 negara anggota yang memiliki hak pilih.

Di Komisi Hukum Internasional PBB/International Law Commission (ILC), Indonesia mencatat prestasi dengan terpilihnya mantan Menlu Mochtar Kusuma Atmadja sebagai anggota ILC pada periode 1992-2001. Pada pemilihan terakhir yang berlangsung pada Sidang Majelis Umum PBB ke-61, Duta Besar Nugroho Wisnumurti terpilih sebagai anggota ILC periode 2007-2011, setelah bersaing dengan 10 kandidat lainnya dari Asia.

Indonesia merupakan salah satu anggota pertama Dewan HAM dari 47 negara anggota PBB lainnya yang dipilih pada tahun 2006. Indonesia kemudian terpilih kembali menjadi anggota Dewan HAM untuk periode 2007-2010 melalui dukungan 165 suara negara anggota PBB.

PBB sebagai organisasi internasional dengan legitimasi yang bersumber dari keanggotaan yang bersifat universal, hendaknya selalu menjadi forum penanganan berbagai tantangan dan krisis global yang semakin kompleks di masa mendatang. Reformasi PBB khususnya Dewan Keamanan agar lebih mencerminkan kondisi politik dunia saat ini penting dimajukan agar upaya ini dapat efektif dan memiliki nilai legitimasi. Indonesia akan terus berada di garis depan dalam memajukan peranan PBB mengatasi krisis global dan pada saat yang sama menyerukan perlunya reformasi PBB.

Berikut ini adalah para Wakil Tetap RI yang pernah dan sedang mewakili Indonesia di PBB:

1. Lambertus Nicodemus Palar, 1950-1953 2. Sudjarwo Tjondronegoro, 1953-1957 3. Ali Sastroamidjojo, 1957-1960 4. Soekardjo Wirjopranoto, 1960-1962 5. Lambertus Nicodemus Palar,1962-1965 6. Dr. H. Roeslan Abdulgani, 1967-1971 7. Yoga Soegomo, 1971-1974

8. Ch. Anwar Sani, 1974-1979 9. Abdullah Kamil,1979-1982

(4)

10. Ali Alatas, 1982-1988 11. Nana Sutresna, 1988-1992 12. Noegroho Wisnumurti, 1992-1997 13. Makarim Wibisono, 1997-2001 14. Makmur Widodo, 2001-2004 15. Rezlan Ishar Jenie, 2004-2007

16. R.M. Marty M. Natalegawa, 2007-2009 17. Hassan Kleib, 2010

2. Partisipasi Indonesia dalam Pasukan Misi Perdamaian PBB2

Peacekeeping Operations (PKO)/Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP) merupakan “flagship enterprise” dari PBB dalam rangka turut menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Saat ini tercatat lebih dari 122.000 personil baik militer, polisi, maupun sipil yang berpartisipasi di 15 misi. Saat ini, PBB menghadapi tantangan dalam menutup gap antara supply dan demand dalam berbagai MPP.

Pada awalnya peran MPP PBB hanya terbatas pada pemeliharaan gencatan senjata dan stabilisasi situasi di lapangan sehingga usaha-usaha politik untuk menyelesaikan konflik dapat dilakukan. Namun demikian, dengan berakhirnya perang dingin, konteks penggelaran MPP PBB juga berubah dari misi “tradisional” yang mengedepankan tugas-tugas militer, menjadi misi yang lebih “multidimensional“ dalam rangka mengimplementasikan perjanjian damai secara komprehensif dan membantu meletakkan dasar-dasar bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

Sifat dari konflik yang harus dihadapi oleh MPP PBB juga mengalami perubahan. Sebelumnya MPP PBB harus menghadapi konflik antar negara namun saat ini MPP PBB dituntut pula untuk dapat diterjunkan pada berbagai konflik internal dan perang saudara.

Partisipasi Indonesia di dalam Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB (PKOs – Peacekeeping Operations) didasari oleh semangat Pembukaan UUD 1945, khususnya Alinea IV, tentang komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu komitmen tersebut juga tercerminkan di dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia, khususnya dalam hal upaya Indonesia untuk turut berperan aktif menjaga keamanan dan perdamaian internasional. Indonesia memiliki pandangan bahwa keberhasilan dari suatu misi perdamaian sangat bergantung kepada prinsip-prinsip yang telah disepakati oleh seluruh anggota PBB, yaitu: persetujuan dari pihak-pihak yang bertikai (consent), memiliki mandat yang jelas,

2

Keseluruhan materi pada bagian ini dicuplik dari

http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=10&l=id, yang diunduh pada hari Kamis 15 Desember 2011 Jam 23.40 Wita.

(5)

impartiality, dan non-use of force kecuali untuk membela diri dan mempertahan mandat yang diemban dari PBB. Ukuran keberhasilan suatu misi perdamaian dapat dilihat dari kondisi negara yang tengah dilanda konflik. Kehadiran misi perdamaian seharusnya dapat mencegah terjadinya kembali konflik.

Dilihat dari perkembangan jumlah pasukan perdamaian Indonesia di PBB, terdapat peningkatan tajam keterlibatan Indonesia setelah akhir tahun 2006 dengan pengiriman ke UNIFIL. Pra-pengiriman Pasukan Indonesian ke UNIFIL (sebelum tahun 2006), total personil Indonesia hanya pada level 300-an peacekeepers (posisi 44 dunia).

Hingga akhir bulan April 2011, Indonesia terus membuktikan komitmennya dalam pemeliharaan perdamaian dunia antara lain melalui pengiriman personil pada berbagai Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB (Peacekeeping Operations/PKO) dimana partisipasi Indonesia dalam PKO yang terdiri dari komponen militer, polisi dan sipil adalah sebesar 1.801 personil (29 diantaranya perempuan) atau berada pada peringkat 16 terbesar pengirim pasukan perdamaian PBB (T/PCCs- Troop/Police Contributing Countries), dengan perincian sebagai berikut:

a) Haiti (MINUSTAH) – 10 Personil Polisi

b) Congo (MONUSCO) – 175 Pasukan; 12 Pengamat Militer c) Liberia (UNMIL) – 1 Pengamat Militer;

d) Sudan (UNMIS) – 8 Personil Polisi dan 7 Pengamat Militer; e) Sudan (UNAMID) – 5 Pengamat Militer and 140 Personil Polisi; f) Lebanon (UNIFIL) – 1.440 Pasukan;

Indonesia juga telah memiliki visi untuk lebih mengembangkan peran dan partisipasinya di dalam Peacekeeping Operations (PKO)/Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP), khususnya meningkatkan peran ketiga komponen/unsur PKO yaitu; militer, polisi dan sipil. Untuk komponen militer, leading sector pengembangan telah dilakukan oleh Mabes TNI c.q. Pusat Misi Pemiliharaan Perdamaian (PMPP) dan bagi komponen polisi dilaksanakan oleh Mabes Polri yang juga memiliki Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian. Penggelaran Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB dari komponen TNI dan Polri akan tetap menjadi flagship kontribusi Indonesia di dalam berbagai misi perdamaian PBB.

Selain keterlibatan komponen TNI dan Polri, keterlibatan civilian experts semakin penting dan sejalan dengan evolusi dan pembahasan mengenai PKO dimana semakin mengemuka fenomena multidimensional peacekeeping operations dan diperlukannya “rapid deployment standards and ‘on-call’ civilian expertise”.

Sehubungan dengan perkembangan dimaksud, sesuai dengan lingkup tugasnya, Kemlu sedang menyiapkan kapasitas atau hub yang akan menangani civilian experts di

(6)

tanah air dan menjadi venue untuk diseminasi substansi dan kurikulum yang terkait dengan isu-isu yang menjadi penanganan secara khusus oleh ahli-ahli sipil dimaksud. Selain itu, hub atau standing capacity untuk ahli-ahli sipil, sesuai dengan kepentingan polugri, dapat dimanfaatkan untuk partisipasi dan kerjasama yang berdimensi multilateral/PBB regional/kawasan, dan/atau untuk konteks bilateral.

3. Indonesia dan Dewan HAM PBB3

Indonesia telah terpilih sebagai anggota Dewan HAM PBB periode 2011-2014 dengan perolehan suara terbanyak yaitu 184 pada resumed session Sidang Majelis Umum PBB ke-65 di New York, tanggal 20 Mei 2011. Sidang pemilihan dipimpin oleh Presiden Majelis Umum PBB dan 188 negara anggota memberikan suaranya. Selain Indonesia, terdapat 14 negara lain yang terpilih sebagai anggota DHAM untuk periode 2011-2014, yaitu: Filipina, India, Kuwait, Republik Ceko, Rumania, Chili, Kosta Rika, Peru, Italia, Austria, Burkina Faso, Botswana, Kongo, dan Benin.

Untuk pertama kalinya, Indonesia mencapai perolehan suara tertinggi pada pemilihan Dewan HAM. Prestasi ini tidak saja menjadi cerminan pengakuan masyarakat internasional atas pencapaian Indonesia dalam perlindungan HAM, tetapi juga merupakan hasil sinergi antara pusat, perwakilan tetap RI di New York dan Jenewa serta seluruh perwakilan bilateral diplomatik.

Sebelumnya, Indonesia telah menjadi anggota Dewan HAM PBB pada periode 2006-2007 dan 2006-2007-2010. Dapat dicatat bahwa Indonesia merupakan founding member dari Dewan HAM PBB pasca perubahan Komisi HAM PBB menjadi Dewan HAM PBB. Pencalonan kembali Indonesia sebagai anggota Dewan HAM baru bisa dilakukan tahun ini setelah jeda selama 1 tahun. Hal ini sesuai dengan Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 251/60 tentang Dewan HAM PBB yang mengatur bahwa negara tidak boleh mencalonkan diri setelah 2 periode keanggotaan secara berturut-turut.

Dewan HAM merupakan organ Majelis Umum PBB yang bertanggung jawab untuk memajukan penghormatan universal untuk perlindungan hak dan kebebasan dasar bagi semua tanpa diskriminasi; mengatasi situasi pelanggaran HAM di berbagai belahan dunia dan memberikan rekomendasi atas situasi tersebut; dan meningkatkan pemajuan dan perlindungan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta hak atas pembangunan dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip universalitas, keadilan, obyektifitas dan non-selektif, serta melalui dialog dan kerjasama internasional.

3

Keseluruhan materi pada bagian ini dicuplik dari

http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=24&l=id, yang diunduh pada hari Kamis 15 Desember 2011 Jam 23.40 Wita.

(7)

Dewan HAM baru saja menyelenggarakan sidang sesi ke-17 yang berlangsung di Jenewa tanggal 30 Mei – 17 Juni 2011. Sidang tersebut membahas dan mensahkan 27 rancangan resolusi (ranres) dan 2 keputusan. Dari semua ranres dan keputusan tersebut, 19 ranres dan 2 keputusan disahkan secara konsensus, sementara 8 ranres disahkan melaui pemungutan suara. Dalam hal ini, ranres yang disahkan secara konsensus didominasi ranres hak sipil dan politik yang diajukan oleh negara Barat sedangkan ranres yang menyangkut hak ekososbud yang diajukan oleh Negara-Negara berkembang cenderung disahkan melalui pemungutan suara.

Hal lain yang menjadi perhatian dalam sidang adalah pembentukan Working Group on the Issue of Human Rights and Transnational Corporation and Other Business Enterprises yang terdiri atas 5 orang pakar independen dengan memperhatikan keterwakilan wilayah untuk periode 3 tahun. WG tersebut akan dikukuhkan pada Sidang DHAM ke-18. DHAM juga menyepakati untuk memperpanjang mandat Working Group in Trafficking in Person, Especially Women and Children; Working Group on Independence of Judges and Lawyers; Working Group on the Right to Education; Working Group in Extrajudicial, Summary or Arbitrary Execution; dan Working Group on Human Rights and International Solidarity. 4. Indonesia dan Reformasi Dewan Keamanan PBB4

Sejak Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2005, fokus reformasi PBB tertuju pada upaya untuk menjadikan Dewan Keamanan (DK) lebih demokratis dan representatif. Indonesia memandang bahwa DK-PBB perlu direformasi karena tidak lagi mencerminkan realitas geopolitik dan tidak mencerminkan keterwakilan kawasan secara merata. Diperlukan upaya rebalancing antara kawasan dan meningkatkan keterwakilan negara berkembang di DK yang merupakan 2/3 dari seluruh negara anggota PBB.

Negosiasi mengenai reformasi DK hingga saat ini masih berjalan melalui berbagai pembahasan informal plenary Majelis Umum PBB yang difasilitasi oleh Dubes Zahir Tanin (Afghanistan) dan telah menyiapkan negotiating text atas dasar proposal negara-negara yang membahas lima persoalan kunci sebagai berikut:

a) Jenis keanggotaan (Categories of membership) b) Persoalan hak veto (Question of veto)

c) Keterwakilan kawasan (Regional representation)

d) Jumlah anggota DK setelah perluasan serta metoda kerjanya (Size of the enlarged Security Council and its working methods); dan

4

Keseluruhan materi pada bagian ini dicuplik dari

http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=13&l=id, yang diunduh pada hari Kamis 15 Desember 2011 Jam 23.55 Wita.

(8)

e) Hubungan antara DK dengan Majelis Umum PBB (The relationship between the Security Council and the General Assembly).

Dalam pembahasan reformasi DK PBB, isu yang paling contentious adalah mengenai perluasan keanggotaan tetap dan hak veto. Berbagai usulan yang diajukan dalam beberapa tahun terakhir ini (a.l. dari kelompok Uniting for Consensus-UfC, G-4, Kelompok Afrika) belum berhasil menjembatani perbedaan fundamental antara negara-negara anggota PBB.

Dalam mereformasi DK-PBB, Indonesia menilai bahwa segala upaya atau bentuk reformasi harus dilakukan secara komprehensif dan harus dilakukan dalam konteks reformasi PBB secara keseluruhan. Posisi Indonesia terkait pembahasan reformasi DK-PBB di dalam Mejelis Umum (MU) PBB yang membahas lima persoalan kunci sebagaimana yang disampaikan secara tertulis kepada fasilitator negosiasi, 13 Desember 2010 adalah sebagai berikut:

1.Jenis keanggotaan (Categories of membership)

Indonesia berprinsip bahwa perluasan keanggotaan harus diputuskan secara konsensus dan menghindari perpecahan, keanggotaan harus mewakili keseimbangan geografis dan keterwakilan berkembang serta menghindari keterwakilan berlebihan (over representation) bagi kawasan tertentu. Namun, selama konsensus masih sulit dicapai, Indonesia menilai pentingnya pendekatan “intermediate approach” dengan review mechanism setelah 15-20 tahun berlakunya sistem ini untuk dapat mengubah kursi tidak tetap tertentu menjadi kursi anggota tetap. Dalam observasi Indonesia saat ini, pendekatan inilah yang dapat menjembatani perbedaan fundamental antara negara-negara anggota PBB. Dalam kategori ini negara-negara-negara-negara tidak boleh berpindah-pindah ketika ingin memilih kursinya antara kursi anggota tidak tetap masa 2 tahun atau untuk kursi yang lebih lama dari 2 tahun. Dengan tidak berpindah-pindah, maka akan memberikan kesempatan yang lebih besar bagi negara-negara relatif kecil untuk terpilih menjadi anggota DK.

2. Persoalan hak veto (Question of veto)

Indonesia berpendirian bahwa seyogyanya hak veto dihapus. Namun, sepanjang penghapusan hak veto belum dapat dilakukan, Indonesia menilai bahwa penggunaannya harus diatur. Dalam hal ini hak veto tidak boleh digunakan terhadap isu-isu yang terkait dengan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional, yaitu genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, pembasmian etnis, dan kejahatan perang. Selain itu, Indonesia tidak ingin ada hak veto baru apabila disepakati penambahan pada kategori anggota tetap dan dibatasi vis-a-vis kawasan WEOG.

(9)

3. Keterwakilan kawasan (Regional representation)

Dalam mencari keseimbangan terhadap realitas geopolitik dan keterwakilan kawasan dalam perluasan keanggotaan DK, Indonesia menilai harus adanya keseimbangan representasi geografis (terutama dari kawasan Asia dan Afrika) dan peningkatan keterwakilan negara berkembang.

4. Jumlah anggota DK setelah perluasan serta metoda kerjanya (Size of the enlarged Security Council and its working methods)

Indonesia dapat mendukung perluasan hingga 26 anggota DK dengan catatan Asia dan Afrika masing-masing mendapatkan tambahan empat kursi. Dalam posisi ini, Indonesia belum menyebutkan dari empat kursi tambahan untuk masing-masing kawasan dimaksud, berapa yang untuk anggota tetap dan berapa untuk anggota tidak tetap. Berkaitan dengan metode kerja DK, Indonesia telah memberikan berbagai usulan diantaranya; Indonesia menilai penting negara yang terkena sanksi DK memiliki kesempatan agar pendapatnya didengar dan berpartisipasi dalam pembahasan sanksi yang ditetapkan. Selain itu, Indonesia menilai penting keterlibatan yang lebih besar bagi negara pengirim pasukan (TCC-Troop Contributing Countries) dalam pembuatan draft resolusi DK dalam penggelaran PKO.

5. Hubungan antara DK dengan Majelis Umum PBB (The relationship between the Security Council and the General Assembly)

Indonesia menilai penting penguatan mekanisme hubungan kerja yang substansial antara kedua organ utama PBB tersebut. Terkait dengan itu, diperlukan penegasan kembali terhadap pelaksanaan mandat masing-masing organ PBB untuk menghindari intervensi dan encroachment antar organ utama PBB. Dengan demikian DK hendaknya tidak melanggar ruang lingkup MU selaku the chief deliberative, policymaking and representative organ PBB.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan situasi politik dan ekonomi seperti diatas, keberhasilan pembangunan nasional yang menjadi kebanggaan Orde Baru yang berhasil meningkatkan GNP Indonesia ke tingkat US$ 600

Pada masa Orde Baru politik luar negeri Indonesia lebih condong kepada negara- negara Blok Barat dalam rangka mendapatkan pinjaman dana dari negera-negara tersebut untuk

Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana kondisi internal dan eksternal Indonesia menjelang sampai munculnya Orde Baru?, bagaimana pelaksaanaan politik

Pada masa reformasi, setelah kejatuhan kekuasaan “Orde Baru”, gejolak pemikiran dan usaha pelaksanaan hukum Islam di Indonesia semakin bertambah, dengan munculnya

Antologi yang menggambarkan perpuisian Indonesia dalan konteks sosial-politik pada masa Orde Baru ini memberikan suatu pemahaman bahwa keadaan sosial dan politik berpengaruh

Perkembangan , (PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 199), hlm 19.. Di Indonesia pada masa pemerintahan orde baru, terdapat dua buah departemen yang mengatur permasalahan

Menurut Arrmanantha Nassir selaku juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Maladewa merupakan saingan yang berat bagi Indonesia, karena negara yang baru pertama

Pelaksanaan peran sosial politik dalam Dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan disalahgunakannya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sebagai alat kekuasaan pada