• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Kinerja Karyawan Divisi SHE (Safety Health & Environment) Dengan Metode Pendekatan Matriks Kompetensi Berbasis K3 ( Keselamatan Dan Kesehatan Kerja)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penilaian Kinerja Karyawan Divisi SHE (Safety Health & Environment) Dengan Metode Pendekatan Matriks Kompetensi Berbasis K3 ( Keselamatan Dan Kesehatan Kerja)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Penilaian Kinerja Karyawan Divisi SHE (Safety Health & Environment) Dengan Metode Pendekatan Matriks Kompetensi Berbasis K3 ( Keselamatan

Dan Kesehatan Kerja)

Krida Sakti, Yuni

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Industri, Universitas 45 Surabaya Jl. Mayjend Sungkono 106 Surabaya, Telp.(031)5611214, 5665667

Email: [email protected]

ABSTRAK

PT. X merupakan Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan Batubara, dimana setiap tahapan kegiatannya memiliki resiko kecelakaan yang relatif tinggi. Sebagian besar terjadinya

insiden kecelakaan kerja disebabkan oleh Faktor Human Error, kemungkinan karyawan kurang

paham terkait cara kerja yang aman sesuai pada standar kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau faktor psikis dan lain sebagainya. PT.X sendiri memiliki Divisi khusus yang menangani permasalahan yang berkaitan dengan K3 (Keselamatan Dan Kesehatan Kerja) yaitu Divisi SHE (Safety And Health Environment), akan tetapi angka kecelakaan kerja masih sering terjadi. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian dengan melakukan pengukuran kompetensi karyawan dengan pendekatan metode Matriks Kompetensi yang berbasis K3. Pengukuran kompetensi karyawan dilakukan pada seluruh Divisi PT.X, namun pengukuran kompetensi penelitian ini dilakukan hanya pada Divisi SHE di level jabatan Supervisor dan staff yang terdiri 7 (tujuh) Supervisor dan 2 (dua) Staff. Setelah dilakukan proses pengambilan data, identifikasi, penentuan kriteria kompetensi sampai pada penilaian serta evaluasi, maka diketahui Supervisor yang masuk klasifikasi 100%

Performance yaitu karyawan yang mampu melakukan tugas secara mandiri, dapat diandalkan dan mencapai target hanya 1 (orang), sedangkan sisanya 5 (orang) Supervisor masuk klasifikasi 50%

Performance yaitu karyawan baru yang memulai proses training, sedangkan semua level staff

sebanyak 2 (dua) orang masuk klasifikasi 75% performance yaitu karyawan yang melakukan tugas

sesuai kompetensi, serta mulai bisa diandalkan oleh atasan untuk melakukan tugas secara mandiri. Untuk Karyawan yang belum memenuhi kompetensi sesuai standar perusahaan, maka harus diikutsertakan kegiatan pelatihan – pelatihan terkait K3.

Kata Kunci: Matriks Kompetensi, Human Error, Performance, K3

LATAR BELAKANG

PT. X merupakan perusahan jasa pertambangan batu bara dalam bidang

waste removal, coal production serta pit operation dan development. Dalam perjalanannya perusahaan ini telah menjadi salah satu perusahaan yang terkemuka dibidang kontraktor penyedia jasa pertambangan batu bara di Indonesia.Visi Misi Perusahaan X adalah selalu berusaha untuk terus menerus menjadi perusahaan penyedia jasa pertambangan terbaik dan efesien serta mengutamakan orientasi kepuasan pelanggan, keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkunag kerja yang aman dan sehat selaras dengan pencapaian yang diinginkan stake holders (costumer orientation, safety, health &environment first and harmony with stakeholders).

Hampir setiap tahap kegiatan kerja di area pertambangan PT. X memiliki resiko kecelakaan yang relatif tinggi. Sebagian besar terjadinya insiden kecelakaan kerja disebabkan oleh Faktor Human Error, kemungkinan karyawan kurang paham

(2)

terkait cara kerja yang aman sesuai pada standar kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau faktor psikis dan lain sebagainya. PT. X sendiri memiliki Divisi khusus yang menangani permasalahan yang berkaitan dengan K3 (Keselamatan Dan Kesehatan Kerja) yaitu Divisi SHE (Safety And Health Environment), akan tetapi angka kecelakaan kerja masih sering terjadi. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian dengan melakukan pengukuran kompetensi karyawan dengan pendekatan metode Matriks Kompetensi yang berbasis K3.Pengukuran kompetensi karyawan pada penelitian ini, merupakan serangkaian proses yang dilakukan untuk membandingkan antara kompetensi posisi yang dipersyaratkan dengan kompetensi yang saat ini dimiliki oleh karyawan atau pemangku jabatan saat ini, yang bertujuan untuk memetakan kompetensi karyawan dalam bentuk matrik, sehingga antara kondisi aktual dan harapan masing-masing karyawan dan harapan Perusahaan mudah dibaca dan diketahui,yang pada akhirnya penetapan akan kebutuhuhan training yang efektif bisa diterapkan di PT X sehingga mampu meningkatkan kompetensi karyawan terutama yang berkaitan dengan implementasi program K3. Pengukuran kompetensi karyawan dilakukan pada seluruh Divisi PT.X, namun pengukuran kompetensipenelitian ini dilakukan hanya pada Divisi SHE di level jabatan Supervisor dan staff yang terdiri 7 (tujuh) Supervisor dan 2 (dua) Staff.

PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah yang dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut;

1. Bagaimanakah membuat metode pengukuran kinerja karyawan?

2. Bagaimana cara membaca dan mengetahui kompetensi karyawandengan nilai kompetensi yang disyaratkan melalui perbandingan antara kondisi aktual dengan harapan Perusahaan ?

3. Bagaimanakah meningkatkan kompetensi karyawanterutama yang berkaitan dengan implementasi program K3?

TUJUAN PENELITIAN

Adapun Tujuan Penelitian ini terdiri dari;

1. Mengidentifikasi karyawan(level supervisor dan staf) yang memiliki kompetensi yang belum sesuai dengan kompetensi posisi yang disyaratkan oleh Perusahaan.

2. Memetakan kompetensi karyawan (level supervisor dan staf) dalam bentuk matrik, sehingga antara kondisi aktual dan harapan masing-masing karyawan dan harapan Perusahaan mudah dibaca dan diketahui pencapaian target yang telah ditetapkan.

3. Mengetahui karyawan (level supervisor dan staf) yang harus mengikuti training yang terkait K3 untuk peningkatan kompetensi yang belum sesuai dengan disyaratkan oleh Perusahaan.

MANFAAT PENELITIAN

Pada Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang terdiri dari;

1. Mampu memetakan kompetensi dan kebutuhan seluruh karyawan serta kebutuhan individu karyawan.

(3)

2. Model matriks kompetensi pada penelitian ini berfungsi sebagai kompas, pedoman, fokus dan arah yang jelas dalam mendesain program pelatihan.

BATASAN MASALAH

Batasan– batasan masalah dalampenelitian iniadalah sebagai berikut; 1. Pengukuran kinerja karyawan penelitian inidilakukan hanya pada Divisi SHE

(Safety And Health Environment) dan pada level Supervisor.

2. Model Matriks Kompetensi pada penelitian ini untuk mengukur kompetensi yang berkaitan dengan Sistem K3..

TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Karyawan

Perkembangan arus globalisasi telah membawa perubahan - perubahan dan menciptakan paradigma baru di tempat kerja. Perusahaan tidak hanya semata-mata mengejar pencapaian produktivitas yang tinggi saja, tetapi juga lebih memperhatikan kinerja dalam proses pencapaiannya. Dengan demikian kinerja (performance) merupakan faktor kunci bagi setiap individu dan organisasi dalam pencapaian produktivitas. Kinerja adalah suatu hasil dimana orang, sumber-sumber yang ada di lingkungan kerja tertentu secara bersama membawa hasil akhir yang didasarkan tingkat mutu dan standar yang telah ditetapkan. Banyak aspek yang mempengaruhi keberhasilan suatu kinerja seperti kejelasan peran, tingkat kompetensi, keadaan lingkungan, dan faktor lainnya seperti nilai dan budaya, imbalan dan penghargaan (Edwardin, 2006).

Menurut Moeheriono, (2009) menyatakan ada enam dimensi yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan secara individu, antara lain sebagai berikut :

1. Kualitas

Tingkat dimana hasil akivitas yang dilakukan mendekati sempurna dalam arti menyesuaikan beberapa cara ideal dari penampilan aktivitas ataupun memenuhitujuan yang diharapkan dari suatu aktivitas.

2. Kuantitas

Jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah sejumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.

3. Ketepatan Waktu

Tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada waktu awal yang diinginkan dilihat darisudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tesedia untuk aktivitas yang lain.

4. Efektivitas

Tingkat pengguna sumber daya organisasi dengan maksud menaikkan keuntunganatau mengurangi kerugian dari setiap unit dalam pengguna sumber daya.

5. Kemandirian.

Tingkat dimana seorang karyawan dapat melaksanakan fungsi kerjanya tanpameminta bantuan, bimbingan dari pengawas atau meminta turut campurnya pengawasguna menghindari hasil yang merugikan.

6. Komitmen Kerja

Tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan perusahaan dan tanggung jawab kerja dengan perusahaan.

(4)

Kompetensi Karyawan

Kompetensi merupakan kemampuan seseorang yang dapat menilai kinerja seseorang yang secara langsung bekerja pada suatu tugas sesuai dengan kinerja yang telah ditentukan pada setiap kompetensi dari individu – individu. Terdapat 4 (empat) jenis klasifikasi kompetensi (Moeheriono, 2009);

1. Tasks skills, yaitu keterampilan untuk melaksanakan tugas-tugas rutin sesuai dengan standar di tempat kerja.

2. Tasks management skills, yaitu keterampilan untuk mengelola serangkaian tugas yang berbeda yang muncul dalam pekerjaan.

3. Contingency management skills, yaitu keterampilan mengambil suatu tindakan yang cepat dan tepat apabila terjadi suatu masalah dalam pekerjaan. 4. Job role environment skills, yaitu keterampilan untuk bekerja sama serta

memelihara kenyamanan lingkungan kerja.

Matriks Kompetensi

Matriks kompetensi dapat digunakan sebagai pemetaan dan pendataankompetensi dan kebutuhan seluruh karyawan baik pada level corporate, divisi, departemen, unit kerja, serta kebutuhan individu karyawan.Perumusan matriks kompetensi bertujuan untuk mengetahui apakah seorang karyawan sudah memiliki kompetensi tersebut atau tidak sesuai dengan posisi jabatan yang disyaratkanoleh sebuah Organisasi (Vicky Yuwono1, 2013).Kriteria pengisian disesuaikan dengan performance kinerja pada tiap-tiap nama karyawan. Kriteria tersebut berdasarkan pada klasifikasi Training Result Average Competency

yangsesuai pada tabel 1.

Tabel1. Klasifikasi Training Result Average Competency

Warna Nilai Nama Keterangan

< 50% In training Karyawan baru yang memulai proses

training. 50% -

74%

50% performance

Karyawan yang sudah melakukan tugas sesuai dengankompetensi namun masih dalam pengawasan.

75% - 99%

75% performance

Karyawan yang melakukantugas sesuai dengan kompetensi,serta mulai bisa diandalkanoleh atasan untuk melakukantugas secara mandiri.

100% 100%

performance

Karyawan yang mampu melakukan tugas secara mandiri dapat diandalkan dan dapat mencapai target.

Matriks kompetensi berfungsi sebagai kompas, pedoman, focus dan arah yang jelas dalam mendesain program pelatihan. Dalam proses pengukuran kinerja karyawan digunakanlah model matriks kompetensi. Pengukuran kompetensi karyawan merupakan serangkaian proses yang dilakukan untuk membandingkan antara kompetensi posisi yang dipersyaratkan dengan kompetensi sesuai dengan target organisasi dengankompetensi aktual karyawan. Dengan menggunakan

(5)

pendekatan model matriks kompetensi diharapkan dapat diketahui kebutuhan pelatihan (training) karyawan yang mampu meningkatkan kompetensi karyawan sesuai dengan target perusahaan.

Kebutuhan pelatihan (training) adalah kebutuhan akan suatu pelatihan untuk memenuhi kesenjangan (gap) antara keadaan yang diinginkan dengan kenyataan akan kekurangan pengetahuan (knowledge), peningkatan ketrampilan (skill) atau sikap. Pelatihan yang efektif, adalah pelaksanaan pelatihan yang dapat memperbaiki kinerja, meningkatkan ketrampilan karyawan, memecahkan permasalahan, mendukung dan menunjang proses orientasi karyawan baru, menunjang persiapan promosi, dan memberikan kepuasan untuk kebutuhan pengembangan sumber daya manusia sebagai seorang individu.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dimulai dengan melihat adanya kepentingan dengan memperhatikan tingkat kompetensi karyawan, adar dapat memetakan kompetensi karyawan dalam bentuk matrik, sehingga antara kompetensi aktual dilapangandengan harapan /target masing-masing karyawan oleh Perusahaan mudah dibaca dan diketahui, yang pada akhirnya penetapan akan kebutuhuhan training yang efektif bisa diterapkan di PT X. Langkah-langkah penelitian ini yaitu; 1. Pengumpulan Data

Tahap awal penelitian ini dengan mengumpulkan data berupa survei lapangan dan studi literatur, sehingga didapatkan data-data Proses Bisnis, Visi Misi dan Struktur Organisasi serta Job Description masing-masing supervisor pada PT.X tersebut. Selanjutnya dilakukan penentuan perumusan masalah sebagai dasar dalam pembuatan kuesioner untuk mengetahui kriteria kompetensi apa saja pada masing-masing klasifikasi jenis kompetensi yang tercantum dalam matriks kompetensi yang akan dibuat.

2. Penyebaran Kuesioner

Pendistribusian kuesioner kriteria klasifikasi kompetensi ke level diatas supervisor yaitu level manager yang dianggap paham Job Description masing-masing supervisor dan staf SHE (Safety And Health Environment).

3. Penyusunan Kriteria Kompetensi

Setelah terpenuhinya komponen kriteria pada masing-masing jenis klasifikasi kompetensi karyawan yang terdiri dari 4 macam, yaitu Tasks skills, Tasks management skills, Contingency management skills, Job role environment skills. Maka dapat dilakukan proses penyusunan matriks kompetensi kinerja karyawan yang berbasis K3.

4. Proses Penilaian Dan Evaluasi

Setelah matriks kompetensi berbasis K3 pada masing-masing supervisor SHE yang telah dibuat, maka dapat dilakukan proses penilaian yang dilakukan oleh level manager dengan memberikan skor nilai kriteria penilaian 1-4, dengan pemberian nilai kompetensi aktual dan target yang disyaratkan, selanjutnya dilakukan proses evaluasi. Perbedaan selisih antara angka nilai kompetensi

(6)

aktual dengan target dapat diperoleh prosentase kompetensi karyawan yang memenuhi target atau yang belum memenuhi target.

5. Kesimpulan Dan Saran

Hasil evaluasi dari pemetaan dengan pendekatan matriks kompetensi karyawan, dapat disimpulkan siapa saja karyawan (supervisor dan staff SHE) yang memenuhi target dan yang belum memenuhi target, sehingga dapat diketahui pelatihan (training) yang di butuhkan karyawan untuk peningkatan kompetensi yang belum memenuhi target perusahaan.

Alur tahapan penelitian tersebut dapat diamati pada gambar 1.

Gambar 1. Alur tahapan penelitian

Survei Lapangan Studi Literatur

Identifikasi dan Perumusan Masalah

Penyebaran kuesioner kriteria kompetensi

Penyusunan Matriks Kompetensi Karyawan

Proses Penilaian Kompetensi Karyawan Berbasis K3

Proses Penilaian Kompetensi Karyawan Berbasis K3

Proses Evaluasi Hasil Penilaian Kompetensi Karyawan Divisi SHE level Supervisor dan Staf

(7)

HASIL DANPEMBAHASAN

Gambar 2. Matriks Kompetensi Karyawan Divisi SHE Berbasis K3 Actual 2 1 1 3 4 2 4 2 2 2 3 3 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1,9 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 4 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,2 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 2 1 2 2 4 3 2 2 2 3 3 2 2 3 3 1 2 3 1 1 1 2,1 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 4 1 3 2 4 1 2 1 1 1 3 2 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1,8 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 4 1 4 4 4 1 4 3 3 3 3 3 3 1 1 2 1 1 1 3 1 2,4 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 4 1 3 2 4 2 2 2 2 2 2 2 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1,9 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 4 1 2 2 4 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1,8 Target 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,3 Actual 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 2,6 Target 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,0 Actual 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 2,7 Target 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3,0 Keterangan :

# Keterangan Kriteria Nilai Karyawan, sebagai berikut : 1 : Bila karyawan ybs tergolong menguasai dengan pengawasan 2 : Bila karyawan ybs tergolong menguasai tanpa pengawasan 3 : Bila karyawan ybs tergolong menguasai dan mengajari

4 : Bila karyawan ybs tergolong menguasai, mengajari dan troubleshooting : (In Training), yaitu Karyawan baru yg memulai proses training

: (50 % Performance), yaitu Karyawan yg sudah melakukan tugas sesuai dg kompetensi, namun masih dalam pengawasan

: (75 % Performance), yaitu Karyawan yg melakukan tugas sesuai kompetensi, serta mulai bisa diandalkan oleh atasan untuk melakukan tugas secara mandiri : (100 % Performance), yaitu Karyawan yg mampu melakukan tugas secara mandiri, dapat diandalkan dan mencapai target

Supervisor Staff Staff D o k u m e n ta s i d a n A d m in is tr a s i H a s il K e rj a 4 5 6 7 E I H G F D 9 8 P e la k s a n a a n In te rn a l A u d it K 3 Supervisor Supervisor Supervisor P e n e ra p a n P ro s e d u r K e rj a B e rb a s is K 3 P e n y e lid ik a n In s id e n P e n c e g a h a n K e b a k a ra n

MATRIKS KOMPETENSI BERBASIS K3

S is te m K 3 D A T A I N F O R M A S I JABATAN N A M A K A R Y A W A N Intermediate Advance ACTUAL / TARGET S is te m P e n g e lo la a n K 3 P e rt a m b a n g a n In s p e k s i K 3 In d u k s i K 3 B a s ic P 3 K B a s ic K 3 P e n g e lo la a n K e s e la m a ta n P e rt a m b a n g a n J S A Basic P ro s e s a d m in is tr a s i I n d u k s i d a n Mi n e P e rm it 3 C Supervisor 1 A Supervisor 2 B Supervisor K o m u n ik a s i K 3 H a s il In v e s ti g a s i K 3 IB P P R L a p o ra n H a s il K e rj a NO P R O S E N T A S E (R a ta 2 A c tu a l / R a ta 2 T a rg e t x 1 0 0 ) R A T A R A T A P e n g e lo la a n K e s e h a ta n P e rt a m b a n g a n Ma n a je m e n R e v ie w B e rb a s is K 3 S a fe ty L e a d e rs h ip T ra in in g A K 3 U m u m 57% 87% 89% 57% 54% 97% 64% 53% 73%

(8)

Tabel 2. Kriteria kompetensi berdasarkan klasifikasi kompetensi Kelompok

Cluster Kriteria Kompetensi Keterangan

Tasks skills

Dokumentasi dan Administrasi Hasil Kerja

Mampu membuat dan memelihara catatan termasuk prosedur untuk identifikasi, penyimpanan, pemeliharaan dan pemusnahan catatan, mendokumentasikan peran, tugas, tanggung jawab&wewenang setiap personel terkait penerapan K3&Lingkungan.

Proses administrasi Induksi dan Mine Permit

Mengendalikan proses administrasi induksi dan mine permit

Laporan Hasil Kerja Membuat mekanisme pelaporan dan penyelidikan insiden dan mampu membuat laporan hasil kerja secara detail&tepat waktu

Penerapan Sistem K3 Mampu menerapkan Program K3 di perusahaan

Basic K3 Paham dasar-dasar Program K3

Sistem K3 Paham sistem K3yang akan diterapkan dengan

menetapkan prosedur terkait kinerja K3

Tasks

management skills

Training AK3 Umum Telah mengikuti dan memiliki Sertifikat Pelatihan AK3 Umum

Manajemen Review Berbasis K3

Proses peninjauan manajemen harus enjamin bahwa informasii penting dikumpulkan serta dilakukan evaluasi dan terdokumentasi.

Basic P3K Paham prinsip-prinsip pelaksanaan P3K

JSA (Job Safety Analysis)

Mampu membuat dokumen JSA

Penyelidikan Insiden Mampu mengidentifikasi dan penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, penetapan penyebabnya dan pengambilan tindakan untuk mencegah terulangnya terjadinya insiden.

Pelaksanaan Internal Audit K3

Memastikan pelaksanaan internal audit sistem manajemen K3 dilaksanakan secara terncana dan menginformasikan hasil audit ke manajemen

Pencegahan Kebakaran Penanggulangan kondisi darurat dan kebakaran

Contingency Management Skills

Inspeksi K3 Mampu melakukan penyelidikan insiden,

ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan dan pencegahan.

Hasil Investigasi K3 IBPPR (Identifikasi bahaya penilaian dan pengendalian resiko)

Hasil IBPPR dilakukan secara terperinci dan update serta dapat dilibatkan dalam peneltapan, penerapan dan pemeliharaan sistem manajemen di perusahaan.

Safety Leadership Mampu

membuat,memelihara,mengimplementasikan serta mensosialisasikan penerapan program K3 sesuai dengan standar kebijakan sistem manajemen K3

Job Role Environment Skills

Komunikasi K3

Mampu mengkomunikasikan aspek penting K3 serta organisasi harus menetapkan&menerapkan metode untuk komunikasi eksternalnya.

Penerapan Prosedur Kerja Berbasis K3

Mampu

mensosialisasikan&mengimplimentasikan peraturan sesuai kebijakan K3 dilingkungan perusahaan.

Pengelolaan Keselamatan Pertambangan

Aktifitas pertambangan perlu dikendalikan dengan prosedur pengendalian operasional pertambangan .

(9)

Kelompok

Cluster Kriteria Kompetensi Keterangan

Pengelolaan Kesehatan Pertambangan

Membuat sistem penanggulangan,

pencegahan/mengurangi sakit&luka dan dampak pencemaran lingkungan di area pertambangan.

Sistem Pengelolaan K3 Pertambangan

Konsisten dengan kebijakan K3, tujuan dan sasaran untuk menjamin operasi-operasi pertambangan dapat dilakukan dengan kondisi terkontrol dan aman.

Penilaian matriks kompetensi berdasarkan uraian kompetensi pada 4 (empat) klasifikasi yang dapat dilihat pada tabel 2, sehingga dihasilkan penilaian antara kompetensi aktual dengan target yang disyaratkan oleh Perusahaan, dimana hasil pemetaan kompetensi karyawan divisi SHE dapat diamati pada gambar 2. Pada gambar 2 dapat diketahui skor penilaian 1-4, Keterangan Kriteria Nilai Karyawan, sebagai berikut :

1. Bila karyawan tersebut tergolong menguasai dengan pengawasan 2. Bila karyawan tersebuttergolong menguasai tanpa pengawasan 3. Bila karyawantersebuttergolong menguasai dan mengajari

4. Bila karyawan tersebuttergolong menguasai, mengajari dan troubleshooting

Berdasarkan hasil penilaian kinerja karyawan pada matriks komptensi sesuai gambar2, dapat diketahui prosentase nilai akhir masing-masing karyawan yang merupakan hasil perhitungan nilai aktual dengan target. Nilai kinerja tertinggi diraih oleh Supervisor B dengan nilai 97%, termasuk kategori Karyawan yg mampu melakukan tugas secara mandiri, dapat diandalkan dan mencapai target(100 % Performance).Sedangkan Supervisor A,C,D,E,F dan G masuk zona kuning, yaitu karyawan yg sudah melakukan tugas sesuai dg kompetensi, namun masih dalam pengawasan(50 % Performance). Untuk level staf semua masuk zona hijau yaitu Karyawan yg melakukan tugas sesuai kompetensi, serta mulai bisa diandalkan oleh atasan untuk melakukan tugas secara mandiri(75 % Performance).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Berdasarkan pemetaan kinerja pada matriks kompetensi diketahui hanya 1 (satu) Supervisor yang masuk kategori Karyawan yg mampu melakukan tugas secara mandiri, dapat diandalkan dan mencapai target (100 % Performance) yaitu Supervisor B dengan nilai prosentasi 97 %. Sedangkan 6 (enam) Supervisor lainnya yaitu A,C,D,E,F dan G dengan prosentase nilai kinerja masing-masing 57%, 64%, 53%, 73%, 57% dan 54%, dan termasuk kategori karyawan yg sudah melakukan tugas sesuai dg kompetensi, namun masih dalam pengawasan(50 % Performance).

2. Level staf semua masuk zona hijau yaitu Karyawan yg melakukan tugas sesuai kompetensi, serta mulai bisa diandalkan oleh atasan untuk melakukan tugas secara mandiri (75 % Performance), dengan nilai prosentase masing-masing 87% dan 89%.

3. Terdapat 6 (enam) supervisor yang masih membutuhkan pengawasan dan pelatihan efektif untuk peningkatan kompetensi kinerja yang terkait K3.

(10)

Saran

Pengukuran kinerja dengan menggunakan pendekatan matriks kompetensi dilakukan secara keberlanjutan dan dilakukan pada seluruh karyawan baik pada level corporate, divisi, departemen dan unit kerja, tidak hanya yang terkait dengan K3 namun seluruh aspek kinerja karyawan di Perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Edwardin, L. T. A. S, (2006),Analisis pengaruh kompetensi komunikasi, kecerdasan emosional, dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan. UNIVERSITAS DIPONEGORO.

Moeheriono, (2009),Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Bogor: Galia Indonesia.

Vicky Yuwono1, F, (2013), Pengembangan Matriks Kompetensi Berdasarkan Sistem Three on Three di PT E-T-A Indonesia. Titra, 1(2), 103–110.

Gambar

Gambar 1. Alur tahapan penelitian
Gambar 2. Matriks Kompetensi Karyawan Divisi SHE Berbasis K3
Tabel 2. Kriteria kompetensi berdasarkan klasifikasi kompetensi  Kelompok

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kinerja Karyawan sebesar 40% secara serentak

Hasil Penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara Keselamatan dan Kesebatan Kerja (K3) terhadap Kinerja Karyawan sebesar 52,2% secara serentak maupun

Jika dikaitkan dengan penelitian ini maka dapat dimungkinkan bahwa sikap seorang karyawan terhadap program K3 yang diselenggarakan oleh perusahaan memiliki korelasi dengan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai keselamatan kesehatan kerja (K3) dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan dapat disimpulkan sebagai

Sesuai dengan penelitian Iwan setiawan (2018) yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dan signifikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap kinerja

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan jenis pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data yang

No Nama Penulis, Tahun Judul Penelitian Hasil Penelitian Prima Medika Malang 17 Munandar et al., 2014 Pengaruh K3 dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan Variabel

Analisis penerapan program K3/5R di PT X menggunakan pendekatan standar OHSAS 18001 dan statistik tes U Mann-Whitney serta pengaruhnya terhadap produktivitas