B
embelajaran matematika dianggap sulit karena
diajarkan dengan cara konvensional dan siswa
P
sering harus membayangkan sesuatu, tanpa
melihat peragaan. Hal ini menuntut gagasan-gagasan
invovatif untuk membuat matematika menjadi menarik,
kontekstual, dan bermanfaat. Pada bagian ini, kami
menyajikan sejumlah gagasan yang diusung guru untuk
membuat pembelajaran matematika menjadi mudah dan
menyenangkan. Gagasan-gagasan itu dipraktikan dengan
menggunakan media yang berbiaya rendah.
GAGASAN
B
embelajaran matematika dianggap sulit karena
diajarkan dengan cara konvensional dan siswa
P
sering harus membayangkan sesuatu, tanpa
melihat peragaan. Hal ini menuntut gagasan-gagasan
invovatif untuk membuat matematika menjadi menarik,
kontekstual, dan bermanfaat. Pada bagian ini, kami
menyajikan sejumlah gagasan yang diusung guru untuk
membuat pembelajaran matematika menjadi mudah dan
menyenangkan. Gagasan-gagasan itu dipraktikan dengan
menggunakan media yang berbiaya rendah.
GAGASAN
embelajaran matematika di SMPN 19 positif dan yang kosong mewakili bilangan negatif. Purworejo bersahabat dengan barang bekas
P
dan sampah. Berawal dari bergabung dengan Sampah lain yang mudah diperoleh adalah kalender DBE3, model pembelajaran diberi kebebasan untuk tahun sebelumnya yang digunakan sebagai tempat berkreasi. Alhasil pembelajaran matematika menuliskan rangkuman materi dan atau kumpulan menggunakan alat dan bahan dari sampah yang mudah soal. Kalender bekas cocok sekali digunakan sebagai ditemukan di lingkungan sekitar. tempat menempelkan hasil diskusi siswa kemudian digunakan untuk presentasi siswa dan pemecahan Untuk mengukur luas dan keliling lingkaran, kami masalah dalam dan antar kelompok. Terlihat siswa menggunakan Compact Disc, tutup kaleng, dan roda berani sekali ketika menyampaikan pendapatnya. sepeda motor sebagai sumber belajar. Masih denganmenggunakan kaleng: kaleng susu dan kaleng biskuit Bola ping pong bekas juga kami gunakan untuk yang memiliki ukuran berbeda, saya bersama siswa membuktikan luas permukaan bola. Bola dibelah menghitung luas permukaan tabung. Pembelajaran menjadi dua, belahan bola dipaku di papan ukuran menghitung luas tabung menjadi mudah karena folio, kemudian dililiti tali sehingga permukaannya keliling lingkaran menjelma menjadi panjang dan tinggi tertutup. Lilitan tali kemudian dipindahkan ke tabung menjadi lebar persegi panjang. sampingnya. Siswa mencermati, ternyata lilitan
setengah bola membentuk lingkaran. Tempat rokok, kardus mie instant, kotak pasta gigi,
dan kardus susu digunakan siswa untuk pembelajaran matematika dengan kompetensi menghitung volum dan luas kubus serta balok.
Melakukan pengurangan dan penjumlahan, siswa menggunakan gelas bekas air mineral yang kosong dan yang berisi. Gelas yang berisi mewakili bilangan
Matematika Bersahabat
dengan Sampah
Juli Eko Sarwono ‘’Si Guru Gila’’
Matematika Bersahabat
dengan Sampah
Juli Eko Sarwono ‘’Si Guru Gila’’
Kelas Matematika yang difasilitasi pak Eko dipenuhi Media yang terbuat dari barang bekas. Hasilnya sangat efektif untuk membuat siswa belajar aktif.
Koran bekas digunakan untuk mempelajari statistik dan gambar-gambar iklan dimanfaatkan untuk membandingkan bangun yang sebangun. Pentul korek api dan kerikil bisa digunakan untuk belajar barisan bilangan.
Ranting dahan pohon sangat tepat untuk pembelajaran mengukur sudut. Hasil pengukuranya ditempelkan di kertas. Penggunaan ini sekaligus sebagai upaya mendekatkan siswa dengan alam;
bahwa alam merupakan sumber belajar yang tidak Untuk menghitung luas selimut dan luas permukaan pernah habis untuk dieksplorasi. kerucut dapat memanfaatkan kertas stofmap bekas. Mula-mula stofmap dibentuk kerucut lalu membuat Mobil mainan yang bentuk dan ukuranya berbeda kerucut lagi dengan ukuran yang sama dengan warna dapat digunakan untuk pembelajaran tentang foto berbeda. Dua kerucut dirapatkan dan dilem perekat dan skala. Mempelajari materi foto dan skala dengan sebagian sisa ukuran kerucut dipotong, langkah menggunakan mobil mainan akan cocok bila selanjutnya siswa mengukur panjang sisi dan jari-jari dilakukan di luar kelas. Dengan situasi yang berbeda kemudian menghitung luas selimut kerucut tersebut, pembelajaran berlangsung sangat menyenangkan. metode ini sangat mengasyikan bagi siswa.
Pembelajaran penjumlahan suku-suku sejenis Sisa kertas yang tidak dipakai bisa digunakan untuk dilakukan di luar kelas. Sampah dipisahkan dan menulis soal dan akan menarik bila memakai tehnik dikelompokan menurut jenisnya, kemudian siswa saling lempar. Setiap siswa menulis soal di kertas menghitung dan menyederhanakan, mengelompokan bekas kemudian kertas diremas-remas dijadikan dengan menjumlahkan atau mengurangi. seperti bom tangan. Setelah itu dalam hitungan yang sama siswa saling melempar ‘bom tangan’’ ke depan kelas. Pada saat yang sama mereka secara acak harus mengambilnya kembali dan soal yang ada di dalamnya dikerjakan. Setelah itu mereka saling mengoreksi jawaban didampingi oleh guru. Meskipun sederhana, siswa tampak begitu antusias melakukan permainan ini.
embelajaran matematika di SMPN 19 positif dan yang kosong mewakili bilangan negatif. Purworejo bersahabat dengan barang bekas
P
dan sampah. Berawal dari bergabung dengan Sampah lain yang mudah diperoleh adalah kalender DBE3, model pembelajaran diberi kebebasan untuk tahun sebelumnya yang digunakan sebagai tempat berkreasi. Alhasil pembelajaran matematika menuliskan rangkuman materi dan atau kumpulan menggunakan alat dan bahan dari sampah yang mudah soal. Kalender bekas cocok sekali digunakan sebagai ditemukan di lingkungan sekitar. tempat menempelkan hasil diskusi siswa kemudian digunakan untuk presentasi siswa dan pemecahan Untuk mengukur luas dan keliling lingkaran, kami masalah dalam dan antar kelompok. Terlihat siswa menggunakan Compact Disc, tutup kaleng, dan roda berani sekali ketika menyampaikan pendapatnya. sepeda motor sebagai sumber belajar. Masih denganmenggunakan kaleng: kaleng susu dan kaleng biskuit Bola ping pong bekas juga kami gunakan untuk yang memiliki ukuran berbeda, saya bersama siswa membuktikan luas permukaan bola. Bola dibelah menghitung luas permukaan tabung. Pembelajaran menjadi dua, belahan bola dipaku di papan ukuran menghitung luas tabung menjadi mudah karena folio, kemudian dililiti tali sehingga permukaannya keliling lingkaran menjelma menjadi panjang dan tinggi tertutup. Lilitan tali kemudian dipindahkan ke tabung menjadi lebar persegi panjang. sampingnya. Siswa mencermati, ternyata lilitan
setengah bola membentuk lingkaran. Tempat rokok, kardus mie instant, kotak pasta gigi,
dan kardus susu digunakan siswa untuk pembelajaran matematika dengan kompetensi menghitung volum dan luas kubus serta balok.
Melakukan pengurangan dan penjumlahan, siswa menggunakan gelas bekas air mineral yang kosong dan yang berisi. Gelas yang berisi mewakili bilangan
Matematika Bersahabat
dengan Sampah
Juli Eko Sarwono ‘’Si Guru Gila’’
Matematika Bersahabat
dengan Sampah
Juli Eko Sarwono ‘’Si Guru Gila’’
Kelas Matematika yang difasilitasi pak Eko dipenuhi Media yang terbuat dari barang bekas. Hasilnya sangat efektif untuk membuat siswa belajar aktif.
Koran bekas digunakan untuk mempelajari statistik dan gambar-gambar iklan dimanfaatkan untuk membandingkan bangun yang sebangun. Pentul korek api dan kerikil bisa digunakan untuk belajar barisan bilangan.
Ranting dahan pohon sangat tepat untuk pembelajaran mengukur sudut. Hasil pengukuranya ditempelkan di kertas. Penggunaan ini sekaligus sebagai upaya mendekatkan siswa dengan alam;
bahwa alam merupakan sumber belajar yang tidak Untuk menghitung luas selimut dan luas permukaan pernah habis untuk dieksplorasi. kerucut dapat memanfaatkan kertas stofmap bekas. Mula-mula stofmap dibentuk kerucut lalu membuat Mobil mainan yang bentuk dan ukuranya berbeda kerucut lagi dengan ukuran yang sama dengan warna dapat digunakan untuk pembelajaran tentang foto berbeda. Dua kerucut dirapatkan dan dilem perekat dan skala. Mempelajari materi foto dan skala dengan sebagian sisa ukuran kerucut dipotong, langkah menggunakan mobil mainan akan cocok bila selanjutnya siswa mengukur panjang sisi dan jari-jari dilakukan di luar kelas. Dengan situasi yang berbeda kemudian menghitung luas selimut kerucut tersebut, pembelajaran berlangsung sangat menyenangkan. metode ini sangat mengasyikan bagi siswa.
Pembelajaran penjumlahan suku-suku sejenis Sisa kertas yang tidak dipakai bisa digunakan untuk dilakukan di luar kelas. Sampah dipisahkan dan menulis soal dan akan menarik bila memakai tehnik dikelompokan menurut jenisnya, kemudian siswa saling lempar. Setiap siswa menulis soal di kertas menghitung dan menyederhanakan, mengelompokan bekas kemudian kertas diremas-remas dijadikan dengan menjumlahkan atau mengurangi. seperti bom tangan. Setelah itu dalam hitungan yang sama siswa saling melempar ‘bom tangan’’ ke depan kelas. Pada saat yang sama mereka secara acak harus mengambilnya kembali dan soal yang ada di dalamnya dikerjakan. Setelah itu mereka saling mengoreksi jawaban didampingi oleh guru. Meskipun sederhana, siswa tampak begitu antusias melakukan permainan ini.
Mendekatkan Matematika
dengan Kehidupan Nyata
Mendekatkan Matematika
dengan Kehidupan Nyata
embelajaran matematika seringkali menjemukan dan dianggap jauh dari realita kehidupan. Ini terjadi karena pembelajaran matematika sering
P
terfokus pada menghafalkan fakta, mengolah rumus, dan kegiatan hitung-hitungan. Belajar matematika lebih banyak bersifat prosedural (menjalankan prosedur).Pembelajaran matematika seharusnya lebih bermakna. Mengingat sifat matematika yang universal dan sangat dekat dengan kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan tidak ada satu pun dalam kehidupan ini yang lepas dari matematika, penulis tertarik untuk mengemukakan gagasan pembelajaran matematika yang mampu menjadikan matematika terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
(1) Para siswa di dalam kelompok aktif bekerjasama membuat benda bangun ruang yang sering dijumpai di rumah, (2) Hasil karya siswa dalam pembelajaran, (3) Siswa belajar di pabrik pembuatan peralatan masak yang sesuai dengan benda ruang yang dibuatnya.
Dalam rangka menjadikan matematika lebih bermakna, dan menjadikan matematika lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, DBE3 sebenarnya telah mengenalkan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Inti dari pembelajaran kontekstual ini adalah menjadikan konteks sebagai alat pemicu belajar anak. Dengan mengkaji konteks, secara tidak langsung anak-anak dibelajarkan matematika. Karenanya, kesan yang mengemuka adalah belajar konteksnya, bukan belajar matematika.
Materi bangun ruang sebenarnya merupakan materi matematika yang sangat potensial untuk menunjukkan kedekatan matematika dengan kehidupan nyata. Di dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak benda yang cocok untuk digunakan dalam belajar matematika. Beberapa di antaranya adalah dandang atau periuk (tempat nasi), peralatan musik drum band, topi pak tani, dan kotak beras.
Ajak anak-anak untuk membuat dandang (tempat nasi), drum band, topi pak tani, kotak beras dari bahan bekas. Untuk memudahkan pembuatannya (karena dalam kesempatan ini pelajarannya bukan tentang pelajaran keterampilan), kita bisa membantu mereka dengan membuatkan contoh jaring-jaringnya. Akan tetapi, kalau kita menginginkan agar mereka memiliki pemahaman yang cukup baik tentang luas, berikan kepada mereka satu bahan dengan luas tertentu, dan minta mereka membuat dandang, drum band, topi pak tani, kotak beras, dll dengan syarat luas permukaannya paling besar. Dengan cara demikian, di dalam membuat alat-alat tersebut, mereka akan mempertimbangkan dimensi ukuran dari masing-masing bangun ruang yang dibuatnya. Mereka tidak akan membuat seenaknya saja.
Tentu akan lebih menarik lagi jika setelah selesai mengerjakan tugasnya, kepada mereka diberikan tugas untuk membandingkan luas permukaan masing-masing bangun ruang. Agar kemampuan berpikirnya berkembang, mungkin akan lebih baik jika sebelumnya mereka mendiskusikan terlebih dahulu aturan main menentukan luas dari bangun-bangun ruang tersebut. Semoga bermanfaat
1
2
Mendekatkan Matematika
dengan Kehidupan Nyata
Mendekatkan Matematika
dengan Kehidupan Nyata
embelajaran matematika seringkali menjemukan dan dianggap jauh dari realita kehidupan. Ini terjadi karena pembelajaran matematika sering
P
terfokus pada menghafalkan fakta, mengolah rumus, dan kegiatan hitung-hitungan. Belajar matematika lebih banyak bersifat prosedural (menjalankan prosedur).Pembelajaran matematika seharusnya lebih bermakna. Mengingat sifat matematika yang universal dan sangat dekat dengan kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan tidak ada satu pun dalam kehidupan ini yang lepas dari matematika, penulis tertarik untuk mengemukakan gagasan pembelajaran matematika yang mampu menjadikan matematika terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
(1) Para siswa di dalam kelompok aktif bekerjasama membuat benda bangun ruang yang sering dijumpai di rumah, (2) Hasil karya siswa dalam pembelajaran, (3) Siswa belajar di pabrik pembuatan peralatan masak yang sesuai dengan benda ruang yang dibuatnya.
Dalam rangka menjadikan matematika lebih bermakna, dan menjadikan matematika lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, DBE3 sebenarnya telah mengenalkan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Inti dari pembelajaran kontekstual ini adalah menjadikan konteks sebagai alat pemicu belajar anak. Dengan mengkaji konteks, secara tidak langsung anak-anak dibelajarkan matematika. Karenanya, kesan yang mengemuka adalah belajar konteksnya, bukan belajar matematika.
Materi bangun ruang sebenarnya merupakan materi matematika yang sangat potensial untuk menunjukkan kedekatan matematika dengan kehidupan nyata. Di dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak benda yang cocok untuk digunakan dalam belajar matematika. Beberapa di antaranya adalah dandang atau periuk (tempat nasi), peralatan musik drum band, topi pak tani, dan kotak beras.
Ajak anak-anak untuk membuat dandang (tempat nasi), drum band, topi pak tani, kotak beras dari bahan bekas. Untuk memudahkan pembuatannya (karena dalam kesempatan ini pelajarannya bukan tentang pelajaran keterampilan), kita bisa membantu mereka dengan membuatkan contoh jaring-jaringnya. Akan tetapi, kalau kita menginginkan agar mereka memiliki pemahaman yang cukup baik tentang luas, berikan kepada mereka satu bahan dengan luas tertentu, dan minta mereka membuat dandang, drum band, topi pak tani, kotak beras, dll dengan syarat luas permukaannya paling besar. Dengan cara demikian, di dalam membuat alat-alat tersebut, mereka akan mempertimbangkan dimensi ukuran dari masing-masing bangun ruang yang dibuatnya. Mereka tidak akan membuat seenaknya saja.
Tentu akan lebih menarik lagi jika setelah selesai mengerjakan tugasnya, kepada mereka diberikan tugas untuk membandingkan luas permukaan masing-masing bangun ruang. Agar kemampuan berpikirnya berkembang, mungkin akan lebih baik jika sebelumnya mereka mendiskusikan terlebih dahulu aturan main menentukan luas dari bangun-bangun ruang tersebut. Semoga bermanfaat
1
2
elanja di Toko seringkali memberikan suatu toko, berikut dengan diskon yang berlaku inspirasi yang mengasyikkan untuk untuk barang itu. Untuk menentukan harga
B
pembelajaran persen (atau materi aritmatika sesudah diskon, guru bisa meminta siswa terlebih sosial lainnya). Diskon pembelian di toko, baik yang dahulu menentukannya secara individual,dilakukan secara tunai atau cicilan, bisa menjadi berpasangan, kelompok kecil, hingga secara klasikal. inspirasi pembelajaran matematika yang Cara lainnya adalah guru langsung memodelkan kontekstual. Karena itu, kita bisa menggunakan (secara klasikal) cara menghitung harganya. Untuk tema BELANJA di TOKO untuk membelajarkan kegiatan awal pembelajaran, cara langsung pun aritmatika sosial. Berikut ide yang penulis boleh saja dilakukan.
bayangkan.
Setelah siswa cukup mengerti cara menghitung Pembelajaran bisa dimulai dengan memberikan harga pembelian sesudah diskon, guru kemudian apersepsi dan membangkitkan motivasi siswa, meminta siswa untuk duduk berkelompok.
terutama dengan melihat manfaat pelajaran ini Sebagian ditetapkan sebagai kelompok pembeli dan dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengadakan sebagian lainnya sebagai kelompok penjual. Mereka tanya jawab tentang hal-hal penting yang menarik diminta untuk bermain peran pelaksanaan jual beli perhatian kalau seseorang sedang belanja di toko suatu barang. Barang yang dijual hanya ada satu, atau supermarket. Setelah siswa menyebutkan tetapi diberi alternatif pembeliannya bermacam-tentang diskon, yang biasanya dinyatakan dalam macam.
persen, guru memberikan contoh harga barang di
Membelajarkan Persen
dengan Tema
“BELANJA DI TOKO”
Membelajarkan Persen
dengan Tema
“BELANJA DI TOKO”
Kalau%. Kalau dicicil selama 3 kali diberi harga B dengan diskon y %. Kalau dicicil 6 kali, diberi harga C dengan diskon z %.
Pembeli dan Penjual kemudian diberikan sejumlah uang mainan tertentu. Tugas pembeli adalah menawar dan membeli barang itu dengan salah satu cara dari 3 cara yang disediakan dan harganya harus yang paling murah. Tugas penjual adalah merayu pembeli sehingga mampu menjual barang itu dengan harga yang setinggi-tingginya. Dalam waktu 15 menit, jual beli harus dihentikan, dan ditetapkan siapa pembeli yang paling hemat, dan siapa penjual yang paling lihai. Pembeli yang paling hemat diberi hadiah. Demikian pula dengan penjual yang paling lihai.
Setelah kelompok menjalankan peran jual beli itu secara bergantian, para siswa bisa diberikan LKS untuk lebih memantapkan keterampilan mereka menghitung diskon, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yang terkait dengan diskon. Karena itu, di dalam LKS ini diberikan soal-soal yang menuntut siswa untuk berlatih dan melakukan refleksi. Di dalamnya, disediakan pula soal pemecahan
masalah yang menuntut siswa menggunakan pemikiran tingkat tinggi.
Selama siswa mengerjakan LKS ini, guru berkeliling melihat proses kerja siswa, dan mengadakan tanya jawab untuk memantau pemahaman mereka. Satu catatan penting, pada saat monitoring, menurut hemat penulis, fokus monitoring hendaknya diarahkan kepada mereka yang ditengarai kurang baik
pemahamannya. Kalau dari hasil monitoring ini ternyata mereka ini memperlihatkan pemahaman yang baik, maka siswa yang lain bisa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik lagi.
Terimakasih. Selamat mencoba. dibayar tunai, diberi harga A dengan diskon x
elanja di Toko seringkali memberikan suatu toko, berikut dengan diskon yang berlaku inspirasi yang mengasyikkan untuk untuk barang itu. Untuk menentukan harga
B
pembelajaran persen (atau materi aritmatika sesudah diskon, guru bisa meminta siswa terlebih sosial lainnya). Diskon pembelian di toko, baik yang dahulu menentukannya secara individual,dilakukan secara tunai atau cicilan, bisa menjadi berpasangan, kelompok kecil, hingga secara klasikal. inspirasi pembelajaran matematika yang Cara lainnya adalah guru langsung memodelkan kontekstual. Karena itu, kita bisa menggunakan (secara klasikal) cara menghitung harganya. Untuk tema BELANJA di TOKO untuk membelajarkan kegiatan awal pembelajaran, cara langsung pun aritmatika sosial. Berikut ide yang penulis boleh saja dilakukan.
bayangkan.
Setelah siswa cukup mengerti cara menghitung Pembelajaran bisa dimulai dengan memberikan harga pembelian sesudah diskon, guru kemudian apersepsi dan membangkitkan motivasi siswa, meminta siswa untuk duduk berkelompok.
terutama dengan melihat manfaat pelajaran ini Sebagian ditetapkan sebagai kelompok pembeli dan dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengadakan sebagian lainnya sebagai kelompok penjual. Mereka tanya jawab tentang hal-hal penting yang menarik diminta untuk bermain peran pelaksanaan jual beli perhatian kalau seseorang sedang belanja di toko suatu barang. Barang yang dijual hanya ada satu, atau supermarket. Setelah siswa menyebutkan tetapi diberi alternatif pembeliannya bermacam-tentang diskon, yang biasanya dinyatakan dalam macam.
persen, guru memberikan contoh harga barang di
Membelajarkan Persen
dengan Tema
“BELANJA DI TOKO”
Membelajarkan Persen
dengan Tema
“BELANJA DI TOKO”
Kalau%. Kalau dicicil selama 3 kali diberi harga B dengan diskon y %. Kalau dicicil 6 kali, diberi harga C dengan diskon z %.
Pembeli dan Penjual kemudian diberikan sejumlah uang mainan tertentu. Tugas pembeli adalah menawar dan membeli barang itu dengan salah satu cara dari 3 cara yang disediakan dan harganya harus yang paling murah. Tugas penjual adalah merayu pembeli sehingga mampu menjual barang itu dengan harga yang setinggi-tingginya. Dalam waktu 15 menit, jual beli harus dihentikan, dan ditetapkan siapa pembeli yang paling hemat, dan siapa penjual yang paling lihai. Pembeli yang paling hemat diberi hadiah. Demikian pula dengan penjual yang paling lihai.
Setelah kelompok menjalankan peran jual beli itu secara bergantian, para siswa bisa diberikan LKS untuk lebih memantapkan keterampilan mereka menghitung diskon, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yang terkait dengan diskon. Karena itu, di dalam LKS ini diberikan soal-soal yang menuntut siswa untuk berlatih dan melakukan refleksi. Di dalamnya, disediakan pula soal pemecahan
masalah yang menuntut siswa menggunakan pemikiran tingkat tinggi.
Selama siswa mengerjakan LKS ini, guru berkeliling melihat proses kerja siswa, dan mengadakan tanya jawab untuk memantau pemahaman mereka. Satu catatan penting, pada saat monitoring, menurut hemat penulis, fokus monitoring hendaknya diarahkan kepada mereka yang ditengarai kurang baik
pemahamannya. Kalau dari hasil monitoring ini ternyata mereka ini memperlihatkan pemahaman yang baik, maka siswa yang lain bisa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik lagi.
Terimakasih. Selamat mencoba. dibayar tunai, diberi harga A dengan diskon x
Memanfaatkan Permainan
Sudoku untuk Belajar
Bilangan Bulat
u Nur Khamimah S.Pd menceritakan bahwa terdiri dari dua angka, tiga angka atau yang lain. beliau memanfaatkan permainan Sudoku
B
untuk membelajarkan Bilangan Bulat di MTs Kedua, setelah siswa berhasil mengisi semua kotak Brawijaya. Beliau mengatakan bahwa dengan cara sesuai dengan aturan main Sudoku, para siswa tersebut siswanya menjadi sangat termotivasi. diminta untuk melakukan eksplorasi. Kepada Mereka asyik bermain-main dengan bilangan bulat. mereka diberikan LKS, yang didalamnya merekadiminta untuk:
Sayangnya, bilangan yang digunakan adalah bilangan 1. menghitung jumlah mendatar di setiap baris, asli saja, dan itupun dari 1 hingga 9, persis seperti menghitung jumlah vertikal di setiap kolom, dan permainan sudoku aslinya. Akibatnya, mereka tidak menghitung jumlah diagonal;
berkesempatan belajar bilangan bulat. Mereka pun 2. memilih salah satu dari 9 kelompok 3 x 3 hanya mengurutkan bilangan saja sesuai aturan yang bilangan, dan menghitung sekali lagi jumlah berlaku. Karena itu, penulis mencoba mendatar, vertikal, dan diagonalnya;
mengembangkan suatu gagasan pembelajaran yang 3. menemukan salah satu sifat menarik untuk memanfaatkan permainan Sudoku ini agar mereka disampaikan kepada kelas (open ended) belajar bilangan bulat.
Pembelajaran bisa diteruskan dengan meminta anak Pertama-tama, bilangan yang digunakan adalah untuk menyajikan temuannya, atau dengan teknik bilangan campuran antara bilangan bulat positif, nol, sharing lainnya (kunjung karya, karya kunjung, dll). dan negatif. Dalam hal ini, penulis menyarankan
penggunaan bilangan -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4. Dengan cara ini, para siswa diharapkan belajar tentang bilangan bulat sambil bermain. Nuansa Kalau sudah mahir dengan bilangan-bilangan ini, kita bermain ini diharapkan membuat mereka merasa bisa menggunakan bilangan-bilangan bulat yang asyik dalam belajar matematika.
Dikembangkan dari Praktik yang dilakukan oleh Nur Khamimah, S.Pd, Fasilitator Daerah DBE3 Mojokerto, Jawa Timur
ayu bisa membantu dalam mempelajari mengukur secara langsung. matematika. Itu yang saya lakukan dalam
K
Standar Kompetensi ”Menggunakan bentuk Setelah itu, saya mengajak siswa bermain di lapangan. aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu Alat dan bahan yang telah mereka sediakan dari rumah variabel dan perbandingan dalam pemecahan masalah”. dibawa serta. Selama empat puluh menit, siswa diminta Dengan menggunakan kayu saya lebih mudah untuk melakukan langkah-langkah yang ada pada lembar kerja memenuhi target Kompetensi Dasar: Menggunakan (LK). Setelah itu, selama 20 menit siswa perbandingan untuk menyelesaikan masalah. mempresentasikan hasil kerja kelompok. Mereka mendemonstrasikan cara menghitung tinggi tiang Kayu yang saya gunakan sangat sederhana dan bisa dengan perbandingan senilai.diperoleh dengan mudah. Saya hanya
meminta siswa mebawa pegangan Setelah presentasi kelompok (gagang) sapu yang sudah tidak selesai, saya memberikan terpakai lagi. Jika tidak ada, maka penguatan kepada siswa ranting kayu yang lurus bisa sebagai selama lima menit. Saya gantinya. Panjang kayu tidak boleh k e m b a l i m e m p e r t e g a s lebih dari 200 cm, agar siswa tidak metode penghitungan tinggi. kerepotan membawanya. Sedangkan Selanjutnya siswa diminta media pendukung seperti alat ukur untuk membuat kesimpulan dan alat penggali tanah tersedia di sendiri dan menuliskan jurnal sekolah. refleksi. Proses pembelajaran
berjalan lancar dan efektif. Saya memulai pembelajaran dengan
memberikan apersepsi selama lima menit. Di sini saya menyampakan bahwa pelajaran kali ini berhubungan dengan ’perbandingan senilai’. Saya memberikan motivasi agar siswa dapat memahami materi ini dengan baik. Saya yakinkan bahwa siswa mampu mengetahui tinggi sebuah bangunan atau tiang yang tinggi tanpa
Untuk pengembangan, pembelajaran ini bisa digunakan untuk melatih siswa dalam menghitung tinggi benda yang sering ditemui di lingkungan sekitarnya. Misalnya menghitung tinggi rumah, tinggi gedung bangunan bertingkat, tinggi tiang listrik, tinggi tower telekomunikasi, dan lain sebagainya. Selamat Mencoba.
Heny Kurnia, S.Pd, Guru Matematika SMPN 4 Tanjungbalai, Sumatera Utara
Ibu Nia membantu siswa melakukan proses percobaan di halaman sekolah.
Siswa menuliskan hasil percobaan secara berkelompok.
Menghitung Tinggi Kayu
Memanfaatkan Permainan
Sudoku untuk Belajar
Bilangan Bulat
u Nur Khamimah S.Pd menceritakan bahwa terdiri dari dua angka, tiga angka atau yang lain. beliau memanfaatkan permainan Sudoku
B
untuk membelajarkan Bilangan Bulat di MTs Kedua, setelah siswa berhasil mengisi semua kotak Brawijaya. Beliau mengatakan bahwa dengan cara sesuai dengan aturan main Sudoku, para siswa tersebut siswanya menjadi sangat termotivasi. diminta untuk melakukan eksplorasi. Kepada Mereka asyik bermain-main dengan bilangan bulat. mereka diberikan LKS, yang didalamnya merekadiminta untuk:
Sayangnya, bilangan yang digunakan adalah bilangan 1. menghitung jumlah mendatar di setiap baris, asli saja, dan itupun dari 1 hingga 9, persis seperti menghitung jumlah vertikal di setiap kolom, dan permainan sudoku aslinya. Akibatnya, mereka tidak menghitung jumlah diagonal;
berkesempatan belajar bilangan bulat. Mereka pun 2. memilih salah satu dari 9 kelompok 3 x 3 hanya mengurutkan bilangan saja sesuai aturan yang bilangan, dan menghitung sekali lagi jumlah berlaku. Karena itu, penulis mencoba mendatar, vertikal, dan diagonalnya;
mengembangkan suatu gagasan pembelajaran yang 3. menemukan salah satu sifat menarik untuk memanfaatkan permainan Sudoku ini agar mereka disampaikan kepada kelas (open ended) belajar bilangan bulat.
Pembelajaran bisa diteruskan dengan meminta anak Pertama-tama, bilangan yang digunakan adalah untuk menyajikan temuannya, atau dengan teknik bilangan campuran antara bilangan bulat positif, nol, sharing lainnya (kunjung karya, karya kunjung, dll). dan negatif. Dalam hal ini, penulis menyarankan
penggunaan bilangan -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4. Dengan cara ini, para siswa diharapkan belajar tentang bilangan bulat sambil bermain. Nuansa Kalau sudah mahir dengan bilangan-bilangan ini, kita bermain ini diharapkan membuat mereka merasa bisa menggunakan bilangan-bilangan bulat yang asyik dalam belajar matematika.
Dikembangkan dari Praktik yang dilakukan oleh Nur Khamimah, S.Pd, Fasilitator Daerah DBE3 Mojokerto, Jawa Timur
ayu bisa membantu dalam mempelajari mengukur secara langsung. matematika. Itu yang saya lakukan dalam
K
Standar Kompetensi ”Menggunakan bentuk Setelah itu, saya mengajak siswa bermain di lapangan. aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu Alat dan bahan yang telah mereka sediakan dari rumah variabel dan perbandingan dalam pemecahan masalah”. dibawa serta. Selama empat puluh menit, siswa diminta Dengan menggunakan kayu saya lebih mudah untuk melakukan langkah-langkah yang ada pada lembar kerja memenuhi target Kompetensi Dasar: Menggunakan (LK). Setelah itu, selama 20 menit siswa perbandingan untuk menyelesaikan masalah. mempresentasikan hasil kerja kelompok. Mereka mendemonstrasikan cara menghitung tinggi tiang Kayu yang saya gunakan sangat sederhana dan bisa dengan perbandingan senilai.diperoleh dengan mudah. Saya hanya
meminta siswa mebawa pegangan Setelah presentasi kelompok (gagang) sapu yang sudah tidak selesai, saya memberikan terpakai lagi. Jika tidak ada, maka penguatan kepada siswa ranting kayu yang lurus bisa sebagai selama lima menit. Saya gantinya. Panjang kayu tidak boleh k e m b a l i m e m p e r t e g a s lebih dari 200 cm, agar siswa tidak metode penghitungan tinggi. kerepotan membawanya. Sedangkan Selanjutnya siswa diminta media pendukung seperti alat ukur untuk membuat kesimpulan dan alat penggali tanah tersedia di sendiri dan menuliskan jurnal sekolah. refleksi. Proses pembelajaran
berjalan lancar dan efektif. Saya memulai pembelajaran dengan
memberikan apersepsi selama lima menit. Di sini saya menyampakan bahwa pelajaran kali ini berhubungan dengan ’perbandingan senilai’. Saya memberikan motivasi agar siswa dapat memahami materi ini dengan baik. Saya yakinkan bahwa siswa mampu mengetahui tinggi sebuah bangunan atau tiang yang tinggi tanpa
Untuk pengembangan, pembelajaran ini bisa digunakan untuk melatih siswa dalam menghitung tinggi benda yang sering ditemui di lingkungan sekitarnya. Misalnya menghitung tinggi rumah, tinggi gedung bangunan bertingkat, tinggi tiang listrik, tinggi tower telekomunikasi, dan lain sebagainya. Selamat Mencoba.
Heny Kurnia, S.Pd, Guru Matematika SMPN 4 Tanjungbalai, Sumatera Utara
Ibu Nia membantu siswa melakukan proses percobaan di halaman sekolah.
Siswa menuliskan hasil percobaan secara berkelompok.
Menghitung Tinggi Kayu
SK nomor 3:
Menggunakan Teorema Pythagoras dalam pemecahan masalah.
KD nomor 3.1:
Menggunakan Teorema Pythagoras untuk menentukan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku.
Langkah-langkah pembelajaran yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut,
Sebagai pengantar (10 menit), guru memberitahukan bahwa dalam kegiatan selama 80 menit peserta akan menemukan: (a) panjang sisi segitiga siku-siku dengan berbagai ukuran dan (b) hubungan panjang sisi segitiga siku-siku.
Pada kegiatan inti (60 menit), siswa mengerjakan LK yang telah disediakaan secara berkelompok dan mereka kemudian memajang hasil karyanya (20 menit). Siswa menyajikan hasil karya kelompok untuk disajikan dan mendapat tanggapan dari kelompok lain (40 menit).
Pada bagian akhir, siswa dengan bimbingan guru membuat kesimpulan mengenai cara penggunaan teorema Pythagoras dalam pemecahan masalah. Guru juga bersama para siswa melakukan refleksi
pembelajaran guna mengukur tingkat keefektifan pembelajaran. Sebelum pulang, siswa juga didorong untuk menerapkan hukum Pythagoras dalam kehidupan.
Didin Mahpudin, Guru SMPN 4 Pagaden, Subang
dan Ence Tajudin Guru SMPN 2 Panggarangan, Lebak, Banten
Teorema Pythagoras
untuk Pemecahan Masalah
Teorema Pythagoras
SK nomor 3:
Menggunakan Teorema Pythagoras dalam pemecahan masalah.
KD nomor 3.1:
Menggunakan Teorema Pythagoras untuk menentukan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku.
Langkah-langkah pembelajaran yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut,
Sebagai pengantar (10 menit), guru memberitahukan bahwa dalam kegiatan selama 80 menit peserta akan menemukan: (a) panjang sisi segitiga siku-siku dengan berbagai ukuran dan (b) hubungan panjang sisi segitiga siku-siku.
Pada kegiatan inti (60 menit), siswa mengerjakan LK yang telah disediakaan secara berkelompok dan mereka kemudian memajang hasil karyanya (20 menit). Siswa menyajikan hasil karya kelompok untuk disajikan dan mendapat tanggapan dari kelompok lain (40 menit).
Pada bagian akhir, siswa dengan bimbingan guru membuat kesimpulan mengenai cara penggunaan teorema Pythagoras dalam pemecahan masalah. Guru juga bersama para siswa melakukan refleksi
pembelajaran guna mengukur tingkat keefektifan pembelajaran. Sebelum pulang, siswa juga didorong untuk menerapkan hukum Pythagoras dalam kehidupan.
Didin Mahpudin, Guru SMPN 4 Pagaden, Subang
dan Ence Tajudin Guru SMPN 2 Panggarangan, Lebak, Banten
Teorema Pythagoras
untuk Pemecahan Masalah
Teorema Pythagoras
SK nomor 5: Memahami sifat-sifat kubus, balok, cara dan rumus penghitungan volum kubus dan prisma, limas dan bagian-bagiannya serta menentukan balok;
ukurannya lSiswa bekerja dalam kelompok untuk
mengidentifikasi wadah mana yang tercepat untuk
KD nomor 5.3: Menghitung luas permukaan dan mengisi bak air;
volum kubus, balok, prisma dan limas lSiswa dalam kelompok menghitung perbedaan
volum wadah berbentuk kubus dengan wadah
Proses Belajar berbentuk balok;
lMembahas tujuan pembelajaran; lSiswa melakukan refleksi mengenai materi yang lMembahas manfaat mempelajari materi ini dalam telah dipelajari;
kehidupan sehari-hari; lPembahasan tugas pengembangan untuk kegiatan di lGuru dan siswa bertanya jawab untuk mengingat rumah.
Sopiandi Resmana, Guru MTs At-Ta’awun, Garut, Jawa Barat
Luas Muka dan Volume
Kubus, Balok, Prisma, dan Limas
Luas Muka dan Volume
Kubus, Balok, Prisma, dan Limas
SK nomor 5: Memahami sifat-sifat kubus, balok, cara dan rumus penghitungan volum kubus dan prisma, limas dan bagian-bagiannya serta menentukan balok;
ukurannya lSiswa bekerja dalam kelompok untuk
mengidentifikasi wadah mana yang tercepat untuk
KD nomor 5.3: Menghitung luas permukaan dan mengisi bak air;
volum kubus, balok, prisma dan limas lSiswa dalam kelompok menghitung perbedaan
volum wadah berbentuk kubus dengan wadah
Proses Belajar berbentuk balok;
lMembahas tujuan pembelajaran; lSiswa melakukan refleksi mengenai materi yang lMembahas manfaat mempelajari materi ini dalam telah dipelajari;
kehidupan sehari-hari; lPembahasan tugas pengembangan untuk kegiatan di lGuru dan siswa bertanya jawab untuk mengingat rumah.
Sopiandi Resmana, Guru MTs At-Ta’awun, Garut, Jawa Barat
Luas Muka dan Volume
Kubus, Balok, Prisma, dan Limas
Luas Muka dan Volume
Kubus, Balok, Prisma, dan Limas
SERBA SERBI
C
embar kerja (LK) merupakan salah satu alat bantu yang
dapat digunakan guru sewaktu mengajar. LK yang baik
L
mendorong siswa untuk antara lain melakukan penemuan,
penyelidikan, pemecahan masalah, berimajinasi, dan mengkreasi;
daripada hanya sekedar melakukan apa yang diperintahkan di LK.
SERBA SERBI
C
embar kerja (LK) merupakan salah satu alat bantu yang
dapat digunakan guru sewaktu mengajar. LK yang baik
L
mendorong siswa untuk antara lain melakukan penemuan,
penyelidikan, pemecahan masalah, berimajinasi, dan mengkreasi;
daripada hanya sekedar melakukan apa yang diperintahkan di LK.
Meningkatkan Kepercayaan
Diri Anggota Kelompok
uatu saat aku memberikan soal pemecahan masalah tentang segitiga kepada siswa-siswaku.
S
Aku minta mereka mengerjakan dalam kelompok, dan soalnya adalah sebagai berikut:Pada persegipanjang berikut ini. Jika angka-angka a, b, dan c pada gambar tersebut menyatakan panjang sisi-sisi yang bersesuaian (dalam cm), berapakan jumlah jarak dari T ke PS dan T ke SR (dalam dm).
Ternyata, di setiap kelompok, selalu saja ada siswa yang pasif, dan tidak berpartisipasi. Mereka hanya menonton teman-temannya bekerja dan tidak berkontribusi sama sekali.
Kudekati mereka yang pasif, dan kutanya dengan sabar dari hati ke hati. “Mengapa tidak berpartisipasi? Mengapa diam saja?”. Ternyata jawaban mereka hampir sama. “Tidak bisa pak.” Akupun bertanya lebih lanjut “Kalau kalian bisa apakah ada jaminan bahwa kalian akan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok?” Mereka pun menjawab “Pasti, pak. Kalau kami bisa, maka kami akan bangga sekali. Apalagi kalau kami kelihatan hebat di mata teman-teman yang biasanya lebih pandai.” Maka akupun berinisiatif. Kupanggil masing-masing satu orang dari setiap
kelompok, terutama mereka yang biasanya agak kurang pandai, untuk ke luar dari kelas. Kukumpulkan mereka, dan kuadakan tanya jawab yang dengan itu akhirnya mereka bisa menjawab soal itu. Mereka mengangguk-angguk melihat bahwa ternyata penyelesaiannya sederhana.
Ketika mereka kutanya “Apakah kalian sudah mengerti?”, secara serempak mereka mengatakan “Sudah, pak.”. Ketika kutanyakan lebih lanjut, “apakah kalian mampu menerangkan kepada teman-teman kalian?”, sebagian dari mereka ragu, tetapi sebagian dari mereka mengatakan “mampu”. Setelah kuulangi lagi
penjelasannya dan mereka kemudian memperoleh keyakinan tinggi untuk menjelaskannya kepada temannya, akupun meminta mereka untuk kembali ke kelompok dan berpartisipasi dengan memeriksa jawaban temannya serta memberikan penjelasan tentang cara yang sudah diperolehnya dariku. Ketika mereka kembali ke kelompok, ternyata hampir semua mampu
menjelaskan kepada teman-teman di kelompoknya. Teman-temannya pun terlihat sepenuh hati mendengarkan penjelasan dan bertanya kalau dipandang perlu. Diskusi kelompok terlihat berjalan dengan baik. Anak yang semula pasif, menjadi aktif.
Hebatnya lagi, sejak saat itu, mereka menjadi lebih percaya diri, dan tidak segan-segan bertanya kepada temannya kalau memang tidak mengerti. Mereka juga berani bertanya kepada guru soal-soal lain yang mereka cari dari tempat lain. Sungguh, semangat belajar yang berkembang.
16
9
c
b
a
T
P
S
R
Q
Lembar Kerja yang Membuat
Siswa Berpikir Tingkat Tinggi
embar kerja (LK) di atas adalah buatan Bapak Ngatman, guru MTsN Cepogo,
L
Boyolali, Jawa Tengah. Untukmenyelesaikan persoalan yang dikemukakan dalam lembar kerja tersebut siswa dituntut untuk menerapkan pemahaman tentang lingkaran. Pemahaman tentang apa sajakah itu? Selain pemahaman tersebut, yang lebih penting adalah logika berpikir tentang apa saja yang harus dicari sehingga panjang kawat keseluruhan dapat dihitung.
Di samping kanan adalah hasil pengembangan lembar kerja tersebut. Coba bandingkan dengan LK asal, apa sajakah yang dituntut dari siswa oleh LK hasil pengembangan ini?
Meningkatkan Kepercayaan
Diri Anggota Kelompok
uatu saat aku memberikan soal pemecahan masalah tentang segitiga kepada siswa-siswaku.
S
Aku minta mereka mengerjakan dalam kelompok, dan soalnya adalah sebagai berikut:Pada persegipanjang berikut ini. Jika angka-angka a, b, dan c pada gambar tersebut menyatakan panjang sisi-sisi yang bersesuaian (dalam cm), berapakan jumlah jarak dari T ke PS dan T ke SR (dalam dm).
Ternyata, di setiap kelompok, selalu saja ada siswa yang pasif, dan tidak berpartisipasi. Mereka hanya menonton teman-temannya bekerja dan tidak berkontribusi sama sekali.
Kudekati mereka yang pasif, dan kutanya dengan sabar dari hati ke hati. “Mengapa tidak berpartisipasi? Mengapa diam saja?”. Ternyata jawaban mereka hampir sama. “Tidak bisa pak.” Akupun bertanya lebih lanjut “Kalau kalian bisa apakah ada jaminan bahwa kalian akan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok?” Mereka pun menjawab “Pasti, pak. Kalau kami bisa, maka kami akan bangga sekali. Apalagi kalau kami kelihatan hebat di mata teman-teman yang biasanya lebih pandai.” Maka akupun berinisiatif. Kupanggil masing-masing satu orang dari setiap
kelompok, terutama mereka yang biasanya agak kurang pandai, untuk ke luar dari kelas. Kukumpulkan mereka, dan kuadakan tanya jawab yang dengan itu akhirnya mereka bisa menjawab soal itu. Mereka mengangguk-angguk melihat bahwa ternyata penyelesaiannya sederhana.
Ketika mereka kutanya “Apakah kalian sudah mengerti?”, secara serempak mereka mengatakan “Sudah, pak.”. Ketika kutanyakan lebih lanjut, “apakah kalian mampu menerangkan kepada teman-teman kalian?”, sebagian dari mereka ragu, tetapi sebagian dari mereka mengatakan “mampu”. Setelah kuulangi lagi
penjelasannya dan mereka kemudian memperoleh keyakinan tinggi untuk menjelaskannya kepada temannya, akupun meminta mereka untuk kembali ke kelompok dan berpartisipasi dengan memeriksa jawaban temannya serta memberikan penjelasan tentang cara yang sudah diperolehnya dariku. Ketika mereka kembali ke kelompok, ternyata hampir semua mampu
menjelaskan kepada teman-teman di kelompoknya. Teman-temannya pun terlihat sepenuh hati mendengarkan penjelasan dan bertanya kalau dipandang perlu. Diskusi kelompok terlihat berjalan dengan baik. Anak yang semula pasif, menjadi aktif.
Hebatnya lagi, sejak saat itu, mereka menjadi lebih percaya diri, dan tidak segan-segan bertanya kepada temannya kalau memang tidak mengerti. Mereka juga berani bertanya kepada guru soal-soal lain yang mereka cari dari tempat lain. Sungguh, semangat belajar yang berkembang.
16
9
c
b
a
T
P
S
R
Q
Lembar Kerja yang Membuat
Siswa Berpikir Tingkat Tinggi
embar kerja (LK) di atas adalah buatan Bapak Ngatman, guru MTsN Cepogo,
L
Boyolali, Jawa Tengah. Untukmenyelesaikan persoalan yang dikemukakan dalam lembar kerja tersebut siswa dituntut untuk menerapkan pemahaman tentang lingkaran. Pemahaman tentang apa sajakah itu? Selain pemahaman tersebut, yang lebih penting adalah logika berpikir tentang apa saja yang harus dicari sehingga panjang kawat keseluruhan dapat dihitung.
Di samping kanan adalah hasil pengembangan lembar kerja tersebut. Coba bandingkan dengan LK asal, apa sajakah yang dituntut dari siswa oleh LK hasil pengembangan ini?
engikuti kompetisi bukan perkara lebih mengerti maka saya akan membantunya. gampang bagi saya. Selain banyak pesaing, Cara belajar di sekolah kami memang berbeda.
M
soal-soal yang disajikan juga beragam. Hubungan kami dengan guru terasa lebih dekat. Tidak mudah untuk mengerjakannya. Ini benar- Kami diijinkan untuk mengemukakan pendapat. benar kompetisi yang ketat. Ruang kelas kami juga tampak berbeda. Banyakkarya kami ditempel di seluruh permukaan Saya cukup tertolong dalam persiapan. Metode dinding kelas. Ruang kelas kami seperti itu pembelajaran yang dijalankan di sekolah banyak membuat saya lebih nyaman mempersiapkan membantu saya. Di sekolah kami belajar secara diri. Saya pun lebih percaya diri untuk
berkelompok. Dalam kelompok kami dibiasakan menghadapai kompetisi. Semoga saya berhasil! untuk bertukar pendapat. Perbedaan pendapat
adalah hal yang biasa. Kami bisa menerima itu dengan baik.
Hal yang menyenangkan dalam belajar berkelompok adalah kami bisa berbagi
pengetahuan. Soal-soal matematika yang rumit, misalnya, bisa kami selesaikan bersama-sama. Jika saya kurang mengerti cara menyelesaikan salah satu soal, saya bisa bertanya kepada kawan saya yang lebih paham. Dia akan membantu saya bagaimana mengerjakannya. Cara dia menjelaskan juga lebih sederhana sehingga saya lebih cepat mengerti. Begitu pula sebaliknya, jika saya yang
Lebih Mudah Mengerjakan
Soal Matematika
Liana Zahara (13) itu nama saya. Sekarang saya belajar di SMP
Negeri 2 Binjai-Sumatera Utara. Saat menulis cerita ini, saya
tengah menyiapkan diri menghadapi final kompetisi matematika
PASIAD se-Indonesia.
Pembelajaran Penyajian Data Statistika
dengan Model Proyek
mata pelajaran embelajaran matematika dengan tujuan matematika dengan mengadakan replikasi madiri. pembelajaran menyajikan data dengan tabel, Siswa didorong
diagram batang dan diagram garis dirancang
P
untuk melatih siswa mampu mengkomunikasikan hasil pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat bekerja sama antar
anggota kelompok yang pada gilirannya siswa menggunakan tempat parkir dan plat nomor sepeda mampu mencapai kecakapan sosial. motor sumber belajar.
Orientasi pembelajarannya adalah kerja proyek, yaitu Guru memulai pelajaran dengan melakukan tanya menugaskan siswa untuk melakukan investigasi, jawab tentang manfaat belajar statistika dan penyajian perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, data. Sebagai connection, guru memperlihatkan pengelolaan, dan penyajian data yang harus contoh diagram garis dan diagram batang pada koran diselesaikan dalam waktu tertentu. Sebagai madrasah, atau surat kabar. Dari hasil pengamatan contoh MTs Negeri Karangtengah juga berkeinginan untuk diagram tersebut siswa secara berkelompok keluar meningkatkan kompetensi guru-guru khususnya kelas menuju tempat parkir untuk mencatat angka satuan atau ribuan plat nomor sepeda motor. Data hasil pengamatan dicatat di lembar kerja dan didiskusikan di dalam kelompok, untuk membuat tabel, diagram garis, dan diagram batang. Tidak lupa setiap kelompok membuat karya siswa dalam bentuk diagram batang dan garis nomor satuan atau nomor ribuan plat nomor bapak/ibu guru dan karyawan MTs Negeri Karang Tengah Demak.
engikuti kompetisi bukan perkara lebih mengerti maka saya akan membantunya. gampang bagi saya. Selain banyak pesaing, Cara belajar di sekolah kami memang berbeda.
M
soal-soal yang disajikan juga beragam. Hubungan kami dengan guru terasa lebih dekat. Tidak mudah untuk mengerjakannya. Ini benar- Kami diijinkan untuk mengemukakan pendapat. benar kompetisi yang ketat. Ruang kelas kami juga tampak berbeda. Banyakkarya kami ditempel di seluruh permukaan Saya cukup tertolong dalam persiapan. Metode dinding kelas. Ruang kelas kami seperti itu pembelajaran yang dijalankan di sekolah banyak membuat saya lebih nyaman mempersiapkan membantu saya. Di sekolah kami belajar secara diri. Saya pun lebih percaya diri untuk
berkelompok. Dalam kelompok kami dibiasakan menghadapai kompetisi. Semoga saya berhasil! untuk bertukar pendapat. Perbedaan pendapat
adalah hal yang biasa. Kami bisa menerima itu dengan baik.
Hal yang menyenangkan dalam belajar berkelompok adalah kami bisa berbagi
pengetahuan. Soal-soal matematika yang rumit, misalnya, bisa kami selesaikan bersama-sama. Jika saya kurang mengerti cara menyelesaikan salah satu soal, saya bisa bertanya kepada kawan saya yang lebih paham. Dia akan membantu saya bagaimana mengerjakannya. Cara dia menjelaskan juga lebih sederhana sehingga saya lebih cepat mengerti. Begitu pula sebaliknya, jika saya yang
Lebih Mudah Mengerjakan
Soal Matematika
Liana Zahara (13) itu nama saya. Sekarang saya belajar di SMP
Negeri 2 Binjai-Sumatera Utara. Saat menulis cerita ini, saya
tengah menyiapkan diri menghadapi final kompetisi matematika
PASIAD se-Indonesia.
Pembelajaran Penyajian Data Statistika
dengan Model Proyek
mata pelajaran embelajaran matematika dengan tujuan matematika dengan mengadakan replikasi madiri. pembelajaran menyajikan data dengan tabel, Siswa didorong
diagram batang dan diagram garis dirancang
P
untuk melatih siswa mampu mengkomunikasikan hasil pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat bekerja sama antar
anggota kelompok yang pada gilirannya siswa menggunakan tempat parkir dan plat nomor sepeda mampu mencapai kecakapan sosial. motor sumber belajar.
Orientasi pembelajarannya adalah kerja proyek, yaitu Guru memulai pelajaran dengan melakukan tanya menugaskan siswa untuk melakukan investigasi, jawab tentang manfaat belajar statistika dan penyajian perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, data. Sebagai connection, guru memperlihatkan pengelolaan, dan penyajian data yang harus contoh diagram garis dan diagram batang pada koran diselesaikan dalam waktu tertentu. Sebagai madrasah, atau surat kabar. Dari hasil pengamatan contoh MTs Negeri Karangtengah juga berkeinginan untuk diagram tersebut siswa secara berkelompok keluar meningkatkan kompetensi guru-guru khususnya kelas menuju tempat parkir untuk mencatat angka satuan atau ribuan plat nomor sepeda motor. Data hasil pengamatan dicatat di lembar kerja dan didiskusikan di dalam kelompok, untuk membuat tabel, diagram garis, dan diagram batang. Tidak lupa setiap kelompok membuat karya siswa dalam bentuk diagram batang dan garis nomor satuan atau nomor ribuan plat nomor bapak/ibu guru dan karyawan MTs Negeri Karang Tengah Demak.
BTL 2 dan 3 Menjawab Peran Guru
dalam Mengembangkan Potensi Siswa
alam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 jawaban tunggal yang paling tepat). Tentang sistem pendidikan Nasional, Pasal 39,
D
ayat 2, Pendidik merupakan tenaga profesional Hal ini ketika kami melakukan pendampingan ke yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses berbagai sekolah Mitra dan non Mitra (sekolah pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan replikasi) ternyata para Guru mencoba untuk pembimbingan dan pelatihan serta pengabdian kepada merumuskan pertanyaan tingkat tinggi yang dijabarkan masyarakat . Sedangkan dalam pasal 32 ayat 1 pada lembar kerja dan mempraktikan dalam proses disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pembelajaran hasilnya mampu memicu siswa untuk pendidikan bagi siswa yang memiliki tingkat kesulitan menyelidiki, menemukan, memecahkan masalah dan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan mengkreasi.fisik, emosional, mental dan/atau memiliki potensi
kecerdasan dan bakat yang istimewa. Dalam pelatihan BTL 2 Unit 3 dan BTL 3 Unit 2b yang mengupas tentang bagaimana Guru menggunakan Berdasarkan ketentuan tersebut dan pengalaman kami lingkungan dan media yang merupakan potensi sumber setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan, BTL 2 belajar yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, dan 3 mampu menjawab dan memberikan pelatihan
G u r u b e r p e r a n y a n g s a n g a t b e s a r d a l a m megembangkan potensi belajar siswa, seperti yang ada dalam BTL 2 Unit 2A dan BTL 3 Unit 2A tentang bagaimana seorang Guru dapat merumuskan pertanyaan tingkat tinggi yang dikemas pada Lembar Kerja sehingga siswa diarahkan pada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) maupun proses berpikir konvergen (proses berfikir mencari
Yadi Suyanto, Distrik Fasilitator Grobogan, Jawa Tengah
dalam kontek ini pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa Guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yang menentukan segala galanya bagi siswa. Sebagai fasilitator guru lebih banyak mendorong siswa (motivator) untuk mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Guru harus bersifat lebih terbuka menerima gagasan-gagasan siswa dan lebih berusaha menghilangkan ketakutan dan kecemasan siswa yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.
Suasana belajar yang kooperatif dan berlatih untuk memecahkan masalah seperti yang dilatihkan dalam BTL 2 unit 2A dan 2C dari hasil pengamatan kami di lapangan ternyata sangat digemari para siswa dan
secara runtut dan logis, aspek sosial menuntut siswa Guru dan ini sepertinya sudah menjadi suatu
untuk bekerja kooperatif sehingga membuahkan hasil kebiasaan pada sekolah-sekolah mitra dan replikasi
karya yang optimal. DBE3 karena menurut beberapa guru yang kami
dampingi, hal ini sangat memungkinkan siswa
Hal seperti ini tampak sekali nuansanya pada sekolah mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya
mitra dan replikasi yang pernah kami kunjungi di secara optimal. Suasana kegiatan belajar yang menarik,
Kabupaten Grobogan tampak hasil karya dipajang interaktif, merangsang kedua belahan otak siswa
baik itu di dalam maupun di luar kelas, dan hasil karya secara simbang, memperhatikan keunikan setiap siswa,
siswa yang dipajang sebenarnya dapat dijadikan melibatkan partisipasi aktif siswa, dan membuat
sebagai sumber belajar bersama semua warga sekolah seluruh potensi siswa berkembang secara optimal.
bahkan ada sekolah yang memiliki tempat tersendiri untuk mengkoleksi hasil karya tersebut dan sebagai Pemajangan hasil karya siswa dalam BTL 2 merupakan
bukti bahwa guru memiliki peran yang sangat besar pelatihan yang sangat tepat untuk mengapresiasi
untuk mengembangkan kemampuan potensi siswa kompetensi siswa dan pembelajaran kecakapan hidup
adalah ketika ada showcase di tingkat kabupaten antara lain mencakup aspek personal dimana seorang
maupun provinsi. Bagaimana hasil karya siswa?....???... siswa dituntut untuk mampu mempresentasikan hasil
lua…ar….ar biasa, dan jangan lupa selanjutnya tugas pemikiran baik itu individu maupun mewakili
guru adalah mengembangkan potensi siswa menjadi kelompoknya di hadapan teman-temannya. Aspek
kemampuan yang maksimal. akademik yang menuntut peran siswa untuk berpikir
BTL 2 dan 3 Menjawab Peran Guru
dalam Mengembangkan Potensi Siswa
alam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 jawaban tunggal yang paling tepat). Tentang sistem pendidikan Nasional, Pasal 39,
D
ayat 2, Pendidik merupakan tenaga profesional Hal ini ketika kami melakukan pendampingan ke yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses berbagai sekolah Mitra dan non Mitra (sekolah pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan replikasi) ternyata para Guru mencoba untuk pembimbingan dan pelatihan serta pengabdian kepada merumuskan pertanyaan tingkat tinggi yang dijabarkan masyarakat . Sedangkan dalam pasal 32 ayat 1 pada lembar kerja dan mempraktikan dalam proses disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pembelajaran hasilnya mampu memicu siswa untuk pendidikan bagi siswa yang memiliki tingkat kesulitan menyelidiki, menemukan, memecahkan masalah dan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan mengkreasi.fisik, emosional, mental dan/atau memiliki potensi
kecerdasan dan bakat yang istimewa. Dalam pelatihan BTL 2 Unit 3 dan BTL 3 Unit 2b yang mengupas tentang bagaimana Guru menggunakan Berdasarkan ketentuan tersebut dan pengalaman kami lingkungan dan media yang merupakan potensi sumber setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan, BTL 2 belajar yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, dan 3 mampu menjawab dan memberikan pelatihan
G u r u b e r p e r a n y a n g s a n g a t b e s a r d a l a m megembangkan potensi belajar siswa, seperti yang ada dalam BTL 2 Unit 2A dan BTL 3 Unit 2A tentang bagaimana seorang Guru dapat merumuskan pertanyaan tingkat tinggi yang dikemas pada Lembar Kerja sehingga siswa diarahkan pada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) maupun proses berpikir konvergen (proses berfikir mencari
Yadi Suyanto, Distrik Fasilitator Grobogan, Jawa Tengah
dalam kontek ini pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa Guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yang menentukan segala galanya bagi siswa. Sebagai fasilitator guru lebih banyak mendorong siswa (motivator) untuk mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Guru harus bersifat lebih terbuka menerima gagasan-gagasan siswa dan lebih berusaha menghilangkan ketakutan dan kecemasan siswa yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.
Suasana belajar yang kooperatif dan berlatih untuk memecahkan masalah seperti yang dilatihkan dalam BTL 2 unit 2A dan 2C dari hasil pengamatan kami di lapangan ternyata sangat digemari para siswa dan
secara runtut dan logis, aspek sosial menuntut siswa Guru dan ini sepertinya sudah menjadi suatu
untuk bekerja kooperatif sehingga membuahkan hasil kebiasaan pada sekolah-sekolah mitra dan replikasi
karya yang optimal. DBE3 karena menurut beberapa guru yang kami
dampingi, hal ini sangat memungkinkan siswa
Hal seperti ini tampak sekali nuansanya pada sekolah mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya
mitra dan replikasi yang pernah kami kunjungi di secara optimal. Suasana kegiatan belajar yang menarik,
Kabupaten Grobogan tampak hasil karya dipajang interaktif, merangsang kedua belahan otak siswa
baik itu di dalam maupun di luar kelas, dan hasil karya secara simbang, memperhatikan keunikan setiap siswa,
siswa yang dipajang sebenarnya dapat dijadikan melibatkan partisipasi aktif siswa, dan membuat
sebagai sumber belajar bersama semua warga sekolah seluruh potensi siswa berkembang secara optimal.
bahkan ada sekolah yang memiliki tempat tersendiri untuk mengkoleksi hasil karya tersebut dan sebagai Pemajangan hasil karya siswa dalam BTL 2 merupakan
bukti bahwa guru memiliki peran yang sangat besar pelatihan yang sangat tepat untuk mengapresiasi
untuk mengembangkan kemampuan potensi siswa kompetensi siswa dan pembelajaran kecakapan hidup
adalah ketika ada showcase di tingkat kabupaten antara lain mencakup aspek personal dimana seorang
maupun provinsi. Bagaimana hasil karya siswa?....???... siswa dituntut untuk mampu mempresentasikan hasil
lua…ar….ar biasa, dan jangan lupa selanjutnya tugas pemikiran baik itu individu maupun mewakili
guru adalah mengembangkan potensi siswa menjadi kelompoknya di hadapan teman-temannya. Aspek
kemampuan yang maksimal. akademik yang menuntut peran siswa untuk berpikir
Fatur Rizky Pulungan, Siswa Kelas VIII-4
MTsN Lubuk Pakam, Sumatera Utara
Domino Pecahan
ami bermain kartu domino di kelas. Tapi kami tidak sedang bermain judi. Kartu yang kami
K
mainkan berhubungan dengan pembelajaran. Ibu Arfi membuat kartu ini untuk memudahkan kami memahami pecahan senilai.Kartu yang kami pakai tidak berbeda dengan kartu domino biasa yang berumlah 28 kartu. Tapi tanda-tanda dalam kartu itu yang berbeda. Nilai pada kartu domino biasa ditentukan oleh banyak lingkaran. Maka pada kartu Ibu Arfi, lingkaran diganti dengan lambang bilangan pecahan.
Alat Peraga Ibu Arfi Wahyuni, Guru Matematika Ku
Cara bermain domino matematika juga tidak beda. Pada kartu domino, urutan kartu ditentukan dari jumlah nilai yang sama. Demikian juga pada kartu ibu Arfi. Perbedaannya sangat sederhana. Misal, jika kartu yang diletakkan bernilai 1/2 , maka saya harus mencari kartu dengan nilai yang sama. Saya bisa menggunakan 2/4 atau 3/6.
Permainan ini semakin menarik karena ada kompetisi. Kami harus berlomba menghabiskan kartu secepat mungkin. Siapa yang lebih dulu menghabiskan kartu maka ia yang menang. Agar menang kami harus berpikir cepat dan tepat.
Ini sungguh mengasikkan. Tawa kami sering meledak, karena kami silap menghitung nilai pecahan. Begitu pula ketika menang, kami gembira tidak ketulung. Asyik. Kini kami sering memainkan domino matematika. Semakin sering kami bermain, semakin cepat kami dapat menghitung pecahan senilai.
Fatur Rizky Pulungan, Siswa Kelas VIII-4
MTsN Lubuk Pakam, Sumatera Utara
Domino Pecahan
ami bermain kartu domino di kelas. Tapi kami tidak sedang bermain judi. Kartu yang kami
K
mainkan berhubungan dengan pembelajaran. Ibu Arfi membuat kartu ini untuk memudahkan kami memahami pecahan senilai.Kartu yang kami pakai tidak berbeda dengan kartu domino biasa yang berumlah 28 kartu. Tapi tanda-tanda dalam kartu itu yang berbeda. Nilai pada kartu domino biasa ditentukan oleh banyak lingkaran. Maka pada kartu Ibu Arfi, lingkaran diganti dengan lambang bilangan pecahan.
Alat Peraga Ibu Arfi Wahyuni, Guru Matematika Ku
Cara bermain domino matematika juga tidak beda. Pada kartu domino, urutan kartu ditentukan dari jumlah nilai yang sama. Demikian juga pada kartu ibu Arfi. Perbedaannya sangat sederhana. Misal, jika kartu yang diletakkan bernilai 1/2 , maka saya harus mencari kartu dengan nilai yang sama. Saya bisa menggunakan 2/4 atau 3/6.
Permainan ini semakin menarik karena ada kompetisi. Kami harus berlomba menghabiskan kartu secepat mungkin. Siapa yang lebih dulu menghabiskan kartu maka ia yang menang. Agar menang kami harus berpikir cepat dan tepat.
Ini sungguh mengasikkan. Tawa kami sering meledak, karena kami silap menghitung nilai pecahan. Begitu pula ketika menang, kami gembira tidak ketulung. Asyik. Kini kami sering memainkan domino matematika. Semakin sering kami bermain, semakin cepat kami dapat menghitung pecahan senilai.
Buat Meja Yuk!
Perhatikan tampak atas sebuah meja seperti terlihat pada gambar.
Bagian meja yang berbentuk lingkaran dan berwarna coklat/hitam terbuat dari kayu jati, sedangkan bagian meja yang berbentuk persegi terbuat dari kaca. Jika diameter meja tersebut 98 cm, tentukanlah luas dari:
lKaca yang dibutuhkan? lKayu jati yang diperlukan?
Buatlah desain benda yang memadukan dua bangun datar dari bangun datar berikut: lingkaran, persegi, atau bidang datar lainnya. Tentukan pula ukuran dan kebutuhan bahannya.
aya sebagai guru matematika telah lama merasakan
S
ketidakpuasan menyaksikan hasil proses pembelajaran matematika yang saya lakukan. Hasil belajar siswa rendah dan motivasi mereka untuk mengikuti pelajaran matematika rendah. Pada saat pembelajaran berlangsung, yang aktif dalam diskusi maupun menyelesaikan soal-soal hanya siswa yang tergolong cerdas itupun satu hingga dua orang saja dalam setiap kelas. Kondisi ini kadang membuat saya frustasi.Berdasarkan pengamatan dan hasil bincang-bincang dengan siswa, saya mengetahui bahwa ternyata matematika di mata mereka adalah
mata pelajaran yang kurang perlahan saya menemukan pencerahan dan saya menyenangkan untuk dipelajari dan bahkan menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama cenderung ditakuti dan dihindari siswa. ini mengganggu saya. Di samping itu muncul
semangat baru dalam diri saya sebagai seorang guru Berdasarkan fakta tersebut bergelayut pertanyaan dan memperoleh banyak keterampilan baru yang yang selalu mengganggu pikiran saya: Mengapa siswa sebelumnya tidak saya miliki.
berpendapat demikian? dan bagaimana agar
pelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan Melalui kegiatan-kegiatan dalam pelatihan DBE, kami untuk dipelajari? diajari banyak hal diantaranya adalah tentang
perubahan sikap dan pola pikir dalam mengajar. Dalam rangka menemukan jawaban atas pertanyaan Dulu, kami mengajar semata-mata adalah bagaimana tersebut, saya sering bertanya pada rekan-rekan agar siswa mampu memahami dan mampu
guru yang saya anggap mampu menjawabnya, sedikit menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Istilah karya membaca buku, atau mempraktikkan dalam siswa tidak kami kenal dalam pelajaran matematika. pembelajaran ide-ide yang saya peroleh dari rekan- Karya siswa kami anggap hanya sesuai untuk mata rekan guru atau ide saya sendiri. Dari kegiatan- pelajaran keterampilan. Namun kini, kami sadar kegiatan yang saya lakukan itu sebagian saya bahwa karya siswa merupakan salah satu bukti hasil menemukan jawaban dan sebagian lagi tidak. belajar siswa yang sama pentingnya dengan
kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal yang Sementara masih dalam proses pencarian, bergema kami berikan.
sebuah istilah yang baru saya dengar ”Decentralized
Based Education (DBE) 3”. Melalui serangkaian Karya siswa yang dihasilkan tidak berhenti sampai pelatihan yang dilaksanakan, mulai dari Better di situ saja namun kami pilih yang terbaik dan Teaching and Learning 2 (BTL 2) hingga BTL 3 yang dipajangkan di dinding kelas pada tempat yang telah saya ikut di dalamnya sebagai peserta, secara disiapkan sebelumnya. Tujuan pemajangan
Nunung Komariah, S.Pd, Guru Matematika MTs Al-Rohmah Karangpawitan, Garut, Jawa Barat
Melalui DBE 3,
Matematika Menemukan
Rumahnya Kembali
Buat Meja Yuk!
Perhatikan tampak atas sebuah meja seperti terlihat pada gambar.
Bagian meja yang berbentuk lingkaran dan berwarna coklat/hitam terbuat dari kayu jati, sedangkan bagian meja yang berbentuk persegi terbuat dari kaca. Jika diameter meja tersebut 98 cm, tentukanlah luas dari:
lKaca yang dibutuhkan? lKayu jati yang diperlukan?
Buatlah desain benda yang memadukan dua bangun datar dari bangun datar berikut: lingkaran, persegi, atau bidang datar lainnya. Tentukan pula ukuran dan kebutuhan bahannya.
aya sebagai guru matematika telah lama merasakan
S
ketidakpuasan menyaksikan hasil proses pembelajaran matematika yang saya lakukan. Hasil belajar siswa rendah dan motivasi mereka untuk mengikuti pelajaran matematika rendah. Pada saat pembelajaran berlangsung, yang aktif dalam diskusi maupun menyelesaikan soal-soal hanya siswa yang tergolong cerdas itupun satu hingga dua orang saja dalam setiap kelas. Kondisi ini kadang membuat saya frustasi.Berdasarkan pengamatan dan hasil bincang-bincang dengan siswa, saya mengetahui bahwa ternyata matematika di mata mereka adalah
mata pelajaran yang kurang perlahan saya menemukan pencerahan dan saya menyenangkan untuk dipelajari dan bahkan menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama cenderung ditakuti dan dihindari siswa. ini mengganggu saya. Di samping itu muncul
semangat baru dalam diri saya sebagai seorang guru Berdasarkan fakta tersebut bergelayut pertanyaan dan memperoleh banyak keterampilan baru yang yang selalu mengganggu pikiran saya: Mengapa siswa sebelumnya tidak saya miliki.
berpendapat demikian? dan bagaimana agar
pelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan Melalui kegiatan-kegiatan dalam pelatihan DBE, kami untuk dipelajari? diajari banyak hal diantaranya adalah tentang
perubahan sikap dan pola pikir dalam mengajar. Dalam rangka menemukan jawaban atas pertanyaan Dulu, kami mengajar semata-mata adalah bagaimana tersebut, saya sering bertanya pada rekan-rekan agar siswa mampu memahami dan mampu
guru yang saya anggap mampu menjawabnya, sedikit menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Istilah karya membaca buku, atau mempraktikkan dalam siswa tidak kami kenal dalam pelajaran matematika. pembelajaran ide-ide yang saya peroleh dari rekan- Karya siswa kami anggap hanya sesuai untuk mata rekan guru atau ide saya sendiri. Dari kegiatan- pelajaran keterampilan. Namun kini, kami sadar kegiatan yang saya lakukan itu sebagian saya bahwa karya siswa merupakan salah satu bukti hasil menemukan jawaban dan sebagian lagi tidak. belajar siswa yang sama pentingnya dengan
kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal yang Sementara masih dalam proses pencarian, bergema kami berikan.
sebuah istilah yang baru saya dengar ”Decentralized
Based Education (DBE) 3”. Melalui serangkaian Karya siswa yang dihasilkan tidak berhenti sampai pelatihan yang dilaksanakan, mulai dari Better di situ saja namun kami pilih yang terbaik dan Teaching and Learning 2 (BTL 2) hingga BTL 3 yang dipajangkan di dinding kelas pada tempat yang telah saya ikut di dalamnya sebagai peserta, secara disiapkan sebelumnya. Tujuan pemajangan
Nunung Komariah, S.Pd, Guru Matematika MTs Al-Rohmah Karangpawitan, Garut, Jawa Barat