“Bayarkan kepadaku dengan kain yang panjanganya lima hasta, atau pakaian senilai zakat, karena yang demikian itu lebih mudah bagi kalian dan lebih bermanfaat bagi kaum muhajirin di Madinah” HR Al Baihaqi dan Al Bukhariy.
Saat itu penduduk Yaman terkenal sebagai pembuat pakaian, dan penduduk Madinah lebih membutuhkannya. Demikianlah pendapat madzhab Hanafi dan salah satu riwayat dari imam Ahmad bin Hanbal untuk selain zakat fitrah. Sebagaimana pendapat ini merupakan madzhab Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauriy dan Al Bukhariy. Bahkan menurut Ibnu Taimiyah membayar zakat dengan nilai uang diperbolehkan karena kebutuhan, kemaslahatan atau keadilan.
Pandangan ulama’ Hanafi di atas berseberangan secara diametral dengan Madzhab Syafi’iy dan Dhahiri. Mereka tidak memperbolehkan membayar zakat dengan nilai uang. Karena zakat itu ibadah seperti shalat maka wajib dikerjakan seperti yang ada dalam teks syar’iy. Sedang menurut madzhab Maliki dan Hambali ada beberapa pendapat yang berbeda, dan yang terkenal adalah makruh membayar zakat dengan uang. Sedang jika imam menghendaki pembayaran dengan uang maka mereka sepakat boleh, karena ia dianggap lebih memahami kemaslahatan.
Sebab perbedaan ini berpangkal dari perbedaan pandangan ulama’ tentang hakekat zakat, apakah ia ibadah atau ia adalah hak orang miskin atas orang kaya. Sebenarnya zakat mengandung makna keduanya, namun madzhab Syafii, Dhahiri dan Hambali lebih kuat makna ibadah dalam zakat shingga aturannya sebagaimana zakat lain. Konsekuensinya menurut mereka tidak boleh membayar zakat dengan menggantinya dengan uang seharga harta zakat. Sedang
ulama’ Hanafi lebih menguatkan hakekat zakat sebagi hak orang miskin pada harta orang kaya, sehingga mereka membolehkan pembayaran zakat dengan uang, karena uang. 86
G. Mengqodlo’ zakat yang belum terbayar
Zakat yang sudah menjadi kewajiban seseorang tidak akan pernah gugur sebelum dibayar meskipun telah lewat beberapa tahun. Menurut jumhurul ulama zakatnya diambil secara keseluruhan dari tahun-tahun yang telah berlalu. Bahkan zakat tidak gugur karena kematian. Ia tetap harus dibayarkan dari harta peninggalan meskipun tidak diwasiatkan oleh orang yang meningal. Ini pendapat Jumhur yang didasarkan kepada sabda Rasulullah saw. “… hutang kepada Allah lebih berhar untuk dilunasi…” (HR. Syaikhan)
86 Ibid., 799-808
BAB IX
ADAB DAN ETIKA DALAM PELAKSANAAN ZAKAT
Para ulama membagi ajaran Islam kepada empat aspek, yaitu akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Dalam Islam risalah nilai dan akhlak menempati peringkat pertama[1]. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:
:َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُهللا ىَّلَص ِهللا ُلوُس َر َلاَق :َلاَق ،َة َرْي َرُه يِبَأ ْنَع ِق َلَْخَ ْلأا َحِلاَص َمِ مَتُ ِلأ ُتْثِعُب اَمَّنِإ ”
"ِق َلَْخَ ْلأا َم ِراَكَم " ةياور يفو "
Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Hanyasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” dan dalam riwayat yang lain: “akhlaq yang mulia”.
(HR. Bukhari, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).
Islam mengaitkan akhlak dengan akidah. Islam menganggap tidak beriman seseorang yang tidak menepati amanah dan seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan dan tidak beriman seorang yang berzina, mencuri atau meminum minuman keras.
Rasulullah saw. bersabda:
ِبَأ ْنَع ِم ْوَيْلا َو ِهَّللاِب ُنِم ْؤُي َناَك ْنَم َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُس َر َلاَق َلاَق َة َرْي َرُه ي ُنِم ْؤُي َناَك ْنَم َو ُهَفْيَض ْم ِرْكُيْلَف ِر ِخ ْلْا ِم ْوَيْلا َو ِهَّللاِب ُنِم ْؤُي َناَك ْنَم َو ُه َراَج ِذ ْؤُي َلََف ِر ِخ ْلْا ِهَّللاِب
َو ْتُمْصَيِل ْوَأ ا ًرْيَخ ْلُقَيْلَف ِر ِخ ْلْا ِم ْوَيْلا
Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari Muslim)
Begitu pula Islam mengaitkan akhlak dengan ibadah serta menjadikan akhlak sebagai buah dan faedah dari ibadah. Maka buah mendirikan shalat adalah mencegah dari perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, (QS al-Ankabut: 45), buah dari ibadah zakat adalah membersihkan dan mensucikan mereka (QS. at-Taubah: 103), begitu seterusnya. Maka Apabila semua ibadah ini tidak membuahkan akhlak maka akan hilanglah nilainya disisi Allah. Rasulllah saw. bersabda:
ِهِماَي ِص ْنِم ُهَل َسْيَل ٍمِئاَص َّب ُر َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُس َر َلاَق َلاَق َة َرْي َرُه يِبَأ ْنَع َّلَِإ
َسْيَل ٍمِئاَق َّب ُر َو ُعوُجْلا رَهَّسلا َّلَِإ ِهِماَيِق ْنِم ُهَل
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan selain begadang.[HR. Ibnu Majah, hadis nomor 1690]
Begitu juga Islam mengikat muamalah dengan akhlak, yaitu dengan kejujuran, amanah, adil, ihsan, kebaikan, silaturrahim dan kasih sayang. Islam mengaitkan semua aktivitas kehidupan dengan akhlak, maka tidak ada pemisahan antara ilmu dengan akhlak, politik dengan akhlak, ekonomi dengan akhlak, dan antara perang dengan akhlak. Akhlak adalah daging kehidupan Islam dan kuncinya. 87
H. Adab dan Etika dalam Membayar Zakat
Agar zakat yang kita bayarkan bernilai di sisi Allah, kita harus memperhatikan beberapa adab dan etika dalam membayar zakat. Beberapa etika tersebut yang terpenting adalah sebagai berikut
1) Mengikhlaskan Niat karena Allah, tidak mengharap balasan dari manusia
Hal yang pertama-tama harus diperhatikan sungguh-sungguh oleh muzaki adalah masalah niat.
Amal perbuatan manusia dinilai Allah berdasarkan niatnya. Berapa banyak amalan yang tampak kecil namun nilainya sangat besar disisi Allah karena bagusnya niat. Sebaliknya sangat banyak amal perbuatan yang secara dhahir tampak sangat besar namun tidak berarti di sisi Allah karena buruknya niat. Oleh karena itu hendaklah orang yang membayar zakat untuk meluruskan niat hanya karena Allah, bukan karena ingin dilihat manusia, dipuji masyarakat atau niat-niat duniawi lainnya. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Insan: 9-10: