• Tidak ada hasil yang ditemukan

ع أ ْتَدي

Dalam dokumen OPTIMALISASI PERAN ZAKAT DALAM EKONOMI (Halaman 54-58)

ُه ُراَدقِم َناَك ٍم ْوَي يِف ُهَل ىلإ اَّمِإ ُهليبس ى َرَيَف ِداَبِعلا َنْيَب ىَضْقُي ىَّتَج ٍةَنَس َفلأ ُنْيِسْمَخ

ِراَّنلا ىلإ اَّمِإ َو ِةَّنَجلا

“Siapa yang mempunyai emas dan perak, tapi tidak membayar zakatnya, maka di hari kiamat akan dibuatkan untuknya setrika api yang dinyalakan di dalam neraka, lalu disetrikakan ke perut, dahi dan punggungnya. Setiap setrika itu dingin, maka akan dipanaskan kembali lalu disetrika pula padanya dalam satu hari yang setara dengan lima puluh tahun (di dunia) hingga perkaranya diputuskan, sehingga ia melihat jalannya, adakalanya ke surga adakalanya ke neraka” (HR Muslim)

Walaupun dalam nas al-Qur’an dan hadis hanya disebutkan emas dan perak, namun mayoritas ulama’ memasukkan uang, walaupun bukan dari emas atau perak ke dalam kategori ini.

hal ini karena pada masa dahulu emas dan perak dijadikan sebagai uang dan digunakan sebagai alat penyimpan harta. Ketika saat ini banyak beredar uang yang bukan dari emas dan perak, seperti uang kertas dan uang logam, atau bahkan uang non tunai, maka semua jenis uang tersebut dimasukkan dalam kategori ini. Oleh karena itu yang termasuk dalam zakat emas, perak dan uang ini adalah uang tunai, simpanan emas, perak dan tabungan.

Nisab dan kadar zakat Emas, Perak dan uang.

Ulama’ sepakat tentang nisab perak yaitu 5 uqiyah atau 200 dirham. Kesepakatan ulama’

ini karena banyaknya hadis tentang nisab perak, karena mata uang perak (dirham) pada masa Nabi saw lebih banyak peredarannya dibanding uang emas (dinar). Jika dikonversi ke dalam timbangan kontemporer terdapat perbedaan pendapat, ada yang mengatakan bahwa 200 dirham setara dengan 595 gram (karena 1 dirham setara dengan 2, 975 gram) dan ada yang mengatakan bahwa ia setara dengan 672 gram perak dengan timbangan kontemporer (pendapat bahwa 1 dirham setara dengan 3,36 gram).

Sedang nishab emas terdapat perbedaan pendapat, walaupun mayoritas ulama’ mengatakan bahwa nisab emas adalah 20 mitsqal atau 20 dinar. Jika dikonversi dalam timbangan kontemporer ulama berbeda pendapat, mayoritas mengatakan bahwa 20 dinar setara dengan 85 gram emas, perhitungan ini mengikuti pendapat bahwa 1 dinar adalah 4,25 gram emas. Sebagian ulama’

berpendapat bahwa 20 dinar setara dengan 94 gram emas Sebagian kecil ulama’, seperti Hasan al- Basri mengatakan bahwa nisab emas adalah 40 dinar.

Sedang kadar zakat yang harus dikeluarkan, ulama’ sepakat bahwa zakatnya adalah 2,5%

dari total asset keuangan yang dimiliki. Penghitungan zakat asset keuangan ini dihitung menjadi satu kesatuan. Artinya harta seseorang yang berupa emas, perak dan uang dijadikan satu, kemudian dinilai, jika total dari keseluruhannya mencapai nisab maka dikeluarkan zakatnya. Tentang nisab yang dipergunakan apakah nisab emas atau perak, tergantung mana yang lebih mudah dan mana yang dominan dari hartanya.

Misalnya seseorang di akhir haul menghitung hartanya berupa emas yang disimpan sebesar 40 gram emas, tabungan uang senilai 40 juta dan uang tunai senilai 5 juta. Jika harga emas Rp.

500.000,-/gram. Maka total harta orang tersebut adalah senilai 65 juta rupiah. Harta ini sudah mencapai nisab, karena nisabnya adalah 85 gram emas atau senilai 42,5 juta rupiah. Sehingga orang tersebut harus mengeluarkan zakatnya senilai 2,5% dari 65 juta rupiah atau sebesar Rp.

1.625.000,- Zakat Piutang

Persoalan yang ada terkait dengan piutang ialah masalah siapa yang wajib mengeluarkan zakat atas harta pinjaman tersebut, apakah zakatnya wajib kepada orang yang meminjamkan atas dasar bawa ia adalah pemilik sebenarnya ataukah kepada orang yang meminjam dengan dasar bahwa dialah yang menggunakan memperoleh keuntungan atas pinjaman tersebut.

1. Para ahli fiqh berpendapat bawa piutang itu ada dua macam;

a. Piutang lancar, yaitu piutang yang jelas dari orang yang berkecukupan. Dalam hal ini menurut pendapat yang kuat zakatnya dibayarkan bersama dengan kekayaan yang ada setiap tahun, walaupun piutang tersebut secara riil belum diterima. Hal ini karena piutang masih dianggap sebagai harta siempunya. Sedang menurut sebagian ulama’, piutang yang ada harapan kembali tidak wajib zakat kecuali harta tersebut sudah diterima kembali.

b. Piutang tidak lancar, yaitu piutang yang sulit harapannya untuk kembali, yaitu pinjaman dari orang yang tidak berkecukupan, atau pada orang yang tidak mau mengakui hutangnya sedangkan pemilik tidak mempunyai bukti. Dalam hal ini zakat piutang dibayar pada saat piutang betul-betul dikembalikan. Namun apakah dibayar untuk satu tahun atau untuk beberapa tahun selama piutang itu ada pada orang lain? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat: Menurut Ali dan Ibnu Abbas, orang itu mengeluarkan zakatnya pada saat piutang itu kembali untuk zakatnya selama tahun-tahun kekayaan ditangan di tangan orang lain. Menurut Hasan dan Umar bin Abdul Aziz, dan diikuti oleh Imam Malik Ia mengeluarkan zakatnya untuk satu tahun saja. Sedang menurut Abu Hanifah, ia tidak mengeluarkan zakatnya, tetapi ketika piutang itu kembali, baru dimulai lagi awal haul uang tersebut, sehingga dibayar zakatnya tahun depan ketika memenuhi satu haul.

Zakat Perhiasan

Para ulama telah sepakat bahwa tidak wajib zakat pada intan, berlian, mutiara dan batu-batu permata lainnya kecuali apabila diperjualbelikan. Apabila semua perhiasan tersebut diperdagangkan maka wajiblah zakat dikeluarkan.

Adapun mengenai perhiasan wanita berupa emas dan perak, terdapat perbedaan pendapat. Abu Hanifah dan Abu Hazmin mengatakan wajib zakat apabila telah mencapai nishab. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Amar bin Syu'aib yang diterima dari bapaknya dari kakeknya, katanya: "Telah datang dua orang wanita yang memakai gelang emas di tangannya kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW berkata kepada mereka: "Apakah kamu ingin dibelitkan Allah pada tangan kalian pada hari kiamat nanti gelang-gelang dari api neraka?" Tidak, jawab mereka. Nabi pun berkata, "Jika demikian, keluarkanlah zakat barang yang ada ditangan kalian ini!".

Adapun ketiga Imam lainnya, mereka berpendapat bahwa tidak wajib zakat pada perhiasan-perhiasan wanita, selama dalam kondisi wajar. Jika berlebihan maka kelebihannya wajib dizakati. Mereka beralasan bahwa perhiasan wanita adalah halal dan merupakan kebutuhan, sebab wanita adalah perhiasan. Sehingga perhiasan yang dipakai perempuan tidak wajib dizakati selama dalam jumlah yang wajar. Jumlah kewajaran perhiasan perempuan ini diserahkan kepada urf/kebiasaan.

Dengan demikian, jika misalnya seseorang menghitung hartanya di akhir haul berupa 40 gram emas simpanan, 40 juta rupiah uang tabungan dan 10 gram emas perhiasan istrinya, maka harta yang dihitung untuk dibayar zakatnya adalah emas 40 gram dan uang 40 juta rupiah.47

B. Zakat hasil Pertanian dan perkebunan

Dalam kajian fiqh klasik, hasil pertanian adalah semua hasil pertanian yang ditanam menggunakan bibit biji-bijian yang hasilnya dapat dimakan oleh manusia juga hewan serta yang lainnya.Sedangkan yang dimaksud hasil perkebunan adalah buah-buahan yang berasal dari pepohonan atau umbi-umbian. Kedua hal ini merupakan salah satu sumber penghasilan tertua dalam peradaban manusia.

Para fuqaha bersepakat (Ijma’) atas kewajiban zakat hasil pertanian berupa tanaman dan buah-buahan. Kesepakatan ini karena kuatnya hujjah al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan hal itu. Dari al-Qur’an misalnya perintah Allah dalam surah Al-An’am [6] ayat 141 dinyatakan :























































47Yusuf al-Qardhawi, Fiqh al-zakah, 238-311











"Dan Dialah yang menjadikan tanaman merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa rasanya. Makanlah buahnya apabilaberbuah dan berikanlah haknya(zakatnya) pada waktu memetikhasilnya, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Sedang dasar dari hadis misalnya:

فصن ةيقاسلاب يقس اميفو روشعلا ميغلاو راهنلأا تقس اميف

Dalam dokumen OPTIMALISASI PERAN ZAKAT DALAM EKONOMI (Halaman 54-58)