• Tidak ada hasil yang ditemukan

ثْيِدَحلا

ِهِغْيِلْبَتَو

Meriwayatkan hadis dan menyampaikannya kepada orang lain

19Lahir pada tahun 1935 di kota Halab Suriah, merupakan salah seorang dosen di Universitas Kuwait, merupakan seorang Doctor dan mempunyai karya yang bernama taisir musthalah hadis.

20Kata tersebut berasal dari kata اتيدعت ىدؤي ىدأ yang artinya melaksanakan sesuatu - - pada waktunya, membayar pada waktunya, atau menyampaiakan kepadanya

Proses tahammul dan ada’ ialah proses interaktif dalam periwayatan antara penutur teks dan penghimpun teks. Penutur teks adalah guru, sedangkan penghimpunteks bisa dikatakan penghimpun atau juga dikatakan penutur teks tergantung tingkatan thabaqahnya. Penutur teks dan penghimpunteksbiasa menggunakan tahammul wal ada’ dalam meriwayatkan sebuah hadis. Hal ini sangatlah diperlukan karena untuk menentukan keaslian teks yang selalu menjadi prioritas filologi dan tahqiq al-hadis.

Ulama hadis pada umumnya tidak memberikan syarat mengenaitahammul (penerimaan hadis). Berbeda dengan ada’

(penyampaian hadis), tidak semua penyampaian hadis dapat diterima. Dengan demikian persyaratan ada’ lebih berat daripada tahammul.

Sesungguhnya syarat penerimaan dan penyampaian hadis telah ditetapkan oleh para ahli hadis semata-mata bertujuan untuk memelihara hadis dari tindak pemalsuan.bl

Penetapan syarat-syarat tersebut telah ditetapkan oleh para ulama sesudah generasi sahabat, terutama saat hadis dihimpunkan ke dalam kitab-kitab.21 Sementara itu ulama berbeda pendapat tentang anak kecil yang menerima hadis. Menurut ulama Syam mengatakan bahwa tahammul sebaiknya dimulai setelah usia tiga puluh tahun. Sedangkan menurut ulama Kufah mengatakan bahwa tahammul dilakukan setelah usia dua puluh tahun.

Di samping itu juga ulama berselisih mengenai usia anak dalam menerima hadis.

Jumhur ulama, yaitu diantaranya al-Qadhi Iyadh22 dan Ibnu Shalah23, berpendapat bahwa awal masa menerima hadis minimal berusia lima

21 Syuhudi Ismali, Kaedah-Kaedah Kesahihan Sanad Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hlm. 24.

22al-Imam al-Alamah al-Hafiz al-Qadi Abu Fadl Iyad bin Musa bin Iyad bin Amr al-Yahsubiy al-Andalusiy, dilahirkan di Ceuta (penghujung utara Maghribi) dan wafat pada tahun 544 H.

23Uthman bin Abdul Rahman bin Uthman bin Musa bin Abi Nasr, memiliki nama kunyah al-Imam mufti al-Islam Taqiyyuddin Abu Amr. Beliau lahir pada tahun 577 H di kota Arbil, Irak dan wafat pada tahun 643 H.

tahun.24 Mereka pada umumnya memperbolehkan penerimaan hadis dilakukan oleh orang kafir dan anak-anak, asalkan ketika meriwayatkannya ia telah masuk Islam dan mukalaf.

Sedangkan untuk syarat-syarat tahammul atau al-Ada>’ Mayoritas ulama hadis, ushul, dan fiqh sepakat telah menentukan syarat-syarat perawi yang menyampaikan hadis.

a. Beragama Islam b. Dewasa (akil baligh)25 c. Adil. 26

d. Dhabit. 27

e. Menjaga muru’ah

24 Abdul Majid Khon,Ulum Hadis, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 61-62, Cet. Ke-2.

25Seorang anak yang belum mencapai usia dewasa, periwayatannya tidak dapat diterima. Demikian juga orang yang tidur dann gila (tidak berakal).

26Adil disini bermakna jujur, taqwa, tidak fasik, dan menjaga kehormatan diri. Seorang periwayat harus jujur dan bertaqwa sehingga berita yang disampaikan tetap terjaga.

27Dhabit artinya mampu kemampuan seorang periwayat dalam mengingat apa yang ia dengar ketika menerima periwayatan lalu menyampaikannya kepada orang lain. Apabila penyampaian periwayatan hendaknya terjaga dari kesalahan pergantian, dan kekurangan.

f. Konsinten dalam menjaga hafalan

g. Jika periwayat memiliki catatan maka catatannya ini dapat dipercaya

h. Sangat mengetahui hal-hal yang merusak maksud hadis yang diriwayatkannya secara makna.

2. Telaah Lambang Para Penutur Teks

Tahammul wal ada’sebagai langkah tahqiq al-hadis merupakan salah satu term-term transmisi para penutur teks sebagaimana yang disepakati oleh ulama hadits, meliputi sima’28,

28 as-Sama’, yaitu penerimaan hadis dengan cara mendengar langsung lafal hadis dari gurunya, dengan cara di dektekan atau disampaikan dalam pengajian (mudzakarah) baik melalui hapalan atau tulisannya. Jumhur Muhadditsin mengatakan, bentuk periwayatan ini dinilai sebagai cara yang tertinggi kualitasnya.Lafad-lafad yang dipergunakan akhbarani>y, akhbarana>, haddathani>yy, haddathana>, sami’tu, sami’na>.

al-Qira’ah29, ijazah30, munawalah31, mukatabah32, i’lam al-syaikh33, washiyah34, dan wijadah35. Pencantuman aspek ini selain untuk mengetahui keaslian teks juga untuk menunjukkan adanya proses periwayatan sejak Nabi menyampaikan sampai hadits dibukukan menjadi manuskrip.36 Prinsip ini digunakan untuk mengetahui

29 al-Qira’ah disebut juga al-Ardlu memiliki dua bentuk. Pertama, seorang rawi membacakan hadits pada guru.

30 al-Ijazah, yaitu dengan cara guru memberikan izin kepada seseorang untuk meriwayatkan hadis yang ada padanya, baik secara lisan maupun tulisan. Lafad yang dipergunakan seperti ajaztu laka riwa>yat al-Kita>b al- Fula>ni>y anni>y, ajaztu laka jami>’a masmu>’a>ti>y au marwiya>ti>y, ajaztu lil Muslimi>n jami>’a masmu>’a>ti>y.

31 yaitu cara seorang guru hadis memberikan sebuah naskah asli kepada muridnya atau salinan yang sudah dikoreksi olehnya untuk diriwayatkan.

32 yakni seorang guru menuliskan hadis yang diriwayatkannya untuk diberikan kepada orang/murid tertentu.

33 yakni guru hadis memberitahukan kepada murid-muridnya bahwa yang diriwayatkannya adalah riwayatnya sendiri yang diterima dari gurunya, dengan tidak mengatakan (menyuruh) agar si murid meriwayatkannya

34 yakni pesan dari seorang guru hadis kepada muridnya agar diriwayatkannya ketika si guru tersebut meninggal atau bepergian

35 yakni metode yang tidak melalui sama’ atau ijazah, dimana seseorang memperoleh tulisan hadis dari seorang periwayat hadis baik dengan itu mempunyai lafad sama’, qira’ah maupun selainnya entah iu hidup sezaman maupun tidak, pernah bertemu ataupun tidak.

36 Perbedaan peringkat antara sima’ dan qira’ah dikarenakan mereka (selain al- Bukhari dan Muslim) di samping memasukkan hadis-hadis yang berkualitas sahih, juga memasukkan hadis-hadis yang berkualitas dha’if.

penyebaran hadits dan penerimaan, baik dari penutur teks maupun penghimpun teks.37 Tahammul wal ada’ dapat digunakan untuk melacakkeaslian manuskrip-manuskrip khususnya yang berkaitan dengan kitab hadis.

Untuk itu jumhur Muhaddithin membaginya ke dalam delapan macam atau yang lebih dikenal dengan sighat tahammul wal ada’.38

Jumhur Muhadditsin mengatakan, bentuk periwayatan sama’ dinilai sebagai cara yang tertinggi kualitasnya.39 Lafad-lafad yang dipergunakan akhbarani>y, akhbarana>, haddathani>yy, haddathana>, sami’tu, sami’na>. Seperti contoh:

يِراَخُبلا اَنَثّدَََح

ّيِدََْيَمُحْلا

ُدََْبَع

ِهّللا

ُنْب

Dokumen terkait