• Tidak ada hasil yang ditemukan

اَنَثّدَح

Jalur sanad di atas dalam kajian filologi disebut sebagai contoh teks jama’. Hal ini bisa dilihat dari jalur tersebut yang memiliki syawahid pada tingkatan tabi’in-tabi’in. Setidaknya terdapat empat penutur teks yang mempunyai guru yang sama yaitu Ibrahim bin Sa’ad yang juga sebagai seorang penutur teks. Dalam konsep yang digagas oleh Juynboll dikenal sebagai commont link. Itu artinya jalur tersebut memiliki beragam variasi namun masih dalam satu makna.

Jalur rangkaian sanad diatas juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud.47 Pada intinya berakhir pada titik temu, yaitu Sa’ad bin Ibrahim bin Abdur Rahman bin Auf, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah binti Abu Bakar, dari Rasulullah Saw. Kemudian untuk jalur

47Hadits di atas diriwayatkan melalui empat jalur, yang mana pada jalur pertama (dari sebelah kiri), hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Muhammad b.

Utsman, dari Ibrahim b. Saad, dari Saad b. Ibrahim, dari al Qasim b. Muhammad, dari Aisyah bnti Abu Bakar, dari Rasulullah. Jalur kedua diriwayatkan oleh Al- Bukhari, dari Ya’kub b. Ibrahim, dari Ibrahim b. Saad, dari Saad b. Ibrahim, dari Al-Qasim b. Muhammad, dari Aisyah bnti Abu Bakar, dari Rasulullah. Jalur ketiga diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Muhammad b. Ash Shabbah, dari Ibrahim b.

Saad, dari Saad b. Ibrahim , dari Al-Qasim b. Muhammad, dari Aisyah bnti Abu Bakar, dari Rasulullah. Jalur keempat diriwayatkan oleh Muslim, dari Muhammad b.Ash Shabbah, dari Ibrahim b. Saad, dari Saad b. Ibrahim, dari Al-Qasim b.

Muhammad, dari Aisyah bnti Abu Bakar, dari Rasulullah.

Imam Muslim dan Abu Dawud sudah bertemu terlebih dahulu pada jalur Muhammad b. Ash- Shabbah. Namun pada akhirnya mereka sama- sama bertemu pada Tabi’in Sa’ad bin Ibrahim, meskipun setiap jalur mempunyai kekhasan tersendiri dalam memposisikan mengambil hadits dari Sa’ad bin Ibrahim.

Di samping itu, hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Bukhari, dan Abu Dawud terlihat bahwa ketiganya bertemu penutur teks pada tingkat Tabi’ut Tabi’in yang bernama Ibrahim bin Sa’ad. Sedangkan pada jalur yang diriwayatkan oleh Muslim sama halnya dengan jalur yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Namun pada akhirnya mereka sama-sama saling bertemu pada generasi Tabi’in yaitu Sa’ad bin Ibrahim, Al-Qasim bin Muhammad, Aisyah binti Abu Bakar kemudian berakhir pada Nabi.

Hadis di atas memiliki genealogi penutur teks yang jelas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan;

1. Muhammad bin Ash Shabbah48 wafat pada tahun

48Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ash Shabbah bin Sufyan, hidu pada masa Tabi’ut Atba’ kalangan tua dan mempunyai nama kuniyah yaitu Abu Ja’far.

227 H dan Abdullah bin Aun49, dari Ibrahim bin Saad50 wafat pada tahun 185 H, dari Saad bin Ibrahim51 wafat pada tahun 125 H, dari Al-Qasim bin Muhammad52 wafat pada tahun 106 H, dari

Adapun negeri semasa hidupnya yaitu Baghdad. Guru beliau diantaranya Ishaq bin Yusuf bin Mardas, Zakariya bin Mandhur, Hafis bin Ghiyas,Sufyan bin Uyainah, Hatim bin Ismail, Said bin Muhammad, Ibrahim bin Saad. Murid beliau diantaranya Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majjah, Ahmad bin Ali bin Al Abar, Ja’far bin Muhammad al Firyabi, Husain bin Ishaq at Tustari.

49Nama Lengkapnya adalah Abdullah bin Aun bin Abi Aun, beliau termasuk kalangan atba’ut tabi’in. Beliau mempunyai nama kuniyah yaitu Abu Muhammad dan wafat pada tahun 232 H. Guru beliau; Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Jarir bin Abdul Humaid, Hafs bin Giyath. Murid beliau diantaranya Muslim, Musa bin Harun, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Abbas bin Muhammad bin al-Daury.

50Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdur Rahman bin Auf merupakan golongan Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan beliau mempunyai nama kuniyah Abu Ishaq sama seperti ayahnya dan hidup di Madinah. Beliau mempunyai guru diantaranya Sa’ad bin Ibrahim, Abi Shakhr Humaid bin Ziyad al- Madani, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sholih bin Kisan, Shafwan bin Sulaim. Murid beliau diantaranya Muhammad bin ash-Shabbah, Ibrahim bin Hamzah az-Zubairi, Ibrahim bin Ziyyad al-Khoyyad al-Baghdadi, Ahmad bin Abdul Malik bin Waqid al-Harrani, Abdur Rahman bin Mahdi.

51Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf lahir 655M atau 34 H beliau termasuk Tabi’in kalangan biasa yang hidup di Madinah dan mempunyai nama kuniyah Abu Ishaq. Guru beliau diantaranya Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ibrahim bin Saad bin Abi Waqash, Anas bin Malik, Abi Umamah as’ad bin sahal bin Hunaif, Hakim bin Mina’. Murid beliau diantaranya adalah Ibrahim bin Sa’ad, Hmmad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Zakariya bin Abi Zaidah.

52Nama lengkapnya adalah Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq beliau termasuk Tabi’in kalangan pertengahan yang hidup di Madinah dan mempunyai nama kuniyah Abu Muhammad. Beliau mempunyai banyak guru besar diantaranya; Aisyah binti Abu Bakar, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas,

Aisyah binti Abu Bakar wafat pada tahun 58 H53. Seluruh sanad tersebut terlihat muttashil dimana seorang guru dan murid memiliki hubungan dan keterkaitan satu sama lain.

Dari segi sighat al-tahammul wa al-ada’jalur riwayat ini menggunakan metode haddatsana sebanyak sembilan kali, kemudian menggunakan metode ‘an sebanyak tiga kali, dan menggunakan lafad qala sebanyak satu kali. Lafad qala merupakan indikator penyampaian dari Nabi Muhammad Saw secara langsung kepada Siti Aisyah dengan tanpa adanya keraguan.

Dari genealogi tersebut terlihat bahwa para penutur teks menerima dan menyampaikan hadis menggunakan sighat

َلاَق , ْنَع , اَنَثّدَح .

Di dalam manuskrip lafad haddthana biasa disingkat dengan

Ibnu Umar, Zainab binti Jahsy, Abu Hurairah. Dan murid-murid beliau diantaranya adalah Sa’ad bin Ibrahim, Asy Sya’bi, Nafi’ Al Umari, Salim bin Abdillah, Salim bin Hazm, Az-Zuhri, Yahya bin Said.

53Nama Lengkapnya adalah Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq beliau termasuk kalangan Sahabat sekaligus istri Nabi Muhammad saw, beliau mempunyai nama kuniyah yaitu Ummu Abdullah, lahir pada tahun ke-5 kenabian. Sebagai seorang istri Rasulullah yang sekaligus menjadi guru beliau sendiri dan mempunyai murid diantaranya Amrah binti Abdurrahman, Hafshah binti Sirrin, dan Aisyah binti Thalhah.

اَنَثَق atau انثد.

Hal tersebut menunjukkan keaslian teks bahwa para penutur teks dalam meriwayatkan hadis di atas benar-benar berasal dari Nabi. Karena haddthana merupakan simbol tertinggi yang terdapat pada shigat tahammul wal ada’ dan dapat dijamin ketersambungannya ketika berkaitan dengan manuskrip dalamkajian filologi.

Di sisi lain, rangkaian hadis diatas terdapat shigat

نع

yang menurut pandangan para Muhadditsin masih diperselisihkan, apakah sanad itu muttashil atau tidak. Namun, berdasarkan pandangan Imam Muslim jika seorang perawi hidup sezaman maka sudah cukup bagi Muslim untuk menyatakan ketersambungan sanad hadits tersebut.54

54 Fatchur Rahman, Ibid,. hlm.256.

Daftar Pustaka

Baharuddin, M. Achwan” Visi Misi Ma’ani al-Hadis dalam Wacana Studi Hadis (Jombang: Tafaqquh, Vol. 2, No. 2, Desember 2014).

Hendrix, Ahmad, Syarah Nukhbatul Fikar Fi>

Mus}t}alah Ahli Atsar Karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani (773-852 H).

Hidayatullah, Elit Ave, Studi Filologi Dunia Islam dan Barat dalam Menyelami Sejarah dan Membangun Peradaban (Ponorogo: Jurnal Saintifika Islamica Volume 2 No.1 Periode Januari - Juni 2015).

Ismail, Syuhudi,Pengantar Ilmu Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1998).

Khon,Abdul Majid, Ulum Hadis, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 61-62, Cet. Ke-2.

Lidwa Pustaka i-Software Kitab 9 Imam Hadis

Lubis, Nabilah , Naskah, Teks Dan Metode Penelitian Filologi, (Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang Dan Diklat Departemen Agama RI, 2007).

Mahmud at-Tahan, Ilmu Hadis Praktis (Bogor, Pustaka Izzah, 2012).

Mastanning, Perbandingan Tingkat Validitas Metode Penelitian Sejarah dan Sanad Hadis (UIN Alauddin Makassar: Tesis, 2017).

M. Mashuri Mochtar, Kamus Istilah Hadis (Pasuruan:

Pustaka Sidogiri, Sya’ban 1435 H).

Rahman, Fatchur, Ikhtisar Mushthalahul Hadits (Yogyakarta: PT AlMa’arif, 1974).

Saifuddin Zuhri, Predikat Hadis dari Segi Jumlah Riwayat dan Sikap Para Ulama terhadap Hadis Ahad (Surakarta: Suhuf, Vol. 20, No. 1, Mei 2008).

Sholihah, Izzatus, Kehujahan Hadis Ahad dan Pengaruhnya terhadap Hukum Islam (Al-Hikmah Jurnal Kependidikan dan Syari’ah, Vol. 4 no. 1 Februari 2016).

Syuhudi Ismali, Kaedah-Kaedah Kesahihan Sanad Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1995).

Syarifah, Umaiyah, “Kontribusi Muhammad Musthafa Azami: Dalam Pemikiran Hadis (Counter Atas

Dokumen terkait