• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemahnya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS.

al-Qasas: 56).

Dengan menjaga tali silaturrahim di antara manusia akan senantiasa mendatangkan banyak manfaat dan kebajikan, paling tidak dalam bahasa agama dapat mendekatkan seseorang kepada surga dan menjauhkannya dari neraka. Seorang sahabat Nabi pernah bertanya: Wahai baginda Nabi!

Beritahukan padaku apa saja yang dapat mebuatku bisa lebih dekat kepada surga dan lebih jauh dari neraka. Nabi mengatakan kepada sahabat tersebut:

Engkau menyembah Allah, dan tidak menyekutukannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahim”.73 Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Nabi pernah bersabda: “Tidaklah seorang hamba melangkah dua langkah kecuali Allah paling suka selain langkah seorang hamba untuk melakukan shalat fardu, dan langkah seorang hamba dalam menjalin silaturrahim”.74

Abu Allaits Assamarkandi mengatakan: Ketahuilah bahwa menjalin silaturrahim memiliki sepuluh keutamaan:75

1. Dalam silaturrahim terdapat ridha Allah, karenanya Allah memerintahkan untuk senantiasa menjaga silaturrahim

2. Memberikan dan memasukkan rasa senang dan gembira dalam hati mereka. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa: Sebaik- baiknya suatu perbuatan adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam diri seorang mukmin

73 Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal.

74 Abu Allaits Assamarkandi, Tanbihul Gafilin, hal.94.

75 Abu Allaits Assamarkandi, Tanbihul Gafilin, hal.94.

3. Dalam silaturrahim terdapat kegembiraan para malaikat, karena malaikat gembira dengan adanya silaturrahim

4. Dalam silaturrahim terdapat pujian yang baik bagi seorang Muslim 5. Dalam silaturrahim terdapat tambahan umur

6. Dalam silaturrahim terdapat barakah dalam rezki 7. Dengan silaturrahim, Iblis tambah bersedih

8. Dengan silaturrahim, orang-orang mati akan senantiasa bahagia, karena para orang tua, kake dan nenek semuanya bahagia dengan silaturrahim tersebut

9. Dengan silaturrahim terdapat tambahan kasih sayang, karena jika terjadi padanya kebahagiaan ataupun kesedihan maka semuanya akan memberi semangat; dan semua itu akan menambah rasa kasih sayang

10. Dengan silaturrahim dapat menambah pahala setelah mati, karena mereka akan senantiasa mendoakannya setelah ia meninggal setiap mereka mengingat kebajikannya.

Namun bagaimana jika seandainya seseorang sudah berusaha menyambung silaturrahimnnya misalnya dengan keluarganya sendiri namun keluarganya itu tidak merespon? Jawabannya seperti yang dijelaskan oleh Nabi kepada seorang sahabat yang mengadu kepadanya.

Seorang sahabat datang mengadu kepada Nabi dan mengatakan: Wahai baginda Nabi! Aku punya keluarga yang hubunganku dengan mereka selalu aku jaga namun mereka memutuskan tali silaturrahim di antara kami, aku telah memaafkan mereka, tetapi mereka menzalimiku, aku telah berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jahat kepadaku, apakah aku bisa membalasnya dengan hal serupa? Nabi mengatakan:

Tidak. Tetapi ambillah suatu kebajikan dan sambunglah silaturrahimmu denga mereka, karena engkau akan senantiasa tetap bersama dengan pertolongan Allah selama yang demikian itu yang engkau lakukan”.76

76 Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal.

Dalam hadis yang lain, Nabi mengatakan: “Tidak ada satu kebajikan yang dilakukan yang lebih cepat pahalanya daripada menjalin silaturrahim, dan tidak ada satu keburukan yang lebih layak dipercepat siksaannya di dunia di samping siksaan di akhirat daripada memutuskan tali silaturrahim”.77

Benarlah kata orang bijak: Ada tiga hal yang menjadi akhlak para penghuni surga yakni: Berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya, memaafkan orang menzaliminya, dan memberi sesuatu kepada orang yang tidak mau menolong. Karena itu, sahabat Nabi bernama Anas bin Malik mengatakan bahwa di antara orang-orang yang akan mendapatkan naungan Arasnya Allah di hari kiamat adalah orang-orang yang senantiasa menjaga tali silaturrahimnya.

Allah akan memanjangkan umurnya, melapangkan reskinya, dan melapangkan kuburnya.78

Nabi juga telah berhasil mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada para sahabatnya. Sahabat bernama Abdullah bin Abi Awfa menceritakan bahwa ia dan beberapa sahabat yang lain duduk di sore hari Arafah bersama dengan Nabi, kemudian Nabi mengatakan: “Jangan ada yang duduk bersamaku jika ia memutuskan tali silaturrahimnya, ia harus segera berdiri dan pergi dariku”. Tidak satupun sahabat yang berdiri dan pergi kecuali seorang lelaki. Tidak lama kemudian lelaki tersebut datang menghampiri Nabi. Nabi pun kemudian bertanya kepadanya: “Kenapa tidak seorang pun berdiri lalu pergi kecuali engkau? Lelaki tersebut mengatakan kepada Nabi: Wahai baginda Nabi! Aku telah mendengarkan apa yang engkau katakan sehingga aku pergi menemui bibiku yang telah memutuskan tali silaturrahimnya denganku. Bibiku mengatakan padaku:

Apa yang membuatmu datang kepadaku? Aku pun menjawabnya sesuai dengan perkataanmu wahai baginda Nabi tentang silaturrahim. Lalu bibiku memohonkan ampun untukku, dan aku pun juga memohonkan ampun untuknya. Nabi kemudian bersabda: “Kamu telah berbuat baik,

77 Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal.

78 Abu Allaits Assamarkandi, Tanbihul Gafilin, hal.94.

duduklah! Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun pada suatu kaum bila ada di antara mereka yang memutuskan tali silaturrahim”.79

Nilai-nilai inilah yang dibumikan oleh Nabi selama hidupnya.

Nabi telah membangun tatanan masyarakat dengan penuh cinta, kasih sayang, dan saling menjaga satu sama lain. Nabi tidak hanya mampu menghidupkan nilai-nilai kebersamaan di tengah-tengah sahabatnya yang Muslim, tetapi juga Nabi telah mampu menghidupkan nilai-nilai tersebut di tengah-tengah komunitas non Muslim yang hidup berdampingan dan berinteraksi dengannya. Sungguh luar biasa, bila tatanan kehidupan dapat dikelola dan dijalani sesuai dengan nilai-nilai dan petunjuk tersebut.

Karena dengan begitu, semua orang tanpa kecuali akan merasakan kebahagiaan, kebersamaan, saling peduli, saling menjaga satu sama lain, tidak ada sekat-sekat sosial di antara mereka karena semuanya merasa dihargai dan dihormati.

79 Abu Allaits Assamarkandi, Tanbihul Gafilin, hal.94.

NABI MUHAMMAD SAW.

DAN BANTUAN KEPADA NON MUSLIM

Ketika bicara tentang kegiatan sosial, Islam tidak membedakan antara Muslim dengan non Muslim. Misalnya ketika ada yang mempertanyakan tentang boleh tidak tidaknya seorang Muslim memberi sedekah dan bantuan sosial kepada non Muslim. Tentu saja, dalam tataran kehidupan yang lebih luas, Islam mengajarkan bahwa non Muslim pun harus diberikan bantuan finansial dari kas negara termasuk juga bolehnya bagi mereka memanfaatkan semua fasilitas umum yang ada seperti halnya orang Islam. Memberi bantuan kepada non Muslim merupakan bentuk al-bir atau kebaikan yang ditegaskan dalam banyak ayat al-Qur’an. Karena itu, memberi bantuan kepada mereka dibolehkan bahkan dianjurkan selama mereka mau berdampingan hidup secara damai dan toleran berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan hadis Nabi. Allah dalam al-Qur’an tidak melarang orang-orang Islam berbuat baik dan berlaku adil kepada non Muslim seperti yang disebutkan dalam surat al-Mumtahnah ayat 8 dan 9. Allah berfirman:

ْن ِّم ْم ُ

كْو ُج ِر ْ خ ُ ي ْم َ

ل َو ِنْي ِّدلا ىِف ْم ُ كْو ُ

لِتا َ قُي ْم َ

ل َنْي ِذ َّ

لا ِن ع ُ َ ّٰ

للها ُم ُ

كى ٰهْنَي ا َ ل َنْي ِط ِس ْ

ق ُم ْ

Dokumen terkait