Terjemahnya: “Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redai. Dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan”. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”.(QS. Annisa: 105-113).
Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berkenaan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah lalu menyembunyikan barang curian tersebut di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu, malah menuduh bahwa yang mencuri barang tersebut adalah seorang Yahudi. Kejadian tersebut diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada nabi, dan mereka meminta agar nabi membela Thu’mah dan menghukum
orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah. Dengan laporan itu, Nabi hampir saja membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi. Tetapi Allah mewahyukan kepada Nabi bahwa apa yang disampaikan oleh Tu’mah kepadanya adalah rekayasa belaka. Allah menegaskan bahwa pelaku pencurian baju besi tersebut bukanlah orang Yahudi itu tetapi pelakunya adalah Tu’mah bin Ubairik. Karena Tu’mah merasa malu, akhirnya ia lari ke Makkah, dan karena ia adalah seorang munafiq sehingga ia keluar dari Islam. Di tengah perjalanannya menuju Makkah, Tu’mah menemukan rumah kosong di daerah Thaif seperti yang disebutkan dalam beberapa riwayat, dan ada pula yang mengatakan di Khaibar, lalu kemudian ia lagi mencoba merusak dan melobangi rumah tersebut agar bisa masuk ke dalam untuk mengambil barang-barang yang ada. Tetapi Allah Maha Kuasa, dinding-dinding rumah tersebut roboh dan menimpah Tu’mah sehingga mengakibatkan ia meninggal.227
Tu’mah bin Ubairik adalah salah seorang dari kabilah Ansar yang berasal dari Bani Ubairik. Seperti yang disebutkan oleh sebagian pakar bahwa ia adalah sosok sahabat nabi, namun memiliki sifat kemunafikan, dan ia adalah seorang penyair yang sering mengejek sahabat-sahabat Nabi yang lain dengan syiir-syiirnya; dan bahkan disebutkan bahwa Tu’mah sempat ikut berperang bersama Nabi pada peristiwa perang Uhud. Sebagian pakar mengatakan bahwa apa yang menimpa Tu’mah tiada lain kecuali bagian dari apa yang telah Allah tegaskan dalam al- Qur’an bahwa barang siapa yang tidak mau mempedulikan petunujuk- petunjuk Nabi setelah ia tahu bahwa itu adalah kebenaran maka hidupnya akan menemui kebinasaan. Allah berfirman:
ِلْيِب َس َرْي َغ ْعِبَّتَيَو ى ٰدُه ْ لا ُه َ
ل َنَّيَبَت ا َم ِد ْعَب ۢ ْن ِم َ
ل ْو ُس َّرلا ِقِقا َشُّي ْنَمَو ١١٥ ࣖ ا ًرْي ِص َم ْتَءۤا َس َو َۗمَّنَه َج ٖهِل ْصُنَو ى ّٰ
ل َوَت ا َم ٖهِ ّ
لَوُن َنْيِن ِم ْؤ ُم ْ لا
227 Jabir bin Musa al-Jazairiy, Aysaru Attafasiyr, Jld.1.hal.536. Lihat juga Assuhaili, Arraudu al-Unuf, (Maktabah Syamilah), Jld.2.hal.38.
Terjemahnya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.
(QS. Annisa’: 115).
Para pakar menjelaskan bahwa Allah telah menurunkan sekitar sembilan ayat dalam surat Annisa yang berbicara tentang amanah, keadilan, dan bagaimana menghadapi orang-orang zalim walau ia adalah seorang Muslim. Dalam kisah yang disebutkan di depan, hampir saja memang Nabi menghukum seorang Yahudi yang dituduh mencuri oleh Tu’mah, tapi Allah menurunkan wahyunya kepada Nabi sehingga jelaslah siapa sesungguhnya yang mencuri. Nabi tampak jelas tidak menyembunyikan sesuatu apapun terkait dengan keadilan, tapi beliau justru mengumumkan di depan khalayak banyak bahwasanya sang Yahudi yang dituduh mencuri bukanlah pelakunya. Sungguh keadilan dan pembelaan Nabi terhadap kebenaran tidak diragukan walau terkadang keadilan tersebut harus diperuntukkan kepada non Muslim. Keadilan bagi Nabi adalah sesuatu yang mutlak ditegakkan, dan menegakkan keadilan tidak selamanya tergantung pada agama seseorang, ras seseorang, dan bahkan afiliasi dan golongan seseorang.
Termasuk yang paling menarik dalam kisah ini adalah peryataan Nabi bahwa pelaku pencurian bukanlah seorang Yahudi padahal orang-orang Yahudi kala itu masih selalu mendustakan ajaran yang dibawa oleh Nabi, bahkan banyak dari mereka melakukan propaganda agar orang-orang Islam bercerai-berai. Usaha kaum Yahudi untuk mencederai Islam tidak menjadikan Nabi curang dalam memutuskan perkara percurian walau perkara tersebut harus dimenangkan oleh salah seorang dari mereka.
Nabi dalam kasus ini seakan-akan ingin mengedukasi mereka semuanya bahwa untuk menciptakan suasana hidup dan kehidupan yang lebih baik harus dengan keadilan. Hanya dengan asas keadilan, kehidupan
bisa lebih berarti dan lebih harmonis. Dengan keadilan semua elemen masyarakat akan merasa lebih dihargai dan dihormati, dan tidak akan ada yang merasa dikucilkan apalagi dinistakan.
Keadilan dalam Islam mutlak ditegakkan, karenanya menegakkan keadilan sejenak atau sehari akan jauh lebih baik daripada ibadah 60 tahun dengan ibadah (shalat) di malam hari, dan berpuasa di siang hari. Sebaliknya berlaku curang sesaat saja akan jauh lebih keji di sisi Allah daripada bermaksiat selama 60 tahun.228 Islam mengecam tindak kesewenangan dan ketidak-adilan. Nabi menyatakan bahwa seorang yang memerintah minimal sepuluh orang saja, apalagi jika lebih, lalu ia tidak berlaku adil kepada mereka maka nanti di hari kiamat ia akan datang dalam keadaan terbelenggu atau terikat tangan dan lehernya. Bahkan akan disungkurkan wajahnya oleh Allah ke dalam api neraka. Karena itulah, Islam menjelaskan betapa pentingnya akhlak yang terpuji seperti sifat jujur, amanah, setia, dan murah hati. Sebaliknya, akhlak yang tidak terpuji semestinya ditinggalkan seperti suka berdusta, khianat, curang, nifak dan sebagainya.229
Islam adalah agama yang melihat nilai-nilai kemanusiaan sebagai sesuatu yang utuh karena di dalamnya terdapat nilai keadilan, persamaan, kesempatan yang sama; dan tidak membedakan antara satu orang dengan yang lain disebabkan karena jenis, warna kulit, etnis, suku, keluarga, dan bahkan agama. Begitu pentingnya menegakkan keadilan sampai-sampai Nabi menyebutkan beberapa hadis tentang hal tersebut: