Memang harus diakui bahwa dalam menjalani hidup ini terkadang terasa tidak aman, tidak leluasa, dan bahkan keselamatan jiwa selalu terasa terancam. Akibatnya, banyak hal yang tidak bisa dilakukan dan dipenuhi akibat ruang gerak serba terbatas. Dari sinilah kemudian, keberlangsungan hidup dan kehidupan terkadang sangat tergantung pada orang lain. Kenyataan seperti itu tidak dapat dielakkan apalagi ditolak karena memang secara teori manusia dalam hidupnya adalah makhluk sosial atau dalam bahasa Ibnu Khaldun disebut: al-insan madaniyyun bitab’ihi. Tampaknya masalah seperti ini bisa saja dialami oleh siapa pun termasuk oleh Nabi sendiri. Telah menjadi maklum bahwa ketika Nabi masih berada di Makkah, ia banyak menghadapi masalah termasuk gangguan dan intimidasi dari orang-orang musyrik Quraiys. Karena gangguan dan tekanan begitu banyak yang dihadapi oleh Nabi sehingga beliau sering mendapatkan perlindungan dan pengawalan tidak hanya dari para sahabatnya tetapi juga dari orang-orang yang belum mendapat hidayah Islam. Perlindungan dan pengawalan yang didapatkan oleh Nabi dari non Muslim kala itu tidaklah menjadi prohibisi di dalam agama.
237 Durus wa Ibar min Gazwati Ahud, (Maktabah Syamilah).
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa ketika Nabi kembali dari Thaif, beliau masuk dalam pengamanan seorang non Muslim bernama al-Mut’im bin Adiy. Al-Mut’im bin Adiy memerintahkan keempat orang anaknya untuk masing-masing memegang senjata tajam, lalu mereka berdiri di setiap sudut Ka’bah guna memberikan perlindungan dan pengawalan kepada Nabi. Keseriusan Mut’im bin Adiy memberikan perlindungan kepada Nabi dinyatakan kepada orang-orang Qurays.
Mut’im bin Adiy mengatakan: “Wahai orang Qurays! Saya telah memberikan perlindungan kepada Muhammad, maka janganlah ada di antara kalian yang mencoba mendekatinya untuk menyakitinya”.
Peristiwa tersebut terdengar oleh kaum Qurays sehingga mereka pun mengatakan kepada al-Mut’im bin Adiy: Engkau termasuk orang yang tidak meremehkan perlindungan yang engkau berikan kepada orang lain. Al-Mut’im bin Adiy balik mengatakan kepada Qurays: Engkau semua telah melakukan sesuatu kepada Muhammad, semestinya engkaulah semua yang harus menjaganya.
Pada waktu itu, kaum Qurays sudah sepakat untuk mencegah Nabi agar tidak kembali masuk ke kota Makkah, dan tentu saja Nabi tidak akan sanggup memasuki kota Makkah seandainya tidak mendapatkan perlindungan dan pengawalan dari al-Mut’im bin Adiy. Karena Nabi mendapatkan perlindungan dan pengawalan, akhirnya ia pun sampai di sudut Ka’bah dan memberi salam kepadanya lalu mengerjakan shalat sunnah dua raka’at. Setelah Nabi mengerjakan shalat dua rakaat beliau pun kemudian kembali dan masuk kedalam rumahnya dengan selamat di bawah perlindungan dan pengawalan al-Mut’im bin Adiy bersama anak-anaknya sambil memegang senjata tajam.238
Hal yang menarik dari peristiwa perlindungan yang diberikan oleh Mut’im bin Adiy kepada Nabi ialah peristiwa perang Badar. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Abu Daud bahwa ketika perang Badar usai, kaum Muslimin menangkap banyak tawanan
238 Ibnu Abdil Bar, Attamhid, (Magrib: Wazarah al-Aukaf, 1387 H.), Jld..9.hal.150.
perang dari kaum Quraiys. Ketika itu, Nabi mengatakan: “Seandainya saja al-Mut’im bin Adiy masih hidup lalu ia meminta kepadaku agar mengasihi dan memaafkan para tawanan yang kotor ini, maka saya pasti akan memaafkan mereka dan membebaskannya”.239
Al-Mut’im bin Adiy adalah seorang sosok lelaki Quraiys yang berasal dari Bani Abdi Manaf. Dia adalah orangtua sahabat Nabi bernama Jubair bin Mut’im. Walau al-Mut’im bin Adiy hidup di masa Nabi namun ia wafat dalam keadaan tidak mengikuti ajaran Nabi. Tapi yang menarik dari sosok yang pernah memberikan perlindungan kepada Nabi ini adalah orang-orang Islam kala itu sangat menghargai dan menghormatinya karena telah memberikan bantuan secara pisik kepada orang-orang Islam terutama kepada Nabi sendiri dalam menyebarkan dakwah Islam. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa al-Mut’im bin Adiy adalah salah satu dari enam orang yang pernah melanggar dan menyatakan menolak pernyataan kesepakatan tertulis yang digantung di Ka’bah untuk melakukan embargo terhadap Banu Hasyim.
Jasa perlindungan keamanan yang telah diberikan oleh al-Mut’im bin Adiy kepada Nabi ternyata tidak berakhir sampai di situ, tetapi jasa- jasa positif itu juga pernah diberikan kepada para sahabat Nabi ketika orang-orang Qurays mengetahui adanya Baiatu al-Akabah al-Tsaniyah sehingga orang-orang Qurays mengusir orang-orang yang terlibat dalam pembaiatan setelah mereka melaksanakan ibadah haji. Orang- orang Qurays dalam peristiwa tersebut berhasil menangkap Saad bin Ubadah lalu mengikatnya dan membawanya masuk ke kota Makkah.
Tidak lama kemudian ketika al-Mut’im bin Adiy bersama al-Harits bin Harb mengetahui adanya penangkapan tersebut, keduanya berusaha untuk melepaskan dan membebaskan Saad bin Ubadah dari tangan kaum Qurays; dan berhasil. Apa yang dilakukan al-Mut’im bin Adiy bersama al-Harits bin Harb dengan melepaskan Saad bin Ubadah dari kaum Qurays seperti yang disebutkan oleh para ahli sejarah sesungguhnya
239 Hadis riwayat Bukhari dan Abu Daud.
merupakan bentuk balas jasa karena sebelumnya dua rombongan kafilah dari al-Mut’im bin Adiy dan al-Harits bin Harb ketika datang ke Madinah dapat berlalu dengan aman berkat jaminan perlindungan yang diberikan kepada mereka oleh Saad bin Ubadah.
Perlindungan yang pernah didapatkan Nabi dan sahabat Saad bin Ubadah dari seorang non Muslim bernama al-Mut’im bin Adiy seperti yang telah disinggung juga pernah dialami oleh beberapa sahabat Nabi misalnya Abu Bakar. Aisyah pernah menceritakan bahwa ketika orang- orang Islam Makkah tertindas, Abu Bakar keluar menuju Habasyah.
Katika Abu Bakar sampai di suatu tempat yang disebut Barkul Gimad, ia bertemu dengan seorang bernama Ibnu Addugnah. Ibnu Adugnah bertanya kepada Abu Bakar: Hendak kemana engkau wahai Abu Bakar?
Abu Bakar menjawab: Kaumku mengusirku, aku ingin berpetualangan di muka bumi ini agar aku dapat menyembah Tuhanku. Ibnu Adugnah mengatakan kepada Abu Bakar: Orang seperti kamu tidak mesti pergi dan tidak pantas diusir, karena engkau adalah orang yang selalu menjaga tali silaturrahim dan menghormati para tamu serta memberikan pertolongan kepada setiap orang yang butuh. Saya akan menjadi jaminanmu, kembalilah engkau dan sembahlah Tuhanmu.
Akhirnya Ibnu Adugnah pergi bersama Abu Bakar. Sesampainya di Makkah, Ibnu Addugnah keliling di tengah kaum Qurays sembari mengatakan: Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang tidak mesti keluar dan tidak pantas diusir, karena ia termasuk orang yang selalu menjaga tali silaturrahim, menghormati para tamu dan memberikan pertolongan kepada setiap orang yang butuh. Orang-orang Qurays pun mendengar ucapan Ibnu Addugnah, dan mereka tidak berbuat apa-apa terhadap Abu Bakar karena Abu Bakar telah mendapatkan keamanan, perlindungan dan pengawalan dari Ibnu Addugnah.240
240 Hadis riwayat Ibnu Hibban.